Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts
Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts

Sunday, 4 September 2022

Ngerinya Penceramah Teroris

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kata mereka, dia ulama. Kata saya, dia teroris.

            Kalau menyimak isi ceramahnya, ngeri-ngeri tidak sedap rasanya. Dia bilang bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus dihancurkan. Kalau NU hancur, Muhammadiyah akan mati dengan sendirinya. Kalau NU dan Muhammadiyah roboh, Pancasila akan kehilangan motivator dan akselerator.

            Kalimat sebegitu saja sudah mengerikan bagi saya.

Kalau Pancasila runtuh, Jawa Timur yang merupakan wilayah para kiyai, para wali, dan para guru NU dapat dikuasai hingga roboh. Kalau Jawa Timur runtuh, Pulau Jawa dapat dikuasai. Kalau Pulau Jawa sudah dikuasai, Indonesia pun menjadi sangat lemah.

Jika Indonesia dapat dikuasai, negara-negara sekitarnya akan lebih mudah dikendalikan dan seterusnya … dan seterusnya ….

Bagi saudara-saudaraku para nahdliyin dan muhammadiyin—istilah ini kalau salah, kasih tahu saya—jaga diri, jaga keyakinan, dan jaga akhlak kalian. Orang-orang seperti saya bersama kalian. Kalau kalian bisa menjaganya, Pancasila semakin kokoh. Kalau Pancasila kokoh, Jawa Timur semakin kuat, Pulau Jawa pun tetap tegak. Jika Pulau Jawa kuat, Indonesia tetap eksis dan semakin tegak. Jika Indonesia tetap tegak berdiri, negara-negara sekitarnya akan aman. Itu artinya, jika bisa menjaga diri, keyakinan, dan akhlak, kita telah menjaga 270 juta rakyat Indonesia dan ratusan juta rakyat lain yang merupakan rakyat negara tetangga kita. Jika rakyat negara tetangga kita terjaga, manusia lain pada berbagai belahan dunia ini ikut terjaga.

Bukankah dengan menjaga diri, keyakinan, dan akhlak artinya sama dengan menjaga ratusan juta bahkan mungkin miliaran manusia agar hidup aman?

Bukankah itu merupakan tindakan baik yang berpahala?

Insyaallah, dengan menjaga diri kita saja dari pikiran-pikiran jahat, kita telah menyelamatkan pula manusia lain. Kita akan kebanjiran pahala di akhirat kelak sebagai modal untuk menjadi penduduk surga. Aamiin.

Sampurasun.

Sunday, 29 May 2022

 

Gus Dur-nya Muhammadiyah, Buya-nya NU

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya masih belum bisa konsentrasi menulis yang lain karena masih mengingat almarhum Buya Syafii Maarif. Tiba-tiba saja mengingat pula Gus Dur (alm.) pemimpin Nahdlatul Ulama (NU). Mereka berdua adalah sahabat akrab, malah seperti saudara. Melalui mereka berdua perbedaan Muhammadiyah dan NU bisa diredam, baik perbedaan pandangan dan pilihan politik, maupun perbedaan amaliyah dan ritual-ritual keagamaan. Mereka berdualah yang meminimalisasi konflik-konflik keras yang pada masa lalu kerap terjadi antara Muhammadiyah dan NU.

            Di tingkat bawahnya pun mayoritas mengikuti mereka, mulai dewasa untuk saling menghargai perbedaan. NU dan Muhammadiyah tetap berbeda, tetapi sudah saling memahami dan menghormati.

            Kesamaan Gus Dur dan Buya Syafii Maarif adalah dalam hal kemanusiaan dan kebangsaan. Mereka sama-sama mencintai bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seberat apa pun, sesulit apa pun, sekotor apa pun fitnahan, mereka tetap pada pendiriannya untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Dalam hal hubungan keakraban, keduanya sering saling mengunjungi. Tak heran jika Syafii Maarif disebut sebagai Gus Dur-nya Muhammadiyah, sedangkan Gus Dur disebut Buya-nya NU. Foto Syafii Maarif dan Gus Dur saya dapatkan dari Kurusetra-Republika.


Buya Syafii Maarif dan Gus Dur (Foto: Kurusetra-Republika)


            Ketika Gus Dur wafat, para pemikir NU banyak yang menyandarkan pendapatnya pada pemikiran Buya Syafii Maarif. Demikian pula anak-anak Gus Dur yang sering menelepon Buya untuk meminta nasihat setelah Gus Dur wafat. Sebaliknya, Buya sering mengontak anak-anak Gus Dur seperti Yenny Wahid untuk berdiskusi tentang masa depan bangsa Indonesia seperti kepada ayahnya dulu. Bahkan, menurut Yenny Wahid, Buya sering merindukan Gus Dur, terutama saat merasa kesepian dalam menegakkan toleransi. Tak heran, pada hari Buya wafat banyak pengurus NU dari tingkat pusat hingga tingkat kelurahan yang menyatakan belasungkawa di akun Medsos masing-masing.

