Showing posts with label Kapitalis. Show all posts
Showing posts with label Kapitalis. Show all posts

Monday, 8 March 2021

Teori Konflik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

                                                                                                                                                           

Para penganut teori konflik mempercayai bahwa masalah-masalah sosial diakibatkan oleh adanya konflik di masyarakat. Dalam teori konflik, dikenal dua pandangan tentang masalah sosial, yaitu teori marxis dan teori non-marxis. Dalam teori marxis sudah sangat dikenal terjadinya konflik di antara pengusaha dan kaum buruh. Kaum pengusaha dipercayai sebagai kaum yang serakah, suka menindas, curang, dan kerap merampok hak-hak kaum buruh. Adapun kaum buruh melakukan berbagai upaya perlawanan. Dari konflik ini dikenal pula bahwa kaum pengusaha disebut sebagai para kapitalis dan kaum buruh melawannya melalui komunitasnya sehingga melahirkan komunisme.

            Adapun teori non-marxis seperti Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa masalah sosial diakibatkan oleh konflik yang timbul karena banyaknya perbedaan kepentingan di masyarakat. Permasalahan ini dapat diatasi jika setiap kelompok masyarakat dapat saling memahami perbedaan tersebut.

            Di samping itu, kita pun dapat melihat dengan jelas berbagai konflik yang terjadi di masyarakat yang disebabkan oleh berbagai perbedaan. Misalnya, konflik antara kaum kaya dengan kaum miskin yang diakibatkan perbedaan ekonomi; konflik ras atau etnis yang diakibatkan oleh prasangka yang menimbulkan perbedaan perlakuan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas; konflik gender yang diakibatkan oleh perbedaan jenis kelamin yang menumbuhkan prasangka bahwa laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan yang menyebabkan perempuan kerap dipandang rendah, bahkan dilecehkan.

            Demikian penjelasan mengenai teori konflik.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Saturday, 4 April 2020

Teori “Dual Economy”


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Dual economy artinya dua situasi ekonomi atau dualisme ekonomi. Keduanya saling berpasangan, berkaitan, terhubung, bahkan berlawanan.

            Teori dual economy ini merupakan perlawanan dari teori-teori sektor tunggal (singles sector models). Dalam buku Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar yang disusun Umar Suryadi Bakry, Cetakan I, Januari 2019, yang diterbitkan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, dijelaskan bahwa pada pertengahan abad ke-20, pemodelan teoretis mengenai pertumbuhan ekonomi didominasi oleh sektor tunggal seperti yag dilakukan oleh Robert Solow. Model tunggal ini ditentang oleh sejumlah ekonom, termasuk W. Arthur Lewis dan Simon Kuznets. Keduanya mengemukakan sebuah model dual economy dengan mengacu pada sebuah sektor yang relatif berkembang (advanced sector) dan sebuah sektor yang relatif terbelakang (backward sector). Istilah alternatif untuk menyebut kedua sektor tersebut adalah sektor kapitalis dan subsisten, formal dan informal, modern dan tradisional, perkotaan dan pedesaan, primer dan sekunder, good jobs dan bad jobs.

            Dual economy ini tampak lebih modern dan lebih masuk akal dibandingkan sektor tunggal. Hal itu disebabkan tidak ada yang tunggal dalam kehidupan ini, kecuali Allah swt. Tidak ada kehidupan yang seluruhnya maju atau selamanya miskin. Tidak ada yang berada dalam kondisi sama setiap saat, selalu ada pengalaman berbeda, misalnya, senang-susah, makmur-miskin, bangun-jatuh, cantik-jelek, baik-buruk, dan lain sebagainya. Semuanya selalu seperti itu.

            Konsep dual economy sendiri diciptakan oleh Julius H. Boeke untuk menggambarkan koeksistensi sektor ekonomi modern dan sektor ekonomi tradisional dalam sebuah perekonomian kolonial. Fenomena dual economy umumnya terdapat di negara-negara terbelakang (less developed country--LDC) ketika sektor yang satu untuk pasar lokal dan sektor lainnya untuk pasar ekspor global.

            Hal ini pun pernah dijelaskan oleh Presiden ke-1 RI Soekarno bahwa perdagangan kain di tanah Jawa sebelum penjajah datang adalah cukup maju. Para penenun menenun kain yang murah untuk dipasarkan di wilayah lokal, kain yang bagus dipasarkan di daerah pesisir, bahkan ke luar negeri. Hal itu menunjukkan bahwa ada dual economy, yaitu memproduksi barang untuk tingkat ekonomi menengah bawah dan untuk tingkat ekonomi atas, bahkan luar negeri.

