Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, 1 April 2026

Prabowo Bakal Terkenal Sedunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Presiden Indonesia Prabowo memang sudah dikenal, tetapi kalau diibaratkan lampu, masih sebatas lampu petromak yang nyala dengan cara dipompa. Lampu itu bersinar kelap-kelip di antara lampu-lampu LED yang besar-besar, seperti, Donald Trump, Vladimir Putin, Xi Jin Ping, Charles, Emanuel Macron, Muhammad bin Salman Al Saud (MBS), dan Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ). Demikian pula Negara Indonesia, cahayanya masih mirip petromak. Bahkan, baru ada yang mengenalinya dan merasa kaget, kok ada negara seindah dan seramah Indonesia. Mulai dikenalnya Indonesia banyak disebabkan aktivitas para seniman, terutama musisi semisal Putri Ariani, VoB, Alfy Rev, Chakra Khan, Iwan Fals, Ahmad Dhani, dan Rhoma Irama.

            Presiden Prabowo akan lebih dikenal dunia jika melakukan hal yang mengagetkan, yaitu menarik pasukan TNI sebagai penjaga perdamaian di tempat-tempat yang ada Israel di dalamnya serta keluar dari “Board of Peace” (BoP). Dia akan lebih dipertimbangkan dunia jika mampu menjelaskan alasan-alasan logis penarikan pasukannya.

            Sekarang ini situasi dunia sudah sangat buruk sehingga harus melindungi diri masing-masing. Keinginan kita untuk menciptakan perdamaian semakin sulit karena negara-negara yang harus didamaikan tidak memiliki kehendak untuk berdamai, terutama Israel.

            Beberapa tahun belakangan Israel masih menghormati Indonesia yang ditandai dengan keinginan untuk berhubungan yang selalu ditolak Indonesia. Akan tetapi, saat ini bukan saja tidak menghormati, melainkan sudah menjadikan pasukan TNI yang menjaga perdamaian menjadi sasaran tembak. Meskipun belum ada investigasi resmi dari PBB, kita bisa memastikan bahwa Israel memang sengaja menembak pasukan Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari pernyataan Israel sendiri bahwa pasukan Indonesia terkena serpihan Rudal Israel di Libanon karena tidak berada pada tempat yang aman. Itu artinya mereka tahu pasukan TNI, tetapi tetap menembak. Sementara itu, TNI tidak diperbolehkan membalas, bahkan terlarang untuk meletuskan senjata. Kita sudah lama memang menyaksikan Israel tidak lagi menghormati hukum-hukum internasional karena merasa punya kekuatan didukung Amerika Serikat (AS).


Pasukan TNI Penjaga Perdamaian yang gugur di tangan Israel (Foto: suaraislam.id)


            Kita tidak bisa mengatakan bahwa TNI yang mati kan hanya 4 orang, 1 di Kongo dan 3 di Libanon, sementara pasukan Indonesia yang menjaga perdamaian di seluruh dunia ada lebih dari 2.000 orang, itu hanya sedikit. Salah besar berpendapat seperti itu. Satu orang saja yang terluka atau mati, baik TNI atau bukan, itu harus dilindungi dan kewajiban negara untuk melakukannya, begitu aturannya dalam berinteraksi secara internasional.

            Indonesia sudah punya cukup alasan untuk menarik tentaranya dari dunia dan berkonsentrasi di dalam negeri, termasuk keluar dari BoP. Hal itu disebabkan Israel sudah sangat membahayakan dan Amerika Serikat tidak bisa diharapkan untuk menciptakan perdamaian, malah merusakkan kedamaian yang sedang menuju stabil.

            Prabowo tak perlu takut jika Donald Trump mengancam Indonesia dengan soal tarif karena menarik pasukan TNI dari dunia. Donald Trump itu hanya dewa mabuk yang tidak bisa dipegang omongannya, sekarang dan lima menit kemudian bisa tiba-tiba berubah.

            Jika berani, Prabowo akan lebih dikenal dunia. Orang yang beberapa waktu lalu sangat ramah, tegas, dan cerdas dipuji Donald Trump, tetapi mengundurkan diri dari BoP serta menarik pasukannya sebagai bentuk protes kepada PBB yang sudah harus dirombak itu. Indonesia layak protes, itu sikap yang lembut dibandingkan Presiden Pertama Indonesia Soekarno yang menyatakan keluar dari PBB. Prabowo akan menjadi sorotan dunia jika melakukan itu dan meningkat dari sekedar petromak menjadi LED yang besar mulai sejajar dengan pemimpin dunia lainnya saat ini.

            Foto prajurit TNI yang gugur dalam tugas negara sebagai penjaga perdamaian saya dapatkan dari suaraislam id.

            Prabowo cerdas dan gemoy pertanda sering minum susu. Tinggal keberaniannya untuk menarik TNI dari wilayah konflik sebagai bentuk protes pada dunia yang tampak gagal menyelesaikan konflik di antara manusia.

            Sampurasun.

Tuesday, 24 March 2026

Israel Takut pada Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel. Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald Trump berkuasa untuk yang kedua kali.

            Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.

            Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.


Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co)


            Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel Aviv saya dapatkan dari Tagar co.

            Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep dan semangat “two state solution”, solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan menyesatkan masyarakat Indonesia.

            Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah pasukan Indonesia bertugas di Gaza.

            Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel. Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.

            Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak ingin berkelahi dengannya.”

            Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.

            Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.

            Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif. Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir. Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.

            Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa cinta?

            Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?

            Itulah yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh. Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.

            Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.

            Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel. Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI, negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.

            Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi diri dari situasi yang sudah sangat kusut.

            Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.

            Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun.

            Sampurasun.

Tuesday, 17 March 2026

Penyebar Hoaks Makin Murahan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hoaks itu berbeda jauh dengan kritikan. Kritik itu menunjukkan hal yang dianggap salah dengan harapan ada perbaikan sehingga kesalahan itu tidak lagi terulang dan terjadi peningkatan kualitas positif. Adapun hoaks adalah berita bohong, dusta, penyesatan, fitnah dengan maksud memengaruhi orang agar terjerumus dalam tipuan, tujuannya adalah mendapatkan uang dari kebohongan itu.


(Foto: Kementerian Komunikasi dan Digital)


            Saya mengenal ada profesi hoaks itu ketika kepemimpinan Jokowi sebagai presiden RI periode pertama. Saat itu masih jarang di Indonesia orang yang  mahir dan berani menulis hal-hal yang memengaruhi massa dalam jumlah banyak dengan dasar kebohongan, rasa marah, sakit hati, dan fitnah. Mereka yang tergolong orang-orang sakit hati karena kekalahan dalam politik merasa terwakili dengan tulisan-tulisan dusta itu. Mereka merasa ada yang membela dan sedikit terobati. Orang-orang yang gemar menulis hoaks itu mulai mendapatkan tawaran dari para pengusaha atau politisi yang merasa dirugikan oleh situasi politik saat itu. Orang-orang kaya dan berkepentingan dalam ekonomi dan politik membayar mereka dengan bayaran yang sangat mahal, sekitar Rp20 juta untuk satu naskah. Kalau tidak salah, ini pernah terungkap dalam Mata Najwa dengan salah seorang jenderal polisi yang menjadi narasumbernya.

            Bayangkan, Rp20 juta per naskah itu sangat besar. Sempat tergoda juga untuk ikutan mendapatkan uang itu. Akan tetapi, itu salah karena sangatlah tidak terhormat membawa uang untuk keluarga yang berasal dari kegiatan terlarang. Sesulit apa pun hidup, tidak perlu melakukan hal yang salah. Kalaupun mau, tetapi Allah swt tidak menyukainya, kita akan terhalang untuk mendapatkan uang itu sehingga kita selamat.

            Seiring berjalannya waktu, bayaran itu mulai berkurang bukan lagi Rp20 juta per naskah, melainkan per hari. Kemudian, semakin turun bayarannya menjadi setiap minggu. Terus turun menjadi Rp20 juta per bulan.

            Penurunan itu terus terjadi secara drastis. Hal ini dapat dilihat ketika ada kasus “Saracen”. Polisi menangkapi orang-orang yang menyebarkan berita bohong untuk memprovokasi masyarakat dengan menggunakan agama sehingga terjadi huru-hara. Dari orang-orang yang ditangkap itu, polisi mendapatkan pengakuan bahwa mereka dibayar Rp2,5 juta per bulan untuk membuat berita bohong. Semakin ke sini ternyata bayaran untuk para pembohong itu semakin murah.

            Sekarang, tampaknya semakin murah dan harus berlomba untuk dipercaya sebagai pendusta bayaran. Artinya, para pembohong itu tidak akan dibayar jika kebohongannya tidak berpengaruh kepada masyarakat dan tidak menguntungkan para pembayar hoaks. Hal ini berdasarkan penjelasan Hasan Nasbi, mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau “Presidential Communication Office” (PCO). Menurutnya, banyak vendor hoaks di Indonesia yang menggugat Perdana Menteri (PM) Israel, Netanyahu, karena belum dibayar sejak 2023. Alasan Israel belum atau tidak membayar para pembuat dan penyebar hoaks itu karena produksi hoaks yang dihasilkan tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan Israel. Hoaks-hoaks yang beredar itu dinilai tidak dapat memengaruhi masyarakat Indonesia sebagaimana yang diinginkan Israel.

            Hal itu berarti semakin banyak pihak yang memproduksi hoaks dan berlomba-lomba agar dipercaya Israel untuk mendapatkan bayaran. Itu berarti pula para pendusta ini terjebak dalam permainan Israel. Mereka tidak akan pernah dibayar Israel jika tidak memuaskan Israel. Kalaupun dibayar, pasti sedikit karena kualitasnya melemah. Mereka sudah memproduksi hoaks, sudah menghabiskan waktu dan energi, sudah mendapatkan banyak dosa, tetapi uangnya belum tentu dapat, malah bisa masuk penjara. Rugi banget.

            Memang pasar hoaks di Indonesia ini cukup besar karena masyarakatnya kurang teliti dan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Bahkan, bangga sudah mendapatkan informasi hoaks sehingga disebarkan lagi ke orang-orang lain. Oleh sebab itu, mulai 2026 ini saya ajarin murid-murid saya bagaimana cara menilai sebuah informasi itu hoaks atau bukan. Caranya, menggunakan etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Sayangnya, saya tidak bisa mengajarkan hal ini lewat tulisan karena harus praktik kayak ngaji, “kudu diwurukan”.

            Semoga kita semua berhati-hati karena situasi saat ini memang zamannya orang tidak mempedulikan kebenaran, tetapi mempedulikan perasaannya sendiri. Oleh sebab itulah, sorga itu mahal, hanya orang-orang yang berhati-hati dan terpilih yang akan memasukinya.

            Ilustrasi hoaks saya dapatkan dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

            Sampurasun.

