Showing posts with label Donald Trump. Show all posts
Showing posts with label Donald Trump. Show all posts

Friday, 27 March 2026

Donald Trump Bisa Jadi Pahlawan Perdamaian Dunia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bisa menjadi pahlawan perdamaian dunia. Dia bisa membawa banyak kebaikan dan ketertiban di seluruh dunia. Dengan kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang sangat kuat, ada banyak masalah yang bisa dia selesaikan dengan sangat baik. Dia bisa dikenal dan dikenang dunia sebagai sosok panutan yang luar biasa positif.


Donald Trump (Foto: CNN Indonesia)


            Gagasannya membentuk Board of Peace (BoP) jika dilaksanakan dengan konsisten, akan meniupkan angin sepoi perdamaian di Gaza yang bisa menenangkan di tengah kawasan penuh konflik. Setelah mengenal Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang berani menyediakan pasukan perdamaian, Trump bisa mewujudkan Gaza yang indah sebagaimana yang digambarkan menantunya, Jared Kushner. Warga Gaza dapat hidup lebih tenang dan memiliki masa depan lebih jelas. Dunia akan melihat itu.


Prabowo Subianto (Foto: IDNFinancials.com)


            BoP mendapat banyak dukungan dari negara-negara Arab di kawasan itu, negara-negara Eropa pun sudah mulai menginginkan kemerdekaan terhadap Palestina. Indonesia bersedia menjadi penjaga perdamaian, Pakistan pun bersedia membangun kepolisian Palestina.

            Hambatan apa yang membuat Donald Trump sulit mewujudkan itu semua?

Kalaupun ada kritikan dan dukungan, pro dan kontra tentang BoP, sepanjang menggunakan data dan analisa yang cerdas, itu menyehatkan. Pro dan kontra yang sangat sengit pun akan membuat manusia menjadi tercerahkan. Itu bagus. Akan tetapi, tidak perlu mendengar makian atau nyinyiran yang biasanya berdasarkan hoaks. Para penyinyir pecinta hoaks itu hanya orang-orang yang kurang minum susu. Mereka juga termasuk kelompok orang yang harus masuk program makan bergizi gratis (MBG).

Seandainya, pasukan Indonesia yang saat itu sekitar satu atau dua bulan lagi menginjakkan kakinya di Gaza, situasi akan menjadi lain. Donald Trump mengendalikan Israel, Indonesia menumbuhkan kesamaan pengertian dengan Hamas yang sudah sejak lama merasa bersaudara, Gaza akan mulai terasa lebih indah. Dunia tidak perlu menyaksikan perang yang mempermalukan Amerika Serikat.


New Gaza (Foto: Midle East Eye)


Sayang seribu sayang Saudara-Saudara, Donald Trump memilih mendengarkan Israel. Akhirnya, dia menjadi Dewa Mabuk yang menyedihkan, bukan pahlawan perdamaian dunia. Elit dan rakyat AS harus belajar tentang hal ini. Negara kalian yang  kuat itu jangan dibiasakan menjadi boneka Israel, tak perlu bangga menjadi kaki tangan Israel, kalian rugi sendiri.

Apakah kalian tidak malu, presiden kalian meminta gencatan senjata dan diskusi berkali-kali, tetapi ditolak terus oleh Iran?

Iran yang sering diremehkan ternyata telah memposisikan Trump dan AS menjadi negara yang tampak kesulitan dalam menghadapi perang dengan Iran. Memalukan. Posisi yang seharusnya mulia sebagai pahlawan perdamaian dunia dalam waktu sebentar lagi berubah drastis menjadi pengacau keamanan dan kerusakan ekonomi dunia. Kalian memang rusak, harus mengubah ulang cara pandang dan sikap kalian terhadap dunia.

Nasi sudah menjadi bubur, tak bisa lagi kembali menjadi beras.

Meskipun demikian, selalu ada jalan untuk memperbaiki diri sepanjang kita mau memperbaikinya. Semoga Tuhan memberikan jalan untuk umat manusia agar dapat menciptakan kehidupan dunia menjadi lebih baik. Aamiin.

Foto Donald Trump saya dapatkan dari CNN Indonesia, Prabowo Subianto dari IDNFinancials com, dan New Gaza dari Midle East Eye.

Sampurasun.

Tuesday, 17 February 2026

Netanyahu Takut pada Prabowo

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tampaknya takut kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Hal ini bisa dilihat dari tidak bersedia hadir untuk bertemu Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana Board of Peace (BoP) di Washington DC besok, Kamis, 19 Februari 2026. Netanyahu mewakilkannya kepada Menlu Israel Gideon Saar untuk bertemu Prabowo dalam rapat itu. Demikian pula sebelumnya, Netanyahu mendaftarkan Israel untuk bergabung BoP sendirian lewat ngumpet di jalur belakang melalui Menlu Amerika Serikat (AS) Marco Rubio.


PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: ANTARA News Kalteng)


            Berbeda dengan Prabowo yang ketika bergabung terbuka di depan publik dan di depan para pemimpin dunia lainnya. Bahkan, berkali-kali Presiden AS Donald Trump menyalami Prabowo dengan lama sambil mengguncang-guncang dan menepuk-nepuk punggung Prabowo dengan hangatnya. Demikian pula Prabowo menjadi sorotan dunia sejak sebelum berangkat ke Washington untuk rapat perdana BoP, saat berangkat, ketika sampai, dan saya yakin ketika berlangsung rapat serta setelahnya, tetap menjadi sorotan dunia dan bersedia berdebat serta berdiskusi soal perdamaian dengan siapa saja.


Presiden RI Prabowo Subianto berjoget (Foto: Tempo co)


            Netanyahu dan Israel memang sedang terpojok. Dia dimusuhi banyak orang. Di dunia Islam sudah jelas dibenci, di Eropa pun dikutuk, di AS dimaki-maki. Bahkan, di Israel sendiri menghadapi penentangan yang sangat hebat dan kutukan luar biasa. Para rabi Yahudi berteriak bahwa mereka merasa lebih baik mati sebagai Yahudi dibandingkan mati sebagai zionis seperti Netanyahu.

            Kalaulah Netanyahu menganggap tidak penting pertemuan perdana BoP, itu sangatlah aneh karena dalam rapat itu akan diputuskan kehadiran pasukan Prabowo untuk menjaga perdamaian serta membuat mundur pasukan Israel dari Gaza, Palestina. Artinya, dia akan kehilangan kesempatan berdebat dengan Prabowo soal Gaza dan mengalami kerugian karena harus menyingkir dari sana. Prabowo sendiri akan menjalankan pasukannya dengan cara Indonesia dan berdasarkan kepentingan Indonesia, bukan untuk kepentingan yang lain. Kalaulah Netanyahu berani berdebat dan memaksa pasukan Indonesia tunduk pada keinginan Israel, Prabowo punya tombol “eject” untuk segera keluar dari BoP dan membiarkan mereka terus saling bunuh dengan Hamas serta membuat rencana Donald Trump berantakan, mangkrak sebelum dimulai.

