Showing posts with label Pahlawan. Show all posts
Showing posts with label Pahlawan. Show all posts

Wednesday, 19 May 2021

Antara Pahlawan dan Penjahat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Israel dan Palestina memunculkan dua kubu pemikiran di tanah air Indonesia. Ada yang pro-Palestina dan ada yang pro-Israel. Mayoritas adalah yang pro-Palestina, sedangkan yang pro-Israel jumlahnya hanya beberapa gelintir orang, sebagaimana jumlah orang Israel yang juga sangat sedikit, dengan jumlah penduduk DKI Jakarta saja beda-beda tipis, sekitar sembilan juta orang. Dilihat dari opini yang beredar, para pendukung Israel ini miskin data, berpendapat hanya parsial, tidak utuh, dan menyandarkan pendapatnya dari sumber-sumber Israel. Mereka membenci Hamas yang dianggapnya penjahat dan teroris karena melawan Israel. Padahal, Hamas eksis itu disebabkan perilaku Israel yang banyak melakukan kejahatan kepada bangsa Palestina.

Jika Israel dari dulu mau secara beradab mengikuti program “two state solution”, ‘solusi dua negara merdeka’, yaitu di wilayah itu tercipta Negara Israel Merdeka dan Palestina Merdeka dengan hidup berdampingan, situasinya akan jauh berbeda, persoalan bisa diselesaikan dengan cara berdialog dan diskusi-diskusi yang jauh lebih elegan. Akan tetapi, zionis lebih memilih jalan premanisme, terorisme, dan kriminalisme yang mengakibatkan situasi semrawut hingga saat ini. Mereka memang kurang belajar dari sejarah mereka sendiri yang penuh masalah dan penuh kekacauan dari zaman ke zaman.

            Bagi zionis dan para pendukungnya, termasuk yang berada di Indonesia, Israel memiliki hak untuk melakukan kekerasan dan kekejaman terhadap bangsa Palestina dengan dalih bahwa Israel pun berhak hidup dan membela dirinya. Oleh sebab itu, bagi mereka, Hamas adalah penjahat yang harus dimusnahkan karena melawan Israel. Bagi Palestina dan para pendukungnya di seluruh dunia, Zionis Israel adalah penjahat karena menjajah Palestina. Hamas adalah pahlawan yang mengimbangi berbagai kejahatan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

            Sesungguhnya, perbedaan pendapat dan pemikiran ini selalu ada dalam setiap konflik yang terjadi antara para penjajah dengan bangsa yang dijajah. Tidak terlalu aneh.

            Di Indonesia, bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukung penjajahan, Pangeran Diponegoro adalah perampok, penjahat, dan provokator yang menghasut para petani untuk memberontak terhadap Belanda. Akan tetapi, bagi Indonesia, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan yang sangat dihormati hingga saat ini karena membela rakyat kecil, termasuk para petani.

            Haji Hasan  Arif dari Cimareme, Garut, adalah provokator, ekstrimis, dan penghasut karena memprovokasi para petani untuk tidak menyerahkan beras sebagai pajak kepada Belanda. Dia mengumpulkan para santri dari Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Sumedang, Bandung, dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat untuk berperang  melawan Belanda. Bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukungnya, Haji Hasan Arif adalah penjahat yang harus dibunuh karena melawan penjajahan. Akan tetapi, bagi Indonesia, khususnya rakyat Garut, Hasan Arif adalah pejuang, pahlawan karena melakukan perlawanan kepada Belanda.

            Omar Mochtar, bagi Italia adalah perampok, pembunuh, dan penjahat karena melakukan serangkaian serangan kepada pasukan Italia yang melakukan penjajahan pada Libya. Bagi rakyat Libya dan para pendukungnya, Omar Mochtar adalah pejuang, pahlawan, dan mujahid yang sangat dihormati. Ia sampai hari ini dikenal dengan gelarnya sebagai “Lion of The Desert”, ‘Singa Padang Pasir’.

