oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Terkait dengan perang
AS-Israel Vs Iran, tampak sekali Amerika Serikat telah menjadi korban hoaks.
Entah hoaks itu diciptakan presidennya sendiri, Donald Trump, atau mendapatkan banyak
masukan yang tidak berdasar di lingkarannya. Bisa juga karena mendapatkan
desakan dari Israel melalui Perdana Menteri (PM) Netanyahu untuk segera
menyerang karena Iran adalah ancaman bagi Israel.
Dunia sedikit terkejut dengan perang ini yang sesungguhnya
dimulai oleh Israel yang kemudian diikuti Amerika Serikat (AS). Sebelumnya,
sesungguhnya hanya terjadi keributan kecil soal perjanjian nuklir yang telah
bertahun-tahun itu. Biasa saja, soal kesepakatan. Di samping itu, ada peristiwa
unik dengan munculnya “Board of Peace” (BoP) atau Dewan Perdamaian yang pasukan
Indonesia menjadi pemain kunci di jalur Gaza, Palestina. BoP ini menjadi
semacam kebanggaan bagi Trump jika berhasil mengamankan jalur Gaza dan
membangunnya menjadi kawasan modern yang menyenangkan bagi rakyat Gaza di bawah
perlindungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika dunia, khususnya
Indonesia sedang asyik-asyiknya memberikan saran dan masukan bagi Prabowo jika
menjadi pemain inti perdamaian di Palestina, tiba-tiba terjadi perang yang
sangat dahsyat hingga saat ini.
Akibat dari perang ini, rencana BoP menjadi tertahan.
Indonesia harus berpikir ulang bolak-balik untuk rencana perdamaian versi BoP
ini. Memang sulit jadi Prabowo dalam pergaulan dunia dewasa ini. Jika berada
dalam BoP, banyak keuntungan ekonomi yang didapat Indonesia, tetapi akan sibuk
mengatasi gejolak politik di dalam negeri. Jika ke luar BoP, gejolak politik
dalam negeri bisa diredam, tetapi akan mendapatkan serangan dari negara anggota
BoP lainnya yang berpotensi mengancam ekonomi Indonesia. Intinya, Prabowo harus
memikirkan yang terbaik bagi negara sendiri terlebih dahulu karena itu adalah
hal yang paling utama.
Soal AS menjadi korban Hoaks, mudah sekali dilihatnya.
Diisukan Iran punya senjata nuklir, padahal tidak. Digosipkan rakyat Iran sudah
membenci para mullah, padahal tidak. Dikabarkan kalau pemimpinnya tewas bakal
ganti rezim, padahal tidak. Disebutkan Iran negaranya hampir bangkrut, padahal
tidak. Disebutkan teknologi senjatanya rendah dan terbatas, padahal tidak.
Diyakini perang bakal berhenti dalam empat hari, padahal bisa berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun.
Itu adalah hoaks-hoaks yang telah menjerat AS hingga
sulit keluar dari perang melawan Iran. Sebetulnya, rakyat AS sendiri tidak mau
perang. Dari survey, hanya 27% rakyat AS yang setuju perang, sejumlah 73% tidak
setuju dan tidak tahu. Dari dukungan politik rakyat saja sudah rendah, belum
lagi soal keuangan yang menguras keuangan AS sejumlah 15 T per hari. Hal itu
diperparah dengan kematian ratusan prajurit AS yang tidak mengerti kenapa
mereka harus perang dengan Iran. Donald Trump menyatakan bahwa tentaranya
sedang membela negeri AS, tetapi rakyatnya merasakan bahwa anak-anak muda
mereka mati adalah untuk kepentingan Israel. AS memang sedang menangguk
kerugian yang sangat banyak.
![]() |
| Tentara AS yang dikirimkan untuk perang (Foto: Suara.com) |
Ilustrasi tantara AS yang tampak bingung berbaris untuk
perang saya dapatkan dari Suara com.
Meskipun demikian, dapat kita pahami bahwa hoaks itu
dapat menjerat manusia jika di dalam dirinya ada rasa iri, kebencian,
ketakutan, arogan, dan kebodohan sehingga melakukan tindakan-tindakan idiot
yang merugikan dirinya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari apa yang terjadi pada
AS dan para pemimpinnya yang saat ini panik, kalang kabut, sok tenang, tetapi
bingung karena jalan keluar dari perang semakin sulit. Iran sudah tidak mau lagi
diajak diskusi. Iran hanya mau perang dan menentukan sendiri kapan harus
berakhir.
Begitulah hoaks bisa menjerat manusia ke dalam
kebingungan dan kebodohan yang mempermalukan diri. Di Indonesia sendiri sudah
bisa dilihat bahwa para pejuang hoaks itu berguguran dan menghilang satu per
satu secara lucu meskipun membuat hoaks baru karena sakit hati hoaks yang lama
sudah tak lagi laku.











