Showing posts with label Perang Salib. Show all posts
Showing posts with label Perang Salib. Show all posts

Tuesday, 6 December 2022

Mereka Bilang “Perang Salib”, So Mari Kita Mulai Teror Mereka!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya tidak mengerti mengapa mereka menggunakan istilah “crussade”,  ‘perang salib’?

            Ketika Presiden Republik Indonesia (RI) Jokowi diwawancarai media internasional, wartawan asing mengatakan bahwa upaya Jokowi mempertahankan bijih nikel Indonesia agar tidak dibeli mentahnya oleh Eropa dan Amerika Serikat adalah “perang salib Jokowi”. Indonesia bertahan bahwa bijih nikel tidak boleh dijual mentah, kecuali sudah menjadi barang setengah jadi ataupun barang jadi yang diproduksi di Indonesia. Akibatnya, Indonesia diserang Eropa melalui gugatan sidang panel World Trade Organization (WTO). Indonesia pun kalah dikeroyok negara-negara Eropa. Akan tetapi, Jokowi bukannya menyerah, melainkan tambah marah. Dia mengajukan sidang banding dan tetap melarang ekspor bijih nikel. Bahkan, dia makin marah dengan menegaskan untuk tidak akan lagi mengekspor nikel, bauksit, batu bara, dan timah ke luar negeri. Jokowi ingin semua diproduksi di Indonesia agar bisa membuka lapangan kerja bagi rakyat, tumbuh wilayah perekonomian baru, menarik pajak, dan alih teknologi sehingga pada masa depan rakyat Indonesia mampu mandiri dan memproduksi sendiri. Perlawanan Jokowi melawan Eropa itulah yang disebut media asing sebagai perang salib.

            Istilah perang salib itu mengingatkan kita pada penghancuran kekuasaan Inggris, khususnya Raja Richard oleh Sultan Salahudin Al Ayubi di Yerusalem, Palestina. Dalam keadaan terdesak, para bangsawan Inggris mempropagandakan ke seluruh dunia bahwa perang itu adalah perang salib antara Kristen melawan Islam. Mereka berharap seluruh dunia Kristen mendukung dan membantu mereka dalam menghancurkan pasukan muslim. Padahal, itu bukanlah perang agama, melainkan para bangsawan Inggris sudah kehabisan tanah di negaranya, kemudian mencari wilayah baru untuk para bangsawan yang tidak kebagian tanah, tempatnya di Yerusalem, Palestina. Tidak ada sebetulnya perang agama, itu hanya manipulasi Inggris untuk mendapatkan dukungan dari dunia Kristen agar memerangi Sultan Salahudin Al Ayubi yang kebetulan mayoritas muslim.  Mereka ingin menguasai tanah baru. Pasukan Sultan Salahudin sendiri tidak semuanya muslim, bahkan salah seorang jenderalnya beragama Kristen Katolik yang bernama Isa.

            Sayangnya, kaum muslim pun ikut-ikutan pada propaganda Inggris itu. Kaum muslim mengubah istilah perang salib dengan istilah “perang sabil”. Hal itu seolah-olah menguatkan hoax bahwa telah terjadi perang antara Kristen dan Islam. Padahal, tidak ada perang agama itu, cuma rebutan tanah untuk dikuasai. Akhirnya, perang itu dimenangkan Salahudin Al Ayubi.

            Apakah wartawan dan media asing menggunakan istilah perang salib yang sedang dilancarkan Jokowi itu untuk memanipulasi bahwa itu adalah perang antara Kristen Eropa melawan muslim Indonesia?

            Saya tidak tahu. Mestinya, jangan menggunakan istilah perang salib kalau memang tidak berniat buruk. Seharusnya, seluruh dunia bekerja sama dan saling berbagi dengan baik dengan tidak melakukan kecurangan, tanpa kelicikan. Akan tetapi, kalau memang niatnya curang, licik, dan jahat ingin merampok kekayaan Indonesia, mari kita mulai aksi teror terhadap Eropa.

            Apa itu teror?

