Showing posts with label Hamas. Show all posts
Showing posts with label Hamas. Show all posts

Monday, 16 February 2026

Prajurit TNI Tak Harus Mati di Palestina

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah pasukan resmi pertama yang akan masuk ke Gaza, Palestina dalam misi perdamaian dan pemulihan kondisi wilayah. Kalau saya bilang pasukan pertama, berarti siapa pun, akun apa pun, berita dari mana pun yang kemarin-kemarin sering mengisahkan tentara dari negara lain masuk ke Gaza untuk menolong rakyat Palestina dan mengalahkan Israel adalah bohong. Mereka memang suka berbohong dan sangat senang mendengarkan ceritera bohong.

            TNI memang pasukan yang diterima Israel untuk berada di Gaza, bahkan telah mulai disiapkan tempatnya di Rafah dan Khan Younis. Sebelumnya, memang pasukan Turki dan Qatar bersedia memasuki Gaza, tetapi ditolak Israel. Adapun Indonesia diterima Israel mungkin karena melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga perdamaian di Kongo dan Libanon. Di samping itu, pidato Presiden RI Prabowo pun berulang-ulang mengatakan bahwa Negara Palestina harus berdiri dan Israel pun harus dijamin keamanannya. Pidato itu menegaskan bahwa Indonesia benar-benar memperjuangkan berdirinya dua negara merdeka di kawasan itu. Israel merasakan bahwa Indonesia lebih adil bersikap dan terjamin tidak akan melakukan kekerasan terhadap Israel dibandingkan Turki dan Qatar.

            Indonesia melihat adanya celah untuk melaksanakan politik bebas dan aktif di wilayah paling berbahaya di muka Bumi itu. Oleh sebab itu, segera menyiapkan TNI untuk ambil bagian mengamankan daerah saling bunuh setiap hari itu. Tinggal menunggu perintah dari Prabowo, TNI segera bergerak dan tidak akan menunggu waktu lama lagi.


Pasukan perdamaian Indonesia (Foto: detikNews - detikcom)


            Meskipun ada celah untuk berperan aktif secara positif di Gaza, celah itu tidak mudah, tetapi sempit, tajam, dan berbahaya. Prabowo harus memastikan bahwa sebelum TNI berangkat ke Gaza, pasukan Israel harus sudah pergi dari wilayah itu. Demikian pula pasukan “Harakat al Muqawama al Islamiyya” (Hamas), harus bisa bekerja sama dengan Indonesia agar tercipta situasi yang jauh lebih baik di Gaza. TNI berada di Gaza tidak untuk berperang dengan Israel, apalagi berperang atau mengintimidasi Hamas. Pasukan TNI yang berada di sana adalah zeni yang bergerak dalam perbaikan konstruksi dan perlindungan rakyat serta medis. Senjata yang dipergunakan TNI hanyalah untuk membela diri dan memastikan tugasnya berjalan lancar, bukan untuk menghancurkan musuh.

            TNI yang ditugaskan di Gaza adalah untuk menciptakan suasana positif dan bukan untuk bertempur. Oleh sebab itu, Israel harus pergi dan Hamas harus menahan diri. Jika mereka tidak mau menghormati pasukan Indonesia, Prabowo jangan sekali-sekali mengirimkan seorang prajurit TNI-pun ke Gaza. Anak-anak muda Indonesia yang dikirim ke Gaza bukan untuk mati, melainkan untuk menciptakan kehidupan.

Kalau Israel dan Hamas tidak mau diatur, biarkan saja mereka berperang saling bunuh dan hidup dalam keadaan tidak aman seterusnya, selama belum bosan. Itu artinya mereka tidak mau berdamai, tetapi ingin terus berkonflik, ingin saling membuktikan diri siapa yang terhebat di antara mereka. Israel merasa jumawa karena di belakang mereka ada Amerika Serikat (AS), sedangkan Hamas merasa kuat karena di belakang mereka ada Iran.

Kalau mereka tidak mau saling menahan diri, untuk apa kita berada di sana?  

            Kita bisa apa?

            Kalau situasi berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, rakyat Gaza yang akan sangat menderita dan tidak punya masa depan. Rakyat hanyalah sejumlah angka yang selalu dihitung kesusahannya, padahal ada jalan damai yang bisa dicoba dijalankan.

            Prabowo tak harus mengirimkan tentara Indonesia untuk mati, tetapi untuk menciptakan suasana yang lebih hidup dan harmonis.

            Foto pasukan perdamaian Indonesia saya dapatkan dari detikNews – detikcom.

            Sampurasun.

