Showing posts with label Inggris. Show all posts
Showing posts with label Inggris. Show all posts

Tuesday, 10 February 2026

Indonesia Lebih Sabar Dibandingkan Iran

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) bisa dikatakan dimulai sejak 1901. Saat itu mereka masih lumayan baik-baik saja hingga terjadi hubungan bisnis yang menyebabkan situasi perlahan menjadi aneh. Raja Iran Mozaffar Ad Din Shah memberikan hak kepada William Knox D’Arcy dari Inggris untuk mengeksplorasi minyak, gas alam, aspal, dll. selama  enam puluh tahun. Sebagai kompensasi untuk Iran, William memberikan uang tunai sejumlah 20.000 poundsterling, saham sebesar 20.000 poundsterling, dan 16% keuntungan setiap tahun. Lalu, perusahaan ini berkembang pesat menjadi “British Petroleum” yang kemudian dibeli oleh pemerintah Inggris.

            Dalam perjalanannya perusahaan ini dirasakan warga Iran banyak masalah, tidak adil, merendahkan, menghina, dan melecehkan warga Iran. Terasa seperti penjajahan yang mengambil untung di tanah Iran, tetapi orang Iran sendiri kesusahan.

            Pada 1951 muncul seorang anggota DPR Iran yang menentang perusahaan minyak Inggris itu karena menganggap tidak adil. Namanya Mohammad Mosadegh. Menurutnya, keuntungan yang diberikan kepada Iran itu sangat kecil, hanya 16%. Keuntungan yang diterima Iran selama lima puluh tahun masih jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan yang diambil Inggris hanya dalam satu tahun.


Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh (Foto: Short History)


            Mosadegh kemudian menasionalisasi perusahaan Inggris itu dalam arti merebutnya dari Inggris dan menjadi milik Iran. Mosadegh pun kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang sangat dicintai rakyat.

            Tentu saja Inggris marah besar karena berpendapat bahwa perusahaan itu masih berada dalam hak Inggris berdasarkan perjanjian lama. Dalam kesepakatan lama antara William dan Mozzafar, Inggris boleh mengeksplorasi kekayaan Iran selama enam puluh  tahun. Akan tetapi, belum juga genap enam puluh tahun atau hanya baru lima puluh tahun, Iran tiba-tiba mengambilnya dari Inggris. Masih ada sepuluh tahun lagi hak Inggris berada di sana. Itulah awal sengketa antara Iran dengan barat yang kemudian mengikutsertakan CIA Amerika Serikat. Sejak saat itu, Iran mengalami berbagai sanksi, embargo, dan permusuhan dengan pihak barat hingga hari ini dengan menggunakan kekuatan senjata dan banyak pembunuhan.

            Tampaknya Iran tidak bersabar untuk menunggu sepuluh tahun lagi hingga masa kontrak perjanjian dengan Inggris selesai. Iran sudah merasakan penderitaan yang luar biasa, lalu meluapkan kemarahannya dengan merebut British Petroleum dari Inggris.

            Berbeda dengan Indonesia. Sesungguhnya, Indonesia memiliki masalah mirip Iran, yaitu bermasalah dengan PT Freeport milik Amerika Serikat (AS).

            Pada 1936 Jacques Dozy menemukan cadangan “Ertsberg”.  Kemudian, pada 1966 pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden RI Soeharto membuka pintu agar PT Freeport Indonesia (PTFI) dapat menambang tembaga yang kemudian menjadi emas di Timika, Papua.

            Perjanjian ini bernama Kontrak Karya I yang berlaku hingga tiga puluh tahun. Dalam kontrak ini disepakati PTFI memiliki saham 90,64% dan Indonesia sebanyak 9,36%. Sejak perjanjian itu, penambangan pun dimulai. Dalam perjalanannya penambangan ini dirasa tidak adil, mirip perampokan kekayaan alam Indonesia.

