Showing posts with label Israel. Show all posts
Showing posts with label Israel. Show all posts

Tuesday, 24 March 2026

Israel Takut pada Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel. Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald Trump berkuasa untuk yang kedua kali.

            Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.

            Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.


Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co)


            Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel Aviv saya dapatkan dari Tagar co.

            Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep dan semangat “two state solution”, solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan menyesatkan masyarakat Indonesia.

            Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah pasukan Indonesia bertugas di Gaza.

            Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel. Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.

            Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak ingin berkelahi dengannya.”

            Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.

            Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.

            Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif. Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir. Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.

            Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa cinta?

            Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?

            Itulah yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh. Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.

            Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.

            Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel. Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI, negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.

            Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi diri dari situasi yang sudah sangat kusut.

            Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.

            Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun.

            Sampurasun.

Monday, 23 March 2026

Iran Berdangdut: Taaarik Maang!

 

oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika ditanya tentang Negara Iran yang sedang berperang melawan Amerika Serikat-Israel, Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab, “Sesungguhnya Iran sedang bermain catur.”

            Putin menjawab seperti itu karena Rusia dipenuhi para pemain catur tingkat dunia. Ada Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan yang lainnya mendominasi permainan catur dunia di samping pemain-pemain nasional dan internasional lainnya.

            Saya melihat Iran itu sedang berdangdut karena Indonesia dipenuhi musisi dangdut. Ada Raja Dangdut Rhoma Irama, Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, dan musisi lainnya di tingkat nasional dan internasional.

            Intinya, pendapat seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungannya. Dia memisalkan sesuatu sesuai dengan hal-hal yang diperhatikannya sehari-hari.


Netanyahu (Foto: AA)


Donald Trump (Foto: Classic FM)


Tarian tradisional Iran (Foto: Orienttrips) 


            Iran bisa diibaratkan penari dangdut, sedangkan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah pemain instrumennya dan penyanyinya. Iran menari, berjoget karena AS-Israel memainkan lagu dangdut yang tak bisa ditolak untuk dijogetin. Tadinya, AS-Israel hanya memainkan sebuah lagu dengan harapan Iran akan letih berjoget hanya dengan satu lagu. Akan tetapi, kenyataannya Iran memiliki tubuh dan gerakan yang sangat prima. Iran tak berhenti berjoget dangdut dan disemangati penonton. Hal tersebut membuat AS-Israel tak bisa berhenti memainkan musik dangdut karena akan dibuli penonton sebagai musisi lemah.

            Lagu dangdut terus dimainkan dan membuat AS-Israel mulai lemah serta kebingungan memainkannya. Mereka meminta Iran untuk berhenti berjoget, tetapi Iran menolaknya, ingin terus berdangdut.

            Iran bahkan meminta lagu yang ada liriknya, “Kau yang memulai, kau yang mengakhiri ….”

            Akibatnya, AS-Israel marah dan akan memainkan lagu hingga lebih dari sepuluh lagu yang akan membuat Iran lelah, pingsan, bahkan mati dipermalukan di depan penonton. Akan tetapi, Iran menunjukkan ketahanannya dalam berjoget dan mendapatkan pujian dari penonton.

            Iran bahkan menantang AS-Israel dengan teriakan, “Taaarik Maaang!”

            Hal itu memaksa AS-Israel terus memainkan musik meskipun telah sangat lelah, tetapi tidak tahu bagaimana caranya berhenti tanpa harus menanggung malu di depan penonton. Mereka terpaksa bertahan sambil kebingungan untuk menghentikan Iran yang tetap semangat berjoget. Panggung itu menjadi pusat perhatian dunia dan penonton mulai melihat siapa yang sebenarnya letih, lelah, berdarah, limbung, hampir pingsan, dan akan mendapat malu dengan teriakan, “Huuu …!”

            “Kau yang memulai, aku yang menentukan syarat untuk mengakhirinya,” kata Iran.

            Kartun Netanyahu saya dapatkan dari AA hasil karya Hanitzsch kartunis Jerman, Donald Trump milik Classic FM. Ilustrasi tarian Iran dari Orienttrips, bukan tarian dangdut, melainkan tarian tradisional Iran.

            Sampurasun.

Tuesday, 17 March 2026

Penyebar Hoaks Makin Murahan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hoaks itu berbeda jauh dengan kritikan. Kritik itu menunjukkan hal yang dianggap salah dengan harapan ada perbaikan sehingga kesalahan itu tidak lagi terulang dan terjadi peningkatan kualitas positif. Adapun hoaks adalah berita bohong, dusta, penyesatan, fitnah dengan maksud memengaruhi orang agar terjerumus dalam tipuan, tujuannya adalah mendapatkan uang dari kebohongan itu.


