Showing posts with label MUI. Show all posts
Showing posts with label MUI. Show all posts

Friday, 10 December 2021

Diperkosa Itu Satu Kali, Bukan Berkali-Kali

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kejadian yang dilakukan Herry Wirawan yang telah melakukan kekerasan seksual pada santriwatinya di Yayasan Pendidikan dan Sosial Manarul Huda: Boarding School, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung telah menghebohkan sangat banyak orang di Indonesia ini, bahkan mungkin di dunia karena zaman sekarang ini berita sangat mudah sekali tembus ke berbagai negara. Saya jadi teringat kasus yang pernah melibatkan mantan Bupati Garut Aceng Fikri yang menikahi gadis 17 tahun dan kemudian berrmasalah, banyak orang Pakistan, India, Brunei, Inggris, dan Amerika Serikat yang bertanya-tanya. Kasus kawin kontrak di Puncak, Bogor pun menjadikan warga Inggris banyak bertanya kepada saya.

            Karena kasus Herry Wirawan yang dianggap telah memperkosa santriwatinya sejumlah 12, ada yang bilang 14, bahkan kalau lapor semuanya akan lebih dari itu jumlahnya, membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung menyatakan sikap. Ada tujuh pernyataan sikap yang dikeluarkan MUI. Dari ketujuh pernyataan itu, enam saya setujui, tetapi satu sikap MUI yang saya tidak setujui, yaitu imbauan MUI agar masyarakat tidak  menyebarkan atau terus-terusan membicarakan berita buruk ini. MUI menginginkan agar berita ini segera tertutup dan tidak lagi menjadi bahan perbincangan masyarakat.

            Jujur saja, bagi saya, berita ini justru harus semakin dihebohkan dan dibicarakan agar ada otokritik dan perubahan ke arah yang lebih baik lagi dalam lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia ini, khususnya di lembaga-lembaga keagamaan. Dari data Kompas, di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia ini terdapat kasus kekerasan seksual. Pelecehan seksual yang tertinggi ada di universitas, lalu peringkat kedua ada di pesantren, kasus yang paling sedikit ada di lembaga vokasi. Ngeri jika melihat data itu. Oleh sebab itu, kasus seperti ini harus terus dibicarakan agar setiap orang dapat memberikan masukan, kritikan, dan jalan keluar yang lebih baik. Bukan hanya harus menjadi urusan para kiyai, ulama, ustadz, pemerintah, atau pengelola lembaga tentang hal ini, melainkan pula masyarakat umum, para orangtua, akademisi, dan lapisan masyarakat lainnya harus tahu agar dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk menghentikan kasus-kasus seperti ini.

            Saya jadi teringat waktu kecil dulu ketika masih suka tawuran dan main “gank-gank-an”, saya suka membuli anak-anak ustadz dengan menghina bapaknya dengan kata-kata “Ustadz Cabul”. Saya ikut-ikutan anak yang lebih besar daripada saya. Istilah ustadz cabul itu tentunya lahir dari memang adanya perilaku cabul yang terjadi mungkin dari jauh sebelum saya lahir. Artinya, perilaku bejat itu sudah terjadi sejak lama dan terus berulang hingga saat ini. Kalau mau jujur, kasus ini ada di banyak kota dan banyak lembaga pendidikan. Kepolisian punya data yang sangat lengkap. Menkopolhuhkam Mahfudz M.D. pun pasti punya banyak data.

            Kalau ada yang merasa risih dan ingin kasus ini tidak lagi dibicarakan, saya malah curiga. Kemungkinannya ada dua, yaitu kebagian ikutan menikmati seksual atau menikmati uang hasil “ngamen”  Si Herry Wirawan. Saya dengar dalam membangun lembaga pendidikannya, dia mengumpulkan sumbangan dari para donatur, mengambil hak santri dari dana Program Indonesia Pintar (PIP), dan penggunaan dana Bos yang tidak jelas. Kemudian, anak-anak yang lahir dari para santriwati akibat perbuatan Si Herry itu diklaim sebagai anak yatim piatu yang juga dijadikan bahan untuk meminta sumbangan. Hiii … ngeri ….

            Siapa yang harus bertanggung jawab?

            Kita semua!

            Saya sebenarnya selalu tidak percaya jika ada orang yang melaporkan kasus perkosaan kepada kepolisian dengan jumlah perkosaan berulang-ulang, berkali-kali. Pernah ada yang lapor ke polisi mengaku telah diperkosa sebanyak 141 kali. Saya suka pengen ketawa.

            Masa diperkosa sampai sering begitu?

