Showing posts with label Shalat. Show all posts
Showing posts with label Shalat. Show all posts

Sunday, 12 November 2017

Sosial Mengalahkan Ritual

 oleh Tom Finaldin


Dalam mengabdikan diri kepada Allah swt, Islam mengajarkan dua cara, yaitu melalui aktivitas ritual dan aktivitas sosial. Kedua aktivitas itu harus seimbang dan tidak boleh berat sebelah. Kedua-duanya sama pentingnya. Apabila kita mementingkan salah satu,  rusaklah amal baik kita. Tak ada artinya.

            Mereka yang terlalu mementingkan aktivitas ritual, akan terjebak dalam merasa benar sendiri, terjauhkan dari masyarakat, terjauhkan dari ilmu pengetahuan, mudah tertipu, tertinggal dalam perkembangan hidup manusia, bahkan memiliki kecenderungan untuk terlalu mudah menyalahkan orang lain sehingga menimbulkan kekacauan dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula mereka yang terlalu mementingkan aktivitas sosial dengan dalih “yang penting berbuat baik”, akan terlepas dari bimbingan Allah swt dan menganggap bahwa pikirannya selalu benar dan baik, padahal benar dan baik menurut seseorang, belumlah tentu baik bagi orang lain. Orang-orang seperti ini memiliki kecenderungan tersesat dalam hidup dan kerap saling bantah serta mudah bertengkar dengan orang lain karena setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Hal yang juga teramat berbahaya adalah dia akan menganggap dirinya sebagai sumber kebaikan yang menjatuhkannya menjadi orang yang memiliki sifat riya, sombong, angkuh, dan gemar pamer. Hal itu akan membuat segala kebaikannya sia-sia karena sesungguhnya segala kebaikan yang kita lakukan hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Allah swt, bukan untuk mendapatkan hal-hal lain. Orang-orang ini mudah stress, kecewa, dan penuh amarah yang terpendam. Buruk akibatnya bagi dirinya. Allah swt pun terasa jauh dari dirinya.

            Ada dialog menarik antara Nabi Muhammad dengan para sahabatnya yang dapat dijadikan contoh bagaimana hancurnya ibadat ritual karena buruknya sikap sosial. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Hadits ini berasal dari Abu Hurairah.

            Ada seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, Si Fulanah sering melaksanakan shalat malam dan berpuasa sunnah. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

            Rasulullah menjawab, “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya. Dia adalah penduduk neraka.”

            Dari dialog itu, kita bisa melihat bagaimana sia-sianya ibadat ritual seseorang karena lidahnya kotor terhadap tetangganya. Bagaimanapun hebatnya ritual seseorang, tetapi lidah dan mulutnya menyakitkan orang lain, nilainya pun menjadi hancur. Ibadat ritualnya tidak mengantarkannya menuju surga karena buruknya lidahnya terhadap orang lain. Ini artinya, nilai-nilai sosial sangatlah penting karena memang itu yang diharapkan Allah swt, yaitu menebarkan kebaikan dan kasih sayang di antara sesama manusia sehingga kehidupan ini menjadi damai, harmonis, dan seimbang.

            Manfaat dari dialog itu tidak hanya berlaku bagi kehidupan bertetangga, melainkan pula bagi kehidupan bernegara dan dalam percaturan politik dunia. Para penyelenggara negara dan aparat yang lidahnya kotor, tidak konsisten, gemar berbohong, sering menjebak rakyat, kerap melakukan penipuan, melepaskan diri dari janji sebelumnya, mengeluarkan kebijakan yang membingungkan, arogan, dan lain sebagainya adalah para penduduk neraka apabila tidak segera melakukan perbaikan pada dirinya sendiri. Sehebat apa pun mereka melakukan ritual, jika lidahnya dan kebijakannya sering menyakiti rakyat, celakalah mereka. Ada kesakitan dan penderitaan yang sedang menghampiri mereka. Demikian pula para penguasa dunia yang gemar berdusta dan membuat ketidakseimbangan dalam hubungan internasional, sesungguhnya sedang berada dalam kecelakaan yang besar, kegelisahan yang menyiksa, dan kengerian-kengerian itu akan berlanjut bertambah-tambah jumlahnya jika tidak segera memperbaiki dirinya. Neraka akan menjadi tempat mereka jika tidak mengubah dirinya menjadi baik.

            Mari kita perhatikan lagi kelanjutan dialog Nabi Muhammad dengan para sahabatnya.

