Showing posts with label Teroris. Show all posts
Showing posts with label Teroris. Show all posts

Friday, 27 February 2026

Israel Ternyata Lemah

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ternyata penakut. Dia tidak hadir pada rapat perdana “Board of Peace” (BoP) untuk bertemu Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Normalnya, pada rapat lobi-lobi BoP Netanyahu dan Prabowo berdebat untuk menyelesaikan masalah gencatan senjata di Gaza, Palestina. Akan tetapi, Netanyahu tidak datang, titip pesan ke menterinya, penakut memang.

            Lebih dari itu, ternyata Israel adalah negara lemah. Hal ini bisa diperhatikan dalam pidato Netanyahu sendiri di depan para pendukungnya. Dia menjelaskan bahwa Hamas harus dilucuti senjatanya. Dia tidak ingin ada senjata berat di tangan Hamas yang berkeliaran di Gaza. Selanjutnya, dia sendiri menjelaskan bahwa senjata AK 47 adalah senjata berat. Dia tidak ingin ada AK 47 di Gaza.

            Cukup mengagetkan kalau AK 47 dikategorikan senjata berat karena itu termasuk senjata ringan. AK 47 adalah senapan serbu yang dibuat Mikhael Kalashnikov warga Unisoviet. Itu adalah senapan yang awalnya dibuat tahun 1947, senapan lama yang beken ketika perang di Afghanistan.


AK 47 (Foto: Skillset Magazine)


            Pernyataan Netanyahu tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, Israel itu ternyata lemah sehingga sangat takut dengan AK 47, padahal mereka punya Tank Merkava, Rudal, roket, patriot, bom, dan senjata berat lainnya. Adapun Hamas, hanya dengan bermodalkan AK 47, ternyata membuat Israel kewalahan puluhan tahun.

            Kedua, sekarang semakin jelas bahwa Israel adalah pihak yang membuat banyak sekali kerusakan di Gaza. Bangunan-bangunan hancur, sekolah menjadi puing-puing, pasar berantakan, fasilitas kesehatan rusak berat, orang-orang mati adalah akibat senjata berat Israel. Di seputar Rumah Sakit Indonesia yang berada di Gaza, sudah tidak ada lagi bangunan utuh yang berdiri, rata berantakan. Tinggal RS Indonesia yang masih berdiri meski dalam kondisi rusak.


Bangunan di Gaza hancur akibat senjata Israel (Foto: detikNews-detikcom)


Tidak mungkin AK 47 Hamas dapat meruntuhkan bangunan sepuluh lantai atau rumah rakyat biasa. Kehancuran rumah dan gedung adalah akibat dari senjata-senjata berat Israel. Jadi yang membuat teror dan kerusakan di sana-sini adalah senjata milik Israel, bukan Hamas.

Kurang jelas apalagi dengan kenyataan seperti itu?

Kerusakannya adalah ditimbulkan Israel berdasarkan isi pidato PM Netanyahu sendiri, bukan Hamas.

Foto AK 47 saya dapatkan dari Skillset Magazine dan foto Gaza berantakan dari detikNews-detikcom.

Sampurasun.

Thursday, 8 December 2022

Aiptu Sofyan Syahid Sesungguhnya

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bagi saya, Aiptu Sofyan adalah syahid pada peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Mapolsek Astana Anyar, Kota Bandung. Dia pergi dari rumahnya meninggalkan keluarganya untuk bekerja. Dia bertugas menjaga keamanan kondisi di wilayah hukum Astana Anyar agar masyarakat dapat tenang menjalankan aktivitas hariannya. Masyarakat bisa nyaman bekerja, sekolah, kuliah, bisnis, atau melakukan hal-hal yang harus diselesaikan. Orang-orang mungkin tidak merasakannya, tetapi begitulah kewajiban polisi.

            Pada pagi Rabu, 7 Desember 2022, Sofyan menjaga teman-temannya yang sedang apel pagi. Tiba-tiba seseorang memaksa masuk ke Mapolsek, Sofyan menghadangnya. Orang itu mengacungkan senjata. Ketika Sofyan mendorongnya, … bum …! Bom pun meledak. Beberapa orang terluka, Sofyan pun gugur syahid. Dia telah menyelamatkan nyawa banyak orang. Berbeda dengan teroris yang berusaha menghilangkan nyawa banyak orang.

            Ustadz Suparman Abdul Karim mengatakan, “Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ‘Seburuk-buruknya kematian adalah kematian seorang teroris. Sebaik-baiknya kematian adalah kematian orang yang memerangi teroris (khawarij)’.”

            Begitu kira-kira yang disampaikan Ustadz Suparman. Dia pun sambil sedih mendoakan Aiptu Sofyan.

            Foto Aiptu Sofyan saya dapatkan dari suara com.


Aiptu Sofyan (Foto: suara.com)


            Aiptu Sofyan orang baik dan bertugas dengan baik. Dia layak mendapatkan syahid dan surga Allah swt. Berdoalah untuknya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kalau tidak mampu merangkai kata doa untuknya, bacalah surat Al Fatihah. Kalaupun Al Fatihah dirasakan terlalu panjang, cukup ucapkan satu kalimat ‘Ya Allah, ampuni dia’.

            Sampurasun.

Sunday, 4 September 2022

Ngerinya Penceramah Teroris

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kata mereka, dia ulama. Kata saya, dia teroris.

            Kalau menyimak isi ceramahnya, ngeri-ngeri tidak sedap rasanya. Dia bilang bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus dihancurkan. Kalau NU hancur, Muhammadiyah akan mati dengan sendirinya. Kalau NU dan Muhammadiyah roboh, Pancasila akan kehilangan motivator dan akselerator.

            Kalimat sebegitu saja sudah mengerikan bagi saya.

Kalau Pancasila runtuh, Jawa Timur yang merupakan wilayah para kiyai, para wali, dan para guru NU dapat dikuasai hingga roboh. Kalau Jawa Timur runtuh, Pulau Jawa dapat dikuasai. Kalau Pulau Jawa sudah dikuasai, Indonesia pun menjadi sangat lemah.

Jika Indonesia dapat dikuasai, negara-negara sekitarnya akan lebih mudah dikendalikan dan seterusnya … dan seterusnya ….