            Diperkosa itu satu kali. Seharusnya, Sang Perempuan melawan, lalu segera lapor ke polisi. Kalau sampai berkali-kali hingga ratusan kali, bahkan bertahun-tahun, itu bukan perkosaan. Itu mah ceweknya juga keenakan, ikut menikmati. Ketika cowoknya bosan dan tidak lagi peduli, ceweknya marah dan kecewa, sakit hati, lalu lapor polisi, ngakunya diperkosa, padahal cowoknya sudah pindah ke lain hati. Diperkosa itu hanya sekali harusnya.

            Akan tetapi, berbeda dengan kasus yang dilakukan Si Herry ini. Dari beberapa sumber informasi, lembaga pendidikannya tertutup, pemimpinnya tidak bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, komunikasi dengan orangtua dibatasi, Hp tidak boleh digunakan, pulang kepada orangtua hanya satu tahun sekali, tidak ada pendampingan dari lembaga berwenang lainnya, tidak ada pengawasan, tidak diakui sebagai bagian dari MUI, dibantah sebagai bagian Forum Pondok Pesantren Kota Bandung, santriwatinya berasal dari keluarga ekonomi sangat lemah, diiming-imingi pesantren gratis, serta hal-hal lainnya yang membuat para santriwati tertekan, terancam, dan terkendalikan. Para santriwati itu masih di bawah umur, anak-anak berusia antara 13 s.d. 16 tahun yang jauh dari perlindungan orangtua dan kerabat di kampungnya.

            Kebejatan Herry ini sudah berlangsung dari 2016 sampai dengan dibongkar para netizen pada akhir 2021. Artinya, sudah lima tahun dia melakukan kejahatan itu terhadap murid-muridnya yang seharusnya dia lindungi dan dia siapkan masa depannya dengan lebih baik. Dalam lima tahun dia telah membuat belasan anak-anak perempuan kehilangan keperawanannya, merusakkan jiwanya, menganggu masa depannya, menghancurkan harapan para orangtua, merusakkan nama baik para ustadz, merendahkan kesucian pesantren, dan merontokkan hal-hal lainnya. Berbeda dengan saya yang dalam lima tahun bisa membuat belasan, bahkan puluhan perempuan menjadi sarjana (sombong dikit pada para penjahat boleh kan?). Bahkan, ke depan mungkin ratusan perempuan bisa jadi sarjana (berharap boleh kan?), insyaallah.

            Bagi saya, perilaku seperti yang dilakukan Herry ini adalah penghinaan kepada Islam. Dia menggunakan agama untuk kepentingan uang dan hasrat seksual yang tak terkendali. Dia menggunakan istilah kelembagaan pendidikan Islam, tetapi justru lembaganya digunakan untuk melakukan pelanggaran dan penentangan terhadap ajaran Islam. Seharusnya, mereka yang gemar berteriak-teriak di jalanan dengan menuduh orang sebagai penghina Islam, juga ikut menyuarakan penghinaan yang dilakukan orang-orang semacam Herry sebagai penista agama, bukannya diem-diem bae. Kita semua warga bangsa harus bersama-sama mengatasi hal ini karena ini menentukan masa depan bangsa Indonesia.

            Kepada siapa lagi kita menitipkan bangsa ini kalau bukan kepada anak-anak kita yang sekarang masih duduk di bangku sekolah?

            Bagaimana jadinya masa depan negeri ini jika generasi muda kita dirusakkan oleh kita sendiri?

            Pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan, rakyat, dan kita semua harus sensitif terhadap hal-hal seperti ini. Jangan sampai lembaga-lembaga pendidikan lainnya, terutama pesantren menjadi buruk citranya karena sesungguhnya sangat banyak pesantren yang diasuh oleh orang-orang baik, teruji, terpercaya, dan telah melahirkan lulusan-lulusan yang memberikan manfaat besar kepada masyarakat dan bangsa. Bagi masyarakat yang ingin menitipkan anak-anaknya ke pesantren, teliti dulu lembaga itu dengan baik. Jangan hanya karena iming-iming gratis dan janji-janji palsu, tergiur untuk membiarkan anak-anaknya diasuh oleh para penjahat.

            Sampurasun.

 

 

https://jabar.tribunnews.com/2021/12/10/mui-kota-bandung-minta-warga-berhenti-sebar-berita-buruk-aib-kasus-herry-wirawan-perkosa-santriwati

https://www.youtube.com/watch?v=QCz7eu57yj4

Wednesday, 29 January 2020

Semoga Tak Tertular Virus Corona Selamanya


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Di Wuhan dan kota-kota lainnya di Cina yang menjadi medan tempur antara tubuh dan virus corona, banyak orang Indonesia, mungkin ribuan. Mereka ada yang sedang belajar sebagai mahasiswa, juga sebagai pekerja. Sampai hari ini, sampai tulisan ini disusun, mereka tetap sehat dan tidak seorang pun terinfeksi virus corona.

