Showing posts with label Anies Baswedan. Show all posts
Showing posts with label Anies Baswedan. Show all posts

Friday, 30 May 2025

Menyerang Dedi Harus Telak, Anies Saja Terpukul, Jakarta Berguncang

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ini menjadi sorotan yang luar biasa, setiap kata dan langkahnya mendapatkan banyak reaksi dari masyarakat Indonesia. Kemunculan Dedi yang mendapatkan dukungan sangat banyak dari rakyat Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri membuat banyak politisi tampak tersaingi dan secara diam-diam atau tersembunyi, kasar maupun halus, mulai menyerang Dedi. Serangan-serangan itu dengan mudah dipatahkan Dedi sehingga para pendukungnya semakin kuat terikat kepada Dedi.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Foto: Suara Indonesia News)


            Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tampaknya ikut-ikutan menyerang Dedi. Sayangnya “serangan” Anies langsung dilawan Dedi dengan sangat telak dan tidak mampu dilawan balik Anies.

            Sebetulnya, tak ada kata-kata jelas dari mulut Anies menyerang Dedi. Ini hanya para wartawan yang membuat Anies tampak menyerang Dedi mengenai penanggulangan kemiskinan dengan menggunakan program KB vasektomi. Dedi memang mewacanakan bahwa untuk mengendalikan kemiskinan, rakyat yang berharap mendapatkan bantuan sosial (Bansos) harus terlebih dahulu ber-KB dengan cara vasektomi untuk para pria. Berbeda dengan Anies yang tidak setuju dengan vasektomi. Ia berpendapat bahwa untuk mengendalikan kemiskinan karena banyak anak adalah dengan cara “welas asih” memberikan tunjangan hari tua untuk Lansia, BPJS gratis untuk Lansia, dan transportasi umum gratis.

            Pendapat Anies ini jelas saja mendapatkan respon dari netizen karena Anies dulu adalah gubernur DKI Jakarta dan tidak mampu juga mengatasi kemiskinan. Anies tetap hanya dianggap orang yang pintar merangkai kata, sedangkan buktinya tidak jelas. Saya juga baru-baru ini melihat sendiri di Jakarta beberapa meter dari pusat pertokoan mewah dan gedung-gedung bagus, di belakangnya dipenuhi jalan-jalan kecil sempit yang dipakai rebutan antara pejalan kaki, sepeda motor, dan bajaj. Jalan-jalan sempit itu di samping kanan-kiri dipenuhi juga rumah penduduk yang juga sempit berderet.

            Tak berapa lama setelah Anies mengemukakan pendapatnya, Dedi Mulyadi dalam sebuah rapat mengatakan dengan lantang yang seolah-olah balik membalas menyerang Anies. Dedi meneriakan bahwa jika dirinya menjadi gubernur DKI Jakarta, akan membagikan uang Rp10 juta bagi setiap kepala keluarga (KK) di Jakarta. Hal itu disebabkan Jakarta itu jumlah penduduknya sedikit, kurang dari 10 juta yang artinya diperkirakan hanya memiliki dua juta KK, sedangkan uang APBD Jakarta itu mencapai Rp90 triliun. Artinya, jika Rp10 juta dibagikan kepada dua juta KK, hanya akan menghabiskan Rp20 T. Dengan demikian, Jakarta masih memiliki banyak uang sejumlah Rp70 T untuk membangun.

            Pidato Dedi ini tentu saja membuat rakyat Jakarta berguncang. Mereka mulai  menyadari bahwa uang DKI Jakarta itu sangat banyak. Banyak dari mereka yang mulai berhitung-hitung sendiri tentang uang itu. Hal itu membuat kebingungan sendiri di kalangan rakyat Jakarta.

            Berbeda dengan Provinsi Jawa Barat yang penduduknya sangat banyak, sekitar 50 juta jiwa, tetapi uangnya sangat sedikit, yaitu Rp29 triliun. Artinya, Jawa Barat tidak memiliki kemampuan untuk membagikan uangnya kepada rakyat secara tunai, kecuali melalui program-program pembangunan dan bantuan sosial yang terbatas.

            Anies tidak lagi memberikan jawaban atas balasan Dedi. Akan tetapi, pemimpin Jakarta sekarang, yaitu Pramono Anung dan Rano Karno yang merasa diserang Dedi. Para pendukung Pramono-Rano mencoba menangkis pendapat Dedi. Sayangnya, mereka semua menyesatkan atau misleading, misalnya, kata mereka tidak mungkin membagikan uang Rp10 juta setiap bulan karena uangnya tidak akan cukup. Itu jawaban menyesatkan karena yang dimaksud Dedi adalah Rp10 juta untuk setiap tahun, bukan setiap bulan.


Pramono-Anies-Rano (Foto: detikNews - detikcom)


            So, kalau mau menyerang, harus benar-benar telak, jangan mengambang karena Dedi Mulyadi akan membalasnya dengan cara tidak terduga dan bisa menghancurkan karir politik lawannya.

            Foto Dedi saya dapatkan dari Suara Indonesia News. Foto Pramono-Anies-Rano saya dapatkan dari detikNews-detikcom.

            Sampurasun.

Thursday, 15 August 2024

Anies Harus Berani Seperti Dharma Pongrekun

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Anies Baswedan yang sudah kalah dalam Pilpres RI 2024, kembali menemui jalan hampir buntu untuk menjadi gubernur Daerah Khusus Jakarta (DKJ) melalui jalur partai. Partai-partai pendukungnya sudah tidak lagi tertarik untuk menjagokan Anies sebagai pejabat politik. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang selama ini sangat rapat dengan Anies pun sudah malas, bahkan merapat ke Prabowo-Gibran. Hal ini sangat wajar karena syarat untuk menjadi calon gubernur DKJ itu harus memiliki 22 kursi di DPRD DKJ. Sementara itu, PKS hanya punya 18 kursi suara, kurang 4 suara. Di samping itu, Anies tidak memiliki kemampuan untuk menambah suara itu dari partai-partai lain. Akibatnya, Anies bisa gagal, jangankan untuk menang, untuk daftar saja sudah ditolak.

            Jika benar-benar seluruh partai sudah menolaknya, hanya ada satu pilihan buat Anies mendaftar sebagai calon gubernur, yaitu melalui jalur independen atau perorangan. Kalaulah benar apa yang dikatakan pendukungnya bahwa Anies tidak butuh partai, justru partai yang membutuhkannya, sekarang tampak nyata bahwa partai tidak membutuhkan Anies. Kalaulah memang benar Anies paling tinggi dukungannya dari rakyat Jakarta, tidak akan sulit bagi Anies untuk daftar dari jalur perorangan. Dia tidak akan sulit mengumpulkan dua juta KTP rakyat Jakarta sebagai dukungan baginya maju sebagai calon gubernur DKJ. Hal itu disebabkan menurut hasil berbagai survey, Anies mendapati posisi tertinggi dukungan rakyat Jakarta, posisi kedua ditempati Ahok, dan peringkat ketiga ditempati Ridwan Kamil.

            Calon gubernur DKJ yang sudah nyata mendapatkan dukungan mayoritas partai adalah Ridwan Kamil (RK), tinggal menanti siapa yang mampu melawannya. Sebetulnya, sudah ada yang berani melawan RK, yaitu Dharma Pongrekun yang sudah dinyatakan bisa dan lolos untuk menjadi calon gubernur DKJ. Dharma sudah mampu mengumpulkan 1,7 juta KTP rakyat Jakarta untuk melawan Ridwan Kamil. Dharma mencalonkan diri melalui jalur independen atau perorangan, tanpa partai.

(Foto: Pelita Kota News)

            Sementara itu, Anies masih berdebat dengan PKS. Para pendukung Anies malah marah-marah dan maki-maki PKS. Bahkan, mulai meminta Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk mendukung Anies. PDIP pun tak akan bisa menolong Anies kalau sendirian, butuh partai lain karena suaranya kurang.

            Sudahlah, daripada menyalahkan atau menghujat partai-partai, sebaiknya Anies mendaftar lewat jalur perorangan dan para pendukung setianya menyatakan kesiapannya untuk membantunya dengan memberikan dukungan berupa KTP. Jika melihat survey Anies yang mendapatkan dukungan dari 30,7% suara rakyat Jakarta, tak sulit bagi Anies untuk mengumpulkan dua juta KTP sebagai bukti layak menjadi calon gubernur.

            Begitu sebaiknya jika Anies Baswedan ingin ikut bertarung dalam Pilkada DKJ 2024.

            Foto Dharma Pongrekun saya dapatkan dari Pelita Kota News.

            Sampurasun

Sunday, 31 March 2024

Anies Baswedan Harus Kuat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Anies Baswedan, Calon Presiden No. Urut 01 yang tidak akan menjadi presiden pada 2024 itu, sudah menjadi beban bagi pendukung-pendukungnya. Gugatannya di Mahkamah Konstitusi sangat lemah dan tidak akan mampu mengalahkan pasangan Prabowo-Gibran. Hal itu mudah ditebak semudah menebak kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024. Ketika Prabowo dipasangkan dengan Gibran, bagi saya Pilpres 2024 sudah selesai karena jelas mereka pemenangnya. Sekarang pun sama, gugatan atas kemenangan Prabowo-Gibran akan kandas di MK karena tanda-tandanya tampak sangat jelas.

Partai pendukung Anies pergi meninggalkannya dengan sangat cepat. Dalam hitungan hari setelah hasil hitung cepat, Ketua Partai Nasdem Surya Paloh segera menemui Jokowi dan Prabowo. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga sudah mengatakan “bosan kalah terus”, lalu menerima kemenangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024 ini. Partai Kebangsaan Indonesia (PKB) pun sama bertemu dengan Jokowi, lalu saling mengirim salam mengatasnamakan Ketua PKB Muhaimin Iskandar. Nasdem, PKS, dan PKB sudah memilih untuk menyelamatkan eksistensi partainya dengan merapat ke kekuasaan Prabowo-Gibran dibandingkan memperjuangkan Anies Baswedan yang sudah kalah itu.


Anies Baswedan


Hal yang masih dalam proses adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang kelihatannya marah besar, kecewa, dan memusuhi Jokowi. Akan tetapi, telah terjadi pertemuan antara Prabowo dengan PDIP. Itu sudah menandakan adanya hubungan baik yang akan berlanjut dalam menyelenggarakan Negara Indonesia.

Anies Baswedan akan sendirian, apalagi telah menyatakan diri untuk berada dalam jalan oposisi. Dia mengambil jalan melawan pemerintah. Kita lihat sejauh apa keseriusan dia untuk melawan pemerintah. Itu sangat bagus untuk mengimbangi pemerintah yang terlalu kuat. Semua partai tampaknya akan merapat ke Prabowo-Gibran, tak ada lagi partai yang tersisa. Kalaupun ada, itu pasti Prabowo atau Gibran yang menolak mereka untuk berada bersamanya. Akan tetapi, sebagaimana yang disampaikan Prabowo yang akan mengajak seluruh kekuatan bangsa untuk bergabung dan bekerja bersama untuk kemajuan rakyat, pihak oposisi akan sangat lemah, bahkan mungkin akan musnah. Untuk itulah, keseriusan Anies sangat diperlukan agar ada keseimbangan dalam menjalankan pemerintahan.