(Foto: Kementerian Komunikasi dan Digital)


            Saya mengenal ada profesi hoaks itu ketika kepemimpinan Jokowi sebagai presiden RI periode pertama. Saat itu masih jarang di Indonesia orang yang  mahir dan berani menulis hal-hal yang memengaruhi massa dalam jumlah banyak dengan dasar kebohongan, rasa marah, sakit hati, dan fitnah. Mereka yang tergolong orang-orang sakit hati karena kekalahan dalam politik merasa terwakili dengan tulisan-tulisan dusta itu. Mereka merasa ada yang membela dan sedikit terobati. Orang-orang yang gemar menulis hoaks itu mulai mendapatkan tawaran dari para pengusaha atau politisi yang merasa dirugikan oleh situasi politik saat itu. Orang-orang kaya dan berkepentingan dalam ekonomi dan politik membayar mereka dengan bayaran yang sangat mahal, sekitar Rp20 juta untuk satu naskah. Kalau tidak salah, ini pernah terungkap dalam Mata Najwa dengan salah seorang jenderal polisi yang menjadi narasumbernya.

            Bayangkan, Rp20 juta per naskah itu sangat besar. Sempat tergoda juga untuk ikutan mendapatkan uang itu. Akan tetapi, itu salah karena sangatlah tidak terhormat membawa uang untuk keluarga yang berasal dari kegiatan terlarang. Sesulit apa pun hidup, tidak perlu melakukan hal yang salah. Kalaupun mau, tetapi Allah swt tidak menyukainya, kita akan terhalang untuk mendapatkan uang itu sehingga kita selamat.

            Seiring berjalannya waktu, bayaran itu mulai berkurang bukan lagi Rp20 juta per naskah, melainkan per hari. Kemudian, semakin turun bayarannya menjadi setiap minggu. Terus turun menjadi Rp20 juta per bulan.

            Penurunan itu terus terjadi secara drastis. Hal ini dapat dilihat ketika ada kasus “Saracen”. Polisi menangkapi orang-orang yang menyebarkan berita bohong untuk memprovokasi masyarakat dengan menggunakan agama sehingga terjadi huru-hara. Dari orang-orang yang ditangkap itu, polisi mendapatkan pengakuan bahwa mereka dibayar Rp2,5 juta per bulan untuk membuat berita bohong. Semakin ke sini ternyata bayaran untuk para pembohong itu semakin murah.

            Sekarang, tampaknya semakin murah dan harus berlomba untuk dipercaya sebagai pendusta bayaran. Artinya, para pembohong itu tidak akan dibayar jika kebohongannya tidak berpengaruh kepada masyarakat dan tidak menguntungkan para pembayar hoaks. Hal ini berdasarkan penjelasan Hasan Nasbi, mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau “Presidential Communication Office” (PCO). Menurutnya, banyak vendor hoaks di Indonesia yang menggugat Perdana Menteri (PM) Israel, Netanyahu, karena belum dibayar sejak 2023. Alasan Israel belum atau tidak membayar para pembuat dan penyebar hoaks itu karena produksi hoaks yang dihasilkan tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan Israel. Hoaks-hoaks yang beredar itu dinilai tidak dapat memengaruhi masyarakat Indonesia sebagaimana yang diinginkan Israel.

            Hal itu berarti semakin banyak pihak yang memproduksi hoaks dan berlomba-lomba agar dipercaya Israel untuk mendapatkan bayaran. Itu berarti pula para pendusta ini terjebak dalam permainan Israel. Mereka tidak akan pernah dibayar Israel jika tidak memuaskan Israel. Kalaupun dibayar, pasti sedikit karena kualitasnya melemah. Mereka sudah memproduksi hoaks, sudah menghabiskan waktu dan energi, sudah mendapatkan banyak dosa, tetapi uangnya belum tentu dapat, malah bisa masuk penjara. Rugi banget.

            Memang pasar hoaks di Indonesia ini cukup besar karena masyarakatnya kurang teliti dan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Bahkan, bangga sudah mendapatkan informasi hoaks sehingga disebarkan lagi ke orang-orang lain. Oleh sebab itu, mulai 2026 ini saya ajarin murid-murid saya bagaimana cara menilai sebuah informasi itu hoaks atau bukan. Caranya, menggunakan etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Sayangnya, saya tidak bisa mengajarkan hal ini lewat tulisan karena harus praktik kayak ngaji, “kudu diwurukan”.

            Semoga kita semua berhati-hati karena situasi saat ini memang zamannya orang tidak mempedulikan kebenaran, tetapi mempedulikan perasaannya sendiri. Oleh sebab itulah, sorga itu mahal, hanya orang-orang yang berhati-hati dan terpilih yang akan memasukinya.

            Ilustrasi hoaks saya dapatkan dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

            Sampurasun.

Thursday, 12 March 2026

Amerika Serikat Korban Hoaks

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Terkait dengan perang AS-Israel Vs Iran, tampak sekali Amerika Serikat telah menjadi korban hoaks. Entah hoaks itu diciptakan presidennya sendiri, Donald Trump, atau mendapatkan banyak masukan yang tidak berdasar di lingkarannya. Bisa juga karena mendapatkan desakan dari Israel melalui Perdana Menteri (PM) Netanyahu untuk segera menyerang karena Iran adalah ancaman bagi Israel.