            Mereka berdua sangat konsisten dalam menjaga Indonesia. Hal ini pun membuat organisasi Muhammadiyah dan NU berada dalam jalan yang sama untuk menjaga Indonesia. Saking konsistennya, ada yang bilang bahwa Indonesia seharusnya sudah dari dulu hancur berantakan seperti Suriah jika tak ada Muhammadiyah dan NU. Keduanya telah nyata menjaga keutuhan Indonesia.

            Saya sendiri pun sesungguhnya terpengaruhi oleh kedua organisasi itu. Saya belajar berpikir modern tentang Islam dari teman-teman saya yang berada di Muhammadiyah. Saya juga belajar banyak tentang hal ihwal dzikir dan kesabaran dari saudara-saudara di NU. Dari merekalah saya banyak belajar dan bertahap menjalankan ajaran Islam.

            Kini kedua tokoh pilar kebangsaan yang memimpin dua organisasi besar itu telah tiada. Semoga mereka berdua ada yang menggantikannya dari Muhammadiyah dan NU agar cita-cita dan kerja keras mereka tetap berlanjut dalam menjaga keutuhan bangsa dan Negara Indonesia. Jangan sampai dua organisasi besar ini tergoda untuk jatuh dalam konflik yang diakibatkan hal-hal sepele, kecil. Allah swt telah memberikan banyak anugerah untuk Indonesia dan itu harus dijaga, jangan sampai rusak karena dimasuki gagasan-gagasan lain yang sudah membusuk dan dapat menghancurkan kebersamaan hidup di Indonesia.

            Buya dan Gus Dur adalah orang-orang hebat, memiliki banyak umat, dan pemahaman keagamaan yang tinggi. Mereka adalah dua sahabat yang harus terus dilanjutkan cita-citanya untuk keberkahan, keharmonisan, dan kemakmuran Indonesia.

            Sampurasun.

Saturday, 7 November 2020

Rizieq Pulang, Biasa Sajalah


oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau nggak salah, sebelumnya Rizieq Shihab sudah tujuh kali berencana pulang dari Arab ke Indonesia, tetapi tidak juga pulang. Pada November 2020 ini kembali mengutarakan niatnya untuk pulang ke Indonesia.

            Dalam menghadapi kepulangannya, sebaiknya bersikap biasa saja, tidak perlu berlebihan. Hal ini kan biasa terjadi setiap detik; ada orang yang pergi dan pulang dari dan ke Indonesia. Kalaulah disebut pemimpin Ormas, ya tetap biasa saja. Ormas di Indonesia itu banyak, misalnya, NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, GMNI, Pemuda Pancasila, dsb.. Kalau ketuanya atau pemimpinnya pergi dan pulang Indonesia-luar negeri, biasa saja, tidak heboh. Begitu pula dengan kepulangan Rizieq ke Indonesia, biasa sajalah, jangan diheboh-hebohin.

            Bagi para pendukungnya, pecintanya, kalau menyambut, biasa saja bersikap, tidak perlu berlebihan, tenang saja. Demikian pula pihak-pihak yang ingin memenjarakan Rizieq, biasa saja bersikap. Ini negara hukum, segera proses dan konfirmasi ulang laporan-laporan kepada polisi tentang hal-hal yang diakibatkan ulah Rizieq dan belum diproses.

            Hadapi dan selesaikan kasus-kasus hukum yang tertunda. Tidak perlu bertingkah aneh-aneh, biasa saja. Kalau memang tidak bersalah, bebas. Kalau ternyata bersalah, ya harus menerima konsekwensinya untuk menjalani hukuman. Begitulah hidup sebagai manusia beradab pada zaman ini.

            Rizieq sudah terbukti tidak bersalah dalam dua kasus, yaitu “chat pornografi” dan “penghinaan terhadap Pancasila”. Kedua hal itu sudah selesai dan dihentikan penyidikannya oleh Polri. Sisanya, hadapi dan selesaikan, misalnya, soal “campur racun”, soal tanah, dan soal tuduhan penghinaan agama yang dilaporkan oleh kelompok pemuda Katolik.

            Kalau sudah selesai dan dihadapi secara beradab, bareng membangun Indonesia.