            Ini cara cerdas Indonesia untuk menekan AS agar Israel mundur dari Gaza. Kalau tidak, persilakan AS cari pasukan lain yang bersedia dan diterima di Gaza. Faktanya, hari ini hanya Prabowo yang lantang sambil memukul meja PBB menyediakan putera-puterinya sejumlah 20 ribu, bahkan lebih untuk menjaga perdamaian dunia.

            Netanyahu takut pada Prabowo. Kalau dia berani datang berdebat dengan Prabowo besok dalam rapat BoP, tulisan saya ini berarti salah dan akan saya hapus selamanya.

            Foto Prabowo joget saya dapatkan dari Tempo co dan Netanyahu dari ANTARA News Kalteng.

            Sampurasun.

Saturday, 14 February 2026

PBB Lemot Disalip BoP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik di tanah Palestina sudah terjadi puluhan tahun dan menimbulkan kerusakan harta dan nyawa yang sangat besar. Selama puluhan tahun juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya menanganinya. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat masalah itu tidak pernah selesai. Itulah yang saya bilang PBB itu mesinnya lemot, tenaganya hanya 16% atau maksimal hanya 24%.

            Dalam kelemotan PBB, muncul “Board of Peace” (BoP) atau yang kita kenal dengan “Dewan Perdamaian”. BoP adalah mesin baru yang punya tenaga dorong 60%.

            BoP sebetulnya amanat PBB, tetapi kemudian berubah menjadi lembaga yang mulai terpisah dari PBB serta punya keinginan dan cara sendiri dalam menyelesaikan masalah antara Israel dan Palestina. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tidak sabar dengan konflik di Palestina, lalu mendapat kekuatan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang siap mengirimkan prajurit TNI sejumlah 20 ribu atau bahkan lebih untuk menjaga perdamaian di Gaza, Palestina. Ibarat “kata  berjawab, gayung pun bersambut”, terciptalah BoP yang mengguncangkan dunia akhir-akhir ini.


Prabowo Subianto dan Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Anehnya, Trump menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dengan PBB yang di dalamnya ada “hak veto”. Hak veto adalah hak untuk melarang keputusan, resolusi, peraturan, atau kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat di PBB. Hak itulah yang membuat persoalan di Palestina sulit selesai. Oleh sebab itu, dia merancang sendiri dan menggerakkan sendiri dunia untuk segera menyelesaikan masalah Gaza.

            Aneh memang karena selama ini yang kita kenal sering mengobral hak veto adalah Amerika Serikat. Kita yang justru sering kesal dan marah karena AS kerap menggunakan hak veto yang merugikan bangsa-bangsa di dunia, terutama untuk di wilayah Timur Tengah dan tentu saja merugikan Palestina.

            Jadi, sebetulnya siapa yang menggunakan hak veto sehingga merugikan kesepakatan dunia itu?

            Cukup membingungkan.

            Sudahlah, yang jelas saat ini AS di bawah Trump bergerak sendiri seolah-olah meninggalkan PBB dengan dukungan Indonesia di bawah Prabowo untuk menyesaikan konflik di Palestina. Hal ini justru diberitakan pertama kali oleh media-media Israel bahwa Indonesia menjadi negara yang pertama di dunia mengirimkan pasukannya di Gaza untuk menjaga perdamaian. Bahkan, Israel sendiri telah mulai memberikan tempat dan menyediakan wilayah untuk TNI di selatan jalur Gaza, antara Rafah dan Khan Younis.

            Kalaulah PBB mulai merasa ditinggalkan dalam urusan Palestina ini, seharusnya bergerak lebih cepat lagi. Jangan terlalu banyak seminar, rapat, atau diskusi yang dianggap Trump terlalu lambat. Sebaiknya PBB mengambil langkah yang mengarah pada langkah nyata untuk kembali menyalip BoP. Sementara itu, Indonesia akan lebih lebih senang jika pasukannya berada di bawah mandat PBB dibandingkan BoP. Prabowo dengan tegas akan mengirimkan “putera-puteri terbaik Indonesia” ke jalur Gaza, Palestina.

            Foto Prabowo dan Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Sampurasun.

Sunday, 25 January 2026

Utang Banyak, Uang Lemah, Ketakutan, dan Sakit Hati Kombinasi Penyebab Perang Dunia Ketiga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kegaduhan dunia saat ini, 2026, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga bisa dikatakan karena kondisi Negara Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Masalah-masalah di dalam negeri AS ini mendorong Trump untuk mempengaruhi negara lainnya yang akibatnya menyebabkan kegoncangan geopolitik dan ekonomi. Masalah-masalah itu, di antaranya, utang yang banyak, lemahnya uang dollar AS, ketakutan terhadap kekuatan asing, dan sakit hati karena tidak menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

            Pertama, Negara AS itu memiliki utang yang sangat banyak. Utang nasionalnya pada Januari 2026 telah mencapai angka lebih dari US$38 triliun yang kalau dirupiahkan sekitar Rp641.820 triliun. Besar sekali.

            Jika kita bandingkan dengan utang Indonesia, berbeda jauh. Utang Indonesia itu bisa dikatakan sangat sedikit, yaitu hanya menembus Rp9.400 triliun lebih hingga akhir kuartal III tahun 2025.

            Utang AS itu berapa kali lipat utang Indonesia?

            Hitung saja sendiri.

            Tentunya, AS harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membayar semua utang-utangnya. Hal itu mendorong Trump untuk menguasai negeri-negeri lain agar mendapatkan lagi sumber daya alam seperti minyak di Venezuela; hasil Bumi di Green Land, Denmark; minyak di Iran. Upaya menguasai negara lain itu tentunya mendapatkan perlawanan dari negara yang berada dalam ancamannya.

            Kedua, uang dollar AS yang semakin lemah dalam bisnis internasional. Banyak negara yang mulai gerah dengan terlalu berkuasanya dollar AS sehingga hanya menguntungkan AS dan merugikan negaranya sendiri. Oleh sebab itu, mulai banyak negara yang tidak ingin menggunakan dollar AS. Presiden Venezuela Maduro ditangkap AS salah satunya karena akan menggunakan negaranya untuk uji coba penggunaan mata uang Cina Yuan dalam bisnis internasional. Rusia semakin memperkuat Rubel. Cina tentu saja mendorong Yuan. Dalam kelompok Brics sendiri mulai menguat untuk membuat mata uang baru di kalangan mereka. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang mengalihkan uangnya menjadi logam mulia (LM) atau emas. Bahkan, generasi muda mulai menabung untuk membeli emas karena daya tahan nilai tukarnya lebih kuat dibandingkan uang.

            Ketiga, AS ketakutan terhadap menguatnya pengaruh Cina dan Rusia di dunia. Kedua negara saingan AS ini memang semakin menunjukkan kekuatannya, baik secara ekonomi maupun militer. Meskipun AS menghambat kemajuan kedua negara tersebut dengan beragam sanksi dan ancaman, Cina dan Rusia semakin kuat mempengaruhi dunia sehingga membuat AS tampak semakin lemah.