Saturday, 13 January 2024

RS Indonesia Tempat Ternyaman Buat Israel

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza adalah rumah sakit terbesar dan terlengkap di wilayah itu untuk melayani kesehatan warga Gaza, Palestina. Bertahun-tahun telah beroperasi dengan baik dan memberikan banyak pertolongan. Sayangnya, ketika pecah perang antara Hamas dengan Israel, Rumah Sakit Indonesia dituduh sebagai sarang Hamas yang dianggapnya sebagai teroris. Berdasarkan tuduhan itu, tentara Israel menyerang dan mengusir semua dokter, pasien, serta merusakkan peralatan medis di sana. Akibatnya, kini Rumah Sakit Indonesia dikuasai oleh tentara Israel.

            Belakangan diketahui ternyata tuduhan Israel bahwa RS Indonesia menjadi sarang Hamas adalah akal-akalan Israel saja. Mereka tahu bahwa RS Indonesia adalah tempat ternyaman bagi tentara Israel. Kini RS Indonesia menjadi markas tentara Israel untuk menyerang perempuan dan anak-anak Palestina agar mati atau terusir dari Gaza. Mereka tahu bahwa Hamas tidak akan pernah menyerang bangunan Rumah Sakit Indonesia karena Palestina sangat menghormati Indonesia.

            Rasa hormat dan rasa sayang Palestina kepada Indonesia melebihi rasa hormat terhadap negara-negara Arab lainnya. Hal ini pernah membuat Ratu Yordania cemburu. Sang Ratu mempertanyakan mengapa warga Palestina sangat menyanjung Indonesia, padahal banyak sekali negara Arab dan non-Arab yang juga membantu Palestina. Pertanyaan itu dijawab oleh netizen Palestina bahwa Ratu Yordania tidak perlu mengomentari orang Indonesia yang telah merasa bersaudara dengan rakyat Palestina. Orang Indonesia lebih terihat tulus dan serius dalam membela Palestina meskipun jaraknya jauh. Bagi saya, mudah saja menjawabnya, rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia itu satu suara dalam membela Palestina karena dikuatkan oleh amanat yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan dari muka Bumi. Kalaupun ada beberapa gelintir pihak yang membela Israel di Indonesia, itu hanya semacam gatal-gatal di tubuh yang cukup diselesaikan dengan cara diusap atau digaruk.

            Israel paham bahwa Hamas tidak akan menyerang RS Indonesia karena rasa hormatnya yang sangat tinggi itu. Oleh sebab itu, tentara Israel menjadikan RS Indonesia sebagai markas paling aman di Gaza, Palestina. Dengan demikian, Israel punya tempat kokoh untuk mengusir dan membunuhi rakyat Palestina. Mereka sendiri takut terhadap prajurit Hamas, beraninya berperang melawan perempuan, anak-anak, dan mengebom bangunan-bangunan.


Rumah Sakit Indonesia Jadi Markas Tentara Israel (Foto: CNN Indonesia)


Puing-Puing Bangunan Akibat Kejahatan Israel (Foto: ANTARA News Kuala Lumpur)

            Melihat kenyataan tersebut, Hamas menganggap perlu menyerang Israel yang sedang bermarkas di RS Indonesia. Oleh sebab itu, mereka dengan berat hati meminta izin kepada Indonesia untuk menyerang Israel di RS Indonesia yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan dalam bangunan itu. Hal ini diberitakan oleh Ketua Presidium Mer-C dr. Sarbini Abdul Murad bahwa Hamas meminta izin untuk menyerang RS Indonesia karena di dalamnya dipenuhi tentara Israel. Mereka merasa perlu menyerang ke bangunan itu untuk menghentikan kejahatan Israel.

            Foto Rumah Sakit Indonesia yang dikuasai Israel saya dapatkan dari CNN Indonesia, sedangkan puing-puing bangunan yang hancur di seputar rumah sakit fotonya saya dapatkan dari ANTARA News Kuala Lumpur.

            Saya pikir, ibu-ibu pengajian, rakyat kecil, para tukang sayur, tukang bubur, para marbot, dan seluruh rakyat Indonesia yang telah banyak memberikan sumbangannya untuk pembangunan RS Indonesia dengan uang recehan 2 ribu, 5 ribu, 10 ribu, 100 ribu, jutaan, termasuk pemerintah Indonesia yang telah membantu kemerdekaan Palestina dengan ratusan juta dollar AS, perlu terus memberikan dukungan untuk melenyapkan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Soal nanti bangunan RS Indonesia yang rusak akibat perang, itu hanya soal uang yang bisa kita cari lagi dan kumpulkan lagi. Meskipun bangunan itu nantinya rusak, pahala dari memberikan sumbangan itu tidak akan ikut rusak. Pahala kita sudah sampai kepada Allah swt. Uang itu soal kecil. Allah swt sama sekali tidak menerima uang itu, tak ada artinya bagi Allah swt uang itu. Allah swt hanya menerima ketulusan dan keikhlasan kita dalam berbuat kebaikan di muka Bumi ini.