            Hamas bagi Zionis Israel dan pendukungnya adalah penjahat karena melakukan perlawanan terhadap Israel yang menjajah Palestina. Bagi bangsa Palestina dan pendukungnya, saat  ini Hamas adalah pejuang dan pahlawan karena melakukan pembalasan atas kejahatan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

            Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sebutan pahlawan atau penjahat bergantung posisi kita. Jika kita mendukung penjajahan, mereka yang melawan penjajahan adalah penjahat. Sebaliknya, jika kita mendukung rakyat terjajah, mereka yang melawan penjajahan adalah pejuang dan pahlawan. Posisi kita menentukan pendapat kita.

            Secara konstitusi, rakyat Indonesia wajib mendukung rakyat terjajah dan harus anti terhadap penjajahan. Secara kemanusiaan yang berlaku universal, kita wajib mengakui bahwa semua manusia itu memiliki hak dasar yang sama untuk merdeka. Secara ketuhanan, kita harus memahami bahwa semua manusia itu memiliki kewajiban untuk hidup harmonis dan saling menyayangi.

Ingat bahwa  pendapat dan perilaku kita akan dimintai pertanggungjawaban di alam akhirat nanti.

Sampurasun.

Thursday, 10 November 2016

Amerika Serikat Tak Siap Kesetaraan Gender

oleh Tom Finadin


Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) atas Hillary Clinton, tak lepas dari perilaku dan suasana kebatinan rakyat AS sendiri. Angka hasil pemilihan di AS dapat dijadikan cermin bagaimana sebenarnya perilaku batin rakyat AS kebanyakan. Seorang pengusaha AS dalam bidang IT, Timothy Francis, yang diwawancarai tvOne secara langsung dari AS, menyatakan bahwa kekalahan Hillary Clinton salah satunya disebabkan oleh “tidak siapnya rakyat AS menerima perempuan sebagai pemimpin atau presiden”. Rakyat AS ternyata seperti itu, masih mempersoalkan jenis kelamin dalam hal kepemimpinan.

            Saya hanya ingin tertawa terbahak-bahak. Bukan menertawakan AS, melainkan menertawakan orang-orang sok tahu dan sok pintar di Indonesia. Banyak aktivis kesetaraan gender di Indonesia sangat sering merendahkan pandangan, nilai, dan norma bangsanya sendiri, Indonesia, sebagai masih terbelakang karena mendahulukan pria untuk menjadi pemimpin serta meminggirkan kaum perempuan dalam soal politik dan hubungan sosial. Banyak aktivis dan politisi sejenis ini yang sering sekali membanding-bandingkan antara Indonesia dengan Amerika Serikat mengenai kesetaraan gender. Mereka dengan sangat yakin bahwa Amerika Serikat lebih maju karena tidak menghalangi perempuan untuk menjadi pemimpin. Kata mereka rakyat AS sudah berpikiran sangat terbuka karena tidak mempermasalahkan antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi pemimpin. Mereka sangat yakin bahwa AS lebih beradab dibandingkan Indonesia.

            Dasar sok tahu orang-orang ini!

            Dasar Penipu!

            Mereka berbicara sok cerdas dengan mengharapkan Indonesia menjadi seperti AS dengan memberikan kesempatan yang luas bagi kaum perempuan.

            Dasar banyak omong tanpa ilmu kalian!

            Sampai sekarang saja Amerika Serikat menurut Timothy Francis masih enggan untuk memiliki presiden berjenis kelamin perempuan sehingga Donald Trump menjadi Presiden AS ke-45. Jadi, para aktivis dan politisi yang sok tahu dan penipu itu sudah terpenjara pikirannya dengan selalu menganggap bahwa apa pun tentang AS pasti bagus dan apa pun tentang Indonesia pasti buruk dan terbelakang. Lalu, pengetahuan mereka yang terbatas itu digunakan untuk merendahkan Indonesia dan Islam dengan membuat ilustrasi bahwa Islam dan Indonesia menghalangi perempuan untuk maju.

