Showing posts with label Surga. Show all posts
Showing posts with label Surga. Show all posts

Thursday, 3 February 2022

Cekcok Munarman Mirip Cekcok Syetan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Semua ustadz, kiyai, ulama, atau penceramah Islam pasti tahu bahwa ada peristiwa cekcok antara syetan dengan manusia di akhirat kelak. Manusia-manusia calon penghuni neraka menggugat dan menyalahkan syetan yang telah menggoda mereka sehingga harus masuk neraka. Akan tetapi, syetan balik menyalahkan manusia karena syetan tidak pernah memaksa, hanya menggoda. Artinya, salah manusia sendiri mengikuti godaan syetan. Pertengkaran ini terus berlanjut saling salahkan karena hukuman mengerikan sudah diambang mata.

            Kisah ini bukan rekaan, melainkan nyata karena Allah swt memberitakannya di dalam Al Quran. Ini bukan karangan atau khayalan penceramah dan bukan pula karya Nabi Muhammad saw. Ini adalah peringatan nyata dari Allah swt tentang peristiwa nanti.

            Kisah mirip itu terjadi di dunia ini. Di pengadilan sidang terorisme yang mendakwa Munarman mantan Sekjen Front Pembela Islam (FPI) terjadi cekcok luar biasa antara saksi dengan Munarman. Saksi Z menyalahkan Munarman karena dua kakak kandungnya telah mati gara-gara ceramah Munarman. Dua kakaknya mati karena berbaiat pada Isis dan melakukan bom bunuh diri di Filpina. Si Z sendiri adalah tersangka kasus terorisme yang lainnya. Dalam kasus terorisme Munarman, dia menjadi saksi. Munarman membantah telah menyuruh keluarga Z untuk berbaiat pada Isis, tetapi Z ngotot bahwa ceramah Munarman di Makasar telah membuat dirinya dan kedua kakaknya untuk mengikuti Isis, lalu melakukan bom bunuh diri. Kalau saja mereka bertengkar di luar pengadilan, pasti sudah saling lempar kursi, meja, gelas, teko, air, baku hantam, malah bisa saling bunuh. Karena ributnya di pengadilan, jaksa, hakim, dan pengamanan mencegah mereka untuk saling adu jotos.

            Begitulah, baik Munarman ataupun Z adalah sama-sama didakwa atas keterlibatan mereka dalam kasus teror. Sama-sama mendukung Isis. Akan tetapi, mereka kini menghadapi hukuman yang sama-sama mengerikannya. Awalnya, mereka sama-sama seperti saudara memperjuangkan tegaknya keyakinan versi mereka dengan bertakbir, tetapi ketika digusur di hadapan hukum, saling salahkan, tidak mau untuk dihukum karena kekerasan dan kekejian yang mereka lakukan.

            Mereka tersadar bahwa kelakuan mereka adalah kesalahan. Akan tetapi, semuanya sudah terjadi dan harus bertanggung jawab atas kontribusi mereka dalam tindakan teror dengan caranya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Begitulah, saling salahkan mirip syetan dengan manusia di akhirat kelak karena harus menghadapi hukuman neraka.

            Bagi para pembaca tulisan saya yang sudah terlibat dan belum tersesat terlalu jauh dalam gerakan radikal teror, segera kembali pada kebenaran Islam yang hakiki, yaitu menebarkan cinta, kasih sayang, dan menciptakan kehidupan yang harmonis sehingga tidak akan saling menyalahkan. Bahkan, saling mendukung dan saling menyelamatkan, baik di dunia ini maupun hingga akhirat kelak, saling memberitakan kebaikan saudaranya di hadapan pengadilan illahi nanti agar saudaranya sesama muslim dapat selamat bersama-sama dari siksa api neraka dan bersama-sama pula memasuki surga Allah swt.

            Sampurasun.

Monday, 20 December 2021

Bahar Dilaporkan ke Polisi Lagi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bahar bin Smith ini memang harus diperbaiki jiwanya. Baru keluar dari penjara, sudah bikin onar lagi. Wajar jika dilaporkan lagi ke polisi.

            Apa sih yang sebetulnya dia ajarkan ke pengikutnya?

            Fiqih?

            Muamalah?

            Syariah?

            Tarbiyah?

            Aqidah?

            Akhlak?

            Apa sih?

            Yang saya lihat cuma ceramah teriak-teriak, maki-maki orang sambil mata melotot muka merah, dan urat leher hampir putus.

            Dia kembali dilaporkan ke polisi atas isi ceramahnya dengan pasal yang isinya berupa ujaran kebencian dan permusuhan. Sayangnya, polisi tidak menyebutkan siapa yang melaporkannya dan kasus mana yang dilaporkan. Orang hanya menduga-duga saja isi ceramah kapan dan mana yang dilaporkan. Hal itu bisa diduga dari tanggal pelaporan tersebut, 7 Desember 2021. Itu artinya sudah lumayan terjadi beberapa hari yang lalu.

            Banyak yang menduga kasus itu adalah isi ceramah Bahar yang pertama ketika bebas dari penjara. Dalam ceramahnya, memang jelas sekali dia mengucapkan ujaran kebencian, permusuhan, dan ancaman.