Anies tidak cukup kuat untuk melawan pemerintah karena tidak punya partai, Ormas, ataupun kekuatan lain untuk mengimbangi pemerintah. Anies harus kuat ditinggalkan pendukungnya. Anies harus banyak introspeksi diri. Dia harus mengubah keyakinan dan langkahnya. Dia harus meninggalkan orang-orang yang sering mempermainkan agama untuk kepentingan politik, orang-orang yang berbicara tanpa data dan fakta, para provokator yang sering menyesatkan pikiran rakyat, orang-orang yang mengaku ahli agama, tetapi sebenarnya hanya pandai bicara tanpa bukti nyata manfaatnya di masyarakat, orang-orang yang mengaku cerdas, tetapi tidak mencerdaskan. Pendek kata, Anies harus kuat kukuh berada dalam data, fakta, jiwa Islami, lalu memberikan perlawanan atau kritik yang sesuai dengan konstitusi untuk memberikan banyak alternatif bagi perbaikan bangsa. Tidak perlu menggunakan emosi yang menyesatkan untuk bertindak benar, tetapi harus menggunakan daya analisis yang kuat untuk memberikan pilihan kebenaran. Pemerintah dan oposisi memiliki kemuliaan yang sama jika niatnya untuk memperbaiki keadaan. Akan tetapi, akan menjadi sesuatu yang rendah jika niatnya untuk menjatuhkan orang lain dan membuat dirinya tampak lebih mulia. Itu tidak pernah berhasil dan selalu kalah secara memalukan.

Jika semua partai bergabung dengan Prabowo-Gibran, harapan terbesar untuk menjadi oposisi atau penyeimbang pemerintah adalah para akademisi, para dosen, para mahasiswa, para pemikir bebas yang berbicara dan bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan bukan kekuasaan. Para dosen dan para peneliti sudah wajib untuk menyeimbangkan keadaan agar negara tidak terjerumus dalam kesalahan akibat tak adanya orang-orang cerdas dan jujur untuk tetap dalam jalan yang benar. Anies harus bersama orang-orang ini dan membentuk kekuatan baru dalam berbangsa dan bernegara jika memang niatnya untuk mengabdi kepada Allah swt dengan cara berbuat baik untuk bangsa dan negaranya.

Foto Anies saya dapatkan dari Industry co id.

Sampurasun.

Tuesday, 25 July 2023

Pendukung Capres Jangan Berlebihan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Musim kampanye pemilihan presiden (Pilpres) 2024 makin dekat. Setiap hari, waktu mengarah ke sana. Para pendukung sudah mulai lebih memperkenalkan jagoannya. Para calon presiden (Capres) atau sebetulnya bakal calon presiden (Bacapres) sudah mulai banyak menghiasi obrolan dan berbagai tayangan di media sosial. Mereka itu sebenarnya bukan Capres karena baru diusulkan partai, belum didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka itu baru Bacapres dan belum tentu juga menjadi Capres.

            Paling tidak, ada empat Bacapres yang saya ketahui, yaitu: Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Airlangga Hartarto. Mungkin ke depannya akan bertambah atau berkurang, kita belum tahu. Mereka inilah yang mulai dielu-elukan pada berbagai media, baik maya maupun nyata.

            Sayangnya, para pendukungnya banyak yang berlebihan dalam memberikan dukungan dan memperkenalkan jagoannya hingga ke hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, dan menyesatkan. Anies Baswedan, misalnya, disebut sebagai “utusan Allah swt, adik nabi, bahkan Allah swt sendiri”. Saya tidak tahu apakah mereka yang menyebut hal-hal itu adalah benar-benar pendukung Anies atau malah orang-orang yang anti-Anies. Hal itu disebabkan kalimat-kalimat seperti itu merusakkan nama Anies Baswedan sendiri. Orang cerdas sudah pasti bisa menilai betapa bodohnya kalimat-kalimat seperti itu. Bahkan, yang sedang viral akhir-akhir ini adalah yang disampaikan oleh Abah Aos yang katanya ulama dari Cimahi. Abah Aos dengan terang benderang mengatakan bahwa Anies adalah “imam mahdi”. Jadi, siapa pun yang tidak memilih Anies adalah dajjal.

            Kan lucu, ya nggak?

            Imam Mahdi itu levelnya dunia, bukan lokal negara. Tak ada riwayat Imam Mahdi daftar jadi Capres dan berusaha keras mendapatkan dukungan dari tiga partai oposisi untuk menggenapi 20% suara.

            Hadits mana yang mengungkapkan hal-hal itu?

            Tidak ada!

            Bagaimana kalau kalah?

            Masa Imam Mahdi kalah?

            Itu cuma ngarang berdasarkan hawa nafsu yang memalukan.

            Demikian juga terhadap Ganjar Pranowo. Pendukungnya berlebihan menurut saya. Di spanduk-spanduk yang beredar di Jawa Barat Ganjar disebut “Nyantri-Nyunda”. Kalau nyantri, okelah, Ganjar memang dekat dengan kalangan nahdliyin. Bahkan, istrinya sendiri, Atikoh, adalah anak kiyai yang punya pesantren besar. Akan tetapi, kalau disebut “nyunda”, itu berlebihan. Ganjar itu orang Jawa yang jelas bukan orang Sunda. Tidak tepat jika disebut “nyunda”. Istilah nyunda itu menunjukkan bahwa seseorang itu paham kesundaan, hidup dengan cara Sunda, bertata-titi Sunda, berbahasa Sunda, serta tahu sejarah dan uga Sunda.

            Nyunda dari mananya Ganjar Pranowo?

            Ganjar Pranowo mungkin lebih tepat disebut “njowo”!

            Dia orang Jawa dan bukan Sunda.