            Keempat, Presiden Trump merasa sakit hati tidak mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Dia merasa sudah melakukan banyak hal untuk perdamaian dunia, tetapi orang yang meraih Nobel Perdamaian pada 2025 adalah bukan dirinya, melainkan María Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela, atas perjuangannya dalam mempromosikan hak-hak demokrasi, transisi damai, dan melawan kediktatoran di negaranya.


Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Rasa sakit hatinya ini dapat terlihat dari pengakuannya sendiri. Karena tidak mengapatkan Nobel Perdamaian, Trump sudah tidak ingin lagi memikirkan perdamaian dunia. Dia akan lebih memikirkan negaranya sendiri. Perdamaian dunia bukan prioritasnya.

            Foto Presiden AS Donald Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Bisa dibayangkan bukan, negara sekuat dan sekaya AS tak lagi memikirkan perdamaian dunia?

            Dia akan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan negaranya.

            Bagaimana dengan sikap kita, Indonesia?

            Indonesia harus berpegang teguh pada persatuan dan politik luar negeri bebas aktif. Berteman dengan siapa saja sepanjang tidak merugikan kita.

            Sampurasun.

Monday, 5 January 2026

Perbedaan Arab Saudi dan Amerika Serikat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya menulis hal yang pada pokoknya saja bahwa banyak pengamat energi di dunia ini memperkirakan bahwa bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan digunakan oleh mayoritas manusia untuk kendaraan bermesin akan habis tiga puluh tahun ke depan. Oleh sebab itu, negara-negara penghasil minyak berupaya keras untuk tetap mendapatkan penghasilan besar bagi hidup rakyatnya tanpa harus menggantungkan diri pada minyak di negaranya.

            Raja Arab Saudi Salman berusaha mengatasi masa-masa sulit nanti ketika minyak fosil habis dengan cara berkeliling ke seluruh dunia untuk menanamkan uangnya pada berbagai fasilitas industri pada berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang didatanginya. Dia menyebarkan dan menanamkan uangnya agar rakyat Arab Saudi tetap bisa hidup meskipun nanti minyak habis di negaranya. Artinya, hidup rakyatnya akan banyak ditopang oleh industri-industri yang dibangun pada berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Raja Arab Saudi Salman (Foto: BBC)


            Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya keras agar rakyatnya bisa tetap hidup dan industrinya tetap berjalan. Salah satu usahanya adalah dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Negara Venezuela adalah pemilik cadangan minyak yang terbesar di dunia. Minyak di Venezuela jumlahnya sama dengan cadangan minyak tiga negara jika digabungkan, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Kanada. Dengan demikian, Amerika Serikat (AS) memiliki lebih banyak lagi minyak untuk negaranya dan berbagai industri AS tetap bisa berjalan tenang dengan lebih lama lagi.

            Hal ini jelas terucap dari mulut Trump sendiri bahwa setelah menangkap Maduro, AS akan mengelola minyak Venezuela. Dia segera berbicara tentang minyak dan bukan soal hak asasi manusia, kesehatan rakyat, ataupun stabilitas politik Venezuela seperti yang sering dipidatokannya. Dia langsung bicara soal bisnis minyak.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC)


            Meskipun dia membantah bahwa menangkap Maduro adalah untuk menguasai minyak karena minyak di AS sudah cukup, fakta menunjukkan bahwa yang dia ucapkan pertama kali adalah soal penguasaan minyak. Itu sudah menjelaskan bahwa dia menginginkan minyak untuk dirinya dan negaranya.

            Dari sini, kita bisa melihat adanya perbedaan sikap antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat soal minyak. Arab Saudi mengatasi kelangkaan minya pada masa depan dengan membangun bisnis nonminyak pada berbagai negara agar rakyatnya tetap bisa hidup. Adapun AS melakukan penyerangan terhadap Venezuela dan menangkap presidennya agar dia bisa lebih banyak lagi menguasai ladang-ladang minyak untuk diri dan negaranya.

            Baik Arab Saudi maupun AS sama-sama melakukan kewajiban untuk hidup rakyatnya masing-masing. Perbedaannya adalah pada caranya dan pada nilai-nilai moralitas manusia.

            Mana yang lebih bermoral?

            Arab Saudi atau Amerika Serikat?

            Pembaca bisa menilainya sendiri dengan menggunakan nurani sebagai manusia. Mari kita menilai sesuai dengan informasi lebih luas dan kejujuran hati. Untuk mampu menilai dan merasakan sesuatu dengan lebih jernih, pikiran dan perasaan kita harus berada dalam posisi positif. Oleh sebab itu, berhenti bergaul dan bergabung dalam kelompok-kelompok yang dipenuhi suasana negatif.

            Foto Raja Salman dan Presiden Trump saya dapatkan dari BBC.

            Sampurasun.

Sunday, 23 February 2020

Jangan Terlalu Bangga Disebut Negara Maju


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Indonesia adalah negara maju. Untuk mereka yang mencintai Negara Indonesia, bisa tiba-tiba tersentak bangga dengan predikat sebagai negara maju, tetapi rasa bangga itu seketika tertahan jika merasakan kondisi hidupnya sehari-hari dan atau melihat keadaan ekonomi sekitarnya.

            Benarkah kita, Indonesia, sudah menjadi negara maju?

            Pernyataan Presiden AS tersebut harus diteliti lagi maksudnya. Sebagai negara mayoritas muslim, kita harus ingat bahwa proses tabayun, cek en ricek, wajib dilakukan jika mendapatkan berita apapun, baik itu berita baik maupun berita buruk.

            Dari beberapa sumber yang saya pelajari, kita wajar kecewa dengan disebut sebagai negara maju dan dikeluarkan dari daftar negara miskin atau negara berkembang. Hal itu disebabkan AS tidak akan lagi memberikan subsidi atau bantuan terhadap Indonesia dalam mengekspor barang-barang Indonesia untuk diimpor oleh AS. Salah satunya, akan ada kenaikan tarif bea masuk bagi barang-barang Indonesia yang diimpor AS.

            AS memang memiliki undang-undang untuk melindungi negara-negara miskin atau berkembang agar terlepas dari kemiskinan. Negara Donald Trump itu memberikan tarif bea masuk rendah bagi negara-negara yang dianggap masih miskin atau berkembang agar negara-negara itu bisa maju. Dengan dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara berkembang yang berarti menjadi negara maju, tarif bea masuk akan tinggi. Hal itu akan memukul para pengusaha Indonesia yang mengekspor barang ke AS. Dengan tarif bea masuk tinggi, harga-harga barang Indonesia di AS akan menjadi semakin mahal dan itu dikhawatirkan semakin mengurangi daya saing produk Indonesia di AS. Padahal, saat ini nilai hubungan dagang Indonesia-AS telah membuat neraca perdagangan Indonesia surplus. Artinya, Indonesia untung besar. Dengan kenaikan tarif, bisa saja keuntungan perdagangan itu menurun dan terus turun.

