Showing posts with label Yahudi. Show all posts
Showing posts with label Yahudi. Show all posts

Friday, 21 May 2021

Pentingnya Pasukan Perdamaian di Al Quds

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam menyikapi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina yang menimbulkan perang dan menimbulkan kerusakan terhadap kemanusiaan, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi hadir dalam Sidang Majelis Umum (SMU) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis, 20 Mei 2021. Sengaja dia datang untuk mendesak PBB mengambil tiga aksi penting untuk menghentikan perang dan kekerasan yang terjadi. Setelah Menlu RI Retno menyampaikan desakannya, kita tahu bahwa besoknya, pukul 02.00 dini hari disepakati gencatan senjata antara Israel dan Hamas untuk menghentikan “sementara” penggunaan senjata dan aksi-aksi militer di kedua belah pihak.

            Dari tiga aksi penting yang diusulkan Retno Marsudi dalam SMU PBB tersebut, dalam tulisan kali ini saya ingin beropini tentang satu usulan aksi tersebut. Hal itu adalah desakan Retno agar hadirnya “kekuatan internasional” di “Al Quds” untuk mengawasi dan memastikan keselamatan rakyat Palestina serta menjamin perlindungan status “Kompleks Al-Haram Al-Sharif” yang dianggap sebagai tempat suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.

            Selama ini, kompleks tersebut diklaim, dikelola, dan dikuasai Israel. Pasukan Israel adalah yang berkuasa di tempat tersebut. Hal itu menimbulkan kerawanan konflik yang bisa kapan saja terjadi mengingat masih besarnya kebencian di antara mayoritas warga Palestina dan Israel. Perang yang terjadi di antara mereka baru-baru ini pun diklaim Israel dan pendukungnya gara-gara warga Palestina yang melempari pasukan Israel dengan batu-batu di kawasan Al Quds. Padahal, pelemparan itu pun sebenarnya diakibatkan oleh perilaku Israel sebelumnya terhadap warga Palestina yang kerap melakukan penggusuran, pengusiran, dan penindasan lainnya. Dengan demikian, di tempat itu bisa dikatakan mudah sekali terjadi bentrokan.

            Usulan Menlu RI Retno Marsudi adalah sangat masuk akal untuk menjaga rakyat dan keamanan di kawasan tersebut. Pasukan perdamaian internasional diharapkan dapat lebih netral bersikap dan lebih bijak mengambil tindakan. Kalaulah masih timbul kecurigaan atau kekhawatiran, baik dari pihak Palestina atau Israel terhadap kenetralan pasukan perdamaian di luar kalangan mereka, Indonesia bisa menawarkan diri menjadi pasukan perdamaian pertama di kawasan itu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas usulan tersebut. Artinya, kekhawatiran bisa timbul dari pihak Palestina jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara barat karena dianggap pro-Israel atau Israel bisa khawatir jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara Arab yang dianggap membenci mereka. Indonesia bisa menjembatani berbagai kekhawatiran itu mengingat “politik luar negeri bebas dan aktif” yang mengharuskan dirinya bebas dari tekanan negara mana pun dan mewajibkan dirinya untuk selalu aktif menciptakan perdamaian dunia. Di samping itu, Indonesia pun sedang dalam keadaan terus berupaya adil untuk mengelola bangsanya yang majemuk, beragam agama, suku, dan ras. Tambahan pula bahwa Indonesia itu dalam hal militer cenderung bersikap “defensive”, ‘pertahanan diri’, setiap orang Indonesia tidak pernah ingin untuk menyerang negara lain dan tidak ingin menjajah negara lain.

            Intinya, untuk membuat situasi lebih terkendali, diperlukan pasukan perdamaian internasional yang lebih netral, lebih adil, dan lebih biijak. Syaratnya, pasukan ini harus mendapat mandat dari PBB, Israel bersedia mundur dari Kompleks Al-Haram Al-Sharif, dan Palestina harus menghormati kehadiran pasukan perdamaian tersebut.

            Sampurasun.

Tuesday, 18 May 2021

Tak Ada Perang Agama

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mau dilihat lebih detail, sesungguhnya perang-perang yang disebut-sebut “Perang Agama”, sesungguhnya hanyalah perebutan politik dan ekonomi atau karena tindakan kriminal suatu kaum. Agama dibawa-bawa hanya untuk menutupi keinginan atau kepentingan yang sebenarnya dan untuk mengelabui dunia agar mendapatkan simpati internasional.

            Hal yang lebih celaka adalah umat Islam pun banyak yang menyebarkan pula propaganda di luar Islam untuk mengatakan bahwa banyak perang yang disebut perang agama.

            Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang dicuplik oleh T.D. Sudjana dalam artikelnya pada sebuah prosiding yang berjudul Tokoh Siliwangi dalam Pandangan Tradisi Keraton Cirebon (1991). Ia mencuplik bahwa ketika bangsawan Inggris berkuasa di Yerusalem, mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap kafilah-kafilah saudagar kaum muslim. Oleh sebab itu, “Sultan Salahudin Al Ayubi” marah bukan main, lalu melakukan penyerangan. Kekuatan Inggris pun melemah di Yerusalem. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan simpati dari dunia internasional, pasukan Inggris menyebarkan fitnah bahwa pasukan Salahudin adalah pasukan syetan sehingga pertempuran itu disebut mereka sebagai crusade, ‘Perang Salib’ untuk menimbulkan kesan perang antara agama Kristen dan agama Islam. Umat Islam pun banyak yang mengistilahkan perang itu sebagai “Perang Sabil”. Padahal, perang itu bukanlah perang antaragama, melainkan perang yang terjadi akibat kerakusan dan ketololan pasukan Inggris yang melakukan gangguan terhadap rombongan saudagar Islam.

            Bagi Salahudin, itu bukanlah perang agama, melainkan perang untuk membela kebenaran, kehormatan, dan keadilan yang dilakukan oleh pasukan muslim. Banyak pula sesungguhnya anggota pasukan Salahudin yang tidak beragama Islam. Salah seorang panglima Sultan Salahudin adalah beragama Kristen, namanya Isa. Ia dihadiahi Sultan Salahudin seorang puteri bangsawan Inggris yang dirampas karena Inggris kalah perang.

            Kebencian dan propaganda agama untuk menyudutkan Islam itu tidak berhasil karena Sultan Salahudin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dan membuat pasukan Inggris kalah total.

            Hal yang memperjelas bahwa perang itu bukan perang agama adalah beberapa waktu setelahnya ketika kepentingan politik dan ekonomi Inggris mulai diganggu Musolini dan Hitler, saat Perang Dunia II, Inggris mendekati Islam yang dulu disebutnya syetan itu, kemudian menggunakan semangat Islam untuk mengalahkan Musolini dan Hitler. Inggris berupaya keras untuk mendapatkan dukungan kaum muslimin di Timur Tengah agar sama-sama membenci Musolini dan Hitler. Tak tanggung-tanggung, tank-tank baja pasukan Inggris ditulisi nama SALADIN untuk mengingatkan kaum muslimin terhadap keberanian dan kepahlawanan Sultan Salahudin Al Ayubi. Di samping itu, Inggris tahu betul bahwa nama Saladin adalah lambang moralitas dan sikap mulia hidup muslim yang terpancar dari sosok Sultan Salahudin Al Ayubi. Dengan menggunakan nama SALADIN, Inggris pun berharap bahwa bangsanya dapat dipahatkan dalam sejarah dunia sebagai bangsa yang memiliki “nama baik” sebagaimana aura nama SALADIN dalam sejarah kaum muslimin.

            Begitulah, agama hanya dibawa-bawa untuk mengaburkan tujuan yang sebenarnya, yaitu kepentingan politik dan ekonomi.

            Pada akhir-akhir ini, 2021, Zionis Israel pun menyebarkan propaganda bahwa konflik yang terjadi dengan Palestina adalah sebagai perang agama antara Yahudi dan Islam yang sudah terjadi ratusan tahun lalu. Hal itu dilakukan hanya untuk menutupi tujuan mereka yang sebenarnya, yaitu merampok, mengusir, membunuh, dan menjajah bangsa Palestina. Padahal, di Palestina itu banyak pula yang beragama Kristen, Yahudi, atau kepercayaan lainnya. Demikian pula di Israel, banyak pula yang beragama Kristen dan Islam. Di samping itu, mereka pun rajin mendekati bangsa-bangsa muslim untuk membuka hubungan diplomatik, termasuk terhadap Indonesia melalui tangan Amerika Serikat.

            Orang-orang Zionis Israel itu mulai ada di Palestina sejak 1948, bukan ratusan tahun lalu. Di tanah itu rencananya akan dibuat dua negara merdeka, yaitu Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan. Akan tetapi, Zionis melakukan banyak aksi premanisme, terorisme, dan kriminalisme terhadap Palestina hingga hari ini. Mereka itu orang-orang yang trauma dan ketakutan karena dari zaman ke zaman hidup dalam banyak masalah. Di Mesir Firaun memperbudak mereka, Nabi Muhammad saw mengusir mereka dari Madinah karena banyak membuat gangguan terhadap kaum muslimin, ditolak untuk mendapatkan Palestina pada zaman Kesultanan Utsmaniyah, di Jerman mereka dibantai Hitler, dan berbagai masalah lainnya. Oleh sebab itu, mereka berupaya tetap melakukan kejahatan terhadap bangsa Palestina karena tidak mau kembali menjadi bangsa yang tersisihkan dan dipermalukan seperti zaman-zaman yang lalu.

            Jadi, bukan perang agama yang terjadi, melainkan kepentingan politik dan ekonomi. Umat Islam tidak perlu ikut-ikutan menyebarkan propaganda mereka dengan sama-sama menyebutnya sebagai perang agama karena bisa menambah runyam situasi dan terjebak pada rencana mereka.

            Sebagaimana tadi saya katakan bahwa kalau mau diperhatikan lebih detail, perang agama itu tidak ada. Bahkan, perang-perang yang dilakukan Nabi Muhammad saw pun bukan perang agama, melainkan urusan politik dan ekonomi. Dulu saya sering berdiskusi dengan guru ngaji saya, Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin itu diusir, diburu, dianiaya, dibunuh, dan difitnah bukan karena ritual keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdoa, dan lain sebagainya, melainkan karena urusan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Orang-orang kafir melakukan kejahatan kepada Nabi dan kaum muslimin karena merasa terganggu politik dan ekonominya. Kalau semakin banyak kaum muslimin dan mereka harus patuh kepada Nabi saw, kewenangan mengatur Mekah ada di tangan Nabi saw, diatur oleh Nabi saw. Mereka tidak mau itu terjadi karena kekuasaan mereka harus beralih pula kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula bisnis mereka, seperti,   penyediaan air, makanan, dan perdagangan bagi para peziarah yang datang ke Mekah yang menghasilkan keuntungan ekonomi luar biasa, harus pula menggunakan cara-cara yang dilakukan Sang Nabi. Belum lagi soal perempuan yang bisa mereka “gunakan” kapan saja, Nabi saw melarangnya dengan membatasinya melalui pernikahan dalam jumlah yang juga terbatas, tidak seenaknya. Hal itu semua sangat mengganggu kesenangan kaum kafir. Oleh sebab itu, mereka berusaha keras memusnahkan Nabi saw dan kaum muslimin. Akibatnya, Nabi saw melawan dan kaum kafir pun kalah total.

            Jadi, bukan karena shalat, puasa, haji, atau ritual keagamaan lainnya umat Islam diperangi, melainkan karena kepentingan politik dan ekonomi. Agama hanya dibawa-bawa untuk membungkus dan menyamarkan tujuan sebenarnya, yaitu lima hal: kekuasaan, uang, benda, tempat tinggal, dan seks. Tidak ada tujuan lain, kecuali lima hal itu. Kalau ada tujuan lain, kasih tahu saya.

            Sampurasun.

Tuesday, 19 May 2020

Zaman Akhir Vs Zaman Akhir Vs Zaman Akhir


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir ini selalu menarik perhatian orang, terutama orang-orang yang sedang tertindas, terancam, dan kebingungan tentang arah hidupnya. Suatu kaum yang sedang merasa tergeser, tersingkir, atau terhalang oleh kaum yang lain kerap menyandarkan hidupnya pada berbagai ramalan, prediksi, atau berita-berita masa depan.

            Dalam berita-berita itu kerap dikisahkan akan munculnya sosok pahlawan bagi kaumnya yang akan menyelamatkan kaumnya. Biasanya, sosok ini penuh dengan kekuatan, keimanan, dan keagungan. Dialah harapan umat untuk mengenyahkan segala kejahatan, kekejaman, kezaliman agar umatnya dapat sejahtera, berkuasa, dan penuh kemuliaan.

            Kisah ini beredar di antara umat manusia, di antara suku bangsa, dan di antara para pemeluk agama. Di lingkungan umat Islam diyakini adanya kehadiran Imam Mahdi dan Yesus as yang akan mengalahkan Dajal, Sang Raja Dusta, serta membawa kedamaian dan kemakmuran di muka Bumi di samping mengokohkan posisi politik kaum muslimin di dunia.

            Kisah zaman akhir ini bukan hanya dimiliki umat muslim, melainkan pula dimiliki umat Nasrani. Kaum kristiani percaya bahwa akan ada kebangkitan umat Kristen untuk memimpin dunia dan membimbing manusia keluar dari kegelapan. Beberapa sekte malah berani melakukan pembunuhan untuk terciptanya situasi zaman akhir yang sesuai dengan keyakinan mereka.

            Hal yang sama pun diyakini oleh umat Yahudi. Mereka sangat percaya bahwa diri mereka mirip Nabi Daud as yang menang bertarung melawan raksasa Goliath. Arab adalah yang dimaksud orang-orang Yahudi sebagai Goliath. Artinya, Yahudi adalah yang akan menguatkan Israel Raya dan memimpin dunia.

            Sesungguhnya, banyak hal yang bisa saya ungkapkan tentang kisah-kisah zaman akhir itu. Akan tetapi, terlalu panjang untuk ditulis di sini. Jika mau, saya bisa bikin buku berjilid-jilid soal zaman akhir ini dipandang dari tiga agama berbeda.

            Dalam tulisan kali ini saya ingin memberitahukan bahwa kisah-kisah zaman akhir itu dimiliki oleh kaum muslimin, kaum Nasrani, dan kaum Yahudi. Setiap kaum meyakini bahwa kaumnyalah yang akan menjadi pemimpin dunia. Orang Islam yakin bahwa orang Islam yang akan mengendalikan dunia pada masa akhir zaman. Orang Nasrani juga yakin bahwa merekalah yang akan benar-benar menguasai dunia. Demikian pula orang-orang Yahudi sangat kuat keyakinannya terhadap kehadiran Raja Yahudi yang ditunggu-tunggu untuk mengangkat kemuliaan Yahudi dan mengalahkan Goliath Arab.

            Hal yang sangat menarik adalah, baik kaum muslimin, Nasrani, maupun Yahudi sama-sama meyakini bahwa pada akhir zaman mereka akan terlibat perang besar di Yerusalem, tanah Palestina. Perbedaannya, setiap kelompok meyakini bahwa kelompoknyalah yang akan menang, sedangkan kelompok yang lainnya adalah para penjahat yang harus dikalahkan.

            Hal ini pula yang menjelaskan bahwa kekisruhan, kekalutan, kejahatan, kekejian, pembunuhan, ketidakadilan, kesengsaraan, pertengkaran, konflik di Yerusalem, Palestina tidak kunjung usai. Mereka selalu terlibat saling bunuh, saling culik, saling rusak, dan saling serang. Mereka tidak pernah bisa berhenti karena salah satunya adalah keyakinan terhadap kisah-kisah zaman akhir yang  memberitakan bahwa merekalah yang akan menjadi pemenang pertarungan di kawasan itu.

            Orang Islam yakin akan menang, Nasrani juga percaya mereka yang menjadi pemenangnya, Yahudi pun demikian pula sangat yakin akan menguasai dunia.

            Lalu, pertanyaannya sampai kapan kegoncangan dan saling bunuh itu akan berhenti?

            Jawaban orang Islam pastinya jika orang Islam berkuasa. Jawaban Nasrani juga begitu, jika Nasrani memegang kendali. Jawaban Yahudi apalagi, situasi akan terkendali jika Raja Yahudi yang mereka tunggu sudah hadir di muka Bumi.

            Semua saling klaim.

            Lalu, siapa yang paling benar?

            Setiap pemeluk agama akan mengklaim dirinya adalah yang paling benar. Ketika para pemeluk agama itu sedang saling klaim, di tanah Yerusalem, Palestina, terus terjadi pembunuhan-pembunuhan, kekerasan, banjir darah, penggusuran, penganiayaan yang korbannya adalah para pemeluk agama dari setiap pihak yang bertikai.

            Jadi, begitulah keyakinan tentang kisah zaman akhir versi muslim melawan zaman akhir versi Nasrani melawan zaman akhir versi Yahudi.

            Jadi, harus bagaimana atuh?




            Saya sebagai muslim, berharap bahwa kaum muslimin lebih dewasa, lebih rasional, dan lebih bijak dalam menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

            Bagaimana caranya?

            Entar dululah. Sedikit-sedikit dulu menerangkannya, bisi pusing.

            BTW, bagi lulusan SMP/MTs yang mau meneruskan sekolah, bisa ke “MA Mawaddi di Kompleks Pondok Pesantren As Saadah, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung”.

            Bagi lulusan MA/SMK/SMA yang mau meneruskan kuliah ke “Universitas Al-Ghifari”, klik http://pmb.unfari.ac.id , banyak beasiswanya lho.

            Sampurasun

Sunday, 10 September 2017

Salut untuk Kaum Budha Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaum Budha Indonesia memberikan contoh yang sangat baik bagi para penganut Budha di seluruh dunia sekaligus contoh hebat bagi penganut agama-agama lain. Kaum Budha Indonesia memberikan kecaman yang sangat keras terhadap militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan kekerasan keji terhadap kaum muslim Rohingya. Mereka sadar bahwa kejahatan terhadap manusia adalah bukan ajaran Budha. Mereka insyaf bahwa kaum Budha radikal dapat merusakkan nama baik kesucian ajaran Budha. Mereka paham benar bahwa kaum Budha di Indonesia adalah minoritas sehingga merasa perlu untuk terus hidup rukun dengan mayoritas kaum muslimin jika ingin bertahan hidup dalam damai di Indonesia. Mereka memaki perbuatan keji. Mereka pun mengumpulkan donasi untuk kaum muslimin di Myanmar.

            Perilaku kaum Budha Indonesia itu patut mendapatkan acungan jempol, penghargaan yang sangat tinggi. Mereka tak segan dan tak malu untuk memaki siapa pun yang menggunakan ajaran Budha untuk kekerasan.

            Memang begitulah seharusnya, setiap agama mengendalikan penganut agamanya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan atas nama agamanya. Kaum muslimin sudah sejak lama melakukan hal itu. Setiap ada kelompok muslim yang lemah pengetahuan agama Islam, lalu menggunakan Islam sebagai alasan untuk melakukan kejahatan, kaum muslimin yang waras otak dan berpengetahuan agama luas akan melakukan kritik, makian, penentangan, bahkan bersiap untuk memerangi kaum muslimin yang dengan ceroboh menggunakan agama sebagai alat kekerasan. Dari zaman ke zaman perilaku itu sudah ada di lingkungan kaum muslimin. Hal itu memang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri bahwa suatu saat akan ada masa datangnya orang-orang berpikiran pendek untuk melakukan kekerasan dan orang yang paling mulia adalah orang yang memerangi orang-orang berpikiran pendek itu.

            Agama-agama lain pun seharusnya melakukan hal yang sama. Tidak perlu membela  orang-orang yang melakukan kerusakan, kejahatan, kekejian, dan kekerasan meskipun orang itu satu agama dengan kita. Katolik waras harus memerangi Katolik jahat, Protestan baik harus memerangi Protestan buruk, Hindu baik harus memerangi Hindu buruk, Yahudi waras harus memerangi Yahudi brengsek, Konghucu cerdas harus memerangi Konghucu bloon. Begitu seterusnya dengan agama-agama lain. Dengan demikian, tidak perlu terjadi saling hujat di antara penganut agama yang berbeda karena setiap penganut agama akan mengendalikan penganut agama sendiri. Orang Kristen tidak perlu menghujat orang Islam yang melakukan teror. Demikian pula orang Islam tidak perlu memaki dan menelanjangi orang Kristen yang melakukan kejahatan kemanusiaan atas dasar agama. Orang Islam wajib mengendalikan kaum muslimin sendiri. Kaum Kristen wajib mengontrol kaum Kristen sendiri. Dengan demikian, perdamaian di antara manusia bisa terus menguat dan semakin tercipta dengan nyata karena salah satu faktor pemicu kekusutan sudah bisa diatasi, yaitu perbedaan agama.

            Saat ini terjadi saling bela yang buruk berdasarkan agama. Hal itu disebabkan kejahatan pemeluk agama tertentu dibela oleh penganutnya walaupun jelas-jelas salah. Akibatnya, kejahatan itu ditimpakan dan dituduhkan pada kejahatan ajaran agamanya. Hal itu mengakibatkan persengketaan yang keras dan menyita banyak energi.

            Kaum muslimin sudah sangat lama mengontrol dan berupaya keras mengendalikan umatnya yang salah jalan, bahkan memeranginya, hingga membunuhnya. Kini kaum Budha dengan sangat nyata mengecam keras umatnya sendiri yang melakukan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Itulah kaum Budha yang cerdas dan patut dihormati oleh semuanya. Saya yakin kaum muslimin yang sehat jiwanya akan mendukung para penganut Budha yang seperti itu sehingga keharmonisan hidup di antara pemeluk umat beragama di Indonesia dapat dijaga. Itulah Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia.


            Sampurasun

Wednesday, 19 April 2017

Emas Negeri Saba Ditemukan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Negeri Saba itu dulunya negeri yang indah, nyaman, makmur, dan kaya raya. Pada masa Indonesia masih berbentuk Benua Sundaland, negeri Saba kekayaannya luar biasa. Di dalam Al Quran banyak dikemukakan kemegahan negeri Saba, baik itu diceriterakan kondisi negerinya secara langsung maupun disiratkan dari sikap-sikap Ratu Balqis/Ratu Boko kepada Nabi Sulaeman as.

            Bagi mereka yang masih percaya bahwa negeri Saba ada di Timur Tengah, boleh saja. Cari saja tempat bernama Saba yang ciri-cirinya sesuai yang diterangkan Allah swt dalam Al Quran. Kalian tidak akan menemukannya. Mereka yang masih bertahan dengan pendapat lama bahwa Saba ada di Timur Tengah adalah mereka yang pikirannya masih Arab Centris, yaitu menganggap bahwa Islam berasal dari Arab yang akibatnya mendorong anggapan bahwa isi Al Quran selalu memaparkan segala hal yang berbau Arab dan Timur Tengah. Padahal, Islam itu ada di seluruh pelosok dunia, termasuk di tempat-tempat terpencil dan terisolasi sekalipun. Di sana ada bahasa, di sana ada Islam. Di sana ada kaum, di sana ada Islam. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mengirimkan para rasul-Nya ke setiap umat dengan menggunakan bahasa umat itu masing-masing. Tidak ada satu umat pun yang tidak dihadirkan Rasul di antara mereka.

            Hal ini sama dengan pohon Tin. Dicari-cari di seluruh penjuru Arab dan Timur Tengah pun tidak pernah ditemukan yang namanya pohon Tin. Akibatnya, ada seorang ahli tafsir Timur Tengah yang berpendapat bahwa pohon Tin itu adalah pohon Bodi tempat Budha Sidharta Gautama bersemedi. Sesungguhnya, pohon Tin itu secara tak sengaja saya temukan di Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat di sana seluruhnya mengatakan pohon itu adalah pohon Tin dan meyakinkan saya bahwa pohon itulah yang digunakan bersumpah oleh Allah swt. Pohonnya rindang dan tidak tinggi sehingga kita tidak perlu memanjat pohon itu untuk memetik buahnya maupun daunnya.

            Stop berpikir Arab sentris, Islam itu ada di mana-mana dan dari mana-mana.

            Kembali ke soal negeri Saba. Negeri Saba itu ada di Indonesia. Ciri-ciri lokasinya tepat seperti yang diinformasikan Allah swt di dalam Al Quran. K.H. Fahmi Basya sudah menerangkannya dengan baik, pelajari saja tentang negeri Saba dari tulisan hasil penelitiannya.

            Kekayaan negeri Saba itu luar biasa, apalagi setelah Ratu Balqis berkenalan semakin dekat dengan Nabi Sulaeman as yang berasal dari Sleman itu, negeri Saba menjadi semakin kaya raya luar biasa. Kita tahu bahwa Sulaeman as itu adalah nabi yang paling kaya dan pemimpin dunia yang paling luas wilayah kekuasaannya.Tidak akan lagi ada orang yang memiliki kekuasaan seluas Nabi Sulaeman as. Hal itu disebabkan Nabi Sulaeman as pernah berdoa kepada Allah swt untuk diberikan kekuasaan yang tidak ada satu orang pun lagi yang seberkuasa dia di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw pun sampai harus membatasi dirinya untuk menghormati Nabi Sulaeman as yang membangun Candi Borobudur itu. Ketika Nabi Muhammad saw diajak berkelahi oleh Iblis Laknatullah, terjadilah pergumulan sengit sampai-sampai lidah Iblis yang sempat menjilat Nabi Muhammad saw masih terasa terus di tangan Nabi Muhammad saw dalam waktu yang sangat lama. Ketika Iblis kalah berkelahi, Nabi Muhammad saw tadinya akan mengikat Iblis itu di pohon korma untuk dijadikan mainan anak-anak sehingga anak-anak kecil bisa melempari Iblis itu dengan batu. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw teringat saudaranya, Sulaeman as, dan dia tidak ingin menyaingi Sulaeman as yang mampu menguasai jin-jin sakti.

            Kata Muhammad saw, “Seandainya aku tidak ingat saudaraku, Sulaeman, aku ikat Iblis di pohon korma agar dijadikan mainan anak-anak.”

            Akhirnya, Iblis dilepaskan lagi oleh Nabi Muhammad saw.

            Kekayaan dan kekuasaan Sulaeman as yang luar biasa itu tentu saja menambah kekayaan negeri Saba milik Ratu Balqis. Padahal, sebelum kenal dengan Nabi Sulaeman as pun sesungguhnya negeri Saba sudah sangat kaya raya. Ketika Sulaeman as meminta Balqis beriman kepada Allah swt, Balqis menguji Sulaeman as dengan memberikan upeti berupa perhiasan emas, permata, mutiara yang dibawa dengan menggunakan tempayan yang sangat banyak. Akan tetapi, Sulaeman as menolaknya, yakinlah Balqis bahwa Sulaeman as adalah nabi dan bukan raja yang suka menaklukan atau menguasai orang lain dengan semena-mena.

            Sayang sekali Saudara-saudara, pada generasi-generasi berikutnya penduduk Saba dan mayoritas penduduk Benua Sundaland sepeninggal para nabi yang diutus ke sana melakukan banyak dosa, lupa kepada Allah swt, terlalu banyak memikirkan duniawi, terlalu banyak kecewa akibat materi, akhirnya kafir dan mengikuti Iblis sampai-sampai menyembah berhala, matahari, gunung, bulan, dan lain sebagainya.

            Akibatnya, Benua Sundaland yang negeri Saba ada di dalamnya itu hancur lebur dikubur dalam tanah akibat banjir besar, gempa tektonik, dan gempa vulkanik yang terjadi bersamaan. Hancurlah kemegahan Benua Sundaland, hilang, dan berubah menjadi kepulauan bernama Indonesia seperti sekarang ini. Meskipun demikian, jejak-jejak kemegahan itu masih ada sampai hari ini. Terlalu banyak bangunan megah dan luar biasa yang masih terkubur di Indonesia. Bangunan-bangunan itu terkadang muncul sendiri secara tiba-tiba dan atau ditemukan oleh penduduk secara tak sengaja, bahkan terkadang berada di halaman rumah penduduk. Hal semacam ini biasa terjadi di Indonesia sehari-hari.

            Di mana perhiasan dan harta negeri Saba yang megah itu?

            Sebagian masih berada terkubur dalam tanah; sebagian hilang dijarah penduduk, dicuri oleh peneliti, atau dirampas para penjajah, lalu dijual di pasar gelap; hanya satu dua yang masih terselamatkan dan bisa dibeli oleh pemerintah, lalu disimpan di museum.

            Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Edi Sedyawati dalam artikelnya berjudul Catatan Kecil: Arca “Prabu Silihwangi” dari Talaga (1991). Edi menjelaskan bahwa di daerah Gemuruh, Wanasaba (Wana = hutan, Saba = negeri Saba) yang kita kenal sekarang dengan sebutan Wonosobo, ditemukan banyak arca dalam bentuk lempengan emas. Arca lempengan emas ini satu dua yang terselamatkan masih bisa dilihat di Museum Nasional, Jakarta, Nomor Inventaris 486b dan 517d.

            Adapun arca-arca dan benda pusaka lainnya yang berada di tanah Sunda, tepatnya dari Talaga, dekat Majalengka, daerah Cirebon, sesungguhnya masih aman tersimpan di tempatnya semula sampai 1915. Sesudah itu, “hilang” tak tertelusuri lagi dalam arena jual-beli, kecuali dua arca yang berhasil dibeli untuk museum (Van Naerssen, 1940 : 159) yang sekarang bernama Museum Nasional, Jakarta.

            Masih banyak harta karun peninggalan kemegahan Benua Sundaland, Ratu Balqis, negeri Saba, Istana Sulaeman as, dan seluruh kerajaan megah di Indonesia ini yang terpendam dalam tanah, terkubur akibat kemurkaan Allah swt. Cari hingga ketemu. Siapa cepat, dia dapat. Pemerintah harus lebih cepat karena kekayaannya luar biasa besar. Orang-orang di seluruh dunia selalu membicarakannya dengan kisah The Lost World Atlantis.

            Jadi, bagaimana nasibnya dengan orang-orang Israel yang selalu mengorek-ngorek tanah mencari-cari The Solomon Temple, ‘Istana Sulaeman’, di lokasi Masjid Al Aqsha di Palestina itu?

            Hahaha … mereka tertipu … hahaha …. Kasiman … eh kasihan.

            Istana Sulaeman ada di sini, di Indonesia, dan aman. Setiap jiwa rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta, apa pun agamanya, akan menjaganya hingga titik darah penghabisan.

            Sebaiknya, beri tahu itu orang-orang Yahudi supaya berhenti mengorek-ngorek tanah, menggali-gali tanah kayak anak kecil main tanah, kasihan mereka.

            Kalau ingin mendapatkan Istana Sulaeman, saya kasih tahu caranya. Berhentilah menjajah Palestina. Kalau berhenti menjajah Palestina, kemungkinan besar Israel bisa membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kalau hubungan diplomatik sudah terjadi dengan Indonesia, bisa dilakukan kerja sama penelitian penggalian secara sah, legal, tanpa pertikaian, tanpa perang, dan tanpa pertumpahan darah. Kerja sama ini bisa menguntungkan Indonesia, Islam, Israel, dan Yahudi.

            Saat ini kan tidak bisa bekerja sama dengan Indonesia karena Israel masih menjajah Palestina. Kalau pemerintah Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada saat Israel masih menjajah Palestina, artinya pemerintah Indonesia sudah mengkhianati Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas muka Bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Hal itu akan membuat kehancuran bagi pemerintah Indonesia. Haram hukumnya bagi Indonesia bersahabat dengan penjajah. Selama Israel masih menjajah Palestina, selama itu pula tidak akan terjadi hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hal yang sangat penting bagi Israel dan Yahudi adalah selama itu pula tidak akan menemukan Istana Sulaeman.

            Hahahaha ….


            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Para Pemimpin Agama Jangan Munafik

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berbagai konflik di dunia ini sangat sering dipenuhi konflik yang mengatasnamakan agama. Rebutan tanah, sumber daya alam, kekuasaan, uang, dan pasar kerap menggunakan agama sebagai alasan. Agama dijadikan daya tarik dan justifikasi terhadap perang-perang yang dilakukan. Sejarah mencatat itu semua.

            Hampir seluruh agama tercatat para pemimpinnya pernah menggunakan agamanya untuk kepentingan politik dan ekonomi. Mereka pun sering menghina dan menjelek-jelekan agama lain di hadapan publik hanya untuk membuat pembenaran atas perilaku kekerasan yang dilakukan kelompoknya atau mereka yang telah memberikan janji politik dan ekonomi pada para pemimpin agama itu. Para pemimpin Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dan beberapa agama kecil memiliki catatan kekerasan dan teror, baik pada masa lalu yang waktunya jauh dari kita maupun pada masa sekarang ini.

            Para pemimpin agama seharusnya menggunakan agamanya untuk menciptakan perdamaian dan kasih sayang di muka Bumi, bukan melegitimasi kekerasan dan perang. Para pemimpin agama harus memiliki jiwa dan hati yang lebih besar dan lapang dibandingkan umatnya. Mereka harus lebih tenang dan jernih dalam berpikir serta mempertimbangkan sesuatu. Para pemimpin agama sudah seharusnya menjadi agen-agen pemberi solusi, pemecah masalah, dan penghenti konflik. Bukan sebaliknya, para pemimpin agama justru merupakan bagian dan provokator konflik.

            Para pemimpin agama. Agama apa pun itu sangat tidak pantas berperilaku munafik. Di hadapan publik dan masyarakat dunia mereka tampil sebagai orang-orang saleh dengan berbagai atribut keagamaannya menyatakan sebagai pecinta perdamaian, tetapi pada saat yang sama mereka berkolaborasi dengan penguasa ataupun pengusaha melakukan kerja-kerja rahasia yang membuat kusut kehidupan manusia. Pemimpin agama seperti ini adalah pemimpin yang munafik. Sangat tidak pantas pemimpin agama berperilaku kotor seperti itu.

            Setiap pemimpin agama sudah seharusnya mengendalikan umatnya masing-masing agar tidak menjadi bagian dari konflik. Seluruh pemimpin agama wajib menenangkan setiap umatnya masing-masing dan jangan ikut-ikutan membuat provokasi bahkan menyebarkan hoax. Apabila setiap pemimpin agama mampu menyadarkan umatnya untuk tidak memicu konflik, tidak terlibat dalam konflik, dan menghindari kekusutan, dunia ini akan damai dan tenteram.

            Jika ada umatnya yang melecehkan agama lain, seharusnya pemimpinnya memberikan kesadaran bahwa perilaku umatnya itu sesungguhnya merugikan agamanya sendiri. Tak pernah ada kejadian suatu agama menjadi mulia disebabkan umatnya menghina agama lain. Sesungguhnya, kemuliaan suatu agama atau suatu umat beragama terwujud dari perilakunya dalam menghormati orang lain dan membiarkan orang lain melakukan keyakinannya masing-masing. Di samping itu, suatu agama akan tampak lebih mulia jika mampu pula menghormati mereka yang belum beragama atau tidak beragama. Mereka belum meyakini agama karena mereka belum mendapatkan pengetahuan tentang agama dengan benar. Apabila kita mudah menuduh orang lain sebagai calon penghuni neraka, kemuliaan kita pun akan merosot dan jatuh dalam kehinaan.

            Mulai saat ini tak boleh ada lagi pemimpin agama yang memberikan pembenaran untuk konflik-konflik atau perang-perang yang terjadi. Semua agama sudah seharusnya menghormati hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Jangan ada lagi pemimpin agama yang mau disuap dengan janji politik ataupun ekonomi hanya untuk mempertahankan kekisruhan yang terjadi.

            Pemimpin agama apa pun yang melegalkan pembunuhan dan perang tanpa alasan yang jelas adalah para pendusta. Kita diperbolehkan perang hanya untuk membela diri, membela harga diri, membela harta benda yang kita miliki, dan menciptakan keadilan. Jika kita diperangi, diusir, diburu, dikejar, dianiaya, dan diancam dibunuh, kita harus membela diri, kehormatan, dan keadilan. Kalaupun harus berperang, berperanglah untuk membela diri dan bukan untuk merampok orang lain.

            Akan tetapi, kita tidak boleh memulai perang, memulai konflik, atau mencari gara-gara agar terjadi huru-hara. Saya orang Islam yang meneladani Muhammad saw. Sang Nabi saw tidak pernah memicu perang atau mengobarkan kebencian. Muhammad saw melakukan perang hanyalah untuk membela diri, menjaga kehormatan, dan mewujudkan keadilan. Tidak pernah Nabi Muhammad saw menjadi penyebab suatu perang.

            Sebutkan satu perang saja yang dilakukan Nabi Muhammad saw yang pemicunya adalah Nabi Muhammad saw sendiri.

            Pasti tidak ada!

            Saya jamin itu.

            Kalau ada, itu berarti kalian mendapatkan hoax. Saya dengan senang hati membongkar kebusukan kisah hoax itu.


            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tes Mental Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Lumayan sering saya mendengar, baik muslim maupun kristian yang sering “tenang-tenang” hidupnya karena menganggap bahwa dirinya pasti masuk surga. Kalaupun harus masuk neraka, paling hanya sebentar disiksa. Akhirnya, pasti masuk surga dan kekal bahagia di dalamnya. Saya belum pernah mendengar hal itu dari umat Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Mungkin mereka juga berpandangan sama, tetapi yang jelas saya belum pernah mendengarnya. Kalau yahudian, memang sudah tercatat mengaku seperti itu. Kaum Yahudi berpandangan bahwa mereka pasti masuk surga setelah disiksa terlebih dahulu di dalam neraka.

            Allah swt sudah menerangkannya.

            “Dan mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’
            Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS Al Baqarah 2 : 80)

            Yahudi yakin bahwa mereka hanya akan disiksa selama empat puluh hari akibat dari dosa mereka menyembah patung emas sapi betina selama empat puluh hari ketika ditinggalkan Musa as untuk bertemu Allah swt di Gunung Sinai.

            Akan tetapi, Allah swt membantahnya dengan menyuruh kaum muslimin untuk balik bertanya kepada Yahudi sebagaimana yang ditulis dalam ayat di atas.

            Jika menggunakan bahasa kita saat ini, kita dapat bertanya kepada Yahudi, “Kalian pasti masuk Surga? Mana ayat yang berisi janji Allah swt yang akan menyiksa kalian hanya sebentar untuk kemudian masuk Surga? Kalian hanya bikin hoax.

            Orang-orang Islam tidak perlu seperti umat Yahudi yang tenang-tenang saja akibat hoax. Meskipun umat Islam dijanjikan surga oleh Allah swt, tetapi tidak boleh tenang-tenang saja karena siksaan neraka itu sangat mengerikan. Meskipun pada akhirnya masuk surga, tetap jangan anggap enteng siksaan neraka.

            Mari kita tes mental kita untuk masuk surga setelah sebelumnya masuk neraka terlebih dahulu. Artinya, ada penyiksaan dulu di neraka untuk membersihkan seluruh dosa agar benar-benar suci ketika masuk surga.

            Saya ada rumah tiga, sumpah. Satu di Kota Bandung, satu di Kabupaten Sumedang, dan satu lagi di Kabupaten Bandung. Satu rumah yang di Kota Bandung akan saya berikan kepada siapa saja yang mau.

            Ada yang mau?

            Mahal lho beli rumah. Susah punya rumah sendiri.

            Beri tahu saya kalau ada yang mau. Saya sumpah tidak akan bohong.

            Saya akan berikan rumah itu dengan segala surat-suratnya dan saya akan menandatangani di atas materai bahwa rumah itu sudah saya berikan kepada Saudara. Akan tetapi, saya minta satu saja syarat dari Saudara. Syarat itu ialah saya akan menyiksa Saudara selama satu jam. Hanya satu jam. Satu jam saja. Sumpah, tidak akan lebih dari satu jam.

            Mau?

            Mau rumah?

            Apakah saya harus bersumpah demi Allah swt agar Saudara percaya?

            Satu jam saja saya menyiksa Saudara. Setelah itu, rumah akan menjadi mililk Saudara.

            Mau?

            Kalau mau, saya akan ceriterakan dulu bagaimana saya akan menyiksa Saudara. Tidak akan pakai senjata. Saya hanya akan menggunakan tangan kosong. Hal pertama yang saya akan lakukan adalah memukul sekeras mungkin kedua telinga Saudara dengan kedua telapak tangan saya secara bersamaan sehingga gendang telinga Saudara pecah berdarah dan tidak bisa mendengar lagi. Kedua, saya akan menggunakan kedua jempol tangan saya untuk mencongkel kedua mata Anda sehingga Anda tidak bisa melihat lagi dan buta selama hidup. Ketiga, saya akan memukul hidung Anda hingga patah. Keempat, saya akan memukul ulu hati dan tulang iga Saudara hingga patah-patah. Kelima, saya akan mematahkan kedua tangan Saudara beserta seluruh jari-jari tangan hingga seluruhnya patah-patah dan tidak bisa digerakkan lagi. Keenam, saya akan membenturkan bibir Saudara sekeras mungkin pada tembok hingga pecah dan gigi Saudara pada rontok. Ketujuh, saya akan mematahkan kaki Saudara dengan menginjak lutut Saudara dalam posisi kaki telentang bersandar pada kursi hingga tempurung Anda pecah dan tidak bisa nyambung lagi antara betis dan paha.

            Ketujuh penyiksaan itu paling-paling hanya berjalan 30 menit. Saya masih punya hak menyiksa Saudara 30 menit lagi. Masih banyak cara untuk membuat penyiksaan.

            Mau?

            Kalau mau, Saudara mungkin dapat rumah dari saya, tetapi saudara cacat seumur hidup dan menderita sakit luar biasa bertahun-tahun. Mungkin Saudara mengharapkan agar cepat mati, tetapi tidak mati-mati juga. Bahkan, Saudara menjadi beban hidup orang lain sambil terus-terusan merasakan sakit.

            Mau?

            Jangan mau atuh.

            Oleh sebab itu, jangan anggap enteng neraka. Benar kita bakal masuk surga karena ada kesempurnaan iman, tetapi kalau disiksa dulu … duh.

            Gambaran penyiksaan yang saya lakukan tadi sangat sadis dan mengerikan. Apalagi jika disiksa di neraka oleh para malaikat yang memang ahli menyiksa.

            Hi… ngeri.

            Jangan tenang-tenang saja. Kuatkan iman dan terus berbuat baik di muka Bumi ini sehingga tidak perlu disiksa dulu sebelum masuk surga.

            Sampurasun.

Friday, 7 April 2017

Zaman Akhir

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir selalu ramai dibicarakan orang di seluruh dunia dari zaman ke zaman. Kisah ini memiliki kesamaan akhir, yaitu adanya orang atau pihak yang benar, adil, dan kuat dalam mengatasi berbagai persoalan di dunia. Muslim, Kristen, Yahudi memiliki kisah-kisah tentang zaman akhir ini. Kaum muslimin meyakini bahwa kaum musliminlah yang akan menjadi pemenang dalam akhir zaman. Kaum Kristen juga meyakini bahwa Yesus dan Kristen yang akan menang. Umat Yahudi pun sama meyakini bahwa imam merekalah yang akan menjadi pemenang. Setiap umat dari agama yang berbeda itu berseteru mulai dari keyakinan sampai adu fisik bersenjata untuk mewujudkan berbagai ramalan zaman akhir itu.

            Pertanyaannya adalah pernahkah ada yang melakukan penelitian dan memeriksa apakah kabar-kabar zaman akhir itu benar-benar memiliki dasar sumber yang jelas atau hanya karangan orang-orang emosional?

            Kisah mana yang benar sesungguhnya?

            Kisah dari kaum muslimin, kisah dari kaum Kristen, atau kisah dari para Yahudi?

            Tidak mungkin ketiga versi berbeda itu semuanya benar. Harus ada yang benar dan harus ada yang salah karena memiliki banyak perbedaan, terutama tentang pihak yang akan menjadi pemenang dan menguasai dunia pada zaman akhir. Bisa pula ketiga kisah itu adalah semuanya palsu serta hanya karangan para pengkhayal dan dongengan mereka yang emosional.

            Sekarang saya hanya berbicara kepada kaum muslimin karena saya orang Islam dan memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan. Soal umat Kristen dan Yahudi, urusan mereka sendiri meskipun boleh juga mereka mengambil pelajaran dari apa yang saya tulis ini.

            Kisah-kisah akhir zaman di kalangan umat Islam biasanya bersandar pada ceritera dari para ulama masa lalu dan keterangan-keterangan yang diklaim sebagai hadits. Sayangnya, saya sangat yakin sejuta persen sampai hari ini tak ada orang Islam yang memeriksa apakah sumber-sumber kisah itu bisa dipercaya atau tidak. Tak ada yang mencoba menelusuri apakah kisah-kisah itu saling bertolak belakang antara satu sumber dengan sumber yang lainnya atau tidak. Tak kelihatan apakah ada orang yang memeriksa kisah-kisah yang diklaim hadits itu benar atau tidak.

            Dulu juga saya benar-benar percaya dengan kisah-kisah yang beredar luas itu. Ada beberapa tulisan saya di blog ini tentang keyakinan saya yang dulu itu. Akan tetapi, ketika meyakini bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu dipenuhi hoax, saya mulai meragukan kebenaran keseluruhan kisah-kisah akhir zaman. Hal itu disebabkan semua kisah tentang akhir zaman, baik itu versi muslim, kristian, maupun yahudian, seluruhnya bermuara pada perebutan kekuasaan di Palestina, terutama di area berdampingannya masjid, gereja, dan tembok ratapan. Ketika saya meyakini bahwa kisah tentang Masjid Al Aqsha penuh dengan kepalsuan, seluruh kisah akhir zaman itu menjadi tidak penting lagi.

            Bagaimana kisah-kisah itu tidak palsu dan hoax?

            Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan Isra Miraj dari Mekah ke Masjid Al Aqsha di Palestina.

            Bagaimana mungkin peristiwa itu adalah benar-benar terjadi?

            Isra Miraj itu terjadi pada 620 Masehi. Adapun Masjid Al Aqsha mulai dibangun pada 638 Masehi. Artinya, ada selisih delapan belas tahun antara peristiwa Isra Miraj dengan awal pembangunan Al Aqsha. Isra Miraj dulu terjadi, lalu delapan belas tahun kemudian Al Aqsha mulai dibangun.

            Bagaimana mungkin Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Mekah menuju masjid yang belum dibangun dan area itu masih dalam pengawasan ketat pasukan Romawi?

            Mustahil!

            Mikir!

            Lagian, masjid itu awalnya bukan bernama Al Aqsha, melainkan Masjid Umar. Hal itu disebabkan selepas Umar bin Khattab ra menaklukan Romawi pada 636 Masehi, mencari tempat untuk shalat. Seorang pendeta Romawi memilihkan tempat dan mengantarkan Umar pada tempat yang dianggapnya tepat untuk shalat. Di tempat itulah dibangun Masjid Umar, bukan Masjid Al Aqsha. Pada dinasti-dinasti berikutnya Masjid Umar yang kecil itu diperlebar, diperbesar, dan namanya diubah menjadi Masjid Al Aqsha.

            Begitu Bro ceriteranya. Jadi, saat Nabi Muhammad saw Isra Miraj, masjid itu belum ada dan memang bukan ke situ tujuannya. Allah swt itu memperjalankan Nabi Muhammad saw sesungguhnya ke Candi Borobodur, Indonesia, karena candi itulah yang sebenarnya dimaksud Allah swt sebagai Masjid Al Aqsha (Masjid Terjauh). Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Bukan Al Aqsha yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha. Silakan bantah saya. Saya senang dibantah kok, asal membantahnya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan emosi kampungan.

            Jangan langsung percaya dengan kisah-kisah zaman akhir meskipun diklaim berasal dari hadits. Sangat mungkin itu hanya dongeng, kemudian dikatakan sebagai hadits. Mudah kok bikin hadits. Kalian buat saja kisah atau ajaran yang tampaknya baik, lalu bilang saja itu adalah berasal dari Bukhari Muslim. Orang akan segera yakin bahwa itu adalah benar-benar hadits, apalagi kalau kalian berceriteranya dengan menggunakan pakaian seperti Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Orang akan melongo dan percaya begitu saja.

            Ada nasihat yang sangat bagus dari Hj. Irene Handoyo, mualaf yang kini menjadi mubalighah beken di Indonesia. Ia mewanti-wanti bahwa tidak perlu langsung percaya dan harus berhati-hati dengan hadits-hadits tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman. Hal itu disebabkan menurutnya, hadits-hadits itu berasal dari orang-orang Kristen yang masuk Islam belakangan.

            Kita pun harus ingat bahwa area yang menjadi pusat kisah akhir zaman itu adalah sejak dulu menjadi area perebutan kepentingan politik dan ekonomi antara muslim, Kristen, dan Yahudi. Akan tetapi, ketika dongeng-dongeng kehebatan Yerusalem disebarkan oleh para penyair muslim zaman dinasti Umayah, kaum Kristen dan Yahudi mendukungnya pula karena akan menjadikan Yerusalem pusat perhatian dunia. Itu artinya ada keuntungan politik dan ekonomi di sana.

            Tak heran jika Nabi Muhammad saw dulu begitu sedih ketika Allah swt memerintahkannya untuk shalat menghadap ke timur, tepat mengarah pada Candi Borobudur. Lumayan lama Nabi Muhammad saw merasakan kesedihan itu. Sering sekali ia menengadah ke atas langit dengan harapan Allah swt mengubah kembali kiblatnya ke Mekah dan bukan lagi ke Candi Borobudur. Hal itu disebabkan mungkin ia sangat khawatir umatnya akan tersesat (saya tidak tahu perasaan Nabi yang sebenarnya karena itu hanya perasaan) karena umat Kristen dan Yahudi sangat senang dengan pemindahan kiblat itu. Shalat menghadap Candi Borobudur adalah searah melewati Yerusalem yang membuat Yahudi dan Kristen membuat hoax bahwa Nabi Muhammad saw menghadap ke kiblat yang sama dengan Yahudi dan Kristen. Sesungguhnya, pemindahan kiblat itu adalah pelajaran dari Allah swt bahwa yang namanya kebaikan dan kebenaran itu bukan soal timur dan barat; eksistensi Allah swt tidak berada di barat dan timur. Sesungguhnya, kebaikan dan kebenaran itu berasal dari Allah swt. Ke mana pun wajah kita menghadap di sanalah Allah swt berada.

            Yahudi dan Kristen sangat bergembira dengan pemindahan kiblat itu karena mereka sudah sejak lama membujuk dan merayu Muhammad saw untuk shalat menghadap Yerusalem. Mereka sudah lama sekali memperjuangkan itu. Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah kepentingan politik dan ekonomi.

            Hal ini ada dalam Asbabun Nuzul QS Al Baqarah  2 : 120 dalam Tafsir Quran Per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul & Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A. yang menyebutkan bahwa Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani Najran mengharapkan Rasulullah saw shalat menghadap kiblat mereka. Kiblat Yahudi dan Nasrani Najran itu berada pada satu tempat yang sama, yaitu di tempatnya yang sekarang berdampingan dengan Masjid Al Aqsha. Dalam perhitungan manusia, jelas sekali jika di tempat itu bergabung tiga kiblat agama besar dunia, keuntungan politik dan ekonomi akan didapatkan dengan sangat besar berlimpah ruah. Hal itu menunjukkan bahwa khayalan para penulis muslim zaman Dinasti Umayah mengenai kesucian Yerusalem mendapatkan dukungan pula dari orang-orang Yahudi dan Nasrani.

            Sesungguhnya kisah-kisah zaman akhir itu hanya bersandarkan pada kisah-kisah kuno tentang perebutan wilayah Palestina yang dianggapnya dapat menghasilkan keuntungan politik dan ekonomi. Orang Indonesia tidak perlu ikut-ikutan rebutan tanah itu karena Indonesia jauh lebih subur dan makmur berlipat-lipat dibandingkan tanah gersang dan penuh pertikaian itu.


Bergerak karena Hoax
Saya sungguh menyayangkan banyak kaum muslimin yang mudah percaya dengan kisah-kisah akhir zaman itu. Padahal, kisah-kisah itu bukan dari Al Quran, melainkan dari ceritera-ceritera masa lalu dan syair-syair yang kemudian diklaim sebagai hadits tanpa diperiksa kebenarannya. Sungguh sangat disayangkan jika kaum muslimin mau mempertaruhkan nyawanya karena yakin bahwa Masjid Al Aqsha di Palestina itu adalah tempat pemberhentian Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan perintah shalat. Padahal, kisah itu hanya hoax karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Benar-benar menyedihkan kiranya jika para pemuda Islam bersedia mengorbankan dirinya karena yakin bahwa daerah-daerah yang sekarang banyak terjadi konflik dikisahkan sebagai “tanah suci”, padahal kisah-kisah itu mendukung dan bermuara pada kisah hoax tentang Nabi Muhammad saw berhenti di Palestina sehingga wajib hukumnya membentuk pusat pemerintahan dunia di Yerusalem.

            Sesungguhnya, ada jihad besar di Indonesia yang lebih harus diperjuangkan, yaitu jihad mencapai tujuan nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin. Kemakmuran lahir dan kemakmuran batin setiap manusia Indonesia harus diperjuangkan dengan jihad yang sungguh-sungguh, baik dengan mendukung pemerintah jika berjalan dengan baik, benar, dan tepat, maupun dengan kritikan keras apabila pemerintah tidak berjalan dengan baik, benar, dan tepat.

            Kalau Saudara-saudaraku sesama muslim menyukai ramalan, saya beri satu ramalan dari penulis tingkat dunia, Muhammad Isa Dawud, yaitu pada masa depan Indonesia akan menjadi pusat penyebaran agama Islam di dunia.

            Tidak tertarikkah kita berjuang untuk mewujudkan ramalan itu?


            Sampurasun.