Showing posts with label Nabi Adam as. Show all posts
Showing posts with label Nabi Adam as. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

Nabi Adam Diciptakan Belakangan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang menduga bahwa Adam as adalah manusia pertama. Padahal, bukan. Beberapa tulisan saya yang lalu menjelaskan hal ini. Berdasarkan keterangan QS Al Hujurat 49 : 13, Allah swt menciptakan banyak suku dengan bahasa tertentu, kemampuan tertentu, kecerdasan tertentu, kondisi fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk asal mula setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus sebagai cikal bakal suku tersebut. Jadi, banyak sekali manusia yang diciptakan langsung oleh Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa hanyalah salah satu pasangan yang diciptakan Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa merupakan cikal bakal untuk sukunya sendiri dan bukan menjadi leluhur seluruh manusia.

            Hal ini dijelaskan pula oleh Allah swt bahwa sebelum Nabi Adam diciptakan, sudah sangat banyak manusia hidup di muka Bumi ini.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Baqarah 2 : 213 berikut ini.

            “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka karena kedengkian di antara mereka sendiri. Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Perhatikan dua kalimat pertama.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Kedua kalimat itu mengandung arti bahwa dulu manusia ini satu umat. Yang dimaksud satu umat adalah satu keyakinan, satu Tuhan. Dr. Ahmad Hatta, M.A.  mengartikannya sebagai satu ketauhidan. Oleh sebab itu, tak ada perselisihan di antara manusia meskipun terdiri dari ribuan suku bangsa. Tak ada pertengkaran dan perebutan kekuasaan, ekonomi, maupun sumber daya alam karena semua memiliki keyakinan yang sama bahwa hidup adalah hanya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu, dalam bahasa Arab disebut Allah swt dan dalam bahasa lain ada sebutan lain pula.

            Ketika manusia sudah semakin banyak, semakin berkembang kecerdasannya, semakin berkembang kebutuhannya, terjadilah banyak masalah dan perselisihan. Konflik-konflik itu membuat kerusakan tatanan hubungan di antara manusia. Kemudian, lambat atau cepat manusia terlalu sibuk memikirkan duniawi sehingga melupakan kewajibannya yang pasti, yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu. Ketika manusia sudah sangat kafir dan kekafirannya tidak bisa ditolerir lagi, Allah swt menghukumnya dan menghancurkannya hingga tak bersisa atau hanya disisakan sedikit saja. Ketika suatu zaman dihancurkan, dimusnahkan, dan ditenggelamkan hingga hilang dari kehidupan dunia, Allah swt memunculkan kembali umat-umat yang baru. Dalam perjalanannya, umat-umat yang baru ini pun melakukan kesalahan yang sama dengan umat-umat yang telah dihancurkan. Akibatnya, Allah swt melumatkannya lagi, kemudian menciptakan lagi umat yang baru. Begitu berulang-ulang Allah swt menciptakan dan menghancurkan manusia.

            Jika dilihat dari hasil penelitian para peneliti terkait dengan geografi, geologi, oceanografi, atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daratan dan lautan, disepakati bahwa seluruh daratan di muka Bumi ini dulunya adalah satu daratan yang sama dan tidak terpisah-pisah. Akan tetapi, bentuk daratan yang satu itu mengalami perubahan oleh banyak bencana besar yang berulang-ulang hingga memisahkan daratan itu menjadi beberapa benua dan beberapa pulau.

            Apabila kita membaca Al Quran, sering sekali Allah swt menyuruh kita berjalan-jalan di muka Bumi untuk mellihat bagaimana Allah menghancurkan manusia-manusia durhaka dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Bentuk daratan seperti saat ini sesungguhnya telah mengalami ribuan kali bencana teramat dahsyat.

            Suatu saat Allah swt memiliki kebijakan lain, yaitu ingin menciptakan manusia yang menjadi wakil dirinya di muka Bumi. Tak heran rencana itu sempat membuat bingung para malaikat.

            Para malaikat bertanya, “Untuk apa menciptakan manusia yang akan menumpahkan darah di muka Bumi? Bukankah kami yang selalu memuji dan mengagungkan Engkau, ya Allah?”

            Begitu kira-kira malaikat merasa heran. Malaikat bertanya-tanya soalnya mereka sangat tahu bahwa sudah ribuan umat yang diciptakan, lalu dihancurkan. Diciptakan lagi yang lain, lalu dihancurkan lagi.

            Mereka tidak percaya bagaimana mungkin Allah swt akan menjadikan manusia yang suka melakukan kekafiran, membuat kekacauan di muka Bumi, dan saling bunuh itu menjadi wakil Allah swt di Bumi?

            Kalaupun mau mengangkat wakil, seharusnya dari kalangan malaikat karena malaikat adalah yang selalu memuji dan mengagungkan Allah swt, tidak pernah bikin kekacauan, apalagi saling bunuh. Adapun manusia, berulang-ulang bikin kekacauan, saling bunuh, dan berubah kafir. Begitu kira-kira yang ada di pikiran malaikat.