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teror artinya adalah “usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan”. Jadi, mari kita bikin usaha agar orang-orang Eropa itu merasa takut dan ngeri bahwa bangsa Indonesia yang ramah ini bisa berubah menjadi kejam jika hak miliknya dirampok dengan cara yang jelas tidak sah.

            Presiden Jokowi sendiri sudah sejak awal melakukan teror. Ketika kalah dalam sidang WTO, Indonesia diwajibkan untuk kembali membuka ekspor nikel ke luar negeri, khususnya Eropa. Jokowi segera saja meneror Eropa dengan tegas untuk tidak akan pernah menjual lagi bijih nikel ke luar negeri. Bahkan, bahan tambang yang lainnya pun akan dihentikan. Keputusan sidang WTO tidak digubris Jokowi. Dia malahan naik banding. Itu sudah merupakan teror menakutkan bagi Eropa. Eropa bisa sangat kekurangan energi, kerusakan industri, dan kehilangan pendapatan.

            Lebih jauh dari itu, dengan bersuara lantang, Jokowi berpidato di dalam dan di luar negeri; menjawab pertanyaan wartawan di dalam dan di luar negeri menantang Eropa.

            Kurang lebih seperti ini, tantangan Jokowi untuk Eropa, “Kita sudah tidak mau lagi dijajah. Ratusan tahun sumber daya alam Indonesia dikeruk dengan menguntungkan pihak asing. Pada zaman penjajahan, kita dijajah dengan tanam paksa, kerja paksa. Sekarang, ada penjajahan baru, yaitu ekspor paksa! Kita dipaksa untuk menggali bahan tambang kita, lalu dijual ke luar negeri dengan harga murah. Kita tidak mau lagi seperti itu! Kita tidak takut terhadap negara mana pun.”

            Memang terbukti sih. Ketika bijih nikel mentah dijual ke luar negeri, Indonesia hanya mendapatkan sekitar 46 triliun. Akan tetapi, setelah diproses di dalam negeri dan menjadi baja stainless steel, Indonesia mendapatkan keuntungan belasan kali lipat, yaitu sejumlah 456 triliun. Itu baru baja, apalagi jika sudah dijadikan baterai untuk mobil dan motor listrik. Keuntungannya bisa puluhan kali lipat. Akan ada banyak uang yang masuk ke kas Negara Indonesia untuk membangun rakyat.

            Prabowo pun tampaknya mendukung penuh upaya Jokowi. Sebagai menteri pertahanan, dia menyiapkan persenjataan baru di darat, laut, dan udara dengan tujuan menyebarkan rasa ketakutan dan kengerian kepada siapa pun yang mencoba berpikir untuk berlaku curang dan merampok kekayaan alam Indonesia. Itu sudah merupakan upaya teror.

            Demikian pula dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang segera memastikan diri membangun pangkalan militer yang berbatasan darat dengan Timor Leste dan berbatasan laut dengan Australia. Itu adalah pesan teror yang menakutkan siapa pun dari pihak barat yang berniat mengganggu Indonesia.

            Kita sebagai rakyat pun harus melakukan teror pula dengan cara menyatakan bersiap sedia untuk membela negara beserta kekayaan alamnya dari keserakahan pihak asing. Kita harus menyampaikan kesan yang jelas bahwa rakyat yang ramah ini bisa berperilaku kejam dan menakutkan.  Coba asah itu berbagai senjata dari setiap suku yang ada di Indonesia, pertajam itu alat-alat perang, dengan mengupload pada berbagai media sosial dengan disertai ancaman kepada siapa pun yang berniat buruk pada Indonesia.

