Tuesday, 10 February 2026

Indonesia Lebih Sabar Dibandingkan Iran

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) bisa dikatakan dimulai sejak 1901. Saat itu mereka masih lumayan baik-baik saja hingga terjadi hubungan bisnis yang menyebabkan situasi perlahan menjadi aneh. Raja Iran Mozaffar Ad Din Shah memberikan hak kepada William Knox D’Arcy dari Inggris untuk mengeksplorasi minyak, gas alam, aspal, dll. selama  enam puluh tahun. Sebagai kompensasi untuk Iran, William memberikan uang tunai sejumlah 20.000 poundsterling, saham sebesar 20.000 poundsterling, dan 16% keuntungan setiap tahun. Lalu, perusahaan ini berkembang pesat menjadi “British Petroleum” yang kemudian dibeli oleh pemerintah Inggris.

            Dalam perjalanannya perusahaan ini dirasakan warga Iran banyak masalah, tidak adil, merendahkan, menghina, dan melecehkan warga Iran. Terasa seperti penjajahan yang mengambil untung di tanah Iran, tetapi orang Iran sendiri kesusahan.

            Pada 1951 muncul seorang anggota DPR Iran yang menentang perusahaan minyak Inggris itu karena menganggap tidak adil. Namanya Mohammad Mosadegh. Menurutnya, keuntungan yang diberikan kepada Iran itu sangat kecil, hanya 16%. Keuntungan yang diterima Iran selama lima puluh tahun masih jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan yang diambil Inggris hanya dalam satu tahun.


Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh (Foto: Short History)


            Mosadegh kemudian menasionalisasi perusahaan Inggris itu dalam arti merebutnya dari Inggris dan menjadi milik Iran. Mosadegh pun kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang sangat dicintai rakyat.

            Tentu saja Inggris marah besar karena berpendapat bahwa perusahaan itu masih berada dalam hak Inggris berdasarkan perjanjian lama. Dalam kesepakatan lama antara William dan Mozzafar, Inggris boleh mengeksplorasi kekayaan Iran selama enam puluh  tahun. Akan tetapi, belum juga genap enam puluh tahun atau hanya baru lima puluh tahun, Iran tiba-tiba mengambilnya dari Inggris. Masih ada sepuluh tahun lagi hak Inggris berada di sana. Itulah awal sengketa antara Iran dengan barat yang kemudian mengikutsertakan CIA Amerika Serikat. Sejak saat itu, Iran mengalami berbagai sanksi, embargo, dan permusuhan dengan pihak barat hingga hari ini dengan menggunakan kekuatan senjata dan banyak pembunuhan.

            Tampaknya Iran tidak bersabar untuk menunggu sepuluh tahun lagi hingga masa kontrak perjanjian dengan Inggris selesai. Iran sudah merasakan penderitaan yang luar biasa, lalu meluapkan kemarahannya dengan merebut British Petroleum dari Inggris.

            Berbeda dengan Indonesia. Sesungguhnya, Indonesia memiliki masalah mirip Iran, yaitu bermasalah dengan PT Freeport milik Amerika Serikat (AS).

            Pada 1936 Jacques Dozy menemukan cadangan “Ertsberg”.  Kemudian, pada 1966 pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden RI Soeharto membuka pintu agar PT Freeport Indonesia (PTFI) dapat menambang tembaga yang kemudian menjadi emas di Timika, Papua.

            Perjanjian ini bernama Kontrak Karya I yang berlaku hingga tiga puluh tahun. Dalam kontrak ini disepakati PTFI memiliki saham 90,64% dan Indonesia sebanyak 9,36%. Sejak perjanjian itu, penambangan pun dimulai. Dalam perjalanannya penambangan ini dirasa tidak adil, mirip perampokan kekayaan alam Indonesia.

            Puluhan tahun berlalu, dinamika politik dan ekonomi mewarnai penambangan ini. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa perjanjian diperpanjang tiga puluh  tahun lagi pada 1991, disebut dengan Kontrak Karya II. Dengan demikian, perjanjian menjadi enam puluh tahun jika dihitung sejak awal. Indonesia tetap mendapatkan keuntungan dari sahamnya yang kecil sejumlah 9,36%.

            Selama berlakunya perjanjian itu, Indonesia mengalami banyak goncangan. Isu ketidakadilan dan keserakahan Freeport dengan kolusi dan korupsi di kalangan pejabat Indonesia menjadi gunjingan setiap hari. Kasus ini pun menjadi salah satu penyebab jatuhnya Presiden RI Soeharto.

            Penderitaan dan kemarahan rakyat Indonesia karena adanya isu Freeport semakin menjadi-jadi. Kita bisa melihat dengan jelas ketidakadilan dan kemarahan itu. Rakyat Papua yang sesungguhnya pemilik tambang emas terbesar itu hidup dalam kesengsaraan, kesedihan, ketertinggalan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Seharusnya, para pemilik tanah emas itu kaya raya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

            Meskipun demikian, Indonesia tetap bersabar hingga perjanjian itu berakhir. Ketika kontrak karya selesai pada masa pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, dimulailah perjanjian baru yang membuat Indonesia lebih beruntung. Mulai 2017 Indonesia menegaskan untuk mengubah perjanjian hingga sahamnya menjadi 51%, sisanya Freeport AS.


