Showing posts with label Perancis. Show all posts
Showing posts with label Perancis. Show all posts

Wednesday, 27 January 2021

Revolusi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam sosiologi, revolusi diartikan sebagai perubahan cepat yang mengubah sendi-sendi dan keseluruhan kehidupan masyarakat. Perubahan ini bisa terjadi melalui kekerasan atau tanpa kekerasan. Tentang ukuran cepat, seberapa lama perubahan ini bisa terjadi, sesungguhnya tidak ada ukuran waktu yang pasti. Akan tetapi, yang jelas lebih cepat dibandingkan evolusi (perubahan lambat). Revolusi industri di Inggris pun terjadi dalam waktu yang cukup lama yang ditandai dengan berubahnya proses produksi tanpa mesin ke proses produksi dengan  menggunakan mesin-mesin. Di samping itu, revolusi ini pun telah mengubah struktur dan budaya masyarakat Inggris.

            Revolusi dengan menggunakan cara-cara kekerasan untuk mengubah kehidupan secara cepat, misalnya, revolusi kemerdekaan di Indonesia dan revolusi di Perancis. Adapun contoh lain revolusi tanpa kekerasan yang terjadi di Indonesia adalah Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan cepatnya perkembangan penggunaan internet dengan berbagai aplikasinya sehingga yang tidak mengikuti perkembangan ini akan segera tertinggal zaman, terbelakang, serta kehilangan kesempatan dan informasi.

            Terdapat beberapa syarat agar suatu revolusi dapat tercapai.

            Pertama, adanya masyarakat dengan perasaan tidak puas dan keinginan mencapai kehidupan yang lebih baik.

            Kedua, adanya pemimpin atau sekelompok orang yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mengadakan perubahan.

            Ketiga, adanya pemimpin yang mampu menampung aspirasi masyarakat dan merumuskan aspirasi tersebut menjadi program kerja.

            Keempat, adanya tujuan jelas yang dapat dicapai. Artinya, diperlukan suatu ideologi tertentu untuk menggerakkan masyarakat sebagai tujuan yang akan dicapai.

             Kelima, adanya momentum yang tepat untuk melakukan revolusi. Artinya, ada waktu dan situasi yang sangat baik dan sangat tepat untuk bergerak. Contoh nyata adalah revolusi kemerdekaan Indonesia yang dilakukan dalam momentum yang sangat tepat, yaitu ketika terjadi kekosongan pemerintahan di Indonesia yang disebabkan kekalahan Jepang dan menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.

            Berkaitan dengan hal itu, meskipun Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus  1945, masih banyak kelompok yang menginginkan revolusi untuk mengubah secara cepat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, mereka menginginkan revolusi agar kehidupan Negara Indonesia sesuai dengan kehendak kelompok mereka, bukan sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Akan tetapi, keinginan untuk revolusi itu tidak pernah berhasil terlaksana. Kalaupun sempat terjadi percikan revolusi, mereka selalu gagal dan jatuh.

            Berdasarkan syarat-syarat revolusi tadi, bisa dikatakan bahwa para “revolusioner baru” itu tidak memenuhi kelima syarat tersebut. Selalu berhasil ditumpas oleh kekuatan NKRI 17 Agustus 1945.

            Kalau mau dianalisis, tinggal dipahami syarat revolusi ke berapa yang tidak terpenuhi. Setiap orang bisa punya pendapat sendiri.

            Hal yang jelas, jangan coba-coba revolusi jika tidak memenuhi kelima syarat tersebut. Kemungkinan gagalnya bisa mencapai 99%.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Friday, 30 October 2020

Rindu Jokowi, Bukan Pemerintah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika perasaan umat Islam terhina, tersinggung, dan marah, sudah seharusnya para pemimpin muslim di mana pun menangkap perasaan umat dan menyuarakannya untuk mewakili umatnya. Demikian pula, Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sangat wajar jika berharap pemimpinnya, Presiden RI Jokowi, memberikan kecaman, teguran, atau paling tidak nasihat untuk Presiden Perancis Emmanuel Macron yang telah menghina Islam dan kaum muslimin. Bahkan, Macron mengatakan bahwa Samuel Paty, guru sejarah yang dipenggal gara-gara mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad saw itu sebagai martir. Tidak perlu kaget jika banyak umat Islam pun menganggap Abdoullakh Anzorov yang memenggal kepala Samuel Paty pun sebagai martir. Itu akan membuat “chaos” baru.

