Showing posts with label Budha. Show all posts
Showing posts with label Budha. Show all posts

Sunday, 10 September 2017

Salut untuk Kaum Budha Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaum Budha Indonesia memberikan contoh yang sangat baik bagi para penganut Budha di seluruh dunia sekaligus contoh hebat bagi penganut agama-agama lain. Kaum Budha Indonesia memberikan kecaman yang sangat keras terhadap militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan kekerasan keji terhadap kaum muslim Rohingya. Mereka sadar bahwa kejahatan terhadap manusia adalah bukan ajaran Budha. Mereka insyaf bahwa kaum Budha radikal dapat merusakkan nama baik kesucian ajaran Budha. Mereka paham benar bahwa kaum Budha di Indonesia adalah minoritas sehingga merasa perlu untuk terus hidup rukun dengan mayoritas kaum muslimin jika ingin bertahan hidup dalam damai di Indonesia. Mereka memaki perbuatan keji. Mereka pun mengumpulkan donasi untuk kaum muslimin di Myanmar.

            Perilaku kaum Budha Indonesia itu patut mendapatkan acungan jempol, penghargaan yang sangat tinggi. Mereka tak segan dan tak malu untuk memaki siapa pun yang menggunakan ajaran Budha untuk kekerasan.

            Memang begitulah seharusnya, setiap agama mengendalikan penganut agamanya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan atas nama agamanya. Kaum muslimin sudah sejak lama melakukan hal itu. Setiap ada kelompok muslim yang lemah pengetahuan agama Islam, lalu menggunakan Islam sebagai alasan untuk melakukan kejahatan, kaum muslimin yang waras otak dan berpengetahuan agama luas akan melakukan kritik, makian, penentangan, bahkan bersiap untuk memerangi kaum muslimin yang dengan ceroboh menggunakan agama sebagai alat kekerasan. Dari zaman ke zaman perilaku itu sudah ada di lingkungan kaum muslimin. Hal itu memang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri bahwa suatu saat akan ada masa datangnya orang-orang berpikiran pendek untuk melakukan kekerasan dan orang yang paling mulia adalah orang yang memerangi orang-orang berpikiran pendek itu.

            Agama-agama lain pun seharusnya melakukan hal yang sama. Tidak perlu membela  orang-orang yang melakukan kerusakan, kejahatan, kekejian, dan kekerasan meskipun orang itu satu agama dengan kita. Katolik waras harus memerangi Katolik jahat, Protestan baik harus memerangi Protestan buruk, Hindu baik harus memerangi Hindu buruk, Yahudi waras harus memerangi Yahudi brengsek, Konghucu cerdas harus memerangi Konghucu bloon. Begitu seterusnya dengan agama-agama lain. Dengan demikian, tidak perlu terjadi saling hujat di antara penganut agama yang berbeda karena setiap penganut agama akan mengendalikan penganut agama sendiri. Orang Kristen tidak perlu menghujat orang Islam yang melakukan teror. Demikian pula orang Islam tidak perlu memaki dan menelanjangi orang Kristen yang melakukan kejahatan kemanusiaan atas dasar agama. Orang Islam wajib mengendalikan kaum muslimin sendiri. Kaum Kristen wajib mengontrol kaum Kristen sendiri. Dengan demikian, perdamaian di antara manusia bisa terus menguat dan semakin tercipta dengan nyata karena salah satu faktor pemicu kekusutan sudah bisa diatasi, yaitu perbedaan agama.

            Saat ini terjadi saling bela yang buruk berdasarkan agama. Hal itu disebabkan kejahatan pemeluk agama tertentu dibela oleh penganutnya walaupun jelas-jelas salah. Akibatnya, kejahatan itu ditimpakan dan dituduhkan pada kejahatan ajaran agamanya. Hal itu mengakibatkan persengketaan yang keras dan menyita banyak energi.

            Kaum muslimin sudah sangat lama mengontrol dan berupaya keras mengendalikan umatnya yang salah jalan, bahkan memeranginya, hingga membunuhnya. Kini kaum Budha dengan sangat nyata mengecam keras umatnya sendiri yang melakukan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Itulah kaum Budha yang cerdas dan patut dihormati oleh semuanya. Saya yakin kaum muslimin yang sehat jiwanya akan mendukung para penganut Budha yang seperti itu sehingga keharmonisan hidup di antara pemeluk umat beragama di Indonesia dapat dijaga. Itulah Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia.


            Sampurasun

Saturday, 22 April 2017

Semrawutnya Kisah Sang Prabu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah Prabu Siliwangi as dari dulu kerap semrawut. Akan tetapi, kesemrawutan itu bisa diurai dengan baik jika kita mengikutsertakan eksistensi Benua Sundaland ke dalam kronologis kehidupan Indonesia. Ada sinar terang dalam kegelapan untuk lebih memahami Prabu Siliwangi as.

            Menurut para ahli, baik sejarah maupun sastra, berdasarkan data-data masa lalu, Prabu Siliwangi disebut-sebut beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi pun disebut-sebut sebagai sumber primer sebagai awal atau leluhur seluruh raja Sunda. Prabu Siliwangi pun disebutkan sebagai leluhur raja-raja Islam, baik Sunda maupun Jawa, yang memerintah sampai akhir abad ke-15—ke-19 (Hasan Muarif Ambary, 1985 : 6 dalam Partini Sardjono, 1991).

            Semrawut sekali jika Prabu Siliwangi disebut Hindu atau Budha Tantra. Apalagi jika Prabu Siliwangi dikatakan telah sukses mencapai tingkat tertinggi dalam agama Hindu menjadi Dewa mirip Dewa Wisnu, kemudian belajar lagi “ilmu kelepasan” menuju wairocana dalam agama Budha. Sudah sukses menjadi Hindu, lalu meneruskan menjadi Budha.

            Mirip kuliah. Beres S1, lalu S2.

            Memangnya Prabu Siiwangi mengejar tunjangan sertifikasi?

            Hal yang lebih membingungkan adalah para ahli mengatakan bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan Budha Tantra, tetapi konsep ketuhanannya disebutkan “berada di atas konsep ketuhanan Hindu dan Budha”.

            Bagaimana mungkin Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Budha, tetapi konsep ketuhanannya berbeda dengan Hindu dan Budha, bahkan berada di atas kedua agama itu?

            Di samping itu, indah sekali jika memang benar Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Budha, tetapi anak-cucunya menjadi raja-raja Islam dan penyebar-penyebar Islam yang sangat masyhur di Indonesia. Dalam kenyataannya, di India sendiri hingga hari ini sering sekali terjadi konflik atas dasar agama antara Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan, di Myanmar pemimpin Budha yang sangat berpengaruh melakukan provokasi terhadap umat Islam sehingga penguasa militer Myanmar melakukan banyak kekejian, penganiayaan, pembunuhan, dan pengusiran terhadap kaum muslimin Rohingya. India, Kashmir, Pakistan, Myanmar tampaknya harus ke Indonesia dan mempelajari kronologis Kerajaan Sunda agar bisa tenang dalam perbedaan agama seperti Prabu Siliwangi yang tenang-tenang saja memiliki anak-cucu menjadi raja-raja Islam dan para penyebar Islam berpengaruh. Itu juga kalau benar kisah Prabu Siliwangi seperti itu. Akan tetapi, pasti tidak benar.

            Hal yang paling mudah dipahami adalah Prabu Siliwangi itu adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan ajaran Islam pra-Muhammad saw. Ajarannya itu adalah Sunda Wiwitan. Kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam. Hal itu bisa dilihat dari berbagai konsep ketuhanan dan budi pekerti yang diajarkan dalam Sunda Wiwitan. Seluruhnya merupakan dasar-dasar ajaran Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh Islam Muhammad saw.


            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Para Pemimpin Agama Jangan Munafik

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berbagai konflik di dunia ini sangat sering dipenuhi konflik yang mengatasnamakan agama. Rebutan tanah, sumber daya alam, kekuasaan, uang, dan pasar kerap menggunakan agama sebagai alasan. Agama dijadikan daya tarik dan justifikasi terhadap perang-perang yang dilakukan. Sejarah mencatat itu semua.

            Hampir seluruh agama tercatat para pemimpinnya pernah menggunakan agamanya untuk kepentingan politik dan ekonomi. Mereka pun sering menghina dan menjelek-jelekan agama lain di hadapan publik hanya untuk membuat pembenaran atas perilaku kekerasan yang dilakukan kelompoknya atau mereka yang telah memberikan janji politik dan ekonomi pada para pemimpin agama itu. Para pemimpin Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dan beberapa agama kecil memiliki catatan kekerasan dan teror, baik pada masa lalu yang waktunya jauh dari kita maupun pada masa sekarang ini.

            Para pemimpin agama seharusnya menggunakan agamanya untuk menciptakan perdamaian dan kasih sayang di muka Bumi, bukan melegitimasi kekerasan dan perang. Para pemimpin agama harus memiliki jiwa dan hati yang lebih besar dan lapang dibandingkan umatnya. Mereka harus lebih tenang dan jernih dalam berpikir serta mempertimbangkan sesuatu. Para pemimpin agama sudah seharusnya menjadi agen-agen pemberi solusi, pemecah masalah, dan penghenti konflik. Bukan sebaliknya, para pemimpin agama justru merupakan bagian dan provokator konflik.

            Para pemimpin agama. Agama apa pun itu sangat tidak pantas berperilaku munafik. Di hadapan publik dan masyarakat dunia mereka tampil sebagai orang-orang saleh dengan berbagai atribut keagamaannya menyatakan sebagai pecinta perdamaian, tetapi pada saat yang sama mereka berkolaborasi dengan penguasa ataupun pengusaha melakukan kerja-kerja rahasia yang membuat kusut kehidupan manusia. Pemimpin agama seperti ini adalah pemimpin yang munafik. Sangat tidak pantas pemimpin agama berperilaku kotor seperti itu.

            Setiap pemimpin agama sudah seharusnya mengendalikan umatnya masing-masing agar tidak menjadi bagian dari konflik. Seluruh pemimpin agama wajib menenangkan setiap umatnya masing-masing dan jangan ikut-ikutan membuat provokasi bahkan menyebarkan hoax. Apabila setiap pemimpin agama mampu menyadarkan umatnya untuk tidak memicu konflik, tidak terlibat dalam konflik, dan menghindari kekusutan, dunia ini akan damai dan tenteram.