            Begini ancamannya, “Oleh karena itu, saya sampaikan ente orang, saya nggak bahas pemerintah, ente orang para habaib, para kiyai, para ulama, siapa pun ente, mau ente anaknya wali, mau ente anaknya ulama, ente mengkhianati Habib Rizieq, bakal ana habisi satu-satu,”

            Ini jelas ancaman. Saya pun pernah mengalaminya. Dulu saya pernah coba cari-cari tempat tinggal di kampung-kampung berharap tempatnya lebih sepi, tanahnya lebih luas, dan lebih murah. Bukan tempat tinggal yang sekarang. Kebetulan ada yang mau dijual tanah dan rumah seluas 498 m2, tetapi perjanjian kalau saya betah di sana selama satu tahun, saya beli. Eh, baru juga dua bulan, sudah ada yang mengancam istri saya akan dibunuh gara-gara anak-anak tetangga yang main bola di tanah yang saya tempati itu, lalu bolanya tertendang sampai masuk pekarangan rumah orang lain. Yang pekarangannya kemasukan bola marah-marah dan mengancam membunuh istri saya karena memang cuma istri saya yang di rumah, anak-anak saya sedang sekolah dan saya sendiri sedang ada pekerjaan di Cianjur menyusun naskah “Aku Cinta Cianjur”.

            Segera saja istri saya menelepon saya. Dua hari berikutnya saya datang, sambil kesal, lalu lapor polisi. Saya lapor polisi karena saya takut berkelahi. Kalau berkelahi, saya takut dibunuh dan saya takut membunuh orang. Dibunuh atau membunuh adalah menakutkan bagi saya, urusannya panjang. Jalan yang aman adalah lapor polisi.

            Nggak pake lama, nggak sampai 24 jam, malamnya saya lapor. Besoknya orang itu sudah digusur polisi. Malamnya tetangga berdatangan mengucapkan terima kasih karena ternyata orang yang digusur polisi itu juga sering mengganggu dan mengintimidasi tetangga serta kerap melakukan ancaman kekerasan. Saya baru tahu karena warga baru.

            Nah, kalimat ancaman Bahar itu mirip dengan yang terjadi kepada istri saya. Itu sudah jelas ada pelanggaran hukum.

            Coba perhatikan kalimat Bahar. Dia mengancam menghabisi para habaib, para kiyai, para ulama, anak wali, anak ulama satu-satu karena dianggap mengkhianati Rizieq Shihab.

            Wajar dia dilaporkan karena ada orang yang merasa terancam, terganggu, merasa ngeri, atau orang seperti saya yang ketakutan karena saya bisa kapan saja membunuh orang yang membuat saya merasa terancam.

            Orang semacam ini yang dijadikan panutan?

            Orang seperti ini dianggap penuh kebaikan?

            Pengancam para habaib, para kiyai, para ulama, anak wali, dan anak ulama dianggap sebagai jalan menuju surga?

            Surga itu bukan ada pada orang semacam itu, bukan ada di para habaib, tetapi ada di telapak kaki ibu kita. Kalau ingin surga, datangi ibu kita, orangtua kita. Berbaktilah kepada orangtua kita. Merekalah yang jadi wakil Allah swt untuk menciptakan kita di muka Bumi ini. Merekalah yang melindungi kita dari segala bahaya ketika kita tidak berdaya. Mereka yang menjaga kita dari binatang melata, cecunguk, nyamuk, dan bahaya lainnya ketika orang lain tidak mau melakukannya untuk kita.

            Sebesar apa pun mengesalkannya orangtua kita, mereka adalah pengurus kita, pelindung kita. Kewajiban kita adalah berbakti kepada mereka. Inilah jalan surga.

            Datangi ibu kita, ayah kita, cium kaki mereka kalau mereka masih hidup. Kalau sudah tidak ada, datangi kuburannya, cium kuburannya, bersihkan dan pelihara kuburannya, berbicaralah dengan mereka, lalu berdoalah minta ampunan dan kesejahteraan untuk mereka kepada Allah swt. Ini jalan surga. Bukannya mencium kaki orang lain dan berbakti kepada orang lain, tetapi menyakiti hati dan menelantarkan orangtua kita.

            Keridhaan Allah swt sangat bergantung pada keridhaan orangtua tua kita, bukan bergantung pada keridhaan para habib. Jadi, kalau ingin  cinta dan keridhaan Allah swt, cintailah dan buatlah ridha orangtua kita.

            Kalau para habib itu marah-marah kepada kita, bahkan mendoakan buruk bagi kita, datangi ibu kita, mintalah doa dari ibu kita. Niscaya, doa para habib itu runtuh oleh doa ibu kita. Demi Allah swt, doa seorang ibu untuk anaknya jauh lebih ampuh, jauh lebih mujarab dibandingkan doa para wali sekalipun.

            Nabi Muhammad saw sendiri mengajarkan bahwa berbakti yang pertama kali itu kepada ibu kita, kemudian ibu kita, lalu ibu kita, setelah itu ayah kita. Bukan mendahulukan para habib itu. Kaki orang lain dicium, tetapi kaki ibu kita tidak pernah kita cium. Kacau.

            Surga itu ada di ibu kita, orangtua kita. Ini jalan surga, beneran.

            Di mana ada lagi jalan surga?

            Di tetangga kita!

            Berbuat baik dan bersabarlah terhadap tetangga kita. Ini jalan surga.

            Kalaupun kalian rajin maulidan, shalawatan, takbir keliling, tahlilan, tadarusan, tahajudan, pengajian, tetapi jika kalian sering menyakiti hati tetangga atau bahkan fisiknya, neraka adalah tempat kalian. Beneran.

            Nabi Muhammad saw sudah banyak memberikan petunjuk tentang jalan-jalan menuju surga, tinggal kita berupaya dan bersabar melakoninya. Surga itu tidak akan ada di panggung-panggung pidato penuh kemarahan, kebencian, penghujatan, kedustaan yang menggiring kita pada kekacauan. Demi Allah swt.