Thursday, 12 March 2026

Amerika Serikat Korban Hoaks

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Terkait dengan perang AS-Israel Vs Iran, tampak sekali Amerika Serikat telah menjadi korban hoaks. Entah hoaks itu diciptakan presidennya sendiri, Donald Trump, atau mendapatkan banyak masukan yang tidak berdasar di lingkarannya. Bisa juga karena mendapatkan desakan dari Israel melalui Perdana Menteri (PM) Netanyahu untuk segera menyerang karena Iran adalah ancaman bagi Israel.

            Dunia sedikit terkejut dengan perang ini yang sesungguhnya dimulai oleh Israel yang kemudian diikuti Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, sesungguhnya hanya terjadi keributan kecil soal perjanjian nuklir yang telah bertahun-tahun itu. Biasa saja, soal kesepakatan. Di samping itu, ada peristiwa unik dengan munculnya “Board of Peace” (BoP) atau Dewan Perdamaian yang pasukan Indonesia menjadi pemain kunci di jalur Gaza, Palestina. BoP ini menjadi semacam kebanggaan bagi Trump jika berhasil mengamankan jalur Gaza dan membangunnya menjadi kawasan modern yang menyenangkan bagi rakyat Gaza di bawah perlindungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika dunia, khususnya Indonesia sedang asyik-asyiknya memberikan saran dan masukan bagi Prabowo jika menjadi pemain inti perdamaian di Palestina, tiba-tiba terjadi perang yang sangat dahsyat hingga saat ini.

            Akibat dari perang ini, rencana BoP menjadi tertahan. Indonesia harus berpikir ulang bolak-balik untuk rencana perdamaian versi BoP ini. Memang sulit jadi Prabowo dalam pergaulan dunia dewasa ini. Jika berada dalam BoP, banyak keuntungan ekonomi yang didapat Indonesia, tetapi akan sibuk mengatasi gejolak politik di dalam negeri. Jika ke luar BoP, gejolak politik dalam negeri bisa diredam, tetapi akan mendapatkan serangan dari negara anggota BoP lainnya yang berpotensi mengancam ekonomi Indonesia. Intinya, Prabowo harus memikirkan yang terbaik bagi negara sendiri terlebih dahulu karena itu adalah hal yang paling utama.

            Soal AS menjadi korban Hoaks, mudah sekali dilihatnya. Diisukan Iran punya senjata nuklir, padahal tidak. Digosipkan rakyat Iran sudah membenci para mullah, padahal tidak. Dikabarkan kalau pemimpinnya tewas bakal ganti rezim, padahal tidak. Disebutkan Iran negaranya hampir bangkrut, padahal tidak. Disebutkan teknologi senjatanya rendah dan terbatas, padahal tidak. Diyakini perang bakal berhenti dalam empat hari, padahal bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

            Itu adalah hoaks-hoaks yang telah menjerat AS hingga sulit keluar dari perang melawan Iran. Sebetulnya, rakyat AS sendiri tidak mau perang. Dari survey, hanya 27% rakyat AS yang setuju perang, sejumlah 73% tidak setuju dan tidak tahu. Dari dukungan politik rakyat saja sudah rendah, belum lagi soal keuangan yang menguras keuangan AS sejumlah 15 T per hari. Hal itu diperparah dengan kematian ratusan prajurit AS yang tidak mengerti kenapa mereka harus perang dengan Iran. Donald Trump menyatakan bahwa tentaranya sedang membela negeri AS, tetapi rakyatnya merasakan bahwa anak-anak muda mereka mati adalah untuk kepentingan Israel. AS memang sedang menangguk kerugian yang sangat banyak.


Tentara AS yang dikirimkan untuk perang (Foto: Suara.com)


            Ilustrasi tantara AS yang tampak bingung berbaris untuk perang saya dapatkan dari Suara com.

            Meskipun demikian, dapat kita pahami bahwa hoaks itu dapat menjerat manusia jika di dalam dirinya ada rasa iri, kebencian, ketakutan, arogan, dan kebodohan sehingga melakukan tindakan-tindakan idiot yang merugikan dirinya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari apa yang terjadi pada AS dan para pemimpinnya yang saat ini panik, kalang kabut, sok tenang, tetapi bingung karena jalan keluar dari perang semakin sulit. Iran sudah tidak mau lagi diajak diskusi. Iran hanya mau perang dan menentukan sendiri kapan harus berakhir.

            Begitulah hoaks bisa menjerat manusia ke dalam kebingungan dan kebodohan yang mempermalukan diri. Di Indonesia sendiri sudah bisa dilihat bahwa para pejuang hoaks itu berguguran dan menghilang satu per satu secara lucu meskipun membuat hoaks baru karena sakit hati hoaks yang lama sudah tak lagi laku.

            Sampurasun.

Friday, 27 February 2026

Israel Ternyata Lemah

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ternyata penakut. Dia tidak hadir pada rapat perdana “Board of Peace” (BoP) untuk bertemu Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Normalnya, pada rapat lobi-lobi BoP Netanyahu dan Prabowo berdebat untuk menyelesaikan masalah gencatan senjata di Gaza, Palestina. Akan tetapi, Netanyahu tidak datang, titip pesan ke menterinya, penakut memang.

            Lebih dari itu, ternyata Israel adalah negara lemah. Hal ini bisa diperhatikan dalam pidato Netanyahu sendiri di depan para pendukungnya. Dia menjelaskan bahwa Hamas harus dilucuti senjatanya. Dia tidak ingin ada senjata berat di tangan Hamas yang berkeliaran di Gaza. Selanjutnya, dia sendiri menjelaskan bahwa senjata AK 47 adalah senjata berat. Dia tidak ingin ada AK 47 di Gaza.

