oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Banyak teriakan atau tulisan yang mengatasnamakan rakyat.
Rakyat ingin begitu!
Ini suara rakyat!
Demi rakyat!
Ini kehendak rakyat!
Rakyat tidak setuju!
| Rakyat (Foto: KOMPAS com) |
Gus Dur
bertanya, “Rakyat yang mana? Di mana alamatnya?”
Bisakah
menjawab pertanyaan Gus Dur alias Presiden Abdurahman Wahid?
Saya yakin
kebanyakan orang yang berteriak itu tidak bisa menjawabnya. Hal itu disebabkan
rakyat yang mereka sebutkan itu tidak bisa diukur dan tidak bisa dideteksi
keberadaannya.
Benar mereka adalah rakyat, tetapi
seberapa banyak mereka?
Paling
juga hanya dirinya, keluarganya, atau beberapa teman mereka. Artinya, mereka
tidak bisa diklaim sebagai suara seluruh atau mayoritas rakyat Indonesia. Mereka
hanya beberapa gelintir orang dibandingkan seluruh rakyat Indonesia ini. Suara
mereka bisa didengar ataupun tidak, bergantung pada orang-orang yang punya
kekuasaan. Rakyat ya rakyat, mereka ya mereka.
Orang yang
berhak dan jelas menyuarakan dan memperjuangkan rakyat adalah orang-orang yang
menduduki jabatan atau kekuasaan yang dipilih oleh rakyat. Mereka bahkan digaji
untuk itu dari uang rakyat juga. Mereka adalah Presiden, Wapres, gubernur
hingga ke-RT, lalu ada Dewan Perwakilan Rakyat, baik pusat maupun daerah. Mereka
punya kekuatan, hak, dan kewajiban untuk memperjuangkan rakyat. Rakyat yang mereka
maksud adalah rakyat yang memilih mereka. Rakyat yang mereka aspirasikan jelas
jumlahnya dan jelas pula hitungannya, bisa dideteksi. Bahkan, jika mereka mau,
bisa menunjukkan KTP para pemilihnya. Mereka punya kedudukan karena mereka
dipilih rakyat. Merekalah yang punya kejelasan hubungan dengan rakyat dibandingkan
orang-orang yang mengatasnamkan rakyat, tetapi tidak jelas rakyat mana yang
mereka maksud.
Dalam
dunia demokrasi wajar saja ada yang suka, setuju, tidak suka, atau tidak setuju
dengan kebijakan mereka. Artinya, ada rakyat yang suka dan tidak suka. Normal
saja. Akan tetapi, orang-orang itu punya kejelasan lebih dibandingkan dengan
orang-orang yang mengatasnamakan rakyat tanpa jelas rakyat yang mana. Wajar
juga jika ada yang kecewa dan senang dengan kebijakan orang-orang yang dipilih
rakyat itu.
Seringlah minum susu tanpa
gula supaya lebih sehat dan lebih lancar berpikir.
Ilustrasi rakyat saya dapatkan
dari KOMPAS com.
Sampurasun.








