Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Monday, 2 August 2021

Perpanjangan PPKM

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pengennya sih kalau bikin tulisan itu pendek, status pendek pun cukup asal bisa dipahami maksudnya. Akan tetapi, situasi dan kondisi seperti sekarang ini terkadang tulisan pendek atau status pendek  bisa menimbulkan salah pemahaman karena kurang lengkap. Akibatnya, status atau tulisan pendek itu harus diganti dengan yang lebih lengkap.

            Soal perpanjangan PPKM hingga 9 Agustus 2021 memang diumumkan dan diputuskan Presiden RI Jokowi. Akan tetapi, dia pun menjelaskan bahwa itu tidak terjadi di seluruh Indonesia, hanya di beberapa kota dan kabupaten tertentu. Hal itu bergantung dari situasi dan kondisi yang terjadi di setiap daerah.

            Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ada 45 kota/kabupaten dan 21 provinsi yang mengalami peningkatan kasus Covid-19. Di daerah-daerah itulah diberlakukan perpanjangan PPKM Level 4. Seluruh daerah itu berada di luar Pulau Jawa dan Bali. Hal itu berarti bahwa Pulau Jawa dan Bali tidak mengalami perpanjangan PPKM.

Penduduk Pulau Jawa dan Bali bisa bernafas lebih lega karena situasi membaik dan memang setelah pelaksanaan PPKM, angka kasus Covid-19 mengalami penurunan. Ada kelonggaran di Pulau Jawa dan Bali untuk kegiatan masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi. Masyarakat bisa lebih leluasa untuk berbisnis lagi. Akan tetapi, hal ini tidak menjamin bahwa Pulau Jawa dan Bali telah terbebas dari bahaya Covid-19. Oleh sebab itu, baik masyarakat maupun pemerintah harus sama-sama menjaga serta terus menekan penyebaran Covid-19 dengan tetap mematuhi Prokes, 5 M, 3 T, dan melaksanakan vaksinasi. Hal itu disebabkan jika kita tidak disiplin, situasi bisa menjadi buruk lagi, bahkan mungkin lebih buruk dan itu sangat merugikan semuanya.

Kalau semua berjuang keras dan tetap bersabar, situasi akan lebih cepat membaik. Setelah itu, kita harus membuktikan diri agar lebih rajin belajar dan lebih giat bekerja. Kalau setelah situasi membaik, tetapi kita tetap malas, tetap saja kita terjebak dalam kebodohan dan kemiskinan. Ada PPKM atau tidak, kalau malas, ya tetap saja hidup susah.

Sampurasun.

Friday, 28 April 2017

“Teori Kapur Barus” Prof. Dr. Hamka Terbukti?

oleh Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.



Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini adalah untuk memperkuat Rangkuman Taushiyah Ustadz Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia.

            Penelusuran sejarah masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 sebelumnya sudah dikemukakan Prof. Dr. Hamka. Ajaran Islam pada saat itu langsung didakwahkan oleh khulafaur rasyiddin dengan misi utama dakwah, bukan perdagangan. Pendapat tersebut berbeda dengan pakar lainnya, yaitu bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang Gujarat (abad ke-13). Pendapat kedua tersebut sengaja disimpangkan oleh kolonial Belanda.

            Adalah rangkuman taushiyah Ustd. Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia yang tersebar di media sosial yang mendorong penulis ikut “nimbrung” memposting tulisan ini.

            Berdasarkan penelusuran bukti-bukti sejarah seperti yang ada di perpustakaan Spanyol dan Inggris, menurut Dr. Haikal Hassan, Sayidina Ali bin Abi Thalib as, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (tanah Sunda), Indonesia pada 625 M; Ja’far bin Abi Thalib berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia sekitar 626 M; Ubay bin Kaab berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah sekitar 626 M; Abdullah bin Mas’ud berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar 626 M; Abdurrahman  bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar 625 M; Akasyah bin Muhsin Al Usdi berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan, dan sebelum Rasulullah wafat, ia kembali ke Madinah sekitar 623 M; Salman Al Farisi berdakwah ke Perlak, Aceh Timur dan kembali ke Madinah sekitar 626 M.


Teori “Kapur Barus” Hamka
Pendapat mendiang Prof. Dr. Hamka bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada era khulafaur rasyiddin (abad ke-7 M) pada awalnya banyak ditentang sejarawan, Menurut Hamka, salah satu bukti Islam sudah masuk ke Nusantara pada abad ke-7 adalah kapur barus yang hanya ada di Indonesia (Asia Tenggara) dan pada saat itu, barang komoditas yang amat mahal di dunia tersebut sudah dipergunakan di Jazirah Arab untuk wewangian, campuran minuman, bahan obat-obatan, bahan pewangi pengurusan jenazah, dll.. Bahkan, sumber tertua menyebutkan bahwa catatan seorang pedagang Cina yang menelusuri Jalur Sutera pada awal abad ke-4, catatan seorang dokter Yunani di Mesopotamia yang bernama Actius (502-578 M) dan catatan dinasti Liang (502-577 M) sudah mengenal kapur barus tersebut. Jika catatan Ptolomaeus (seorang filsuf Alexandria pada abad pertama masehi) benar, yang disebutnya “kapur” adalah kapur (barus) yang berasal dari Barus, kemungkinan besar bahan yang sangat berharga tersebut sudah digunakan sejak SM.

            Atas dugaan tersebut, mungkinkah mumi jenazah Firaun pun di Mesir sudah menggunakan kapur barus?

