Thursday, 20 August 2026

Londo Ireng


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Londo ireng, Belanda hitam, atau penjajah hitam awalnya adalah sebutan bagi pasukan Belanda penjajah Indonesia yang berasal dari Negara Ghana, Afrika Barat, berkulit hitam. Belanda menggunakan orang-orang Ghana untuk menjajah Indonesia. Sebutan londo ireng meluas diarahkan kepada siapa saja dan berasal dari mana saja meskipun kulitnya tidak putih, tetapi menjajah rakyat Indonesia, seperti, dari India dan dari Indonesia sendiri.


Londo Ireng, Belanda Hitam (Foto: Indonesia Online)


            Pada zaman Presiden Soekarno istilah  londo ireng diarahkan pada para aktivis, politisi, dan siapa pun yang dianggap mengganggu pemerintah dan pro-Barat. Soekarno menuding siapa pun yang berpihak ke Barat adalah gangguan terhadap pemerintah dan menginginkan Indonesia diatur oleh pihak Barat yang berkulit putih.

            Pada zaman Presiden Prabowo sebutan londo ireng ditujukan pada para aktivis, politisi, LSM, mahasiswa, pengamat, jurnalis, akademisi, dan siapa pun yang dianggap mengganggu jalannya pemerintahan. Apalagi jika Prabowo mendapatkan informasi bahwa orang-orang ini didanai oleh pihak asing, pihak Barat berkulit putih, bahkan meskipun didanai pihak asing berkulit coklat seperti dari Malaysia atau Singapura, tetap disebut londo ireng, Belanda hitam.

            Pada zaman Medsos ini mudah diihat dari isi narasinya. Jika mengganggu pemerintahan Indonesia dan pro-asing, Prabowo dan pengikutnya menganggap orang-orang ini londo ireng. Orang-orang ini berada dalam radar pengawasan Prabowo.

            Bagaimana kalau kita memberikan kritikan? Apakah akan disebut londo ireng?

            Tidak akan pernah!

            Jika kita mengkritik dengan data yang benar dengan niat untuk memperbaiki keadaan, tidak akan masuk dalam kategori londo ireng. Kita bahkan akan masuk menjadi mitra pemerintah dalam memperbaiki keadaan negara. Kalau niatnya menjatuhkan, itulah londo ireng dalam pandangan Prabowo.

            Supaya tidak disebut londo ireng, segera minum susu supaya lebih cerah. Kalau bangga dengan sebutan londo ireng, tetap jangan lupa minum susu.

            Ilustrasi londo ireng saya dapatkan dari Indonesia Online.

            Sampurasun. 

Friday, 31 July 2026

Anjloknya Kepercayaan kepada Prabowo

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hasil survey  yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa kepuasan rakyat terhadap Presiden RI Prabowo Subianto turun drastis sebanyak 30,1%. Sembilan bulan lalu kepuasannya sangat tinggi, yaitu 81,2%. Data kepuasan terakhir adalah 51,1%. Hal ini berbeda dengan kepuasan rakyat terhadap Jokowi. Meskipun sudah tidak menjadi presiden, angkanya tetap tinggi, yaitu dari sekitar 82% menjadi 77%. Memang turun, tetapi tetap tinggi.

            Di samping itu, jika pemilihan presiden dilaksanakan pada tanggal ini, Prabowo akan kalah oleh Dedi Mulyadi yang sekarang menjadi gubernur Jawa Barat. Rakyat lebih memilih Dedi dibandingkan Prabowo dan calon lain. Dedi menempati posisi puncak dengan angka yang sangat tinggi. Adapun Anis Baswedan dan AHY jauh di bawah Prabowo. Artinya, jauh lebih rendah dibandingkan Dedi Mulyadi.


Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (Foto: Kantor Staf Presiden)


            Pihak istana tampaknya tidak terlalu pusing dengan hasil survey itu. Mereka menjelaskan bahwa mereka tidak mengejar hasil survey, tetapi bekerja untuk menjalankan berbagai program untuk rakyat. Hasil survey itu hanya menjadi pengingat untuk istana.

            Menurut saya, ada dua hal yang membuat kepercayaan rakyat kepada Prabowo menurun. Pertama, Prabowo itu sering sekali pergi ke luar negeri untuk melakukan serangkaian diplomasi. Hal itu mengakibatkan dia lebih sedikit berada bersama rakyat. Berbeda dengan Jokowi yang kerap blusukan ke tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, interaksi Prabowo dengan masyarakat kurang intens.