            Meskipun demikian, Indonesia tidak perlu terlalu risau, hadapi saja kenyataan yang ada dengan kerja keras dan doa agar produk Indonesia semakin berkualitas dan semakin beragam sehingga kenaikan tarif bea masuk yang diterapkan AS tidak mengganggu kenaikan keuntungan perdagangan AS-Indonesia. Hal yang patut diingat, kita harus sama-sama bergotong royong. Kalau belum bisa gotong royong dan menyumbangkan diri untuk negara, minimal jangan bikin huru-hara. Hal itu disebabkan jika negara maju, kita pun ikut maju, kecuali kalau kitanya malas dan tidak memanfaatkan kesempatan yang ada.

            Jadi, jangan terlalu bangga jika disebut negara maju. Saya melihatnya itu hanya upaya Amerika Serikat untuk tidak lagi membantu Indonesia sebagai negara berkembang. AS tampaknya sedang membutuhkan uang sehingga tidak ingin lagi memberikan subsidi bagi Indonesia.

            Bagi saya, Indonesia belum maju dan masih termasuk negara berkembang. Hal itu disebabkan saya masih percaya pada teori dari Rektor Universitas Al-Ghifari Prof. Dr. Didin Muhafidin bahwa negara maju itu hidup dari otaknya, sedangkan negara berkembang hidup dari sumber daya alamnya. Oleh sebab itu, Bank Dunia tidak memasukkan Arab Saudi atau negara-negara Timur Tengah sebagai negara maju meskipun punya banyak uang dan disebut Negara Petrodollar. Hal itu disebabkan Arab Saudi dan Timur Tengah sama dengan Indonesia yang hidup bukan dari otaknya, melainkan mengandalkan hidup dari sumber daya alamnya. Indonesia masih belum maju, masih berkembang.

            Meskipun demikian, tidak perlu berkecil hati karena Indonesia pun sekarang sudah menjadi negara ranking ke-7 di dunia dalam hal ekonomi. Sayangnya, kebesaran ekonomi Indonesia jika dibagi jumlah penduduk yang sebanyak 267 juta, pendapatan perkapitanya menjadi peringkat 97 di dunia. Tidak apalah karena itu juga sudah menunjukkan adanya peningkatan dari setiap periode kepemimpinan Indonesia.

            Jangan bergantung pada orang lain, kerja keras adalah paling utama.

            Kata Presiden Soekarno, “Bukanlah kemerdekaan namanya jika rakyat Indonesia masih belum sejahtera.”

            Kesejahteraan itu hanya bisa dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah dengan rakyat. Oleh sebab itu jangan gemar ribut. Kalau ada masalah besar, kita kecilkan. Kalau ada masalah kecil, kita hilangkan. Jangan meributkan hal-hal yang tidak perlu.

            Sampurasun.

Tuesday, 14 January 2020

Anies Dituntut Mundur, Santuy Aja Kaleee


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Demonstrasi hari ini (14-01-2020) menyuarakan aspirasi agar Gubernur DKI Anies Baswedan mundur sebagai gubernur. Keinginan para pendemo ini disebabkan Anies dianggap tidak bisa bekerja sebagai gubernur, salah satunya tidak mengantisipasi bencana banjir, padahal Jakarta adalah langganan banjir. Dia malah mengerjakan hal-hal lain yang dianggap tidak penting oleh masyarakat.

            Tuntutan mundur ini tidak perlu ditanggapi terlalu sewot, baik oleh Anies sendiri maupun oleh para pendukungnya. Biasa saja, santuy aja. Ini negara demokrasi, setiap orang boleh bicara, boleh menilai, boleh mengkritik. Yang tidak boleh itu berbohong, hoax, menghina, dan memaki-maki. Tuntutan mundur itu harus dihadapi dengan tenang.

            Bukankah ada ulama yang katanya berharap Jakarta dipimpin oleh orang yang lemah lembut, baik hati, dan santun?

            Anies harus menghadapi rakyatnya dengan lemah lembut, baik hati, dan santun. Jawab saja kritikan itu dengan kerja keras, bukti nyata, dan kepedulian yang tinggi kepada warganya. Jangan sebaliknya, menghadapi rakyat dengan cara menyalahkan orang lain, baik anak buahnya, kepala daerah lain, atau bahkan pemerintah pusat. Apalagi jika menganggap warganya yang protes sebagai musuh. Salah besar itu. Baik kepada pendukung ataupun bukan pendukung, Anies harus bersikap sama karena warga DKI Jakarta itu adalah warganya juga. Seluruh warga DKI Jakarta itu adalah tanggung jawabnya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

            Demikian pula dengan gugatan 250 warga DKI yang menuntut ganti rugi sejumlah 423 miliar rupiah itu, hadapi saja dengan cara-cara hukum, bukan menghadapinya dengan mengerahkan massa tandingan yang pro-Anies. Hadapi saja dengan tenang dan laksanakan keputusan yang sudah diambil hakim setelah melalui proses persidangan.

            Kalau ada yang selalu mengincar kesalahan Anies Baswedan, itu wajar. Itulah risiko seorang gubernur yang sejak sekarang sudah dielu-elukan sebagai calon presiden RI 2024. Ada banyak orang yang ingin menggantikan Jokowi dan mereka ingin menang. Salah satu caranya adalah menggambarkan Anies sebagai orang yang lemah, tidak bisa bekerja, terpilih sebagai gubernur hasil kasus Sara, dan lain sebagainya.

            Dalam percakapan orang Sunda ada bahasa “beuki luhur naek tatangkalan, beuki gede angin ngagelebug”, ‘semakin tinggi naik pohon, semakin kencang angin bertiup menggoncangkan’.

            Begitu, kan?

            Respon masyarakat terhadap dirinya akibat banjir besar ini harus menjadi pelajaran bagi Anies agar lebih baik bekerja, lebih dekat dengan masyarakat, terampil berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah lain, serta berani mengambil tanggung jawab pekerjaan tanpa harus menyalahkan orang lain.

            Contoh juga tim Jokowi yang selalu memerangi hoax yang menyerang Jokowi dengan melaporkannya pada pihak kepolisian. Upaya mereka tampak berhasil. Sangat banyak yang ditangkap, kemudian menyatakan diri bersalah dan menyesal. Jika ada hoax yang menyerang Anies, segera laporkan pada pihak berwajib supaya kebenaran tampak lebih nyata.

            Dituntut mundur itu biasa saja. Jokowi dituntut mundur, Ahok dituntut mundur, Menhan RI Prabowo dituntut mundur, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dituntut mundur, Susi Pudjiastuti juga pernah dituntut mundur, bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun setiap hari sampai sekarang dituntut mundur dan didorong untuk di-impeach, ‘dipecat’.

            Masa Anies dituntut mundur sewot?

