Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Tuesday, 28 July 2026

Bandung Sepi Adalah Kegagalan Negara

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bandung yang biasanya sibuk siang-malam dan relatif aman untuk beraktivitas kini menjadi sepi dan mencekam. Kalau dulu-dulu, paling yang mengesalkan adalah parkir liar yang tidak jelas. Kalau pakai mobil, baru parkir saja diminta Rp20.000,-, pas pulangnya tidak ada yang ngejagain juga. Kalau motor, baru berhenti saja diminta Rp7.000,-, premannya langsung menghilang, tidak ada tanggung jawab buat ngejagain, minta uangnya saja. Meskipun demikian, masih relatif aman dari kekerasan. Sekarang menjadi tambah parah. Bandung terkuasai rasa takut oleh para begal, gank motor, dan kekerasan jalanan lainnya.


Salah satu sudut Bandung yang sepi mencekam (Foto: Instagram)


            Ada banyak video dan foto yang menayangkan Bandung sangat sepi, mencekam, dan mengerikan. Hal ini menunjukkan bahwa para penggerak begal dan penjahat lainnya sudah menang menguasai dan menebarkan teror di tengah masyarakat. Hal itu menimbulkan gangguan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Bandung yang merupakan wilayah besar dan sibuk dengan aktivitasnya harus terhenti karena ketakutan teror kekerasan. Ada banyak kegiatan produktif malam hari yang biasanya bergerak di Bandung kini berhenti. Artinya, ada peredaran uang yang juga ikut terhambat.

            Kegiatan malam itu bukan hanya hiburan malam, melainkan juga kuliner, penginapan, seminar, gathering, pengajian yang gladinya biasanya malam hari, para pekerja yang berganti shift, klinik atau rumah sakit, dan masih banyak lagi. Saya saja kalau ke Bali menggunakan mobil, lalu sampai Denpasar tengah malam, ya keliling cari hotel yang masih tersedia kamarnya. Kalau di Bandung, saya nggak keliling cari penginapan karena saya orang Bandung, tinggal pulang saja. Jika ada wisatawan atau orang yang punya keperluan di Bandung, tidak bisa cari penginapan kalau sudah malam karena ada teror begal yang mengerikan. Itu sangat mengganggu masyarakat dan pertumbuhan Bandung sendiri.

            Sepi dan mencekamnya Bandung itu sudah merupakan “kegagalan negara” dalam menciptakan rasa aman dan kondusif rakyatnya. Ini tidak perlu disangkal. Ini adalah kegagalan aparat keamanan yang digaji rakyat untuk bekerja dengan baik. Apalagi jika masyarakat ikut turun menjaga keamanan, itu juga sudah indikasi kegagalan. Hal itu disebabkan seharusnya masyarakat berkonsentrasi pada pekerjaan dan aktivitasnya, bukan soal keamanan.

            Bagaimana negara mau maju jika masyarakat yang harusnya bergerak membangun ekonomi, malah ikut-ikutan lelah menjaga keamanan?

            Memang masyarakat sangat sadar untuk  menjaga keamanan, tetapi itu bukanlah tugas mereka yang utama. Seharusnya rakyat diberikan rasa aman yang utuh sehingga pikiran, fisik, dan potensinya bisa diarahkan pada hal lain yang bukan keamanan. Untuk urusan keamanan, rakyat sudah diwajibkan membayar pajak. Uang-uang pajak itulah yang sebagiannya diberikan pada negara dan disalurkan pada aparat keamanan untuk menciptakan rasa aman.

            Kalau masyarakat harus berletih-letih lagi menjaga keamanan, untuk apa bayar pajak menghidupi aparat keamanan?

            Itu pemerasan!

            Situasi Bandung yang mencekam adalah kegagalan negara dalam memberikan rasa aman pada rakyat. Meskipun demikian, kita patut memberikan apresiasi pada negara dan aparat yang tampak mulai berbenah untuk memberikan layanan pada masyarakat. Meskipun masih minim, kita perlu memberikan dukungan. Hal yang harus dikawal adalah negara harus diperhatikan agar benar-benar melayani rakyatnya. Dalam urusan begal dan kekerasan jalanan lainnya untuk saat ini harus menjadi prioritas yang lebih ditingkatkan pelayanannya.

            Ilustrasi salah satu sudut Kota Bandung yang sepi karena ketakutan malam berasal dari Instagram.

            Jangan lupa minum susu, hentikan alkohol!

            Sampurasun.

Sunday, 12 March 2023

Masjid Raya Al Jabbar Kotor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata mereka. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup sementara Masjid Raya Al Jabbar, Bandung, dalam pengumuman awalnya mulai 27 Februari s.d. 13 Maret 2023. Hal itu dilakukan setelah evaluasi beberapa bulan sejak pembukaan untuk penataan, pembersihan, perbaikan, dan lain sebagainya. Apalagi setelah semua bisa melihat bahwa Masjid Raya Al Jabbar memiliki daya tarik yang luar biasa. Setiap hari padat pengunjung, puluhan juta orang sudah bolak-balik ke komplek masjid. Memasuki bulan Ramadhan, pengunjung diperkirakan akan tambah padat, baik oleh mereka  yang beribadat maupun yang ngabuburit. Hal itu harus dipersiapkan dengan lebih baik oleh pengurus masjid. Bulan biasa saja penuh, apalagi bulan Ramadhan, insyaallah makin penuh.

            Pengumuman penutupan itu tentu saja membuat para pedagang dan aktivitas di seputar masjid harus angkat kaki dari sana.  Setelah mereka pergi, tampaklah berserakan sampah di bekas lapak-lapak mereka akibat ulah mereka dan pengunjung juga. Berserakannya sampah ini membuat kaum nyinyirun memiliki bahan untuk menyinyiri Masjid Al Jabbar yang kata mereka kotor. Padahal, yang kotor itu bukan di Masjid Al Jabbar, melainkan jalan di seputar masjid. Di dalam masjidnya sih bersih dan nyaman kok.


Di luar Masjid Raya Al Jabbar (Foto: Liputan6 com)


            Foto seputar Masjid Al Jabbar yang kotor penuh sampah saya dapatkan dari Liputan6 com.