            Pemerintah RI sudah cukup bagus melalui Kemenlu RI melakukan kecaman dan protes dengan cara memanggil Duta Besar Perancis Olivier Chambard untuk menjelaskan sikap dan posisi Indonesia terhadap masalah itu. Akan tetapi, itu kan pemerintah yang sifatnya kolektif kolegial. Bagi rakyat Indonesia, itu belum cukup terwakili. Rakyat menginginkan Jokowi yang bersuara. Rakyat rindu sosok Jokowi untuk bersuara terkait masalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Suara Jokowi itu akan lebih kuat tekanannya dibandingkan ribuan gerombolan demonstran. Ucapannya akan lebih didengar. Rakyat pun akan mendapatkan harga diri yang lebih tinggi jika pemimpinnya berbicara mewakili perasaannya untuk disampaikan pada dunia, terutama terhadap Macron.

            Sampai tulisan ini disusun, belum terdengar Jokowi berbicara hal itu. Rakyat mulai bertanya-tanya dan itu tidak bagus karena akan banyak dugaan terhadap penyebab Jokowi belum juga bersuara.

            Apakah Jokowi merasa cukup suaranya diwakilkan kepada Kementerian Luar Negeri RI?

            Seperti saya bilang tadi, tidak cukup.

            Rakyat ingin mendengar dari Jokowi langsung. Pemerintah memang sudah bersikap dan itu bagus, tetapi rakyat menginginkan mendengar suara Jokowi. Hal itu bisa diperhatikan dari desakan yang disuarakan partai-partai pendukung pemerintah sendiri, seperti, Nasdem dan PDIP. Demikian pula Ormas sekelas GP Ansor pun berharap hal yang sama. Saya yakin banyak elemen masyarakat lain yang menginginkan Jokowi bersuara jelas terkait penghinaan yang dilakukan Macron.

            Kalaulah Jokowi merasa “heurin ku letah”, ‘susah bicara’, terhadap Macron karena Perancis adalah sahabat Indonesia, berbincanglah sebagai sahabat karena sahabat yang baik adalah sahabat yang mengingatkan sahabatnya ketika sahabatnya itu melakukan kesalahan. Dalam hal ini, Perancis adalah sahabat yang sedang melakukan kesalahan yang kalau mengikuti pendapat Menkopolhukam RI Mahfudz M.D., Macron sedang krisis gagal paham terhadap Islam. Jelas Macron sedang kusut pikiran dan melakukan kesalahan yang mengganggu ketenangan dunia.

            Di samping itu, jika terjadi perbincangan dengan Macron, Jokowi bisa ekspor nilai-nilai Pancasila terhadap Perancis dengan menunjukkan adanya UU anti penghinaan, anti penistaan, atau anti penyerangan terhadap agama untuk membina kerukunan umat beragama di Indonesia. Perancis bisa belajar dari hal itu jika ingin lebih tenang dan harus menahan kebiasaan dirinya untuk gemar menistakan agama. Itu adalah hal yang bagus.

            Bisa pula Jokowi bersikap tegas dan keras seperti kepada Cina. Meskipun Indonesia banyak melakukan hubungan bisnis dengan Cina, Jokowi tetap tegas soal kedaulatan negara di Laut Natuna Utara. Jokowi mengharapkan pasukannya untuk dapat menjaga dan mengamankan Laut Natuna Utara dari gangguan Cina. Sikap dia sangat jelas, baik dalam perkataannya maupun dalam sikapnya tentang kedaulatan negara.

