Showing posts with label Hadits. Show all posts
Showing posts with label Hadits. Show all posts

Tuesday, 24 May 2022

Empat Karakter Sahabat Nabi Muhammad saw

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Para khalifah yang besar itu ada empat. Mereka dikenal sebagai khulafaur rasyidin yang artinya “pengganti yang mendapat petunjuk”, terdiri atas dua kata, yaitu khulafa dan rasyidin. Bisa juga kita menyebutnya khalifah yang mendapat petunjuk. Khalifah itu artinya bukan pemimpin, melainkan pengganti.

            Pengganti siapa?

            Pengganti Muhammad saw.

            Petunjuk dari siapa?

            Dari Allah swt.

            Mereka semua orang baik, adil, dan sangat bijaksana dalam membina umat. Akan tetapi, saya tidak ingin menulis hal itu. Saya tertarik terhadap karakter mereka yang berbeda-beda. Mereka adalah Abu Bakar as Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

            Abu Bakar adalah orang yang sangat lembut dan selalu meminta koreksi dari orang lain. Dia tidak ingin dirinya salah. Ketika diangkat menjadi khalifah pun, beliau mengatakan bahwa seluruh umat Islam harus taat kepadanya, tetapi dilarang taat jika dirinya salah. Bahkan, beliau sempat ingin mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa malu tidak melakukan apa pun selama dua tahun, seluruh umat tertib dan tidak pernah ada masalah.

            Utsman bin Affan lebih lembut lagi dibandingkan Abu Bakar. Dia penyayang kepada umatnya dan selalu memperhatikan berbagai kesulitan yang menimpa umatnya. Beliau bahkan mengeluarkan harta pribadinya untuk kepentingan umat.

            Ali bin Abi Thalib adalah orang yang cerdas, bijaksana, dan tegas. Seluruh kebijakannya didasarkan pada pengetahuannya. Dia juga yang menjadi sumber pengetahuan para khalifah sebelumnya. Jadi, ketika dia berperilaku, sumbernya selalu Al Quran dan As Sunnah. Lembut, tegas, dan kerasnya Ali dasarnya adalah pengetahuan dari Al Quran.

            Umar bin Khattab adalah orang yang sangat keras dan cenderung kasar dalam arti positif. Pernah ketika berdakwah pun beliau mematahkan tulang, kemudian dia kirimkan ke pihak lain. Itu isyarat keras yang bisa ditafsirkan “kamu harus mematuhiku atau aku patahkan tulangmu”. Demikian pula ketika seseorang mengadu kepadanya telah ditempeleng oleh seorang gubernur. Umar memanggil gubernur itu di depan Kabah, kemudian menyuruh orang yang menjadi korban penempelengan untuk menempeleng balik gubernur itu.

            Tentu saja, perilaku Umar bin Khattab tidak perlu dilakukan zaman ini karena kita memiliki hukum dan undang-undang. Semua urusan harus melalui pengadilan untuk kemudian diputuskan hukumannya. Saya hanya ingin menerangkan saja bahwa Umar bin Khattab itu orang yang sangat keras.

            So, tidak perlu heran dan tidak perlu aneh jika ada orang yang berdakwah atau membina umat dengan cara yang berbeda-beda karena karakternya juga berbeda-beda. Bisa lembut, sangat lembut, tegas, ataupun keras. Itu karakter bawaan. Kita dzalim jika memaksa orang untuk harus sesuai dengan karakter yang kita inginkan. Itu pasti akan menimbulkan konflik dan persengketaan, jauh dari rahmat Allah swt. Asal isinya berdasarkan Al Quran, Hadits, serta menebarkan cinta dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semesta, semua sah-sah saja.

            Akan tetapi, akan menjadi malapetaka jika sudah memutarbalikan ayat Al Quran, memalsukan hadits, menebar fitnah, menyebarkan kebencian, menggaungkan kebohongan, merendahkan orang lain, menganggap dirinya selalu paling benar dan mulia, atau parahnya menghancurkan hidup orang lain karena kepentingan politik. Hal itu disebabkan di samping menimbulkan dosa, juga merendahkan kemuliaan Islam sendiri.

            Para khalifah yang empat itu meskipun karakter dan cara pembinaan kepada umatnya berbeda-beda, tetapi dasarnya sama, yaitu merujuk pada QS Al Fath, 48 : 29.

            “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

            Saya menggarisbawahi kata-kata “berkasih sayang sesama mereka”. Artinya, para khalifah itu ingin mewujudkan rasa kasih sayang pada umat yang dibinanya. Mau caranya lembut, tegas, ataupun keras, tujuannya tetap menebarkan dan menciptakan suasana yang berkasih sayang. Jangan kaget jika ada orang yang berdakwah dengan karakternya asal tidak berdasarkan kebohongan, niatnya tulus, apa pun karakternya, tujuannya adalah menumbuhkan kehidupan yang berkasih sayang.

            Celakanya, pada zaman ini banyak orang yang memanipulasi ayat ini, yaitu mengafir-kafirkan orang, memurtad-murtadkan orang, menghinakan orang agar orang tertipu sehingga orang yang berbeda dengan dirinya adalah kafir, dzalim, atau murtad. Kemudian, menanamkan keyakinan bahwa kelompoknyalah yang Islam. Dengan demikian, orang-orang yang di luar mereka adalah kafir yang harus disikapi dengan keras sesuai hawa nafsu mereka. Bahkan, disebut halal darahnya untuk dibunuh. Padahal, terhadap orang kafir sendiri pun atau nonmuslim pun asal tidak melakukan permusuhan terhadap kaum muslimin, kita harus tetap baik berperilaku, bahkan lebih baik lagi dalam berhubungan dengan sesama manusia. Ngeri kalau sesama muslim sendiri sudah dikafirkan, lalu dianggap musuh yang harus dikerasi. Nabi Muhammad saw sendiri berbisnis kok dengan nasrani, yahudi, bahkan agama lainnya dengan baik.