            Akan tetapi, Allah swt menegaskan, “Aku lebih tahu.”

            Kemudian, Allah swt memerintah Adam untuk memamerkan kecerdasannya di hadapan malaikat. Akhirnya, para malaikat pun mengakui bahwa Adam as adalah lebih hebat, lebih cerdas, dan lebih unggul dibandingkan para malaikat. Allah swt pun memerintah para malaikat untuk segera bersujud kepada Adam sebagai penghormatan dan pengakuan bahwa Adam lebih cerdas dan lebih mulia.

            Allah swt memang menciptakan Adam as dengan kecerdasan di atas malaikat dan di atas rata-rata manusia biasa yang sudah diciptakan sebelumnya.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Pada masa belum ada nabi seluruh manusia selalu dihancurkan, kemudian diganti oleh umat manusia yang lain dan berbeda. Kemudian, dihancurkan lagi. Selalu begitu. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan nabi agar manusia mendapatkan petunjuk, tidak lagi berselisih, tidak lagi saling berebut, tidak saling bunuh, dan tetap mengabdi dengan benar kepada Tuhan Yang Satu. Dengan demikian, manusia tidak perlu dihancurkan lagi dan lagi dalam sejarah kehidupan dunia ini.

            Nabi yang pertama diciptakan namanya adalah Adam. Istrinya bernama Hawa di Amerika Serikat dan Eropa disebut Eva. Adam-Hawa sama dengan Adam-Eva.

            Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

            Para nabi itu diutus Allah swt dengan membawa kita-kitab suci sebagai panduan bagi manusia untuk menyelesaikan berbagai permasalah manusia, baik persoalan ekonomi, sumber daya alam, politik, maupun ritual keagamaan. Akan tetapi, sayangnya setelah para nabi dan kitab itu turun, manusia tetap berselisih, bertengkar, malah berperang saling bunuh. Hal itu disebabkan manusia terbagi dua, yaitu ada yang bersikap benar dan sesuai dengan petunjuk para nabi serta ada yang mengingkari kebenaran para nabi beserta kitab-kitabnya. Mereka yang ingkar itu disebabkan iri dan dengki kepada orang-orang yang bersikap benar dan hidup sesuai dengan petunjuk para nabi dan kitab-kitabnya. Akibatnya, orang-orang yang ingkar ini bukan saja memusuhi orang-orang yang benar, melainkan pula memusuhi para nabi, kitab-kitab suci, bahkan memusuhi Tuhan Yang Satu.

            Karena manusia tetap berselisih, bertengkar, saling bunuh, bahkan mengingkari Tuhan Yang Satu, Allah swt membagi dua kelompok manusia, yaitu kelompok beriman dan kelompok tidak beriman.

            Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Orang-orang yang beriman terus-menerus diberi pemahaman yang benar oleh Allah swt agar tetap menjadi orang-orang yang benar. Adapun orang-orang yang penuh rasa iri, dengki, dan bersikap ingkar, dibiarkan tersesat hingga menemui kehidupan yang sesat dan penuh dengan kekalutan. Jika Allah swt tidak menyayangi mereka, mereka akan tetap durhaka hingga hari kiamat dan berada di dalam neraka yang sejak lama tidak mereka percayai. Setelah mereka berada di dalam neraka, barulah mereka percaya. Sayangnya, saat itu sudah terlambat dan tak ada jalan kembali pulang ke dunia ini. Kekal selamanya di dalamnya.

            Adam bukanlah manusia pertama, melainkan nabi pertama yang diutus Allah swt untuk memberikan petunjuk agar manusia tidak selalu berselisih dan bertengkar hanya karena rebutan ekonomi, politik, sumber daya alam, atau cara-cara ritual keagamaan. Para nabi selalu lurus dari awal hingga akhir, dari Adam hingga Muhammad selalu mengajarkan kebaikan dan memberikan penjelasan mengenai penyelesaian masalah manusia. Sayangnya, manusia selalu menganggap diri terlalu pintar dan tidak memerlukan ajaran para nabi. Akhirnya, manusia selalu hidup kusut, menderita, mudah bertengkar, mudah stres, mudah berkelahi, bangga terhadap dirinya, dan gemar melakukan pembunuhan.

            Kembalilah kepada ajaran para nabi sejak Adam hingga Muhammad agar persoalan-persoalan manusia dapat diselesaikan dengan cepat dan baik. Jika tidak, manusia tetap akan terbagi dua, yaitu manusia baik dan manusia buruk. Kita memiliki kebebasan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Menjadi baik atau menjadi buruk sama-sama memiliki konsekwensi dan harus selalu diperjuangkan. Orang baik akan berakhir baik dan orang buruk akan selalu berakhir buruk jika tidak berubah menjadi baik.

            Sampurasun.

Saturday, 15 April 2017

Bahasa Nabi Adam as

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saat berdiskusi dengan para mahasiswa pertama kali dengan mahasiswa mana saja saya selalu menemukan pandangan klasik, yaitu Nabi Adam as adalah manusia pertama dan menggunakan bahasa Arab. Pandangan klasik ini tampaknya berasal dari dongeng-dongeng klasik.


            Saya bertanya, “Yakinkah Nabi Adam menggunakan bahasa Arab?”

            Mereka selalu yakin.

            Saya melanjutkan bertanya, “Yakinkah Nabi Adam as itu manusia pertama yang diciptakan Allah swt?”

            Biasanya, mereka selalu yakin, kecuali mereka yang sudah mendengar keterangan yang lebih baik dalam pembahasan pada diskusi-diskusi pada berbagai tempat.

            “Kalau Adam as adalah manusia pertama dan menggunakan bahasa Arab, siapa orang kurang ajar pertama yang meninggalkan bahasa Arab sehingga kita sekarang menggunakan bahasa Sunda, bahasa Indonesia, Jawa?”

            Mereka mulai serius berpikir.

            Bagi saya, orang pertama yang meninggalkan bahasa Adam as, yaitu bahasa Arab, kemudian membuat bahasa sendiri adalah orang paling kurang ajar dan teramat berdosa.

            Bagaimana tidak berdosa dan kurang ajar keterlaluan?

            Dia membuat kita menjadi susah karena harus mulai lagi dari awal belajar bahasa Arab untuk memahami Al Quran. Anak-anak harus belajar huruf Arab dengan menggunakan metode iqra, bahkan harus bayar lagi. Coba kalau dulu gunakan saja bahasa Adam as yang Arab itu, kita nggak kesusahan harus belajar bahasa Arab lagi dari awal.

            Kalau sudah saya jelaskan seperti itu, para mahasiswa biasanya terdiam dan berharap saya melanjutkan penjelasan.

            Jadi, Adam as itu bukanlah manusia pertama karena kita menggunakan bahasa yang berbeda-beda di seluruh dunia. Bahasa yang satu tidak memiliki hubungan dengan bahasa lainnya. Allah swt menciptakan manusia bersuku-suku. Untuk menciptakan suatu suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus untuk melahirkan anggota-anggota sukunya. Pasangan pertama yang diciptakan itu diberi pengetahuan tertentu tanpa proses belajar, bahasa tertentu untuk berkomunikasi, bentuk fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk setiap suku, diciptakan sepasang suami-istri masing-masing.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Biasanya, setelah diterangkan, para mahasiswa sangat cepat mengerti.

            Akan tetapi, jika ada yang bertanya, “Jadi, Nabi Adam as itu menggunakan bahasa apa dan suku apa?”

            Saya selalu akan menjawab, “Saya belum tahu. Suatu saat kita akan tahu lebih lengkap tentang Adam as jika Allah swt berkenan memberikan pengetahuan tentang Adam as kepada kita. Bisa melalui saya. Bisa melalui Saudara-saudara mahasiswa. Bisa melalui siapa saja yang Allah swt kehendaki untuk mendapatkan pengetahuan tersebut.”


            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Setiap Bahasa Diciptakan Masing-Masing

oleh Tom FInaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tak pernah ada penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa suatu bahasa telah melahirkan bahasa baru. Tak ada bahasa yang lahir dari bahasa lainnya yang sudah ada lebih dulu. Hasil penelitian yang ada justru menghasilkan kesimpulan bahwa setiap bahasa memiliki karakteristik masing-masing dan sama sekali tidak memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan, bahasa-bahasa berbeda yang berada pada sebuah pulau yang sama pun sama sekali tidak memiliki hubungan alias hidup masing-masing serta mati pula dengan kondisi dan penyebab yang berbeda-beda.

            Hal ini sebagaimana yang disampaikan Dr. Partini Sardjono, Pr., S.S. dalam pidatonya saat penerimaan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, 5 Juli 1986. Pidatonya berjudul Peranan Sastra Nusantara dalam Alam Pembangunan Nasional.

            Dr. Partini Sardjono adalah dekan saya ketika saya kuliah di Subprogram Studi Editing, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung. Saya sangat menghormatinya.

            Ia menjelaskan bahwa pengetahuan mengenai bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Tengahan sangat sedikit. Dari struktur tiga tahap bahasa, yaitu bahasa Jawa Kuna, bahasa Jawa Tengahan, dan bahasa Jawa Baru tidak memperlihatkan kesinambungan kebahasaan yang jelas.