            Jika ada umatnya yang melecehkan agama lain, seharusnya pemimpinnya memberikan kesadaran bahwa perilaku umatnya itu sesungguhnya merugikan agamanya sendiri. Tak pernah ada kejadian suatu agama menjadi mulia disebabkan umatnya menghina agama lain. Sesungguhnya, kemuliaan suatu agama atau suatu umat beragama terwujud dari perilakunya dalam menghormati orang lain dan membiarkan orang lain melakukan keyakinannya masing-masing. Di samping itu, suatu agama akan tampak lebih mulia jika mampu pula menghormati mereka yang belum beragama atau tidak beragama. Mereka belum meyakini agama karena mereka belum mendapatkan pengetahuan tentang agama dengan benar. Apabila kita mudah menuduh orang lain sebagai calon penghuni neraka, kemuliaan kita pun akan merosot dan jatuh dalam kehinaan.

            Mulai saat ini tak boleh ada lagi pemimpin agama yang memberikan pembenaran untuk konflik-konflik atau perang-perang yang terjadi. Semua agama sudah seharusnya menghormati hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Jangan ada lagi pemimpin agama yang mau disuap dengan janji politik ataupun ekonomi hanya untuk mempertahankan kekisruhan yang terjadi.

            Pemimpin agama apa pun yang melegalkan pembunuhan dan perang tanpa alasan yang jelas adalah para pendusta. Kita diperbolehkan perang hanya untuk membela diri, membela harga diri, membela harta benda yang kita miliki, dan menciptakan keadilan. Jika kita diperangi, diusir, diburu, dikejar, dianiaya, dan diancam dibunuh, kita harus membela diri, kehormatan, dan keadilan. Kalaupun harus berperang, berperanglah untuk membela diri dan bukan untuk merampok orang lain.

            Akan tetapi, kita tidak boleh memulai perang, memulai konflik, atau mencari gara-gara agar terjadi huru-hara. Saya orang Islam yang meneladani Muhammad saw. Sang Nabi saw tidak pernah memicu perang atau mengobarkan kebencian. Muhammad saw melakukan perang hanyalah untuk membela diri, menjaga kehormatan, dan mewujudkan keadilan. Tidak pernah Nabi Muhammad saw menjadi penyebab suatu perang.

            Sebutkan satu perang saja yang dilakukan Nabi Muhammad saw yang pemicunya adalah Nabi Muhammad saw sendiri.

            Pasti tidak ada!

            Saya jamin itu.

            Kalau ada, itu berarti kalian mendapatkan hoax. Saya dengan senang hati membongkar kebusukan kisah hoax itu.


            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tes Mental Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Lumayan sering saya mendengar, baik muslim maupun kristian yang sering “tenang-tenang” hidupnya karena menganggap bahwa dirinya pasti masuk surga. Kalaupun harus masuk neraka, paling hanya sebentar disiksa. Akhirnya, pasti masuk surga dan kekal bahagia di dalamnya. Saya belum pernah mendengar hal itu dari umat Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Mungkin mereka juga berpandangan sama, tetapi yang jelas saya belum pernah mendengarnya. Kalau yahudian, memang sudah tercatat mengaku seperti itu. Kaum Yahudi berpandangan bahwa mereka pasti masuk surga setelah disiksa terlebih dahulu di dalam neraka.

            Allah swt sudah menerangkannya.

            “Dan mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’
            Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS Al Baqarah 2 : 80)

            Yahudi yakin bahwa mereka hanya akan disiksa selama empat puluh hari akibat dari dosa mereka menyembah patung emas sapi betina selama empat puluh hari ketika ditinggalkan Musa as untuk bertemu Allah swt di Gunung Sinai.

            Akan tetapi, Allah swt membantahnya dengan menyuruh kaum muslimin untuk balik bertanya kepada Yahudi sebagaimana yang ditulis dalam ayat di atas.

            Jika menggunakan bahasa kita saat ini, kita dapat bertanya kepada Yahudi, “Kalian pasti masuk Surga? Mana ayat yang berisi janji Allah swt yang akan menyiksa kalian hanya sebentar untuk kemudian masuk Surga? Kalian hanya bikin hoax.

            Orang-orang Islam tidak perlu seperti umat Yahudi yang tenang-tenang saja akibat hoax. Meskipun umat Islam dijanjikan surga oleh Allah swt, tetapi tidak boleh tenang-tenang saja karena siksaan neraka itu sangat mengerikan. Meskipun pada akhirnya masuk surga, tetap jangan anggap enteng siksaan neraka.

            Mari kita tes mental kita untuk masuk surga setelah sebelumnya masuk neraka terlebih dahulu. Artinya, ada penyiksaan dulu di neraka untuk membersihkan seluruh dosa agar benar-benar suci ketika masuk surga.

            Saya ada rumah tiga, sumpah. Satu di Kota Bandung, satu di Kabupaten Sumedang, dan satu lagi di Kabupaten Bandung. Satu rumah yang di Kota Bandung akan saya berikan kepada siapa saja yang mau.

            Ada yang mau?

            Mahal lho beli rumah. Susah punya rumah sendiri.

            Beri tahu saya kalau ada yang mau. Saya sumpah tidak akan bohong.

            Saya akan berikan rumah itu dengan segala surat-suratnya dan saya akan menandatangani di atas materai bahwa rumah itu sudah saya berikan kepada Saudara. Akan tetapi, saya minta satu saja syarat dari Saudara. Syarat itu ialah saya akan menyiksa Saudara selama satu jam. Hanya satu jam. Satu jam saja. Sumpah, tidak akan lebih dari satu jam.

            Mau?

            Mau rumah?

            Apakah saya harus bersumpah demi Allah swt agar Saudara percaya?

            Satu jam saja saya menyiksa Saudara. Setelah itu, rumah akan menjadi mililk Saudara.

            Mau?

            Kalau mau, saya akan ceriterakan dulu bagaimana saya akan menyiksa Saudara. Tidak akan pakai senjata. Saya hanya akan menggunakan tangan kosong. Hal pertama yang saya akan lakukan adalah memukul sekeras mungkin kedua telinga Saudara dengan kedua telapak tangan saya secara bersamaan sehingga gendang telinga Saudara pecah berdarah dan tidak bisa mendengar lagi. Kedua, saya akan menggunakan kedua jempol tangan saya untuk mencongkel kedua mata Anda sehingga Anda tidak bisa melihat lagi dan buta selama hidup. Ketiga, saya akan memukul hidung Anda hingga patah. Keempat, saya akan memukul ulu hati dan tulang iga Saudara hingga patah-patah. Kelima, saya akan mematahkan kedua tangan Saudara beserta seluruh jari-jari tangan hingga seluruhnya patah-patah dan tidak bisa digerakkan lagi. Keenam, saya akan membenturkan bibir Saudara sekeras mungkin pada tembok hingga pecah dan gigi Saudara pada rontok. Ketujuh, saya akan mematahkan kaki Saudara dengan menginjak lutut Saudara dalam posisi kaki telentang bersandar pada kursi hingga tempurung Anda pecah dan tidak bisa nyambung lagi antara betis dan paha.

            Ketujuh penyiksaan itu paling-paling hanya berjalan 30 menit. Saya masih punya hak menyiksa Saudara 30 menit lagi. Masih banyak cara untuk membuat penyiksaan.

            Mau?

            Kalau mau, Saudara mungkin dapat rumah dari saya, tetapi saudara cacat seumur hidup dan menderita sakit luar biasa bertahun-tahun. Mungkin Saudara mengharapkan agar cepat mati, tetapi tidak mati-mati juga. Bahkan, Saudara menjadi beban hidup orang lain sambil terus-terusan merasakan sakit.

            Mau?

            Jangan mau atuh.

            Oleh sebab itu, jangan anggap enteng neraka. Benar kita bakal masuk surga karena ada kesempurnaan iman, tetapi kalau disiksa dulu … duh.

            Gambaran penyiksaan yang saya lakukan tadi sangat sadis dan mengerikan. Apalagi jika disiksa di neraka oleh para malaikat yang memang ahli menyiksa.

            Hi… ngeri.

            Jangan tenang-tenang saja. Kuatkan iman dan terus berbuat baik di muka Bumi ini sehingga tidak perlu disiksa dulu sebelum masuk surga.

            Sampurasun.

Sunday, 9 April 2017

Agama Budha Tertolak di Tanah Sunda

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada beberapa tulisan yang lalu saya sempat menyatakan bahwa tak ada jejak Hindu dan Budha di tanah Sunda. Secara tak sengaja saya menemukan tulisan Dra. Setyawati Sulaeman yang berjudul Arca-Arca Tipe Pajajaran di Jawa Barat (1991). Dalam tulisannya ada kalimat yang membuat saya tertarik dan semakin yakin bahwa Budha tidak pernah memiliki pengaruh yang besar terhadap rakyat Sunda, bahkan agama ini tertolak sebelum masuk ke tanah Sunda.

            Setyawati mengatakan, “Dalam Negarakertagama dikatakan bahwa para biarawan Buddhis yang diutus dari Majapahit ke seluruh Nusantara, tak boleh pergi ke Sunda karena tak pernah ada agama Budha di negeri itu katanya.”

            Pernyataan itu cukup aneh karena jika ingin menyebarkan agama Budha, para biarawan Budhis seharusnya justru datang di tempat yang belum ada agama Budha. Kalau menyebarkan di tempat yang sudah ada agama Budha, kan tidak perlu lagi disebarkan karena sudah ada. Paling-paling, ditingkatkan pengetahuan masyarakatnya tentang agama itu. Jadi, cukup aneh jika dilarang ke tanah Sunda hanya karena di Sunda tidak ada agama Budha. Kan mestinya justru diajarkan agama Budha supaya di Sunda ada agama Budha.

            Iya toh?

            Hal yang paling mungkin terjadi adalah para biarawan tahu bahwa tidak mungkin rakyat Sunda menerima agama Budha karena di Sunda sudah tertanam kuat agama Sunda Wiwitan yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Agama Sunda Wiwitan ini pasti menolak agama baru yang berbeda jauh soal pandangan keyakinan ketuhanan. Agama Sunda Wiwitan hanya memiliki dan meyakini satu Tuhan tanpa ada kekuatan lain di luar Tuhan Yang Maha Esa. Dalam agama Budha, banyak hal yang tidak nyambung dengan Sunda Wiwitan dan perasaan urang Sunda. Hal itulah yang tampaknya lebih masuk akal jika para biarawan Budhis dilarang masuk Sunda.

