Showing posts with label Borobudur. Show all posts
Showing posts with label Borobudur. Show all posts

Wednesday, 3 May 2017

Soekarno Meragukan Isra Miraj

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Sekarang bertambah lagi pengetahuan kita tentang orang yang tidak meyakini Isra Miraj dengan segala dongengnya itu. Dalam tulisan yang lalu-lalu berjudul Bukan Al Aqsha Yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha, saya menuliskan bahwa para akademisi masa lalu pun sudah meragukan Isra Miraj dan kisah Masjid Al Aqsha di Palestina. Kemudian, kita tahu bahwa Prof. Fahmi Basya melakukan penelitian tentang Borobodur yang mengakibatkan kehancuran dongeng-dongeng tentang Isra Miraj dan Masjid Al Aqsha. Saya sendiri pun mengalami pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan sampai hari ini ketika saya ditugasi melakukan peliputan di Candi Borobudur sekitar 1998.

            Para akademisi masa lalu memberikan kesimpulan bahwa pengagungan terhadap Masjid Al Aqsha di Palestina adalah disebabkan oleh berkembangnya genre sastra Al Fadhail yang mengisahkan sejarah kota-kota. Kisah-kisah itu diminati banyak orang dan dianggap sebagai kebenaran sehingga mengakibatkan naiknya derajat Al Aqsha dan Yerusalem melebihi keterangan dari Al Quran sendiri. Hal itu pun diduga adanya kesengajaan dari Dinasti Umayah untuk memperkokoh posisi politiknya. Jalur yang digunakan para akademisi masa lalu itu adalah melalui ilmu politik dan ilmu pemerintahan.

            Adapun Fahmi Basya memaparkan pembuktian bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaeman as adalah menggunakan jalur lain. Jalur yang digunakan Fahmi Basya adalah melalui ilmu Matematika Islam. Hasil penelitian ini tentu saja menghancurkan dongeng-dongeng tentang Isra Miraj dan Masjid Al Aqsha karena dalam penelitiannya, Fahmi Basya mengatakan bahwa Candi Borobudur-lah yang dimaksudkan Allah swt sebagai Masjid Al Aqsha (Masjid Terjauh). Semua yang menentangnya hanya menggunakan bahasa emosional dan tidak menggunakan pengetahuan yang memadai, apalagi melakukan penelitian ulang untuk membantah Fahmi Basya.

            Presiden ke-1 RI Soekarno meragukan kisah-kisah Isra Miraj yang selama ini beredar luas. Soekarno menginginkan penjelasan yang bisa diterima oleh akal dan tidak bisa hanya diterima oleh rasa “percaya” saja. Jalur yang ingin dilalui Soekarno adalah menggunakan ilmu psikologi dan parapsikologi.

            Saya sendiri karena mengalami pengalaman spiritual luar biasa di Candi Borobudur, sulit sekali menjelaskannya dengan kalimat-kalimat yang baik sampai hari ini. Akan tetapi, pelajaran yang saya dapatkan dari Borobudur adalah relief-relief di Candi Borobudur itu merupakan pengajaran shalat khusyuk dan pengajaran peningkatan kualitas hidup setahap demi setahap untuk menjadi insan kamil, ‘insan paripurna’. Di samping itu, sebagai wartawan, saat itu, dalam setiap perjalanan saya ke mana pun, kerap menemukan hal-hal yang menguatkan keyakinan bahwa memang benarlah Borobudur itu adalah bangunan Islami. Hal yang lebih menguatkan lagi adalah adanya data-data sejarah yang tak bisa dibantah, misalnya, Isra Miraj terjadi pada 620 M, sedangkan pada tahun itu di area Al Aqsha belum ada masjid dan masih dijaga ketat oleh pasukan Romawi. Pasukan Romawi yang gemar mabuk-mabukan dan berpesta itu baru pergi dari sana setelah dikalahkan oleh Umar bin Khattab ra pada 636 M. Kemudian, di tempat itu dibangun Masjid Umar pada 638 M. Masjid itu diperlebar dan diperluas pada dinasti-dinasti berikutnya. Namanya pun diganti menjadi Masjid Al Aqsha.

            Ada hal yang menarik antara Fahmi Basya dengan Soekarno. Fahmi Basya mengakui ketika dirinya dipenjara di Sukamiskin Bandung, kamar tahanannya bersebelahan dengan kamar tempat Soekarno ditahan dulu. Ia mengakui bermimpi bertemu Soekarno dan diperintahkan untuk “menggali Borobudur”. Ia pun melakukan penelitian di Borobudur dan hasilnya seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaeman as. Di samping itu, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Candi Borobudur-lah yang sebenarnya dimaksud Allah swt sebagai Masjidil Aqsha. Tentu saja hasil penelitiannya menghancurkan dongeng-dongeng Isra Miraj dan dongeng tentang Masjid Al Aqsha di Palestina.

            Ternyata … eh … ternyata Soekarno pun memang meragukan kisah-kisah Isra Miraj yang selama ini berkembang luas di seluruh dunia. Ia mengatakan keraguannya itu ketika dibuang di Endeh, Flores kepada tokoh Persatuan Islam A. Hasan di Bandung melalui suratnya.

SOEKARNO.Foto: baeksoo11.blogspot.co.id
            “ Di dalam daftar buku, saya baca, Tuan ada sedia Djawahirul Bukhari. Kalau Tuan tiada berkeberatan, saya minta buku itu, di situ banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil. Kalau Tuan tak keberatan pula, saya minta Keterangan Hadits Miraj sebab saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri dan dengan pendapat Essad Bey yang di dalam salah satu bukunya mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang yang menafsirkan miraj dengan ‘percaya’ saja, yakni dengan mengecualikan akal. Padahal, keterangan yang rasionalistis di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psikologi dan parapsikologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalistis itu.

            Kenapa sesuatu hal harus digaib-gaibkan kalau akal sedia menerangkannya?”

            Soekarno telah wafat. Ia mungkin belum mendapatkan jawaban yang benar tentang Isra Miraj. Meskipun demikian, ia telah menjadi salah seorang pemimpin besar yang memperkuat keyakinan bahwa bukanlah Masjid Al Aqsha di Palestina itu yang dimaksud Allah swt, Borobudur-lah sesungguhnya yang dimaksud Allah swt seperti yang ia perintahkan dalam mimpi Fahmi Basya untuk menggali Borobudur.

            Jadi, masihkah kita percaya dengan dongeng sebelum bobo bahwa Nabi Muhammad saw pergi terbang menggunakan cewek berbadan kuda bersayap itu?

            Dulu poster cewek kuda bersayap itu ada di mana-mana. Di gedung pemerintahan, di perkantoran, di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, di rumah-rumah pejabat, orang kaya, kiyai, guru agama, sampai ada di rumah-rumah orang miskin. Pokoknya, poster cewek terbang berbadan kuda yang ada sayapnya adalah poster paling populer saat itu. Akan tetapi, sekarang hilang tiba-tiba, entah kenapa.

            Di mana poster-poster itu saat ini?

            Kenapa tidak pada dipasang lagi?

            Malu, ya?

            Harus malu atuh karena itu cuma dongeng dan sama sekali bukan kenyataan.

            Sampurasun.

Wednesday, 19 April 2017

Emas Negeri Saba Ditemukan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Negeri Saba itu dulunya negeri yang indah, nyaman, makmur, dan kaya raya. Pada masa Indonesia masih berbentuk Benua Sundaland, negeri Saba kekayaannya luar biasa. Di dalam Al Quran banyak dikemukakan kemegahan negeri Saba, baik itu diceriterakan kondisi negerinya secara langsung maupun disiratkan dari sikap-sikap Ratu Balqis/Ratu Boko kepada Nabi Sulaeman as.

            Bagi mereka yang masih percaya bahwa negeri Saba ada di Timur Tengah, boleh saja. Cari saja tempat bernama Saba yang ciri-cirinya sesuai yang diterangkan Allah swt dalam Al Quran. Kalian tidak akan menemukannya. Mereka yang masih bertahan dengan pendapat lama bahwa Saba ada di Timur Tengah adalah mereka yang pikirannya masih Arab Centris, yaitu menganggap bahwa Islam berasal dari Arab yang akibatnya mendorong anggapan bahwa isi Al Quran selalu memaparkan segala hal yang berbau Arab dan Timur Tengah. Padahal, Islam itu ada di seluruh pelosok dunia, termasuk di tempat-tempat terpencil dan terisolasi sekalipun. Di sana ada bahasa, di sana ada Islam. Di sana ada kaum, di sana ada Islam. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mengirimkan para rasul-Nya ke setiap umat dengan menggunakan bahasa umat itu masing-masing. Tidak ada satu umat pun yang tidak dihadirkan Rasul di antara mereka.