Presiden Republik Indonesia Jokowi (Foto: Website Banggai Kepulauan)


            Keputusan Indonesia sangat tegas. Jika Freeport menolak, tambang emas di Papua akan diberikan pada perusahaan lain. Awalnya terjadi penolakan dan perlawanan dari PT Freeport hingga menjadi berita yang besar dan viral di AS. Akan tetapi, Indonesia berada pada jalan yang benar, yaitu kontrak karya berakhir dan tanah itu milik Papua, Indonesia. Akhirnya, mau tidak mau PT Freeport menerima keputusan Indonesia dan tetap menambang emas di Indonesia dengan perjanjian baru.

            Pada 2024 Presiden Jokowi memperpanjang kontrak hingga 2061 dengan syarat Indonesia menjadi pemilik saham terbesar dengan jumlah 61%. Di samping itu, perusahaan AS wajib membangun smelter di Indonesia agar emas bisa diolah di dalam negeri untuk membuka lapangan kerja dan menambah keuntungan bagi negara.

            Demikianlah perbedaan Indonesia dengan Iran. Indonesia menahan diri bersabar dalam keadaan penuh derita hingga perjanjian berakhir. Dengan demikian, Indonesia bisa merebut Freeport melalui jalur bisnis secara bertahap tanpa harus berperang. Adapun Iran karena sudah merasa sangat menderita, memilih merebut British Petroleum dengan jalan keras meskipun harus menanggung konsekwensi bertikai dan berperang dengan menggunakan senjata-senjata mematikan di samping mendapatkan sanksi ekonomi dari barat.

            Foto Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh saya dapatkan dari Short History dan Jokowi dari Website Banggai Kepulauan.

Sampurasun

Saturday, 7 February 2026

Prabowonomics

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Di dunia ini hanya ada dua sistem ekonomi terkuat yang dipakai, yaitu kapitalis-liberalis dan komunis-sosialis atau kadang disebut juga ekonomi komando. Keduanya sama-sama bertujuan untuk memberikan kesejahteraan manusia, terutama para pendukungnya.

Secara sangat sederhana, sistem ekonomi liberal menyerahkan kehidupan ekonomi pada pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Harga-harga ditentukan oleh pasar dan setiap orang boleh bersaing semaksimal yang dia harapkan. Pemerintah tidak boleh banyak mencampuri kehidupan ekonomi. Semakin sedikit peran pemerintah, sangat bagus untuk ekonomi liberal.

Berbeda dengan sistem ekonomi komunis-sosialis atau komando. Dalam sistem ini, pasar sangat dikuasai pemerintah. Kehidupan ekonomi sangat dikontrol oleh pemerintah agar terjadi keadilan bagi seluruh manusia. Persaingan tidak dibebaskan semaunya. Semakin besar peran pemerintah, semakin baik ekonomi dalam sistem komunis.

Seperti itu kira-kira perbedaannya. Memang tidak tepat benar karena untuk mengerti kedua sistem ekonomi itu minimalnya harus belajar selama satu semester. Itu pun baru kulitnya. Akan tetapi, seperti itulah pemahaman sederhananya.

Sebetulnya, ada lagi sistem lain yang sering dibicarakan, yaitu sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi Pancasila. Akan tetapi, kedua sistem ini baru ada dalam slogan, jargon, keinginan, atau harapan. Belum ada yang menulisnya mulai grand theory hingga teori operasional yang bisa dijalankan. Kadang malah hanya ada dalam teriakan-teriakan saat kampanye pemilihan tanpa ada isinya. Teriakan itu hanya untuk mempengaruhi orang tanpa kejelasan selanjutnya.

Memang ada beberapa orang yang mencoba menerangkannya lewat penelitian, tetapi belum teruji dalam praktiknya. Misalnya, Wakil Presiden RI Maruf Amin menulis disertasinya tentang ekonomi berlandaskan syariah Islam, tetapi tidak disebutkan juga sebagai sistem ekonomi Islam. Bahkan, karyanya lebih dikenal sebagai tulisan “Ekonomi Arus Baru”.

            Baru-baru ini mengemuka sebuah pemikiran ekonomi yang disebut dengan istilah “Prabowonomics”. Sederhananya, sistem ekonomi ala Prabowo. Ini sebetulnya hasilnya sudah bisa dirasakan rakyat. Pada saat luar negeri hari ini sedang krisis karena perang dan kenaikan dollar. Indonesia rasanya biasa-biasa saja, tidak tampak ada kekusutan berarti. Kalau seperti ada kerumitan, itu hanya ada di Medsos.

            Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada “World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026” yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss. Isi pidato ini yang kemudian disebut sebagai Prabowonomics.


Prabowonomics (Foto: KOMPAS.com)


            Kalau diperhatikan, Prabowonomics merupakan pemikiran yang ada di tengah antara kapitalis dan komunis, lebih memperkenalkan sistem ekonomi Pancasila yang berlandaskan gotong royong. Dalam pidato itu diperkenalkan beberapa hal yang telah dilakukannya dan akan terus dipertahankan keberlanjutannya.

            Pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didasari atas kasih sayang kepada rakyat supaya otaknya cerdas dan mewujudkan gotong royong. Hasil dari para pembayar pajak dan perusahaan negara diberikan kepada para siswa di Indonesia secara gratis. Program ini pun sudah menggerakan ekonomi rakyat karena bahan-bahannya juga berasal dari hasil bumi yang dikerjakan rakyat ditambah membuka lapangan kerja baru. Di samping itu, Prabowo mengklaim telah bisa mengalahkan perusahaan makanan terkenal Amerika Serikat Mc Donald yang dalam puluhan tahun menghasilkan 68 juta porsi, sedangkan MBG dalam satu tahun sudah bisa menghasilkan 120 juta porsi makanan.

            Kedua, hilirisasi. Pogram ini mengupayakan bahwa hasil bumi Indonesia mulai bahan mentah hingga barang jadi harus diproduksi di Indonesia. Program ini dimulai nikel yang akan berkembang ke bauksit, timah, batu bara, dan lain sebagainya. Program ini akan membuat Indonesia sangat banyak sekali uang dibandingkan dengan menjual hanya bahan mentah ke luar negeri. Di samping itu, terjadi transfer teknologi yang pada masa depan anak-anak muda Indonesia menjadi ahlinya dan berpotensi menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar. Hal ini harus dilakukan dengan sikap tegas terhadap pihak asing. Artinya, asing boleh berbisnis di Indonesia, tetapi bagian terbesar adalah milik dan untuk Indonesia.

            Ketiga, swasembada pangan. Pada masa depan Indonesia akan sanggup memberi makan rakyatnya sendiri tanpa harus membeli dari luar negeri. Kita memang sudah sanggup memproduksi beras sendiri, tidak lagi membeli dari luar negeri. Itu awal yang bagus untuk ke depannya tidak perlu lagi membeli sapi, jagung, kedelai, dan bahan makanan lainnya dari luar negeri. Hal itu pun akan sangat menghemat keuangan negara, bahkan memperluas pasar ekspor produk Indonesia ke luar negeri.

            Keempat, pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang tumbuh itu cirinya adalah negara lebih banyak ekspor dibandingkan impor, lebih banyak menjual barang ke luar negeri dibandingkan membeli barang dari luar negeri.  Ini sudah terjadi secara perlahan. Tandanya adalah ketika dollar naik, pengaruhnya sangat kecil, bahkan untuk beberapa kalangan tidak terpengaruh sama sekali. Berbeda ketika krisis 1998 dengan kenaikan dollar sedikit saja negara krisis dan goncang sehingga Presiden Soeharto jatuh. Itu karena Indonesia terlalu banyak beli barang dari luar negeri sehingga ketika dollar naik, kita tidak punya uang. Sekarang tidak lagi karena Indonesia sudah lebih banyak ekspor barang dengan hasil yang sangat banyak melebihi impor. Selain itu, untuk mewujudkannya harus ada kejelasan tentang kestabilan politik yang tidak gaduh dan kepastian hukum untuk menghentikan korupsi, pemerasan, premanisme, dan kerumitan perizinan.

            Begitu yang saya perhatikan dari pidato Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Davos, Swiss. Saya bisa saja kurang memperhatikan lebih teliti tentang Prabowonomics. Jika ada di antara para pembaca yang mau menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, saya akan sangat menghormatinya.

            Foto Prabowo saat pidato di Davos, Swiss saya dapatkan dari KOMPAS com.

            Sampurasun.

Thursday, 5 February 2026

Dewa Mabuk Amerika Serikat Bikin Iran-Cina Genit dan Rusia Berdehem, Ehem

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya Amerika Serikat (AS) bergaya mabuk disebabkan pemimpinnya sendiri Presiden Donald Trump yang berperilaku dan berbicara seperti Dewa Mabuk. Sekarang dengan kemarin omongannya bisa beda, sikapnya kadang pakai akal kadang pakai emosi, kadang seperti jagoan, tetapi buktinya nggak ada.

            Beberapa waktu lalu AS melecehkan dan sesumbar akan menghancurkan Iran pada 1 Februari 2026, mengirimkan kapal induk Abraham Lincoln yang membawa puluhan pesawat tempur dan dikawal kapal-kapal perang mendekati laut Iran. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat, AS tidak juga menyerang Iran. Kelihatannya hanya menggertak.

            Sikap AS yang seperti itu membuat Iran dan Cina berperilaku genit. Dengan melihat dan merasakan AS yang ketakutan dan mulai mundur dari perairan internasional, Iran mulai genit. Iran menggoda AS dengan mengirimkan drone shaheed yang kalau di Indonesia dibacanya drone syahid. Drone itu terbang menuju kapal induk AS dengan agresif, lalu ditembak jatuh oleh jet tempur F55 AS. Iran tidak rugi karena drone itu harganya murah, sekitar Rp30 jutaan, tetapi sudah mampu memberikan data aktivitas dan peralatan tempur laut AS pada militer Iran. Cina juga tampaknya melihat AS ketakutan, lalu mendekatinya dengan menggunakan kapal laut penelitian Da Yang Yi Hao. Semakin dekat kapal Cina mendekati kapal tempur AS. Sementara itu, Rusia ikut meramaikan dengan berlatih tempur bersama Iran dan Cina di dekat kapal milik AS.