            Berbeda dengan ketika ajaran Islam masuk ke Sunda. Ajaran Muhammad saw ini begitu cair diterima dengan oleh masyarakat Sunda dan tidak ada penolakan yang berarti. Hal itu disebabkan adanya kesamaan keyakinan tentang Zat Tunggal dan penyempurnaan budi pekerti atau akhlakul karimah yang dasar-dasarnya sudah diajarkan Nabi Prabu Siliwangi as. Dalam kata lain, ajaran Sunda Wiwitan merupakan ajaran Islam pra-Muhammad saw. Sunda Wiwitan merupakan dasar-dasar Islam bagi orang Sunda yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam Muhammad saw. Oleh sebab itu, susah sekali kita akan mendapatkan orang Sunda yang beragama Hindu, Budha, Kristen, atau agama lainnya. Orang Sunda itu mesti Islam. Kalau tidak Islam, seolah-olah dia sudah keluar dari lingkungan darah Sunda,

            Pelarangan biarawan Budhis masuk ke Sunda sebagaimana yang ditulis Setyawati (1991) menegaskan dengan jelas bahwa Prabu Siliwangi adalah bukan beragama Budha Tantra sebagaimana yang dikira-kira oleh sebagian ahli sejarah. Prabu Siliwangi adalah nabi yang diberi ajaran tauhid oleh Allah swt untuk disebarkan di Benua Sundaland dengan nama agama Sunda Wiwitan, yaitu Islam pra-Muhammad saw di tanah Sunda. Agar lebih jelas, baca tulisan saya yang dulu berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

            Di samping itu, pelarangan terhadap para biarawan Budhis itu menerangkan pula dengan terang bahwa agama Budha sama sekali tidak memiliki pengaruh di tanah Sunda. Keyakinan urang Sunda adalah bermula dari Sunda Wiwitan, kemudian langsung mendapat penyempurnaan dari agama Islam Muhammad saw. Hal itu dibuktikan bahwa setiap orang Sunda tidak pernah memiliki memori sebagai orang yang pernah dipengaruhi Budha, tetapi justru budi pekerti Sunda Wiwitan sampai sekarang masih digunakan karena melengkapi perasaannya dalam menyempurnakan perilakunya sebagai orang Islam.


            Sampurasun.

Wednesday, 1 March 2017

Kristen dan Cina Dilarang Masuk!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy, Banten, Indonesia, memang dikenal sebagai suku yang ekslusif dan tidak mudah tergoda oleh rayuan pembaharuan dan pembangunan. Mereka memiliki wilayah-wilayah yang dilarang dimasuki oleh orang lain, bahkan oleh warga mereka sendiri.

            Mereka bilang, “Pamali”

            Mereka memiliki wilayah atau tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang beragama Kristen dan ras Cina. Sebagaimana yang dikatakan Prof. Garna (1991), wilayah itu dilarang dimasuki oleh Karesten jeung Cina.

            Dalam artikelnya, Garna tidak menjelaskan mengapa Kristen dan Cina dilarang begitu keras untuk memasuki wilayah tertentu. Tak ada keterangan apa pun yang dapat membuat kita mengerti tentang larangan itu.

            Hal itu membuat saya menduga-duga bahwa larangan itu diakibatkan oleh dua hal besar, yaitu keyakinan dan perilaku/habit dari orang Kristen dan Cina dalam pengalaman hidup orang Baduy.

            Keyakinan Kristen yang berupa trinitas atau “Tuhan satu dalam tiga dan tiga dalam satu” sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Demikian pula, keyakinan bangsa Cina yang tidak sedikit mengisahkan banyak dewa juga sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Kedua keyakinan itu jika masuk ke dalam wilayah Baduy dikhawatirkan akan mengganggu keharmonisan Suku Baduy. Keyakinan Suku Baduy sendiri sangat dekat dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. Bahkan, Sunda Wiwitan adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Oleh sebab  itu, orang-orang Islam, terutama yang bersuku Sunda, lebih bisa masuk secara akrab dan mesra dengan warga Baduy, Kanekes. Sunda Wiwitan hanya mengakui Tuhan Yang Tunggal, yaitu Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Sanghyang Wujud (Tuhan Yang Memiliki Wujud), Sanghyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak), Sanghyang Jatiniskala (Tuhan Yang Tidak Bisa Dibayangkan Bentuk-Nya), Sanghyang Cipta Rasa (Tuhan Yang Menciptakan Rasa), Sanghyang Jatiraga (Tuhan Yang Memiliki Keaslian dan Kekekalan Raga), dan lain sebagainya yang semuanya itu menuju pada Zat Allah swt dalam bahasa Arab.

            Hal itu pun menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah bukan beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi adalah Nabi as, kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan Islam dengan syariat yang disesuaikan situasi dan kondisi saat itu. Di samping itu, menegaskan pula bahwa “tidak ada jejak Hindu dan Budha” di dalam sejarah Tanah Sunda.
            Perilaku dan habit orang Kristen dan Cina pun kemungkinan menjadi dasar dari pelarangan masuk bagi Karesten jeung Cina ke wilayah tertentu di lingkungan warga Kanekes, Suku Baduy. Sebagaimana kita ketahui bahwa masuknya Kristen ke Indonesia hampir bisa dikatakan berbarengan dengan dimulainya awal kolonialisme yang dibawa oleh pasukan Barat. Apabila kita berbicara tentang kolonialisme atau penjajahan, tak ada habisnya diisi oleh perilaku angkuh, sok berkuasa, suka melecehkan, dan melakukan berbagai kekejian terhadap warga pribumi. Orang Baduy jelas tidak menyukai hal itu.

            Hal yang menarik adalah justru pengalaman orang Sunda dengan Cina. Pelarangan masuknya ras Cina kemungkinan besar diakibatkan oleh masa lalu ketika bangsa Indonesia hidup dengan sangat makmur dan kaya raya. Setelah Nabi Prabu Siliwangi as dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi yang pertama di muka Bumi, rakyat Sundaland sangat kaya raya berlimpah ruah pangan dan harta benda. Di dalam naskah tentang penanaman bibit padi yang pertama itu ada larangan dari Allah swt bahwa padi atau beras tidak boleh diperjualbelikan karena padi adalah makanan terlezat dan penuh berkah bagi semua manusia dan hanya boleh dimanfaatkan untuk darma bakti pada kemanusiaan. Sayangnya, setelah masa kenabian Prabu Siliwangi as berakhir dan berlanjut ke beberapa generasi berikutnya, ada saudagar Cina yang ingin membeli beras. Bertahun-tahun keinginan bangsa Cina itu tidak pernah menjadi kenyataan karena selalu ditolak. Padi dan beras hanya untuk dimakan tanpa boleh diperjualbelikan. Akan tetapi, ras Cina memang tidak pernah menyerah. Dengan segala rayuannya, entah dengan cara apa mereka memelas, ada Permaisuri Kerajaan Sunda yang terbujuk rayu, lalu terjadilah transaksi jual beli padi atau beras pertama di dunia.

            Jual beli yang dilarang Allah swt itu jelas menimbulkan turunnya hukuman Allah swt. Hukuman itu berupa laki-laki harus bekerja keras dua kali lipat untuk mendapatkan penghasilan yang sama dibandingkan masa lalu serta perempuan harus ikut pula bekerja keras untuk membantu kaum laki-laki. Tampaknya, hukuman itu berlanjut hingga hari ini. Semua orang harus kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, pada masa lalu kaum laki-laki hanya cukup kerja ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kaum perempuan tidak perlu ikut bekerja membantu para lelaki, tetapi cukup bersolek dan menerima hasil kerja lelaki di rumah dan di tempat-tempat yang menyenangkan, seperti, di taman, air terjun, sungai, pendopo, atau kaputren.

            Kisah itu saya dapatkan dari Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991.

            Kemungkinan itulah yang menjadikan Suku Baduy melarang ras Cina untuk memasuki wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai mereka. Saudagar Cina telah berhasil merayu Permaisuri untuk membeli beras yang berakibat turunnya hukuman.

            Apabila kita hubungkan dengan hadits-hadits yang mengisahkan keadaan akhir zaman ketika Imam Mahdi memegang tampuk kekuasaan dunia, sangat mungkin bahwa larangan jual beli padi dan beras ini diberlakukan kembali hingga kaum laki-laki tidak perlu bekerja terlalu keras dan perempuan selalu mempercantik dirinya tanpa perlu ikut membantu kaum lelaki. Hal itu disebabkan ketika Imam Mahdi berkuasa diberitakan bahwa keadilan tercipta di seluruh dunia dan kemakmuran menjadi milik semua manusia, bahkan jika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada orang lain, orang lain itu dengan segera memberikannya dengan rela hati. Tak ada yang pelit karena semuanya tercukupi.

            Hanya Allah swt yang tahu keadaan semua ciptaan-Nya dari awal hingga akhir.


Menciptakan Hubungan Baik Baru
Larangan untuk Kristen dan Cina memasuki wilayah-wilayah tertentu di Baduy bukan berarti sama sekali tidak bisa diubah. Apabila dugaan saya benar bahwa larangan itu berasal dari “keyakinan yang berbeda dan perilaku yang tidak disukai”, larangan itu bisa menjadi longgar dengan cara menunjukkan diri bahwa orang Kristen yang sekarang bukanlah penjajah yang merusakkan kehidupan, melainkan sama-sama warga Indonesia yang berkewajiban untuk sama-sama menjalin persaudaraan di antara sesama warga bangsa serta bersenang hati untuk saling membantu. Demikian pula dengan ras Cina atau keturunan Tionghoa harus menunjukkan diri bahwa kita semua adalah saudara sesama warga bangsa dan sesama manusia yang tidak ingin saling berupaya menguasai, bahkan bersedia bersama-sama untuk menjalankan ajaran Nabi Prabu Siliwangi as, yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, ‘saling mengasihi, saling melindungi, saling mencerdaskan’.

            Berhubungan baik dengan warga Baduy akan memiliki manfaat yang banyak, baik untuk penelitian maupun untuk kehidupan sosial. Warga di luar Baduy-lah yang harus terlebih dahulu menunjukkan sikap yang positif karena warga Baduy tidak akan berubah sebelum mereka percaya kepada orang-orang di luar mereka.

            Wallaahualam


            Sampurasun

Saturday, 11 February 2017

Tak Ada Jejak Hindu dan Budha di Tanah Sunda

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Banyak peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri yang masih mengatakan bahwa Hindu dan Budha pernah mempengaruhi hidup orang Sunda. Bahkan, Prabu Siliwangi as pun disebutnya kalau tidak beragama Hindu, ya beragama Budha. Sesungguhnya, Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan tauhid di Benua Sundaland. Agamanya disebut Sunda Wiwitan. Agama itu adalah Agama Islam pra-Muhammad saw.

            Saya sebagai orang Sunda sama sekali tidak pernah menemukan satu orang pun atau sekeluarga pun yang menyimpan kitab Hindu atau Budha sebagai kitab yang pernah dijadikan pegangan hidup. Demikian pula, orang Sunda tidak pernah berperilaku atau berkata-kata sebagaimana orang yang pernah dipengaruhi Hindu atau Budha. Kedua agama itu tidak ada jejak sama sekali di Tanah Sunda. Agama Sunda Wiwitan jauh sekali perbedaannya dibandingkan Agama Hindu atau Budha. Agama Sunda Wiwitan malahan lebih dekat pada ajaran Islam Muhammad saw dalam hampir semua hal.