            Hal ini sama dengan pohon Tin. Dicari-cari di seluruh penjuru Arab dan Timur Tengah pun tidak pernah ditemukan yang namanya pohon Tin. Akibatnya, ada seorang ahli tafsir Timur Tengah yang berpendapat bahwa pohon Tin itu adalah pohon Bodi tempat Budha Sidharta Gautama bersemedi. Sesungguhnya, pohon Tin itu secara tak sengaja saya temukan di Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat di sana seluruhnya mengatakan pohon itu adalah pohon Tin dan meyakinkan saya bahwa pohon itulah yang digunakan bersumpah oleh Allah swt. Pohonnya rindang dan tidak tinggi sehingga kita tidak perlu memanjat pohon itu untuk memetik buahnya maupun daunnya.

            Stop berpikir Arab sentris, Islam itu ada di mana-mana dan dari mana-mana.

            Kembali ke soal negeri Saba. Negeri Saba itu ada di Indonesia. Ciri-ciri lokasinya tepat seperti yang diinformasikan Allah swt di dalam Al Quran. K.H. Fahmi Basya sudah menerangkannya dengan baik, pelajari saja tentang negeri Saba dari tulisan hasil penelitiannya.

            Kekayaan negeri Saba itu luar biasa, apalagi setelah Ratu Balqis berkenalan semakin dekat dengan Nabi Sulaeman as yang berasal dari Sleman itu, negeri Saba menjadi semakin kaya raya luar biasa. Kita tahu bahwa Sulaeman as itu adalah nabi yang paling kaya dan pemimpin dunia yang paling luas wilayah kekuasaannya.Tidak akan lagi ada orang yang memiliki kekuasaan seluas Nabi Sulaeman as. Hal itu disebabkan Nabi Sulaeman as pernah berdoa kepada Allah swt untuk diberikan kekuasaan yang tidak ada satu orang pun lagi yang seberkuasa dia di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw pun sampai harus membatasi dirinya untuk menghormati Nabi Sulaeman as yang membangun Candi Borobudur itu. Ketika Nabi Muhammad saw diajak berkelahi oleh Iblis Laknatullah, terjadilah pergumulan sengit sampai-sampai lidah Iblis yang sempat menjilat Nabi Muhammad saw masih terasa terus di tangan Nabi Muhammad saw dalam waktu yang sangat lama. Ketika Iblis kalah berkelahi, Nabi Muhammad saw tadinya akan mengikat Iblis itu di pohon korma untuk dijadikan mainan anak-anak sehingga anak-anak kecil bisa melempari Iblis itu dengan batu. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw teringat saudaranya, Sulaeman as, dan dia tidak ingin menyaingi Sulaeman as yang mampu menguasai jin-jin sakti.

            Kata Muhammad saw, “Seandainya aku tidak ingat saudaraku, Sulaeman, aku ikat Iblis di pohon korma agar dijadikan mainan anak-anak.”

            Akhirnya, Iblis dilepaskan lagi oleh Nabi Muhammad saw.

            Kekayaan dan kekuasaan Sulaeman as yang luar biasa itu tentu saja menambah kekayaan negeri Saba milik Ratu Balqis. Padahal, sebelum kenal dengan Nabi Sulaeman as pun sesungguhnya negeri Saba sudah sangat kaya raya. Ketika Sulaeman as meminta Balqis beriman kepada Allah swt, Balqis menguji Sulaeman as dengan memberikan upeti berupa perhiasan emas, permata, mutiara yang dibawa dengan menggunakan tempayan yang sangat banyak. Akan tetapi, Sulaeman as menolaknya, yakinlah Balqis bahwa Sulaeman as adalah nabi dan bukan raja yang suka menaklukan atau menguasai orang lain dengan semena-mena.

            Sayang sekali Saudara-saudara, pada generasi-generasi berikutnya penduduk Saba dan mayoritas penduduk Benua Sundaland sepeninggal para nabi yang diutus ke sana melakukan banyak dosa, lupa kepada Allah swt, terlalu banyak memikirkan duniawi, terlalu banyak kecewa akibat materi, akhirnya kafir dan mengikuti Iblis sampai-sampai menyembah berhala, matahari, gunung, bulan, dan lain sebagainya.

            Akibatnya, Benua Sundaland yang negeri Saba ada di dalamnya itu hancur lebur dikubur dalam tanah akibat banjir besar, gempa tektonik, dan gempa vulkanik yang terjadi bersamaan. Hancurlah kemegahan Benua Sundaland, hilang, dan berubah menjadi kepulauan bernama Indonesia seperti sekarang ini. Meskipun demikian, jejak-jejak kemegahan itu masih ada sampai hari ini. Terlalu banyak bangunan megah dan luar biasa yang masih terkubur di Indonesia. Bangunan-bangunan itu terkadang muncul sendiri secara tiba-tiba dan atau ditemukan oleh penduduk secara tak sengaja, bahkan terkadang berada di halaman rumah penduduk. Hal semacam ini biasa terjadi di Indonesia sehari-hari.

            Di mana perhiasan dan harta negeri Saba yang megah itu?

            Sebagian masih berada terkubur dalam tanah; sebagian hilang dijarah penduduk, dicuri oleh peneliti, atau dirampas para penjajah, lalu dijual di pasar gelap; hanya satu dua yang masih terselamatkan dan bisa dibeli oleh pemerintah, lalu disimpan di museum.

            Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Edi Sedyawati dalam artikelnya berjudul Catatan Kecil: Arca “Prabu Silihwangi” dari Talaga (1991). Edi menjelaskan bahwa di daerah Gemuruh, Wanasaba (Wana = hutan, Saba = negeri Saba) yang kita kenal sekarang dengan sebutan Wonosobo, ditemukan banyak arca dalam bentuk lempengan emas. Arca lempengan emas ini satu dua yang terselamatkan masih bisa dilihat di Museum Nasional, Jakarta, Nomor Inventaris 486b dan 517d.

            Adapun arca-arca dan benda pusaka lainnya yang berada di tanah Sunda, tepatnya dari Talaga, dekat Majalengka, daerah Cirebon, sesungguhnya masih aman tersimpan di tempatnya semula sampai 1915. Sesudah itu, “hilang” tak tertelusuri lagi dalam arena jual-beli, kecuali dua arca yang berhasil dibeli untuk museum (Van Naerssen, 1940 : 159) yang sekarang bernama Museum Nasional, Jakarta.

            Masih banyak harta karun peninggalan kemegahan Benua Sundaland, Ratu Balqis, negeri Saba, Istana Sulaeman as, dan seluruh kerajaan megah di Indonesia ini yang terpendam dalam tanah, terkubur akibat kemurkaan Allah swt. Cari hingga ketemu. Siapa cepat, dia dapat. Pemerintah harus lebih cepat karena kekayaannya luar biasa besar. Orang-orang di seluruh dunia selalu membicarakannya dengan kisah The Lost World Atlantis.

            Jadi, bagaimana nasibnya dengan orang-orang Israel yang selalu mengorek-ngorek tanah mencari-cari The Solomon Temple, ‘Istana Sulaeman’, di lokasi Masjid Al Aqsha di Palestina itu?

            Hahaha … mereka tertipu … hahaha …. Kasiman … eh kasihan.

            Istana Sulaeman ada di sini, di Indonesia, dan aman. Setiap jiwa rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta, apa pun agamanya, akan menjaganya hingga titik darah penghabisan.

            Sebaiknya, beri tahu itu orang-orang Yahudi supaya berhenti mengorek-ngorek tanah, menggali-gali tanah kayak anak kecil main tanah, kasihan mereka.

            Kalau ingin mendapatkan Istana Sulaeman, saya kasih tahu caranya. Berhentilah menjajah Palestina. Kalau berhenti menjajah Palestina, kemungkinan besar Israel bisa membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kalau hubungan diplomatik sudah terjadi dengan Indonesia, bisa dilakukan kerja sama penelitian penggalian secara sah, legal, tanpa pertikaian, tanpa perang, dan tanpa pertumpahan darah. Kerja sama ini bisa menguntungkan Indonesia, Islam, Israel, dan Yahudi.

