Showing posts with label Gotong Royong. Show all posts
Showing posts with label Gotong Royong. Show all posts

Thursday, 29 July 2021

Pembatasan Waktu Makan


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pembatasan waktu makan yang ditetapkan dalam masa PPKM adalah untuk mencegah kerumunan. Cukup segitu penjelasannya, tidak perlu dipikirkan terlalu panjang. Pembatasan waktu itu ada yang hanya selama 20 menit dan ada yang 30 menit, bergantung pada levelnya.

            Berdasarkan pengalaman pribadi, sebetulnya untuk para penjual makanan semacam di pinggir jalan atau di dalam pasar tradisional, tidak terlalu masalah karena biasanya waktu untuk memakan makanan memang hanya segitu waktunya, nggak pernah lama, terutama pada jam-jam makan. Para penjual makanan di pinggir jalan biasanya kupat tahu, bubur ayam, pecel lele, nasi goreng, sate, sea food, mie ayam, mie rebus, bubur kacang ijo, soto ayam, sop kaki sapi, pempek, dll. Memang tidak pernah lama di tempat-tempat seperti itu. Di samping memang waktu memakannya tidak lama, juga kalau dagangannya enak, orang-orang mengantri beli, sedangkan tempat duduknya terbatas, malah ada yang hanya punya dua atau lima kursi plastik. Jadi, kita harus agak cepat. Selesai makan harus segera pergi untuk memberikan kesempatan kepada orang lain untuk duduk makan.

            Itu kalau di jam-jam makan, misalnya, pukul 12.00 atau pukul 19.00 s.d. 21.00. Lain ceriteranya kalau buka dagangannya sampai larut malam, akan ada kerumunan di situ. Orang-orang  ngopi, ngobrol-ngobrol sama teman-temannya, termasuk dengan pedagangnya. Makin malam, malah sampai pagi kerumunan di tempat dagang makanan itu bisa makin banyak. Pernah suatu ketika saya sama keluarga saat belum masa pandemi, berlima, pulang dini hari. Di tengah jalan lapar, saat itu pukul 03.00 dini hari, ada penjual soto ayam dan sop kaki sapi masih buka. Di dalamnya dipenuhi anak-anak muda yang lagi nongkrong ngobrol-ngobrol. Ketika kami masuk, mereka semua bubar karena memang tempat duduknya terbatas. Bubar nggak ke mana-mana sih, tetap di situ, dipinggir jalan, pindah nongkrong di samping pedagang soto itu. Itu artinya kerumunan. Kalau bukan pada masa Covid-19 sih, oke-oke saja berkerumun, tetapi ketika masa pandemi, itu akan menjadi media penularan Covid-19. Itulah gunanya dibatasi waktu makan dan waktu buka usaha sementara menunggu pandemi mereda.

            Hal tersebut juga kayaknya tidak jauh berbeda situasinya dengan Warteg ataupun warung nasi kecil.

            Berbeda halnya dengan café-café besar, rumah makan, restoran, dan tempat-tempat makan lain yang luas, nyaman, lengkap, ada pelayan cantik dan ganteng, serta menyediakan rupa-rupa makanan dan minuman. Apalagi di dalamnya ada saung-saung yang nyaman, bisa lesehan, selonjoran. Sudah mah pake saung-saung yang menyenangkan, malahan ada yang menyediakan bantal dan guling, makin betah deh, ada wifi lagi. Di tempat seperti itu, kita bisa berjam-jam di sana dari siang sampai malam, bahkan sampai waktunya mau tutup, kita bisa di sana. Makanya, di tempat semacam itu suka ada mushala untuk shalat. Pernah saya sama teman-teman dari siang hingga malam tetap di sana untuk membicarakan sesuatu. Shalat Ashar di sana, demikian pula Maghrib dan Isya di sana. Bukan cuma saya and the gank yang seperti itu, orang lain pun sama, hilir mudik  berlama-lama. Itu artinya kerumunan. Itulah yang saat ini dibatasi waktu makan dan waktu buka usahanya agar tidak menciptakan kerumunan yang dapat menjadi media penyebaran Covid-19.

            Begitulah, keadaannya. Kita memang harus bersabar bekerja sama untuk menghentikan arus Covid-19 ini. Rakyat dengan rakyat jangan banyak berselisih soal ini. Rakyat dan pemerintah pun harus bahu-membahu, bergotong royong agar sama-sama keluar lebih cepat dari masalah ini. Jangan saling menyalahkan. Semuanya lagi susah. Jika lebih sadar, lebih berpartisipasi, lebih bergotong royong, insyaallah semuanya kembali ke keadaan semula, bahkan lebih baik.

            Allah swt tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu melakukan upaya perubahan menuju ke keadaan yang lebih baik.

            Sampurasun.




Tuesday, 20 July 2021

Pengaruh Vaksinasi

oleh Tom Finaldin


Beberapa hari kemarin, saya baca berita. Inggris sudah mulai percaya diri menyelenggarakan pertandingan sepak bola di stadion yang dipenuhi penonton.