            Agama Sunda Wiwitan langsung dengan mudah melebur ke dalam Agama Islam. Hal itu disebabkan Agama Sunda Wiwitan adalah Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as, kemudian disempurnakan oleh Islam yang dibawa Muhammad saw.

            Hal ini bisa dilihat dari dongeng-dongeng lisan masyarakat Sunda yang sangat akrab dengan masyarakat Arab. Para raja Sunda kerap datang ke tanah Arab dan menikah dengan puteri raja-raja di sana. Para Pangeran Sunda pun menikahi puteri-puteri Arab dan Mesir. Terkadang pula raja-raja dan pangeran Arab atau Mesir mendatangi tanah Sunda, lalu menikahi puteri-puteri kerajaan Sunda. Hasil pernikahan mereka melahirkan para wali dan syekh yang kemudian membangun kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

            Tak pernah ada kisah yang sangat akrab dengan raja-raja atau keluarga istana India. Tak ada dongeng yang mengisahkan adanya pernikahan ataupun persekutuan antara kerajaan Sunda dengan kerajaan-kerajaan di India. Hal itu menunjukkan bahwa sama sekali tidak pernah ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Kalau Hindu atau Budha memiliki pengaruh di tanah Sunda, harus ada kisah ataupun sejarah mengenai keakraban atau konflik antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan India.

            Bagaimana dengan pewayangan?

            Bukankah itu pengaruh dari India?

            Bukan!

            Kisah-kisah pewayangan bukanlah berasal dari India. Kisah pewayangan itu lahir di Indonesia dan merupakan kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kisah ini tersebar di seluruh tanah kekuasaan Kerajaan Sunda. Dalam peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, Kerajaan Sunda itu meliputi wilayah yang teramat luas dan India saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. India hanyalah sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda. Kisah pewayangan ini mengalir ke India dan menarik masyarakat India. Bukan hanya kisah pewayangan yang diadopsi, melainkan sistem penanggalan India pun mengikuti sistem penanggalan Sunda. Dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda II di Gedung Merdeka, Bandung, yang saya diundang menjadi pesertanya, sebagai wakil dari Yayasan Al Ghifari, dijelaskan bahwa kalender India sama persis dengan kalender Sunda karena India mengikuti sistem Sunda.

            Tak ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Pengaruh sangat besar justru berasal dari Arab karena kesamaan keyakinan. Misalnya, dongeng Kian Santang dan Walangsungsang yang datang ke Mekah, lalu dibalas oleh kunjungan Nabi Muhammad saw ke Garut di daerah Kadungora dan Leuwigoong. Pesan dongeng itu jelas sekali bahwa ajaran Islam dari tanah Arab itu sangat direstui untuk menyempurnakan agama Sunda Wiwitan yang merupakan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as.

            Dongeng-dongeng lisan di tanah Sunda yang akrab dengan Arab memiliki campuran antara kenyataan, khayalan, dan uga (prediksi atau ramalan masa depan). Oleh sebab itu, cukup rumit memisahkan mana yang kenyataan sejarah, mana yang khayalan, dan mana yang merupakan prediksi masa depan.

            Kerajaan-kerajaan di Indonesia ini pada masa lalu merupakan kerajaan-kerajaan kuat dan besar, misalnya, Pajajaran, Majapahit, Singosari, Perlak, Samudera Pasai, dan lain sebagainya. Mereka dikenal sebagai para pelaut ulung yang mampu berlayar ke seluruh dunia sehingga terjalin bisnis yang kuat dan sangat menguntungkan dengan berbagai negara di dunia, termasuk dengan Eropa, Cina, dan Arab. Kehebatan orang Indonesia dalam mengarungi samudera ini diabadikan dalam lagu yang kita kenal dengan judul Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

            Dalam petualangan dan pelayarannya ke berbagai negeri, tentunya mengalami berbagai interaksi dan komunikasi dengan wilayah-wilayah yang pernah dikunjunginya dalam berbisnis. Pengalaman para petualang dan tokoh Sunda ke daerah Arab ini memunculkan pula kisah yang sangat mungkin merupakan kenyataan sejarah. Kisah ini lagi-lagi memperlihatkan bagaimana akrabnya Sunda dengan Arab.

            Wahyu Wibisana dalam Pengislaman Prabu Siliwangi sebagai Pelengkap Kehadiran Tokoh Ceritera Siliwangi dalam Ceritera-Ceritera Rakyat Jawa Barat (1991) mengisyaratkan bahwa sudah terjadi hubungan yang sangat akrab antara orang Sunda dengan Arab jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ia menuturkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw baru berusia tujuh hari, menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti meskipun telah dibujuk oleh siapa pun. Muhammad saw kecil baru berhenti menangis ketika orang Sunda yang bernama Syekh Batara Galunggung menghiburnya dengan cara memberikan kolecer kepada Nabi Muhammad saw. Kolecer itu kincir yang terbuat dari kertas yang jika ditiup akan berputar-putar lucu. Kolecer saat ini merupakan kerajinan tangan ringan yang diajarkan oleh guru-guru TK di Indonesia.

            Hal ini jika ditelusuri lebih teliti, sangat mungkin menjadi sejarah bernilai ilmiah mengingat kehebatan para pelaut Indonesia pada masa kejayaan berbagai kerajaannya mampu berdagang ke berbagai penjuru dunia. Ketika berada di negeri orang, tentu saja mereka berinteraksi dalam waktu yang cukup panjang hingga satu atau dua bulan menunggu urusan bisnis rampung. Ketika sampai di tanah Arab, mereka pun sampai ke Mekah dan mengenal keluarga Nabi Muhammad saw.

            Ketika Nabi Muhammad saw sudah dewasa, sejak sebelum menjadi nabi maupun sesudah menjadi nabi, beberapa kali datang ke Indonesia dengan tujuan yang sama, yaitu berdagang sejak menjadi pesuruh Siti Khadijah ra. Bahkan, ada naskah Sunda kuno yang mengisahkan bahwa rombongan dari tanah Arab datang ke tanah Sunda dipimpin oleh Abu Jahal untuk berbisnis. Di dalam rombongan itu, terdapat Muhammad saw dan Abu Bakar ra. Ketika berada di tanah Sunda, rombongan itu keluar masuk hutan dan mengalami beberapa kali kesulitan karena tersesat dan kerap diganggu harimau. Oleh sebab itu, Abu Bakar mengusulkan agar Muhammad saw diberi kesempatan untuk memimpin rombongan. Setelah pemimpin rombongan diganti oleh Muhammad saw, perjalanan pun menjadi lancar dan harimau tak mau mengganggu lagi. Ketika Muhammad saw telah menjadi nabi pun, tetap datang ke tanah Sunda untuk mengajarkan agama dan mendirikan beberapa masjid.

            Lagi-lagi informasi dari naskah-naskah ini jika diteliti lagi lebih mendalam, dapat menjadi bernilai kenyataan sejarah. Hal itu disebabkan sangat mungkin terjadi interaksi yang akrab antara tanah Sunda dan tanah Arab sebelum dan sesudah Muhammad saw menjadi nabi. Hal ini bisa dilihat dari hadits-hadits yang mengharuskan penggunaan kapur barus untuk pengurusan jenazah. Kapur barus itu didapatkan dari Pulau Jawa, Indonesia karena di Mekah, Medinah, maupun Jeddah tidak memiliki wilayah yang bisa menghasilkan kapur barus. Di samping itu, di dalam Al Quran pun banyak ayat yang menerangkan tentang keadaan laut, pelayaran, para pelaut, dan hutan dengan segala keistimewaannya. Hal itu mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berulang kali melakukan pelayaran dan keluar masuk hutan. Sangat mungkin pelayaran itu ke tanah Sunda dan hutannya pun hutan yang berada di wilayah Sunda.

            Memangnya di Mekah sebelah mana yang ada hutannya?

            Di Medinah atau Jeddah yang mana yang wilayahnya ada hutan?

            Dengan melihat dan mendengar berbagai kisah yang akrab antara tanah Arab dan tanah Sunda, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Sunda Wiwitan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh Agama Islam. Dengan tidak adanya keakraban antara tanah Sunda dengan tanah India, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Hindu dan Agama Budha tidak pernah memberikan pengaruh apa pun bagi masyarakat Sunda.

         
           Sampurasun.

Saturday, 5 November 2016

Terlalu Sering Ayat Al Quran Digunakan sebagai Alat untuk Berbohong

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kalau ada orang yang menganggap bahwa ayat suci Al Quran tidak bisa digunakan untuk berbohong, dia salah besar dan kurang gaul. Saya tidak mengejek orang-orang seperti ini, tetapi mendorong mereka agar dapat memahami banyak hal dan bergaul lebih luas, jangan hanya tahu soal dirinya, kelompoknya, dan negaranya, melainkan pula meluaskan pandangan ke seluruh dunia. Sekarang ini zaman internet, tidak selalu harus pergi ke luar negeri untuk bisa memahami dunia. Buka saja internet, ada banyak hal yang dapat dipelajari. Kalau memiliki kesempatan untuk pergi ke luar negeri, itu lebih bagus.

            Sesungguhnya, dari zaman ke zaman, ayat Al Quran sering sekali digunakan sebagai alat untuk membohongi manusia. Ayat-ayat Al Quran ini kerap digunakan sebagai alat berbohong untuk kepentingan politik dan ekonomi. Selalu politik dan ekonomi yang dituju para pendusta ini. Mereka yang selalu menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk berbohong adalah para anti-Islam yang menghalangi manusia untuk menemukan kebenaran Islam dan orang-orang Islam yang ingin berkuasa secara ekonomi dan politik tanpa prestasi.

            Lebih dari dua ratus orang anti-Islam luar negeri, terutama Eropa pernah berdebat dengan saya dan saya kalahkan mereka semuanya, atas izin Allah swt. Mereka menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk membohongi manusia, khususnya orang-orang Eropa agar tidak masuk Islam. Hal itu disebabkan mereka semakin hari semakin khawatir atas perkembangan Islam di Eropa mengingat menurut CNBC jumlah umat Islam selalu bertambah cepat setiap hari, yaitu 68.000 orang di seluruh dunia per hari selalu masuk Islam. Bahkan, di setiap satu masjid di Amerika Serikat dan Eropa dalam satu hari selalu ada orang yang masuk Islam, antara 1 s.d. 4 orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Subhanallah.