            Bodoh orang-orang ini!

            Mereka pantas ditertawakan … hahahahahaha …!

            Soal gender ini justru Indonesia lebih bagus. Indonesia pernah punya presiden perempuan, yaitu Megawati Soekarnoputeri. Bahkan, sesungguhnya sejak zaman dulu pun Indonesia sudah memberikan kesempatan yang teramat luar biasa bagi perempuan untuk aktif dalam berbagai bidang kehidupan asal para perempuannya bisa aktif di luar rumah. Tak ada yang menghalangi perempuan Indonesia untuk berkiprah dalam kehidupan. Jauh sebelum orang-orang kulit putih itu teriak-teriak soal kesetaraan gender, Indonesia sudah memiliki banyak pemimpin perempuan.

            Saya ingatkan lagi soal ini.

            Soekarno mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan Indonesia itu ibarat dua sayap burung Garuda. Burung Garuda bisa terbang sangat tinggi jika kedua sayapnya kuat dan sehat. Jika salah satu sayapnya sakit, Garuda pun tidak bisa terbang tinggi.

            Hal itu menunjukkan bahwa Soekarno sangat mendukung para perempuan dalam memajukan bangsa dan negara bersama kaum laki-laki. Bahkan, dalam hal pendidikan, jika dalam sebuah keluarga mengalami kesulitan ekonomi untuk menyekolahkan anaknya, anak yang harus lebih dulu mendapatkan pendidikan adalah anak perempuan, bukan anak laki-laki. Biarkan anak laki-laki belakangan. Dahulukan anak perempuan. Soekarno menjelaskan bahwa anak perempuan harus lebih dahulu mendapatkan pendidikan karena akan menjadi ibu dan harus mendidik putera-puterinya untuk masa depan. Di samping itu, Soekarno menjelaskan bahwa kaum pria hanya bekerja sepanjang siang, sedangkan perempuan bekerja siang dan malam.

            Apa lagi yang diragukan mengenai penghormatan Indonesia kepada kaum perempuannya?

            Jangan sedikit-sedikit mencontohkan luar negeri. Sedikit-sedikit Amerika Serikat. Sedikit-sedikit Eropa. Sebetulnya, bangsa Indonesia ini sudah membebaskan perempuan untuk bergerak dan berprestasi dari dulu. Asal perempuannya mau dan bisa, tidak ada yang akan menghalangi. Akan tetapi, kalau tidak mau dan tidak bisa, jangan teriak-teriak pengen bebas dan memiliki hak sama.

            Memangnya mau melakukan apa teriak-teriak tentang kebebasan?

            Pengen bebas keluyuran?

            Pengen bebas berbuat maksiat?

            Tidak perlu teriak-teriak soal kesamaan hak. Perempuan Indonesia itu dari dulu sudah bebas kok asal mau dan bisa.

            Nggak percaya?

            Perhatikan para perempuan yang bebas bergerak tanpa harus teriak tentang persamaan hak dan Ham dari luar negeri itu!

            Subanglarang, Permaisuri Raja Sunda Pajajaran. Ia hidup antara abad 16-17 Masehi. Subanglarang adalah ratu yang melahirkan Raden Kian Santang, Pangeran Sunda yang menyebarkan Islam di tanah Pasundan. Subanglarang mendirikan pesantren besar dan mendapat cinderamata dari Laksamana Cina Cheng Ho berupa mercusuar.

            Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan serta mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Ia pun melarang rakyat untuk memiliki emas. Ia sadar emas bisa membuat rakyatnya jahat dan gemar bertengkar.  Ia pernah menghukum anaknya sendiri karena kaki anaknya tidak sengaja menyentuh karung emas.