            Puluhan tahun berlalu, dinamika politik dan ekonomi mewarnai penambangan ini. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa perjanjian diperpanjang tiga puluh  tahun lagi pada 1991, disebut dengan Kontrak Karya II. Dengan demikian, perjanjian menjadi enam puluh tahun jika dihitung sejak awal. Indonesia tetap mendapatkan keuntungan dari sahamnya yang kecil sejumlah 9,36%.

            Selama berlakunya perjanjian itu, Indonesia mengalami banyak goncangan. Isu ketidakadilan dan keserakahan Freeport dengan kolusi dan korupsi di kalangan pejabat Indonesia menjadi gunjingan setiap hari. Kasus ini pun menjadi salah satu penyebab jatuhnya Presiden RI Soeharto.

            Penderitaan dan kemarahan rakyat Indonesia karena adanya isu Freeport semakin menjadi-jadi. Kita bisa melihat dengan jelas ketidakadilan dan kemarahan itu. Rakyat Papua yang sesungguhnya pemilik tambang emas terbesar itu hidup dalam kesengsaraan, kesedihan, ketertinggalan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Seharusnya, para pemilik tanah emas itu kaya raya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

            Meskipun demikian, Indonesia tetap bersabar hingga perjanjian itu berakhir. Ketika kontrak karya selesai pada masa pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, dimulailah perjanjian baru yang membuat Indonesia lebih beruntung. Mulai 2017 Indonesia menegaskan untuk mengubah perjanjian hingga sahamnya menjadi 51%, sisanya Freeport AS.


Presiden Republik Indonesia Jokowi (Foto: Website Banggai Kepulauan)


            Keputusan Indonesia sangat tegas. Jika Freeport menolak, tambang emas di Papua akan diberikan pada perusahaan lain. Awalnya terjadi penolakan dan perlawanan dari PT Freeport hingga menjadi berita yang besar dan viral di AS. Akan tetapi, Indonesia berada pada jalan yang benar, yaitu kontrak karya berakhir dan tanah itu milik Papua, Indonesia. Akhirnya, mau tidak mau PT Freeport menerima keputusan Indonesia dan tetap menambang emas di Indonesia dengan perjanjian baru.

            Pada 2024 Presiden Jokowi memperpanjang kontrak hingga 2061 dengan syarat Indonesia menjadi pemilik saham terbesar dengan jumlah 61%. Di samping itu, perusahaan AS wajib membangun smelter di Indonesia agar emas bisa diolah di dalam negeri untuk membuka lapangan kerja dan menambah keuntungan bagi negara.

            Demikianlah perbedaan Indonesia dengan Iran. Indonesia menahan diri bersabar dalam keadaan penuh derita hingga perjanjian berakhir. Dengan demikian, Indonesia bisa merebut Freeport melalui jalur bisnis secara bertahap tanpa harus berperang. Adapun Iran karena sudah merasa sangat menderita, memilih merebut British Petroleum dengan jalan keras meskipun harus menanggung konsekwensi bertikai dan berperang dengan menggunakan senjata-senjata mematikan di samping mendapatkan sanksi ekonomi dari barat.

            Foto Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh saya dapatkan dari Short History dan Jokowi dari Website Banggai Kepulauan.

Sampurasun

Wednesday, 23 November 2022

Mayoritas Kristen Inggris Dipimpin Muslim dan Hindu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Inggris adalah negara yang dihuni oleh rakyat yang mayoritas beragama Kristen, baik itu Katolik, Protestan, maupun sekte lainnya. Ada banyak pula mereka yang ateis dan agnostik. Secara sederhana, ateis itu tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan agnostik percaya adanya Tuhan, tetapi tidak percaya agama apa pun.

            Jika melihat keyakinan beragama di Inggris, hal yang biasa adalah pemimpinnya beragama Kristen. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Kota London yang dianggap kota modern terbesar di dunia itu ternyata memilih seorang muslim menjadi pemimpin. Namanya Sadiq Khan. Dia bekerja dengan baik hingga terpilih menjadi Walikota London kembali untuk dua periode. Ini hal yang unik, mayoritas Kristen memilih seorang muslim untuk memimpin kotanya. Foto Sadiq Khan saya dapatkan dari Kabar 24 – Bisnis com.