            Biarlah bangunan RS Indonesia rusak sebagai bentuk pengorbanan tanpa henti rakyat Indonesia dalam menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 mendukung penuh perdamaian di muka Bumi dan kemerdekaan Palestina.

            Iya, toh?

            Iya toh pisan.

            Sampurasun.

Sunday, 26 November 2023

Julid Fi Sabilillah, Hati-Hati! Israel Penculik Sudah di Malaysia

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Julid” itu berasal dari bahasa Sunda, “julit”, kadang diplesetkan jadi julita. Artinya, “perilaku iri dan dengki yang disebabkan oleh keberhasilan orang lain”. Kata ini dipopulerkan artis Syahrini, pelantun lagu “Sesuatu” itu dengan kata julid. Namun, artinya jadi meluas di dunia maya. Julid berarti “komentar pedas, nyinyir, ngeselin orang”.

Netizen Indonesia kalau sudah julid, luar biasa brengseknya. Beneran jahat netizen Indonesia itu, bisa menelanjangi banyak orang hingga ke bubuk-bubuk hidup pribadinya. Orang bisa stress, hancur hidup, depresi, hingga bunuh diri gara-gara dijulidin.

Kini timbul gerakan “Julid Fi Sabilillah” dalam rangka menyerang mental pasukan Israel untuk menghentikan kekejamannya membunuhi warga Gaza, Palestina. Ratusan, bahkan ribuan tentara Israel (IDF) kena mental, terganggu jiwanya, dan merasa gila dijulidin netizen Indonesia.

Hal ini bermula dari netizen Indonesia bernama Erlangga Greschinov yang membagikan akun-akun tentara Israel di dunia maya hingga tersebar luas. Netizen Indonesia secara otomatis memenuhi ruang komentar Medsos tentara Israel dengan kalimat-kalimat julid yang bikin gila itu. Bahkan, saya sendiri pernah menonton seorang YouTuber Indonesia yang berdebat dengan tentara Israel, lalu pengikutnya langsung bergerak menyerang tanpa ampun. Saya sendiri sampai kasihan sama tentara Israel karena saking dipermalukannya hingga menangis.

Salah seorang tentara wanita Israel bernama Eden Sisson sampai stress berat diserang netizen Indonesia. Fotonya saya dapatkan dari X com. Saking terganggunya, dia melaporkan Erlangga Greschinov ke polisi Israel agar ditangkap dengan bantuan Interpol. Perilaku Eden melaporkan ke polisi itu jelas karena stress atau bloon.


Tentara Israel Eden Sisson (Foto: X.com)


Bagaimana mungkin polisi Israel bisa menangkap warga Indonesia?

Ini wilayah hukum Indonesia, bukan Israel. Israel tak punya kekuatan apa  pun di Indonesia. Kalaupun minta bantuan Interpol atau polisi internasional, itu bodoh sekali. Itu tidak akan pernah terjadi karena jangankan berhubungan dengan Interpol, Israel ingin berhubungan dengan Indonesia saja ditolak. Apalagi perjanjian ekstradisi, tidak pernah ada.

Si Eden Israel itu kalau nggak stress, ya bloon. Lapor ke polisi Israel yang tidak punya kewenangan apa pun di Indonesia. Lieur.

Meskipun demikian, para pejuang julid fi sabilillah tetap harus hati-hati karena Israel selalu mencari cara untuk melakukan kejahatan di mana pun, tidak semua, tetapi banyak. Kalau punya keinginan untuk melaksanakan dendam, mereka akan mencari caranya.

            Baru-baru ini ada kejadian, seorang hacker Palestina bernama Omar A. yang tinggal di Turki membantu Hamas untuk mengacaukan sistem pertahanan iron dome atau kubah besi Israel hingga membuat kerusakan terhadap pertahanan Israel. Israel memburunya dengan cara menipunya. Agen intel Israel, Mossad, berpura-pura menjadi aktivis Ham dan memberinya banyak uang. Lalu, diiming-imingi pekerjaan dengan gaji fantastis dan dirayu untuk sering bepergian ke luar negeri.  Ketika ada di Kuala Lumpur, Malaysia, Omar ditangkap, disiksa, dan hendak dibunuh. Beruntung, dinas intel Turki (MIT) mengetahuinya. Turki kemudian bekerja sama dengan kepolisian Malaysia untuk membebaskan Omar hingga menangkap 11 orang agen Israel penculik Omar. Kini Omar dibawa ke Turki, dilindungi dan ditempatkan di rumah yang aman.

