Showing posts with label Konflik. Show all posts
Showing posts with label Konflik. Show all posts

Tuesday, 27 December 2022

Orang Indonesia Jangan Bodoh Kayak Orang Timur Tengah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tidak semua orang Timur Tengah bodoh, tetapi kebanyakan mereka bodoh. Ada memang yang cerdas, ada yang shaleh, dan ada juga yang bijaksana, tetapi mayoritas mereka sangat bodoh. Orang-orang bodoh yang saya maksud adalah mereka yang membuat dan membiarkan negara tempatnya hidup hancur berantakan. Saya bilang mayoritas bodoh karena memang wilayah tempat mereka hidup hancur-hancuran, jauh dari kemanusiaan. Lihat saja Irak, Suriah, Afghanistan, Libya, dan yang lainnya. Mereka berantakan. Padahal, agamanya sama; bahasanya sama mirip, Arab; daratannya sama. Kalau mayoritas mereka cerdas, pasti orang-orang bodoh dapat mereka kendalikan dan sisihkan. Justru, orang-orang baik terpinggirkan dan orang-orang bodoh merajalela. Beberapa orang baik dan shaleh itu datang ke Indonesia.

            Dalam ceramahnya, mereka kerap menyerukan, “Jaga negeri kalian, Indonesia!”

            Mereka sangat paham dan merasakan penderitaan luar biasa akibat negara tempat tinggalnya menjadi lebur dalam sengketa dan runtuh gara-gara konflik. Oleh sebab itu, mereka tidak rela jika saudara seimannya di Indonesia mengalami hal yang serupa.

            Orang-orang bodoh itu menyangka sedang memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan agamanya, tetapi sesungguhnya sedang merusakkan diri mereka sendiri. Mereka tidak sadar sebenarnya mereka telah diadu domba oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang sama sekali tidak memikirkan nasib manusia dan agamanya.

            Dari hampir semua penelitian yang dilakukan mahasiswa saya dan berbagai jurnal yang meneliti tentang Timur Tengah, selalu saja saya menemukan benang merah hal ihwal konflik itu. Benang merah itu adalah konflik akibat rebutan minyak bumi. Apa pun isunya, intinya tetap soal minyak bumi. Mau isunya menegakkan demokrasi, Ham, menegakkan khilafah, sunni lawan syiah, atau yang lainnya, intinya tetap saja rebutan ingin menguasai minyak bumi. Para politisi dan pengusaha serakah dari seluruh dunia memangsa wilayah Timur Tengah dengan cara mengadu domba orang-orang melalui berbagai isu seperti yang tadi saya sebutkan: demokrasi, Ham, menegakkan khilafah, sunni lawan syiah, atau yang lainnya. Hasilnya, karena terlalu banyak orang bodoh, mereka pun berkelahi karena ditipu politisi dan pengusaha serakah kapitalis yang sama sekali tidak memikirkan nasib rakyat dan agama.

            Kini zaman telah bergeser dan pada masa depan kebutuhan terhadap minyak bumi akan berkurang, tergantikan oleh baterai, listrik. Nanti akan banyak mobil, motor, dan mesin-mesin lain yang energinya berasal dari baterai bukan lagi minyak bumi. Bahan mentah penting baterai itu ada di Indonesia, yaitu nikel dan lithium. Sekarang lithium mulai ditemukan di Sidoarjo bekas lumpur Lapindo itu. Artinya, dalam beberapa tahun mendatang seluruh dunia membutuhkan nikel dan lithium untuk menjadi sumber energi. Mereka akan mati-matian untuk mendapatkan itu dari Indonesia. Hal itu sekarang saja sudah bisa dilihat bagaimana Uni Eropa menyerang Indonesia, 27 negara mengeroyok Indonesia melalui jalur politik dan diplomasi untuk menguasai nikel Indonesia.

            Apabila di Indonesia terlalu banyak orang bodoh, nasibnya akan sama, bahkan mungkin lebih mengerikan dibandingkan wilayah-wilayah di Timur Tengah yang rusak parah itu hingga kini. Rakyat Indonesia akan diadu domba para politisi dan pengusaha kapitalis serakah dengan menggunakan isu agama yang murahan itu. Saling mengafirkan, merasa paling benar sendiri, menganggap mereka sudah terdaftar sebagai penduduk surga di catatan Malaikat Ridwan sebagai panjaga surga, bahkan berani menghalalkan darah sesama muslim sendiri. Mereka tidak sadar bahwa sedang diadu domba agar lemah sehingga sumber alam berupa nikel, lithium, atau mineral lainnya dapat dikuasai oleh orang-orang licik.

            Dugaan atas tanda-tanda ke arah adu domba itu sudah tampak. Coba kita ingat kasus pengurangan volume adzan yang diimbaukan oleh Menteri Agama RI Gus Yaqut. Hal itu menimbulkan protes keras dengan kalimat-kalimat kasar, seperti, kafir, dzalim, murtad, dan thagut. Protes dengan makian kasar yang menyerang pribadi Gus Yaqut itu dilakukan oleh orang Islam sendiri. Padahal, kalau merasa sesama muslim dan sama-sama ingin berbuat kebaikan untuk kemuliaan Islam, dapat dilakukan dengan cara yang baik, sebagaimana yang diajarkan Allah swt, yaitu tabayun sembari silaturahmi. Minta penjelasan yang baik dan bertemu dengan baik pula. Kalau harus diskusi atau berdebat, lakukanlah hingga didapat kesepakatan dan kesamaan pemahaman yang baik hingga situasi tetap baik. Coba saat itu ketika Gus Yaqut dihina disamakan dengan anjing, GP Ansor bersama Banser yang mencapai tujuh juta itu marah, lalu melakukan pembalasan fisik, konflik berdarah pasti tak terhindarkan, kematian akan banyak mewarnai pemberitaan. Terjadilah adu domba itu dengan lebih nyata. Sementara itu, para politisi jahat dan pengusaha serakah tertawa-tawa karena umat Islam mulai sangat lemah yang pada gilirannya nikel, lithium, dan berbagai sumber daya alam lainnya akan sangat mudah dikeruk dari rakyat Indonesia. Hal ini akan menjadi mirip kejadian di Timur Tengah. Beruntung GP Ansor dan Banser dapat dikendalikan, kemarahan mereka dapat diredam. Kalau tidak, kita semua bisa rusak parah.