            Cukup mengagetkan kalau AK 47 dikategorikan senjata berat karena itu termasuk senjata ringan. AK 47 adalah senapan serbu yang dibuat Mikhael Kalashnikov warga Unisoviet. Itu adalah senapan yang awalnya dibuat tahun 1947, senapan lama yang beken ketika perang di Afghanistan.


AK 47 (Foto: Skillset Magazine)


            Pernyataan Netanyahu tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, Israel itu ternyata lemah sehingga sangat takut dengan AK 47, padahal mereka punya Tank Merkava, Rudal, roket, patriot, bom, dan senjata berat lainnya. Adapun Hamas, hanya dengan bermodalkan AK 47, ternyata membuat Israel kewalahan puluhan tahun.

            Kedua, sekarang semakin jelas bahwa Israel adalah pihak yang membuat banyak sekali kerusakan di Gaza. Bangunan-bangunan hancur, sekolah menjadi puing-puing, pasar berantakan, fasilitas kesehatan rusak berat, orang-orang mati adalah akibat senjata berat Israel. Di seputar Rumah Sakit Indonesia yang berada di Gaza, sudah tidak ada lagi bangunan utuh yang berdiri, rata berantakan. Tinggal RS Indonesia yang masih berdiri meski dalam kondisi rusak.


Bangunan di Gaza hancur akibat senjata Israel (Foto: detikNews-detikcom)


Tidak mungkin AK 47 Hamas dapat meruntuhkan bangunan sepuluh lantai atau rumah rakyat biasa. Kehancuran rumah dan gedung adalah akibat dari senjata-senjata berat Israel. Jadi yang membuat teror dan kerusakan di sana-sini adalah senjata milik Israel, bukan Hamas.

Kurang jelas apalagi dengan kenyataan seperti itu?

Kerusakannya adalah ditimbulkan Israel berdasarkan isi pidato PM Netanyahu sendiri, bukan Hamas.

Foto AK 47 saya dapatkan dari Skillset Magazine dan foto Gaza berantakan dari detikNews-detikcom.

Sampurasun.

Tuesday, 17 February 2026

Netanyahu Takut pada Prabowo

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tampaknya takut kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Hal ini bisa dilihat dari tidak bersedia hadir untuk bertemu Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana Board of Peace (BoP) di Washington DC besok, Kamis, 19 Februari 2026. Netanyahu mewakilkannya kepada Menlu Israel Gideon Saar untuk bertemu Prabowo dalam rapat itu. Demikian pula sebelumnya, Netanyahu mendaftarkan Israel untuk bergabung BoP sendirian lewat ngumpet di jalur belakang melalui Menlu Amerika Serikat (AS) Marco Rubio.


PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: ANTARA News Kalteng)


            Berbeda dengan Prabowo yang ketika bergabung terbuka di depan publik dan di depan para pemimpin dunia lainnya. Bahkan, berkali-kali Presiden AS Donald Trump menyalami Prabowo dengan lama sambil mengguncang-guncang dan menepuk-nepuk punggung Prabowo dengan hangatnya. Demikian pula Prabowo menjadi sorotan dunia sejak sebelum berangkat ke Washington untuk rapat perdana BoP, saat berangkat, ketika sampai, dan saya yakin ketika berlangsung rapat serta setelahnya, tetap menjadi sorotan dunia dan bersedia berdebat serta berdiskusi soal perdamaian dengan siapa saja.


Presiden RI Prabowo Subianto berjoget (Foto: Tempo co)


            Netanyahu dan Israel memang sedang terpojok. Dia dimusuhi banyak orang. Di dunia Islam sudah jelas dibenci, di Eropa pun dikutuk, di AS dimaki-maki. Bahkan, di Israel sendiri menghadapi penentangan yang sangat hebat dan kutukan luar biasa. Para rabi Yahudi berteriak bahwa mereka merasa lebih baik mati sebagai Yahudi dibandingkan mati sebagai zionis seperti Netanyahu.

            Kalaulah Netanyahu menganggap tidak penting pertemuan perdana BoP, itu sangatlah aneh karena dalam rapat itu akan diputuskan kehadiran pasukan Prabowo untuk menjaga perdamaian serta membuat mundur pasukan Israel dari Gaza, Palestina. Artinya, dia akan kehilangan kesempatan berdebat dengan Prabowo soal Gaza dan mengalami kerugian karena harus menyingkir dari sana. Prabowo sendiri akan menjalankan pasukannya dengan cara Indonesia dan berdasarkan kepentingan Indonesia, bukan untuk kepentingan yang lain. Kalaulah Netanyahu berani berdebat dan memaksa pasukan Indonesia tunduk pada keinginan Israel, Prabowo punya tombol “eject” untuk segera keluar dari BoP dan membiarkan mereka terus saling bunuh dengan Hamas serta membuat rencana Donald Trump berantakan, mangkrak sebelum dimulai.

            Ini cara cerdas Indonesia untuk menekan AS agar Israel mundur dari Gaza. Kalau tidak, persilakan AS cari pasukan lain yang bersedia dan diterima di Gaza. Faktanya, hari ini hanya Prabowo yang lantang sambil memukul meja PBB menyediakan putera-puterinya sejumlah 20 ribu, bahkan lebih untuk menjaga perdamaian dunia.