            Kabarnya dia akan memimpin revolusi?

            Baguslah, bareng-bareng dengan pemerintah Jokowi memimpin revolusi mental, revolusi akhlak, atau revolusi lainnya yang mengisi kemerdekaan dengan beragam pembangunan, baik lahir maupun batin. Gotong royong jauh lebih baik dibandingkan gontok-gontokan. Kerja sama jauh lebih positif dibandingkan berkonflik. Menciptakan suasana sejuk jauh lebih baik dibandingkan menciptakan suasana panas dan emosional.

            Di hadapan kita ada banyak yang harus dihadapi bersama, seperti, Covid-19, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi yang harus dikejar. Bekerja bersama jauh lebih baik.

            Sampurasun.

Friday, 20 December 2019

Buka Dikit, … Bray


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Biasanya, kalau mendapatkan informasi, berita, ataupun kisah, sikap kita biasa-biasa saja jika informasi itu tidak bermasalah. Kita hanya menyimak dan mendapatkan informasi baru yang tersimpan dalam memori di otak kita. Lain halnya jika informasi yang kita dapatkan itu sensitif, lalu bermasalah. Misalnya, soal para nabi, para pemimpin, atau peristiwa yang menguras emosi banyak orang. Banyak timbul pertanyaan terkait kebenaran informasi yang beredar.

            Wah, masa iya? Betulkah itu? Mengapa terjadi seperti itu? Kata siapa? Masa sih?

            Orang yang kritis pasti memiliki banyak pertanyaan. Berbeda dengan orang yang iya-iya saja, biasanya langsung percaya dan mengamini. Setiap orang berbeda-beda. Itu kenyataannya.

            Terkait isu etnis Uighur, Xinjiang, Cina, jelas banyak pertanyaan. Saya sendiri bertanya, sumber berita itu dari siapa. Ternyata, berita yang beredar, baik di media-media nasional maupun internasional, termasuk di media sosial, seluruhnya berawal dari media “Wall Street Journal” (WSJ).

            Jika kita potret rekam jejak dari WSJ, memang banyak mempengaruhi opini dunia dan mengarahkan pada perubahan politik suatu negara atau beberapa negara. Misalnya, dulu WSJ getol sekali memberitakan bahwa Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husein memiliki, bahkan memproduksi senjata pemusnah massal, senjata biologi, kimia. Akibatnya, opini dunia tergiring yang membuat negara-negara Barat menyerang Irak. Jatuhlah Sadam Husein, Irak pun hancur. Hingga kini Irak masih sangat babak belur dan termasuk negara yang tidak aman untuk ditinggali. Padahal, sampai sekarang, tidak ditemukan bukti bahwa Irak memiliki senjata biologi, kimia yang bisa memusnahkan manusia itu. Isu yang digoreng WSJ tidak ada buktinya, tetapi Irak sudah hancur.

            Demikian pula di Afghanistan, WSJ pun ikut banyak memberitakan tentang ketimpangan-ketimpangan dan konflik-konflik antarkelompok perlawanan dengan isu-isu muslim serta krisis kemanusiaan. Hingga saat ini Afghanistan dalam keadaan tertinggal, miskin, bodoh, dan tidak aman.

            Di Suriah pun WSJ berperan dalam memanas-manasi situasi dengan memberitakan kekejaman pemerintah Bashar al Assad, gerakan politik Isis, serta timbulnya kelompok-kelompok pemberontak dengan segala gerakannya. Akibatnya, Suriah hancur. Allepo yang dulunya seperti Jakarta, berantakan, tidak jelas bentuknya.

            Buka dikit saja rekam jejak sumber berita itu, lalu … bray …, kita dapat menemukan pertimbangan lain terhadap mereka.

            Saya tidak mengatakan bahwa berita dari WSJ selalu bohong, ada informasi bermanfaat dari mereka. Meskipun demikan, kebohongan yang dibuat WSJ banyak merusakkan negara lain dengan sangat hebat.

            Sekarang WSJ “berkisah” soal Uighur dengan menyeret-nyeret NU, Muhammadiyah, dan MUI. Pengaruhnya di dalam negeri digoreng hingga mendiskreditkan Jokowi. Mungkin harapannya Negara Indonesia menjadi goncang.

            Maukah kita menjadi seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah?