            Bahasa Jawa Tengahan dan bahasa Jawa Kuna terlestarikan dalam naskah-naskah lontar di Bali dan Lombok (Zoetmulder, 1974 : 36-60). Adapun bahasa Jawa Baru Modern di samping Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terlestarikan pada naskah-naskah di Jawa Barat (Edi Ekadjati, dkk. 1983)

            Partini berulang-ulang menegaskan bahwa tidak ada hubungannya antara bahasa yang satu dengan yang lainnya. Adapun bahasa Sansakerta yang diduga orang sebagai bahasa yang berasal dari India yang katanya leluhur orang Indonesia, tetap tidak mempengaruhi bahasa yang ada di Nusantara. Partini menjelaskan bahwa dalam kenyataannya bahasa Sansakerta digunakan oleh orang Indonesia dengan sangat terbatas pada kata benda dan kata keadaan. Kalaupun bahasa Sansakerta terserap ke dalam bahasa Indonesia, kemudian mendapatkan imbuhan, tetap tidak mengubah struktur bahasa-bahasa yang ada di Nusantara. Misalnya, graha (gedung) dan yuddha (perang). Kalaupun mendapat imbuhan, sama sekali tidak mempengaruhi yang ada, contohnya, uttama menjadi keutamaan. Kalaupun digabungkan dengan kata lain, juga tetap tidak berpengaruh, misalnya, Bina Graha (kantor kepresidenan) yang merupakan campuran dari Bina (Arab) dan Grha (Sansakerta); purnawirawan (sempurna masa baktinya); Graha Wiyata Yuddha (rumah pelajaran ilmu perang); Graha Purna Yuddha (gedung veteran); kartika yuddha (perang bintang).

            Pendek kata, bahasa Sansakerta hanya digunakan sebagai kata benda dan keadaan. Itu pun hanya sedikit. Di samping itu, bahasa Sansakerta tidak pernah digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi, ngobrol-ngobrol, ataupun menyampaikan berita.

            Tak ada bahasa yang lahir dari bahasa lainnya. Setiap bahasa berdiri sendiri masing-masing.

            Hasil penelaahan Partini Sardjono tersebut menguatkan bukti bahwa benarlah Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dengan bahasanya masing-masing. Hal tersebut pun membuktikan bahwa Adam as bukanlah manusia pertama. Hal itu disebabkan jika Adam as manusia pertama, bahasa manusia di seluruh dunia ini harus sama. Selain itu pun, penelitian Partini menolak dengan tegas kebohongan para pengikut Darwin. Jika manusia dan seluruh makhluk hidup berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian berkembang hingga sekarang ini, bahasa yang digunakan pun harus sama di seluruh dunia karena bahasa makhluk yang pertama kali menggunakan bahasa akan diikuti oleh keturunannya. Dalam kenyataannya, bahasa setiap suku berbeda-beda di dunia ini. Artinya, Allah swt itu menciptakan manusia dengan cara menciptakan setiap pasang suami-istri untuk setiap suku dengan bahasa tertentu, kecerdasan tertentu, emosi tertentu, modal pengetahuan tertentu tanpa proses belajar, dan tantangan hidup tertentu.

            Hal itu dapat saya pahami dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”


            Sampurasun.

Monday, 13 March 2017

Teori Darwin Vs Teori Ledakan Penciptaan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Saya sebetulnya tidak suka dengan istilah Teori Darwin karena kata “teori” itu seolah-olah merupakan hasil dari pengamatan fenomena dengan banyak kumpulan data yang kemudian memunculkan hipotesa. Kemudian, hipotesa itu diuji, dianalisis, entah dengan metode kuantitatif maupun kualitatif dengan berbagai alat analisis yang kemudian menghasilkan simpulan dan saran. Dengan demikian, hasil penelitian itu bisa melahirkan sebuah teori. Dalam kenyataannya, dari pendapat para pemapar buku Darwin yang berjudul The Origin Species, dalam isi buku itu hanya ada fenomena, kemudian memunculkan dugaan atau hipotesa tanpa ada data-data yang dapat dianalisis dengan alat-alat analisis yang tepat. Jadi, penelitian, analisis, dan eksperimennya belum pernah dilakukan. Semuanya hanya dugaan. Dengan demikian, tidak tepat jika menggunakan istilah “Teori Darwin”. Istilah yang tepat seharusnya Hipotesa Darwin atau Dugaan Darwin  karena memang hanya baru tahap dugaan dan belum ada penelitian yang mendalam.

            Sebetulnya, kalau hanya dugaan, sah-sah saja dalam ilmu pengetahuan. Akan tetapi, apabila dugaan itu disebut sebuah kebenaran, namanya berubah menjadi hoax. Apa pun itu, baik ilmu pengetahuan maupun berita, jika baru sebatas fenomena kemudian memunculkan dugaan, tetapi menganggap bahwa dugaan itu adalah sebuah kebenaran, namanya hoax.

            Dugaan itu hanya kira-kira. Orang tua Sunda menyebutnya meureun. Adapun meureun teh jauh ka enya, ‘dugaan/kira-kira itu jauh dari kenyataan’. Oleh sebab itu, untuk memastikan sebuah dugaan, harus dilakukan pengujian dan penelitian sehingga didapat hasil apakah dugaan itu benar atau tidak. Tanpa ada pengujian, dugaan hanyalah dugaan dan bukan kenyataan. Jika dugaan disebut kenyataan, itulah namanya hoax.

            Darwin hanya sampai pada tahap dugaan dan tidak pernah menguji dugaannya itu sehingga mendapatkan simpulan. Saya senang sekali jika ada pendukung Darwin dari negara mana pun yang mampu menerangkan bagaimana cara Darwin dalam mengumpulkan data, menguji data-data itu, memaparkan alat-alat analisisnya sampai memunculkan sebuah simpulan dan saran bagi pengembangan ilmu pengetahuan berikutnya. Kalau tidak ada yang bisa, Darwin memang kenyataannya hanya sampai pada tahap menduga. Apabila dugaan Darwin disebut kebenaran atau kenyataan,  istilahnya harus diubah menjadi Darwin Hoax atau The Hoax of Darwin.

            Para pendukung dugaan Darwin masih tetap ada disebabkan paling tidak tiga hal, yaitu enggan mengakui keberadaan Allah swt, tidak mendapatkan kepuasan dalam beragama, dan tidak mendapatkan jawaban yang pasti untuk menjatuhkan dugaan Darwin. Setidak-tidaknya, itulah yang saya dapatkan setelah sering sekali berdebat dengan lebih dari dua ratus para ateis luar negeri. Mereka rata-rata orang yang gemar berpikir, tetapi tidak memiliki rel untuk berpikir yang benar sehingga pikirannya menjadi sangat liar. Orang-orang beragama di luar negeri, terutama Kristen mengajari mereka dengan dogma-dogma yang membingungkan disertai tuduhan-tuduhan sesat, kafir, dan calon penghuni neraka. Demikian pula orang-orang Islam di sana banyak yang terlalu sibuk ingin mendirikan kekhalifahan sehingga mempolarisasi masyarakat dalam dua golongan besar, yaitu muslim dan kafir. Memang benar bahwa di dunia ini hanya ada muslim dan kafir, tetapi yang lebih parah adalah dua golongan besar ini semakin diperbesar benteng pemisahnya sehingga muncul fenomena sikap “ikut aku atau ikut mereka”. Dengan demikian, para pendukung dugaan Darwin yang sebagian besar ateis tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas keresahannya. Oleh sebab itu, mereka mati-matian mendukung dugaan Darwin sebagai sebuah teori yang dianggap sebuah kebenaran meskipun tak bisa dipertanggungjawabkan dan tak bisa diterangkan secara ilmiah.

            Akan tetapi, meskipun mereka sudah kalah berdebat dan mengakui dengan jujur bahwa pendapat saya adalah benar dalam menjatuhkan dugaan Darwin, masih tetap bertahan dalam pendapatnya yang salah itu. Hal itu disebabkan ada penyakit dalam diri mereka yang sudah menahun, yaitu keengganan untuk melakukan ritual-ritual agama apa pun. Bahkan, ada yang menyarankan saya untuk beralih menjadi Kristen karena dalam Kristen tidak ada shalat, puasa, dan ritual-ritual Islam yang bagi mereka terasa memberatkan. Saya sih cuma tertawa saja karena shalat, puasa, dan ritual-ritual lainnya bagi saya sama sekali tidak memberatkan, bahkan meringankan hidup saya karena ritual-ritual itu merupakan pegangan bagi saya dalam menyeimbangkan hidup saya.

            Adapula seorang ateis Inggris yang sudah kalah berdebat beralih menggunakan kata-kata ejekan bahwa menurutnya setiap orang yang beragama itu bodoh, “Kalian orang-orang bodoh yang percaya bahwa Nabi Adam adalah hidup bersama para dinosaurus.”

            Saya sih tertawa saja. Dia sesat berpikir karena banyak orang yang beragama menerangkan bahwa Adam as adalah manusia pertama. Kalau disebut manusia pertama, berarti Adam as harus hidup pada zaman purba barengan dengan dinosaurus.

            Saya jawab saja, “Hahaha … siapa orang bodoh yang mengajari kamu hal bodoh seperti itu?”

            Dia tidak menjawab lagi sampai sekarang.

            Intinya, Darwin menduga bahwa makhluk hidup itu berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian berkembang, baik secara fisik maupun intelektual. Secara fisik berubah menyesuaikan kebutuhan hidup dan alam. Secara intelektual berkembang dari tidak tahu menjadi tahu. Semuanya itu terjadi secara alamiah, berasal dari alam menjadi alam. Alam menciptakan alam. Alam menciptakan dirinya sendiri.

            Sayangnya, tak ada bukti tentang hal itu. Tak pernah ditemukan fosil beruang yang sedang memendek keempat kakinya, lalu tumbuh sirip di perut dan punggungnya untuk kemudian menjadi hiu.  Tak pernah ditemukan fosil kadal dan cicak yang kaki depannya dalam proses berubah menjadi sayap dan kaki depannya menjadi tumpuan untuk berdiri sehingga menjadi burung. Fosil-fosil yang ditemukan sebagai penunjang dugaan Darwin semuanya bohong dan terbukti palsu. Misalnya, pernah diklaim ada fosil tulang belulang babi hutan yang sedang berubah menjadi anjing. Ternyata, setelah diteliti itu hanyalah penggabungan antara kepala anjing biasa dengan babi hutan biasa. Sempat pula beredar luas penemuan ada manusia berbadan tegap dengan kerangka kepala monyet, tetapi ternyata sama saja hanya penipuan dengan cara menggabungkan tengkorak monyet dengan kerangka tubuh manusia. Adapula yang melakukan penipuan dengan cara menggunakan gips dengan bentuk seolah-olah monyet yang sedang berkembang menjadi manusia, tetapi akhirnya ketahuan juga bohongnya.

