Wednesday, 27 May 2026

Soal Dollar? Markisu: Mari Kita Minum Susu

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, saya malas ikut-ikutan ngomentarin dollar. Soalnya, lucu.

Orang-orang ini lagi ngeributin apa sih?

Memangnya kenapa?

Saya jadi ikut-ikutan menulis soal ini karena ada banyak permintaan, baik dari murid-murid saya, maupun dari teman-teman saya sendiri. Mereka ingin pendapat saya soal dollar yang lagi diributkan orang itu dari sudut pandang saya.

Memangnya penting pendapat saya?

Nanti banyak orang tersinggung. Makanya, saya kasih tahu dari sekarang. Kalau mudah tersinggung, jangan baca tulisan saya ini. Skip saja. Tetap saja kukuh pada pendapat kalian masing-masing. Jangan baca tulisan saya ini, lewati saja, segera pindah ke tulisan atau video lain.

            Jangan salahkan saya jika kalian tersinggung, saya sudah kasih tahu untuk tidak baca tulisan ini. Kalian masih membaca terus. Jadi, jangan tersinggung, kalian yang salah karena membaca tulisan ini. Sudah dikasih tahu, masih terus juga membaca, bandel.

            Karena kalian bandel, okelah saya kasih tahu pendapat saya tentang dollar yang diheboh-hebohkan orang itu. Saya tidak menggunakan angka-angka pasti ekonomi karena sudah saya bilang, lagi malas. Cari saja sendiri angka ekonomi pastinya, banyak kok. Saya hanya ingin menjelaskan dari sisi politiknya menurut keyakinan saya.

            Isu ini berasal dari orang-orang yang kalah secara politik, kalah secara ekonomi, dan kalah secara sosial. Sejak Jokowi menjabat Presiden RI periode pertama, sudah banyak isu yang digunakan menyerang pemerintah. Mulai isu Jokowi PKI, bodoh, planga-plongo, klemar-klemer, banyak bohong, pendusta, ingkar janji, dan lain sebagainya.  Mereka selalu mengancam dengan akan adanya penggulingan pemerintah seperti pada aksi 1998. Akan tetapi, buktinya Jokowi tetap kuat dan terpilih untuk periode kedua. Artinya, orang-orang itu kalah. Jokowi selaku pemerintah menang. Itu fakta.

            Sudah mulai tersinggung membaca tulisan ini?

            Kan udah dibilangin untuk berhenti membaca. Kalian membaca terus sih.

            Pemerintahan Jokowi tidak pernah sepi dari isu penggulingan dan keinginan untuk menciptakan kondisi yang mendorong aksi 1998. Pada periode kedua dia berkuasa pun ada banyak serangan, seperti, mobil Esemka, ekonomi memburuk karena Covid 19, soal infrastruktur, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintahan gagal, omnibus law, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Jokowi tetap kuat dan mendorong pasangan Prabowo-Gibran untuk memimpin Indonesia. Artinya, banyak orang yang dikalahkan. Jokowi tetap menang. Sementara itu, aksi mirip 1998, tidak pernah terjadi. Itu kenyataan.

            Ketika Prabowo Subianto menjadi presiden didampingi Gibran Rakabuming Raka yang anaknya Jokowi itu, gencar diisukan bahwa Prabowo adalah boneka Jokowi. Prabowo dikendalikan oleh Jokowi. Akan tetapi, Prabowo tidak merasa dikendalikan dan tetap menghormati Jokowi. Hubungan mereka tetap baik. Kemudian, diisukan pula bahwa Gibran adalah Fufufafa yang menghina dan merendahkan Prabowo sekeluarga. Maksudnya, supaya Prabowo marah dan membenci Gibran. Akan tetapi, isu itu gagal. Para pembenci dan penyinyir tetap dalam posisi kalah. Pemerintah tetap tegak dan kuat.

            Orang-orang yang dikalahkan pemerintah tetap menunggu dan menciptakan kondisi agar terjadi kekalutan untuk bisa menjatuhkan pemerintah melalui gerakan yang inkonstitusional karena jika melakukan gerakan yang sesuai dengan konstitusi, sudah pasti kalah, yaitu melalui Pemilu dan pemecatan. Mereka memilih untuk melakukan gerakan di luar konstitusi, yaitu huru-hara seperti aksi 1998 dalam pikiran mereka.

            Mereka rajin bikin narasi-narasi negatif tentang pemerintah. Meskipun salah dan kalah, mereka tetap konsisten mengarang berbagai isu yang akhirnya dilupakan orang juga. Ketika terjadi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang berlarut-larut, kondisi ekonomi dunia berguncang, beberapa negara kelimpungan. Indonesia pun ikut terpengaruh dengan harga BBM yang meningkat dan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS.

            Orang-orang kalah yang dirugikan pemerintah membuat banyak asumsi yang menggambarkan Indonesia akan rusak dan berantakan, terutama karena nilai tukar dollar yang semakin tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat aksi 1998. Mereka memprovokasi akan terjadinya negara kolaps karena ekonomi lemah akibat rupiah yang lemah terhadap dollar. Sebagaimana biasa, mereka mengancam akan terjadinya aksi 1998 karena kondisinya lebih parah dibandingkan 1998 dalam pikiran mereka.

            Ketika rajin-rajinnya mereka membuat banyak narasi kerusakan ekonomi akibat dollar AS yang meningkat, Presiden Indonesia Prabowo Subianto malah bercanda, terkesan melecehkan berbagai isu, narasi, framing, dan pikiran berbagai pihak yang menakut-nakuti masyarakat soal keruntuhan ekonomi yang akan menimbulkan kejatuhan pemerintah.

