Showing posts with label Kristen. Show all posts
Showing posts with label Kristen. Show all posts

Monday, 23 June 2025

Muslim dan Kristen Dibiarkan Mati Dibom

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Serangan Iran yang merupakan balasan atas aksi Israel yang secara tiba-tiba sepihak melakukan pemboman di Teheran, Iran, telah merusakkan banyak fasilitas di Israel. Banyak bangunan yang hancur di Israel. Hal itu membuat warga Israel berlarian jika mendapatkan serangan dari bom Iran. Mereka berusaha berjubel berdesakan memasuki “bunker”, ‘ruang bawah tanah perlindungan’, melarikan diri dari kematian akibat kemarahan bom Iran.

            Karena kekuatan Iran sangat besar, kematian dan ketakutan warga Israel menjadi sangat besar pula. Warga selalu bergegas berlindung mencapai bunker, tetapi jumlah bunker yang ada tidak dapat menampung seluruh pencari keselamatan itu. Akibatnya, tidak semua warga dapat berhasil mencapai bunker. Banyak di antara mereka yang terpaksa harus berada di luar. Itulah yang banyak menjadi korban bom Iran.

            Hal yang membuat kesal dan marah adalah ketika berdesakan mencari perlindungan ke dalam bunker, rakyat yahudi zionis Israel mengusir orang-orang Islam dan Kristen dari dalam bunker. Mereka melarang muslim dan Kristen untuk berlindung. Mereka hanya membolehkan Yahudi zionis untuk berlindung. Beberapa video antara muslim dan Kristen dengan kaum zionis memperlihatkan keributan untuk mendapatkan tempat di bunker. Padahal, baik muslim maupun Kristen di sana secara kewarganegaraan adalah warga Negara Israel. Para zionis itu sudah mempertontonkan sikap rasis dan diskriminatif. Memang tidak semua Yahudi seperti itu, hanya zionis yang punya keradikalan seperti itu.


Bunker di Israel (Foto: Riau Mandiri)


            Baik pemerintah zionis maupun rakyat zionis sama-sama tidak mempedulikan soal manusia dan kemanusiaan. Mereka telah terdoktrin bahwa hanya mereka yang boleh hidup di dunia. Ini adalah sikap yang menyalahi moral dan kemanusiaan. Mereka tak peduli rakyatnya sendiri jika berbeda pemahaman dengan mereka. Demokrasi dan kemanusiaan mereka adalah palsu.

            Sulit menciptakan perdamaian yang menjunjung tinggi kemanusiaan dengan orang-orang seperti itu. Mereka tampaknya lebih mendahulukan anjing dibandingkan manusia.

            Ilustrasi bunker di Israel saya dapatkan dari Riau Mandiri.

            Sampurasun.

Wednesday, 23 March 2022

Pendeta Saifudin Itu Bodor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya saya malas mengomentari soal Si Saifudin Ibrahim ini karena sudah pasti sesatnya, tololnya, dan bodohnya. Sebego apa pun orang-orang seperti ini berbicara tentang Islam, saya sudah nggak mau lagi memperhatikan.

            Buat apa saya perhatikan?

            Mereka nonmuslim, tetapi berbicara Islam. Sudah pasti salahnya. Saya juga sudah mulai kebal dengan pikiran orang-orang seperti itu, sekasar apa pun mereka menghina Islam. Itu karena mereka sesat dan saya tidak tertarik untuk menyelamatkan pikirannya. Sudah sangat banyak saya berdebat dan berdiskusi dengan orang-orang semacam itu dari berbagai negara di dunia ini, seperti, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jerman, Jepang, India, dan dari Indonesia sendiri. Kalau dihitung, mungkin saya sudah berdebat dengan sekitar 208 orang. Kebanyakan dari mereka merasa sudah mengerti dan tahu benar tentang Islam dengan pikirannya yang terbatas itu. Beberapa dari mereka paham dan mulai lebih baik lagi untuk memahami Islam. Mereka memang kebanyakan ateis, agnostik, Kristen, Hindu, dan Budha. Jadi, Si Saifudin ini sudah pasti sama dengan mereka.

            Saya memang sudah tidak tertarik kepada mereka, kecuali jika mereka sendiri yang bertanya dan menginginkan pendapat saya. Kalau mereka cuma ngomong sendiri, biarin saja. Berbeda dengan sikap saya terhadap sesama muslim, jika saya melihat sesama muslim salah dalam berpikir dan bertindak, saya pasti bereaksi kepada sesama muslim. Hal itu disebabkan saya memiliki kewajiban untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar sepanjang saya yakin bahwa saya tahu yang benarnya itu. Kalau saya tidak tahu, ya diam atau cari tahu dulu masalah tersebut dengan lebih baik.

            Si Saifudin ini memang viral karena meminta Menteri Agama RI Gus Yaqut menghapus 300 ayat dalam Al Quran yang dipandang membuat kekacauan di Indonesia. Dalam videonya yang panjang itu, saya cukup hanya beberapa detik untuk memahami pikiran dia. Hal itu adalah ketika Si Saifudin ini mengatakan bahwa dia dulunya adalah muslim dan menjadi pengajar di Pesantren Al Zaytun, Indramayu. Lalu, murtad dan menjadi pendeta. Kalimat itu sudah membuat saya mengerti mengapa dia murtad dan berpikiran kacau. Ya sudah, segitu saja cukup paham dan saya tidak perlu lagi memperhatikan dia.

            Saya menulis ini karena ada seorang mahasiswa saya yang bertanya kepada saya. Saat itu saya baru selesai makan siang dari pemberian mereka juga.

            Baru juga saya selesai minum, mereka berkumpul di depan meja tempat saya makan sambil bertanya, “Pak, menurut Bapak, bagaimana Saifudin?”

            “Saifudin? Saifudin mana? Ooh, yang pendeta itu ya?”

            “Iya, Pak.”

            “Dia itu bodor, pelawak,” jawab saya ringkas.

            Mereka masih ingin tambahan komentar dari saya.