            Hal itu dipuji oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI Terawan, “Orang-orang Indonesia mempunyai daya tahan tubuh yang kuat menurut saya.”

            Kita, sebagai warga Negara Indonesia, layak bersyukur atas berita tersebut. Semoga mereka tetap sehat dan tidak terinfeksi virus corona.

            Saya bukan ahli kesehatan, tetapi sekali dua kali sempat membaca juga tentang kesehatan. Pernyataan Menkes RI tersebut sungguh menarik. Daya tahan tubuh orang Indonesia relatif kuat dari infeksi virus mungkin karena pertama, memang lahir dan hidup lama di Indonesia yang beriklim tropis, memiliki dua musim, hujan dan kemarau. Hal ini seperti dalam tulisan saya yang lalu bahwa virus flu di Indonesia tidak mengakibatkan kematian. Berbeda dengan di negara-negara yang memiliki empat musim, virus flu kerap menimbulkan kematian.

            Kedua, faktor makanan dan minuman. Orang Indonesia yang mayoritas Islam sangat berhati-hati dengan makanan dan minuman. Bahkan, kita terbilang rewel soal ini. Kita ingin selalu makanan yang halal. Tak kurang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) selalu serius soal makanan dan minuman untuk melindungi masyarakat. Makanan halal jelas sehat dan meningkatkan kualitas ketahanan tubuh. Berbeda dengan makanan dan minuman haram yang merusakkan tubuh sehingga memudahkan tubuh diserang virus penyakit apa saja.

            Ketiga, kebahagiaan. Mereka yang berada di Cina tetap berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya di Indonesia. Saling melepas rindu melalui alat komunikasi, saling memberi semangat, dan terus saling mendoakan meskipun dengan kondisi jarak yang jauh. Hal itu membuat hati bahagia dan hidup tetap semangat, “full of life”. Di samping itu, komunikasi yang baik dan doa menimbulkan getaran cinta yang luar biasa menyenangkan. Dalam ajaran Islam dipahami bahwa “doa adalah senjata orang beriman”. Doa bisa menembus ruang dan waktu. Di mana pun kita berada, doa tetap bisa sampai dan membuat kenyamanan tersendiri. Bahkan, doa mampu menghubungkan alam nyata dengan alam gaib serta yang hidup dengan yang mati. Luar biasa memang energi doa itu. Dengan perasaan rindu, saling memiliki, saling memberikan semangat, saling mencintai, dan saling mendoakan membuat tubuh sehat karena mengalirkan magnet listrik yang menyegarkan jiwa dan fisik. Orang-orang yang belajar ilmu tenaga dalam pasti tahu hal ini.

            Dua hari ini beredar video-video warga Kota Wuhan yang jumlahnya 11 juta itu saling berteriak bersahutan memberikan semangat hidup dalam keadaan kota itu diisolasi, tidak boleh ada yang masuk dan tidak ada yang boleh keluar dari kota. Hal itu secara naluriah sebagai manusia dilakukan untuk mendorong harapan hidup dan menguatkan tubuh untuk lebih segar dan sehat. Selain, itu ada juga video mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia yang bersama-sama mengepalkan tangan untuk memberikan semangat dan cinta kepada saudara-saudaranya sesama mahasiswa yang sedang belajar di Cina, khususnya yang sedang terisolasi di Kota Wuhan.

            Dalam tradisi kita, sebagai orang Indonesia, juga begitu, bukan?

            Kalau ada kenalan yang sakit, kita akan menengoknya untuk memberikan harapan dan kekuatan di samping menunjukkan bahwa Si Sakit tidak pernah kita tinggalkan. Itu akan menguatkan jiwa sehingga mendorong kesehatan tubuh.

            Semoga saudara-saudara kita sesama bangsa Indonesia tetap sehat selamanya tidak terinfeksi virus corona. Berikan semangat, cinta, dan doa untuk mereka di Cina. Jangan lupa pula berikan semangat, cinta, dan doa untuk mereka sesama manusia meskipun berbeda ras, tempat lahir, dan agama. Kita manusia adalah bersaudara karena berasal dari “Zat Yang Satu”, ‘Allah swt’.

            Sampurasun.

Friday, 20 December 2019

Buka Dikit, … Bray


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Biasanya, kalau mendapatkan informasi, berita, ataupun kisah, sikap kita biasa-biasa saja jika informasi itu tidak bermasalah. Kita hanya menyimak dan mendapatkan informasi baru yang tersimpan dalam memori di otak kita. Lain halnya jika informasi yang kita dapatkan itu sensitif, lalu bermasalah. Misalnya, soal para nabi, para pemimpin, atau peristiwa yang menguras emosi banyak orang. Banyak timbul pertanyaan terkait kebenaran informasi yang beredar.

            Wah, masa iya? Betulkah itu? Mengapa terjadi seperti itu? Kata siapa? Masa sih?

