oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Kejadiannya sekitar tahun 2000
silam. Awalnya, saya merasa itu peristiwa biasa saja, tidak penting, dan sudah
saya lupakan juga. Akan tetapi, saat ini beredar kabar bahwa banyak dana asing ratusan
triliun yang beredar di Indonesia melalui banyak LSM dan perorangan yang
lumayan membahayakan, saya jadi ingin berbagi pengalaman saat itu. Bahaya bukan
hanya untuk masyarakat Indonesia, melainkan bagi penerima dana itu sendiri,
apalagi dengan makin terbukanya gerakan “false
flag” yang sempat diungkapkan Presiden Prabowo. False flag itu kalau di
Indonesia mirip dengan tindakan “lempar batu sembunyi tangan”, dia yang
melakukan, tetapi dituduhkan kepada orang lain.
Saat itu saya dalam kondisi bangkrut, tidak punya uang, banyak
jual aset untuk beli beras, dan hidup dari pinjaman. Kalau saya terima dana
asing itu, bukan hanya masalah ekonomi saya saja yang bisa teratasi, melainkan
pula bisa punya rumah baru, mobil baru, dan segala hal baru. Akan tetapi, saya
menolaknya meskipun sangat ingin menerima karena yang namanya uang itu sangat
nikmat dan menyenangkan.
Saat itu salah seorang teman memberitahukan bahwa ada
dana dari Jepang untuk disalurkan pada mantan-mantan “jugun ianfu” di Indonesia. Jugun ianfu adalah perempuan yang
dijadikan budak seks oleh tentara Jepang selama menjajah Indonesia. Banyak
orang Jepang merasa berdosa telah melakukan itu pada masa lalu dan ingin
menebus kesalahannya dengan cara mengumpulkan banyak uang untuk diberikan kepada
mantan-mantan wanita pemuas seks itu. Saya diminta untuk mengumpulkan
teman-teman, lalu melakukan banyak rapat, mencari mantan-mantan wanita itu, kemudian
menyalurkan uangnya buat mereka.
![]() |
| Jugun ianfu Korea Selatan (Foto: BBC) |
Di Bandung kabarnya banyak mantan jugun ianfu. Itu karena
strategi Presiden Soekarno untuk melindungi perempuan-perempuan baik, anak
ulama, anak ustadz, pendeta, anak-anak tokoh adat dari nafsu seks tentara Jepang.
Soekarno membiarkan para pelacur dari Bandung untuk memuaskan nafsu seks
mereka. Merekalah yang harus saya cari karena dulu mereka mendapatkan perlakuan
yang biadab dan penuh penderitaan.
Saya menolaknya bukan karena tidak butuh uang, tetapi
karena bingung harus mencari ke mana. Penjajahan jepang itu terjadi sekitar 1942
s.d. 1945, artinya usia para perempuan itu saat ini mungkin sudah mencapai 80
atau 90 tahun, bahkan sudah meninggal. Kalau memaksakan diri sih, bisa saja,
tetapi kalau gagal, bukan hanya saya yang malu, melainkan juga orang Indonesia
akan dipermalukan. Uangnya saya ambil, digunakan, tetapi gagal. Saya sudah
pasti akan dikatakan orang yang tidak becus kerja, bahkan dikatakan koruptor
makan dana sosial mereka. Para penyandang dana bisa marah, lalu kemarahan
mereka bisa berbentuk apa saja terhadap saya dan teman-teman saya. Oleh sebab
itu, saya menolaknya meskipun sangat ingin.
Sungguh, saya tidak menuduh orang-orang Jepang itu bakal
jahat terhadap saya. Mereka orang-orang baik yang ingin menebus kesalahan pada masa
lalu, tetapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya gagal melakukan seperti
apa yang mereka minta.
Ceritera ringan ini bisa dijadikan contoh untuk siapa
saja yang kebetulan punya akses terhadap dana asing. Perhatikan benar tujuannya
untuk apa, kesepakatannya seperti apa, dan pelajari jika terjadi kegagalan.
Kabar yang beredar kan sudah banyak justru para penerima dana asing itu yang
menjadi korban dari penyandang dananya sendiri karena terjadi kegagalan.
Hati-hati. Kalau tidak yakin benar tujuannya untuk kebaikan
dan saling pengertian, tolak saja. Saya juga tidak mati karena menolaknya,
malahan baik-baik saja hingga hari ini. Jangan lupa, minum susu murni.
Ilustrasi jugun ianfu Korea Selatan adalah milik BBC,
saya nggak tega memposting foto perempuan Indonesia.