            Sampurasun.

Sunday, 12 November 2017

Sosial Mengalahkan Ritual

 oleh Tom Finaldin


Dalam mengabdikan diri kepada Allah swt, Islam mengajarkan dua cara, yaitu melalui aktivitas ritual dan aktivitas sosial. Kedua aktivitas itu harus seimbang dan tidak boleh berat sebelah. Kedua-duanya sama pentingnya. Apabila kita mementingkan salah satu,  rusaklah amal baik kita. Tak ada artinya.

            Mereka yang terlalu mementingkan aktivitas ritual, akan terjebak dalam merasa benar sendiri, terjauhkan dari masyarakat, terjauhkan dari ilmu pengetahuan, mudah tertipu, tertinggal dalam perkembangan hidup manusia, bahkan memiliki kecenderungan untuk terlalu mudah menyalahkan orang lain sehingga menimbulkan kekacauan dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula mereka yang terlalu mementingkan aktivitas sosial dengan dalih “yang penting berbuat baik”, akan terlepas dari bimbingan Allah swt dan menganggap bahwa pikirannya selalu benar dan baik, padahal benar dan baik menurut seseorang, belumlah tentu baik bagi orang lain. Orang-orang seperti ini memiliki kecenderungan tersesat dalam hidup dan kerap saling bantah serta mudah bertengkar dengan orang lain karena setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Hal yang juga teramat berbahaya adalah dia akan menganggap dirinya sebagai sumber kebaikan yang menjatuhkannya menjadi orang yang memiliki sifat riya, sombong, angkuh, dan gemar pamer. Hal itu akan membuat segala kebaikannya sia-sia karena sesungguhnya segala kebaikan yang kita lakukan hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Allah swt, bukan untuk mendapatkan hal-hal lain. Orang-orang ini mudah stress, kecewa, dan penuh amarah yang terpendam. Buruk akibatnya bagi dirinya. Allah swt pun terasa jauh dari dirinya.

            Ada dialog menarik antara Nabi Muhammad dengan para sahabatnya yang dapat dijadikan contoh bagaimana hancurnya ibadat ritual karena buruknya sikap sosial. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Hadits ini berasal dari Abu Hurairah.

            Ada seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, Si Fulanah sering melaksanakan shalat malam dan berpuasa sunnah. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

            Rasulullah menjawab, “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya. Dia adalah penduduk neraka.”

            Dari dialog itu, kita bisa melihat bagaimana sia-sianya ibadat ritual seseorang karena lidahnya kotor terhadap tetangganya. Bagaimanapun hebatnya ritual seseorang, tetapi lidah dan mulutnya menyakitkan orang lain, nilainya pun menjadi hancur. Ibadat ritualnya tidak mengantarkannya menuju surga karena buruknya lidahnya terhadap orang lain. Ini artinya, nilai-nilai sosial sangatlah penting karena memang itu yang diharapkan Allah swt, yaitu menebarkan kebaikan dan kasih sayang di antara sesama manusia sehingga kehidupan ini menjadi damai, harmonis, dan seimbang.

            Manfaat dari dialog itu tidak hanya berlaku bagi kehidupan bertetangga, melainkan pula bagi kehidupan bernegara dan dalam percaturan politik dunia. Para penyelenggara negara dan aparat yang lidahnya kotor, tidak konsisten, gemar berbohong, sering menjebak rakyat, kerap melakukan penipuan, melepaskan diri dari janji sebelumnya, mengeluarkan kebijakan yang membingungkan, arogan, dan lain sebagainya adalah para penduduk neraka apabila tidak segera melakukan perbaikan pada dirinya sendiri. Sehebat apa pun mereka melakukan ritual, jika lidahnya dan kebijakannya sering menyakiti rakyat, celakalah mereka. Ada kesakitan dan penderitaan yang sedang menghampiri mereka. Demikian pula para penguasa dunia yang gemar berdusta dan membuat ketidakseimbangan dalam hubungan internasional, sesungguhnya sedang berada dalam kecelakaan yang besar, kegelisahan yang menyiksa, dan kengerian-kengerian itu akan berlanjut bertambah-tambah jumlahnya jika tidak segera memperbaiki dirinya. Neraka akan menjadi tempat mereka jika tidak mengubah dirinya menjadi baik.

            Mari kita perhatikan lagi kelanjutan dialog Nabi Muhammad dengan para sahabatnya.

            Para sahabat berkata, “Ada wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia (baik) tidak mengganggu tetangganya.”

            Nabi Muhammad bersabda, “Dia adalah penduduk surga.”

            Kita bisa melihat bahwa seseorang yang tidak terlalu banyak melakukan ibadat ritual, tetapi mampu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, mendapatkan hadiah surga. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga perdamaian dan keharmonisan hidup. Berbeda dengan dialog awal tadi, sebanyak apa pun ritual yang dilakukan, tetap berakhir di neraka jika mengganggu orang lain. Di sinilah kita melihat bahwa aktivitas sosial telah mengalahkan aktivitas ritual meskipun aktivitas sosial itu hanya sebatas tidak mengganggu perasaan orang lain. Surga yang didapatkan akan lebih meningkat lagi jika bukan hanya sebatas “tidak mengganggu orang lain”, melainkan ditambah dengan aktivitas sosial “memberikan manfaat bagi orang lain”. Hal itu disebabkan kata Nabi Muhammad bahwa orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.