            Saat ini kan tidak bisa bekerja sama dengan Indonesia karena Israel masih menjajah Palestina. Kalau pemerintah Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada saat Israel masih menjajah Palestina, artinya pemerintah Indonesia sudah mengkhianati Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas muka Bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Hal itu akan membuat kehancuran bagi pemerintah Indonesia. Haram hukumnya bagi Indonesia bersahabat dengan penjajah. Selama Israel masih menjajah Palestina, selama itu pula tidak akan terjadi hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hal yang sangat penting bagi Israel dan Yahudi adalah selama itu pula tidak akan menemukan Istana Sulaeman.

            Hahahaha ….


            Sampurasun.

Friday, 7 April 2017

Zaman Akhir

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir selalu ramai dibicarakan orang di seluruh dunia dari zaman ke zaman. Kisah ini memiliki kesamaan akhir, yaitu adanya orang atau pihak yang benar, adil, dan kuat dalam mengatasi berbagai persoalan di dunia. Muslim, Kristen, Yahudi memiliki kisah-kisah tentang zaman akhir ini. Kaum muslimin meyakini bahwa kaum musliminlah yang akan menjadi pemenang dalam akhir zaman. Kaum Kristen juga meyakini bahwa Yesus dan Kristen yang akan menang. Umat Yahudi pun sama meyakini bahwa imam merekalah yang akan menjadi pemenang. Setiap umat dari agama yang berbeda itu berseteru mulai dari keyakinan sampai adu fisik bersenjata untuk mewujudkan berbagai ramalan zaman akhir itu.

            Pertanyaannya adalah pernahkah ada yang melakukan penelitian dan memeriksa apakah kabar-kabar zaman akhir itu benar-benar memiliki dasar sumber yang jelas atau hanya karangan orang-orang emosional?

            Kisah mana yang benar sesungguhnya?

            Kisah dari kaum muslimin, kisah dari kaum Kristen, atau kisah dari para Yahudi?

            Tidak mungkin ketiga versi berbeda itu semuanya benar. Harus ada yang benar dan harus ada yang salah karena memiliki banyak perbedaan, terutama tentang pihak yang akan menjadi pemenang dan menguasai dunia pada zaman akhir. Bisa pula ketiga kisah itu adalah semuanya palsu serta hanya karangan para pengkhayal dan dongengan mereka yang emosional.

            Sekarang saya hanya berbicara kepada kaum muslimin karena saya orang Islam dan memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan. Soal umat Kristen dan Yahudi, urusan mereka sendiri meskipun boleh juga mereka mengambil pelajaran dari apa yang saya tulis ini.

            Kisah-kisah akhir zaman di kalangan umat Islam biasanya bersandar pada ceritera dari para ulama masa lalu dan keterangan-keterangan yang diklaim sebagai hadits. Sayangnya, saya sangat yakin sejuta persen sampai hari ini tak ada orang Islam yang memeriksa apakah sumber-sumber kisah itu bisa dipercaya atau tidak. Tak ada yang mencoba menelusuri apakah kisah-kisah itu saling bertolak belakang antara satu sumber dengan sumber yang lainnya atau tidak. Tak kelihatan apakah ada orang yang memeriksa kisah-kisah yang diklaim hadits itu benar atau tidak.

            Dulu juga saya benar-benar percaya dengan kisah-kisah yang beredar luas itu. Ada beberapa tulisan saya di blog ini tentang keyakinan saya yang dulu itu. Akan tetapi, ketika meyakini bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu dipenuhi hoax, saya mulai meragukan kebenaran keseluruhan kisah-kisah akhir zaman. Hal itu disebabkan semua kisah tentang akhir zaman, baik itu versi muslim, kristian, maupun yahudian, seluruhnya bermuara pada perebutan kekuasaan di Palestina, terutama di area berdampingannya masjid, gereja, dan tembok ratapan. Ketika saya meyakini bahwa kisah tentang Masjid Al Aqsha penuh dengan kepalsuan, seluruh kisah akhir zaman itu menjadi tidak penting lagi.

            Bagaimana kisah-kisah itu tidak palsu dan hoax?

            Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan Isra Miraj dari Mekah ke Masjid Al Aqsha di Palestina.

            Bagaimana mungkin peristiwa itu adalah benar-benar terjadi?

            Isra Miraj itu terjadi pada 620 Masehi. Adapun Masjid Al Aqsha mulai dibangun pada 638 Masehi. Artinya, ada selisih delapan belas tahun antara peristiwa Isra Miraj dengan awal pembangunan Al Aqsha. Isra Miraj dulu terjadi, lalu delapan belas tahun kemudian Al Aqsha mulai dibangun.

            Bagaimana mungkin Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Mekah menuju masjid yang belum dibangun dan area itu masih dalam pengawasan ketat pasukan Romawi?

            Mustahil!

            Mikir!

            Lagian, masjid itu awalnya bukan bernama Al Aqsha, melainkan Masjid Umar. Hal itu disebabkan selepas Umar bin Khattab ra menaklukan Romawi pada 636 Masehi, mencari tempat untuk shalat. Seorang pendeta Romawi memilihkan tempat dan mengantarkan Umar pada tempat yang dianggapnya tepat untuk shalat. Di tempat itulah dibangun Masjid Umar, bukan Masjid Al Aqsha. Pada dinasti-dinasti berikutnya Masjid Umar yang kecil itu diperlebar, diperbesar, dan namanya diubah menjadi Masjid Al Aqsha.

            Begitu Bro ceriteranya. Jadi, saat Nabi Muhammad saw Isra Miraj, masjid itu belum ada dan memang bukan ke situ tujuannya. Allah swt itu memperjalankan Nabi Muhammad saw sesungguhnya ke Candi Borobodur, Indonesia, karena candi itulah yang sebenarnya dimaksud Allah swt sebagai Masjid Al Aqsha (Masjid Terjauh). Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Bukan Al Aqsha yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha. Silakan bantah saya. Saya senang dibantah kok, asal membantahnya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan emosi kampungan.

            Jangan langsung percaya dengan kisah-kisah zaman akhir meskipun diklaim berasal dari hadits. Sangat mungkin itu hanya dongeng, kemudian dikatakan sebagai hadits. Mudah kok bikin hadits. Kalian buat saja kisah atau ajaran yang tampaknya baik, lalu bilang saja itu adalah berasal dari Bukhari Muslim. Orang akan segera yakin bahwa itu adalah benar-benar hadits, apalagi kalau kalian berceriteranya dengan menggunakan pakaian seperti Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Orang akan melongo dan percaya begitu saja.

            Ada nasihat yang sangat bagus dari Hj. Irene Handoyo, mualaf yang kini menjadi mubalighah beken di Indonesia. Ia mewanti-wanti bahwa tidak perlu langsung percaya dan harus berhati-hati dengan hadits-hadits tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman. Hal itu disebabkan menurutnya, hadits-hadits itu berasal dari orang-orang Kristen yang masuk Islam belakangan.

            Kita pun harus ingat bahwa area yang menjadi pusat kisah akhir zaman itu adalah sejak dulu menjadi area perebutan kepentingan politik dan ekonomi antara muslim, Kristen, dan Yahudi. Akan tetapi, ketika dongeng-dongeng kehebatan Yerusalem disebarkan oleh para penyair muslim zaman dinasti Umayah, kaum Kristen dan Yahudi mendukungnya pula karena akan menjadikan Yerusalem pusat perhatian dunia. Itu artinya ada keuntungan politik dan ekonomi di sana.

            Tak heran jika Nabi Muhammad saw dulu begitu sedih ketika Allah swt memerintahkannya untuk shalat menghadap ke timur, tepat mengarah pada Candi Borobudur. Lumayan lama Nabi Muhammad saw merasakan kesedihan itu. Sering sekali ia menengadah ke atas langit dengan harapan Allah swt mengubah kembali kiblatnya ke Mekah dan bukan lagi ke Candi Borobudur. Hal itu disebabkan mungkin ia sangat khawatir umatnya akan tersesat (saya tidak tahu perasaan Nabi yang sebenarnya karena itu hanya perasaan) karena umat Kristen dan Yahudi sangat senang dengan pemindahan kiblat itu. Shalat menghadap Candi Borobudur adalah searah melewati Yerusalem yang membuat Yahudi dan Kristen membuat hoax bahwa Nabi Muhammad saw menghadap ke kiblat yang sama dengan Yahudi dan Kristen. Sesungguhnya, pemindahan kiblat itu adalah pelajaran dari Allah swt bahwa yang namanya kebaikan dan kebenaran itu bukan soal timur dan barat; eksistensi Allah swt tidak berada di barat dan timur. Sesungguhnya, kebaikan dan kebenaran itu berasal dari Allah swt. Ke mana pun wajah kita menghadap di sanalah Allah swt berada.