            Prabowo seolah-olah meledek bahwa yang pusing karena dollar adalah mereka yang suka bepergian ke luar negeri, sementara rakyat di desa-desa tenang-tenang saja karena tidak bertransaksi menggunakan dollar AS. Inilah yang membuat banyak orang marah karena merasa dilecehkan Presiden. Mereka lalu membuat lebih banyak narasi dan menyebarluaskannya lebih masif hingga ke orang-orang kecil yang tidak tahu juga soal transaksi menggunakan dollar. Mereka melebih-lebihkan situasi dengan mengungkapkan bahwa rakyat di desa banyak yang menjerit, berteriak, menderita karena harga melangit akibat rupiah lemah terhadap dollar.

            Pertanyaannya adalah rakyat mana yang menjerit?

            Di desa mana yang sangat terpengaruh oleh dollar sehingga rakyat menderita?

            Paling juga rakyat Medsos di Desa Medsos yang kalang kabut. Di dalam kehidupan nyata, biasa-biasa saja.

            Saya ini orang kampung lho, Kampung Sodong, Desa Nagrak, di sekitar perbukitan. Setiap pagi selepas shalat Shubuh sering berolahraga pagi mengitari dua atau tiga blok di komplek, lalu menemui teman saya pedagang bubur ayam untuk jajan dan ngobrol di sana dengan Ketua RW, RT, dan DKM. Harga bubur ayam tidak berubah dari bulan lalu, masih sama. Orang-orang tidak membicarakan dollar, paling mengobrol tentang lingkungan dan kerja bakti. Bubur ayam itu terdiri atas beras, seledri, kacang, kecap, kerupuk, dll. Harganya tidak berubah karena komponen-komponennya tidak mengalami kenaikan harga.

            Saya ini pengunyah bawang dan daun sirih. Jadi, suka ke warung sayuran untuk membelinya sekalian  membeli sayuran pesanan istri. Harganya masih sama kayak dua minggu kemarin, tidak berubah. Harga yang sering berubah naik turun itu harga telur dan minyak goreng. Dari dulu juga kedua barang itu sering naik-turun, tidak ada hubungannya dengan perang AS-Israel Vs Iran.

            Saya ini pemelihara bebek dan ikan. Harga pakan sekarung dedak dan pelet tidak berubah. Biasa saja. Itu saya sertakan video anak saya yang kedua sedang memberikan makan ikan di kolam dan bebek.




            Lalu, siapa yang menjerit karena dollar? Di kampung mana? Di desa mana?

            Oleh sebab itu, soal kenaikan dollar, Markisu saja, mari minum kita susu. Saya ini dua kali minum susu dalam sehari. Pagi-pagi minum susu kambing, siang atau sore minum susu sapi. Tidak perlu heboh jika tidak terjadi apa-apa, tenang saja. Minum susu saja. Kalau ada, tambah dengan susu kuda, mau kuda liar atau kuda lieur juga nggak apa-apa. Kalau masih punya uang, bisa juga beli susu unta. Hidup susu!

            Mengapa tidak terjadi tanda-tanda aksi huru-hara seperti 1998 padahal harga dollar lebih tinggi saat ini?

            Mari belajar bareng sambil minum susu.

            Pada masa di seputar aksi 1998 itu harga dollar AS meningkat sangat tinggi dalam waktu yang sangat cepat. Dari Rp2.500,- menjadi Rp15.000,-, kemudian naik lagi menjadi Rp16.800,-. Kenaikannya sangat tinggi, Rp14.300,- dalam waktu yang sangat cepat. Itulah yang membuat masyarakat panik, barang-barang mahal, perusahaan banyak yang bangkrut, PHK terjadi di mana-mana, pengangguran semakin meledak mendadak. Orang-orang kesulitan uang, dapur-dapur rumah tangga tidak lagi ngebul, sampai pedagang di emperan pun tak menghasilkan uang yang cukup untuk dibawa pulang. Itulah yang menggerakkan mahasiswa bersama rakyat melakukan aksi 1998. Ujungnya adalah pemerintahan Presiden Soeharto jatuh. Itu fakta, kenyataan yang tidak bisa dibantah.

            Berbeda jauh dengan situasi saat ini, 2026, rupiah melemah hanya sedikit, yaitu dari enam belas ribuan rupiah menjadi tujuh belasan ribu rupiah, hanya sekitar seribu rupiah kenaikannya. Jauh lebih sedikit dibandingkan 1998. Di samping itu, saat ini neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Ekspor Indonesia lebih besar dibandingkan impor. Artinya, Indonesia mendapatkan banyak untung, menghasilkan banyak uang dari perdagangan dengan pihak asing. Dengan keuntungan itu dan usaha-usaha negara lainnya, Indonesia masih bisa menstabilkan keadaan ekonomi sehingga rakyat tidak terlalu merasakan dampak dari kenaikan harga dollar AS. Dengan demikian, aksi mirip 1998, tidak juga terjadi. Pemerintahan Prabowo-Gibran tetap berdiri tegak.

            Sampai sini paham kan mengapa di tengah masyarakat tidak terjadi guncangan berarti?

            Kalau belum paham, sebaiknya minum susu.

            Saat ini situasi masih tenang-tenang saja. Orang-orang masih merayakan Idul Adha dengan baik tanpa memusingkan dollar. Saya dan tetangga masih bisa beli makanan buat Nobar Persib, tuh videonya ada. Bapa Aing Dedi Mulyadi masih ceria konvoy bareng ribuan fans Persib. Mendingan minum susu dibandingkan mikirin dollar mah.




            Kita masih punya Menteri Keuangan yang bekerja bersama kementerian lainnya untuk mempertahankan, bahkan membuat Indonesia maju.

Kata Prabowo, “ Selama Purbaya masih tersenyum, berarti keuangan kita baik-baik saja.”

Tentunya, keadaan akan menjadi tidak baik-baik saja jika pemerintah dan rakyat tidak bersatu untuk meningkatkan ekspor, menggantungkan diri pada impor dari negara lain, tidak menindak keras para koruptor, serta membiarkan kejahatan ekonomi dan kejahatan politik mengacaukan negara.