            Saya pun mencoba mencari-cari senjata orang Sunda untuk dijadikan upaya teror dan akan diupload di internet. Akan tetapi, susah juga ternyata. Orang Sunda itu tidak punya alat perang tradisional. Memang, satu-satunya suku yang tidak memiliki perisai untuk perang adalah Suku Sunda. Orang Sunda itu hanya punya golok dan cangkul, tetapi itu pun lebih ke alat kerja. Kalaupun ada yang disebut senjata, paling kujang, tetapi lebih ke arah alat perhiasan. Meskipun begitu, alat kerja dan perhiasan itu bisa menjadi senjata mematikan jika dipakai berperang. Suku-suku lain pasti punya alat-alat perang yang lebih beragam dan menakutkan untuk dipakai sebagai ancaman bagi siapa pun yang akan mengganggu negara.


Asahan, Golok, dan Cangkul


Kujang (Foto: ibelievemydreams WordPress com)

            Foto kujang saya dapatkan dari ibelievemydreams WordPress com. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mati karena ditusuk kujang. Itu hanya perhiasan yang bisa digunakan senjata jika situasi darurat terjadi.

            Bagi jendera-jenderal Amerika Serikat, rakyat Indonesia adalah sangat menakutkan karena jika tentara Indonesia berperang, rakyat Indonesia akan dengan sukarela bertempur bersama TNI. Hal ini hanya ada pada rakyat Indonesia, tidak pada rakyat negara lain.

            Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh membenci siapa pun. Tidak boleh membenci orang Eropa, barat, maupun timur. Kita tidak boleh membenci manusia. Hal yang kita benci dan perlu kita teror adalah keserakahan, kelicikan, kecurangan, kejahatan, dan penjajahan. Selama siapa pun orang asing yang berada di dalam Negara Indonesia melakukan kebaikan, kita tetap harus ramah dan hormat. Misalnya, mereka ada yang menjadi turis, mahasiswa, dosen, pekerja, pelaku seni dan budaya, peneliti, pengusaha, ataupun perwakilan negara asing, kita tetap harus berperilaku baik, penuh hormat, dan ramah. Jika mereka mulai jahat, itu perkara lain lagi.

            Ingat kata Mbah K.H. Hasyim Asyari bahwa membela negara adalah bagian dari menjalankan agama.

            Sampurasun.

Tuesday, 18 May 2021

Tak Ada Perang Agama

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mau dilihat lebih detail, sesungguhnya perang-perang yang disebut-sebut “Perang Agama”, sesungguhnya hanyalah perebutan politik dan ekonomi atau karena tindakan kriminal suatu kaum. Agama dibawa-bawa hanya untuk menutupi keinginan atau kepentingan yang sebenarnya dan untuk mengelabui dunia agar mendapatkan simpati internasional.

            Hal yang lebih celaka adalah umat Islam pun banyak yang menyebarkan pula propaganda di luar Islam untuk mengatakan bahwa banyak perang yang disebut perang agama.

            Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang dicuplik oleh T.D. Sudjana dalam artikelnya pada sebuah prosiding yang berjudul Tokoh Siliwangi dalam Pandangan Tradisi Keraton Cirebon (1991). Ia mencuplik bahwa ketika bangsawan Inggris berkuasa di Yerusalem, mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap kafilah-kafilah saudagar kaum muslim. Oleh sebab itu, “Sultan Salahudin Al Ayubi” marah bukan main, lalu melakukan penyerangan. Kekuatan Inggris pun melemah di Yerusalem. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan simpati dari dunia internasional, pasukan Inggris menyebarkan fitnah bahwa pasukan Salahudin adalah pasukan syetan sehingga pertempuran itu disebut mereka sebagai crusade, ‘Perang Salib’ untuk menimbulkan kesan perang antara agama Kristen dan agama Islam. Umat Islam pun banyak yang mengistilahkan perang itu sebagai “Perang Sabil”. Padahal, perang itu bukanlah perang antaragama, melainkan perang yang terjadi akibat kerakusan dan ketololan pasukan Inggris yang melakukan gangguan terhadap rombongan saudagar Islam.

            Bagi Salahudin, itu bukanlah perang agama, melainkan perang untuk membela kebenaran, kehormatan, dan keadilan yang dilakukan oleh pasukan muslim. Banyak pula sesungguhnya anggota pasukan Salahudin yang tidak beragama Islam. Salah seorang panglima Sultan Salahudin adalah beragama Kristen, namanya Isa. Ia dihadiahi Sultan Salahudin seorang puteri bangsawan Inggris yang dirampas karena Inggris kalah perang.