Apa penyebabnya?
Mereka sudah memvaksin 70% warganya. Dengan uang yang banyak dan penduduk sedikit, 67 juta jiwa, mereka memang bisa lebih cepat keluar dari masalah Covid-19.
Brazil sudah mengalami penurunan jumlah pasien di rumah sakit sekitar 95%.
Apa penyebabnya?
Brazil sudah memvaksin 70% warganya dari jumlah 216 juta jiwa. Memang mereka tidak sekaya Inggris, tetapi dengan kesadaran rakyatnya, mereka mulai berhasil.
Cina dan Amerika Serikat yang kalau dijumlahkan penduduknya mencapai miliaran sudah lebih mulai mengalami keberhasilan.
Apa penyebabnya?
Mereka sudah berhasil memvaksin rakyatnya lebih dari 50%. Di samping itu, mereka pun punya banyak uang.
Indonesia sampai hari ini masih bermasalah.
Apa penyebabnya?
Sampai 10 Juli 2021, baru 15 juta orang yang sudah dua kali divaksin, padahal penduduk Indonesia jumlahnya ada 267 juta jiwa.
Baru berapa persen?
Masih sangat sedikit.
Di samping itu, Indonesia tidak punya banyak uang atau tidak sekaya Cina, Amerika Serikat, dan Inggris. Kondisi masyarakatnya pun masih ribut melulu dengan lapisan masyarakat lainnya, malahan ribut sama pemerintahnya. Disiplin Prokes-nya pun jelek. Ditambah lagi dengan hoax-hoax yang dipercaya para penggemar hoax. Padahal, hoax itu tidak punya data, fakta, bukti, hasil penelitian, referensi, jurnal ilmiah, atau dasar hukum.
Pada masa Hari Raya Idul Adha ini, mari kita kurbankan egoisme masing-masing, baik di antara masyarakat sendiri, maupun antara rakyat dengan pemerintah. Dengan kebersamaan, insyaallah, Indonesia cepat pulih, bahkan cepat meningkat menjadi kekuatan ekonomi ketujuh besar dunia sebagaimana diprediksikan para ilmuwan Barat.
Bukankah gotong royong lebih baik dibandingkan perpecahan?

Sampurasun.



Wednesday, 1 January 2020

Banjir, Sisa Pilkada DKI


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banjir besar yang melanda DKI Jakarta kali ini yang mulai terasa subuh, 1 Januari 2020, disebut-sebut sebagai banjir terbesar sejak tiga belas tahun terakhir, sejak 2007. Banyak rumah terendam, kendaraan hanyut, bahkan memakan korban jiwa.

            Ketika banjir terjadi, segera saja orang mengingat mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang getol sekali menangani banjir sekaligus diomelin dan dinyinyiri soal banjir. Orang-orang mulai membandingkan masa kepemimpinan Ahok dengan Anies Baswedan. Kemudian, perbedaan keduanya mulai jelas dilihat dari programnya, yaitu antara “normalisasi sungai” dan “naturalisasi sungai”.

            Normalisasi sungai secara sederhana diartikan sebagai membuat normal sungai dengan cara memperlebar sungai sebagaimana awalnya, melakukan betonisasi, dan meluruskan aliran sungai agar lancar ke laut.

            Adapun naturalisasi secara sederhana dipahami sebagai membuat sungai dikembalikan ke kondisi alamnya, tetap berkelok-kelok, di pinggir-pinggir sungai menjadi tempat hidup kehidupan, sungainya sendiri menjadi tempat yang sehat bagi kehidupan air seperti ikan-ikan.

            Normalisasi gencar dilakukan Ahok sehingga titik-titik banjir semakin kecil, berkurang, dan terus berkurang. Adapun naturalisasi adalah program Anies Baswedan yang menurut Ahli Tatakota Yayat Supriatna tidak dilakukan dengan optimal.

            Ketika terjadi banjir besar, orang menyalahkan Anies karena selama dua tahun Anies dianggap kurang melakukan sesuatu yang nyata untuk mengatasi banjir. Akan tetapi, Anies menjelaskan dengan kesan “mengkritik” pemerintah pusat yang belum selesai mengelola hulu sungai.

            Dari sini mulai terasa isu-isu sisa Pilkada DKI masih jadi peluru untuk saling menyerang. Padahal, Pilkada sudah lama usai. Sebaiknya, mulai bekerja dan introspeksi diri. Akui saja memang naturalisasi tidak seindah yang dibayangkan, selama dua tahun ini tidak jelas, karena tetap saja harus melakukan “relokasi” yang dalam bahasa kasarnya ‘penggusuran’. Sementara itu,  tim Anies Baswedan saat kampanye seolah-olah memusuhi kebijakan Ahok terkait penggusuran rumah warga. Akibatnya, warga percaya bahwa Anies tidak akan melakukan penggusuran. Padahal, kenyataannya, baik normalisasi maupun naturalisasi membutuhkan tindakan relokasi atau bahasa halusnya “pemindahan rumah warga”. Karena normalisasi dan naturalisasi tidak optimal selama dua tahun terakhir, banjir besar pun harus dialami warga.