            Dunia sedikit terkejut dengan perang ini yang sesungguhnya dimulai oleh Israel yang kemudian diikuti Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, sesungguhnya hanya terjadi keributan kecil soal perjanjian nuklir yang telah bertahun-tahun itu. Biasa saja, soal kesepakatan. Di samping itu, ada peristiwa unik dengan munculnya “Board of Peace” (BoP) atau Dewan Perdamaian yang pasukan Indonesia menjadi pemain kunci di jalur Gaza, Palestina. BoP ini menjadi semacam kebanggaan bagi Trump jika berhasil mengamankan jalur Gaza dan membangunnya menjadi kawasan modern yang menyenangkan bagi rakyat Gaza di bawah perlindungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika dunia, khususnya Indonesia sedang asyik-asyiknya memberikan saran dan masukan bagi Prabowo jika menjadi pemain inti perdamaian di Palestina, tiba-tiba terjadi perang yang sangat dahsyat hingga saat ini.

            Akibat dari perang ini, rencana BoP menjadi tertahan. Indonesia harus berpikir ulang bolak-balik untuk rencana perdamaian versi BoP ini. Memang sulit jadi Prabowo dalam pergaulan dunia dewasa ini. Jika berada dalam BoP, banyak keuntungan ekonomi yang didapat Indonesia, tetapi akan sibuk mengatasi gejolak politik di dalam negeri. Jika ke luar BoP, gejolak politik dalam negeri bisa diredam, tetapi akan mendapatkan serangan dari negara anggota BoP lainnya yang berpotensi mengancam ekonomi Indonesia. Intinya, Prabowo harus memikirkan yang terbaik bagi negara sendiri terlebih dahulu karena itu adalah hal yang paling utama.

            Soal AS menjadi korban Hoaks, mudah sekali dilihatnya. Diisukan Iran punya senjata nuklir, padahal tidak. Digosipkan rakyat Iran sudah membenci para mullah, padahal tidak. Dikabarkan kalau pemimpinnya tewas bakal ganti rezim, padahal tidak. Disebutkan Iran negaranya hampir bangkrut, padahal tidak. Disebutkan teknologi senjatanya rendah dan terbatas, padahal tidak. Diyakini perang bakal berhenti dalam empat hari, padahal bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

            Itu adalah hoaks-hoaks yang telah menjerat AS hingga sulit keluar dari perang melawan Iran. Sebetulnya, rakyat AS sendiri tidak mau perang. Dari survey, hanya 27% rakyat AS yang setuju perang, sejumlah 73% tidak setuju dan tidak tahu. Dari dukungan politik rakyat saja sudah rendah, belum lagi soal keuangan yang menguras keuangan AS sejumlah 15 T per hari. Hal itu diperparah dengan kematian ratusan prajurit AS yang tidak mengerti kenapa mereka harus perang dengan Iran. Donald Trump menyatakan bahwa tentaranya sedang membela negeri AS, tetapi rakyatnya merasakan bahwa anak-anak muda mereka mati adalah untuk kepentingan Israel. AS memang sedang menangguk kerugian yang sangat banyak.


Tentara AS yang dikirimkan untuk perang (Foto: Suara.com)


            Ilustrasi tantara AS yang tampak bingung berbaris untuk perang saya dapatkan dari Suara com.

            Meskipun demikian, dapat kita pahami bahwa hoaks itu dapat menjerat manusia jika di dalam dirinya ada rasa iri, kebencian, ketakutan, arogan, dan kebodohan sehingga melakukan tindakan-tindakan idiot yang merugikan dirinya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari apa yang terjadi pada AS dan para pemimpinnya yang saat ini panik, kalang kabut, sok tenang, tetapi bingung karena jalan keluar dari perang semakin sulit. Iran sudah tidak mau lagi diajak diskusi. Iran hanya mau perang dan menentukan sendiri kapan harus berakhir.

            Begitulah hoaks bisa menjerat manusia ke dalam kebingungan dan kebodohan yang mempermalukan diri. Di Indonesia sendiri sudah bisa dilihat bahwa para pejuang hoaks itu berguguran dan menghilang satu per satu secara lucu meskipun membuat hoaks baru karena sakit hati hoaks yang lama sudah tak lagi laku.

            Sampurasun.

Friday, 27 February 2026

Israel Ternyata Lemah

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ternyata penakut. Dia tidak hadir pada rapat perdana “Board of Peace” (BoP) untuk bertemu Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Normalnya, pada rapat lobi-lobi BoP Netanyahu dan Prabowo berdebat untuk menyelesaikan masalah gencatan senjata di Gaza, Palestina. Akan tetapi, Netanyahu tidak datang, titip pesan ke menterinya, penakut memang.