            Biasa saja, kalem aja.

            Sampurasun.

Monday, 30 December 2019

Memelihara Hoax

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kita tahu bahwa hoax itu adalah berita bohong atau informasi palsu. Sesungguhnya, hoax selalu terjadi dari zaman ke zaman. Pada akhir-akhir ini hoax bisa kita lihat ikut mempengaruhi situasi sosial-politik dunia. Pertarungan Donald Trump Vs Hillary Clinton di AS melibatkan hoax yang masih tersisa urusannya hingga kini. Pemilihan walikota London, Inggris pun menggunakan hoax yang luar biasa karena calon walikotanya ada yang berasal dari kalangan muslim. Bahkan, orang Islam ini yang kemudian terpilih, namanya Sadiq Khan. Di samping itu, fenomena Britain Exit (Brexit) pun meningkatkan hoax hingga ke angka 500%. Hal ini disebabkan persoalan ekonomi yang membuat warga Inggris sendiri “terkalahkan” oleh warga pendatang, banyak lapangan pekerjaan dan bisnis dikuasai bukan oleh warga asli Inggris. Demikian pula di Indonesia, hoax digunakan dalam perhelatan-perhelatan politik, situasi pemililhan, baik Pilkada, Pileg, maupun Pilpres. Dalam Pilpres 2019, masyarakat Indonesia tersedot energinya secara luar biasa dengan banyaknya hoax yang beredar.

            Kini Pilpres RI sudah selesai, tetapi hoax tetap menghiasi ruang media sosial, bahkan terjadi pula di dunia nyata. Jokowi (01) sudah menang dan Prabowo (02) sudah bergabung menambah kekuatan politik Jokowi hingga 76%. Tak perlu ada lagi persaingan. Bahkan, Jokowi bukan lagi saingan untuk Pilpres 2024, tetapi hoax tetap berseliweran.

            Mengapa hoax terus dipelihara?

            Paling tidak, ada sedikit pencerahan dari Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Anita Wahid yang menjelaskan bahwa “hoax yang beredar sekarang bukan lagi terkait Pilpres, melainkan memelihara kebencian yang sudah tertanam di masyarakat”. Penjelasan itu memerlukan penjelasan tambahan, sayangnya Anita Wahid belum menjelaskannya sehingga membuat kita harus mencoba menjelaskan sendiri.

            Para pembuat dan penyebar hoax memang sengaja memelihara kebencian tersebut agar dirinya tetap eksis dan tidak kehilangan perhatian dari masyarakat yang telah ditipunya. Banyak masyarakat Indonesia yang mudah percaya tanpa periksa, tanpa tabayun, check and recheck, atau fact checking sehingga mudah ditipu. Masyarakat yang seperti inilah “langganan utama” dari para “pemelihara kebencian”.

            Jika tidak menyebarkan hoax, mereka akan dilupakan dan hilang dari peredaran. Oleh sebab itu, mereka membuat hoax-hoax baru atau ujaran kebencian agar tetap eksis. Dengan demikian, masyarakat yang mudah ditipunya dapat digiring untuk memperoleh posisi politik dan mengumpulkan sejumlah uang untuk kepentingan pribadi-pribadinya.

            Tugas orang-orang sadar, tulus, dan cinta harmonilah yang harus memerangi hoax, ujaran kebencian, dan perpecahan. Allah swt sangat mencintai kebenaran, kedamaian, cinta, dan kasih sayang.

            Beberapa tulisan saya yang lalu, ada yang berisi tentang bagaimana cara menentukan kebenaran suatu informasi. Orang lain pun banyak yang menulis hal yang sama. Insyaallah, tulisan-tulisan berikutnya menyinggung-nyinggung juga cara supaya kita tidak menjadi korban hoax.

            Sampurasun.

Friday, 27 January 2017

Goncangnya Amerika Serikat

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Amerika Serikat yang kerap disebut-sebut orang sebagai negara adidaya, kini mengalami goncangan politik, sosial, dan ekonomi yang teramat hebat. Warga Negara Amerika Serikat beserta para pemimpinnya merasakan benar penurunan kualitas negaranya. Oleh sebab itu, Donald Trump menggunakan slogan Make America Great Again dalam pemilihan presiden dan berhasil menang. Donald Trump membius rakyat Amerika Serikat dengan mimpi-mimpi manis untuk meraih kegemilangan masa lalu.

            Dunia menduga, rakyat Amerika Serikat mengira, warga Indonesia menyangka bahwa Amerika Serikat muncul menjadi negara yang hebat disebabkan menggunakan sistem politik demokrasi. Amerika Serikat memang menjadi negara yang teramat hebat dan menyangka dirinya hebat karena politik demokrasi di dalam negerinya. Oleh sebab itu, tak heran jika mereka berpandangan bahwa dunia harus menggunakan sistem politik demokrasi agar bisa hebat seperti mereka. Tak terkecuali, banyak pemikir dan elit Indonesia pun terjebak dalam pemikiran yang sama. Para elit Indonesia melihat Amerika Serikat berhasil membangun ekonomi dengan spektakuler, teknologi yang hebat, dan kekuatan militer yang tangguh disebabkan menggunakan sistem politik demokrasi. Oleh sebab itu, Indonesia pun diupayakan mencontoh sistem politik demokrasi di Amerika Serikat. Negeri itu kerap menjadi  acuan atau cerminan demokrasi di Indonesia.

            Sayang sekali, Amerika Serikat bisa hebat sesungguhnya bukan karena menggunakan sistem politik demokrasi. Mereka menipu diri sendiri, dunia pun ikut tertipu, Indonesia juga tertipu. Pandangan bahwa Amerika Serikat bisa hebat karena demokrasi sesungguhnya hanya hoax, ‘berita palsu’.

            Hal yang sesungguhnya memunculkan Amerika Serikat menjadi negara hebat adalah disebabkan tiga hal, yaitu pertama, ketika Eropa dilanda perang-perang besar yang sangat menghancurkan, Amerika Serikat sama sekali tidak ikut campur dalam perang-perang itu. Tidak ada satu bom pun yang jatuh di tanah Amerika Serikat. Eropa memang sedang berkecamuk saling bunuh, saling perkosa, dan saling bantai di antara mereka sendiri. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno menggambarkan Eropa saat itu seperti ketel penuh minyak mendidih yang bergolak panas sekali. Dengan tidak terlibatnya dalam perang-perang di Eropa,  Amerika Serikat lebih berkonsentrasi menggunakan waktu dan energinya untuk membangun ekonomi dan militer. Itulah yang membuat Amerika Serikat menjadi kuat.