            Ini pelajaran bagi netizen Indonesia, terutama pejulid fi sabilillah. Israel bisa jadi mempelajari kalian dan mencari cara untuk menculik kalian. Kalian bisa dikasih uang banyak dan diiming-imingi banyak uang seperti terjadi kepada Omar A.

            Kalau kalian dikasih uang satu miliar, bagaimana rasanya?

            Kalian bisa tertipu, beneran tertipu. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang memberi kalian uang, lalu mengiming-imingi pekerjaan di luar negeri, hati-hati. Jangan langsung percaya, kalian bisa dibunuh di luar negeri. Selama kalian berada di wilayah hukum Indonesia, kalian aman. Kalau sudah keluar dari Indonesia, kalian mulai ringkih. Kalau mau bekerja di luar negeri, gunakan lembaga resmi pemerintah seperti Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jangan liar atau perorangan, berbahaya.

            Bukan cuma uang atau pekerjaan yang bisa menipu kalian, melainkan pula iming-iming syafaat Nabi saw dan sorga. Kita ini banyak yang mudah ditipu dengan menggunakan isu agama. Agen intel Israel, Mossad, bisa kirim orang yang mengaku-aku sebagai cucu Nabi Muhammad saw dan mengajak kalian ke Timur Tengah untuk menjadi orang suci. Di sana kalian bisa dihajar habis-habisan hingga mati. Hati-hati, cerdaslah berpikir.

            Kalau ada orang yang mengaku-aku sebagai cucu Nabi saw, sudah saya jelaskan bukan cara untuk membuktikannya?

            Kalau beneran cucu Nabi saw, orang itu harus punya kitab silsilah yang benar berdasarkan manuskrip yang tersambung ke Ali bin Abi Thalib; harus punya sertifikat internasional dari negara tempat dia berasal; harus punya pula bukti tes DNA yang terhubung dengan kelompok Bani Hasyim. Kalau tidak bisa mengujinya sendiri, minta bantuan orang yang lebih ahli.

            Begitu ya.

            Para pejuang julid fi sabililah, hati-hati kalian!

            Sampurasun.

Thursday, 12 October 2023

Israel Vs Hamas Perang Akibat Dongeng

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perebutan, pertikaian, perselisihan, bahkan perang di wilayah Palestina, Yerusalem, dan sekitarnya sudah terjadi turun-temurun. Perseteruan ini semakin keras sejak keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah. Saat ini makin membahayakan.

            Permasalahan  perebutan wilayah ini semakin tidak karuan dengan banyaknya dongeng yang beredar, baik di kalangan Israel, maupun di kalangan Palestina, Arab, bahkan kaum muslimin. Dongeng-dongeng itu mengisahkan bahwa pada akhirnya Israel akan menang menjadi penguasa dunia, dimulai dari Yerusalem. Di kalangan Arab pun demikian, beredar dongeng bahwa pada zaman akhir kaum muslimin akan menguasai dunia. Bahkan, Imam Mahdi adalah orang yang berasal dan tinggal di seputar Masjid Al Aqsa. Dongeng-dongeng ini memprovokasi kedua kelompok untuk terus membuktikan diri sebagai pemilik sah kemenangan yang diwariskan Tuhan kepada mereka.

            Saya mengatakannya dongeng karena tidak jelas juga sumber itu. Di kalangan Islam sendiri kisah-kisah zaman akhir itu berbeda-beda, bahkan ada yang bertabrakan satu sama lain. Saya sendiri membeli enam buku tentang kisah-kisah zaman akhir. Para penyusun buku itu mengaku menyandarkan kisahnya kepada ucapan-ucapan Nabi Muhammad saw.

            Saya sendiri tidak yakin benar tentang kisah-kisah itu meskipun katanya berdasarkan hadits-hadits Nabi saw.

            Bagaimana saya bisa yakin, semua penyusun atau penceramah mengatakan berasal dari Muhammad saw, tetapi bertentangan kisah-kisahnya?

            Kalau sama-sama berasal dari Nabi Muhammad saw, mustahil bertentangan. Sumbernya sama, tidak mungkin uraiannya berbeda. Perlu peneliti yang benar-benar lurus untuk membersihkan kisah zaman akhir dan Imam Mahdi dari dongeng-dongeng yang tidak jelas itu.

            Demikian pula di kalangan Israel. Mereka pun punya kisah-kisah kemenangan yang bertabrakan pula. Hal yang sama, baik di antara orang Israel maupun Arab adalah menurut Israel, mereka akan menguasai dunia, sebaliknya, menurut orang Arab, merekalah yang akan menjadi pemenangnya dan mengendalikan dunia.

