Showing posts with label Allah swt. Show all posts
Showing posts with label Allah swt. Show all posts

Friday, 20 March 2026

Allah swt Tidak Akan Membiarkan Dunia Unipolar

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Unipolar dalam politik secara sederhana berarti adanya suatu kaum, bangsa, atau negara yang berkuasa mutlak di muka Bumi dalam segala bidang, baik itu militer, ekonomi, politik sumber daya, dan yang lainnya. Kekuasaannya itu mengatur dan menundukkan semua bangsa di dunia. Dalam kenyataannya, hal itu tidak pernah ada. Kalaupun disebut ada, itu hanyalah sebatas klaim, pengakuan, propaganda, ataupun kampanye. Dalam sejarah Bumi sejak diciptakan, tidak pernah ada suatu kaum yang benar-benar mutlak menguasai seluruh kaum di dunia.


Planet Bumi (Foto: Kompas.com)


            Coba saja pelajari sejarah, tak pernah ada yang berkuasa mutlak. Selalu saja ada kaum lain yang menjadi rival atau saingan, baik itu sebuah kaum atau bangsa maupun banyak bangsa, rupa-rupa negara. Kita bisa baca sejarah ada kekuatan-kekuatan besar di dunia, seperti, Persia, Romawi, Yunani, Arab, ataupun Mongol. Mereka selalu bersaing dan berdiri menantang yang lainnya. Dalam kehidupan modern, kita mengenal Amerika Serikat yang ditantang oleh Unisoviet, lalu Rusia. Sekarang, bertambah kekuatan Cina berdiri menjadi negara yang juga sangat kuat.

            Hal itu berarti dunia selalu multipolar, banyak kekuatan, atau paling tidak bipolar, ada dua kekuatan besar yang berdiri saling klaim sebagai negara kuat di muka Bumi. Tak pernah benar-benar Unipolar, hanya satu kekuatan yang menguasai seluruh Bumi.

            Suka atau tidak, percaya atau tidak, memang kehidupan di dunia ini sudah diciptakan Allah swt agar tidak ada satu bangsa pun yang berkuasa mutlak atas yang lainnya. Hal itu disebabkan agar kehidupan manusia terjamin tetap berlangsung hingga kiamat tiba. Jika suatu bangsa dibiarkan berkuasa secara mutlak, bangsa itu akan berlaku sewenang-wenang terhadap bangsa lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai teori realisme, manusia selalu berusaha mengalahkan manusia lainnya. Faktanya adalah Allah swt selalu menjadikan bangsa lainnya untuk menjadi penyeimbang di Bumi hingga kiamat tiba.

            Perhatikan kata-kata Allah swt berikut ini dalam QS Al Hajj 22 : 40:

“… Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah ….”

Itu pernyataan Allah swt yang menjelaskan bahwa keganasan manusia  ditolak oleh manusia lainnya. Artinya, selalu ada kekuatan yang menyeimbangkan kekuatan di antara manusia. Kalau hanya ada satu kekuatan, tempat-tempat ibadat di Bumi ini sudah roboh seluruhnya dan tak ada lagi yang menyebut nama Allah swt dengan bahasanya masing-masing. Saya orang Sunda suka menyebut Allah swt dengan istilah “Gusti, Pangeran, Nu Kawasa, Nu Ngersakeun”. Bangsa lain tentu memiliki sebutan berbeda, tetapi maksudnya adalah sama, yaitu Zat Yang Menciptakan Seluruh Alam Ini.

Dengan melihat bukti-bukti sejarah dan pernyataan Allah swt, setiap bangsa ataupun setiap manusia yang merasa ataupun berusaha untuk menguasai Bumi adalah keinginan yang sia-sia. Itu tidak akan pernah terjadi. Cuma ngimpi. Sehebat apa pun teknologi dan militer, tidak akan pernah terjadi.

Manusia harus sadar dengan hal ini. Mereka hanya membuat kesesatan, kejahatan, dan kerusakan jika ingin berkuasa atas seluruh manusia. Sekali lagi, itu cuma mimpi.

Ilustrasi planet Bumi adalah milik Kompas com.

Sampurasun.

Sunday, 24 April 2022

Dunia Beruntung Allah swt Jadikan Indonesia Presidensi G20

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Indonesia dipercaya untuk menjadi pemimpin presidensi G20, dalam periode ini terjadi bencana kerusakan karena perang luar biasa antara Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Amerika Serikat (AS) dan “North Atlantic Treaty Organization” (Nato) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Perang ini terjadi sangat besar karena melibatkan dua kekuatan besar dunia secara militer dan ekonomi, yaitu AS dan Rusia. Kerusakan akibat perang ini sudah langsung berpengaruh pada dunia, baik secara politik maupun secara ekonomi, pengaruhnya bisa dirasakan dunia saat ini. Kegoncangan ekonomi dan kegalauan politik sudah bisa terasa. Ini jauh berbeda dengan perang-perang semisal Israel Vs Palestina atau di Timur Tengah yang kerusakannya hanya berpengaruh besar di wilayah konflik dan tidak begitu terasa di luar wilayah itu. Kalaupun ada pengaruhnya, tidak terlalu besar, bahkan banyak orang tidak tahu terjadi konflik di wilayah itu karena tidak merasakannya.

            G20 itu adalah kumpulan dari 19 negara maju dan menuju maju ditambah 1 Unieropa. Kumpulan negara ini mirip kumpulan orang-orang borju di dalam lingkungan hidup manusia sehari-hari. Saat ini Indonesia dipercaya mereka untuk memimpin kelompok ini. Kalau saya sih melihatnya, Indonesia bukan hanya dipercaya manusia untuk memimpin G20 ini, melainkan juga sudah menjadi rencana Allah swt dalam menyeimbangkan kekuatan-kekuatan dunia yang sekarang sedang bertempur. Indonesia sedang diuji untuk naik kelas menenangkan dunia dengan adil setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri dan mengatasi politik yang sedikit gaduh oleh para bajingan bodoh cacing cau.

            Perang Rusia Vs Ukraina membuat dunia menjadi tegang dan terpolarisasi semakin tajam antara pro-Barat AS dan pro-Timur Rusia. Tak kurang dari AS dan sekutunya mengancam memboikot G20 apabila Presiden Rusia Vladimir Putin hadir di Bali, Indonesia, dalam pertemuan G20. Bahkan, jangankan Presiden Putin, sekedar untuk bertemu dengan delegasi dari Rusia saja, mereka tidak mau. Mereka memilih “walk out”, meninggalkan pertemuan karena Rusia ada di sana. Lebih jauh lagi, AS dan sekutunya menekan Indonesia untuk memberikan sanksi kepada Rusia dan mencoret Rusia dari keanggotaan G20.