Bagi saudara-saudaraku para nahdliyin dan muhammadiyin—istilah ini kalau salah, kasih tahu saya—jaga diri, jaga keyakinan, dan jaga akhlak kalian. Orang-orang seperti saya bersama kalian. Kalau kalian bisa menjaganya, Pancasila semakin kokoh. Kalau Pancasila kokoh, Jawa Timur semakin kuat, Pulau Jawa pun tetap tegak. Jika Pulau Jawa kuat, Indonesia tetap eksis dan semakin tegak. Jika Indonesia tetap tegak berdiri, negara-negara sekitarnya akan aman. Itu artinya, jika bisa menjaga diri, keyakinan, dan akhlak, kita telah menjaga 270 juta rakyat Indonesia dan ratusan juta rakyat lain yang merupakan rakyat negara tetangga kita. Jika rakyat negara tetangga kita terjaga, manusia lain pada berbagai belahan dunia ini ikut terjaga.

Bukankah dengan menjaga diri, keyakinan, dan akhlak artinya sama dengan menjaga ratusan juta bahkan mungkin miliaran manusia agar hidup aman?

Bukankah itu merupakan tindakan baik yang berpahala?

Insyaallah, dengan menjaga diri kita saja dari pikiran-pikiran jahat, kita telah menyelamatkan pula manusia lain. Kita akan kebanjiran pahala di akhirat kelak sebagai modal untuk menjadi penduduk surga. Aamiin.

Sampurasun.

Tuesday, 21 June 2022

Mahasiswa Radikal Jangan Dikembalikan ke Kampus

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa waktu lalu seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Kota Malang ditangkap Densus 88 karena berpemahaman dan bersikap intoleran, radikal, kemudian menjadi teroris. Memang dia tidak melakukan aksi teror langsung, tetapi melakukan pengumpulan sumbangan dan pengumpulan dana lainnya dari masyarakat untuk kemudian diserahkan kepada para teroris yang berafiliasi dengan “Islamic State of Iraq and Syiria” (Isis).

            Biasanya, pihak kepolisian jika melakukan penangkapan terhadap orang yang berstatus pelajar atau mahasiswa, kerap melakukan penanganan yang berbeda dibandingkan kepada yang lainnya. Para pelajar atau mahasiswa untuk beberapa kasus, dilakukan penanganan yang lebih ringan, misalnya, dikembalikan kepada orangtua, dikembalikan kepada institusi pendidikannya untuk dibina agar bisa terjadi kesadaran, atau penanganan berbeda lainnya. Contohnya, empat ratus mahasiswa Aceh yang diketahui telah melakukan tindakan korupsi dana beasiswa ditangani dengan cara tidak akan dihukum jika mengembalikan seluruh dana beasiswa yang telah digunakannya ke kas daerah, itu berarti berbeda penanganan dibandingkan para calo atau dosen yang terlibat dalam korupsi itu.

            Memang ada baik dan buruknya penanganan seperti itu, ada plus minusnya. Akan tetapi, untuk penanganan soal radikalisme atau terorisme, sebaiknya itu tidak dilakukan, perlakukan saja seperti para teroris lainnya dan diharuskan mengikuti program deradikalisasi. Hal itu disebabkan sebagaimana yang disampaikan pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sendiri yang menjelaskan bahwa sumber radikalisme adalah berasal dari “keluarga, Medsos, dan guru, dosen, atau para pengajar lainnya”. Bahkan, Ketua BNPT Boy Rafli Amar menegaskan bahwa dirinya memiliki daftar akurat yang berisi nama-nama perguruan tinggi dan dosen-dosen yang terpapar paham-paham radikal. Itu artinya, jika mahasiswa yang telah terbukti ditangkap Densus 88 dan memang terbukti pula di pengadilan bersikap dan berpahaman radikal dikembalikan ke keluarganya atau ke kampusnya, bisa menjadi masalah baru.

            Bagaimana jika pemahaman radikalnya berasal dari keluarga?

            Bagaimana jika memang kampusnya yang terpapar parah berpahaman radikal?

            Bagaimana jika memang keradikalannya itu berasal dari guru atau dosen-dosennya?

            Dia bisa mempengaruhi mahasiswa lainnya atau malah dikuatkan pemahamannya oleh lingkungan yang menjadi sumber pemahaman radikalnya. Oleh sebab itu, mahasiswa yang sudah ditangkap Densus 88 dan terbukti radikal bahkan membantu atau melakukan teror, tidak perlu diperlakukan berbeda hanya karena dia berstatus pelajar atau mahasiswa. Perlakukan saja seperti yang lainnya. Usianya juga sudah bukan anak-anak lagi karena di atas tujuh belas tahun.

            Ada baiknya juga Boy Rafli Amar tidak hanya mengatakan bahwa dirinya dan BNPT memiliki daftar nama-nama perguruan tinggi dan dosen atau guru-guru berpaham radikal, tetapi sebutkan saja nama perguruan tinggi itu agar masyarakat dan pemerintah memberikan penilaian sendiri terhadap institusi-institusi itu. Biarkan kepercayaan rakyat dan pemerintah mempertimbangkannya untuk melakukan tindakan selanjutnya. Di samping itu, BNPT sendiri segera saja melakukan berbagai tindakan untuk meminimalisasi atau kalau bisa, menghentikan mereka demi tercapainya tujuan pembangunan nasional Indonesia.

            Negeri ini didirikan oleh para ulama, para santri, dan para pejuang nasionalis yang mengorbankan air mata, darah, dan nyawa untuk kemerdekaan. Mereka berharap bahwa Indonesia menjadi tempat yang aman dan menjadi wadah bagi generasi selanjutnya agar makmur lahir dan makmur batin sebagaimana yang terkandung dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh sebab itu, berbagai gangguan untuk mewujudkan cita-cita pembangunan Negara Indonesia harus dihilangkan.

            Sampurasun.

Saturday, 16 April 2022

Selamatkan Mereka, Bro!


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Para mahasiswa ini memang unik. Mereka menyuarakan tuntutan yang sebenarnya sudah mudah sekali dijelaskan dan diselesaikan. Akan tetapi, ada foto-foto menarik yang bikin semakin seru dan menggelikan. Ada banyak mahasiswi yang berpose dengan beragam tulisan. Salah satunya menulis “Lebih Baik 3 Istri Daripada 3 Periode”. Foto itu saya dapatkan dari TIMES Indonesia.