            Tampaknya Iran dan Cina yang berteman itu mulai genit menggoda AS. Kalau dalam istilah Sunda, mereka itu sedang “ngalonyeng” pada AS. Mereka meniru gaya AS yang mengancam, tetapi dengan cara meledek dan bertindak rese mengesalkan. Rusia memanfaatkan situasi itu dengan bergabung ke Iran dan Cina.


Kapal AS diusir kapal Iran (Foto: Disway)


            Kalau diilustrasikan dalam kisah sehari-hari di Indonesia, AS itu ibarat preman yang sedang mabuk berat, ngomongnya ngaco, tetapi punya fisik yang besar dan menyeramkan. Preman itu mengancam ke siapa saja, termasuk ke Iran. Ketika ditantang balik oleh Iran, AS mundur teratur menjauh. Ketika situasi itu terjadi, Iran tiba-tiba mencolek preman AS itu.

            Seolah-olah Iran berkata sambal mencolek AS, “Mau ke mana lu? Katanya ngajak berantem, sekarang kok pergi?”

            Cina yang paham hal itu, mulai menggoda mendekati preman AS sambil berkata, “Tenang, kalem, gua cuma cari cacing di sini buat umpan mancing.”

            Rusia yang paham situasi hanya berdehem, “Ehem, … ehem.”

            Kehadiran Rusia membuat AS kaget, lalu pergi makin menjauh mengambil jarak aman. Preman AS mulai mencium bahaya lebih besar ketika Iran, Cina, dan Rusia mulai berlatih perang dekat armada laut AS. Situasi mulai berbalik, AS yang kini tampak terusir dari wilayah perairan Iran.

            Ini tampak lucu, tetapi juga menakutkan. Jika salah satu pihak tidak mampu menahan diri, mereka akan habis-habisan membela keberlangsungan hidup dan martabat mereka. Seperti itulah.

            Ilustrasi kapal tempur AS yang diusir Iran saya dapatkan dari Disway.

            Sampurasun.

Thursday, 29 January 2026

Politik Luas Hati Merajut Cinta

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Maksud judul di atas adalah sikap dan rasa berpolitik yang mau menerima perbedaan, tidak harus bermusuhan jika berbeda pandangan, dan membangun kebersamaan untuk tujuan yang sama. Banyak tokoh di Indonesia ini yang sudah melakukan hal itu, tetapi kurang diperhatikan dan tidak diteladani. Contohnya, Soekarno berdebat keras dengan Syahrir sampai urat leher tegang keluar dengan mata melotot merah, tetapi pulangnya berboncengan bareng naik sepeda ontel. Prabowo memerangi Panglima Aceh Merdeka selama 25 tahun saling bunuh, tetapi akhirnya mereka bersatu dalam partai yang sama.

            Contoh lain yang masih segar dalam ingatan kita adalah Jokowi yang telah mengalahkan Prabowo dua kali bisa saling mendekat dan saling memahami. Keduanya meluaskan hatinya untuk bersama, kemudian sepakat untuk saling mendukung karena memiliki rasa cinta yang sama. Mereka sama-sama mencintai negara dan rakyatnya dalam versi mereka. Padahal, perbedaan keduanya bisa menghancurkan persatuan Indonesia, tetapi karena ada rasa cinta yang sama, Indonesia hingga tulisan ini dibuat, tetap berada dalam keadaan kokoh dan bersatu. Ini namanya fakta.

            Ada contoh lain yang juga menarik. Provinsi Jawa Barat telah menyelesaikan masa pemilihan gubernur yang juga ketat, penuh dinamika, hingga makian kotor dan hujatan-hujatan rendah. Akan tetapi, setelah Dedi Mulyadi memenangkan pertarungan, semua kompetitor bisa saling menahan diri untuk tidak melakukan kerusakan, terutama terhadap psikologi masyarakat Jawa Barat. Bahkan, saingan Dedi Mulyadi, yaitu Gitalis Dwi Natarina yang dikenal dengan panggilan Gita KDI menyanyikan dengan merdu dan cantik lagu ciptaan Dedi Mulyadi yang dikenal pula dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Judul lagu KDM yang dinyanyikan Gita adalah “Rindu Purnama”. Bagi yang belum menikmati lagunya dan ingin menikmatinya, saya kasih linknya, mudah-mudahan lagu ini bisa melunakan hati-hati yang keras, https://www.youtube.com/watch?v=YdTUqfAaUrY

            Foto Gita saya dapatkan dari INewsBandungRaya dan KDM yang diciumi emak-emak dari Merdeka com.