            Sungguh, sekarang rakyat tidak perlu lagi retorika soal normalisasi, naturalisasi, ataupun pengelolaan hulu sungai. Hal yang sangat diperlukan sekarang adalah pemerintah bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal. Pemerintah DKI segera pilih mau normalisasi, naturalisasi, atau digabungkan, tetapi yang jelas dan sangat penting adalah segera dikerjakan dengan nyata. Pemerintah pusat, Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Bogor lebih serius lagi soal pengelolaan di hulu dan tugas-tugasnya sendiri. Rakyat pun harus sama-sama bekerja dan rela jika memang harus pindah rumah untuk kebaikan bersama dan kejelasan soal masa depannya sendiri. Semua harus bergotong royong. Itulah yang diinginkan Pancasila.

            Demikian pula para ahli agama, tokoh masyarakat, akademisi, termasuk para netizen harus ikut mendorong kebersamaan, bukan malah manas-manasin situasi dan tetap memecah belah masyarakat.

            Pilkada DKI sudah usai, Bro, Lur, Beb, Bray. Jangan saling salahkan, introspeksi diri, perbaiki kinerja, berkorban bersama-sama, bahu-membahu. Itulah Pancasila.

            Pancasila itu kalau diperas menjadi Trisila. Trisila kalau diperas lagi menjadi Ekasila. Ekasila itulah yang disebut “Gotong Royong”.

            Begitu, Bro, Lur, Beb, Bray.

            Sampurasun.

Wednesday, 26 April 2017

Kapitalisme Menyebabkan Kemiskinan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kapitalisme bisa ada di mana-mana, ada di politik, budaya, habit, ekonomi, perbankan, perindustrian, ataupun di dalam pikiran dan cita-cita. Kapitalisme sendiri tercipta dari dorongan mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya dengan kerja sesedikit mungkin. Oleh sebab itu, muncul perlawanan terhadap kapitalisme yang dikenal dengan sebutan komunisme. Baik kapitalisme maupun komunisme pada dasarnya sama saja. Keduanya merupakan ajaran atau isme tentang “rebutan benda”.

            Kapitalisme yang telah dewasa berubah menjadi imperialisme, kata Soekarno. Di samping itu pun, Soekarno menjelaskan bahwa selama Indonesia masih menggunakan sistem kapitalisme pada bidang apa pun selama itu pula kita akan sengsara.

SOEKARNO. Foto: baeksoo11.blogspot.co.id
            “Kita bergerak karena kesengsaraan kita. Kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena ‘ideal’ saja. Kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup minimal seni dan kultur. Pendek kata, kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian dan cabang-cabangnya.

            Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus prosen bilamana di masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Hal itu disebabkan stelsel inilah yang menjadi kemadean tumbuh di atas tubuh kita, hidup dan subur dari kita, hidup dan subur dari tenaga kita, rezeki kita, zat-zat masyarakat kita.”

            Begitulah Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno berpendapat. Selama masih ada sistem kapitalisme di mana saja dalam hal apa saja, dalam bank, industri, atau apa pun, Indonesia akan sulit memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia. Hal itu disebabkan sistem kapitalisme selalu membutuhkan “korban” yang dapat diperas untuk diambil energinya, bagai adagium di kerajaan-kerajaan Eropa masa lalu, yaitu harus ada yang sakit agar yang lain bisa sembuh, harus ada yang menangis agar yang lain bisa tertawa, harus ada miskin agar yang lain bisa kaya, harus ada yang mati agar yang lain bisa hidup, harus ada yang kurus agar yang lain bisa gemuk, harus ada yang menderita agar yang lain bisa bahagia, harus ada yang berperang agar yang lain bisa aman, dan lain sebagainya.

            Satu-satunya cara atau jalan untuk membuat kemakmuran terjadi secara merata adalah sistem ekonomi Pancasila. Para ahli harus mencari cara dan merumuskan dengan lebih mendetail mengenai sistem ekonomi Pancasila ini agar dapat dipraktikan dalam menjalankan berbagai kebijakan pemerintah. Jika sistem Pancasila benar-benar dijalankan, Indonesia mempunyai short cut, ‘jalan pintas’ untuk menjadi raksasa ekonomi dunia. Insyaallah.

            Pancasila mengajarkan tentang pentingnya berlaku adil, indahnya kebersamaan dalam gotong royong, serta manisnya berbagi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa “berbagi” itu adalah pula merupakan kunci persatuan Indonesia. Selama kita tidak mau berbagi dan selalu khawatir mengalami kerugian karena harus berbagi, selama itu pula kita harus terseok-seok dalam banyak hal.

            Soal mendapatkan keuntungan dari berbagi memang rada-rada sulit dijelaskan, tetapi pasti akan mendapatkan untung besar. Hal ini sebagaimana yang diajarkan Allah swt sendiri bahwa shadaqah itu tidak akan mengurangi harta kita, bahkan akan membuat harta kita berlipat-lipat ganda. Memang sulit bagi orang berpikiran kapitalis untuk memahami bahwa jika kita memberikan uang kepada orang lain, uang kita akan bertambah. Orang-orang dengan pikiran kapitalistis hanya paham bahwa jika kita memberikan uang kepada orang lain, uang kita akan berkurang dan tidak akan bertambah. Untuk membuktikan bahwa jika kita memberikan uang kepada orang lain, uang kita akan bertambah, jalan satu-satunya adalah “lakukan  shadaqah”, lalu lihat hasilnya. Sama pula orang kapitalis tidak akan mengerti jika kita menyayangi dan mengurus ibu kita, akan menghasilkan banyak rezeki. Satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah “sayangi ibu kita”, lalu lihat hasilnya.