            Sebagian besar masyakarat Indonesia tidak menginginkannya. Hanya sebagian kecil, keciiil pisan, yang mungkin berharap Indonesia babak belur. Bagi yang sangat ingin seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah, bahkan tidak bisa tidur karena ingin seperti itu, ganti kewarnanegaraan saja, kemudian nikmatilah, hidup bahagia di sana.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Sunday, 1 December 2019

Seandainya Indonesia Khilafah Hari Ini


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya ini sebetulnya oke-oke saja mau sistem politik apa pun asal ada “kesepakatan”. Mau kerajaan, presidensial, parlementer, republik, kekaisaran, ataupun kekhalifahan, it’s ok. Akan tetapi, sistem yang pasti saya tolak adalah sistem kerasulan karena kerasulan sudah selesai ditutup oleh Muhammad saw. Tak ada lagi nabi setelah beliau. Sistem yang berlaku sekarang di Indonesia adalah berdasarkan “kesepakatan” para pendiri bangsa waktu itu. Mereka yang tidak mau tunduk pada kesepakatan sudah dikalahkan secara politik dan militer. Jadilah sistem politik kita seperti sekarang ini.

            Kalau mau mengganti sistem politik sekarang, batalkan dulu kesepakatan lama, lalu buat kesepakatan baru. Mari berandai-andai, kita sepakat untuk mengganti sistem politik dengan sistem kekhalifahan pada hari ini atau minggu ini atau bulan ini atau tahun ini.

            Kalau kita sepakat mengganti dengan sistem kekhalifahan, memang siapa orang yang akan menjadi khalifah di Indonesia sebagai pemimpin 267 juta rakyat ini?

            Sehebat apa sih dia?

            Kalau kita tanya ke NU, mungkin jawabannya orang yang paling tepat untuk menjadi khalifah adalah Maruf Amin, Said Aqil Siradj, atau Habib Luthfi. Kalau kita tanya ke Muhammadiyah, mungkin jawabannya adalah Khalifah Haedar Nashir, Syafii Maarif, Amien Rais, atau Din Syamsudin. Kalau kita tanya ke Persis, mungkin jawabannya adalah Aceng Zakaria atau Yusril Ihza Mahendra. Kalau kita tanya ke FPI jawabannya mungkin Rizieq Shihab. Kalau kita tanya ke HTI, mungkin jawabannya Khalifah Ismail Yusanto.

            Akan berbeda pula jika kita tanya ke kelompok-kelompok nasionalis dan ke kelompok nonmuslim. Jawabannya akan sangat beragam dan memunculkan banyak nama.

            Jadi, siapa atuh orang yang pantas menjadi khalifah jika Indonesia menggunakan sistem kekhalifahan saat ini?

            Dengan banyaknya kelompok dan banyaknya aspirasi, kita akan menggunakan sistem pemilihan untuk memunculkan seorang khalifah. Itu artinya kita harus menggunakan cara-cara demokrasi karena pemilihan umum adalah salah satu ciri demokrasi.

            Balik lagi ke pemilihan bukan?

            Kalau tidak mau menggunakan pemilihan, kita akan terjebak pada pertarungan fisik yang bisa menghancurkan segalanya dan jatuh menjadi bangsa yang sangat terbelakang dan sangat miskin. Setiap kelompok menganggap pemimpinnya yang  paling pantas untuk menjadi khalifah.

            Kalau sudah semrawut dan saling bunuh, siapa yang rugi? Siapa yang untung?

            Kita yang rugi. Orang asing yang untung.

            Sampurasun.

Saturday, 9 November 2019

Semua Bisa Klaim Paling Kaffah


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Semua organisasi, komunitas, kelompok, grup, boleh dan bisa mengklaim diri sebagai manusia-manusia paling kaffah dalam menjalankan ajaran Islam. Semua tidak dilarang menganggap dirinya paling benar, paling menyeluruh dalam menjalankan Islam, paling total, atau setidaknya paling paham tentang “memasuki Islam secara kaffah”.

            Akan tetapi, benarkah klaimnya itu? Benarkah anggapan dirinya itu? Benarkah cara-cara yang dilakukannya itu?

            Kalaulah memang benar, benar menurut versi siapa? Menurut organisasi yang mana?

            Kalau ditanya pada NU, mungkin jawabannya adalah kaffah menurut cara dan versi NU. Kalau ditanya pada Muhammadiyah, jawabannya mungkin menurut cara dan versi Muhammadiyah. Kaffah dalam cara dan versi Persis mungkin berbeda dengan NU dan Muhammadiyah. Demikian pula jika ditanyakan pada organisasi-organisasi yang muncul belakangan ini, seperti, FPI atau HTI yang telah dibubarkan, mereka punya pemahaman dan cara sendiri. Hal yang sama akan terjadi jika ditanyakan pada Isis, Al Qaeda, Ash Shabab, atau Boko Haram, mereka punya pemahaman sendiri juga.