            Entah mereka hanya bercanda atau memang poster mereka juga adalah tuntutan untuk dijadikan istri kedua, ketiga, atau keempat. Saya tidak tahu. Mungkin mereka telah mencoba berulang-ulang untuk menjajagi hubungan dengan pria-pria yang sebaya dengan mereka, tetapi tidak mendapatkan kenyamanan, ketenangan, dan pengasuhan yang baik. Berantem melulu. Mungkin juga mereka malah yang banyak ngasih jajan ke cowoknya karena pacarnya sulit sekali diandalkan dalam hal keuangan. Jadinya, mereka membayangkan untuk menjadi pasangan dari pria-pria yang sudah mapan dengan keuangan dan mampu menjadi imam yang lebih baik dibandingkan pacarnya yang sama-sama ingusan. Tidak tahulah.

            Saya jadi teringat pertanyaan seorang pengusaha kepada saya yang belum pernah bisa saya jawab sampai hari ini.

            Dia bertanya, “Kang, kenapa Akang tidak mau poligami, padahal banyak perempuan yang cinta sama Akang dan mau jadi istri Akang?

Kalau tidak Akang nikahi, Akang mungkin berdosa karena mungkin saja karena Akang tidak mau, mereka akhirnya dinikahi oleh para pengedar Narkoba, penjahat, dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

            Saya kaget, merenung.

            Dia meneruskan kata-katanya, “Saya yakin Akang orang terpelajar, bertanggung jawab, baik, dan mampu untuk membina keluarga yang baik.

Kalau mereka dinikahi orang-orang buruk, bagaimana anak-anak mereka nanti?

Pasti anak-anaknya dididik dengan buruk dan menjadi keluarga buruk yang menumbuhkan orang-orang lemah dan buruk. Kalau dinikahi sama Akang, akan tumbuh keluarga-keluarga yang baik, berprestasi, dan shaleh-shaleh.”

Begitu kata dia dan sampai hari ini saya tidak bisa menjawab kata-kata dia. Bingung. Kata-katanya memang benar, kalau dinikahi orang-orang buruk, akan tumbuh keluarga yang buruk, padahal kita bisa menyelamatkannya. Akan tetapi, jujur saya pusing menjawabnya dan menanggapinya.

Jawaban yang paling mudah adalah, “Kita serahkan saja kepada Allah swt.”

Jawaban seperti itu sebenarnya sangat saya tidak sukai karena meminggirkan pikiran kita yang telah dianugerahkan Allah swt. Seharusnya, kita bisa menemukan solusinya. Akan tetapi, karena pusing, jawaban saya seperti itu.

Ketika dalam demonstrasi 11 April 2022, ada beberapa mahasiswi yang mengangkat poster tinggi-tinggi semacam itu, bisa jadi memang mereka harus diselamatkan. Kalau tidak dinikahi oleh orang-orang baik yang Pancasilais dan pecinta NKRI, mereka bisa jatuh ke pelukan para intoleran, radikalis, dan teroris. Artinya, orang-orang baik menelantarkan mereka dan membiarkan mereka membentuk keluarga-keluarga bajingan bodoh cacing cau. Keluarga ini akan menjadi pengacau ketertiban dan keharmonisan hidup bangsa dan Negara Indonesia. Coba kalau dinikahi oleh orang-orang baik, insyaallah akan terbentuk keluarga-keluarga yang baik dan menjadi pilar keharmonisan hidup dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia ini.

Bapak-bapak yang ganteng dan mapan, apakah tidak terpikirkan untuk menyelamatkan mereka dan menjadi suami yang baik bagi mereka dengan penuh kasih sayang?

Cobalah untuk berpikir dan bertindaklah cepat agar tidak membiarkan mereka tumbuh dalam asuhan para intoleran, radikalis, dan teroris.

Kalau sudah yakin, segera selamatkan mereka, saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat bertengkar dengan istri di rumah masing-masing.”

Ceuk saya ge lieur kalau saya dihadapkan pada masalah seperti ini mah.

Hayu ah, wilujeng parasea sareng istrina masing-masing.

Sampurasun.

Tuesday, 1 February 2022

Kalau Tidak Dicabuli, Jadi Teroris

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berita akhir-akhir ini banyak yang menyedihkan, mengerikan, menjengkelkan, sekaligus membuat marah.

            Bagaimana tidak memusingkan?

Lembaga-lembaga keagamaan yang seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia, ternyata disusupi para pemangsa seks. Beneran rusak nih orang-orang.

            Belum lepas kita dari kekagetan pemaksaan seks itu, muncul lagi berita dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa terdapat 198 pesantren yang terafiliasi atau bekerja sama dengan kelompok-kelompok radikal terorisme.

            Bagaimana kumaha ini teh?

            Masyarakat jadi ketakutan untuk menitipkan anak-anaknya di pesantren. Masyarakat berharap bahwa lembaga pesantren dapat menjadikan anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang unggul tercerahkan dan mampu bermanfaat bagi agamanya, dirinya, keluarganya, masyarakat, dan bangsanya dengan berbagai hal yang positif. Akan tetapi, dengan berseliwerannya berita-berita seperti itu, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap pesantren.

            Kalau pesantren sudah tidak dipercaya, bagaimana nasib akhlak generasi muda ke depan?

            Meskipun demikian, ada berita baik bahwa yang terdeteksi itu hanya 198 pesantren. Artinya, pesantren yang baik-baik saja dan tetap baik jauh lebih banyak. Pesantren yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) saja berjumlah sekitar 23 ribu pesantren, belum lagi yang dimiliki Muhammadiyah, Persis, dan Ormas-Ormas lainnya. Masyarakat tidak perlu terlalu ketakutan, hanya memang harus waspada dan pandai berhati-hati memilih pesantren. Kalau salah memilih, anak-anaknya bisa jadi korban pencabulan atau pelaku terorisme.

            Sebetulnya, bukan cuma pesantren yang terdeteksi, melainkan pula perguruan-perguruan tinggi dan rumah-rumah tahfidz tersusupi pula oleh perilaku seksual bejad dan pemikiran-pemikiran radikal. Kasad TNI Jenderal Dudung pun dengan tegas menyatakan bahwa mahasiswa sudah disusupi dan menjadi target gerakan radikalisme. Oleh sebab itu, seluruh prajurit TNI AD diperintahkannya untuk mencermati simpul-simpul lokasi gerakan radikal itu. Dengan demikian, jika situasi mengarah pada kerusakan, TNI AD dapat langsung memberangusnya. Kata-katanya sangat tegas bahwa prajurit TNI tidak boleh menjadi penakut  dan pengecut seperti ayam sayur, tetapi harus menjadi pemberani dan pemenang untuk menyelamatkan NKRI.

