oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Perang antara Amerika Serikat
(AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian
dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel.
Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS
dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih
percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran
mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald
Trump berkuasa untuk yang kedua kali.
Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran
adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya
dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP),
Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut
sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.
Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak
Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang
tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang
mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas
yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye
oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi
politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto
terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.
![]() |
| Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co) |
Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel
Aviv saya dapatkan dari Tagar co.
Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di
depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep
dan semangat “two state solution”,
solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa
terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta
dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel
hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama
dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo
tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan
menyesatkan masyarakat Indonesia.
Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan
dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan
terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat
berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya
perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat
kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa
Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah
pasukan Indonesia bertugas di Gaza.
Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk
dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel.
Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan
perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.
Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji
Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas
dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak
ingin berkelahi dengannya.”
Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.
Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi
pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak
bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling
tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk
mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.
Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk
bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau
kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat
sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif.
Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta
di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir.
Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan
Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa
perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang
memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.
Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa
cinta?
Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?
Itulah
yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi
yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel
mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel
berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan
terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh.
Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk
membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara
itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi
konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.
Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar
dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara
Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut
mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit
Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling
bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing
agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.
Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel
agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel.
Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI
berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan
pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI,
negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.
Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia
terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena
mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya
dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit
dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi
diri dari situasi yang sudah sangat kusut.
Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan
sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia
tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya
keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan
Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan
dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.
Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang
membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak
bisa dikalahkan dengan cara apa pun.











