Friday, 27 March 2026

Mintalah MBG agar Tak Kena Hoaks

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hoaks beredar di mana-mana, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Parahnya, orang-orang Indonesia banyak yang mudah terkena hoaks karena kemampuan berpikirnya yang lemah dan kurang terlatih untuk meneliti atau mempelajari sesuatu sebelum menentukan hal itu benar atau tidak. Hal itu ditambah oleh budaya “kumaha nu dibendo”, mengikuti apa kata pemimpin. Bahayanya adalah jika orang yang dianggap pemimpin itu justru penyebar hoaks. Dengan demikian, kita dikendalikan oleh banyak kebohongan di sekitar hidup kita.

            Banyak yang kebingungan dan bertanya tentang suatu informasi, apakah benar atau hoaks. Ketika dijelaskan bagaimana caranya mendeteksi suatu informasi itu benar atau tidak, masih belum mengerti juga. Saya terbiasa memeriksa suatu berita itu dengan menggunakan etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Setelah saya jelaskan juga teknik itu, masih banyak yang tidak paham bagaimana cara menggunakannya. Hal yang lebih menggelikan adalah mereka tetap percaya hoaks, padahal tidak punya bukti juga bahwa berita itu adalah benar. Jika sudah saya jelaskan, mayoritas memang banyak yang mengerti, paham, dan tercerahkan, tetapi masih ada juga yang sulit untuk memahaminya.

            Hal ini kemungkinan otak mereka kurang mampu memahami disebabkan kurang makanan bergizi sejak kecil hingga sekarang. Mereka kurang fokus dan tidak terlatih untuk memahami sesuatu dengan baik. Tidak perlu malu untuk mengakui bahwa diri kurang makanan bergizi dan kurang susu karena ini masalah bangsa, bukan masalah perorangan. Mungkin mereka hanya sempat rutin minum susu saat bayi dari ibunya yang kurang bergizi juga.

            Hal ini bisa kita lihat tandanya bahwa rata-rata kecerdasan atau IQ orang Indonesia menurut “World Population Review (2025)” hanya sekitar 78,49. Berbeda dengan rata-rata IQ orang Iran menurut “International IQ Test (2026)” adalah 104,8, ranking 4 di dunia. Tak heran jika dalam keadaan tertekan Iran masih bisa cerdas mengalahkan AS-Israel dalam perang. Perlu dipahami bahwa itu angka rata-rata, kebanyakan, artinya ada juga orang Indonesia yang sangat cerdas, misalnya, Presiden Habibie dan beberapa lapisan masyarakat lainnya.

            Rendahnya IQ itu disebabkan kurang gizi atau stunting. Tidak perlu malu kalau kita kurang gizi. Oleh sebab itu, mumpung ada program MBG, segera dimanfaatkan. Kalaupun kita sudah bukan anak-anak lagi, tak ada salahnya untuk memakan makanan bergizi, terutama susu. Rajin-rajinlah minum susu supaya tidak mudah percaya hoaks atau menyebarkan hoaks.

            Kalau belum punya uang untuk beli susu, minta saja. Saya juga suka minta kok sama kenalan-kenalan saya yang bekerja sebagai guru dan menjadi wali kelas. Kalau ada siswa mereka yang tidak masuk kelas dan rumahnya jauh dari sekolah dan jauh dari teman-temannya, saya minta bagian makan bergizi gratis (MBG). Kenalan-kenalan guru saya itu kalau ada siswanya yang tidak sekolah, bagian MBG-nya suka dikasihkan ke rumahnya langsung kalau dekat sekolah atau dititipkan ke teman-temannya kalau rumahnya dekat. Kalau tidak bisa diberikan karena jauh, suka saya minta. Daripada terbuang, kan nggak apa-apa kalau saya minta.

            Tidak melanggar hukum kan?

            Kalau tidak punya kenalan guru, coba datangi dapur MBG terdekat, siapa tahu ada sisa. Jangan memaksa. Kalau ada sisa, minta saja, mudah-mudahan dikasih. Nggak apa-apa kok. Minta saja, minimal susu, pasti bermanfaat.