Walikota London Sadiq Khan (Foto: Kabar 24 - Bisnis.com)


            Itu hanya kota, hal yang lebih luas lagi kekuasaannya adalah jabatan perdana menteri (PM). Setelah PM Boris Jhonson mengundurkan diri karena mendapatkan mosi tidak percaya dan tersandung melindungi bawahannya yang dianggap melakukan pelecehan seksual, pemerintahan Inggris terancam bubar. Oleh sebab itu, Inggris memilih kembali PM yang baru, seorang perempuan, Liz Truss. PM Liz Truss dipilih di tengah badai krisis dan ekonomi Inggris yang buruk. Sempat beredar berita di Inggris bahwa ada siswa sekolah yang pura-pura makan siang dengan mengunyah karet penghapus karena orangtuanya tidak memberinya makanan. Para orangtua lebih memilih menggunakan uangnya untuk membayar listrik dan transportasi yang mahal. Liz Truss melakukan upaya perbaikan ekonomi Inggris dengan caranya sendiri, tetapi tidak jelas arahnya yang kemudian membuat ekonomi Inggris semakin terpuruk. Tidak sampai satu bulan Liz Truss menjadi perdana menteri karena mengundurkan diri.

            Inggris kembali membutuhkan perdana menteri baru. Karena keadaan ekonomi yang sangat buruk, dipilihlah orang yang sangat mengerti keuangan. Orang yang terpilih itu adalah Rishi Sunak. Dia keturunan India dan beragama Hindu. Sebagian orang menyebut terpilihnya Rishi Sunak adalah karma buat Inggris karena dulu Inggris menjajah India. Sekarang Inggris dipimpin orang keturunan India yang pernah dijajahnya.

            Begitulah Inggris saat ini. Walikota London adalah seorang muslim, Sadiq Khan. Adapun Perdana Menteri dijabat seorang Hindu, Rishi Sunak. Foto Rishi Sunak saya dapatkan dari Dunia Tempo co.


Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak (Foto: Dunia Tempo.co)


            Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Inggris sudah tidak lagi menjadikan agama seseorang sebagai standar untuk menjadi pemimpin. Bagi mereka hal yang penting adalah kemampuan orang itu untuk memimpin dan menyelamatkan Inggris dari kerusakan serta membuat Inggris menjadi stabil dan maju lagi. Agama adalah urusan dirinya dengan Tuhannya. Urusannya dengan manusia adalah mampu menunjukkan prestasi selama karirnya dan membuat rakyat sejahtera serta hak-haknya dipenuhi.

            Setiap orang yang membaca tulisan ini atau tulisan dari orang lain memiliki pendapat sendiri berdasarkan kemampuan menganalisanya. Hal yang jelas adalah kejadian apa pun yang terjadi di dunia ini dapat dijadikan pelajaran bagi hidup kita agar lebih baik lagi di dunia dan diakhirat.

            Sampurasun.

Friday, 29 April 2022

Sri Mulyani Santai Hadapi AS, Inggris, dan Kanada

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Salah satu agenda KTT G20 adalah pertemuan para menteri keuangan pada 20 Apri 2022. Sebagaimana yang disampaikan Presiden RI Jokowi bahwa perhelatan G20 ini harus ditujukan untuk memulihkan keadaan ekonomi dunia pascapandemi Covid-19. Artinya, seluruh anggota diharapkan untuk memberikan masukan, ide, dan program untuk memulihkan ekonomi dunia. Sayangnya, karena terjadi perang antara Rusia Vs Ukraina, terjadi ketegangan dan polarisasi di dunia. Negara-negara barat yang disponsori Amerika Serikat (AS) menolak kehadiran Rusia dalam KTT G20.

            Hal itu pun memang terjadi pada saat digelar pertemuan para menteri keuangan. Karena saat itu hadir Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov, delegasi AS, Inggris, dan Kanada pun “walk out”, meninggalkan pertemuan. Mereka tidak bisa berhadapan dengan Menteri Keuangan Rusia.