            Selama kita berpikiran kapitalis dan selalu takut mengeluarkan uang untuk kebaikan banyak orang, selama itu pula kita selalu merasa hidup dalam kekurangan dan kerap takut jatuh miskin. Pancasila mengajarkan bahwa berbagi itu penting dalam memeratakan keadilan, dalam mengabdikan diri kepada Allah swt, dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia, serta dalam menebarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia.


            Sampurasun.

Tuesday, 4 April 2017

Cara Aman Menggulingkan Presiden Jokowi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Cukup heran juga jika ada orang yang ditangkap atas tuduhan makar ingin menggulingkan pemerintahan Jokowi. Menjatuhkan Jokowi itu sah dan boleh, tetapi jangan menggunakan cara-cara melanggar hukum. Tidak menyukai pemerintahan Jokowi itu hak, tetapi tidak perlu mewujudkan kebencian itu dengan cara-cara yang salah.

            Mengapa harus menggulingkan Jokowi dengan cara yang salah sehingga ditangkap polisi, padahal ada cara yang aman?

            Minimalnya ada dua cara aman untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Pertama, melalui proses pemilihan presiden periode berikutnya. Kedua, melalui proses pengadilan.


Penggulingan Lewat Jalur Pilpres
Meskipun saya sangat tidak menyukai demokrasi, tetapi Indonesia masih sepakat menggunakan sistem politik demokrasi dalam penyelenggaraan negara. Itu artinya, ada proses pemilihan presiden yang harus dijalani untuk menetapkan presiden yang lama kembali memimpin selama dua periode atau menjatuhkan presiden yang lama, kemudian menggantinya dengan pemimpin yang baru. Hal ini bisa ditempuh oleh mereka yang tidak menyukai Jokowi dan pemerintahannya dengan cara memperkenalkan calon presiden lain yang lebih baik dibandingkan Jokowi.

            Soal saya tidak menyukai demokrasi, itu biasa saja, bukan makar. Saya juga sering menulis tentang keburukan demokrasi dan itu memang kenyataan. Akan tetapi, saya tidak boleh melakukan hal-hal yang buruk atau mengajak orang lain dan menyebarkan seruan untuk melakukan kegiatan-kegiatan anarkis sehingga mengganggu ketenteraman umum dan ketenangan kehidupan orang lain karena hal itu melanggar hukum. Meskipun tidak menyukai demokrasi, saya tetap membantu orang-orang yang duduk di pemerintahan dan legislatif jika diminta. Saya tidak lantas memusuhi eksekutif dan legislatif hasil pemilihan. Hal yang tidak saya sukai adalah sistem, bukan orang, bukan pejabat, dan bukan undang-undang. Saya pernah menjadi staf DPD RI dan berkantor di Gedung DPR/MPR RI, padahal tidak suka demokrasi, berkali-kali juga diajak diskusi di rumah dinas Gubernur Jawa Barat untuk pembangunan Jawa Barat Selatan, diminta pula menulis beberapa profil pejabat hasil demokrasi. Biasa saja. Mereka tahu saya sering mengkritik demokrasi dengan keras, tetapi  tetap berhubungan baik dan saya selalu berusaha bekerja dengan baik jika sedang diberi kepercayaan. Semua baik-baik saja. Fine-fine aja tuh, okeh-okeh ajah.

            Tidak perlu bermusuhan jika berbeda pikiran. Santai saja. Benar-salah kita dan orang lain akan terbuka dengan sangat jelas jika sudah berada dalam pengadilan Illahi kelak. Semua ada waktunya.

            Kembali ke soal menggulingkan Presiden Jokowi. Agar rakyat tidak percaya lagi untuk memilih Jokowi, silakan saja cari kelemahan-kelemahan Jokowi dalam menjalankan pemerintahan, misalnya, banyak janji kampanye yang tidak terbukti. Akan tetapi, datanya harus benar, faktanya ada, dan kenyataannya terlihat jelas. Kemudian, usung calon presiden lain yang bisa bekerja lebih baik dibandingkan Jokowi sebagai presiden. Tunjukkan kehebatan calon yang baru itu setinggi langit agar rakyat percaya dan mengalihkan kepercayaannya dari Jokowi ke calon yang baru.

            Jangan bikin informasi aneh-aneh yang tidak jelas apalagi berbohong penuh fitnah. Itu sangat tidak baik. Jangan menduga-duga sesuatu, lalu menyebarkan dugaan itu kepada masyarakat dengan menganggapnya sebagai fakta atau kebenaran. Kalau hanya baru dugaan, sebut saja dugaan, jangan diklaim sebagai kebenaran. Dugaan yang diklaim sebagai kebenaran adalah hoax yang sangat jahat. Umat Islam Indonesia harus memerangi hoax karena hoax itu milik Iblis dan syetan. Dulu juga Iblis pake hoax sebagai alasan untuk tidak bersujud pada Adam as.

            Iblis bilang, “Aku lebih mulia dibandingkan Adam. Aku diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.”

            Kata-kata Iblis itu kan hanya hoax.