Gitalis Dwi Natarina (Foto: INewsBandungRaya)


            Baik KDM maupun Gita dan pesaing lainnya, telah melunakkan hatinya demi merajut cinta. Mereka semua mencintai kedamaian, persatuan, dan rakyat Jawa Barat. Apabila di antara mereka mulai tampak saling bertengkar hingga berpotensi merusakkan Provinsi Jawa Barat, rakyat harus mengingatkan mereka dengan cinta juga sehingga mereka kembali pada jalan yang benar, yaitu mencintai rakyatnya.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi diciumi emak-emak (Foto: Merdeka.com)


Perilaku atau sikap berpolitik luas hati merajut cinta menandakan bahwa kita berbeda dengan orang barat, timur tengah, dan timur atau asia lainnya. Kita punya sikap dan rasa sendiri yang harus dipertahankan untuk kehidupan kita. Kalau orang lain dari belahan dunia lain menganggap bahwa perilaku kita itu “aneh” karena beda pandangan politik itu harus bermusuhan, itu patut kita syukuri. Kita bisa menjadi contoh dalam merajut perdamaian dunia dengan perilaku cinta tanpa harus menggurui.

Sampurasun

Sunday, 25 January 2026

Utang Banyak, Uang Lemah, Ketakutan, dan Sakit Hati Kombinasi Penyebab Perang Dunia Ketiga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kegaduhan dunia saat ini, 2026, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga bisa dikatakan karena kondisi Negara Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Masalah-masalah di dalam negeri AS ini mendorong Trump untuk mempengaruhi negara lainnya yang akibatnya menyebabkan kegoncangan geopolitik dan ekonomi. Masalah-masalah itu, di antaranya, utang yang banyak, lemahnya uang dollar AS, ketakutan terhadap kekuatan asing, dan sakit hati karena tidak menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

            Pertama, Negara AS itu memiliki utang yang sangat banyak. Utang nasionalnya pada Januari 2026 telah mencapai angka lebih dari US$38 triliun yang kalau dirupiahkan sekitar Rp641.820 triliun. Besar sekali.

            Jika kita bandingkan dengan utang Indonesia, berbeda jauh. Utang Indonesia itu bisa dikatakan sangat sedikit, yaitu hanya menembus Rp9.400 triliun lebih hingga akhir kuartal III tahun 2025.

            Utang AS itu berapa kali lipat utang Indonesia?

            Hitung saja sendiri.

            Tentunya, AS harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membayar semua utang-utangnya. Hal itu mendorong Trump untuk menguasai negeri-negeri lain agar mendapatkan lagi sumber daya alam seperti minyak di Venezuela; hasil Bumi di Green Land, Denmark; minyak di Iran. Upaya menguasai negara lain itu tentunya mendapatkan perlawanan dari negara yang berada dalam ancamannya.

            Kedua, uang dollar AS yang semakin lemah dalam bisnis internasional. Banyak negara yang mulai gerah dengan terlalu berkuasanya dollar AS sehingga hanya menguntungkan AS dan merugikan negaranya sendiri. Oleh sebab itu, mulai banyak negara yang tidak ingin menggunakan dollar AS. Presiden Venezuela Maduro ditangkap AS salah satunya karena akan menggunakan negaranya untuk uji coba penggunaan mata uang Cina Yuan dalam bisnis internasional. Rusia semakin memperkuat Rubel. Cina tentu saja mendorong Yuan. Dalam kelompok Brics sendiri mulai menguat untuk membuat mata uang baru di kalangan mereka. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang mengalihkan uangnya menjadi logam mulia (LM) atau emas. Bahkan, generasi muda mulai menabung untuk membeli emas karena daya tahan nilai tukarnya lebih kuat dibandingkan uang.

            Ketiga, AS ketakutan terhadap menguatnya pengaruh Cina dan Rusia di dunia. Kedua negara saingan AS ini memang semakin menunjukkan kekuatannya, baik secara ekonomi maupun militer. Meskipun AS menghambat kemajuan kedua negara tersebut dengan beragam sanksi dan ancaman, Cina dan Rusia semakin kuat mempengaruhi dunia sehingga membuat AS tampak semakin lemah.

            Keempat, Presiden Trump merasa sakit hati tidak mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Dia merasa sudah melakukan banyak hal untuk perdamaian dunia, tetapi orang yang meraih Nobel Perdamaian pada 2025 adalah bukan dirinya, melainkan María Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela, atas perjuangannya dalam mempromosikan hak-hak demokrasi, transisi damai, dan melawan kediktatoran di negaranya.


Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Rasa sakit hatinya ini dapat terlihat dari pengakuannya sendiri. Karena tidak mengapatkan Nobel Perdamaian, Trump sudah tidak ingin lagi memikirkan perdamaian dunia. Dia akan lebih memikirkan negaranya sendiri. Perdamaian dunia bukan prioritasnya.

            Foto Presiden AS Donald Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Bisa dibayangkan bukan, negara sekuat dan sekaya AS tak lagi memikirkan perdamaian dunia?

            Dia akan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan negaranya.

            Bagaimana dengan sikap kita, Indonesia?

            Indonesia harus berpegang teguh pada persatuan dan politik luar negeri bebas aktif. Berteman dengan siapa saja sepanjang tidak merugikan kita.