            Di antara kaum nyinyirun malah ada yang mencoba menyamakan Masjid Al Jabbar dengan Masjid Ad Dhirar yang dulu dihancurkan Nabi Muhammad saw. Kata mereka Masjid Ad Dhirar dihancurkan karena tujuannya di luar untuk ibadat dan memiliki tujuan lain. Akan tetapi, mereka tidak menjelaskan tujuan lain itu. Mereka takut terbuka fakta yang sebenarnya. Mereka cuma iri dengan Masjid Raya Al Jabbar dan takut terhadap Ridwan Kamil.

            Saya kasih tahu bahwa Masjid Ad Dhirar itu dihancurkan Nabi Muhammad saw karena dibangun oleh orang-orang munafik dan pendeta Kristen yang tidak suka terhadap kebijakan-kebijakan Nabi Muhammad saw di Madinah. Mereka membangun masjid itu untuk memecah belah umat. Adapun Masjid Al Jabbar tidak dibangun oleh orang munafik atau pendeta Kristen dan tidak untuk memecah belah umat.

            Sampai sini paham, Bro?

            Sebetulnya, sudah saya jelaskan berkali-kali bahwa komplek Masjid Al Jabar itu terdiri atas empat bagian, yaitu tempat ibadat, museum, danau retensi, dan taman hutan kota. Di masjidnya sendiri dalam arti “tempat sujud”, tidak kotor, tetap terjaga bersih. Bagian yang kotor adalah di luar masjid, di bagian alun-alun, taman hutan kota, danau retensi, tempat parkir, dan jalan di seputarnya, bukan di masjid yang menjadi tempat sujud itu.




            Sampah yang menjadi penyebab kekotoran itu tentu saja harus menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya petugas kebersihan, melainkan pula para pedagang, dan masyarakat yang datang ke sana. Jadi, yang kotor itu bukan masjid, melainkan tempat lain yang menjadi fasilitas pelengkap Masjid Raya Al Jabbar.

            Sampurasun.

Sunday, 8 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Ternyata Menakutkan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masjid Raya Al Jabbar yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Jumat, 30 Desember 2022 berlokasi di Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Masjid megah bernama Al Jabbar yang bisa berarti Mahaagung, Mahakuat, atau Maha Memaksa ini ternyata menggetarkan dan  menakutkan hati sebagian orang. Mereka yang bergetar dan tampak takut ini adalah para politisi yang merasa tersaingi untuk pemilihan presiden 2024. Hal itu disebabkan ada sosok teramat penting dalam pembangunan ini, yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Keduanya pemimpin yang baik, punya prestasi, dan khususnya Ridwan Kamil terus bekerja. Mereka berdua hampir tak punya cacat. Kalaupun ada beberapa rencana Gubernur Ridwan Kamil yang belum terpenuhi, itu semuanya perlu waktu, tidak seperti sulap “sim salabim, abrakadabra”, ada hal-hal yang harus terus diperhitungkan untuk melaksanakan dan mewujudkan program-programnya.  

            Siapa pun tidak bisa menghindar, pura-pura tidak tahu, atau bahkan menutup mata. Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat adalah masjid megah, indah, bergaya futuristik masa depan, dan merajut harmoni kebangsaan dalam bernegara.


Foto: Republika


            Menurut catatan, masjid ini dibangun sejak 2017. Artinya, sudah digagas, didiskusikan, direncanakan, serta mulai secara bertahap dan dibiayai tahun-tahun sebelumnya, sejak gubernur sebelumnya, yaitu Ahmad Heryawan. Jika mengikuti keterangan Ridwan Kamil bahwa pembiayaan masjid ini sudah disetujui tujuh tahun lalu, berarti kesepakatan pembangunannya sudah mulai pada 2015.

            Ridwan Kamil adalah orang yang mendesain masjid bernuansa modern ini. Ia memang dikenal sebagai arsitek andal dan karyanya sudah sangat banyak berdiri di Indonesia ini, bukan hanya masjid, melainkan pula bangunan-bangunan lainnya.

Masjid Al Jabbar mampu menampung 50.000 jemaah. Bahkan, mungkin lebih jika diisi jamaah hingga ke luar, taman atau halamannya, hutan kota.


Foto: Okezone Muslim


            Masjid ini sangat kokoh hingga mampu menahan gempa berkekuatan enam magnitudo.  Di samping memiliki alun-alun yang dihiasi tanaman hijau, Al Jabbar memiliki ruang luas yang bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Masjid ini berdiri di atas luas lahan 26 ha yang di seputarnya diproyeksikan menjadi central business district (CBD) atau distrik pusat bisnis baru. Di sekelilingnya dipenuhi air yang indah terkumpul di danau retensi yang berfungsi pula sebagai pengendali banjir di wilayah Gedebage, Bandung.

            Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang setiap pintu dihiasi batik yang berasal dari 27 motif batik kabupaten dan kota di Jawa Barat. Itu adalah penghargaan kepada rakyat, budaya, dan persatuan warga Jawa Barat. Motif itu pun merupakan hasil karya warga Jawa Barat. Di samping itu, ada pula aksesoris lainnya, semacam lampu hias yang juga hasil karya rakyat Jabar. Bentuk masjid ini bukan kubah, melainkan melengkung yang melambangkan proses pendekatan dari bawah menuju atas sebagai puncak kedekatan dengan Allah swt. Dari dalam, puncaknya bertuliskan “Allah” yang filosofinya adalah cahaya Allah swt turun menuju imam.


Foto: CNN Indonesia

            Untuk kelengkapan sebagai masjid modern, difasilitasi pula oleh museum yang disesuaikan dengan era globalisasi berteknologi canggih. Masyarakat bisa menikmati museum digital Muhammad Rasulullah saw, sejarah Islam Nusantara, serta sejarah Islam di Jawa Barat.

            Apabila disimpulkan, Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat terdiri atas empat komponen, yaitu “tempat ibadat, museum, danau retensi, dan taman hutan kota”. Bangunan mewah ini diakui oleh Ridwan Kamil adalah masjid yang paling rumit dan paling lama dibangun dibandingkan masjid-masjid lain yang pernah dibangun oleh Ridwan Kamil.