            Masa api lebih baik dibandingkan tanah?

            Coba deh tanya para ahli kimia, biologi, atau ahli yang berkaitan dengan api dan tanah.

            Zat mana yang lebih bermanfaat antara api dan tanah?

            Pasti tanah deh.

            Seandainya judi tidak diharamkan, saya mau berjudi dengan pasang rumah sebagai taruhan bahwa tanah pasti lebih banyak manfaatnya dibandingkan api. Tanah memiliki zat yang lebih kaya raya dibandingkan api.

            Iblis itu hanya bisa hoax. Para pecinta hoax sama dengan pecinta perilaku Iblis.

            Balik lagi ke soal menggulingkan Presiden Jokowi. Kalau menjatuhkan Jokowi melalui jalur pemilihan presiden, itu sah, legal, dan tidak melanggar hukum. Bekerja saja dengan lebih keras agar masyarakat lebih percaya pada calon presiden baru dibandingkan Presiden Jokowi. Akan tetapi, jangan katakan rakyat kurang beriman atau kafir kalau tetap memilih Jokowi. Indonesia kan sudah sepakat dengan demokrasi. Suara terbanyak adalah yang memiliki hak untuk menjadi pemimpin pelayan rakyat.

PRESIDEN RI JOKOWI. Sumber Foto: news.liputan6.com
            Bagi saya, mereka yang ingin melakukan makar untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi adalah orang-orang cengeng dan sudah merasa diri kalah duluan karena tidak memiliki kemampuan memberikan pencerahan kepada masyarakat. Mereka sudah merasa diri tidak akan mendapatkan kepercayaan masyarakat. Jadi, mereka mengambil jalan ilegal.

            Saya kasih nasihat dari nasihat seorang komunis dunia, yaitu Che Guevara atau yang akrab dipanggil Ce Va yang gambar wajahnya diklaim sebagai “gambar wajah paling terkenal sedunia”.

CHE GUEVARA. Sumber Foto: hamdangunadi.wordpress.com

            Dia bilang, “Revolusi yang berhasil adalah revolusi yang mendapatkan dukungan rakyat.”

            Artinya, revolusi tidaklah akan pernah berhasil jika tidak mendapatkan dukungan rakyat. Bahkan, rakyat akan memerangi revolusi yang dianggap mengganggu. Revolusi Indonesia dulu bisa berhasil karena mendapatkan dukungan rakyat. Revolusi Nabi Muhammad saw ketika mengambil alih Mekah berhasil karena mendapatkan dukungan rakyat Mekah. Tanpa dukungan rakyat, revolusi tidaklah akan pernah berhasil.

            Gunakan Pilpres untuk menjatuhkan Jokowi kalau bisa. Kalau tidak bisa, introspeksi diri.
Sumber Foto: news.liputan6.com

Penggulingan Lewat Pengadilan
Untuk menggulingkan Jokowi dari kursi kepresidenan sekaligus menggusur pemerintahannya, cari kesalahan Jokowi yang mengandung pelanggaran hukum pidana berat dan telak yang tidak bisa ditolerir masyarakat. Presiden Jokowi bisa jatuh jika melakukan pelanggaran hukum atau pelanggaran terhadap undang-undang.

            Laporkan Jokowi kepada penegak hukum jika telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang. Pelanggaran hukum yang dilakukan Jokowi haruslah yang nyata terbukti dan berat, bukan yang ringan sehingga bisa ditoleransi masyarakat. Kalau cuma pelanggaran yang ringan-ringan, tidak terlalu ngefek. Kita mungkin masih ingat ketika awal-awal pertama Jokowi menjadi presiden, banyak pengamat dan ahli hukum mengatakan bahwa Jokowi melanggar undang-undang karena ketidakjelasan sumber dana untuk pencetakan kartu-kartu seperti Kartu Indonesia Pintar atau Kartu Indonesia Sehat. Kalaulah itu memang pelanggaran hukum, itu dianggap masyarakat sebagai pelanggaran ringan yang tidak berpengaruh banyak. Masyarakat menoleransinya karena Jokowi masih baru beberapa saat menjadi presiden dan Jokowi mampu menutupinya dengan beberapa langkahnya yang dianggap mendorong kemajuan Indonesia serta tetap gigih memerangi korupsi. Di samping itu, masyarakat banyak yang menganggap hal itu sebagai bukan kesalahan Jokowi, melainkan kesalahan para pembantunya yang “tidak piawai” dalam memberikan saran kepada Jokowi. Jokowi pun cepat tanggap dan mengganti beberapa pembantunya dengan orang-orang baru yang lebih bisa dipercaya.

            Pelanggaran pidana yang dilakukan Jokowi haruslah pelanggaran yang sangat berat dan sangat memalukan sehingga seluruh penegak hukum merasa wajib memproses hukum terhadap Jokowi. Hal itu sebagaimana yang terjadi terhadap Presiden Korea Selatan yang harus diadili karena kasus korupsi. Harus dicari kesalahan pidana Jokowi. Cari sampai ketemu kalau ada. Kalau tidak ada, jangan lantas bikin hoax yang hanya baru mengandalkan dugaan, tetapi sudah disebarkan dengan klaim kebenaran.