Protes Pengurangan Volume Adzan (Foto: Makasar Terkini - Terkini.id)


            Foto hinaan kepada Gus Yaqut saya dapatkan dari Makasar Terkini – Terkini id.

            Orang Indonesia jangan bodoh seperti orang-orang Timur Tengah. Kalau kita tidak cerdas melihat dan menganalisa situasi, kita akan mengalami nasib yang mengerikan, diadu domba, dan kita tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kerugian dan kerusakan parah. Jika ada masalah, kita punya jalan keluar yang biasa disebut dengan cara “kekeluargaan”, itu kearifan lokal yang harus dijaga. Jangan seperti orang-orang sono, perpustakaan berubah menjadi gudang senjata untuk membunuh saudaranya sendiri.

            Bagaimana akan ada generasi muda cerdas jika perpustakaan sudah menjadi gudang senjata?

            Indonesia harus cerdas dan bijaksana hingga menjadi sinar kebaikan bagi dunia.

            Bukankah banyak yang bercita-cita bahwa umat Islam Indonesia akan menjadi pemimpin dunia?

            Lakukanlah dengan cara cerdas dan bijaksana. Cara-cara seperti orang Timur Tengah akan menghancurkan harapan dan cita-cita karena sudah terbukti menimbulkan kerusakan bagi manusia.

            Sampurasun

Thursday, 26 March 2020

Aliran Marxisme


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam buku Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar yang disusun Umar Suryadi Bakry, Cetakan I, Januari 2019, yang diterbitkan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, dijelaskan dengan baik mengenai Aliran Marxisme/Strukturalisme. Tokoh-tokohnya, antara lain, Karl Marx dan Friederich Engels yang disebut-sebut sebagai “Bapak Pendiri Komunisme”. Adapula Vladimir Lenin yang melihat ketimpangan antara negara penjajah dengan negara jajahannya. Di samping itu, ada Immanuel Wallerstein dan Robert Cox yang berpaham Neo-Marxis dalam kata lain memberikan kritik dan mengembangkan teori-teori klasik Karl Marx. Dengan demikian, Aliran Marxisme memiliki beberapa varian sesuai pemikiran tokoh-tokohnya tersebut.

            Karl Marx adalah seorang filsuf besar sekaligus pakar ekonomi politik kelahiran Prusia (sekarang Jerman) 1818. Salah satu tulisannya yang sangat terkenal adalah Manifesto Komunis yang mengilhami banyak pemikir strukturalis hingga saat ini.

            Marx berpendapat bahwa inti dari kekuatan ekonomi adalah modal (alat-alat produksi). Oleh sebab itu, di dalam masyarakat yang kapitalis akan terbentuk kekuasaan-kekuasaan ekonomi berdasarkan kepemilikan atas modal. Ada penguasa modal (borjuis) dan ada kaum proletar. Kedua kelas ini akan selalu bertarung untuk mendapatkan modal atau alat-alat produksi.

            Pemikiran Karl Marx yang seperti inilah yang banyak ditulis orang ketika mendeskripsikan pertarungan antara kapitalis (para pemodal) dengan komunis (kaum proletar, buruh). Hampir semua orang memahami bahwa kaum komunis adalah kaum yang memerangi kaum kapitalis karena selalu terpinggirkan dalam menguasai kapital (modal).

            Hal seperti ini pula yang coba digambarkan oleh Presiden ke-1 RI Soekarno dalam bukunya Dibawah Bendera Revolusi (1964). Menurutnya, kaum komunis adalah kaum yang merasa hak-haknya dirampok oleh kaum pengusaha. Hak perumahan, hak kesehatan, hak berpenghasilan besar, dan hak-hak lainnya diambil oleh pengusaha dalam sistem kapitalisme. Oleh sebab itu, kaum proletar ini berlari-lari kesana-kemari untuk meminta pertolongan. Mereka meminta bantuan raja dan para bangsawan, sayangnya raja dan para bangsawan mendukung para kapitalis. Mereka pun meminta bantuan gereja, sayangnya banyak gereja yang sudah disuap oleh para pengusaha kapitalis sehingga justru gereja semakin menyudutkan kaum komunis. Dengan demikian, kekecewaan kaum komunis pun menjadi-jadi sehingga tumbuh kemarahan dengan mengatakan “Tuhan tidak ada”.

            Karl Marx banyak menganalisis ketimpangan-ketimpangan dalam sebuah negara/domestik yang ditandai dengan terjadinya perjuangan kelas antara kaum borjuis dan kaum proletar. Bahkan, perjuangan atau pertarungan di antara kaum kapitalis sendiri banyak menimbulkan konflik dan perang-perang di dunia. Mereka bertikai hanya karena perebutan modal. Berbeda dengan Vladimir Lenin yang lebih suka memperhatikan hubungan-hubungan ekonomi internasional. Lenin pun mengkritik kapitalisme yang disebutnya sebagai sumber dari konflik dan perang. Lenin lebih melihat adanya penguasaan atau dominasi yang dilakukan negara penjajah pada negara jajahannya yang kemudian memunculkan adanya negara kaya dan maju serta negara miskin dan terbelakang.