            Lebih dari itu, ternyata Israel adalah negara lemah. Hal ini bisa diperhatikan dalam pidato Netanyahu sendiri di depan para pendukungnya. Dia menjelaskan bahwa Hamas harus dilucuti senjatanya. Dia tidak ingin ada senjata berat di tangan Hamas yang berkeliaran di Gaza. Selanjutnya, dia sendiri menjelaskan bahwa senjata AK 47 adalah senjata berat. Dia tidak ingin ada AK 47 di Gaza.

            Cukup mengagetkan kalau AK 47 dikategorikan senjata berat karena itu termasuk senjata ringan. AK 47 adalah senapan serbu yang dibuat Mikhael Kalashnikov warga Unisoviet. Itu adalah senapan yang awalnya dibuat tahun 1947, senapan lama yang beken ketika perang di Afghanistan.


AK 47 (Foto: Skillset Magazine)


            Pernyataan Netanyahu tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, Israel itu ternyata lemah sehingga sangat takut dengan AK 47, padahal mereka punya Tank Merkava, Rudal, roket, patriot, bom, dan senjata berat lainnya. Adapun Hamas, hanya dengan bermodalkan AK 47, ternyata membuat Israel kewalahan puluhan tahun.

            Kedua, sekarang semakin jelas bahwa Israel adalah pihak yang membuat banyak sekali kerusakan di Gaza. Bangunan-bangunan hancur, sekolah menjadi puing-puing, pasar berantakan, fasilitas kesehatan rusak berat, orang-orang mati adalah akibat senjata berat Israel. Di seputar Rumah Sakit Indonesia yang berada di Gaza, sudah tidak ada lagi bangunan utuh yang berdiri, rata berantakan. Tinggal RS Indonesia yang masih berdiri meski dalam kondisi rusak.


Bangunan di Gaza hancur akibat senjata Israel (Foto: detikNews-detikcom)


Tidak mungkin AK 47 Hamas dapat meruntuhkan bangunan sepuluh lantai atau rumah rakyat biasa. Kehancuran rumah dan gedung adalah akibat dari senjata-senjata berat Israel. Jadi yang membuat teror dan kerusakan di sana-sini adalah senjata milik Israel, bukan Hamas.

Kurang jelas apalagi dengan kenyataan seperti itu?

Kerusakannya adalah ditimbulkan Israel berdasarkan isi pidato PM Netanyahu sendiri, bukan Hamas.

Foto AK 47 saya dapatkan dari Skillset Magazine dan foto Gaza berantakan dari detikNews-detikcom.

Sampurasun.

Tuesday, 17 February 2026

Netanyahu Takut pada Prabowo

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tampaknya takut kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Hal ini bisa dilihat dari tidak bersedia hadir untuk bertemu Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana Board of Peace (BoP) di Washington DC besok, Kamis, 19 Februari 2026. Netanyahu mewakilkannya kepada Menlu Israel Gideon Saar untuk bertemu Prabowo dalam rapat itu. Demikian pula sebelumnya, Netanyahu mendaftarkan Israel untuk bergabung BoP sendirian lewat ngumpet di jalur belakang melalui Menlu Amerika Serikat (AS) Marco Rubio.


PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: ANTARA News Kalteng)


            Berbeda dengan Prabowo yang ketika bergabung terbuka di depan publik dan di depan para pemimpin dunia lainnya. Bahkan, berkali-kali Presiden AS Donald Trump menyalami Prabowo dengan lama sambil mengguncang-guncang dan menepuk-nepuk punggung Prabowo dengan hangatnya. Demikian pula Prabowo menjadi sorotan dunia sejak sebelum berangkat ke Washington untuk rapat perdana BoP, saat berangkat, ketika sampai, dan saya yakin ketika berlangsung rapat serta setelahnya, tetap menjadi sorotan dunia dan bersedia berdebat serta berdiskusi soal perdamaian dengan siapa saja.


Presiden RI Prabowo Subianto berjoget (Foto: Tempo co)


            Netanyahu dan Israel memang sedang terpojok. Dia dimusuhi banyak orang. Di dunia Islam sudah jelas dibenci, di Eropa pun dikutuk, di AS dimaki-maki. Bahkan, di Israel sendiri menghadapi penentangan yang sangat hebat dan kutukan luar biasa. Para rabi Yahudi berteriak bahwa mereka merasa lebih baik mati sebagai Yahudi dibandingkan mati sebagai zionis seperti Netanyahu.

            Kalaulah Netanyahu menganggap tidak penting pertemuan perdana BoP, itu sangatlah aneh karena dalam rapat itu akan diputuskan kehadiran pasukan Prabowo untuk menjaga perdamaian serta membuat mundur pasukan Israel dari Gaza, Palestina. Artinya, dia akan kehilangan kesempatan berdebat dengan Prabowo soal Gaza dan mengalami kerugian karena harus menyingkir dari sana. Prabowo sendiri akan menjalankan pasukannya dengan cara Indonesia dan berdasarkan kepentingan Indonesia, bukan untuk kepentingan yang lain. Kalaulah Netanyahu berani berdebat dan memaksa pasukan Indonesia tunduk pada keinginan Israel, Prabowo punya tombol “eject” untuk segera keluar dari BoP dan membiarkan mereka terus saling bunuh dengan Hamas serta membuat rencana Donald Trump berantakan, mangkrak sebelum dimulai.