            Sayangnya, kemajuan perdagangan kain di tanah Jawa dihancurkan oleh penjajahan. Masyarakat Indonesia bisnisnya benar-benar hancur dan diganti oleh kekuasaan ekonomi penjajah yang membuat produksi kaum pribumi megap-megap dan bangkrut. Kalaupun ada yang besar, hanya satu dua dan tidak bisa menopang perekonomian rakyat. Adapun perdagangan yang besar, maju, dan merambah kawasan internasional dikuasai oleh penjajah.

            Hal ini pun sebenarnya sudah disebutkan Allah swt dalam Al Quran, Surat Yasin (36) ayat 36:

            “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”

            Jadi, jelas bahwa semuanya diciptakan berpasangan. Hal itu tak terkecuali dengan kehidupan ekonomi yang juga selalu berpasangan, berlawanan, berhadapan, atau beriringan.

             Menurut Lewis, sektor modern (kapitalis) menghasilkan barang-barang industri, jasa, dan aktivitas komersial lainnya. Adapun sektor tradisional (subsisten) menghasilkan barang-barang pertanian. Menurutnya, akumulasi modal hanya terjadi pada sektor kapitalis dan sektor ini merupakan mesin pertumbuhan ekonomi.

            Senada dengan Lewis, Kuznets berpandangan bahwa esensi pertumbuhan ekonomi modern adalah pergeseran produksi secara bertahap dari sektor berpendapatan rendah menuju sektor berpendapatan lebih tinggi.

            Dari pandangan Lewis dan Kuznets, kita bisa melihat adanya kehidupan ekonomi modern yang ditandai dengan pendapatan ekonomi tinggi dan kehidupan tradisional dengan pendapatan ekonomi rendah. Pendapatan yang tinggi dalam kehidupan modern itu disebabkan oleh aktivitas yang tinggi, tenaga kerja yang terdidik dan terlatih, modal yang besar, penjualan barang dan jasa yang juga deras, serta digunakannya prinsip-prinsip efisiensi dan peningkatan profit yang sangat tinggi pula. Adapun pendapatan rendah dalam kehidupan tradisional disebabkan oleh rendahnya aktivitas masyarakat, hasil pertanian yang ditujukan sebagian besar untuk dikonsumsi sendiri, usaha pertanian dan peternakan yang tidak mampu menyerap tenaga kerja yang banyak, serta tingginya tingkat pengangguran.

            Pendapatan yang rendah dalam kehidupan tradisional ini mendorong adanya urbanisasi, migrasi ke perkotaan. Akan tetapi, karena di kota dituntut keahlian dan keterdidikan yang cukup tinggi, banyak warga pendatang yang akhirnya bekerja di bidang informal karena tidak terserap di sektor formal, bahkan menjadi pengagguran di perkotaan.

            Menurut ahli Ekonomi Politik Internasional (Epi), Robert Gilpin, teori dual economy atau dualisme ekonomi, harus dianalisis dari dua sisi, yaitu sisi  sektor modern yang progresif dan sektor tradisional yang ditandai dengan keterbelakangan cara produksi.

              Dalam teori dualisme ekonomi diyakini bahwa yang namanya pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan dari ekonomi tradisional ke arah ekonomi modern. Perkembangan ini memerlukan pula perkembangan struktur ekonomi, sosial, dan politik. Tanpa ada perubahan pada berbagai sektor, sulit terjadi peningkatan ke arah modern. Sistem sosial dan politik yang tertutup akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat dan sulit bersaing di tengah kancah persaingan global. Hal itu disebabkan persaingan global mensyaratkan adanya keterbukaan dan saling ketergantungan, interdependensi, di antara negara-negara di dunia. Jika ingin mengalami pertumbuhan ekonomi, sistem ekonomi tradisional harus mengikuti perkembangan global sehingga terbawa ke dalam perilaku global.

            Dalam pandangan dualisme ekonomi, kehadiran ekonomi pasar (market economy) merupakan akibat alamiah dari adanya kekuatan-kekuatan pasar yang bekerja. Kemajuan berbagai bidang, seperti, infrastruktur, transportasi, komunikasi, penghematan biaya, lembaga-lembaga ekonomi, dan lain sebagainya menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi dari tradisional ke modern.

            Di dalam hubungan internasional dapat kita lihat dual economy ini, yaitu adanya negara maju dan negara berkembang atau bahkan miskin. Negara berkembang atau miskin biasanya mengandalkan sumber daya alamnya untuk hidup. Negara maju mengandalkan pendidikan, keterampilan, dan perkembangan teknologi.

            Teori dual economy pertama kali dibawa oleh negara-negara kapitalis Eropa melalui ekspansi dan penjajahan ke negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika latin sekitar abad 16. Pada awalnya negara-negara dunia ketiga yang mengalami penjajahan ini menolak sistem pasar, tetapi saat ini banyak yang justru menggunakan sistem ini sehingga menjadi maju dan berkembang, misalnya, Cina, Rusia, Vietnam, Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, dan Singapura.