            Para sahabat berkata, “Ada wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia (baik) tidak mengganggu tetangganya.”

            Nabi Muhammad bersabda, “Dia adalah penduduk surga.”

            Kita bisa melihat bahwa seseorang yang tidak terlalu banyak melakukan ibadat ritual, tetapi mampu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, mendapatkan hadiah surga. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga perdamaian dan keharmonisan hidup. Berbeda dengan dialog awal tadi, sebanyak apa pun ritual yang dilakukan, tetap berakhir di neraka jika mengganggu orang lain. Di sinilah kita melihat bahwa aktivitas sosial telah mengalahkan aktivitas ritual meskipun aktivitas sosial itu hanya sebatas tidak mengganggu perasaan orang lain. Surga yang didapatkan akan lebih meningkat lagi jika bukan hanya sebatas “tidak mengganggu orang lain”, melainkan ditambah dengan aktivitas sosial “memberikan manfaat bagi orang lain”. Hal itu disebabkan kata Nabi Muhammad bahwa orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.


Aktivitas Ritual Dasar Aktivitas Sosial
Adalah sangat baik jika kita menggunakan aktivitas ritual sebagai dasar aktivitas sosial. Artinya, ibadat ritual itu jangan hanya sebatas simbol, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tampaknya sebatas simbol, ibadat ritual itu tetap harus dilakukan dengan cara-cara yang benar, sesuai aturan, dan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan karena merupakan tiang-tiang kokoh yang membuat hidup kita tetap kokoh.

            Misalnya, shalat. Di dalam shalat ada ucapan dan gerakan-gerakan pengagunggan kepada Allah swt, pengakuan kelemahan diri, keyakinan ketergantungan diri kepada Allah swt, doa dan harapan agar Allah swt melindungi kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita, keinginan untuk selalu berada dalam bimbingan Allah swt, serta doa kebaikan untuk seluruh kaum muslimin dan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Hal itu harus terwujud dalam hidup keseharian kita sehingga kita benar-benar terhubung dengan Allah swt dan mampu mewujudkan kedamaian, keharmonisan, dan keseimbangan hidup di dunia. Itulah Islam yang rahmatan lil alamin.

            Adalah kurang berguna jika dalam shalat kita melakukan banyak ucapan dan gerakan pengagunggan kepada Allah swt dan doa-doa untuk diri, kaum muslimin, dan seluruh umat manusia, tetapi dalam keseharian kita banyak melakukan penyesatan kepada orang lain, gangguan kepada masyarakat, kebohongan terhadap publik, kekejian terhadap manusia, dan upaya penipuan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

            Semoga Allah swt mengampuni kita dan selalu memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin.


            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tiket Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang yang menganggap dirinya atau kelompok agamanya adalah yang pasti masuk surga, kelompok yang lain tidak dan pasti masuk neraka. Kalaupun harus masuk neraka, mereka yakin hanya sebentar, ujung-ujungnya, pasti masuk surga. Sayangnya, Allah swt membantah mereka yang berpendapat demikian. Mereka hanya berangan-angan tanpa bukti dan hanya menyebar hoax agar orang lain sama pikirannya dengan dirinya.

            Kata Allah swt, “Bukan demikian, yang benar adalah siapa saja berbuat dosa dan dirinya telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 81)

            Jadi, seseorang atau sekelompok manusia dijerumuskan ke dalam neraka bukanlah disebabkan ras, negara, atau pengakuan agamanya di hadapan manusia, melainkan karena dirinya telah diliputi oleh banyak dosa sehingga Allah swt menggambarkannya sebagai manusia yang ditenggelamkan oleh dosanya sendiri. Karena dosa dan pengingkarannya kepada Allah swt sangat banyak, mereka tak pernah bisa keluar dari neraka dan terus menderita, sedih, sakit, sengsara, gelisah, cemas, dan penuh kesulitan.

            Untuk menjadi penduduk surga, harus ada tiket yang dimiliki. Tiket itu adalah beberapa hal yang harus dilakukan oleh manusia.

            Begini Allah swt menjelaskan hal tersebut.

            “Adapun orang-orang beriman serta berbuat kebaikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 82)

            Jadi, tiket untuk memasuki surga adalah hanya dua hal, yaitu beriman dan berbuat kebaikan.


Beriman
Orang yang beriman artinya “orang yang memiliki keyakinan”.

            Hal apa saja yang harus diyakini atau diimani itu?