            Berbeda pula dengan pandangan para ahli Neo-Marxisme yang lebih berdamai dengan sistem kapitalisme. Menurut mereka, negara dan kapitalisme adalah saling membutuhkan untuk menciptakan kehidupan ekonomi yang lebih baik. Negara-negara miskin dan terbelakang suatu saat akan menjadi negara maju dan kaya. Demikian pula, negara-negara maju dan kaya dapat jatuh menjadi negara miskin dan terbelakang. Hal ini mungkin saja terjadi sesuai dengan situasi politik, budaya, dan lingkungan alam. Politik bisa menjatuhkan dan memajukan sebuah negara, begitu pula dengan budaya. Hal yang sama pun bisa terjadi karena perubahan lingkungan alam, bencana besar, wabah penyakit, serta perubahan iklim sangat mungkin mengubah kondisi ekonomi dan politik suatu negara. Bagi neo-marxisme, pertarungan yang tersisa pada zaman ini hanya antara para pengusaha dan kaum buruh, tidak lagi antarnegara atau yang lainnya.

            Meskipun memiliki banyak varian, Aliran  Marxisme memiliki elemen-elemen pokok yang menyatukan perbedaan mereka. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Umar Suryadi Bakry (2019), yaitu: Pertama,         manusia secara individu bersifat kooperatif, namun hubungan antarmanusia dalam sebuah kelompok (masyarakat, negara, hubungan antarnegara) cenderung bersifat konfliktif. Manusia sesungguhnya adalah makhluk sosial sehingga selalu ada keinginan untuk berhubungan secara kooperatif dan positif. Akan tetapi, jika sudah berada dalam suatu kelompok, mereka cenderung membela kelompoknya karena kesamaan kepentingan. Dalam hal ekonomi, manusia akan bersama-sama dengan manusia lainnya yang memiliki perasaan dan kepentingan ekonomi yang sama sekaligus menentang kelompok lainnya yang memiliki perasaan dan kepentingan ekonomi yang berbeda.

            Kedua, konflik muncul dari persaingan antarkelompok individu, khususnya antara pemilik modal/sarana produksi (kelas borjuis) dan pekerja (kelas proletar). Pengusaha kerap memiliki kepentingan yang berbeda dengan para pekerjanya. Seringkali perbedaan ini tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik yang akibatnya timbul rasa saling curiga dan tarik-menarik kepentingan. Pengusaha sering ingin cepat mengembangkan perusahaannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Sementara itu, para pekerja memikirkan kesejahteraan dan kemakmuran dirinya yang harus dipenuhi oleh para pengusaha.

            Ketiga, negara (state) biasanya bertindak untuk mendukung pemilik modal (sarana produksi) sehingga menempatkan negara dan pekerja dalam posisi berhadapan satu sama lain. Dalam pemikiran dan pengalaman hidup kaum marxis/komunis, negara selalu melindungi dan bersahabat dengan para pengusaha karena para pengusaha itu memiliki kedekatan dengan penguasa, negara, dan memberikan banyak dukungan materi, baik melalui pajak maupun nonpajak seperti hadiah-hadiah. Dengan kedekatan itu, para pekerja merasa dirinya jauh dari negara sehingga tak jarang mengambil sikap bertentangan dengan negara.

            Keempat, dalam sistem kapitalis, terdapat hubungan yang bersifat eksploitatif dan ketidakadilan (inequality) antara pemilik modal dan pekerja serta antara negara-negara maju (centre) dengan negara-negara sedang berkembang (periphery). Dalam pandangan mereka, pengusaha selalu mengeksploitasi para pekerja, kaum borjuis kerap memeras proletar. Demikian pula negara maju selalu melakukan pemerasan atau melakukan banyak tekanan pada negara-negara lemah. Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan ketidakadilan.

            Kelima, hal-hal tersebut menciptakan kondisi interaksi antara pemilik modal dan pekerja serta antara negara maju dengan negara sedang berkembang adalah zero sum game. Kedua-duanya tidak mendapatkan keuntungan yang besar bersama-sama, tetapi sama-sama rugi. Kalaupun mendapat keuntungan, sangat sedikit dibandingkan kerugian atau biaya yang harus dikeluarkan.

            Demikian pengantar pemahaman Aliran Marxisme. Untuk lebih jelasnya lagi, dapat digali dengan diskusi ataupun menambahnya dengan sumber-sumber bacaan lain.

            Sampurasun.


 Sumber:

Bakry, Umar Suryadi, 2019, Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar, Cetakan I, Januari 2019, Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2014, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga:  Jakarta

Sukarno, 1964, Dibawah Bendera Revolusi, Cet. 3, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi: Jakarta

Saturday, 25 January 2020

Terima Kasih AS, tetapi Tidak


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Penolakan yang dilakukan Mahfud M.D. atas tawaran yang diberikan Amerika Serikat (AS) untuk membantu Indonesia dalam menghadapi Cina (25-01-2020) terkait masalah di Laut Natuna Utara adalah sangat tepat. Sebagai orang Indonesia yang memiliki nilai dan tata-titi khas dalam bergaul, tentunya kita harus berterima kasih atas tawaran bantuan yang diberikan AS dalam menghadapi masalah. Akan tetapi, kita pun harus mengerti bahwa dalam pergaulan internasional, tidak ada yang gratis, “no free lunch”, ‘tak ada makan siang gratis’. Semua pasti ada maunya. Demikian pula dengan tawaran bantuan dari AS. Mereka menawarkan bantuan karena ada maunya, minimal mendapat “teman” dalam menghadapi Cina karena AS dengan Cina sedang perang dagang. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan Menkopolhukam Mahfud M.D. menolak bantuan AS.

            Dilihat dari sisi politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” sangat tepat. Kita tidak mau dipengaruhi atau ditekan pihak mana pun dan ingin aktif mendorong perdamaian dunia. Jika terseret pada konflik negara lain, kita akan tidak bebas dan sulit aktif mendorong perdamaian dunia.

            Di samping itu, masalah dengan Cina secara perlahan bertahap, namun tegas sudah dilakukan dan hasilnya tampak nyata.  Urusan dengan Cina itu masih sekedar pelanggaran hukum yang dilakukan Cina  terhadap kawasan hak berdaulat Indonesia di Laut Natuna Utara, bukan perang. Cara mengatasinya, cukup nelayan Cina ditangkap dan coast guard Cina diusir atas nama hukum yang berlaku secara internasional.