            “Begini, dia itu dulu adalah guru di Pesantren Al Zaytun. Sepertinya, dia bingung, lalu banyak mencari tahu dari orang-orang Al Zaytun. Pasti tambah pusing karena Al Zaytun itu dulu bermasalah dengan ideologi Pancasila dan menjadi pesantren pendukung Negara Islam Indonesia. Jadi, dalam pemikiran mereka banyak penafsiran radikal dan menyimpang, misalnya, selalu menafsirkan ayat-ayat jihad dengan perang, padahal jihad itu artinya adalah ‘bersungguh-sunguh, fokus, konsentrasi’. Adapun perang itu istilah tepatnya adalah qital. Kalian kuliah dengan sungguh-sungguh juga adalah jihad sebenarnya.”

            Jawaban saya cukup segitu dan para mahasiswa tampaknya paham.

            Akan tetapi, saya jadi penasaran. Saya cari-cari tahu siapa Si Saifudin ini sebenarnya. Semakin saya perhatikan dia, semakin sering saya tertawa. Dia ini memang bingung dan menganggap dirinya benar. Kalimatnya sering bertabrakan makna antara satu dengan yang lainnya, pernyataan yang satu berbeda, malahan menantang pernyataan lainnya, padahal dia sendiri yang berbicara. Dalam hal berbicara di depan publik masih jauh lebih baik anaknya, Ustadz Saddam Husein yang tampak runut dan mudah dipahami. Anaknya tetap muslim dan mengajarkan Islam.

            Si Saifudin ini memuji setinggi langit Menag RI Gus Yaqut sebagai menteri yang sangat toleran terhadap kaum minoritas. Dia minta Gus Yaqut untuk memperbaiki pesantren karena pesantren menghasilkan para teroris.

            Kelihatan tidak begonya?

            Dia bilang pesantren menghasilkan teroris dan memuji-muji Gus Yaqut, padahal Gus Yaqut adalah jebolan pesantren juga. Bodor memang dia mah. Kebodoran lainnya sungguh banyak kalau saya mau tulis di sini mah.

Sudah, jangan diperhatikan lagi dia mah, Pelawak Ngaco. Lagian, tidak ada satu pun organisasi gereja dan organisasi kependetaan di Indonesia ini yang mengakui dia sebagai pendeta. Terus, dia malah dilaporkan ke polisi oleh umat kristiani sendiri yang merasa resah terhadap pernyataan-pernyataan Si Saifudin. Hal yang lebih jelas adalah Menkopolhukam Mahfud M.D. sudah memerintahkan kepolisian untuk menangkap Si Saifudin.

Dia kini kabur ke Amerika Serikat. Takut.

Dia bilang kalau 300 ayat dalam Al Quran itu tidak dihapus, Indonesia selalu tidak aman, kacau, dan dipenuhi para radikalis, dia merasa selalu ketakutan dan terancam hidup di Indonesia.

Akan tetapi, pada kalimat lainnya, dia bilang, “Saya nyaman tinggal di Indonesia.”

Yang benar yang mana? Takut, terancam, atau nyaman?

Sudahlah jangan diperhatikan lagi. Dia sudah harus berhadapan dengan hukum. Dia itu Pelawak Ngaco.

Sampurasun.

Friday, 21 May 2021

Pentingnya Pasukan Perdamaian di Al Quds

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam menyikapi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina yang menimbulkan perang dan menimbulkan kerusakan terhadap kemanusiaan, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi hadir dalam Sidang Majelis Umum (SMU) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis, 20 Mei 2021. Sengaja dia datang untuk mendesak PBB mengambil tiga aksi penting untuk menghentikan perang dan kekerasan yang terjadi. Setelah Menlu RI Retno menyampaikan desakannya, kita tahu bahwa besoknya, pukul 02.00 dini hari disepakati gencatan senjata antara Israel dan Hamas untuk menghentikan “sementara” penggunaan senjata dan aksi-aksi militer di kedua belah pihak.

            Dari tiga aksi penting yang diusulkan Retno Marsudi dalam SMU PBB tersebut, dalam tulisan kali ini saya ingin beropini tentang satu usulan aksi tersebut. Hal itu adalah desakan Retno agar hadirnya “kekuatan internasional” di “Al Quds” untuk mengawasi dan memastikan keselamatan rakyat Palestina serta menjamin perlindungan status “Kompleks Al-Haram Al-Sharif” yang dianggap sebagai tempat suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.

            Selama ini, kompleks tersebut diklaim, dikelola, dan dikuasai Israel. Pasukan Israel adalah yang berkuasa di tempat tersebut. Hal itu menimbulkan kerawanan konflik yang bisa kapan saja terjadi mengingat masih besarnya kebencian di antara mayoritas warga Palestina dan Israel. Perang yang terjadi di antara mereka baru-baru ini pun diklaim Israel dan pendukungnya gara-gara warga Palestina yang melempari pasukan Israel dengan batu-batu di kawasan Al Quds. Padahal, pelemparan itu pun sebenarnya diakibatkan oleh perilaku Israel sebelumnya terhadap warga Palestina yang kerap melakukan penggusuran, pengusiran, dan penindasan lainnya. Dengan demikian, di tempat itu bisa dikatakan mudah sekali terjadi bentrokan.

            Usulan Menlu RI Retno Marsudi adalah sangat masuk akal untuk menjaga rakyat dan keamanan di kawasan tersebut. Pasukan perdamaian internasional diharapkan dapat lebih netral bersikap dan lebih bijak mengambil tindakan. Kalaulah masih timbul kecurigaan atau kekhawatiran, baik dari pihak Palestina atau Israel terhadap kenetralan pasukan perdamaian di luar kalangan mereka, Indonesia bisa menawarkan diri menjadi pasukan perdamaian pertama di kawasan itu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas usulan tersebut. Artinya, kekhawatiran bisa timbul dari pihak Palestina jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara barat karena dianggap pro-Israel atau Israel bisa khawatir jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara Arab yang dianggap membenci mereka. Indonesia bisa menjembatani berbagai kekhawatiran itu mengingat “politik luar negeri bebas dan aktif” yang mengharuskan dirinya bebas dari tekanan negara mana pun dan mewajibkan dirinya untuk selalu aktif menciptakan perdamaian dunia. Di samping itu, Indonesia pun sedang dalam keadaan terus berupaya adil untuk mengelola bangsanya yang majemuk, beragam agama, suku, dan ras. Tambahan pula bahwa Indonesia itu dalam hal militer cenderung bersikap “defensive”, ‘pertahanan diri’, setiap orang Indonesia tidak pernah ingin untuk menyerang negara lain dan tidak ingin menjajah negara lain.