            Sungguh, dongeng-dongeng ini telah memprovokasi orang-orang untuk terus saling bunuh dan menimbulkan banyak kerusakan. Hingga hari ini sudah berapa ratus ribu bahkan mungkin berapa juta orang yang mati, cacat, dan kehilangan harta akibat perseteruan itu.


Kerusakan Akibat Perang Hamas Vs Israel (Foto: Tirto ID)

            Mau sampai kapan perkelahian itu dipelihara?

            Seharusnya, kedua pihak memiliki pandangan yang sama bahwa perdamaian dan hidup berdampingan itu adalah jauh lebih baik dibandingkan berperang dan berupaya saling menguasai. Kedua pihak harus mencari jalan bahwa baik Israel maupun Arab memiliki hak yang sama untuk hidup dan mengembangkan potensinya masing-masing. Kesalahan dan kerusakan masa lalu hendaknya diperbaiki bersama, mempertahankan konflik sama sekali tidak menguntungkan.

            Khusus Indonesia. Baik Hamas maupun Israel selalu memanggil Indonesia. Hamas memanggil kaum muslim Indonesia untuk berjihad di Palestina, sementara Israel memanggil Indonesia untuk berdialog mendengarkan Curhat Israel. Indonesia tidak perlu terprovokasi oleh keduanya. Indonesia harus tetap berpegang pada Pancasila untuk menjadi pedoman hidup di dalam negeri serta wajib tetap teguh untuk bersandar pada Dasasila Bandung dalam berhubungan dengan luar negeri. Dasasila Bandung mengajarkan untuk hidup setara dalam situasi yang aman dan menolak suatu kaum menguasai kaum lainnya secara salah.

            Hentikan dongeng-dongeng yang memprovokasi umat untuk berperang, cari jalan untuk mendapatkan situasi yang jauh lebih baik, damai, dan menyenangkan.

            Foto kerusakan akibat pertempuran Hamas Vs Israel saya dapatkan dari Tirto ID.

            Sampurasun.

Wednesday, 19 May 2021

Antara Pahlawan dan Penjahat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Israel dan Palestina memunculkan dua kubu pemikiran di tanah air Indonesia. Ada yang pro-Palestina dan ada yang pro-Israel. Mayoritas adalah yang pro-Palestina, sedangkan yang pro-Israel jumlahnya hanya beberapa gelintir orang, sebagaimana jumlah orang Israel yang juga sangat sedikit, dengan jumlah penduduk DKI Jakarta saja beda-beda tipis, sekitar sembilan juta orang. Dilihat dari opini yang beredar, para pendukung Israel ini miskin data, berpendapat hanya parsial, tidak utuh, dan menyandarkan pendapatnya dari sumber-sumber Israel. Mereka membenci Hamas yang dianggapnya penjahat dan teroris karena melawan Israel. Padahal, Hamas eksis itu disebabkan perilaku Israel yang banyak melakukan kejahatan kepada bangsa Palestina.

Jika Israel dari dulu mau secara beradab mengikuti program “two state solution”, ‘solusi dua negara merdeka’, yaitu di wilayah itu tercipta Negara Israel Merdeka dan Palestina Merdeka dengan hidup berdampingan, situasinya akan jauh berbeda, persoalan bisa diselesaikan dengan cara berdialog dan diskusi-diskusi yang jauh lebih elegan. Akan tetapi, zionis lebih memilih jalan premanisme, terorisme, dan kriminalisme yang mengakibatkan situasi semrawut hingga saat ini. Mereka memang kurang belajar dari sejarah mereka sendiri yang penuh masalah dan penuh kekacauan dari zaman ke zaman.

            Bagi zionis dan para pendukungnya, termasuk yang berada di Indonesia, Israel memiliki hak untuk melakukan kekerasan dan kekejaman terhadap bangsa Palestina dengan dalih bahwa Israel pun berhak hidup dan membela dirinya. Oleh sebab itu, bagi mereka, Hamas adalah penjahat yang harus dimusnahkan karena melawan Israel. Bagi Palestina dan para pendukungnya di seluruh dunia, Zionis Israel adalah penjahat karena menjajah Palestina. Hamas adalah pahlawan yang mengimbangi berbagai kejahatan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

            Sesungguhnya, perbedaan pendapat dan pemikiran ini selalu ada dalam setiap konflik yang terjadi antara para penjajah dengan bangsa yang dijajah. Tidak terlalu aneh.

            Di Indonesia, bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukung penjajahan, Pangeran Diponegoro adalah perampok, penjahat, dan provokator yang menghasut para petani untuk memberontak terhadap Belanda. Akan tetapi, bagi Indonesia, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan yang sangat dihormati hingga saat ini karena membela rakyat kecil, termasuk para petani.