            Sebaiknya, Prabowo perluas lagi programnya menjadi “minum susu untuk rakyat”. Jangan hanya untuk masyarakat miskin, semua saja karena di Indonesia itu kalau ada pembagian apa pun, orang kaya jadi ngaku-ngaku miskin. Daripada jadi dosa, sudah saja semua dikasih susu. Kalau bisa, setiap hari. Kalau tidak, setiap ada koruptor yang ditangkap saja rakyat dikasih susu. Uangnya adalah hasil rampasan dari para koruptor itu.

            Setelah bisa minum susu, tingkatkan ke makan ikan. Dengan demikian, otak kita menjadi lebih loncer berpikir. Kalau soal ikan, saya bisa setiap hari makan ikan karena punya kolam ikan yang bisa menampung seribu ekor ikan. Biasakan minum susu, lalu ikan. Jangan gunakan uang untuk alkohol serta makanan dan minuman haram lainnya.






           Rajin-rajinlah minum susu dan makan ikan supaya cerdas dan tidak mudah menjadi korban hoaks.

            Hidup susu, ayo makan ikan!

            Sampurasun.

Donald Trump Bisa Jadi Pahlawan Perdamaian Dunia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bisa menjadi pahlawan perdamaian dunia. Dia bisa membawa banyak kebaikan dan ketertiban di seluruh dunia. Dengan kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang sangat kuat, ada banyak masalah yang bisa dia selesaikan dengan sangat baik. Dia bisa dikenal dan dikenang dunia sebagai sosok panutan yang luar biasa positif.


Donald Trump (Foto: CNN Indonesia)


            Gagasannya membentuk Board of Peace (BoP) jika dilaksanakan dengan konsisten, akan meniupkan angin sepoi perdamaian di Gaza yang bisa menenangkan di tengah kawasan penuh konflik. Setelah mengenal Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang berani menyediakan pasukan perdamaian, Trump bisa mewujudkan Gaza yang indah sebagaimana yang digambarkan menantunya, Jared Kushner. Warga Gaza dapat hidup lebih tenang dan memiliki masa depan lebih jelas. Dunia akan melihat itu.


Prabowo Subianto (Foto: IDNFinancials.com)


            BoP mendapat banyak dukungan dari negara-negara Arab di kawasan itu, negara-negara Eropa pun sudah mulai menginginkan kemerdekaan terhadap Palestina. Indonesia bersedia menjadi penjaga perdamaian, Pakistan pun bersedia membangun kepolisian Palestina.

            Hambatan apa yang membuat Donald Trump sulit mewujudkan itu semua?

Kalaupun ada kritikan dan dukungan, pro dan kontra tentang BoP, sepanjang menggunakan data dan analisa yang cerdas, itu menyehatkan. Pro dan kontra yang sangat sengit pun akan membuat manusia menjadi tercerahkan. Itu bagus. Akan tetapi, tidak perlu mendengar makian atau nyinyiran yang biasanya berdasarkan hoaks. Para penyinyir pecinta hoaks itu hanya orang-orang yang kurang minum susu. Mereka juga termasuk kelompok orang yang harus masuk program makan bergizi gratis (MBG).

Seandainya, pasukan Indonesia yang saat itu sekitar satu atau dua bulan lagi menginjakkan kakinya di Gaza, situasi akan menjadi lain. Donald Trump mengendalikan Israel, Indonesia menumbuhkan kesamaan pengertian dengan Hamas yang sudah sejak lama merasa bersaudara, Gaza akan mulai terasa lebih indah. Dunia tidak perlu menyaksikan perang yang mempermalukan Amerika Serikat.


New Gaza (Foto: Midle East Eye)


Sayang seribu sayang Saudara-Saudara, Donald Trump memilih mendengarkan Israel. Akhirnya, dia menjadi Dewa Mabuk yang menyedihkan, bukan pahlawan perdamaian dunia. Elit dan rakyat AS harus belajar tentang hal ini. Negara kalian yang  kuat itu jangan dibiasakan menjadi boneka Israel, tak perlu bangga menjadi kaki tangan Israel, kalian rugi sendiri.

Apakah kalian tidak malu, presiden kalian meminta gencatan senjata dan diskusi berkali-kali, tetapi ditolak terus oleh Iran?

Iran yang sering diremehkan ternyata telah memposisikan Trump dan AS menjadi negara yang tampak kesulitan dalam menghadapi perang dengan Iran. Memalukan. Posisi yang seharusnya mulia sebagai pahlawan perdamaian dunia dalam waktu sebentar lagi berubah drastis menjadi pengacau keamanan dan kerusakan ekonomi dunia. Kalian memang rusak, harus mengubah ulang cara pandang dan sikap kalian terhadap dunia.