            Yahudi dan Kristen sangat bergembira dengan pemindahan kiblat itu karena mereka sudah sejak lama membujuk dan merayu Muhammad saw untuk shalat menghadap Yerusalem. Mereka sudah lama sekali memperjuangkan itu. Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah kepentingan politik dan ekonomi.

            Hal ini ada dalam Asbabun Nuzul QS Al Baqarah  2 : 120 dalam Tafsir Quran Per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul & Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A. yang menyebutkan bahwa Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani Najran mengharapkan Rasulullah saw shalat menghadap kiblat mereka. Kiblat Yahudi dan Nasrani Najran itu berada pada satu tempat yang sama, yaitu di tempatnya yang sekarang berdampingan dengan Masjid Al Aqsha. Dalam perhitungan manusia, jelas sekali jika di tempat itu bergabung tiga kiblat agama besar dunia, keuntungan politik dan ekonomi akan didapatkan dengan sangat besar berlimpah ruah. Hal itu menunjukkan bahwa khayalan para penulis muslim zaman Dinasti Umayah mengenai kesucian Yerusalem mendapatkan dukungan pula dari orang-orang Yahudi dan Nasrani.

            Sesungguhnya kisah-kisah zaman akhir itu hanya bersandarkan pada kisah-kisah kuno tentang perebutan wilayah Palestina yang dianggapnya dapat menghasilkan keuntungan politik dan ekonomi. Orang Indonesia tidak perlu ikut-ikutan rebutan tanah itu karena Indonesia jauh lebih subur dan makmur berlipat-lipat dibandingkan tanah gersang dan penuh pertikaian itu.


Bergerak karena Hoax
Saya sungguh menyayangkan banyak kaum muslimin yang mudah percaya dengan kisah-kisah akhir zaman itu. Padahal, kisah-kisah itu bukan dari Al Quran, melainkan dari ceritera-ceritera masa lalu dan syair-syair yang kemudian diklaim sebagai hadits tanpa diperiksa kebenarannya. Sungguh sangat disayangkan jika kaum muslimin mau mempertaruhkan nyawanya karena yakin bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu adalah tempat pemberhentian Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan perintah shalat. Padahal, kisah itu hanya hoax karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Benar-benar menyedihkan kiranya jika para pemuda Islam bersedia mengorbankan dirinya karena yakin bahwa daerah-daerah yang sekarang banyak terjadi konflik dikisahkan sebagai “tanah suci”, padahal kisah-kisah itu mendukung dan bermuara pada kisah hoax tentang Nabi Muhammad saw berhenti di Palestina sehingga wajib hukumnya membentuk pusat pemerintahan dunia di Yerusalem.

            Sesungguhnya, ada jihad besar di Indonesia yang lebih harus diperjuangkan, yaitu jihad mencapai tujuan nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin. Kemakmuran lahir dan kemakmuran batin setiap manusia Indonesia harus diperjuangkan dengan jihad yang sungguh-sungguh, baik dengan mendukung pemerintah jika berjalan dengan baik, benar, dan tepat, maupun dengan kritikan keras apabila pemerintah tidak berjalan dengan baik, benar, dan tepat.

            Kalau Saudara-saudaraku sesama muslim menyukai ramalan, saya beri satu ramalan dari penulis tingkat dunia, Muhammad Isa Dawud, yaitu pada masa depan Indonesia akan menjadi pusat penyebaran agama Islam di dunia.

            Tidak tertarikkah kita berjuang untuk mewujudkan ramalan itu?


            Sampurasun.

Tuesday, 6 September 2016

Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Prabu Siliwangi as adalah Nabi Allah swt yang diutus ke Benua Sundaland untuk menyampaikan kebenaran dan mengajarkan Islam pada beberapa wilayah di Benua Sundaland. Ia adalah sosok teguh yang dirindukan kembali hadir pada zaman ini untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di Benua Sundaland yang kini telah hancur berkeping-keping menjadi wilayah kepulauan yang bernama Indonesia.

            Sesungguhnya, dia tidak akan pernah kembali lagi. Prabu Siliwangi as telah ngahiyang, ‘bersatu dengan Allah swt’. Yang akan kembali adalah semangatnya, budi pekertinya, dan ajaran-ajarannya. Sosok dan ajaran Prabu Siliwangi as hanya akan menitis pada orang-orang yang baik hatinya, bukan yang kasar dan gemar berbohong.

            Sampai hari ini sosok Prabu Siliwangi masih menjadi misteri. Terdapat dua golongan besar dalam meyakini sosok Prabu Siliwangi, yaitu pertama, golongan yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi pernah hidup secara nyata. Kedua, golongan yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi hanya tokoh sastra hasil karya para penyair dan juru pantun. Terjadinya dua golongan ini, baik akademisi, ahli, maupun masyarakat, disebabkan oleh sumber-sumber sejarah yang memiliki banyak perbedaan dan bertolak belakang. Di samping itu, kesemrawutan kisah Prabu Siliwangi disebabkan adanya kepentingan politik dan ekonomi dalam menguasai wilayah Nusantara serta adanya keangkuhan dalam otoritas keilmuan. Kesengajaan merancukan sejarah karena kepentingan politik dan ekonomi jelas sangat merusakkan segalanya karena menyisipkan kerakusan atas harta, benda, dan sumber daya alam. Demikian pula keangkuhan otoritas keilmuan membuat ilmu pengetahuan mati dan membuat kehidupan masyarakat kehilangan arah karena tidak jelas pijakannya dan tidak jelas pula arah yang hendak dituju.

            Banyak naskah yang diberangus dan dibuang. Banyak pula naskah asli yang diterjemahkan secara salah dan hanya menyandarkan pada persepsi orang per orang. Di samping itu, banyak pula syair dan pantun yang diciptakan hanya untuk memperkuat pendapat-pendapat yang keliru.

            Satu-satunya naskah yang terjamin keasliannya dan tidak akan pernah berubah di dunia ini hanyalah Al Quran.  Oleh sebab itu, saya mencoba menggunakan Al Quran untuk memahami siapa sesungguhnya Prabu Siliwangi. Setelah menelaah Al Quran, saya cocokan beberapa kabar dan naskah mengenai Prabu Siliwangi dengan Al Quran serta mengenyahkan kalimat-kalimat yang bertolak belakang dengan Al Quran di samping meminggirkan kata-kata yang bertolak belakang dengan sosok Prabu Siliwangi as dalam pandangan urang Sunda.


Prabu Siliwangi as Bukan Hindu dan Bukan Budha

Banyak ahli sejarah yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi as beragama Hindu. Sebagian lagi mengatakan beragama Budha Tantra. Para ahli sejarah yang kebanyakan berasal dari Belanda dan Inggris itu mengatakan bahwa Prabu Siliwangi as beragama Hindu dan Budha Tantra disebabkan melihat ajaran-ajaran Prabu Siliwangi mengenai sistem kepercayaan dalam agama Sunda lama. Di samping itu, ada patung yang diklaim sebagai sosok Prabu Siliwangi yang mirip dengan Dewa Wisnu.

            Mereka mengatakan hal itu disebabkan dalam pemahaman mereka Islam itu berasal dari Arab,  hanya ajaran Muhammad saw, dan ajarannya harus menggunakan bahasa Arab. Sementara itu, ajaran Prabu Siliwangi as menggunakan bahasa Sunda lama yang dekat sekali dengan bahasa Jawa. Itulah kesalahan mereka yang pertama.

            Kesalahan mereka yang kedua adalah menganggap bahwa salah satu dari arca-arca atau patung-patung di Jawa Barat adalah gambaran dari sosok Prabu Siliwangi as. Sosok itu mirip Dewa Wisnu. Sesungguhnya, saya melihat itu adalah sebuah kesalahan karena sama sekali sosok itu bukan merupakan sosok orang Sunda. Patung yang diklaim sebagai Prabu Siliwangi as itu bukanlah sosok yang berasal dari wilayah Sunda dan itu mencirikan bukanlah Prabu Siliwangi as. Arca itu memiliki mahkota yang agung, di belakang kepalanya ada tanda halo (bulatan yang biasa ada dalam gambar orang-orang bijak), memakai gelang perhiasan pada kedua tangan dan kakinya, tidak menggunakan baju, serta tidak menggunakan celana panjang dan hanya menggunakan balutan kain mirip celana pendek yang menutupi kemaluan dan bokong. Di samping itu, arca itu tidak menggunakan alas kaki. Pakaian itu sama sekali tidak mungkin digunakan seorang raja di wilayah Sunda yang beriklim sejuk, bahkan dingin sekali pada beberapa tempat. Pakaian Raja Sunda yang pantas adalah menggunakan baju yang cukup tebal dan celana panjang yang juga tebal untuk mengatasi iklim yang sejuk, bahkan dingin. Tidak mungkin tanpa baju dan celana hanya berupa balutan kain berbentuk celana pendek mirip cawat besar. Di samping itu, harus menggunakan alas kaki.


