Indonesia
Harus Siap Berperang Satu Kali Lagi
oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Indonesia dulu dijajah secara fisik karena banyak sumber
daya alamnya. Mereka datang berbondong-bondong beratus-ratus tahun untuk
mengambil sumber daya alam kita. Membiarkan kita miskin dan berfoya-foya di
atas penderitaan rakyat Indonesia. Seperti itu penjelasan teramat singkat
tentang penjajahan di Indonesia.
Setelah
Indonesia melakukan revolusi dan mengusir penjajah sehingga merdeka,
berhentikah penjajahan?
Tidak! Sama
sekali tidak!
![]() |
| Revolusi Indonesia (Foto: Radar Mukomuko - Disway id) |
Pemimpin Besar Revolusi Ir. Soekarno mengatakannya masih ada penjajahan dengan mengistilahkannya sebagai “Nekolim”, ‘neo kolonialisme imperialisme’. Maksudnya, “penjajahan gaya baru”. Penjajah itu fisiknya sudah tidak ada lagi di Indonesia, tetapi cengkeramannya masih menguasai Indonesia. Mereka terusir dari negeri ini, tetapi masih mengeruk dan mengambil sumber daya alam Indonesia dari tempat yang jauh di negerinya sendiri. Mereka bekerja sama dengan para pejabat korup, perusahaan-perusahaan korup, para penipu, para pemeras, dengan memanfaatkan kebodohan rakyat. Itulah Nekolim, penjajahan gaya baru. Rakyat masih tetap miskin dan tertindas.
Setiap
upaya untuk memperbaiki kondisi rakyat selalu mendapatkan halangan, baik
melalui diplomasi langsung yang dilakukan pihak asing, maupun membuat gangguan
di tengah rakyat dengan menggunakan kaki tangan dan antek-anteknya di dalam
negeri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya menyadarinya dan disiplin
dalam membayar hutang ke International Monetary Fund (IMF) hingga lunas dan
tidak mau menerima pinjaman dari IMF lagi hingga hari ini. Itu sudah merupakan
upaya yang bagus setahap demi setahap membebaskan diri dari cengkeraman asing.
Presiden Jokowi melancarkan
program “hilirisasi” yang melindungi sumber daya alam Indonesia. Dia tidak
ingin bahan mentah Indonesia dijual murah ke luar negeri. Dia ingin produk
olahannya hingga bahan setengah jadi dan barang jadi diproduksi di Indonesia.
Dengan demikian, kita mendapatkan nilai tambah, uang tambah banyak, pajak lebih
besar, dan mendapatkan keuntungan alih teknologi. Itu terbukti keuntungan
Indonesia menjadi puluhan kali lipat dibandingkan jika menjual barang mentah.
Akan tetapi, tantangan menjadi lebih besar hingga Indonesia harus bertengkar
dengan Unieropa dalam sidang WTO. Negara-negara Eropa sangat dirugikan dengan program
hilirisasi Jokowi karena sangat banyak perusahaan Eropa yang bangkrut akibat
tak mendapatkan lagi bahan mentah dari Indonesia.
Presiden Prabowo lebih keras
lagi menghentikan penjajahan gaya baru. Dia memperkuat hilirisasi dan kalau ada
negara yang tidak mau bekerja sama dengannya, Prabowo memilih untuk membiarkan
sumber daya alam kita ada di perut Bumi untuk dikelola anak cucu Indonesia pada
masa mendatang. Di samping itu, dia benar-benar menghabisi koruptor meskipun
itu terjadi di kalangan orang-orang dekatnya. Hal yang membuat para koruptor
dan penipu itu lebih sulit bergerak lagi adalah dioperasikannya Danantara yang
membuat kegiatan ekspor satu pintu sehingga pengawasan ekspor sumber daya alam
diawasi lebih ketat untuk menghindari kecurangan. Negara memonopoli ekspor nikel,
batu bara, kelapa sawit, dsb. sehingga hasilnya benar-benar untuk rakyat. Harga
sawit ditentukan sendiri dan tidak peduli dengan harga yang ditentukan dunia.
Kebocoran-kebocoran uang yang menguntungkan negara lain selama puluhan tahun
dihentikan tiba-tiba.
Hal lain yang membuat orang
lain atau negara lain rugi adalah penghentian pinjaman hutang ke IMF serta menolak
pembatasan pengembangan Iptek dan kedirgantaraan. Indonesia harus berkembang
tanpa halangan. Prabowo sudah tidak peduli lagi dengan perdagangan bebas yang
menguntungkan asing, tetapi lebih peduli pada nasionalisme.
Hal yang sangat kentara adalah
dengan swasembada beras, kita sudah menjatuhkan harga beras di luar negeri
karena beras mereka menjadi terlalu banyak yang biasanya kita beli, tak lagi
kita beli. Penghentian pembelian solar karena sudah bisa membuat B50 sendiri
jelas merugikan para penjual solar.
Ada banyak lagi sebetulnya
gerakan-gerakan Prabowo yang merugikan negara lain berikut antek-anteknya di
dalam negeri. Hal itu jelas membuat marah banyak orang. Hari ini orang-orang
yang dirugikan itu menunggu dan sekaligus menciptakan momen yang tepat untuk
menjatuhkan Indonesia agar kepentingan bisnisnya tidak terganggu. Tidak menutup
kemungkinan mereka mencari cara masuk untuk membuat keributan, bahkan mengalahkan
Indonesia secara militer.
Kerugian mereka itu berarti
membuat mereka tidak untung bahkan bisa miskin dan kelaparan. Sejarah dunia
mencatat bahwa perang-perang di dunia ini diakibatkan oleh ketakutan sengsara
dan kelaparan. Jika Indonesia semakin mampu menguasai alamnya sendiri, akan ada
banyak negara yang harus menurunkan taraf hidupnya karena selama ini bergantung
hidup pada kekayaan alam Indonesia. Itu akan membuat mereka marah dan tidak
tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya.
Kerugian dan kemarahan mereka
membuat Indonesia harus bersiap berperang satu kali lagi jika tidak ingin
kembali dijajah bangsa asing. Keberanian Prabowo akan membuat banyak orang rugi
karena lebih mementingkan kepentingan rakyat sendiri. Risiko akibat gerakan ini
harus ditanggung oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan agar dapat menikmati
kekayaan alam sendiri secara lebih adil dan membahagiakan.
Ilustrasi revolusi Indonesia
dari Radar Mukomuko – Disway id.
Sampurasun.