            Inilah ujian dan kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia oleh Allah swt. Indonesia adalah negara nonblok yang memiliki politik luar negeri “bebas dan aktif”. Indonesia bebas tidak bergantung, tidak ditekan, dan tidak memihak pihak mana pun, baik barat maupun timur, baik AS maupun Rusia. Di samping itu, Indonesia aktif mewujudkan perdamaian dunia. Inilah yang saya sebut dunia beruntung ketika Perang Rusia Vs Ukraina terjadi, Indonesia sedang memimpin G20. Hal itu disebabkan Indonesia tidak memihak AS dan tidak memihak Rusia. Indonesia hanya memihak dirinya sendiri dan menolak menjadi anak buah atau kepanjangan negara lain. Dengan demikian, kelompok G20 dapat tetap dipaksa untuk fokus pada pemulihan ekonomi dunia pascapandemi dan tidak berbelok  menjadi ajang perdebatan dan perseteruan militer dan politik akibat perang Rusia Vs Ukraina.

            Saya tidak bisa membayangkan jika saat ini bukan Indonesia yang memimpin G20, melainkan negara lain yang pro-AS, misalnya Inggris. G20 bisa menjadi ajang atau kelompok negara yang berisi makian, hinaan dan rencana mengalahkan Rusia dengan beragam sanksi ekonomi, politik, militer, budaya, lingkungan, dan lain sebagainya yang bisa menyengsarakan rakyat Rusia dan mengganggu kehidupan dunia pada umumnya. Sebaliknya, jika saat ini yang menjadi pemimpin presidensi G20 adalah negara yang pro-Rusia, misalnya Cina, G20 bisa menjadi pertemuan yang isinya konflik dan pamer kekuatan militer dan politik untuk menunjukkan perlawanan terhadap pihak barat, AS dan sekutunya.

            Baik negara yang pro-AS maupun pro-Rusia jika memimpin presidensi G20 akan membuat dunia berat sebelah, timpang, dan polarisasi semakin tajam. Beginilah Allah swt menjalankan skenarionya dalam kehidupan ini, menempatkan Indonesia sebagai pemimpin sehingga polarisasi di dunia masih bisa dikendalikan dan tidak semakin tajam. Indonesia menghormati keduanya, baik barat maupun timur. Indonesia hanya berpegang pada dirinya sendiri dan mengharapkan perang segera berhenti untuk kemudian tercipta perdamaian sehingga G20 dapat lebih fokus untuk memulihkan ekonomi dunia.

            Bagi rakyat Indonesia. Kalian jangan selalu ribut, jangan selalu mudah ditipu, dibodoh-bodohin orang, jangan percaya sama bajingan bodoh. Jika ingin mendapatkan surga di dunia dan di akhirat, tetaplah berbuat baik, tetap belajar, tetap berpikir, dan tetap berperilaku untuk bermanfaat bagi orang lain dan dunia. Alllah swt sedang menempatkan Indonesia pada posisi terhormat sebagai penyeimbang dunia, maka jadilah manusia-manusia terhormat yang memberikan jalan keluar bagi dunia, bukan menjadi makhluk-makhluk dengan kerusakan cara berpikir dan cacat moral.

            Indonesia sedang diuji untuk menyeimbangkan dunia.

            Bukankah manusia yang termulia itu adalah “ummatan wasathan”, umat pertengahan yang menjadi saksi atas perilaku manusia lainnya di dunia ini?

            Pikir dengan akal dan raih pemahamannya dengan iman.

            Piraku teu ngarti.

            Sampurasun.

Saturday, 18 September 2021

Maaf Jenderal, Anda Salah

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingat dengan nama Letnan Jenderal Dudung Abdurachman yang menjadi benteng negara dalam membubarkan Front Pembela Islam (FPI)?

            Para mantan FPI seharusnya kenal dengan wajah Jenderal Dudung. Orang-orang di luar FPI pun banyak yang hapal benar dengan wajah Dudung karena menurut Mahfud M.D., 92% rakyat Indonesia setuju FPI dibubarkan.


Letnan Jenderal Dudung Abdurachman (Foto: CNN Indonesia)


               Akhir-akhir ini Dudung menjadi sorotan publik karena ucapannya yang dinilai salah. 

            Pada 14 September 2021 dia sempat mengatakan, “… semua agama benar di mata Tuhan ….”

            Kalimatnya itu tentu saja mendapatkan kecaman dan kritik keras dari para pemuka Agama Islam, seperti, dari Muhammadiyah, MUI, kiyai NU, dan Ormas lainnya, termasuk mantan FPI. Ada yang mengkritiknya sangat keras, ada yang berusaha memperbaikinya, ada juga yang menuntut Dudung untuk membuat permohonan maaf kepada umat Islam.

            Buat saya, ada tiga hal yang menyebabkan Dudung berkata seperti itu. Pertama, dia kurang wawasan dalam memahami agamanya. Kedua, kurang penjelasan terhadap maksud yang dikatakannya. Ketiga, Dudung terlalu nasionalis.

            Pertama, tidak enak sebetulnya kalau mengatakan Dudung kurang memahami Islam. Dia itu keturunan Sunan Gunung Djati (SGD). Dalam beberapa literatur, SGD juga terhubung kepada Nabi Muhammad saw. Artinya, Dudung pantas kalau disebut habib, tetapi tidak menggunakan gelar itu. Di samping itu, Dudung adalah jebolan pesantren dan mewakafkan tanah miliknya untuk pesantren.

Akan tetapi, mau bagaimana lagi menilai seseorang yang mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan kalau bukan karena kurang paham terhadap Islam?

Ini persoalan akidah. Dalam Islam kalau berbicara itu harus jelas dalilnya, baik yang berupa ayat Al Quran, hadits, ataupun dalil akal. Secara naqli, tidak ada yang dapat menjadi dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan. Bahkan, di dalam kitab-kitab suci agama lain pun, seperti, Injil, Taurat, Weda, Tripitaka, atau yang lainnya, tidak akan ada kalimat seperti itu. Secara aqli pun, tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin semua agama benar di mata Tuhan, kalau Tuhan-nya sama?

Misalnya, agama yang satu tidak membolehkan berzina, tetapi agama yang lainnya membolehkan berzina. Kalau Tuhan-nya sama, tidak mungkin ada agama berbeda dengan ajaran yang berbeda. Kalau Tuhan-nya berbeda, ya nggak apa-apa, baru masuk akal. Kan Tuhan-nya juga beda.

Kalau yang dimaksud Dudung Tuhan-nya sama, tidak perlu marah, tidak perlu maki-maki, tidak perlu menuntut ke pengadilan karena penghinaan agama. Sebagai sesama muslim, harus saling mengingatkan, bukan saling menghardik. Dudung perlu diingatkan dengan menggunakan QS Ali Imran ayat 19 yang pada awal ayatnya berbunyi “Innaddiina indallaahil Islaam”. Cari terjemahannya sendiri. Mudah-mudahan Dudung lebih paham, menyadari kesalahannya, kemudian bertaubat. Tidak perlu diperpanjang, toh pada akhirnya urusan itu kembali kepada Allah swt.