            Kalaulah Ganjar diperkenalkan agar mendapat tempat di hati orang Sunda sehingga orang-orang Sunda memilihnya menjadi presiden Indonesia, cari kalimat lain yang lebih tepat dan lebih menyatukan rasa antara orang Jawa dengan orang Sunda. Tim suksesnya harus lebih kreatif untuk hal ini, jangan mengada-ada dan jangan berlebihan.

            Kalau berlebihan, kasihan Anies, kasihan Ganjar. Mereka diperkenalkan dengan cara yang tidak tepat dan salah. Perkenalkan mereka dengan baik, masuk akal, dan sesuai dengan kenyataan.

            Kalau Prabowo dan Airlangga, saya belum melihat kalimat-kalimat yang tidak masuk akal dalam mendukung mereka hingga saat ini. Entah kalau nanti. Jika saya melihat ada yang tidak masuk akal dan memalukan, akan saya kritik lagi agar kita semua semakin cerdas dan mencerdaskan.

            Sampurasun.

Tuesday, 13 June 2023

Novel 212 Siap Dukung Ganjar & Prabowo; Rocky Gerung: Sebaiknya, Rakyat Pilih Jokowi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa waktu lalu beredar kabar bahwa Novel Bamukmin, Wasekjen PA 212 ini, siap mendukung Ganjar Pranowo sebagai Presiden RI pada Pilpres 2024. Dia menyatakan terbuka mendukung Ganjar dengan syarat-syarat tertentu misalnya Ganjar tidak akan mengkriminalisasi ulama. Novel pun siap untuk mendukung Prabowo karena menurutnya Prabowo punya semangat islami dan diharapkan dapat membuka kasus Km 50 yang membuat pengawal Rizieq Shihab mati sehingga pelakunya dapat dihukum. Adapun soal Anies Baswedan, Novel menyatakan bahwa Anies kesulitan untuk menjadi calon presiden karena mendapatkan penjegalan dari beberapa pihak.


Novel Bamukmin (Foto: PRESISI.CO)


            Rocky Gerung tampak kesal terhadap Anies Baswedan karena Anies tidak tegas, apakah akan membuat program-program baru dan menghentikan program yang sudah dilakukan Jokowi sebelumnya atau justru akan melanjutkan pembangunan yang dilakukan Jokowi. Rocky Gerung tidak melihat ketegasan Anies tentang program-programnya. Bahkan, dia mengatakan bahwa sebaiknya rakyat memilih Jokowi dibandingkan Anies Baswedan. Menurut Rocky Gerung, hal yang harus dilakukan ke depan adalah melanjutkan program Jokowi agar Indonesia bisa keluar dari negara berkembang menjadi negara maju.


Rocky Gerung (Foto: CNN Indonesia)


            Saya jadi kasihan sama Anies Baswedan, beneran. Tiga partai yang diharapkan menjadi pendukungnya, yaitu: Nasdem, Demokrat, dan PKS masih belum bulat suara soal siapa yang akan menjadi Cawapres mendampingi Anies. Demokrat menginginkan AHY, sedangkan PKS masih berhitung untuk mengajukan Cawapres. Bahkan, kemungkinan Demokrat merapat ke PDIP dan PKS merapat ke Gerindra. Hal itu bisa dilihat dari pertemuan-pertemuan yang mereka lakukan antarpartai. Kalau benar itu terjadi, Nasdem menjadi sendirian dan Anies pun tidak bisa lanjut Nyapres.


Anies Baswedan (Foto: JPNN.com)


            Novel Bamukmin yang dulu sesumbar punya 130 juta orang untuk mendukungnya menjadi Cawapres mendampingi Anies Baswedan, ternyata tidak bisa menghadapi pihak-pihak yang ditudingnya menjegal Anies. Entah siapa pihak yang dia tuding itu. Perasaan tidak ada yang menjegal Anies. Kesulitan Anies hanya tiga partai yang dianggap mendukungnya saja tidak kompak, tidak satu suara. Novel malah membuka diri untuk Ganjar dan Prabowo.

            Seorang pejuang itu tidak boleh lemah. Kalau seorang pejuang, ketika menyaksikan orang yang selalu dia dukung mendapatkan penjegalan, seharusnya berjuang keras melawan penjegalan itu. Novel Bamukmin bisa mengerahkan pengikutnya yang katanya 130 juta orang itu untuk membantu Anies Baswedan secara konstitusional. Akan tetapi, ya sudahlah setiap orang memiliki kapasitas dan keberanian berbeda-beda. Ada yang cuma ngomong doang, ada yang beneran berani berkorban.

            Kita, sebagai rakyat, pilihlah dengan cerdas dengan otak dan hati, tetap jaga situasi tetap kondusif dan harmonis.

            Foto Novel saya dapatkan dari PRESISI CO; Rocky Gerung dari CNN Indonesia; Anies Baswedan dari JPNN com.

            Sampurasun.

Sunday, 31 July 2022

Pernikahan Anak Anies Bukan Kegiatan Politik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tak bisakah kita berhenti sejenak untuk tidak menilai sesuatu dari pandangan kecurigaan politik?

            Tidak harus setiap kegiatan politisi itu adalah politik. Mereka punya keluarga, teman, kehidupan pribadi masing-masing yang tidak selalu harus bernuansa politis.

            Pernikahan puteri sulung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Mutiara Annisa Baswedan dan Ali Saleh Alhuraiby di Aula Candi Bentar, Putri Duyung Resort Ancol, Pademangan, Jakarta Utara diselenggarakan pada 29 Juli 2022. Pernikahan itu dihadiri banyak tokoh politik, seperti, Muhaimin Iskandar, Surya Paloh, Yeni Wahid, AHY, Zulkifli Hasan, SBY, Wapres RI Maruf Amin, bahkan Presiden RI Jokowi. Foto pernikahan mereka saya dapatkan dari Dream.