            Masa terhadap Cina bisa tegas, tetapi terhadap Macron tidak bisa tegas nyata?

            Rakyat merindukan suara Jokowi, bukan suara pemerintah. Suara pemerintah sudah terdengar dan itu perlu diapresiasi. Suara sosok Jokowi yang belum terdengar. Jangan sampai rakyat menduga-duga penyebab Jokowi tidak bersuara. Itu tidak baik.

            Mau bersuara atau tidak, dalam arti diam saja, Jokowi harus menjelaskan sikapnya itu kepada masyarakat. Dengan demikian, rakyat bisa paham dan lebih tenang. Jika tidak, akan banyak pertanyaan di masyarakat tentang sosok Jokowi. Bisa-bisa timbul banyak hoax, ujaran kebencian, dan penyesatan pikiran jika Jokowi tidak menjelaskan sikapnya.

            Rakyat rindu suara Jokowi.

            Sampurasun.

Blunder Politik Macron

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Emmanuel Macron adalah Presiden Perancis, sudah pasti dia adalah politisi. Sebagai politisi, dia harus menghadapi Pemilu yang akan datang serta ingin dirinya dan partainya menang. Hal itu lumrah terjadi pada diri seorang politisi.

            Kita tidak tahu apakah pidato Macron yang mengaitkan terorisme, radikalisme, dan Islam itu adalah dalam rangka pembenahan keamanan di Perancis atau memang sedang mengangkat isu yang dianggapnya seksi untuk mendorongnya kembali dalam kepemimpinan di Perancis. Pemenggalan kepala seorang guru sejarah di Perancis oleh seorang pemuda muslim dianggapnya sebagai perlawanan terhadap demokrasi dan kebebasan berekspresi. Isi pidatonya jelas sekali mengatakan hal tersebut. Dia pun menjelaskan bahwa rakyat Perancis memiliki hak untuk menistakan (agama). Itulah yang membuat banyak orang marah, terutama muslim. Padahal, pembiaran terhadap penistaan (agama) ini telah mengakibatkan saling bunuh di Perancis.

            Sekitar seminggu yang lalu dua wanita berjilbab ditusuk di bawah Menara Eifel sambil dimaki-maki, “Orang Arab Kotor! Tempat kalian bukan di sini!”

            Beruntung kedua wanita itu tidak tewas. Mereka dilarikan polisi ke rumah sakit.

            Kemudian, guru sejarah dipenggal kepalanya gara-gara mempertontonkan karikatur Muhammad saw. Pelakunya ditangkap polisi. Hal itu berlanjut dengan penusukan dan penggorokan leher di gereja di Nice, Perancis.

            Kalaulah hal-hal itu diangkat sebagai isu untuk mendongkrak popularitas dirinya menjelang Pemilu di Perancis dengan mendiskreditkan Islam sebagai “agama yang sedang mengalami krisis”, sungguh itu merupakan langkah politik blunder. Sebetulnya, dari isi pidatonya awalnya bagus bahwa dia memusuhi gerakan terorisme dan radikal Islam yang mengganggu ketenangan warga. Semua negara pun sedang memusuhi itu. Akan tetapi, ketika hal itu dikaitkan dengan ajaran Islam, itu adalah sebuah kesalahan fatal. Apalagi penghinaan kepada Nabi saw itu dianggap kebebasan berekspresi dan perlu dilindungi sebagai cara hidup warga Perancis.