            Netanyahu takut pada Prabowo. Kalau dia berani datang berdebat dengan Prabowo besok dalam rapat BoP, tulisan saya ini berarti salah dan akan saya hapus selamanya.

            Foto Prabowo joget saya dapatkan dari Tempo co dan Netanyahu dari ANTARA News Kalteng.

            Sampurasun.

Monday, 16 February 2026

Prajurit TNI Tak Harus Mati di Palestina

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah pasukan resmi pertama yang akan masuk ke Gaza, Palestina dalam misi perdamaian dan pemulihan kondisi wilayah. Kalau saya bilang pasukan pertama, berarti siapa pun, akun apa pun, berita dari mana pun yang kemarin-kemarin sering mengisahkan tentara dari negara lain masuk ke Gaza untuk menolong rakyat Palestina dan mengalahkan Israel adalah bohong. Mereka memang suka berbohong dan sangat senang mendengarkan ceritera bohong.

            TNI memang pasukan yang diterima Israel untuk berada di Gaza, bahkan telah mulai disiapkan tempatnya di Rafah dan Khan Younis. Sebelumnya, memang pasukan Turki dan Qatar bersedia memasuki Gaza, tetapi ditolak Israel. Adapun Indonesia diterima Israel mungkin karena melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga perdamaian di Kongo dan Libanon. Di samping itu, pidato Presiden RI Prabowo pun berulang-ulang mengatakan bahwa Negara Palestina harus berdiri dan Israel pun harus dijamin keamanannya. Pidato itu menegaskan bahwa Indonesia benar-benar memperjuangkan berdirinya dua negara merdeka di kawasan itu. Israel merasakan bahwa Indonesia lebih adil bersikap dan terjamin tidak akan melakukan kekerasan terhadap Israel dibandingkan Turki dan Qatar.

            Indonesia melihat adanya celah untuk melaksanakan politik bebas dan aktif di wilayah paling berbahaya di muka Bumi itu. Oleh sebab itu, segera menyiapkan TNI untuk ambil bagian mengamankan daerah saling bunuh setiap hari itu. Tinggal menunggu perintah dari Prabowo, TNI segera bergerak dan tidak akan menunggu waktu lama lagi.


Pasukan perdamaian Indonesia (Foto: detikNews - detikcom)


            Meskipun ada celah untuk berperan aktif secara positif di Gaza, celah itu tidak mudah, tetapi sempit, tajam, dan berbahaya. Prabowo harus memastikan bahwa sebelum TNI berangkat ke Gaza, pasukan Israel harus sudah pergi dari wilayah itu. Demikian pula pasukan “Harakat al Muqawama al Islamiyya” (Hamas), harus bisa bekerja sama dengan Indonesia agar tercipta situasi yang jauh lebih baik di Gaza. TNI berada di Gaza tidak untuk berperang dengan Israel, apalagi berperang atau mengintimidasi Hamas. Pasukan TNI yang berada di sana adalah zeni yang bergerak dalam perbaikan konstruksi dan perlindungan rakyat serta medis. Senjata yang dipergunakan TNI hanyalah untuk membela diri dan memastikan tugasnya berjalan lancar, bukan untuk menghancurkan musuh.

            TNI yang ditugaskan di Gaza adalah untuk menciptakan suasana positif dan bukan untuk bertempur. Oleh sebab itu, Israel harus pergi dan Hamas harus menahan diri. Jika mereka tidak mau menghormati pasukan Indonesia, Prabowo jangan sekali-sekali mengirimkan seorang prajurit TNI-pun ke Gaza. Anak-anak muda Indonesia yang dikirim ke Gaza bukan untuk mati, melainkan untuk menciptakan kehidupan.

Kalau Israel dan Hamas tidak mau diatur, biarkan saja mereka berperang saling bunuh dan hidup dalam keadaan tidak aman seterusnya, selama belum bosan. Itu artinya mereka tidak mau berdamai, tetapi ingin terus berkonflik, ingin saling membuktikan diri siapa yang terhebat di antara mereka. Israel merasa jumawa karena di belakang mereka ada Amerika Serikat (AS), sedangkan Hamas merasa kuat karena di belakang mereka ada Iran.

Kalau mereka tidak mau saling menahan diri, untuk apa kita berada di sana?  

            Kita bisa apa?

            Kalau situasi berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, rakyat Gaza yang akan sangat menderita dan tidak punya masa depan. Rakyat hanyalah sejumlah angka yang selalu dihitung kesusahannya, padahal ada jalan damai yang bisa dicoba dijalankan.

            Prabowo tak harus mengirimkan tentara Indonesia untuk mati, tetapi untuk menciptakan suasana yang lebih hidup dan harmonis.

            Foto pasukan perdamaian Indonesia saya dapatkan dari detikNews – detikcom.

            Sampurasun.

Saturday, 14 February 2026

PBB Lemot Disalip BoP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik di tanah Palestina sudah terjadi puluhan tahun dan menimbulkan kerusakan harta dan nyawa yang sangat besar. Selama puluhan tahun juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya menanganinya. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat masalah itu tidak pernah selesai. Itulah yang saya bilang PBB itu mesinnya lemot, tenaganya hanya 16% atau maksimal hanya 24%.

            Dalam kelemotan PBB, muncul “Board of Peace” (BoP) atau yang kita kenal dengan “Dewan Perdamaian”. BoP adalah mesin baru yang punya tenaga dorong 60%.