            Untuk lebih memperjelas bahwa keterbukaan suatu negara terhadap adanya saling ketergantungan dengan negara lain dapat lebih memajukan dirinya dibandingkan negara yang belum terbuka atau tertutup, dapat dipelajari berita yang penulis tulis dalam Tabloid Pendidikan & Kesehatan, Edisi 03/September 2017 dengan judul Kunci Kemajuan Negara berikut ini.

            Pada Sabtu, 14 Oktober 2017, saat acara Wisuda STT Jabar di Grand Hotel Pasundan Bandung, Dr. H. Didin Muhafidin, M.Si., Guru Besar Unpad dan Rektor Universitas Al-Ghifari, memberikan orasi ilmiah yang berjudul Mental Enterprenuer dan Kemajuan suatu Negara. Isi dari orasi ilmiah itu sangat bermanfaat dan membuka mata kita bahwa kunci kemajuan suatu negara bukanlah disebabkan oleh ras, sumber daya alam, maupun lamanya negara itu merdeka.

            Negara India dan Mesir yang umurnya lebih dari 2.000 tahun, tetapi tetap terbelakang (miskin). Di sisi lain, Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun merupakan bagian dari negara maju di dunia dan penduduknya tidak lagi miskin.

            Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya 80% berupa pegunungan, tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. Akan tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss tidak mempunyai perkebunan cokelat, tetapi menjadi negara pembuat cokelat terbaik di dunia. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia. Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban, tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

            Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya dan banyak yang berkulit hitam, ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

            Setelah dianalisis, ternyata kekayaan atau kemiskinan suatu negara ditentukan oleh sikap/perilaku masyarakatnya yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-hari mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan bermental entrepreneur, yaitu: kreatif, inovatif, punya komitmen, kejujuran, dan integritas; bertanggung jawab; hormat pada aturan dan hukum masyarakat; hormat pada hak orang/warga lain; cinta pada pekerjaan; berusaha keras untuk menabung dan investasi; mau bekerja keras; tepat waktu.

            Adapun kriteria negara maju menurut World Bank  dan IMF adalah pertama, pendapatan  per kapita US 11.906 dolar.

            Kedua, jumlah pengusaha > 7%  s.d. 10% dari jumlah penduduk. Berdasarkan data 2017, Indonesia baru memiliki 3,1% pengusaha dan pengusaha muda hanya 0,18%, Malaysia 5%, Thailand 4,5%, Vietnam 3,3%.

            Ketiga, diversifikasi ekspor  berupa  jasa dan industri dengan sentuhan teknologi tinggi. Negara-negara Timur Tengah pengekspor minyak tidak masuk kategori negara maju.

            Keempat, tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakatnya tinggi.

            Kelima, tingkat  kemandirian  warga negara tinggi dan tidak bergantung pada sumber daya alam (SDA).

            Keenam, produktivitas masyarakatnya tinggi.

            Berdasarkan kriteria tersebut, kita dapat mengetahui bahwa beberapa negara yang tergolong maju adalah Benua Amerika (USA dan Kanada); Benua Asia (Jepang, Korsel, Singapura, Hongkong, Taiwan); Benua Afrika tidak ada; Benua Eropa (Jerman, Inggris, Austria, Swedia, Swiss, Finlandia, Portugal, Spanyol, Belanda, Norwegia. dll.  [30 negara lainnya]); Benua Australia  (Australia dan Selandia Baru).

            Dalam akhir orasi ilmiahnya, Didin mengatakan bahwa kita, Indonesia, bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam atau karena alam yang kejam kepada kita, melainkan karena perilaku kita yang kurang atau tidak baik. Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.

            Sampurasun.


Sumber:

Bakry, Umar Suryadi, 2019, Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar, Cetakan I, Januari 2019, Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Hatta, Ahmad, 2009, Tafsir Quran per Kata Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul & Terjemah, Cetakan Keempat, Maghfirah Pustaka: Jakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2014, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga:  Jakarta

S., Alam, 2014, Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XII Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

S., Alam, 2016, Ekonomi: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMA/MA Kelas X Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

S., Alam, 2016, Ekonomi: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMA/MA Kelas XI Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Sukarno, 1964, Dibawah Bendera Revolusi, Cet. 3, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi: Jakarta

Tabloid Pendidikan & Kesehatan, 2017, Edisi 04, Desember, CV Sali Iskandar Family: Bandung

Thursday, 26 March 2020

Aliran Marxisme


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam buku Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar yang disusun Umar Suryadi Bakry, Cetakan I, Januari 2019, yang diterbitkan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, dijelaskan dengan baik mengenai Aliran Marxisme/Strukturalisme. Tokoh-tokohnya, antara lain, Karl Marx dan Friederich Engels yang disebut-sebut sebagai “Bapak Pendiri Komunisme”. Adapula Vladimir Lenin yang melihat ketimpangan antara negara penjajah dengan negara jajahannya. Di samping itu, ada Immanuel Wallerstein dan Robert Cox yang berpaham Neo-Marxis dalam kata lain memberikan kritik dan mengembangkan teori-teori klasik Karl Marx. Dengan demikian, Aliran Marxisme memiliki beberapa varian sesuai pemikiran tokoh-tokohnya tersebut.