            So, para khalifah itu berbeda cara dan karakter, tetapi tujuan dan niatnya selalu baik untuk Allah swt. Kita juga bisa berbeda-beda dan tidak perlu sama dalam membina umat. Kita bisa keras atau sangat keras asal niat dan tujuannya benar dan baik.

            Buat apa lembut dan halus kalau hanya untuk memanipulasi, menipu, dan membodohi orang lain untuk kepentingan duniawi yang remeh temeh?

Setiap orang berbeda-beda, tidak perlu takut untuk berdakwah dengan karakter masing-masing. Kita selalu dilindungi dan dijamin Allah swt sepanjang kita bersama Allah swt dan tidak bersama para penipu agama.

Sampurasun.

Monday, 30 November 2020

Berdebat Menurut Allah swt

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak sekali nasihat tentang “larangan berdebat”, baik di Medsos, artikel di web, blog, maupun di dunia nyata melalui obrolan, diskusi, dan ceramah. Akan tetapi, nasihat-nasihat itu sandarannya tidak bersandar pada Al Quran, tetapi bersandar pada hal yang disebut hadits ataupun pendapat yang kata mereka adalah pendapat ulama. Paling tidak, itu yang sempat saya perhatikan. Semua nasihat itu berbahasa yang baik, tidak ada yang buruk. Akan tetapi, saya itu selalu skeptis, ragu, terhadap apa yang disebut hadits.

            Apakah benar Nabi Muhammad saw mengatakan hal seperti itu?

            Jangan-jangan hanya karangan orang-orang biasa saja, lalu disebut berasal dari Nabi Muhammad saw. Berbahasa baik saja tidak cukup, tetapi harus nyata dikatakan benar-benar oleh Nabi Muhammad saw. Ada metode ilmiah untuk menelusuri kebenaran suatu yang disebut hadits.

            Apakah benar orang yang mengatakan hal itu adalah ulama?

            Jangan-jangan dia cuma penyair puisi, pendongeng, sastrawan, pustakawan, atau hanya seorang demagog.

            Apakah benar para imam semisal Imam Syafei mengatakan hal seperti itu?

            Jangan-jangan hanya karangan orang iseng, lalu mengatakan bahwa itu adalah kata-kata Imam Syafei.

            Bagi orang seperti saya, hal yang paling mudah dilakukan adalah mengonfrontirnya dengan Al Quran. Al Quran adalah kitab yang dijaga Allah swt, tidak pernah salah. Seluruh ajaran Islam harus merujuk ke sumber itu, Al Quran. Jika ada hadits atau cuma pendapat ulama, tetapi bertentangan dengan Al Quran, pasti salah. Hadits atau pendapat itu harus gugur karena bertentangan dengan Al Quran. Sebaliknya, jika hadits atau pendapat ulama itu menjelaskan dan menguatkan ayat-ayat Al Quran, itu harus dipertimbangkan untuk diikuti dan diyakini kebenarannya.

            Setelah membaca dan mendengar tentang larangan berdebat, saya penasaran dengan kata-kata Allah swt tentang berdebat. Saya teringat kalimat yang disampaikan Allah swt dalam QS An Nahl, 16 : 125.

            “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

            Begitulah yang dikatakan Allah swt agar kita mematuhi-Nya. Dari ayat itu kita bisa memahami bahwa kewajiban kita itu adalah menyeru manusia pada kebenaran Ilahi dengan baik. Kemudian, jika mendapatkan penentangan, berdebatlah dengan cara yang baik. Artinya, boleh, bahkan harus berdebat, tetapi harus dengan cara yang baik.

            “…Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik….”

            Cara yang baik itu adalah berbahasa yang baik, memahami hal yang sedang diperdebatkan, memiliki ilmu yang cukup dan berwawasan yang luas, memiliki data dan fakta yang nyata, serta berniat untuk mendapatkan atau menemukan “kebenaran” dan bukan untuk mendapatkan “kemenangan dalam berdebat”.

            Kebenaran itu sumbernya adalah Allah swt (Al Quran) dan hadits (Muhammad saw). Semua harus disandarkan pada keduanya, bukan dari hawa nafsu pribadi ataupun hawa nafsu orang lain yang kita hormati.

            Kalau hanya ingin menang, kita bisa tersesat dan berada dalam kegelapan. Allah swt sangat tahu hal itu. Dalam setiap perdebatan, Allah swt hadir dan menyaksikannya. Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dia tahu siapa yang lurus dan mendapat petunjuk serta siapa yang bengkok dan berada dalam kesesatan. Hal itu seperti yang dikatakan-Nya sendiri.

            “… Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

            Lalu, bagaimana jika dalam perdebatan itu tidak menemui hasilnya atau ujungnya?

            Bagaimana jika hanya menjadi debat kusir yang tidak berarti serta berhadapan dengan orang keras kepala dan bangga dengan kebodohannya?

            Kalau dirasa sudah maksimal menyerukan kebenaran, tetapi tetap tidak diterima dan malah mendapatkan makian-makian bodoh hingga bisa menyesatkan orang banyak, Allah swt memberikan lagi penjelasan dalam QS Al Araf, 7 : 199.