            Ada ratusan ayat Al Quran yang mereka gunakan untuk menghalangi manusia menuju Allah swt.  Mereka memposting ayat-ayat itu ketika berdebat dengan saya. Cek saja sendiri. Saudara-saudara bisa masuk ke akun Google+ saya, lalu cari perdebatan-perdebatan saya di Youtube dengan para kafirun berkulit putih itu. Ayat-ayat yang selalu mereka pergunakan ada di sana, catat, lalu kumpulkan, kalian akan terkejut. Kalau Saudara-saudara malas mencarinya, saya beritahu saja tujuan mereka. Dengan ayat-ayat itu, mereka membelokan pikiran manusia agar menganggap bahwa Islam itu kasar dan keji, kejam dan suka membunuh, terbelakang dan gemar memperbudak perempuan, gemar berperang dan suka menguasai hidup orang lain, kaku dan anti-kebebasan berpendapat, serta banyak lagi hal buruk lainnya.

            Tentu saja banyak sekali ayat yang seperti itu dan memang benar isinya seperti itu serta mudah sekali dipahami seperti itu jika hanya membaca ayat itu satu per satu tanpa ada penjelasan lain dari ayat lainnya, asbabun nuzul, hadits, tarikh, dan dari pendapat para ahli tafsir terpercaya. Itu artinya, ayat Al Quran dapat digunakan sebagai alat untuk berbohong.    

            Di kalangan umat Islam sendiri banyak yang melakukan hal seperti itu, terutama pada kelompok-kelompok kecil yang kerap mengklaim diri sebagai yang paling benar dan paling suci.

            Ayat favorit yang sering digunakan mereka adalah yang menyatakan, “Taatlah kepada Allah swt, kepada Rasul, dan kepada pemimpin di antara kalian.”

            Ayat itu biasanya digunakan pemimpinnya untuk menuntut kepatuhan dari para pengikutnya. Pemimpinnya menggunakan ayat itu agar para pengikutnya hanya patuh kepada dirinya dan bukan kepada orang lain. Pengikutnya dipaksa patuh dan hanya menerima ilmu pengetahuan dari dirinya, bukan dari orang lain. Bahkan, tak jarang pemimpin mereka mengharamkan buku-buku Islam dari para penulis Islam terkenal. Tak heran apabila mereka hidup tampak ekslusif, menutup diri, dan cenderung melecehkan orang lain. Jangan terkejut pula jika dalam pandangan mereka, siapa pun orang yang berada di luar geng mereka adalah kafir karena tidak patuh kepada pemimpin mereka. Presiden sampai dengan lurah adalah pemimpin thaghut. Ketua Ormas-ormas Islam, baik yang besar maupun yang kecil adalah pendukung kekafiran.

            Apa itu artinya?

            Itu artinya ayat Al Quran dapat digunakan sebagai alat untuk berbohong. Setiap geng-geng kecil yang tidak memiliki kemampuan untuk bermanfaat bagi orang banyak menggunakan ayat kepatuhan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Setiap geng menggunakan ayat itu, tetapi mereka berbeda geng.

            Kalau begitu, geng mana yang  pemimpinnya harus dipatuhi?

            Setiap pemimpin geng berbeda menggunakan ayat itu.

            Bingung, bukan?

            Hal itu disebabkan mereka menggunakan ayat Al Quran untuk membohongi manusia demi mendapatkan keuntungan politik dan ekonomi.

            Benarlah Allah swt dan Muhammad saw mengajari kita bahwa apabila hendak membaca Al Quran, harus terlebih dahulu mengucapkan taudz dan basmallah. Taudz sangat berguna agar syetan dan hawa nafsu kita tidak menjerumuskan kita ke dalam pemahaman-pemahaman yang salah dari ayat-ayat yang kita baca. Basmallah berarti mengundang Allah swt untuk memberikan kasih dan sayang kepada kita ketika membaca Al Quran sekaligus membuat kemahakasihsayangan Allah swt mewujud pada diri kita. Jangan membaca Al Quran dengan kemarahan hanya untuk mencari-cari dalil untuk menjatuhkan orang lain, terutama sesama muslim. Itu sama halnya bersekutu dengan syetan untuk membuat kekisruhan di muka Bumi.  


Memperalat Al Quran dalam Pemilu

Yang saya maksud Pemilu itu mencakup setiap pemilihan pemimpin di Indonesia, baik itu Pilkades, Pilkada, Pileg, maupun Pilpres. Dalam setiap pemilihan, ayat Al Quran digunakan sebagai alat untuk menarik para pemilik hak pilih agar memilih jagoannya. Mereka ingin menunjukkan bahwa jagoannya dan kelompoknya adalah yang paling shaleh, yang paling beriman, dan paling Islam. Perilaku memperalat Al Quran ini bahkan terjadi pula dalam pemilihan pemimpin atau ketua di dalam partai yang sama. Persaingan di dalam tubuh partai pun kerap menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk meyakinkan bahwa jagoannya adalah yang paling layak memimpin. Malahan, hal ini terjadi pula dalam pemilihan ketua di dalam Ormas-ormas kepemudaan Islam. Di antara sesama muslim sendiri, ayat-ayat Al Quran ini sering dipergunakan untuk menjatuhkan nama baik lawannya ketika dalam masa pemilihan.

            Kita tidak perlu berbohong tentang hal ini karena hal ini sering sekali terjadi. Tidak perlu menutup-nutupi kenyataan karena hanya akan memperburuk citra kita sebagai muslim, baik di hadapan Allah swt, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak perlu menghindar dari kebenaran karena memang keburukan ini sangat sering terjadi. Sudah seharusnya perilaku seperti ini segera dihentikan.

            Saya ini sering merasa kesal, marah, sedih, serta ingin berbicara yang kasar-kasar dan tidak terpuji jika melihat dan mendengar orang-orang bergerombol meneriakkan Allahu Akbar, Laailaahailallaah, atau kata-kata lainnya hanya untuk mendapatkan kepentingan sesaat serta hanya untuk membela kepentingan politik dan ekonomi sekelompok orang. Bagi saya, mereka itu seolah-olah sedang memperalat kalimat-kalimat Allah swt hanya untuk kepentingan rendah mereka.

            Betapa kesalnya saya ketika di depan gedung pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, Bandung, ada ribuan orang beradu fisik hanya gara-gara perbedaan calon kepala daerah. Mereka berteriak-teriak dan berbicara sangat kasar tidak senonoh untuk saling memaki. Ormas-ormas pendukung dua partai besar berbeda calon itu sama-sama meneriakan Allahu Akbar, kemudian membacakan banyak sekali ayat Al Quran. Pihak yang satu rela berjihad dan syahid, pihak lawannya juga sama siap bertarung sampai mati. Mereka yang sedang berkelahi itu sama-sama memiliki dalil dari ayat-ayat Al Quran.  Mereka siap sekali beradu jotos, padahal sama-sama menggunakan dan meneriakkan ayat-ayat Al Quran. Beruntung sekali polisi sigap bertahan berada di tengah-tengah kedua gerombolan itu untuk mencegah pertarungan terjadi dengan lebih mengerikan.

            Perilaku bodoh macam apa itu?

            Mereka sama-sama meneriakan takbir, tetapi saling mengejek dan memaki, bahkan kalau tak ada polisi, bisa saling bunuh.

            Saya menerima selebaran yang mereka buat. Masing-masing bersandar pada Al Quran lengkap dengan huruf arab dengan banyak sekali ayat, tetapi saling bermusuhan.

            Kalau mereka ditanya, pasti setiap pihak mengklaim diri paling benar dan menyalahkan pihak lainnya. Akan tetapi, mereka dalam posisi saling berseteru. Perseteruan mereka hanya diakibatkan oleh dugaan adanya penggelembungan suara ketika Pilkada. Setiap pihak menuding pihak lainnya yang telah melakukan kecurangan dalam Pilkada. Kini persoalan mereka telah diselesaikan di Mahkamah Konstitusi.

            Perilaku macam apa itu?

            Itulah yang menyebabkan saya sangat tidak menyukai demokrasi. Orang-orang banyak yang melecehkan Al Quran hanya untuk kepentingan politik dan ekonomi. Menjijikan.

            Agak mendingan jika mereka berkampanye menggunakan ayat Al Quran, lalu setelah terpilih bekerja bersandarkan Al Quran. Akan tetapi, ternyata banyak yang sebelumnya menggunakan ayat Al Quran, bekerja seenaknya, lalu ditangkap karena korupsi, Narkoba, Pungli, pelecehan seksual, penghinaan, dan tidak prorakyat. Mereka benar-benar menyalahgunakan Al Quran. Brengsek mereka.


Q.S. Al Maaidah : 51

Saya bukan pendukung Ahok dan bukan pula anti-Ahok. Saya tidak akan memilih Ahok dan tidak pula akan memilih calon lainnya karena saya orang Bandung. Kalaupun saya orang Jakarta, saya tetap tidak akan memilih siapa pun karena saya tidak menyukai demokrasi.

            Paham, kan?

            Mari kita lihat dulu terjemahan dari Q.S. Al Maaidah : 51.

            “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai ‘teman setia(mu)’; mereka satu sama lain saling melindungi. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zalim.”

            Terjemahan tersebut saya ambil dari Tafsir Qur’an per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul dan Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A.. Dalam kitab lain, “teman setia(mu)” diterjemahkan sebagai “pemimpin(mu)”.  Baik diterjemahkan sebagai “teman setia(mu), maupun “pemimpin(mu)”, inti pesannya adalah “jangan menjadikan orang Yahudi dan orang Nasrani” sebagai “orang kepercayaanmu”.

            Q.S. Al Maaidah : 51 ini kerap digunakan orang ketika memasuki masa-masa pemilihan pemimpin yang di dalamnya ada sangkut pautnya dengan penguasaan politik dan ekonomi. Masa-masa Pilkada, Pileg, dan Pilpres adalah langganan bagi penggunaan ayat ini. Anehnya, ayat-ayat ini tidak pernah digunakan ketika memilih pemimpin yang tidak bersangkutan dengan politik dan ekonomi. Misalnya, ayat ini tak digunakan ketika memilih pemimpin paduan suara, pemimpin keamanan kampung, pemimpin personalia, manajer di pabrik, pemimpin marching band, pemimpin demonstrasi, pemimpin kerja bakti, pemimpin paguyuban sopir Angkot dan ojek, pemimpin koperasi, pemimpin persatuan montir motor, pemimpin karang taruna, pemimpin organisasi profesi, pemimpin organisasi kesarjanaan, kapten kesebelasan sepak bola, dan pemimpin-pemimpin lainnya. Padahal, dalam ayat itu jelas sekali ada larangan memilih pemimpin dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Seharusnya, kalau mau konsisten, digunakan pula ketika memilih pemimpin panitia tujuh belas agustusan. Pemimpin di tingkat apa pun dalam level apa pun dan dalam kegiatan apa pun mestinya harus dijadikan masalah jika ada pemimpin yang tidak beragama Islam.

