Tuesday, 10 February 2026

Indonesia Lebih Sabar Dibandingkan Iran

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) bisa dikatakan dimulai sejak 1901. Saat itu mereka masih lumayan baik-baik saja hingga terjadi hubungan bisnis yang menyebabkan situasi perlahan menjadi aneh. Raja Iran Mozaffar Ad Din Shah memberikan hak kepada William Knox D’Arcy dari Inggris untuk mengeksplorasi minyak, gas alam, aspal, dll. selama  enam puluh tahun. Sebagai kompensasi untuk Iran, William memberikan uang tunai sejumlah 20.000 poundsterling, saham sebesar 20.000 poundsterling, dan 16% keuntungan setiap tahun. Lalu, perusahaan ini berkembang pesat menjadi “British Petroleum” yang kemudian dibeli oleh pemerintah Inggris.

            Dalam perjalanannya perusahaan ini dirasakan warga Iran banyak masalah, tidak adil, merendahkan, menghina, dan melecehkan warga Iran. Terasa seperti penjajahan yang mengambil untung di tanah Iran, tetapi orang Iran sendiri kesusahan.

            Pada 1951 muncul seorang anggota DPR Iran yang menentang perusahaan minyak Inggris itu karena menganggap tidak adil. Namanya Mohammad Mosadegh. Menurutnya, keuntungan yang diberikan kepada Iran itu sangat kecil, hanya 16%. Keuntungan yang diterima Iran selama lima puluh tahun masih jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan yang diambil Inggris hanya dalam satu tahun.


Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh (Foto: Short History)


            Mosadegh kemudian menasionalisasi perusahaan Inggris itu dalam arti merebutnya dari Inggris dan menjadi milik Iran. Mosadegh pun kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang sangat dicintai rakyat.

            Tentu saja Inggris marah besar karena berpendapat bahwa perusahaan itu masih berada dalam hak Inggris berdasarkan perjanjian lama. Dalam kesepakatan lama antara William dan Mozzafar, Inggris boleh mengeksplorasi kekayaan Iran selama enam puluh  tahun. Akan tetapi, belum juga genap enam puluh tahun atau hanya baru lima puluh tahun, Iran tiba-tiba mengambilnya dari Inggris. Masih ada sepuluh tahun lagi hak Inggris berada di sana. Itulah awal sengketa antara Iran dengan barat yang kemudian mengikutsertakan CIA Amerika Serikat. Sejak saat itu, Iran mengalami berbagai sanksi, embargo, dan permusuhan dengan pihak barat hingga hari ini dengan menggunakan kekuatan senjata dan banyak pembunuhan.

            Tampaknya Iran tidak bersabar untuk menunggu sepuluh tahun lagi hingga masa kontrak perjanjian dengan Inggris selesai. Iran sudah merasakan penderitaan yang luar biasa, lalu meluapkan kemarahannya dengan merebut British Petroleum dari Inggris.

            Berbeda dengan Indonesia. Sesungguhnya, Indonesia memiliki masalah mirip Iran, yaitu bermasalah dengan PT Freeport milik Amerika Serikat (AS).

            Pada 1936 Jacques Dozy menemukan cadangan “Ertsberg”.  Kemudian, pada 1966 pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden RI Soeharto membuka pintu agar PT Freeport Indonesia (PTFI) dapat menambang tembaga yang kemudian menjadi emas di Timika, Papua.

            Perjanjian ini bernama Kontrak Karya I yang berlaku hingga tiga puluh tahun. Dalam kontrak ini disepakati PTFI memiliki saham 90,64% dan Indonesia sebanyak 9,36%. Sejak perjanjian itu, penambangan pun dimulai. Dalam perjalanannya penambangan ini dirasa tidak adil, mirip perampokan kekayaan alam Indonesia.

            Puluhan tahun berlalu, dinamika politik dan ekonomi mewarnai penambangan ini. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa perjanjian diperpanjang tiga puluh  tahun lagi pada 1991, disebut dengan Kontrak Karya II. Dengan demikian, perjanjian menjadi enam puluh tahun jika dihitung sejak awal. Indonesia tetap mendapatkan keuntungan dari sahamnya yang kecil sejumlah 9,36%.

            Selama berlakunya perjanjian itu, Indonesia mengalami banyak goncangan. Isu ketidakadilan dan keserakahan Freeport dengan kolusi dan korupsi di kalangan pejabat Indonesia menjadi gunjingan setiap hari. Kasus ini pun menjadi salah satu penyebab jatuhnya Presiden RI Soeharto.

            Penderitaan dan kemarahan rakyat Indonesia karena adanya isu Freeport semakin menjadi-jadi. Kita bisa melihat dengan jelas ketidakadilan dan kemarahan itu. Rakyat Papua yang sesungguhnya pemilik tambang emas terbesar itu hidup dalam kesengsaraan, kesedihan, ketertinggalan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Seharusnya, para pemilik tanah emas itu kaya raya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

            Meskipun demikian, Indonesia tetap bersabar hingga perjanjian itu berakhir. Ketika kontrak karya selesai pada masa pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, dimulailah perjanjian baru yang membuat Indonesia lebih beruntung. Mulai 2017 Indonesia menegaskan untuk mengubah perjanjian hingga sahamnya menjadi 51%, sisanya Freeport AS.


Presiden Republik Indonesia Jokowi (Foto: Website Banggai Kepulauan)


            Keputusan Indonesia sangat tegas. Jika Freeport menolak, tambang emas di Papua akan diberikan pada perusahaan lain. Awalnya terjadi penolakan dan perlawanan dari PT Freeport hingga menjadi berita yang besar dan viral di AS. Akan tetapi, Indonesia berada pada jalan yang benar, yaitu kontrak karya berakhir dan tanah itu milik Papua, Indonesia. Akhirnya, mau tidak mau PT Freeport menerima keputusan Indonesia dan tetap menambang emas di Indonesia dengan perjanjian baru.

            Pada 2024 Presiden Jokowi memperpanjang kontrak hingga 2061 dengan syarat Indonesia menjadi pemilik saham terbesar dengan jumlah 61%. Di samping itu, perusahaan AS wajib membangun smelter di Indonesia agar emas bisa diolah di dalam negeri untuk membuka lapangan kerja dan menambah keuntungan bagi negara.

            Demikianlah perbedaan Indonesia dengan Iran. Indonesia menahan diri bersabar dalam keadaan penuh derita hingga perjanjian berakhir. Dengan demikian, Indonesia bisa merebut Freeport melalui jalur bisnis secara bertahap tanpa harus berperang. Adapun Iran karena sudah merasa sangat menderita, memilih merebut British Petroleum dengan jalan keras meskipun harus menanggung konsekwensi bertikai dan berperang dengan menggunakan senjata-senjata mematikan di samping mendapatkan sanksi ekonomi dari barat.

            Foto Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh saya dapatkan dari Short History dan Jokowi dari Website Banggai Kepulauan.

Sampurasun

No comments:

Post a Comment