            Ada enam hal minimal yang harus diyakini, yaitu yakin terhadap eksistensi dan kekuasaan Allah swt, yakin terhadap adanya malaikat-malaikat Allah swt, yakin terhadap para utusan Allah swt, yakin terhadap kitab-kitab yang dibawa para utusan itu, yakin terhadap terjadinya kiamat, dan yakin terhadap adanya takdir baik dan takdir buruk.

            Keenam hal itu adalah dasar keyakinan atau dasar keimanan. Tanpa meyakini keenam hal itu, seseorang tidaklah bisa disebut orang beriman. Satu hal saja tidak diyakini, seseorang tidaklah beriman. Jadi, jangan mengharapkan surga jika tidak mempercayai keenam hal itu.

            Jika sudah mempercayai keenam hal itu, pintu surga pun mulai terbuka. Akan tetapi, beriman saja tidak cukup, meyakini keenam hal itu saja tidak cukup. Keimanan atau keyakinan itu harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari yang disebut berbuat kebaikan.


Berbuat Kebaikan
Terdapat banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, jenis kebaikan minimal yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan surga adalah sebagaimana yang dijelaskan Allah swt sendiri.

            “… Janganlah kamu menyembah selain Allah, berbuat baiklah kepada orangtua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, serta tunaikanlah zakat….” (QS Al Baqarah 2 : 83)

            Berdasarkan keterangan Allah swt tersebut, untuk dapat menjadi penghuni surga, kita harus hanya menyembah Allah swt. Jangan menyembah hal-hal yang diciptakan Allah swt, semacam, batu, gunung, pohon, malaikat, jin, manusia, atau hal yang lainnya. Termasuk pula, jangan menyembah hal-hal yang ada dalam fantasi manusia seperti adanya tuhan-tuhan lain yang sesungguhnya hanya ada dalam dongeng dan khayalan tanpa bisa dibuktikan eksistensinya.

            Berbuat baiklah kepada orangtua. Kita dilahirkan dari sepasang suami-istri, yaitu ayah-ibu, papa-mama, papah-mamah, umi-abi. Merekalah yang menjadi wakil Allah swt di muka Bumi ini yang mengurus, merawat, dan memelihara sejak lahir sampai tumbuh besar hingga kita mampu bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Oleh sebab itu, muliakanlah mereka, hargai mereka, rawatlah mereka jika sudah renta, jangan sakiti hati mereka, berilah senyuman untuk mereka, dan bahagiakanlah mereka. Jika mereka melakukan kesalahan, segera maafkan mereka, dan berilah pemahaman dengan cara yang agung agar mereka mendapatkan karunia Allah swt yang sangat besar.

            Berbuat baiklah kepada kaum kerabat. Kita memiliki saudara yang jauh dan dekat. Berlakulah baik kepada mereka. Minimal, hade ku basa, ‘berbahasa yang baik, sopan, dan tidak menyakitkan’. Sambungkanlah tali silaturahmi terus-menerus supaya tidak pareum obor, ‘tidak kehilangan cahaya hidup’. Sesungguhnya, bersama merekalah kita bisa saling membantu karena adanya hubungan darah dan garis keturunan yang sama. Itulah ikatan yang tidak bisa terhapus. Ketika mereka membutuhkan pertolongan kita, tolonglah karena mereka akan ingat pertolongan kita sehingga ketika kita kesulitan, mereka pun akan menolong kita.

            Berbuat baik kepada anak-anak yatim. Anak-anak yatim dan yatim piatu telah kehilangan tangan yang mewakili Allah swt di muka Bumi untuk mengurus dan membesarkan mereka. Oleh sebab itu, siapa pun yang sudi mengulurkan tangan untuk mereka dan merawatnya dengan baik hingga dewasa, ia sudah menjadi tangan Allah swt dalam menjaga dan memelihara kehidupan manusia. Tak heran jika Allah swt mengangkat derajat orang yang bersedia menjadi orangtua angkat anak-anak yatim piatu ke derajat yang sangat tinggi asal tidak menjadikan anak-anak yatim itu sebagai budak belian atau bahan bullying.

            Berbuat baik kepada orang-orang miskin. Orang miskin adalah orang yang sedang berada dalam kesulitan, terutama dalam hal ekonomi. Ketika mereka tidak memiliki makanan, jika kita memberinya makanan, kita sudah menjadi media bagi Allah swt untuk mengantarkan rezeki Allah swt kepada mereka dan kita tidak akan pernah jatuh miskin hanya karena mengantarkan rezeki mereka dari Allah swt. Allah swt akan mengganti berlipat-lipat harta kita yang diberikan kepada mereka. Demikian juga ketika mereka kesulitan untuk biaya sekolah, jika kita membuat longgar kehidupan mereka, memudahkan kehidupan mereka, Allah swt akan memudahkan hidup kita dan melancarkan berbagai urusan kita.

            Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Berbicara dan berucap yang baik harus dilakukan kepada seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Ucapan kata yang baik tidak boleh hanya kepada orang yang dekat atau satu agama, melainkan kepada seluruh manusia meskipun berbeda agama, keyakinan, ras, suku, maupun adat istiadat. Berbicara yang baik adalah keharusan untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Jangan mengucapkan kata-kata kotor, penuh penghinaan, penuh pelecehan, apalagi berteriak-teriak menghujat, memaki, dan memfitnah penuh hoax.

            Dirikanlah shalat. Sesungguhnya, di dalam shalat terdapat keseluruhan hidup manusia dalam berhubungan dengan Allah swt, sesama manusia, dan alam semesta. Di dalam shalat pun bukan hanya ada kewajiban, tetapi ada hal-hal yang dibutuhkan manusia karena mengandung pernyataan diri sebagai hamba Allah swt, pemujaan kepada Allah swt, permohonan atas segala yang kita butuhkan, permohonan untuk dilepaskan dari segala kesulitan, penghormatan dan penjagaan terhadap alam semesta, serta salam damai untuk seluruh kaum muslimin dan seluruh manusia.

            Minimal lima kali dalam sehari semalam, shalat harus dilakukan. Lebih dari itu, lebih baik.

            Tunaikanlah zakat. Di dalam harta kita ada harta orang lain, ada harta orang miskin. Dengan zakat, kita bisa saling berbagi dengan seluruh manusia. Di samping itu, dengan zakat, kita membersihkan harta kita yang bisa saja ada harta yang sebetulnya kita ambil dengan cara tidak suci tanpa kita sadari. Akan tetapi, zakat tidak bisa digunakan untuk membersihkan harta dari tindakan korupsi. Perilaku korup adalah perilaku maling yang dilakukan dengan sadar. Zakat bukanlah salah satu cara dari money laundry, bukan cara mencuci uang dari haram menjadi halal. Zakat hanya bisa menyucikan harta dan diri kita dari harta haram yang terambil tanpa kita sadari.

            Dengan zakat yang baik dan teratur, kita sudah menghalangi perilaku pelit dari dalam diri kita. Dengan demikian, kita akan mudah berbagi dan berhubungan dengan sesama manusia serta dengan alam semesta, terutama dengan Allah swt.

            Itulah hal-hal minimal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan tiket surga. Semoga Allah swt melancarkan keinginan kita untuk mendapatkan tiket itu.

            Amin.

            Sampurasun.

Saturday, 19 March 2016

Borobudur Senasib Buraq

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Nasib Candi Borobudur akan sama dengan nasib buraq. Hilang tak berbekas dan tak pernah diingat-ingat lagi karena memalukan.

            Buraq adalah kendaraan Nabi Muhammad saw ketika melakukan perjalanan Isra Miraj. Sampai hari ini tak ada satu orang pun yang mampu menggambarkan jenis fisik buraq tersebut. Rasulullah saw memang pernah mengilustrasikan kondisi fisik buraq. Beliau memisalkan buraq adalah kendaraan yang ukurannya sama dengan baghal atau keledai. Nabi Muhammad saw menjelaskan hal itu kepada orang-orang saat itu dengan pikiran, pengalaman, pengetahuan sebatas yang ada masa itu. Hal itu dilakukan agar orang-orang mudah mengerti. Tidak mungkin Nabi Muhammad saw menggambarkan buraq kepada orang-orang saat itu dengan kondisi fisik buraq yang sebenarnya karena tidak akan kesampaian. Orang-orang akan tambah bingung. Nabi Muhammad saw tak mungkin menjelaskan detail buraq dengan setiap kerumitan yang ada di dalamnya yang dipenuhi teknologi canggih yang mampu melesat terbang ke mana-mana melebihi kecepatan cahaya. Kita juga yang pada masa sekarang ini mengenal berbagai pesawat yang kecepatannya melebihi kecepatan suara masih akan bingung jika Nabi Muhammad menjelaskan sesuai dengan kondisi alam pikiran kita saat ini. Mungkin Nabi Muhammad saw akan menjelaskan untuk kita bahwa buraq adalah semacam pesawat tempur sukhoi.