            Kedua, ketika wilayah Asia berada dalam kekuasaan para penjajah, Amerika Serikat tidak berada dalam keadaan terjajah. Pada saat kemakmuran, kekayaan, dan kedamaian rakyat Asia, termasuk Indonesia dirampok dan dihancurkan oleh brutalitas para penjajah, Amerika Serikat bukanlah negeri jajahan. Bahkan, Amerika Serikat ikut pula menyedot kekayaan dan kemakmuran negeri-negeri Asia yang terjajah. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa negeri-negeri terjajah selalu terbelakang, tertinggal, dan menderita. Jangankan untuk berkembang, untuk bertahan hidup saja sulitnya bukan main. Sementara itu, Amerika Serikat tidak dalam keadaan terjajah. Itulah salah satu hal yang membuat Amerika Serikat muncul menjadi negara kuat.

            Ketiga, partisipasi publik Amerika Serikat dalam politik demokrasi teramat rendah. Dari sejak berdirinya, rakyat Amerika Serikat sama sekali tidak mementingkan kehidupan agama dan dinamika politik. Agama dan politik adalah barang rendah dan remeh yang tidak terlalu mereka pedulikan. Hal itu disebabkan para penduduk awal Amerika Serikat adalah pelarian dari negeri-negeri Eropa, terutama Inggris yang sangat mementingkan kekuasaan negara dan kekuasaan agama. Mereka berlarian ke Amerika Serikat karena merasa terkekang, tertindas, terancam, dan terpenjara oleh banyak aturan negara dan agama. Oleh sebab itu, mereka menyebut Amerika Serikat sebagai Negara Impian karena di Amerika Serikat-lah mereka bisa melepaskan dirinya dari berbagai ikatan yang menjerat hidup mereka sehingga bisa hidup merdeka dan bebas tanpa mendapat tekanan dari kaum penguasa dan kaum pendeta agama. Tak heran bahwa para pendahulu rakyat Amerika Serikat sering juga disebut “para pelarian agama”.

            Karena mereka berada di Amerika Serikat berasal dari “pelarian agama”, mereka pun sangat tidak peduli dengan agama dan politik. Mereka lebih berkonsentrasi pada kebebasan, peningkatan kehidupan ekonomi, dan pencarian materi sebesar-besarnya. Jadilah mereka kapitalistis.

            Rendahnya partisipasi rakyat Amerika Serikat dalam sistem politik demokrasi, bisa dilihat dari angka-angka partisipasi rakyat dalam pemilihan presiden yang tidak pernah mencapai angka 50%. Dari sejak mula berdirinya, partisipasi publik Amerika Serikat dalam pemilihan presiden hanya sekitar 30% s.d. 43%. Rendah sekali. Bahkan, ketika Barack Obama terpilih pun angkanya tidak melebihi 43%.

            Angka partisipasi rakyat Amerika Serikat yang sangat rendah dalam proses demokrasi menyebabkan tidak terjadinya goncangan-goncangan berarti yang diakibatkan oleh aktivitas politik seperti Pemilu Pilwalkot, Pilgub, dan Pilpres. Mereka hampir tidak peduli dengan politik. Mereka lebih suka membangun kerajaan bisnis sehingga tak heran banyak orang sibuk bisnis hingga stres yang kemudian menjadi kaya raya di sana. Itulah  yang menyebabkan ekonomi Amerika Serikat menjadi adidaya dengan kekuatan militer yang juga teramat kuat secara teknologi.


Peningkatan Partisipasi Mengakibatkan Kegoncangan
Rendahnya partisipasi publik Amerika Serikat terhadap proses demokrasi, membuat negara itu tidak banyak guncangan serta dapat memanfaatkan energi dan waktunya untuk bisnis, ekonomi, dan militer. Berbeda halnya dengan ketika rakyat Amerika Serikat mengalami peningkatan partisipasi dalam sistem politik demokrasi, terjadilah guncangan-guncangan hebat, seperti, kriminalitas, pembunuhan, penculikan, Narkoba, konflik horizontal, hoax, kecurangan dalam proses pemilihan, peningkatan rasisme, intoleransi, kecurigaan berlebihan, polarisasi di tengah masyarakat, demonstrasi di sana-sini akibat proses politik, tuduhan keterlibatan Rusia dalam pengaturan pemenangan Pilpres Donald Trump, dan lain sebagainya.

            Memang partisipasi publik Amerika Serikat dalam demokrasi saat ini mengalami lonjakan peningkatan yang teramat tinggi. Rakyat Amerika Serikat yang berpartisipasi secara aktif dalam pemilihan presiden saat pertarungan Hillary Clinton vs Donald Trump mencapai 67%. Entah apa sebabnya, padahal pada masa Barack Obama saja tidak melebihi 43%.

            Masyarakat yang terlibat aktif dalam proses politik dalam jumlah besar ini tidak hanya berhenti mengguncangkan negara sebelum dan saat Pilpres di Amerika Serikat, melainkan pula berlanjut meskipun Donald Trump telah terpilih. Hoax, tuduhan kerja sama dengan Rusia, kecurangan dalam Pilpres, hasutan, dan provokasi terus terjadi dan sangat sulit untuk dihentikan. Bahkan, goncangan-goncangan ini akan terus menghantui Amerika Serikat yang mendorong pula semakin banyak pihak yang terlibat dalam proses politik yang mengakibatkan semakin besarnya goncangan yang akan terjadi.

            Hal itu dapat menjadi dasar hipotesa bahwa slogan Make America Great Again tidak akan pernah terjadi dan hanya mimpi tanpa akan menjadi kenyataan. Hal itu disebabkan jika Amerika Serikat ingin hebat seperti dulu lagi, Eropa harus saling berperang dulu, Asia, termasuk Indonesia harus berada dalam keadaan terjajah, dan partisipasi publik Amerika Serikat dalam demokrasi harus sangat rendah. Sementara itu, Amerika Serikat tidak ikut perang bersama Eropa, ikut menyedot hasil Bumi tanah jajahan, serta berkonsentrasi pada bisnis dan militer dengan meninggalkan perhatian pada politik.

            Mungkinkah hal itu terjadi saat ini?

            Kalaupun tidak bisa dikatakan mustahil, hal itu sangat sulit terjadi.

            Sebaiknya, rakyat Amerika Serikat kembali merenungkan nasihat founding fathers-nya, Thomas Jefferson yang mengatakan, “Jika syarat masuk surga itu adalah harus menjadi anggota partai politik, aku lebih memilih untuk masuk neraka!”

            Jadi, Amerika Serikat dulu bisa sangat hebat bukanlah karena menggunakan sistem politik demokrasi, melainkan disebabkan tidak ikut campur dalam perang di Eropa, ikut menikmati kekayaan tanah jajahan, dan rendahnya perhatian rakyat Amerika Serikat dalam proses demokrasi.

            Bagaimana dengan Indonesia?


            Masih betah dengan demokrasi?

Thursday, 10 November 2016

Amerika Serikat Tak Siap Kesetaraan Gender

oleh Tom Finadin


Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) atas Hillary Clinton, tak lepas dari perilaku dan suasana kebatinan rakyat AS sendiri. Angka hasil pemilihan di AS dapat dijadikan cermin bagaimana sebenarnya perilaku batin rakyat AS kebanyakan. Seorang pengusaha AS dalam bidang IT, Timothy Francis, yang diwawancarai tvOne secara langsung dari AS, menyatakan bahwa kekalahan Hillary Clinton salah satunya disebabkan oleh “tidak siapnya rakyat AS menerima perempuan sebagai pemimpin atau presiden”. Rakyat AS ternyata seperti itu, masih mempersoalkan jenis kelamin dalam hal kepemimpinan.