            Karl Marx adalah seorang filsuf besar sekaligus pakar ekonomi politik kelahiran Prusia (sekarang Jerman) 1818. Salah satu tulisannya yang sangat terkenal adalah Manifesto Komunis yang mengilhami banyak pemikir strukturalis hingga saat ini.

            Marx berpendapat bahwa inti dari kekuatan ekonomi adalah modal (alat-alat produksi). Oleh sebab itu, di dalam masyarakat yang kapitalis akan terbentuk kekuasaan-kekuasaan ekonomi berdasarkan kepemilikan atas modal. Ada penguasa modal (borjuis) dan ada kaum proletar. Kedua kelas ini akan selalu bertarung untuk mendapatkan modal atau alat-alat produksi.

            Pemikiran Karl Marx yang seperti inilah yang banyak ditulis orang ketika mendeskripsikan pertarungan antara kapitalis (para pemodal) dengan komunis (kaum proletar, buruh). Hampir semua orang memahami bahwa kaum komunis adalah kaum yang memerangi kaum kapitalis karena selalu terpinggirkan dalam menguasai kapital (modal).

            Hal seperti ini pula yang coba digambarkan oleh Presiden ke-1 RI Soekarno dalam bukunya Dibawah Bendera Revolusi (1964). Menurutnya, kaum komunis adalah kaum yang merasa hak-haknya dirampok oleh kaum pengusaha. Hak perumahan, hak kesehatan, hak berpenghasilan besar, dan hak-hak lainnya diambil oleh pengusaha dalam sistem kapitalisme. Oleh sebab itu, kaum proletar ini berlari-lari kesana-kemari untuk meminta pertolongan. Mereka meminta bantuan raja dan para bangsawan, sayangnya raja dan para bangsawan mendukung para kapitalis. Mereka pun meminta bantuan gereja, sayangnya banyak gereja yang sudah disuap oleh para pengusaha kapitalis sehingga justru gereja semakin menyudutkan kaum komunis. Dengan demikian, kekecewaan kaum komunis pun menjadi-jadi sehingga tumbuh kemarahan dengan mengatakan “Tuhan tidak ada”.

            Karl Marx banyak menganalisis ketimpangan-ketimpangan dalam sebuah negara/domestik yang ditandai dengan terjadinya perjuangan kelas antara kaum borjuis dan kaum proletar. Bahkan, perjuangan atau pertarungan di antara kaum kapitalis sendiri banyak menimbulkan konflik dan perang-perang di dunia. Mereka bertikai hanya karena perebutan modal. Berbeda dengan Vladimir Lenin yang lebih suka memperhatikan hubungan-hubungan ekonomi internasional. Lenin pun mengkritik kapitalisme yang disebutnya sebagai sumber dari konflik dan perang. Lenin lebih melihat adanya penguasaan atau dominasi yang dilakukan negara penjajah pada negara jajahannya yang kemudian memunculkan adanya negara kaya dan maju serta negara miskin dan terbelakang.

            Berbeda pula dengan pandangan para ahli Neo-Marxisme yang lebih berdamai dengan sistem kapitalisme. Menurut mereka, negara dan kapitalisme adalah saling membutuhkan untuk menciptakan kehidupan ekonomi yang lebih baik. Negara-negara miskin dan terbelakang suatu saat akan menjadi negara maju dan kaya. Demikian pula, negara-negara maju dan kaya dapat jatuh menjadi negara miskin dan terbelakang. Hal ini mungkin saja terjadi sesuai dengan situasi politik, budaya, dan lingkungan alam. Politik bisa menjatuhkan dan memajukan sebuah negara, begitu pula dengan budaya. Hal yang sama pun bisa terjadi karena perubahan lingkungan alam, bencana besar, wabah penyakit, serta perubahan iklim sangat mungkin mengubah kondisi ekonomi dan politik suatu negara. Bagi neo-marxisme, pertarungan yang tersisa pada zaman ini hanya antara para pengusaha dan kaum buruh, tidak lagi antarnegara atau yang lainnya.