            BoP sebetulnya amanat PBB, tetapi kemudian berubah menjadi lembaga yang mulai terpisah dari PBB serta punya keinginan dan cara sendiri dalam menyelesaikan masalah antara Israel dan Palestina. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tidak sabar dengan konflik di Palestina, lalu mendapat kekuatan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang siap mengirimkan prajurit TNI sejumlah 20 ribu atau bahkan lebih untuk menjaga perdamaian di Gaza, Palestina. Ibarat “kata  berjawab, gayung pun bersambut”, terciptalah BoP yang mengguncangkan dunia akhir-akhir ini.


Prabowo Subianto dan Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Anehnya, Trump menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dengan PBB yang di dalamnya ada “hak veto”. Hak veto adalah hak untuk melarang keputusan, resolusi, peraturan, atau kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat di PBB. Hak itulah yang membuat persoalan di Palestina sulit selesai. Oleh sebab itu, dia merancang sendiri dan menggerakkan sendiri dunia untuk segera menyelesaikan masalah Gaza.

            Aneh memang karena selama ini yang kita kenal sering mengobral hak veto adalah Amerika Serikat. Kita yang justru sering kesal dan marah karena AS kerap menggunakan hak veto yang merugikan bangsa-bangsa di dunia, terutama untuk di wilayah Timur Tengah dan tentu saja merugikan Palestina.

            Jadi, sebetulnya siapa yang menggunakan hak veto sehingga merugikan kesepakatan dunia itu?

            Cukup membingungkan.

            Sudahlah, yang jelas saat ini AS di bawah Trump bergerak sendiri seolah-olah meninggalkan PBB dengan dukungan Indonesia di bawah Prabowo untuk menyesaikan konflik di Palestina. Hal ini justru diberitakan pertama kali oleh media-media Israel bahwa Indonesia menjadi negara yang pertama di dunia mengirimkan pasukannya di Gaza untuk menjaga perdamaian. Bahkan, Israel sendiri telah mulai memberikan tempat dan menyediakan wilayah untuk TNI di selatan jalur Gaza, antara Rafah dan Khan Younis.

            Kalaulah PBB mulai merasa ditinggalkan dalam urusan Palestina ini, seharusnya bergerak lebih cepat lagi. Jangan terlalu banyak seminar, rapat, atau diskusi yang dianggap Trump terlalu lambat. Sebaiknya PBB mengambil langkah yang mengarah pada langkah nyata untuk kembali menyalip BoP. Sementara itu, Indonesia akan lebih lebih senang jika pasukannya berada di bawah mandat PBB dibandingkan BoP. Prabowo dengan tegas akan mengirimkan “putera-puteri terbaik Indonesia” ke jalur Gaza, Palestina.

            Foto Prabowo dan Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Sampurasun.

Tuesday, 10 February 2026

Indonesia Lebih Sabar Dibandingkan Iran

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) bisa dikatakan dimulai sejak 1901. Saat itu mereka masih lumayan baik-baik saja hingga terjadi hubungan bisnis yang menyebabkan situasi perlahan menjadi aneh. Raja Iran Mozaffar Ad Din Shah memberikan hak kepada William Knox D’Arcy dari Inggris untuk mengeksplorasi minyak, gas alam, aspal, dll. selama  enam puluh tahun. Sebagai kompensasi untuk Iran, William memberikan uang tunai sejumlah 20.000 poundsterling, saham sebesar 20.000 poundsterling, dan 16% keuntungan setiap tahun. Lalu, perusahaan ini berkembang pesat menjadi “British Petroleum” yang kemudian dibeli oleh pemerintah Inggris.

            Dalam perjalanannya perusahaan ini dirasakan warga Iran banyak masalah, tidak adil, merendahkan, menghina, dan melecehkan warga Iran. Terasa seperti penjajahan yang mengambil untung di tanah Iran, tetapi orang Iran sendiri kesusahan.

            Pada 1951 muncul seorang anggota DPR Iran yang menentang perusahaan minyak Inggris itu karena menganggap tidak adil. Namanya Mohammad Mosadegh. Menurutnya, keuntungan yang diberikan kepada Iran itu sangat kecil, hanya 16%. Keuntungan yang diterima Iran selama lima puluh tahun masih jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan yang diambil Inggris hanya dalam satu tahun.


Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh (Foto: Short History)


            Mosadegh kemudian menasionalisasi perusahaan Inggris itu dalam arti merebutnya dari Inggris dan menjadi milik Iran. Mosadegh pun kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang sangat dicintai rakyat.

            Tentu saja Inggris marah besar karena berpendapat bahwa perusahaan itu masih berada dalam hak Inggris berdasarkan perjanjian lama. Dalam kesepakatan lama antara William dan Mozzafar, Inggris boleh mengeksplorasi kekayaan Iran selama enam puluh  tahun. Akan tetapi, belum juga genap enam puluh tahun atau hanya baru lima puluh tahun, Iran tiba-tiba mengambilnya dari Inggris. Masih ada sepuluh tahun lagi hak Inggris berada di sana. Itulah awal sengketa antara Iran dengan barat yang kemudian mengikutsertakan CIA Amerika Serikat. Sejak saat itu, Iran mengalami berbagai sanksi, embargo, dan permusuhan dengan pihak barat hingga hari ini dengan menggunakan kekuatan senjata dan banyak pembunuhan.

            Tampaknya Iran tidak bersabar untuk menunggu sepuluh tahun lagi hingga masa kontrak perjanjian dengan Inggris selesai. Iran sudah merasakan penderitaan yang luar biasa, lalu meluapkan kemarahannya dengan merebut British Petroleum dari Inggris.