TIDAK MUNGKIN INI PRABU SILIWANGI. Sumber foto: tatangmanguny.wordpress.com
            Kedua kesalahan para ahli sejarah itu sudah bisa mengugurkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah beragama Hindu atau Budha Tantra. Di samping itu, ada alasan lain yang menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as tidak beragama Hindu dan tidak pula Budha, yaitu tidak ada seorang atau sekeluarga Sunda pun yang menyimpan kitab Hindu atau Budha sebagai kitab yang pernah dijadikan pedoman hidup. Tak tampak jejak Hindu dan Budha di masyarakat Sunda, baik dalam bertutur bahasa, maupun dalam berperilaku. Bahkan, di kalangan para penganut Hindu dan Budha saat ini sama sekali tidak terdengar mengagungkan atau memuliakan Prabu Siliwangi as. Padahal, Prabu Siliwangi as adalah figur agung yang ajarannya pun digunakan secara nasional di Indonesia ini, yaitu silih asah, silih asih, silih asuh. Logikanya, para penganut Hindu dan Budha harus selalu memuliakan Prabu Siliwangi as, tetapi kenyataannya sama sekali tidak. Prabu Siliwangi as yang terkenal sedunia itu sama sekali berada di luar perhatian para pemeluk Hindu dan Budha. Justru orang-orang Islam yang bersuku Sunda-lah yang selalu menjadikan Prabu Siliwangi as sebagai anutan dan tidak pernah dilupakan, bahkan selalu diagungkan dan dimuliakan hingga kini selama berabad-abad. Hal itu menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi adalah berada dalam kecintaan kaum muslimin dan bukan berada di lingkaran para penganut Hindu dan Budha. Itu pun sekaligus mengisyaratkan bahwa Prabu Siliwangi as bukan penganut Hindu dan atau Budha Tantra.

           
Sosok Protagonis

Para Nabi yang tercatat dalam Al Quran selalu dikisahkan sebagai sosok-sosok protagonis, penuh kebaikan, penuh keluhuran, dan penuh kemuliaan. Kalaupun dibuat kisah mengenai para nabi dalam sosok antagonis yang penuh keburukan, dendam, kemarahan, dan menguak sisi buruknya, kisah-kisah itu tidak akan dipercaya oleh masyarakat dan selalu diragukan meskipun kisah itu tetap ada.

            Beberapa film layar lebar yang dibuat oleh kaum Yahudi mencoba mengangkat sisi-sisi buruk para Nabi. Lumayan banyak film-film serupa itu dan saya pernah menontonnya beberapa. Ada nabi yang gemar mabuk, ada nabi yang menipu nabi lainnya. Ada nabi yang rebutan cewek, ada nabi yang mengejar kekuasaan, dan rupa-rupa keantagonisan lainnya. Akan tetapi, kisah itu hanya melayang sebagai kisah yang tidak pernah dipercaya. Kisah para nabi selalu berada dalam posisi protagonis.

            Demikian pula dengan Prabu Siliwangi as yang selalu protagonis. Meskipun dibuat kisah yang antagonis, kisah itu selalu diragukan dan tidak pernah dipercaya karena di samping semrawut, juga merusakkan hubungan baik di dalam keluarga kerajaan Sunda. Kisah-kisah antagonis itu hanya dibuat untuk membuat rakyat Sunda patuh pada kolonialisme Belanda dan patuh pada kekuasaan pribumi yang tidak menentang Belanda. Di samping itu, kisah itu dibuat untuk menghilangkan rasa hormat rakyat Sunda yang beragama Islam kepada Prabu Siliwangi as. Misalnya, kisah yang antagonis dalam pandangan Islam. Prabu Siliwangi as sempat masuk Islam, lalu murtad dan kembali lagi menjadi Hindu atau Budha. Oleh sebab itu, ia dikejar oleh anaknya, Raden Kian Santang Sang Penyebar Islam, untuk diperangi. Prabu Siliwangi as pun kabur dan menghilang ke Hutan Sancang. Dalam versi lain, Prabu Siliwangi as kabur bukan karena dikejar Kian Santang, melainkan dikejar “suara adzan”. Kisah itu tetap ada sampai hari ini, tetapi tidak dihiraukan karena meragukan dan sangat sulit dipercaya serta bertentangan dengan keluhuran sosok Prabu Siliwangi as yang selalu protagonis.

            Masyarakat Sunda yang jelas beragama Islam tetap mengagungkan Prabu Siliwangi as. Masyarakat tetap menghormatinya dan tidak pernah terpengaruh oleh kisah-kisah Sang Prabu as yang antagonis dalam pandangan Islam.

            Bahkan, peneliti dari seluruh dunia membuat kesimpulan yang sangat mengejutkan bahwa sosok Prabu Siliwangi as ini merupakan sosok yang tidak memiliki noda cela sepanjang hidupnya. Hal ini ada dalam kesimpulan Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991. Di dalam prosiding ini terkumpul berbagai makalah peneliti dari seluruh dunia yang tertarik pada sosok Prabu Siliwangi as. Makalah-makalah itu ditulis dengan bermacam-macam bahasa, yaitu: bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan lainnya.

            Begini kesimpulan mereka.
1. Prabu Silihwangi adalah seorang hero nasional bersifat universil (hero budaya, hero agama, hero historiografi, dan hero sastra dari abad silam sampai dewasa ini).

2. Sebagai seorang Dewa Raja, Silihwangi adalah
     - Seorang kepala agama yang sempurna
     - Seorang kepala negara yang sempurna
     - Seorang manusia yang sempurna (Insan Kamil)

3. Berkat sifat tersebut, Silihwangi menjadi tokoh ideal dalam suatu kontinuitas budaya, daerah, dan agama yang unik

4. Dengan kemasyhurannya yang tersebar luas, kebesaran pribadinya dan keluarbiasaannya, Silihwangi adalah tokoh hero kharismatik yang patut diteladani (angidung palupi)

5. Toleransi beragama, kemenangan, pemerintahan yang diayomi secara sempurna, keadilan, perlindungan serta pengayoman rakyat menonjolkan ciri khas Prabu Silihwangi dalam masa pemerintahannya yang masih utuh dikenang sampai masa kini.

6. Walaupun nama Silihwangi tidak dipelihara dalam bukti sejarah atau belum ditemukan, julukannyalah yang menjadikan Silihwangi termasyhur.


Di Seluruh Dunia Ada Nabi

Entah kenapa dunia, baik muslim maupun nonmuslim selalu menganggap bahwa nabi itu harus berasal dari Arab atau Timur Tengah. Entah siapa yang mula-mula ngajarin tidak benar seperti itu.

            Saha sih jalmana nu ngamimitian teu baleg model kitu?

            Entah apa pula maksud mereka mengajarkan hal seperti itu.

            Apakah ada kepentingan politik?

            Apakah ada kepentingan ekonomi?

            Apakah disebabkan keterbatasan pengetahuan?

            Kalau keyakinan bahwa para nabi itu harus selalu dari Arab atau Timur Tengah disebabkan adanya kepentingan politik dan ekonomi, jahat sekali orang-orang itu. Mereka harus bertanggung jawab di hadapan Allah swt atas perilaku mereka.

            Kalau disebabkan kurang pengetahuan karena keterbatasan berbagai faktor, tidaklah mengapa. Hal itu tidak menjadi dosa karena kurang pengetahuan yang kemudian melahirkan pemahaman yang salah. Dalam dunia ilmu pengetahuan yang namanya “salah” itu boleh karena bisa diperbaiki. Hal yang tidak diperbolehkan dalam ilmu pengetahuan adalah “berbohong” karena akan merusakkan segalanya.

            Allah swt sendiri tidak pernah mengatakan bahwa para nabi itu seluruhnya berasal dari Arab atau Timur Tengah. Allah swt justru menjelaskan bahwa para nabi ada di seluruh penjuru dunia.

            “Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (QS Yunus 10 : 47)

            Tiap-tiap umat mempunyai rasul.

            Tidak jelaskah kalimat itu?