Mudah-mudahan kita semua paham dan tenang-tenang saja hingga dollar bisa dikembalikan ke Rp15.000,-. Kalau situasi masih tenang, tidak perlu bikin ricuh, Markisu mari kita minum susu.


Sampurasun.

Thursday, 23 April 2026

Prabowo-Purbaya Jangan Terlalu Terbuka pada Asing

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Baru-baru ini Indonesia telah menganggetkan dunia karena dianggap telah mampu bertahan dari gejolak politik dan ekonomi internasional. Pada saat negara-negara lain tampak rapuh dan goncang akibat perang AS-Israel Vs Iran yang ditandai dengan naik tajamnya harga BBM dan naiknya harga-harga barang, Indonesia tetap bertahan dengan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi untuk rakyat. Hal itu membuat Indonesia tidak mengalami goncangan yang berarti. Rakyat merasakannya biasa-biasa saja seperti hidup sebelum terjadinya perang Iran Vs AS-Israel. Berbeda dengan di negara-negara lain yang sangat merasakan goncangan itu hingga ke kehidupan mereka sehari-hari.

            Kondisi Indonesia yang relatif stabil secara politik dan ekonomi membuat lembaga-lembaga keuangan dunia heran dan mencari tahu tentang strategi Indonesia. Tak kurang dari lembaga keuangan dunia “International Monetary Fund” (IMF) mendatangi Indonesia untuk belajar sekaligus tentu saja menawarkan bantuan keuangan. Untuk bantuan keuangan, Indonesia sudah benar menolaknya. Indonesia sudah tidak membutuhkannya sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berhasil melunasi hutang pada IMF. Sekarang pun demikian, menolak lagi bantuan itu. Meskipun demikian, IMF tetap merayu agar bisa bekerja sama dengan Indonesia. Untuk keinginan mereka mempelajari tentang kebijakan Indonesia, tentu ini harus disikapi dengan hati-hati.


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu dengan Managing Director IMF Kritalina Georgieva (Foto: Facebook)


            Kita boleh berbangga dan mensyukuri keadaan Indonesia yang biasa-biasa saja, mampu bertahan, bahkan menunjukkan optimisme untuk melangkah maju. Akan tetapi, tetap harus waspada terhadap pihak asing. Mereka ingin belajar dari Indonesia, tetapi jangan sampai memberikan pengetahuan terlalu terbuka. Hal itu disebabkan bisa saja terjadi mereka sesungguhnya sedang belajar mencari tahu tentang kelemahan Indonesia. Ketika tahu kelemahan Indonesia, mereka bisa masuk melalui jalan itu dan membuat berbagai kesulitan bagi Indonesia. Para ahli sudah banyak yang paham bahwa banyak masukan dan pandangan mereka bisa merugikan Indonesia.

            Kita boleh bergembira dengan penilaian dunia bahwa Indonesia dicatat sebagai cahaya di tengah kegelapan situasi ekonomi akibat perang. Akan tetapi, jangan terlalu bergembira karena tidak ada satu negara pun di dunia ini yang ingin melihat Indonesia maju. Mereka hanya ingin mereka yang maju dan Indonesia tetap berada di bawah mereka. Oleh sebab itu, baik Presiden Prabowo maupun Menteri Purbaya jangan terlalu terbuka mengenai ekonomi Indonesia. Cukup gambaran umum dan optimisme Indonesia saja yang boleh dishare. Adapun untuk kebijakan, teknis, dan hal-hal mendetail lainnya, tidak perlu seluruhnya dibuka karena tidak perlu seluruhnya transparan. Toh, kita berpakaian pun tidak boleh transparan, tetap harus ada yang ditutupi untuk melindungi diri.

            Kita tidak boleh transparan dalam berpakaian meskipun mungkin ada yang menyukai kain transparan. Kalau membayangkan orang lain dengan pakaian transparan sehingga kelihatan seluruh tubuhnya, segera berhenti, lalu minum susu murni supaya sehat.

            Foto Menteri Keuangan Purbaya dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva ada di Facebook.

            Sampurasun.

Wednesday, 22 April 2026

Saya Tolak Dana Asing

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kejadiannya sekitar tahun 2000 silam. Awalnya, saya merasa itu peristiwa biasa saja, tidak penting, dan sudah saya lupakan juga. Akan tetapi, saat ini beredar kabar bahwa banyak dana asing ratusan triliun yang beredar di Indonesia melalui banyak LSM dan perorangan yang lumayan membahayakan, saya jadi ingin berbagi pengalaman saat itu. Bahaya bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, melainkan bagi penerima dana itu sendiri, apalagi dengan makin terbukanya gerakan “false flag” yang sempat diungkapkan Presiden Prabowo. False flag itu kalau di Indonesia mirip dengan tindakan “lempar batu sembunyi tangan”, dia yang melakukan, tetapi dituduhkan kepada orang lain.

            Saat itu saya dalam kondisi bangkrut, tidak punya uang, banyak jual aset untuk beli beras, dan hidup dari pinjaman. Kalau saya terima dana asing itu, bukan hanya masalah ekonomi saya saja yang bisa teratasi, melainkan pula bisa punya rumah baru, mobil baru, dan segala hal baru. Akan tetapi, saya menolaknya meskipun sangat ingin menerima karena yang namanya uang itu sangat nikmat dan menyenangkan.

            Saat itu salah seorang teman memberitahukan bahwa ada dana dari Jepang untuk disalurkan pada mantan-mantan “jugun ianfu” di Indonesia. Jugun ianfu adalah perempuan yang dijadikan budak seks oleh tentara Jepang selama menjajah Indonesia. Banyak orang Jepang merasa berdosa telah melakukan itu pada masa lalu dan ingin menebus kesalahannya dengan cara mengumpulkan banyak uang untuk diberikan kepada mantan-mantan wanita pemuas seks itu. Saya diminta untuk mengumpulkan teman-teman, lalu melakukan banyak rapat, mencari mantan-mantan wanita itu, kemudian menyalurkan uangnya buat mereka.