Nasi sudah menjadi bubur, tak bisa lagi kembali menjadi beras.

Meskipun demikian, selalu ada jalan untuk memperbaiki diri sepanjang kita mau memperbaikinya. Semoga Tuhan memberikan jalan untuk umat manusia agar dapat menciptakan kehidupan dunia menjadi lebih baik. Aamiin.

Foto Donald Trump saya dapatkan dari CNN Indonesia, Prabowo Subianto dari IDNFinancials com, dan New Gaza dari Midle East Eye.

Sampurasun.

Tuesday, 24 March 2026

Israel Takut pada Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel. Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald Trump berkuasa untuk yang kedua kali.

            Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.

            Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.


Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co)


            Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel Aviv saya dapatkan dari Tagar co.

            Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep dan semangat “two state solution”, solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan menyesatkan masyarakat Indonesia.

            Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah pasukan Indonesia bertugas di Gaza.

            Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel. Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.

            Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak ingin berkelahi dengannya.”

            Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.

            Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.

            Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif. Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir. Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.

            Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa cinta?

            Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?

            Itulah yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh. Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.

            Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.

            Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel. Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI, negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.

            Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi diri dari situasi yang sudah sangat kusut.

            Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.

            Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun.

            Sampurasun.

Monday, 23 March 2026

Iran Berdangdut: Taaarik Maang!

 

oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika ditanya tentang Negara Iran yang sedang berperang melawan Amerika Serikat-Israel, Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab, “Sesungguhnya Iran sedang bermain catur.”

            Putin menjawab seperti itu karena Rusia dipenuhi para pemain catur tingkat dunia. Ada Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan yang lainnya mendominasi permainan catur dunia di samping pemain-pemain nasional dan internasional lainnya.

            Saya melihat Iran itu sedang berdangdut karena Indonesia dipenuhi musisi dangdut. Ada Raja Dangdut Rhoma Irama, Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, dan musisi lainnya di tingkat nasional dan internasional.

            Intinya, pendapat seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungannya. Dia memisalkan sesuatu sesuai dengan hal-hal yang diperhatikannya sehari-hari.


Netanyahu (Foto: AA)


Donald Trump (Foto: Classic FM)


Tarian tradisional Iran (Foto: Orienttrips) 


            Iran bisa diibaratkan penari dangdut, sedangkan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah pemain instrumennya dan penyanyinya. Iran menari, berjoget karena AS-Israel memainkan lagu dangdut yang tak bisa ditolak untuk dijogetin. Tadinya, AS-Israel hanya memainkan sebuah lagu dengan harapan Iran akan letih berjoget hanya dengan satu lagu. Akan tetapi, kenyataannya Iran memiliki tubuh dan gerakan yang sangat prima. Iran tak berhenti berjoget dangdut dan disemangati penonton. Hal tersebut membuat AS-Israel tak bisa berhenti memainkan musik dangdut karena akan dibuli penonton sebagai musisi lemah.

            Lagu dangdut terus dimainkan dan membuat AS-Israel mulai lemah serta kebingungan memainkannya. Mereka meminta Iran untuk berhenti berjoget, tetapi Iran menolaknya, ingin terus berdangdut.

            Iran bahkan meminta lagu yang ada liriknya, “Kau yang memulai, kau yang mengakhiri ….”

            Akibatnya, AS-Israel marah dan akan memainkan lagu hingga lebih dari sepuluh lagu yang akan membuat Iran lelah, pingsan, bahkan mati dipermalukan di depan penonton. Akan tetapi, Iran menunjukkan ketahanannya dalam berjoget dan mendapatkan pujian dari penonton.

            Iran bahkan menantang AS-Israel dengan teriakan, “Taaarik Maaang!”

            Hal itu memaksa AS-Israel terus memainkan musik meskipun telah sangat lelah, tetapi tidak tahu bagaimana caranya berhenti tanpa harus menanggung malu di depan penonton. Mereka terpaksa bertahan sambil kebingungan untuk menghentikan Iran yang tetap semangat berjoget. Panggung itu menjadi pusat perhatian dunia dan penonton mulai melihat siapa yang sebenarnya letih, lelah, berdarah, limbung, hampir pingsan, dan akan mendapat malu dengan teriakan, “Huuu …!”