            Dyah Pitaloka Citraresmi, hidup antara 1340-1357 Masehi. Ia  adalah Puteri Kerajaan Sunda. Ia adalah perempuan tercantik di seluruh kerajaan kepulauan Nusantara. Banyak raja yang ingin memperistri Dyah Pitaloka dan tak ada perempuan yang membuat Raja Majapahit Hayam Wuruk jatuh cinta, kecuali Dyah Pitaloka Citraresmi.

            Ia perempuan yang sangat berani. Ia tetap melakukan perlawanan meskipun seluruh prajurit dan keluarganya telah gugur dalam Perang Bubat. Ia sendirian bertahan melawan 5.000 pasukan musuh. Dyah Pitaloka Citraresmi tetap mempertahankan harga diri Kerajaan Sunda dari penghinaan musuh-musuhnya. Sampai hari ini ada ribuan gadis Sunda yang menggunakan nama Dyah Pitaloka.

            Cut Nyak Dhien, pemimpin besar Perang Kerajaan Islam Aceh yang hidup antara  1848–1908. Sepanjang hidupnya bertempur melawan penjajahan Belanda. Dia tidak pernah kalah perang. Teriakan Allahu Akbar adalah senjatanya.

            Akan tetapi, ketika sudah tua, ia sakit. Seorang pasukannya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Ia ingin Belanda mengobati Cut Nyak Dhien. Belanda setuju. Akan tetapi, Cut Nyak Dhien marah.

            Meskipun dirawat di rumah sakit, ia tetap berhubungan dengan pasukan Aceh untuk terus bertempur.  Akhirnya, Belanda memindahkan Cut Nyak Dhien ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal di sana.

            Gambar Cut Nyak Dhien menjadi gambar salah satu pecahan mata uang kertas Indonesia.

            Cut Nyak Meutia. pejuang perang Aceh yang hidup pada 1870-1910. Ia bersama suaminya yang bernama Teuku Muhammad melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

            Raden Dewi Sartika adalah pahlawan pendidikan yang lahir di Bandung. Ia hidup antara 1884–1947. Ia adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika adalah orang pertama yang membuka sekolah untuk perempuan, “Sakola Istri”.

            Raden Adjeng Kartini, puteri bangsawan Jawa. Ia hidup  antara 1879-1904. Ia gemar membaca majalah-majalah Eropa. Ia kemudian berhubungan melalui surat menyurat dengan teman-temannya di Eropa. Setelah Kartini meninggal, surat-surat itu dikumpulkan kemudian menjadi buku, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

            Rangkayo Rasuna Said, perempuan pejuang antikolonial yang hebat. Ia hidup antara 1910 s.d. 1965. Tulisan-tulisannya yang sangat tajam menyerang pemerintah Kolonial Belanda. Akibatnya, ia sempat ditahan Belanda. Kemudian, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat. Setelah itu, ia kembali dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

            Maria Walanda Maramis  hidup pada 1872-1924. Ia lahir dalam keluarga pejuang antikolonialis. Kakaknya, Andries Maramis, adalah aktivis yang  memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian, ia pernah menjadi menteri dan duta besar Indonesia.

            Maria Walanda Maramis adalah perempuan yang sangat memperhatikan tugas dan tanggung jawab perempuan, baik di dalam rumah tangga sebagai ibu, sebagai istri, maupun sebagai pendidik. Ia kemudian mendirikan organisasi  Percintaan Ibu kepada Anak Temurunannya (Pikat). Tujuan organisasi ini adalah untuk mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar dalam hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

            Martha Christina Tiahahu, pemberani yang hidup antara 1800-1818. Pada usia 17 ia melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia selalu mendampingi ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu dalam menyerang Belanda. Ia selalu mengobarkan semangat perang prajuritnya dan mengajak para perempuan untuk ikut berperang. Akibatnya, Belanda kewalahan mendapat perlawanan dari para perempuan. Karena semangat dan keberaniannya, pemerintah Indonesia membuat patung Martha Christina Tiahahu.