            Keindahan dan kenyamanan Al Jabbar ini dibangun dengan membutuhkan dana sejumlah 1,2 triliun. Uang yang sangat besar. Para politisi dan pendukungnya yang merasa ketakutan, terancam, dan tersaingi oleh karya besar Ridwan Kamil ini mulai mencari-cari kelemahan pembangunan masjid ini sejak perencanaan, pembiayaan, pembangunan, peresmian, bahkan hingga ke diri pribadi Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan. Tujuannya adalah melemahkan kepercayaan dan rasa hormat rakyat kepada Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan. Kita harus paham bahwa Ridwan Kamil telah menyatakan siap untuk dicalonkan menjadi presiden Indonesia jika dirinya dipercaya rakyat dan partai-partai. Demikian pula, Ahmad Heryawan yang sedang diperkenalkan untuk menjadi calon wakil presiden. Inilah yang membuat banyak politisi dan para pendukungnya ketakutan dan terancam sehingga mengeluarkan pernyataan-pernyataan remeh dan sangat kelihatan jelas ketakutannya.

Bagaimana tidak ketakutan, Al Jabbar adalah masjid megah yang berasal dari uang rakyat yang mayoritas Islam?

Umat Islam sangat mencintai masjid. Sudah pasti masjid dengan bentuk mewah berteknologi tinggi dan bergaya futuristik akan menjadi kebanggaan umat serta pendirinya akan sangat dihormati umat.  Umat akan sangat berterima kasih kepada para pembangunnya. Inilah yang menjadi ketakutan para politisi dan pendukungnya itu. Jangan-jangan masyarakat semakin menyukai Ridwan Kamil dan mulai mengingat lagi jasa-jasa besar Ahmad Heryawan dalam membangun infrastruktur di Jawa Barat. Bisa-bisa, Ridwan Kamil menjadi presiden Indonesia. Mungkin begitu pikir mereka.


Foto: inijabar.com


Berikut beberapa serangan mereka terhadap Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat dan terhadap diri Ridwan Kamil. Serangan mereka itu, insyaallah saya jawab satu per satu.

Pertama, mereka menyayangkan uang satu triliun itu hanya dibuat untuk masjid, padahal ada banyak hal yang harus dibiayai. Misalnya, transportasi masal, memecahkan masalah kemacetan, membangun UMKM, memberikan beasiswa untuk generasi muda, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan memberikan kesejahteraan kepada banyak pihak.

Kedua, kata mereka di Jawa Barat ini sudah berdiri 50.000 ribu masjid.

Apakah masih kurang sehingga harus membangun Masjid Raya Al Jabbar?

Ketiga, kata mereka uang APBD itu adalah uang rakyat yang terdiri atas banyak pemeluk agama berbeda. Jadi, seharusnya dibangun pula tempat ibadat agama lain.

Bayangkan, apa yang terjadi jika uang satu triliun itu digunakan untuk membangun gereja?

Pasti akan ditolak dan akan menjadi keributan.

Keempat, mereka membandingkan bahwa untuk apa membangun lagi masjid karena Jawa Barat adalah provinsi yang sangat intoleran, tidak mampu menghargai orang lain yang berbeda agama.

            Kelima, mereka menyerang kecakapan Ridwan Kamil. Menurut mereka, Ridwan Kamil punya banyak rencana dan keinginan, tetapi eksekusinya nol. Misalnya, rencana membangun monorel, membangun kereta gantung, membangun jalan tol Bandung-Garut-Tasikmlaya. Di samping itu, Ridwan Kamil sampai sekarang belum juga bergabung ke partai politik untuk dijadikan kendaraan menuju kursi Presiden RI.

            Keenam, mereka bilang Ridwan Kamil tidak cerdas, tidak pintar, tidak punya skala prioritas, dan tidak peka sebagai pemimpin karena menggunakan uang satu triliun hanya untuk membangun masjid yang dinikmati oleh satu golongan umat. Hanya umat Islam yang menikmati, pemeluk agama lain tidak boleh menikmati.

            Ketujuh, mereka menegaskan bahwa Ridwan Kamil tidak pantas untuk menjadi presiden ataupun wakil presiden. Ridwan Kamil hanya pantas sebagai arsitek dan artis Sinetron.

            Dari serangan-serangan mereka, tampak jelas ketakutan mereka terhadap Ridwan Kamil yang semakin disukai banyak orang. Mereka merasa terancam dengan hal itu. Mereka pun menggunakan Masjid Al Jabbar yang dianggapnya tidak penting untuk menyerang Ridwan Kamil. Mereka membungkusnya seperti kritikan untuk pemimpin atau pemerintah Jawa Barat. Akan tetapi, sesungguhnya mereka ketakutan jagoannya tergeser dari popularitas untuk di Pilpres RI tahun 2024. Ternyata, mereka serendah itu pikirannya. Penakut mereka itu.

            Seperti saya bilang, saya akan coba jawab serangan mereka itu satu per satu. Kalau ada yang tersinggung, silakan balas lagi saya. Saya akan sangat menyukainya.


Ridwan Kamil (Foto: Kompas.com)


            Pertama, mereka salah mengira atau memang menutupi kenyataannya. Biaya yang digunakan sejumlah satu triliun itu bukan diambil langsung dalam satu tahun APBD, melainkan diambil dari dana APBD selama bertahun-tahun. Seperti penjelasan Ridwan Kamil bahwa pembiayaan Masjid Raya Al Jabbar sudah disepakati antara eksekutif dan legislatif sejak tujuh tahun lalu, sejak 2015.  Artinya, masjid itu dibangun dengan menggunakan APBD Provinsi Jawa Barat dengan cara mencicil atau sedikit-sedikit mengambil setiap tahun sehingga jika dijumlahkan menjadi 1,2 triliun pada tahun 2022. Bisa dikatakan pembiayaannya adalah multi years, bertahun-tahun. Salah sekali jika ada anggapan mengambil satu triliun dari satu tahun APBD. Jadi, tidak tepat jika ada yang bilang itu seharusnya digunakan untuk hal lain. Misalnya, dalam satu tahun hanya menggunakan uang APBD untuk biaya konsultan, pembuatan design, atau pembebasan tanah secara bertahap. Anggaran tahun berikutnya, ada uang yang diambil untuk pembangunan tahap selanjutnya. Begitu seterusnya hingga pada 2022 berjumlah Rp1,2 triliun.