            Sekarang Cina mundur dari kawasan itu, lalu mengeluarkan pengakuan bahwa Laut Natuna Utara adalah milik Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia harus tetap waspada karena dulu juga Cina begitu kok. Ketika Susi Pudjiastuti masih menjadi menteri dan marah dengan lantang pada Cina, lalu melakukan penenggelaman kapal, Cina mundur dan mengakui hak berdaulat Indonesia di kawasan itu, tetapi ketika Indonesia lengah, mereka mencuri lagi.

            Sikap yang diambil Indonesia melalui Mahfud M.D. sudah tepat. Konflik dengan Cina tidak membesar dan meluas, persahabatan dengan Cina bisa terus dijalin, persahabatan dengan Amerika Serikat juga tetap terjaga, serta Indonesia tetap memiliki harga diri dan tetap pada jalur politik luar negeri bebas dan aktif.

            Martabat Indonesia pun insyaallah akan semakin meningkat secara militer dalam menjaga negaranya di darat, di laut, dan di udara jika Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto berhasil membeli banyak kapal selam, pesawat tempur, dan Alutsista lainnya. Dengan demikian, Indonesia semakin mandiri dan kuat, tidak perlu bersandar hidup pada negara lain.

            Terima kasih Amerika Serikat, tetapi kami bisa mengatasinya sendiri.

            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Para Pemimpin Agama Jangan Munafik

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berbagai konflik di dunia ini sangat sering dipenuhi konflik yang mengatasnamakan agama. Rebutan tanah, sumber daya alam, kekuasaan, uang, dan pasar kerap menggunakan agama sebagai alasan. Agama dijadikan daya tarik dan justifikasi terhadap perang-perang yang dilakukan. Sejarah mencatat itu semua.

            Hampir seluruh agama tercatat para pemimpinnya pernah menggunakan agamanya untuk kepentingan politik dan ekonomi. Mereka pun sering menghina dan menjelek-jelekan agama lain di hadapan publik hanya untuk membuat pembenaran atas perilaku kekerasan yang dilakukan kelompoknya atau mereka yang telah memberikan janji politik dan ekonomi pada para pemimpin agama itu. Para pemimpin Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dan beberapa agama kecil memiliki catatan kekerasan dan teror, baik pada masa lalu yang waktunya jauh dari kita maupun pada masa sekarang ini.

            Para pemimpin agama seharusnya menggunakan agamanya untuk menciptakan perdamaian dan kasih sayang di muka Bumi, bukan melegitimasi kekerasan dan perang. Para pemimpin agama harus memiliki jiwa dan hati yang lebih besar dan lapang dibandingkan umatnya. Mereka harus lebih tenang dan jernih dalam berpikir serta mempertimbangkan sesuatu. Para pemimpin agama sudah seharusnya menjadi agen-agen pemberi solusi, pemecah masalah, dan penghenti konflik. Bukan sebaliknya, para pemimpin agama justru merupakan bagian dan provokator konflik.

            Para pemimpin agama. Agama apa pun itu sangat tidak pantas berperilaku munafik. Di hadapan publik dan masyarakat dunia mereka tampil sebagai orang-orang saleh dengan berbagai atribut keagamaannya menyatakan sebagai pecinta perdamaian, tetapi pada saat yang sama mereka berkolaborasi dengan penguasa ataupun pengusaha melakukan kerja-kerja rahasia yang membuat kusut kehidupan manusia. Pemimpin agama seperti ini adalah pemimpin yang munafik. Sangat tidak pantas pemimpin agama berperilaku kotor seperti itu.

            Setiap pemimpin agama sudah seharusnya mengendalikan umatnya masing-masing agar tidak menjadi bagian dari konflik. Seluruh pemimpin agama wajib menenangkan setiap umatnya masing-masing dan jangan ikut-ikutan membuat provokasi bahkan menyebarkan hoax. Apabila setiap pemimpin agama mampu menyadarkan umatnya untuk tidak memicu konflik, tidak terlibat dalam konflik, dan menghindari kekusutan, dunia ini akan damai dan tenteram.

            Jika ada umatnya yang melecehkan agama lain, seharusnya pemimpinnya memberikan kesadaran bahwa perilaku umatnya itu sesungguhnya merugikan agamanya sendiri. Tak pernah ada kejadian suatu agama menjadi mulia disebabkan umatnya menghina agama lain. Sesungguhnya, kemuliaan suatu agama atau suatu umat beragama terwujud dari perilakunya dalam menghormati orang lain dan membiarkan orang lain melakukan keyakinannya masing-masing. Di samping itu, suatu agama akan tampak lebih mulia jika mampu pula menghormati mereka yang belum beragama atau tidak beragama. Mereka belum meyakini agama karena mereka belum mendapatkan pengetahuan tentang agama dengan benar. Apabila kita mudah menuduh orang lain sebagai calon penghuni neraka, kemuliaan kita pun akan merosot dan jatuh dalam kehinaan.

            Mulai saat ini tak boleh ada lagi pemimpin agama yang memberikan pembenaran untuk konflik-konflik atau perang-perang yang terjadi. Semua agama sudah seharusnya menghormati hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Jangan ada lagi pemimpin agama yang mau disuap dengan janji politik ataupun ekonomi hanya untuk mempertahankan kekisruhan yang terjadi.

            Pemimpin agama apa pun yang melegalkan pembunuhan dan perang tanpa alasan yang jelas adalah para pendusta. Kita diperbolehkan perang hanya untuk membela diri, membela harga diri, membela harta benda yang kita miliki, dan menciptakan keadilan. Jika kita diperangi, diusir, diburu, dikejar, dianiaya, dan diancam dibunuh, kita harus membela diri, kehormatan, dan keadilan. Kalaupun harus berperang, berperanglah untuk membela diri dan bukan untuk merampok orang lain.