            Ada berapa ribu umat di seluruh dunia ini?

            Sejumlah itulah rasul diutus ke setiap umat, setiap ras, setiap suku, dan setiap bangsa di dunia. Dengan demikian, di akhirat nanti tidak ada alasan bagi setiap manusia untuk menghindar dari pertanggungjawaban dengan alasan “tidak pernah ada seorang pun pemberi peringatan kepada mereka”. Allah swt tidak meluputkan satu umat pun dari kedatangan rasul dari sisi-Nya.

            “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”  (QS Fathir 35 : 24)

            Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.

            Tegas sekali Allah swt menjelaskan bahwa tidak ada satu umat pun di dunia ini yang tidak diutus nabi kepada mereka. Seluruh kelompok manusia telah didatangi oleh para rasul.
            “Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ibrahim 14 : 4)

            Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.

            Para nabi dan rasul yang diutus ke seluruh dunia itu menggunakan bahasa kaumnya masing-masing. Untuk Sunda, rasul yang diutus berbahasa Sunda. Untuk Jawa, berbahasa jawa. Untuk Batak, berbahasa Batak. Demikian pula untuk suku-suku yang ada di Indonesia dan di seluruh dunia ini. Para rasul hadir dengan menggunakan bahasa sukunya masing-masing agar penjelasan yang disampaikan para rasul itu mudah dipahami dengan terang dan jelas oleh masyarakatnya masing-masing.


Tanda Kenabian Prabu Siliwangi as

a. Ajaran Tauhid

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS Al Anbiya 21 : 25)

            Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah swt memberikan pengetahuan kepada setiap rasul itu dengan ajaran tauhid, yaitu mengesakan Allah swt. Dengan keyakinan seperti itu, manusia diharuskan hanya menyembah kepada Allah swt, tidak kepada hal yang lain. Ayat di atas pun menegaskan bahwa rasul-rasul yang diutus adalah sebelum kerasulan Muhammad as. Artinya, rasul-rasul itu adalah para rasul sebelum masa Nabi Muhammad saw dan Nabi Muhammad saw adalah rasul terakhir. Tak ada rasul setelah Nabi Muhammad saw. Jadi, jangan percaya kalau ada orang yang mengaku-aku nabi atau diakui sebagai nabi, tetapi hidup setelah Nabi Muhammad saw. Jangan pula percaya kepada seseorang yang mengaku atau diakui sebagai nabi, tetapi tidak mengajarkan tentang tauhid dan tidak memerintahkan penyembahan hanya kepada Allah swt.

            Ucapan atau tulisan yang berasal langsung dari Prabu Siliwangi sendiri memang tidak ditemukan peninggalannya karena tenggelam dan hancur bersama hancurnya Benua Sundaland yang mengakibatkan benua itu berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Benua Sundaland dihancurkan oleh Allah swt karena kesombongan penduduknya yang sangat cerdas dan kaya raya serta melupakan ajaran tauhid dari Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaiman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya di seluruh Nusantara ini.

            Meskipun demikian, ajaran Prabu Siliwangi tetap diingat oleh para pengikutnya dan keturunannya yang diselamatkan Allah swt dari bencana mahadahsyat itu. Beberapa raja Sunda mencoba mengabadikan ajaran-ajaran Prabu Siliwangi as dalam berbagai bentuk tulisan. Misalnya, sebagaimana yang direkam oleh Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

            “Dalam Agama Sunda Wiwitan (Mula-Mula), ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Ada lagi.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Ada lagi.

            "Utek, tongo, walang, taga, manusa, buta, detia, lukut, jukut, rungkun, kayu, keusik, karihkil, cadas, batu, cinyusu, talaga, sagara, Bumi, langit, jagat mahpar, angin leutik, angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng, eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal, keur Inyanamah sarua kabeh oge taya bedana."

            Artinya.

            “Cacing-cacing, tungau, belalang, taga, manusia, raksasa, jin, lumut, rumput, semak-semak, kayu, kerikil, cadas, batu, mata air, danau, lautan, Bumi, langit, seluruh dunia, angin kecil, angin topan, bintang bertaburan, Bulan bercahaya, Matahari bersinar terik. Itu semua ciptaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Bagi-Nya semua itu tidak ada bedanya.”

            Itu semua adalah beberapa dari ajaran tauhid dalam bahasa Sunda. Ajaran tauhid ini pasti diajarkan oleh seorang nabi. Tidak mungkin ajaran tauhid berasal dari seorang filosof karena ketauhidan itu selalu harus ada campur tangan Allah swt, baik langsung maupun melalui malaikat. Seseorang yang memikirkan asal mula dunia dengan jalan meditasi dan berpikir filosofis, selalu terjatuh dalam kesesatan atau kemusyrikan jika tidak dibimbing oleh orang yang sudah bertauhid lebih dulu. Tak ada orang yang melalui proses berpikir sendiri mampu mendapatkan ilmu tauhid. Ilmu tauhid hanya bisa diajarkan oleh Allah swt atau malaikat kepercayaan Allah swt kepada orang yang sangat dipercayai-Nya.

            Siapa orangnya yang telah diberikan pengetahuan tentang tauhid berbahasa Sunda lama kalau bukan Prabu Siliwangi as?

            Agama Sunda Wiwitan atau Agama Sunda Mula-Mula adalah Agama Islam yang dibawa Prabu Siliwangi as sebelum ajaran Muhammad saw. Agama itu kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Terakhir Penyempurna Ajaran Islam Muhammad saw.


b. Mudahnya Islam Tersebar di Sunda

Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw pun sangat mudah tersebar di tanah Sunda dan diterima dengan baik pula oleh masyarakat. Hal itu disebabkan memang masyarakat Sunda sudah menjalankan ajaran Islam yang dibawa oleh Prabu Siliwangi as. Tak ada penolakan yang berarti terhadap Islam karena memang sudah Islam sejak lama. Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw menjadi penyempurna ajaran Islam yang dikenal dengan nama ajaran Sunda Wiwitan. Jadi, bukan karena pagelaran wayang, degung, dan syair-syair, masyarakat Sunda dengan mudah menerima Islam, melainkan memang sudah Islam sejak lama. Wayang, degung, syair, dan lain sebagainya yang digunakan oleh para wali hanya merupakan media atau alat untuk menyiarkan Islam, tetapi bukan menjadi penyebab utama mudahnya ajaran Islam diterima dengan baik.

            Hal tersebut pun menjelaskan bahwa seolah-olah Sunda sama dengan Islam. Orang Sunda harus Islam. Jika orang Sunda tidak beragama Islam, sulit sekali orang Sunda lainnya mengatakan orang tersebut adalah masih orang Sunda. Jika orang Sunda murtad dari Islam, seolah-olah ia pun sekaligus murtad dari Suku Sunda. Oleh sebab itu, sulit sekali kita mendapatkan orang Sunda yang agamanya bukan Islam. Bahkan, hampir tidak ada.

            Hal tersebut pernah disampaikan dalam pidato Ketua Pendiri Yayasan Al Ghifari Sali Iskandar yang sempat dimuat dalam majalah Mangle, “Orang Sunda harus Islam. Jika tidak Islam, kita sulit sekali menyebut dia sebagai orang Sunda.”

            Sebenarnya, bukan hanya di Sunda Islam mudah sekali diterima. Buktinya, Indonesia ini menjadi negara pemeluk Islam terbesar di dunia. Hal itu disebabkan sudah sejak lama suku-suku di Indonesia ini melaksanakan ajaran tauhid sebelum Islam dari Nabi Muhammad saw disebarkan. Misalnya, di Batak ada agama Parmalim yang inti ajarannya adalah tauhid, yaitu Mula Jadi Na Bolon, ada pula agama Kaharingan yang ajarannya juga sama-sama tauhid. Banyak sekali agama lokal di Indonesia ini yang berintikan ajaran tauhid. Hal itu menunjukkan adanya nabi-nabi di seluruh Indonesia yang mengajarkan tauhid dengan menggunakan bahasa kaumnya masing-masing. Sayangnya, mereka masih belum mendapatkan penerangan yang benar dan mencerahkan mengenai ajaran tauhid Nabi Muhammad saw yang sebetulnya hadir untuk menyempurnakan ajaran yang dibawa nabi-nabi mereka pada masa lalu.


c. Berhubungan dengan Allah swt dan Malaikat

Dalam berbagai kisah para nabi, selalu ada kontak langsung antara nabi dengan Allah swt atau paling tidak dengan malaikat kepercayaan Allah swt. Hal ini pun dapat dijadikan standar apakah seorang tokoh itu pantas dipercaya sebagai nabi atau tidak. Sekarang, mari kita lihat dengan Prabu Siliwangi as.