            “Kau yang memulai, aku yang menentukan syarat untuk mengakhirinya,” kata Iran.

            Kartun Netanyahu saya dapatkan dari AA hasil karya Hanitzsch kartunis Jerman, Donald Trump milik Classic FM. Ilustrasi tarian Iran dari Orienttrips, bukan tarian dangdut, melainkan tarian tradisional Iran.

            Sampurasun.

Friday, 20 March 2026

Allah swt Tidak Akan Membiarkan Dunia Unipolar

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Unipolar dalam politik secara sederhana berarti adanya suatu kaum, bangsa, atau negara yang berkuasa mutlak di muka Bumi dalam segala bidang, baik itu militer, ekonomi, politik sumber daya, dan yang lainnya. Kekuasaannya itu mengatur dan menundukkan semua bangsa di dunia. Dalam kenyataannya, hal itu tidak pernah ada. Kalaupun disebut ada, itu hanyalah sebatas klaim, pengakuan, propaganda, ataupun kampanye. Dalam sejarah Bumi sejak diciptakan, tidak pernah ada suatu kaum yang benar-benar mutlak menguasai seluruh kaum di dunia.


Planet Bumi (Foto: Kompas.com)


            Coba saja pelajari sejarah, tak pernah ada yang berkuasa mutlak. Selalu saja ada kaum lain yang menjadi rival atau saingan, baik itu sebuah kaum atau bangsa maupun banyak bangsa, rupa-rupa negara. Kita bisa baca sejarah ada kekuatan-kekuatan besar di dunia, seperti, Persia, Romawi, Yunani, Arab, ataupun Mongol. Mereka selalu bersaing dan berdiri menantang yang lainnya. Dalam kehidupan modern, kita mengenal Amerika Serikat yang ditantang oleh Unisoviet, lalu Rusia. Sekarang, bertambah kekuatan Cina berdiri menjadi negara yang juga sangat kuat.

            Hal itu berarti dunia selalu multipolar, banyak kekuatan, atau paling tidak bipolar, ada dua kekuatan besar yang berdiri saling klaim sebagai negara kuat di muka Bumi. Tak pernah benar-benar Unipolar, hanya satu kekuatan yang menguasai seluruh Bumi.

            Suka atau tidak, percaya atau tidak, memang kehidupan di dunia ini sudah diciptakan Allah swt agar tidak ada satu bangsa pun yang berkuasa mutlak atas yang lainnya. Hal itu disebabkan agar kehidupan manusia terjamin tetap berlangsung hingga kiamat tiba. Jika suatu bangsa dibiarkan berkuasa secara mutlak, bangsa itu akan berlaku sewenang-wenang terhadap bangsa lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai teori realisme, manusia selalu berusaha mengalahkan manusia lainnya. Faktanya adalah Allah swt selalu menjadikan bangsa lainnya untuk menjadi penyeimbang di Bumi hingga kiamat tiba.

            Perhatikan kata-kata Allah swt berikut ini dalam QS Al Hajj 22 : 40:

“… Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah ….”

Itu pernyataan Allah swt yang menjelaskan bahwa keganasan manusia  ditolak oleh manusia lainnya. Artinya, selalu ada kekuatan yang menyeimbangkan kekuatan di antara manusia. Kalau hanya ada satu kekuatan, tempat-tempat ibadat di Bumi ini sudah roboh seluruhnya dan tak ada lagi yang menyebut nama Allah swt dengan bahasanya masing-masing. Saya orang Sunda suka menyebut Allah swt dengan istilah “Gusti, Pangeran, Nu Kawasa, Nu Ngersakeun”. Bangsa lain tentu memiliki sebutan berbeda, tetapi maksudnya adalah sama, yaitu Zat Yang Menciptakan Seluruh Alam Ini.

Dengan melihat bukti-bukti sejarah dan pernyataan Allah swt, setiap bangsa ataupun setiap manusia yang merasa ataupun berusaha untuk menguasai Bumi adalah keinginan yang sia-sia. Itu tidak akan pernah terjadi. Cuma ngimpi. Sehebat apa pun teknologi dan militer, tidak akan pernah terjadi.

Manusia harus sadar dengan hal ini. Mereka hanya membuat kesesatan, kejahatan, dan kerusakan jika ingin berkuasa atas seluruh manusia. Sekali lagi, itu cuma mimpi.