            Saya hanya ingin tertawa terbahak-bahak. Bukan menertawakan AS, melainkan menertawakan orang-orang sok tahu dan sok pintar di Indonesia. Banyak aktivis kesetaraan gender di Indonesia sangat sering merendahkan pandangan, nilai, dan norma bangsanya sendiri, Indonesia, sebagai masih terbelakang karena mendahulukan pria untuk menjadi pemimpin serta meminggirkan kaum perempuan dalam soal politik dan hubungan sosial. Banyak aktivis dan politisi sejenis ini yang sering sekali membanding-bandingkan antara Indonesia dengan Amerika Serikat mengenai kesetaraan gender. Mereka dengan sangat yakin bahwa Amerika Serikat lebih maju karena tidak menghalangi perempuan untuk menjadi pemimpin. Kata mereka rakyat AS sudah berpikiran sangat terbuka karena tidak mempermasalahkan antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi pemimpin. Mereka sangat yakin bahwa AS lebih beradab dibandingkan Indonesia.

            Dasar sok tahu orang-orang ini!

            Dasar Penipu!

            Mereka berbicara sok cerdas dengan mengharapkan Indonesia menjadi seperti AS dengan memberikan kesempatan yang luas bagi kaum perempuan.

            Dasar banyak omong tanpa ilmu kalian!

            Sampai sekarang saja Amerika Serikat menurut Timothy Francis masih enggan untuk memiliki presiden berjenis kelamin perempuan sehingga Donald Trump menjadi Presiden AS ke-45. Jadi, para aktivis dan politisi yang sok tahu dan penipu itu sudah terpenjara pikirannya dengan selalu menganggap bahwa apa pun tentang AS pasti bagus dan apa pun tentang Indonesia pasti buruk dan terbelakang. Lalu, pengetahuan mereka yang terbatas itu digunakan untuk merendahkan Indonesia dan Islam dengan membuat ilustrasi bahwa Islam dan Indonesia menghalangi perempuan untuk maju.

            Bodoh orang-orang ini!

            Mereka pantas ditertawakan … hahahahahaha …!

            Soal gender ini justru Indonesia lebih bagus. Indonesia pernah punya presiden perempuan, yaitu Megawati Soekarnoputeri. Bahkan, sesungguhnya sejak zaman dulu pun Indonesia sudah memberikan kesempatan yang teramat luar biasa bagi perempuan untuk aktif dalam berbagai bidang kehidupan asal para perempuannya bisa aktif di luar rumah. Tak ada yang menghalangi perempuan Indonesia untuk berkiprah dalam kehidupan. Jauh sebelum orang-orang kulit putih itu teriak-teriak soal kesetaraan gender, Indonesia sudah memiliki banyak pemimpin perempuan.

            Saya ingatkan lagi soal ini.

            Soekarno mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan Indonesia itu ibarat dua sayap burung Garuda. Burung Garuda bisa terbang sangat tinggi jika kedua sayapnya kuat dan sehat. Jika salah satu sayapnya sakit, Garuda pun tidak bisa terbang tinggi.

            Hal itu menunjukkan bahwa Soekarno sangat mendukung para perempuan dalam memajukan bangsa dan negara bersama kaum laki-laki. Bahkan, dalam hal pendidikan, jika dalam sebuah keluarga mengalami kesulitan ekonomi untuk menyekolahkan anaknya, anak yang harus lebih dulu mendapatkan pendidikan adalah anak perempuan, bukan anak laki-laki. Biarkan anak laki-laki belakangan. Dahulukan anak perempuan. Soekarno menjelaskan bahwa anak perempuan harus lebih dahulu mendapatkan pendidikan karena akan menjadi ibu dan harus mendidik putera-puterinya untuk masa depan. Di samping itu, Soekarno menjelaskan bahwa kaum pria hanya bekerja sepanjang siang, sedangkan perempuan bekerja siang dan malam.

            Apa lagi yang diragukan mengenai penghormatan Indonesia kepada kaum perempuannya?

            Jangan sedikit-sedikit mencontohkan luar negeri. Sedikit-sedikit Amerika Serikat. Sedikit-sedikit Eropa. Sebetulnya, bangsa Indonesia ini sudah membebaskan perempuan untuk bergerak dan berprestasi dari dulu. Asal perempuannya mau dan bisa, tidak ada yang akan menghalangi. Akan tetapi, kalau tidak mau dan tidak bisa, jangan teriak-teriak pengen bebas dan memiliki hak sama.

            Memangnya mau melakukan apa teriak-teriak tentang kebebasan?

            Pengen bebas keluyuran?

            Pengen bebas berbuat maksiat?

            Tidak perlu teriak-teriak soal kesamaan hak. Perempuan Indonesia itu dari dulu sudah bebas kok asal mau dan bisa.

            Nggak percaya?

            Perhatikan para perempuan yang bebas bergerak tanpa harus teriak tentang persamaan hak dan Ham dari luar negeri itu!

            Subanglarang, Permaisuri Raja Sunda Pajajaran. Ia hidup antara abad 16-17 Masehi. Subanglarang adalah ratu yang melahirkan Raden Kian Santang, Pangeran Sunda yang menyebarkan Islam di tanah Pasundan. Subanglarang mendirikan pesantren besar dan mendapat cinderamata dari Laksamana Cina Cheng Ho berupa mercusuar.

            Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan serta mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Ia pun melarang rakyat untuk memiliki emas. Ia sadar emas bisa membuat rakyatnya jahat dan gemar bertengkar.  Ia pernah menghukum anaknya sendiri karena kaki anaknya tidak sengaja menyentuh karung emas.

            Dyah Pitaloka Citraresmi, hidup antara 1340-1357 Masehi. Ia  adalah Puteri Kerajaan Sunda. Ia adalah perempuan tercantik di seluruh kerajaan kepulauan Nusantara. Banyak raja yang ingin memperistri Dyah Pitaloka dan tak ada perempuan yang membuat Raja Majapahit Hayam Wuruk jatuh cinta, kecuali Dyah Pitaloka Citraresmi.

            Ia perempuan yang sangat berani. Ia tetap melakukan perlawanan meskipun seluruh prajurit dan keluarganya telah gugur dalam Perang Bubat. Ia sendirian bertahan melawan 5.000 pasukan musuh. Dyah Pitaloka Citraresmi tetap mempertahankan harga diri Kerajaan Sunda dari penghinaan musuh-musuhnya. Sampai hari ini ada ribuan gadis Sunda yang menggunakan nama Dyah Pitaloka.