Memang Prabowo harus sangat sering bergaul dengan pihak asing untuk menjaga negara dan memanfaatkan energi internasional untuk kepentingan dalam negeri. Untuk urusan dalam negeri, sebaiknya lebih banyak ditugaskan kepada Wakil Presiden Gibran, para menteri, dan Dedi Mulyadi untuk di Jawa Barat. Dengan demikian, terjadi sinergi positif antara Prabowo, Gibran, dan Dedi Mulyadi. Tiga orang ini adalah orang kuat yang kekuatannya sulit untuk dibendung dalam memuncaki kepemimpinan nasional. Ketiganya tidak boleh adu kuat atau bersaing untuk saling mengalahkan atau tergoda untuk rebutan pengaruh dan posisi. Mereka harus saling bahu untuk masa depan negeri yang lebih baik. Soal hasil survey, tidak perlu menjadi pijakan untuk rebutan kepemimpinan. Sekarang adalah waktunya bekerja bersama-sama. Tidak harus mudah diadu domba. Perhatikan isu Fufufafa yang sudah menjadi sangat basi itu, kini tak punya pengaruh. Isu itu tadinya digunakan untuk mengadu domba antara Prabowo dan Gibran. Akan tetapi, karena dicuekin, mati sendiri.

Kedua, rakyat Indonesia itu mayoritas terlalu simpel, sederhana, pengen mudah saja dalam berpikir, tidak mau yang rumit-rumit, atau menelaah isu hingga ke dalam. Misalnya, ketika program makan bergizi gratis (MBG) bermasalah, rakyat menilainya gagal dan harus dihentikan karena memboroskan anggaran. Padahal, MBG itu menyerap hasil tani, ternak, industri rakyat sehingga rakyat punya pasar tetap untuk hasil produksinya. Di samping itu, MBG bisa menstabilkan harga sembako. Ketika produksi telur terlalu banyak, bisa diserap MBG sehingga harganya tidak jatuh. Sebaliknya, ketika produksi telur berkurang, tidak perlu diserap MBG sehingga harganya tidak melambung. Demikian pula soal Koperasi Merah Putih, ketika ada masalah, rakyat menilainya gagal dan harus dihentikan. Padahal, koperasi itu membebaskan rakyat dari rentenir dan memperpendek rantai distribusi sehingga harga sembako bisa lebih murah. Akan tetapi, rakyat kita tidak mau berpikir lebih dalam dan lebih sophisticated. Bahkan, bisa pusing jika diajak berpikir lebih ke intinya. Ketika Jokowi tidak memperlihatkan ijazah aslinya, rakyat menyimpulkan palsu atau tidak ada ijazah. Itulah masyarakat kita. Padahal lembaga tempat Jokowi belajar sudah menyatakan bahwa ijazahnya asli.

Kedua hal itulah yang menyebabkan anjloknya kepercayaan rakyat kepada Presiden Prabowo; bekerja sangat sering dalam bidang hubungan internasional kurang dekat pada rakyat dan kebiasaan rakyat yang terlalu sederhana dalam berpikir.

 Agar pemerintahan lebih kuat, syaratnya seperti yang saya jelaskan tadi, yaitu pertama, ketiga orang itu: Prabowo, Gibran, dan Dedi Mulyadi harus sinergi tidak mudah diadu domba untuk rebutan posisi.  Kedua, pemerintah harus memperbanyak orang yang bisa menjadi juru bicara kepada rakyat yang cara berpikirnya sederhana. Sekarang memang ada juru bicara yang pintar-pintar, seperti, Hasan Nasbi, Qodari, dan Ulta, tetapi itu masih kurang dan masih berbicara di level orang-orang pintar, belum mampu menyentuh ke alam pikiran rakyat yang berbicara sederhana dan berpikir sederhana.

Mudah-mudahan yang saya sampaikan ini bisa dipahami. Kalau belum paham, segera minum susu supaya bisa lebih lancar berpikir dan runut dalam berbicara.

Foto Prabowo adalah milik Kantor Staf Presiden.

Sampurasun.

Tuesday, 28 July 2026

Bandung Sepi Adalah Kegagalan Negara

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bandung yang biasanya sibuk siang-malam dan relatif aman untuk beraktivitas kini menjadi sepi dan mencekam. Kalau dulu-dulu, paling yang mengesalkan adalah parkir liar yang tidak jelas. Kalau pakai mobil, baru parkir saja diminta Rp20.000,-, pas pulangnya tidak ada yang ngejagain juga. Kalau motor, baru berhenti saja diminta Rp7.000,-, premannya langsung menghilang, tidak ada tanggung jawab buat ngejagain, minta uangnya saja. Meskipun demikian, masih relatif aman dari kekerasan. Sekarang menjadi tambah parah. Bandung terkuasai rasa takut oleh para begal, gank motor, dan kekerasan jalanan lainnya.