            “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

            Kata Allah swt, jadilah pemaaf dan tetap mengajak orang lain untuk melakukan pekerjaan baik sekaligus jangan pedulikan dan tinggalkanlah orang-orang bodoh yang keras kepala, merasa benar sendiri, bahkan bangga dengan kebodohannya. Allah swt akan membuat perhitungan kepada orang-orang seperti itu, bisa disadarkan Allah swt atau malah dibiarkan dalam kebodohannya. Kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan Allah swt, kecuali Allah swt sendiri yang memberitahukannya kepada kita. Kita hanya bisa tetap menjadi cahaya bagi diri kita sendiri, keluarga kita, orang-orang terdekat dan tercinta kita, dan semua manusia. Kalau mereka tidak mau mendekati cahaya Ilahi, itu keputusan diri mereka sendiri. Kita berlepas tangan dari mereka karena kita sudah menyerukan kebenaran.

            Boleh berdebat, tetapi dengan cara yang baik. Tinggalkanlah perdebatan jika sudah tidak lagi kondusif dan biarkan orang lain dalam keinginannya sendiri. Allah swt akan memutuskan sendiri terhadap hal itu. Begitu kira-kira yang saya pahami dari QS An Nahl, 16 : 125 dan QS Al Araf, 7 : 199.

            Sampurasun.

Friday, 13 November 2020

Al Quran No. 1

 


 oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Al Quran adalah sumber pengetahuan, informasi, dan hukum yang paling utama, No. 1, dalam Islam dan kehidupan kaum muslimin. Tidak boleh ada yang berada di atas Al Quran. Seluruh sumber pemahaman Islam harus berada di bawah Al Quran. Kalau ada yang menempatkan sumber lain di atas Al Quran, itu pasti palsu dan menyesatkan.

            Salah satu hal yang bisa dijadikan dasar bahwa Al Quran adalah sumber pemahaman Islam yang tertinggi adalah pernyataan Allah swt dalam Al Quran Surat Al Hijr, 15 : 9, yaitu:

            “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

            Ayat itu menjelaskan bahwa Al Quran selalu terjaga keaslian dan kemurniannya serta tidak dapat diubah-ubah. Segala upaya yang bertujuan mengubah Al Quran selalu gagal. Isinya selalu sama dan tidak pernah berantakan. Pencetakan Al Quran yang sangat banyak dan dihapal oleh puluhan juta kaum muslimin ikut menguatkan keaslian Al Quran. Kalaupun ada yang mengubah-ubah isi Al Quran dan memang ada, dipakai kelompok tertentu, isinya menjadi lemah dan berantakan sehingga tidak bisa dijadikan patokan.  Orang-orang pun kembali pada Al Quran yang asli.

            Al Quran adalah satu-satunya sumber Islam yang dijaga Allah swt dan tertulis nyata di dalam Al Quran sendiri. Oleh sebab itu, wajar dan memang sudah seharusnya dijadikan rujukan utama dalam ber-Islam.

            Adapun sumber lainnya, tidak dijaga seperti Al Quran. Di bawah Al Quran ada hadits, kemudian pendapat para ulama. Ini tidak ada pernyataan Allah swt yang tertulis sebagai sumber yang dijaga-Nya. Kalau ada, kasih tahu saya. Saya senang sekali mengetahuinya.

            Mulai hadits, sumber ini mulai berantakan. Banyak hadits yang tidak jelas sumbernya, tidak jelas perawinya, bahkan isinya pun aneh. Tidak sedikit orang yang mengatakan sesuatu ajaran dengan mengalamatkannya sebagai hadits yang berasal dari Nabi Muhammad saw, padahal hanya karangan dirinya saja. Orang-orang yang pandai bicara, tetapi hatinya kusut sering melakukan hal ini. Oleh sebab itu, hal yang paling mudah untuk orang awam seperti saya ini dalam menentukan hadits itu benar atau salah, cocokkan saja dengan Al Quran. Kalau bertentangan dan tidak sesuai dengan Al Quran, pastikan bahwa hadits itu “maudhu” atau palsu. Itu hanya karangan orang-orang yang kotor hatinya yang biasanya hanya menginginkan kehormatan, kekuasaan, dan kekayaan.

            Beruntung, banyak ulama, para ahli, cendekiawan yang berupaya merapikan hadits-hadits yang bertebaran itu. Hasil karya mereka dapat dijadikan patokan untuk kaum muslimin dalam ber-Islam. Dari merekalah, kita mendapatkan hadits shahih, hasan, marfu, mutawatir, dan seterusnya hingga ke hadits palsu. Dengan demikian, kita mendapatkan pengetahuan yang luar biasa bermanfaat dalam melaksanakan ajaran Islam dan memiliki hadits-hadits yang tidak lagi berantakan. Cerdasnya mereka adalah tetap membuka peluang bagi generasi muda muslim untuk meneliti kembali hadits-hadits yang tersusun itu sehingga sebuah hadits shahih bisa menjadi dhaif, sebaliknya hadits dhaif bisa menjadi shahih jika ditemukan bukti-bukti baru yang membuat sebuah hadits menjadi dhaif ataupun menjadi shahih. Para ulama, para ahli, dan para cendekiawan itu hebat dan setia pada ilmu pengetahuan sehingga tidak melarang ataupun menutup diri bahwa hasil karyanya tidak boleh diganggu gugat. Mereka malah terbuka dalam ilmu pengetahuan serta bersedia dikritik dan dikoreksi. Orang-orang yang tulus hatinya ini biasanya mengatakan hal yang mirip dengan yang dikatakan Sahabat Nabi saw, Abu Bakar ra, ketika diangkat menjadi khalifah. Dia mengatakan bahwa seluruh kaum muslimin wajib patuh kepada dirinya sepanjang dirinya sesuai dengan Al Quran dan sunnah Nabi saw. Akan tetapi, jika dirinya tidak sesuai dengan Al Quran dan sunnah Nabi, kaum muslimin dilarang mengikutinya, bahkan diminta untuk mengingatkan dan mengoreksi dirinya. Dengan demikian, jelas patokan kaum muslimin adalah Al Quran dan hadits, bukan sosok pemimpin atau orangnya.