            Orang yang kritis pasti memiliki banyak pertanyaan. Berbeda dengan orang yang iya-iya saja, biasanya langsung percaya dan mengamini. Setiap orang berbeda-beda. Itu kenyataannya.

            Terkait isu etnis Uighur, Xinjiang, Cina, jelas banyak pertanyaan. Saya sendiri bertanya, sumber berita itu dari siapa. Ternyata, berita yang beredar, baik di media-media nasional maupun internasional, termasuk di media sosial, seluruhnya berawal dari media “Wall Street Journal” (WSJ).

            Jika kita potret rekam jejak dari WSJ, memang banyak mempengaruhi opini dunia dan mengarahkan pada perubahan politik suatu negara atau beberapa negara. Misalnya, dulu WSJ getol sekali memberitakan bahwa Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husein memiliki, bahkan memproduksi senjata pemusnah massal, senjata biologi, kimia. Akibatnya, opini dunia tergiring yang membuat negara-negara Barat menyerang Irak. Jatuhlah Sadam Husein, Irak pun hancur. Hingga kini Irak masih sangat babak belur dan termasuk negara yang tidak aman untuk ditinggali. Padahal, sampai sekarang, tidak ditemukan bukti bahwa Irak memiliki senjata biologi, kimia yang bisa memusnahkan manusia itu. Isu yang digoreng WSJ tidak ada buktinya, tetapi Irak sudah hancur.

            Demikian pula di Afghanistan, WSJ pun ikut banyak memberitakan tentang ketimpangan-ketimpangan dan konflik-konflik antarkelompok perlawanan dengan isu-isu muslim serta krisis kemanusiaan. Hingga saat ini Afghanistan dalam keadaan tertinggal, miskin, bodoh, dan tidak aman.

            Di Suriah pun WSJ berperan dalam memanas-manasi situasi dengan memberitakan kekejaman pemerintah Bashar al Assad, gerakan politik Isis, serta timbulnya kelompok-kelompok pemberontak dengan segala gerakannya. Akibatnya, Suriah hancur. Allepo yang dulunya seperti Jakarta, berantakan, tidak jelas bentuknya.

            Buka dikit saja rekam jejak sumber berita itu, lalu … bray …, kita dapat menemukan pertimbangan lain terhadap mereka.

            Saya tidak mengatakan bahwa berita dari WSJ selalu bohong, ada informasi bermanfaat dari mereka. Meskipun demikan, kebohongan yang dibuat WSJ banyak merusakkan negara lain dengan sangat hebat.

            Sekarang WSJ “berkisah” soal Uighur dengan menyeret-nyeret NU, Muhammadiyah, dan MUI. Pengaruhnya di dalam negeri digoreng hingga mendiskreditkan Jokowi. Mungkin harapannya Negara Indonesia menjadi goncang.

            Maukah kita menjadi seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah?

            Sebagian besar masyakarat Indonesia tidak menginginkannya. Hanya sebagian kecil, keciiil pisan, yang mungkin berharap Indonesia babak belur. Bagi yang sangat ingin seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah, bahkan tidak bisa tidur karena ingin seperti itu, ganti kewarnanegaraan saja, kemudian nikmatilah, hidup bahagia di sana.

            Sampurasun.

Monday, 20 March 2017

Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Gubernur Ahmad Heryawan sudah harus menyelesaikan masa tugasnya sebagai gubernur Jawa Barat. Harus ada orang lain yang menggantikan posisinya sebagai gubernur.

            Ada banyak tokoh dan pemimpin yang hebat di Jawa Barat, tetapi saya harus mengakui bahwa Ridwan Kamil adalah satu sosok yang bisa sangat diandalkan untuk memimpin Jawa Barat. Dia sudah relatif berhasil mempercantik Kota Bandung. Dia sudah berhasil menjaga dirinya untuk bekerja dengan baik dan tidak memiliki masalah yang dapat menjerumuskannya menjadi orang yang korup. Dia pun relatif tidak memiliki masalah secara pribadi dengan warganya. Dia baik-baik saja dan mampu memanfaatkan potensi dirinya dalam memimpin Kota Bandung sebagai walikota. Ia arsitek nasionalis muslim berjiwa Sunda. Hal itu bisa dilihat dengan jelas, baik dari caranya berbicara, bersikap, dan mengambil kebijakan.

            Adalah hal yang tepat jika Partai Nasionalis Demokrat (Nasdem) pimpinan Surya Paloh yang dengan prinsip hebat “politik tanpa mahar” mendorong Ridwan Kamil untuk menjadi Gubernur Jawa Barat. Saya bilang politik tanpa mahar ini merupakan prinsip yang sangat hebat karena sepanjang pengetahuan saya baru Nasdem yang melakukannya, partai lain masih belum atau paling tidak belum mendeklarasikan sebagaimana Nasdem mendeklarasikan dirinya. Bahkan, mungkin baru Nasdem partai yang melakukannya di seluruh dunia ini. Hal ini merupakan fenomena yang harus dipelajari dan diteliti karena bisa mereduksi beberapa kebobrokan yang ada di dalam sistem politik demokrasi.