            Siti Walidah Ahmad Dahlan hidup pada 1872-1946. Ia adalah Istri Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. Siti sangat memperhatikan kaum perempuan. Oleh sebab itu, ia mendirikan organisasi perempuan yang bernama Sopo Tresno  untuk mendidik kaum perempuan. Ia bersama suaminya mengganti nama Sopo Tresno menjadi Aisyiyah. Nama itu berasal dari nama isteri Nabi Muhammad saw, Aisyah ra. Dalam organisasi itu, ia mendirikan lembaga pendidikan bagi para perempuan. Para perempuan dididik agar mampu menjadi pendidik di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ia adalah perempuan pertama yang memimpin rapat besar organisasi besar Muhammadiyah di Indonesia.

            Nyi Ageng Serang terlahir dengan nama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Nyi Ageng Serang merupakan puteri dari Pangeran Natapraja, seorang penguasa daerah Serang, Jawa Tengah yang juga merupakan Panglima Perang Sultan Hamengkeu Buwono I. Nyi Ageng juga merupakan salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga penyebar Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia.

            Ketika menjadi penguasa Serang, banyak rakyatnya kelaparan dan mengalami kesengsaraan akibat ulah dari penjajah Belanda. Ia selalu membantu kesengsaraan rakyatnya dengan membagi-bagikan pangan. Selain itu, ia juga melakukan perlawanan fisik untuk mengusir pasukan Belanda dari tanah kelahirannya itu.

            Ia pun ikut dalam Perang Diponegoro pada 1825. Atas jasa dan keberaniannya, pemerintah Indonesia membuat monumen Nyi Ageng Serang.

            Opu Daeng Risadju, anggota keluarga bangsawan Luwu.  Ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, pada 1880. Dalam sepanjang hidupnya ia dididik ajaran dan nilai-nilai moral baik yang berlandaskan budaya maupun agama Islam.

            Opu Daeng Risaju melakukan perlawanan terhadap kejahatan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang berkeinginan untuk menjajah kembali Indonesia. NICA memutuskan untuk mengobrak-abrik masjid bahkan menginjak Al-Quran. Opu Daeng Risaju pun segera membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.

            Indonesia sejak dulu sudah sangat menghormati perempuan. Bahkan, semakin tua perempuan, semakin besar kekuasaannya di Indonesia ini. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan peneliti Belanda (saya lupa lagi namanya) disebutkan bahwa hidup kaum perempuan Indonesia masa lalu terbagi dalam tiga fase penting, yaitu masa kanak-kanak yang penuh keriangan dan kesenangan, masa kepatuhan kepada suami, dan masa penuh kekuasaan ketika menjadi seorang nenek. Ketiga masa itu adalah sangat bagus dan penuh kehormatan dibandingkan masa sekarang yang terlalu bangga dengan perilaku-perilaku impor dari negara lain. Masa sekarang ini malah cenderung mengkhawatirkan karena perempuan Indonesa bisa terjerumus ke dalam empat fase kehidupan penting yang negatif, yaitu: masa kanak-kanak yang penuh kebingungan karena kurang pengawasan, masa remaja yang penuh kegalauan tanpa bimbingan, masa pernikahan yang rentan perceraian akibat perselingkuhan, dan masa pembuangan ke panti jompo setelah menjadi nenek.

            Mana yang lebih baik, masa lalu yang diikat oleh keluhuran norma dan budaya asli Indonesia atau masa sekarang yang bangga dengan perilaku impor bangsa asing?

            Orang waras yang punya otak cerdas dan jernih pasti bisa menjawabnya dengan mudah.

            Dengan demikian, jangan suka sok tahu dengan mengatakan bahwa orang-orang Barat peradaban nilai dan normanya lebih hebat dibandingkan Indonesia. Sementara itu, Indonesia masih terbelakang karena tidak menghargai perempuan. Padahal, Hillary Clinton tidak bisa menjadi presiden AS salah satunya disebabkan dia perempuan. Ini terjadi pada abad modern.