            Meskipun memiliki banyak varian, Aliran  Marxisme memiliki elemen-elemen pokok yang menyatukan perbedaan mereka. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Umar Suryadi Bakry (2019), yaitu: Pertama,         manusia secara individu bersifat kooperatif, namun hubungan antarmanusia dalam sebuah kelompok (masyarakat, negara, hubungan antarnegara) cenderung bersifat konfliktif. Manusia sesungguhnya adalah makhluk sosial sehingga selalu ada keinginan untuk berhubungan secara kooperatif dan positif. Akan tetapi, jika sudah berada dalam suatu kelompok, mereka cenderung membela kelompoknya karena kesamaan kepentingan. Dalam hal ekonomi, manusia akan bersama-sama dengan manusia lainnya yang memiliki perasaan dan kepentingan ekonomi yang sama sekaligus menentang kelompok lainnya yang memiliki perasaan dan kepentingan ekonomi yang berbeda.

            Kedua, konflik muncul dari persaingan antarkelompok individu, khususnya antara pemilik modal/sarana produksi (kelas borjuis) dan pekerja (kelas proletar). Pengusaha kerap memiliki kepentingan yang berbeda dengan para pekerjanya. Seringkali perbedaan ini tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik yang akibatnya timbul rasa saling curiga dan tarik-menarik kepentingan. Pengusaha sering ingin cepat mengembangkan perusahaannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Sementara itu, para pekerja memikirkan kesejahteraan dan kemakmuran dirinya yang harus dipenuhi oleh para pengusaha.

            Ketiga, negara (state) biasanya bertindak untuk mendukung pemilik modal (sarana produksi) sehingga menempatkan negara dan pekerja dalam posisi berhadapan satu sama lain. Dalam pemikiran dan pengalaman hidup kaum marxis/komunis, negara selalu melindungi dan bersahabat dengan para pengusaha karena para pengusaha itu memiliki kedekatan dengan penguasa, negara, dan memberikan banyak dukungan materi, baik melalui pajak maupun nonpajak seperti hadiah-hadiah. Dengan kedekatan itu, para pekerja merasa dirinya jauh dari negara sehingga tak jarang mengambil sikap bertentangan dengan negara.

            Keempat, dalam sistem kapitalis, terdapat hubungan yang bersifat eksploitatif dan ketidakadilan (inequality) antara pemilik modal dan pekerja serta antara negara-negara maju (centre) dengan negara-negara sedang berkembang (periphery). Dalam pandangan mereka, pengusaha selalu mengeksploitasi para pekerja, kaum borjuis kerap memeras proletar. Demikian pula negara maju selalu melakukan pemerasan atau melakukan banyak tekanan pada negara-negara lemah. Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan ketidakadilan.

            Kelima, hal-hal tersebut menciptakan kondisi interaksi antara pemilik modal dan pekerja serta antara negara maju dengan negara sedang berkembang adalah zero sum game. Kedua-duanya tidak mendapatkan keuntungan yang besar bersama-sama, tetapi sama-sama rugi. Kalaupun mendapat keuntungan, sangat sedikit dibandingkan kerugian atau biaya yang harus dikeluarkan.

            Demikian pengantar pemahaman Aliran Marxisme. Untuk lebih jelasnya lagi, dapat digali dengan diskusi ataupun menambahnya dengan sumber-sumber bacaan lain.

            Sampurasun.


 Sumber:

Bakry, Umar Suryadi, 2019, Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar, Cetakan I, Januari 2019, Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2014, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga:  Jakarta

Sukarno, 1964, Dibawah Bendera Revolusi, Cet. 3, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi: Jakarta

Saturday, 28 December 2019

Indonesia, Ummatan Wasathan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pembahasan mengenai “ummatan wasathan” sudah dilakukan banyak orang. Ummatan wasathan diartikan sebagai “umat penengah, umat pertengahan, umat yang adil,  dan umat paling utama”. Banyak orang menulis pemahaman ini dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihat dari sisi ibadat, akhlak, ketuhanan, kemanusiaan, ekonomi, dan spiritual.

            Kalimat ummatan wasathan sendiri ada dalam QS Al Baqarah, 2 : 143.

            “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘ummat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu ….”

            Begitu hasil terjemahan Dr. Ahmad Hatta, M.A..

            Jika kita memperhatikan Indonesia dan hubungannya dengan negara-negara asing, Allah swt sudah menggiring Indonesia menjadi ummatan wasathan. Tampaknya, Allah swt memberikan ilham kepada para founding fathers untuk berada di tengah-tengah dunia. Hal itu bisa dilihat dari politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif”, ‘bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mendamaikan dunia’. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mau ditarik-tarik oleh dua kekuatan besar dunia, yaitu kapitalis dan komunis. Indonesia berada di tengah-tengah keduanya. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia adalah penggagas gerakan nonblok yang utama. Tidak berpihak pada blok kapitalis dan tidak berpihak pada blok komunis, tetapi aktif meningkatkan harga diri bangsa-bangsa terjajah sekaligus aktif dalam perdamaian dunia. Monumennya ada di Bandung, Jawa Barat. Ada Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika, Hotel Homman, Jln. Hofman, Braga, Dasasila Bandung, dan sebagainya.