            Menanggapi hal itu, Indonesia, selaku Presidensi G20, diwakili Menteri Keuangan Sri Mulyani, tenang saja menghadapi perilaku AS, Inggris, dan Kanada. Bagi Sri Mulyani, sikap AS, Inggris, dan Kanada sama sekali tidak mempengaruhi isi pertemuan dan agenda G20. Pertemuan tetap berjalan dengan negara-negara lain yang lebih serius menyelesaikan masalah ekonomi dunia.  Kalaupun negara-negara barat tidak bisa tahan berhadapan dengan Rusia, itu hak mereka. Agenda G20 tetap berjalan dengan tema “recovery together, stronger together”.

            Kalau menurut adat Sunda, sikap AS, Inggris, dan Kanada itu disebut “belik” atau “pundung”. Mereka protes dan mengunci diri karena keinginannya tidak digubris oleh orang lain. Mereka mencoba bertaruh bahwa dirinya merasa sangat penting sehingga menganggap semuanya tidak akan berjalan dengan baik jika tanpa ada dirinya. Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, orang yang belikan dan pundungan, biasanya merasa rugi sendiri, lalu perlahan kembali membuka dari kepada orang-orang, tetapi dia sudah dicatat sebagai orang belikan dan pundungan.

            Sikap Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani sudah sangat tepat, yaitu tenang, santai, tetap yakin, tetapi tidak merendahkan orang lain. Indonesia punya cara sendiri, punya watak sendiri, dan kehormatan sendiri dalam melaksanakan berbagai agenda G20. Biarkan dunia tahu bahwa Indonesia menghormati semuanya, terbuka untuk perbaikan dan perdamaian, serta tetap tenang dan yakin dengan jalan yang dipilihnya. Inilah saat Indonesia mengajari dunia bagaimana hidup dengan lebih santun.

            Tugas rakyat Indonesia adalah mendukung upaya Negara Indonesia dalam mengatasi kemelut dunia dengan kecerdasan dan kesantunan, bukan dengan aksi-aksi kampungan dengan perilaku-perilaku brutal memalukan.

            Sampurasun.

Tuesday, 31 August 2021

Tak Ada Lagi Pasukan Asing di Afghanistan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mulai hari ini, 1 September 2021, sudah tak ada lagi pasukan asing di Afghanistan. Hal itu disebabkan memang sudah menjadi perjanjian antara Amerika Serikat (AS) dengan Taliban bahwa waktu untuk mengevakuasi warga asing dan warga Afghanistan yang ingin keluar dari Afghanistan batas akhirnya adalah 31 Agustus 2021.

Waktu tersebut sebenarnya terlalu singkat sehingga Presiden AS Joe Biden meminta perpanjangan waktu, tetapi Taliban menolaknya. Mau tidak mau pasukan asing harus segera pergi. Akibatnya, masih ada warga AS dan warga Afghanistan yang ingin pergi ke AS tidak sempat terangkut pesawat terbang. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja.

Demikian pula dengan Inggris, masih banyak yang ingin pergi ke Inggris, tetapi tidak sempat terangkut karena persoalan waktu  yang sangat mepet. Akibatnya, pemerintah Inggris mendapatkan kritikan tajam dari para elit politik dan warga Inggris karena tidak sempat mengangkut semuanya. Banyak warga Inggris yang khawatir atas keselamatan warga Afghanistan yang ingin pergi ke Inggris berada di bawah kekuasaan Taliban. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja.


Foto: Kompas.com


Sementara itu, Taliban merayakan kemenangannya karena kini Afghanistan berada di bawah kekuasaan mereka sepenuhnya. Mereka menembakkan senjata ke udara dan menyalakan kembang api kegembiraan di pusat kota dan Bandara Internasional Hamid Karzai.