Salah satu sudut Bandung yang sepi mencekam (Foto: Instagram)


            Ada banyak video dan foto yang menayangkan Bandung sangat sepi, mencekam, dan mengerikan. Hal ini menunjukkan bahwa para penggerak begal dan penjahat lainnya sudah menang menguasai dan menebarkan teror di tengah masyarakat. Hal itu menimbulkan gangguan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Bandung yang merupakan wilayah besar dan sibuk dengan aktivitasnya harus terhenti karena ketakutan teror kekerasan. Ada banyak kegiatan produktif malam hari yang biasanya bergerak di Bandung kini berhenti. Artinya, ada peredaran uang yang juga ikut terhambat.

            Kegiatan malam itu bukan hanya hiburan malam, melainkan juga kuliner, penginapan, seminar, gathering, pengajian yang gladinya biasanya malam hari, para pekerja yang berganti shift, klinik atau rumah sakit, dan masih banyak lagi. Saya saja kalau ke Bali menggunakan mobil, lalu sampai Denpasar tengah malam, ya keliling cari hotel yang masih tersedia kamarnya. Kalau di Bandung, saya nggak keliling cari penginapan karena saya orang Bandung, tinggal pulang saja. Jika ada wisatawan atau orang yang punya keperluan di Bandung, tidak bisa cari penginapan kalau sudah malam karena ada teror begal yang mengerikan. Itu sangat mengganggu masyarakat dan pertumbuhan Bandung sendiri.

            Sepi dan mencekamnya Bandung itu sudah merupakan “kegagalan negara” dalam menciptakan rasa aman dan kondusif rakyatnya. Ini tidak perlu disangkal. Ini adalah kegagalan aparat keamanan yang digaji rakyat untuk bekerja dengan baik. Apalagi jika masyarakat ikut turun menjaga keamanan, itu juga sudah indikasi kegagalan. Hal itu disebabkan seharusnya masyarakat berkonsentrasi pada pekerjaan dan aktivitasnya, bukan soal keamanan.

            Bagaimana negara mau maju jika masyarakat yang harusnya bergerak membangun ekonomi, malah ikut-ikutan lelah menjaga keamanan?

            Memang masyarakat sangat sadar untuk  menjaga keamanan, tetapi itu bukanlah tugas mereka yang utama. Seharusnya rakyat diberikan rasa aman yang utuh sehingga pikiran, fisik, dan potensinya bisa diarahkan pada hal lain yang bukan keamanan. Untuk urusan keamanan, rakyat sudah diwajibkan membayar pajak. Uang-uang pajak itulah yang sebagiannya diberikan pada negara dan disalurkan pada aparat keamanan untuk menciptakan rasa aman.

            Kalau masyarakat harus berletih-letih lagi menjaga keamanan, untuk apa bayar pajak menghidupi aparat keamanan?

            Itu pemerasan!

            Situasi Bandung yang mencekam adalah kegagalan negara dalam memberikan rasa aman pada rakyat. Meskipun demikian, kita patut memberikan apresiasi pada negara dan aparat yang tampak mulai berbenah untuk memberikan layanan pada masyarakat. Meskipun masih minim, kita perlu memberikan dukungan. Hal yang harus dikawal adalah negara harus diperhatikan agar benar-benar melayani rakyatnya. Dalam urusan begal dan kekerasan jalanan lainnya untuk saat ini harus menjadi prioritas yang lebih ditingkatkan pelayanannya.

            Ilustrasi salah satu sudut Kota Bandung yang sepi karena ketakutan malam berasal dari Instagram.

            Jangan lupa minum susu, hentikan alkohol!

            Sampurasun.

Sunday, 26 July 2026

Begal dan Politik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Aksi-aksi begal, penodongan, dan kekerasan gank motor akhir-akhir ini marak serta mendapatkan perhatian luar biasa dari masyarakat sehingga membuat kota, khususnya Bandung menjadi sangat mencekam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa tayangan video netizen yang memperlihatkan situasi Bandung malam yang sangat sepi, tidak seperti biasanya.


Para begal ditangkap di Bandung (Foto: Metro TV)

            Banyak orang yang berpendapat bahwa maraknya aksi-aksi itu berawal dari masalah ekonomi. Kesusahan hidup membuat banyak kejahatan yang terjadi. Akan tetapi, saya melihatnya dari sisi politik. Maraknya aksi kejahatan tersebut sangat erat kaitannya dengan politik. Tujuannya adalah adanya huru-hara atau kegoncangan sosial. Pada zaman Presiden Jokowi juga terjadi huru-hara dan demonstrasi yang merebak serentak meskipun dengan isu-isu yang aneh, misalnya, soal pembatasan jam malam bagi perempuan dan hewan peliharaan yang masuk ke rumah tetangga.