            Paham, ya?


            Masa tidak paham.

Tuesday, 10 November 2015

Mendoakan Orang yang Tidak Jelas Adalah Kebegoan



oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Doa adalah senjata orang beriman. Itu jelas. Doa bisa menembus batas waktu dan tempat. Ia akan menarik energi ketuhanan sebagaimana kalimat-kalimat yang dipanjatkan dan akan memberikan energi ekstra bagi pendoanya. Orang yang gemar berdoa hatinya akan lembut dan penuh percaya diri dalam menapaki kehidupan ini. Allah swt adalah satu-satunya zat yang membuatnya kuat dan tenang sepanjang hidupnya.

            Doa pun berarti permohonan agar Allah swt memberikan atau menganugerahkan sesuatu sesuai dengan keinginan pendoanya. Doa pun berarti pengakuan diri bahwa pendoa adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan dari Zat Mahakuat, Allah swt.

            Berdoa untuk orang lain adalah sangat baik. Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa jika kita berdoa untuk kebaikan orang lain, saat itu pula ada seribu malaikat yang berdoa untuk kita. Jadi, berdoa untuk orang lain itu memiliki manfaat positif pula bagi pendoanya yang jauh berlipat ganda kebaikannya dibandingkan dengan doa yang kita panjatkan.

            Berdoa untuk orang lain adalah bagus. Akan tetapi, akan menjadi aneh jika kita mendoakan orang-orang yang tidak jelas, orang-orang yang tidak kita ketahui manfaatnya bagi diri kita, orang-orang yang hanya diklaim sebagai orang baik tanpa kita tahu sejauh mana kebaikannya, orang-orang yang hanya diiklankan sebagai pemimpin tanpa kita tahu apa manfaatnya dia bagi kita, orang-orang yang hanya dikampanyekan sebagai orang shaleh tanpa kita tahu dengan jelas keshalehannya.

            Hal yang lebih lucu adalah jika mendoakan pemimpin negara lain yang sama sekali tidak memberikan manfaat apa pun bagi kita. Bahkan, ada banyak orang di Indonesia ini yang begonya bukan main. Orang-orang bego ini mendoakan pemimpin negara lain, baik yang masih hidup maupun yang sudah modar sejak lama dan menginginkan orang-orang Indonesia serta Negara Indonesia untuk mengekor pada para pemimpin negara lain itu. Aneh. Padahal, orang-orang bego itu sendiri tidak pernah mendapatkan manfaat apa pun dari orang yang disanjung-sanjungnya itu. Aneh bin tolol. Begonya, mereka yakin bahwa kebegoannya itu adalah suatu kebaikan. Benar-benar goblok. Gilanya lagi orang-orang bego itu bikin-bikin acara seperti tradisi negara lain yang aneh dan dianggap suatu ritual utama sesuai anjuran dari para pemimpin negara lain itu. Kusut pikiran mereka itu.

Ngapain sih mereka melakukan hal-hal tolol serupa itu?

Pernah mendapat keuntungan apa sih dari para pemimpin negara lain itu?

Mengapa begitu yakin jika mengikuti para pemimpin yang tidak bermanfaat itu bakalan masuk sorga?

Emang pernah ada jaminan dari Allah swt bahwa mereka itu adalah sudah dipastikan masuk sorga?

Benar-benar herman saya … eh … heran saya.

Nih, saya kasih tahu bahwa yang lebih baik kita doakan itu adalah Ir. Soekarno, Proklamator RI, yang sejak muda sudah mencintai bangsanya dan menderita berulang-ulang ditahan pihak kolonialis. Dia berjuang untuk kita dan kita pun mendapatkan manfaat dari Ir. Soekarno. Dia adalah orang yang sangat pantas didoakan daripada mendoakan pemimpin negara lain yang tidak jelas juntrungnya.