Kedua, Dudung kurang menjelaskan kalimatnya. Kalau Tuhan yang dimaksud Dudung itu adalah Allah swt, jelas salah. Hal itu disebabkan tidak mungkin Allah swt menurunkan dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, atau banyak agama berbeda dengan perbedaan ajaran, kewajiban, dan larangan. Akan tetapi, kalau Tuhan-nya beda, tidak ada masalah. Tuhannya kan masing-masing, ajarannya juga pasti masing-masing. Ya sudah, masing-masing saja. Sayangnya, Dudung tidak menjelaskan kalimat itu dengan benar, jadi wajar jika ada banyak kritikan dan protes kepadanya.

Ketiga, Dudung terlalu nasionalis. Sikap patriotik dan nasionalis itu hebat. Akan tetapi, kalau berlebihan juga bisa jadi salah. Maksud Dudung mengatakan bahwa semua agama benar di mata Tuhan adalah supaya tidak ada perpecahan di antara para prajuritnya. Dia ingin para prajurit tetap bersatu meskipun berbeda agama. Dia tidak ingin ada fanatisme berlebihan di kalangan prajurit yang membuat ketegangan di antara sesama prajurit. Itu bagus, sangat bagus malahan, sayangnya karena keinginan dan semangatnya terlalu tinggi, dia keseleo lidah.  

Adalah hal yang sangat baik dapat memenej anak buah yang berbeda agama untuk bersatu dalam persaudaraan. Akan tetapi, tidak perlu juga jika harus mengatakan bahwa semua agama benar di mata Tuhan. Itu akan menjadi polemik (sudah terjadi) dan harus dipertanggungjawabkan pula di hadapan Allah swt.

Saya juga punya banyak murid yang berbeda agamanya. Saya pun berusaha agar di antara mereka tidak berkonflik soal agama. Akan tetapi, saya tidak pernah mengatakan bahwa semua agama adalah sama di mata Tuhan. Saya memilih untuk berusaha bersikap adil kepada mereka sehingga mereka paham bahwa perbedaan agama itu bukanlah masalah di antara kami.

Ada seorang murid Kristen datang dan bertanya kepada saya, “Pak, boleh saya tahan atau saya jabel laptop punya teman saya?”

“Memang kenapa?”

“Dia punya hutang sama saya dan sudah lama nggak dibayar-bayar.”

Kebetulan, yang punya hutang beragama Islam.

“Itu mah terserah kalian. Bukan urusan saya. Kalian bersepakat saja baik-baik. Kalian kan sudah pada gede, masa urusan begitu saya harus ikutan.”

Meskipun yang berhutang itu agamanya sama dengan saya, kan saya tidak mungkin membelanya mati-matian karena kesamaan agama. Urusan hutang piutang itu ya jadi urusan mereka, nggak ada kaitannya dengan kesamaan agama.

Nah, kan perilaku semacam itu pun bisa mempersatukan di antara anak buah atau orang-orang yang di bawah kita. Artinya, semua diperlakukan sama, tidak perlu mengatakan bahwa semua agama adalah benar di mata Tuhan.

Maaf Jenderal, sebagai sesama muslim, sebagai sesama orang Sunda, dan sebagai sesama orang Indonesia, saya mengingatkan bahwa kita semua harus saling mengingatkan supaya tetap berada di jalan yang benar, sebagaimana yang Allah swt ajarkan di dalam QS Al Ashr.

Sampurasun.

Thursday, 26 August 2021

Keadilan bagi Setiap Pemeluk Agama

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Penghinaan dan caci maki terhadap agama atau keyakinan sudah terjadi sejak dulu, sejak agama itu sendiri ada. Hal ini dapat memicu perselisihan, pertengkaran, dan kerusakan di antara manusia.

Beruntung Indonesia memiliki undang-undang atau aturan yang membuat penghina agama dinyatakan sebagai pengacau atau penjahat yang merusak keharmonisan berbangsa dan bernegara. Pelakunya bisa dijerat hukum dan masuk penjara. Aturannya ada, tinggal dilaksanakan saja. Sayangnya, masyarakat masih merasa bahwa pemerintah belum melaksanakan aturan ini dengan baik. Banyak masyarakat yang merasa tidak adil karena ada penghina agama tertentu yang ditangkap, tetapi penghina agama lainnya tidak. Ini dipandang tidak adil.

Berbeda dengan di dunia barat, Amerika Serikat misalnya, tidak ada aturan atau undang-undang yang bisa menghukum para penghina agama. Hal itu disebabkan setiap orang bebas berbicara dan berpendapat yang kebebasan itu tidak peduli menyakiti orang lain atau tidak. Tidak aneh jika di sana para penghina agama tidak ditangkap karena memang undang-undang untuk menjeratnya juga tidak ada.

Semestinya, jika ada penghina agama dan terbukti hinaannya itu secara aturan, diproses hukum saja. Agama apa pun.  Meskipun demikian, jika ada orang yang dianggap penghina agama, tetapi tidak terbukti secara aturan, harus dijelaskan bahwa dia memang tidak menghina agama. Hal ini disebabkan bisa terjadi orang dituduh menghina agama, padahal tidak. Tuduhan itu kerap hanya berdasarkan kebencian dan bukan fakta.

Keadilan bagi setiap pemeluk agama sangat diperlukan sehingga masyarakat seluruhnya merasa terlindungi dan diperlakukan adil. Pemeluk agama apa pun.

Umat Islam apalagi sangat dilarang keras untuk menghina dan mencaci agama orang lain. Larangan keras itu bukan datang dari negara, para sahabat Nabi, atau Rasulullah saw, melainkan dari Allah swt langsung.

Perhatikan perintah Allah swt dalam QS Al Anam, 6 : 108.

“Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian, kepada Tuhan, tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat itu sudah jelas bahwa umat Islam dilarang menghina agama lain karena pemeluk agama lain akan berbalik menghina Islam dengan sangat keras. Akibatnya, terjadi ketidakharmonisan kehidupan dan yang paling penting adalah syiar Islam jadi terganggu.

Soal agama siapa yang paling benar, ayat itu pun sudah menjelaskan bahwa Allah swt memang membuat setiap umat menganggap baik apa yang dilakukannya. Kemudian, pada saatnya nanti semua manusia akan kembali kepada Tuhan-nya serta dikabarkan dan dijelaskan segala hal yang dilakukan umat-umat itu, mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, umat Islam tidak perlu melakukan cacian dan hinaan kepada agama lain, serahkan saja penjelasan yang nyata itu kepada Allah swt. Nanti juga penjelasan-Nya akan tiba.

            Sebetulnya, setiap pemeluk agama wajar jika berupaya menjaga umatnya untuk tidak berpindah ke agama lainnya. Salah satu caranya adalah menunjukkan kelemahan-kelemahan agama lain. Akan tetapi, itu jangan dilakukan di ruang publik atau di tempat umum yang bisa diketahui oleh pemeluk agama lain karena akan menimbulkan masalah di masyarakat. Lakukanlah hal itu di tempat tertutup, di tempat intern khusus pemeluk agamanya sendiri. Kalau disebarluaskan, di-upload, di-share hingga menjadi viral, bakal bermasalah di tengah masyarakat dan bermasalah pula dengan hukum, khususnya di Indonesia.