Melihat hal itu, baik AS, Inggris, ataupun negara asing lainnya, tetap harus berupaya melalui berbagai cara untuk mengeluarkan warganya sendiri dan warga Afghanistan yang ingin pergi untuk keluar dari Afghanistan. Di samping itu, Taliban pun harus tetap menghormati mereka sebagai manusia dan mengizinkan hak mereka untuk hidup di negara mana saja yang mereka mau. Semua manusia memiliki hak untuk hidup di tempat mana saja mereka inginkan.

Semoga krisis politik dan kemanusiaan segera berakhir sehingga semua orang bisa hidup lebih baik lagi.

Sampurasun.

Tuesday, 20 July 2021

Pengaruh Vaksinasi

oleh Tom Finaldin


Beberapa hari kemarin, saya baca berita. Inggris sudah mulai percaya diri menyelenggarakan pertandingan sepak bola di stadion yang dipenuhi penonton.

Apa penyebabnya?
Mereka sudah memvaksin 70% warganya. Dengan uang yang banyak dan penduduk sedikit, 67 juta jiwa, mereka memang bisa lebih cepat keluar dari masalah Covid-19.
Brazil sudah mengalami penurunan jumlah pasien di rumah sakit sekitar 95%.
Apa penyebabnya?
Brazil sudah memvaksin 70% warganya dari jumlah 216 juta jiwa. Memang mereka tidak sekaya Inggris, tetapi dengan kesadaran rakyatnya, mereka mulai berhasil.
Cina dan Amerika Serikat yang kalau dijumlahkan penduduknya mencapai miliaran sudah lebih mulai mengalami keberhasilan.
Apa penyebabnya?
Mereka sudah berhasil memvaksin rakyatnya lebih dari 50%. Di samping itu, mereka pun punya banyak uang.
Indonesia sampai hari ini masih bermasalah.
Apa penyebabnya?
Sampai 10 Juli 2021, baru 15 juta orang yang sudah dua kali divaksin, padahal penduduk Indonesia jumlahnya ada 267 juta jiwa.
Baru berapa persen?
Masih sangat sedikit.
Di samping itu, Indonesia tidak punya banyak uang atau tidak sekaya Cina, Amerika Serikat, dan Inggris. Kondisi masyarakatnya pun masih ribut melulu dengan lapisan masyarakat lainnya, malahan ribut sama pemerintahnya. Disiplin Prokes-nya pun jelek. Ditambah lagi dengan hoax-hoax yang dipercaya para penggemar hoax. Padahal, hoax itu tidak punya data, fakta, bukti, hasil penelitian, referensi, jurnal ilmiah, atau dasar hukum.
Pada masa Hari Raya Idul Adha ini, mari kita kurbankan egoisme masing-masing, baik di antara masyarakat sendiri, maupun antara rakyat dengan pemerintah. Dengan kebersamaan, insyaallah, Indonesia cepat pulih, bahkan cepat meningkat menjadi kekuatan ekonomi ketujuh besar dunia sebagaimana diprediksikan para ilmuwan Barat.
Bukankah gotong royong lebih baik dibandingkan perpecahan?

Sampurasun.



Wednesday, 27 January 2021

Revolusi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam sosiologi, revolusi diartikan sebagai perubahan cepat yang mengubah sendi-sendi dan keseluruhan kehidupan masyarakat. Perubahan ini bisa terjadi melalui kekerasan atau tanpa kekerasan. Tentang ukuran cepat, seberapa lama perubahan ini bisa terjadi, sesungguhnya tidak ada ukuran waktu yang pasti. Akan tetapi, yang jelas lebih cepat dibandingkan evolusi (perubahan lambat). Revolusi industri di Inggris pun terjadi dalam waktu yang cukup lama yang ditandai dengan berubahnya proses produksi tanpa mesin ke proses produksi dengan  menggunakan mesin-mesin. Di samping itu, revolusi ini pun telah mengubah struktur dan budaya masyarakat Inggris.