Yang pantas didoakan itu adalah Jenderal Sudirman yang sekuat tenaga dalam keadaan sakit keluar masuk hutan untuk kemerdekaan Indonesia. Meskipun sudah dinasihati banyak orang untuk beristirahat, ia tidak mau berhenti berjuang.

Ia dengan tegas dalam keadaan sakit parah mengatakan, “Sudirman boleh sakit, tetapi Jenderal Sudirman tidak boleh sakit.”

Hebat kan perjuangannya?

Kita orang Indonesia mendapatkan manfaat dan keuntungan dari sepak terjangnya Jenderal Besar Sudirman. Bodoh jika kita merasa dirugikan oleh Jenderal Sudirman. Dialah yang lebih berhak untuk kita doakan dibandingkan para petinggi negara lain yang gemar mengafirkan orang itu.

Yang pantas didoakan itu adalah Mohammad Natsir yang banyak memberikan pencerahan dan pelajaran berharga bagi Indonesia. Ia adalah intelektual nomor wahid yang pikirannya tajam dan jauh ke depan sehingga bangsa Indonesia mendapatkan banyak wawasan dalam berbangsa dan bernegara. Dia adalah orang yang pantas kita doakan daripada orang-orang yang mengklaim diri sebagai orang yang dekat dengan Tuhan, tetapi gemar berbohong.

Yang pantas didoakan dan didengar nasihatnya itu adalah Prabu Kian Santang, Buya Hamka, Tjut Nyak Dhien, Tuanku Tambusai, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Ternate, Hasanuddin, dan ribuan pahlawan Indonesia lainnya yang telah bertaruh nyawa untuk kita. Sangatlah goblok kita jika mendoakan orang-orang yang hanya dikabarkan sebagai orang berilmu, tetapi justru menebar perpecahan di antara kita.

Tradisi yang pantas diikuti adalah tradisi yang diciptakan para wali. Para wali itu menciptakan tradisi untuk suasana gotong royong, kebersamaan, dan harmonisasi kehidupan. Beda banget dengan tradisi yang dijalankan di luar negeri yang diklaim sebagai ritual utama, tetapi penuh dengan kekerasan dan menumbuhkan dendam serta kebencian.

Kalian mengerti apa yang saya tulis ini?

Kebangetan kalau kalian tidak mengerti!

Yang pantas kita doakan dan kita dengar nasihatnya adalah mereka yang benar-benar mencintai kita dan membuktikannya dalam sepanjang hidup mereka, bukan orang-orang yang berasal dari luar negeri yang hanya berupaya menyebarkan pengaruh dan menimbulkan kekisruhan di antara kita, bahkan sama sekali tidak memberikan manfaat apa pun bagi kita.

Sudah jangan berperilaku bego lagi ngikut-ngikut orang-orang yang hanya mengklaim diri sebagai orang benar, tetapi tidak membuktikan diri sebagai orang yang mencintai kita dan peduli dengan cinta itu sendiri.

Kalian ngerti ini?

Harus!



Tuesday, 26 October 2010

Buka Dulu Catatan Sejarahnya, Baru Bicarakan Pantas-Tidaknya Soeharto Jadi Pahlawan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Baru-baru ini ramai diperbincangkan Soeharto diusulkan menjadi pahlawan. Ah, ... sebuah wacana yang memalukan. Sejatinya, rakyat negeri ini sangat menghargai para pemimpinnya, para pejuang, dan penggerak pembangunan. Akan tetapi, orang-orang pintar di negeri ini jangan menjadikan rakyat yang begitu baik sebagai objek sasaran penipuan untuk kepentingan segelintir manusia.