            Intelijen, TNI, BNPT, kepolisian, Densus 88 bergerak dalam bidang penegakkan hukum untuk memberantas berbagai perilaku menyimpang. Akan tetapi, tidak cukup kekuatan mereka untuk melakukannya. Pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga lainnya yang baik-baik dan shaleh-shaleh harus pula ikut terlibat dan bersuara dalam membersihkan dirinya dari racun-racun yang mengatasnamakan pesantren, tetapi menyimpang tersebut. Memang jumlah para penjahat itu sangat kecil, tetapi ibarat pepatah “hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Jumlah yang kecil itu, 198, membuat rusak nama baik pesantren yang jumlahnya puluhan ribu. Susu yang putih bersih dan suci pun menjadi ungu pucat karena nila setitik itu.

            Beranilah bersuara dan bertindak untuk membersihkan diri karena itu senilai dengan jihad besar. Jihad kecil itu mudah, hanya membunuh, terbunuh, merusak, dirusak, mengebom, dibom, hidup, mati, menyakiti, disakiti, menang, atau kalah. Jihad besar itu sulit karena harus memperbaiki diri dari dalam.  Jika kita ibaratkan umat Islam ini bagaikan satu tubuh, tentunya jika bagian anggota tubuh kita ada yang salah, kita harus memperbaikinya agar seluruh tubuh dapat lagi bergerak secara terkoordinasi sesuai dengan fungsinya masing-masing.

            Adalah sangat tepat jika penyimpangan yang dilakukan dalam pesantren, diperbaiki oleh pesantren juga. Hal itu sebagaimana para habib yang menyimpang diperbaiki pula oleh para habib yang lurus.

            Jangan takut melangkah di jalan yang benar untuk berperan serta mewujudkan rahmat bagi semesta alam sehingga hidup menjadi lebih baik dan dunia terasa lebih indah. Allah swt bersama para penebar cinta.

            Sampurasun.

Monday, 6 December 2021

Cepat Kabur, Bro!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Informasi dari kepolisian cukup mengagetkan bagi beberapa kalangan. Akan tetapi, sangat menyenangkan bagi kalangan lainnya. Polisi menyatakan ada “dua orang terkenal” yang akan ditangkap Densus 88 karena keterlibatannya dalam kegiatan terorisme.

Polisi sudah meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai sasaran atau target dalam membereskan teroris. Dalam waktu-waktu yang lalu, Densus 88 sudah basah kuyup dengan para terorisme penuh lumpur dan penuh darah. Mereka banyak menangani pelaku teror yang berada di jalanan dengan senjata membahayakan. Kini polisi meningkatkan upayanya untuk menyasar target-target yang lebih tinggi, seperti, penyandang dana dan otak-otak intelektual yang menggerakkan pelaku teror jalanan. Mereka yang ditangkap adalah bukan orang-orang yang penuh lumpur dan penuh darah lagi, melainkan penuh uang dan penuh kejahatan intelektual di dalam dirinya untuk membuat kekacauan dan pembunuhan. Orang-orang ini mungkin akan berpenampilan perlente, berjas, berdasi, bersorban, berkopiah, berkendaraan mewah, serta punya jabatan tinggi, dianggap terhormat di masyarakat, dan hidup dalam lingkungan institusi yang juga terkenal.

Polisi sudah mengingatkan agar kalau penangkapan terjadi, jangan menilai institusinya atau jabatannya. Hal itu berbeda. Orang yang ditangkap tidak ada hubungannya dengan jabatan dan institusinya, tak ada hubungan dengan status sosial atau politiknya. Polisi akan menangkap mereka hanya karena mereka adalah teroris.

Siapa kira-kira kedua orang terkenal itu?

Kita bisa melihatnya dari perilaku dan pendapat-pendapatnya tentang terorisme dan penanggulangan teroris yang dilalukan Densus 88 serta penanganan lain yang dilakukan pemerintah. Kita bisa menyusun puzzle atau petunjuk yang berserakan di mana-mana sehingga membentuk gambar wajah-wajah orang tertentu.

 Saya sendiri punya dugaan yang bakalan ditangkap itu adalah “Si Dia” dan “Si Eta”. Lihat saja nanti. Kalau sudah ditangkap, nanti insyaallah saya kasih tahu bagaimana kecenderungan Si Dia dan Si Eta itu terhadap terorisme. Sekarang mah kita lihat saja dulu kerja polisi menangkap mereka.

Saya kasih tahu nih buat yang merasa terlibat dan sedang diincar Densus 88, cepat segera kabur ke luar negeri mumpung belum dicekal dan belum ditangkap. Bilang saja, mau ibadat umroh, liburan, atau kuliah di luar negeri. Banyak dari orang Indonesia ini mudah ditipu kok, percaya saja. Bilangnya ibadat atau studi, padahal mah kabur takut ditangkap. Paling balik lagi ke Indonesia kalau sudah over stay, ‘kelamaan’ tinggal di negeri orang. Kalau kelamaan kan biasanya didenda, dihukum, atau diusir ke luar dari negara itu. Usahakan saja pindah kewarganegaraan menjadi warga negara lain, jadi tidak perlu balik lagi ke Indonesia. Kalau balik ke Indonesia, ditangkap sebagai teroris.

Cepat kabur, Bro!

Mumpung masih ada kesempatan.

Sampurasun.

Saturday, 28 August 2021

Taliban Wajib Menertibkan Dirinya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada awal menguasai Afghanistan, 15 Agustus 2021, banyak janji manis dan lembut disampaikan Taliban. Mereka berjanji akan membuat situasi lebih aman, perempuan bisa bersekolah, para pejabat dan pegawai yang mendukung pemerintahan lama akan diampuni, semua elemen akan diajak membangun Afghanistan bersama-sama, rakyat tidak perlu kabur ke luar negeri karena semuanya akan dilindungi. Akan tetapi, berita yang berkembang selanjutnya adalah Taliban banyak melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Janji manis mereka ternyata tidak sesuai di lapangan. Berbeda antara kata dan perbuatan.

            Seorang walikota perempuan pertama di Kota Maidan Shahr, Provinsi Wardak, Afghanistan, Zarifa Ghafari, awalnya diajak para elit Taliban untuk tetap bekerja membangun Afghanistan. Akan tetapi, dalam kenyataannya di lapangan, Taliban mengepung rumah Zarifa dan memukuli penjaga rumahnya. Zarifa hendak ditangkap dan mungkin dibunuh karena Taliban tidak menyukai perempuan menjadi pemimpin.