            Kebencian dan propaganda agama untuk menyudutkan Islam itu tidak berhasil karena Sultan Salahudin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dan membuat pasukan Inggris kalah total.

            Hal yang memperjelas bahwa perang itu bukan perang agama adalah beberapa waktu setelahnya ketika kepentingan politik dan ekonomi Inggris mulai diganggu Musolini dan Hitler, saat Perang Dunia II, Inggris mendekati Islam yang dulu disebutnya syetan itu, kemudian menggunakan semangat Islam untuk mengalahkan Musolini dan Hitler. Inggris berupaya keras untuk mendapatkan dukungan kaum muslimin di Timur Tengah agar sama-sama membenci Musolini dan Hitler. Tak tanggung-tanggung, tank-tank baja pasukan Inggris ditulisi nama SALADIN untuk mengingatkan kaum muslimin terhadap keberanian dan kepahlawanan Sultan Salahudin Al Ayubi. Di samping itu, Inggris tahu betul bahwa nama Saladin adalah lambang moralitas dan sikap mulia hidup muslim yang terpancar dari sosok Sultan Salahudin Al Ayubi. Dengan menggunakan nama SALADIN, Inggris pun berharap bahwa bangsanya dapat dipahatkan dalam sejarah dunia sebagai bangsa yang memiliki “nama baik” sebagaimana aura nama SALADIN dalam sejarah kaum muslimin.

            Begitulah, agama hanya dibawa-bawa untuk mengaburkan tujuan yang sebenarnya, yaitu kepentingan politik dan ekonomi.

            Pada akhir-akhir ini, 2021, Zionis Israel pun menyebarkan propaganda bahwa konflik yang terjadi dengan Palestina adalah sebagai perang agama antara Yahudi dan Islam yang sudah terjadi ratusan tahun lalu. Hal itu dilakukan hanya untuk menutupi tujuan mereka yang sebenarnya, yaitu merampok, mengusir, membunuh, dan menjajah bangsa Palestina. Padahal, di Palestina itu banyak pula yang beragama Kristen, Yahudi, atau kepercayaan lainnya. Demikian pula di Israel, banyak pula yang beragama Kristen dan Islam. Di samping itu, mereka pun rajin mendekati bangsa-bangsa muslim untuk membuka hubungan diplomatik, termasuk terhadap Indonesia melalui tangan Amerika Serikat.

            Orang-orang Zionis Israel itu mulai ada di Palestina sejak 1948, bukan ratusan tahun lalu. Di tanah itu rencananya akan dibuat dua negara merdeka, yaitu Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan. Akan tetapi, Zionis melakukan banyak aksi premanisme, terorisme, dan kriminalisme terhadap Palestina hingga hari ini. Mereka itu orang-orang yang trauma dan ketakutan karena dari zaman ke zaman hidup dalam banyak masalah. Di Mesir Firaun memperbudak mereka, Nabi Muhammad saw mengusir mereka dari Madinah karena banyak membuat gangguan terhadap kaum muslimin, ditolak untuk mendapatkan Palestina pada zaman Kesultanan Utsmaniyah, di Jerman mereka dibantai Hitler, dan berbagai masalah lainnya. Oleh sebab itu, mereka berupaya tetap melakukan kejahatan terhadap bangsa Palestina karena tidak mau kembali menjadi bangsa yang tersisihkan dan dipermalukan seperti zaman-zaman yang lalu.

            Jadi, bukan perang agama yang terjadi, melainkan kepentingan politik dan ekonomi. Umat Islam tidak perlu ikut-ikutan menyebarkan propaganda mereka dengan sama-sama menyebutnya sebagai perang agama karena bisa menambah runyam situasi dan terjebak pada rencana mereka.

