oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Baru-baru ini Indonesia telah
menganggetkan dunia karena dianggap telah mampu bertahan dari gejolak politik
dan ekonomi internasional. Pada saat negara-negara lain tampak rapuh dan
goncang akibat perang AS-Israel Vs Iran yang ditandai dengan naik tajamnya
harga BBM dan naiknya harga-harga barang, Indonesia tetap bertahan dengan tidak
menaikkan harga BBM bersubsidi untuk rakyat. Hal itu membuat Indonesia tidak
mengalami goncangan yang berarti. Rakyat merasakannya biasa-biasa saja seperti
hidup sebelum terjadinya perang Iran Vs AS-Israel. Berbeda dengan di
negara-negara lain yang sangat merasakan goncangan itu hingga ke kehidupan
mereka sehari-hari.
Kondisi Indonesia yang relatif stabil secara politik dan
ekonomi membuat lembaga-lembaga keuangan dunia heran dan mencari tahu tentang
strategi Indonesia. Tak kurang dari lembaga keuangan dunia “International Monetary Fund” (IMF) mendatangi Indonesia untuk
belajar sekaligus tentu saja menawarkan bantuan keuangan. Untuk bantuan keuangan,
Indonesia sudah benar menolaknya. Indonesia sudah tidak membutuhkannya sejak
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berhasil melunasi hutang pada IMF. Sekarang
pun demikian, menolak lagi bantuan itu. Meskipun demikian, IMF tetap merayu
agar bisa bekerja sama dengan Indonesia. Untuk keinginan mereka mempelajari
tentang kebijakan Indonesia, tentu ini harus disikapi dengan hati-hati.
| Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu dengan Managing Director IMF Kritalina Georgieva (Foto: Facebook) |
Kita boleh berbangga dan mensyukuri keadaan Indonesia
yang biasa-biasa saja, mampu bertahan, bahkan menunjukkan optimisme untuk
melangkah maju. Akan tetapi, tetap harus waspada terhadap pihak asing. Mereka
ingin belajar dari Indonesia, tetapi jangan sampai memberikan pengetahuan
terlalu terbuka. Hal itu disebabkan bisa saja terjadi mereka sesungguhnya
sedang belajar mencari tahu tentang kelemahan Indonesia. Ketika tahu kelemahan
Indonesia, mereka bisa masuk melalui jalan itu dan membuat berbagai kesulitan
bagi Indonesia. Para ahli sudah banyak yang paham bahwa banyak masukan dan
pandangan mereka bisa merugikan Indonesia.
Kita boleh bergembira dengan penilaian dunia bahwa Indonesia
dicatat sebagai cahaya di tengah kegelapan situasi ekonomi akibat perang. Akan
tetapi, jangan terlalu bergembira karena tidak ada satu negara pun di dunia ini
yang ingin melihat Indonesia maju. Mereka hanya ingin mereka yang maju dan Indonesia
tetap berada di bawah mereka. Oleh sebab itu, baik Presiden Prabowo maupun
Menteri Purbaya jangan terlalu terbuka mengenai ekonomi Indonesia. Cukup
gambaran umum dan optimisme Indonesia saja yang boleh dishare. Adapun untuk kebijakan,
teknis, dan hal-hal mendetail lainnya, tidak perlu seluruhnya dibuka karena tidak
perlu seluruhnya transparan. Toh, kita berpakaian pun tidak boleh transparan,
tetap harus ada yang ditutupi untuk melindungi diri.
Kita tidak boleh transparan dalam berpakaian meskipun
mungkin ada yang menyukai kain transparan. Kalau membayangkan orang lain dengan
pakaian transparan sehingga kelihatan seluruh tubuhnya, segera berhenti, lalu
minum susu murni supaya sehat.
Foto Menteri Keuangan Purbaya dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva ada di Facebook.
Sampurasun.