Pernikahan Mutiara Annisa dan Ali Saleh (Foto: Dream)

            Karena banyak tokoh yang hadir dan juga yang tidak tampak hadir, banyak pengamat yang menghitung kekuatan politik Anies Baswedan dengan hasil analisa mereka. Ada yang mengatakan Anies kuat untuk Pilpres 2024, tetapi sangat banyak pula yang melihatnya lemah karena banyak kekuatan politik yang tidak hadir, termasuk tidak hadirnya Rizieq Shihab yang baru saja bebas bersyarat dari tahanan.

            Bagi saya, itu adalah pernikahan dua orang yang saling mencintai bukan urusan politik. Meskipun orangtuanya adalah politisi dan banyak politisi yang hadir dan tidak hadir, tidak perlu menjadi bahan perbincangan politik. Itu adalah urusan kekeluargaan dan persaudaraan. Akan tetapi, hak semua orang juga sih untuk melihatnya dari sisi politik, hanya bagi saya, berhenti dululah melihatnya dari sisi politik, itu pernikahan. Sebaiknya, kita doakan mereka yang menikah semoga menjadi keluarga Samawa dan penuh berkah.

            Daripada dihubungkan dengan ketegangan politik, lebih baik kita syukuri keakraban antara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan Anies Baswedan. Anies sempat memperbaiki dasi kupu-kupu Ridwan Kamil dalam acara itu. Hal itu adalah momen menyenangkan dan menjadi contoh yang baik. Mereka mungkin nanti bersaing keras dalam Pilpres 2024, tetapi dalam acara itu mereka adalah teman, bahkan saudara sebangsa dan setanah air. Foto Ridwan Kamil dan Anies Baswedan saya dapatkan dari Dream.


Anies rapikan dasi Ridwan Kamil (Foto: Dream)


            Redam semua ketegangan, mari belajar bersama hidup dalam kerukunan dan keakraban yang harmonis.

            Sampurasun.

Saturday, 23 July 2022

Anies Ngaku Kalah Ganteng Dibandingkan Ridwan Kamil

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Siapa bilang Indonesia bakal bangkrut?

Selama anak-anak muda gembira lenggak-lenggok di Citayam menggunakan zebra cross atau penyeberangan jalan dengan mengunakan berbagai gaya fashion, Indonesia baik-baik saja.

Citayam itu nama wilayah. Itu adalah singkatan dari bahasa Sunda, “pameuncitan hayam”, ‘pemotongan ayam’.

            Perilaku anak-anak muda yang kemudian dinamakan “Citayam Fashion Week” itu menarik perhatian dua gubernur, yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Bahkan, Presiden Indonesia Jokowi pun ikut memperhatikannya.

            Ridwan Kamil dengan pakaian modis, tak kalah gaya dibandingkan anak-anak muda itu ikut bergaya di penyeberangan jalan itu ditemani para driver Ojol. Di samping itu, Ridwan Kamil memberikan nasihat agar kalau sudah berkegiatan Citayam Fashion Week, segera pulang, jangan menggelandang di jalanan. Foto Ridwan Kamil saya dapatkan dari Keuangan News dan Wahana News.


Ridwan Kamil (Foto: Keuangan News)


Ridwan Kamil (Foto: Wahana News)


Sementara itu, Anies Baswedan mengajak rekan-rekan bisnisnya dari Eropa untuk bersama-sama berjalan bergaya di tempat yang sama dengan menggunakan pakaian resmi pejabat. Bagi Anies, anak-anak muda itu selalu dapat melihat sesuatu yang baru dan positif. Selama itu dilaksanakan dengan tertib, tidak mengganggu orang lain, itu adalah hak kebebasan berekspresi, harus didukung, dan wajib dibukakan kesempatan bagi mereka. Foto Anies saya dapatkan dari Sinergi Papers.


Anies Baswedan (Foto: Sinergi Papers)


Hal senada pun disampaikan oleh Presiden Indonesia Jokowi. Dia merasa agak kesal dengan orang-orang yang meributkan secara negatif Citayam Fashion Week itu.

Mengapa kegiatan itu harus dilarang?

Bagi Jokowi, kegiatan itu positif dan menunjukkan kreativitas. Selama kegiatan itu tidak menabrak norma-norma hukum, itu adalah hak yang harus didukung. Jangan diributkan.

Hal yang menarik adalah ketika seorang anak muda di Citayam ditanya wartawan, “Siapa nama Gubernur DKI Jakarta?”

Remaja itu menjawab, “Ridwan Kamil!”

Ternyata, jawaban anak muda itu mendapat respon dari Anies Baswedan. Dia seolah-olah merasa sudah nasib kalah ganteng dan kalah tenar dibandingkan Ridwan Kamil sambil menyapa juga Ridwan Kamil yang Gubernur Jawa Barat itu. Ridwan Kamil pun membalas cuitan Anies dengan memohon agar Anies memaafkan anak muda itu yang sudah jauh-jauh datang dari Jawa Barat ke Jakarta, tetapi tidak mengenal penguasa DKI Jakarta. Celoteh saling balas cuitan antara Ridwan Kamil dan Anies itu tampak segar dan akrab. Menyenangkan sekali cara mereka berkomunikasi dengan ceria itu. Kita butuh para pemimpin yang berkomunikasi dengan cara yang hangat seperti mereka.