            Jika ada orang yang mengatakan bahwa ayat itu bisa dipahami secara sederhana, yaitu jangan memilih pemimpin dari kalangan Yahudi dan Nasrani, memang benar. Akan tetapi, ternyata tidak sesederhana itu.

            Buktinya adalah jika ditanyakan mengapa ayat ini tidak digunakan ketika memilih pemimpin paduan suara, pemimpin keamanan kampung, pemimpin personalia, manajer di pabrik, pemimpin marching band, pemimpin demonstrasi, pemimpin kerja bakti, pemimpin paguyuban sopir Angkot dan ojek, pemimpin koperasi, pemimpin persatuan montir motor, pemimpin karang taruna, pemimpin organisasi profesi, pemimpin organisasi kesarjanaan, kapten kesebelasan sepak bola, dan pemimpin-pemimpin lainnya, orang pasti membutuhkan penjelasan atau keterangan lain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Paling tidak, kita akan menggunakan logika kita untuk menjawabnya. Hal itu menunjukkan bahwa ternyata memang tidak sesederhana itu untuk memahami dan melaksanakan Q.S. Al Maaidah : 51. Belum lagi dalam ayat itu hanya ada larangan memilih pemimpin dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Ayat itu tidak melarang untuk memilih pemimpin dari kalangan Hindu, Budha, dan Konghucu.

            Jadi, hanya Yahudi dan Nasrani yang dilarang dipilih untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, Hindu, Budha, dan Konghucu tidak dilarang sama sekali untuk dijadikan pemimpin.

            Begitukah?

            Bagaimana dengan kaum muslimin minoritas di negara mayoritas nonmuslim yang tidak memiliki calon pemimpin dari kalangan Islam?

            Haruskah mereka memaksakan diri untuk menjadi pemimpin meskipun tidak memiliki kesiapan yang jelas?

            Sekali lagi, sangat tidak sederhana untuk memahami dan melaksanakan ayat tersebut.

            Mengapa Allah swt menurunkan ayat yang melarang untuk menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin?

            Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kita memerlukan keterangan lain, yaitu asbabun nuzul, ‘penyebab turunnya ayat’.

            Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa ayat itu turun terkait dengan pasca-Perang Uhud yang membuat umat Islam kalah dan berada dalam kondisi lemah. Kondisi kritis yang dialami umat Islam membuat beberapa orang Islam memilih untuk bersekutu dan meminta perlindungan pada kaum Yahudi atau kaum Nasrani. Mereka takut ditimpa kesusahan dan penderitaan jika terjadi hal-hal yang lebih buruk menimpa kaum muslimin. Mereka menduga bahwa dengan bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani dapat menyelamatkan mereka dari penderitaan atau kesulitan yang sangat mungkin terjadi. Di samping itu, ada pula orang yang setelah bersekutu dengan Yahudi, pergi kembali kepada Rasulullah saw untuk mengikrarkan kesetiaan diri sebagai pengikut setia Rasulullah ketika terjadi perang antara kaum muslimin dengan Yahudi Bani Qainuqa. Hal-hal itulah yang menyebabkan turunnya Q.S. Al Maaidah : 51.

            Saat itu sedang terjadi perang antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy. Perang adalah situasi yang teramat membahayakan. Sebenarnya, yang berperang seharusnya bukan antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy, melainkan antara penduduk Madinah dengan kafir Quraisy. Penduduk Madinah, termasuk Yahudi, Nasrani, dan para penyembah berhala seharusnya ikut berperang melawan kafir Quraisy karena telah terikat perjanjian dengan kaum muslimin bahwa seluruh penduduk Madinah meskipun berbeda agama dan keyakinan harus membela negeri Madinah dari setiap musuh yang ingin merusakkan Madinah. Akan tetapi, dalam kenyataannya, hanya orang-orang Islam yang bertempur. Umat-umat agama lain tidak ikut bertempur membela Madinah, kecuali beberapa orang saja. Ini adalah suatu kenyataan yang menunjukkan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi di Madinah saat itu sama sekali tidak bisa dipercaya dan tidak menghormati perjanjian dengan kaum muslimin. Oleh sebab itu, wajar sekali jika Allah swt memerintahkan umat Islam untuk tidak berlindung dan berteman setia dengan Nasrani dan Yahudi. Nasrani dan Yahudi telah wan prestasi serta hanya cari selamat sendiri dan tidak mau menanggung risiko untuk hidup dalam kebersamaan dalam perjanjian yang sebetulnya telah mereka setujui.

            Hal lain yang patut diperhatikan adalah Nabi Muhammad saw bukanlah pemimpin untuk keseluruhan Madinah, melainkan hanya pemimpin untuk kaum muslimin. Adapun Yahudi, Nasrani, penyembah berhala, dan umat-umat lain tetap dipimpin oleh pemimpinnya masing-masing. Tidak ada hubungan komando antara agama yang satu dengan agama yang lainnya, antara umat yang satu dengan umat yang lainnya. Setiap agama dan setiap umat memiliki hukum, aturan, cara hidup, dan tujuan masing-masing tanpa ada keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Islam hidup dengan cara Islam, Yahudi dengan keyahudiannya, Nasrani dengan kenasraniannya, demikian pula umat dan agama yang lain hidup dengan tatacara mereka masing-masing. Adapun hubungan antarumat, antaragama, serta dengan wilayah Madinah diikat oleh perjanjian yang intinya adalah toleransi atau kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berbisnis, serta kewajiban saling membantu dan saling melindungi untuk mempertahankan negeri Madinah. Hubungan politik seperti itu membuat rentan adanya pengkhianatan yang dapat dilakukan oleh suatu umat atau suatu agama terhadap umat dan agama lainnya. Mereka memiliki rakyat masing-masing, memiliki pemimpin masing-masing, serta memiliki angkatan perang masing-masing yang satu sama lain berbeda komando dan berbeda tujuan hidup. Ketika umat Islam menderita kekalahan dalam Perang Uhud yang menimbulkan kelemahan dalam barisan kaum muslimin, kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kelompok yang paling rentan melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin untuk hidup damai di negeri Madinah. Kaum Yahudi dan Nasrani mudah sekali bersekutu dengan kaum kafir Quraisy untuk mengalahkan kaum muslimin yang sedang dalam keadaan sangat lemah. Memang sejarah menunjukkan bahwa pada masa-masa berikutnya kecurangan Yahudi dan Nasrani lebih tampak jelas dalam mengingkari perjanjian damai. Oleh sebab itu, wajar Allah swt melarang kaum muslimin untuk berteman setia atau mengangkat pemimpin dari kalangan Yahudi dan Nasrani karena bisa memperlemah barisan perang kaum muslimin serta membocorkan rahasia-rahasia strategi perang Muhammad saw kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang pada ujungnya sampai ke telinga kaum kafir Quraisy.

            Hal teramat penting yang wajib diketahui adalah ancaman Allah swt kepada orang Islam yang meminta perlindungan, mengangkat pemimpin, dan berteman setia dengan Yahudi dan Nasrani. Ancaman itu ada dalam kalimat akhir Q.S. Al Maaidah : 51.

            “…Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zalim.”

            Orang-orang Islam yang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, pelindung, dan teman setia secara otomatis akan dipandang bukan lagi sebagai seorang muslim, melainkan sama dengan Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian, mereka akan diperlakukan sebagaimana Yahudi dan Nasrani oleh Allah swt dan oleh kaum muslimin yang setia kepada Muhammad saw.

            Ayat itu merupakan ancaman yang nyata terjadi karena Allah swt berkehendak membukakan penyakit-penyakit jahat yang tersembunyi dalam hati para Yahudi dan Nasrani. Penyakit hati mereka itu terwujud dalam tindak-tanduk mereka sehari-hari yang teramat buruk dan hina sehingga berujung pada hancurnya perjanjian yang telah dibuat dengan kaum muslimin untuk damai. Ketika penyakit hati mereka mewujud dalam perilaku nyata dan menghancurkan perdamaian, Allah swt memperkuat iman kaum muslimin, meningkatkan ekonomi kaum muslimin, dan memperbesar kekuatan kaum muslimin secara cepat. Ketika perjanjian dihancurkan oleh perilaku busuk kaum Yahudi, kaum muslimin pun menganggap perjanjian itu batal. Pengkhianatan kaum Yahudi pun dibalas keras dan sadis oleh kaum muslimin, terjadilah pengepungan dan pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh kaum muslimin. Yahudi Bani Qainuqa dikepung kaum muslimin sampai akhirnya diusir dari Madinah. Demikian pula Yahudi Bani Nadzhir mengalami hal yang sama, bahkan lebih mengerikan. Kaum Nasrani pun menderita hal yang serupa pula pada masa-masa berikutnya setelah melakukan gangguan dan pembunuhan tanpa alasan yang jelas terhadap kaum muslimin. Pengejaran dan pemburuan terhadap kaum Nasrani Romawi oleh kaum muslimin pun menjadi-jadi hingga kaum Nasrani hanya mampu bertahan terdesak di dalam benteng-bentengnya sendiri tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti.

            Itulah kenapa Allah swt mengancam kaum muslimin dalam Q.S. Al Maaidah : 51 untuk tidak berteman setia dan tidak menjadikan Yahudi atau Nasrani sebagai pemimpin. Orang Islam yang setia kepada kaum Yahudi dan Nasrani akan mengalami nasib yang serupa pula, yaitu dikejar, diburu, dan dibantai karena pengkhianatan mereka terhadap perjanjian yang telah disepakati.

            Dari penjelasan yang saya dapatkan dari berbagai sumber tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan mengenai penyebab Allah swt melarang kaum muslimin untuk mengangkat pemimpin dari Yahudi dan Nasrani serta berteman setia dengan mereka. Pertama, saat itu terjadi permusuhan sengit dan perang besar antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy. Kedua, kaum muslimin sedang ditimpa melapetaka kekalahan dan kelemahan dalam berbagai bidang. Ketiga, kaum Yahudi, Nasrani, dan umat-umat lain tidak menghormati perjanjian damai serta tidak bersama-sama mempertahankan Madinah dari serangan musuh. Keempat, setiap umat di Madinah tidak memiliki pemerintahan yang sama karena dipimpin oleh pemimpinnya masing-masing serta memiliki hukum, tatacara hidup, dan tujuan yang tidak sama. Kelima, setiap umat memiliki otoritas masing-masing dan tidak berhubungan sehingga memiliki pasukan perang masing-masing. Keenam, kaum Yahudi melanggar perjanjian damai dengan kaum muslimin melalui perilaku-perilaku khianat dan tindakan-tindakan pelecehan terhadap kaum muslimin. Ketujuh, karena Yahudi dan Nasrani tidak menghormati perjanjian damai, mereka berkecenderungan untuk melakukan kerja sama rahasia dengan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kaum muslimin. Kedelapan, Allah swt berkehendak menampilkan kebusukan hati Yahudi dan Nasrani dalam perilaku mereka sehari-hari sehingga tampak nyata di hadapan kaum muslimin. Kesembilan, Allah swt berkehendak untuk membuat kaum muslimin menjadi kaum yang sangat besar dan kuat sehingga mampu menghancurkan Yahudi dan Nasrani berikut orang-orang Islam yang bergabung dengan Yahudi dan Nasrani.

