oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Aksi-aksi begal, penodongan, dan kekerasan gank motor
akhir-akhir ini marak serta mendapatkan perhatian luar biasa dari masyarakat
sehingga membuat kota, khususnya Bandung menjadi sangat mencekam. Hal ini bisa
dilihat dari beberapa tayangan video netizen yang memperlihatkan situasi Bandung
malam yang sangat sepi, tidak seperti biasanya.
![]() |
| Para begal ditangkap di Bandung (Foto: Metro TV) |
Banyak
orang yang berpendapat bahwa maraknya aksi-aksi itu berawal dari masalah
ekonomi. Kesusahan hidup membuat banyak kejahatan yang terjadi. Akan tetapi,
saya melihatnya dari sisi politik. Maraknya aksi kejahatan tersebut sangat erat
kaitannya dengan politik. Tujuannya adalah adanya huru-hara atau kegoncangan sosial.
Pada zaman Presiden Jokowi juga terjadi huru-hara dan demonstrasi yang merebak
serentak meskipun dengan isu-isu yang aneh, misalnya, soal pembatasan jam malam
bagi perempuan dan hewan peliharaan yang masuk ke rumah tetangga.
Jauh ke masa lalu, para perusuh
memang biasa digunakan oleh para politisi. Para wali di Indonesia kerap
menggunakan mereka untuk menjatuhkan para raja yang dianggap zalim terhadap
rakyat atau menentang Islam. Dalam banyak kisah upaya menyebarkan Islam di
tanah Jawa sering disebut bahwa saking saktinya para wali bisa memerintahkan
cacing, tikus, ular, atau kalajengking untuk menghancurkan istana para raja.
Hewan-hewan itu sebenarnya adalah sebutan kiasan bagi para perusuh, preman, para
jagoan jalanan yang merasakan kezaliman penguasa saat itu. Mereka berada dalam
barisan para wali.
Kondisi ini sama dengan
situasi ketika kerusuhan terjadi dalam setiap masa. Intinya adalah adanya
orang-orang yang dirugikan dan tidak puas oleh kebijakan pemerintahnya, lalu
membuat keguncangan di dalam negeri. Sejak Presiden Jokowi sudah terlihat
situasi seperti ini, misalnya, dengan adanya hilirasisi yang membuat bangkrut
banyak pabrik di Eropa dan menutup pintu rezeki banyak eksportir dan importir
komoditas yang terkena program hilirisasi. Zaman Prabowo lebih-lebih lagi
karena hilirisasi diperluas, swasembada pangan, berhasilnya B50, Danantara,
pengawasan ekspor satu pintu yang lebih ketat, MBG, penangkapan koruptor yang
lebih masif, dan lain sebagainya. Hal-hal itu membuat banyak orang, baik di
luar negeri maupun di dalam negeri mengalami kerugian dan kesusahan rezeki.
Orang-orang itu pasti marah luar biasa. Sopir Angkot saja marah kalau rezekinya
disalip atau trayeknya dihentikan. Orang yang rugi miliaran atau triliunan
pasti sangat marah. Mereka inilah yang saya duga menggerakkan para begal dan
pelaku kejahatan lainnya untuk membuat kekacauan dan ketakutan di masyarakat.
Jokowi terlalu kuat untuk
dijatuhkan, hingga kasus recehan saja seperti ijazah palsu digunakan untuk menjatuhkannya,
tetapi tidak pernah jatuh meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjadi pejabat
negara. Prabowo lebih sulit dijatuhkan dengan berbagai serangan media luar dan dalam
negeri, LSM luar dalam negeri, hingga hinaan di Medsos tidak mempengaruhinya.
Prabowo malah membuatnya seperti candaan. Orang-orang yang telah dirugikannya
kayaknya kehilangan arah sekaligus kehilangan akal sehingga membuat kekacauan
dan instabilitas melalui para begal dan pelaku kejahatan lainnya. Harapannya
kekacauan akan menimbulkan ketidakstabilan politik yang berujung pada lemahnya
pemerintahan. Dengan demikian, pemerintahan berganti sesuai yang diinginkan
orang-orang itu.
Kalau masalahnya hanya
ekonomi, kejahatan yang terjadi tidak akan serentak dan marak bersamaan.
Kesusahan karena masalah ekonomi memang kerap terjadi, tetapi tidak seragam
dalam waktu bersamaan secara masif. Kalau serentak, berarti terjadi
pengorganisasian atau diorkestra oleh pihak-pihak kuat yang membekingi mereka.
Belum lagi jika diperhatikan
dari pengakuan para penjahat yang sempat tertangkap dan diinterogasi warga. Banyak
dari mereka yang mengaku hanya diajak orang lain. Bukan mereka sendiri yang
berinisiatif melakukan kejahatan, melainkan “diajak”, digerakan orang lain.
Pihak-pihak yang mengajaknya ini harus segera ditangkap karena merugikan keamanan
warga.
Ini semua hanya politik yang
bersaudara dengan ekonomi. Seperti itu yang saya lihat. Kalau belum paham,
sebaiknya minum susu. Mau susu kambing atau susu sapi, boleh.
Kalau minum susu sambil “susulumputan”.
Kalau susulumputan, kemungkinan susunya tidak halal. Jangan minum susu susulumputan
karena susu itu halal.
Foto para begal yang ditangkap
di Bandung adalah milik Metro TV.
Sampurasun

No comments:
Post a Comment