            Akan tetapi, kita tidak boleh memulai perang, memulai konflik, atau mencari gara-gara agar terjadi huru-hara. Saya orang Islam yang meneladani Muhammad saw. Sang Nabi saw tidak pernah memicu perang atau mengobarkan kebencian. Muhammad saw melakukan perang hanyalah untuk membela diri, menjaga kehormatan, dan mewujudkan keadilan. Tidak pernah Nabi Muhammad saw menjadi penyebab suatu perang.

            Sebutkan satu perang saja yang dilakukan Nabi Muhammad saw yang pemicunya adalah Nabi Muhammad saw sendiri.

            Pasti tidak ada!

            Saya jamin itu.

            Kalau ada, itu berarti kalian mendapatkan hoax. Saya dengan senang hati membongkar kebusukan kisah hoax itu.


            Sampurasun.

Friday, 7 April 2017

Zaman Akhir

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir selalu ramai dibicarakan orang di seluruh dunia dari zaman ke zaman. Kisah ini memiliki kesamaan akhir, yaitu adanya orang atau pihak yang benar, adil, dan kuat dalam mengatasi berbagai persoalan di dunia. Muslim, Kristen, Yahudi memiliki kisah-kisah tentang zaman akhir ini. Kaum muslimin meyakini bahwa kaum musliminlah yang akan menjadi pemenang dalam akhir zaman. Kaum Kristen juga meyakini bahwa Yesus dan Kristen yang akan menang. Umat Yahudi pun sama meyakini bahwa imam merekalah yang akan menjadi pemenang. Setiap umat dari agama yang berbeda itu berseteru mulai dari keyakinan sampai adu fisik bersenjata untuk mewujudkan berbagai ramalan zaman akhir itu.

            Pertanyaannya adalah pernahkah ada yang melakukan penelitian dan memeriksa apakah kabar-kabar zaman akhir itu benar-benar memiliki dasar sumber yang jelas atau hanya karangan orang-orang emosional?

            Kisah mana yang benar sesungguhnya?

            Kisah dari kaum muslimin, kisah dari kaum Kristen, atau kisah dari para Yahudi?

            Tidak mungkin ketiga versi berbeda itu semuanya benar. Harus ada yang benar dan harus ada yang salah karena memiliki banyak perbedaan, terutama tentang pihak yang akan menjadi pemenang dan menguasai dunia pada zaman akhir. Bisa pula ketiga kisah itu adalah semuanya palsu serta hanya karangan para pengkhayal dan dongengan mereka yang emosional.

            Sekarang saya hanya berbicara kepada kaum muslimin karena saya orang Islam dan memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan. Soal umat Kristen dan Yahudi, urusan mereka sendiri meskipun boleh juga mereka mengambil pelajaran dari apa yang saya tulis ini.

            Kisah-kisah akhir zaman di kalangan umat Islam biasanya bersandar pada ceritera dari para ulama masa lalu dan keterangan-keterangan yang diklaim sebagai hadits. Sayangnya, saya sangat yakin sejuta persen sampai hari ini tak ada orang Islam yang memeriksa apakah sumber-sumber kisah itu bisa dipercaya atau tidak. Tak ada yang mencoba menelusuri apakah kisah-kisah itu saling bertolak belakang antara satu sumber dengan sumber yang lainnya atau tidak. Tak kelihatan apakah ada orang yang memeriksa kisah-kisah yang diklaim hadits itu benar atau tidak.

            Dulu juga saya benar-benar percaya dengan kisah-kisah yang beredar luas itu. Ada beberapa tulisan saya di blog ini tentang keyakinan saya yang dulu itu. Akan tetapi, ketika meyakini bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu dipenuhi hoax, saya mulai meragukan kebenaran keseluruhan kisah-kisah akhir zaman. Hal itu disebabkan semua kisah tentang akhir zaman, baik itu versi muslim, kristian, maupun yahudian, seluruhnya bermuara pada perebutan kekuasaan di Palestina, terutama di area berdampingannya masjid, gereja, dan tembok ratapan. Ketika saya meyakini bahwa kisah tentang Masjid Al Aqsha penuh dengan kepalsuan, seluruh kisah akhir zaman itu menjadi tidak penting lagi.

            Bagaimana kisah-kisah itu tidak palsu dan hoax?

            Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan Isra Miraj dari Mekah ke Masjid Al Aqsha di Palestina.

            Bagaimana mungkin peristiwa itu adalah benar-benar terjadi?

            Isra Miraj itu terjadi pada 620 Masehi. Adapun Masjid Al Aqsha mulai dibangun pada 638 Masehi. Artinya, ada selisih delapan belas tahun antara peristiwa Isra Miraj dengan awal pembangunan Al Aqsha. Isra Miraj dulu terjadi, lalu delapan belas tahun kemudian Al Aqsha mulai dibangun.

            Bagaimana mungkin Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Mekah menuju masjid yang belum dibangun dan area itu masih dalam pengawasan ketat pasukan Romawi?

            Mustahil!

            Mikir!

            Lagian, masjid itu awalnya bukan bernama Al Aqsha, melainkan Masjid Umar. Hal itu disebabkan selepas Umar bin Khattab ra menaklukan Romawi pada 636 Masehi, mencari tempat untuk shalat. Seorang pendeta Romawi memilihkan tempat dan mengantarkan Umar pada tempat yang dianggapnya tepat untuk shalat. Di tempat itulah dibangun Masjid Umar, bukan Masjid Al Aqsha. Pada dinasti-dinasti berikutnya Masjid Umar yang kecil itu diperlebar, diperbesar, dan namanya diubah menjadi Masjid Al Aqsha.

            Begitu Bro ceriteranya. Jadi, saat Nabi Muhammad saw Isra Miraj, masjid itu belum ada dan memang bukan ke situ tujuannya. Allah swt itu memperjalankan Nabi Muhammad saw sesungguhnya ke Candi Borobodur, Indonesia, karena candi itulah yang sebenarnya dimaksud Allah swt sebagai Masjid Al Aqsha (Masjid Terjauh). Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Bukan Al Aqsha yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha. Silakan bantah saya. Saya senang dibantah kok, asal membantahnya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan emosi kampungan.

            Jangan langsung percaya dengan kisah-kisah zaman akhir meskipun diklaim berasal dari hadits. Sangat mungkin itu hanya dongeng, kemudian dikatakan sebagai hadits. Mudah kok bikin hadits. Kalian buat saja kisah atau ajaran yang tampaknya baik, lalu bilang saja itu adalah berasal dari Bukhari Muslim. Orang akan segera yakin bahwa itu adalah benar-benar hadits, apalagi kalau kalian berceriteranya dengan menggunakan pakaian seperti Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Orang akan melongo dan percaya begitu saja.

            Ada nasihat yang sangat bagus dari Hj. Irene Handoyo, mualaf yang kini menjadi mubalighah beken di Indonesia. Ia mewanti-wanti bahwa tidak perlu langsung percaya dan harus berhati-hati dengan hadits-hadits tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman. Hal itu disebabkan menurutnya, hadits-hadits itu berasal dari orang-orang Kristen yang masuk Islam belakangan.

            Kita pun harus ingat bahwa area yang menjadi pusat kisah akhir zaman itu adalah sejak dulu menjadi area perebutan kepentingan politik dan ekonomi antara muslim, Kristen, dan Yahudi. Akan tetapi, ketika dongeng-dongeng kehebatan Yerusalem disebarkan oleh para penyair muslim zaman dinasti Umayah, kaum Kristen dan Yahudi mendukungnya pula karena akan menjadikan Yerusalem pusat perhatian dunia. Itu artinya ada keuntungan politik dan ekonomi di sana.

            Tak heran jika Nabi Muhammad saw dulu begitu sedih ketika Allah swt memerintahkannya untuk shalat menghadap ke timur, tepat mengarah pada Candi Borobudur. Lumayan lama Nabi Muhammad saw merasakan kesedihan itu. Sering sekali ia menengadah ke atas langit dengan harapan Allah swt mengubah kembali kiblatnya ke Mekah dan bukan lagi ke Candi Borobudur. Hal itu disebabkan mungkin ia sangat khawatir umatnya akan tersesat (saya tidak tahu perasaan Nabi yang sebenarnya karena itu hanya perasaan) karena umat Kristen dan Yahudi sangat senang dengan pemindahan kiblat itu. Shalat menghadap Candi Borobudur adalah searah melewati Yerusalem yang membuat Yahudi dan Kristen membuat hoax bahwa Nabi Muhammad saw menghadap ke kiblat yang sama dengan Yahudi dan Kristen. Sesungguhnya, pemindahan kiblat itu adalah pelajaran dari Allah swt bahwa yang namanya kebaikan dan kebenaran itu bukan soal timur dan barat; eksistensi Allah swt tidak berada di barat dan timur. Sesungguhnya, kebaikan dan kebenaran itu berasal dari Allah swt. Ke mana pun wajah kita menghadap di sanalah Allah swt berada.

            Yahudi dan Kristen sangat bergembira dengan pemindahan kiblat itu karena mereka sudah sejak lama membujuk dan merayu Muhammad saw untuk shalat menghadap Yerusalem. Mereka sudah lama sekali memperjuangkan itu. Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah kepentingan politik dan ekonomi.

            Hal ini ada dalam Asbabun Nuzul QS Al Baqarah  2 : 120 dalam Tafsir Quran Per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul & Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A. yang menyebutkan bahwa Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani Najran mengharapkan Rasulullah saw shalat menghadap kiblat mereka. Kiblat Yahudi dan Nasrani Najran itu berada pada satu tempat yang sama, yaitu di tempatnya yang sekarang berdampingan dengan Masjid Al Aqsha. Dalam perhitungan manusia, jelas sekali jika di tempat itu bergabung tiga kiblat agama besar dunia, keuntungan politik dan ekonomi akan didapatkan dengan sangat besar berlimpah ruah. Hal itu menunjukkan bahwa khayalan para penulis muslim zaman Dinasti Umayah mengenai kesucian Yerusalem mendapatkan dukungan pula dari orang-orang Yahudi dan Nasrani.

            Sesungguhnya kisah-kisah zaman akhir itu hanya bersandarkan pada kisah-kisah kuno tentang perebutan wilayah Palestina yang dianggapnya dapat menghasilkan keuntungan politik dan ekonomi. Orang Indonesia tidak perlu ikut-ikutan rebutan tanah itu karena Indonesia jauh lebih subur dan makmur berlipat-lipat dibandingkan tanah gersang dan penuh pertikaian itu.


Bergerak karena Hoax
Saya sungguh menyayangkan banyak kaum muslimin yang mudah percaya dengan kisah-kisah akhir zaman itu. Padahal, kisah-kisah itu bukan dari Al Quran, melainkan dari ceritera-ceritera masa lalu dan syair-syair yang kemudian diklaim sebagai hadits tanpa diperiksa kebenarannya. Sungguh sangat disayangkan jika kaum muslimin mau mempertaruhkan nyawanya karena yakin bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu adalah tempat pemberhentian Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan perintah shalat. Padahal, kisah itu hanya hoax karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Benar-benar menyedihkan kiranya jika para pemuda Islam bersedia mengorbankan dirinya karena yakin bahwa daerah-daerah yang sekarang banyak terjadi konflik dikisahkan sebagai “tanah suci”, padahal kisah-kisah itu mendukung dan bermuara pada kisah hoax tentang Nabi Muhammad saw berhenti di Palestina sehingga wajib hukumnya membentuk pusat pemerintahan dunia di Yerusalem.

            Sesungguhnya, ada jihad besar di Indonesia yang lebih harus diperjuangkan, yaitu jihad mencapai tujuan nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin. Kemakmuran lahir dan kemakmuran batin setiap manusia Indonesia harus diperjuangkan dengan jihad yang sungguh-sungguh, baik dengan mendukung pemerintah jika berjalan dengan baik, benar, dan tepat, maupun dengan kritikan keras apabila pemerintah tidak berjalan dengan baik, benar, dan tepat.

            Kalau Saudara-saudaraku sesama muslim menyukai ramalan, saya beri satu ramalan dari penulis tingkat dunia, Muhammad Isa Dawud, yaitu pada masa depan Indonesia akan menjadi pusat penyebaran agama Islam di dunia.

            Tidak tertarikkah kita berjuang untuk mewujudkan ramalan itu?


            Sampurasun.

Sunday, 22 November 2015

Tawarkan Indonesia pada Dunia


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dulu sekali ketika saya masih SMA, sering berdiskusi di Masjid Agung Bandung yang kini semakin cantik karena ditata dengan lebih baik dalam kepemimpinan Walikota Bandung Ridwan Kamil. Di sana itu banyak aktivis remaja masjid yang berkumpul saling berkenalan, diskusi, dan bertukar informasi. Karena saya masih SMA, saya lebih banyak mendengar mereka yang sudah mahasiswa berdiskusi. Saya mendapat banyak pengetahuan baru dari mendengarkan mereka itu.

Ada hal menarik yang saya dengarkan dari para mahasiswa itu. Salah seorang dari mereka berkata bahwa Raja Arab King Faisal yang sempat membuat Presiden AS Nixon hampir kesurupan gara-gara akan menghentikan minyak ke AS sangat mengharapkan bahwa pemimpin dunia itu lahir di Indonesia. Kabarnya, King Faisal sangat mengagumi kehati-hatian orang Islam Indonesia dalam beribadat. Dia melihat begitu kerasnya saat itu pertentangan antara kelompok-kelompok Islam di Indonesia dalam hal tatacara ibadat. Memang benar, saat itu gerakan shalat, ushalli, jari telunjuk bergerak-gerak saat tahiyat, qunut, niat shalat, dan hal lainnya menjadi masalah besar dalam kehidupan umat Islam Indonesia. King Faisal justru melihatnya dengan kagum dan berpendapat bahwa orang Indonesia itu sangat hati-hati dan takut salah melakukan ibadat sehingga rela bertengkar untuk mendapatkan cara-cara ibadat yang benar dan tidak meragukan.  Wallaahu alam.

Saat mendengar para mahasiswa itu berdiskusi saya langsung berpikir bahwa memang bisa jadi pemimpin dunia itu akan lahir dari Indonesia. Akan tetapi, bukan karena soal hati-hati dalam beribadat, melainkan saya berpikir bahwa siapa pun yang mampu memimpin Indonesia dengan baik mencapai cita-cita nasionalnya dengan gemilang, pasti akan mampu memimpin dunia. Coba bayangkan, Indonesia ini terdiri atas 17.000 pulau dengan ribuan suku, ribuan bahasa, ribuan adat istiadat, ribuan keyakinan, ribuan keinginan, dan ribuan perbedaan yang bisa memicu konflik dan disintegrasi. Pemimpin Indonesia yang mampu mempersatukan hati ribuan perbedaan yang tertanam dalam jiwa 250 juta penduduk Indonesia untuk mencapai tujuan nasionalnya adalah hal yang teramat hebat dan benar-benar pemimpin ulung. Saya membayangkan bahwa Indonesia ini sebagai miniatur dunia. Siapa pun yang mampu mengelola miniatur itu, mampulah dia memimpin dunia. Begitu kira-kira lamunan saya saat masih SMA itu.

Lamunan saya itu nggak melenceng jauh dari keinginan Proklamator RI Ir. Soekarno. Beliau menginginkan Indonesia bisa menjadi mercusuar dunia yang menerangi dunia dari kegelapannya menuju cahaya sehingga mampu berjalan pada jalan yang baik dan aman.

Kalau menjadi mercusuar, berarti membimbing orang lain yang sedang dalam keadaan gelap, bukan?

Itu artinya memimpin, bukan?

Bisakah Indonesia memimpin dunia?

Mengapa tidak bisa?

Kita punya banyak kelebihan yang telah dianugerahkan Allah swt kepada kita.

Dalam situasi dunia yang penuh gonjang-ganjing begini sesungguhnya Indonesia telah memberikan contoh kepada dunia bagaimana caranya mengasihi dan peduli kepada sesama manusia yang tidak ada pertentangan apa pun di antara warga bangsa. Masalahnya, dunia bukanlah Indonesia. Tidak seluruh penduduk manusia mampu seperti Indonesia dan kita pun tampaknya menganggap bahwa hal itu merupakan hal biasa karena memang sudah seharusnya terjadi.

Contoh apa yang telah kita berikan pada dunia yang tidak semua penduduk dunia mampu melakukannya?

Masih ingat bagaimana kita memperlakukan pengungsi muslim Rohingya?

Perilaku bangsa Indonesia itu mendapat pujian dari negara-negara besar bahkan PBB. Kita tidak pernah berhitung dulu dalam menyelamatkan manusia. Rakyat pinggiran pantai Aceh yang memulainya memberikan pertolongan, kemudian diikuti oleh upaya pemerintah yang juga sangat menyejukkan. Setelah menyelamatkan mereka, rakyat pinggiran Aceh meskipun berada dalam kondisi yang tidak bisa disebut kaya raya, malah masih banyak yang miskin memberikan sumbangan makanan dan pakaian. Tangan dan hati kita sangat terbuka untuk mereka yang sedang dilanda kesulitan. Tak seorang Indonesia pun yang memprotes kehadiran pengungsi itu di tanah air Indonesia. Tak seorang Indonesia pun yang menanyakan apakah mereka itu di negara asalnya bermasalah atau tidak. Kita lebih mengutamakan menyelamatkan manusia terlebih dahulu. Urusan mereka bermasalah atau tidak di negaranya, itu urusan belakangan yang penting selamat dulu. Artinya, 100% rakyat Indonesia setuju menolong mereka.

