Sunday, 26 July 2026

Begal dan Politik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Aksi-aksi begal, penodongan, dan kekerasan gank motor akhir-akhir ini marak serta mendapatkan perhatian luar biasa dari masyarakat sehingga membuat kota, khususnya Bandung menjadi sangat mencekam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa tayangan video netizen yang memperlihatkan situasi Bandung malam yang sangat sepi, tidak seperti biasanya.


Para begal ditangkap di Bandung (Foto: Metro TV)

            Banyak orang yang berpendapat bahwa maraknya aksi-aksi itu berawal dari masalah ekonomi. Kesusahan hidup membuat banyak kejahatan yang terjadi. Akan tetapi, saya melihatnya dari sisi politik. Maraknya aksi kejahatan tersebut sangat erat kaitannya dengan politik. Tujuannya adalah adanya huru-hara atau kegoncangan sosial. Pada zaman Presiden Jokowi juga terjadi huru-hara dan demonstrasi yang merebak serentak meskipun dengan isu-isu yang aneh, misalnya, soal pembatasan jam malam bagi perempuan dan hewan peliharaan yang masuk ke rumah tetangga.

Jauh ke masa lalu, para perusuh memang biasa digunakan oleh para politisi. Para wali di Indonesia kerap menggunakan mereka untuk menjatuhkan para raja yang dianggap zalim terhadap rakyat atau menentang Islam. Dalam banyak kisah upaya menyebarkan Islam di tanah Jawa sering disebut bahwa saking saktinya para wali bisa memerintahkan cacing, tikus, ular, atau kalajengking untuk menghancurkan istana para raja. Hewan-hewan itu sebenarnya adalah sebutan kiasan bagi para perusuh, preman, para jagoan jalanan yang merasakan kezaliman penguasa saat itu. Mereka berada dalam barisan para wali.

Kondisi ini sama dengan situasi ketika kerusuhan terjadi dalam setiap masa. Intinya adalah adanya orang-orang yang dirugikan dan tidak puas oleh kebijakan pemerintahnya, lalu membuat keguncangan di dalam negeri. Sejak Presiden Jokowi sudah terlihat situasi seperti ini, misalnya, dengan adanya hilirasisi yang membuat bangkrut banyak pabrik di Eropa dan menutup pintu rezeki banyak eksportir dan importir komoditas yang terkena program hilirisasi. Zaman Prabowo lebih-lebih lagi karena hilirisasi diperluas, swasembada pangan, berhasilnya B50, Danantara, pengawasan ekspor satu pintu yang lebih ketat, MBG, penangkapan koruptor yang lebih masif, dan lain sebagainya. Hal-hal itu membuat banyak orang, baik di luar negeri maupun di dalam negeri mengalami kerugian dan kesusahan rezeki. Orang-orang itu pasti marah luar biasa. Sopir Angkot saja marah kalau rezekinya disalip atau trayeknya dihentikan. Orang yang rugi miliaran atau triliunan pasti sangat marah. Mereka inilah yang saya duga menggerakkan para begal dan pelaku kejahatan lainnya untuk membuat kekacauan dan ketakutan di masyarakat.

Jokowi terlalu kuat untuk dijatuhkan, hingga kasus recehan saja seperti ijazah palsu digunakan untuk menjatuhkannya, tetapi tidak pernah jatuh meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjadi pejabat negara. Prabowo lebih sulit dijatuhkan dengan berbagai serangan media luar dan dalam negeri, LSM luar dalam negeri, hingga hinaan di Medsos tidak mempengaruhinya. Prabowo malah membuatnya seperti candaan. Orang-orang yang telah dirugikannya kayaknya kehilangan arah sekaligus kehilangan akal sehingga membuat kekacauan dan instabilitas melalui para begal dan pelaku kejahatan lainnya. Harapannya kekacauan akan menimbulkan ketidakstabilan politik yang berujung pada lemahnya pemerintahan. Dengan demikian, pemerintahan berganti sesuai yang diinginkan orang-orang itu.

Kalau masalahnya hanya ekonomi, kejahatan yang terjadi tidak akan serentak dan marak bersamaan. Kesusahan karena masalah ekonomi memang kerap terjadi, tetapi tidak seragam dalam waktu bersamaan secara masif. Kalau serentak, berarti terjadi pengorganisasian atau diorkestra oleh pihak-pihak kuat yang membekingi mereka.

Belum lagi jika diperhatikan dari pengakuan para penjahat yang sempat tertangkap dan diinterogasi warga. Banyak dari mereka yang mengaku hanya diajak orang lain. Bukan mereka sendiri yang berinisiatif melakukan kejahatan, melainkan “diajak”, digerakan orang lain. Pihak-pihak yang mengajaknya ini harus segera ditangkap karena merugikan keamanan warga.

Ini semua hanya politik yang bersaudara dengan ekonomi. Seperti itu yang saya lihat. Kalau belum paham, sebaiknya minum susu. Mau susu kambing atau susu sapi, boleh.

Kalau minum susu sambil “susulumputan”. Kalau susulumputan, kemungkinan susunya tidak halal. Jangan minum susu susulumputan karena susu itu halal.

Foto para begal yang ditangkap di Bandung adalah milik Metro TV.

Sampurasun

No comments:

Post a Comment