            Revolusi dengan menggunakan cara-cara kekerasan untuk mengubah kehidupan secara cepat, misalnya, revolusi kemerdekaan di Indonesia dan revolusi di Perancis. Adapun contoh lain revolusi tanpa kekerasan yang terjadi di Indonesia adalah Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan cepatnya perkembangan penggunaan internet dengan berbagai aplikasinya sehingga yang tidak mengikuti perkembangan ini akan segera tertinggal zaman, terbelakang, serta kehilangan kesempatan dan informasi.

            Terdapat beberapa syarat agar suatu revolusi dapat tercapai.

            Pertama, adanya masyarakat dengan perasaan tidak puas dan keinginan mencapai kehidupan yang lebih baik.

            Kedua, adanya pemimpin atau sekelompok orang yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mengadakan perubahan.

            Ketiga, adanya pemimpin yang mampu menampung aspirasi masyarakat dan merumuskan aspirasi tersebut menjadi program kerja.

            Keempat, adanya tujuan jelas yang dapat dicapai. Artinya, diperlukan suatu ideologi tertentu untuk menggerakkan masyarakat sebagai tujuan yang akan dicapai.

             Kelima, adanya momentum yang tepat untuk melakukan revolusi. Artinya, ada waktu dan situasi yang sangat baik dan sangat tepat untuk bergerak. Contoh nyata adalah revolusi kemerdekaan Indonesia yang dilakukan dalam momentum yang sangat tepat, yaitu ketika terjadi kekosongan pemerintahan di Indonesia yang disebabkan kekalahan Jepang dan menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.

            Berkaitan dengan hal itu, meskipun Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus  1945, masih banyak kelompok yang menginginkan revolusi untuk mengubah secara cepat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, mereka menginginkan revolusi agar kehidupan Negara Indonesia sesuai dengan kehendak kelompok mereka, bukan sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Akan tetapi, keinginan untuk revolusi itu tidak pernah berhasil terlaksana. Kalaupun sempat terjadi percikan revolusi, mereka selalu gagal dan jatuh.

            Berdasarkan syarat-syarat revolusi tadi, bisa dikatakan bahwa para “revolusioner baru” itu tidak memenuhi kelima syarat tersebut. Selalu berhasil ditumpas oleh kekuatan NKRI 17 Agustus 1945.

            Kalau mau dianalisis, tinggal dipahami syarat revolusi ke berapa yang tidak terpenuhi. Setiap orang bisa punya pendapat sendiri.

            Hal yang jelas, jangan coba-coba revolusi jika tidak memenuhi kelima syarat tersebut. Kemungkinan gagalnya bisa mencapai 99%.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Thursday, 5 September 2019

Perbandingan Rasis di Indonesia dan Afrika Selatan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Soal rasisme memang hingga hari ini terus terjadi pada berbagai belahan dunia ini. Saya sendiri pernah jadi korban sikap rasis, beruntung Allah swt memberikan saya pengetahuan yang bisa membalikkan keadaan. Sedikit ceritera soal diri saya. Beberapa tahun lalu ketika ramai sekali ribut soal gerakan Isis yang bebarengan dengan pemilihan walikota London, Inggris, ditambah huru-hara Brexit, seorang ateis London bertanya kepada saya soal pakaian hijab bagi perempuan muslim Indonesia. Ngobrolnya sih pake bahasa Inggris, tetapi saya terjemahkan saja di sini.

            Saya menjawab pertanyaan dia dengan jawaban sangat sederhana, “Pakaian hijab itu untuk melindungi perempuan dari pandangan syahwat pria-pria yang berlebihan.”

            Si Ateis membantah, “Kalau begitu, kalian curang. Kalian menyiksa wanita seperti itu gara-gara para lelaki kalian sangat lemah, tidak bisa menahan hawa nafsunya.”

            Agak emosi juga sedikit saya atas bantahan Si Ateis, saya tantang saja sekalian dia, “Mau bukti? Kita berbicara data saja. Kamu bawa data kasus perkosaan dan pelecehan seksual di Kota London. Aku bawa data kasus perkosaan dan pelecehan seksual dari Poltabes Bandung. Kita lihat mana kota yang lebih banyak kasus perkosaan dan pelecehan seksual itu. Kalau kasusnya lebih banyak di Bandung, kamu benar. Kalau kasusnya lebih banyak di London, aku yang benar.”