            Warga dunia dan warga Perancis sebetulnya sudah tidak mempedulikan perbedaan agama itu, mayoritas semua ingin hidup damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, kecuali segelintir orang yang hidupnya memang dari provokasi dan menebar konflik. Hal itu bisa dilihat di konten-konten youtube yang dibuat para pemuda Amerika Serikat (AS) dan di Perancis sendiri. Seorang pemuda Amerika Serikat keturunan Arab bikin banyak video tentang pandangan kehidupan beragama di AS. Semua yang dia wawancarai menghendaki adanya perdamaian, saling menghormati, menghilangkan permusuhan karena perbedaan agama, adanya kerja sama yang baik, bisnis yang lancar tanpa harus dihalangi perbedaan agama. Di Perancis sendiri saya lihat banyak pemuda yang membuat video “prank” dengan cara mem-bully perempuan muslim berjilbab di taman, di jalan, di kampus, dan di keramaian lainnya. Ketika perempuan berjilbab itu di-bully dan dihina agamanya yang Islam itu, banyak sekali pemuda nonmuslim yang membelanya, bahkan hampir berkelahi dengan para pem-bully itu. Ketika diberi tahu bahwa tindakan itu hanya “prank” dan bermaksud untuk mengetahui sejauh mana sikap nonmuslim terhadap muslim yang sedang teraniaya, mereka semua tertawa-tawa. Hal itu menunjukkan bahwa perbedaan agama sudah tidak lagi menjadi kendala untuk hidup bersama dan para pemuda itu tidak saling melakukan penghinaan dan permusuhan atas dasar perbedaan keyakinan. Jumlah generasi muda yang sudah sangat toleran ini semakin banyak dan kita bisa mencobanya sendiri berhubungan dengan orang-orang asing dalam kerja sama tertentu, misalnya, budaya atau teknologi. Perbedaan agama itu tidak menjadi masalah yang berarti.

            Dengan melihat perkembangan toleransi yang makin menguat di dunia, kecuali beberapa gelintir para provokator, isu yang digunakan Macron dengan mengaitkan Islam dan radikalisme untuk mendapatkan keuntungan politik adalah blunder. Orang sudah semakin paham bahwa terorisme dan Islam adalah dua hal yang berbeda, sama sekali tidak ada kaitannya. Meskipun jumlah umat Islam di Perancis bisa dikatakan minoritas, mayoritas warga Perancis sudah tidak mau lagi percaya dengan isu-isu menyesatkan tentang Islam dan terorisme, terutama kaum mudanya. Mereka toh sudah menjalani hidup bersama dan mayoritas baik-baik saja, kecuali sedikit orang-orang bebal. Isu yang diangkat Macron bukannya akan meningkatkan popularitasnya, melainkan sebaliknya, berpotensi menurunkan elektabilitasnya. Hal itu diperparah dengan adanya kasus-kasus kekerasan dan kematian atas dasar keagamaan serta adanya seruan untuk memboikot produk-produk Perancis. Jika upaya boikot ini berhasil dan konsisten dilakukan dunia, terutama negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim, ekonomi Perancis akan terganggu, para pengusaha akan menderita kerugian. Hal itu akan mendorong turunnya popularitas Macron di Perancis. Hal-hal ini pun akan digunakan sebagai amunisi bagi saingan Macron dan partainya untuk menghantam pemerintah sehingga Macron dan para pendukungnya jatuh dari kursi pemerintahan.

            Begitu kira-kira analisis saya. Kalau mau berkomentar, berkomentarlah yang baik dan nyambung dengan isi artikel. Komentar yang buruk dan tidak nyambung akan saya hapus.

            Sampurasun.

Sunday, 31 July 2016

Ulama Perancis Salah Besar

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sungguh sangat menyedihkan ketika para ulama Kota Saint-Etienne-du-Rouvray, Perancis menolak memakamkan jasad Adel Kermiche yang masih berusia sembilan belas tahun. Penolakan para ulama itu pun disetujui oleh kaum muslimin di sana. Sikap para ulama itu sungguh sangat berlebihan. Hal itu mengakibatkan pemakaman pemuda tersebut menjadi urusan walikota setempat.

            Adel Kermiche adalah teroris yang telah berjanji setia kepada Isis, kemudian melakukan pembunuhan terhadap seorang pastor Katolik di sebuah gereja. Adel pun tewas ditembak oleh polisi Perancis.