            Dengan pembiayaan seperti itu, pemerintah Jawa Barat masih bisa membangun dan membiayai hal-hal lainnya. Jumlah uang Provinsi Jawa Barat pada tahun 2022 adalah sebesar Rp32,10 triliun. Setiap tahun pemerintah Jawa Barat melakukan banyak pembangunan dan perbaikan, tidak terganggu oleh pembangunan masjid. Transportasi masal dibiayai sehingga semakin banyak bus yang bisa digunakan para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja dengan harga yang murah. Untuk mengatasi kemacetan, banyak dibangun flyover atau jalan layang untuk kendaraan dan pejalan kaki. Kalau belum tahu, main dong ke Bandung, sampai sekarang terus dibangun kok. Untuk membangun UMKM, pemerintah memberikan dorongan, pelatihan, dan kemudahan pendanaan. Salah seorang mahasiswa saya juga sedang melakukan penelitian kerja sama kelompok UMKM di Kota Bandung dengan kelompok UMKM di salah satu kota di Malaysia. Itu artinya ada pembangunan UMKM. Untuk mencerdaskan generasi muda, Provinsi Jawa Barat punya Jabar Future Leaders (JFL) Scholarship atau beasiswa untuk pendidikan. Saya juga dikasih uang oleh Provinsi Jawa Barat untuk menyelesaikan tugas akhir pendidikan S2 saya ketika gubernurnya masih Ahmad Heryawan. Artinya, ada dana untuk pendidikan rakyat. Sekolah-sekolah terus dibantu dananya. Lapangan kerja terus didorong untuk semakin banyak. Rakyat terus didorong untuk terampil melalui kursus-kursus atau pelatihan. Untuk masyarakat yang tidak mampu, banyak jaring pengaman sosial agar rakyat tetap bisa makan. Hari ini tidak terdengar lagi ada rakyat Jawa Barat yang kelaparan.

            Betul kan?

            Siapa sekarang yang kelaparan perutnya?

            Paling juga Hp-nya yang kelaparan kuota.

            Kalau dulu, ketika zaman Soeharto, memang ada rakyat Jawa Barat yang mati kelaparan. Beritanya sampai tersebar di koran-koran hingga ada perusahaan swasta yang memarahi lurah tempat orang yang mati kelaparan. Seharusnya, lurah menghubungi berbagai perusahaan atau menghubungi para donator untuk mengatasi persoalan pangan masyarakat. Sekarang tak ada lagi orang Jawa Barat yang mati kelaparan. Artinya, pemerintah Jawa Barat memperhatikan dan membiayai persoalan makanan rakyat. Soal pelayanan kesehatan, kita bisa lihat bahwa setiap hari Puskesmas dibangun lebih layak, obat-obatannya lebih beragam dan lebih berkualitas daripada masa lalu. Rakyat pun cukup mengeluarkan uang Rp7.000,-, padahal biaya kesehatan sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Misalnya, Rp50.000,-. Jadi, ketika rakyat berobat dengan harga Rp7.000,-, gubernur Jawa Barat menambahinya Rp43.000,-. Coba jalan-jalan ke setiap kecamatan, Puskesmasnya sudah jauh lebih baik kok.

            Memang benar, berbagai rencana atau program yang diinginkan belum semuanya sempurna karena semuanya butuh proses, butuh waktu, dan butuh dana yang dilakukan secara bertahap. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden RI Jokowi bahwa membuat rakyat sejahtera itu tidak bisa sim salabim langsung jadi, tetapi butuh proses. Hal yang jelas adalah pembangunan dan perbaikan itu terus dilakukan.

            Dari pembangunan masjid saja sudah jelas bisa meningkatkan ilmu pengetahuan dan ekonomi. Masjid Al Jabbar itu bukan hanya tempat ibadat, tetapi dilengkapi pula dengan museum digital, hutan kota, danau retensi, ruang-ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi seperti bazar dan promosi produk UMKM. Untuk membangun dan memelihara masjid itu, dibutuhkan ratusan pekerja yang artinya telah menyerap tenaga kerja. Belum lagi jika semua rencana operasional masjid lancar, akan lebih banyak butuh tenaga kerja.

            Di samping itu, di wilayah sekeliling masjid akan diproyeksikan sebagai distrik pusat bisnis baru. Artinya, pada masa berikutnya akan tumbuh pusat-pusat ekonomi yang memakmurkan rakyat.  Begitu cara berpikirnya, Bro.

            Kedua, kata mereka di Jawa Barat sudah terlalu banyak masjid, sudah ada 50.000 masjid. Jadi, Masjid Al Jabbar sama sekali tidak penting. Soal jumlah masjid itu bagaimana kebutuhan, malah 100.000 masjid masih harus dibangun jika dibutuhkan. Jawa Barat ini berpenduduk lebih dari 45 juta orang, mayoritas muslim, dan akan terus bertambah. Wajar kalau masjid masih banyak yang ingin membangun. Banyak sekali masjid-masjid kecil yang penuh dan sulit menampung jamaah, termasuk di perkotaan, apalagi di pusat-pusat perdagangan. Untuk shalat dzuhur di wilayah Tegalega saja, saya masih kesulitan karena antrian wudhu, toilet, dan tempat shalat yang penuh.

            Khusus untuk Masjid Al Jabbar, itu sangat diperlukan karena Provinsi Jawa Barat belum punya masjid level provinsi, adapun masjid besar di Cikapundung, Alun-Alun Bandung adalah Masjid Agung Kota Bandung. Dengan adanya Masjid Al Jabbar, kita jadi punya masjid level provinsi di Jawa Barat.

            Paham, Bro?

            Ketiga, soal uang APBD satu triliun itu hanya untuk masjid dan bukan untuk membangun tempat ibadat agama lain. Itu pasti karena rakyat Jawa Barat mayoritas muslim. Tidak mungkin membangun gereja, vihara, klenteng, atau pura di Jawa Barat dengan biaya satu triliun, kan jumlah pemeluknya juga sedikit. Kalau di tempat lain yang mayoritas nonmuslim, wajar membangun tempat ibadat di luar Islam dengan harga selangit juga, misalnya, di Bali itu normal membangun pura dengan biaya triliunan juga karena mayoritasnya bukan Islam. Selama eksekutif dan legislatif setuju menggunakan uang APBD untuk membangun tempat ibadat agama apa pun, pembangunan itu bisa dilakukan.

            Lagian, pemerintah di Jawa Barat pun pasti memperhatikan pula tempat-tempat ibadat agama lain, sesuai dengan kebutuhannya, gereja ada, demikian pula tempat ibadat lainnya.