            Dalam naskah Jatiraga dituliskan bahwa Sang Hyang Jatiniskala benar-benar bersifat niskala, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Dari mana kalimat-kalimat itu berasal?

            Siapa yang mengklaim diri “Aku” dalam kalimat di atas?

            Iblis atau syetan tidak mungkin berbicara seperti itu. Hal itu disebabkan Iblis selalu menginginkan adanya benda yang diwujudkan untuk dianggap “Tuhan”. Benda itulah yang menjadi berhala sesembahan manusia. Begitulah Iblis menyesatkan jin dan manusia.

            Berbeda dengan kalimat tadi yang menyatakan diri untuk “tidak perlu diubah dalam bentuk alam”. Kata-kata itu pasti berasal dari “diri” yang tidak ingin disamakan dengan benda apa pun di alam ini karena Dia berbeda dengan segala ciptaan-Nya.

            Siapa lagi yang berbicara seperti itu kalau bukan Allah swt?

            Sang Hyang Jatiniskala adalah Allah swt.

            Pernyataan “diri” yang juga sama tegasnya ada dalam naskah Sang Hyang Raga Dewata.

            “Hanteu nu ngayuga Aing. Hanteu manggawe Aing. Aing ngaranan maneh, Sanghiyang Raga Dewata.”

            Artinya.

            “Tidak ada yang menjadikan Aku. Tidak ada yang menciptakan Aku. Aku menamai diri sendiri, Sang Hyang Raga Dewata.”

            Kata-kata tegas itu terasa sekali berasal dari Allah swt. Ilmu tauhid.

            Sang Hyang Raga Dewata adalah Allah swt.

            Sifat-sifat Sang Hyang Raga Dewata pun dijelaskan sebagai berikut.

            “Datang tanpa rupa, tanpa raga, tak terlihat, perkataan (senantiasa) benar. Rupa direka karena ada. Aku-lah yang menciptakan, tetapi tak terciptakan, Aku-lah yang bekerja, tetapi tidak dikerjakan, Aku-lah yang menggunakan, tetapi tidak digunakan.”

            Dia berbeda dari makhluk-Nya. Firman-Nya selalu benar. Ia menciptakan berbagai rupa karena diri-Nya memang ada. Ia berkuasa melakukan sesuatu dan tidak ada yang berkuasa atas diri-Nya.

            Sang Hyang Raga Dewata adalah Allah swt.

            Allah swt menyampaikan kalimat itu pasti tentunya kepada manusia pilihan-Nya sendiri, bisa secara langsung, bisa pula melalui malaikat. Yang jelas, “manusia pilihan” itu adalah sosok istimewa dan agung.

            Siapa dia?

            Siapa lagi kalau bukan Prabu Siliwangi as.

            Dalam hal berhubungan dengan malaikat jelas sekali saat penanaman benih padi yang pertama di muka Bumi ini. Nabi Prabu Siliwangi as adalah orang yang dipercaya Allah swt untuk memulai menanam benih padi di dunia. Naskah tentang ini sangat panjang, tetapi saya coba sampaikan bait-bait yang langsung berkaitan dengan proses penyerahan bibit padi kepada Prabu Siliwangi as dan dimulainya penanaman bibit padi tersebut. Naskah ini saya dapatkan di dalam Proceeding: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi (1991) yang ditulis oleh orang-orang ahli dari berbagai negara di dunia yang tertarik terhadap sosok Prabu Siliwangi as.

            Allah swt memerintahkan malaikat yang bernama Ki Bagawat untuk menyampaikan benih padi kepada Prabu Siliwangi as.

            “Maneh teh kudu lumaku ka Perebu Siliwangi. Nagarana di Pakuwan. Ku Aki teh bawa binih. Sanggakeun ku Ki Bagawat. Parentahkeun kudu tani.”

            Artinya.

            “Kamu harus menemui Prabu Siliwangi. Negaranya di Pakuwan. Bawa oleh Aki benih itu.  Serahkan oleh Ki Bagawat. Perintahkan harus bertani.”

            Allah swt memerintahkan Malaikat Ki Bagawat untuk menghadap Prabu Siliwangi as sambil membawa benih padi. Ki Bagawat harus memerintahkan bertani padi kepada Prabu Siliwangi as.

             “Wiyosing sera kapungkur. Kami teh ngirimkeun binih. Ayeuna kudu dipelak. Sareng na kudu gumati. Andumkeun ka wadya balad. Ulah aya nu kari.”

            Ki Bagawat menjelaskan bahwa dia memberikan benih yang harus ditanam saat itu juga. Pekerjaan menanam benih itu harus dilakukan oleh seluruh rakyat, tidak boleh ada yang tertinggal.

            “Ngarana anu ditandur Nyi Puhaci Sangiyang Sri. Pelak di cai, di darat. Galengna masing beresih. Di darat nya kitu pisan. Jalan huni sing beresih.”

            Benih padi yang harus ditanam itu namanya Nyi Puhaci Sangiyang Sri. Benih itu bisa ditanam di tanah yang berair. Pematang-pematangnya harus bersih. Jalan-jalan di perkampungan yang dilalui oleh benih padi pun harus bersih.

            “Pagerna masing kukuh. Poma-poma wekas kami. Eta perkara melakna anu putih pada putih, anu beureum pada beureumna. Ulah pabaur sasiki.

            Ki Bagawat menerangkan bahwa lahan pertanian harus dipagari dengan kuat. Benih yang harus ditanam pun harus terpisah antara benih padi berwarna putih dengan padi berwarna merah. Tidak boleh tercampur sedikit pun.

            “Eta perkara tarigu gandrung sarawuh jeung kunyit. Ayeuna geura tinggal sabab eta hamo nepi segerna reujeung raosna. Berkatna nya kitu deui.”

            Ki Bagawat pun menjelaskan bahwa padi, terigu, kunyit, dan tanaman di seputar padi sangatlah nikmat dan segar. Bahkan, tanaman-tanaman itu telah mendapatkan berkah dari Allah swt.

            Prabu Siliwangi as pun menerima perintah untuk menanam benih itu.

            “Dewa Guru ingkang Agung. Kang miyosing sawergi. Anggrek jagat pamulan. Perkawis timbalan Gusti maparinkeun bibinihan, ku abdi anggeus katampi.”

            Sang Prabu as pun segera bersyukur dan berdoa.

            “Timbalan Gusti. Sukur sewu berkah Gusti sareng diestukeun pisan nyuhunkeun berekah Gusti. Ti dinya serat ditampa ku Aki Bagawat Sang Sri.”

            Rasa syukur dan doa Prabu Siliwangi segera diterima oleh Ki Bagawat untuk kemudian disampaikan kepada Allah swt.

            Saat itu pula Prabu Siliwangi as segera memerintahkan Ki Patih untuk menggerakkan rakyat menanam benih padi.

            “Geus kitu Raja nimbalan. Ki Patih maneh ayeuna geura indit. Ayeuna maneh sing estu ngumpulkeun wadya balad. Poma-poma ulah aya nu kalarung. Geus puguh jero nagara. Lembur kabeh pada yakti.”

            Artinya.

            “Setelah itu Raja memberikan perintah. Ki Patih kamu sekarang segera pergi. Kamu harus mengumpulkan seluruh rakyat. Ingat, jangan sampai ada yang terlewat, terutama yang ada di dalam negara. Seluruh wilayah harus bekerja bakti.”

            Ki Patih pun patuh, kemudian sesegera mungkin memberikan pengumuman perintah Prabu Siliwangi as. Rakyat kaget dengan perintah yang tiba-tiba itu.

            “Wadya balad sadayana pada kaget nabeuh bende, ngungkung nitir. Ti dinya kabeh garugup. Kabeh sadiya pakakas. Anu deukeut anu jauh pada kumpul. Kocap lalampahanana, eta sela berkiti.”

            Seluruh rakyat terkejut. Semuanya segera menabuh tetabuhan berulang-ulang tanda ada perintah penting Sang Prabu as. Semuanya gugup, kemudian menyediakan perkakas yang ada. Rakyat yang dekat dan jauh semuanya berkumpul dengan sigap untuk melaksanakan perintah Raja as.

            Ki Patih pun memberikan perintah mengenai tatacara menanam benih padi yang pertama di dunia.