            Beruntung Zarifa Ghafari berhasil kabur ke Jerman dan diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Rhine-Westphalia Utara (NRW) dan kandidat Kanselir Serikat Armin Laschet (CDU) di Düsseldorf. Meskipun pemerintah dan rakyat Jerman sangat menerimanya dengan baik, tetapi Zarifa tetap merindukan kebisingan, hiruk pikuk, celotehan, dan keriangan rakyat Afghanistan. Kini semuanya menjadi tidak menentu.

            Kejadian ini hanya salah satu contoh tidak nyambungnya antara kata, janji, dan praktik yang dilakukan Taliban. Peristiwa tragis lainnya masih banyak.

            Ada dua hal yang bisa saya duga tentang hal ini, yaitu pertama, Taliban memang pendusta, pembohong. Mereka bermulut manis, tetapi sebetulnya di dalam hatinya kotor dan penuh kebohongan.

            Kedua, sistem informasi, komunikasi, dan komando di dalam tubuh Taliban sendiri memang berantakan. Sangat mungkin memang para elit Taliban berniat tulus untuk berubah dan membangun Afghanistan dengan lebih baik dan bekerja sama dengan seluruh elemen Afghanistan, termasuk memberikan kebebasan pada perempuan untuk mengembangkan potensi dirinya. Akan tetapi, di level menengah dan di level komando lapangan, niat baik para pemimpin puncak Taliban tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka masih betah dan yakin dengan perilakunya kejinya seperti 25 tahun yang lalu.

            Melihat hal seperti itu, agar Afghanistan dipercaya oleh negara-negara lain untuk bekerja sama dalam berbagai bidang demi kemakmuran, Taliban harus mampu menertibkan dirinya sendiri dari level atas hingga level bawah. Kalau perilaku mereka tetap berantakan dan tetap bergaya teroris, tak akan ada negara yang mau bekerja sama dengan mereka. Itu artinya kekacauan menjadi kehidupan mereka, kebodohan adalah ciri mereka, dan kemiskinan adalah gaya hidup mereka.

            Cina mungkin tidak akan peduli dengan itu semua. Bagi mereka yang penting adalah untung dalam berbisnis dengan Taliban. Akan tetapi, Cina juga akan berhitung ulang jika Taliban  tidak mampu membentuk pemerintahan Islam yang terbuka karena akan mempersulit bisnis ke masa depannya dan akan mendapatkan tekanan luar biasa dalam pergaulan internasional yang akan membuat Cina kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat internasional.

            Perbaikan diri sangat diperlukan oleh Taliban. Jika tidak mampu memperbaiki dirinya, Taliban harus sadar dan menggandeng beberapa negara untuk menjadi mentor mereka dalam mengubah situasi menjadi lebih modern dan terbuka demi kemajuan Afghanistan.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/25/sempat-pasrah-akan-dibunuh-taliban-wali-kota-pertama-di-afghanistan-berhasil-kabur-ke-jerman

 

https://www.youtube.com/watch?v=yJG1uq7hfVA&t=10s




Monday, 23 December 2019

Sumbangan untuk Uighur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Awalnya, saya tidak begitu “ngeh” atau perhatian dengan tulisan Dina Sulaeman yang mempertanyakan tentang sumbangan untuk etnis Uighur, Xinjiang, Cina. Hal tersebut disebabkan saya belum tahu ada lembaga-lembaga yang mengumpulkan uang dari masyarakat untuk disalurkan ke Uighur. Akan tetapi, hari ini saya mulai melihat beberapa iklan sumbangan tersebut. Keanehan mulai terlihat pada beberapa waktu lalu postingan para “pembela Uighur” sangat keras dan masif mengampanyekan berita dari “Wall Street Journal” sekaligus menyindir-nyindir NU, Muhammadiyah, dan MUI menerima “suapan” dari Cina, bahkan meledek Presiden Jokowi tidak pro terhadap umat Islam, khususnya Uighur, Cina. Kemudian, postingan mereka mulai melunak dengan narasi mengiba, minta dikasihani, serta merayu umat Islam untuk peduli dan membantu kaum muslim Uighur yang katanya sedang dibantai. Mereka bilang jumlahnya jutaan. Sekarang postingannya berubah menjadi iklan donasi untuk Uighur. Begitulah.

            Upaya mengumpulkan bantuan untuk mereka yang membutuhkan adalah sangat bagus dan itu berpahala sekaligus membangun jaringan silaturahmi. Akan tetapi, yang namanya uang itu sensitif, harus jelas.

            Saya sebagai anggota masyarakat, boleh dong bertanya tentang sumbangan itu. Tidak perlu marah, jawab saja dengan baik dan jelas. Kalau jawabannya jelas dan meyakinkan, banyak umat yang tertarik untuk ikut memberikan sumbangan. Kalau tidak jelas, ya … begitulah.

            Pertama. Berkali-kali saya katakan bahwa dunia ini terbagi dua kubu antara yang percaya ada pembantaian (22 negara) dengan yang tidak percaya, malah mendukung Cina (37 negara).

            Mengapa berpegang pada 22 negara Barat-Kapitalis itu? Mengapa tidak berpegang pada keyakinan 37 negara lainnya yang di dalamnya ada mayoritas muslim?

            Dasar keyakinannya apa?

            Kedua. Dalam iklan sumbangan itu disebutkan bahwa jutaan Uighur teraniaya. Kalau disebut jutaan, berarti lebih dari satu juta.

            Jumlah jutaan itu berdasarkan perhitungan siapa?

            Pernahkah lembaga pengumpul sumbangan itu datang ke Xinjiang, lalu menghitung sendiri dengan pasti jumlah itu? Kapan menghitungnya? Di mana? Bagaimana caranya?

            Ketiga. Kalau pengumpulan sumbangan itu berdasarkan keyakinan atas foto-foto dan video yang tersebar di Medsos, bukankah foto-foto itu sudah diklarifikasi oleh para “netizen” sendiri dan sebagian besar—jika tidak semuanya--adalah hoax dan penipuan?

            Bagaimana bisa mengumpulkan donasi berdasarkan ilustrasi-ilustrasi itu?

            Keempat. Sumbangan yang terkumpul itu nantinya diantarkan menggunakan kendaraan apa? Pesawat terbang? Kapal laut?