Jauh ke masa lalu, para perusuh memang biasa digunakan oleh para politisi. Para wali di Indonesia kerap menggunakan mereka untuk menjatuhkan para raja yang dianggap zalim terhadap rakyat atau menentang Islam. Dalam banyak kisah upaya menyebarkan Islam di tanah Jawa sering disebut bahwa saking saktinya para wali bisa memerintahkan cacing, tikus, ular, atau kalajengking untuk menghancurkan istana para raja. Hewan-hewan itu sebenarnya adalah sebutan kiasan bagi para perusuh, preman, para jagoan jalanan yang merasakan kezaliman penguasa saat itu. Mereka berada dalam barisan para wali.

Kondisi ini sama dengan situasi ketika kerusuhan terjadi dalam setiap masa. Intinya adalah adanya orang-orang yang dirugikan dan tidak puas oleh kebijakan pemerintahnya, lalu membuat keguncangan di dalam negeri. Sejak Presiden Jokowi sudah terlihat situasi seperti ini, misalnya, dengan adanya hilirasisi yang membuat bangkrut banyak pabrik di Eropa dan menutup pintu rezeki banyak eksportir dan importir komoditas yang terkena program hilirisasi. Zaman Prabowo lebih-lebih lagi karena hilirisasi diperluas, swasembada pangan, berhasilnya B50, Danantara, pengawasan ekspor satu pintu yang lebih ketat, MBG, penangkapan koruptor yang lebih masif, dan lain sebagainya. Hal-hal itu membuat banyak orang, baik di luar negeri maupun di dalam negeri mengalami kerugian dan kesusahan rezeki. Orang-orang itu pasti marah luar biasa. Sopir Angkot saja marah kalau rezekinya disalip atau trayeknya dihentikan. Orang yang rugi miliaran atau triliunan pasti sangat marah. Mereka inilah yang saya duga menggerakkan para begal dan pelaku kejahatan lainnya untuk membuat kekacauan dan ketakutan di masyarakat.

Jokowi terlalu kuat untuk dijatuhkan, hingga kasus recehan saja seperti ijazah palsu digunakan untuk menjatuhkannya, tetapi tidak pernah jatuh meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjadi pejabat negara. Prabowo lebih sulit dijatuhkan dengan berbagai serangan media luar dan dalam negeri, LSM luar dalam negeri, hingga hinaan di Medsos tidak mempengaruhinya. Prabowo malah membuatnya seperti candaan. Orang-orang yang telah dirugikannya kayaknya kehilangan arah sekaligus kehilangan akal sehingga membuat kekacauan dan instabilitas melalui para begal dan pelaku kejahatan lainnya. Harapannya kekacauan akan menimbulkan ketidakstabilan politik yang berujung pada lemahnya pemerintahan. Dengan demikian, pemerintahan berganti sesuai yang diinginkan orang-orang itu.

Kalau masalahnya hanya ekonomi, kejahatan yang terjadi tidak akan serentak dan marak bersamaan. Kesusahan karena masalah ekonomi memang kerap terjadi, tetapi tidak seragam dalam waktu bersamaan secara masif. Kalau serentak, berarti terjadi pengorganisasian atau diorkestra oleh pihak-pihak kuat yang membekingi mereka.

Belum lagi jika diperhatikan dari pengakuan para penjahat yang sempat tertangkap dan diinterogasi warga. Banyak dari mereka yang mengaku hanya diajak orang lain. Bukan mereka sendiri yang berinisiatif melakukan kejahatan, melainkan “diajak”, digerakan orang lain. Pihak-pihak yang mengajaknya ini harus segera ditangkap karena merugikan keamanan warga.

Ini semua hanya politik yang bersaudara dengan ekonomi. Seperti itu yang saya lihat. Kalau belum paham, sebaiknya minum susu. Mau susu kambing atau susu sapi, boleh.

Kalau minum susu sambil “susulumputan”. Kalau susulumputan, kemungkinan susunya tidak halal. Jangan minum susu susulumputan karena susu itu halal.

Foto para begal yang ditangkap di Bandung adalah milik Metro TV.

Sampurasun

Wednesday, 22 July 2026

Prabowo Jangan Kurangi Anggaran Militer dan Polisi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Entah serius atau bercanda, Presiden Indonesia Prabowo dalam suatu pidato meminta kerelaan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk dipotong anggarannya. Hal itu disebabkan Prabowo ingin lebih banyak lagi uang untuk menjalankan program-program yang langsung dirasakan rakyat, misalnya, menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau dan memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat Indonesia.

            Program-program yang menyentuh masyarakat memang penting, tetapi tidak perlu memotong anggaran TNI dan Polri. Prabowo justru harus mencari atau menciptakan situasi yang memungkinkan untuk memperbanyak uang Indonesia agar dapat membiayai seluruh kegiatannya.

            Sangatlah berisiko jika mengurangi atau memotong anggaran TNI-Polri. Ketika Prabowo sangat aktif menjaga sumber daya alam Indonesia, menghentikan kecurangan-kecurangan pebisnis asing di Indonesia, membasmi korupsi, dan membuat ekonomi rakyat meningkat, banyak negara lain dan para pengusaha dunia menjadi rugi. Hal ini membuat kegelisahan dan kemarahan negara lain karena merasa terganggu mengalami penurunan keuntungan yang sangat besar. Bukan tak mungkin mereka mencari gara-gara untuk membuat ketidakamanan di Indonesia, bahkan melakukan penyerangan fisik jika terbuka celah untuk itu. Kita malahan sudah melihat banyak tandanya, mulai kegoncangan ekonomi yang anomali; pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi dollar AS juga meningkat meskipun pengaruhnya kecil di tengah masyarakat; para investor sempat kabur meskipun bertahap kembali lagi; sangat banyak hoaks yang beredar; bermunculan narasi tanpa data; gangguan keamanan yang terjadi secara serentak. Jika anggaran TNI-Polri dipotong, kemampuan negara dalam menciptakan kestabilan akan berkurang atau paling tidak, tidak terjadi peningkatan yang diharapkan.


Gabungan TNI dan Polri (Foto: Panara Course)

            Hal yang harus dilakukan adalah TNI-Polri diperkuat agar lebih percaya diri dan masyarakat mendapatkan keamanan dalam menjalankan ekonominya. Di samping itu, kekuatan Prabowo akan bertambah ketika terjadi negosiasi dengan pihak asing. Pada gilirannya Indonesia memiliki daya tawar yang lebih besar dalam berhubungan dengan asing untuk meningkatkan ekonomi dan status politik di dunia.

            Prabowo orang cerdas, pasti paham ini. Jangan sampai terlena karena asyik menjalankan program-program untuk rakyat dan mulai berhasil, tetapi melupakan bahwa orang lain sedang menunggu Indonesia lengah, bahkan menyusun strategi dan kekuatan untuk menguasai sumber daya Indonesia. Kita harus ingat bahwa tak ada satu pun negara di dunia ini yang bahagia jika Indonesia maju. Mereka terus berupaya agar rakyat Indonesia tetap bodoh, mudah ditipu, lemah, mudah dikuasai, dan tetap menjadi kuli di tananhnya sendiri.

            Hal yang harus dilakukan setiap hari adalah beribadat dan minum susu. Kalau susu lebih mahal dibandingkan kopi, insyaallah akan ada rezeki untuk membelinya. Itulah pentingnya berdoa.

            Foto TNI dan Polri adalah milik Panara Course.

            Sampurasun.

Saturday, 18 July 2026

 

Indonesia Harus Siap Berperang Satu Kali Lagi

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia dulu dijajah secara fisik karena banyak sumber daya alamnya. Mereka datang berbondong-bondong beratus-ratus tahun untuk mengambil sumber daya alam kita. Membiarkan kita miskin dan berfoya-foya di atas penderitaan rakyat Indonesia. Seperti itu penjelasan teramat singkat tentang penjajahan di Indonesia.

            Setelah Indonesia melakukan revolusi dan mengusir penjajah sehingga merdeka, berhentikah penjajahan?

            Tidak! Sama sekali tidak!


Revolusi Indonesia (Foto: Radar Mukomuko - Disway id)


            Pemimpin Besar Revolusi Ir. Soekarno mengatakannya masih ada penjajahan dengan mengistilahkannya sebagai “Nekolim”, ‘neo kolonialisme imperialisme’. Maksudnya, “penjajahan gaya baru”. Penjajah itu fisiknya sudah tidak ada lagi di Indonesia, tetapi cengkeramannya masih menguasai Indonesia. Mereka terusir dari negeri ini, tetapi masih mengeruk dan mengambil sumber daya alam Indonesia dari tempat yang jauh di negerinya sendiri. Mereka bekerja sama dengan para pejabat korup, perusahaan-perusahaan korup, para penipu, para pemeras, dengan memanfaatkan kebodohan rakyat. Itulah Nekolim, penjajahan gaya baru. Rakyat masih tetap miskin dan tertindas.