            Ayatnya sudah jelas, undang-undangnya ada. Hal yang harus kita lakukan di dunia ini adalah menjaga kehidupan agar tetap harmonis dan berjalan dengan baik. Soal benar dan salah, surga dan neraka, biarlah Allah swt yang akan menjelaskannya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.

            Sampurasun.




Monday, 2 August 2021

Takut

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Jangan takut Corona, takutlah kepada Allah swt!”

            Pernah dengar kalimat seperti itu?

            Banyak orang yang mengatakan hal seperti itu.

            Kalimat seperti itu sama saja dengan kalimat-kalimat berikut.

            “Jangan takut harimau, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut ular kobra, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut kereta api, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut mobil dan motor, takutlah kepada Allah swt!”

            Sama saja kan kalimatnya?

Bedanya di mana?

            Jika dicari contohnya, akan ada banyak kalimat yang tidak jelas seperti itu. Hal itu diperparah dengan tidak adanya penjelasan yang komprehensif mengenai kalimat kusut semacam itu. Paling-paling penjelasannya adalah Corona itu ciptaan Allah swt, jadi kita harus yakin  bahwa Allah swt bisa menghilangkannya dan menghentikannya. Oleh sebab itu, minta tolonglah kepada Allah swt. Hal-hal seperti itulah yang biasanya dijelaskan meskipun tetap saja tidak jelas.

            Karena tidak ada penjelasan yang menyeluruh, masyarakat bisa salah memahaminya. Akibatnya, salah bertindak, misalnya, menyepelekan Covid-19, merendahkan Prokes, atau bersikap seenaknya, padahal situasinya sedang krisis pandemi.

            Meskipun demikian, anehnya, kalau dihadapkan sama harimau, mereka takut. Kalau nggak takut, bisa habis dimakan harimau. Kalau enggak takut sama ular kobra, bisa mati dipatuk. Kalau enggak takut sama kereta api, mereka akan santai menjalankan kendaraan melewati perlintasan kereta api sampai ditabrak kereta api dan tubuhnya berantakan. Kalau enggak takut sama motor dan mobil, mereka tidak akan tengok kiri-kanan ketika menyeberang di jalan raya sampai tubuhnya terpental, terkapar.

            Kalau sama harimau, ular kobra, kereta api, mobil, dan motor takut, kenapa jangan takut sama Corona?

Padahal, harimau, ular kobra, kereta api, mobil, dan motor itu ada tercipta karena kekuasaan Allah swt juga.

            Aneh kan?

            Sebetulnya, perasaan takut diciptakan dalam diri manusia itu adalah untuk melindungi manusia sendiri. Kalau tidak ada rasa takut, manusia bisa dimakan harimau, dipatuk kobra, ditabrak kereta api, mobil, motor, dan mengalami berbagai keburukan lainnya. Jadi, takutlah terhadap sesuatu yang memang seharusnya ditakuti. Tidak ada dosa untuk itu. Tidak akan rusak iman seseorang jika takut terhadap sesuatu yang layak untuk ditakuti.

            Takut terhadap makhluk jangan dicampuradukan dengan takut kepada Allah swt karena berbeda tindakan kita sebagai akibat dari rasa takut itu. Berbeda jauh sekali. Sikap manusia normal jika takut terhadap makhluk, adalah akan menghindari makhluk itu. Misalnya, jika takut harimau dan ular kobra, manusia selalu menjauhinya atau mencari cara untuk menguasai atau membunuhnya; takut terhadap kereta api, mobil, dan motor, manusia harus berhati-hati mengendarainya atau menyeberang di tempat perlintasan atau jalan raya.

            Demikian pula, terhadap Corona karena manusia takut terjangkit dan terpapar, harus mematuhi Prokes, melaksanakan 5M, 3T, dan mengikuti program vaksinasi. Kalau tidak takut, jangan salahkan siapa-siapa jika terkena Covid-19, lalu terkapar di rumah sakit.

            Berbeda dengan takut kepada Allah swt. Jika kita takut terhadap makhluk adalah berupaya menghindari atau mengalahkannya. Akan tetapi, jika kita takut kepada Allah swt adalah dengan cara mendekati-Nya, bukan dengan menjauhi-Nya. Justru jika menjauhi-Nya, berbagai kesusahan dan kerusakan akan menimpa diri kita.

            Takut terhadap makhluk, normal, caranya hindari atau kalahkan.

            Takut terhadap Allah swt, harus, caranya dekati Dia dan menyerahlah kepada-Nya.

            Sampurasun.

Thursday, 29 July 2021

Pembatasan Waktu Makan


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pembatasan waktu makan yang ditetapkan dalam masa PPKM adalah untuk mencegah kerumunan. Cukup segitu penjelasannya, tidak perlu dipikirkan terlalu panjang. Pembatasan waktu itu ada yang hanya selama 20 menit dan ada yang 30 menit, bergantung pada levelnya.

            Berdasarkan pengalaman pribadi, sebetulnya untuk para penjual makanan semacam di pinggir jalan atau di dalam pasar tradisional, tidak terlalu masalah karena biasanya waktu untuk memakan makanan memang hanya segitu waktunya, nggak pernah lama, terutama pada jam-jam makan. Para penjual makanan di pinggir jalan biasanya kupat tahu, bubur ayam, pecel lele, nasi goreng, sate, sea food, mie ayam, mie rebus, bubur kacang ijo, soto ayam, sop kaki sapi, pempek, dll. Memang tidak pernah lama di tempat-tempat seperti itu. Di samping memang waktu memakannya tidak lama, juga kalau dagangannya enak, orang-orang mengantri beli, sedangkan tempat duduknya terbatas, malah ada yang hanya punya dua atau lima kursi plastik. Jadi, kita harus agak cepat. Selesai makan harus segera pergi untuk memberikan kesempatan kepada orang lain untuk duduk makan.

            Itu kalau di jam-jam makan, misalnya, pukul 12.00 atau pukul 19.00 s.d. 21.00. Lain ceriteranya kalau buka dagangannya sampai larut malam, akan ada kerumunan di situ. Orang-orang  ngopi, ngobrol-ngobrol sama teman-temannya, termasuk dengan pedagangnya. Makin malam, malah sampai pagi kerumunan di tempat dagang makanan itu bisa makin banyak. Pernah suatu ketika saya sama keluarga saat belum masa pandemi, berlima, pulang dini hari. Di tengah jalan lapar, saat itu pukul 03.00 dini hari, ada penjual soto ayam dan sop kaki sapi masih buka. Di dalamnya dipenuhi anak-anak muda yang lagi nongkrong ngobrol-ngobrol. Ketika kami masuk, mereka semua bubar karena memang tempat duduknya terbatas. Bubar nggak ke mana-mana sih, tetap di situ, dipinggir jalan, pindah nongkrong di samping pedagang soto itu. Itu artinya kerumunan. Kalau bukan pada masa Covid-19 sih, oke-oke saja berkerumun, tetapi ketika masa pandemi, itu akan menjadi media penularan Covid-19. Itulah gunanya dibatasi waktu makan dan waktu buka usaha sementara menunggu pandemi mereda.