            Kalau pemahaman Islam Kaffah itu sama, kenapa tidak bersatu dalam satu organisasi saja untuk memperjuangkan yang sama?

            Kenyataannya, mereka tetap pada organisasinya masing-masing karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukan organisasinya adalah paling tepat dan cocok dengan diri mereka.

            Jadi, Islam Kaffah menurut cara dan versi siapa yang benar?

            Untuk menemukan pandangan Islam Kaffah yang paling benar, ada tiga cara, yaitu pertama, berdebat hingga lelah dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan akal, bukan dengan emosi rendahan. Kedua, menunggu Allah swt memberitakan kebenaran dengan cara-Nya sendiri di dunia ini. Ketiga, membiarkan semuanya sebagaimana adanya, lalu menyerahkannya kepada Allah swt agar diberitahukan kebenaran-Nya di akhirat nanti di pengadilan Illahi, siapa yang benar dan salah, siapa yang masuk surga dan neraka, bergantung nanti setelah kiamat.

            Berhati-hatilah menganggap diri paling benar sambil menunjuk yang lain adalah salah karena pengetahuan itu berkembang, para ahli ilmu terus meneliti, dan bacaan pun bisa bertambah. Bisa jadi apa yang kita anggap benar hari ini, ternyata salah pada hari lainnya.

            Bukankah sudah banyak contohnya?

            Mereka yang dulunya bergabung Isis atau melakukan aksi-aksi melawan negara yang sah, justru berbalik menjadi warga negara yang sangat baik. Bahkan, bekerja sama dengan pemerintah untuk menyadarkan saudara-saudaranya agar melaksanakan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dalam koridor NKRI. Keyakinan bisa berubah.

            Sering-seringlah membaca Surat Al Fatihah karena di sana ada doa “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus (benar)”. Semoga Allah swt mengantarkan kita ke jalan yang lurus itu.

            Bersikaplah bijak. Jangan mengklaim diri paling benar dan pasti masuk surga, kemudian menyalahkan orang lain sebagai calon penghuni neraka. Hal itu akan menyebabkan kita mudah mengafirkan orang lain. Itulah takfiri. Sikap itu akan mengacaukan perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan kaum muslimin.

            Sampurasun.

Monday, 15 May 2017

Muhammadiyah Yang Tidak Terikat Muhammadiyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno adalah sosok unik yang sangat menarik. Ia adalah orang yang mencintai pengetahuan. Akan tetapi, ia lebih mencintai pengetahuan yang disebarkan dan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Ia tidak menyimpan pengetahuan hanya di kepalanya. Ia tidak menumpuk-numpuk pengetahuan hanya di dalam memorinya. Ketika ia mendapatkan pengetahuan baru, disebarkannya pengetahuan itu untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak pernah ragu untuk mengungkapkan segala yang dia anggap benar dan tidak bimbang untuk bersuara lantang menantang siapa pun yang berbeda pendapat dengan dirinya. Ia akan memuntahkan seluruh keyakinannya di mana saja dan kapan saja tanpa ragu meskipun harus mengagetkan orang lain.

            Soekarno tidak suka berbicara “berputar-putar” seperti puisi yang membingungkan orang. Ia lebih suka berbicara langsung pada inti masalahnya dengan menggelegar agar mendapatkan perhatian orang banyak karena sifat masyarakat umum adalah “mengantuk” dan tidak pernah serius mendengarkan perkataan yang benar dan baik, apalagi jika harus berpikir.

            Hal itu seperti yang dikatakannya sendiri, “Kalau mau membangkitkan perhatian publik, orang musti ambil palu godam yang besar dan pukulkan palu itu di atas meja sehingga bersuara seperti guntur.”

            Ia sangat menyukai tokoh-tokoh dunia yang bersuara lantang dan tidak pernah ragu dalam berpendapat dan mengeluarkan isi pikiran-pikiran mereka. Soekarno tidak ragu dan tidak peduli jika mendapatkan fitnah. Sepanjang berpikir lurus dan benar, ia yakin dengan langkahnya.

            “Tuan barangkali menertawakan saya punya perkataan ini, tetapi lihatlah cara kerja orang-orang yang hebat. Setuju atau tidak setuju dengan mereka punya pikiran-pikiran, itu adalah perkara lain, tetapi lihatlah cara mereka bekerja. Tidak ada satu pun yang muntar-muntir.

            Mereka punya pikiran, mereka bantingkan di tengah khalayak sehingga mendengung dan mengilat!