Aktivitas Ritual Dasar Aktivitas Sosial
Adalah sangat baik jika kita menggunakan aktivitas ritual sebagai dasar aktivitas sosial. Artinya, ibadat ritual itu jangan hanya sebatas simbol, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tampaknya sebatas simbol, ibadat ritual itu tetap harus dilakukan dengan cara-cara yang benar, sesuai aturan, dan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan karena merupakan tiang-tiang kokoh yang membuat hidup kita tetap kokoh.

            Misalnya, shalat. Di dalam shalat ada ucapan dan gerakan-gerakan pengagunggan kepada Allah swt, pengakuan kelemahan diri, keyakinan ketergantungan diri kepada Allah swt, doa dan harapan agar Allah swt melindungi kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita, keinginan untuk selalu berada dalam bimbingan Allah swt, serta doa kebaikan untuk seluruh kaum muslimin dan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Hal itu harus terwujud dalam hidup keseharian kita sehingga kita benar-benar terhubung dengan Allah swt dan mampu mewujudkan kedamaian, keharmonisan, dan keseimbangan hidup di dunia. Itulah Islam yang rahmatan lil alamin.

            Adalah kurang berguna jika dalam shalat kita melakukan banyak ucapan dan gerakan pengagunggan kepada Allah swt dan doa-doa untuk diri, kaum muslimin, dan seluruh umat manusia, tetapi dalam keseharian kita banyak melakukan penyesatan kepada orang lain, gangguan kepada masyarakat, kebohongan terhadap publik, kekejian terhadap manusia, dan upaya penipuan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

            Semoga Allah swt mengampuni kita dan selalu memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin.


            Sampurasun.

Friday, 28 July 2017

Teman Terbaik

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Kata atau istilah “teman” sangat sering kita dengar. Kita mungkin dapat mengatakan bahwa kita memiliki teman. Kita bisa menganggap Si A adalah teman kita. Si B dan Si C pun adalah teman kita.

            Akan tetapi, benarkah mereka adalah teman-teman kita?

            Mungkinkah mereka hanya orang yang kita kenal ketika kita berada dalam kecukupan dan pergi meninggalkan kita ketika kita berada dalam kesulitan?

            Saya pernah mendengar berbagai curahan hati, ‘Curhat’ dari beberapa pengusaha dan penguasa yang mengeluh betapa banyaknya teman ketika mereka berada dalam kekuasaan dan kecukupan. Akan tetapi, ketika kekuasaan mereka hilang dan ditimpa berbagai kesulitan, orang-orang yang disebut teman itu pun menghilang satu-satu atau secara bersamaan. Teman-teman mereka akan datang lagi jika para penguasa dan pengusaha itu kembali mendapatkan kemudahan, tetapi pergi lagi menghilang ketika kesusahan menimpa. Jika Allah swt menakdirkan kesulitan yang diderita berjalan dalam waktu yang sangat lama, bahkan sampai akhir hidupnya, tak ada teman yang berada bersamanya. Sesungguhnya, mereka bukanlah teman, tetapi hanya orang-orang yang berupaya mendapatkan keuntungan dari kita. Keuntungan itu bisa berupa uang, makanan, pengaruh, posisi, ataupun kekuasaan. Mereka tak lebih dari penjilat murahan yang akan segera pergi ketika kita ditimpa kesulitan.

            Benarlah syair dari Raja Dangdut Bang Haji Rhoma Irama yang berbunyi, “Banyak teman di meja makan … banyak teman ketika kita jaya … mencari teman memang susah.”

            Memang benar mencari teman sejati yang mau berada bersama kita ketika dalam keadaan suka dan duka teramat susah. Sangat jarang ada orang yang mau dekat dengan kita ketika kita berada dalam keadaan terpuruk. Bahkan, mereka akan menyalahkan kita dengan membicarakan kekurangan dan kejelekan kita di depan teman-teman barunya.

            Demikian pula yang dikatakan oleh menantu Nabi Muhammad, yaitu Ali bin Abi Thalib ketika mengomentari pendapat seseorang terhadap dirinya.

            Seseorang berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Hai Ali, temanmu banyak sekali.”

            Ali menjawab, “Nanti akan kuhitung ketika aku berada dalam kesulitan.”

            Jawaban Ali itu jelas menyiratkan bahwa orang-orang yang saat itu selalu bersama dirinya ketika menjadi khalifah dengan kekuasaan politik dan ekonomi yang besar, belum tentu teman-temannya. Ia akan menghitung dan mengetahui siapa teman yang sebenarnya ketika berada dalam kejatuhan dan kesulitan. Teman-teman yang sejati adalah yang selalu berada bersama dirinya ketika situasinya benar-benar dalam keadaan teramat menderita.

            Mencari teman itu memang susah. Oleh sebab itu, Allah swt memberikan petunjuk kepada kita tentang siapa saja teman-teman terbaik bagi kita itu.

            Kata Allah swt, “Mereka yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS An Nisa 4 : 69)

            Dalam ayat di atas jelas sekali bahwa sebaik-baik teman adalah para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Sekarang kita di dunia ini tidak bisa berteman dengan para nabi karena mereka sudah meninggal. Demikian pula tidak bisa berteman dengan orang-orang yang mati syahid karena mereka pun sudah meninggal. Hanya dua jenis manusia yang layak menjadi teman kita, yaitu para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh.

