oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Makan Bergizi Gratis (MBG)
untuk ibu hamil dan menyusui sungguh lebih mengerikan dibandingkan MBG para
siswa. Ibu hamil yang diberi MBG akan membuat anak dalam kandungannya lebih
bergizi dan berpotensi cerdas. Kemudian, selama menyusui ia diberi asupan gizi
yang akan mengalir kepada anaknya. Setelah melahirkan, anaknya memasuki usia
emas, ‘golden age’, 0 sampai dengan 5
tahun. Lalu, memasuki usia taman
kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) tetap dalam kawalan MBG.
Gizinya akan tercukupi dengan baik. Apalagi jika program MBG sudah memasuki
perguruan tinggi seperti di Iran. Anak-anak dan orang-orang yang tercukupi gizinya
akan menjadi orang yang cerdas, terampil, dan lebih waspada. Mereka tidak akan mudah
ditipu, tidak akan rela diperbudak, berpikir lebih jernih, memahami harga
dirinya, serta cerdas dan tangguh menghadapi dunia. Ini membuat orang-orang
asing merasa ngeri. Jika Indonesia dipenuhi orang-orang bergizi yang cerdas,
akan lahir menjadi negara yang jauh berkualitas.
MBG yang sekarang dijalankan Presiden Indonesia Prabowo
termasuk program yang telat karena dimulai sejak TK. Jika dimulai sejak ibu
hamil dan menyusui, hasilnya akan jauh lebih baik.
| Ibu menyusui (Foto:Gabag Indonesia) |
Tak ada satu negara pun yang menginginkan Indonesia
menjadi negara maju. Kebanyakan mereka menginginkan Indonesia hanya menjadi
negara kelas pekerja dan orang-orang yang mudah ditipu untuk diambil sumber
daya alamnya tanpa memiliki kemampuan mengolahnya. Kemajuan suatu negara
ditentukan oleh kualitas kecerdasan penduduknya. Jika rakyat Indonesia bergizi,
akan tumbuh menjadi generasi cerdas yang tak mudah lelah untuk berkarya dan menemukan
hal-hal baru yang positif.
Tak heran banyak sekali pandangan asing yang menginginkan
Indonesia menghentikan program MBG dengan alasan menghabiskan dana secara
percuma dan terdapat kasus-kasus keracunan. Kalau keracunan, itu memang harus
diperbaiki dan ditindak, tetapi soal dana mereka salah besar dan hanya membuat
rakyat menjadi bingung.
Kalau soal dana, mari kita bandingkan besaran antara perlindungan
sosial (Perlinsos) yang lebih dikenal dengan bantuan sosial (Bansos) dengan
MBG. Anggaran untuk Bansos tahun 2026 ini ditetapkan 508,2 trililun, sedangkan
untuk MBG sebesar 335 triliun.
Mana yang lebih besar anggarannya, Bansos atau MBG?
Anggaran untuk Bansos jauh lebih besar dibandingkan untuk
MBG, tetapi kenapa tidak ada seorang pun yang protes? Mengapa tak ada yang
ingin Bansos dihapuskan atau diberhentikan?
Jawabannya adalah Bansos berpotensi besar untuk salah
penggunaan. Orang bisa menggunakannya untuk rokok, kuota, jajan seblak, dan
hal-hal lain yang kepentingannya rendah. Bahkan, pemberian Bansos bisa membuat
rakyat cenderung malas dan bermental pengemis. Orang bisa ribut soal pembagian
Bansos. Ini sama sekali tidak akan membuat Indonesia bergerak maju secara
signifikan dan pihak asing sama sekali tidak terganggu, bahkan mungkin senang
melihat rakyat Indonesia seperti itu.
Berbeda dengan MBG. Meskipun anggarannya jauh lebih kecil
dibandingkan Bansos, dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan para kapitalis dan orang-orang
serakah asing akan berhadapan dengan orang-orang Indonesia yang cerdas,
terampil, dan kuat. Itu yang sangat tidak mereka harapkan. Mereka tidak akan
lagi mendapati orang-orang Indonesia yang lemah mudah ditipu dan dirampok
kekayaan alamnya. Itu mengerikan buat mereka. MBG untuk ibu hamil dan menyusui
lebih mengerikan bagi orang yang tidak ingin Indonesia maju karena diberikan
sejak awal, sejak janin masih dalam kandungan.
Sudah pahamkah apa yang saya maksud?
Kalau belum paham, segera minum susu supaya lebih cerdas.
Ilustrasi ibu menyusui adalah milik Gabag Indonesia.
Sampurasun