            Berbeda dengan Indonesia. Sesungguhnya, Indonesia memiliki masalah mirip Iran, yaitu bermasalah dengan PT Freeport milik Amerika Serikat (AS).

            Pada 1936 Jacques Dozy menemukan cadangan “Ertsberg”.  Kemudian, pada 1966 pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden RI Soeharto membuka pintu agar PT Freeport Indonesia (PTFI) dapat menambang tembaga yang kemudian menjadi emas di Timika, Papua.

            Perjanjian ini bernama Kontrak Karya I yang berlaku hingga tiga puluh tahun. Dalam kontrak ini disepakati PTFI memiliki saham 90,64% dan Indonesia sebanyak 9,36%. Sejak perjanjian itu, penambangan pun dimulai. Dalam perjalanannya penambangan ini dirasa tidak adil, mirip perampokan kekayaan alam Indonesia.

            Puluhan tahun berlalu, dinamika politik dan ekonomi mewarnai penambangan ini. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa perjanjian diperpanjang tiga puluh  tahun lagi pada 1991, disebut dengan Kontrak Karya II. Dengan demikian, perjanjian menjadi enam puluh tahun jika dihitung sejak awal. Indonesia tetap mendapatkan keuntungan dari sahamnya yang kecil sejumlah 9,36%.

            Selama berlakunya perjanjian itu, Indonesia mengalami banyak goncangan. Isu ketidakadilan dan keserakahan Freeport dengan kolusi dan korupsi di kalangan pejabat Indonesia menjadi gunjingan setiap hari. Kasus ini pun menjadi salah satu penyebab jatuhnya Presiden RI Soeharto.

            Penderitaan dan kemarahan rakyat Indonesia karena adanya isu Freeport semakin menjadi-jadi. Kita bisa melihat dengan jelas ketidakadilan dan kemarahan itu. Rakyat Papua yang sesungguhnya pemilik tambang emas terbesar itu hidup dalam kesengsaraan, kesedihan, ketertinggalan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Seharusnya, para pemilik tanah emas itu kaya raya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

            Meskipun demikian, Indonesia tetap bersabar hingga perjanjian itu berakhir. Ketika kontrak karya selesai pada masa pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, dimulailah perjanjian baru yang membuat Indonesia lebih beruntung. Mulai 2017 Indonesia menegaskan untuk mengubah perjanjian hingga sahamnya menjadi 51%, sisanya Freeport AS.


Presiden Republik Indonesia Jokowi (Foto: Website Banggai Kepulauan)


            Keputusan Indonesia sangat tegas. Jika Freeport menolak, tambang emas di Papua akan diberikan pada perusahaan lain. Awalnya terjadi penolakan dan perlawanan dari PT Freeport hingga menjadi berita yang besar dan viral di AS. Akan tetapi, Indonesia berada pada jalan yang benar, yaitu kontrak karya berakhir dan tanah itu milik Papua, Indonesia. Akhirnya, mau tidak mau PT Freeport menerima keputusan Indonesia dan tetap menambang emas di Indonesia dengan perjanjian baru.

            Pada 2024 Presiden Jokowi memperpanjang kontrak hingga 2061 dengan syarat Indonesia menjadi pemilik saham terbesar dengan jumlah 61%. Di samping itu, perusahaan AS wajib membangun smelter di Indonesia agar emas bisa diolah di dalam negeri untuk membuka lapangan kerja dan menambah keuntungan bagi negara.

            Demikianlah perbedaan Indonesia dengan Iran. Indonesia menahan diri bersabar dalam keadaan penuh derita hingga perjanjian berakhir. Dengan demikian, Indonesia bisa merebut Freeport melalui jalur bisnis secara bertahap tanpa harus berperang. Adapun Iran karena sudah merasa sangat menderita, memilih merebut British Petroleum dengan jalan keras meskipun harus menanggung konsekwensi bertikai dan berperang dengan menggunakan senjata-senjata mematikan di samping mendapatkan sanksi ekonomi dari barat.

            Foto Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh saya dapatkan dari Short History dan Jokowi dari Website Banggai Kepulauan.

Sampurasun

Saturday, 7 February 2026

Prabowonomics

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Di dunia ini hanya ada dua sistem ekonomi terkuat yang dipakai, yaitu kapitalis-liberalis dan komunis-sosialis atau kadang disebut juga ekonomi komando. Keduanya sama-sama bertujuan untuk memberikan kesejahteraan manusia, terutama para pendukungnya.

Secara sangat sederhana, sistem ekonomi liberal menyerahkan kehidupan ekonomi pada pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Harga-harga ditentukan oleh pasar dan setiap orang boleh bersaing semaksimal yang dia harapkan. Pemerintah tidak boleh banyak mencampuri kehidupan ekonomi. Semakin sedikit peran pemerintah, sangat bagus untuk ekonomi liberal.

Berbeda dengan sistem ekonomi komunis-sosialis atau komando. Dalam sistem ini, pasar sangat dikuasai pemerintah. Kehidupan ekonomi sangat dikontrol oleh pemerintah agar terjadi keadilan bagi seluruh manusia. Persaingan tidak dibebaskan semaunya. Semakin besar peran pemerintah, semakin baik ekonomi dalam sistem komunis.

Seperti itu kira-kira perbedaannya. Memang tidak tepat benar karena untuk mengerti kedua sistem ekonomi itu minimalnya harus belajar selama satu semester. Itu pun baru kulitnya. Akan tetapi, seperti itulah pemahaman sederhananya.