            Hal tersebut juga kayaknya tidak jauh berbeda situasinya dengan Warteg ataupun warung nasi kecil.

            Berbeda halnya dengan café-café besar, rumah makan, restoran, dan tempat-tempat makan lain yang luas, nyaman, lengkap, ada pelayan cantik dan ganteng, serta menyediakan rupa-rupa makanan dan minuman. Apalagi di dalamnya ada saung-saung yang nyaman, bisa lesehan, selonjoran. Sudah mah pake saung-saung yang menyenangkan, malahan ada yang menyediakan bantal dan guling, makin betah deh, ada wifi lagi. Di tempat seperti itu, kita bisa berjam-jam di sana dari siang sampai malam, bahkan sampai waktunya mau tutup, kita bisa di sana. Makanya, di tempat semacam itu suka ada mushala untuk shalat. Pernah saya sama teman-teman dari siang hingga malam tetap di sana untuk membicarakan sesuatu. Shalat Ashar di sana, demikian pula Maghrib dan Isya di sana. Bukan cuma saya and the gank yang seperti itu, orang lain pun sama, hilir mudik  berlama-lama. Itu artinya kerumunan. Itulah yang saat ini dibatasi waktu makan dan waktu buka usahanya agar tidak menciptakan kerumunan yang dapat menjadi media penyebaran Covid-19.

            Begitulah, keadaannya. Kita memang harus bersabar bekerja sama untuk menghentikan arus Covid-19 ini. Rakyat dengan rakyat jangan banyak berselisih soal ini. Rakyat dan pemerintah pun harus bahu-membahu, bergotong royong agar sama-sama keluar lebih cepat dari masalah ini. Jangan saling menyalahkan. Semuanya lagi susah. Jika lebih sadar, lebih berpartisipasi, lebih bergotong royong, insyaallah semuanya kembali ke keadaan semula, bahkan lebih baik.

            Allah swt tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu melakukan upaya perubahan menuju ke keadaan yang lebih baik.

            Sampurasun.




Tuesday, 27 July 2021

Ujian Melalui Covid-19

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak yang mengatakan bahwa pandemi Covid-19 adalah hukuman dari Allah swt. Ada juga yang mengatakan bahwa pandemi ini adalah ujian dari Allah swt. Hukuman atau ujian bergantung pada kondisi orang masing-masing. Kalau hukuman, artinya sanksi bagi perilaku buruk manusia sebelumnya. Kalau ujian, berarti tes agar manusia meningkat menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

            Banyak sudah orang yang berceramah tentang hukuman ini, mulai ceramah yang menenangkan, mencerahkan, hingga ceramah yang penuh maki-maki ditambah kebencian politik dengan kata-kata kasar dan membangkitkan permusuhan.

            Ada yang berceramah bahwa pandemi ini adalah hukuman bagi penguasa, bagi Jokowi, bagi pendukungnya, dan bagi para buzzer.

Akibatnya, pendukung Jokowi bereaksi melakukan balasan dengan penuh penghinaan, “Katanya Covid-19 adalah azab bagi Jokowi, tapi kenyataannya yang mati malah para Kadrun! Dasar Kadrun nggak punya otak! Pergi Lu dari Indonesia! Pindah ke gurun pasir!”

Muncul lagi deh Cebong Vs Kadrun, padahal Pilpres sudah lama selesai.

Coba kalau sudah begitu, bagaimana?

Orang-orang malah bertengkar, makin bermusuhan. Seharusnya kan isi ceramah itu memberikan pencerahan dan pemahaman agar pikiran dan perilaku manusia bisa menjadi lebih baik, lebih menumbuhkan perdamaian, dan lebih ikhlas bergotong royong untuk memecahkan masalah bersama.

Ya sudahlah, mereka yang berceramah, menulis, atau menganalisa soal Covid-19 adalah hukuman itu sudah sangat banyak dengan rupa-rupa tujuan, ada yang tulus ada juga yang aneh.

Kalau saya mah semalam teringat QS Al Baqarah, 2 : 155 yang isinya seperti ini:

“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Begitu kata Allah swt. Dia memastikan bahwa akan memberikan ujian bagi kita yang berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Itu Allah swt sendiri yang melakukannya.

Covid-19 jelas sedang merajalela di seluruh dunia. Kalau Allah swt mau, bisa menghentikannya dalam sekejap. Akan tetapi, Allah swt membiarkannya menyebar di antara manusia di seluruh dunia. Covid-19 jelas menimbulkan ketakutan, kesakitan, dan kematian. Kemudian, manusia berupaya melawannya dengan lockdown, PSBB, PPKM, atau istilah lain, bergantung negaranya. Upaya manusia itu menimbulkan risiko kekurangan harta  dan kelaparan yang tidak bisa dihindari. Untuk mengurangi risiko itu manusia menjalankan Bansos serta mengatur jarak dan waktu interaksi di antara manusia agar pandemi bisa segera berakhir, tetapi ekonomi tetap jalan meskipun harus jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Oleh sebab itu, manusia berupaya menciptakan vaksin agar terjadi kekebalan terhadap virus corona. Begitulah yang terjadi.

Kalau merujuk ke QS Al Baqarah, 2 : 155, kunci untuk menghadapi ujian ini adalah kesabaran.

“ … Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Orang-orang yang sabar akan sukses melewati pandemi ini dengan kegembiraan luar biasa. Sabar itu bukan berarti diam, tetapi tetap mengikuti proses ini dengan tenang, berupaya berperilaku baik, bekerja sama dengan orang lain, mengembangkan pengetahuan untuk melawan virus, bersikap ilmiah, serta yang terutama adalah tetap beriman kepada Allah swt dan yakin bahwa pertolongan Allah swt segera tiba.

Kalau tidak sabaran, berarti gagal menghadapi ujian Allah swt. Tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang tidak sabar.

Kalau pengen lebih jelas, bisa tanya tentang arti sabar kepada ustadz-ustadz yang mencerahkan, bukan ustadz yang suka menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Begitu ya. Kalau yang saya tulis ini benar, berarti itu dari Allah swt. Kalau salah, berarti saya yang bodoh.

Begitu, Bro.

Sampurasun.

Wednesday, 13 January 2021

Syekh Ali Jaber yang Saya Tahu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Syekh Ali Jaber tidak mengenal saya karena saya hanya melihat dan mendengarnya melalui televisi dan tayangan Youtube. Meskipun hanya memperhatikan dari jauh, banyak hal yang saya pahami dari diri Syekh Ali Jaber.