            Hal itu sama saja di seluruh dunia juga, misalnya, jika kita lihat di Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa, bangunan gereja selalu lebih besar dan lebih megah dibandingkan masjid. Hal itu disebabkan umat Islam di sana adalah minoritas. Bahkan, di Cekoslowakia pemerintahnya melarang pembangunan masjid karena mayoritas penduduknya ateis. Masjid hanya boleh dibuat di bawah tanah, basement pertokoan, itu pun tidak luas, secukupnya. Jika banyak masjid di Jawa Barat atau di Indonesia, wajar karena penduduknya mayoritas muslim.

            Keempat, menurut mereka, percuma membangun Masjid Al Jabbar karena intoleransi rakyat Jawa Barat sangat tinggi. Mereka salah berpikir. Pembangunan masjid dengan intoleransi itu adalah dua hal yang berbeda dan harus ditangani berbeda pula. Intoleransi itu masalah sosial, sedangkan masjid adalah tentang pembangunan fisik yang dapat digunakan pula untuk menyelesaikan masalah sosial. Dengan dibangunnya Masjid Al Jabbar, diharapkan akan tumbuh pendidikan yang mengajarkan toleransi. Kegiatan rutin ceramah atau pengajian bisa mengundang para ulama atau ustadz yang mengajarkan kebaikan, ramah, santun, dan mencintai bangsanya. Tidak mengundang para penceramah radikal intoleran yang berujung pada terorisme. Masjid Al Jabbar pun memang diharapkan menjadi pusat penyebaran dan peradaban Islam yang memberikan manfaat, khususnya bagi warga Jawa Barat dan Indonesia, umumnya untuk umat manusia di dunia.

            Kelima, mereka mulai menyerang pribadi dan jabatan Ridwan Kamil karena banyak program-program yang belum terlaksana dan belum punya Parpol untuk dijadikan kendaraan menjadi Presiden RI. Padahal, sudah saya tuliskan tadi, berbagai keinginan atau program positif untuk rakyat itu perlu waktu, dana, dan kondisi yang memungkinkan. Tidak bisa seperti sulap atau sihir membuat semua program itu berjalan lancar, perlu proses bertahap yang diperhitungkan dengan matang. Hal itu pun diakui Jokowi bahwa membuat rakyat sejahtera itu perlu proses, tidak bisa langsung jadi.

            Soal Ridwan Kamil belum punya Parpol untuk menjadi presiden Indonesia, itu kembali pada diri Ridwan Kamil sendiri. Mungkin dia berpikir belum saatnya masuk Parpol atau memang mengurungkan niatnya untuk menjadi presiden. Kita belum tahu.

            Lagian,  buat apa ngurusin hal yang begitu?

            Kelihatan sekali mereka ketakutan oleh Ridwan Kamil yang bisa saja memutarkan keadaan dan membuat rakyat Indonesia menyukai dirinya untuk menjadi presiden Indonesia. Dasar para penakut.

            Keenam, mereka bilang Ridwan Kamil tidak cerdas dan  tidak punya skala prioritas karena membangun masjid seharga 1,2 triliun hanya untuk dinikmati umat Islam dan tidak bisa dinikmati umat lain. Parah banget mereka. Menurut saya, Ridwan Kamil sangat cerdas dan punya skala prioritas. Masjid Al Jabbar itu mulai direncanakan sejak masih zaman Gubernur Ahmad Heryawan dan dananya sudah disepakati sejak 2015, artinya ada pekerjaan Ahmad Heryawan yang masih harus dilanjutkan karena pada 2018 posisi gubernur dilanjutkan Ridwan Kamil. Jadi, Ridwan Kamil melanjutkan program gubernur sebelumnya. Kalau Ridwan Kamil tidak melanjutkannya, program pembangunan masjid itu menjadi proyek mangkrak. Itu cerdas dan paham skala prioritas.

            Bukankah kalian juga ingin bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dilanjutkan oleh presiden pengganti Jokowi supaya tidak mangkrak?

            Ridwan Kamil sudah membuktikan bahwa dirinya mampu melanjutkan program Ahmad Heryawan hingga tuntas.

            Para penyerang Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil tampak sekali orang-orang yang tidak paham masjid. Mereka mungkin sangat jarang ke masjid dan tidak pernah jadi aktivis masjid. Mereka bilang masjid hanya bisa dinikmati umat Islam.

            Siapa bilang masjid hanya untuk umat Islam?

            Bodoh kalian!

            Ingat ketika Aceh dilanda tsunami. Masjid Baiturrahman yang megah itu menjadi pusat pertolongan para korban tsunami. Ketika rumah-rumah mereka hancur dan mereka sendiri terluka parah, Masjid Agung Aceh Baiturrahman adalah satu-satunya bangunan kokoh yang dapat menampung para korban tsunami dalam jumlah banyak. Para korban itu terdiri atas semua agama yang ada di Aceh.

            Apakah para korban yang terluka dan membutuhkan tempat berlindung itu hanya orang Islam?

            Apakah dulu mereka ditanya apa agamanya ketika berlindung di masjid?

Apakah nonmuslim diusir dari Masjid Baiturrahman?

Tidak!

Itu artinya masjid bisa dinikmati semua orang.

Masih ingat Indonesia pernah juara AFF U17?

Timnas Indonesia pernah kehabisan bekal dan kesulitan untuk menginap. Mereka menggunakan masjid untuk menginap, termasuk pula anggota tim mereka yang bukan beragama Islam.

Masjid di daerah saya itu punya ruang serba guna yang dapat digunakan untuk musyawarah warga, baik yang beragama Islam maupun bukan. Pernah ada tetangga nonmuslim yang kesulitan air bersih untuk minum, memasak makanan, mencuci pakaian, dan mandi. Mereka menggunakan air dan kamar mandi masjid untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tak ada seorang muslim pun yang melarang mereka menggunakan fasilitas masjid.

Kalau tiba Hari Raya Idul Adha, anak-anak nonmuslim diperbolehkan membantu panitia kurban sehingga mendapatkan daging kurban pula sebagai panitia. Di samping itu, keluarga mereka pun diberi bagian pula daging kurban. Semua pemeluk agama dikasih bagian.

            Siapa bilang masjid hanya bisa dinikmati umat Islam?

            Jangan ngaco kalian!

            Masjid Al Jabbar pun memiliki banyak fasilitas yang bisa dinikmati semua orang yang terdiri atas berbagai agama. Ada fasilitas untuk pengetahuan, pengembangan ekonomi, wisata, juga untuk mengendalikan banjir. Itu semua manfaatnya bisa untuk umat manusia, agama apa pun mereka. Tidak mungkin hanya untuk umat Islam.