            Kalaulah para ateis itu berpendapat bahwa ada monyet yang telah berbentuk menjadi manusia sempurna, lalu berkembang biak menjadi banyak dan menjadi leluhur pertama manusia, hal itu sama saja dengan keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.

            Akibatnya, mereka tetap bingung bagaimana bisa bahwa manusia pertama yang jelas menggunakan bahasa, tetapi generasi berikutnya menggunakan bahasa yang berbeda dengan manusia berikutnya?

            Manusia pertama tentunya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa.

            Bahasa apa?

            Kapan dimulainya terjadi ribuan bahasa yang berbeda di dunia ini, padahal berasal dari satu manusia yang sama?

            Mengapa bahasa manusia yang pertama itu ditinggalkan sampai tidak dikenali lagi?

            Mengapa bahasanya jadi sangat jauh berbeda dan bentuk hurufnya pun berbeda pula, seperti, Arab, Jepang, Cina, Sunda, Jawa, dan lain sebagainya?

            Tak ada jawaban untuk itu semua karena mereka salah berpikir dan tak punya landasan yang jelas. Hal itu sudah menunjukkan bukti bahwa Darwin itu hanya sebatas menduga dan tak pernah melakukan penelitian mendalam atas dugaannya itu.

            Kalaulah para pendukung Darwin yang ateis itu menganggap bahwa orang Afrika, Papua masih setengah manusia dan setengah binatang karena masih dalam proses menuju kesempurnaan untuk menjadi orang Melayu, Cina, atau Jepang sehingga menjadi manusia paling sempurna yang berkulit putih seperti di Barat, mengapa banyak orang yang berkulit hitam lebih cerdas, lebih pandai, dan lebih sukes dibandingkan orang kulit putih?

            Tak ada jawaban pula untuk hal seperti itu.


Teori Ledakan Penciptaan
Teori yang paling masuk akal adalah Teori Ledakan Penciptaan. Teori ini diperkenalkan oleh Harun Yahya. Bukan Teori Big Bang. Teori Big Bang artinya Teori Ledakan Besar yang menerangkan bagaimana Bumi dan langit ini tercipta. Adapun Teori Ledakan Penciptaan adalah teori yang menjelaskan bagaimana Allah swt menciptakan makhluk hidup.

            Dalam penelitiannya, Harun Yahya menemukan bahwa para ahli fosil hanya menemukan tulang belulang binatang purba dalam jumlah yang banyak dalam waktu tertentu dengan bentuk tertentu yang sama. Tak ada fosil binatang purba yang sedang berubah bentuk, tetapi yang ada hanyalah fosil yang sama bentuknya dalam jumlah yang teramat banyak pada periode tertentu. Dari berbagai jenis fosil yang ditemukannya, Harun Yahya menyimpulkan bahwa Allah swt menciptakan makhluk tertentu pada periode tertentu dan berkembang menjadi sangat banyak dengan bentuk yang tetap dari awal penciptaan sampai dengan akhir kepunahannya. Tak ada yang berevolusi. Itulah yang disebut Teori Ledakan Penciptaan.

            Hal yang sama pun terjadi pada manusia. Allah swt menciptakan manusia dari sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, untuk satu suku tertentu. Allah swt menciptakan sepasang suami isteri itu secara fisik terlebih dahulu yang disesuaikan dengan keadaan alam tempat mereka diciptakan. Setelah itu, Allah swt menanamkan berbagai pengetahuan kepada mereka sebagai modal kerja mereka hidup dan sesuai dengan tantangan mereka hidup. Demikian pula, Allah swt menciptakan bahasa tertentu untuk mereka agar dapat berkomunikasi, baik di antara mereka sendiri maupun untuk berkomunikasi dengan alam dan terutama berkomunikasi dengan Allah swt. Untuk setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami istri tertentu dengan cara yang sama. Dari sanalah manusia mulai berkembang, belajar, dan terus mengembangkan dirinya, baik kuantitas maupun kualitas. Setiap suku diciptakan sepasang suami isteri tertentu sebagai leluhur awal suku itu dengan bahasa dan ilmu pengetahuan tertentu.

            Dalam menerangkan hal penciptaan serupa itu, Allah swt memberikan contoh dengan memberitakan bagaimana Adam as diciptakan. Adam as diciptakan secara fisik hingga sempurna, kemudian diberi berbagai pengetahuan secara langsung tanpa proses belajar sebagai modal awal untuk menjalani hidupnya. Oleh sebab itu, Allah swt memerintahkan para malaikat untuk sujud sebagai tanda penghormatan kepada Adam as yang telah diberi pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan para malaikat. Kemudian, Allah swt memberikan pula pasangannya Siti Hawa agar dapat berkembang, baik kuantitas maupun kualitas.