            Mereka adalah teman-teman terbaik yang selalu benar dalam berpikir, berasa, berbicara, dan bertindak. Mereka hanya hidup untuk berbuat kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka tidak akan “menyedot” energi kita secara licik, kemudian meninggalkan kita ketika kita berada dalam kesusahan. Mereka akan bersama kita bersenang-senang ketika mendapatkan banyak kenikmatan dan akan saling menghibur ketika berada dalam situasi sulit. Mereka adalah orang-orang yang anti-merugikan orang lain. Tak ada niat dalam diri mereka untuk menyusahkan orang lain. Tak ada keinginan dalam diri mereka untuk bersenang-senang dalam penderitaan orang lain. Tak ada upaya yang mereka lakukan untuk berbuat licik dan curang. Bahkan, mereka merasa menderita jika melihat orang lain menderita. Mereka adalah para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh.

            Untuk mendapatkan teman yang mencintai kebenaran dan banyak melakukan kebaikan di muka Bumi ini, caranya tidak ada yang lain, kecuali menjadikan diri kita sebagai pecinta kebenaran dan pelaku kesalehan. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mengumpulkan orang-orang sesuai dengan sifat dan sikapnya masing-masing. Orang-orang buruk akan berteman dengan orang-orang buruk pula. Orang-orang baik akan berteman dengan orang baik pula.

            Nabi Muhammad berkata, “Untuk menilai seseorang, lihatlah teman-temannya. Jika perangai teman-temannya buruk, dia pun adalah orang buruk. Jika perangai teman-temannya baik, dia adalah orang baik. Setiap orang tidak berbeda dari teman-temannya.”

            Sekarang, nilailah diri kita. Perhatikan orang-orang yang berada di sekitar kita atau orang-orang yang kerap kita sebut sebagai “teman”. Jika mereka buruk, berarti kita adalah orang yang buruk. Jika mereka baik, kita pun sesungguhnya orang baik.

            Dalam waktu yang lain, Muhammad mengatakan, “Untuk menilai seseorang, lihatlah musuhnya. Jika musuhnya adalah orang-orang baik, dia adalah orang jahat.”

            Meskipun demikian, belum tentu jika musuhnya adalah orang-orang jahat, dia merupakan orang yang baik. Belum tentu dia adalah orang baik. Bisa jadi dia pun sebenarnya orang jahat yang sedang bermusuhan dengan orang jahat. Hal itu disebabkan orang jahat sangat sering bermusuhan dengan orang jahat. Para penjahat kerap bermusuhan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan orang-orang baik. Mereka tidak pernah bermusuhan karena sama-sama orang baik. Orang-orang baik tidak pernah bermusuhan di antara mereka. Kalau terjadi permusuhan, salah satu dari mereka telah berubah menjadi orang jahat atau kedua-duanya menjadi orang jahat pula. Tidak mungkin orang baik memusuhi orang baik. Orang baik selalu bersama dengan kebaikan.

            Cintailah kebenaran dan lakukanlah kebaikan di muka Bumi ini agar Allah swt mengumpulkan kita dengan para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh di dunia ini. Di akhirat, teman kita akan ditambah lagi dengan para nabi dan orang-orang yang mati syahid pemberani pembela kebenaran sejati.

            Semoga Allah swt selalu memberikan petunjuk dan perlindungan bagi kita.

            Amin.


            Sampurasun.

Tuesday, 4 July 2017

Obama Merindukan Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebagaimana yang kita tahu bahwa mantan Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama menghabiskan hidup masa kecil di Indonesia. Dia bersekolah di sekolah dasar Indonesia paling tidak sampai dengan kelas tiga atau kelas empat, sampai antara usia 9-10 tahun. Ia pertama kali belajar melancarkan membaca, menulis, dan berhitung di Indonesia. Demikian pula belajar kepemimpinan semasa kecilnya di Indonesia. Menurut gurunya sewaktu di sekolah dasar, sifat kepemimpinan Obama sudah mulai terlihat. Saya suka berkelakar bahwa Obama yang lulusan kelas 3 SD di Indonesia bisa menjadi presiden Amerika Serikat, sedangkan Amien Rais yang lulusan S3 di Amerika Serikat tidak bisa menjadi presiden Indonesia. Artinya, kualitas pendidikan di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan  dengan di Amerika Serikat.

            Maaf Pak Amien Rais, saya cuma berkelakar.

            Tidak ada yang marah, kan?

            Maaf, bercanda.

            Ketika awal pertama kali terpilih menjadi presiden Amerika Serikat, Obama segera datang ke Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pengaruh jiwa Indonesia sudah tertanam cukup kuat dalam diri Obama. Dia sudah memiliki sifat dan sikap sebagaimana orang Indonesia pada umumnya. Sifat orang Indonesia itu jika sudah mendapat kesuksesan selalu kembali ke kampungnya dan memberitakan keberhasilan dirinya. Ini ada dalam tradisi mudik. Setiap hari raya Idul Fitri, mereka yang sudah mendapatkan kesukesan di kota-kota besar, seperti, Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makasar, dan lain sebagainya, selalu pulang ke kampung halamannya menemui orangtuanya, saudara-saudaranya, teman-temannya, tidur dengan nyaman di tempatnya semasa kecil, dan berbagi dengan orang-orang terdekatnya.

            Demikian pula Obama, dia datang ke Indonesia dengan kalimat, “Pulang kampung, nih.”

            Dia pun menemui saudara-saudaranya di Indonesia, sekolahnya ketika kecil, rumahnya, teman-temannya, saudara-saudaranya, dan yang pasti adalah menyantap makanan paling lezat di dunia yang ada di Indonesia, the most delicious food in the world.

            Apa makanan yang paling lezat di dunia?