            Ketujuh, kelihatan sekali bahwa para penyerang Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil itu adalah benar-benar penakut. Mereka berharap bahwa Ridwan Kamil tidak ikut jadi Capres ataupun Cawapres. Mereka ingin Ridwan Kamil tetapi jadi arsitek dan artis Sinetron. Lucu memang para penakut itu.

            Sungguh, pembangunan Masjid Al Jabbar itu sangat sulit untuk dianggap sebagai pembangunan yang punya tujuan politik seperti yang para penakut itu tuduhkan. Pembangunan itu dilakukan karena memang merupakan aspirasi masyarakat Jawa Barat yang mayoritas Islam. Hal itu disebabkan rencana awalnya dilaksanakan pada masa Gubernur Ahmad Heryawan periode kedua. Ahmad Heryawan tidak mungkin menjadikannya sebagai tujuan politik karena jelas tidak akan pernah terwujud Masjid Al Jabbar pada masa kepemimpinannya, tidak akan kelihatan. Demikian pula Ridwan Kamil, sulit untuk menjadikan Masjid Al Jabbar sebagai bahan kampanye politik karena dirinya adalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan Ahmad Heryawan. Kalau Ridwan Kamil menjadikannya tujuan politik, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama Ahmad Heryawan akan membantai Ridwan Kamil secara politik pula karena jasa awalnya adalah Ahmad Heryawan. Jadi, saya masih kesulitan memahami jika Masjid Al Jabbar dibangun atas dasar politik.

            Mereka yang justru menggunakan Masjid Al Jabbar sebagai alat politik adalah para penakut itu. Mereka merendahkan manfaat Masjid Al Jabbar dan berusaha membuat citra negatif terhadap Ridwan Kamil. Itu perilaku yang sangat buruk.

            Meskipun demikian, mereka itu layak untuk takut dan akan saya takut-takuti lebih dalam. Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan itu punya kesamaan. Mereka adalah sama-sama berawal dari orang-orang yang tidak diunggulkan dan bukan siapa-siapa. Ketika pemilihan walikota Bandung, Ridwan Kamil sama sekali tidak penting, tidak dianggap, dan tidak dihitung sebagai calon yang akan unggul. Akan tetapi, dalam kenyataannya, dia justru berhasil menjadi walikota Bandung. Demikian pula Ahmad Heryawan, tidak diunggulkan sebagai calon gubernur Jawa Barat dan survey-survey menunjukkan bahwa Ahmad Heryawan tidak akan menang. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya, Ahmad Heryawan berhasil menjadi gubernur Jawa Barat untuk dua periode.

Bisa jadi toh Ridwan Kamil tidak diunggulkan menjadi presiden RI, tetapi keadaan bisa berubah cepat seperti waktu dulu. Dia bisa menang. Apalagi Ridwan Kamil tampak tenang dengan survey-survey yang menunjukkan rendahnya dirinya dalam elektabilitas perolehan suara untuk menjadi presiden.

Bahkan, ketika ditanya wartawan soal rendahnya suara dalam survey, Ridwan Kamil menjawab, “Itu mah nanti, itu soal gampang.”  

Dalam hal pekerjaan dan pembangunan, Ridwan Kamil terus bekerja dan tidak ada masalah berarti. Beberapa hasilnya, sudah saya tulis tadi untuk menjawab serangan para penakut yang menyerang masjid dan dirinya. Minimal itu yang saya lihat dan saya rasakan sebagai rakyat. Hal yang tidak saya tahu mungkin lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, Humas Pemda Jawa Barat harus lebih aktif menginformasikan berbagai keberhasilan pembangunan Jawa Barat dan meng-counter serangan-serangan terhadap Provinsi Jawa Barat. Jangan seperti sekarang ini, seolah-olah Ridwan Kamil sendiri yang menjawab atau menghadapi serangan-serangan itu.

Di mana Humas Pemda Jabar?

Terasa sepi informasi.


Ahmad Heryawan (Foto: Warta Kencana)


Ahmad Heryawan pada masa kepemimpinannya sangat berhasil dalam membangun infrastruktur di Jawa Barat. Kalau boleh saya bilang, pembangunan jalan yang menjadi tugas Gubernur berhasil 95% dilaksanakan dengan sangat baik. Kalaupun di Jawa Barat masih tampak jalan yang tidak bagus, itu bukan tugas gubernur karena bisa jadi tanggung jawabnya ada di presiden, walikota, bupati, atau bahkan kepala desa. Ada tugasnya masing-masing.

Coba cek sendiri keberhasilan pembangunan infrastruktur semasa Ahmad Heryawan.

Kalian pikir cuma Jokowi yang bisa membangun infrastruktur?

Banyak yang bisa tahu!

Cuma mereka kurang publikasi saja.

Para penakut akan semakin takut dan ucapan-ucapannya akan semakin remeh temeh dan menggelikan.

Kalau punya jagoan untuk pemilihan presiden 2024, boleh saja dorong dengan membuktikan kehebatan jagoannya dengan data dan fakta yang benar. Akan tetapi, jangan meledek orang lain dengan data yang tidak lengkap dan analisis yang lemah mengada-ada, bodoh dan lucu namanya.

Saya sungguh sangat bersyukur Jawa Barat punya masjid megah yang dilengkapi berbagai fasilitas modern untuk mengembangkan manusia lebih positif. Foto-foto Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Ahmad Heryawan saya dapatkan dari Warta Kencana, Okezone Muslim, CNN Indonesia, inijabar com, Republika, dan Kompas com.

Mikir!

Sampurasun.

Monday, 22 June 2020

Fisip, Universitas Al Ghifari-KNPI Jawa Barat Bangun Kampus Pemuda



Bandung, Putera Sang Surya
Senin, 22 Juni 2020, bertempat di Kampus 3 Universitas Al Ghifari, Jln. A.H. Nasution No. 247 Fisip, Universitas Al Ghifari dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat bekerja sama membangun kampus pemuda. KNPI selaku organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas para pemuda melalui jalur pendidikan. Sementara itu, Fisip, Universitas Al Ghifari memiliki tugas untuk memberikan pendidikan kepada para mahasiswa atau para pemuda. Singkat kata, baik Fisip, Universitas Al Ghifari maupun KNPI memiliki tugas dan peran yang sama penting untuk turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

            Dalam acara tersebut dari pihak Universitas Al Ghifari hadir Rektor Universitas Al Ghifari Didin Muhafidin, Wakil Rektor Achadijat Sulaeman, Dekan Fisip Dina, Kaprodi Hubungan Internasional Tom Finaldin, Kaprodi Administrasi Negara Ridwan Caesar, Sekprodi HI Henike Primawanti. Sementara itu, dari pihak KNPI hadir Ketua KNPI Riyo, Asep Komarudin, dan Husni.