RIDWAN KAMIL. Foto: www.boombastis.com

            Ridwan Kamil memang tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan uang untuk menempati posisi politik karena sudah banyak mengumpulkan prestasi dan kekaguman masyarakat terhadap dirinya. Ia tidak perlu jor-joran memperkenalkan dirinya karena sudah terkenal. Ridwan Kamil hanya cukup mempromosikan dirinya, latar belakang, hidupnya, dan menampakkan prestasinya selama menjadi Walikota Bandung di samping visi dan misinya untuk membangun Jawa Barat pada masa depan yang lebih baik. Uang yang diperlukan pasti ada, tetapi tidak akan sebesar mereka yang berminat menjadi gubernur Jawa Barat tanpa banyak prestasi dan kurang dikenal. 


Wakil Gubernur
Untuk menjadi gubernur, tentu saja membutuhkan seorang wakil gubernur. Sosok wakil gubernur ini bukan hanya berguna dalam meraih banyaknya suara, melainkan pula harus berguna dalam menjalankan roda pemerintahan. Gubernur dan wakilnya harus berbagi tugas agar pembangunan masyarakat bisa lebih cepat mencapai tujuan. Jangan kayak yang dulu-dulu pada berbagai daerah. Sosok wakil hanya berguna dalam meraih suara. Akan tetapi, dalam menjalankan pemerintahan “berantem” melulu dengan atasannya karena saling merasa paling berjasa. Akhirnya, “cerai” dan  berhadapan dalam pemilihan pada periode berikutnya.

            Untuk wakil gubernur Jawa Barat, sosok yang menurut saya tepat adalah Dedi Mulyadi. Ketokohan dia sebagai urang Sunda sudah tidak bisa diragukan lagi. Ia sangat mencintai budaya Sunda dan budaya Indonesia. Baginya, jati diri seseorang itu harus ditampakkan melalui budayanya sendiri sehingga bisa tampil baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Dedi adalah muslim Indonesia yang mencintai budaya. Dengan itulah, dia membangun Purwakarta. Ia orang baik. Ia tidak bermasalah dalam korupsi. Ia orang yang hemat dalam pengeluaran untuk hal-hal yang memang seharusnya dihemat sehingga mampu membelanjakan APBD untuk kepentingan yang lebih besar.

DEDI MULYADI. Foto: news.okezone.com

            Dedi Mulyadi memiliki banyak potensi dan ide-ide spektakuler di dalam kepalanya untuk membangun masyarakat menjadi cerdas, berbudaya, dan religius. Ia banyak menuntut pemerintah pusat dan provinsi untuk menyelesaikan kewajibannya di Purwakarta agar masyarakat Purwakarta dapat lebih terlayani dan sejahtera. Ia merasa bahwa dirinya sudah melakukan banyak kewajibannya sebagai pemimpin Purwakarta, tetapi masyarakat Purwakarta harus lebih dapat merasakan hadirnya pembangunan yang wajib dilakukan provinsi dan pemerintah pusat. Setidak-tidaknya, itulah yang membuat saya tertarik ketika berkunjung ke Purwakarta, saat masih menjadi staf DPD RI mendampingi Prof. H. Mohamad Surya. Dia pandai berhemat untuk hal-hal yang bisa dihemat, misalnya, dalam hal makan dan minum. Ia menghidangkan makanan yang biasa-biasa saja tidak mewah, tetapi nikmat. Ia menyuguhi makanan khas Sunda yang murah dan sehat, seperti, nasi timbel, tahu, tempe, jambal, sayur asem, daging ayam, lalapan, dan sambal. Minumannya juga biasa saja, seperti, air putih, teh, bajigur, dan bandrek. Snack-nya juga murah meriah, seperti, kacang tanah, ubi, dan ketela rebus. Berbeda dengan kepala daerah lain yang suka memberikan hidangan makanan dan minuman yang mahal-mahal, bahkan produk luar negeri.

            Tak heran jika Dedi bisa memberikan banyak santunan kepada pengurus DKM, guru ngaji, orang yang berhutang, orang bangkrut, dan orang-orang kurang beruntung lainnya. Pernah ada sekeluarga yang bangkrut dibantu Dedi dengan membelikan sepasang kambing sebagai modal kerja. Pernah pula Dedi membiayai operasi jantung seorang Hansip sampai seharga 40 juta rupiah.