            Setiap upaya untuk memperbaiki kondisi rakyat selalu mendapatkan halangan, baik melalui diplomasi langsung yang dilakukan pihak asing, maupun membuat gangguan di tengah rakyat dengan menggunakan kaki tangan dan antek-anteknya di dalam negeri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya menyadarinya dan disiplin dalam membayar hutang ke International Monetary Fund (IMF) hingga lunas dan tidak mau menerima pinjaman dari IMF lagi hingga hari ini. Itu sudah merupakan upaya yang bagus setahap demi setahap membebaskan diri dari cengkeraman asing.

Presiden Jokowi melancarkan program “hilirisasi” yang melindungi sumber daya alam Indonesia. Dia tidak ingin bahan mentah Indonesia dijual murah ke luar negeri. Dia ingin produk olahannya hingga bahan setengah jadi dan barang jadi diproduksi di Indonesia. Dengan demikian, kita mendapatkan nilai tambah, uang tambah banyak, pajak lebih besar, dan mendapatkan keuntungan alih teknologi. Itu terbukti keuntungan Indonesia menjadi puluhan kali lipat dibandingkan jika menjual barang mentah. Akan tetapi, tantangan menjadi lebih besar hingga Indonesia harus bertengkar dengan Unieropa dalam sidang WTO. Negara-negara Eropa sangat dirugikan dengan program hilirisasi Jokowi karena sangat banyak perusahaan Eropa yang bangkrut akibat tak mendapatkan lagi bahan mentah dari Indonesia.

Presiden Prabowo lebih keras lagi menghentikan penjajahan gaya baru. Dia memperkuat hilirisasi dan kalau ada negara yang tidak mau bekerja sama dengannya, Prabowo memilih untuk membiarkan sumber daya alam kita ada di perut Bumi untuk dikelola anak cucu Indonesia pada masa mendatang. Di samping itu, dia benar-benar menghabisi koruptor meskipun itu terjadi di kalangan orang-orang dekatnya. Hal yang membuat para koruptor dan penipu itu lebih sulit bergerak lagi adalah dioperasikannya Danantara yang membuat kegiatan ekspor satu pintu sehingga pengawasan ekspor sumber daya alam diawasi lebih ketat untuk menghindari kecurangan. Negara memonopoli ekspor nikel, batu bara, kelapa sawit, dsb. sehingga hasilnya benar-benar untuk rakyat. Harga sawit ditentukan sendiri dan tidak peduli dengan harga yang ditentukan dunia. Kebocoran-kebocoran uang yang menguntungkan negara lain selama puluhan tahun dihentikan tiba-tiba.

Hal lain yang membuat orang lain atau negara lain rugi adalah penghentian pinjaman hutang ke IMF serta menolak pembatasan pengembangan Iptek dan kedirgantaraan. Indonesia harus berkembang tanpa halangan. Prabowo sudah tidak peduli lagi dengan perdagangan bebas yang menguntungkan asing, tetapi lebih peduli pada nasionalisme.

Hal yang sangat kentara adalah dengan swasembada beras, kita sudah menjatuhkan harga beras di luar negeri karena beras mereka menjadi terlalu banyak yang biasanya kita beli, tak lagi kita beli. Penghentian pembelian solar karena sudah bisa membuat B50 sendiri jelas merugikan para penjual solar.

Ada banyak lagi sebetulnya gerakan-gerakan Prabowo yang merugikan negara lain berikut antek-anteknya di dalam negeri. Hal itu jelas membuat marah banyak orang. Hari ini orang-orang yang dirugikan itu menunggu dan sekaligus menciptakan momen yang tepat untuk menjatuhkan Indonesia agar kepentingan bisnisnya tidak terganggu. Tidak menutup kemungkinan mereka mencari cara masuk untuk membuat keributan, bahkan mengalahkan Indonesia secara militer.

Kerugian mereka itu berarti membuat mereka tidak untung bahkan bisa miskin dan kelaparan. Sejarah dunia mencatat bahwa perang-perang di dunia ini diakibatkan oleh ketakutan sengsara dan kelaparan. Jika Indonesia semakin mampu menguasai alamnya sendiri, akan ada banyak negara yang harus menurunkan taraf hidupnya karena selama ini bergantung hidup pada kekayaan alam Indonesia. Itu akan membuat mereka marah dan tidak tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya.

Kerugian dan kemarahan mereka membuat Indonesia harus bersiap berperang satu kali lagi jika tidak ingin kembali dijajah bangsa asing. Keberanian Prabowo akan membuat banyak orang rugi karena lebih mementingkan kepentingan rakyat sendiri. Risiko akibat gerakan ini harus ditanggung oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan agar dapat menikmati kekayaan alam sendiri secara lebih adil dan membahagiakan.

Ilustrasi revolusi Indonesia dari Radar Mukomuko – Disway id.

Sampurasun.