            Para Ulama di sana menolak memakamkan pemuda Adel Kermiche karena tidak ingin selalu disangkutpautkan dengan para teroris dan Isis. Mereka melakukan hal itu tampaknya ingin menunjukkan kepada pemerintah Perancis dan dunia bahwa mereka pun sama-sama tidak setuju atas tindakan teror dan anti terhadap gerakan Isis. Itulah yang membuat mereka “mengenyahkan” Adel dari lingkungan mereka, termasuk jasadnya. Mereka sama sekali tidak ingin terlibat dalam urusan pemakaman Adel.

            Para ulama dan kaum muslim Perancis tampaknya tidak sadar bahwa mereka telah lebih memilih “dunia” dibandingkan “akhirat”. Mereka lebih memilih panggung kehormatan manusia dibandingkan keridhoan Allah swt. Mereka lebih memilih dihormati manusia dibandingkan mendapatkan cinta Allah swt. Mereka berupaya menyelamatkan muka mereka daripada melaksanakan hak dan kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya. Sungguh sangat disayangkan. Mereka harus bertanggung jawab atas hal itu kelak di hadapan Allah swt.

            Adel Kermiche memang teroris dan telah melakukan tindakan yang teramat salah dalam pandangan manusia. Akan tetapi, Adel adalah tetap seorang muslim. Dia memiliki hak untuk diantarkan kaum muslim lainnya ke tempatnya dikubur dan kaum muslim lainnya pun memiliki hak untuk mengantarkannya ke tempatnya dikubur.  Itulah yang diajarkan Muhammad Rasulullah saw.

            Adel pun memiliki hak untuk didoakan agar diampuni dosanya dan mendapatkan keadilan hakiki dari Allah swt. Kaum muslim yang lain pun memiliki hak untuk mendoakan Adel sebagai sesama muslim. Saya mendapat kabar bahwa jika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, saat itu pun ada seribu malaikat yang mendoakan kebaikan untuk kita.

            Adel memang salah kata manusia karena kita tidak tahu alasan pembunuhan yang telah dilakukannya. Apakah dia membunuh hanya untuk senang-senang atau karena Sang Pastor telah melakukan penghinaan kepada Islam dan memprovokasi publik untuk anti terhadap Islam. Akan tetapi, Adel adalah muslim. Adel adalah saudara muslim yang telah khilaf dengan menempuh jalan yang salah. Dia memiliki banyak kebaikan dalam hidupnya dan memiliki pula kesalahan sepanjang hidupnya. Dia tetap akan diukur oleh Allah swt kelak di akhirat tentang kebaikan dan keburukannya.

            Sebejat apa pun kelakuannya, seburuk apa pun perilakunya, sepanjang dia  terikat dua kalimat syahadat tanpa melakukan penghinaan kepada para sahabat Rasul, dia adalah saudara bagi muslim lainnya. Sayangnya, dia adalah saudara yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, dia tidak keluar dari keislamannya. Kesalahannya membunuh tidak membuatnya hilang hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim, kecuali jika dia telah murtad dengan tidak mengakui Allah swt sebagai tuhannya dan mengingkari Muhammad saw sebagai Rasulullah.

            Memang beban para ulama dan kaum muslim Perancis sangat berat setelah negeri itu dan Eropa didera berbagai teror. Mereka kerap dikait-kaitkan dengan Isis dan teror lainnya. Hal itu membuat mereka tertekan dan cukup terintimidasi. Akan tetapi, itu adalah ujian dari Allah swt. Itulah risiko menjadi orang Islam yang selalu dicemburui, difitnah, dan dihina. Sesungguhnya, Allah swt memperhatikan bagaimana mereka menyikapi ujian tersebut dan dengan itu pula Allah swt memberikan penilaian terhadap mereka semua yang nilai itu akan dibuka diakhirat kelak sebagai pahala yang tiada tara.

            Risiko yang harus mereka tanggung dan beban yang harus mereka derita merupakan risiko dan beban kaum muslim seluruh dunia, termasuk kita yang berada di Indonesia. Kita sedang diuji Allah swt dengan hal-hal itu dan Allah swt selalu memperhatikan kita setiap hari, baik kita sedang terjaga maupun sedang tidur. Allah swt tak pernah meninggalkan kita.

