oleh Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Hasil survey yang
dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa kepuasan
rakyat terhadap Presiden RI Prabowo Subianto turun drastis sebanyak 30,1%.
Sembilan bulan lalu kepuasannya sangat tinggi, yaitu 81,2%. Data kepuasan
terakhir adalah 51,1%. Hal ini berbeda dengan kepuasan rakyat terhadap Jokowi.
Meskipun sudah tidak menjadi presiden, angkanya tetap tinggi, yaitu dari sekitar
82% menjadi 77%. Memang turun, tetapi tetap tinggi.
Di samping
itu, jika pemilihan presiden dilaksanakan pada tanggal ini, Prabowo akan kalah
oleh Dedi Mulyadi yang sekarang menjadi gubernur Jawa Barat. Rakyat lebih
memilih Dedi dibandingkan Prabowo dan calon lain. Dedi menempati posisi puncak
dengan angka yang sangat tinggi. Adapun Anis Baswedan dan AHY jauh di bawah
Prabowo. Artinya, jauh lebih rendah dibandingkan Dedi Mulyadi.
![]() |
| Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (Foto: Kantor Staf Presiden) |
Pihak
istana tampaknya tidak terlalu pusing dengan hasil survey itu. Mereka
menjelaskan bahwa mereka tidak mengejar hasil survey, tetapi bekerja untuk
menjalankan berbagai program untuk rakyat. Hasil survey itu hanya menjadi
pengingat untuk istana.
Menurut
saya, ada dua hal yang membuat kepercayaan rakyat kepada Prabowo menurun. Pertama, Prabowo itu sering sekali pergi
ke luar negeri untuk melakukan serangkaian diplomasi. Hal itu mengakibatkan dia
lebih sedikit berada bersama rakyat. Berbeda dengan Jokowi yang kerap blusukan
ke tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, interaksi Prabowo dengan masyarakat
kurang intens.
Memang Prabowo harus sangat
sering bergaul dengan pihak asing untuk menjaga negara dan memanfaatkan energi internasional
untuk kepentingan dalam negeri. Untuk urusan dalam negeri, sebaiknya lebih banyak
ditugaskan kepada Wakil Presiden Gibran, para menteri, dan Dedi Mulyadi untuk
di Jawa Barat. Dengan demikian, terjadi sinergi positif antara Prabowo, Gibran,
dan Dedi Mulyadi. Tiga orang ini adalah orang kuat yang kekuatannya sulit untuk
dibendung dalam memuncaki kepemimpinan nasional. Ketiganya tidak boleh adu kuat
atau bersaing untuk saling mengalahkan atau tergoda untuk rebutan pengaruh dan
posisi. Mereka harus saling bahu untuk masa depan negeri yang lebih baik. Soal hasil
survey, tidak perlu menjadi pijakan untuk rebutan kepemimpinan. Sekarang adalah
waktunya bekerja bersama-sama. Tidak harus mudah diadu domba. Perhatikan isu
Fufufafa yang sudah menjadi sangat basi itu, kini tak punya pengaruh. Isu itu tadinya
digunakan untuk mengadu domba antara Prabowo dan Gibran. Akan tetapi, karena
dicuekin, mati sendiri.
Kedua,
rakyat
Indonesia itu mayoritas terlalu simpel, sederhana, pengen mudah saja dalam
berpikir, tidak mau yang rumit-rumit, atau menelaah isu hingga ke dalam.
Misalnya, ketika program makan bergizi gratis (MBG) bermasalah, rakyat
menilainya gagal dan harus dihentikan karena memboroskan anggaran. Padahal, MBG
itu menyerap hasil tani, ternak, industri rakyat sehingga rakyat punya pasar
tetap untuk hasil produksinya. Di samping itu, MBG bisa menstabilkan harga sembako.
Ketika produksi telur terlalu banyak, bisa diserap MBG sehingga harganya tidak
jatuh. Sebaliknya, ketika produksi telur berkurang, tidak perlu diserap MBG
sehingga harganya tidak melambung. Demikian pula soal Koperasi Merah Putih,
ketika ada masalah, rakyat menilainya gagal dan harus dihentikan. Padahal, koperasi
itu membebaskan rakyat dari rentenir dan memperpendek rantai distribusi
sehingga harga sembako bisa lebih murah. Akan tetapi, rakyat kita tidak mau
berpikir lebih dalam dan lebih sophisticated.
Bahkan, bisa pusing jika diajak berpikir lebih ke intinya. Ketika Jokowi tidak
memperlihatkan ijazah aslinya, rakyat menyimpulkan palsu atau tidak ada ijazah.
Itulah masyarakat kita. Padahal lembaga tempat Jokowi belajar sudah menyatakan
bahwa ijazahnya asli.
Kedua hal itulah yang menyebabkan
anjloknya kepercayaan rakyat kepada Presiden Prabowo; bekerja sangat sering dalam
bidang hubungan internasional kurang dekat pada rakyat dan kebiasaan rakyat
yang terlalu sederhana dalam berpikir.
Agar pemerintahan lebih kuat, syaratnya
seperti yang saya jelaskan tadi, yaitu pertama,
ketiga orang itu: Prabowo, Gibran, dan Dedi Mulyadi harus sinergi tidak mudah
diadu domba untuk rebutan posisi. Kedua, pemerintah harus memperbanyak
orang yang bisa menjadi juru bicara kepada rakyat yang cara berpikirnya
sederhana. Sekarang memang ada juru bicara yang pintar-pintar, seperti, Hasan
Nasbi, Qodari, dan Ulta, tetapi itu masih kurang dan masih berbicara di level
orang-orang pintar, belum mampu menyentuh ke alam pikiran rakyat yang berbicara
sederhana dan berpikir sederhana.
Mudah-mudahan yang saya
sampaikan ini bisa dipahami. Kalau belum paham, segera minum susu supaya bisa
lebih lancar berpikir dan runut dalam berbicara.
Foto Prabowo adalah milik Kantor Staf Presiden.
Sampurasun.

No comments:
Post a Comment