            Dalam acara pembukaan yang dihadiri pula oleh sekira 150 calon mahasiswa baru anggota KNPI, Ketua KNPI mengucapkan terima kasih ternyata para pemuda di Jawa Barat antusias untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui pendidikan dengan menjadi mahasiswa Fisip, Universitas Al Ghifari, baik menjadi mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional maupun Administrasi Negara. Sementara itu, Rektor Universitas Al Ghifari Didin Muhafidin mengucapkan selamat datang kepada calon mahasiswa baru dan memberikan semangat belajar kepada para pemuda dengan mendorong optimisme untuk dapat lebih berkualitas dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Adapun Dekan Fisip Dina menjelaskan bahwa program tersebut telah lama dibangun untuk segera diwujudkan sehingga terjadi ikatan mutualisme, saling menguntungkan, antara KNPI dan Fisip, Universitas Al Ghifari.








            Selepas acara pembukaan para pemuda dari KNPI tersebut dibagi ke dalam dua kelas untuk penjelasan mengenai program studi. Penjelasan di kelas tersebut tentu saja dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip “New Normal”. Untuk menjelaskan mengenai hubungan internasional, dipimpin oleh Kaprodi HI Tom Finaldin dengan  dibantu Sekprodi HI Henike Primawanti. Adapun penjelasan Program Studi Administrasi Negara dipimpin oleh Kaprodi AN Ridwan Caesar.


            Setelah mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap, para pemuda KNPI dipersilahkan untuk memilih program studi sesuai dengan keinginan masing-masing. Hasilnya, para pemuda tersebut memang memilih kedua program studi tersebut, yaitu Hubungan Internasional dan Administrasi Negara. Ada yang mendaftar secara offline maupun online.


            Kerja sama tersebut akan terus dilanjutkan pada masa depan untuk sama-sama berperan serta dalam membangun bangsa. Semoga Allah swt memberikan perlindungan dan keberhasilan untuk kerja sama positif tersebut. Amin. (Tom Finaldin)

Saturday, 25 January 2020

Catat Tanggalnya, Lihat Buktinya


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kemunculan “Sunda Empire” mengalahkan kehebohan “Keraton Agung Sejagat, Kesultanan Selacau,” dan “Kelompok Negara Rakyat Nusantara”. Pernyataan-pernyataan dari Sunda Empire yang berapi-api penuh keyakinan menguasai pemerintahan-pemerintahan di muka Bumi ini membuat daya tarik luar biasa. Hal itu ditambah lagi dikabarkan mereka memiliki hubungan dengan Jack Ma dan Bill Gates, orang-orang kaya dan berpengaruh di dunia.

            Sebenarnya, kita tinggal menonton saja perjalanan Sunda Empire dalam mengumpulkan negara-negara di dunia dalam kekuasaannya. Toh, tanggal pastinya sudah mereka kemukakan sendiri. Mereka mengklaim bahwa negara-negara terkemuka di dunia ini harus mendaftar ulang karena masa pemerintahan dunia sudah habis, sudah selesai. Negara-negara itu harus datang ke Bandung untuk registrasi ulang mulai 15 Agustus s.d. 24 Oktober 2020. Jika negara-negara itu tidak melakukan her registrasi, seluruh bantuan keuangan kemanusiaan akan dikunci dan dihentikan oleh pihak Sunda Empire. Artinya, kemungkinan negara-negara itu akan goncang dan bangkrut. Jangan lupa pula bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus ikut daftar ulang.

            Tanggal pastinya sudah mereka sebutkan dan ancamannya pun sudah mereka jelaskan. Kita tinggal menonton saja menyaksikan perjalanan kisah yang mereka paparkan itu.

            Semua, seluruh penduduk dunia, boleh berpendapat apa saja. Boleh setuju, boleh tidak.  Boleh menganggap Sunda Empire benar, boleh menganggap Sunda Empire mengada-ada. Sebelum tanggal pasti itu tiba¸ berbagai pendapat sangat mungkin terjadi berseliweran. Itu wajar. Akan tetapi, semua akan lebih tampak jelas saat tiba 15 Agustus s.d. 24 Oktober 2020 di Bandung.

            Sementara menunggu tanggal itu tiba, kita tetap saja harus beraktivitas sebagaimana biasanya. Jangan terlalu terobsesi. Biasa saja. Tenang saja.

            Catat tanggalnya, lihat buktinya.

            Sampurasun.

Tuesday, 31 December 2019

Gimana Nasib Anies Baswedan?

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Judul ini mah nanya, bener nanya, bukan mengkritik. Nanya, sumpah.

            Akan tetapi, sebelum ke pertanyaan, saya pengen ceritera dulu. Banyak status di Medsos hari ini, 31 Desember 2019, yang bersyukur dan berharap, malah berdoa agar hujan terus turun. Banyak juga yang berharap malah bersiap-siap bisa liburan dengan memanfaatkan momen malam tahun baru. Pastinya, mereka ini berharap hari tidak hujan. Kalau saya, tidak ada bedanya, mau hujan atau tidak, jika memungkinkan, saya pergi ke luar. Saya ini kan penulis dan masih punya kartu pers yang berlaku. Saya bisa ceriterakan suasana tahun baru di tempat-tempat yang saya kunjungi, baik sisi positifnya maupun negatifnya. Bahkan, saya bisa ceriterakan ketika terjadi teror bom di bawah mobil “tvOne” di depan pendopo walikota Bandung ketika masih zaman Ridwan Kamil. Saya ada di tempat itu.

            Kembali ke pertanyaan judul. Beberapa hari terakhir ini Medsos banyak diisi oleh tulisan atau status tentang tidak bolehnya merayakan tahun baru. Ada yang menyatakan haram, kafir, murtad, bahkan harus syahadat lagi jika merayakan tahun baru masehi. Akan tetapi, beberapa hari terakhir pula, tepatnya mulai 21 Desember 2019 muncul berita bahwa Provinsi DKI Jakarta berbenah dan mempersiapkan diri untuk menyambut pergantian tahun baru 2019 ke 2020. Gubernur DKI itu jelas Anies Baswedan.