            Seharusnya, para ulama dan kaum muslim Perancis tetap melaksanakan hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya. Adel adalah tetap seorang muslim. Cemoohan, makian, dan tuduhan orang-orang kafir adalah ujian yang harus diterima dan disikapi dengan sangat bijak sehingga Allah swt akan memberikan pahala yang sangat besar. Adalah hal yang teramat baik jika kaum muslim Perancis tetap menguburkan Adel Kermiche. Malahan, upacara pemakaman itu dapat menjadi ajang contoh yang bisa dipertontonkan kepada publik Perancis bahwa Adel adalah saudara muslim yang telah melakukan kesalahan dan hal yang telah terjadi kepada Adel tidak perlu diikuti dan tidak harus terjadi pada kaum muslim lainnya. Kaum muslim Perancis dengan warga lainnya hendaknya dapat hidup saling menghargai, menghormati, dan tetap bekerja sama dengan harmonis dalam ketertiban dan kedamaian penuh kasih sayang.

            Kalaulah kaum muslim Perancis tetap mendapatkan hinaan dan cemoohan, sesungguhnya itu adalah ujian dari Allah swt. Itulah risiko yang harus ditanggung sebagai muslim. Itu pula yang akan menambah tiket masuk ke dalam Surga Allah swt yang menyenangkan. Surga itu mahal, penuh risiko, dan harus dibeli dengan susah payah, kerja keras, kebesaran hati, kepedihan, dan beban-beban yang harus ditanggung. Kalau tidak mau menjalani berbagai kesukaran untuk mendapatkan surga, tidaklah perlu menjadi seorang muslim karena Allah swt tidak membutuhkan kalian. Keluarlah dari Islam dan jadilah kafir, lalu nikmatilah hidup sebagai seorang kafir dan tanggung pula berbagai risiko hidup sebagai orang kafir, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau masih mau menjadi muslim dan mendapatkan surga, laksanakanlah hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya, apa pun risikonya dan seberat apa pun beban yang harus ditanggung.


Kebahagiaan untuk Indonesia

Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib bersyukur karena setiap muslim selalu melaksanakan hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya. Seberat apa pun kesalahan seorang muslim dan sekeji apa pun perbuatannya, dia tetap mendapatkan hak untuk dikuburkan sebagai muslim dan didoakan sebagai saudara sesama muslim. Para teroris, pengedar narkoba, pembunuh keji, pemerkosa, dan lain sebagainya, tetap diantarkan menuju kuburnya dan mendapatkan doa-doa untuk diampuni dan diterima kebaikannya oleh Allah swt. Terserah Allah swt yang akan melakukan tindakan-Nya kepada mereka.

            Demikian pula para penjahat lain yang tidak beragama Islam. Mereka pun mendapatkan haknya sebagai anggota dari agamanya meskipun telah dibunuh karena telah melakukan pelanggaran hukum. Mereka tetap dihormati karena mereka “dianggap” telah “membayar” kejahatan yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tak ada lagi orang yang memusuhinya karena dia telah meninggal yang sekaligus menghentikan berbagai kejahatannya sendiri.

            Tak ada gunanya memaki orang yang telah meninggal. Tak ada manfaatnya memusuhi orang yang sudah tak bernyawa.

            Amatlah indah jika kaum muslim Indonesia yang berada di Perancis dapat mengingatkan saudara-saudaranya sesama muslim untuk melaksanakan hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya, termasuk kepada Adel Kermiche. Kalau bisa, jadikanlah kearifan lokal Indonesia mengenai penguburan jenazah sebagai contoh bagi kaum muslim Perancis. Tak akan ada yang menuduh kaum muslim Indonesia sebagai kaum teroris di Perancis karena sesungguhnya dunia jika jujur, sangat mengetahui bahwa Indonesia adalah negeri paling toleran dan paling ramah di dunia serta sangat membenci terorisme.  Insyaallah.