            Haji Hasan  Arif dari Cimareme, Garut, adalah provokator, ekstrimis, dan penghasut karena memprovokasi para petani untuk tidak menyerahkan beras sebagai pajak kepada Belanda. Dia mengumpulkan para santri dari Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Sumedang, Bandung, dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat untuk berperang  melawan Belanda. Bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukungnya, Haji Hasan Arif adalah penjahat yang harus dibunuh karena melawan penjajahan. Akan tetapi, bagi Indonesia, khususnya rakyat Garut, Hasan Arif adalah pejuang, pahlawan karena melakukan perlawanan kepada Belanda.

            Omar Mochtar, bagi Italia adalah perampok, pembunuh, dan penjahat karena melakukan serangkaian serangan kepada pasukan Italia yang melakukan penjajahan pada Libya. Bagi rakyat Libya dan para pendukungnya, Omar Mochtar adalah pejuang, pahlawan, dan mujahid yang sangat dihormati. Ia sampai hari ini dikenal dengan gelarnya sebagai “Lion of The Desert”, ‘Singa Padang Pasir’.

            Hamas bagi Zionis Israel dan pendukungnya adalah penjahat karena melakukan perlawanan terhadap Israel yang menjajah Palestina. Bagi bangsa Palestina dan pendukungnya, saat  ini Hamas adalah pejuang dan pahlawan karena melakukan pembalasan atas kejahatan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

            Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sebutan pahlawan atau penjahat bergantung posisi kita. Jika kita mendukung penjajahan, mereka yang melawan penjajahan adalah penjahat. Sebaliknya, jika kita mendukung rakyat terjajah, mereka yang melawan penjajahan adalah pejuang dan pahlawan. Posisi kita menentukan pendapat kita.

            Secara konstitusi, rakyat Indonesia wajib mendukung rakyat terjajah dan harus anti terhadap penjajahan. Secara kemanusiaan yang berlaku universal, kita wajib mengakui bahwa semua manusia itu memiliki hak dasar yang sama untuk merdeka. Secara ketuhanan, kita harus memahami bahwa semua manusia itu memiliki kewajiban untuk hidup harmonis dan saling menyayangi.

Ingat bahwa  pendapat dan perilaku kita akan dimintai pertanggungjawaban di alam akhirat nanti.

Sampurasun.

Tuesday, 15 March 2016

Indonesia Harus Belajar Indonesia untuk Palestina

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sebagaimana yang pernah saya tulis bahwa Indonesia ini adalah miniatur dunia. Ada ribuan suku, ras, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan. Ada ribuan bahkan jutaan peristiwa yang terjadi berikut beragam penyelesaiannya. Semua masalah yang terjadi di dunia ini pernah pula terjadi di Indonesia dan Indonesia berhasil menyelesaikannya atau sedang menuju keberhasilan dalam penyelesaiannya. Sesungguhnya, pengalaman Indonesia dengan masalah dan penyelesaiannya itu harus dijadikan bahan atau dasar rujukan untuk menyelesaikan berbagai kemelut di seluruh dunia. Allah swt telah memberikan banyak pelajaran pada Indonesia, baik memberikan masalah maupun memberikan petunjuk untuk menyelesaikannya.

            Tak ada masalah di dunia ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia. Iya kan?

            Coba sebutkan satu saja masalah di dunia yang tidak pernah terjadi di Indonesia. Pasti tidak ada.

            Benar, kan?

            Salah!

            Makanya, kalau baca tulisan di internet itu hati-hati. Jangan tergiring para penulis yang berupaya mengacaukan pikiran pembacanya. Di internet ini banyak pembohong dan penipu. Tulisan saya di awal itu cuma menguji pembaca, apakah mudah ditipu atau tidak. Hal itu disebabkan saya yakin ketika membaca tulisan awal saya, ada banyak pembaca yang langsung percaya, padahal seharusnya jangan langsung percaya. Hati-hati.

            Sesungguhnya, ada masalah di dunia ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia, yaitu “pembunuhan presiden”.

            Benar, kan?

            Nah, yang ini pasti benar.

            Di Indonesia ini tidak pernah terjadi pembunuhan terhadap presiden. Seburuk apa pun presiden Indonesia, sebenci apa pun rakyat Indonesia terhadap presidennya, pembunuhan terhadap presiden bukanlah watak dan kultur bangsa Indonesia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang sistem politiknya sering dibangga-banggakan orang itu. Banyak sekali presidennya yang mengalami upaya pembunuhan. Bahkan, Banyak Presiden AS itu yang benar-benar mati dibunuh. Mengerikan sekali dan sama sekali tidak beradab.