            Sembilan hal itulah yang menjadi syarat mutlak umat Islam terlarang untuk menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai orang kepercayaan. Paling tidak, jika empat hal sudah ada, umat Islam pada masa sekarang ini wajib untuk tidak menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai orang kepercayaan, baik itu sebagai teman setia maupun sebagai pemimpin. Keempat hal itu ialah tidak menghormati dan merusakkan perjanjian, memisahkan diri dari rantai komando kepemimpinan,  berkecenderungan melakukan kerusakan terhadap kaum muslimin, dan bekerja sama, baik secara rahasia maupun terang-terangan dengan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam. Tanpa keempat hal itu, Q.S. Al Maaidah : 51, belum boleh dilaksanakan. Artinya, tak ada larangan untuk menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia atau bahkan sebagai pemimpin jika minimal keempat hal itu tidak terjadi.

            Bukan berarti Q.S. Al Maaidah : 51 tidak berlaku, melainkan hanya bisa diberlakukan apabila syarat-syaratnya atau penyebab-penyebabnya sudah terjadi. Hal ini sebagaimana dengan shalat bahwa shalat dzuhur itu wajib hukumnya, tetapi hanya boleh dilakukan jika waktunya sudah tiba. Tidak boleh shalat dzuhur jika waktunya belum tiba, misalnya, terlarang untuk shalat dzuhur pada pukul 10.00 WIB. Shalat dzuhur hanya bisa dilaksanakan jika Matahari mulai tergelincir dari atas kepala kita.  

            Kita harus memerangi mereka jika mereka melakukan banyak keburukan terhadap kita. Akan tetapi, kita wajib bersikap baik dan adil jika mereka berkecenderungan hidup damai dengan kaum muslimin. Hal ini sebagaimana yang ada dalam firman Allah swt Q.S.  Al Maaidah : 8.

            “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

            Ayat di atas menjelaskan bahwa kita harus berlaku baik dan adil kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan agama dan ras sepanjang mereka berbuat baik dan adil pula kepada kita. Jika mereka melakukan keburukan kepada kita, kita diperbolehkan membalasnya sebatas sesuai dengan apa yang mereka lakukan kepada kita, tidak boleh berlebihan. Kita tidak boleh melakukan keburukan apa pun atas dasar kebencian kita terhadap kaum, agama, ras, ataupun kelompok tertentu.


Dalam Konteks Keindonesiaan

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, urusan Yahudi tidak perlu dipermasalahkan karena Yahudi bukanlah agama yang secara resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. Di samping itu, Indonesia pun haram hukumnya menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sepanjang Israel masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Hal itu disebabkan Indonesia harus menampakkan pada dunia bahwa Indonesia sangat membenci penjajahan sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Jadi, baik secara Islam maupun secara kenegaraan, sangat diharamkan untuk menjalin hubungan erat dengan Yahudi dan Israel, apalagi menjadikan mereka sebagai pemimpin. Itu sudah clear tidak perlu dipermasalahkan lagi.

            Hal yang masih belum dipahami dengan benar adalah hubungan antara mayoritas kaum muslimin dengan agama yang secara resmi diakui oleh pemerintah Indonesia, yaitu Kristen (dengan seluruh sektenya), Budha, Hindu, dan Konghucu terkait masalah “teman setia” atau “kepemimpinan”. Hal ini sebenarnya bisa dengan mudah dipahami jika kita sama-sama setia terhadap “perjanjian” yang telah disepakati bersama.

            Ingatlah, bahwa Negara Indonesia didirikan atas perjanjian bersama yang merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Perjanjian itu adalah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Pembukaan UUD 1945, dan Pancasila. Sebaiknya, kita singkat saja ketiga hal tersebut sebagai 3P, yaitu Proklamasi, Pembukaan UUD, dan  Pancasila.

            Semua umat, seluruh golongan, setiap elemen bangsa harus selalu menghormati 3P tersebut. Hal itu disebabkan 3P merupakan perjanjian bersama yang sudah disepakati sejak lama untuk hidup bersama dalam damai di Negara Indonesia. Siapa pun yang berniat atau mewujudkan niatnya untuk tidak menghormati bahkan menghancurkan 3P wajib dianggap sebagai musuh negara. Mereka harus dijadikan musuh bersama karena mengingkari atau merusakkan perjanjian tersebut. Seluruh manusia yang berkewarganegaraan Indonesia wajib hukumnya menjaga tegaknya 3P dan mencapai tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam 3P.

            Siapa pun wajib mengerahkan kreativitas dan potensi dirinya untuk menjaga 3P dan untuk mewujudkan cita-cita nasional sebagaimana yang diinginkan 3P. Oleh sebab itu, semua orang memiliki hak yang sama untuk berkreasi dan menunjukkan kecintaannya kepada Indonesia dalam mencapai tujuan nasional Indonesia. Artinya, baik orang Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu memiliki hak yang sama, baik untuk menjadi pemimpin maupun menjadi orang yang dipimpin dalam rangka menjaga 3P dan mewujudkan cita-cita nasional sebagaimana yang ada dalam 3P. Ini adalah perjanjian, kecuali jika kalian tidak ingin menghormati perjanjian yang telah lama disepakati. Jika kalian ingin menghancurkan perjanjian, kalian adalah harus dicap sebagai musuh negara. Terserah kalian sendiri.

            Sepanjang mampu menjaga, menghormati, dan tidak merusakkan 3P; tidak berkecenderungan melakukan kerusakan terhadap Indonesia dan rakyatnya; tidak bekerja sama, baik secara rahasia maupun terang-terangan dengan musuh-musuh negara untuk menghancurkan kedamaian Indonesia, siapa pun boleh menjadi pemimpin dan berhak pula untuk menjadi orang yang dipimpin. Agama apa pun dia dan dari suku mana pun dia. Semua WNI berhak menampilkan seluruh prestasi dan potensinya agar bisa dipercaya untuk menjadi pemimpin di level apa pun di Indonesia ini. Ini adalah perjanjian. Kalau tidak mau seperti itu, batalkan dulu perjanjian yang lama, bentuk lagi perjanjian yang baru. Begitu seharusnya kalau bisa.

            Q.S. Al Maaidah : 51 belumlah perlu diberlakukan jika kaum Nasrani dan kaum-kaum lainnya masih setia pada 3P; tidak berkecenderungan melakukan kerusakan terhadap Indonesia dan rakyatnya; tidak bekerja sama, baik secara rahasia maupun terang-terangan dengan musuh-musuh negara untuk menghancurkan kedamaian Indonesia. Apabila kaum Nasrani maupun umat-umat lainnya sudah menunjukkan ketidaksetiaan pada 3P; berkecenderungan melakukan kerusakan terhadap Indonesia dan rakyatnya; bekerja sama, baik secara rahasia maupun terang-terangan dengan musuh-musuh negara untuk menghancurkan kedamaian Indonesia, berlakulah Q.S. Al Maaidah : 51. Itulah waktu yang tepat untuk memberlakukan ayat tersebut, sebagaimana menunaikan shalat dzuhur tepat setelah adzan dzuhur. Jangan shalat dzuhur sebelum waktunya tiba dan jangan memberlakukan Q.S. Al Maaidah : 51 jika syarat-syaratnya belum dipenuhi.


Ruh Indonesia adalah Islam

Sesungguhnya, Allah swt sangat menyayangi Indonesia. Saking sayangnya, Allah swt menjadikan Islam sebagai dasar bagi landasan hidup Indonesia dan menjadikan Islam sebagai tujuan hidup Negara Indonesia.

            Tidak percaya?

            Mari kita perhatikan dengan sangat teliti!

            Saya sudah mempelajarinya sejak lama dan beberapa kali pula menulisnya dalam blog ini sedikit demi sedikit. Jika Saudara-saudara mau sedikit letih berpikir, akan tampak jelas bagaimana Allah swt sangat sayang kepada Indonesia. Tak berlebihan pula jika ada yang berpendapat bahwa Allah swt mengutus Malaikat Rahmat membentangkan sayapnya untuk menumbuhkan cinta kasih di seluruh penjuru Bumi Indonesia.

            Tadi sudah saya jelaskan bahwa Negara Indonesia didirikan atas dasar perjanjian yang merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, yaitu Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Pembukaan UUD 1945, dan Pancasila (3P). Perjanjian itu sesungguhnya adalah titik-titik cahaya dari ajaran Islam yang Allah swt wujudkan ke dalam kehidupan nyata yang diilhamkan kepada founding fathers bangsa Indonesia sebagai anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia.

            Bagaimana kita bisa yakin bahwa 3P itu adalah bagian dari ajaran Islam?

            Coba cek sendiri atau cek bersama-sama dengan seluruh kiyai dan ahli agama Islam di seluruh Indonesia.

            Adakah isi dari 3P itu bertentangan dengan ajaran Islam?

            Tidak ada, bukan?

            Kalau tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam, berarti sesuai dengan ajaran Islam. Kalau sesuai dengan ajaran Islam, itulah ajaran Islam. Itulah Islam.

            Iya, toh?

            Jadi, seluruh isi dari perjanjian pendirian Negara Indonesia adalah ajaran Islam. Islam pulalah yang menjadi tujuan pendirian Negara Indonesia.

            Tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batinnya berdasarkan Pancasila. Artinya, Negara Indonesia wajib berupaya keras untuk memakmurkan negerinya sebagai alat pengabdian kepada Allah swt yang di dalam Pancasila disebut Tuhan Yang Maha Esa.

            Jika kita perhatikan pidato Ir. Soekarno mengenai Pancasila di depan Sidang Umum PBB, indah sekali. Dia mengisyaratkan bahwa Sila Pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa adalah berasal dari ajaran Islam yang dengan tegas menyatakan diri sebagai para penganut Allah swt Yang Mahatunggal. Adapun penganut agama lain di Indonesia menerimanya dengan tulus karena mengakui dengan sepenuh hati bahwa perjuangan Indonesia dan seluruh perkembangan kehidupan Indonesia tidak bisa terlepas dari Islam.