            Soalnya, saya mau bandingkan dengan donasi-donasi yang pernah diberikan ke Afghanistan, Palestina, dan Rohingya. Kalau ketiga negara ini jelas datanya, jelas jalurnya, dan pemerintah Indonesia pun membuka aksesnya.

            Kelima. Bentuk bantuannya apa? Uang atau barang?

            Kalau uang, berarti harus bawa banyak uang rupiah, lalu ditukarkan dengan uang yang berlaku di Xinjiang.

            Kalau barang, berarti harus beli dulu.

            Di mana belinya? Di Indonesia, lalu diangkut ke Uighur? Beli di Beijing, lalu diantarkan ke Uighur?

            Lewat mana bantuan itu disalurkan? Darat? Laut? Udara?

            Keenam, lewat wilayah mana masuk ke Cina untuk membawa bantuan itu? Beijing, Shanghai, Hongkong, lewat Turki, atau langsung ke Xinjiang?

            Ketujuh. Bagaimana cara masuk ke Xinjiang dengan membawa banyak barang atau uang?

            Dibagikan langsung?

            Rasanya mustahil deh. Hal itu disebabkan Duta Besar Cina yang ada di Indonesia sebagai perwakilan pemerintah Cina sudah mengatakan bahwa saat ini tidak ada kejadian apa-apa di Xinjiang.

            “Kami ini sebagaimana negara lainnya yang sedang mengatasi terorisme dan radikalisme dengan cara deradikalisasi,” begitu katanya kira-kira.

            Apalagi jika seperti yang digambarkan oleh para anti-Cina bahwa aparat keamanan Cina sangat represif terhadap Uighur, bahkan melakukan penyiksaan dan pembantaian di dalam kamp konsentrasi. Tentunya, sumbangan untuk Uighur tidak akan pernah bisa sampai ke tujuan. Di samping itu, pemberian bantuan itu bisa dianggap sebagai penghinaan pada pemerintah pusat Cina. Pemerintah Cina tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk dan menentang keyakinan serta kebijakannya di wilayah yang dikuasainya. Uighur, Xinjiang adalah di bawah kendali penuh Beijing.

            Sungguh, saya bodoh soal ini. Karena merasa diri tidak mengerti dan bodoh soal sumbangan ini, saya bertanya kepada siapa pun melalui tulisan ini.

            Seperti saya bilang, jangan marah. Jawab saja dengan baik. Kalau jawabannya baik, jelas, dan meyakinkan, banyak umat yang tergerak untuk memberikan sumbangan. Anggap saja tulisan saya ini iklan tambahan bagi lembaga pengumpul dana untuk Uighur agar lebih meyakinkan masyarakat. Kalau jawabannya tidak baik, tidak jelas, dan tidak meyakinkan, yaaa … begitulah.

            Sampurasun.

Sunday, 31 July 2016

Ulama Perancis Salah Besar

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sungguh sangat menyedihkan ketika para ulama Kota Saint-Etienne-du-Rouvray, Perancis menolak memakamkan jasad Adel Kermiche yang masih berusia sembilan belas tahun. Penolakan para ulama itu pun disetujui oleh kaum muslimin di sana. Sikap para ulama itu sungguh sangat berlebihan. Hal itu mengakibatkan pemakaman pemuda tersebut menjadi urusan walikota setempat.

            Adel Kermiche adalah teroris yang telah berjanji setia kepada Isis, kemudian melakukan pembunuhan terhadap seorang pastor Katolik di sebuah gereja. Adel pun tewas ditembak oleh polisi Perancis.

            Para Ulama di sana menolak memakamkan pemuda Adel Kermiche karena tidak ingin selalu disangkutpautkan dengan para teroris dan Isis. Mereka melakukan hal itu tampaknya ingin menunjukkan kepada pemerintah Perancis dan dunia bahwa mereka pun sama-sama tidak setuju atas tindakan teror dan anti terhadap gerakan Isis. Itulah yang membuat mereka “mengenyahkan” Adel dari lingkungan mereka, termasuk jasadnya. Mereka sama sekali tidak ingin terlibat dalam urusan pemakaman Adel.

            Para ulama dan kaum muslim Perancis tampaknya tidak sadar bahwa mereka telah lebih memilih “dunia” dibandingkan “akhirat”. Mereka lebih memilih panggung kehormatan manusia dibandingkan keridhoan Allah swt. Mereka lebih memilih dihormati manusia dibandingkan mendapatkan cinta Allah swt. Mereka berupaya menyelamatkan muka mereka daripada melaksanakan hak dan kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya. Sungguh sangat disayangkan. Mereka harus bertanggung jawab atas hal itu kelak di hadapan Allah swt.

            Adel Kermiche memang teroris dan telah melakukan tindakan yang teramat salah dalam pandangan manusia. Akan tetapi, Adel adalah tetap seorang muslim. Dia memiliki hak untuk diantarkan kaum muslim lainnya ke tempatnya dikubur dan kaum muslim lainnya pun memiliki hak untuk mengantarkannya ke tempatnya dikubur.  Itulah yang diajarkan Muhammad Rasulullah saw.

            Adel pun memiliki hak untuk didoakan agar diampuni dosanya dan mendapatkan keadilan hakiki dari Allah swt. Kaum muslim yang lain pun memiliki hak untuk mendoakan Adel sebagai sesama muslim. Saya mendapat kabar bahwa jika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, saat itu pun ada seribu malaikat yang mendoakan kebaikan untuk kita.

            Adel memang salah kata manusia karena kita tidak tahu alasan pembunuhan yang telah dilakukannya. Apakah dia membunuh hanya untuk senang-senang atau karena Sang Pastor telah melakukan penghinaan kepada Islam dan memprovokasi publik untuk anti terhadap Islam. Akan tetapi, Adel adalah muslim. Adel adalah saudara muslim yang telah khilaf dengan menempuh jalan yang salah. Dia memiliki banyak kebaikan dalam hidupnya dan memiliki pula kesalahan sepanjang hidupnya. Dia tetap akan diukur oleh Allah swt kelak di akhirat tentang kebaikan dan keburukannya.

            Sebejat apa pun kelakuannya, seburuk apa pun perilakunya, sepanjang dia  terikat dua kalimat syahadat tanpa melakukan penghinaan kepada para sahabat Rasul, dia adalah saudara bagi muslim lainnya. Sayangnya, dia adalah saudara yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, dia tidak keluar dari keislamannya. Kesalahannya membunuh tidak membuatnya hilang hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim, kecuali jika dia telah murtad dengan tidak mengakui Allah swt sebagai tuhannya dan mengingkari Muhammad saw sebagai Rasulullah.