            Dedi Mulyadi orang baik, punya banyak prestasi, dikenal, dan memiliki banyak gagasan untuk masyarakat. Jika dia bisa menjadi wakil gubernur, kewajiban provinsi yang kerap dimintanya dapat dilakukannya sendiri untuk Jawa Barat, sebagaimana dia membangun Purwakarta.


Kampanye Mendidik
Sebaiknya, memang Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi berpasangan dan jangan berhadapan. Dengan demikian, suara masyarakat akan terkumpul bulat. Wajib diingat ketika pemilihan gubernur yang lalu-lalu berhadapan antara Dany Setiawan dan Agum, padahal konstituen mereka adalah massa yang sama. Akibatnya, suara pecah dan tidak ada yang menang. Justru yang menang adalah pasangan yang sama sekali tidak diunggulkan alias “kuda hitam”, yaitu pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Padahal, saat itu pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf kalau dalam dunia sepak bola bisa dibilang under dog.

            Dedi tidak perlu berhadapan dengan Ridwan Kamil dan tidak perlu berspekulasi yang akhirnya bisa bikin kaget dan kecewa. Ridwan Kamil sudah berada pada posisi on the top pada masa sekarang ini di mata masyarakat. Tidak perlu melawan orang yang sudah kuat karena memang Ridwan Kamil adalah Walikota Bandung dan Kota Bandung adalah pusatnya Jawa Barat. Wajar jika dia menjadi gubernur.

            Demikian pula sebaliknya, Ridwan Kamil jangan pasang kuda-kuda melawan Dedi Mulyadi karena Dedi akan sangat berperan banyak, baik dalam proses pemilihan maupun dalam menjalankan roda pemerintahan agar tercipta Jawa Barat yang religius, cerdas, berbudaya, sejahtera, dan bahagia. Dedi Mulyadi akan menambah daya dorong dan citra positif, baik bagi Ridwan Kamil maupun bagi masyarakat Jawa Barat.

            Ridwan-Dedi adalah pasangan yang baik. Mereka berdua bisa berkampanye dengan baik dan menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat dalam berperan serta dalam pembangunan. Permasalahan terbesar masyarakat, yaitu persoalan ekonomi dan daya beli, insyaallah, akan mendapat jalan dari sinergi positif antara Ridwan dan Dedi.

            Kampanye yang harus banyak dilakukan, terutama oleh Dedi Mulyadi adalah kampanye yang mendidik masyarakat, terutama dalam hal hubungan antara Islam dan budaya. Kita tahu bahwa Dedi Mulyadi pernah dilaporkan oleh Rizieq-FPI soal penghinaan terhadap Islam. Bagi saya, laporan Rizieq itu mengada-ada karena hanya untuk meng­-counter laporan dari Ormas Sunda atas kebodohan Rizieq yang telah memplesetkan sampurasun menjadi campur racun.

            Justru laporan Rizieq-FPI itu membuat saya semakin kagum terhadap Dedi Mulyadi karena kalimat-kalimat dalam buku Dedi yang dianggap menghina itu merupakan pengetahuan baru tentang Islam. Islam itu agama yang sangat komprehensif dan meliputi berbagai ilmu pengetahuan. Dedi menerangkannya dengan menggunakan bahasa rasa dan itu sangat amazing.

            Ada baiknya Dedi Mulyadi mengadakan acara-acara semacam bedah buku Dedi sehingga pemahaman Dedi bisa didiskusikan oleh masyarakat dan mencerahkan banyak pihak. Jadi, di samping kampanye, juga memberikan masyarakat banyak ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu bisa menjadi dasar agar rakyat Jawa Barat bersikap lebih positif, baik untuk dirinya sendiri, untuk lingkungannya, terhadap pemerintahnya, dan kepada Allah swt.

            Toh, Dedi Mulyadi sudah mendapatkan dukungan dari Ketua MUI Maruf Amin untuk ikut serta dalam pemilihan gubernur Jawa Barat. Itu artinya, hambatan dari kalangan Islam sudah clear, hampir tidak ada. Paling-paling mungkin cuma dari Rizieq-FPI. Itu mah kecil, kecil sekali, lucu malahan. Rizieq itu hal kecil. Dia itu memang suka seperti itu. Orang bikin buku, lalu isi bukunya tidak bisa dia pahami, disebutnya “menghina Islam”. Dedi bikin buku disebut “menghina Islam”. Ahok bikin buku disebut “menghina Islam”. Padahal, dia sendiri yang pikirannya terbatas. Seharusnya, untuk melawan ilmu pengetahuan, gunakan pula ilmu pengetahuan. Rizieq harusnya bikin buku sendiri, lalu curahkan semua gagasan dan landasan-landasan pengetahuannya itu dengan metode ilmiah sehingga masuk akal dan masyarakat bisa tercerahkan. Bikin buku sendiri dong untuk melawan pemikiran dari buku yang tidak disetujui, katanya S2 dari Malaysia. Itu juga kalau bisa bikin buku sendiri. Kalau tidak bisa, diam saja jangan banyak tingkah, malu.