            Setelah Al Quran dan hadits, barulah sumber pemahaman Islam bagi kaum muslimin adalah “pendapat para ulama”. Akan tetapi, pendapat para ulama ini tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan hadits. Hal itu disebabkan jangankan pendapat ulama, hadits saja tidak dijamin penjagaannya oleh Allah swt. Pendapat ulama ini wajib diikuti sepanjang tidak bertentangan atau sesuai dengan Al Quran dan hadits. Kalau bertentangan, jangan diikuti.

            Kalau tidak sesuai dengan Al Quran dan hadits, dari mana dasarnya orang yang disebut ulama itu bisa mengajarkan Islam?

            Kalau tidak sejalan dengan Al Quran dan hadits, berarti dia mengarang sendiri sesuai hawa nafsunya atau mendapatkan pemahaman yang sesat.

            Oleh sebab itu sangat wajar jika ada orang yang berbicara tentang Islam, lalu ditanya, “Ada ayat Al Quran-nya tidak? Ada hadits-nya tidak?”

            Pertanyaan itu adalah pertanyaan cerdas karena tidak mau sesat dan menginginkan kepastian bahwa itu berasal dari ajaran Islam.

            Sungguh bagus orang yang mengibaratkan ulama itu adalah gelas. Gelas itu adalah alat untuk orang bisa minum air yang berasal dari termos atau teko. Orang tidak mungkin minum air panas langsung dari termos atau teko. Dia harus menggunakan gelas untuk bisa minum. Artinya, tugas ulama itu adalah untuk memperjelas dan memudahkan kaum muslimin untuk melaksanakan Al Quran dan hadits dalam kehidupan nyata. Bukan sebaliknya, malah membingungkan dan mempersulit kaum muslimin. Kalau ada orang-orang yang ngaku-ngaku atau diakui sebagai ulama, tetapi mempersulit dan membuat bingung kaum muslimin, sangat wajar jika kaum muslimin meragukan ke-ulama-annya, bahkan tidak menghormatinya.

            Kita harus hati-hati dalam hal ini, apalagi pada zaman sekarang yang tiba-tiba muncul banyak orang yang disebut ulama, padahal sebelumnya tidak pernah dikenal. Kemudian, berdakwah dan berceramah penuh makian kepada sesama muslim sehingga mendapatkan perlawanan dari ulama lainnya. Inilah bukti bahwa pendapat para ulama itu tidak dijaga oleh Allah swt secara langsung. Di antara mereka yang disebut ulama itu sering berbeda paham, bahkan di antara para habib pun berbeda. Kita bisa melihatnya dari Pilpres 2019 yang telah usai itu dimenangkan Jokowi-Maruf Amin. Ada ulama dan habib yang pro-Jokowi dan adapula yang pro-Prabowo. Itu kenyataan yang menunjukkan bahwa mereka pun berbeda pendapat. Bahkan, perbedaannya bisa sangat sengit yang berujung pada kasus hukum. Hal yang sangat membuat kusut adalah banyaknya tuduhan sebagai “ulama suu, ulama sesat, ulama kafir, ulama jahat, ulama kami, ulama kalian”.

            Hal itu membuat aneh, masa ada ulama kami, ulama kamu, ulama kalian?

            Kan seharusnya juga yang ada itu adalah “ulama kita” karena semuanya harus sama, bersumber dari Al Quran dan hadits?

            Tidak perlu menghina dan memaki, untuk apa?

            Untuk kekuasaan? Untuk kehormatan? Untuk ekonomi?

            Perbedaan-perbedaan keras inilah yang membuat umat terpecah dan itu membahayakan. Hal itu diperparah dengan menganggap bahwa dirinya atau kelompoknyalah yang pasti masuk surga dan yang lain masuk neraka.

            Sebetulnya, kalau ada perbedaan pendapat, tidak harus baku hantam, ancaman kekerasan, atau tudingan-tudingan kampungan. Seharusnya, kembalikan saja kepada Al Quran dan sunnah Nabi saw. Sesuaikan saja pendapatnya pada kedua sumber pokok pemahaman Islam tadi. Pendapat yang ada dasarnya dalam Al Quran dan hadits, ikuti. Yang tidak jelas dasarnya, tinggalkan.

            Hal tersebut pun memang diajarkan Allah swt dalam Al Quran surat An-Nisa, 4 : 59:

            “… jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

            Itu firman Allah swt, masa enggak mau diikuti?

            Cek di dalam Al Quran dan hadits, apakah sesuai atau tidak, begitu seharusnya. Hal ini pun disampaikan Nabi Muhammad saw bahwa jika kaum muslimin tidak mau hidupnya tersesat, harus berpegang teguh kepada Al Quran dan sunnahnya.

            Sekali lagi, Al Quran adalah sumber utama dalam pemahaman Islam, tidak boleh ada yang bertentangan dengannya. Bahkan, hadits pun tidak boleh bertentangan dengan Al Quran karena tidak mungkin perkataan dan perilaku Nabi Muhammad saw bertentangan dengan Al Quran. Pendapat para ulama pun tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan hadits yang sudah dinyatakan bukan hadits palsu. Kalau ada yang bertentangan, tinggalkanlah demi keselamatan kita di dunia dan di akhirat.