            Memang beban para ulama dan kaum muslim Perancis sangat berat setelah negeri itu dan Eropa didera berbagai teror. Mereka kerap dikait-kaitkan dengan Isis dan teror lainnya. Hal itu membuat mereka tertekan dan cukup terintimidasi. Akan tetapi, itu adalah ujian dari Allah swt. Itulah risiko menjadi orang Islam yang selalu dicemburui, difitnah, dan dihina. Sesungguhnya, Allah swt memperhatikan bagaimana mereka menyikapi ujian tersebut dan dengan itu pula Allah swt memberikan penilaian terhadap mereka semua yang nilai itu akan dibuka diakhirat kelak sebagai pahala yang tiada tara.

            Risiko yang harus mereka tanggung dan beban yang harus mereka derita merupakan risiko dan beban kaum muslim seluruh dunia, termasuk kita yang berada di Indonesia. Kita sedang diuji Allah swt dengan hal-hal itu dan Allah swt selalu memperhatikan kita setiap hari, baik kita sedang terjaga maupun sedang tidur. Allah swt tak pernah meninggalkan kita.

            Seharusnya, para ulama dan kaum muslim Perancis tetap melaksanakan hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya. Adel adalah tetap seorang muslim. Cemoohan, makian, dan tuduhan orang-orang kafir adalah ujian yang harus diterima dan disikapi dengan sangat bijak sehingga Allah swt akan memberikan pahala yang sangat besar. Adalah hal yang teramat baik jika kaum muslim Perancis tetap menguburkan Adel Kermiche. Malahan, upacara pemakaman itu dapat menjadi ajang contoh yang bisa dipertontonkan kepada publik Perancis bahwa Adel adalah saudara muslim yang telah melakukan kesalahan dan hal yang telah terjadi kepada Adel tidak perlu diikuti dan tidak harus terjadi pada kaum muslim lainnya. Kaum muslim Perancis dengan warga lainnya hendaknya dapat hidup saling menghargai, menghormati, dan tetap bekerja sama dengan harmonis dalam ketertiban dan kedamaian penuh kasih sayang.

            Kalaulah kaum muslim Perancis tetap mendapatkan hinaan dan cemoohan, sesungguhnya itu adalah ujian dari Allah swt. Itulah risiko yang harus ditanggung sebagai muslim. Itu pula yang akan menambah tiket masuk ke dalam Surga Allah swt yang menyenangkan. Surga itu mahal, penuh risiko, dan harus dibeli dengan susah payah, kerja keras, kebesaran hati, kepedihan, dan beban-beban yang harus ditanggung. Kalau tidak mau menjalani berbagai kesukaran untuk mendapatkan surga, tidaklah perlu menjadi seorang muslim karena Allah swt tidak membutuhkan kalian. Keluarlah dari Islam dan jadilah kafir, lalu nikmatilah hidup sebagai seorang kafir dan tanggung pula berbagai risiko hidup sebagai orang kafir, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau masih mau menjadi muslim dan mendapatkan surga, laksanakanlah hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya, apa pun risikonya dan seberat apa pun beban yang harus ditanggung.


Kebahagiaan untuk Indonesia

Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib bersyukur karena setiap muslim selalu melaksanakan hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya. Seberat apa pun kesalahan seorang muslim dan sekeji apa pun perbuatannya, dia tetap mendapatkan hak untuk dikuburkan sebagai muslim dan didoakan sebagai saudara sesama muslim. Para teroris, pengedar narkoba, pembunuh keji, pemerkosa, dan lain sebagainya, tetap diantarkan menuju kuburnya dan mendapatkan doa-doa untuk diampuni dan diterima kebaikannya oleh Allah swt. Terserah Allah swt yang akan melakukan tindakan-Nya kepada mereka.

            Demikian pula para penjahat lain yang tidak beragama Islam. Mereka pun mendapatkan haknya sebagai anggota dari agamanya meskipun telah dibunuh karena telah melakukan pelanggaran hukum. Mereka tetap dihormati karena mereka “dianggap” telah “membayar” kejahatan yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tak ada lagi orang yang memusuhinya karena dia telah meninggal yang sekaligus menghentikan berbagai kejahatannya sendiri.

            Tak ada gunanya memaki orang yang telah meninggal. Tak ada manfaatnya memusuhi orang yang sudah tak bernyawa.

            Amatlah indah jika kaum muslim Indonesia yang berada di Perancis dapat mengingatkan saudara-saudaranya sesama muslim untuk melaksanakan hak dan kewajiban muslim atas muslim lainnya, termasuk kepada Adel Kermiche. Kalau bisa, jadikanlah kearifan lokal Indonesia mengenai penguburan jenazah sebagai contoh bagi kaum muslim Perancis. Tak akan ada yang menuduh kaum muslim Indonesia sebagai kaum teroris di Perancis karena sesungguhnya dunia jika jujur, sangat mengetahui bahwa Indonesia adalah negeri paling toleran dan paling ramah di dunia serta sangat membenci terorisme.  Insyaallah.




Saturday, 16 April 2016

Mari Kita Bully Filipina!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Bukannya selesai soal penculikan warga Negara Indonesia di Filipina ini, malah makin ruwet. Bukannya dibebaskan WNI korban-korban penculikan itu, malahan makin bertambah jumlahnya. Asalnya sepuluh, sekarang ditambah lagi empat, jadi 14. Sekarang Indonesia tambah kerjaan harus membebaskan sandera penculikan dengan jumlah yang bertambah. Kacau.

            Lama-lama kalau tidak ada penyelesaian, para penculik itu menganggap Indonesia sebagai ATM mereka. Ketika mereka nggak punya uang, pergi ke perairan, lalu cari orang Indonesia, langsung gesek, tunggu beberapa saat, cair deh.

            Indonesia sudah sangat beradab dengan menghormati konstitusi Filipina yang melarang TNI atau pasukan asing masuk ke wilayah mereka, tetapi ternyata mereka tidak bisa menyelesaikan sendiri dengan baik, malahan semakin ngaco. Filipina itu negara sok hebat, padahal lemah sekali. Jangankan untuk membebaskan sandera, untuk menjaga wilayahnya sendiri saja, tidak bisa.

            Bagaimana bisa para penjahat dan perampok itu bisa leluasa bergerak kesana-kemari di wilayah yang katanya Negara Filipina?