Pertama kali saya melihatnya di televisi, isi ceramahnya biasa saja. Banyak penceramah Indonesia yang berceramah seperti itu, bahkan lebih hebat. Saya hanya berpikir bahwa orang Indonesia itu pengennya selalu yang “kearab-araban”. Orang Arab biasanya dipandang lebih hebat agamanya, padahal tidak. Soal agama itu adalah soal ilmu dan akhlak, bukan soal tempat kelahiran. Jadi, Syekh Ali Jaber bagi saya, biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Seiring perjalanan waktu, tanpa sengaja saya melihat Syekh Ali Jaber mencium tangan remaja dan anak-anak Indonesia yang hapal Al Quran. Bahkan, bukan hanya tangan, kaki remaja dan anak Indonesia pun dia cium. Syekh bersedia menurunkan kepalanya dengan badannya bertumpu pada lututnya untuk mencium kaki penghapal Al Quran. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran dan hati Ali Jaber. Saya hanya melihatnya dia memuliakan para penghapal Al Quran dan bersedia merendahkan hatinya untuk mencium kaki penghapal Al Quran. Sikap itu tampak bukan sikap dibuat-buat seperti akting Sinetron, melainkan sikap yang tulus yang tampak dari mata dan gerak tubuhnya. Luar biasa ini orang. Istimewa sekali.

Sejak saat itu saya mengagumi Syekh. Sikap seperti itu pasti lahir dari hati yang penuh hormat, penuh kemuliaan, dan kelembutan.

Sejak itu pula saya lebih lama memperhatikan ceramah-ceramah Syekh, baik di televisi maupun di Youtube. Kalimat-kalimatnya luar biasa menenangkan yang pastinya berasal dari llmu pengetahuan yang dalam. Beliau mengajarkan untuk memuliakan dan menghormati orang lain. Diingatkannya pula untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Bahkan, nasihatnya yang saya perhatikan ketika beliau menjadi tamu bersama Gus Miftah di Podcast Deddy Corbuzier sungguh luar biasa mengagumkan. Syekh menjelaskan bahwa kita tidak boleh menghakimi dan merendahkan perempuan yang tidak berhijab karena kita tidak tahu mungkin saja perempuan itu punya shalat dua rakaat yang membuat Allah swt memasukkannya ke dalam surga. Kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya hubungan perempuan itu dengan Allah swt. Pandangan dan pendapat seperti itu pasti keluar dari mulut orang yang sangat berhati-hati bersikap dalam hidup serta memiliki ilmu pengetahuan yang dalam. Dalam beberapa kali ceramahnya, Syekh mengingatkan saya pada tulisan-tulisan “Syekh Abdulqadir Jaelani” tentang “Penyingkap Kegaiban” yang dipenuhi nasihat untuk selalu bergantung penuh dan percaya penuh kepada Allah swt sehingga segala yang terjadi kepada kita di dunia ini hanya peristiwa biasa yang tidak berpengaruh apa pun kepada kita. Mau kita kaya ataupun miskin, mudah ataupun sulit, tidak mempengaruhi kita karena kita hidup dalam kendali Allah swt, bersama Allah swt.

Kini Syekh Ali Jaber telah berpulang kepada Pemilik-nya, Allah swt, “mulih ka jati, mulang ka asal”.

“Innaalillaahi waa innaa ilaihi roojiuun”

Allah swt Mahatahu, Mahakasih kepada hamba-Nya. Syekh menjadikan Indonesia tanah yang dicintainya sebagai ladangnya untuk beramal shaleh.

Sampurasun

Monday, 21 December 2020

Musibah Adalah Akibat Ulah Kita Sendiri

 


oleh  Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Musibah yang diderita manusia, apa pun itu bentuknya, sesungguhnya diakibatkan oleh manusia itu sendiri. Musibah itu semacam hasil dari berbagai kesalahan manusia. Musibah itu bisa berupa dipukuli orang, kecelakaan, rugi, bangkrut, ditangkap polisi, dipenjara, dikucilkan, dll..

            Jika kita terkena musibah, sebaiknya hal pertama yang dilakukan adalah introspeksi diri. Kita harus mempelajari diri sendiri dulu, jangan langsung menyalahkan orang lain. Dengan begitu, kita akan lebih bijak dan lebih berhati-hati bersikap. Bisa jadi memang dalam musibah yang menimpa kita ada orang lain yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa musibah itu terjadi kepada kita, bukan kepada orang lain dan Allah swt mengizinkannya terjadi kepada kita. Balik lagi, kita memang harus introspeksi diri, mendalami diri sendiri, mengingat kesalahan-kesalahan kita sendiri.

            Allah swt sendiri yang menerangkan seperti itu. Perhatikan firman Allah swt dalam QS An Nisa, 4 : 79.

            “Kebaikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri….”

            Dengan tegas Allah swt memberitahukan bahwa jika kita mendapatkan kebaikan, itu adalah berasal dari kasih sayang Allah swt kepada kita. Dia yang menganugerahkannya kepada kita. Akan tetapi, jika tertimpa musibah, sesungguhnya itu akibat dari berbagai kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

            Perhatikan pula ayat Allah swt berikut ini.

            “Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura, 42 : 30)

            Banyak sekali ayat yang senada dan menerangkan tentang musibah yang diakibatkan oleh perilaku kita. Jika saya tulis di sini, akan sangat panjang. Akan tetapi, dua ayat ini saja sudah mencukupi pengetahuan kita tentang dari mana datangnya kebaikan dan musibah itu. Kebaikan berasal dari Allah swt, musibah berasal dari keburukan kita.

            Paling tidak, saya menemukan catatan tiga ahli yang menafsirkan ayat ini, yaitu Ibnu Katsir, Syekh Abdurrahman As Saadi, dan Al Baghawi. Jika disimpulkan tafsir ketiganya, mereka menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia adalah memang akibat ulah manusia sendiri. Akan tetapi, Allah swt telah banyak memaafkan perilaku buruk kita. Tanpa diminta pun Allah swt telah banyak memaafkan kita. Hal itu dilakukan-Nya karena saking sayangnya kepada umat manusia. Adapun musibah yang terjadi kepada umat Islam adalah untuk membuat kita menjadi lebih baik lagi, lebih banyak belajar, lebih banyak memperbaiki diri agar hidup lebih berkualitas.

            Saya sendiri berpendapat bahwa musibah itu akan membuat manusia lebih mulia dan lebih baik jika mampu mengambil banyak manfaat dari kejadian-kejadian sedih yang menimpanya. Akan tetapi, manusia tidak akan menjadi lebih baik setelah mendapatkan musibah jika tidak mau belajar dari pengalaman hidupnya yang pahit itu.

            Demikian. Jika apa yang saya tulis ini benar, itu berarti datang dari Allah swt. Akan tetapi, jika yang saya tulis ini salah, itu berarti datang dari kebodohan saya sendiri. Semoga Allah swt memaafkan saya dan tak berhenti memberikan petunjuk bagi seluruh manusia. Aamiin.