            Dasar pemikiran untuk bertindak bagi bangsa Indonesia, tentu saja Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya memuat Pancasila. Jadi, dasar tindakan kita bukanlah ideologi kapitalis maupun komunis, melainkan Pancasila.

            Sampai sekarang pun Indonesia tetap di tengah-tengah. Indonesia bisa bersahabat dengan negara-negara kapitalis, bisa bersahabat pula dengan negara-negara komunis. Kedutaan Besar mereka ada di Jakarta. Jika duta besarnya ada di Jakarta, berarti mereka sahabat. Dengan Israel tidak bersahabat, duta besarnya tidak ada di Jakarta, duta besar Indonesia pun tidak ada di Tel Aviv. Meskipun demikian, Indonesia tidak segan-segan bersuara di tingkat internasional jika ada perilaku internasional yang dipandang melanggar nilai-nilai yang kita anut secara universal.

            Itu dilihat dari segi nilai-nilai, dasar pemikiran, dan dasar bernegara. Dalam praktiknya,  untuk menjadi ummatan wasathan, sulitnya luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari seluruh presiden di Indonesia sejak Soekarno hingga saat ini. Setiap presiden mempunyai kecenderungan/kemiringan sendiri. Terkadang miring ke kapitalis, terkadang pula ke komunis. Akan tetapi, mereka tidak pernah hendak menjadikan Indonesia sebagai kapitalis ataupun komunis. Mereka miring-miring saja karena kondisi dan situasi memaksa mereka untuk melakukan itu demi keselamatan Indonesia sendiri. Bedanya, ada yang miringnya sedikit, ada yang banyak sekali, tetapi pada dasarnya selalu kembali ke tengah. Kesulitan itu karena Indonesia sendiri masih memiliki banyak kelemahan.

            Dalam dunia olah raga, kita mengenal istilah “wasit” yang artinya sama, yaitu “pihak yang harus berada di tengah”, tidak pro ke kanan dan tidak pro ke kiri. Dia harus adil, berada di tengah. Oleh sebab itu, wasit diberi kekuasaan yang besar untuk memberikan “hukuman” kepada mereka yang melanggar aturan. Itulah bedanya dengan Indonesia. Dalam posisi, pikiran, dan jiwa Indonesia berada di tengah dunia, ‘wasathan’, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang besar untuk bertindak sebagai wasit, ‘penengah’. Hal itu disebabkan Indonesia masih lemah secara ekonomi, militer, pendidikan, dan teknologi.

            Allah swt menggiring kita ke posisi ummatan wasathan, tinggal kitanya yang harus meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan masyarakat dengan berbagai hal yang positif sehingga bermanfaat bagi manusia. Jika kita menjadi manusia-manusia yang berkualitas unggul, otomatis, insyaallah, kita menjadi ummatan wasathan yang sangat dihormati dan berpengaruh di dunia. Dengan itulah, kita akan mempersembahkan amal baik kita ke hadapan Allah swt di akhirat kelak karena telah berperan serta dalam perdamaian dunia dan keadilan manusia dengan kekuatan yang luar biasa, “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Wednesday, 11 December 2019

Kesalahan Rocky Gerung Soal Pancasila

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Baru-baru ini Rocky Gerung membuat pernyataan yang salah mengenai Pancasila dalam acara ILC di tvOne. Kesalahan pertama, ia mengatakan bahwa sila pertama dengan sila kedua adalah bertentangan dalam arti “Ketuhanan Yang Maha Esa” bertentangan dengan “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.  Menurutnya, sila ketuhanan itu mendorong manusia berbuat untuk Tuhan, sebaliknya sila kemanusiaan mendorong manusia berbuat untuk kebaikan manusia. Sebagai muslim, saya langsung ketawa mendengarnya.