Soeharto boleh menjadi pahlawan, tetapi sebelumnya harus dibuka dulu catatan sejarahnya. Ia jatuh karena dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menggerogoti bangsa ini. Belum lagi kebijakan-kebijakannya yang membungkam suara-suara arus bawah. Tambahan pula yang sampai saat ini menjadi misterius, yaitu tentang peristiwa G-30-S yang berujung pada pembunuhan jutaan jiwa warga Indonesia. Posisi yang pernah dipegangnya sebagai pemulih keamanan malah membuat situasi kacau penuh dendam, huru-hara, bukannya menjadi stabil dan kondusif. Di samping itu, banyak hal yang perlu dijelaskan semasa kepemimpinannya yang ternyata membuat banyak aset nasional yang dinikmati pihak asing kapitalis, bukan untuk rakyat Indonesia.

Kalau soal pembangunan dan peningkatan ekonomi, itu kan cuma hutang yang belakangan ini harus dibayar oleh rakyat yang terus-menerus hidup dalam penderitaan dengan aneka ragam jenis pajak. Soal ekonomi dan pembangunan itu sama sekali Soeharto tidak memilik keistimewaan. Orang lain pun bisa lebih hebat dari dia jika memiliki banyak fasilitas seperti yang pernah dikuasainya.

Malahan, sampai saat ini saya masih curiga bahwa dana-dana pembangunan itu berasal dari pihak-pihak kapitalis yang telah diuntungkan dengan kejatuhan Soekarno berikut pembantaian anggota-anggota PKI yang jumlahnya jutaan itu. Artinya, dana-dana untuk pembangunan dan peningkatan ekonomi itu bisa saja cuma berupa bayaran karena Soeharto telah menjadi tukang pukul kapitalis. Itu artinya, bisa sama saja nilainya dia itu dengan preman jalanan yang disewa untuk memukul atau membunuh seseorang yang sesudahnya diberi upah atas hasil kejahatannya. Diakah pahlawan kita? Malu-maluin aja....!

Sebagaimana tadi disebutkan, sesungguhnya rakyat negeri ini, termasuk saya akan sangat mendukung sepenuh hati Soeharto menjadi pahlawan kebanggaan negeri ini, tetapi sebelumnya harus dibuka dahulu secara jujur hal-hal yang sampai saat ini masih menjadi kecurigaan masyarakat mengenai berbagai hal semasa kepemimpinannya. Harus dijelaskan praktik-praktik KKN yang masih belum terbuka, penculikan dan pembunuhan aktivis, G-30-S, Supersemar, pengkhianatan terhadap Ir. Soekarno, dan lain sebagainya. Kalau itu dapat dibuka dengan jelas dan jujur serta ternyata Soeharto adalah memang orang baik-baik, why not?

Jangan gunakan kalimat-kalimat bodoh semacam setiap orang memiliki kesalahan, tetapi memiliki juga sisi positif. Itu adalah kalimat racun dalam kasus ini. Lihat para pahlawan lain yang tidak kontroversial, mereka juga manusia yang punya kesalahan, tetapi jasanya bagi negeri teramat besar dan penolakan terhadap mereka untuk menjadi pahlawan sangatlah kecil, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Berbeda jauh dengan Soeharto yang ketika diusulkan, penolakannya sangat besar karena dalam ingatan banyak orang keburukannya sangatlah masih terasa.

Saya mengusulkan, sudahi percekcokan soal ini. Soeharto masih sangat sulit untuk dijadikan pahlawan. Adalah lebih baik bagi penggemarnya untuk berdoa agar berbagai kesalahannya dapat diampuni atau setidak-tidaknya dikurangi oleh Allah swt. Percekcokan soal ini bisa saja sangat terasa ke alam sana, alam tempat Soeharto sekarang berada. Percekcokan ini malahan merugikan Soeharto sendiri karena akan banyak gugatan kepadanya, padahal sebenarnya dia saat ini sangat menanti-nanti doa dari banyak orang karena ia tak lagi memiliki kesempatan untuk menambah catatan pahalanya dan mengurangi dosa akibat kesalahannya. Jika mencintai Soeharto, sudahi berbagai hal yang akan membuatnya tampak buruk dan lebih buruk lagi, sebaiknya doakan dan terus doakan.