            Si Ateis tidak berani berbicara data. Malahan, dia menjawab dengan kalimat yang rasis dan merendahkan saya.

            Dia bilang, “Kamu tidak pantas berbicara denganku. Kamu hanya manusia yang berasal dari dunia ketiga. Kamu tidak selevel denganku.”

            Saya jawab saja, “Kalian memang rasis! Kalau aku tidak pantas berbicara dengan kamu, kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang memulai perdebatan, tetapi kamu tidak berani berbicara data. Kamu hanya bersembunyi dalam kalimat rasis kampungan.”

            Perdebatan pun berhenti sampai di situ. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Tampaknya, dia takut berbicara data yang bisa diukur dengan angka yang jelas.

            Sengaja saya ceriterakan hal itu untuk menunjukkan bahwa sikap rasis masih ada di dunia ini. Kita harus melawannya.

            Di Indonesia sikap rasis yang terjadi baru-baru ini yang membawa demonstrasi di Papua dan Papua Barat bisa dikategorikan ringan, yaitu hanya berupa kata-kata kotor, tidak terdidik, tidak sopan, dan tidak beretika. Meskipun ringan, tetap saja itu rasisme yang tidak perlu terjadi.

            Berbeda dengan yang terjadi di Afrika Selatan. Rasisme di Afrika Selatan sangat mengerikan dengan adanya “politik apartheid”, yaitu pemisahan ras antara kulit putih dengan kulit hitam. Dengan politik seperti itu, orang kulit hitam dilarang memiliki tanah atau rumah di luar wilayah yang telah ditentukan, kepemilikan mereka dibatasi; tempat tinggal warga kulit putih dan kulit hitam dipisahkan, tidak boleh berbaur; orang kulit hitam harus didaftar dengan ketat sesuai sukunya masing-masing. Di samping itu, masih ada perbedaan perlakuan berdasarkan klasifikasi bangsa, misalnya, Eropa, Afrika, Melayu, dan Asia. Hal itu jelas membuat ketidakadilan dalam hal sosial dan ekonomi. Warga kulit hitam benar-benar termarjinalisasi dan tersubordinasi.

            Meskipun demikian, warga kulit hitam tidak menyerah. Mereka melawan di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemimpin mereka, Nelson Mandela, ditangkap dan dipenjara selama 31 tahun. Akan tetapi, karena perjuangan mereka tidak berhenti, mereka pun berhasil mengubah situasi dan kondisi. Segala peraturan yang diskrimanatif dihapuskan. Hal itu membuat keadaan jauh lebih baik dan menekan seminimal mungkin sikap rasis. Nelson Mandela pun berhasil menjadi presiden.

            Belajar dari hal itu warga Papua harus mampu menunjukkan prestasi, kreasi, dan potensi diri bahwa dirinya bukan kelas rendahan, melainkan memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan warga Negara Indonesia lainnya. Bahkan, harus memiliki semangat untuk dapat berprestasi melebihi warga lainnya sehingga terjadi persaingan yang sehat di antara sesama warga bangsa untuk kemajuan Indonesia bersama. Di samping itu, seluruh warga Negara Indonesia dari ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan ratusan agama ini harus tetap berpegang pada “Bhineka Tunggal Ika”, ‘berbeda-beda, tetapi satu jua’. Kita memang berbeda, tetapi satu dalam satu tujuan, yaitu “mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin berdasarkan Pancasila”.

            Sampurasun.

Tuesday, 25 April 2017

Politik Identitas Tidak Salah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tak ada kesalahan sama sekali orang Islam memilih pemimpin beragama Islam, orang Jawa memilih pemimpin bersuku Jawa. Tak ada salahnya jika masyarakat memilih pemimpin berdasarkan agamanya, sukunya, rasnya, ataupun adat istiadatnya.

            Apanya yang salah?