Ilustrasi planet Bumi adalah milik Kompas com.

Sampurasun.

Tuesday, 17 March 2026

Penyebar Hoaks Makin Murahan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hoaks itu berbeda jauh dengan kritikan. Kritik itu menunjukkan hal yang dianggap salah dengan harapan ada perbaikan sehingga kesalahan itu tidak lagi terulang dan terjadi peningkatan kualitas positif. Adapun hoaks adalah berita bohong, dusta, penyesatan, fitnah dengan maksud memengaruhi orang agar terjerumus dalam tipuan, tujuannya adalah mendapatkan uang dari kebohongan itu.


(Foto: Kementerian Komunikasi dan Digital)


            Saya mengenal ada profesi hoaks itu ketika kepemimpinan Jokowi sebagai presiden RI periode pertama. Saat itu masih jarang di Indonesia orang yang  mahir dan berani menulis hal-hal yang memengaruhi massa dalam jumlah banyak dengan dasar kebohongan, rasa marah, sakit hati, dan fitnah. Mereka yang tergolong orang-orang sakit hati karena kekalahan dalam politik merasa terwakili dengan tulisan-tulisan dusta itu. Mereka merasa ada yang membela dan sedikit terobati. Orang-orang yang gemar menulis hoaks itu mulai mendapatkan tawaran dari para pengusaha atau politisi yang merasa dirugikan oleh situasi politik saat itu. Orang-orang kaya dan berkepentingan dalam ekonomi dan politik membayar mereka dengan bayaran yang sangat mahal, sekitar Rp20 juta untuk satu naskah. Kalau tidak salah, ini pernah terungkap dalam Mata Najwa dengan salah seorang jenderal polisi yang menjadi narasumbernya.

            Bayangkan, Rp20 juta per naskah itu sangat besar. Sempat tergoda juga untuk ikutan mendapatkan uang itu. Akan tetapi, itu salah karena sangatlah tidak terhormat membawa uang untuk keluarga yang berasal dari kegiatan terlarang. Sesulit apa pun hidup, tidak perlu melakukan hal yang salah. Kalaupun mau, tetapi Allah swt tidak menyukainya, kita akan terhalang untuk mendapatkan uang itu sehingga kita selamat.

            Seiring berjalannya waktu, bayaran itu mulai berkurang bukan lagi Rp20 juta per naskah, melainkan per hari. Kemudian, semakin turun bayarannya menjadi setiap minggu. Terus turun menjadi Rp20 juta per bulan.

            Penurunan itu terus terjadi secara drastis. Hal ini dapat dilihat ketika ada kasus “Saracen”. Polisi menangkapi orang-orang yang menyebarkan berita bohong untuk memprovokasi masyarakat dengan menggunakan agama sehingga terjadi huru-hara. Dari orang-orang yang ditangkap itu, polisi mendapatkan pengakuan bahwa mereka dibayar Rp2,5 juta per bulan untuk membuat berita bohong. Semakin ke sini ternyata bayaran untuk para pembohong itu semakin murah.

            Sekarang, tampaknya semakin murah dan harus berlomba untuk dipercaya sebagai pendusta bayaran. Artinya, para pembohong itu tidak akan dibayar jika kebohongannya tidak berpengaruh kepada masyarakat dan tidak menguntungkan para pembayar hoaks. Hal ini berdasarkan penjelasan Hasan Nasbi, mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau “Presidential Communication Office” (PCO). Menurutnya, banyak vendor hoaks di Indonesia yang menggugat Perdana Menteri (PM) Israel, Netanyahu, karena belum dibayar sejak 2023. Alasan Israel belum atau tidak membayar para pembuat dan penyebar hoaks itu karena produksi hoaks yang dihasilkan tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan Israel. Hoaks-hoaks yang beredar itu dinilai tidak dapat memengaruhi masyarakat Indonesia sebagaimana yang diinginkan Israel.

            Hal itu berarti semakin banyak pihak yang memproduksi hoaks dan berlomba-lomba agar dipercaya Israel untuk mendapatkan bayaran. Itu berarti pula para pendusta ini terjebak dalam permainan Israel. Mereka tidak akan pernah dibayar Israel jika tidak memuaskan Israel. Kalaupun dibayar, pasti sedikit karena kualitasnya melemah. Mereka sudah memproduksi hoaks, sudah menghabiskan waktu dan energi, sudah mendapatkan banyak dosa, tetapi uangnya belum tentu dapat, malah bisa masuk penjara. Rugi banget.