            Ini cara cerdas Indonesia untuk menekan AS agar Israel mundur dari Gaza. Kalau tidak, persilakan AS cari pasukan lain yang bersedia dan diterima di Gaza. Faktanya, hari ini hanya Prabowo yang lantang sambil memukul meja PBB menyediakan putera-puterinya sejumlah 20 ribu, bahkan lebih untuk menjaga perdamaian dunia.

            Netanyahu takut pada Prabowo. Kalau dia berani datang berdebat dengan Prabowo besok dalam rapat BoP, tulisan saya ini berarti salah dan akan saya hapus selamanya.

            Foto Prabowo joget saya dapatkan dari Tempo co dan Netanyahu dari ANTARA News Kalteng.

            Sampurasun.

Monday, 16 February 2026

Prajurit TNI Tak Harus Mati di Palestina

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah pasukan resmi pertama yang akan masuk ke Gaza, Palestina dalam misi perdamaian dan pemulihan kondisi wilayah. Kalau saya bilang pasukan pertama, berarti siapa pun, akun apa pun, berita dari mana pun yang kemarin-kemarin sering mengisahkan tentara dari negara lain masuk ke Gaza untuk menolong rakyat Palestina dan mengalahkan Israel adalah bohong. Mereka memang suka berbohong dan sangat senang mendengarkan ceritera bohong.

            TNI memang pasukan yang diterima Israel untuk berada di Gaza, bahkan telah mulai disiapkan tempatnya di Rafah dan Khan Younis. Sebelumnya, memang pasukan Turki dan Qatar bersedia memasuki Gaza, tetapi ditolak Israel. Adapun Indonesia diterima Israel mungkin karena melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga perdamaian di Kongo dan Libanon. Di samping itu, pidato Presiden RI Prabowo pun berulang-ulang mengatakan bahwa Negara Palestina harus berdiri dan Israel pun harus dijamin keamanannya. Pidato itu menegaskan bahwa Indonesia benar-benar memperjuangkan berdirinya dua negara merdeka di kawasan itu. Israel merasakan bahwa Indonesia lebih adil bersikap dan terjamin tidak akan melakukan kekerasan terhadap Israel dibandingkan Turki dan Qatar.

            Indonesia melihat adanya celah untuk melaksanakan politik bebas dan aktif di wilayah paling berbahaya di muka Bumi itu. Oleh sebab itu, segera menyiapkan TNI untuk ambil bagian mengamankan daerah saling bunuh setiap hari itu. Tinggal menunggu perintah dari Prabowo, TNI segera bergerak dan tidak akan menunggu waktu lama lagi.


Pasukan perdamaian Indonesia (Foto: detikNews - detikcom)


            Meskipun ada celah untuk berperan aktif secara positif di Gaza, celah itu tidak mudah, tetapi sempit, tajam, dan berbahaya. Prabowo harus memastikan bahwa sebelum TNI berangkat ke Gaza, pasukan Israel harus sudah pergi dari wilayah itu. Demikian pula pasukan “Harakat al Muqawama al Islamiyya” (Hamas), harus bisa bekerja sama dengan Indonesia agar tercipta situasi yang jauh lebih baik di Gaza. TNI berada di Gaza tidak untuk berperang dengan Israel, apalagi berperang atau mengintimidasi Hamas. Pasukan TNI yang berada di sana adalah zeni yang bergerak dalam perbaikan konstruksi dan perlindungan rakyat serta medis. Senjata yang dipergunakan TNI hanyalah untuk membela diri dan memastikan tugasnya berjalan lancar, bukan untuk menghancurkan musuh.

            TNI yang ditugaskan di Gaza adalah untuk menciptakan suasana positif dan bukan untuk bertempur. Oleh sebab itu, Israel harus pergi dan Hamas harus menahan diri. Jika mereka tidak mau menghormati pasukan Indonesia, Prabowo jangan sekali-sekali mengirimkan seorang prajurit TNI-pun ke Gaza. Anak-anak muda Indonesia yang dikirim ke Gaza bukan untuk mati, melainkan untuk menciptakan kehidupan.

Kalau Israel dan Hamas tidak mau diatur, biarkan saja mereka berperang saling bunuh dan hidup dalam keadaan tidak aman seterusnya, selama belum bosan. Itu artinya mereka tidak mau berdamai, tetapi ingin terus berkonflik, ingin saling membuktikan diri siapa yang terhebat di antara mereka. Israel merasa jumawa karena di belakang mereka ada Amerika Serikat (AS), sedangkan Hamas merasa kuat karena di belakang mereka ada Iran.