            Keledai dengan sukhoi memiliki kesamaan dalam hal kapasitas penumpang. Kedua kendaraan itu hanya diperuntukkan untuk satu atau dua penumpang yang sekaligus berperan pula sebagai pengendalinya. Jadi, gambaran keledai atau baghal itu adalah permisalan yang disesuaikan pengetahuan manusia saat itu.

            Nah, para penghina Islam yang berusaha menyesatkan orang Islam melihat hal tersebut sebagai bahan untuk menghina dan menyesatkan kaum muslimin. Mereka mengarang dan membuat-buat kisah serta gambaran mengenai buraq. Ajaibnya, hampir 100% kaum muslimin di seluruh dunia percaya tentang gambaran para penghina Islam itu. Gambaran untuk buraq yang mereka buat adalah berdasarkan penjelasan Nabi Muhammad saw yang mengilustrasikan bahwa buraq sebagai keledai. Para penipu itu pun membuat lukisan bahwa buraq adalah kuda terbang bersayap yang memiliki kepala manusia dengan jenis kelamin perempuan.

            Alhasil, hampir seluruh kaum muslim di Indonesia memasang poster kuda bersayap berkepala perempuan itu di rumahnya. Bukan hanya satu poster yang dipasang, melainkan banyak. Ada yang dipasang di ruang tamu, kamar tidur, depan televisi, atau tempat shalat. Poster itu sangat terkenal pada masa itu. Bahkan, di rumah kiyai-kiyai, di pesantren-pesantren, malahan di sekolah-sekolah negeri dan swasta juga terpampang. Demikian pula, di ruangan kepala sekolah gambar itu selalu ada. Poster itu pun dikeramatkan sebagaimana poster Surat Yasin atau poster ayat Qursy. Saya melihatnya sendiri. Setiap memasuki rumah orang lain, poster itu selalu ada dan ditempatkan di tempat yang khusus, lebih terhormat dibandingkan foto keluarga sendiri.

            Saya juga mempercayainya saat itu karena setiap orang tua, ahli agama, termasuk guru di sekolah mengajarkan bahwa buraq itu adalah kuda terbang bersayap berkepala perempuan. Bahkan, saya masih ingat ketika masih kelas dua sekolah dasar, guru agama saya mengajarkan soal buraq ini secara khusus. Dia menceriterakan bagaimana buraq itu terbang membawa Nabi Muhammad saw menuju sidratul muntaha. Dia mengajarkan bahwa kuda itu bagian punggungnya selalu stabil, datar, tidak pernah berubah sehingga Nabi Muhammad saw tidak terganggu duduknya. Kalau menemukan jalan yang rendah, kaki kuda itu memanjang. Kalau menemukan tempat yang tinggi, kaki kuda itu memendek sehingga Nabi Muhammad saw tidak pernah terjengkang ketika menanjak dan tidak pernah menunduk ketika menurun, selalu dalam keadaan stabil.

            Akan tetapi, kebohongan pasti selalu musnah. Ketika saya kelas 3 SMP atau dalam usia 15 tahun, seorang aktivis pergerakan Islam menghancurkan gambaran yang saya percayai tentang buraq. Dia dengan sangat berapi-api menjelaskan bahwa gambaran buraq itu merupakan penghinaan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad saw. Mereka sengaja menggambarkan buraq seperti itu untuk menghina Nabi Muhammad saw sebagai pria yang gemar wanita berbadan kuda.  Di Indonesia kebohongan itu ditambahi dengan ceritera bodoh lainnya, yaitu kepala kuda itu adalah berwajah Ratu Belanda. Mereka berharap  kaum muslimin Indonesia percaya bahwa yang mengantarkan Nabi Muhammad saw menghadap Allah swt itu adalah Ratu Belanda.

            Sejak saat itu, sontak, saya langsung tidak percaya lagi apa pun gambaran buraq seperti yang telah bertahun-tahun saya percayai. Akan tetapi, di rumah-rumah orang Islam Indonesia dan pada berbagai tempat resmi lainnya seperti sekolah dan ruangan perkantoran, poster-poster cewek bertubuh kuda itu masih tetap ada.

            Sejalan dengan perkembangan waktu, poster-poster itu pun menghilang dari peredaran. Alhamdulillah, hari ini anak-anak muda kita tidak pernah tahu tentang gambar atau poster itu.