            Sama sekali tidak salah!

            Ini demokrasi. Orang bebas menentukan pilihan berdasarkan apa saja yang mereka sukai. Tak ada larangan untuk hal itu. Bebas sebebas-bebasnya. Ini demokrasi. Dalam demokrasi itu bukan “pendapat terbaik” yang dicari dalam menentukan pemimpin atau pemecahan masalah, melainkan “pendapat terbanyak”. Ketika pendapat terbanyak sudah menentukan “orang” atau “cara memecahkan masalah”, itulah yang harus diikuti. Kita harus berdamai dengan hal itu karena itulah risiko yang harus diambil sebagai masyarakat pengguna demokrasi.

            Itulah yang saya sering kritik keras soal demokrasi. Dalam demokrasi itu tidak penting baik dan buruk, tetapi jumlah yang banyak adalah yang terpenting sekalipun itu buruk. Kalau kalian tinggal di lingkungan mayoritas penyamun, penyamunlah pemimpin kalian. Kalau kalian tinggal di lingkungan orang-orang saleh dan mulia, para bijaklah yang akan memimpin kalian. Ini demokrasi.

            Di Negara Indonesia yang mayoritas muslim terbesar di dunia, wajar jika para pemimpinnya mayoritas beragama Islam. Akan tetapi, di Indonesia Bagian Timur yang mayoritas penduduknya bukan Islam, wajar jika pemimpinnya nonmuslim. Soal baik, buruk, saleh, tidak saleh, cerdas, atau bodoh, itu soal lain karena demokrasi menginginkan suara mayoritas. Apabila ada pemimpin terpilih, tetapi berlainan agama dengan masyarakat pemilihnya, itu kasuistis, seperti, Ahok (Kristen) di DKI Jakarta, Indonesia, yang muslim atau Sadiq Khan (Muslim) di London, Inggris, yang nonmuslim.

            Masyarakat pemilih itu beragam dan memiliki kebebasan mutlak. Ada masyarakat yang memilih secara rasional, ada pula yang emosional, bahkan ada yang memilih berdasarkan keduanya, yaitu rasional-emosional. Kita tidak bisa memaksa masyarakat untuk memilih secara rasional, secara emosional, maupun rasional-emosional. Masyarakat memilih berdasarkan pertimbangannya masing-masing dan harus dipatuhi jika jumlah terbanyak sudah menentukan pilihan. Ini demokrasi.

            Politik identitas tidaklah salah, wajar, normal, dan ini terjadi di seluruh dunia. Amerika Serikat pun sering menggunakan nilai-nilai primordialismenya dalam memilih pemimpin, terutama presiden. Mereka dikenal dengan menggunakan isu Wasp, yaitu white, anglo saxon, and protestan, ‘berkulit putih, keturunan Ishak, dan beragama Protestan’. Mereka kadang-kadang menang, kadang-kadang pula kalah.

            Sesungguhnya, bukanlah politik identitas yang menjadi masalah, melainkan hoax, hate speech, pemutarbalikan fakta, kemunafikan, penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik, pemaksaan kehendak, intimidasi, kecurangan, money politics, kebohongan, dan kebencian yang ditumpuk untuk mendapatkan kekuasaan. Hal-hal itulah sebenarnya yang harus diperangi dan bukan politik identitas karena setiap bangsa, suku bangsa, atau agama memiliki identitas masing-masing yang akan dipertahankan oleh anggota-anggotanya. Identitas mayoritas wajib dihormati oleh mereka yang beridentitas minoritas. Pemilik identitas mayoritas wajib melindungi mereka yang beridentitas minoritas. Begitu seharusnya.

            Ini demokrasi. Kita harus selalu berdamai dengan hasil-hasilnya meskipun sudah pasti orang secerdas mantan Presiden RI Habibie pasti kalah oleh dua pemakai Narkoba di dalam bilik suara karena sistemnya adalah one man one vote. Ini demokrasi.

            Iya, toh?

            Iya toh pisan eta mah.


            Sampurasun.

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.