oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Konflik di tanah Palestina
sudah terjadi puluhan tahun dan menimbulkan kerusakan harta dan nyawa yang
sangat besar. Selama puluhan tahun juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
berupaya menanganinya. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat masalah itu tidak
pernah selesai. Itulah yang saya bilang PBB itu mesinnya lemot, tenaganya hanya
16% atau maksimal hanya 24%.
Dalam kelemotan PBB, muncul “Board of Peace” (BoP) atau yang kita kenal dengan “Dewan Perdamaian”.
BoP adalah mesin baru yang punya tenaga dorong 60%.
BoP sebetulnya amanat PBB, tetapi kemudian berubah
menjadi lembaga yang mulai terpisah dari PBB serta punya keinginan dan cara sendiri
dalam menyelesaikan masalah antara Israel dan Palestina. Presiden Amerika
Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tidak sabar dengan konflik di Palestina,
lalu mendapat kekuatan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang siap mengirimkan
prajurit TNI sejumlah 20 ribu atau bahkan lebih untuk menjaga perdamaian di
Gaza, Palestina. Ibarat “kata berjawab, gayung pun bersambut”, terciptalah
BoP yang mengguncangkan dunia akhir-akhir ini.
| Prabowo Subianto dan Donald Trump (Foto: ANTARA News) |
Anehnya, Trump menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dengan
PBB yang di dalamnya ada “hak veto”. Hak veto adalah hak untuk melarang
keputusan, resolusi, peraturan, atau kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat
di PBB. Hak itulah yang membuat persoalan di Palestina sulit selesai. Oleh
sebab itu, dia merancang sendiri dan menggerakkan sendiri dunia untuk segera
menyelesaikan masalah Gaza.
Aneh memang karena selama ini yang kita kenal sering
mengobral hak veto adalah Amerika Serikat. Kita yang justru sering kesal dan
marah karena AS kerap menggunakan hak veto yang merugikan bangsa-bangsa di dunia,
terutama untuk di wilayah Timur Tengah dan tentu saja merugikan Palestina.
Jadi, sebetulnya siapa yang menggunakan hak veto sehingga
merugikan kesepakatan dunia itu?
Cukup membingungkan.
Sudahlah, yang jelas saat ini AS di bawah Trump bergerak
sendiri seolah-olah meninggalkan PBB dengan dukungan Indonesia di bawah Prabowo
untuk menyesaikan konflik di Palestina. Hal ini justru diberitakan pertama kali
oleh media-media Israel bahwa Indonesia menjadi negara yang pertama di dunia
mengirimkan pasukannya di Gaza untuk menjaga perdamaian. Bahkan, Israel sendiri
telah mulai memberikan tempat dan menyediakan wilayah untuk TNI di selatan
jalur Gaza, antara Rafah dan Khan Younis.
Kalaulah PBB mulai merasa ditinggalkan dalam urusan
Palestina ini, seharusnya bergerak lebih cepat lagi. Jangan terlalu banyak
seminar, rapat, atau diskusi yang dianggap Trump terlalu lambat. Sebaiknya PBB
mengambil langkah yang mengarah pada langkah nyata untuk kembali menyalip BoP.
Sementara itu, Indonesia akan lebih lebih senang jika pasukannya berada di
bawah mandat PBB dibandingkan BoP. Prabowo dengan tegas akan mengirimkan “putera-puteri
terbaik Indonesia” ke jalur Gaza, Palestina.
Foto Prabowo dan Trump saya dapatkan dari ANTARA News.
Sampurasun.
No comments:
Post a Comment