            Bagi saya, mereka yang melakukan makar untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi adalah orang-orang iri yang putus asa. Mereka tidak menemukan pelanggaran pidana berat yang dilakukan Jokowi. Mereka hanya percaya pada hoax karena menganggap dugaan mereka sebagai kebenaran. Jadi, di dalam kepalanya selalu mulek, penuh asap yang tidak jelas sehingga batuk-batuk tidak karuan.

            Kalau rakyat masih percaya Jokowi dan tidak ditemukan pelanggaran pidana berat yang dilakukan Jokowi, mengapa tidak bergotong royong saling membantu untuk kesejahteraan bersama?

            Sungguh, gotong royong itu lebih baik dibandingkan menyebarkan fitnah.

            Demi Allah swt.


            Sampurasun.

Thursday, 9 March 2017

Pertumbuhan Ekonomi Yang Tak Dirasakan Rakyat

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Rasanya ada yang aneh dengan Negara Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lumayan lama Indonesia diberitakan telah mampu mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi dan surplus neraca perdagangan. Dunia mengakui hal itu dan masyarakat pun melihat tampaknya pemerintah bekerja serius. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi itu sepertinya tidak dirasakan masyarakat. Artinya, masyarakat tidak ikut mengalami pertumbuhan itu. Bahkan, dalam keseharian saya menemukan orang-orang pekerja keras yang tiba-tiba mengeluh karena lesu bisnisnya, beberapa teman menelepon saya siapa tahu saya punya pekerjaan untuk mereka, banyak rencana bisnis yang gagal, banyak pedagang yang mengaku sulit mendapatkan uang, mahasiswa sulit membeli buku sekalipun buku murah, malah ada kepala dinas kesehatan yang tidak mampu membiayai kuliah anaknya di bidang kesehatan, dan lain sebagainya yang semuanya itu biasanya jarang saya dengar. Sementara itu, ada beberapa beban hidup yang mengalami kenaikan, misalnya, listrik, BBM, dan beberapa bahan pokok. Saya merasa ada kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara dengan keadaan ekonomi masyarakat yang sebenarnya.

            Pemerintah Indonesia biasanya beralasan bahwa kesulitan itu diakibatkan oleh ekonomi dunia yang sedang mengalami goncangan. Beberapa kalangan masyarakat bisa menerima alasan itu. Akan tetapi, mereka yang tidak menyukai pemerintahan Jokowi, malah memberikan ejekan kepada pemerintah bahwa berita pertumbuhan ekonomi Indonesia itu hanya hoax.

            Saya memang tidak mengerti tentang ekonomi. Jadi, saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kok bisa ya pemerintahnya menyatakan pertumbuhan ekonominya surplus, tetapi masyarakatnya kesulitan. Rasanya ada yang aneh. Seharusnya, ketika ekonomi negara tumbuh, rakyatnya pun merasakan pertumbuhan itu. Akan tetapi, kenyataannya seperti tidak nyambung antara pemerintah dengan rakyat.

            Saya sendiri merasakannya ketika akan memanfaatkan tanah kosong untuk saya jadikan kos-kosan. Saya berniat pinjam uang dari bank karena katanya menurut kabar angin yang berembus sepoi-sepoi uang di bank yang seharusnya bisa diserap masyarakat itu tidak pernah terserap habis, hanya sedikit yang terserap, sedangkan sisanya selalu banyak setiap tahunnya. Artinya, ada kesenjangan antara bank dengan masyarakat. Memang begitu kejadiannya. Ketika saya berniat meminjam, saya segera menyadari bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk membayar angsurannya karena terlalu besar dalam jangka waktu yang pendek. Perlu diketahui bahwa saya ini tidak pernah pinjam uang di bank sebelumnya karena memang anti-berhutang dan anti-punya cicilan apa pun, kecuali benar-benar untuk kebutuhan yang sangat mendesak. Daripada harus membeli barang atau kendaraan baru dengan mencicil, lebih baik membeli yang second  sesuai kemampuan saya. Kalau nggak punya uang, ya nggak perlu banyak keinginan.

            Karena terlalu besar angsuran dan terlalu pendek jangka waktu pengembalian, saya tidak jadi meminjam uang. Lebih baik, tunggu saja rezeki dari tempat lain yang tidak tahu entah dari mana, tetapi jelas dari Allah swt.

            Terlalu besarnya angsuran dan terlalu pendeknya jangka waktu pengembalian uang ke lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kelihatannya bank dan masyarakat ingin sama-sama untung, tetapi saling berhadapan, seolah-olah saling berseteru. Seharusnya kan kalau pakai falsafahnya Pancasila, lembaga keuangan dan masyarakat itu harus saling dorong, saling bantu agar mendapatkan keuntungan bersama-sama. Sekarang ini rasanya masih kapitalis karena bank ingin untung besar dengan berbagai syaratnya dan masyarakat juga ingin untung, tetapi megap-megap untuk mengembalikan cicilan. Bank sepertinya berniat menggelontorkan pinjaman, tetapi hanya untuk keuntungan dirinya.