            Cut Nyak Dhien, pemimpin besar Perang Kerajaan Islam Aceh yang hidup antara  1848–1908. Sepanjang hidupnya bertempur melawan penjajahan Belanda. Dia tidak pernah kalah perang. Teriakan Allahu Akbar adalah senjatanya.

            Akan tetapi, ketika sudah tua, ia sakit. Seorang pasukannya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Ia ingin Belanda mengobati Cut Nyak Dhien. Belanda setuju. Akan tetapi, Cut Nyak Dhien marah.

            Meskipun dirawat di rumah sakit, ia tetap berhubungan dengan pasukan Aceh untuk terus bertempur.  Akhirnya, Belanda memindahkan Cut Nyak Dhien ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal di sana.

            Gambar Cut Nyak Dhien menjadi gambar salah satu pecahan mata uang kertas Indonesia.

            Cut Nyak Meutia. pejuang perang Aceh yang hidup pada 1870-1910. Ia bersama suaminya yang bernama Teuku Muhammad melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

            Raden Dewi Sartika adalah pahlawan pendidikan yang lahir di Bandung. Ia hidup antara 1884–1947. Ia adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika adalah orang pertama yang membuka sekolah untuk perempuan, “Sakola Istri”.

            Raden Adjeng Kartini, puteri bangsawan Jawa. Ia hidup  antara 1879-1904. Ia gemar membaca majalah-majalah Eropa. Ia kemudian berhubungan melalui surat menyurat dengan teman-temannya di Eropa. Setelah Kartini meninggal, surat-surat itu dikumpulkan kemudian menjadi buku, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

            Rangkayo Rasuna Said, perempuan pejuang antikolonial yang hebat. Ia hidup antara 1910 s.d. 1965. Tulisan-tulisannya yang sangat tajam menyerang pemerintah Kolonial Belanda. Akibatnya, ia sempat ditahan Belanda. Kemudian, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat. Setelah itu, ia kembali dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

            Maria Walanda Maramis  hidup pada 1872-1924. Ia lahir dalam keluarga pejuang antikolonialis. Kakaknya, Andries Maramis, adalah aktivis yang  memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian, ia pernah menjadi menteri dan duta besar Indonesia.

            Maria Walanda Maramis adalah perempuan yang sangat memperhatikan tugas dan tanggung jawab perempuan, baik di dalam rumah tangga sebagai ibu, sebagai istri, maupun sebagai pendidik. Ia kemudian mendirikan organisasi  Percintaan Ibu kepada Anak Temurunannya (Pikat). Tujuan organisasi ini adalah untuk mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar dalam hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

            Martha Christina Tiahahu, pemberani yang hidup antara 1800-1818. Pada usia 17 ia melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia selalu mendampingi ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu dalam menyerang Belanda. Ia selalu mengobarkan semangat perang prajuritnya dan mengajak para perempuan untuk ikut berperang. Akibatnya, Belanda kewalahan mendapat perlawanan dari para perempuan. Karena semangat dan keberaniannya, pemerintah Indonesia membuat patung Martha Christina Tiahahu.

            Siti Walidah Ahmad Dahlan hidup pada 1872-1946. Ia adalah Istri Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. Siti sangat memperhatikan kaum perempuan. Oleh sebab itu, ia mendirikan organisasi perempuan yang bernama Sopo Tresno  untuk mendidik kaum perempuan. Ia bersama suaminya mengganti nama Sopo Tresno menjadi Aisyiyah. Nama itu berasal dari nama isteri Nabi Muhammad saw, Aisyah ra. Dalam organisasi itu, ia mendirikan lembaga pendidikan bagi para perempuan. Para perempuan dididik agar mampu menjadi pendidik di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ia adalah perempuan pertama yang memimpin rapat besar organisasi besar Muhammadiyah di Indonesia.

            Nyi Ageng Serang terlahir dengan nama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Nyi Ageng Serang merupakan puteri dari Pangeran Natapraja, seorang penguasa daerah Serang, Jawa Tengah yang juga merupakan Panglima Perang Sultan Hamengkeu Buwono I. Nyi Ageng juga merupakan salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga penyebar Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia.

            Ketika menjadi penguasa Serang, banyak rakyatnya kelaparan dan mengalami kesengsaraan akibat ulah dari penjajah Belanda. Ia selalu membantu kesengsaraan rakyatnya dengan membagi-bagikan pangan. Selain itu, ia juga melakukan perlawanan fisik untuk mengusir pasukan Belanda dari tanah kelahirannya itu.

            Ia pun ikut dalam Perang Diponegoro pada 1825. Atas jasa dan keberaniannya, pemerintah Indonesia membuat monumen Nyi Ageng Serang.

            Opu Daeng Risadju, anggota keluarga bangsawan Luwu.  Ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, pada 1880. Dalam sepanjang hidupnya ia dididik ajaran dan nilai-nilai moral baik yang berlandaskan budaya maupun agama Islam.

            Opu Daeng Risaju melakukan perlawanan terhadap kejahatan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang berkeinginan untuk menjajah kembali Indonesia. NICA memutuskan untuk mengobrak-abrik masjid bahkan menginjak Al-Quran. Opu Daeng Risaju pun segera membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.

            Indonesia sejak dulu sudah sangat menghormati perempuan. Bahkan, semakin tua perempuan, semakin besar kekuasaannya di Indonesia ini. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan peneliti Belanda (saya lupa lagi namanya) disebutkan bahwa hidup kaum perempuan Indonesia masa lalu terbagi dalam tiga fase penting, yaitu masa kanak-kanak yang penuh keriangan dan kesenangan, masa kepatuhan kepada suami, dan masa penuh kekuasaan ketika menjadi seorang nenek. Ketiga masa itu adalah sangat bagus dan penuh kehormatan dibandingkan masa sekarang yang terlalu bangga dengan perilaku-perilaku impor dari negara lain. Masa sekarang ini malah cenderung mengkhawatirkan karena perempuan Indonesa bisa terjerumus ke dalam empat fase kehidupan penting yang negatif, yaitu: masa kanak-kanak yang penuh kebingungan karena kurang pengawasan, masa remaja yang penuh kegalauan tanpa bimbingan, masa pernikahan yang rentan perceraian akibat perselingkuhan, dan masa pembuangan ke panti jompo setelah menjadi nenek.

            Mana yang lebih baik, masa lalu yang diikat oleh keluhuran norma dan budaya asli Indonesia atau masa sekarang yang bangga dengan perilaku impor bangsa asing?

            Orang waras yang punya otak cerdas dan jernih pasti bisa menjawabnya dengan mudah.

            Dengan demikian, jangan suka sok tahu dengan mengatakan bahwa orang-orang Barat peradaban nilai dan normanya lebih hebat dibandingkan Indonesia. Sementara itu, Indonesia masih terbelakang karena tidak menghargai perempuan. Padahal, Hillary Clinton tidak bisa menjadi presiden AS salah satunya disebabkan dia perempuan. Ini terjadi pada abad modern.

            Paham, ya?


            Masa tidak paham.