            Berdasarkan penuturan Soekarno di depan Sidang Umum PBB tersebut, kita dapat memahami bahwa betapa sayangnya Allah swt kepada Indonesia. Inti dari ajaran Islam yaitu tauhid telah menjadi Sila Pertama dari Pancasila. Dalam pada itu, Allah swt telah melunakkan, menjinakkan, dan melembutkan hati para pemeluk agama non-Islam untuk menerima tauhid sebagai bagian dari dasar hidup mereka yang termuat dalam Pancasila.

            Bukankah pemilik hati itu adalah Allah swt?

            Bukankah yang mampu membolak-balikan hati itu adalah Allah swt?

            Bukankah Allah swt mampu membuat keras hati para pemeluk agama non-Islam untuk menolak Ketuhanan Yang Maha Esa?

            Mengapa Allah swt membuat hati para pemeluk non-Islam begitu lembut dan lapang menerima tauhid dalam hidup mereka?

            Itu tandanya Allah swt sayang kepada Indonesia.

            Allah swt telah menjadikan Islam sebagai landasan hidup bangsa Indonesia. Allah swt telah menjadikan Islam sebagai tujuan bangsa Indonesia. Landasan dan tujuan hidup ada di dalam Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Pembukaan UUD 1945, dan Pancasila (3P). Dengan demikian, yang kita butuhkan adalah orang-orang yang teguh dan setia pada perjanjian dan matanya terfokus pada tujuan nasional bangsa Indonesia. Tak masalah agamanya apa dan berasal dari suku mana, toh yang wajib dijadikan landasan kerja dan tujuan hidup adalah Islam. Mau orang Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, atau agama lokal, landasan dan tujuan hidupnya dalam berbangsa dan bernegara adalah sama, yaitu Islam. Jadi, tak ada yang perlu diributkan soal perbedaan agama dan suku dalam hal kepemimpinan. Dari awal sampai dengan akhir hidup bangsa ini tetap harus Islam. Kalau tidak mengarah pada Islam¸ akan dianggap musuh negara, tak peduli itu orang Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, maupun penganut agama lokal.

            Hal tersebut menunjukkan bahwa permasalahan perbedaan suku, ras, agama, dan adat istiadat sudah selesai dan tidak boleh ada lagi. Yang sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia adalah orang-orang terbaik dan para pemimpin terbaik yang setia pada dasar dan tujuan perjanjian pendirian Negara Indonesia yang sangat islami itu. Tak masalah agama apa pun dia dan berasal dari suku mana pun dia, sepanjang tidak menghancurkan perjanjian dan tidak menghambat pencapaian tujuan nasional, semua orang berhak memimpin dan berhak pula dipimpin.

            Untuk apa kita mempertahankan egoisme Sara jika justru menghancurkan landasan dan tujuan hidup berbangsa dan bernegara yang sesungguhnya sangat islami itu?

            Untuk apa kita mendukung pihak-pihak yang justru menghambat Indonesia mencapai tujuan nasionalnya?

            Ada dua jenis manusia yang haram didukung untuk memimpin Indonesia di level apa pun, yaitu mereka yang akan menghancurkan tujuan perjanjian pendirian Negara Indonesia serta mereka yang mengganggu sehingga menghambat pencapaian tujuan nasional Indonesia. Mereka yang menghancurkan landasan dan tujuan hidup bangsa adalah jelas musuh negara sehingga wajib diperangi. Adapun mereka yang mengganggu sehingga menghambat tujuan hidup negara adalah para pelanggar hukum, seperti, koruptor, pengedar Narkoba, mafia hukum, kriminal, penjual legislasi, penyebar fitnah, pembuat kegaduhan, penjual manusia, pencuri, pemerkosa, pelaku pelecehan seks, dan seabrek kejahatan lainnya. Mereka bukan musuh negara, tetapi orang-orang busuk yang harus diperlakukan sebagai penjahat dan wajib dihukum berat sesuai dengan perbuatannya masing-masing.


Soal Ahok

Sekali lagi. Saya bukan pendukung Ahok dan bukan pula anti-Ahok. Saya tidak akan memilih Ahok dan tidak pula akan memilih calon lainnya karena saya orang Bandung. Kalaupun saya orang Jakarta, saya tetap tidak akan memilih siapa pun karena saya tidak menyukai demokrasi.

            Paham, kan?

            Soal pernyataan Ahok yang dianggap melakukan penghinaan kepada Al Quran, sayang sekali, saya berulang-ulang mempelajarinya dan tidak menemukan ada kata-kata yang menghina Al Quran dan menghina ulama. Sama sekali dia tidak mengatakan Q.S. Al Maaidah : 51 itu bohong. Demikian pula sama sekali dia tidak menyinggung-nyingung ulama. Tak ada penghinaan yang dilakukan Ahok. Tak perlu kita memaksakan diri untuk menuduh Ahok melakukan penghinaan jika memang tidak ada buktinya, sebagaimana tidak perlu memaksa para penegak hukum untuk memenjarakan Ahok karena tuduhan korupsi jika tidak ada buktinya. Jika tak ada bukti, kita harus bersikap adil untuk tidak memaksakan kehendak hanya karena kebencian kita kepada agama tertentu atau ras tertentu.

            Aparat hukum, baik itu kepolisian atau KPK wajib bekerja berdasarkan data, fakta, dan bukti, bukan atas dasar desakan pihak-pihak tertentu. Sangatlah berbahaya jika penegak hukum menghukum atau mengadili orang yang tidak melakukan kesalahan apa pun. Jika itu terjadi, penegakan hukum akan berjalan dengan tidak adil. Desakan pihak-pihak tertentu ataupun desakan masyarakat, tidaklah boleh dibenarkan sebagai dasar untuk memenjarakan atau mengadili orang. Desakan dan demonstrasi adalah bahasa politik. Adapun hukum harus menggunakan bahasa data, fakta, dan bukti.

            Dari segi bahasa dan tafsir pun saya tidak menemukan penghinaan yang dilakukan Ahok. Satu-satunya kesalahan yang dilakukan Ahok adalah soal etika. Dia nonmuslim dan keturunan Tionghoa, tak seharusnya berbicara tentang Al Quran yang bisa menimbulkan perdebatan di tengah publik, kecuali yang ringan-ringan saja. Dia memang berkali-kali mengutip beberapa ajaran Islam dengan baik, misalnya, soal keharusan mendengarkan tausiyah menjelang maghrib pada bulan Ramadhan dan keharusan pemimpin untuk meneladani sifat-sifat Rasulullah, seperti, fathonah, siddiq tabligh, dan amanah. Mungkin karena merasa sudah bisa diterima oleh kaum muslimin kebanyakan, Ahok tanpa sadar merasa nyaman apabila membicarakan beberapa ajaran Islam yang menurutnya tidak dilaksanakan semestinya oleh kaum muslimin, seperti Q.S. Al Maaidah : 51. Kesalahan etika yang dilakukan Ahok ini sebenarnya sudah harus selesai dengan permintaan maaf yang diucapkan Ahok. Hal ini sudah merupakan kesadaran yang penuh dari Ahok atas kesalahan etikanya. Diharapkan dia tidak mengulanginya pada masa depan.

            Sesungguhnya, tak masalah jika Ahok ataupun nonmuslim lainnya berpendapat bahwa Al Quran itu seluruhnya bohong dan dusta. Toh, mereka nonmuslim. Mereka tidak menjadi orang Islam karena salah satunya tidak mempercayai Al Quran sebagai kebenaran. Kalau menurut mereka Al Quran adalah kebenaran, mereka seharusnya menjadi orang Islam. Hal ini sama pula dengan saya dan orang Islam lainnya yang menganggap bahwa kitab suci agama apa pun, kecuali Al Quran adalah tercampur dengan berbagai kebohongan dan banyak kedustaan. Hal seperti ini merupakan hak kita sebagai orang Islam untuk menjauhkan siksa api neraka dari diri kita dan keluarga kita. Kita akan mengajari keluarga kita dan orang-orang terdekat bahwa kitab suci agama lain sebagai dusta dan penuh kebohongan. Kita pun akan menyebut bahwa nonmuslim adalah kaum kafir. Jika kita mengajarkan bahwa agama lain di luar Islam adalah benar, sama artinya dengan menjerumuskan diri, keluarga, dan lingkungan kita ke dalam siksa api neraka. Setiap pemeluk agama berhak melindungi diri dan orang-orang terdekatnya untuk tidak terpengaruh oleh agama lain. Setiap pemeluk agama berhak menganggap pemeluk agama lain sebagai kaum kafir, sesat, dan calon penghuni neraka. Saya tidak akan marah dan kesal jika disebut orang kafir, sesat, dan calon penghuni neraka paling dasar dengan siksaan yang mengerikan. Saya hanya akan tertawa sampai terpingkal-pingkal. Toh, yang mengatakan saya kafir dan sesat itu bukan orang Islam. Orang kafir kok mengatakan saya kafir, yang bener aja. Kalau yang mengatakan saya kafir, sesat, atau calon penghuni neraka itu Aa Gym, Hasyim Muzadi, Quraish Shihab, saya baru mikir. Kalau orang nonmuslim yang mengatakannya, buat apa saya pikirin? Mendingan tertawa renyah saja.

            Hal yang patut diperhatikan adalah jika hendak mempertahankan keyakinan diri, keluarga, dan orang-orang terdekat dari pengaruh agama lain dengan cara menuduh agama lain beserta kitabnya penuh kebohongan dan dusta, haruslah di tempat-tempat yang tertutup, jangan di depan publik atau di ruang-ruang publik atau didengar oleh penganut yang agamanya kita sebut dusta. Hal itu sangat berbahaya karena bisa memicu konflik dan pelanggaran hukum. Lakukanlah di lingkungan terbatas tanpa perlu diketahui oleh pemeluk agama lain. Hal itu disebabkan setiap warga negara Indonesia wajib hukumnya untuk menghormati, menjaga, dan melaksanakan perjanjian 3P yang telah disepakati oleh para founding fathers yang terdiri atas berbagai agama. Setiap umat di Negara Indonesia harus tetap menjaga kehidupan harmonis dalam hubungan sosial serta dalam pergaulan berbangsa dan bernegara.


            Sekali lagi, saya tidak menemukan kesalahan dalam kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu itu. Satu-satunya kesalahan Ahok adalah persoalan etika dan itu seharusnya sudah selesai dengan permohonan maaf yang diucapkan Ahok. Ahok dan nonmuslim lainnya harus lebih berhati-hati untuk berbicara tentang Al Quran jika tidak benar-benar memahami ayat Al Quran tersebut. Hal yang lebih besar dari itu semua adalah kita membutuhkan orang-orang kredibel untuk menjadi pemimpin di Indonesia dalam level apa pun agar dapat membawa Indonesia mencapai tujuan nasionalnya secara cepat, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batinnya berdasarkan Pancasila.