            Oh, ya. Saya menulis itu sebetulnya untuk di blog pribadi saya. Alhamdulillah, blog saya sampai hari ini sudah dibaca oleh lebih dari 230 ribu orang dari berbagai negara, semoga bermanfaat. Kalau saya bagikan ke Medsos semacam FB, itu hanya beberapa. Saya lebih nyaman di blog karena para pembaca blog itu memang orang-orang yang berniat untuk mencari pemahaman dan bersungguh-sungguh ingin mendapatkan hal yang ingin mereka pahami. Berbeda dengan di FB yang mirip keranjang, orang bisa menemukan apa saja tanpa niat untuk mencarinya dengan sungguh-sungguh. Kalau ada, dibaca. Kalau tidak ada, ya tidak dibaca. Malahan, kalau ada juga, kerap dilewat saja. Oleh sebab itu, kalau ada yang ingin lebih banyak memahami apa yang ada dalam pikiran saya, kunjungi saja blog saya. Ketik saja nama saya Tom Finaldin, nanti keluar banyak judul buku yang saya tulis dan nama blog saya, Putera Sang Surya.

            Seperti biasa, yang mau komen, komenlah yang baik dan mencerdaskan. Kalau tidak, akan saya hapus. Kalau tersinggung dengan tulisan saya, laporkan saja ke polisi, ada undang-undangnya kok yang bisa menjerat saya. Demikian pula sebaliknya, jika saya tersinggung dan merasa dibahayakan, akan saya laporkan ke polisi juga. Semua bisa diselesaikan.

            Sampurasun.

#salamrevolusiakhlak

Thursday, 20 April 2017

Neraka untuk Para Penjual Ayat Allah swt

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Para penjual ayat-ayat Allah swt memang sangat mengesalkan orang-orang beriman. Mereka terus melakukan keburukan-keburukannya meskipun sudah diberikan peringatan dan dinasihati. Mereka tidak pernah berhenti, kecuali Allah swt yang menghentikan mereka dengan tindakan-Nya sendiri. Orang-orang baik yang beriman kerap menasihati mereka, memberikan penjelasan yang benar, menguraikan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Allah swt. Akan tetapi, para penjual ayat ini tidak pernah mau tahu tentang kebenaran. Mereka hanya ingin menjual ayat-ayat Allah swt untuk kepentingan mereka sendiri, baik itu politik maupun ekonomi.

            Allah swt sudah tahu mereka sejak lama tentang para penjual ayat ini. Oleh sebab itu, Allah swt memberikan ketenangan kepada orang-orang beriman yang mungkin sering kesal terhadap perilaku para penjual ayat-ayat Allah swt ini.

            “Apakah kalian sangat mengharapkan mereka akan percaya kepada kalian, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya?” (QS Al Baqarah 2 : 75)

            Sesungguhnya, para penjual ayat itu tahu bahwa orang-orang beriman itu adalah pihak yang benar tentang ayat-ayat Allah swt. Mereka pun sebenarnya memahaminya. Akan tetapi, mereka kemudian mengubah-ubah ayat itu sekehendak hati mereka. Bisa kata per kata dalam ayatnya yang diubah-ubah, bisa pula pemahamannya yang diputarbalikkan hingga kusut semrawut. Allah swt menenangkan diri orang-orang beriman agar jangan terlalu berharap para penjual ayat ini percaya kepada orang-orang beriman karena toh sebenarnya mereka tahu bahwa mereka salah, tetapi tetap saja bertahan dalam kesalahannya.

            Ada kondisi para penjual ayat-ayat Allah swt yang diterangkan seperti ini:

            “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab, kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.” (QS Al Baqarah 2 : 78)

            Beberapa di antara para penjual ayat itu sesungguhnya buta huruf tidak tahu kata-kata dalam ayat itu. Adapula yang tidak memahami ayat-ayat itu. Untuk memahami ayat dengan benar, harus tekun belajar, memiliki wawasan yang luas, rajin mendekatkan diri kepada Allah swt, dan pandai mengendalikan diri.  Karena tidak memahami ayat-ayat Allah swt dengan benar, mereka hanya menduga-duga, mereka-reka, mengira-ngira, atau berspekulasi mengenai maksud dari ayat-ayat Allah swt.

            Dugaan, rekaan, perkiraan, dan spekulasi mereka itu dipertahankan dengan kuat meskipun tahu bahwa mereka sendiri adalah salah karena telah ada orang lain yang menerangkan dengan lebih baik dan benar. Akan tetapi, karena memang mereka adalah penjual ayat-ayat Allah swt, mereka tidak peduli dan tetap bertahan dengan pendapat mereka yang salah. Untuk memperkuat pendapatnya, mereka banyak menulis tentang pemahaman mereka yang salah itu dan yang lebih parah mengganti kata-kata dalam ayat itu untuk kepentingan politik atau ekonomi mereka.

            Allah swt tahu itu semua.

            “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.” (QS Al Baqarah 2 : 79)

            Mereka membengkokkan pemahaman Al Quran, menyusun hadits-hadits palsu, bahkan berperilaku sesuai dengan pemahaman yang keliru itu. Tak heran Allah swt mengatakan bahwa mereka celaka.

            Kalau diingatkan bahwa perilaku mereka adalah salah dan melampaui batas, mereka tenang-tenang saja karena yakin bahwa dosa mereka akan bisa terhapus.

            “Dan Mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’

            Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS Al Baqarah 2 : 80)

            Mereka yakin mereka salah, tetapi tenang-tenang saja karena yakin mereka hanya akan disiksa sebentar dalam neraka untuk kemudian dimasukkan ke dalam sorga. Padahal, mereka tidak pernah mendapatkan janji dari Allah swt bahwa mereka hanya akan disiksa sebentar untuk menghapus atau mencuci dosa-dosa mereka, lalu memasukkan mereka ke dalam sorga.