Sebetulnya, ada lagi sistem lain yang sering dibicarakan, yaitu sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi Pancasila. Akan tetapi, kedua sistem ini baru ada dalam slogan, jargon, keinginan, atau harapan. Belum ada yang menulisnya mulai grand theory hingga teori operasional yang bisa dijalankan. Kadang malah hanya ada dalam teriakan-teriakan saat kampanye pemilihan tanpa ada isinya. Teriakan itu hanya untuk mempengaruhi orang tanpa kejelasan selanjutnya.

Memang ada beberapa orang yang mencoba menerangkannya lewat penelitian, tetapi belum teruji dalam praktiknya. Misalnya, Wakil Presiden RI Maruf Amin menulis disertasinya tentang ekonomi berlandaskan syariah Islam, tetapi tidak disebutkan juga sebagai sistem ekonomi Islam. Bahkan, karyanya lebih dikenal sebagai tulisan “Ekonomi Arus Baru”.

            Baru-baru ini mengemuka sebuah pemikiran ekonomi yang disebut dengan istilah “Prabowonomics”. Sederhananya, sistem ekonomi ala Prabowo. Ini sebetulnya hasilnya sudah bisa dirasakan rakyat. Pada saat luar negeri hari ini sedang krisis karena perang dan kenaikan dollar. Indonesia rasanya biasa-biasa saja, tidak tampak ada kekusutan berarti. Kalau seperti ada kerumitan, itu hanya ada di Medsos.

            Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada “World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026” yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss. Isi pidato ini yang kemudian disebut sebagai Prabowonomics.


Prabowonomics (Foto: KOMPAS.com)


            Kalau diperhatikan, Prabowonomics merupakan pemikiran yang ada di tengah antara kapitalis dan komunis, lebih memperkenalkan sistem ekonomi Pancasila yang berlandaskan gotong royong. Dalam pidato itu diperkenalkan beberapa hal yang telah dilakukannya dan akan terus dipertahankan keberlanjutannya.

            Pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didasari atas kasih sayang kepada rakyat supaya otaknya cerdas dan mewujudkan gotong royong. Hasil dari para pembayar pajak dan perusahaan negara diberikan kepada para siswa di Indonesia secara gratis. Program ini pun sudah menggerakan ekonomi rakyat karena bahan-bahannya juga berasal dari hasil bumi yang dikerjakan rakyat ditambah membuka lapangan kerja baru. Di samping itu, Prabowo mengklaim telah bisa mengalahkan perusahaan makanan terkenal Amerika Serikat Mc Donald yang dalam puluhan tahun menghasilkan 68 juta porsi, sedangkan MBG dalam satu tahun sudah bisa menghasilkan 120 juta porsi makanan.

            Kedua, hilirisasi. Pogram ini mengupayakan bahwa hasil bumi Indonesia mulai bahan mentah hingga barang jadi harus diproduksi di Indonesia. Program ini dimulai nikel yang akan berkembang ke bauksit, timah, batu bara, dan lain sebagainya. Program ini akan membuat Indonesia sangat banyak sekali uang dibandingkan dengan menjual hanya bahan mentah ke luar negeri. Di samping itu, terjadi transfer teknologi yang pada masa depan anak-anak muda Indonesia menjadi ahlinya dan berpotensi menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar. Hal ini harus dilakukan dengan sikap tegas terhadap pihak asing. Artinya, asing boleh berbisnis di Indonesia, tetapi bagian terbesar adalah milik dan untuk Indonesia.

            Ketiga, swasembada pangan. Pada masa depan Indonesia akan sanggup memberi makan rakyatnya sendiri tanpa harus membeli dari luar negeri. Kita memang sudah sanggup memproduksi beras sendiri, tidak lagi membeli dari luar negeri. Itu awal yang bagus untuk ke depannya tidak perlu lagi membeli sapi, jagung, kedelai, dan bahan makanan lainnya dari luar negeri. Hal itu pun akan sangat menghemat keuangan negara, bahkan memperluas pasar ekspor produk Indonesia ke luar negeri.

            Keempat, pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang tumbuh itu cirinya adalah negara lebih banyak ekspor dibandingkan impor, lebih banyak menjual barang ke luar negeri dibandingkan membeli barang dari luar negeri.  Ini sudah terjadi secara perlahan. Tandanya adalah ketika dollar naik, pengaruhnya sangat kecil, bahkan untuk beberapa kalangan tidak terpengaruh sama sekali. Berbeda ketika krisis 1998 dengan kenaikan dollar sedikit saja negara krisis dan goncang sehingga Presiden Soeharto jatuh. Itu karena Indonesia terlalu banyak beli barang dari luar negeri sehingga ketika dollar naik, kita tidak punya uang. Sekarang tidak lagi karena Indonesia sudah lebih banyak ekspor barang dengan hasil yang sangat banyak melebihi impor. Selain itu, untuk mewujudkannya harus ada kejelasan tentang kestabilan politik yang tidak gaduh dan kepastian hukum untuk menghentikan korupsi, pemerasan, premanisme, dan kerumitan perizinan.

            Begitu yang saya perhatikan dari pidato Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Davos, Swiss. Saya bisa saja kurang memperhatikan lebih teliti tentang Prabowonomics. Jika ada di antara para pembaca yang mau menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, saya akan sangat menghormatinya.

            Foto Prabowo saat pidato di Davos, Swiss saya dapatkan dari KOMPAS com.

            Sampurasun.