Kepemimpinan Nasional
Apabila Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi berpasangan, lalu dapat bekerja lebih baik lagi dibandingkan dengan prestasi yang telah diraih mereka di kampung halaman masing-masing, bukan tak mungkin seluruh mata masyarakat Indonesia akan tertuju pada pasangan ini. Suatu saat mereka bisa ambil ancang-ancang untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setelah masa jabatan Jokowi-JK habis tentunya. Tak perlu berhadapan dengan Jokowi-JK karena itu tidak baik. Tunggu saja sampai habis masa jabatannya. Hal itu disebabkan Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang sangat penting dalam menyangga Ibukota Jakarta di samping jumlah penduduknya terbanyak di antara seluruh provinsi di Indonesia.

            Jika mereka dapat berpasangan dan setiap hari menunjukkan perbaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi daerah yang dipimpinnya. Indonesia menunggu mereka untuk memimpin Indonesia agar lebih baik lagi dan terus lebih baik lagi.


            Sampurasun.

Thursday, 27 May 2010

Fatwa MUI Menggelikan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
MUI adalah majelis yang dari dulu saya hormati, bahkan sampai kini. Akan tetapi, fatwa yang dikeluarkan baru-baru ini membuat bingung masyarakat dan lumayan menggelikan. Fatwa itu cenderung menyebabkan penilaian terhadap kredibilitas dan kapabilitas MUI menurun.

MUI adalah majelis yang dihuni oleh ahli-ahli dalam agama Islam. Artinya, lembaga ini hendaknya menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia yang rata-rata pengetahuan dan pemahaman Islam-nya jauh di bawah mereka yang berada dalam MUI. Oleh sebab itu, lembaga ini pun hendaknya harus lebih hati-hati dalam mengeluarkan fatwa karena akan membawa pengaruh yang cukup luas bagi perkembangan sosial dan spiritual rakyat negeri mayoritas muslim ini.

Masyarakat sempat dikejutkan oleh fatwa MUI yang mengharamkan Golput. Alasannya, dalam Islam diharuskan ada seorang pemimpin dan kaum muslimin wajib memiliki pemimpin. Tentunya, dengan berbagai alasan lainnya yang tampak masuk akal untuk orang kebanyakan.

Fatwa haram Golput ini sesungguhnya fatwa yang menggelikan dan cukup membuat tertawa hampir terpingkal-pingkal. Soalnya, dasar yang digunakan untuk keluarnya fatwa ini sangat terbatas. Artinya, berdasar hanya pada hal-hal yang dituntut oleh Islam tanpa berdasar pada wawasan pergaulan manusia dan fenomena-fenomena dalam hubungan internasional.

Betul sekali memiliki seorang pemimpin itu wajib. Namun, untuk mendapatkan pemimpin melalui proses demokrasi yang rendahan ini, tidaklah wajib, bahkan mestinya diharamkan untuk ikut bagian dalam proses demokrasi. Hal itu disebabkan demokrasi adalah sitem politik rendahan yang cenderung menghancurkan martabat manusia dan menjauhkan bangsa Indonesia dari jati diri yang sesungguhnya. Untuk hal ini, banyak artikel yang terdapat dalam http://tom-finaldin8.blogspot.com.

Demokrasi itu berasal dari perilaku orang-orang bingung di Athena zaman dahulu kala, yaitu 600 tahun sebelum masehi, sebuah waktu yang sangat kuno dan kadaluarsa. Mereka saat itu bingung dan mencari cara agar memiliki sistem pemerintahan yang mampu untuk mengelola berbagai suku yang ada. Lahirlah demokrasi kuno. Dari sanalah awalnya. Demokrasi saat ini pun meski dikatakan berkembang, dasarnya masih yang itu-itu juga.

Setelah Athena hancur dikalahkan oleh Sparta yang tidak menganut demokrasi dalam perang Peloponesia, demokrasi tenggelam ditinggalkan begitu saja. Selama dua ribu tiga ratus tahun, dunia tidak menggunakan demokrasi karena dianggap tidak efektif dan kampungan. Sejak saat itu, dunia mencatat berbagai kejayaan di atas muka Bumi ini. Kejayaan Eropa tak ada kaitannya dengan demokrasi, kemajuan keemasan India dan Cina sama sekali tidak di bawah pengaruh demokrasi. Kegilang-gemilangan Islam tak ada hubungannya dengan demokrasi. Demikian pula kemakmuran dan kejayaan negeri-negeri yang kini menjadi Negara Indonesia terjadi tidak pada zaman demokrasi, tetapi terjadi pada masa-masa kerajaan sebelum Si Bedebah VOC datang.