            Allah swt membantah mereka, “Bukan demikian! Siapa yang berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 81)

            Pahamilah jika sudah menjual ayat-ayat Allah swt dan mendapatkan untung besar, baik secara ekonomi maupun politik, kebiasaan itu akan terus-menerus berulang dan sulit ditinggalkan. Hal itu menyebabkan dosanya terus menumpuk bertambah-tambah dan “menenggelamkannya”. Akhirnya, mereka menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.


            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Tak Ada Perang Ayat

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam menghadapi perhelatan pemilihan eksekutif dan legislatif, berbagai cara diupayakan untuk mendapatkan kemenangan. Sayangnya, tujuan yang ingin dicapai adalah banyak sekali yang hanya kemenangan diri dan kelompoknya, bukan kemenangan rakyat. Akibatnya, segala cara digunakan untuk mencapai kemenangan, baik itu cara yang positif maupun negatif, cara baik atau cara buruk, cara terpelajar dan cara preman, cara jujur dan cara curang, dan lain sebagainya. Hal yang paling menyedihkan adalah cara buruk dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran, baik untuk mendukung calon eksekutif dan legislatif maupun untuk menjatuhkan saingannya. Ayat-ayat itu digunakan untuk melegitimasi seseorang ataupun untuk menolak seseorang dalam menduduki jabatan eksekutif maupun legislatif.

            Penggunaan ayat-ayat Al Quran itu sungguh sangat buruk karena Al Quran itu bukan stempel atau alat legitimasi, melainkan petunjuk dan pedoman hidup. Jika Al Quran dijadikan dalil untuk memilih seseorang ataupun menghancurkan nama baik seseorang, sama saja dengan kita menghina Al Quran. Hal itu disebabkan bisa jadi seseorang yang dilegitimasi untuk menjadi pemimpin dengan menggunakan ayat Al Quran suatu saat bahkan menentang Al Quran. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi orang yang ditolak atau direndahkan dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran justru sesungguhnya adalah pengamal Al Quran yang sangat baik.

            Apabila suatu kelompok menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk mendukung atau menolak seorang atau sekelompok kontestan dalam pemilihan pemimpin, kelompok yang merupakan saingannya akan menggunakan Al Quran pula untuk melawan mereka yang telah menyudutkannya dengan menggunakan ayat Al Quran. Terjadilah apa yang disebut orang sebagai “perang ayat” atau perang “hadits” dan itu sangat memalukan serta merendahkan ajaran Islam.

            Sesungguhnya, tidak ada itu yang namanya perang ayat atau perang hadits. Tak ada pertentangan di antara ayat Al Quran. Seluruh ayat Al Quran terkait satu sama lain dan saling mendukung. Yang berperang sesungguhnya bukan ayat, melainkan manusianya. Manusia saja yang sibuk bikin-bikin penafsiran berbeda sesuai dengan hawa nafsu serta kepentingan ekonomi dan politik. Ayat Al Qurannya sih lurus-lurus saja, tegak berdiri sebagai pedoman hidup. Berbeda jauh dengan “perang tomat” atau “perang anggur”. Tomat dan anggur bisa dilempar kesana-kemari, tetapi ayat Al Quran tidak bisa dilempar seenaknya. Ayat Al Quran tetap stabil berdiri kokoh dalam keadaan suci. Yang dilempar-lempar adalah pemahaman yang keliru, hasil pemikiran berdasarkan hawa nafsu negatif. Demikian pula, dengan “perang hadits”. Tidak ada perang hadits sesungguhnya karena perilaku dan kata-kata Muhammad saw adalah Al Quran. Akhlak Muhammad saw adalah Al Quran. Hadits-hadits yang dilempar-lempar adalah hadits-hadits palsu atau hadits bikinan atau pemahaman yang keliru mengenai hadits shahih.

            Hal ini sama dengan istilah “perang salib” yang dimaksudkan perang antaragama. Tak ada itu perang antaragama sesungguhnya. Perang yang disebut antaragama itu sesungguhnya perang yang diakibatkan penguasa Inggris di Yerusalem mengganggu kafilah-kafilah dagang kaum muslimin, lalu gangguan penguasa Inggris itu dibalas oleh Salahudin Al Ayubi hingga hancur. Bangsawan dan pendeta Inggris menggunakan agamanya untuk menarik simpati kaum Kristen untuk mendukung perang yang sedang dilakukannya. Tak ada perang agama sesungguhnya dan tidak pernah ada. Agama dan ayat-ayat hanya digunakan sebagai justifikasi atas perang yang dijalankannya.

            Adapun ayat-ayat perang dan atau jihad dalam Al Quran adalah bukan untuk mendorong terjadinya perang ataupun memprovokasi konflik, tetapi untuk memberikan semangat dan pemahaman bahwa jika terjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan, kehormatan manusia, hak-hak manusia, kezaliman terhadap kemanusiaan, dan penghinaan kepada Islam, Muhammad saw, Allah swt, lalu kita memerangi kejahatan itu, pahalanya adalah surga yang dipenuhi bidadari dan berbagai kenikmatan lainnya. Semakin besar pengorbanan kita dalam membela kebenaran, semakin tinggi tingkat surga yang dijanjikan Allah swt.

            Tak ada perang ayat. Tak ada perang hadits. Tak ada perang agama. Yang berperang adalah manusianya.


            Sampurasun.