Jugun ianfu Korea Selatan (Foto: BBC)


            Di Bandung kabarnya banyak mantan jugun ianfu. Itu karena strategi Presiden Soekarno untuk melindungi perempuan-perempuan baik, anak ulama, anak ustadz, pendeta, anak-anak tokoh adat dari nafsu seks tentara Jepang. Soekarno membiarkan para pelacur dari Bandung untuk memuaskan nafsu seks mereka. Merekalah yang harus saya cari karena dulu mereka mendapatkan perlakuan yang biadab dan penuh penderitaan.

            Saya menolaknya bukan karena tidak butuh uang, tetapi karena bingung harus mencari ke mana. Penjajahan jepang itu terjadi sekitar 1942 s.d. 1945, artinya usia para perempuan itu saat ini mungkin sudah mencapai 80 atau 90 tahun, bahkan sudah meninggal. Kalau memaksakan diri sih, bisa saja, tetapi kalau gagal, bukan hanya saya yang malu, melainkan juga orang Indonesia akan dipermalukan. Uangnya saya ambil, digunakan, tetapi gagal. Saya sudah pasti akan dikatakan orang yang tidak becus kerja, bahkan dikatakan koruptor makan dana sosial mereka. Para penyandang dana bisa marah, lalu kemarahan mereka bisa berbentuk apa saja terhadap saya dan teman-teman saya. Oleh sebab itu, saya menolaknya meskipun sangat ingin.

            Sungguh, saya tidak menuduh orang-orang Jepang itu bakal jahat terhadap saya. Mereka orang-orang baik yang ingin menebus kesalahan pada masa lalu, tetapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya gagal melakukan seperti apa yang mereka minta.

            Ceritera ringan ini bisa dijadikan contoh untuk siapa saja yang kebetulan punya akses terhadap dana asing. Perhatikan benar tujuannya untuk apa, kesepakatannya seperti apa, dan pelajari jika terjadi kegagalan. Kabar yang beredar kan sudah banyak justru para penerima dana asing itu yang menjadi korban dari penyandang dananya sendiri karena terjadi kegagalan.

            Hati-hati. Kalau tidak yakin benar tujuannya untuk kebaikan dan saling pengertian, tolak saja. Saya juga tidak mati karena menolaknya, malahan baik-baik saja hingga hari ini. Jangan lupa, minum susu murni.

            Ilustrasi jugun ianfu Korea Selatan adalah milik BBC, saya nggak tega memposting foto perempuan Indonesia.

            Sampurasun.

Tuesday, 21 April 2026

Mahasiswa Harus Bergizi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pendeknya begini, para pekerja, para ASN, para pejabat, dan aparatur lainnya di Indonesia ini secara umum bisa masih dapat dibilang kualitas produktivitasnya masih rendah, baik di pemerintahan maupun di sektor swasta. Ini memang harus dihitung secara kuantitatif, tetapi kita bisa memandang keseharian dan pengalaman hidup kita sendiri.

            Seberapa hebat para aparatur kita melayani rakyat?

            Sepintar apa para ilmuwan kita menemukan hal-hal baru? Berapa banyak pesawat tempur yang bisa dibuat kita? Kita punya teknologi ruang angkasa? Ada berapa banyak produk otomotif yang kita hasilkan? Apa saja teknologi terapan yang diciptakan untuk kehidupan sehari-hari?

Sehebat apa kita mampu berdiplomasi untuk menarik energi asing menjadi keuntungan bagi rakyat kita? Seberapa cerdas kita mampu membuat undang-undang mandiri untuk keuntungan sendiri tanpa campur tangan asing?

Semuanya secara kasar masih bisa dibilang rendah. Para pekerja atau orang-orang yang saat ini sedang bekerja adalah dulunya para mahasiswa dan pelajar.

Kalaulah hasilnya masih terasa rendah, kita patut bertanya dulu mereka makan apa? Apakah gizi mereka tercukupi?

Jujur saja dari dulu sampai hari ini masih sangat banyak mahasiswa yang makanannya kurang bergizi. Ada yang cuma makan mie instan ditambah kerupuk di kosan tiga kali sehari. Kalaupun makan, hanya Cenguy, “cengek uyah”, ‘cabe rawit sama garam’ untuk menemani nasi. Makannya tidak teratur, bahkan kurang makan. Banyak sekali kisah-kisah itu. Wajar jika hasil kerja saat ini kurang memuaskan karena kurang mendapatkan asupan makanan bergizi dulunya.

Mestinya mahasiswa protes dan mendorong pemerintahan Presiden Prabowo dan pemerintah selanjutnya untuk memperluas program makan bergizi gratis (MBG) hingga ke tingkat mahasiswa, bukan hanya pelajar. Pengalaman dosen Unpad Dina Sulaeman yang pernah kuliah dan menjadi jurnalis di Iran bisa dijadikan contoh. Dia selama delapan tahun di Iran dan ketika kuliah mendapatkan makanan gratis dari kampus setiap hari. Setiap mahasiswa diberi kupon untuk ditukar dengan makanan. Saya juga yakin ada banyak orang Indonesia yang kuliah di luar negeri mendapatkan makanan gratis dari pemerintahnya yang menjalankan program semacam MBG mahasiswa. Harusnya, mahasiswa demonstrasi untuk mendapatkan makanan gratis bergizi juga dari pemerintah.