Benar, Citayam Fashion Week itu kegiatan positif, tetapi ada juga negatifnya. Secara positif, jelas adalah kreativitas, bahkan banyak yang menghasilkan uang di sana sehingga membantu orangtuanya. Di antara mereka ada yang memberikan uang kepada orangtuanya dalam sekali berkegiatan  Rp200 ribu, 300 ribu, satu juta, bahkan ada yang menghasilkan sampai dengan tiga puluh juta rupiah dari konten yang mereka buat dan dari pihak endorsee. Sisi negatifnya pun tidak boleh dilupakan, misalnya, kemacetan, sampah yang berserakan, penggunaan pakaian yang terlalu minim, terlalu seksi, laki-laki bergaya perempuan, tidur di jalanan tidak pulang ke rumah, adanya potensi pergaulan bebas, dan terlalu asyik mendapatkan uang secara mudah sehingga melupakan sekolah atau kuliah. Foto Citayam Fashion Week saya dapatkan dari Okezone.


Citayam Fashion Week (Foto: Okezone)


Anak-anak muda Generasi Z yang berusia antara 9 s.d. 24 tahun itu harus dberikan kesempatan, dibuka jalannya, diberikan dukungan, sambil tetap diberikan koridor agar tidak keluar dari pagar-pagar norma yang berlaku dalam masyarakat Indonesia.

Sampurasun.

Tuesday, 18 January 2022

Ahok Calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara Nusantara

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mendengar nama Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama, saya suka pengen ketawa sekaligus sedih. Nama Ahok itu selalu tidak terpisah dari DKI Jakarta, orang tahu hal itu. Ahok sekarang itu namanya disebut menjadi salah satu calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru itu sudah disetujui oleh Presiden RI Jokowi bernama “Nusantara” yang letaknya di Kalimantan Timur. Kalau sekarang kan namanya Jakarta, yang baru namanya Nusantara.

            Para pendukung Ahok ini tampaknya rajin mencatat siapa saja orang-orang yang dianggap telah menjerumuskan Ahok ke penjara. Setiap ada yang mendapatkan masalah atau meninggal, selalu dikaitkan dengan kutukan Ahok atau karma Ahok. Saya pernah menulis dengan judul “Kutukan Ahok” yang di dalamnya ada banyak nama orang yang terjungkal bernasib malang hingga meninggal. Mereka itu dianggap musuh-musuh Ahok. Sebetulnya, daftar nama itu masih sedikit, ada banyak orang yang bisa dicatat yang mengalami hal menyedihkan.

            Baru-baru ini mencuat lagi nama-nama orang yang terjungkir dan dianggap terkena kutukan Ahok. Mantan Gubernur Jambi Zumi Zola ditangkap KPK, mantan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan dihukum 12 tahun gara-gara korupsi, mantan Ketua BPK Harry Azhari Azis yang juga kader Partai Golkar meninggal dunia. Berita paling anyar malah mengagetkan masih muda usia Bupati Panajam Paser Utara Abdul Gafur Masud bersama bendaharanya Nur Afifah ditangkap KPK karena jelas korupsi. Mereka berdua adalah kader Partai Demokrat.

            Orang-orang menyebutnya sebagai “karma Ahok mengerikan”.

            Sekarang santer Ahok dicalonkan memimpin IKN Nusantara. Sementara itu, Anies Baswedan harus berhenti sebagai gubernur bulan Oktober tahun ini. Kalau memang Ahok telah dipastikan menjadi pemimpin IKN Nusantara, berarti dia terdepak dari ibu kota lama, tetapi bersinar terang di ibu kota baru. Sementara itu, Anies Baswedan belum diketahui mau ngapain setelah berhenti sebagai gubernur. Untuk nyapres saja masih sulit tampaknya karena harus ngumpulin suara partai hingga 20%.

            Kalau memang Ahok jadi, tetapi Anies justru berhenti, orang-orang akan bilang lagi bahwa ini adalah kutukan Ahok atau karma Ahok.

            Saya sendiri enggan ngomongin karma. Akan tetapi, hal yang saya yakini adalah “keadaan kita hari ini adalah akibat perilaku kita pada masa lalu dan perilaku kita pada masa sekarang ini menentukan keadaan kita pada masa depan”.

            Oh iya, ada yang lucu soal nama ibu kota negara baru itu. Namanya sudah disetujui presiden, yaitu Nusantara, tetapi Fadli Zon tidak setuju. Dia ingin nama ibu kota baru itu adalah “Jokowi”. Saya tidak tahu apakah dia itu sedang mengejek atau memang ngefans sama Jokowi. Akan tetapi, saya yakin Jokowi bukan orang seperti itu yang gila hormat. Kalau Jokowi mau, pakai saja nama istrinya “Iriana”. Sudah betul itu namanya Nusantara, jangan aneh-aneh.

            Hal yang lebih lucu adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak setuju dengan nama Nusantara. Akan tetapi, anehnya mereka tidak mengusulkan nama untuk mengganti nama Nusantara. Menurut saya, agak lebih baik Fadli Zon dibandingkan PKS. Fadli memberikan usulan nama baru, PKS mah tidak.

            Saya usul saja buat PKS. Kalau tidak suka nama Nusantara karena bahasa asli pribumi, tetapi nggak punya ide buat nama baru, usulkan saja namanya supaya ada suara-suara arabnya, yaitu “Al Nusantaraiyah”.

Hayu ah. Jangan bikin ketawa terus atuh. Berpolitiklah yang cerdas dan membangun, jangan ngomongin yang ecek remeh, bikin lucu, dan buat orang tertawa.

Sampurasun

Friday, 22 October 2021

Menghitung Anies

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nyanyi lagunya Krisdayanti, yuk.

 

“Menghitung hari

Detik demi detik

Masa kunanti apa ‘kan ada

Jalan cerita kisah yang panjang

Menghitung hariii ….”

 

            Sekarang mari kita ganti kata “hari” dengan kata “Anies”.

 

“Menghitung Anies

Detik demi detik

Masa kunanti apa ‘kan ada

Jalan cerita kisah yang panjang

Menghitung Aniiies ….”

           

            Enak nyanyinya?