            Untuk menganalisa pernyataan Rocky Gerung, mudah saja. Saya menduga keras bahwa ia berpendapat seperti itu atas dasar pengetahuannya terhadap pengalaman dan pemahaman tentang ketuhanan dan kemanusiaan yang berkembang di Eropa-Barat-Kapitalis, terutama pada masa lalu. Saat itu memang di Barat-Kapitalis kekuasaan gereja sangat mendominasi kehidupan manusia. Saking kuatnya kekuasaan gereja, sampai mengganggu jalannya pemerintahan, negara, termasuk kebebasan hidup masyarakat. Dalam perjalanannya, kekuasaan gereja tersingkir oleh negara, mulailah era sekularisme, pemisahan urusan agama dengan urusan negara. Gereja tidak boleh lagi ikut campur dalam pemerintahan. Demikian pula di tengah masyarakat yang tertekan oleh pihak gereja melakukan “pemberontakan” bahwa manusia itu harus berbuat untuk kebaikan manusia yang disebut kemanusiaan, tidak mau lagi ditekan gereja atas nama Tuhan. Bahkan, komunis pun menyatakan bahwa “Tuhan tidak ada” disebabkan gereja tidak memberikan pertolongan pada kaum buruh karena telah disuap oleh para pengusaha kapitalis. Buku-buku tentang ini sudah sangat banyak bertebaran di seluruh dunia dengan beragam bahasa. Kalau ingin tahu lebih jauh, baca saja sendiri.

            Intinya, Rocky Gerung menyatakan sila Ketuhanan dan sila Kemanusiaan saling bertentangan disebabkan pengalaman dan pemahaman yang berkembang di Barat-Kapitalis. Itu jelas salah. Kesalahannya adalah Pancasila yang digali dari Bumi Pertiwi dan nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama dianalisa dengan menggunakan pengalaman dan pemahaman hidup di Barat-Kapitalis.

            Sesungguhnya, ketuhanan dan kemanusiaan dalam keyakinan orang Indonesia, apa pun agamanya, apa pun keyakinannya, tidaklah bertentangan. Seluruh pemuka agama, apa pun agamanya, di Indonesia memiliki keyakinan yang sama bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu berasal dari keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kita melakukan kebaikan pada manusia disebabkan memang Tuhan memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap manusia dan alam semesta. Jadi, berbuat baik kepada manusia adalah perwujudan dari pengabdian manusia kepada Tuhan-nya. Sila pertama dan sila kedua dari Pancasila sama sekali tidak bertentangan.

            Kesalahan kedua Rocky Gerung adalah mengatakan bahwa “Jokowi tidak mengerti Pancasila”. Boleh dia mengatakan seperti itu jika Jokowi pernah memberikan kuliah atau pidato tentang pemahaman atau penafsiran Pancasila. Kemudian, pemahaman Pancasila Jokowi ternyata salah.

            Kalau Jokowi tidak pernah menafsirkan Pancasila dan atau Rocky Gerung tidak pernah mendengarnya, dari mana Rocky bisa menilai bahwa Jokowi tidak mengerti Pancasila?

            Rocky salah.

            Benar memang Pancasila belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, itu kan tanggung jawab semua, pemerintah bersama masyarakat. Oleh sebab itu, Pancasila disebut dasar negara sekaligus tujuan negara.

            Begitulah kesalahan Rocky Gerung atas pernyataannya tentang Pancasila.

            Sampurasun.

Thursday, 9 March 2017

Pertumbuhan Ekonomi Yang Tak Dirasakan Rakyat

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Rasanya ada yang aneh dengan Negara Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lumayan lama Indonesia diberitakan telah mampu mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi dan surplus neraca perdagangan. Dunia mengakui hal itu dan masyarakat pun melihat tampaknya pemerintah bekerja serius. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi itu sepertinya tidak dirasakan masyarakat. Artinya, masyarakat tidak ikut mengalami pertumbuhan itu. Bahkan, dalam keseharian saya menemukan orang-orang pekerja keras yang tiba-tiba mengeluh karena lesu bisnisnya, beberapa teman menelepon saya siapa tahu saya punya pekerjaan untuk mereka, banyak rencana bisnis yang gagal, banyak pedagang yang mengaku sulit mendapatkan uang, mahasiswa sulit membeli buku sekalipun buku murah, malah ada kepala dinas kesehatan yang tidak mampu membiayai kuliah anaknya di bidang kesehatan, dan lain sebagainya yang semuanya itu biasanya jarang saya dengar. Sementara itu, ada beberapa beban hidup yang mengalami kenaikan, misalnya, listrik, BBM, dan beberapa bahan pokok. Saya merasa ada kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara dengan keadaan ekonomi masyarakat yang sebenarnya.

            Pemerintah Indonesia biasanya beralasan bahwa kesulitan itu diakibatkan oleh ekonomi dunia yang sedang mengalami goncangan. Beberapa kalangan masyarakat bisa menerima alasan itu. Akan tetapi, mereka yang tidak menyukai pemerintahan Jokowi, malah memberikan ejekan kepada pemerintah bahwa berita pertumbuhan ekonomi Indonesia itu hanya hoax.