Sebetulnya, kesadaran ini sudah ada sejak lama di kampus-kampus negeri, tetapi hanya berjalan di lingkungan kampus dan hanya untuk kepentingan akademis, bukan praktis. Ketika saya mengantar anak bungsu saya untuk tes masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur UTBK SNBT Tahun 2026, kebetulan tempatnya di Ruang Laboratorium Komputer, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan Indonesia (Upi), Bandung. Di ruangan itu saya melihat ada puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus poster tentang pentingnya makanan bergizi, baik untuk perkembangan fisik, kecerdasan, maupun mental yang optimal positif. Seharusnya, dari fakultas-fakultas semacam itulah dimulainya gerakan yang menyadarkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi sekaligus mendorong pemerintah untuk memperhatikan gizi rakyatnya agar menjadi negara yang maju. Fakultas seperti itu dapat menggerakan mahasiswa seluruh Indonesia agar pemerintah lebih berkonsentrasi menciptakan para pekerja dan aparatur yang lebih berkualitas dimulai dengan mengonsumsi makanan bergizi, bukan makanan sampah.






Inilah kesadaran yang harus dibangun dan kita mendapatkan momen yang tepat pada saat dijalankannya program MBG.

Mudah-mudahan paham apa yang saya maksud. Kalau belum paham, segera sisihkan uang kecil untuk membeli susu. Memang sedikit lebih mahal dibandingkan kopi, tetapi itu lebih baik.

Sampurasun.

Monday, 20 April 2026

MBG Ibu Hamil Lebih Mengerikan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil dan menyusui sungguh lebih mengerikan dibandingkan MBG para siswa. Ibu hamil yang diberi MBG akan membuat anak dalam kandungannya lebih bergizi dan berpotensi cerdas. Kemudian, selama menyusui ia diberi asupan gizi yang akan mengalir kepada anaknya. Setelah melahirkan, anaknya memasuki usia emas, ‘golden age’, 0 sampai dengan 5 tahun. Lalu, memasuki usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) tetap dalam kawalan MBG. Gizinya akan tercukupi dengan baik. Apalagi jika program MBG sudah memasuki perguruan tinggi seperti di Iran. Anak-anak dan orang-orang yang tercukupi gizinya akan menjadi orang yang cerdas, terampil, dan lebih waspada. Mereka tidak akan mudah ditipu, tidak akan rela diperbudak, berpikir lebih jernih, memahami harga dirinya, serta cerdas dan tangguh menghadapi dunia. Ini membuat orang-orang asing merasa ngeri. Jika Indonesia dipenuhi orang-orang bergizi yang cerdas, akan lahir menjadi negara yang jauh berkualitas.

            MBG yang sekarang dijalankan Presiden Indonesia Prabowo termasuk program yang telat karena dimulai sejak TK. Jika dimulai sejak ibu hamil dan menyusui, hasilnya akan jauh lebih baik.


Ibu menyusui (Foto:Gabag Indonesia)


            Tak ada satu negara pun yang menginginkan Indonesia menjadi negara maju. Kebanyakan mereka menginginkan Indonesia hanya menjadi negara kelas pekerja dan orang-orang yang mudah ditipu untuk diambil sumber daya alamnya tanpa memiliki kemampuan mengolahnya. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas kecerdasan penduduknya. Jika rakyat Indonesia bergizi, akan tumbuh menjadi generasi cerdas yang tak mudah lelah untuk berkarya dan menemukan hal-hal baru yang positif.

            Tak heran banyak sekali pandangan asing yang menginginkan Indonesia menghentikan program MBG dengan alasan menghabiskan dana secara percuma dan terdapat kasus-kasus keracunan. Kalau keracunan, itu memang harus diperbaiki dan ditindak, tetapi soal dana mereka salah besar dan hanya membuat rakyat menjadi bingung.

            Kalau soal dana, mari kita bandingkan besaran antara perlindungan sosial (Perlinsos) yang lebih dikenal dengan bantuan sosial (Bansos) dengan MBG. Anggaran untuk Bansos tahun 2026 ini ditetapkan 508,2 trililun, sedangkan untuk MBG sebesar 335 triliun.

            Mana yang lebih besar anggarannya, Bansos atau MBG?

            Anggaran untuk Bansos jauh lebih besar dibandingkan untuk MBG, tetapi kenapa tidak ada seorang pun yang protes? Mengapa tak ada yang ingin Bansos dihapuskan atau diberhentikan?

            Jawabannya adalah Bansos berpotensi besar untuk salah penggunaan. Orang bisa menggunakannya untuk rokok, kuota, jajan seblak, dan hal-hal lain yang kepentingannya rendah. Bahkan, pemberian Bansos bisa membuat rakyat cenderung malas dan bermental pengemis. Orang bisa ribut soal pembagian Bansos. Ini sama sekali tidak akan membuat Indonesia bergerak maju secara signifikan dan pihak asing sama sekali tidak terganggu, bahkan mungkin senang melihat rakyat Indonesia seperti itu.

            Berbeda dengan MBG. Meskipun anggarannya jauh lebih kecil dibandingkan Bansos, dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan para kapitalis dan orang-orang serakah asing akan berhadapan dengan orang-orang Indonesia yang cerdas, terampil, dan kuat. Itu yang sangat tidak mereka harapkan. Mereka tidak akan lagi mendapati orang-orang Indonesia yang lemah mudah ditipu dan dirampok kekayaan alamnya. Itu mengerikan buat mereka. MBG untuk ibu hamil dan menyusui lebih mengerikan bagi orang yang tidak ingin Indonesia maju karena diberikan sejak awal, sejak janin masih dalam kandungan.

            Sudah pahamkah apa yang saya maksud?

            Kalau belum paham, segera minum susu supaya lebih cerdas.

            Ilustrasi ibu menyusui adalah milik Gabag Indonesia.

            Sampurasun

Wednesday, 15 April 2026

Nggak Masalah MBG Diambil Guru

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang aneh di Indonesia. Sok pintar dan aneh. Kayak yang pintar protes makan bergizi gratis (MBG) dengan alasan uangnya sebaiknya dibagikan kepada para guru honorer, tetapi pada saat yang sama protes juga bahwa makanan sisa MBG yang tidak terbagikan kepada para siswa diambil para guru.