Justru pada zaman ini, zaman demokrasi dielu-elukan dan hampir disakralkan, terjadi penurunan derajat kemanusiaan. Pengetahuan tak lagi berkembang, kecuali untuk kepentingan bisnis dan kekuasaan. Rasa kemanusiaan turun drastis. Kejahatan, kemaksiatan, dan kerakusan merajalela.

Kenyataan seperti itu menunjukkan bahwa demokrasi sama sekali bukan sesuatu yang perlu diteruskan, melainkan harus ditinggalkan dan dilenyapkan. Oleh sebab itu, sungguh menggelikan jika MUI mengeluarkan fatwa haram bagi Golput.

Golput adalah suatu sikap politik yang cerdas karena tidak menemukan figur yang pantas untuk dijadikan pemimpin. Hal ini ada dalam artikel-artikel saya.

Dari pemaparan di atas, bisa kita lihat bahwa demokrasi itu berasal dari ajaran dan perilaku orang-orang bingung Athena, bukan dari para Rasul dan Nabi. Kemudian, demokrasi itu sendiri telah menjauhkan manusia dari berbagai kebaikan nuraninya. Oleh sebab itu, sungguh menggelikan jika MUI yang Islam itu mewajibkan umat Islam untuk ikut dalam proses demokrasi yang berasal dari orang bingung Athena (bukan muslim) dan sudah terbukti tidak efektif.

Soal wajib memiliki pemimpin itu benar. Namun, saya lebih percaya pada teori primus inter pares, ‘orang terbaik di kelompoknya’. Saya yakin pemimpin ini pasti akan ada tanpa harus ada demokrasi. Jika kita berjalan dua, tiga, lima, atau sepuluh orang di dalam hutan, orang terbaik di kelompok itu pasti ada dan otomatis akan menjadi pemimpin kelompok itu tanpa harus ada pemilihan. Orang terbaik itu akan menjadi tujuan orang-orang di sekitarnya. Dialah seseorang yang menjadi tempat orang lain menuju.

Demikian pula dengan Negeri Indonesia yang kita cintai ini. Pasti ada orang terbaik dalam negeri ini yang bisa memimpin dengan adil, bijak, dan penuh cinta. Akan tetapi, selama negeri ini masih percaya, mencintai, bahkan menganggap demokrasi adalah sistem terbaik bagi suatu pemerintahan, selama itu pula orang terbaik itu akan sulit muncul untuk memimpin. Pemimpin yang akan lahir dari demokrasi adalah orang-orang yang berkualitas rendah.

Bagaimana mungkin orang terbaik itu muncul jika harus berdemokrasi? Bukankah menjadi anggota legislatif, eksekutif, dan yudikatif dalam sistem demokrasi itu mahal? Perlu uang banyak, massa yang berjubel, dan jaringan usaha yang kuat? Orang terbaik itu tidak akan ikut dalam demokrasi karena tak akan mengeluarkan uang banyak, massa yang hebat, dan jaringan yang menggurita. Dia malu jika gambarnya harus dipertontonkan di spanduk-spanduk atau baligo. Dia orang pilihan yang akan muncul dalam saat yang tepat sesuai dengan rencana Allah swt.

MUI sebaiknya berdoa dan terus berharap kepada Allah swt agar saat orang terbaik itu muncul, tidak menjadi institusi yang pertama dan terdepan untuk menentangnya. Lebih baik lagi jika MUI terus mendorong masyarakat untuk berdoa agar Allah swt memberikan jalan keluar bagi berbagai kesulitan yang diderita bangsa ini.

Ada dugaan dan nada-nada sumbang di masyarakat. Mungkin fatwa itu lahir dari dorongan pihak-pihak yang diuntungkan oleh demokrasi dan sangat menikmati kekalutan kehidupan rakyat negeri ini. Ada juga yang mengira-ngira bahwa mungkin banyak di antara anggota MUI itu yang juga mencalonkan diri sebagai Caleg atau kepala daerah sehingga Golput adalah ancaman bagi kepentingannya. Entahlah, yang jelas saya sangat berharap bahwa fatwa itu tidak atas dasar kepentingan rendah dan kerdil, melainkan atas keinginan untuk menyelamatkan rakyat.

Soal fatwa itu salah atau kurang benar, itu soal lain. Yang jelas, niatnya harus untuk kebaikan. Kalaupun di hadapan Allah swt fatwa itu salah, toh MUI sudah memiliki sebuah pahala yang sangat besar, yaitu berpikir untuk umat dengan niat yang murni untuk mendapatkan keridhoan Allah swt. Kalau dorongannya duniawi, jelas MUI sendiri tahu akan dapat apa dari Allah swt.