            Kalau rakyat biasa merayakan tahun baru dicap haram, kafir, atau murtad, bagaimana dengan Anies Baswedan?

            Gubernur Indonesia, Pujaan Umat, Goodbener Anies Baswedan itu memfasilitasi malam tahun baru dengan hadirnya beberapa titik panggung hiburan, seperti, di Jln. Thamrin, Jln. Sudirman, dan Bundaran HI. Di samping itu, diadakan pula pesta kembang api yang megah.

            Bisakah dikatakan bahwa Gubernur DKI itu memfasilitasi dan memberikan ruang kepada rakyat untuk melakukan kegiatan yang haram sehingga menjadi kafir atau murtad?

            Kasihan sekali dia kalau begitu.

            Bagi saya, Anies adalah orang cerdas.

            Bagi saya, malam tahun baru itu hanya sebuah momen. Berdosa atau tidaknya kita di malam itu bergantung bagaimana kita mengisinya. Jika kegiatan kita positif, ya bagus dan berpahala. Jika negatif, ya jadi buruk dan berdosa. Kita bisa berada di masjid, tausiyah, berdoa, berdzikir, dan lain sebagainya. Bisa pula mengadakan kegiatan positif di tempat orang ramai, misalnya, pada tahun-tahun lalu para mahasiswa ITB unjuk kebolehan di sepanjang Jl. Braga, Bandung dengan berbagai karya; warga Jl. Braga mengisahkan sejarah, perkembangan, dan masalah Jl. Braga melalui bioskop gratis di dalam bus; para seniman Sunda memperkenalkan seni Sunda yang hampir punah pada anak-anak muda.

            Siapa bilang itu jelek?

            Positif-negatif, bukan karena momen, melainkan perilaku kita sendiri.

            Sampurasun.

Thursday, 19 September 2019

Shalat Jumat di Gereja


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kok orang-orang terus-terusan ribut soal film “The Santri”?

            Coba kita sederhanakan pikiran kita. Di Indonesia itu ada lembaga sensor film. Sepanjang tidak dilarang oleh lembaga itu dalam arti diperbolehkan untuk tayang, berarti “boleh ditonton”. Tinggal kitanya saja mau nonton apa tidak. Terserah kita. Sederhana pisan.

            Salah satu persoalannya adalah banyak orang yang menilai sesuatu tidak secara utuh. Baru lihat “trailer” saja seperti orang yang sudah memahami seluruh isi ceriteranya. Ini kebiasaan. Dari dulu, apalagi masa-masa Pilpres RI, April 2019, informasi yang isinya sepotong-sepotong saja sudah langsung dipercaya, lalu disebarkan seperti kebenaran mutlak. Padahal, kalaupun mau memberikan kritik dan komentar, seharusnya pahami dulu secara utuh, kemudian komparasikan dengan standar-standar yang jelas sehingga kritik dan komentarnya bermutu. Orang Islam apalagi harus lebih teliti. Untuk meyakini sebuah kisah sebagai hadits saja, harus diperiksa matan dan perawinya. Kalau tidak jelas, itu dusta atau dongeng yang hanya digunakan untuk kepentingan orang-orang tertentu.

            Di dalam trailer “The Santri” itu ada adegan memberikan tumpeng di dalam gereja dan itu diributkan. Bahkan, dinilai terlalu jauh seperti dituduhkan mengajarkan kekafiran, pemurtadan, dan berasal dari gerakan zionis. Wah, jauh banget itu tuduhan.

            Apa salahnya memberikan tumpeng di dalam gereja?

            Apa salahnya jika orang-orang nonmuslim ketika bulan Ramadhan banyak yang berdiri di pinggir jalan, di depan gereja, dan di gerbang masjid membagikan secara gratis tajil untuk kaum muslimin yang melaksanakan ibadat shaum?

            Pembagian tajil itu terjadi di kota-kota besar, seperti, Jakarta dan Bandung.

            So what?

            Bukankah itu sikap yang baik menjaga hubungan baik sesama manusia dan sesama warga bangsa?

            Dulu, kenalan saya kuliah di Honolulu, Hawai, Amerika Serikat. Setiap Jumat selalu menggunakan gereja untuk melaksanakan ibadat shalat jumat. Orang-orang Islam di sana dari berbagai negara iuran untuk menyewa gereja agar bisa melaksanakan shalat jumat. Hal itu dilakukan karena saat itu di Honolulu belum ada masjid.

            Ketika hal ini saya diskusikan di Bandung dengan teman-teman, ributnya bukan main, saling salahkan karena menurut mereka memang melanggar beberapa syarat sahnya ibadat shalat Jumat. Pro-kontra pun terjadi. Meskipun demikian, baik yang pro maupun yang kontra sama-sama  mendapatkan ilmu dari perdebatan itu.

            Saya sih sederhana saja berpikirnya. Saat itu di Honolulu belum ada masjid. Kaum muslimin ingin ibadat Jumat. Bangunan besar yang bisa digunakan adalah gereja. Itu situasi darurat. Oleh sebab itu, boleh saja dilakukan. Kalau tidak boleh, berarti salah dong shalat jumat itu di sana.

            Jadi, jumatan itu salah, begitukah?

            Itu peristiwa dulu. Sekarang beda lagi. Mungkin sudah banyak masjid dibangun di Amerika Serikat sesuai perkembangan kaum muslim di sana. Bahkan, di New York itu hari Idul Fitri dan Idul Adha dijadikan hari libur untuk menghormati kaum muslimin Amerika Serikat. Kaum muslimin tidak perlu lagi menyewa gereja untuk beribadat.

           Memberikan tumpeng di gereja tidaklah salah, apalagi pada masa sekarang ini ketika masyarakat banyak menilai terjadinya sikap-sikap radikal dan intoleran yang dikhawatirkan menimbulkan disintegrasi bangsa. Hubungan antarumat beragama harus semakin diperkuat. Saling menghormati dengan toleransi yang tinggi harus makin dibiasakan. Hal yang haram dilakukan oleh umat Islam adalah datang ke gereja, lalu menukarkan akidahnya. Itu baru murtad.

            Sampurasun.