            Kapan terakhir kalian minum susu?

            Kalian seolah-olah membela para guru, tetapi menyakiti hati mereka dengan tudingan mengambil sisa MBG. Kalian memang aneh, pengen guru sejahtera, tetapi protes jika para guru memanfaatkan sisa rezeki yang harganya tidak seberapa itu. Beneran aneh.

            Kalau betul-betul peduli kepada para guru, kalian tidak perlu menuding mereka mengambil setetes manfaat dari sisa MBG. Kalian tidak mampu memberi tambahan honor buat mereka, bahkan mungkin kalian masih menunggak SPP dan anak-anaknya banyak bikin masalah di sekolah, guru malah kalian sakiti dengan ocehan-ocehan murahan.

            Kalian benar-benar harus rajin minum susu. Bahkan, mungkin kalian yang perlu gizi tambahan supaya otaknya cerdas.


Guru, Murid, dan MBG (Foto: Batam Pos)


            Bagi saya, tidak masalah jika guru mengambil sisa MBG karena siswa tidak masuk kelas, rumahnya jauh dari sekolah, dan jauh dari teman-temannya sehingga MBG-nya tidak tersampaikan. Paket MBG sisa itu harus dimanfaatkan, salah satunya oleh para guru yang mungkin juga untuk anggota keluarganya, tetangganya, atau orang terdekatnya.

            Apa masalah kalian?

            Kalian terlalu pelit.

            Presiden Prabowo tidak akan mempermasalahkan hal itu.

            Kalau MBG sisa itu tidak termanfaatkan, mau diapain?

            Dibuang?

            Dikembalikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)?

            Itu mubadzir, boros. Perilaku boros adalah perilaku syetan.

            Kalian paham nggak?

            Kalian memang punya masalah dalam berpikir, berhati bengkok, kurang pengetahuan agama, dan lemah iman pastinya. Kalian tidak bisa memberikan kesejahteraan lebih bagi para guru, tetapi protes jika guru mendapatkan sedikit rezeki sisa, padahal anak-anak kalian dibina para guru itu.

            Para guru juga tidak perlu sakit hati oleh tudingan mereka. Jangan juga menyangkal keadaan itu. Tidak masalah jika para guru memanfaatkan paket MBG yang tidak terbagikan. Sungguh menyedihkan jika para guru, bahkan satu sekolah tidak lagi mau mengurus MBG dan menyetop kiriman dari SPPG hanya karena tidak tahan dengan tudingan para orang tua yang harus dibina itu. Banyak anak yang berasal dari keluarga baik-baik yang membutuhkan MBG. Sebaiknya, guru berkonsentrasi saja mengurus mereka. Keluarga-keluarga yang protes dan bermasalah itu memang sudah bermasalah dari awalnya, malah mungkin para orangtuanya yang kurang bergizi.

            Tidak perlu mendengar ocehan rendahan, memanfaatkan sisa MBG sama sekali tidak melanggar hukum, bahkan menghindari kemubadziran yang jelas dicela Allah swt. Ada pahala yang besar dari Allah swt yang bisa diberikan-Nya sekarang atau ditabungkan nanti untuk bekal akhirat.

            Ilustrasi guru dan MBG di suatu sekolah saya dapatkan dari Batam Pos.

            Sampurasun.

Sunday, 12 April 2026

Syarat Kembalinya Aksi 1998

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa tahun belakangan ada beberapa kelompok masyarakat yang menginginkan kembalinya aksi mahasiswa 1998 yang dianggap berhasil meruntuhkan pemerintahan yang sah dan menjalankan reformasi sehingga proses kehidupan berbangsa dan bernegara ditata ulang. Kalau saya lihat, mereka ini berasal dari kelompok-kelompok yang selalu kalah dalam persaingan politik dan ekonomi. Beberapa dari mereka tampak kebingungan dan ada juga yang mengajak saya berdiskusi.

            “Kang, kenapa ya calon yang saya dukung selalu kalah?” tanyanya.

            “Calon apa?

            “Calon Kades kalah, calon walikota kalah, calon gubernur kalah, calon presiden juga kalah. Kenapa ya?”

            Saya jawab saja, “Kamu kurang minum susu.”

            Para pemenang dan pendukungnya tidak pernah menginginkan kembalinya aksi 1998. Mereka ingin melanjutkan pembangunan hasil aksi reformasi 1998 itu dengan mengoreksi berbagai kesalahan untuk kemudian terus maju.

            Saat tulisan ini disusun semakin banyak yang kebelet ingin ada aksi lagi menjatuhkan pemerintah yang sah dengan mengambil semangat aksi 1998. Mereka melakukan banyak provokasi untuk menggerakan masyarakat agar bergerak dengan berbagai narasi negatif terhadap pemerintah.

            Kalau ingin aksi 1998 kembali, keadaan yang mendahuluinya harus pula seperti 1998. Hal itu disebabkan itulah yang menjadi syarat terjadinya aksi 1998. Saya kasih jalan agar aksi itu kembali. Saya kasih tahu syarat-syarat agar aksi 1998 yang diidam-idamkan itu terjadi.  

            Pertama, adanya kesusahan ekonomi dan politik yang dirasakan masyarakat dalam waktu panjang. Kepemimpinan Presiden Soeharto dipandang sangat bagus adalah sampai 1981. Dia menstabilkan politik dan melakukan banyak pembangunan. Akan tetapi, setelah tahun itu, banyak sekali kerusakan terjadi. Para aktivis menyebutnya dengan menjamurnya perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Para penguasa dan orang-orang yang dekat kekuasaan berpesta pora, sedangkan rakyat dalam penderitaan luar biasa. Rakyat sangat banyak yang makan nasi aking, pera, atau bulgur yang jauh dari rasa enak, apalagi bergizi. Bahkan, untuk makan pun susah. Kesusahan dan kemiskinan ini masif terjadi hampir merata di seluruh Indonesia.