            Bukan hanya masuk akal proses penciptaan serupa itu, melainkan pula mendapatkan landasan yang jelas berupa firman Allah swt di dalam Al Quran.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Penciptaan dengan membedakan suku, fisik, bahasa yang berbeda dimaksudkan agar manusia dapat saling mengenal dan saling berbagi sehingga dapat survive dalam menjalani hidup dan kehidupan sesuai dengan yang direncanakan Allah swt.

            Untuk lebih memahaminya, penciptaan seperti ini mirip-mirip dengan permainan video games.  Setiap pembuat game, baik game adventure ataupun tidak, selalu memberikan modal dasar bagi setiap karakter yang dimainkan dalam game tersebut. Tokoh karakter yang dimainkan game tersebut akan berkembang menjadi kuat, besar, dan kaya jika mampu menemukan aset-aset yang disediakan Sang Pencipta Game untuk menghadapi setiap tantangan yang ada dalam game tersebut sampai permainan itu berakhir. Bagi pemain game yang pandai dan tekun, akan mendapatkan banyak materi dan aset untuk melengkapi dirinya hingga menjadi pemenang dalam game tersebut dan berakhir menyenangkan. Akan tetapi, pemain game yang tidak tekun, tidak sabaran, tidak teliti, dan emosian kerap jatuh gagal dan … game over. Dia tidak berhasil menjalankan karakternya sebagaimana yang diharapkan Sang Pencipta Game.

            Hal yang sedikit agak lebih jelas adalah mirip dengan permainan Sim City. Setiap keluarga atau setiap orang diberi modal dasar minimal oleh Sang Perancang Game agar dapat melanjutkan permainan dari awal sampai dengan akhir. Kepandaian dan ketekunan pemain game Sim City akan sangat menentukan keberhasilan dan atau kegagalan setiap karakter yang dimainkan. Setiap karakter yang dimainkan akan bisa menjadi sangat kaya raya dan berhasil hidupnya jika mampu mengikuti petunjuk Sang Pembuat Game. Sebaliknya, pemain game yang seenaknya dan malas mudah menyerah, tidak akan pernah berhasil hidup dan menghidupkan karakter dalam game tersebut sehingga berakhir naas, bahkan mati total dan … game over.

            Seperti itulah kira-kira Allah swt menciptakan kita semua, memberikan modal dasar, memberikan tantangan, memberikan alat, menyediakan fasilitas, sekaligus menyiapkan kegagalan dan keberhasilan. Semua itu diserahkan kepada diri kita sendiri untuk menjalaninya. Agar permainan hidup ini lebih baik, diturunkanlah para nabi dengan petunjuk agar setiap peserta kehidupan dunia  dapat memainkan peran yang tepat dan benar. Bagi mereka yang mengikuti buku petunjuk dengan benar, berhasillah hidupnya. Bagi mereka yang seenaknya tanpa buku panduan, gagallah hidupnya.

            Jadi, dugaan Darwin sama sekali tidak masuk akal dan tidak memiliki landasan berpikir yang jelas. Adapun Teori Ledakan Penciptaan sangat masuk akal, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu pengetahuan, dan memiliki landasan pikir yang jelas berupa firman Allah swt.


            Sampurasun.

Thursday, 9 February 2017

Asal Mula Suku Baduy

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Masyarakat Baduy sebenarnya sangat tidak suka disebut “Baduy” karena kata Baduy berasal dari istilah orang-orang Belanda kolonial kepada mereka. Belanda menyebut mereka baduy karena menyamakan mereka dengan orang Arab “Badwi” yang tinggal di tenda-tenda dan hidup secara nomaden, berpindah-pindah tanpa tempat tinggal yang tetap. Sebutan itu sangat salah karena orang Baduy tidak tinggal di tenda-tenda dan tidak nomaden. Orang Baduy memiliki tempat tinggal yang tetap dan tanah yang juga tetap. Orang-orang ini sebenarnya lebih senang disebut sebagai orang “Kanekes” karena memang mereka adalah warga Kanekes.

            Dari zaman ke zaman sudah ratusan peneliti yang mencoba mencari tahu dari mana orang-orang Kanekes ini berasal dan bagaimana terbentuknya cara-cara hidup mereka yang sangat kuat memegang adat leluhur. Setiap ada peneliti yang mendapatkan kesimpulan tentang asal mula Baduy, orang-orang Kanekes ini selalu kesal, jengkel, dan marah karena menganggap bahwa hasil penelitian para peneliti itu salah dan selalu salah.

            Salah seorang dari mereka berkata keras, “Kami ti baheula ge geus aya di dieu. Ti jaman Nabi Adam ge kami mah geus di dieu!”

            Artinya, “Kami dari dulu juga sudah ada di sini. Sejak zaman Nabi Adam juga kami sudah berada di sini!”