            Akan tetapi, anehnya banyak orang di Indonesia ini yang suka memuja-muji sistem politik AS. Padahal, banyak pembunuhan di sana, termasuk pada pemimpin politiknya, juga penurunan moral dan peningkatan kemaksiatan. Negara dengan banyak pembunuhan dan penurunan moral begitu dijadikan contoh. Bego banget.

            Sudahlah, bukan itu yang ingin saya tulis. Itu mah cuma iseng aja ngingetin pembaca agar tidak mudah ditipu dan dibohongi.

            Kita patut mengacungkan jempol untuk Presiden Jokowi yang tegas sikapnya terhadap persoalan Israel-Palestina. Itu pun terbukti dengan koordinasi yang baik terhadap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang segera mengambil langkah-langkah politik dan diplomasi untuk mengejawantahkan sikap Indonesia tersebut.

            Sayangnya, setegas apa pun pemerintah Indonesia, sekasar apa pun rakyat Indonesia terhadap Israel,  seyakin apa pun Jokowi, selelah apa pun Retno Marsudi, Palestina tidak akan pernah berhasil melepaskan diri dari penjajahan Israel. Itu pasti.

            Hampir seluruh pengamat dunia dan Timur Tengah di Indonesia mengatakan bahwa kunci penyelesaian konflik Palestina-Israel adalah Israel sendiri. Artinya, Israel harus membuka diri untuk berdamai dan mengembalikan tanah dan harta rakyat Palestina yang telah dirampoknya agar bisa tercipta dua negara yang merdeka dan damai.

            Kalau kuncinya adalah Israel sendiri, sudah bisa dipastikan, konflik itu tidak akan pernah selesai dan Palestina akan terus menderita, bahkan akan lebih hancur dan diperbudak Israel. Hasil pengamatan yang menyerahkan kunci penyelesaian pada Israel adalah pernyataan yang menunjukkan bahwa “tak ada jalan lain” untuk menyelesaikan masalah dan membebaskan Palestina selain dari “kemurahan hati” Israel.

            Sampai kapan pun jika dunia berpandangan bahwa kuncinya adalah Israel sendiri, Palestina tidak akan pernah bebas dan akan semakin menyedihkan. Penjajah itu tidak akan pernah “bermurah hati” dan tidak akan pernah “membuka kunci pintu” untuk kebaikan bersama. Mereka akan terus menjajah dan merampok apa pun yang bisa mereka kuasai. Begitu kebiasaannya.

            Kita punya sejarah yang nyata. Belanda dan penjajah lainnya sering sekali melanggar perjanjian. Hasil-hasil perundingan dianggap hanya tulisan di kertas. Kita masih ingat bagaimana Pangeran Dipenogoro dicurangi, bagaimana pula penjajah tetap melancarkan agresi meskipun sudah ada perjanjian untuk tidak melakukan hal itu. Indonesia mengalami penderitaan dicurangi seperti itu. Oleh sebab itu, tak perlu heran jika Israel sering melanggar perjanjian dan tidak mematuhi resolusi PBB. Penjajah memang begitu tabiatnya.

            Kalau mau melepaskan diri dari penjajahan Israel, kuncinya bukanlah diserahkan pada Israel dan bukan pula pada dukungan Oki, bahkan bukan pula pada Indonesia. Kunci yang sebenarnya adalah ada pada Palestina sendiri, baik pemerintahnya, organisasi yang di dalamnya, dan seluruh rakyatnya.

            Mari kita lihat bagaimana Indonesia menghadapi penjajahan. Indonesia selalu kalah dan menderita dalam melawan penjajah. Penyebabnya adalah tidak ada persatuan dan kesatuan dalam melakukan perlawanan. Setiap kerajaan dan setiap organisasi perlawanan berjuang sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik. Oleh sebab itu, Ir. Soekarno menyadari betul hal itu sehingga bersama-sama tokoh nasionalis lainnya menyerukan persatuan dan kesatuan secara nasional untuk mencapai kemerdekaan bersama. Para founding fathers kita berupaya keras mewujudkan persatuan itu, baik dengan cara “terang-terangan” maupun dengan cara “sembunyi-sembunyi”. Seruan untuk bersatu itu mendapatkan sambutan yang hangat sehingga benar-benar tercipta perlawanan yang lebih terkoordinasi.

            Perbedaan paham dan hal lainnya dikesampingkan lebih dahulu. Ada tiga paham yang diperjuangkan untuk Indonesia merdeka ini, yaitu paham Islam, paham nasionalis, dan paham komunis. Ketiga paham ini sangat sering bentrok. Akan tetapi, ketika melakukan perlawanan, mereka bersama-sama mengusir penjajahan. Artinya, secara singkat dapatlah dikatakan bahwa saat itu kelompok-kelompok perlawanan mengesampingkan dahulu perbedaan agar tujuan awal bisa dicapai, yaitu kemerdekaan. Soal paham yang mana yang akan digunakan sebagai dasar negara, itu nomor dua. Nomor satu adalah merdeka dulu.