            Ada baiknya bank memperpanjang jangka waktu pengembalian sampai sepuluh atau lima belas tahun sehingga masyarakat di samping dapat mengembalikan dengan mudah dan murah, juga menikmati dengan cepat hasil bisnisnya. Jangan seperti sekarang ini, masyarakat yang meminjam uang masih banyak yang belum menikmati hasil usahanya, tetapi sudah dipusingkan terlebih dahulu untuk membayar cicilan setiap bulannya.

            Saya menduga jika jumlah angsurannya rendah, kasus-kasus kredit macet, penyitaan aset, dan kasus hutang-piutang yang kerap berakhir dengan keributan bisa diminimalisasi. Kalau sekarang kita masih melihat banyak kasus negatif akibat ekonomi uang, kan biasanya masyarakat tidak mampu lagi membayar cicilan, tetapi masih memiliki harapan usahanya bisa berkembang dan membutuhkan tambahan waktu untuk melakukan pembayaran.

            Sebaiknya, segera dipikirkan agar setiap lembaga keuangan lebih mendekatkan diri pada kenyataan riil yang terjadi di masyarakat. Artinya, lembaga keuangan dapat lebih memahami kemampuan masyarakat dan lebih menurunkan atau melonggarkan berbagai persyaratannya sehingga masyarakat dapat lebih banyak menyerap dana bank dan mampu berbisnis dengan berbagai lembaga keuangan sehingga tercipta kehidupan ekonomi yang saling membantu dan saling mendorong untuk kemakmuran bersama. Itu namanya Pancasilais; gotong royong, bukan kapitalis dan bukan pula komunis. Kita bisa untung sama-sama, adil sama-sama pula sebagaimana Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

            Seperti saya bilang tadi, saya bukan ahli ekonomi dan tidak mengerti-mengerti amat tentang bank atau lembaga keuangan. Akan tetapi, saya punya harapan jika lembaga keuangan dapat lebih memahami masyarakat serta masyarakat dapat lebih mudah dan ringan berhadapan dengan lembaga keuangan, masyarakat pun akan lebih disiplin dalam berhubungan dengan bank dan mengembangkan usahanya. Tidak lagi seperti Tom and Jerry yang terus-terusan kejar-kejaran seumur hidup tanpa pernah berhenti.


            Sampurasun.

Thursday, 12 November 2015

Sesat Berdasarkan Pancasila


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pancasila adalah anugerah terindah yang dianugerahkan Allah swt kepada bangsa Indonesia. Pancasila bukan saja sangat berguna untuk menjadi dasar Negara Indonesia dan sumber hukum dari segala sumber hukum di Indonesia, melainkan pula bisa digunakan sebagai dasar untuk menjatuhkan vonis dan atau menegaskan suatu agama atau aliran dalam suatu agama adalah sesat.

Tidak percaya?

Baca terus penjelasan saya.

Kita dan juga aparat sering sekali tampak cukup bingung jika menghadapi pertentangan yang berbau agama atau aliran yang ada dalam suatu agama tertentu, bahkan sebuah aliran yang tidak mengikuti agama tertentu. Memang bingung karena setiap pihak mengklaim diri sebagai yang paling benar dan selalu menggunakan dalil-dalil dalam keyakinan mereka masing-masing sebagaimana sumber-sumber yang diklaim sebagai sumber terpercaya dalam aliran mereka. Aparat dan kita sering sekali kebingungan karena menganggap bahwa itu merupakan urusan akhirat yang seolah-olah tidak bisa diselesaikan secara hukum. Jika mau bertindak tegas pun, lumayan ketakutan. Khawatir dianggap melanggar hak asasi manusia yang dihembus-hembuskan pihak asing itu.

Begini Saudara sekalian. Allah swt menganugerahkan Pancasila kepada Indonesia adalah bukan tanpa alasan. Allah swt menginginkan Indonesia menjadi negara yang kuat, tertib, dan santun dalam menjalani hidupnya. Untuk menjadi kuat, tertib, dan santun itulah Allah swt menganugerahkan Pancasila.

Sesungguhnya, kita tidak perlu bingung untuk memvonis suatu aliran keyakinan adalah sesat atau tidak. Gunakan saja Pancasila. Ukur dengan Pancasila keyakinan tersebut. Jika tidak sesuai atau bertentangan dengan Pancasila, yakinilah dan beranilah untuk mengatakan aliran keyakinan atau bahkan agama dengan pemeluk banyak sekalipun sebagai aliran atau agama yang sesat!

Sesat!

Demi Allah swt, sesat berdasarkan Pancasila!

Pancasila itu memiliki 45 butir. Butir-butir itu ada untuk memudahkan kita memahaminya dan melaksanakannya.

Saya kasih contoh bagaimana cara mengukur suatu aliran atau agama sebagai sesat berdasarkan Pancasila. Tentunya, ini hanya contoh. Saya hanya mengambil beberapa butir dari Pancasila sebagai contoh. Saudara-saudara pembaca, pemikir hukum, dan penegak hukum dapat menggalinya lebih baik daripada saya. Mungkin.