            Memang pasar hoaks di Indonesia ini cukup besar karena masyarakatnya kurang teliti dan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Bahkan, bangga sudah mendapatkan informasi hoaks sehingga disebarkan lagi ke orang-orang lain. Oleh sebab itu, mulai 2026 ini saya ajarin murid-murid saya bagaimana cara menilai sebuah informasi itu hoaks atau bukan. Caranya, menggunakan etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Sayangnya, saya tidak bisa mengajarkan hal ini lewat tulisan karena harus praktik kayak ngaji, “kudu diwurukan”.

            Semoga kita semua berhati-hati karena situasi saat ini memang zamannya orang tidak mempedulikan kebenaran, tetapi mempedulikan perasaannya sendiri. Oleh sebab itulah, sorga itu mahal, hanya orang-orang yang berhati-hati dan terpilih yang akan memasukinya.

            Ilustrasi hoaks saya dapatkan dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

            Sampurasun.

Friday, 13 March 2026

Stop MBG untuk Seluruh Siswa, Sebagian Saja

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Keinginan Presiden RI Prabowo untuk memberikan makanan bergizi gratis (MBG) adalah keinginan yang baik, positif, dan sudah pasti dicatat sebagai kebaikan oleh malaikat. Dalam Islam, baru niat berbuat baik saja sudah dicatat sebagai kebaikan. Jika niat itu terwujud nyata, pahala kebaikannya berlipat-lipat. Kalaupun tidak terwujud, pahala kebaikan niatnya sudah didapat. Prabowo menginginkan bahwa dengan makanan yang bergizi itu para pemuda Indonesia berotak cerdas dan memiliki keahlian yang bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. Orang-orang cerdas pasti sudah paham bahwa makanan yang bergizi itu akan memudahkan kerja-kerja otak dan memberikan kesehatan pada tubuh.

            Foto Prabowo dan MBG berasal dari detikFinance – detikcom.

            Awalnya, saya pikir MBG itu hanya untuk siswa dari kalangan keluarga tidak mampu yang biasanya melengkapi diri dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), para penerima Bansos, PKH, atau pemburu istilah-istilah …kin, seperti, Raskin, Gaskin, Rumkin, atau istilah-istilah kemiskinan lainnya. Adapun siswa dari keluarga mampu, tidak dikasih karena keluarganya mampu menyediakan gizi yang cukup. Kenyataannya, pemerintah memberikan MBG untuk seluruh siswa, baik dari kalangan tidak mampu ataupun mampu. Cukup mengagetkan karena itu pasti membutuhkan uang yang sangat banyak. Tampaknya pemerintah ingin memastikan generasi muda dari seluruh kalangan terjamin gizinya dan itu bagus. Kalaupun ada kekurangan-kekurangan, bisa segera diatasi agar tujuan pemberian MBG ini bisa tercapai dengan baik.


Prabowo dan makanan bergizi gratis (Foto: detikFinance - detikcom)


            Pada perjalanannya, MBG ini mendapatkan banyak kritikan dan itu bagus karena mendapatkan perhatian dari masyarakat untuk perbaikan pada masa depan. Akan tetapi, bukan hanya kritikan yang beredar, melainkan pula cibiran, nyinyiran, hoaks, kebencian, penyesatan informasi yang nilainya sampah ikut mengganggu pelaksanaan MBG. Hal-hal sampah ini mempengaruhi siswa, orangtua, sekolah, dan berbagai kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mendapat informasi siapa saja yang tidak setuju MBG, sekolah mana saja yang tidak menghormati program MBG, lembaga mana saja yang tidak berterima kasih atas MBG, termasuk sampai catatan perorangan yang dianggap mempersulit MBG. Pemerintah harus secepatnya menghentikan pemberian MBG itu kepada sekolah-sekolah, siswa, keluarga, ataupun lembaga yang dianggap mengganggu program MBG. Pemerintah hanya harus berkonsentrasi kepada mereka yang memang pandai bersyukur, berterima kasih, dan membutuhkan MBG itu. Tidak perlu semua siswa dari semua keluarga dan semua sekolah diberi MBG. Mereka yang dianggap butuh saja yang harus diperhatikan. Mereka yang rewel, sebaiknya menyediakan makanannya sendiri.