            Hal itu sebagaimana ceritera seorang kakek-kakek pejuang NII asli beberapa waktu lalu kepada saya.

            Sang Kakek itu bilang, “Kita ikuti Soekarno karena Soekarno janji yang penting merdeka aja dulu. Soal bentuk negara mau Islam, nasionalis, ataupun komunis, itu soal nanti. Kita merdeka aja dulu.”

            Nah, ajaran Soekarno ini bisa diekspor ke Palestina. Di sana itu perlawanan juga tidak terkoordinasi dengan baik. Setiap organisasi punya ego masing-masing, seperti di Indonesia masa dulu. Ada yang ngotot pengen dasar Negara Palestina adalah Islam. Ada pula yang keras hati ingin dasarnya sekuler. Tidak adanya persatuan dalam melakukan perlawanan sudah jelas melemahkan kekuatan diri Palestina sendiri. Itu sudah terbukti terjadi di Indonesia. Sesungguhnya, pemerintah Indonesia bisa “mengajari” Palestina tentang pentingnya persatuan tersebut berdasarkan pengalaman sejarah sendiri. Pemerintah Indonesia bisa bersama-sama dengan Oki memfasilitasi pertemuan di antara kelompok-kelompok yang bertikai di Palestina. Sadarkan mereka dengan sejarah Indonesia sendiri, yaitu soal negara mau dasarnya Islam atau sekuler, itu soal nanti, yang penting merdeka dulu. Bentuk negara atau hal lainnya itu bisa diselesaikan nanti setelah merdeka. Begitulah Indonesia telah merdeka dengan pengalamannya.

            Kunci kekuatan itu sebenarnya ada dalam tubuh Palestina sendiri. Kebebasan Palestina itu bukanlah bergantung pada Indonesia, Oki, Israel, ataupun negara-negara lain. Kebebasan Palestina adalah bergantung pada Palestina sendiri.

            Rakyat Indonesia pasti akan sangat senang dan mendukung penuh jika Indonesia dijadikan tempat bersejarah bagi bersatunya faksi-faksi yang sering bertikai di Palestina untuk melakukan perlawanan secara bersama terhadap Israel. Indonesia pun akan dicatat dunia sebagai negara yang sangat berpengaruh untuk menciptakan “perdamaian dunia”.

            Setelah orang-orang Palestina bersatu, tetapkan cara perjuangannya. Mau kooperatif atau nonkooperatif. Mereka harus memilihnya. Mereka bisa bekerja bersama Israel untuk menciptakan perdamaian atau memilih untuk tidak bekerja sama. Ajari pula bagaimana mereka caranya untuk melakukan perlawanan dengan cara diplomasi dan militer. Indonesia sangat berpengalaman bagaimana menyinergikan perjuangan militer dengan perjuangan melalui jalur diplomasi.

            Ingatkan pula penderitaan Indonesia ketika penjajah melakukan politk devide et impera, ‘politik adu domba’, ‘politik belah bambu’. Penjajah akan melakukan hal itu di mana pun. Sejarah sudah membuktikannya. Kita diadu domba di antara sesama bangsa sendiri. Politik adu domba ini sangat mungkin terjadi di Palestina. Dengar-dengar Hamas itu partai yang dibentuk Israel untuk menjatuhkan Yaser Arafat dan PLO-nya. Itu sudah jadi tanda bahwa orang Palestina juga diadudomba oleh Israel.

            Kunci Palestina merdeka adalah pada diri Palestina sendiri. Mereka harus bersatu bersama senasib sepenanggungan. Indonesia harus menjadi motor utama dalam perdamaian sehingga tercipta dua negara merdeka, yaitu Palestina Merdeka dan Israel Merdeka. Negara-negara anggota Oki lainnya harus pula berada di belakang Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia, bukan cuma pinter rebutan minyak aja di negaranya masing-masing.

            Kalau Indonesia berhasil mentransfer pengetahuan, semangat, sejarah, dan energi Indonesia ke Palestina, Indonesia akan dicatat dalam tinta emas sejarah dunia sebagai “Negeri Ramah Penuh Berkah Pencipta Perdamaian”. Yang mencatat bukan hanya sejarah dunia, melainkan pula para malaikat dan Allah swt. Negeri ini akan mendapatkan banyak ampunan dari Allah swt, baik di dunia maupun di akhirat. Amin.