            Luther tidak pernah setengah-setengah, Marx, Bakunin, Lenin,  dan Trotzky tak pernah memakai perkataan sutera. Vivekananda laksana bom dari kapal udara. Musolini punya falsafah hidup leef gevaarlijk. Hitler punya cita-cita hidup tertinggi ialah menjadi Trommler (pemukul canang) yang selalu bertindak dengan butalitat.

            Maukah Tuan satu teladan yang Tuan lebih kenal?

            Ambillah teladan dari Nabi Muhammad. Sejak hari pertama buka suara terang-terangan di Kota Mekah, ia sudah membikin ‘onar’. Ia tidak berkeliling dan muntar-muntir. Ia ketengahkan ia punya pikiran-pikiran dengan cara yang mentah-mentahan.”


Berani Otokritik
Soekarno pun tidak segan-segan mengkritik dirinya sendiri maupun organisasinya. Bahkan, tidak ragu untuk membuka kritikannya itu di hadapan publik.

            Ketika dibuang ke Endeh oleh penjajah, dia banyak bertukar pikiran dan berdiskusi dengan tokoh Persatuan Islam (Persis) A. Hasan yang berada di Bandung dengan surat-menyurat. Ketika bebas dari pembuangan, ia memasuki organisasi Islam Muhammadiyah. Ia bergabung dengan Muhammadiyah karena memiliki beberapa kesamaan gagasan, terutama dalam berpikir secara lebih modern. Meskipun demikian, cintanya kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw adalah jauh melebihi rasa cintanya pada organisasi Muhammadiyah. Oleh sebab itu, dasar pikirannya adalah Al Quran dan sunnah Nabi. Ia akan menolak sebuah aturan atau dogma yang nyata-nyata tidak berdasarkan Al Quran dan sunnah.

            Tak heran meskipun berada dalam Muhammadiyah, ia akan mengkritik habis Muhammadiyah jika bertentangan dengan keyakinannya. Ia akan mendukung penuh Muhammadiyah jika ia menyetujui pendapat organisasi itu. Akan tetapi, Soekarno akan menolak dan membangkang jika tidak menyetujuinya. Ia akan tetap berdiri dan berjalan lurus dan teguh dalam keyakinannya sendiri.

            “Saya masuk di kalangan Muhammadiyah bukanlah berarti  saya menyetujui semua hal yang ada di dalamnya. Di dalam Muhammadiyah terdapat banyak elemen-elemen yang menumbuhkan keinginan saya untuk mengabdi kepada Islam. Pada azasnya Muhammadiyah adalah mengabdi kepada Islam, tetapi tidak semua sepak terjangnya saya mufakati.”

            Begitulah seharusnya setiap muslim bersikap kepada organisasinya. Wajib hukumnya setiap muslim mendukung organisasinya jika organisasinya melangkah pada jalan yang benar. Akan tetapi, setiap muslim wajib mengingkari, membantah, melawan, dan melakukan otokritik kepada organisasinya sendiri jika organisasinya melangkah dalam jalan yang salah, ceroboh, bodoh, tolol, bahkan memalukan. Janganlah mematuhi pemimpin yang melakukan hal yang salah karena akan terbawa salah. Janganlah terus-menerus membela organisasi jika organisasinya itu melakukan penyimpangan dan gerakannya tidak masuk akal. Janganlah terus mencari-cari dongeng-dongeng palsu yang disandarkan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw hanya untuk melindungi dan menutupi kebodohan dan kesalahan oraganisasi dan pemimpinnya. Contohlah Soekarno yang berdiri teguh dalam keyakinannya. Untuk itulah, Allah swt menurunkan QS Al Ashr yang mewajibkan setiap muslim untuk saling menasihati, saling mengkritik, saling memberikan pengetahuan agar hidup ini menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

            Hal yang sangat penting untuk dipahami adalah setiap muslim berhubungan dengan Allah swt adalah tidak melalui pihak lain, tidak melalui organisasinya, tidak melalui ulama, tidak melalui ustadz, tidak melalui imam, tidak melalui masjid. Setiap muslim berhubungan secara langsung dengan Allah swt secara pribadi dan bertanggung jawab sendiri-sendiri pula. Oleh sebab itu, selamatkan diri sendiri karena pada dasarnya kita berbuat adalah untuk menyelamatkan diri sendiri pada pengadilan akhirat kelak.


            Sampurasun.