            Merdu kan?

            Kalian yang nyanyi, ya pasti merdu atuh.

            Jabatan Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta berakhir pada 16 Oktober 2022. Selanjutnya, kepemimpinan Jakarta akan dipegang pelaksana tugas (Plt) hingga 2024.

            Setelah berhenti menjadi gubernur, Anies harus berhitung dan banyak berpikir. Dia bisa ikutan menjadi calon dalam pemilihan presiden, ikutan lagi menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode kedua, atau selesai dalam berpolitik karena sudah mentok nggak bisa ke sana dan ke sini.

            Kalau untuk ikut menjadi calon presiden (Capres), dia harus didukung partai dengan minimal kekuatan 20%. Sampai hari ini dia belum punya kekuatan itu. Hal itu disebabkan 82% partai adalah kekuatan politik pemerintahan Jokowi. Sisanya, 18% ada di PKS dan Partai Demokrat. Masih sangat kurang untuk menjadi syarat ikutan nyapres. Itu juga kalau memang PKS dan Demokrat nyalonin Anies. Kenyataannya, hingga hari ini kedua partai itu belum terbuka menyatakan akan mencalonkan Anies. Partai Demokrat malah sudah mengusung calonnya sendiri, yaitu Agus Harimurto Yudhoyono (AHY), Ketua Partai Demokrat. PKS juga dengar-dengar punya calon sendiri yang kalau saya nggak salah dengar, namanya Dr. Salim. Memang belum terlalu terkenal, tetapi kalau memang dicalonkan, PKS akan berjuang untuk memperkenalkan sosok calonnya itu.

            Lalu, bagaimana nasib Gubernur Seiman Santun Anies Baswedan itu yang dulu pendukungnya melarang jenazah untuk disholatkan di masjid karena memilih Ahok?

            Dia harus bekerja keras untuk mendapatkan dukungan dari partai. Terjal memang, tetapi harus dilalui jika benar berniat menjadi calon presiden.

            Kalau merasa terlalu berat untuk nyapres, ya nyagub lagi aja ikut pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk periode kedua. Kalau buat nyagub, dukungan partai sepertinya aman buat Anies. Jika dilihat dari kasus interpelasi tentang rencana pelaksanaan balap mobil Formula E yang dianggap telah merusakkan kawasan Monas dan telah mengeluarkan uang rakyat hampir satu triliun tanpa jelas kapan pelaksanaan dan tempat balapnya itu, ada tujuh partai yang membentengi Anies dari serangan interpelasi PDIP dan PSI. Artinya, ada banyak partai yang tampaknya bersedia untuk menjadi kendaraan Anies jika nyagub lagi di DKI.

            Meskipun aman untuk ikutan nyagub lagi, belum tentu terpilih lagi karena akan muncul calon-calon gubernur baru, misalnya, Riza Patria yang sekarang menjadi wakil gubernur dari Gerindra itu bisa ikutan menjadi calon gubernur, begitu juga dengan orang lain. Lawan berat Anies yang sudah mendapatkan banyak dukungan adalah Gibran Rakabuming Raka yang sekarang masih menjadi walikota Solo dan anak dari Presiden RI Jokowi. Gibran sudah mendapatkan dukungan terbuka dari PKB dan PAN. Dia sendiri adalah kader PDIP. Belum lagi Gerindra sudah bersilaturahmi kepada Gibran. Enam menteri, Kapolri, Gubernur Jateng Ganjar, dan mantan Wagub DKI Ahok sudah mendatangi Gibran. Penyanyi kondang balada Iwan Fals pun mendukung jika Gibran melanjutkan karir politiknya ke tingkat yang lebih tinggi.

            Tantangan buat Anies memang sangat berat. Nyapres terjal, nyagub juga sangat berat karena dia nganggur dulu dari jabatan publik tahun 2022 dan harus menunggu selama dua tahun hingga pemilihan serentak pada 2024.

            Kalau Anies tidak berhasil melanjutkan karir politiknya, saya sarankan Anies kembali pada habitatnya yang lama, menjadi pengajar seperti saya saja. Banyak hal yang bisa diajarkan oleh Anies kepada generasi muda lewat sekolahan atau kuliahan.

            Mari menyanyi lagi.

            “Menghitung Anies

            Detik demi detik ….”

            Udah ah, bosen.

            Sampurasun.

Wednesday, 15 September 2021

Permufakatan Jahat Istana

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Istilah “permufakatan jahat istana” saya dengar dari Refly Harun, dosen dan pengamat politik, khususnya tatanegara. Dia mengatakan hal itu di chanel youtube miliknya. Kalau saya tidak salah menganalisis, dia mengatakan hal itu karena istana Presiden Jokowi telah mengumpulkan kekuatan yang sangat besar dan membuat Anies Baswedan kesulitan untuk menjadi presiden. Dia menganggap apa yang dilakukan istana adalah kejahatan terhadap demokrasi. Begitu yang dia bilang di kanalnya yang katanya keren cadas itu.

            Saya kebingungan, jahatnya istana di sebelah mana?

            Kalau disebut jahat itu, kan harus ada pelanggaran terhadap hukum, UU, atau aturan.

            Hukum apa yang dilanggar oleh istana?

            Kalaulah Jokowi mengumpulkan kekuatan politik sehingga sulit ditandingi, itu adalah kecerdasan dan kreativitas istana untuk melancarkan program-program kerjanya, termasuk menghadapi Pilpres 2024. Anies Baswedan dan konco-konconya pun bisa melakukan hal itu. Kumpulkan saja kekuatan politik yang besar sehingga kekuatan itu percaya kepada Anies untuk menjadi presiden. Semua orang boleh kok melakukan hal itu, tidak ada kejahatan di sana.