Friday, 7 April 2017

Zaman Akhir

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir selalu ramai dibicarakan orang di seluruh dunia dari zaman ke zaman. Kisah ini memiliki kesamaan akhir, yaitu adanya orang atau pihak yang benar, adil, dan kuat dalam mengatasi berbagai persoalan di dunia. Muslim, Kristen, Yahudi memiliki kisah-kisah tentang zaman akhir ini. Kaum muslimin meyakini bahwa kaum musliminlah yang akan menjadi pemenang dalam akhir zaman. Kaum Kristen juga meyakini bahwa Yesus dan Kristen yang akan menang. Umat Yahudi pun sama meyakini bahwa imam merekalah yang akan menjadi pemenang. Setiap umat dari agama yang berbeda itu berseteru mulai dari keyakinan sampai adu fisik bersenjata untuk mewujudkan berbagai ramalan zaman akhir itu.

            Pertanyaannya adalah pernahkah ada yang melakukan penelitian dan memeriksa apakah kabar-kabar zaman akhir itu benar-benar memiliki dasar sumber yang jelas atau hanya karangan orang-orang emosional?

            Kisah mana yang benar sesungguhnya?

            Kisah dari kaum muslimin, kisah dari kaum Kristen, atau kisah dari para Yahudi?

            Tidak mungkin ketiga versi berbeda itu semuanya benar. Harus ada yang benar dan harus ada yang salah karena memiliki banyak perbedaan, terutama tentang pihak yang akan menjadi pemenang dan menguasai dunia pada zaman akhir. Bisa pula ketiga kisah itu adalah semuanya palsu serta hanya karangan para pengkhayal dan dongengan mereka yang emosional.

            Sekarang saya hanya berbicara kepada kaum muslimin karena saya orang Islam dan memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan. Soal umat Kristen dan Yahudi, urusan mereka sendiri meskipun boleh juga mereka mengambil pelajaran dari apa yang saya tulis ini.

            Kisah-kisah akhir zaman di kalangan umat Islam biasanya bersandar pada ceritera dari para ulama masa lalu dan keterangan-keterangan yang diklaim sebagai hadits. Sayangnya, saya sangat yakin sejuta persen sampai hari ini tak ada orang Islam yang memeriksa apakah sumber-sumber kisah itu bisa dipercaya atau tidak. Tak ada yang mencoba menelusuri apakah kisah-kisah itu saling bertolak belakang antara satu sumber dengan sumber yang lainnya atau tidak. Tak kelihatan apakah ada orang yang memeriksa kisah-kisah yang diklaim hadits itu benar atau tidak.

            Dulu juga saya benar-benar percaya dengan kisah-kisah yang beredar luas itu. Ada beberapa tulisan saya di blog ini tentang keyakinan saya yang dulu itu. Akan tetapi, ketika meyakini bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu dipenuhi hoax, saya mulai meragukan kebenaran keseluruhan kisah-kisah akhir zaman. Hal itu disebabkan semua kisah tentang akhir zaman, baik itu versi muslim, kristian, maupun yahudian, seluruhnya bermuara pada perebutan kekuasaan di Palestina, terutama di area berdampingannya masjid, gereja, dan tembok ratapan. Ketika saya meyakini bahwa kisah tentang Masjid Al Aqsha penuh dengan kepalsuan, seluruh kisah akhir zaman itu menjadi tidak penting lagi.

            Bagaimana kisah-kisah itu tidak palsu dan hoax?

            Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan Isra Miraj dari Mekah ke Masjid Al Aqsha di Palestina.

            Bagaimana mungkin peristiwa itu adalah benar-benar terjadi?

            Isra Miraj itu terjadi pada 620 Masehi. Adapun Masjid Al Aqsha mulai dibangun pada 638 Masehi. Artinya, ada selisih delapan belas tahun antara peristiwa Isra Miraj dengan awal pembangunan Al Aqsha. Isra Miraj dulu terjadi, lalu delapan belas tahun kemudian Al Aqsha mulai dibangun.

            Bagaimana mungkin Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Mekah menuju masjid yang belum dibangun dan area itu masih dalam pengawasan ketat pasukan Romawi?

            Mustahil!

            Mikir!

            Lagian, masjid itu awalnya bukan bernama Al Aqsha, melainkan Masjid Umar. Hal itu disebabkan selepas Umar bin Khattab ra menaklukan Romawi pada 636 Masehi, mencari tempat untuk shalat. Seorang pendeta Romawi memilihkan tempat dan mengantarkan Umar pada tempat yang dianggapnya tepat untuk shalat. Di tempat itulah dibangun Masjid Umar, bukan Masjid Al Aqsha. Pada dinasti-dinasti berikutnya Masjid Umar yang kecil itu diperlebar, diperbesar, dan namanya diubah menjadi Masjid Al Aqsha.

            Begitu Bro ceriteranya. Jadi, saat Nabi Muhammad saw Isra Miraj, masjid itu belum ada dan memang bukan ke situ tujuannya. Allah swt itu memperjalankan Nabi Muhammad saw sesungguhnya ke Candi Borobodur, Indonesia, karena candi itulah yang sebenarnya dimaksud Allah swt sebagai Masjid Al Aqsha (Masjid Terjauh). Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Bukan Al Aqsha yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha. Silakan bantah saya. Saya senang dibantah kok, asal membantahnya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan emosi kampungan.

            Jangan langsung percaya dengan kisah-kisah zaman akhir meskipun diklaim berasal dari hadits. Sangat mungkin itu hanya dongeng, kemudian dikatakan sebagai hadits. Mudah kok bikin hadits. Kalian buat saja kisah atau ajaran yang tampaknya baik, lalu bilang saja itu adalah berasal dari Bukhari Muslim. Orang akan segera yakin bahwa itu adalah benar-benar hadits, apalagi kalau kalian berceriteranya dengan menggunakan pakaian seperti Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Orang akan melongo dan percaya begitu saja.