Kalau mereka tidak mau saling menahan diri, untuk apa kita berada di sana?  

            Kita bisa apa?

            Kalau situasi berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, rakyat Gaza yang akan sangat menderita dan tidak punya masa depan. Rakyat hanyalah sejumlah angka yang selalu dihitung kesusahannya, padahal ada jalan damai yang bisa dicoba dijalankan.

            Prabowo tak harus mengirimkan tentara Indonesia untuk mati, tetapi untuk menciptakan suasana yang lebih hidup dan harmonis.

            Foto pasukan perdamaian Indonesia saya dapatkan dari detikNews – detikcom.

            Sampurasun.

Saturday, 14 February 2026

PBB Lemot Disalip BoP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik di tanah Palestina sudah terjadi puluhan tahun dan menimbulkan kerusakan harta dan nyawa yang sangat besar. Selama puluhan tahun juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya menanganinya. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat masalah itu tidak pernah selesai. Itulah yang saya bilang PBB itu mesinnya lemot, tenaganya hanya 16% atau maksimal hanya 24%.

            Dalam kelemotan PBB, muncul “Board of Peace” (BoP) atau yang kita kenal dengan “Dewan Perdamaian”. BoP adalah mesin baru yang punya tenaga dorong 60%.

            BoP sebetulnya amanat PBB, tetapi kemudian berubah menjadi lembaga yang mulai terpisah dari PBB serta punya keinginan dan cara sendiri dalam menyelesaikan masalah antara Israel dan Palestina. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tidak sabar dengan konflik di Palestina, lalu mendapat kekuatan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang siap mengirimkan prajurit TNI sejumlah 20 ribu atau bahkan lebih untuk menjaga perdamaian di Gaza, Palestina. Ibarat “kata  berjawab, gayung pun bersambut”, terciptalah BoP yang mengguncangkan dunia akhir-akhir ini.


Prabowo Subianto dan Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Anehnya, Trump menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dengan PBB yang di dalamnya ada “hak veto”. Hak veto adalah hak untuk melarang keputusan, resolusi, peraturan, atau kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat di PBB. Hak itulah yang membuat persoalan di Palestina sulit selesai. Oleh sebab itu, dia merancang sendiri dan menggerakkan sendiri dunia untuk segera menyelesaikan masalah Gaza.

            Aneh memang karena selama ini yang kita kenal sering mengobral hak veto adalah Amerika Serikat. Kita yang justru sering kesal dan marah karena AS kerap menggunakan hak veto yang merugikan bangsa-bangsa di dunia, terutama untuk di wilayah Timur Tengah dan tentu saja merugikan Palestina.

            Jadi, sebetulnya siapa yang menggunakan hak veto sehingga merugikan kesepakatan dunia itu?

            Cukup membingungkan.

            Sudahlah, yang jelas saat ini AS di bawah Trump bergerak sendiri seolah-olah meninggalkan PBB dengan dukungan Indonesia di bawah Prabowo untuk menyesaikan konflik di Palestina. Hal ini justru diberitakan pertama kali oleh media-media Israel bahwa Indonesia menjadi negara yang pertama di dunia mengirimkan pasukannya di Gaza untuk menjaga perdamaian. Bahkan, Israel sendiri telah mulai memberikan tempat dan menyediakan wilayah untuk TNI di selatan jalur Gaza, antara Rafah dan Khan Younis.

            Kalaulah PBB mulai merasa ditinggalkan dalam urusan Palestina ini, seharusnya bergerak lebih cepat lagi. Jangan terlalu banyak seminar, rapat, atau diskusi yang dianggap Trump terlalu lambat. Sebaiknya PBB mengambil langkah yang mengarah pada langkah nyata untuk kembali menyalip BoP. Sementara itu, Indonesia akan lebih lebih senang jika pasukannya berada di bawah mandat PBB dibandingkan BoP. Prabowo dengan tegas akan mengirimkan “putera-puteri terbaik Indonesia” ke jalur Gaza, Palestina.

            Foto Prabowo dan Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Sampurasun.

Tuesday, 20 January 2026

Iran Terkuat Melawan Amerika Serikat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Iran adalah negara terkuat Timur Tengah yang menentang Amerika Serikat (AS). Saya  tidak sedang membicarakan negara teman AS seperti Arab Saudi. Negara-negara yang saya maksud adalah negara Timur Tengah yang bermusuhan dengan AS.

            Dari seluruh negara itu, Iran adalah negara yang paling kuat dan paling siap melawan AS serta tidak harus kalah. Kalau soal keberanian, Irak, Suriah, atau Libya sangat berani, tetapi tidak sekuat Iran dan buktinya mereka memang dikalahkan AS. Berbeda dengan Iran yang sangat kuat meskipun dikucilkan, diembargo, dan dirusakkan ekonominya, termasuk diserang secara militer menggunakan senjata mutakhir. Iran tetap berdiri tegak dan teguh dengan deklarasinya, yaitu “Anti-Amerika Serikat dan Anti-Israel”.

            Ada beberapa penyebab yang membuat Iran menjadi negara terkuat dalam melawan AS. Akan tetapi, saya sangat tertarik pada satu hal saja, yaitu “persatuan”. Hal itu yang justru menjadi kelemahan dan ketakutan AS.

            AS memang sangat takut dengan persatuan sebuah negara. Dia tidak akan pernah berani menyerang negara yang rakyatnya bersatu.  AS selalu masuk ke dalam sebuah negara jika di negara itu sedang terjadi konflik berat antara pemerintah dengan rakyatnya. Biasanya, AS selalu berpihak pada oposisi yang melawan pemerintah, kemudian mengeruk sumber daya negara itu, lalu pergi meninggalkan negara itu dalam keadaan berantakan.

            Iran adalah negara yang sangat kuat persatuannya. Bukan berarti mereka tidak punya masalah, tetapi masalahnya selalu bisa diselesaikan oleh pemerintahnya. Soal penyelesaiannya menggunakan cara halus, lembut, tegas, kasar, atau mengerikan, itu soal lain yang bisa ditulis dalam wacana lain. Hal yang jelas, Iran tetap kukuh dalam persatuannya.

            Meskipun dicoba oleh AS dan Israel menciptakan demonstrasi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, Iran tetap tangguh dan menyelesaikan demonstrasi itu dengan menangkap para perusuh serta mengadilinya, bahkan awalnya akan menghukum mati para penjahat itu yang telah membakar mobil di jalanan, gedung-gedung, membunuh tantara, dan warga lain yang berbeda paham dengan mereka. Hanya dalam hitungan jam Iran mampu menghentikan mereka.


Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khameini (Foto: CNBC Indonesia)


            Kerusuhan yang katanya demonstrasi itu jelas diprovokasi Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Netanyahu. Kedua penguasa itu dengan sangat telanjang memprovokasi perusuh untuk merebut pemerintahan dan menggulingkan pemerintah yang sah. Perilaku mereka tersebar pada berbagai berita resmi di seluruh dunia. Tak perlu profesor untuk menganalisa hal itu. Anak baru lulus SMA pun bisa.

            Beberapa jam setelah pemerintahan Iran mengendalikan kembali negaranya, PM Israel segera menghubungi Presiden AS untuk tidak melakukan serangan ke Iran. Hal itu disebabkan Israel bakal hancur dalam sekejap oleh Iran berdasarkan pengalaman “perang 12 hari” yang membuat Israel meminta gencatan senjata karena porak poranda diserang Rudal Iran yang tidak bisa diantisipasi oleh “iron dome” Israel. Demikian pula AS yang sudah bisa menghitung biaya dan kerugian yang akan diderita jika menyerang Iran.

            Ancaman penyerangan terhadap Iran yang beberapa hari sebelumnya sangat keras dan meyakinkan oleh AS dan Israel, berubah menjad omon-omon doang. Mereka takut dengan persatuan Iran.

            Dari hal itu, kita, Indonesia, bisa belajar bahwa jika ingin negara ini hancur berantakan, teruslah berkonflik serta mintalah kepada AS, Israel, dan negara lain yang tidak ingin Negara Indonesia maju untuk mendukung huru-hara di Indonesia. Akan tetapi, jika ingin Indonesia maju sejahtera sesuai dengan Pancasila, tetaplah bersatu dan selesaikan masalah di antara kita sendiri dengan jujur, jernih, dan bertujuan untuk membangun bangsa, jauh dari sikap saling menjatuhkan.

            Ingat kata pepatah lama, “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.

            Iya, toh?

            Kalau bercerai, tidak perlu larut dalam kesedihan, kawin lagi adalah hal yang membahagiakan asal ketemu pasangan yang tepat.

            Foto Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamaeni saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

            Sampurasun.

Monday, 23 June 2025

Muslim dan Kristen Dibiarkan Mati Dibom

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Serangan Iran yang merupakan balasan atas aksi Israel yang secara tiba-tiba sepihak melakukan pemboman di Teheran, Iran, telah merusakkan banyak fasilitas di Israel. Banyak bangunan yang hancur di Israel. Hal itu membuat warga Israel berlarian jika mendapatkan serangan dari bom Iran. Mereka berusaha berjubel berdesakan memasuki “bunker”, ‘ruang bawah tanah perlindungan’, melarikan diri dari kematian akibat kemarahan bom Iran.

            Karena kekuatan Iran sangat besar, kematian dan ketakutan warga Israel menjadi sangat besar pula. Warga selalu bergegas berlindung mencapai bunker, tetapi jumlah bunker yang ada tidak dapat menampung seluruh pencari keselamatan itu. Akibatnya, tidak semua warga dapat berhasil mencapai bunker. Banyak di antara mereka yang terpaksa harus berada di luar. Itulah yang banyak menjadi korban bom Iran.

            Hal yang membuat kesal dan marah adalah ketika berdesakan mencari perlindungan ke dalam bunker, rakyat yahudi zionis Israel mengusir orang-orang Islam dan Kristen dari dalam bunker. Mereka melarang muslim dan Kristen untuk berlindung. Mereka hanya membolehkan Yahudi zionis untuk berlindung. Beberapa video antara muslim dan Kristen dengan kaum zionis memperlihatkan keributan untuk mendapatkan tempat di bunker. Padahal, baik muslim maupun Kristen di sana secara kewarganegaraan adalah warga Negara Israel. Para zionis itu sudah mempertontonkan sikap rasis dan diskriminatif. Memang tidak semua Yahudi seperti itu, hanya zionis yang punya keradikalan seperti itu.


Bunker di Israel (Foto: Riau Mandiri)


            Baik pemerintah zionis maupun rakyat zionis sama-sama tidak mempedulikan soal manusia dan kemanusiaan. Mereka telah terdoktrin bahwa hanya mereka yang boleh hidup di dunia. Ini adalah sikap yang menyalahi moral dan kemanusiaan. Mereka tak peduli rakyatnya sendiri jika berbeda pemahaman dengan mereka. Demokrasi dan kemanusiaan mereka adalah palsu.

            Sulit menciptakan perdamaian yang menjunjung tinggi kemanusiaan dengan orang-orang seperti itu. Mereka tampaknya lebih mendahulukan anjing dibandingkan manusia.

            Ilustrasi bunker di Israel saya dapatkan dari Riau Mandiri.

            Sampurasun.

Sunday, 22 June 2025

Kasihilah Rakyat Israel

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Israel menyerang Iran tanpa alasan yang dapat dibenarkan, Iran pun melakukan balasan bertubi-tubi yang mengerikan. Akibat serangan itu, Israel mengalami kerusakan parah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu membuat rakyat Israel panik, berdarah, gila, dan tewas. Rakyat ingin pengrusakan dan penghancuran yang dilakukan Iran segera berhenti. Mereka tidak dapat hidup dan tidur dengan tenang, setiap saat terancam hantaman peluru kendali (Rudal) yang diluncurkan Iran.

            Beberapa video yang dibuat rakyat Israel korban perang berisi tentang kehancuran lingkungannya dan teriakan-teriakan orang-orang minta Iran berhenti mengebom mereka.

            “Iran, berhenti! Maafkan kami!” begitu kata mereka.

            Ada juga video mereka yang menggunakan teknologi AI berisi tentang permohonan, “Iran, berhenti! Pakistan, berhenti! Hanya kalian yang bisa menolong kami!”


Orang-orang Israel yang ketakutan ( Foto: Merdeka com)


            Bagaimanapun, rakyat Israel adalah manusia seperti manusia lainnya. Sebagai manusia, kita harus saling mengasihi, apa pun warna kulitnya, apa pun bangsanya, apa pun agamanya, termasuk jika mereka tidak punya agama. Seluruh manusia adalah diciptakan oleh Allah swt seperti kita juga. Soal perbedaan fisik dan pendapat, itu soal yang lumrah. Kita harus menciptakan perdamaian di muka Bumi.

            Kerusakan, kehancuran, dan perang memang harus berhenti. Semua orang harus mendukung tegaknya perdamaian dan kehidupan yang harmonis. Rakyat Israel yang sedang menderita dan terpuruk harus dikasihi.

            Cara mengasihinya dan menghentikan perang adalah dengan mendorong, mengingatkan, mengecam, dan memusuhi pemerintahan zionis Israel untuk berhenti melakukan penyerangan terhadap Iran. Para pemimpin Iran sudah menegaskan akan berhenti mengebom Israel jika Israel menghentikan serangannya terhadap Iran. Artinya, Israel akan terus dibom, dihancurkan jika terus menyerang Iran.

            Rakyat Israel tidak perlu meminta Iran, Pakistan, atau negara lain untuk berhenti memusuhi mereka. Rakyat Israel harus mendesak pemerintahnya sendiri untuk berhenti melakukan penyerangan terhadap Iran dan berhenti melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina, terutama di Gaza. Agak aneh jika meminta negara lain berhenti memusuhi Israel, tetapi Israel sendiri yang terus-terusan melakukan kejahatan terhadap negara-negara itu. Pemikiran dan sikap mereka terbolak-balik.

            Kasihi rakyat Israel dengan menyadarkan mereka agar mendesak pemerintah zionis Israel untuk tidak melakukan kejahatan dan kerusakan di muka Bumi. Hanya itu caranya jika ingin terbebas dari penderitaan dan permusuhan dengan negara lain.

            Mereka perlu dikasihi karena menderita secara fisik, mental, dan cara berpikirnya yang tidak karu-karuan.

            Foto orang-orang Israel yang ketakutan saya dapatkan dari Merdeka com.

            Sampurasun.