            “Pelak di cai di darat. Tilu ranggeuy lobana tah eta binih. Hanteu leuwih ti sakitu. Timbalanana Sang Dewa. Yang Permesti eta teh kudu diandum. Maparinkeun bibinihan. Lobana teh eta binih ku urang nagri Pakuwan. Ulah aya nu kari.

            Iyeu nu baris di darat masing apik galengna kudu beresih. Poma maneh mudu turut kana parentahna Dewa sabab eta pikeun maneh nyaratu. Upama teu dirasanan, kumaha bae Sang Gusti.”

            Artinya.

            “Tanam di air di darat. Tiga rangkai banyaknya itu benih. Tidak boleh lebih daripada itu. Itu perintahnya Sang Dewa. Yang Permesti itu harus dimuliakan. Memberikan benih-benih. Banyaknya itu benih oleh orang negeri Pakuwan. Jangan ada yang tersisa.

            Ini yang ditanam di darat harus apik pematangnya harus bersih. Ingat, kalian harus patuh pada perintahnya Dewa sebab itu untuk makanan kalian. Kalaulah tidak diberikan keberhasilan, terserah Yang Mahakuasa saja.”

            Demikianlah awal mulanya ada padi dan tatacara penanaman benih padi yang pertama di dunia ini. Setelah adanya benih padi itu, dalam kisah-kisah selanjutnya, rakyat di bawah Prabu Siliwangi as di Benua Sundaland hidup sangat makmur dengan beras berlimpah ruah, tak pernah kekurangan pangan, gemah ripah loh jinawi, penduduknya pun semakin kaya raya. Tak heran jika Atlantis yang sering dibicarakan orang secara ngawur itu memang benar-benar ada di wilayah Benua Sundaland, Indonesia.


Prabu Siliwangi as-Borobudur-Islam

Terdapat keterkaitan yang sangat menarik antara ajaran Islam Prabu SIliwangi as dengan Borobudur yang dibangun Nabi Sulaiman as dengan ajaran Islam sempurna yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Hal itu bisa dilihat dari ajaran-ajarannya.

            Dalam ajaran Sunda Wiwitan yang dibawa oleh Prabu Siliwangi as, ada tiga macam alam, yaitu Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang. Buana Nyungcung adalah tempat bersemayam Sang Hyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak) yang letaknya paling atas. Buana Panca Tengah adalah tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya yang letaknya di tengah. Buana Larang adalah tempatnya perilaku buruk yang akan menyebakan manusia masuk neraka, letaknya paling bawah.

            Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Sunda mempraktikan ajaran ini dalam hal membangun rumah. Rumah-rumah tradisional Sunda adalah rumah panggung. Demikian pula untuk langgar, mushalla, surau, bahkan masjid. Bangunan panggung itu merupakan perwujudan dari keyakinan adanya ketiga alam tadi. Bangunan panggung adalah tempatnya manusia hidup untuk mendapatkan ketenangan, kemuliaan, kedamaian, dan petunjuk Tuhan. Adapun bagian kolong rumah dan tanah di seputar rumah serta di seluruh Bumi merupakan tempat segala perilaku buruk yang dapat menjerat manusia ke dalam neraka. Jika keluar rumah atau bangunan lainnya, kemudian menginjakkan kaki ke tanah, sama artinya dengan harus berhadapan dengan segala kesibukan duniawi yang bisa membuat manusia terjebak dalam berbagai kesesatan. Oleh sebab itulah, manusia harus kembali ke rumah atau bangunan panggung untuk kemudian melakukan koreksi diri sehabis menghadapi rimba kehirukpikukan dunia sehingga mendapatkan ketenangan dan kemuliaan. Di tempat ini pula manusia dapat beribadat untuk memperoleh petunjuk Tuhan. Adapun bagian atas rumah sampai ke langit adalah tempatnya kebenaran hakiki, yaitu Sang Hyang Kersa, Yang Maha Berkehendak, Allah swt.

            Di Borobudur yang dibangun Nabi Sulaiman as ada tiga tingkat, yaitu: Kamadatu, Rupadatu, dan Arupadatu. Kamadatu adalah tingkat kehidupan manusia yang paling rendah dan hidup layaknya binatang dengan segala hawa nafsu dan tipu dayanya, sebagaimana hidup dalam keseharian kita yang harus berhadapan dengan rupa-rupa situasi. Rupadatu adalah tingkat kehidupan manusia yang lebih baik lagi karena di sinilah manusia mulai tersadar dengan berbagai kekhilafannya dan mencoba menenangkan diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Di sini pula terjadi perang antara pikiran baik dan buruk yang jika manusia mampu menang, akan menjadi lebih baik lagi, tetapi jika kalah, ia akan terjatuh ke dalam tingkat Kamadatu. Tingkat terakhir adalah Arupadatu tempat segala ketenangan dan kemuliaan Allah swt berada.

            Dalam ajaran Islam sempurna yang dibawa oleh Muhammad saw ada ilmu pengetahuan mengenai amarah, lawamah, dan  muthmainah. Amarah adalah nafsu kehewanan yang ada dalam diri manusia. Manusia hidup bagai hewan dengan segala kerakusannya, kecurangannya, kesombongannya, dan kebodohannya. Lawamah adalah nafsu penyesalan manusia atas keburukan-keburukan yang pernah dilakukannya. Di sinilah mulai adanya keinginan lebih kuat untuk memperbaiki diri dan mengharapkan petunjuk serta pertolongan Allah swt. Muthmainah adalah nafsu yang sudah berada dalam keadaan tenang dan stabil. Dirinya sudah dipenuhi cahaya Illahi dan tenggelam dalam kemuliaan Allah swt.

            Jadi, Buana Larang = Kamadatu = Nafsu Amarah. Kemudian, Buana Panca Tengah = Rupadatu = Nafsu Lawamah. Setelah itu, Buana Nyungcung = Arupadatu = Nafsu Muthmainah.

            Apabila dibahas lebih panjang, hal ini terhubung dengan syariat, tarekat, hakekat, makrifat, iman, Islam, dan ihsan. Begitulah Allah swt mengajarkan Islam secara bertahap kepada seluruh manusia dengan bahasanya masing-masing yang kemudian disempurnakan oleh Islam yang diajarkan Muhammad saw.

            Saya sangat setuju sekali dengan pernyataan Quraish Shihab yang menurutnya, ketika Muhammad saw hadir sebagai Rasul, sesungguhnya bangunan Islam itu sudah lama berdiri, tetapi masih kurang satu bata. Nabi Muhammad saw-lah yang menjadi satu bata yang kurang itu sehingga bangunan Islam pun lengkap dan sempurna.


Kehancuran Akibat Dosa dan Keangkuhan

Setelah mendapat berkah Allah swt yang berupa padi dan makanan lainnya, rakyat Benua Sundaland hidup dalam kemakmuran, kekayaan, keagungan, dan kehebatan dalam berbagai bidang, terutama teknologi. Beberapa generasi pasca-Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaiman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, mendapatkan kegemilangan luar biasa yang membuat orang-orang penasaran sampai hari ini. Akan tetapi, sayangnya, kemewahan duniawi telah membuat mereka rakus seperti kata pepatah “diberi hati minta jantung”. Mereka ingin lebih kaya lagi dan lagi. Mereka pun berdoa kepada Allah swt supaya ditambah lagi kekayaan dan kekuasaannya. Sayangnya, Allah swt tidak mengabulkan keinginan mereka karena keinginan mereka itu buruk dalam pandangan Allah swt. Akibatnya, mereka kecewa dan terus kecewa hingga mencari sesembahan lain di luar Allah swt. Mereka pun mulai menjadi kafir dan menyembah berhala serta Iblis. Mereka pun melupakan ajaran-ajaran para nabi terdahulu, kecuali sedikit orang-orang lemah yang masih ingat. Setelah kekafiran mereka keterlaluan, Allah swt pun menghancurkan Benua Sundaland yang megah itu hingga hancur lebur bagai serpihan-serpihan kue kering yang berantakan kemana-mana hingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Kehebatan dan kegemilangannya dikubur dan ditenggelamkan dalam-dalam hingga orang sulit sekali mencarinya hingga kini. Saking hancurnya dan miskinnya, padi yang asalnya dipercayakan Allah swt kepada penduduk Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia, telah dikuasai oleh penduduk wilayah lain. Akibatnya, keturunan manusia-manusia yang dipercaya menanam padi pertama di muka Bumi ini pun harus impor beras dari negeri lain.

            Siapa keturunan orang-orang itu?

            Ya, kita-kita ini.

            Kasihan sekali kita, ya?

            Makanya, jangan melakukan dosa dan jangan berkhianat terhadap hal apa pun.