            Sebagaimana tadi saya katakan bahwa kalau mau diperhatikan lebih detail, perang agama itu tidak ada. Bahkan, perang-perang yang dilakukan Nabi Muhammad saw pun bukan perang agama, melainkan urusan politik dan ekonomi. Dulu saya sering berdiskusi dengan guru ngaji saya, Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin itu diusir, diburu, dianiaya, dibunuh, dan difitnah bukan karena ritual keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdoa, dan lain sebagainya, melainkan karena urusan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Orang-orang kafir melakukan kejahatan kepada Nabi dan kaum muslimin karena merasa terganggu politik dan ekonominya. Kalau semakin banyak kaum muslimin dan mereka harus patuh kepada Nabi saw, kewenangan mengatur Mekah ada di tangan Nabi saw, diatur oleh Nabi saw. Mereka tidak mau itu terjadi karena kekuasaan mereka harus beralih pula kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula bisnis mereka, seperti,   penyediaan air, makanan, dan perdagangan bagi para peziarah yang datang ke Mekah yang menghasilkan keuntungan ekonomi luar biasa, harus pula menggunakan cara-cara yang dilakukan Sang Nabi. Belum lagi soal perempuan yang bisa mereka “gunakan” kapan saja, Nabi saw melarangnya dengan membatasinya melalui pernikahan dalam jumlah yang juga terbatas, tidak seenaknya. Hal itu semua sangat mengganggu kesenangan kaum kafir. Oleh sebab itu, mereka berusaha keras memusnahkan Nabi saw dan kaum muslimin. Akibatnya, Nabi saw melawan dan kaum kafir pun kalah total.

            Jadi, bukan karena shalat, puasa, haji, atau ritual keagamaan lainnya umat Islam diperangi, melainkan karena kepentingan politik dan ekonomi. Agama hanya dibawa-bawa untuk membungkus dan menyamarkan tujuan sebenarnya, yaitu lima hal: kekuasaan, uang, benda, tempat tinggal, dan seks. Tidak ada tujuan lain, kecuali lima hal itu. Kalau ada tujuan lain, kasih tahu saya.

            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Tak Ada Perang Ayat

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam menghadapi perhelatan pemilihan eksekutif dan legislatif, berbagai cara diupayakan untuk mendapatkan kemenangan. Sayangnya, tujuan yang ingin dicapai adalah banyak sekali yang hanya kemenangan diri dan kelompoknya, bukan kemenangan rakyat. Akibatnya, segala cara digunakan untuk mencapai kemenangan, baik itu cara yang positif maupun negatif, cara baik atau cara buruk, cara terpelajar dan cara preman, cara jujur dan cara curang, dan lain sebagainya. Hal yang paling menyedihkan adalah cara buruk dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran, baik untuk mendukung calon eksekutif dan legislatif maupun untuk menjatuhkan saingannya. Ayat-ayat itu digunakan untuk melegitimasi seseorang ataupun untuk menolak seseorang dalam menduduki jabatan eksekutif maupun legislatif.

            Penggunaan ayat-ayat Al Quran itu sungguh sangat buruk karena Al Quran itu bukan stempel atau alat legitimasi, melainkan petunjuk dan pedoman hidup. Jika Al Quran dijadikan dalil untuk memilih seseorang ataupun menghancurkan nama baik seseorang, sama saja dengan kita menghina Al Quran. Hal itu disebabkan bisa jadi seseorang yang dilegitimasi untuk menjadi pemimpin dengan menggunakan ayat Al Quran suatu saat bahkan menentang Al Quran. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi orang yang ditolak atau direndahkan dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran justru sesungguhnya adalah pengamal Al Quran yang sangat baik.

            Apabila suatu kelompok menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk mendukung atau menolak seorang atau sekelompok kontestan dalam pemilihan pemimpin, kelompok yang merupakan saingannya akan menggunakan Al Quran pula untuk melawan mereka yang telah menyudutkannya dengan menggunakan ayat Al Quran. Terjadilah apa yang disebut orang sebagai “perang ayat” atau perang “hadits” dan itu sangat memalukan serta merendahkan ajaran Islam.