Friday, 22 May 2015

Tekad Hebat Para Elit




oleh Tom Finaldin




Bandung, Putera Sang Surya

Setidaknya, sepanjang yang saya tahu, ada lima pejabat elit Indonesia yang hebat dalam menolak iming-iming materi yang ditawarkan pihak-pihak yang menginginkan keuntungan dari Indonesia secara licik dan curang. Pertama,  kita kenal Ir. Soekarno yang merupakan Pemimpin Besar Revolusi dan Presiden pertama Republik Indonesia. 


Ia terkenal dengan kalimat kasarnya, “Go to hell with your aids!”

“Pergilah ke neraka dengan bantuan-bantuan kalian!”


Kalimat itu ditujukan pada negara-negara kapitalis yang masih ingin mengatur dan mendapatkan keuntungan dari Indonesia secara jahat. Soekarno cerdas bahwa bantuan-bantuan asing itu akan sangat mengikat Negara Indonesia sehingga harus tetap tunduk dan patuh mengikuti permainan-permainan keji kapitalis. Padahal, jika bantuan-bantuan itu diterimanya, Soekarno bisa menjadi orang yang teramat kaya raya di Indonesia. Akan tetapi, ia lebih memilih tidak kaya raya agar Indonesia memiliki harga diri dan tetap tegar dalam jalur yang benar. Hebat benar dia.


Kedua, Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Ia adalah polisi antisuap yang membersihkan diri dan lingkungannya dari pintu-pintu suap. Geger  negeri ini memiliki pemimpin polisi seperti Hoegeng. Ia bertindak profesional, tidak pandang bulu. Benar dan salah harus sejelas hitam dan putih. Ia selalu ulet untuk menuntaskan kasus-kasus yang seharusnya dituntaskan oleh polisi. Ia marah besar ketika ada banyak orang yang memaksa untuk menyuap dirinya, padahal masyarakat dari dulu sampai hari ini masih menganggap bahwa polisi adalah aparat yang sangat mudah untuk disuap gara-gara banyak oknum polisi yang tidak berjiwa ksatria serta tidak cinta pada tugas dan profesinya. Mereka hanya suka uang, tidak beda dengan preman jalanan pemalak pedagang pasar. Kasihan jadinya polisi-polisi baik, jujur, dan profesional harus ikut tercoreng oleh perilaku rekan-rekannya yang kerjanya busuk.


Hoegeng adalah polisi jujur profesional ksatria cinta tanah air. Karena kecintaan pada tugasnya inilah yang membuatnya harus terlempar dari posisinya sebagai pemimpin polisi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Akan tetapi, ia tetap pada keyakinannya, jujur dan baik.


Seandainya dia mau menerima banyak suapan dari para pebisnis, ia bisa kaya raya. Seandainya dia mau tidak terlalu tegas dan ulet dalam menuntaskan kasus-kasus besar, ia bisa memiliki banyak jabatan “basah” dalam pemerintahan. Akan tetapi, tidak bagi Hoegeng. Ia memilih menjadi polisi jujur profesional ksatria cinta tanah air. Hebat benar dia.


Ketiga, Prof. Dr. H. Amien Rais. Ia adalah Lokomotif Reformasi yang bersama masyarakat dan mahasiswa menjungkalkan bangunan pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Melalui posisinya sebagai ketua Partai Amanat Nasional (PAN), ia dipercaya menjadi Ketua MPR/DPR RI.


Ketika dalam perjuangan menjatuhkan Orde Baru dengan gerakan reformasi, ia mengaku di depan televisi nasional dan internasional pernah menerima telepon dari “seseorang” kerabat Orde Baru agar menghentikan upayanya dalam gerakan reformasi. Sebagai imbalannya, Amien Rais akan mendapatkan uang sekitar sebelas miliar rupiah. Akan tetapi, ia menolaknya. Ia memilih untuk terus berjuang menggulingkan Orde Baru.


Seandainya ia mau menerima uang itu, ia bakalan kaya mendadak dan memiliki banyak uang untuk dijadikan modal bisnis dan memajukan lembaga pendidikan yang didirikannya. Bahkan, ia bisa meminta lagi lebih banyak untuk organisasi yang dipimpinnya, yaitu Muhammadiyah. Akan tetapi, tidak bagi Amien Rais. Perjalanan reformasi adalah lebih penting daripada uang recehan itu. Hebat benar dia.


Keempat, K.H. Abdurahman Wahid. Ia adalah budayawan, intelektual kelas wahid, Ketua PB NU yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia. Dalam awal masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, ia mengaku di depan televisi nasional dan internasional bahwa dirinya pernah menerima proposal dengan kecenderungan upaya suap di dalamnya.