            Itu menandakan kekuatan militer mereka teramat lemah, cuma sehebat Hansip di pos Siskamling di RW-RW di Indonesia. Anehnya, sudah tahu lemah, sok kuat lagi dengan menolak TNI untuk masuk membebaskan WNI.

            Kita bisa lihat bagaimana lemahnya kekuatan mereka untuk menjaga wilayah mereka sendiri. Kita juga bisa lihat bagaimana tentara mereka “dikerjai” Abu Sayyaf yang digebrak bom sedikit saja langsung pada juntai. Kita juga bisa lihat bagaimana para sandera dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia      tidak juga tertangani dengan baik. Sudah tahu punya tentara lemah, tetapi bergaya sok jago.

            Lemahnya Fililipina dan sok jagonya mereka membuat Indonesia cukup rumit. Indonesia harus melakukan hubungan dengan dua pihak, yaitu Negara Filipina dan kelompok Abu Sayyaf. Mestinya, kan cukup hanya berkoordinasi dengan pemerintah yang sah, kemudian dilakukan penanganan yang lebih serius.

Seharusnya, Filipina membuka diri agar pasukan asing bisa masuk. Kalau tidak boleh masuk, Filipina harus membuktikan diri memiliki kemampuan yang cukup. Akan tetapi, kenyataannya boro-boro memiliki kemampuan yang cukup, siap saja tidak.

Indonesia dan negara-negara lain yang warganya disandera di Filipina harus bersama-sama mendesak Filipina untuk membuka diri dari pasukan asing. Kemudian, bekerja sama membebaskan para sandera.

Kalau Filipina tidak mau juga membuka diri, sebaiknya dorong mereka untuk membiarkan Abu Sayyaf memiliki negara sendiri di wilayah itu. Dengan demikian, Abu Sayyaf tidak lagi menjadi teroris, tetapi menjadi negara resmi yang baru. Dengan terciptanya negara resmi, akan terjadi pula hubungan internasional sebagaimana yang dilakukan negara-negara lainnya. Di samping itu, negara baru itu akan melakukan pula hubungan diplomatik dengan negara-negara lainnya. Hubungan yang terjadi, baik itu bersifat positif maupun negatif, hanya akan berhubungan dengan negara baru ciptaan Abu Sayyaf, tidak lagi melalui Filipina.

Untuk apa Filipina mempertahankan diri dengan terus mengklaim wilayah-wilayah yang sama sekali tidak dikuasainya?

Bagi saja wilayah itu dengan Abu Sayyaf secara resmi, toh tentara Filipina ternyata tidak bisa mengimbangi kehebatan kelompoknya Abu Sayyaf!

Sekarang ini kan semua negara menjadi rumit karena harus melalui proses “izin” dari Filipina untuk melakukan operasi militer penyelamatan. Sementara itu, Filipina sendiri cuma punya tentara sekualitas para peronda malam di kampung-kampung Indonesia.

Kalau Abu Sayyaf memiliki negara sendiri, lalu masih melakukan kejahatan, urusan bisa langsung berhadapan dengan negara baru itu. Mau perang atau bisnis, langsung dengan Abu Sayyaf. Sekarang ini justru masalahnya ada pada Negara Filipina sendiri. Bagi banyak negara, terutama Indonesia, Filipina hanya menjadi “penghalang” untuk operasi militer penyelamatan. Kata orang Sunda, Filipina itu ngagokan, ngagokin, cuma jadi hambatan. Ku batur  ulah, ari manehna euweuh kabecus, ‘sama orang lain tidak boleh, tetapi dirinya sendiri tidak becus’.

Indonesia harus mendorong negara-negara lain yang warganya sama-sama disandera untuk mendesak Filipina membuka diri bagi militer asing. Kemudian, bekerja sama membebaskan para sandera itu. Kalau Filipina tidak mau juga, ingatkan bahwa mereka itu adalah negara yang lemah dan menyedihkan, daripada harus menjaga wilayah yang besar tanpa kemampuan yang cukup, biarkan Abu Sayyaf punya negara resmi sendiri. Jadi, urusan apapun langsung dengan kelompok itu.

Kalau sudah menjadi negara baru yang resmi, mudah-mudahan mereka tidak merampok lagi dan menculik lagi karena urusannya bisa menjadi perang total yang banyak ruginya. Sekarang ini mereka merampok karena mereka sedang berjuang. Perampokan dan penculikan yang mereka lakukan dianggapnya sebagai bagian dari perjuangan mereka.

Indonesia juga begitu kan dulu?

Para pejuang Indonesia itu terkadang jadi perampok, jadi penculik juga.

Memangnya mobil pertama Presiden Soekarno itu dari mana?

Mobil itu hasil maling yang dilakukan oleh seorang pejuang. Dia mencuri mobil milik orang Jepang, lalu mobil itu diberikan kepada Soekarno. Mobil itu lalu digunakan Soekarno untuk berjuang. Sekarang mobil itu disimpan di kantor DHN 45, Jakarta.

Pejuang Indonesia pun melakukan penculikan. Mereka menculik serdadu Belanda untuk ditukarkan dengan para pejuang yang ditawan oleh pihak Belanda. Satu prajurit Belanda ditukar dengan empat puluh pejuang Indonesia.

Jadi, kalau nggak bisa menangani sendiri dan memang sudah terbukti tidak mampu, Filipina harus didesak membuka diri agar militer asing bisa masuk. Kalau tidak mau buka diri, sarankan mereka untuk membagi wiilayah dengan Abu Sayyaf agar tidak lagi terjadi teror, tetapi akan terjadi hubungan equal antara Filipina dengan negara baru milik Abu Sayyaf.

Kalau itu nggak mau, ini nggak mau juga bagaimana?

Kalau begitu, Filipina adalah negara terbloon di dunia. Pemerintah Indonesia harus melarang warganya untuk berbisnis dengan Filipina dan negara lain jika harus melalui jalur-jalur yang tidak aman. Cari jalur lain meskipun harus dengan mengeluarkan biaya yang tinggi dan waktu lebih lama.

Daripada terjadi penculikan lagi yang nyusahin semua orang, mendingan keluar tambahan biaya dan waktu.

Kalau tambah biaya dan tambah waktu, semuanya akan jadi tambah mahal. Banyak sekali yang dirugikan, terutama Filipina sendiri.

Soal para sandera itu bagaimana?

Sementara ini, mari kita bully habis-habisan pada berbagai Medsos negara lemah sok jago yang bernama Filipina itu!