            Dalam kehidupan politik, rakyat dibungkam, mahasiswa tidak boleh bersuara, akademisi dilarang mengkritik. Jika berbeda pendapat dengan pemerintah, hidupnya akan dipersulit, karirnya dihambat, disingkirkan, dihukum, dianiaya, bahkan hingga dihilangkan.

            Hal-hal itu terjadi dalam waktu yang panjang. Oleh sebab itu, rakyat marah dan puncaknya terjadi pada Mei 1998 ketika krisis moneter yang berubah menjadi krisis multidimensi. Orang kaya mendadak menjadi miskin. Para pengusaha mendadak bangkrut. Orang miskin semakin menjadi merana.

            Kedua, adanya kekuatan kelompok yang mau bergerak hingga berani mati. Kelompok-kelompok ini mayoritas mahasiswa dan aktivis. Mereka bergerak karena didorong oleh kesulitan ekonomi yang berasal dari kesusahan dari dapur-dapur orangtuanya sendiri yang tidak ada makanan dan kesulitan membeli makanan. Jangankan untuk biaya kuliah, bertahan hidup saja sudah sangat sulit. Mereka berani mempertaruhkan nyawanya karena hidup sengsara pasti mati kelaparan, berjuang bergerak mati juga karena perlawanan. Daripada mati kelaparan, mendingan mati karena berjuang, syahid. Tentu saja, mereka pun mendapatkan bantuan dari pengusaha-pengusaha yang peduli pada perbaikan negara.

            Ketiga, adanya elit dan menteri-menteri yang menentang presiden. Ini justru faktor yang paling utama. Orang menyangka bahwa keberhasilan aksi 1998 adalah karena gerakan mahasiswa, sebetulnya bukan itu yang utama. Pembangkangan para menterilah yang sangat melemahkan Presiden Soeharto. Ini dinyatakan sendiri oleh Soeharto dalam pidato pengunduran dirinya. Sesungguhnya, Soeharto mendengarkan aspirasi rakyat dan mahasiswa dengan membentuk komite reformasi. Akan tetapi, komite ini tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari para elit. Di jajaran para menteri yang disebutnya Kabinet Pembangunan 7 terjadi pembangkangan yang dalam berbagai media massa disebut dipelopori oleh Ginandjar Kartasasmita. Inilah yang membuat Soeharto merasa tidak punya lagi tim yang dapat diandalkan untuk melanjutkan keinginannya memimpin negara.


Ginandjar Kartasasmita (Foto: RMOL)


            Sebetulnya, ada banyak syarat agar terjadi aksi yang dapat menggulingkan pemerintahan berdasarkan pengalaman 1998. Akan tetapi, tiga penyebab itu cukup kuat menggoncangkan pemerintahan.          Jika ketiga penyebab itu ada, aksi yang diinginkan itu bisa terjadi dan berhasil.

            Kalau disimpulkan, aksi bisa berhasil jika rakyat sangat menderita secara ekonomi dan politik dalam waktu panjang dan sangat masif; adanya kelompok aksi yang berani mati karena didorong oleh kesulitan hidup dan pembungkaman; terdapatnya elit kunci dan para menteri yang berani membangkang presiden. Jika rakyat masih cukup makan, bisa bersaing mengembangkan dirinya; para intelektual bebas mengemukakan pendapat dan kritiknya; tidak ada elit di pemerintahan dan kelompok menteri yang berani membangkang presiden serta berani untuk digantikan posisinya oleh orang lain, aksi tidak akan pernah berhasil.  

            Pertimbangkan dan pikirkan syarat itu matang-matang sambil minum susu agar sehat dan menonton komedi Charlie Chaplin. Kalau nggak punya uang beli susu, minta MBG agar mendapatkan gizi yang baik.


Charlie Chaplin (Foto: Hollywood Fringe Festival)


            Kalau syaratnya tidak terpenuhi, aksi memang bisa terjadi, tetapi bentuknya hanya huru-hara dan kekacauan. Akibatnya, hanya akan menambah jumlah orang yang terkena kekerasan fisik, masuk penjara, bahkan mati konyol secara memalukan, bukan syahid. Aksi itu gagal total.

            Foto Ginanjar Kartasasmita saya dapatkan dari RMOL dan Charlie Chaplin dari Hollywood Fringe Festival.

            Sampurasun.

Friday, 10 April 2026

Memanfaatkan Kebaikan Gubernur Dedi

 


olehTom Finaldin

 

Bandung,Putera Sang Surya

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab dipanggil Kang Dedi Mulyadi (KDM) memiliki tempat atau balai pengaduan untuk masyarakat. Satu balai di Lembur Pakuan, Subang; satu lagi di kantornya, Gedung Sate, Bandung, namanya Bale Pananggeuhan. Balai ini menjadi tempat pengaduan yang mempercepat penyelesaian masalah rakyat. Ibarat jalan tol untuk mengadukan masalah masyarakat agar sampai ke Gubernur. Di balai ini masyarakat dapat mengadukan tiga masalahnya yang mencakup masalah pendidikan, kesehatan, dan hukum. Di luar itu tidak diterima, misalnya, punya hutang dan ingin dibayarin Gubernur, jelas tidak bisa.

            Saya sebagai warga Jawa Barat memiliki masalah hukum yang tidak bisa ditangani sendiri. Sebetulnya, masalahnya sederhana dan penyelesaiannya mudah, tetapi ada pihak-pihak yang membuatnya menjadi rumit dan merugikan. Kalau tidak diselesaikan, bisa menjadi kriminal dan berbahaya. Oleh sebab itu, saya membutuhkan bantuan Gubernur KDM. Caranya, melaporkan kasus saya pada tim hukum Gubernur agar dapat dibantu.