            Sampurasun.

Monday, 30 November 2020

Berdebat Menurut Allah swt

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak sekali nasihat tentang “larangan berdebat”, baik di Medsos, artikel di web, blog, maupun di dunia nyata melalui obrolan, diskusi, dan ceramah. Akan tetapi, nasihat-nasihat itu sandarannya tidak bersandar pada Al Quran, tetapi bersandar pada hal yang disebut hadits ataupun pendapat yang kata mereka adalah pendapat ulama. Paling tidak, itu yang sempat saya perhatikan. Semua nasihat itu berbahasa yang baik, tidak ada yang buruk. Akan tetapi, saya itu selalu skeptis, ragu, terhadap apa yang disebut hadits.

            Apakah benar Nabi Muhammad saw mengatakan hal seperti itu?

            Jangan-jangan hanya karangan orang-orang biasa saja, lalu disebut berasal dari Nabi Muhammad saw. Berbahasa baik saja tidak cukup, tetapi harus nyata dikatakan benar-benar oleh Nabi Muhammad saw. Ada metode ilmiah untuk menelusuri kebenaran suatu yang disebut hadits.

            Apakah benar orang yang mengatakan hal itu adalah ulama?

            Jangan-jangan dia cuma penyair puisi, pendongeng, sastrawan, pustakawan, atau hanya seorang demagog.

            Apakah benar para imam semisal Imam Syafei mengatakan hal seperti itu?

            Jangan-jangan hanya karangan orang iseng, lalu mengatakan bahwa itu adalah kata-kata Imam Syafei.

            Bagi orang seperti saya, hal yang paling mudah dilakukan adalah mengonfrontirnya dengan Al Quran. Al Quran adalah kitab yang dijaga Allah swt, tidak pernah salah. Seluruh ajaran Islam harus merujuk ke sumber itu, Al Quran. Jika ada hadits atau cuma pendapat ulama, tetapi bertentangan dengan Al Quran, pasti salah. Hadits atau pendapat itu harus gugur karena bertentangan dengan Al Quran. Sebaliknya, jika hadits atau pendapat ulama itu menjelaskan dan menguatkan ayat-ayat Al Quran, itu harus dipertimbangkan untuk diikuti dan diyakini kebenarannya.

            Setelah membaca dan mendengar tentang larangan berdebat, saya penasaran dengan kata-kata Allah swt tentang berdebat. Saya teringat kalimat yang disampaikan Allah swt dalam QS An Nahl, 16 : 125.

            “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

            Begitulah yang dikatakan Allah swt agar kita mematuhi-Nya. Dari ayat itu kita bisa memahami bahwa kewajiban kita itu adalah menyeru manusia pada kebenaran Ilahi dengan baik. Kemudian, jika mendapatkan penentangan, berdebatlah dengan cara yang baik. Artinya, boleh, bahkan harus berdebat, tetapi harus dengan cara yang baik.

            “…Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik….”

            Cara yang baik itu adalah berbahasa yang baik, memahami hal yang sedang diperdebatkan, memiliki ilmu yang cukup dan berwawasan yang luas, memiliki data dan fakta yang nyata, serta berniat untuk mendapatkan atau menemukan “kebenaran” dan bukan untuk mendapatkan “kemenangan dalam berdebat”.

            Kebenaran itu sumbernya adalah Allah swt (Al Quran) dan hadits (Muhammad saw). Semua harus disandarkan pada keduanya, bukan dari hawa nafsu pribadi ataupun hawa nafsu orang lain yang kita hormati.

            Kalau hanya ingin menang, kita bisa tersesat dan berada dalam kegelapan. Allah swt sangat tahu hal itu. Dalam setiap perdebatan, Allah swt hadir dan menyaksikannya. Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dia tahu siapa yang lurus dan mendapat petunjuk serta siapa yang bengkok dan berada dalam kesesatan. Hal itu seperti yang dikatakan-Nya sendiri.

            “… Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

            Lalu, bagaimana jika dalam perdebatan itu tidak menemui hasilnya atau ujungnya?

            Bagaimana jika hanya menjadi debat kusir yang tidak berarti serta berhadapan dengan orang keras kepala dan bangga dengan kebodohannya?

            Kalau dirasa sudah maksimal menyerukan kebenaran, tetapi tetap tidak diterima dan malah mendapatkan makian-makian bodoh hingga bisa menyesatkan orang banyak, Allah swt memberikan lagi penjelasan dalam QS Al Araf, 7 : 199.

            “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

            Kata Allah swt, jadilah pemaaf dan tetap mengajak orang lain untuk melakukan pekerjaan baik sekaligus jangan pedulikan dan tinggalkanlah orang-orang bodoh yang keras kepala, merasa benar sendiri, bahkan bangga dengan kebodohannya. Allah swt akan membuat perhitungan kepada orang-orang seperti itu, bisa disadarkan Allah swt atau malah dibiarkan dalam kebodohannya. Kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan Allah swt, kecuali Allah swt sendiri yang memberitahukannya kepada kita. Kita hanya bisa tetap menjadi cahaya bagi diri kita sendiri, keluarga kita, orang-orang terdekat dan tercinta kita, dan semua manusia. Kalau mereka tidak mau mendekati cahaya Ilahi, itu keputusan diri mereka sendiri. Kita berlepas tangan dari mereka karena kita sudah menyerukan kebenaran.

            Boleh berdebat, tetapi dengan cara yang baik. Tinggalkanlah perdebatan jika sudah tidak lagi kondusif dan biarkan orang lain dalam keinginannya sendiri. Allah swt akan memutuskan sendiri terhadap hal itu. Begitu kira-kira yang saya pahami dari QS An Nahl, 16 : 125 dan QS Al Araf, 7 : 199.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 November 2020

Jangan Berlebihan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berlebihan itu dalam bahasa Sunda adalah “leuwih teuing”. Segala sesuatu yang berlebihan itu jelek. Dalam hal apa pun tetap jelek. Segala yang berlebihan itu berarti melewati batas yang telah ditentukan.

            Dalam hal agama pun demikian, tidak boleh melebihi batas yang telah ditentukan.

            Siapa yang menentukan batas-batas itu?

            Tidak ada yang lain yang menentukannya, kecuali Allah swt dan Rasulullah saw sendiri. Semua orang harus berpegang pada keduanya jika tidak ingin tersesat.

            Mari kita perhatikan QS Al Maidah, 5 : 77:

            “Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia). Mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus.”

            Itu firman Allah swt, bukan kata-kata Nabi Muhammad saw, bukan pendapat ulama, apalagi pendapat saya. Begitulah larangan dari Allah swt. Kita tidak boleh berlebihan dalam hal agama seperti umat-umat dahulu yang telah tersesat karena sikapnya yang berlebihan.

            Itu memang ayat tersebut pada saat lalu diarahkan kepada para ahli kitab, tetapi kita dapat mengambil pelajaran dari hal itu.