Monday, 15 June 2026

Penyebab Kemiskinan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Salah seorang murid saya bertanya, “Pak, kapan Indonesia maju?”

            Saya jawab, “Indonesia sudah maju dan akan maju terus.”

            Dia kaget dan hanya memandang datar. Saya paham dia seperti itu karena dia adalah korban Medsos atau grup WA yang selalu menarasikan kesusahan dan kesulitan di Indonesia. Saya perlu meluruskan otaknya agar yang harus dilihat adalah bukan narasi Medsos, melainkan kenyataan sehari-hari.

            Saya jelaskan, “Indonesia bergerak maju kok. Kamu lihat kan di jalan-jalan orang-orang punya mobil Pajero, Alphard, dan orang-orang kompleks rumahnya lebih rapi? Itu artinya orang-orang punya uang.”

            “Enggak, Pak. Ini kok saya enggak merasa maju,” katanya.

            “Itu masalah kamu, bukan masalah Indonesia. Orangtua kamu dan kamu sendiri yang salah.”

            Sedikit kasar saya menjelaskannya, tetapi itu harus dilakukan agar dia tersadar.


Kemiskinan di Burundi (Foto: Solotrust)


            Pada hari itu saya jelaskan penyebab kemiskinan dalam kelas.  Sebetulnya, tidak cukup satu hari menjelaskannya, tetapi saya tulis beberapa hal saja supaya ada gambaran besar.

            Penyebab kemiskinan itu ada tiga faktor, yaitu diri pribadi, geografis, dan kebijakan pemerintah. Penyebab kemiskinan yang berasal dari diri pribadi adalah kemalasan, sakit, usia tua, fisik yang tidak sempurna, tidak punya keahlian, tidak punya keterampilan, lemah otak, bermasalah secara hukum, dsb. Jadi, jangan dulu menyalahkan orang lain kalau miskin atau menyalahkan pemerintah karena bisa jadi yang bermasalah itu adalah diri sendiri.

            Penyebab kedua adalah yang berasal dari geografis, misalnya, tinggal di tempat yang terisolasi di tengah hutan, jauh dari fasilitas publik, infrastruktur jalan yang tidak memadai, sering terkena bencana banjir dan gempa, terhalang oleh alam untuk berhubungan dengan dunia ramai, dan lain sebagainya. Ini jelas pasti menjadi penyebab kurangnya komunikasi dan hubungan dengan sumber-sumber kemakmuran.

            Penyebab kemiskinan yang ketiga adalah kebijakan pemerintah yang salah. Jika kebijakannya tidak berdasar pada kemakmuran rakyat dan hanya mementingkan sedikit golongan, sudah pasti rakyat dan negaranya miskin.

            Tiga faktor itulah yang menyebabkan kemiskinan. Dengan demikian, kita bisa menganalisis faktor mana yang menyebabkan kemiskinan agar didapat langkah yang tepat untuk mengatasi kemiskinan. Orang bisa menyalahkan pemerintah, tetapi sebenarnya dirinya yang salah. Kalau itu terjadi, meskipun pemerintahan berganti, presiden dan wakilnya diganti, Prabowo-Gibran jatuh, tetapi masalah kemiskinan sebenarnya  adalah dari dalam diri sendiri, akan tetap miskin selamanya dan tidak akan pernah berubah.

            Jika dirinya sudah berkualitas, secara geografis tinggal di tempat yang mudah komunikasi, tetapi mayoritas rakyatnya miskin, bisa jadi kebijakan pemerintah yang salah. Artinya, harus ada perbaikan kebijakan atau bergantinya pemerintahan.

            Foto anak-anak miskin itu berasal dari Negara Burundi, negara paling miskin di dunia, sumber Solotrust.

            Markisu, mari kita minum susu.

            Sampurasun.

Friday, 12 June 2026

Prabowo Jangan Tersinggung Disebut Sering Main ke Luar Negeri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Presiden Republik Indonesia Prabowo harus tenang-tenang saja bekerja meskipun disebut presiden yang terlalu sering jalan-jalan ke luar negeri. Kalau memang pekerjaan menuntut harus ke luar negeri, ya harus dilakukan. Tidak perlu mendengarkan omongan orang-orang yang tidak paham situasi.


