oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Bandung yang biasanya sibuk siang-malam dan relatif aman
untuk beraktivitas kini menjadi sepi dan mencekam. Kalau dulu-dulu, paling yang
mengesalkan adalah parkir liar yang tidak jelas. Kalau pakai mobil, baru parkir
saja diminta Rp20.000,-, pas pulangnya tidak ada yang ngejagain juga. Kalau
motor, baru berhenti saja diminta Rp7.000,-, premannya langsung menghilang,
tidak ada tanggung jawab buat ngejagain, minta uangnya saja. Meskipun demikian,
masih relatif aman dari kekerasan. Sekarang menjadi tambah parah. Bandung
terkuasai rasa takut oleh para begal, gank motor, dan kekerasan jalanan
lainnya.
| Salah satu sudut Bandung yang sepi mencekam (Foto: Instagram) |
Ada banyak
video dan foto yang menayangkan Bandung sangat sepi, mencekam, dan mengerikan.
Hal ini menunjukkan bahwa para penggerak begal dan penjahat lainnya sudah
menang menguasai dan menebarkan teror di tengah masyarakat. Hal itu menimbulkan
gangguan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Bandung yang merupakan wilayah besar
dan sibuk dengan aktivitasnya harus terhenti karena ketakutan teror kekerasan.
Ada banyak kegiatan produktif malam hari yang biasanya bergerak di Bandung kini
berhenti. Artinya, ada peredaran uang yang juga ikut terhambat.
Kegiatan
malam itu bukan hanya hiburan malam, melainkan juga kuliner, penginapan,
seminar, gathering, pengajian yang gladinya biasanya malam hari, para pekerja
yang berganti shift, klinik atau rumah sakit, dan masih banyak lagi. Saya saja
kalau ke Bali menggunakan mobil, lalu sampai Denpasar tengah malam, ya keliling
cari hotel yang masih tersedia kamarnya. Kalau di Bandung, saya nggak keliling
cari penginapan karena saya orang Bandung, tinggal pulang saja. Jika ada
wisatawan atau orang yang punya keperluan di Bandung, tidak bisa cari
penginapan kalau sudah malam karena ada teror begal yang mengerikan. Itu sangat
mengganggu masyarakat dan pertumbuhan Bandung sendiri.
Sepi dan
mencekamnya Bandung itu sudah merupakan “kegagalan negara” dalam menciptakan
rasa aman dan kondusif rakyatnya. Ini tidak perlu disangkal. Ini adalah
kegagalan aparat keamanan yang digaji rakyat untuk bekerja dengan baik. Apalagi
jika masyarakat ikut turun menjaga keamanan, itu juga sudah indikasi kegagalan.
Hal itu disebabkan seharusnya masyarakat berkonsentrasi pada pekerjaan dan
aktivitasnya, bukan soal keamanan.
Bagaimana
negara mau maju jika masyarakat yang harusnya bergerak membangun ekonomi, malah
ikut-ikutan lelah menjaga keamanan?
Memang
masyarakat sangat sadar untuk menjaga
keamanan, tetapi itu bukanlah tugas mereka yang utama. Seharusnya rakyat
diberikan rasa aman yang utuh sehingga pikiran, fisik, dan potensinya bisa
diarahkan pada hal lain yang bukan keamanan. Untuk urusan keamanan, rakyat
sudah diwajibkan membayar pajak. Uang-uang pajak itulah yang sebagiannya
diberikan pada negara dan disalurkan pada aparat keamanan untuk menciptakan
rasa aman.
Kalau
masyarakat harus berletih-letih lagi menjaga keamanan, untuk apa bayar pajak
menghidupi aparat keamanan?
Itu
pemerasan!
Situasi
Bandung yang mencekam adalah kegagalan negara dalam memberikan rasa aman pada
rakyat. Meskipun demikian, kita patut memberikan apresiasi pada negara dan
aparat yang tampak mulai berbenah untuk memberikan layanan pada masyarakat.
Meskipun masih minim, kita perlu memberikan dukungan. Hal yang harus dikawal
adalah negara harus diperhatikan agar benar-benar melayani rakyatnya. Dalam
urusan begal dan kekerasan jalanan lainnya untuk saat ini harus menjadi
prioritas yang lebih ditingkatkan pelayanannya.
Ilustrasi
salah satu sudut Kota Bandung yang sepi karena ketakutan malam berasal dari
Instagram.
Jangan
lupa minum susu, hentikan alkohol!
Sampurasun.
No comments:
Post a Comment