            Ada nasihat yang sangat bagus dari Hj. Irene Handoyo, mualaf yang kini menjadi mubalighah beken di Indonesia. Ia mewanti-wanti bahwa tidak perlu langsung percaya dan harus berhati-hati dengan hadits-hadits tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman. Hal itu disebabkan menurutnya, hadits-hadits itu berasal dari orang-orang Kristen yang masuk Islam belakangan.

            Kita pun harus ingat bahwa area yang menjadi pusat kisah akhir zaman itu adalah sejak dulu menjadi area perebutan kepentingan politik dan ekonomi antara muslim, Kristen, dan Yahudi. Akan tetapi, ketika dongeng-dongeng kehebatan Yerusalem disebarkan oleh para penyair muslim zaman dinasti Umayah, kaum Kristen dan Yahudi mendukungnya pula karena akan menjadikan Yerusalem pusat perhatian dunia. Itu artinya ada keuntungan politik dan ekonomi di sana.

            Tak heran jika Nabi Muhammad saw dulu begitu sedih ketika Allah swt memerintahkannya untuk shalat menghadap ke timur, tepat mengarah pada Candi Borobudur. Lumayan lama Nabi Muhammad saw merasakan kesedihan itu. Sering sekali ia menengadah ke atas langit dengan harapan Allah swt mengubah kembali kiblatnya ke Mekah dan bukan lagi ke Candi Borobudur. Hal itu disebabkan mungkin ia sangat khawatir umatnya akan tersesat (saya tidak tahu perasaan Nabi yang sebenarnya karena itu hanya perasaan) karena umat Kristen dan Yahudi sangat senang dengan pemindahan kiblat itu. Shalat menghadap Candi Borobudur adalah searah melewati Yerusalem yang membuat Yahudi dan Kristen membuat hoax bahwa Nabi Muhammad saw menghadap ke kiblat yang sama dengan Yahudi dan Kristen. Sesungguhnya, pemindahan kiblat itu adalah pelajaran dari Allah swt bahwa yang namanya kebaikan dan kebenaran itu bukan soal timur dan barat; eksistensi Allah swt tidak berada di barat dan timur. Sesungguhnya, kebaikan dan kebenaran itu berasal dari Allah swt. Ke mana pun wajah kita menghadap di sanalah Allah swt berada.

            Yahudi dan Kristen sangat bergembira dengan pemindahan kiblat itu karena mereka sudah sejak lama membujuk dan merayu Muhammad saw untuk shalat menghadap Yerusalem. Mereka sudah lama sekali memperjuangkan itu. Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah kepentingan politik dan ekonomi.

            Hal ini ada dalam Asbabun Nuzul QS Al Baqarah  2 : 120 dalam Tafsir Quran Per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul & Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A. yang menyebutkan bahwa Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani Najran mengharapkan Rasulullah saw shalat menghadap kiblat mereka. Kiblat Yahudi dan Nasrani Najran itu berada pada satu tempat yang sama, yaitu di tempatnya yang sekarang berdampingan dengan Masjid Al Aqsha. Dalam perhitungan manusia, jelas sekali jika di tempat itu bergabung tiga kiblat agama besar dunia, keuntungan politik dan ekonomi akan didapatkan dengan sangat besar berlimpah ruah. Hal itu menunjukkan bahwa khayalan para penulis muslim zaman Dinasti Umayah mengenai kesucian Yerusalem mendapatkan dukungan pula dari orang-orang Yahudi dan Nasrani.

            Sesungguhnya kisah-kisah zaman akhir itu hanya bersandarkan pada kisah-kisah kuno tentang perebutan wilayah Palestina yang dianggapnya dapat menghasilkan keuntungan politik dan ekonomi. Orang Indonesia tidak perlu ikut-ikutan rebutan tanah itu karena Indonesia jauh lebih subur dan makmur berlipat-lipat dibandingkan tanah gersang dan penuh pertikaian itu.


Bergerak karena Hoax
Saya sungguh menyayangkan banyak kaum muslimin yang mudah percaya dengan kisah-kisah akhir zaman itu. Padahal, kisah-kisah itu bukan dari Al Quran, melainkan dari ceritera-ceritera masa lalu dan syair-syair yang kemudian diklaim sebagai hadits tanpa diperiksa kebenarannya. Sungguh sangat disayangkan jika kaum muslimin mau mempertaruhkan nyawanya karena yakin bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu adalah tempat pemberhentian Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan perintah shalat. Padahal, kisah itu hanya hoax karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Benar-benar menyedihkan kiranya jika para pemuda Islam bersedia mengorbankan dirinya karena yakin bahwa daerah-daerah yang sekarang banyak terjadi konflik dikisahkan sebagai “tanah suci”, padahal kisah-kisah itu mendukung dan bermuara pada kisah hoax tentang Nabi Muhammad saw berhenti di Palestina sehingga wajib hukumnya membentuk pusat pemerintahan dunia di Yerusalem.

            Sesungguhnya, ada jihad besar di Indonesia yang lebih harus diperjuangkan, yaitu jihad mencapai tujuan nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin. Kemakmuran lahir dan kemakmuran batin setiap manusia Indonesia harus diperjuangkan dengan jihad yang sungguh-sungguh, baik dengan mendukung pemerintah jika berjalan dengan baik, benar, dan tepat, maupun dengan kritikan keras apabila pemerintah tidak berjalan dengan baik, benar, dan tepat.

            Kalau Saudara-saudaraku sesama muslim menyukai ramalan, saya beri satu ramalan dari penulis tingkat dunia, Muhammad Isa Dawud, yaitu pada masa depan Indonesia akan menjadi pusat penyebaran agama Islam di dunia.

            Tidak tertarikkah kita berjuang untuk mewujudkan ramalan itu?


            Sampurasun.