            Dengan membatasi pemberian MBG, pemerintah dapat menghemat uang sehingga bisa menggunakan uang itu untuk kesejahteraan guru honorer ataupun bantuan tenaga kependidikan lainnya. Prabowo harus menerima kenyataan bahwa tidak seluruh rakyat Indonesia bisa bekerja sama dan memahami program-program yang dianggapnya baik. Dengan demikian, Prabowo harus merelakan bahwa mereka yang tidak mau berjalan seiringan dengan pemerintah, sebaiknya dikesampingkan saja dan fokus kepada mereka yang membutuhan program-program pemerintah. Dengan cara seperti ini, keuangan bisa lebih hemat.

            Biarin yang rewel mah dengan kerewelannya, kerja sama saja dengan mereka yang mau bekerja sama.

            Sampurasun.

Thursday, 12 March 2026

Amerika Serikat Korban Hoaks

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Terkait dengan perang AS-Israel Vs Iran, tampak sekali Amerika Serikat telah menjadi korban hoaks. Entah hoaks itu diciptakan presidennya sendiri, Donald Trump, atau mendapatkan banyak masukan yang tidak berdasar di lingkarannya. Bisa juga karena mendapatkan desakan dari Israel melalui Perdana Menteri (PM) Netanyahu untuk segera menyerang karena Iran adalah ancaman bagi Israel.

            Dunia sedikit terkejut dengan perang ini yang sesungguhnya dimulai oleh Israel yang kemudian diikuti Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, sesungguhnya hanya terjadi keributan kecil soal perjanjian nuklir yang telah bertahun-tahun itu. Biasa saja, soal kesepakatan. Di samping itu, ada peristiwa unik dengan munculnya “Board of Peace” (BoP) atau Dewan Perdamaian yang pasukan Indonesia menjadi pemain kunci di jalur Gaza, Palestina. BoP ini menjadi semacam kebanggaan bagi Trump jika berhasil mengamankan jalur Gaza dan membangunnya menjadi kawasan modern yang menyenangkan bagi rakyat Gaza di bawah perlindungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika dunia, khususnya Indonesia sedang asyik-asyiknya memberikan saran dan masukan bagi Prabowo jika menjadi pemain inti perdamaian di Palestina, tiba-tiba terjadi perang yang sangat dahsyat hingga saat ini.

            Akibat dari perang ini, rencana BoP menjadi tertahan. Indonesia harus berpikir ulang bolak-balik untuk rencana perdamaian versi BoP ini. Memang sulit jadi Prabowo dalam pergaulan dunia dewasa ini. Jika berada dalam BoP, banyak keuntungan ekonomi yang didapat Indonesia, tetapi akan sibuk mengatasi gejolak politik di dalam negeri. Jika ke luar BoP, gejolak politik dalam negeri bisa diredam, tetapi akan mendapatkan serangan dari negara anggota BoP lainnya yang berpotensi mengancam ekonomi Indonesia. Intinya, Prabowo harus memikirkan yang terbaik bagi negara sendiri terlebih dahulu karena itu adalah hal yang paling utama.

            Soal AS menjadi korban Hoaks, mudah sekali dilihatnya. Diisukan Iran punya senjata nuklir, padahal tidak. Digosipkan rakyat Iran sudah membenci para mullah, padahal tidak. Dikabarkan kalau pemimpinnya tewas bakal ganti rezim, padahal tidak. Disebutkan Iran negaranya hampir bangkrut, padahal tidak. Disebutkan teknologi senjatanya rendah dan terbatas, padahal tidak. Diyakini perang bakal berhenti dalam empat hari, padahal bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

            Itu adalah hoaks-hoaks yang telah menjerat AS hingga sulit keluar dari perang melawan Iran. Sebetulnya, rakyat AS sendiri tidak mau perang. Dari survey, hanya 27% rakyat AS yang setuju perang, sejumlah 73% tidak setuju dan tidak tahu. Dari dukungan politik rakyat saja sudah rendah, belum lagi soal keuangan yang menguras keuangan AS sejumlah 15 T per hari. Hal itu diperparah dengan kematian ratusan prajurit AS yang tidak mengerti kenapa mereka harus perang dengan Iran. Donald Trump menyatakan bahwa tentaranya sedang membela negeri AS, tetapi rakyatnya merasakan bahwa anak-anak muda mereka mati adalah untuk kepentingan Israel. AS memang sedang menangguk kerugian yang sangat banyak.