            Nomor satu rendang dari Indonesia. Nomor dua nasi goreng dari Indonesia juga. Beruntung, hampir setiap orang Indonesia bisa memasak nasi goreng. Saya bisa memakan nasi goreng kapan saja kalau mau. Kalau rendang, harus beli ke restoran.

            Nomor tiga dan seterusnya ada di negara lain di luar Indonesia.

            Obama pun tampaknya ingin sekali tidur lagi di Indonesia dan memang kenyataannya demikian. Dia berlibur dengan keluarganya sangat lama di Indonesia serta merindukan suara adzan dan gamelan.

            Indonesia memang ngangenin, ‘membuat rindu siapa saja’.

            Indonesia memang unik. Setiap orang yang lahir di Indonesia selalu ingin pulang kembali ke Indonesia jika pergi ke luar negeri. Berapa lama pun dia berada di luar negeri, selalu saja ingin pulang ke Indonesia. Mereka tak pernah ingin tua di luar negeri. Mereka selalu menginginkan menghabiskan sisa umurnya di Indonesia dan jika mati, dikubur pun ingin di Indonesia. Tak pernah ada orang Indonesia yang menyatakan ingin mati dikubur di Amerika Serikat, Jepang, atau Eropa. Paling banter, kalau tidak di Indonesia, mereka ingin dikubur di Mekah, Arab Saudi.

            Demikian pula orang-orang asing yang pernah ke Indonesia, selalu ingin datang lagi dan lagi ke Indonesia. Mereka selalu rindu dengan Indonesia. Bahkan, anehnya, ada yang ingin menghabiskan masa tua di Indonesia dan mati pun ingin dikubur di Indonesia. Tak heran jika Barack Husein Obama ingin “pulang” ke Indonesia.

            Dari seluruh wilayah Indonesia ini, ada wilayah khusus yang sangat dirindukan, yaitu tanah sunda. Siapa pun orang Indonesia yang lahir di Sunda dan pernah ke wilayah Sunda selalu ingin pulang ke tanah Sunda. Jakarta juga termasuk tanah Sunda. Orang Batak, Jawa, Minang, Bugis, dan puluhan ribu suku lainnya yang pernah lama di tanah Sunda selalu ingin kembali ke Sunda, ingin tua di Sunda, dan mati dikubur di tanah Sunda. Anehnya, orang Sunda sendiri tidak pernah ada yang ingin dikubur di wilayah suku lain, tetapi selalu ingin pulang ke tanah kelahirannya di Sunda.

            Unik memang.

            Dari seluruh wilayah Sunda, ada wilayah yang sangat khusus yang paling dirindukan, yaitu wilayah Bandung. Tempat inilah yang menjadi ikon Sunda. Wilayah Sunda memang luas, tetapi Bandung adalah tempat yang paling spesial dan paling dirindukan. Entah kenapa.


Indonesia Surga Dunia
Saya menduga bahwa surga yang dulu didiami Nabi Adam as dan Siti Hawa adalah sebuah tempat di Indonesia, terutama di tanah Sunda, khususnya di wilayah Bandung Raya.

            Ini dugaan, belum menjadi kenyataan karena harus jelas dalil naqli dan dalil aqli-nya. Harus bisa diterima dengan landasan ayat Al Quran, hadits, dan logika.

            Dugaan ini berangkat dari kerinduan orang-orang dari mana saja di dunia ini ke wilayah Indonesia dan ingin bertempat tinggal di Indonesia, bahkan ada orang asing yang sudah puluhan tahun berjuang keras untuk menjadi warga Negara Indonesia dengan keringat dan cucuran air mata. Ini menunjukkan seolah-olah Indonesia adalah “dirinya”, awal dirinya berasal.

            Di samping itu, dari beberapa diskusi, disebutkan bahwa surga yang nanti setelah kiamat itu belum diciptakan, sedangkan surga yang pernah didiami Adam as adalah surga yang berbeda. Surga ini jauh berbeda dengan surga yang nanti kekal abadi. Surga Adam as yang dulu tampaknya memang sebuah tempat di Bumi yang menyenangkan, penuh dengan pepohonan rindang, binatang jinak yang bisa dimakan, banyak aliran sungai, cuacanya tidak ekstrim, dan tanahnya subur. Itu adalah Indonesia. Pendapat ini pun dikuatkan bahwa surga yang pernah didiami Nabi Adam as adalah tempat yang “tidak steril” dari keburukan. Buktinya, di sana ada pohon khuldi yang dilarang dimakan, bahkan harus dijauhi. Hal yang teramat jelas adalah surga itu pun ternyata bisa didatangi syetan, Iblis Laknatullah.

            Bukankah Adam as dan istrinya digoda Iblis sehingga memakan buah khuldi yang menyebabkannya diusir dari surga?

            Mengapa di surga ada hal-hal yang dilarang dan masih dapat dimasuki Iblis?

            Bukankah surga itu tempat segalanya diperbolehkan untuk dinikmati dan bersih dari kebusukan syetan?

            Hayo, bagaimana penjelasannya?

            Mari kita berpikir karena berpikir menggunakan akal itu tidak berdosa bahkan bermanfaat. Justru jika kita percaya begitu saja tanpa proses berpikir bisa berbahaya dan bisa jatuh dalam taklid yang menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan.

            Penjelasannya adalah surga yang pernah dihuni Nabi Adam as itu berbeda dengan surga yang nanti diciptakan setelah kiamat terjadi.

            Persoalannya, di mana surga yang pernah didiami Nabi Adam as tersebut?