            Sekarang memang Istana Si Klemar Klemer lebih jauh melangkah untuk memantapkan kekuatannya sehingga sulit diimbangi. Dari sekarang sudah tampak menang di atas angin. Oleh sebab itulah, Si Cungkring ini dianggap melakukan permufakatan jahat hingga menjadi terlalu kuat.

            Menurut saya, orang yang bilang Jokowi melakukan permufakatan jahat adalah karena dia kalah langkah, kalah ide, kalah cerdas, dan kalah kepercayaan oleh Jokowi. Padahal, siapa pun bisa melakukan itu asal bisa dipercaya saja sama orang lain dan itu bukan kejahatan karena tidak ada aturan yang dilanggar.

            Pertandingan apa pun harus mempersiapkan diri untuk menang sehingga musuhnya bisa kalah dengan mudah. Mau pertandingan olah raga, seni, bahasa, budaya, atau yang lainnya harus memperkuat diri untuk menang sebelum pertandingan. Kalau ingin mengimbangi Jokowi, pihak Anies harus mampu mengajak kekuatan-kekuatan politik yang sudah bergabung dengan Jokowi untuk beralih bergabung dengan dirinya. Misalnya, rayu dan ajak lagi PAN untuk bareng. Yakinkan Nasdem agar percaya untuk mendukung Anies dengan berbagai program masa depan. Begitu seharusnya. Itu tidak salah.

            Kalau orang lain sudah lebih dulu maju, melangkah, terus menganggap orang lain itu jahat, lucunya jadinya. Cengeng amat.

            Persiapkan diri untuk bertanding apa pun dan buat orang lain percaya bahwa diri kita layak didukung. Jangan cengeng.

            Sampurasun.

Tuesday, 14 January 2020

Anies Dituntut Mundur, Santuy Aja Kaleee


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Demonstrasi hari ini (14-01-2020) menyuarakan aspirasi agar Gubernur DKI Anies Baswedan mundur sebagai gubernur. Keinginan para pendemo ini disebabkan Anies dianggap tidak bisa bekerja sebagai gubernur, salah satunya tidak mengantisipasi bencana banjir, padahal Jakarta adalah langganan banjir. Dia malah mengerjakan hal-hal lain yang dianggap tidak penting oleh masyarakat.

            Tuntutan mundur ini tidak perlu ditanggapi terlalu sewot, baik oleh Anies sendiri maupun oleh para pendukungnya. Biasa saja, santuy aja. Ini negara demokrasi, setiap orang boleh bicara, boleh menilai, boleh mengkritik. Yang tidak boleh itu berbohong, hoax, menghina, dan memaki-maki. Tuntutan mundur itu harus dihadapi dengan tenang.

            Bukankah ada ulama yang katanya berharap Jakarta dipimpin oleh orang yang lemah lembut, baik hati, dan santun?

            Anies harus menghadapi rakyatnya dengan lemah lembut, baik hati, dan santun. Jawab saja kritikan itu dengan kerja keras, bukti nyata, dan kepedulian yang tinggi kepada warganya. Jangan sebaliknya, menghadapi rakyat dengan cara menyalahkan orang lain, baik anak buahnya, kepala daerah lain, atau bahkan pemerintah pusat. Apalagi jika menganggap warganya yang protes sebagai musuh. Salah besar itu. Baik kepada pendukung ataupun bukan pendukung, Anies harus bersikap sama karena warga DKI Jakarta itu adalah warganya juga. Seluruh warga DKI Jakarta itu adalah tanggung jawabnya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

            Demikian pula dengan gugatan 250 warga DKI yang menuntut ganti rugi sejumlah 423 miliar rupiah itu, hadapi saja dengan cara-cara hukum, bukan menghadapinya dengan mengerahkan massa tandingan yang pro-Anies. Hadapi saja dengan tenang dan laksanakan keputusan yang sudah diambil hakim setelah melalui proses persidangan.

            Kalau ada yang selalu mengincar kesalahan Anies Baswedan, itu wajar. Itulah risiko seorang gubernur yang sejak sekarang sudah dielu-elukan sebagai calon presiden RI 2024. Ada banyak orang yang ingin menggantikan Jokowi dan mereka ingin menang. Salah satu caranya adalah menggambarkan Anies sebagai orang yang lemah, tidak bisa bekerja, terpilih sebagai gubernur hasil kasus Sara, dan lain sebagainya.

            Dalam percakapan orang Sunda ada bahasa “beuki luhur naek tatangkalan, beuki gede angin ngagelebug”, ‘semakin tinggi naik pohon, semakin kencang angin bertiup menggoncangkan’.

            Begitu, kan?

            Respon masyarakat terhadap dirinya akibat banjir besar ini harus menjadi pelajaran bagi Anies agar lebih baik bekerja, lebih dekat dengan masyarakat, terampil berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah lain, serta berani mengambil tanggung jawab pekerjaan tanpa harus menyalahkan orang lain.

            Contoh juga tim Jokowi yang selalu memerangi hoax yang menyerang Jokowi dengan melaporkannya pada pihak kepolisian. Upaya mereka tampak berhasil. Sangat banyak yang ditangkap, kemudian menyatakan diri bersalah dan menyesal. Jika ada hoax yang menyerang Anies, segera laporkan pada pihak berwajib supaya kebenaran tampak lebih nyata.

            Dituntut mundur itu biasa saja. Jokowi dituntut mundur, Ahok dituntut mundur, Menhan RI Prabowo dituntut mundur, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dituntut mundur, Susi Pudjiastuti juga pernah dituntut mundur, bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun setiap hari sampai sekarang dituntut mundur dan didorong untuk di-impeach, ‘dipecat’.

            Masa Anies dituntut mundur sewot?

            Biasa saja, kalem aja.

            Sampurasun.