            Sampurasun.

Friday, 23 January 2026

Perbaikan Jalan untuk Pejabat atau untuk Rakyat?

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Biasanya, kalau melewati jalan jalur sebelah situ selalu tidak nyaman karena banyak lubang, tidak rata, dan becek. Akan tetapi, suatu pagi tiba-tiba jalan itu mulus sekali, tidak tampak kerusakan. Ini ajaib. Kemarin sore masih jalan masih rusak seperti biasa, tetapi pagi itu rapi banget.

            Tiba-tiba anak bungsu saya mengirimkan foto lewat grup WA keluarga. Dia berfoto bersama Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan di sekolahnya. Saya baru paham mengapa jalan yang biasanya berlubang dan becek itu lubangnya hilang dan nyaman dipakai. Ternyata, ada pejabat setingkat menteri lewat jalan itu. Memang sekolahan anak saya menggunakan jalan itu sebagai lalu lintas harian.


Anak bungsu saya bersama Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan


            Saya berpikir positif saja, mudah-mudahan kehadiran pejabat menggunakan jalan itu menjadi pemicu pemerintah untuk memperbaikinya sehingga rakyat bisa menggunakannya dengan nyaman. Perbaikan jalan itu bukan hanya untuk menteri, melainkan untuk rakyat pengguna jalan itu.

            Kalau memang untuk rakyat, teorinya, jalan itu harus bertahan sepuluh tahun untuk kemudian dilakukan pemeliharaan dan perbaikan kembali. Akan tetapi, kalau hanya bertahan satu atau dua minggu, berarti jalan itu diperbaiki dan dipoles untuk pejabat, bukan untuk rakyat.

            Kalau ternyata setelah dua minggu, jalan jebol lagi dan kembali becek, itu sangat menyedihkan. Ternyata, pemerintah hanya mementingkan pejabat dan bukan berbuat baik untuk rakyat sebagai pemiliki sah negeri ini.

            Kita lihat nanti kondisi dan daya tahan jalan itu.

            Apakah untuk rakyat atau hanya untuk pejabat?

            Kalau mendengar celoteh para siswa dan rakyat di sana, mereka yakin bahwa dalam waktu di bawah satu bulan, jalan itu jebol lagi.

            Mudah-mudahan mereka salah.

            Sampurasun.

Tuesday, 20 January 2026

Iran Terkuat Melawan Amerika Serikat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Iran adalah negara terkuat Timur Tengah yang menentang Amerika Serikat (AS). Saya  tidak sedang membicarakan negara teman AS seperti Arab Saudi. Negara-negara yang saya maksud adalah negara Timur Tengah yang bermusuhan dengan AS.

            Dari seluruh negara itu, Iran adalah negara yang paling kuat dan paling siap melawan AS serta tidak harus kalah. Kalau soal keberanian, Irak, Suriah, atau Libya sangat berani, tetapi tidak sekuat Iran dan buktinya mereka memang dikalahkan AS. Berbeda dengan Iran yang sangat kuat meskipun dikucilkan, diembargo, dan dirusakkan ekonominya, termasuk diserang secara militer menggunakan senjata mutakhir. Iran tetap berdiri tegak dan teguh dengan deklarasinya, yaitu “Anti-Amerika Serikat dan Anti-Israel”.

            Ada beberapa penyebab yang membuat Iran menjadi negara terkuat dalam melawan AS. Akan tetapi, saya sangat tertarik pada satu hal saja, yaitu “persatuan”. Hal itu yang justru menjadi kelemahan dan ketakutan AS.

            AS memang sangat takut dengan persatuan sebuah negara. Dia tidak akan pernah berani menyerang negara yang rakyatnya bersatu.  AS selalu masuk ke dalam sebuah negara jika di negara itu sedang terjadi konflik berat antara pemerintah dengan rakyatnya. Biasanya, AS selalu berpihak pada oposisi yang melawan pemerintah, kemudian mengeruk sumber daya negara itu, lalu pergi meninggalkan negara itu dalam keadaan berantakan.

            Iran adalah negara yang sangat kuat persatuannya. Bukan berarti mereka tidak punya masalah, tetapi masalahnya selalu bisa diselesaikan oleh pemerintahnya. Soal penyelesaiannya menggunakan cara halus, lembut, tegas, kasar, atau mengerikan, itu soal lain yang bisa ditulis dalam wacana lain. Hal yang jelas, Iran tetap kukuh dalam persatuannya.

            Meskipun dicoba oleh AS dan Israel menciptakan demonstrasi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, Iran tetap tangguh dan menyelesaikan demonstrasi itu dengan menangkap para perusuh serta mengadilinya, bahkan awalnya akan menghukum mati para penjahat itu yang telah membakar mobil di jalanan, gedung-gedung, membunuh tantara, dan warga lain yang berbeda paham dengan mereka. Hanya dalam hitungan jam Iran mampu menghentikan mereka.


Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khameini (Foto: CNBC Indonesia)


            Kerusuhan yang katanya demonstrasi itu jelas diprovokasi Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Netanyahu. Kedua penguasa itu dengan sangat telanjang memprovokasi perusuh untuk merebut pemerintahan dan menggulingkan pemerintah yang sah. Perilaku mereka tersebar pada berbagai berita resmi di seluruh dunia. Tak perlu profesor untuk menganalisa hal itu. Anak baru lulus SMA pun bisa.

            Beberapa jam setelah pemerintahan Iran mengendalikan kembali negaranya, PM Israel segera menghubungi Presiden AS untuk tidak melakukan serangan ke Iran. Hal itu disebabkan Israel bakal hancur dalam sekejap oleh Iran berdasarkan pengalaman “perang 12 hari” yang membuat Israel meminta gencatan senjata karena porak poranda diserang Rudal Iran yang tidak bisa diantisipasi oleh “iron dome” Israel. Demikian pula AS yang sudah bisa menghitung biaya dan kerugian yang akan diderita jika menyerang Iran.

            Ancaman penyerangan terhadap Iran yang beberapa hari sebelumnya sangat keras dan meyakinkan oleh AS dan Israel, berubah menjad omon-omon doang. Mereka takut dengan persatuan Iran.

            Dari hal itu, kita, Indonesia, bisa belajar bahwa jika ingin negara ini hancur berantakan, teruslah berkonflik serta mintalah kepada AS, Israel, dan negara lain yang tidak ingin Negara Indonesia maju untuk mendukung huru-hara di Indonesia. Akan tetapi, jika ingin Indonesia maju sejahtera sesuai dengan Pancasila, tetaplah bersatu dan selesaikan masalah di antara kita sendiri dengan jujur, jernih, dan bertujuan untuk membangun bangsa, jauh dari sikap saling menjatuhkan.

            Ingat kata pepatah lama, “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.

            Iya, toh?

            Kalau bercerai, tidak perlu larut dalam kesedihan, kawin lagi adalah hal yang membahagiakan asal ketemu pasangan yang tepat.

            Foto Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamaeni saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 18 January 2026

Amerika Serikat Ikut Campur Jika Suatu Negara Sedang Konflik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pengennya Amerika Serikat (AS) itu disebut “polisi dunia”, menertibkan dan mengamankan seluruh negara. Padahal, mereka kalah perang di Vietnam dan diusir memalukan oleh negara miskin Somalia.

Saya masih ingat foto-foto lama ketika pasukan AS pergi terusir dari Somalia “dibujuran” oleh anak-anak kecil. Dibujuran itu adalah bahasa Sunda yang kalau diilustrasikan seperti anak-anak kecil membuka celananya dan memperlihatkan pant*tnya kepada tentara AS sebagai penghinaan. Tentara AS “ditongenggan” ku barudak leutik. Amerika Serikat kalah dalam “Pertempuran Mogadishu” yang dikenal dengan “Black Hawk Down”.

Foto orang-orang yang mengusir pasukan AS di Somalia saya dapatkan dari Wikipedia.


Orang-orang Somalia mengusir tentara AS (Foto: Wikipedia)


Di Vietnam pun AS kalah telak. Tentara Vietnam itu belajar perang dari tentara Indonesia. Buku-buku perang yang digunakan mereka untuk belajar perang adalah tulisan Jenderal A.H. Nasution tentang perang gerilya. Indonesia itu tidak pernah kalah perang.

Sekarang mulai paham kan kenapa tidak ada satu negara pun yang berani menantang perang terbuka pada Indonesia?

Kembali ke soal AS yang selalu ikut campur konflik dalam negeri orang lain. Seluruh negara yang dicampuri AS itu selalu sedang terjadi konflik di dalam negaranya. Negara-negara seperti Irak, Libya, termasuk Venezuela memang sedang berada dalam konflik berat di dalam negaranya antara pemerintah melawan oposisi. AS hampir selalu membela oposisi untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Kemudian, pergi meninggalkan negara itu setelah mengambil sumber dayanya dalam keadaan kacau balau dan rusak.

Indonesia harus belajar dari hal itu, apalagi pernah mengalaminya saat lalu. AS berupaya menggulingkan pemerintah RI yang dipimpin Soekarno dengan alasan komunisme karena memang PKI adalah partai besar saat itu dan dekat dengan pemerintah. Hasilnya, setelah Soekarno jatuh, untuk sepuluh tahun pertama sejak Soekarno diganti Soeharto, Indonesia memang mengalami pembangunan, tetapi setelah 1981 terjadi banyak kerusakan yang akhirnya Soeharto dijatuhkan rakyatnya sendiri. Itu kenyataan.

Banyak sekali contohnya. Oleh sebab itu, agar negara tidak jatuh dalam kerusakan, jaga persatuan dan jangan biarkan tangan-tangan pengaruh asing masuk ke Indonesia. Perbedaan paham dan pemikiran antara pemerintah dan oposisi harus diniatkan untuk perbaikan kehidupan negara, bukan untuk menjatuhkan dan menimbulkan kerusakan, baik fisik maupun nonfisik. Jangan pecahkan negara karena perbedaan-perbedaan kecil.