            Saya memang tidak mengerti tentang ekonomi. Jadi, saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kok bisa ya pemerintahnya menyatakan pertumbuhan ekonominya surplus, tetapi masyarakatnya kesulitan. Rasanya ada yang aneh. Seharusnya, ketika ekonomi negara tumbuh, rakyatnya pun merasakan pertumbuhan itu. Akan tetapi, kenyataannya seperti tidak nyambung antara pemerintah dengan rakyat.

            Saya sendiri merasakannya ketika akan memanfaatkan tanah kosong untuk saya jadikan kos-kosan. Saya berniat pinjam uang dari bank karena katanya menurut kabar angin yang berembus sepoi-sepoi uang di bank yang seharusnya bisa diserap masyarakat itu tidak pernah terserap habis, hanya sedikit yang terserap, sedangkan sisanya selalu banyak setiap tahunnya. Artinya, ada kesenjangan antara bank dengan masyarakat. Memang begitu kejadiannya. Ketika saya berniat meminjam, saya segera menyadari bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk membayar angsurannya karena terlalu besar dalam jangka waktu yang pendek. Perlu diketahui bahwa saya ini tidak pernah pinjam uang di bank sebelumnya karena memang anti-berhutang dan anti-punya cicilan apa pun, kecuali benar-benar untuk kebutuhan yang sangat mendesak. Daripada harus membeli barang atau kendaraan baru dengan mencicil, lebih baik membeli yang second  sesuai kemampuan saya. Kalau nggak punya uang, ya nggak perlu banyak keinginan.

            Karena terlalu besar angsuran dan terlalu pendek jangka waktu pengembalian, saya tidak jadi meminjam uang. Lebih baik, tunggu saja rezeki dari tempat lain yang tidak tahu entah dari mana, tetapi jelas dari Allah swt.

            Terlalu besarnya angsuran dan terlalu pendeknya jangka waktu pengembalian uang ke lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kelihatannya bank dan masyarakat ingin sama-sama untung, tetapi saling berhadapan, seolah-olah saling berseteru. Seharusnya kan kalau pakai falsafahnya Pancasila, lembaga keuangan dan masyarakat itu harus saling dorong, saling bantu agar mendapatkan keuntungan bersama-sama. Sekarang ini rasanya masih kapitalis karena bank ingin untung besar dengan berbagai syaratnya dan masyarakat juga ingin untung, tetapi megap-megap untuk mengembalikan cicilan. Bank sepertinya berniat menggelontorkan pinjaman, tetapi hanya untuk keuntungan dirinya.

            Ada baiknya bank memperpanjang jangka waktu pengembalian sampai sepuluh atau lima belas tahun sehingga masyarakat di samping dapat mengembalikan dengan mudah dan murah, juga menikmati dengan cepat hasil bisnisnya. Jangan seperti sekarang ini, masyarakat yang meminjam uang masih banyak yang belum menikmati hasil usahanya, tetapi sudah dipusingkan terlebih dahulu untuk membayar cicilan setiap bulannya.

            Saya menduga jika jumlah angsurannya rendah, kasus-kasus kredit macet, penyitaan aset, dan kasus hutang-piutang yang kerap berakhir dengan keributan bisa diminimalisasi. Kalau sekarang kita masih melihat banyak kasus negatif akibat ekonomi uang, kan biasanya masyarakat tidak mampu lagi membayar cicilan, tetapi masih memiliki harapan usahanya bisa berkembang dan membutuhkan tambahan waktu untuk melakukan pembayaran.

            Sebaiknya, segera dipikirkan agar setiap lembaga keuangan lebih mendekatkan diri pada kenyataan riil yang terjadi di masyarakat. Artinya, lembaga keuangan dapat lebih memahami kemampuan masyarakat dan lebih menurunkan atau melonggarkan berbagai persyaratannya sehingga masyarakat dapat lebih banyak menyerap dana bank dan mampu berbisnis dengan berbagai lembaga keuangan sehingga tercipta kehidupan ekonomi yang saling membantu dan saling mendorong untuk kemakmuran bersama. Itu namanya Pancasilais; gotong royong, bukan kapitalis dan bukan pula komunis. Kita bisa untung sama-sama, adil sama-sama pula sebagaimana Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

            Seperti saya bilang tadi, saya bukan ahli ekonomi dan tidak mengerti-mengerti amat tentang bank atau lembaga keuangan. Akan tetapi, saya punya harapan jika lembaga keuangan dapat lebih memahami masyarakat serta masyarakat dapat lebih mudah dan ringan berhadapan dengan lembaga keuangan, masyarakat pun akan lebih disiplin dalam berhubungan dengan bank dan mengembangkan usahanya. Tidak lagi seperti Tom and Jerry yang terus-terusan kejar-kejaran seumur hidup tanpa pernah berhenti.


            Sampurasun.