            Kalau bingung dengan ayat ini, tanyakan dan diskusikan dengan ulama, para ahli, dan cendekiawan muslim. Tugas merekalah untuk menerangkan ayat tersebut. Saya sangat senang mendapatkan pengetahuan dari para ahli. Kalau dari para pembaca ada yang memiliki pemahaman tentang ayat ini, saya sangat senang mengetahuinya. Saya akan sangat berterima kasih.

            Kalau kita mencintai Allah swt, perilaku kita harus sesuai dengan yang diajarkan, jangan berlebihan. Misalnya, shalat wajib itu sudah ditentukan lima waktu, selebihnya sunat. Ya sudah, harus begitu. Kalau bersikap lain, itu menjadi berlebihan, misalnya, menentukan sendiri shalat wajib itu tujuh atau sebelas waktu. Itu berlebihan. Bisa juga dengan melebih-lebihkan firman Allah swt atau bahkan menguranginya. Itu juga berlebihan.

            Contoh lain, ada sekelompok orang yang mewajibkan shalat malam sambil mematikan lampu, lalu sesudahnya membakar alat kelaminnya sendiri, baik pria maupun wanita. Hal itu dilakukan mereka untuk merasakan panasnya api neraka. Itu berlebihan.

            Kalau ditanya, apakah mereka mencintai Allah swt?

            Jawaban mereka pasti sangat mencintai Allah swt karena mereka melakukan itu atas dasar cintanya kepada Allah swt. Akan tetapi, itu berlebihan, tidak sesuai aturan dan standar. Akibatnya, mereka menjadi kelompok sesat, lalu ditangkap polisi. Ini terjadi di Indonesia beberapa tahun lalu, beritanya ada di TV.

            Cinta kepada Nabi Muhammad saw juga jangan menimbulkan perilaku berlebihan, harus sesuai dengan ajaran Muhammad saw sendiri. Tidak boleh melewati batas yang ditentukan.

            Rasul Muhammad saw tidak boleh digambarkan itu adalah batas yang ditentukan agar umat Islam tidak berlebihan berperilaku dalam mencintai Nabi saw. Mayoritas ulama sepakat untuk mengharamkan perilaku menggambar atau melukis Nabi Muhammad saw. Hal itu disebabkan umat-umat terdahulu telah menggambar para nabi, murid-muridnya, orang-orang sholeh, dan orang-orang bijaknya. Awalnya, baik-baik saja. Generasi pertama sepeninggal para nabi itu menggunakan lukisan-lukisan itu untuk mengingatkan keluhuran, kemuliaan, dan keshalehan orang-orang suci itu. Akan tetapi, setelah berganti generasi, terjadi penyimpangan akidah. Mereka mulai sangat menghormati dan mensucikan gambar-gambar itu hingga akhirnya menyembah lukisan-lukisan itu. Itulah yang namanya berlebihan. Peristiwa-peristiwa itulah yang menyebabkan para ulama mengharamkan Nabi Muhammad saw untuk digambarkan. Para ulama sangat khawatir akidah umat menyimpang karena sangat cinta kepada Rasulullah saw melebihi cintanya kepada manusia, nabi lain, bahkan malaikat sekalipun. Karena cinta umat yang sangat tinggi itu dikhawatirkan umat akan berperilaku seperti umat yang terdahulu, yaitu menyembah lukisan Nabi Muhammad saw.

            Hal itu pun dikuatkan oleh peristiwa ketika Nabi Muhammad saw sakit, para istri beliau membicarakan gereja yang di dalamnya ada patung-patung orang-orang sucinya, seperti, Nabi Isa as, Siti Maryam, dll.. Mendengar hal itu, Nabi saw menjelaskan bahwa baik para isterinya maupun kaum muslimin untuk tidak berlebihan dalam mencintai dirinya. Maksudnya, meskipun sangat mencintai Nabi saw, kita tidak boleh membuat patung dirinya, apalagi di dalam masjid. Itulah batas perilaku kita dalam mencintai Nabi Muhammad saw.

            Meskipun sangat cinta, kita tidak boleh membuat patung dan gambar Nabi saw. Beliau sendiri yang membatasinya. Meskipun bagus dan indah manusia bisa membuat patung dan lukisan Nabi Muhammad saw, bagi mayoritas ulama, itu adalah berlebihan. Bagus dan indah saja tidak boleh, apalagi jelek.

            Itu bagi mayoritas ulama, bagi ulama yang lainnya, tidak begitu. Mereka membolehkan gambar dan lukisan Nabi Muhammad saw dibuat dan dipajang. Saya sendiri beberapa kali melihat lukisan itu. Banyak sekali dan rupa-rupa gambarnya. Ada yang masih kecil, masih remaja, serta dewasa dan matang. Akan tetapi, saya tidak melihat para pemilik lukisan itu menyembahnya, biasa saja. Akan tetapi, itu minoritas. Kalau dibagikan ke khalayak ramai, khawatir orang-orang akan menyembahnya seperti waktu lalu.

            Semua lukisan itu bagus, indah meskipun beda-beda, dinyatakan bahwa itu lukisan Nabi Muhammad saw. Kalau karikatur Nabi saw, banyak dibuat para ateis dan selalu buruk.

            Begitulah sikap-sikap berlebihan yang harus dihindari dari rasa cinta. Itu terjadi pada masa yang lalu.

            Pada masa sekarang, saya melihatnya lebih pada fanatisme organisasi. Mungkin ada ratusan, bahkan ribuan kelompok di kalangan kaum muslimin yang bersikap berlebihan ini. Mereka menganggap bahwa golongannyalah, kelompoknyalah yang paling benar, pemimpinnyalah yang paling suci. Kelompok yang berada di luar mereka, salah. Hampir tidak ada ayat-ayat Al Quran maupun hadits yang keluar dari mulut mereka, kecuali sedikit. Kalaupun ada, kebanyakan tentang perang. Hal yang banyak diucapkan mereka adalah kata-kata para pemimpinnya saja. Mereka berbanga-bangga dengan kelompoknya dan cenderung kasar, bahkan ekstrim. Jika punya senjata, mereka bisa menjadi pengacau. Ini sudah terjadi, pertarungan senjata di antara kelompok-kelompok itu sering sekali terjadi. Kita masih ingat ada pembunuhan ulama di Suriah yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu. Di Timur Tengah dan juga beberapa bagian dunia lain, kelompok-kelompok berlebihan ini bertebaran dan mengacaukan situasi.

            Jika ditanyakan kepada mereka apakah mereka mencintai Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw?

            Jawabannya, pasti sangat mencintai. Akan tetapi, rasa cinta mereka itu diwujudkan dengan perilaku yang sangat berlebihan.

            Jangan berlebihan dalam hal apa pun jika kita tidak ingin hidup tersesat. Soal rasa cinta boleh seluas samudera dan setinggi langit, bahkan harus menembus lautan dan angkasa, tetapi dalam mewujudkannya harus ada dalam koridor perilaku-perilaku yang sesuai dengan Al Quran dan hadits.

            Sampurasun