            Pelayanan di Bale Pananggeuhan sangat baik. Orangnya ramah-ramah dan cepat. Ada pendataan pengaduan dan nomor antrian. Kalau agak lama di ruang tunggu, itu karena mengantri, ada banyak orang juga yang mengadukan masalahnya untuk agar dapat bantuan. Ada tim khusus Gubernur yang mempelajari masalah rakyat hingga jelas. Khusus masalah hukum, penyelesaiannya agak lebih lama dibandingkan masalah pendidikan atau kesehatan karena banyak sekali ternyata yang mengadukan masalah hukum. Demikian pula tentang kasus saya, tim hukum Gubernur telah mempelajari, mencatat, dan memohon saya untuk bersabar menunggu telepon dari tim penindakan karena tim itu masih harus bekerja untuk menyelesaikan masalah hukum yang lebih dulu dilaporkan masyarakat lain.




            Hal yang harus diperhatikan adalah laporan itu harus benar, tidak palsu, dan jika berbohong, masalahnya akan kembali menjadi masalah pelapor karena melakukan laporan palsu atau tidak benar. Rakyat diminta menandatangani beberapa berkas yang isinya, di antaranya, kebenaran kasus yang diadukan.

            Ketika di ruang tunggu, ada perempuan cantik yang mendekat, eh ternyata murid saya, mahasiswa Universitas Al Ghifari yang sekarang sudah menjadi alumni. Syifa namanya. Dia menjadi staf Gubernur di Bale Pananggeuhan yang melayani keluhan rakyat tentang pendidikan. Ketika pekerjaannya agak longgar, dia mendekat dan menanyakan masalah saya, lalu mendiskusikannya.




            Seperti biasa, kalau ketemu murid, selalu minta doa kepada saya sebagai dosennya. Kali ini dia minta didoakan untuk pernikahannya. So, bagi yang masih berharap mendapatkannya, berhentilah karena akan bertepuk sebelah tangan dan patah hati.

            Setelah selesai urusan, ada surveyor yang mendata kepuasan saya selama dilayani di Bale Pananggeuhan. Tanpa ragu, saya memberikan lima bintang untuk pelayanan Gubernur. Mereka bekerja dengan baik, saya dihormati, dan diberikan pemahaman agar sabar menunggu komunikasi dari tim penindakan. Bale Pananggeuhan menjadi jalan pintas agar rakyat bisa terlayani dan terpecahkan masalahnya. Semoga balai ini semakin dipercaya dan berperan serta melindungi masyarakat. Aamiin.

            Sampurasun.

Monday, 6 April 2026

MBG Kuliah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa waktu lalu, salah seorang kepala SMA di Kabupaten Bandung menelepon saya. Dia berharap saya hadir ke sekolahnya setelah shalat jumat untuk menjelaskan berbagai hal yang diperlukan agar para siswa kelas 12 periode lulusan 2026 paham langkah-langkah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

            Sebagaimana yang dia minta, saya datang ke sekolah itu, lalu menjelaskan berbagai hal yang harus dilakukan. Penjelasan itu termasuk dunia pergaulan di perguruan tinggi yang pernah saya lihat.

            Ketika sesi diskusi atau tanya jawab, salah seorang siswa mengajukan pertanyaan yang cukup mengagetkan, “Pak, kalau kuliah, ada MBG tidak?”

            Cukup kaget juga dengan pertanyaan itu. Hal itu menunjukkan bahwa para siswa ternyata sangat membutuhkan makan bergizi gratis (MBG). Mereka sudah mulai terikat pada MBG.

            Karena belum ada program MBG untuk mahasiswa, saya jawab, “Di perguruan tinggi tidak ada MBG.”

            “Wah, Pak, saya kecewa kalau tidak ada MBG.”

            “Kamu kenapa selalu ingin diberi MBG?

Kalau sudah lulus SMA, sudah harus mulai terbiasa untuk tidak ingin diberi. Mahasiswa harus mulai berpikir untuk memberi orang lain, bukan terbiasa untuk diberi oleh orang lain.”

            Siswa yang lain menimpali, “Iya ya Pak. Tangan di atas lebih baik dibandingkan dengan tangan di bawah.”

            “Kamu pintar!”

            Seperti itulah sepenggal kisah yang terjadi dari pertemuan itu. Ternyata, MBG dibutuhkan oleh siswa dan memang seharusnya diteruskan mengingat kecerdasan IQ orang Indonesia masih tergolong rendah. IQ rendah itu salah satunya karena kurang gizi. Sudahlah, tak perlu berbohong bahwa di tengah masyarakat kita masih banyak yang stunting. MBG adalah salah satu jawabannya untuk mengurangi jumlah orang yang kurang gizi karena meningkatkan IQ.

            Kalaupun program MBG tidak menyentuh seluruh lapisan masyarakat, biasakan menyisihkan uang untuk membeli makanan bergizi, minimal susu. Satu gelas sehari sudah bagus. Saya juga berupaya seperti itu kok. Seminggu sekali saya lewat Pangalengan menuju Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung mengantar anak menemui terapisnya. Pangalengan itu pabrik susu. Beli susu di sana dengan rupa-rupa harga dan rupa-rupa rasa. Ada yang murni dan ada yang sudah diolah menjadi yoghurt atau bolu. Tinggal pilih saja. Kurangi makanan atau minuman yang kurang bergizi. Kurangi atau hentikan alkohol. Kurangi kopi dan rokok. Alihkan uangnya untuk makanan bergizi, terutama susu.




            Kita, rakyat, minimal menjaga diri untuk lebih sehat dengan rajin minum susu, minimal segelas sehari. Kalau merasa tidak punya uang untuk membelinya, insyaallah ada rezekinya karena ingin minum susu adalah kebaikan. Segala yang mengarah pada kebaikan menimbulkan pahala. Minum susu adalah menyehatkan, menyenangkan, dan berpahala.

            Sampurasun.