Tentara AS yang dikirimkan untuk perang (Foto: Suara.com)


            Ilustrasi tantara AS yang tampak bingung berbaris untuk perang saya dapatkan dari Suara com.

            Meskipun demikian, dapat kita pahami bahwa hoaks itu dapat menjerat manusia jika di dalam dirinya ada rasa iri, kebencian, ketakutan, arogan, dan kebodohan sehingga melakukan tindakan-tindakan idiot yang merugikan dirinya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari apa yang terjadi pada AS dan para pemimpinnya yang saat ini panik, kalang kabut, sok tenang, tetapi bingung karena jalan keluar dari perang semakin sulit. Iran sudah tidak mau lagi diajak diskusi. Iran hanya mau perang dan menentukan sendiri kapan harus berakhir.

            Begitulah hoaks bisa menjerat manusia ke dalam kebingungan dan kebodohan yang mempermalukan diri. Di Indonesia sendiri sudah bisa dilihat bahwa para pejuang hoaks itu berguguran dan menghilang satu per satu secara lucu meskipun membuat hoaks baru karena sakit hati hoaks yang lama sudah tak lagi laku.

            Sampurasun.

Wednesday, 11 March 2026

Murid yang Mulai Sukses Masih Kangen Doa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Guru, dosen, pengajar yang memiliki kedekatan dengan muridnya selalu bahagia jika melihat atau mendengar murid-muridnya berhasil dalam hidup atau paling tidak, keadaannya baik-baik saja. Tidak bikin masalah, tidak ikut bikin huru-hara, tidak menjadi penyebar hoaks, tidak menyakiti orang lain, tidak melakukan kejahatan. Kalimat ini dari dulu sering saya dengar, tetapi mulai dirasakan ketika menginjak usia tertentu, lalu anak-anak muda yang mulai berhasil menghubungi saya dan mengaku ingin ketemu sekedar silaturahmi, berceritera ringan, dan tentu saja mengharapkan doa. Mereka merasa masih kecil dan masih murid saya, padahal pengalaman hidupnya sudah mulai padat dan berisi banyak hal.

            Demikian pula seperti yang terjadi pada acara “Ramadhan Expo Universitas Al Ghifari” pada  7 Maret 2026 di Food Court Lt 2 Metro Indah Mall.




Salah seorang alumni cantik Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari, mengaku, “Kangen sama Bapak, pengen foto bareng.”

Seru rasanya melihat anak yang beberapa tahun menjadi murid, kemudian mulai dewasa, berkarir, dan hal yang sangat penting adalah karirnya pas dengan pendidikannya, berkarir dalam hubungan internasional antara Bandung dan Dubai, Uni Emirat Arab. Namanya Erina Putri. Makin seru ketika membicarakan saya kepada adik-adik kelasnya yang masih kuliah.

Selain, ingin difoto bareng, dia juga meminta doa dari saya. Saking inginnya doa, kalimatnya dia sendiri yang mencontohkannya. Saya mengangguk-angguk pertanda akan berupaya berdoa untuk dirinya.

Saya bilang ke para mahasiswa, “Kalau para alumni yang membicarakan saya, kalian boleh percaya. Akan tetapi, kalau kakak-kakak kelas kalian yang membicarakan saya, tetapi belum lulus, jangan dipercaya. Soalnya, ceritera mereka rasanya seperti sedang merayu pengen cepat lulus dan urusannya dipermudah.”

Tentu saja suasana pertemuan menjadi lebih segar dan menyenangkan. Bagi saya, sudah sangat senang mempertemukan para alumni HI, Fisip, Unfari yang sudah mulai berhasil dengan adik-adiknya yang masih kuliah. Saya berharap mereka memiliki ikatan dan terus berhubungan sehingga adik-adiknya bisa ikut berkarir dan mereka yang sudah berhasil, tidak mencari orang-orang jauh untuk membantu mereka dalam pekerjaan, sebaiknya mendahulukan adik-adik kelasnya. Begitulah cara saya membangun komunikasi dan jalan bagi karir mahasiswa.

Semoga Allah swt ridho dan memberikan saya tambahan pahala dalam menjalani hidup ini. Aamiin.

Sampurasun.