            Intinya, untuk membuat situasi lebih terkendali, diperlukan pasukan perdamaian internasional yang lebih netral, lebih adil, dan lebih biijak. Syaratnya, pasukan ini harus mendapat mandat dari PBB, Israel bersedia mundur dari Kompleks Al-Haram Al-Sharif, dan Palestina harus menghormati kehadiran pasukan perdamaian tersebut.

            Sampurasun.

Tuesday, 19 May 2020

Zaman Akhir Vs Zaman Akhir Vs Zaman Akhir


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir ini selalu menarik perhatian orang, terutama orang-orang yang sedang tertindas, terancam, dan kebingungan tentang arah hidupnya. Suatu kaum yang sedang merasa tergeser, tersingkir, atau terhalang oleh kaum yang lain kerap menyandarkan hidupnya pada berbagai ramalan, prediksi, atau berita-berita masa depan.

            Dalam berita-berita itu kerap dikisahkan akan munculnya sosok pahlawan bagi kaumnya yang akan menyelamatkan kaumnya. Biasanya, sosok ini penuh dengan kekuatan, keimanan, dan keagungan. Dialah harapan umat untuk mengenyahkan segala kejahatan, kekejaman, kezaliman agar umatnya dapat sejahtera, berkuasa, dan penuh kemuliaan.

            Kisah ini beredar di antara umat manusia, di antara suku bangsa, dan di antara para pemeluk agama. Di lingkungan umat Islam diyakini adanya kehadiran Imam Mahdi dan Yesus as yang akan mengalahkan Dajal, Sang Raja Dusta, serta membawa kedamaian dan kemakmuran di muka Bumi di samping mengokohkan posisi politik kaum muslimin di dunia.

            Kisah zaman akhir ini bukan hanya dimiliki umat muslim, melainkan pula dimiliki umat Nasrani. Kaum kristiani percaya bahwa akan ada kebangkitan umat Kristen untuk memimpin dunia dan membimbing manusia keluar dari kegelapan. Beberapa sekte malah berani melakukan pembunuhan untuk terciptanya situasi zaman akhir yang sesuai dengan keyakinan mereka.

            Hal yang sama pun diyakini oleh umat Yahudi. Mereka sangat percaya bahwa diri mereka mirip Nabi Daud as yang menang bertarung melawan raksasa Goliath. Arab adalah yang dimaksud orang-orang Yahudi sebagai Goliath. Artinya, Yahudi adalah yang akan menguatkan Israel Raya dan memimpin dunia.

            Sesungguhnya, banyak hal yang bisa saya ungkapkan tentang kisah-kisah zaman akhir itu. Akan tetapi, terlalu panjang untuk ditulis di sini. Jika mau, saya bisa bikin buku berjilid-jilid soal zaman akhir ini dipandang dari tiga agama berbeda.

            Dalam tulisan kali ini saya ingin memberitahukan bahwa kisah-kisah zaman akhir itu dimiliki oleh kaum muslimin, kaum Nasrani, dan kaum Yahudi. Setiap kaum meyakini bahwa kaumnyalah yang akan menjadi pemimpin dunia. Orang Islam yakin bahwa orang Islam yang akan mengendalikan dunia pada masa akhir zaman. Orang Nasrani juga yakin bahwa merekalah yang akan benar-benar menguasai dunia. Demikian pula orang-orang Yahudi sangat kuat keyakinannya terhadap kehadiran Raja Yahudi yang ditunggu-tunggu untuk mengangkat kemuliaan Yahudi dan mengalahkan Goliath Arab.

            Hal yang sangat menarik adalah, baik kaum muslimin, Nasrani, maupun Yahudi sama-sama meyakini bahwa pada akhir zaman mereka akan terlibat perang besar di Yerusalem, tanah Palestina. Perbedaannya, setiap kelompok meyakini bahwa kelompoknyalah yang akan menang, sedangkan kelompok yang lainnya adalah para penjahat yang harus dikalahkan.

            Hal ini pula yang menjelaskan bahwa kekisruhan, kekalutan, kejahatan, kekejian, pembunuhan, ketidakadilan, kesengsaraan, pertengkaran, konflik di Yerusalem, Palestina tidak kunjung usai. Mereka selalu terlibat saling bunuh, saling culik, saling rusak, dan saling serang. Mereka tidak pernah bisa berhenti karena salah satunya adalah keyakinan terhadap kisah-kisah zaman akhir yang  memberitakan bahwa merekalah yang akan menjadi pemenang pertarungan di kawasan itu.

            Orang Islam yakin akan menang, Nasrani juga percaya mereka yang menjadi pemenangnya, Yahudi pun demikian pula sangat yakin akan menguasai dunia.

            Lalu, pertanyaannya sampai kapan kegoncangan dan saling bunuh itu akan berhenti?

            Jawaban orang Islam pastinya jika orang Islam berkuasa. Jawaban Nasrani juga begitu, jika Nasrani memegang kendali. Jawaban Yahudi apalagi, situasi akan terkendali jika Raja Yahudi yang mereka tunggu sudah hadir di muka Bumi.

            Semua saling klaim.

            Lalu, siapa yang paling benar?

            Setiap pemeluk agama akan mengklaim dirinya adalah yang paling benar. Ketika para pemeluk agama itu sedang saling klaim, di tanah Yerusalem, Palestina, terus terjadi pembunuhan-pembunuhan, kekerasan, banjir darah, penggusuran, penganiayaan yang korbannya adalah para pemeluk agama dari setiap pihak yang bertikai.

            Jadi, begitulah keyakinan tentang kisah zaman akhir versi muslim melawan zaman akhir versi Nasrani melawan zaman akhir versi Yahudi.

            Jadi, harus bagaimana atuh?




            Saya sebagai muslim, berharap bahwa kaum muslimin lebih dewasa, lebih rasional, dan lebih bijak dalam menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

            Bagaimana caranya?

            Entar dululah. Sedikit-sedikit dulu menerangkannya, bisi pusing.

            BTW, bagi lulusan SMP/MTs yang mau meneruskan sekolah, bisa ke “MA Mawaddi di Kompleks Pondok Pesantren As Saadah, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung”.

            Bagi lulusan MA/SMK/SMA yang mau meneruskan kuliah ke “Universitas Al-Ghifari”, klik http://pmb.unfari.ac.id , banyak beasiswanya lho.

            Sampurasun

Sunday, 10 September 2017

Salut untuk Kaum Budha Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaum Budha Indonesia memberikan contoh yang sangat baik bagi para penganut Budha di seluruh dunia sekaligus contoh hebat bagi penganut agama-agama lain. Kaum Budha Indonesia memberikan kecaman yang sangat keras terhadap militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan kekerasan keji terhadap kaum muslim Rohingya. Mereka sadar bahwa kejahatan terhadap manusia adalah bukan ajaran Budha. Mereka insyaf bahwa kaum Budha radikal dapat merusakkan nama baik kesucian ajaran Budha. Mereka paham benar bahwa kaum Budha di Indonesia adalah minoritas sehingga merasa perlu untuk terus hidup rukun dengan mayoritas kaum muslimin jika ingin bertahan hidup dalam damai di Indonesia. Mereka memaki perbuatan keji. Mereka pun mengumpulkan donasi untuk kaum muslimin di Myanmar.

            Perilaku kaum Budha Indonesia itu patut mendapatkan acungan jempol, penghargaan yang sangat tinggi. Mereka tak segan dan tak malu untuk memaki siapa pun yang menggunakan ajaran Budha untuk kekerasan.

            Memang begitulah seharusnya, setiap agama mengendalikan penganut agamanya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan atas nama agamanya. Kaum muslimin sudah sejak lama melakukan hal itu. Setiap ada kelompok muslim yang lemah pengetahuan agama Islam, lalu menggunakan Islam sebagai alasan untuk melakukan kejahatan, kaum muslimin yang waras otak dan berpengetahuan agama luas akan melakukan kritik, makian, penentangan, bahkan bersiap untuk memerangi kaum muslimin yang dengan ceroboh menggunakan agama sebagai alat kekerasan. Dari zaman ke zaman perilaku itu sudah ada di lingkungan kaum muslimin. Hal itu memang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri bahwa suatu saat akan ada masa datangnya orang-orang berpikiran pendek untuk melakukan kekerasan dan orang yang paling mulia adalah orang yang memerangi orang-orang berpikiran pendek itu.

            Agama-agama lain pun seharusnya melakukan hal yang sama. Tidak perlu membela  orang-orang yang melakukan kerusakan, kejahatan, kekejian, dan kekerasan meskipun orang itu satu agama dengan kita. Katolik waras harus memerangi Katolik jahat, Protestan baik harus memerangi Protestan buruk, Hindu baik harus memerangi Hindu buruk, Yahudi waras harus memerangi Yahudi brengsek, Konghucu cerdas harus memerangi Konghucu bloon. Begitu seterusnya dengan agama-agama lain. Dengan demikian, tidak perlu terjadi saling hujat di antara penganut agama yang berbeda karena setiap penganut agama akan mengendalikan penganut agama sendiri. Orang Kristen tidak perlu menghujat orang Islam yang melakukan teror. Demikian pula orang Islam tidak perlu memaki dan menelanjangi orang Kristen yang melakukan kejahatan kemanusiaan atas dasar agama. Orang Islam wajib mengendalikan kaum muslimin sendiri. Kaum Kristen wajib mengontrol kaum Kristen sendiri. Dengan demikian, perdamaian di antara manusia bisa terus menguat dan semakin tercipta dengan nyata karena salah satu faktor pemicu kekusutan sudah bisa diatasi, yaitu perbedaan agama.

            Saat ini terjadi saling bela yang buruk berdasarkan agama. Hal itu disebabkan kejahatan pemeluk agama tertentu dibela oleh penganutnya walaupun jelas-jelas salah. Akibatnya, kejahatan itu ditimpakan dan dituduhkan pada kejahatan ajaran agamanya. Hal itu mengakibatkan persengketaan yang keras dan menyita banyak energi.

            Kaum muslimin sudah sangat lama mengontrol dan berupaya keras mengendalikan umatnya yang salah jalan, bahkan memeranginya, hingga membunuhnya. Kini kaum Budha dengan sangat nyata mengecam keras umatnya sendiri yang melakukan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Itulah kaum Budha yang cerdas dan patut dihormati oleh semuanya. Saya yakin kaum muslimin yang sehat jiwanya akan mendukung para penganut Budha yang seperti itu sehingga keharmonisan hidup di antara pemeluk umat beragama di Indonesia dapat dijaga. Itulah Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia.


            Sampurasun

Sunday, 21 May 2017

Kesalahan Kristen Diikuti oleh Umat Islam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kerusakan ajaran Kristen telah menghancurkan seluruh daratan Eropa pada masa lalu. Perang, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, dan berbagai kekejian kemanusiaan benar-benar merusakkan kehidupan manusia. Orang-orang Eropa saling bunuh satu sama lain yang membuat suasana kehidupan panas membara bagai ketel yang penuh minyak mendidih panas sekali.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno menggambarkan kekacauan Eropa pada masa lalu yang seperti drakula penghisap darah dan pertarungan makhluk-makhluk buas itu salah satunya disebabkan rusaknya ajaran Kristen oleh para pendeta dan kesepakatan kaum gereja. Para pendeta dan gereja telah membuat ajaran-ajaran sendiri yang menyimpang dari ajaran Kristen sebenarnya. Mereka berkolaborasi dengan para penguasa Eropa untuk meraih kepentingan politik dan ekonomi. Akibatnya, di antara umat Kristen sendiri terjadi pertarungan dan pembunuhan besar-besaran.

            Orang-orang sudah hampir tidak tahu lagi tentang ajaran Kristen yang sebenarnya. Pendapat-pendapat pendeta dan gereja lebih kuat pengaruhnya di  masyarakat Eropa dibandingkan ajaran injil sendiri.

            Kalau saya tulis lebih panjang pendapat Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno tentang rusaknya ajaran Kristen oleh orang-orang Kristen sendiri yang menyebabkan kekalutan dalam ajaran Kristen yang menimbulkan banyak sekte dan menyebabkan berbagai perang-perang besar, saya yakin ada banyak orang Kristen di Indonesia dan di dunia ini merasa tersinggung. Bahkan, kalau Soekarno hidup pada masa ini sebagai rakyat, bisa mendapatkan “ancaman” tuduhan sebagai “penoda agama Kristen”. Padahal, itu adalah kenyataan. Oleh sebab itu, saya tidak sampai hati menuliskan pendapat Soekarno secara gamblang tentang kerusakan christendom karena sangat keras, tajam, dan menukik. Kalau mau tahu aslinya pendapat Soekarno tentang hal ini, pelajari saja dalam bukunya, Dibawah Bendera Revolusi.

            Sayangnya, karena umat Islam kurang baca dan kurang mempelajari riwayat dunia, kesalahan orang-orang Kristen itu pun diikuti oleh umat Islam. Saat ini banyak sekali dongeng-dongeng yang sangat laku di kalangan kaum muslimin. Hadits-hadits palsu pun banyak diproduksi untuk mendukung kepentingan politik dan ekonomi kalangan tertentu yang haus kekuasaan dan haus harta benda. Perang-perang dan konflik-konflik di Timur Tengah banyak disebabkan oleh dongeng-dongeng khayalan tentang Islam dan hadits-hadits palsu, terutama tentang jihad, kesyahidan, surga, neraka, zaman akhir, dan ramalan kekuasaan pada masa depan. Di samping itu, hal yang sangat menjijikkan adalah memutarbalikkan pemahaman ayat-ayat Al Quran sekehendak hati mereka sendiri tanpa melalui proses analisa mendalam yang jujur dan serius. Mereka menafsirkan ayat Al Quran bukan untuk memberikan pencerahan kepada umat, bukan untuk mendidik masyarakat, melainkan untuk menipu masyarakat agar masyarakat tergiring pada agenda-agenda rendah mereka. Oleh sebab itu, terjadilah perkawinan antara ulama terbelakang, kaum agama yang serakah dengan para politisi kacangan yang tak mampu menampilkan program dan potensi kebaikan. Lebih parah lagi jika perkawinan haram ini didukung oleh senjata-senjata pembunuh yang melibatkan kekuatan militer besar. Perang-perang besar dan berbagai pembunuhan pun terjadi sebagaimana yang terjadi di Eropa masa lalu.

            Hal yang bisa kita lihat adalah adanya kesamaan penyebab dari berbagai konflik, perang, dan pembunuhan di dunia ini, yaitu mengaburkan pemahaman agama dari ajaran yang sebenarnya, membuat ajaran-ajaran baru yang menyandarkan pada agamanya, memutarbalikkan fakta, dan mengupayakan pengadaan senjata untuk mendukung agenda-agenda politik dan ekonomi para petualang busuk.

            Orang-orang Eropa sangat lama tenggelam dalam kegelapan dan pertikaian. Mereka baru berhenti sejak terjadinya perjanjian Westphalia yang menghentikan perluasan-perluasan kekuasaan bangsa tertentu atas bangsa lainnya dan adanya keharusan menghormati batas-batas teritorial bangsa lainnya.

            Sekarang, bagaimana caranya umat Islam menghentikan konflik di antara umat Islam sendiri?

            Jawabannya adalah sangat mudah, yaitu kembali kepada Al Quran dengan meninggalkan dongeng-dongeng tak masuk akal, hadits-hadits palsu, serta pendapat para ulama terbelakang.

            Hal yang sulit dilakukan adalah mengakui diri telah melakukan kesalahan, meminta maaf, dan menurunkan egoisme diri.

            Apabila tujuan umat Islam hanya satu, yaitu mengabdikan diri kepada Allah swt tanpa mempertuhankan kekuasaan politik dan ekonomi, umat Islam pasti bersatu dan sama-sama membuat dunia ini dalam keadaan damai, tertib, teratur, harmonis, penuh cinta, dan penuh kemakmuran.


            Sampurasun.

Wednesday, 10 May 2017

Presiden Jokowi Mungkin Kurang Beriman dan Berdosa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hahaha … hahahaha ….

            Kalian memang orang-orang bodoh, tolol, dan goblok!

            Hahaha ….

            Beginilah kalian, benar-benar bodoh. Kalian punya keyakinan, punya pendapat, dan memperjuangkannya mati-matian, tetapi kalian melanggarnya sendiri.

            Hahahahaha ….

            Menurut kalian, QS Al Maidah : 51 itu adalah ayat larangan untuk memilih pemimpin yang beragama Yahudi dan Kristen dalam situasi apa pun, baik perang maupun damai, dalam sistem politik apa pun, termasuk demokrasi. Oleh sebab itu, Ahok yang memiliki pendapat lain berdasarkan pandangan kenalannya yang beragama Islam tentang ayat itu divonis bersalah. Itu artinya, baik langsung maupun tidak langsung, vonis hakim itu membenarkan pemahaman bahwa QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen. Kalau pemahaman itu tidak dianggap benar, tak ada alasan untuk menghukum Ahok. Karena pemahaman itu dianggap benar, Ahok dinyatakan bersalah.

            Iya toh?

            Koreksi saya jika saya salah.

            Kalau begitu, Jokowi adalah orang Islam yang kurang beriman dan berdosa karena telah memilih orang Kristen untuk menjadi menteri.

            Siapa bilang menteri itu bukan pemimpin?

            Menteri adalah pemimpin di departemennya dan memimpin mengelola masyarakat sesuai dengan bidang kerjanya. Orang Kristen yang dipilih Jokowi untuk menjadi menteri sudah pasti akan memimpin departemennya yang dipenuhi orang Islam untuk mengelola masyarakat Islam. Artinya, Jokowi telah memilih orang Kristen untuk memimpin umat Islam.

            Karena umat Islam dilarang menjadikan orang Kristen sebagai pemimpin, berarti Jokowi kurang beriman dan berdosa karena tidak mematuhi QS Al Maidah : 51.

            Begitu kan?

            Hahahahaha …. Benar-benar bodoh kalian!

            Menteri Agama RI yang beragama Islam itu pun kurang beriman dan berdosa karena mau-maunya dijadikan menteri oleh presiden yang kurang beriman dan jelas telah berdosa melanggar QS Al Maidah : 51. Di samping itu, ia pun tidak pernah mengingatkan Jokowi agar tidak memilih menteri beragama Kristen. Bertambahlah dosa Menteri Agama karena tidak mengingatkan Jokowi sebagai saudara sesama muslim.

            Anggota DPR dan DPD pun sama-sama kurang beriman dan berdosa karena tidak pernah mengingatkan presiden tentang QS Al Maidah : 51 itu sehingga Jokowi menjadikan orang Kristen untuk menjadi pemimpin bagi umat Islam. Tak ada protes dari anggota legislatif yang pro-pemahaman bahwa QS Al Maidah : 51 adalah ayat yang  melarang untuk memilih pemimpin beragama Kristen.

            Mengapa mereka tidak protes kepada Presiden soal menteri beragama Kristen itu?

            Mereka tidak protes karena mereka bodoh!

            Para pemimpin Ormas Islam pun tidak ada yang protes soal itu. Tenang-tenang saja. Itu artinya, para pemimpin Ormas Islam pun kurang beriman dan berdosa karena tidak mengingatkan presiden soal itu.

            Mengapa para pemimpin Ormas Islam yang memahami QS Al Maidah : 51 adalah larangan memilih pemimpin beragama Kristen itu tidak mengingatkan presiden?

            Mereka tidak mengingatkan presiden karena mereka bodoh!

            Sudah tahu dilarang yang akan mengakibatkan dosa, eh dibiarkan. Benar-benar bodoh kalian.

            Partai-partai apalagi jelas sekali kurang beriman dan berdosa. Di dalam tubuh partai-partai itu dipenuhi banyak pemimpin, mulai ketua umum, wakil, Sekjen, ketua bidang, kepala biro, ketua departemen, ketua wilayah, ketua daerah, ketua cabang, ketua ranting, dan rupa-rupa jabatan lainnya yang semuanya adalah pemimpin di levelnya masing-masing. Di dalam partai-partai nasionalis itu saya duga sangat keras ada banyak pemimpin beragama Kristen pada level masing-masing. Akan tetapi, anehnya ada di antara partai-partai itu yang meyakini dan mendukung pemahaman bahwa QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk menjadikan orang Kristen sebagai pemimpin. Bahkan, semangat sekali mereka menjatuhkan Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama.

            Mengapa mereka membiarkan orang-orang Kristen untuk menjadi pemimpin pada berbagai level di dalam tubuh partainya, padahal mereka yakin bahwa orang Kristen dilarang untuk menjadi pemimpin sehingga seru sekali menjerumuskan Ahok ke penjara?

            Mereka berperilaku seperti itu karena mereka orang-orang bodoh!

            Partai-partai Islam juga sama dipenuhi oleh orang-orang kurang beriman dan berdosa karena tak jarang mereka juga berkoalisi untuk kepentingan tertentu dengan partai-partai nasionalis yang memiliki banyak pemimpin di setiap level yang beragama Kristen.

            Mengapa partai-partai Islam yang berpendapat bahwa QS Al Maidah : 51 itu adalah larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen mau bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki banyak pemimpin Kristen untuk memimpin umat Islam di dalam partainya?

            Mereka melakukan itu karena mereka bodoh!

            Sudah tahu Kristen dilarang menjadi pemimpin umat Islam, eh malah bekerja sama lagi. Benar-benar bodoh kalian.

            Rakyat juga sama kurang beriman dan berdosa karena tidak ada yang mengingatkan presiden, anggota legislatif, dan partai-partai soal itu. Jadi, negeri ini memang negeri orang-orang kurang beriman dan berdosa.

            Mengapa rakyat yang memahami QS Al Maidah : 51 sebagai larangan memilih pemimpin beragama Kristen itu tidak ada yang protes soal menteri beragama Kristen dan soal partai-partai yang memiliki banyak pemimpin Kristen pada setiap level?

            Mereka tidak protes karena mereka bodoh!

            Rakyat malah lebih banyak dosanya. Sudah tahu dilarang menjadikan orang Kristen menjadi pemimpin, eh malah bekerja di perusahaan-perusahaan yang dipimpin dan dimiliki orang Kristen. Mereka bersukarela untuk dipimpin oleh orang Kristen di tempat kerjanya. Padahal, jangankan berharap dapat bekerja dipimpin orang Kristen, memilihnya pun tidak boleh.

            Mengapa mereka yang memahami QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin Kristen, tetapi berusaha keras untuk mendapat pekerjaan di tempat-tempat yang dimiliki dan dipimpin oleh orang Kristen?

            Mereka melakukan itu karena mereka bodoh!

            Sekarang para hakim.

            Halo para hakim, otak Anda sedang sehat?

            Kalaulah ada hakim yang setuju terhadap pemahaman QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin Kristen, mestinya mereka protes terhadap pemimpin-pemimpin Kristen di level apa pun di lembaga kehakiman karena itu adalah salah dan sangat dilarang. Kalau mereka membiarkannya, berarti sama dengan perilaku orang-orang Kepulauan Seribu yang tidak protes dan marah ketika Ahok berpidato menyinggung soal QS Al Maidah : 51. Orang-orang di Kepulauan Seribu dikatakan Novel yang jadi saksi pelapor itu sebagai “orang yang kurang iman”. Jadi, para hakim yang membiarkan orang-orang Kristen untuk menjadi pemimpin di level apa pun di lembaga kehakiman adalah hakim-hakim muslim yang kurang beriman dan berdosa karena tidak memperjuangkan QS Al Maidah : 51.

            Is that clear?

            Mengapa para hakim yang setuju terhadap pemahaman QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen tidak protes atas adanya para pemimpin Kristen di lingkungan kehakiman?

            Mereka melakukan itu karena mereka …..

            Halo para hakim, otak Anda sedang sehat?

            Pokoknya, tidak boleh ada pemimpin beragama Kristen yang memimpin umat Islam dalam hal apa pun dalam level apa pun karena begitulah menurut orang-orang yang pro pemahaman QS Al Maidah : 51 sebagai larangan memilih orang Kristen.

            Mau berdebat dengan saya?

            Saya tunggu!

            Sudahlah, di negeri ini jangan ada lagi pemimpin beragama Kristen, baik itu di bidang olah raga, seni, budaya, kemasyarakatan, keamanan, organisasi profesi, organisasi ekonomi. Kita harus membersihkan diri dari semua kepemimpinan yang dipegang oleh orang Kristen, baik itu RT, RW, kepala ronda, kepala koperasi, pemimpin paduan suara, ketua kontingen catur, badminton, tenis meja, pilot pesawat terbang, nakhoda, pemimpin bengkel, pemimpin persatuan ojek, ketua ikatan mahasiswa, kepala asuransi, dan rupa-rupa kepemimpinan lainnya.

            Silakan saja teruskan kebodohan kalian karena kalian memang orang-orang bodoh. Saya tidak mau ikut-ikutan bodoh. Bagi saya, Jokowi adalah orang Islam yang baik dan tetap beriman meskipun menjadikan orang-orang Kristen sebagai pemimpin bagi umat Islam di Indonesia.


            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Tak Ada Perang Ayat

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam menghadapi perhelatan pemilihan eksekutif dan legislatif, berbagai cara diupayakan untuk mendapatkan kemenangan. Sayangnya, tujuan yang ingin dicapai adalah banyak sekali yang hanya kemenangan diri dan kelompoknya, bukan kemenangan rakyat. Akibatnya, segala cara digunakan untuk mencapai kemenangan, baik itu cara yang positif maupun negatif, cara baik atau cara buruk, cara terpelajar dan cara preman, cara jujur dan cara curang, dan lain sebagainya. Hal yang paling menyedihkan adalah cara buruk dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran, baik untuk mendukung calon eksekutif dan legislatif maupun untuk menjatuhkan saingannya. Ayat-ayat itu digunakan untuk melegitimasi seseorang ataupun untuk menolak seseorang dalam menduduki jabatan eksekutif maupun legislatif.

            Penggunaan ayat-ayat Al Quran itu sungguh sangat buruk karena Al Quran itu bukan stempel atau alat legitimasi, melainkan petunjuk dan pedoman hidup. Jika Al Quran dijadikan dalil untuk memilih seseorang ataupun menghancurkan nama baik seseorang, sama saja dengan kita menghina Al Quran. Hal itu disebabkan bisa jadi seseorang yang dilegitimasi untuk menjadi pemimpin dengan menggunakan ayat Al Quran suatu saat bahkan menentang Al Quran. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi orang yang ditolak atau direndahkan dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran justru sesungguhnya adalah pengamal Al Quran yang sangat baik.

            Apabila suatu kelompok menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk mendukung atau menolak seorang atau sekelompok kontestan dalam pemilihan pemimpin, kelompok yang merupakan saingannya akan menggunakan Al Quran pula untuk melawan mereka yang telah menyudutkannya dengan menggunakan ayat Al Quran. Terjadilah apa yang disebut orang sebagai “perang ayat” atau perang “hadits” dan itu sangat memalukan serta merendahkan ajaran Islam.

            Sesungguhnya, tidak ada itu yang namanya perang ayat atau perang hadits. Tak ada pertentangan di antara ayat Al Quran. Seluruh ayat Al Quran terkait satu sama lain dan saling mendukung. Yang berperang sesungguhnya bukan ayat, melainkan manusianya. Manusia saja yang sibuk bikin-bikin penafsiran berbeda sesuai dengan hawa nafsu serta kepentingan ekonomi dan politik. Ayat Al Qurannya sih lurus-lurus saja, tegak berdiri sebagai pedoman hidup. Berbeda jauh dengan “perang tomat” atau “perang anggur”. Tomat dan anggur bisa dilempar kesana-kemari, tetapi ayat Al Quran tidak bisa dilempar seenaknya. Ayat Al Quran tetap stabil berdiri kokoh dalam keadaan suci. Yang dilempar-lempar adalah pemahaman yang keliru, hasil pemikiran berdasarkan hawa nafsu negatif. Demikian pula, dengan “perang hadits”. Tidak ada perang hadits sesungguhnya karena perilaku dan kata-kata Muhammad saw adalah Al Quran. Akhlak Muhammad saw adalah Al Quran. Hadits-hadits yang dilempar-lempar adalah hadits-hadits palsu atau hadits bikinan atau pemahaman yang keliru mengenai hadits shahih.

            Hal ini sama dengan istilah “perang salib” yang dimaksudkan perang antaragama. Tak ada itu perang antaragama sesungguhnya. Perang yang disebut antaragama itu sesungguhnya perang yang diakibatkan penguasa Inggris di Yerusalem mengganggu kafilah-kafilah dagang kaum muslimin, lalu gangguan penguasa Inggris itu dibalas oleh Salahudin Al Ayubi hingga hancur. Bangsawan dan pendeta Inggris menggunakan agamanya untuk menarik simpati kaum Kristen untuk mendukung perang yang sedang dilakukannya. Tak ada perang agama sesungguhnya dan tidak pernah ada. Agama dan ayat-ayat hanya digunakan sebagai justifikasi atas perang yang dijalankannya.

            Adapun ayat-ayat perang dan atau jihad dalam Al Quran adalah bukan untuk mendorong terjadinya perang ataupun memprovokasi konflik, tetapi untuk memberikan semangat dan pemahaman bahwa jika terjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan, kehormatan manusia, hak-hak manusia, kezaliman terhadap kemanusiaan, dan penghinaan kepada Islam, Muhammad saw, Allah swt, lalu kita memerangi kejahatan itu, pahalanya adalah surga yang dipenuhi bidadari dan berbagai kenikmatan lainnya. Semakin besar pengorbanan kita dalam membela kebenaran, semakin tinggi tingkat surga yang dijanjikan Allah swt.

            Tak ada perang ayat. Tak ada perang hadits. Tak ada perang agama. Yang berperang adalah manusianya.


            Sampurasun.

Para Pemimpin Agama Jangan Munafik

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berbagai konflik di dunia ini sangat sering dipenuhi konflik yang mengatasnamakan agama. Rebutan tanah, sumber daya alam, kekuasaan, uang, dan pasar kerap menggunakan agama sebagai alasan. Agama dijadikan daya tarik dan justifikasi terhadap perang-perang yang dilakukan. Sejarah mencatat itu semua.

            Hampir seluruh agama tercatat para pemimpinnya pernah menggunakan agamanya untuk kepentingan politik dan ekonomi. Mereka pun sering menghina dan menjelek-jelekan agama lain di hadapan publik hanya untuk membuat pembenaran atas perilaku kekerasan yang dilakukan kelompoknya atau mereka yang telah memberikan janji politik dan ekonomi pada para pemimpin agama itu. Para pemimpin Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dan beberapa agama kecil memiliki catatan kekerasan dan teror, baik pada masa lalu yang waktunya jauh dari kita maupun pada masa sekarang ini.

            Para pemimpin agama seharusnya menggunakan agamanya untuk menciptakan perdamaian dan kasih sayang di muka Bumi, bukan melegitimasi kekerasan dan perang. Para pemimpin agama harus memiliki jiwa dan hati yang lebih besar dan lapang dibandingkan umatnya. Mereka harus lebih tenang dan jernih dalam berpikir serta mempertimbangkan sesuatu. Para pemimpin agama sudah seharusnya menjadi agen-agen pemberi solusi, pemecah masalah, dan penghenti konflik. Bukan sebaliknya, para pemimpin agama justru merupakan bagian dan provokator konflik.

            Para pemimpin agama. Agama apa pun itu sangat tidak pantas berperilaku munafik. Di hadapan publik dan masyarakat dunia mereka tampil sebagai orang-orang saleh dengan berbagai atribut keagamaannya menyatakan sebagai pecinta perdamaian, tetapi pada saat yang sama mereka berkolaborasi dengan penguasa ataupun pengusaha melakukan kerja-kerja rahasia yang membuat kusut kehidupan manusia. Pemimpin agama seperti ini adalah pemimpin yang munafik. Sangat tidak pantas pemimpin agama berperilaku kotor seperti itu.

            Setiap pemimpin agama sudah seharusnya mengendalikan umatnya masing-masing agar tidak menjadi bagian dari konflik. Seluruh pemimpin agama wajib menenangkan setiap umatnya masing-masing dan jangan ikut-ikutan membuat provokasi bahkan menyebarkan hoax. Apabila setiap pemimpin agama mampu menyadarkan umatnya untuk tidak memicu konflik, tidak terlibat dalam konflik, dan menghindari kekusutan, dunia ini akan damai dan tenteram.

            Jika ada umatnya yang melecehkan agama lain, seharusnya pemimpinnya memberikan kesadaran bahwa perilaku umatnya itu sesungguhnya merugikan agamanya sendiri. Tak pernah ada kejadian suatu agama menjadi mulia disebabkan umatnya menghina agama lain. Sesungguhnya, kemuliaan suatu agama atau suatu umat beragama terwujud dari perilakunya dalam menghormati orang lain dan membiarkan orang lain melakukan keyakinannya masing-masing. Di samping itu, suatu agama akan tampak lebih mulia jika mampu pula menghormati mereka yang belum beragama atau tidak beragama. Mereka belum meyakini agama karena mereka belum mendapatkan pengetahuan tentang agama dengan benar. Apabila kita mudah menuduh orang lain sebagai calon penghuni neraka, kemuliaan kita pun akan merosot dan jatuh dalam kehinaan.

            Mulai saat ini tak boleh ada lagi pemimpin agama yang memberikan pembenaran untuk konflik-konflik atau perang-perang yang terjadi. Semua agama sudah seharusnya menghormati hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Jangan ada lagi pemimpin agama yang mau disuap dengan janji politik ataupun ekonomi hanya untuk mempertahankan kekisruhan yang terjadi.

            Pemimpin agama apa pun yang melegalkan pembunuhan dan perang tanpa alasan yang jelas adalah para pendusta. Kita diperbolehkan perang hanya untuk membela diri, membela harga diri, membela harta benda yang kita miliki, dan menciptakan keadilan. Jika kita diperangi, diusir, diburu, dikejar, dianiaya, dan diancam dibunuh, kita harus membela diri, kehormatan, dan keadilan. Kalaupun harus berperang, berperanglah untuk membela diri dan bukan untuk merampok orang lain.

            Akan tetapi, kita tidak boleh memulai perang, memulai konflik, atau mencari gara-gara agar terjadi huru-hara. Saya orang Islam yang meneladani Muhammad saw. Sang Nabi saw tidak pernah memicu perang atau mengobarkan kebencian. Muhammad saw melakukan perang hanyalah untuk membela diri, menjaga kehormatan, dan mewujudkan keadilan. Tidak pernah Nabi Muhammad saw menjadi penyebab suatu perang.

            Sebutkan satu perang saja yang dilakukan Nabi Muhammad saw yang pemicunya adalah Nabi Muhammad saw sendiri.

            Pasti tidak ada!

            Saya jamin itu.

            Kalau ada, itu berarti kalian mendapatkan hoax. Saya dengan senang hati membongkar kebusukan kisah hoax itu.


            Sampurasun.