Perilaku kita dalam menerima dan mengurus pengungsi itu adalah yang terbaik di seluruh dunia. Itu fakta dan sudah seharusnya menjadi contoh bagi negara mana pun dalam menerima, mengurus, dan menyelamatkan para pengungsi yang sedang dalam keadaan butuh pertolongan.

Sekarang mari kita lihat bagaimana negara-negara Barat sana dalam menghadapi persoalan pengungsi Suriah yang juga sama-sama membutuhkan pertolongan. Sesungguhnya, tidak semua negara mampu melakukan seperti yang dilakukan Indonesia. Di antara mereka ada yang negaranya menolak dan membatasi pengungsi, tetapi rakyatnya mau menerima. Ada yang sebaliknya, negaranya mau menerima, tetapi rakyatnya tidak mau. Adapula negara dan rakyatnya yang tampak sama-sama enggan menerima dan menolong pengungsi. Rumit memang mereka. Banyak di antara mereka yang ketakutan, merasa berat, dan khawatir jika para imigran itu akan mempersulit hidup mereka. Kalaupun mau menerima, tetap disertai kecurigaan dan kewaspadaan tinggi berlipat-lipat yang membuat mereka sendiri jadi tidak tenang. Mereka kebanyakan berhitung duluan. Ini juga fakta.

Indonesia dalam arti pemerintah dan rakyatnya seharusnya lebih bisa mempertontonkan kebaikan kita dalam mengelola urusan pengungsi agar negara-negara lain mampu melakukan seperti yang kita lakukan. Kita harus mempertontonkan hal itu bukan untuk kesombongan dan merasa paling baik, tetapi agar kebaikan kita dapat dicontoh oleh orang lain sehingga urusan kemanusiaan akan lebih baik tertangani. Dengan demikian, secara tidak langsung kita telah membimbing dunia dengan contoh yang telah kita lakukan.

Kita pun sesungguhnya punya contoh yang teramat baik untuk ditawarkan pada dunia untuk mengatasi berbagai konflik, perang, permusuhan, dan pertikaian yang berlarut-larut. Kita jangan terseret agenda mereka dalam menghadapi konflik yang hanya akan menjadikan kita mirip boneka atau simpatisan pihak-pihak tertentu. Kita-lah yang seharusnya menyeret mereka ke dalam agenda kita. Agenda kita itu ya itu Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Nggak ada lagi dan memang tidak boleh ada lagi agenda di luar itu.

Sudah saya bilang tadi bahwa Indonesia itu mirip miniatur dunia. Kita punya pengalaman didera berbagai konflik bersenjata. Dari berbagai pengalaman itu kita menyadari bahwa menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Kesadaran kita tentang hal itu menjadikan kita lebih wise dalam menyelesaikan berbagai konflik. Kita mampu menyelesaikan masalah di Aceh, Ambon, Papua, Kalimantan, bahkan DI/TII adalah dengan pendekatan yang bukan hanya keamanan dan hukum, tetapi Islah dan kesejahteraan sehingga semua pihak dapat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Artinya, kita sebelumnya telah mencoba memahami akar masalah dari timbulnya berbagai konflik atau disintegrasi itu. Kesimpulan yang kita ambil salah satunya adalah persoalan kesejahteraan dan ketimpangan sosial lainnya. Oleh sebab itu, kita berupaya terus-menerus mengatasi berbagai ketimpangan yang terjadi sehingga tidak lagi menjadi pemicu konflik-konflik lanjutan.

Mengapa tidak kita tawarkan pengalaman Indonesia dalam mengatasi konflik untuk mengatasi konflik di tingkat dunia?

Kan sebenarnya sama saja, bedanya hanya sifat dan lokasinya.

Mengapa kita tidak sarankan dunia untuk menggali dan memahami akar permasalahan berbagai konflik yang ada agar permasalahan itu diatasi sehingga tidak lagi menimbulkan kekerasan baru?

Mengapa kita seolah-olah melupakan keberhasilan kita, lalu mengikuti arus dunia yang hanya mengedepankan keamanan, hukum, dan intelijen tanpa mengatasi akar masalah yang sebenarnya?

Semua pihak yang bertikai di tingkat dunia kan sebenarnya bisa duduk bersama, lalu berlelah-lelah membicarakan masalah dan keinginan masing-masing seperti yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi berbagai konflik di dalam negeri. Kalau mereka tidak mau duduk bersama, artinya memang tidak ingin ada penyelesaian. Penyelesaian yang mereka inginkan adalah menguasai hidup orang lain. Kalau sudah begitu, mereka memang gemar berkelahi dan hobi membunuh. Kita mesti jauhi perilaku mereka semacam itu dan kita hina kegemaran mereka itu.

Kita lihat kenyataannya hari ini. Kekerasan dibalas lagi oleh kekerasan baru. Sangat primitif. 

Akibatnya, kekerasan menjadi-jadi dan tambah meluas. Hal yang sudah pasti kita yakini adalah kekerasan demi kekerasan itu tidak akan pernah berhenti karena akan muncul kekerasan-kekerasan lainnya.

Begitu kan yang kita yakini?

Kekerasan yang diselesaikan dengan cara kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Ada yang tidak yakin?

Ingatkan dunia tentang yang kita yakini agar mereka sadar dan tidak lagi menimbulkan kekerasan baru!

Indonesia perlu meyakinkan mereka untuk berdamai dan menjaga ketertiban bersama. Itu yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang 1945.


Dunia membutuhkan Indonesia yang berani membuat terobosan baru untuk kepentingan seluruh umat manusia. Jika kita berhasil, insyaallah, di dunia kita akan menemukan banyak kebaikan dan di akhirat kita mendapatkan banyak sekali pahala serta pengampunan dari Allah swt. 

Amin.