            Allah swt tidak pernah mengatakan telah menghancurkannya. Artinya, tempat itu tetap ada dan masih ada.

            Di mana?

            Saya menduga ada di Indonesia jika dilihat dari cuaca, jenis tumbuhan, kesuburan tanah, jenis binatang, dan makanan-makanan.

            Bukankah makanan yang paling lezat di dunia berasal dari Indonesia?

            Bukankah setiap orang Indonesia dan orang yang pernah tinggal di Indonesia selalu merindukan Indonesia?

            Sayangnya, untuk meyakini hal ini tidak cukup dengan beberapa gelintir kesamaan antara Indonesia dengan surga, diperlukan dalil-dalil naqli dan aqli yang sangat kuat sehingga bisa diterjemahkan dan dipahami dengan logika manusia. Ada memang satu atau dua ayat Al Quran yang saya rasa menunjukkan letak surga itu, tetapi saya masih belum yakin karena masih harus dihubungkan dengan ayat lainnya serta jalan logika yang benar berdasarkan perubahan geografi Bumi dari zaman ke zaman dan sejarah kehidupan manusia yang juga dari zaman ke zaman.

            Indonesia memang unik dan bisa saja memang di dalamnya ada tempat yang disebut surga yang pernah ditinggali Adam as.

            Allah swt yang lebih tahu tentang hal itu dan akan memberikan penjelasan-Nya jika Dia mau menjelaskannya kepada manusia. Akan tetapi, jika Allah swt ingin tetap menjadikan surga itu sebagai misteri, hal itu pun tetap akan jadi misteri. Dia menginginkan sesuatu yang Dia inginkan sendiri.

            Kita boleh berpikir dan Allah swt yang berkuasa atas segalanya.

            Sampurasun

Monday, 8 May 2017

Keputusan Hakim Bukan Keputusan Allah swt

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hakim adalah manusia, sedangkan Allah swt adalah Sang Pencipta. Hal itu sudah jelas. Jadi, kita tidak pernah boleh mengatakan bahwa keputusan hakim adalah keputusan Allah swt. Apalagi jika kita memperhatikan bahwa banyaknya hakim di dunia ini yang justru berubah posisinya menjadi yang dihakimi, terdakwa, bahkan terpidana karena mendapatkan suap atau melakukan perilaku buruk lainnya.

            Meskipun demikian, keputusan hakim adalah harus dianggap benar demi tegaknya sistem hukum di Indonesia maupun di dunia ini. Dianggap benar bukanlah berarti mutlak benar. Oleh sebab itu, pintu-pintu untuk mencari kebenaran dan keadilan masih dibuka lebar, baik itu melalui banding, peninjauan kembali, maupun grasi.

            Benar menurut hakim, belum tentu benar menurut Allah swt. Belum tentu itu artinya bisa sama, bisa pula bertolak belakang. Akan tetapi, jika sebuah vonis hakim terjadi dan dilaksanakan secara nyata, itu berarti mendapatkan “izin” dari Allah swt untuk terjadi. Pemberian izin itu bukan berarti benar. Izin itu sama dengan “boleh” atau “bisa”. Hal ini sama dengan Allah swt mengizinkan terjadinya peredaran Narkoba, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai kejahatan lainnya. Sama pula dengan Allah swt mengizinkan terjadinya perbuatan-perbuatan baik manusia. Jika tidak mendapatkan izin dari Allah swt, perbuatan jahat dan perbuatan baik manusia tidak akan pernah terjadi.

            Lantas, mengapa Allah swt mengizinkan semua hal jahat terjadi?

            Jawabannya, semua hal yang diizinkan terjadi adalah untuk menguji manusia agar memastikan dirinya sebagai manusia untuk berada dalam kebenaran atau berada dalam kejahatan. Melalui ujian-ujian itulah Allah swt menilai kualitas setiap diri manusia yang pada akhirnya akan dikumpulkan di akhirat nanti. Sebagian ada di surga, sebagian lagi ada di neraka.

            Bukankah Allah swt mengizinkan Iblis dan syetan-syetan untuk mengganggu manusia agar hidup dalam kesesatan?

            Vonis hakim bisa salah dan bisa benar. Akan tetapi, Allah swt selalu benar. Itulah bahayanya posisi hakim. Jika sesuai dengan kehendak Allah swt, dimuliakanlah hakim itu. Akan tetapi, jika bertentangan dengan kehendak Allah swt, rugilah hakim itu dan Allah swt akan menunjukkan hukuman-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Oleh sebab itu, setiap hakim harus lebih banyak berhubungan dengan Allah swt agar dapat memutuskan perkara dengan seadil-adilnya dan tidak bertentangan dengan keinginan Allah swt sehingga merugikan diri hakim sendiri.

            Tak heran, di Indonesia namanya adalah “hakim” yang berarti “pemilik hikmah”. Hikmah sendiri berarti “rahasia”, bahkan ada yang mengartikan “rahasia di balik rahasia”. Artinya, hakim adalah pemilik “pengetahuan yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa” dan mampu untuk mewujudkan rahasia itu ke dalam pemahaman manusia biasa agar dapat dimengerti oleh semua orang.

