Saturday, 14 February 2026

PBB Lemot Disalip BoP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik di tanah Palestina sudah terjadi puluhan tahun dan menimbulkan kerusakan harta dan nyawa yang sangat besar. Selama puluhan tahun juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya menanganinya. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat masalah itu tidak pernah selesai. Itulah yang saya bilang PBB itu mesinnya lemot, tenaganya hanya 16% atau maksimal hanya 24%.

            Dalam kelemotan PBB, muncul “Board of Peace” (BoP) atau yang kita kenal dengan “Dewan Perdamaian”. BoP adalah mesin baru yang punya tenaga dorong 60%.

            BoP sebetulnya amanat PBB, tetapi kemudian berubah menjadi lembaga yang mulai terpisah dari PBB serta punya keinginan dan cara sendiri dalam menyelesaikan masalah antara Israel dan Palestina. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tidak sabar dengan konflik di Palestina, lalu mendapat kekuatan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang siap mengirimkan prajurit TNI sejumlah 20 ribu atau bahkan lebih untuk menjaga perdamaian di Gaza, Palestina. Ibarat “kata  berjawab, gayung pun bersambut”, terciptalah BoP yang mengguncangkan dunia akhir-akhir ini.


Prabowo Subianto dan Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Anehnya, Trump menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dengan PBB yang di dalamnya ada “hak veto”. Hak veto adalah hak untuk melarang keputusan, resolusi, peraturan, atau kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat di PBB. Hak itulah yang membuat persoalan di Palestina sulit selesai. Oleh sebab itu, dia merancang sendiri dan menggerakkan sendiri dunia untuk segera menyelesaikan masalah Gaza.

            Aneh memang karena selama ini yang kita kenal sering mengobral hak veto adalah Amerika Serikat. Kita yang justru sering kesal dan marah karena AS kerap menggunakan hak veto yang merugikan bangsa-bangsa di dunia, terutama untuk di wilayah Timur Tengah dan tentu saja merugikan Palestina.

            Jadi, sebetulnya siapa yang menggunakan hak veto sehingga merugikan kesepakatan dunia itu?

            Cukup membingungkan.

            Sudahlah, yang jelas saat ini AS di bawah Trump bergerak sendiri seolah-olah meninggalkan PBB dengan dukungan Indonesia di bawah Prabowo untuk menyesaikan konflik di Palestina. Hal ini justru diberitakan pertama kali oleh media-media Israel bahwa Indonesia menjadi negara yang pertama di dunia mengirimkan pasukannya di Gaza untuk menjaga perdamaian. Bahkan, Israel sendiri telah mulai memberikan tempat dan menyediakan wilayah untuk TNI di selatan jalur Gaza, antara Rafah dan Khan Younis.

            Kalaulah PBB mulai merasa ditinggalkan dalam urusan Palestina ini, seharusnya bergerak lebih cepat lagi. Jangan terlalu banyak seminar, rapat, atau diskusi yang dianggap Trump terlalu lambat. Sebaiknya PBB mengambil langkah yang mengarah pada langkah nyata untuk kembali menyalip BoP. Sementara itu, Indonesia akan lebih lebih senang jika pasukannya berada di bawah mandat PBB dibandingkan BoP. Prabowo dengan tegas akan mengirimkan “putera-puteri terbaik Indonesia” ke jalur Gaza, Palestina.

            Foto Prabowo dan Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment