oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Keinginan Presiden RI Prabowo
untuk memberikan makanan bergizi gratis (MBG) adalah keinginan yang baik, positif,
dan sudah pasti dicatat sebagai kebaikan oleh malaikat. Dalam Islam, baru niat
berbuat baik saja sudah dicatat sebagai kebaikan. Jika niat itu terwujud nyata,
pahala kebaikannya berlipat-lipat. Kalaupun tidak terwujud, pahala kebaikan
niatnya sudah didapat. Prabowo menginginkan bahwa dengan makanan yang bergizi
itu para pemuda Indonesia berotak cerdas dan memiliki keahlian yang bisa
bermanfaat bagi bangsa dan negara. Orang-orang cerdas pasti sudah paham bahwa
makanan yang bergizi itu akan memudahkan kerja-kerja otak dan memberikan
kesehatan pada tubuh.
Foto Prabowo dan MBG berasal dari detikFinance –
detikcom.
Awalnya, saya pikir MBG itu hanya untuk siswa dari
kalangan keluarga tidak mampu yang biasanya melengkapi diri dengan Surat
Keterangan Tidak Mampu (SKTM), para penerima Bansos, PKH, atau pemburu
istilah-istilah …kin, seperti, Raskin, Gaskin, Rumkin, atau istilah-istilah
kemiskinan lainnya. Adapun siswa dari keluarga mampu, tidak dikasih karena
keluarganya mampu menyediakan gizi yang cukup. Kenyataannya, pemerintah
memberikan MBG untuk seluruh siswa, baik dari kalangan tidak mampu ataupun
mampu. Cukup mengagetkan karena itu pasti membutuhkan uang yang sangat banyak.
Tampaknya pemerintah ingin memastikan generasi muda dari seluruh kalangan
terjamin gizinya dan itu bagus. Kalaupun ada kekurangan-kekurangan, bisa segera
diatasi agar tujuan pemberian MBG ini bisa tercapai dengan baik.
![]() |
| Prabowo dan makanan bergizi gratis (Foto: detikFinance - detikcom) |
Pada perjalanannya, MBG ini mendapatkan banyak kritikan
dan itu bagus karena mendapatkan perhatian dari masyarakat untuk perbaikan pada
masa depan. Akan tetapi, bukan hanya kritikan yang beredar, melainkan pula cibiran,
nyinyiran, hoaks, kebencian, penyesatan informasi yang nilainya sampah ikut
mengganggu pelaksanaan MBG. Hal-hal sampah ini mempengaruhi siswa, orangtua,
sekolah, dan berbagai kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah perlu
mendapat informasi siapa saja yang tidak setuju MBG, sekolah mana saja yang
tidak menghormati program MBG, lembaga mana saja yang tidak berterima kasih
atas MBG, termasuk sampai catatan perorangan yang dianggap mempersulit MBG.
Pemerintah harus secepatnya menghentikan pemberian MBG itu kepada
sekolah-sekolah, siswa, keluarga, ataupun lembaga yang dianggap mengganggu
program MBG. Pemerintah hanya harus berkonsentrasi kepada mereka yang memang pandai
bersyukur, berterima kasih, dan membutuhkan MBG itu. Tidak perlu semua siswa
dari semua keluarga dan semua sekolah diberi MBG. Mereka yang dianggap butuh
saja yang harus diperhatikan. Mereka yang rewel, sebaiknya menyediakan
makanannya sendiri.
Dengan membatasi pemberian MBG, pemerintah dapat
menghemat uang sehingga bisa menggunakan uang itu untuk kesejahteraan guru
honorer ataupun bantuan tenaga kependidikan lainnya. Prabowo harus menerima
kenyataan bahwa tidak seluruh rakyat Indonesia bisa bekerja sama dan memahami
program-program yang dianggapnya baik. Dengan demikian, Prabowo harus merelakan
bahwa mereka yang tidak mau berjalan seiringan dengan pemerintah, sebaiknya
dikesampingkan saja dan fokus kepada mereka yang membutuhan program-program
pemerintah. Dengan cara seperti ini, keuangan bisa lebih hemat.
Biarin yang rewel mah dengan kerewelannya, kerja sama
saja dengan mereka yang mau bekerja sama.
Sampurasun.