Presiden ke-8 Indonesia Prabowo Subianto


            Saya masih ingat Presiden Abdurahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur juga sama disebut presiden yang gemar jalan-jalan ke luar negeri. Dia malah disebut “Gus Tour”. Orang-orang yang nyinyir itu jelas tidak paham situasi. Gus Dur memang ketika baru saja menjadi presiden, segera menemui teman-temannya di luar negeri, para pemimpin negara asing. Itu sangat sering dilakukan. Orang-orang melihatnya hanya seperti pergi ke sana ke mari. Padahal, situasi saat itu lumayan genting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ada Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ada Republik Maluku Selatan (RMS), ada Organisasi Prapua Merdeka (OPM), dan gerakan lain dari berbagai daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Gerakan-gerakan yang ingin memisahkan dari NKRI itu banyak mendapat perhatian dan dukungan dari pihak asing. Banyak negara asing yang mendukung beberapa gerakan untuk memisahkan diri dari NKRI. Oleh sebab itu, Gus Dur mendatangi negara-negara itu untuk memastikan bahwa Negara Indonesia tetap berada dalam kendali dirinya dan negara lain harus menghormati kedaulatan Negara Indonesia dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Hasilnya, kita lihat sekarang, perjalanan Gus Dur ke seluruh dunia itu telah menetapkan bahwa NKRI tetap utuh, artinya dukungan negara lain atau pihak asing untuk pemisahan diri dari NKRI sudah jauh lebih lemah dan dukungannya menjadi tidak mengganggu NKRI.

            Melihat pengalaman Gus Dur seperti itu, Prabowo tidak perlu tersinggung atau terlalu menanggapi komentar orang-orang yang nyinyir terhadap perjalanannya ke luar negeri. Saat ini memang situasi mengharuskan Indonesia banyak berhubungan dengan pihak luar negeri untuk mengamankan dalam negeri di tengah konflik antara Barat dan Timur Tengah. Konflik itu menyeret negara-negara besar lainnya yang juga sedang berbisnis dengan Indonesia. Di samping itu, keadaan ekonomi Indonesia pun banyak dipengaruhi situasi dunia. Hal itu mengharuskan Prabowo untuk banyak berhubungan dengan pihak asing agar goncangan-goncangan itu tidak membuat kerusakan di dalam negeri Indonesia.


Presiden ke-4 Indonesia Abdurahman Wahid (Gus Dur)


            Prabowo juga tampaknya sangat mengerti itu. Dia sekarang dinyinyiri sering jalan-jalan ke luar negeri. Jokowi yang sangat jarang ke luar negeri dinyinyiri juga sebagai presiden yang tidak pernah hadir di pergaulan internasional karena lebih suka di dalam negeri. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa mendengarkan ocehan orang-orang bodoh yang penuh kedengkian adalah sangat tidak berguna karena mereka tidak tahu apa-apa dan sok tahu. Prabowo tenang saja bekerja. Soal jalan ke luar negeri, Gus Dur juga disebut Gus Tour, Jokowi juga disebut kurang gaul. Susah memang kalau sudah tidak suka, apa pun yang dilakukan pasti dinyinyiri. Suara orang dengki itu tidak berguna.


Presiden ke-7 Indonesia Jokowi


            Jauhi orang toxic, sebaiknya Markisu, mari kita minum susu.

            Foto Prabowo adalah milik Gerindra, foto Gus Dur dari Pergunu DIY, adapun Jokowi dari Beritajakarta id.

            Sampurasun

Monday, 1 June 2026

Serunya Ngajarin “Paguneman” ke Mahasiswa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Paguneman adalah bahasa Sunda yang artinya dialog. Saya mencoba mengajarkan bahasa Sunda kepada mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari dengan materi paguneman atau dialog, bisa antarsesama, atasan-bawahan, guru-murid, atau yang lainnya. Untuk lebih memahami paguneman, mahasiswa saya wajibkan untuk melakukan praktik. Tentunya, sebisa mereka karena bukan mahasiswa Sastra Sunda. Mereka adalah mahasiswa HI. Target saya adalah mahasiswa yang berasal dari Sunda tidak melupakan, bahkan bangga bisa berbahasa Sunda. Adapun mahasiswa yang bukan Sunda, misalnya, dari Jawa atau NTT dapat mengenal bahasa Sunda dan mampu lebih baik lagi berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Sunda.

                   Ketika melakukan praktik paguneman, banyak kelucuan yang dilakukan mahasiswa karena saya bebaskan mereka untuk membuat tema sendiri, menjadi sutradara sendiri, dan memperbaikinya sendiri. Praktik tersebut berlangsung dengan suasana hangat dan banyak lucunya karena kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Akan tetapi, tujuan saya tetap tercapai, yaitu lebih memperkenalkan bahasa Sunda.

                   Keseruan itu direkam oleh mahasiswa sendiri, lalu dikirimkan kepada saya. Saya tayangkan di youtube supaya ada kenangan dan setiap saat bisa melakukan perbaikan agar praktik paguneman bisa lebih baik lagi.

                   https://www.youtube.com/watch?v=8CqJNqSa1Og




            Sampurasun.