            Sesungguhnya, tidak ada itu yang namanya perang ayat atau perang hadits. Tak ada pertentangan di antara ayat Al Quran. Seluruh ayat Al Quran terkait satu sama lain dan saling mendukung. Yang berperang sesungguhnya bukan ayat, melainkan manusianya. Manusia saja yang sibuk bikin-bikin penafsiran berbeda sesuai dengan hawa nafsu serta kepentingan ekonomi dan politik. Ayat Al Qurannya sih lurus-lurus saja, tegak berdiri sebagai pedoman hidup. Berbeda jauh dengan “perang tomat” atau “perang anggur”. Tomat dan anggur bisa dilempar kesana-kemari, tetapi ayat Al Quran tidak bisa dilempar seenaknya. Ayat Al Quran tetap stabil berdiri kokoh dalam keadaan suci. Yang dilempar-lempar adalah pemahaman yang keliru, hasil pemikiran berdasarkan hawa nafsu negatif. Demikian pula, dengan “perang hadits”. Tidak ada perang hadits sesungguhnya karena perilaku dan kata-kata Muhammad saw adalah Al Quran. Akhlak Muhammad saw adalah Al Quran. Hadits-hadits yang dilempar-lempar adalah hadits-hadits palsu atau hadits bikinan atau pemahaman yang keliru mengenai hadits shahih.

            Hal ini sama dengan istilah “perang salib” yang dimaksudkan perang antaragama. Tak ada itu perang antaragama sesungguhnya. Perang yang disebut antaragama itu sesungguhnya perang yang diakibatkan penguasa Inggris di Yerusalem mengganggu kafilah-kafilah dagang kaum muslimin, lalu gangguan penguasa Inggris itu dibalas oleh Salahudin Al Ayubi hingga hancur. Bangsawan dan pendeta Inggris menggunakan agamanya untuk menarik simpati kaum Kristen untuk mendukung perang yang sedang dilakukannya. Tak ada perang agama sesungguhnya dan tidak pernah ada. Agama dan ayat-ayat hanya digunakan sebagai justifikasi atas perang yang dijalankannya.

            Adapun ayat-ayat perang dan atau jihad dalam Al Quran adalah bukan untuk mendorong terjadinya perang ataupun memprovokasi konflik, tetapi untuk memberikan semangat dan pemahaman bahwa jika terjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan, kehormatan manusia, hak-hak manusia, kezaliman terhadap kemanusiaan, dan penghinaan kepada Islam, Muhammad saw, Allah swt, lalu kita memerangi kejahatan itu, pahalanya adalah surga yang dipenuhi bidadari dan berbagai kenikmatan lainnya. Semakin besar pengorbanan kita dalam membela kebenaran, semakin tinggi tingkat surga yang dijanjikan Allah swt.

            Tak ada perang ayat. Tak ada perang hadits. Tak ada perang agama. Yang berperang adalah manusianya.


            Sampurasun.

Friday, 10 March 2017

Islam Disayang dan Dibenci

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Islam disayang dan dibenci. Begitulah kira-kira sikap orang Barat nonmuslim dalam bersikap terhadap Islam. Jika Islam mendukung hawa nafsu mereka, Islam pun diberikan penghormatan, difasilitasi, dan disayangi. Jika Islam menentang hawa nafsu mereka, Islam pun dibenci, dimusuhi, dan difitnah. Jadi, sikap mereka kepada Islam bukan disebabkan ajaran Islam dan bukan pula disebabkan perilaku orang Islam, melainkan disebabkan kepentingan hawa nafsu mereka, baik itu politik maupun ekonomi.

            Hal itu bisa diperhatikan dari berbagai fenomena di dunia ini. Ketika hawa nafsu mereka mendapatkan kesamaan dengan Islam, Islam pun diberi banyak kemudahan, misalnya, saat memerangi komunis dan unisoviet. Banyak uang, makanan, fasilitas, dan senjata digelontorkan bagi umat Islam dalam memerangi komunis. Akan tetapi, ketika umat Islam meminta hak-haknya dipenuhi, disebut radikal dan garis keras.  

