Saturday, 7 February 2026

Prabowonomics

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Di dunia ini hanya ada dua sistem ekonomi terkuat yang dipakai, yaitu kapitalis-liberalis dan komunis-sosialis atau kadang disebut juga ekonomi komando. Keduanya sama-sama bertujuan untuk memberikan kesejahteraan manusia, terutama para pendukungnya.

Secara sangat sederhana, sistem ekonomi liberal menyerahkan kehidupan ekonomi pada pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Harga-harga ditentukan oleh pasar dan setiap orang boleh bersaing semaksimal yang dia harapkan. Pemerintah tidak boleh banyak mencampuri kehidupan ekonomi. Semakin sedikit peran pemerintah, sangat bagus untuk ekonomi liberal.

Berbeda dengan sistem ekonomi komunis-sosialis atau komando. Dalam sistem ini, pasar sangat dikuasai pemerintah. Kehidupan ekonomi sangat dikontrol oleh pemerintah agar terjadi keadilan bagi seluruh manusia. Persaingan tidak dibebaskan semaunya. Semakin besar peran pemerintah, semakin baik ekonomi dalam sistem komunis.

Seperti itu kira-kira perbedaannya. Memang tidak tepat benar karena untuk mengerti kedua sistem ekonomi itu minimalnya harus belajar selama satu semester. Itu pun baru kulitnya. Akan tetapi, seperti itulah pemahaman sederhananya.

Sebetulnya, ada lagi sistem lain yang sering dibicarakan, yaitu sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi Pancasila. Akan tetapi, kedua sistem ini baru ada dalam slogan, jargon, keinginan, atau harapan. Belum ada yang menulisnya mulai grand theory hingga teori operasional yang bisa dijalankan. Kadang malah hanya ada dalam teriakan-teriakan saat kampanye pemilihan tanpa ada isinya. Teriakan itu hanya untuk mempengaruhi orang tanpa kejelasan selanjutnya.

Memang ada beberapa orang yang mencoba menerangkannya lewat penelitian, tetapi belum teruji dalam praktiknya. Misalnya, Wakil Presiden RI Maruf Amin menulis disertasinya tentang ekonomi berlandaskan syariah Islam, tetapi tidak disebutkan juga sebagai sistem ekonomi Islam. Bahkan, karyanya lebih dikenal sebagai tulisan “Ekonomi Arus Baru”.

            Baru-baru ini mengemuka sebuah pemikiran ekonomi yang disebut dengan istilah “Prabowonomics”. Sederhananya, sistem ekonomi ala Prabowo. Ini sebetulnya hasilnya sudah bisa dirasakan rakyat. Pada saat luar negeri hari ini sedang krisis karena perang dan kenaikan dollar. Indonesia rasanya biasa-biasa saja, tidak tampak ada kekusutan berarti. Kalau seperti ada kerumitan, itu hanya ada di Medsos.

            Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada “World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026” yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss. Isi pidato ini yang kemudian disebut sebagai Prabowonomics.


Prabowonomics (Foto: KOMPAS.com)


            Kalau diperhatikan, Prabowonomics merupakan pemikiran yang ada di tengah antara kapitalis dan komunis, lebih memperkenalkan sistem ekonomi Pancasila yang berlandaskan gotong royong. Dalam pidato itu diperkenalkan beberapa hal yang telah dilakukannya dan akan terus dipertahankan keberlanjutannya.

            Pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didasari atas kasih sayang kepada rakyat supaya otaknya cerdas dan mewujudkan gotong royong. Hasil dari para pembayar pajak dan perusahaan negara diberikan kepada para siswa di Indonesia secara gratis. Program ini pun sudah menggerakan ekonomi rakyat karena bahan-bahannya juga berasal dari hasil bumi yang dikerjakan rakyat ditambah membuka lapangan kerja baru. Di samping itu, Prabowo mengklaim telah bisa mengalahkan perusahaan makanan terkenal Amerika Serikat Mc Donald yang dalam puluhan tahun menghasilkan 68 juta porsi, sedangkan MBG dalam satu tahun sudah bisa menghasilkan 120 juta porsi makanan.

            Kedua, hilirisasi. Pogram ini mengupayakan bahwa hasil bumi Indonesia mulai bahan mentah hingga barang jadi harus diproduksi di Indonesia. Program ini dimulai nikel yang akan berkembang ke bauksit, timah, batu bara, dan lain sebagainya. Program ini akan membuat Indonesia sangat banyak sekali uang dibandingkan dengan menjual hanya bahan mentah ke luar negeri. Di samping itu, terjadi transfer teknologi yang pada masa depan anak-anak muda Indonesia menjadi ahlinya dan berpotensi menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar. Hal ini harus dilakukan dengan sikap tegas terhadap pihak asing. Artinya, asing boleh berbisnis di Indonesia, tetapi bagian terbesar adalah milik dan untuk Indonesia.

            Ketiga, swasembada pangan. Pada masa depan Indonesia akan sanggup memberi makan rakyatnya sendiri tanpa harus membeli dari luar negeri. Kita memang sudah sanggup memproduksi beras sendiri, tidak lagi membeli dari luar negeri. Itu awal yang bagus untuk ke depannya tidak perlu lagi membeli sapi, jagung, kedelai, dan bahan makanan lainnya dari luar negeri. Hal itu pun akan sangat menghemat keuangan negara, bahkan memperluas pasar ekspor produk Indonesia ke luar negeri.

            Keempat, pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang tumbuh itu cirinya adalah negara lebih banyak ekspor dibandingkan impor, lebih banyak menjual barang ke luar negeri dibandingkan membeli barang dari luar negeri.  Ini sudah terjadi secara perlahan. Tandanya adalah ketika dollar naik, pengaruhnya sangat kecil, bahkan untuk beberapa kalangan tidak terpengaruh sama sekali. Berbeda ketika krisis 1998 dengan kenaikan dollar sedikit saja negara krisis dan goncang sehingga Presiden Soeharto jatuh. Itu karena Indonesia terlalu banyak beli barang dari luar negeri sehingga ketika dollar naik, kita tidak punya uang. Sekarang tidak lagi karena Indonesia sudah lebih banyak ekspor barang dengan hasil yang sangat banyak melebihi impor. Selain itu, untuk mewujudkannya harus ada kejelasan tentang kestabilan politik yang tidak gaduh dan kepastian hukum untuk menghentikan korupsi, pemerasan, premanisme, dan kerumitan perizinan.

            Begitu yang saya perhatikan dari pidato Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Davos, Swiss. Saya bisa saja kurang memperhatikan lebih teliti tentang Prabowonomics. Jika ada di antara para pembaca yang mau menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, saya akan sangat menghormatinya.

            Foto Prabowo saat pidato di Davos, Swiss saya dapatkan dari KOMPAS com.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment