Showing posts with label Neraka. Show all posts
Showing posts with label Neraka. Show all posts

Thursday, 3 February 2022

Cekcok Munarman Mirip Cekcok Syetan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Semua ustadz, kiyai, ulama, atau penceramah Islam pasti tahu bahwa ada peristiwa cekcok antara syetan dengan manusia di akhirat kelak. Manusia-manusia calon penghuni neraka menggugat dan menyalahkan syetan yang telah menggoda mereka sehingga harus masuk neraka. Akan tetapi, syetan balik menyalahkan manusia karena syetan tidak pernah memaksa, hanya menggoda. Artinya, salah manusia sendiri mengikuti godaan syetan. Pertengkaran ini terus berlanjut saling salahkan karena hukuman mengerikan sudah diambang mata.

            Kisah ini bukan rekaan, melainkan nyata karena Allah swt memberitakannya di dalam Al Quran. Ini bukan karangan atau khayalan penceramah dan bukan pula karya Nabi Muhammad saw. Ini adalah peringatan nyata dari Allah swt tentang peristiwa nanti.

            Kisah mirip itu terjadi di dunia ini. Di pengadilan sidang terorisme yang mendakwa Munarman mantan Sekjen Front Pembela Islam (FPI) terjadi cekcok luar biasa antara saksi dengan Munarman. Saksi Z menyalahkan Munarman karena dua kakak kandungnya telah mati gara-gara ceramah Munarman. Dua kakaknya mati karena berbaiat pada Isis dan melakukan bom bunuh diri di Filpina. Si Z sendiri adalah tersangka kasus terorisme yang lainnya. Dalam kasus terorisme Munarman, dia menjadi saksi. Munarman membantah telah menyuruh keluarga Z untuk berbaiat pada Isis, tetapi Z ngotot bahwa ceramah Munarman di Makasar telah membuat dirinya dan kedua kakaknya untuk mengikuti Isis, lalu melakukan bom bunuh diri. Kalau saja mereka bertengkar di luar pengadilan, pasti sudah saling lempar kursi, meja, gelas, teko, air, baku hantam, malah bisa saling bunuh. Karena ributnya di pengadilan, jaksa, hakim, dan pengamanan mencegah mereka untuk saling adu jotos.

            Begitulah, baik Munarman ataupun Z adalah sama-sama didakwa atas keterlibatan mereka dalam kasus teror. Sama-sama mendukung Isis. Akan tetapi, mereka kini menghadapi hukuman yang sama-sama mengerikannya. Awalnya, mereka sama-sama seperti saudara memperjuangkan tegaknya keyakinan versi mereka dengan bertakbir, tetapi ketika digusur di hadapan hukum, saling salahkan, tidak mau untuk dihukum karena kekerasan dan kekejian yang mereka lakukan.

            Mereka tersadar bahwa kelakuan mereka adalah kesalahan. Akan tetapi, semuanya sudah terjadi dan harus bertanggung jawab atas kontribusi mereka dalam tindakan teror dengan caranya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Begitulah, saling salahkan mirip syetan dengan manusia di akhirat kelak karena harus menghadapi hukuman neraka.

            Bagi para pembaca tulisan saya yang sudah terlibat dan belum tersesat terlalu jauh dalam gerakan radikal teror, segera kembali pada kebenaran Islam yang hakiki, yaitu menebarkan cinta, kasih sayang, dan menciptakan kehidupan yang harmonis sehingga tidak akan saling menyalahkan. Bahkan, saling mendukung dan saling menyelamatkan, baik di dunia ini maupun hingga akhirat kelak, saling memberitakan kebaikan saudaranya di hadapan pengadilan illahi nanti agar saudaranya sesama muslim dapat selamat bersama-sama dari siksa api neraka dan bersama-sama pula memasuki surga Allah swt.

            Sampurasun.

Sunday, 12 November 2017

Sosial Mengalahkan Ritual

 oleh Tom Finaldin


Dalam mengabdikan diri kepada Allah swt, Islam mengajarkan dua cara, yaitu melalui aktivitas ritual dan aktivitas sosial. Kedua aktivitas itu harus seimbang dan tidak boleh berat sebelah. Kedua-duanya sama pentingnya. Apabila kita mementingkan salah satu,  rusaklah amal baik kita. Tak ada artinya.

            Mereka yang terlalu mementingkan aktivitas ritual, akan terjebak dalam merasa benar sendiri, terjauhkan dari masyarakat, terjauhkan dari ilmu pengetahuan, mudah tertipu, tertinggal dalam perkembangan hidup manusia, bahkan memiliki kecenderungan untuk terlalu mudah menyalahkan orang lain sehingga menimbulkan kekacauan dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula mereka yang terlalu mementingkan aktivitas sosial dengan dalih “yang penting berbuat baik”, akan terlepas dari bimbingan Allah swt dan menganggap bahwa pikirannya selalu benar dan baik, padahal benar dan baik menurut seseorang, belumlah tentu baik bagi orang lain. Orang-orang seperti ini memiliki kecenderungan tersesat dalam hidup dan kerap saling bantah serta mudah bertengkar dengan orang lain karena setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Hal yang juga teramat berbahaya adalah dia akan menganggap dirinya sebagai sumber kebaikan yang menjatuhkannya menjadi orang yang memiliki sifat riya, sombong, angkuh, dan gemar pamer. Hal itu akan membuat segala kebaikannya sia-sia karena sesungguhnya segala kebaikan yang kita lakukan hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Allah swt, bukan untuk mendapatkan hal-hal lain. Orang-orang ini mudah stress, kecewa, dan penuh amarah yang terpendam. Buruk akibatnya bagi dirinya. Allah swt pun terasa jauh dari dirinya.

            Ada dialog menarik antara Nabi Muhammad dengan para sahabatnya yang dapat dijadikan contoh bagaimana hancurnya ibadat ritual karena buruknya sikap sosial. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Hadits ini berasal dari Abu Hurairah.

            Ada seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, Si Fulanah sering melaksanakan shalat malam dan berpuasa sunnah. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

            Rasulullah menjawab, “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya. Dia adalah penduduk neraka.”

            Dari dialog itu, kita bisa melihat bagaimana sia-sianya ibadat ritual seseorang karena lidahnya kotor terhadap tetangganya. Bagaimanapun hebatnya ritual seseorang, tetapi lidah dan mulutnya menyakitkan orang lain, nilainya pun menjadi hancur. Ibadat ritualnya tidak mengantarkannya menuju surga karena buruknya lidahnya terhadap orang lain. Ini artinya, nilai-nilai sosial sangatlah penting karena memang itu yang diharapkan Allah swt, yaitu menebarkan kebaikan dan kasih sayang di antara sesama manusia sehingga kehidupan ini menjadi damai, harmonis, dan seimbang.

            Manfaat dari dialog itu tidak hanya berlaku bagi kehidupan bertetangga, melainkan pula bagi kehidupan bernegara dan dalam percaturan politik dunia. Para penyelenggara negara dan aparat yang lidahnya kotor, tidak konsisten, gemar berbohong, sering menjebak rakyat, kerap melakukan penipuan, melepaskan diri dari janji sebelumnya, mengeluarkan kebijakan yang membingungkan, arogan, dan lain sebagainya adalah para penduduk neraka apabila tidak segera melakukan perbaikan pada dirinya sendiri. Sehebat apa pun mereka melakukan ritual, jika lidahnya dan kebijakannya sering menyakiti rakyat, celakalah mereka. Ada kesakitan dan penderitaan yang sedang menghampiri mereka. Demikian pula para penguasa dunia yang gemar berdusta dan membuat ketidakseimbangan dalam hubungan internasional, sesungguhnya sedang berada dalam kecelakaan yang besar, kegelisahan yang menyiksa, dan kengerian-kengerian itu akan berlanjut bertambah-tambah jumlahnya jika tidak segera memperbaiki dirinya. Neraka akan menjadi tempat mereka jika tidak mengubah dirinya menjadi baik.

            Mari kita perhatikan lagi kelanjutan dialog Nabi Muhammad dengan para sahabatnya.

            Para sahabat berkata, “Ada wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia (baik) tidak mengganggu tetangganya.”

            Nabi Muhammad bersabda, “Dia adalah penduduk surga.”

            Kita bisa melihat bahwa seseorang yang tidak terlalu banyak melakukan ibadat ritual, tetapi mampu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, mendapatkan hadiah surga. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga perdamaian dan keharmonisan hidup. Berbeda dengan dialog awal tadi, sebanyak apa pun ritual yang dilakukan, tetap berakhir di neraka jika mengganggu orang lain. Di sinilah kita melihat bahwa aktivitas sosial telah mengalahkan aktivitas ritual meskipun aktivitas sosial itu hanya sebatas tidak mengganggu perasaan orang lain. Surga yang didapatkan akan lebih meningkat lagi jika bukan hanya sebatas “tidak mengganggu orang lain”, melainkan ditambah dengan aktivitas sosial “memberikan manfaat bagi orang lain”. Hal itu disebabkan kata Nabi Muhammad bahwa orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.


Aktivitas Ritual Dasar Aktivitas Sosial
Adalah sangat baik jika kita menggunakan aktivitas ritual sebagai dasar aktivitas sosial. Artinya, ibadat ritual itu jangan hanya sebatas simbol, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tampaknya sebatas simbol, ibadat ritual itu tetap harus dilakukan dengan cara-cara yang benar, sesuai aturan, dan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan karena merupakan tiang-tiang kokoh yang membuat hidup kita tetap kokoh.

            Misalnya, shalat. Di dalam shalat ada ucapan dan gerakan-gerakan pengagunggan kepada Allah swt, pengakuan kelemahan diri, keyakinan ketergantungan diri kepada Allah swt, doa dan harapan agar Allah swt melindungi kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita, keinginan untuk selalu berada dalam bimbingan Allah swt, serta doa kebaikan untuk seluruh kaum muslimin dan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Hal itu harus terwujud dalam hidup keseharian kita sehingga kita benar-benar terhubung dengan Allah swt dan mampu mewujudkan kedamaian, keharmonisan, dan keseimbangan hidup di dunia. Itulah Islam yang rahmatan lil alamin.

            Adalah kurang berguna jika dalam shalat kita melakukan banyak ucapan dan gerakan pengagunggan kepada Allah swt dan doa-doa untuk diri, kaum muslimin, dan seluruh umat manusia, tetapi dalam keseharian kita banyak melakukan penyesatan kepada orang lain, gangguan kepada masyarakat, kebohongan terhadap publik, kekejian terhadap manusia, dan upaya penipuan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

            Semoga Allah swt mengampuni kita dan selalu memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin.


            Sampurasun.

Monday, 8 May 2017

Keputusan Hakim Bukan Keputusan Allah swt

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hakim adalah manusia, sedangkan Allah swt adalah Sang Pencipta. Hal itu sudah jelas. Jadi, kita tidak pernah boleh mengatakan bahwa keputusan hakim adalah keputusan Allah swt. Apalagi jika kita memperhatikan bahwa banyaknya hakim di dunia ini yang justru berubah posisinya menjadi yang dihakimi, terdakwa, bahkan terpidana karena mendapatkan suap atau melakukan perilaku buruk lainnya.

            Meskipun demikian, keputusan hakim adalah harus dianggap benar demi tegaknya sistem hukum di Indonesia maupun di dunia ini. Dianggap benar bukanlah berarti mutlak benar. Oleh sebab itu, pintu-pintu untuk mencari kebenaran dan keadilan masih dibuka lebar, baik itu melalui banding, peninjauan kembali, maupun grasi.

            Benar menurut hakim, belum tentu benar menurut Allah swt. Belum tentu itu artinya bisa sama, bisa pula bertolak belakang. Akan tetapi, jika sebuah vonis hakim terjadi dan dilaksanakan secara nyata, itu berarti mendapatkan “izin” dari Allah swt untuk terjadi. Pemberian izin itu bukan berarti benar. Izin itu sama dengan “boleh” atau “bisa”. Hal ini sama dengan Allah swt mengizinkan terjadinya peredaran Narkoba, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai kejahatan lainnya. Sama pula dengan Allah swt mengizinkan terjadinya perbuatan-perbuatan baik manusia. Jika tidak mendapatkan izin dari Allah swt, perbuatan jahat dan perbuatan baik manusia tidak akan pernah terjadi.

            Lantas, mengapa Allah swt mengizinkan semua hal jahat terjadi?

            Jawabannya, semua hal yang diizinkan terjadi adalah untuk menguji manusia agar memastikan dirinya sebagai manusia untuk berada dalam kebenaran atau berada dalam kejahatan. Melalui ujian-ujian itulah Allah swt menilai kualitas setiap diri manusia yang pada akhirnya akan dikumpulkan di akhirat nanti. Sebagian ada di surga, sebagian lagi ada di neraka.

            Bukankah Allah swt mengizinkan Iblis dan syetan-syetan untuk mengganggu manusia agar hidup dalam kesesatan?

            Vonis hakim bisa salah dan bisa benar. Akan tetapi, Allah swt selalu benar. Itulah bahayanya posisi hakim. Jika sesuai dengan kehendak Allah swt, dimuliakanlah hakim itu. Akan tetapi, jika bertentangan dengan kehendak Allah swt, rugilah hakim itu dan Allah swt akan menunjukkan hukuman-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Oleh sebab itu, setiap hakim harus lebih banyak berhubungan dengan Allah swt agar dapat memutuskan perkara dengan seadil-adilnya dan tidak bertentangan dengan keinginan Allah swt sehingga merugikan diri hakim sendiri.

            Tak heran, di Indonesia namanya adalah “hakim” yang berarti “pemilik hikmah”. Hikmah sendiri berarti “rahasia”, bahkan ada yang mengartikan “rahasia di balik rahasia”. Artinya, hakim adalah pemilik “pengetahuan yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa” dan mampu untuk mewujudkan rahasia itu ke dalam pemahaman manusia biasa agar dapat dimengerti oleh semua orang.

            Karena hakim adalah manusia seperti kita-kita juga, berbeda pendapat dengan hakim adalah boleh dan sah. Meskipun demikian, keputusan hakim tetap harus dijalankan. Perbedaan pendapat adalah soal ilmu pengetahuan. Adapun keputusan hakim adalah mengikat agar adanya kepastian hukum dan untuk tegaknya lembaga peradilan. Sedih, kecewa, dan marah atas keputusan hakim itu boleh. Gembira, senang, bersuka ria atas keputusan hakim juga boleh. Tidak setuju dengan keputusan hakim adalah sah. Setuju dengan keputusan hakim juga sah. Hal yang sangat dilarang adalah menggunakan aksi-aksi inkonstitusional untuk menggugat keputusan hakim sehingga mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara yang seharusnya berada dalam keadaan tertib dan harmonis.


            Sampurasun.

Kebencian Allah swt terhadap Kekikiran

 oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sifat pelit dan kikir adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt. Adapun sifat dermawan, baik hati, dan penuh kasih sayang adalah sifat manusia yang sangat dicintai Allah swt.

            Manusia berlaku kikir atau pelit disebabkan ketakutan atas kekurangan harta dan keinginan untuk selalu memiliki lebih banyak dibandingkan orang lain. Padahal, kekikiran itu sama sekali tidak menguntungkan manusia. Sifat pelit itu tidak akan mampu mempertahankan harta yang ada dan tidak pula akan dapat menambah harta yang baru. Hanya sifat dan sikap “berbagilah” yang akan membuat harta kita berlipat ganda. Kebiasaan berbagi akan menyehatkan fisik dan rohani kita. Di samping itu, harta yang kita berikan kepada orang-orang yang sedang dalam hidup kesusahan sama sekali tidak akan mengurangi hak kita atas harta kita.

            Allah swt sangat membenci orang-orang yang kikir dan pelit. Di akhirat nanti harta yang kita “tahan” untuk tidak diberikan kepada orang lain akan menjerat diri kita sendiri.

            Kata Allah swt, “Jangan sekali-sekali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa saja (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada Hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di Bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran 3 : 180)

            Allah swt marah dan murka kepada orang-orang yang pelit dan tidak mau berbagi dengan sesama manusia. Hal itu disebabkan orang-orang pelit ini sangat senang jika berbahagia pada saat orang lain menderita. Harta-harta yang tidak mereka berikan kepada orang-orang yang sedang kesulitan akan dikalungkan, dililitkan, diikat pada leher-leher mereka di akhirat nanti. Leher-leher mereka harus menarik seluruh harta mereka yang selama ini dikumpulkan di dunia, tetapi tidak mau berbagi dengan orang lain.

            Segeralah berbagi uang, rezeki, harta, kesenangan dengan orang lain, terutama dengan mereka yang sedang dalam kesulitan. Harta kita tidak akan pernah berkurang jika berbagi dengan manusia. Bahkan, akan semakin bertambah besar dan bertambah besar lagi. Allah swt akan mengganti harta-harta kita yang diberikan kepada orang lain yang sedang menderita itu sebanyak tujuh ratus kali lipat. Jangan takut untuk berbagi karena sesungguhnya harta kita itu berasal dari kasih sayang Allah swt. Berbagilah sehingga Allah swt senang berbagi dengan kita.


            Sampurasun.

Thursday, 27 April 2017

Surga Itu Mahal

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Mungkin di antara kita banyak yang tenang-tenang saja karena menganggap diri hidup sudah benar, sudah baik, dan penuh dengan kesalehan. Perasaan-perasaan seperti itu mendorong kita menyangka bahwa kita nanti akan hidup di dalam surga.

            Banyak juga orang yang sibuk menyalahkan orang lain, mencaci orang lain, memaki orang lain, mengafirkan orang lain, menuduh sesat orang lain, serta selalu bergaya paling beriman, sedangkan orang lain dianggapnya berada dalam kesesatan. Sesungguhnya, kita tidak perlu menyibukan diri dengan menuduh-nuduh orang lain atau menjelek-jelekan orang lain. Hal yang lebih baik kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri dan mengumpulkan “ongkos” untuk masuk surga. Hal itu disebabkan harga untuk masuk surga itu teramat mahal. Tidak semua orang mampu mendapatkan “biaya” untuk masuk surga.

            Kita tahu bahwa tiket untuk masuk surga adalah hanya bisa didapatkan dengan “keimanan” dan “berbuat baik” di muka Bumi. Akan tetapi, tidak cukup hanya itu karena keimanan dan perbuatan baik itu tidak akan berarti apa pun tanpa diuji terlebih dahulu ketulusan dan keikhlasannya. Allah swt tidak akan memberikan nilai apa pun tanpa ujian. Hal ini sama dengan anak sekolah. Selama dia belajar, tak ada nilai apa pun untuknya. Nilai akan datang jika telah dilaksanakan tes terhadap dirinya. Dengan demikian, dapat ditentukan apakah seorang siswa itu pantas untuk melanjutkan pendidikan, mengulang pendidikan, atau bahkan diberhentikan dari sekolah. Sama pula dengan kehidupan ini, keimanan dan kebaikan yang kita lakukan tidak akan bernilai apa pun apabila tidak diikutkan dalam ujian yang “diselenggarakan” Allah swt. Setelah kita diuji, akan lebih jelas kedudukan kita di hadapan Allah swt, sehebat apa keimanan kita, sejelek apa kita, dan sepantas apa kita sehingga dinyatakan layak memasuki surga.

            Kata Allah swt, “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu?

            Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’

            Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al Baqarah 2 : 214)

            Itulah ujian yang diberikan Allah swt untuk orang-orang beriman. Mereka yang tidak beriman tidak diuji seperti itu karena tidak ada gunanya mengikuti ujian.

            Untuk apa ujian?

            Mendaftarkan diri untuk menjadi orang beriman pun tidak.

            Ujian hanya diberikan kepada mereka yang telah mendaftarkan diri menjadi orang beriman. Keimanan dan perbuatan baik seseorang atau sekelompok orang meskipun dilaksanakan secara sempurna, tetap diuji dengan sangat keras oleh Allah swt dalam bentuk kemelaratan, penderitaan, dan berbagai guncangan dalam hidupnya.

            Cobaan itu sangat berat dan bisa mengakibatkan orang berhenti dari ke-Islam-an, keluar dari keimanan, lalu mengikuti jalan-jalan syetan. Penderitaan dan kemelaratan yang terjadi bisa sangat mengerikan dan menyedihkan, bahkan menghinakan. Akan tetapi, itu adalah ujian. Kuncinya adalah “kesabaran untuk tetap beriman dan selalu berbuat baik” dalam keadaan diguncang dengan berbagai kesedihan. Shalat dan sabar adalah alat yang direkomendasikan Allah swt untuk digunakan dalam menghadapi ujian hidup.

            Ketika ujian berakhir dan orang-orang beriman lulus dari ujian itu, Allah swt akan membasuh semua lukanya, menghilangkan semua kesedihannya, memusnahkan semua penderitaannya dengan mengangkat derajat orang itu lebih tinggi lagi. Dengan demikian, ia akan menjadi lebih dekat kepada Allah swt untuk kemudian pada saat tertentu, Allah swt akan mengujinya kembali dengan tingkat ujian yang lebih tinggi dalam level yang lebih mulia. Begitu seterusnya hidup ini hingga Allah swt menentukan apakah kita lulus dan layak mendapatkan surga ataukah gagal dalam ujian sehingga harus berada di neraka.

            Janganlah terlalu sibuk menyalahkan orang lain, berteriak-teriak mengafir-kafirkan orang lain, menghina orang lain, apalagi membuat fitnah dan berita palsu untuk menjatuhkan orang lain. Sesungguhnya, ada banyak ujian di depan kita yang bisa mengangkat derajat kita menjadi orang mulia atau menjatuhkan kita menjadi orang yang sangat hina.

            Dalam kehidupan sehari-hari teramat sering kita melihat orang yang tadinya mulia tiba-tiba menjadi hina; orang kaya tiba-tiba miskin; orang berkuasa tiba-tiba menderita; orang hina tiba-tiba menjadi mulia; orang miskin tiba-tiba menjadi kaya; orang menderita tiba-tiba menjadi berkuasa; orang penakut tiba-tiba menjadi menakutkan. Itu hanyalah contoh bagaimana berkuasanya Allah swt dalam “memberi” dan “mengambil” sesuatu dari manusia. Semua itu tidak ada artinya sama sekali jika tidak melalui ujian yang diselenggarakan Allah swt.

            Surga itu mahal. Lebih baik menyiapkan diri secara mental dan fisik untuk menghadapi ujian dari Allah swt yang kerap datang tiba-tiba tanpa kita sadari.

            Surga itu mahal. Sibukkan diri dengan mendekatkan diri kepada Allah swt agar semuanya menjadi mudah.

            Surga itu mahal.


            Sampurasun  

Saturday, 22 April 2017

Nabi Adam Diciptakan Belakangan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang menduga bahwa Adam as adalah manusia pertama. Padahal, bukan. Beberapa tulisan saya yang lalu menjelaskan hal ini. Berdasarkan keterangan QS Al Hujurat 49 : 13, Allah swt menciptakan banyak suku dengan bahasa tertentu, kemampuan tertentu, kecerdasan tertentu, kondisi fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk asal mula setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus sebagai cikal bakal suku tersebut. Jadi, banyak sekali manusia yang diciptakan langsung oleh Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa hanyalah salah satu pasangan yang diciptakan Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa merupakan cikal bakal untuk sukunya sendiri dan bukan menjadi leluhur seluruh manusia.

            Hal ini dijelaskan pula oleh Allah swt bahwa sebelum Nabi Adam diciptakan, sudah sangat banyak manusia hidup di muka Bumi ini.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Baqarah 2 : 213 berikut ini.

            “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka karena kedengkian di antara mereka sendiri. Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Perhatikan dua kalimat pertama.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Kedua kalimat itu mengandung arti bahwa dulu manusia ini satu umat. Yang dimaksud satu umat adalah satu keyakinan, satu Tuhan. Dr. Ahmad Hatta, M.A.  mengartikannya sebagai satu ketauhidan. Oleh sebab itu, tak ada perselisihan di antara manusia meskipun terdiri dari ribuan suku bangsa. Tak ada pertengkaran dan perebutan kekuasaan, ekonomi, maupun sumber daya alam karena semua memiliki keyakinan yang sama bahwa hidup adalah hanya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu, dalam bahasa Arab disebut Allah swt dan dalam bahasa lain ada sebutan lain pula.

            Ketika manusia sudah semakin banyak, semakin berkembang kecerdasannya, semakin berkembang kebutuhannya, terjadilah banyak masalah dan perselisihan. Konflik-konflik itu membuat kerusakan tatanan hubungan di antara manusia. Kemudian, lambat atau cepat manusia terlalu sibuk memikirkan duniawi sehingga melupakan kewajibannya yang pasti, yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu. Ketika manusia sudah sangat kafir dan kekafirannya tidak bisa ditolerir lagi, Allah swt menghukumnya dan menghancurkannya hingga tak bersisa atau hanya disisakan sedikit saja. Ketika suatu zaman dihancurkan, dimusnahkan, dan ditenggelamkan hingga hilang dari kehidupan dunia, Allah swt memunculkan kembali umat-umat yang baru. Dalam perjalanannya, umat-umat yang baru ini pun melakukan kesalahan yang sama dengan umat-umat yang telah dihancurkan. Akibatnya, Allah swt melumatkannya lagi, kemudian menciptakan lagi umat yang baru. Begitu berulang-ulang Allah swt menciptakan dan menghancurkan manusia.

            Jika dilihat dari hasil penelitian para peneliti terkait dengan geografi, geologi, oceanografi, atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daratan dan lautan, disepakati bahwa seluruh daratan di muka Bumi ini dulunya adalah satu daratan yang sama dan tidak terpisah-pisah. Akan tetapi, bentuk daratan yang satu itu mengalami perubahan oleh banyak bencana besar yang berulang-ulang hingga memisahkan daratan itu menjadi beberapa benua dan beberapa pulau.

            Apabila kita membaca Al Quran, sering sekali Allah swt menyuruh kita berjalan-jalan di muka Bumi untuk mellihat bagaimana Allah menghancurkan manusia-manusia durhaka dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Bentuk daratan seperti saat ini sesungguhnya telah mengalami ribuan kali bencana teramat dahsyat.

            Suatu saat Allah swt memiliki kebijakan lain, yaitu ingin menciptakan manusia yang menjadi wakil dirinya di muka Bumi. Tak heran rencana itu sempat membuat bingung para malaikat.

            Para malaikat bertanya, “Untuk apa menciptakan manusia yang akan menumpahkan darah di muka Bumi? Bukankah kami yang selalu memuji dan mengagungkan Engkau, ya Allah?”

            Begitu kira-kira malaikat merasa heran. Malaikat bertanya-tanya soalnya mereka sangat tahu bahwa sudah ribuan umat yang diciptakan, lalu dihancurkan. Diciptakan lagi yang lain, lalu dihancurkan lagi.

            Mereka tidak percaya bagaimana mungkin Allah swt akan menjadikan manusia yang suka melakukan kekafiran, membuat kekacauan di muka Bumi, dan saling bunuh itu menjadi wakil Allah swt di Bumi?

            Kalaupun mau mengangkat wakil, seharusnya dari kalangan malaikat karena malaikat adalah yang selalu memuji dan mengagungkan Allah swt, tidak pernah bikin kekacauan, apalagi saling bunuh. Adapun manusia, berulang-ulang bikin kekacauan, saling bunuh, dan berubah kafir. Begitu kira-kira yang ada di pikiran malaikat.

            Akan tetapi, Allah swt menegaskan, “Aku lebih tahu.”

            Kemudian, Allah swt memerintah Adam untuk memamerkan kecerdasannya di hadapan malaikat. Akhirnya, para malaikat pun mengakui bahwa Adam as adalah lebih hebat, lebih cerdas, dan lebih unggul dibandingkan para malaikat. Allah swt pun memerintah para malaikat untuk segera bersujud kepada Adam sebagai penghormatan dan pengakuan bahwa Adam lebih cerdas dan lebih mulia.

            Allah swt memang menciptakan Adam as dengan kecerdasan di atas malaikat dan di atas rata-rata manusia biasa yang sudah diciptakan sebelumnya.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Pada masa belum ada nabi seluruh manusia selalu dihancurkan, kemudian diganti oleh umat manusia yang lain dan berbeda. Kemudian, dihancurkan lagi. Selalu begitu. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan nabi agar manusia mendapatkan petunjuk, tidak lagi berselisih, tidak lagi saling berebut, tidak saling bunuh, dan tetap mengabdi dengan benar kepada Tuhan Yang Satu. Dengan demikian, manusia tidak perlu dihancurkan lagi dan lagi dalam sejarah kehidupan dunia ini.

            Nabi yang pertama diciptakan namanya adalah Adam. Istrinya bernama Hawa di Amerika Serikat dan Eropa disebut Eva. Adam-Hawa sama dengan Adam-Eva.

            Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

            Para nabi itu diutus Allah swt dengan membawa kita-kitab suci sebagai panduan bagi manusia untuk menyelesaikan berbagai permasalah manusia, baik persoalan ekonomi, sumber daya alam, politik, maupun ritual keagamaan. Akan tetapi, sayangnya setelah para nabi dan kitab itu turun, manusia tetap berselisih, bertengkar, malah berperang saling bunuh. Hal itu disebabkan manusia terbagi dua, yaitu ada yang bersikap benar dan sesuai dengan petunjuk para nabi serta ada yang mengingkari kebenaran para nabi beserta kitab-kitabnya. Mereka yang ingkar itu disebabkan iri dan dengki kepada orang-orang yang bersikap benar dan hidup sesuai dengan petunjuk para nabi dan kitab-kitabnya. Akibatnya, orang-orang yang ingkar ini bukan saja memusuhi orang-orang yang benar, melainkan pula memusuhi para nabi, kitab-kitab suci, bahkan memusuhi Tuhan Yang Satu.

            Karena manusia tetap berselisih, bertengkar, saling bunuh, bahkan mengingkari Tuhan Yang Satu, Allah swt membagi dua kelompok manusia, yaitu kelompok beriman dan kelompok tidak beriman.

            Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Orang-orang yang beriman terus-menerus diberi pemahaman yang benar oleh Allah swt agar tetap menjadi orang-orang yang benar. Adapun orang-orang yang penuh rasa iri, dengki, dan bersikap ingkar, dibiarkan tersesat hingga menemui kehidupan yang sesat dan penuh dengan kekalutan. Jika Allah swt tidak menyayangi mereka, mereka akan tetap durhaka hingga hari kiamat dan berada di dalam neraka yang sejak lama tidak mereka percayai. Setelah mereka berada di dalam neraka, barulah mereka percaya. Sayangnya, saat itu sudah terlambat dan tak ada jalan kembali pulang ke dunia ini. Kekal selamanya di dalamnya.

            Adam bukanlah manusia pertama, melainkan nabi pertama yang diutus Allah swt untuk memberikan petunjuk agar manusia tidak selalu berselisih dan bertengkar hanya karena rebutan ekonomi, politik, sumber daya alam, atau cara-cara ritual keagamaan. Para nabi selalu lurus dari awal hingga akhir, dari Adam hingga Muhammad selalu mengajarkan kebaikan dan memberikan penjelasan mengenai penyelesaian masalah manusia. Sayangnya, manusia selalu menganggap diri terlalu pintar dan tidak memerlukan ajaran para nabi. Akhirnya, manusia selalu hidup kusut, menderita, mudah bertengkar, mudah stres, mudah berkelahi, bangga terhadap dirinya, dan gemar melakukan pembunuhan.

            Kembalilah kepada ajaran para nabi sejak Adam hingga Muhammad agar persoalan-persoalan manusia dapat diselesaikan dengan cepat dan baik. Jika tidak, manusia tetap akan terbagi dua, yaitu manusia baik dan manusia buruk. Kita memiliki kebebasan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Menjadi baik atau menjadi buruk sama-sama memiliki konsekwensi dan harus selalu diperjuangkan. Orang baik akan berakhir baik dan orang buruk akan selalu berakhir buruk jika tidak berubah menjadi baik.

            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2017

Neraka untuk Para Penjual Ayat Allah swt

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Para penjual ayat-ayat Allah swt memang sangat mengesalkan orang-orang beriman. Mereka terus melakukan keburukan-keburukannya meskipun sudah diberikan peringatan dan dinasihati. Mereka tidak pernah berhenti, kecuali Allah swt yang menghentikan mereka dengan tindakan-Nya sendiri. Orang-orang baik yang beriman kerap menasihati mereka, memberikan penjelasan yang benar, menguraikan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Allah swt. Akan tetapi, para penjual ayat ini tidak pernah mau tahu tentang kebenaran. Mereka hanya ingin menjual ayat-ayat Allah swt untuk kepentingan mereka sendiri, baik itu politik maupun ekonomi.

            Allah swt sudah tahu mereka sejak lama tentang para penjual ayat ini. Oleh sebab itu, Allah swt memberikan ketenangan kepada orang-orang beriman yang mungkin sering kesal terhadap perilaku para penjual ayat-ayat Allah swt ini.

            “Apakah kalian sangat mengharapkan mereka akan percaya kepada kalian, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya?” (QS Al Baqarah 2 : 75)

            Sesungguhnya, para penjual ayat itu tahu bahwa orang-orang beriman itu adalah pihak yang benar tentang ayat-ayat Allah swt. Mereka pun sebenarnya memahaminya. Akan tetapi, mereka kemudian mengubah-ubah ayat itu sekehendak hati mereka. Bisa kata per kata dalam ayatnya yang diubah-ubah, bisa pula pemahamannya yang diputarbalikkan hingga kusut semrawut. Allah swt menenangkan diri orang-orang beriman agar jangan terlalu berharap para penjual ayat ini percaya kepada orang-orang beriman karena toh sebenarnya mereka tahu bahwa mereka salah, tetapi tetap saja bertahan dalam kesalahannya.

            Ada kondisi para penjual ayat-ayat Allah swt yang diterangkan seperti ini:

            “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab, kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.” (QS Al Baqarah 2 : 78)

            Beberapa di antara para penjual ayat itu sesungguhnya buta huruf tidak tahu kata-kata dalam ayat itu. Adapula yang tidak memahami ayat-ayat itu. Untuk memahami ayat dengan benar, harus tekun belajar, memiliki wawasan yang luas, rajin mendekatkan diri kepada Allah swt, dan pandai mengendalikan diri.  Karena tidak memahami ayat-ayat Allah swt dengan benar, mereka hanya menduga-duga, mereka-reka, mengira-ngira, atau berspekulasi mengenai maksud dari ayat-ayat Allah swt.

            Dugaan, rekaan, perkiraan, dan spekulasi mereka itu dipertahankan dengan kuat meskipun tahu bahwa mereka sendiri adalah salah karena telah ada orang lain yang menerangkan dengan lebih baik dan benar. Akan tetapi, karena memang mereka adalah penjual ayat-ayat Allah swt, mereka tidak peduli dan tetap bertahan dengan pendapat mereka yang salah. Untuk memperkuat pendapatnya, mereka banyak menulis tentang pemahaman mereka yang salah itu dan yang lebih parah mengganti kata-kata dalam ayat itu untuk kepentingan politik atau ekonomi mereka.

            Allah swt tahu itu semua.

            “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.” (QS Al Baqarah 2 : 79)

            Mereka membengkokkan pemahaman Al Quran, menyusun hadits-hadits palsu, bahkan berperilaku sesuai dengan pemahaman yang keliru itu. Tak heran Allah swt mengatakan bahwa mereka celaka.

            Kalau diingatkan bahwa perilaku mereka adalah salah dan melampaui batas, mereka tenang-tenang saja karena yakin bahwa dosa mereka akan bisa terhapus.

            “Dan Mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’

            Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS Al Baqarah 2 : 80)

            Mereka yakin mereka salah, tetapi tenang-tenang saja karena yakin mereka hanya akan disiksa sebentar dalam neraka untuk kemudian dimasukkan ke dalam sorga. Padahal, mereka tidak pernah mendapatkan janji dari Allah swt bahwa mereka hanya akan disiksa sebentar untuk menghapus atau mencuci dosa-dosa mereka, lalu memasukkan mereka ke dalam sorga.

            Allah swt membantah mereka, “Bukan demikian! Siapa yang berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 81)

            Pahamilah jika sudah menjual ayat-ayat Allah swt dan mendapatkan untung besar, baik secara ekonomi maupun politik, kebiasaan itu akan terus-menerus berulang dan sulit ditinggalkan. Hal itu menyebabkan dosanya terus menumpuk bertambah-tambah dan “menenggelamkannya”. Akhirnya, mereka menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.


            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tes Mental Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Lumayan sering saya mendengar, baik muslim maupun kristian yang sering “tenang-tenang” hidupnya karena menganggap bahwa dirinya pasti masuk surga. Kalaupun harus masuk neraka, paling hanya sebentar disiksa. Akhirnya, pasti masuk surga dan kekal bahagia di dalamnya. Saya belum pernah mendengar hal itu dari umat Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Mungkin mereka juga berpandangan sama, tetapi yang jelas saya belum pernah mendengarnya. Kalau yahudian, memang sudah tercatat mengaku seperti itu. Kaum Yahudi berpandangan bahwa mereka pasti masuk surga setelah disiksa terlebih dahulu di dalam neraka.

            Allah swt sudah menerangkannya.

            “Dan mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’
            Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS Al Baqarah 2 : 80)

            Yahudi yakin bahwa mereka hanya akan disiksa selama empat puluh hari akibat dari dosa mereka menyembah patung emas sapi betina selama empat puluh hari ketika ditinggalkan Musa as untuk bertemu Allah swt di Gunung Sinai.

            Akan tetapi, Allah swt membantahnya dengan menyuruh kaum muslimin untuk balik bertanya kepada Yahudi sebagaimana yang ditulis dalam ayat di atas.

            Jika menggunakan bahasa kita saat ini, kita dapat bertanya kepada Yahudi, “Kalian pasti masuk Surga? Mana ayat yang berisi janji Allah swt yang akan menyiksa kalian hanya sebentar untuk kemudian masuk Surga? Kalian hanya bikin hoax.

            Orang-orang Islam tidak perlu seperti umat Yahudi yang tenang-tenang saja akibat hoax. Meskipun umat Islam dijanjikan surga oleh Allah swt, tetapi tidak boleh tenang-tenang saja karena siksaan neraka itu sangat mengerikan. Meskipun pada akhirnya masuk surga, tetap jangan anggap enteng siksaan neraka.

            Mari kita tes mental kita untuk masuk surga setelah sebelumnya masuk neraka terlebih dahulu. Artinya, ada penyiksaan dulu di neraka untuk membersihkan seluruh dosa agar benar-benar suci ketika masuk surga.

            Saya ada rumah tiga, sumpah. Satu di Kota Bandung, satu di Kabupaten Sumedang, dan satu lagi di Kabupaten Bandung. Satu rumah yang di Kota Bandung akan saya berikan kepada siapa saja yang mau.

            Ada yang mau?

            Mahal lho beli rumah. Susah punya rumah sendiri.

            Beri tahu saya kalau ada yang mau. Saya sumpah tidak akan bohong.

            Saya akan berikan rumah itu dengan segala surat-suratnya dan saya akan menandatangani di atas materai bahwa rumah itu sudah saya berikan kepada Saudara. Akan tetapi, saya minta satu saja syarat dari Saudara. Syarat itu ialah saya akan menyiksa Saudara selama satu jam. Hanya satu jam. Satu jam saja. Sumpah, tidak akan lebih dari satu jam.

            Mau?

            Mau rumah?

            Apakah saya harus bersumpah demi Allah swt agar Saudara percaya?

            Satu jam saja saya menyiksa Saudara. Setelah itu, rumah akan menjadi mililk Saudara.

            Mau?

            Kalau mau, saya akan ceriterakan dulu bagaimana saya akan menyiksa Saudara. Tidak akan pakai senjata. Saya hanya akan menggunakan tangan kosong. Hal pertama yang saya akan lakukan adalah memukul sekeras mungkin kedua telinga Saudara dengan kedua telapak tangan saya secara bersamaan sehingga gendang telinga Saudara pecah berdarah dan tidak bisa mendengar lagi. Kedua, saya akan menggunakan kedua jempol tangan saya untuk mencongkel kedua mata Anda sehingga Anda tidak bisa melihat lagi dan buta selama hidup. Ketiga, saya akan memukul hidung Anda hingga patah. Keempat, saya akan memukul ulu hati dan tulang iga Saudara hingga patah-patah. Kelima, saya akan mematahkan kedua tangan Saudara beserta seluruh jari-jari tangan hingga seluruhnya patah-patah dan tidak bisa digerakkan lagi. Keenam, saya akan membenturkan bibir Saudara sekeras mungkin pada tembok hingga pecah dan gigi Saudara pada rontok. Ketujuh, saya akan mematahkan kaki Saudara dengan menginjak lutut Saudara dalam posisi kaki telentang bersandar pada kursi hingga tempurung Anda pecah dan tidak bisa nyambung lagi antara betis dan paha.

            Ketujuh penyiksaan itu paling-paling hanya berjalan 30 menit. Saya masih punya hak menyiksa Saudara 30 menit lagi. Masih banyak cara untuk membuat penyiksaan.

            Mau?

            Kalau mau, Saudara mungkin dapat rumah dari saya, tetapi saudara cacat seumur hidup dan menderita sakit luar biasa bertahun-tahun. Mungkin Saudara mengharapkan agar cepat mati, tetapi tidak mati-mati juga. Bahkan, Saudara menjadi beban hidup orang lain sambil terus-terusan merasakan sakit.

            Mau?

            Jangan mau atuh.

            Oleh sebab itu, jangan anggap enteng neraka. Benar kita bakal masuk surga karena ada kesempurnaan iman, tetapi kalau disiksa dulu … duh.

            Gambaran penyiksaan yang saya lakukan tadi sangat sadis dan mengerikan. Apalagi jika disiksa di neraka oleh para malaikat yang memang ahli menyiksa.

            Hi… ngeri.

            Jangan tenang-tenang saja. Kuatkan iman dan terus berbuat baik di muka Bumi ini sehingga tidak perlu disiksa dulu sebelum masuk surga.

            Sampurasun.