Beberapa waktu lalu ketika mahasiswa-mahasiswa Universitas Al Ghifari Bandung mengajak saya berdiskusi, sempat saya tanyakan kepada mereka, “Kalian masih ingat poster kuda terbang berbadan wanita?”

Mereka semua kebingungan.

Saya tanya sekali lagi, “Kalian tidak pernah tahu ada poster itu?”

Semuanya geleng-geleng kepala pertanda memang benar tidak pernah melihatnya. Padahal, saya menduga masih ada yang percaya pada poster itu. Alhamdulillah, artinya poster itu tidak pernah ada lagi. Orang-orang sudah tidak percaya pada gambaran cabe-cabean bertubuh kuda bersayap itu.

Bagaimana dengan Candi Borobudur?

Tenang saja. Nasibnya akan seperti seperti buraq itu. Insyaallah. Dulu seluruh dunia percaya bahwa buraq itu seperti yang digambarkan para penghina Islam, tetapi sekarang  sudah tidak ada lagi yang percaya. Kalau masih ada yang percaya bahwa buraq seperti gambaran kuda terbang itu, kebangetan.

Borobudur juga sama dipercaya dunia sebagai warisan agama Budha, padahal umat Budha sendiri tidak punya bukti jelas selain hasil penelitian orang-orang bule yang sekarang mudah sekali digugat itu. Saya sendiri ketika masih menjadi wartawan majalah pendidikan pada sekitar 1997-1998 mengalami pengalaman spiritual-transedental di Candi Borobudur saat melakukan peliputan. Saya merasakan pesona luar biasa di sana sampai meyakini penuh bahwa relief-relief dan tingkatan-tingkatan yang ada pada Candi Borobudur memberikan pengajaran bagaimana caranya untuk shalat khusyuk dan “melebur” dalam diri Allah swt dengan penuh kesempurnaan. Persoalannya, saat itu saya takut untuk mengatakannya kepada orang lain. Di samping takut, saya juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Saya cuma orang yang baru lulus dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Saya hanya meyakininya sendiri dan melaksanakan ajaran Borobudur sendiri dan sampai sekarang saya masih kesulitan untuk menerangkannya dengan kalimat-kalimat yang baik tentang apa yang saya dapatkan dari pengalaman spiritual saya di Borobudur. Memang sangat tidak mudah menerjemahkan pengalaman spiritual ke dalam bahasa lisan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fahmi Basya bagi saya sangat memperkuat apa yang telah saya yakini dan apa yang telah saya lakukan sejak dulu. Fahmi Basya membuat saya tambah yakin dan tenang dalam memahami Borobudur sebagai pijakan untuk berupaya menjadi orang yang lebih baik di hadapan Allah swt.

Di Borobudur itu ada ajaran tentang bagaimana caranya mengabdi kepada Allah swt, baik melalui upaya ritual maupun sosial. Saya tahu benar hal itu. Tak perlu heran Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw ke Borobudur untuk mendapatkan perintah shalat karena pengajaran shalat itu ada di Borobudur.

Bagaimana cara shalat yang baik dan khusyuk?

Ya itu, lihat itu di tempat Nabi Muhammad saw menginjakkan kaki sebelum naik ke langit. Tempat itu namanya Candi Borobudur, “tempat sujud terjauh”.

Allah swt memerintahkan umat Islam shalat dan pengetahuan shalat itu ada di Borobudur. Pengetahuan untuk shalat yang benar itu ada tepat di tempat Nabi Muhammad saw berhenti sejenak sebelum bertemu Allah swt secara langsung.

Lama-lama nasib Candi Borobudur akan senasib dengan buraq. Keyakinan orang-orang akan berubah dengan sendirinya dan keyakinan lama akan hilang musnah, tak ingin diingat-ingat lagi karena memalukan.

Coba aja tanya kepada orangtua kalian.

            Pernahkah mereka melihat poster kuda terbang itu?

            Jawabannya, hampir bisa dikatakan pasti pernah. Kalau tidak, mungkin mereka berbohong karena malu dan tidak ingin mengingatnya lagi. Soalnya, poster itu menjadi tidak penting lagi, tidak lagi keramat.

            Tanyalah kenapa dulu dipasang itu poster-poster cewek berbadan kuda?

            Tanya juga kenapa sampai percaya pada ceritera buraq itu?

            Tanya lagi, kalau masih percaya, kenapa tidak dipasang lagi sekarang?


            Kebohongan pasti hilang, kebenaran pasti menang.