Ketika mendengar ada proposal itu di mejanya, ia memintanya, “Sini mana proposalnya? Saya langsung robek-robek semuanya.”


Ia adalah presiden yang berlatar belakang santri dan tetap teguh dalam posisinya sebagai Kiyai. Ia tidak mempedulikan upaya suap pada dirinya.


Seandainya dia mau, pasti akan ada banyak proposal serupa yang berduyun-duyun datang ke meja kerjanya. Dia pun akan tambah kaya raya. Di samping itu, keluarganya akan lebih aman karena mendapatkan warisan sangat banyak darinya sekaligus organisasi yang dipimpinnya, NU, akan lebih hebat lagi. Akan tetapi, tidak bagi Gus Dur. Ia memilih tegas dan jujur daripada harus hidup dari uang suap para pebisnis kotor yang pasti banyak merugikan Negara Indonesia. Hebat benar dia.


Kelima, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Lewat akun Twitter @susipudjiastuti bahwa dirinya sempat ditawari suap senilai lima triliun rupiah untuk mundur dari jabatannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Upaya suap ini memang membuat banyak orang kaget. Akan tetapi, saya melihat dari sisi yang positif. Susi memang dikenal keras dan tegas dalam membela sumber-sumber kelautan di Indonesia. Ia tidak gentar dan sangat hobi “membakar” kapal para pencuri ikan di Indonesia. Ia sangat sadar bahwa potensi laut Indonesia adalah milik rakyat Indonesia dan untuk kemakmuran Indonesia. Ia tahu benar itu. 


Upaya suap yang diajukan padanya sangat mungkin agar gebrakan-gebrakan di laut Indonesia bisa berhenti dengan mundurnya Susi. Uang lima triliun sangatlah besar. Gaji menteri sepanjang jabatannya tidak akan mencapai uang sebanyak itu. 


Seandainya mau, dia bisa memboyong uang itu, lalu memperbesar usaha miliknya yang sudah besar itu. Ia akan menjadi pengusaha yang lebih terpandang di tingkat nasional maupun internasional. Akan tetapi, tidak bagi Susi. Indonesia adalah lebih berharga daripada ribuan triliunan suap yang ditawarkan kepada siapa pun. Di samping itu, ia lebih memilih kehormatan yang didapatnya untuk menjadi menteri dibandingkan uang suap yang ditawarkan para penyuap yang rakus harta dan kekuasaan. Hebat benar dia.


Soekarno, Hoegeng, dan Abdurahman Wahid sudah selesai masa tugasnya di dunia ini. Mereka kini berada di “alam penantian”. Mereka dalam hidupnya sudah terbukti tidak menerima suap dan melakukan tindakan korup yang memalukan dan menjijikan. Mereka selamat tidak tercederai perilaku gemar makan harta haram. Mereka adalah anutan yang harus diteladani seluruh masyarakat Indonesia.


Amien Rais dan Susi Pudjiastuti sampai tulisan ini diturunkan mereka masih hidup. Tekad, keyakinan, dan kekuatannya dalam menahan gelombang godaan suap dan korup masih menghadang dan memerangi mereka. Syetan tak pernah berhenti berusaha merusakkan hidup seseorang, suatu kaum, dan suatu bangsa, bahkan seluruh umat manusia. Meskipun demikian, sampai tulisan ini disusun mereka masih “sangat kuat” untuk berada dalam “kehormatan dan kemuliaan” menjalankan tugas kenegaraannya. Mudah-mudahan sampai akhir hayatnya mereka tetap mulia dan terhormat, bahkan lebih mulia dan terhormat di hadapan manusia dan Allah swt. Amin.


Kelima orang itu adalah orang hebat yang mencintai Indonesia dan mengharamkan suap bagi dirinya sendiri, kemudian mempengaruhi lingkungannya. Saya yakin bahwa masih sangat banyak orang-orang baik dan hebat seperti mereka yang tidak muncul di media massa dan berbagai saluran informasi lainnya. Mereka adalah pilar-pilar kekuatan negeri yang namanya tak akan pernah mati jika tetap kukuh dalam kemuliaannya.


Bukankah Soekarno, Hoegeng, dan Gus Dur meskipun sudah wafat, nama, jiwa, semangat, dan ajarannya tetap hidup? 


Hebat mereka!


Kita? 


Berupayalah lebih baik dibandingkan mereka dalam melakukan kebaikan.


Fastabiqul khoirot, ‘berlombalah dalam kebaikan’.


Tidak perlu berlomba menjadi yang terkaya dan paling berkuasa karena hanya akan membuat hidup kita sulit dan terhina. 

            Demi Allah swt.