            Ketika beberapa umat Islam ikut-ikutan menyebarkan khayalan Yahudi dan Nasrani bahwa Yerusalem adalah Kota Suci Ketiga Umat Islam, Islam pun disahabati. Akan tetapi, ketika Palestina ingin merdeka, Islam disebut teroris.

            Hal yang nyata pun ditulis oleh T.D. Sudjana dalam artikelnya yang berjudul Tokoh Siliwangi dalam Pandangan Tradisi Keraton Cirebon (1991). Ketika bangsawan Inggris berkuasa di Yerusalem, mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap kafilah-kafilah saudagar kaum muslim. Oleh sebab itu, Sultan Salahudin Al Ayubi marah bukan main, lalu melakukan penyerangan. Untuk mendapat simpati dari dunia internasional, pasukan Inggris menyebarkan fitnah bahwa pasukan Salahudin adalah pasukan syetan sehingga pertempuran itu disebut mereka sebagai crusade, ‘Perang Salib’ untuk menimbulkan kesan perang antara agama Kristen dan agama Islam. Padahal, perang itu bukanlah perang antaragama, melainkan akibat kerakusan dan ketololan pasukan Inggris yang melakukan gangguan terhadap rombongan saudagar Islam. Dalam hal ini, Islam dibenci, dimusuhi, dipojokkan, dan difitnah.  

            Bagi Salahudin, itu bukanlah perang agama, melainkan perang untuk membela kebenaran, kehormatan, dan keadilan yang dilakukan oleh pasukan muslim. Banyak pula sesungguhnya anggota pasukan Salahudin yang tidak beragama Islam. Salah seorang panglima Sultan Salahudin adalah beragama Kristen, namanya Isa. Ia dihadiahi Sultan Salahudin seorang puteri bangsawan Inggris yang dirampas karena Inggris kalah perang.

            Kebencian dan propaganda agama untuk menyudutkan Islam itu tidak berhasil karena Sultan Salahudin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dan membuat pasukan Inggris kalah total.

            Akan tetapi, dalam waktu lain, saat Perang Dunia II, Inggris mendekati Islam dan menggunakan semangat Islam untuk mengalahkan Musolini dan Hitler. Inggris berupaya keras untuk mendapatkan dukungan kaum muslimin di Timur Tengah agar sama-sama membenci Musolini dan Hitler. Tak tanggung-tanggung, tank-tank baja pasukan Inggris ditulisi nama SALADIN untuk mengingatkan kaum muslimin terhadap keberanian dan kepahlawanan Sultan Salahudin Al Ayubi. Di samping itu, Inggris tahu betul bahwa nama Saladin adalah lambang moralitas dan sikap mulia hidup muslim yang terpancar dari sosok Sultan Salahudin Al Ayubi. Dengan menggunakan nama SALADIN, Inggris pun berharap bahwa bangsanya dapat dipahatkan dalam sejarah dunia sebagai bangsa yang memiliki “nama baik” sebagaimana aura nama SALADIN dalam sejarah kaum muslimin.

            Begitulah kaum barat nonmuslim yang membenci dan menyayangi Islam sesuai hawa nafsu mereka sendiri.

            Bagi kita, perilaku barat seperti itu sama sekali tidak perlu dicontoh karena mereka melakukan hal itu bukan disebabkan ajaran Islam atau sikap hidup Islam, melainkan berdasarkan kepentingan hawa nafsu mereka, baik politik maupun ekonomi. Bagi seorang muslim, bersikap kepada Islam bukanlah bergantung hawa nafsu, melainkan wajib menundukkan hawa nafsu, baik politik maupun ekonomi, sesuai dengan ajaran Islam. Jadi, haram hukumnya seorang muslim untuk memperalat Islam dan kaum muslimin untuk kepentingan hawa nafsu berdasarkan politik dan ekonomi. Seorang muslim harus menundukkan hawa nafsu politik dan ekonominya sesuai dengan ajaran Islam.


            Sampurasun.