            Hasil para peneliti itu, baik dari dalam maupun dari luar negeri selalu dibantah karena terkesan menyudutkan mereka, seperti menyebut mereka adalah berasal dari orang-orang Sunda yang kalah perang, lalu lari dan sembunyi di tempatnya sekarang dari kejaran musuhnya yang telah menghancurkan Kerajaan Sunda.

            Saya sendiri lebih percaya kepada kata-kata orang Baduy sendiri bahwa mereka sejak dulu juga sudah berada di tempat itu. Mereka memiliki nenek moyang sendiri yang diciptakan Allah swt sebagai Suku Sunda. Orang Sunda memiliki pasangan suami istri khusus yang melahirkan Suku Sunda. Di wilayah mereka ada lokasi yang ditandai batu yang merupakan tempat sepasang suami istri itu diciptakan Allah swt.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa memang Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.


Bagaimana dengan Adam as?
Perdebatan dan diskusi mengenai Nabi Adam as adalah manusia pertama atau bukan, sudah terlalu sering dan berlarut-larut sampai hari ini. Saya sendiri sering terlibat diskusi dan perdebatan itu hingga berminggu-minggu. Hasilnya, selalu saja mereka yang berpendapat bahwa Adam as adalah manusia pertama tidak pernah bisa menjawab berbagai pertanyaan yang “menjungkirkan” keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.

            Saya sendiri berpendapat bahwa Nabi Adam as adalah BUKAN MANUSIA PERTAMA. Akan tetapi, Nabi Adam as adalah nabi pertama, manusia beradab pertama, dan manusia yang diberi wahyu pertama oleh Allah swt sehingga diangkat menjadi khalifah di muka Bumi.

            Nabi Adam as adalah laki-laki pertama dan Siti Hawa adalah perempuan pertama yang kemudian melahirkan suku bangsanya sendiri dengan karakteristiknya sendiri pula. Nabi Adam as bukan manusia pertama, melainkan nabi pertama dan manusia beradab pertama karena diberi wahyu yang berupa tuntunan dari Allah swt untuk mencapai kehidupan yang sempurna.

            Apalagi jika kita baca Ensiklopedia Islam yang menuliskan bahwa ada salah seorang anak dari Nabi Adam as yang bermasalah dengan sebuah kerajaan, bahkan sampai ditangkap oleh rajanya.

            Raja yang menangkap anak Nabi Adam as itu turunan dari mana kalau memang Adam as adalah manusia pertama?

            Adam as bukanlah manusia pertama.

            Kalau masih ngotot meyakini bahwa Adam as adalah manusia pertama, coba jawab pertanyaan saya ini.

            Ada berapa ratus bahasa yang ada di dunia ini?

            Nabi Adam as menggunakan bahasa apa ketika berkomunikasi?

            Mengapa manusia tiba-tiba memiliki bahasa masing-masing?

            Mengapa tidak menggunakan bahasa Nabi Adam as? Bukankah seluruh manusia adalah keturunan Adam as?

            Ada masalah apa antara Adam as dengan keturunannya sehingga saking bencinya sampai-sampai harus meninggalkan bahasa Adam as?

            Malah, bukan hanya bahasa yang berbeda, hurufnya pun berbeda. Ada huruf Sunda, Jawa, Arab, Jepang, Cina, Yunani, dan lain sebagainya.

            Siapa orangnya yang pertama kali membenci Adam as sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Adam as?

            Hayo jawab.

            Saya sangat berterima kasih jika ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjawab, berarti memang Adam as bukanlah manusia pertama. Allah swt menciptakan kita berasal dari sepasang suami istri tertentu yang melahirkan sebuah suku bangsa tertentu dengan karakteristik masing-masing. Begitulah yang saya pahami dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            Allah swt menciptakan kita berbeda sesuai dengan karakteristik alam yang berbeda sehingga kita bisa saling mengenal, saling memberi, saling mengisi, dan saling membantu di antara sesama manusia. Bukan sebaliknya, saling ingin menguasai, saling ingin merampok, saling ingin menjatuhkan, saling ingin berada paling tinggi di atas yang lainnya, atau saling ingin berjaya dengan merendahkan manusia yang lainnya.

            Begitulah maksud Allah swt menciptakan kita berbeda-beda. Kita diciptakan berbeda, tetapi dengan maksud yang sama.

            Jadi, asal mula orang Baduy adalah berasal dari sepasang suami istri yang kemudian menjadi awal terbentuknya Suku Sunda dengan karakteristiknya yang khas, dengan mental tertentu, kecerdasan tertentu, kemampuan spiritual tertentu, serta tingkat emosi yang khusus pula. Lokasi penciptaan pasangan suami isteri pertama itu adalah di tempat yang ditunjukkan oleh orang Baduy sendiri. Bukan hanya Suku Sunda yang diciptakan seperti itu, melainkan semua suku di dunia ini pun diciptakan dengan cara seperti itu.


            Sampurasun