Coba kita lihat Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Ada banyak butir di sana. Dua butir saya ambil sebagai contoh, yaitu butir 1 dan 2:

1. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila ada ajaran agama atau aliran yang bertolak belakang dengan kedua butir tersebut, sudah jelas pasti agama atau aliran itu adalah sesat. Misalnya, jika dalam ajaran agama dan aliran itu menolak untuk hidup saling menghormati dan melarang umatnya untuk bekerja sama dengan penganut agama lain, berarti ajaran agama dan aliran itu adalah sesat berdasarkan Pancasila. Hal itu disebabkan mereka akan mengajarkan umatnya untuk menghina pemeluk agama dan keyakinan agama lain yang akan berujung pada berkurangnya rasa kebersamaan dan persatuan Indonesia. Bahkan, akan menumbuhkan konflik yang sia-sia.

Mari kita lihat lagi Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Perhatikan butir 1 s.d. 5:

1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

5. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Apabila ada ajaran agama atau aliran yang mengajarkan hal yang terbalik dari kelima butir tersebut, itu adalah sesat!

Sesat!

Sesat berdasarkan Pancasila!

Jika ada ajaran agama atau aliran yang mengajarkan harus menghina orang lain, melecehkan manusia, merendahkan martabat dan hak orang lain, jelas sekali bahwa agama atau aliran itu adalah sesat!

Jika ada agama atau aliran yang mengajarkan bahwa para pemeluk ajarannyalah yang paling tinggi dibandingkan ajaran lain sehingga merasa yang paling berhak atas seluruh kehidupan di muka Bumi ini, kemudian melakukan penghinaan, membuat kebohongan, menciptakan kegaduhan, menyebarkan fitnah, dan berakhir dengan konflik, jelas sekali ajaran atau agama itu adalah sesat. Memang suatu hal yang sangat wajar jika orang Islam merasa yang paling baik, orang Kristen merasa yang paling baik, Hindu merasa yang paling benar, Budha merasa yang paling hebat, dan Konghucu merasa yang paling tinggi. Semua merasa yang paling tinggi boleh, sangat diperbolehkan. Akan tetapi, jika keyakinan merasa yang paling tinggi itu dilanjutkan dengan ajaran yang menyuruh untuk melakukan penghinaan, membuat kebohongan, menciptakan kegaduhan, menyebarkan fitnah, dan berakhir dengan konflik, jelas sekali ajaran atau agama itu adalah sesat.

Sesat!

Sesat berdasarkan Pancasila!

Lihat kembali Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Saya mengambil butir 1, 2, 4, dan 5:

1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

2. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

4. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

5. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Apabila ada agama atau aliran keyakinan yang mengajarkan untuk hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya serta melecehkan kepentingan dan keselamatan Negara Indonesia, agama atau aliran itu adalah sesat!

Apabila ada agama atau aliran keyakinan yang tidak menanamkan cinta kepada Indonesia, itu adalah sesat!

Jika ada agama atau kelompok keyakinan yang menghina dan melecehkan Indonesia, bahkan mengajarkan agar lebih mencintai negara lain atau bangsa lain, pastikan saja jangan ragu bahwa agama atau aliran itu sesat dan perlu dimusnahkan!

Apabila ada ajaran yang mendorong umatnya untuk merusakkan perdamaian di Indonesia dengan cara melakukan kebohongan dan provokasi penuh kebencian, jelaslah ajaran atau agama itu adalah sesat!

Sesat berdasarkan Pancasila!

Periksa pula Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Perhatikan butir 3 s.d. 8:

3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Apabila ada agama atau aliran kepercayaan atau sekte yang menghindari musyawarah untuk kepentingan bersama, pastikan bahwa agama atau aliran atau sekte itu adalah sesat!

Jika tidak ingin menyelesaikan dengan cara musyawarah untuk mufakat karena dilarang oleh ajarannya dan diharamkan oleh para pemimpinnya dari luar negeri, ajaran agama atau aliran itu sudah pasti sesat dan menyesatkan!

Apabila keputusan sudah diambil, tetapi tidak menghormatinya, bahkan mengkhianatinya dengan cara melakukan tipu daya aksi bohong yang kampungan, sesatlah ajaran dan agama itu!

Jika dalam kehidupan selalu menegaskan dan memaksakan bahwa dirinyalah dan kelompoknyalah yang paling harus diakui kebenarannya dalam menyelesaikan masalah sosial, lagi-lagi itu adalah ajaran sesat. Semua masalah harus diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat. Jika tidak, ajaran atau agama itu sangat sesat!

Sesat sekali!

Sekarang Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Lihat butir 1 s.d. 4:

1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4. Menghormati hak orang lain.

Apabila ada agama atau aliran yang mengajarkan rasa egois, tidak mau hidup berdampingan, dan bersikap tidak adil kepada sesama manusia, pastilah agama atau aliran itu adalah berada dalam kesesatan yang nyata!

Sesat!

Sekali lagi, sesat berdasarkan Pancasila!

Jika mereka yang memegang ajaran agama atau aliran yang sesat itu tidak mau tunduk pada Pancasila dan tidak mau dibina untuk hidup bersama dalam kerukunan di Negara Indonesia, usir saja atau hukum saja sesuai dengan hukum yang berlaku. Kalau belum ada hukumnya, bikin hukum untuk hal itu.

Pancasila adalah anugerah terindah dari Allah swt. Galilah kedalamannya, maka kita akan mendapatkan banyak mutiara abadi untuk diri, keluarga, lingkungan, Indonesia, bahkan dunia.

Demi Allah swt.