Di samping itu, tentara kita harus kuat, baik fisiknya, mentalnya, maupun Alutsista-nya. Kita harus punya pasukan kuat yang tidak mudah tergoda oleh duniawi seperti yang terjadi di Venezuela yang tentaranya sangat lemah, baik fisiknya, mentalnya, maupun orientasinya. Tentara Venezuela banyak yang disuap AS sehingga presidennya sendiri dibiarkan dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa perlawanan berarti. Pasukan AS menangkap Presiden Maduro dengan sangat enteng seperti menjemput pemabuk yang baru pulang main judi di tukang sate.

Rakyat Indonesia harus belajar dari itu semua. Kalau tidak, kalian memang harus dihukum karena akan menghancurkan kehidupan banyak orang di negeri ini.

Sampurasun.

Saturday, 17 January 2026

Sedihnya Anak Muda Sunda Bahagia di Selokan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Biasanya anak-anak muda, baik Sunda ataupun bukan sama saja, suka memposting aktivitasnya di café, tempat-tempat nongkrong, tempat wisata, tempat ibadat, mall, tempat belanja, fleksing-fleksing dikit pamer keberhasilan atau kemewahan. Itu sering kita lihat pada  berbagai media sosial. Itu biasa saja, normal. Ada yang memang sedang berbahagia atau pura-pura bahagia. Akan tetapi, ada yang menarik akhir-akhir ini yang memperlihatkan banyak anak muda Sunda atau bukan Sunda, tetapi sudah tinggal di Jawa Barat tampak bahagia memposting dirinya sedang berada di selokan-selokan atau drainase yang dibangun oleh Provinsi Jawa Barat. Mereka tampak senang bahwa parit atau aliran air yang ada di lingkungan mereka bersih, bagus, kokoh, dan indah. Mereka memposting itu sambil bawa-bawa nama besar “Gubernur Konten Dedi Mulyadi”. Seolah-olah mereka berkata ini lho hasil kerja “Bapak Aing”.

            Sebetulnya, bukan hanya selokan yang mereka posting, melainkan jalan provinsi yang mulus, batas kota yang anggun, jembatan yang mewah, sungai-sungai yang tertata rapi, dan bangunan fisik lainnya yang dibangun Provinsi Jawa Barat. Bahkan, mereka bangga bisa berjalan-jalan di “Lembur Pakuan”, tempat tinggal Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ini hal yang bikin menarik.

            Mereka tampak bergembira berada di tempat-tempat itu dan memamerkannya di akun-akun media sosial yang mereka miliki. Akan tetapi, saya justru merasa sedih karena sesungguhnya yang namanya selokan, jalan, trotoar, jembatan, bangunan-bangunan pemerintah, sungai, batas kota, atau pemandangan yang indah adalah hal yang biasa saja.


Anak-anak muda senang berfoto di tempat pembangunan yang berhasil (Foto: YouTube) 


            Mengapa mereka berbahagia dan mempostingnya di media sosial untuk hal yang biasa-biasa saja itu?

            Hal itu disebabkan mereka baru merasakan hak-hak mereka diberikan dengan baik. Mereka tidak merasakan hal itu sebelumnya. Infrastuktur, kebersihan, pemandangan, keanggunan, ketertiban, dan sebagainya itu sebenarnya sudah seharusnya merupakan hak anak-anak muda dan rakyat secara keseluruhan yang sejak lama harus diberikan.

            Pertanyaannya adalah mengapa hak-hak itu tampak mereka rasakan pada zaman Dedi Mulyadi? Mengapa sebelumnya tidak mereka rasakan?

            Kita memang tidak boleh menghina atau merendahkan pemerintah sebelum-sebelumnya karena besar atau kecilnya pemimpin sebelumnya pun telah melakukan hal-hal baik. Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam waktu yang sangat singkat, di bawah satu tahun, Dedi sudah melakukan banyak hal massif dan positif, baik untuk fisik maupun nonfisik di Jawa Barat.

            Perilaku anak-anak muda yang memposting berbagai kegiatan pembangunan provinsi itu mudah sekali ditemukan pada berbagai media sosial. Memang belum semua target pembangunan tercapai, tetapi mereka sudah tampak senang. Kesenangan rakyat akan bertambah jika berbagai program kerja Dedi terus konsisten dilakukan sepanjang masa kepemimpinannya. Di tambah lagi, akan lebih menggembirakan jika para bupati, walikota, lurah, Kades, dan jajarannya sama-sama kontinyu untuk melakukan pembangunan-pembangunan yang menyenangkan rakyatnya. Tanpa pemerintah harus mengeluarkan biaya Humas yang banyak, anak-anak muda Sunda akan senang hati memposting kegiatan-kegiatan itu tanpa harus dibayar.

            Meskipun demikian, anak-anak muda dan rakyat keseluruhan pun tidak boleh lupa bahwa keberhasilan pembangunan itu bisa berhasil bukan hanya dengan dukungan, melainkan pula dengan kritikan-kritikan konstruktif positif dengan niat meningkatkan keadaan bukan untuk membuat gaduh dengan energi negatif kebencian yang sama sekali tidak ada gunanya.

            Ilustrasi jembatan di Pangandaran saya dapatkan dari YouTube.

            Sampurasun.