oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) yang digagas
Presiden RI Prabowo Subianto menimbulkan polemik di tengah masyarakat, terutama
di kalangan akademisi dan praktisi kebijakan publik. Banyak yang mengkritik
keinginan Prabowo mendirikan URI karena sudah sangat banyak perguruan tinggi
yang mengajarkan hal-hal sejenis, seperti, pemerintahan, kepemimpinan, dan
kebijakan. Mereka menganggap kebijakan Prabowo untuk mendirikan URI tidaklah
tepat untuk saat ini.
| Ilustrasi dari Instagram |
Akan
tetapi, berbeda dengan pandangan Presiden Prabowo. Dia tampaknya mendengar
banyak keluhan masyarakat terhadap kualitas aparatur sipil negara (ASN), para
birokrat, pegawai negara lainnya, dan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Masyarakat bukan hanya menilai, melainkan pula merasakan rendahnya kinerja
aparat pemerintahan di Republik Indonesia. Tidak semua aparat rendah
kualitasnya, banyak yang baik dan disiplin, tetapi masyarakat mengeluhkan rendahnya
pelayanan yang didapatkan rakyat. Para pekerja di pemerintahan ini adalah hasil
atau lulusan berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta.
Oleh sebab itu, tampaknya Prabowo menginginkan lulusan yang jauh lebih baik
dibandingkan yang sudah-sudah. Itulah salah satu alasan dibentuknya URI, untuk
menyuplai tenaga di pemerintahan dan BUMN setelah mendapatkan proses pendidikan
yang diinginkan Prabowo sendiri.
Di samping
kualitasnya tidak memuaskan rakyat, para aparat ini pun tak sedikit yang
melakukan tindakan korup hingga ditangkap penegak hukum. Bahkan, banyak di
antara mereka melakukan aksi-aksi yang dianggap merongrong kewibawaan negara
sehingga diragukan kesetiaan dan kecintaannya pada negara.
Tambahan
pula pada banyak kampus terdapat aktivitas-aktivitas yang tidak mencerminkan
kecintaan kepada negara, banyak menebar hoaks, disinformasi-fitnah-kebencian.
Demonstrasi banyak yang tidak jelas isunya dengan kata-kata dan kalimat kasar
yang ditujukan bukan hanya pada pengambil keputusan, melainkan pula pada aparat
keamanan, baik TNI maupun Polri yang menjaga ketertiban situasi.
Kalau kita
paham kata-kata yang beberapa kali diucapkan Prabowo, semisal, londo ireng dan
antek-antek asing, “Saya tahu siapa yang membayar kalian!”, dia sudah
mendeteksi kerusakan yang terjadi dan merasa perlu untuk melakukan sesuatu.
Pendirian
URI adalah dimaksudkan untuk menciptakan para pegawai negara dan BUMN yang
lebih berkualitas dan mencintai negerinya.
Hal ini
dapat dilihat dari pernyataan Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI)
Donny Ermawan yang berulang-ulang menegaskan bahwa URI didirikan untuk
menciptakan para pegawai pemerintahan dan BUMN yang “mencintai dan setia kepada
negerinya”. Berulang-ulangnya kata “cinta dan setia pada negara” menunjukkan
adanya masalah kesetiaan beberapa kalangan terhadap Indonesia. Prabowo
menganggap harus adanya pendidikan dan penyadaran terhadap masyarakat untuk
lebih mencintai dan setia pada negaranya.
Keinginan
Prabowo ini tentu saja menjadi saingan bagi perguruan tinggi dan lembaga
pendidikan lainnya yang sudah lama ada. Apalagi lulusan URI ini akan lebih
memiliki kesempatan pasti untuk duduk di pemerintahan dan BUMN. Prabowo
memiliki harapan dan keyakinan bahwa lulusan URI akan bisa lebih diandalkan
karena berada di bawah pengawasannya lebih langsung. Hal itu akan membuat
lulusan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya menjadi lulusan di
bawah URI untuk mendapatkan kesempatan berkarir di pemerintahan dan BUMN.
Jika kita
melihat kebiasaan Prabowo, dia tidak akan pernah berhenti melakukan apa yang
diinginkannya jika sudah merasa yakin benar. Artinya, URI akan menjadi pesaing
berat bagi para lulusan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Oleh
sebab itu, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya harus bekerja lebih
keras membuktikan diri mampu mencetak lulusan berkualitas yang bisa melebihi
URI untuk menempati posisi di pemerintahan dan BUMN. Jika tidak membenahi diri,
kemungkinan bisa kalah telak terlindas oleh URI.
Sambil
menyaksikan program Prabowo dalam mengoperasionalkan URI, sebaiknya kita minum
susu hangat tanpa ditambah gula.
Ilustrasi
Universitas Republik Indonesia saya dapatkan dari Instagram.
Sampurasun
No comments:
Post a Comment