            Karena hakim adalah manusia seperti kita-kita juga, berbeda pendapat dengan hakim adalah boleh dan sah. Meskipun demikian, keputusan hakim tetap harus dijalankan. Perbedaan pendapat adalah soal ilmu pengetahuan. Adapun keputusan hakim adalah mengikat agar adanya kepastian hukum dan untuk tegaknya lembaga peradilan. Sedih, kecewa, dan marah atas keputusan hakim itu boleh. Gembira, senang, bersuka ria atas keputusan hakim juga boleh. Tidak setuju dengan keputusan hakim adalah sah. Setuju dengan keputusan hakim juga sah. Hal yang sangat dilarang adalah menggunakan aksi-aksi inkonstitusional untuk menggugat keputusan hakim sehingga mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara yang seharusnya berada dalam keadaan tertib dan harmonis.


            Sampurasun.

Friday, 28 April 2017

“Teori Kapur Barus” Prof. Dr. Hamka Terbukti?

oleh Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.



Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini adalah untuk memperkuat Rangkuman Taushiyah Ustadz Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia.

            Penelusuran sejarah masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 sebelumnya sudah dikemukakan Prof. Dr. Hamka. Ajaran Islam pada saat itu langsung didakwahkan oleh khulafaur rasyiddin dengan misi utama dakwah, bukan perdagangan. Pendapat tersebut berbeda dengan pakar lainnya, yaitu bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang Gujarat (abad ke-13). Pendapat kedua tersebut sengaja disimpangkan oleh kolonial Belanda.

            Adalah rangkuman taushiyah Ustd. Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia yang tersebar di media sosial yang mendorong penulis ikut “nimbrung” memposting tulisan ini.

            Berdasarkan penelusuran bukti-bukti sejarah seperti yang ada di perpustakaan Spanyol dan Inggris, menurut Dr. Haikal Hassan, Sayidina Ali bin Abi Thalib as, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (tanah Sunda), Indonesia pada 625 M; Ja’far bin Abi Thalib berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia sekitar 626 M; Ubay bin Kaab berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah sekitar 626 M; Abdullah bin Mas’ud berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar 626 M; Abdurrahman  bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar 625 M; Akasyah bin Muhsin Al Usdi berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan, dan sebelum Rasulullah wafat, ia kembali ke Madinah sekitar 623 M; Salman Al Farisi berdakwah ke Perlak, Aceh Timur dan kembali ke Madinah sekitar 626 M.


Teori “Kapur Barus” Hamka
Pendapat mendiang Prof. Dr. Hamka bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada era khulafaur rasyiddin (abad ke-7 M) pada awalnya banyak ditentang sejarawan, Menurut Hamka, salah satu bukti Islam sudah masuk ke Nusantara pada abad ke-7 adalah kapur barus yang hanya ada di Indonesia (Asia Tenggara) dan pada saat itu, barang komoditas yang amat mahal di dunia tersebut sudah dipergunakan di Jazirah Arab untuk wewangian, campuran minuman, bahan obat-obatan, bahan pewangi pengurusan jenazah, dll.. Bahkan, sumber tertua menyebutkan bahwa catatan seorang pedagang Cina yang menelusuri Jalur Sutera pada awal abad ke-4, catatan seorang dokter Yunani di Mesopotamia yang bernama Actius (502-578 M) dan catatan dinasti Liang (502-577 M) sudah mengenal kapur barus tersebut. Jika catatan Ptolomaeus (seorang filsuf Alexandria pada abad pertama masehi) benar, yang disebutnya “kapur” adalah kapur (barus) yang berasal dari Barus, kemungkinan besar bahan yang sangat berharga tersebut sudah digunakan sejak SM.

            Atas dugaan tersebut, mungkinkah mumi jenazah Firaun pun di Mesir sudah menggunakan kapur barus?

            Saat sekarang pendapat Hamka yang menjelaskan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M tersebut semakin menguat setelah ditemukannya bukti lain bahwa salah seorang sahabat Rasulullah saw, yakni Abdurrahman bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 625 M.

            Dinamakan “Barus” karena daerah tersebut adalah daerah endemik pohon kapur (drybalanops aromatic) sebagai bahan baku kapur barus. Selain di Sumatera Utara, pohon yang sangat langka di dunia tersebut tumbuh di Borneo.


Islam dan Kapur Barus
“Sungguh orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (QS 76 : 5)

            Apakah air kafur yang dimaksud Al Quran tersebut adalah suatu mata air di surga yang airnya putih, baunya wangi, dan sedap sekali rasanya?

            Ataukah pohon Barus termasuk tanaman surga yang ada di Bumi seperti halnya pohon Tin dan pohon Gaharu?

            Jika benar, pantaslah jika minuman dengan wewangian campuran dari pohon barus menjadi sajian yang sangat istimewa di Cina dan Jazirah Arab pada masanya, sebagaimana digambarkan dalam Al Quran tersebut.

            Wallaahualam


Bidang Kesehatan
Di bidang kesehatan, ilmuwan muslim, yakni Ibnu Sina (980-1037 M) sudah menggunakan kapur barus sebagai obat dan wewangian. Bahkan, Ibnu Sina sudah menjelaskan teknik penyulingannya.


“Menjadi Kapur di Dalam Barus”
Memasuki abad ke-16, Barus yang semula sebagai pusat perdagangan dunia dengan komoditas utama barus, mengakhiri masa emasnya. Pujangga Hamzah Fansuri dalam beberapa bait syairnya menggambarkan:

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Bayt al Kabah
Dari Barus ke Qudus terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah
….
Hamzah Syahr Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berharus
Menjadi kapur di dalam Barus
….

            Semoga Islam jaya, jaya deui.

            Wallaahualam bishshawab

Salam Asia Afrika
Salam Bandung Lautan Api
Salam “Halo-Halo Bandung”
Mari Bung (kejayaan Islam) Rebut Kembali

Allahu Akbar …!