            Saat sekarang pendapat Hamka yang menjelaskan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M tersebut semakin menguat setelah ditemukannya bukti lain bahwa salah seorang sahabat Rasulullah saw, yakni Abdurrahman bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 625 M.

            Dinamakan “Barus” karena daerah tersebut adalah daerah endemik pohon kapur (drybalanops aromatic) sebagai bahan baku kapur barus. Selain di Sumatera Utara, pohon yang sangat langka di dunia tersebut tumbuh di Borneo.


Islam dan Kapur Barus
“Sungguh orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (QS 76 : 5)

            Apakah air kafur yang dimaksud Al Quran tersebut adalah suatu mata air di surga yang airnya putih, baunya wangi, dan sedap sekali rasanya?

            Ataukah pohon Barus termasuk tanaman surga yang ada di Bumi seperti halnya pohon Tin dan pohon Gaharu?

            Jika benar, pantaslah jika minuman dengan wewangian campuran dari pohon barus menjadi sajian yang sangat istimewa di Cina dan Jazirah Arab pada masanya, sebagaimana digambarkan dalam Al Quran tersebut.

            Wallaahualam


Bidang Kesehatan
Di bidang kesehatan, ilmuwan muslim, yakni Ibnu Sina (980-1037 M) sudah menggunakan kapur barus sebagai obat dan wewangian. Bahkan, Ibnu Sina sudah menjelaskan teknik penyulingannya.


“Menjadi Kapur di Dalam Barus”
Memasuki abad ke-16, Barus yang semula sebagai pusat perdagangan dunia dengan komoditas utama barus, mengakhiri masa emasnya. Pujangga Hamzah Fansuri dalam beberapa bait syairnya menggambarkan:

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Bayt al Kabah
Dari Barus ke Qudus terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah
….
Hamzah Syahr Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berharus
Menjadi kapur di dalam Barus
….

            Semoga Islam jaya, jaya deui.

            Wallaahualam bishshawab

Salam Asia Afrika
Salam Bandung Lautan Api
Salam “Halo-Halo Bandung”
Mari Bung (kejayaan Islam) Rebut Kembali

Allahu Akbar …!

Monday, 17 April 2017

Kisah Wayang Asli Indonesia, Bukan India

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah wayang selama ini dikenal dunia berasal dari India. Mereka yang pertama kali mengatakan bahwa kisah-kisah wayang ini berasal dari India adalah orang-orang Belanda. Mereka mengatakan berasal dari India karena kisah-kisah itu banyak dipengaruhi bahasa Sansakerta. Mereka menduga bahasa Sansakerta berasal dari India, padahal kuat dugaan bahwa bahasa Sansakerta itu adalah berasal dari Indonesia dan merupakan bahasa tinggi yang berlaku di lingkungan orang-orang tinggi, para pejabat tinggi, dan terpelajar saat itu. Akan tetapi, bahasa Sansakerta musnah di Indonesia karena para penggunanya dihukum Allah swt pada bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Matinya Bahasa Sansakerta.

            Berdasarkan konstruksi yang saya buat pada tulisan Matinya Bahasa Sansakerta, berarti pula kisah-kisah pewayangan ini berasal dari Indonesia yang kemudian menyebar ke India.

            Kalaulah kisah-kisah Ramayana, Mahabharata, atau yang lainnya benar dari India, siapa yang membawanya ke Indonesia?

            Orangnya harus terkenal karena kisah ini sangat populer di Indonesia dalam bentuk pewayangan. Akan tetapi, ternyata tidak diketahui.

            Kalaulah kisah-kisah itu berasal dari orang Indonesia yang pernah ke India, dia harus lama berada di India, kemudian sangat populer di Indonesia karena kisah-kisah ini sangat populer di Indonesia.

            Siapa orangnya?

            Tidak jelas. Gelap.

            Sebagaimana yang telah saya tulis bahwa berdasarkan peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, dulu pada masa Indonesia masih berbentuk Sundaland, India itu hanyalah sebuah kadipaten dari kekuasaan Kerajaan Sunda, Indonesia. Pengaruh politik Kerajaan Sunda sangat besar pada wilayah-wilayah yang dikuasainya, termasuk India. Pengaruh itu di antaranya bahasa Sansakerta dan kisah-kisah pewayangan.

            Akan tetapi, ketika terjadi bencana besar yang menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini, para pengguna bahasa Sansakerta dan para penggemar kisah pewayangan itu pun ikut musnah, kecuali masih diingat oleh sedikit orang yang diselamatkan Allah swt dalam jumlah sedikit dan termasuk golongan lemah, terhina, tetapi masih beriman kepada Allah swt. Adapun daratan India meskipun ikut bergetar dan tertimpa bencana juga, kerusakannya tidak separah kehancuran Sundaland. Oleh sebab itu, bahasa Sansakerta dan kisah pewayangan itu masih bertahan di India.

            Orang-orang lemah dan beriman yang selamat inilah yang kemudian tetap melestarikan kisah-kisah itu karena isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Isinya biasanya tentang sastra, pernikahan, agama, dan pengaturan negara. Mereka pun membangun kembali dunia yang telah hilang itu dari awal dalam bentuk kepulauan sambil tetap melestarikan kisah-kisah itu.

            Pada perkembangan berikutnya kisah-kisah ini disebut kakawin. Kawi adalah bahasa Sansakerta yang artinya “ia yang diberkati dengan kearifan”, “Yang Mahatahu”, “Yang Suci”. Akan tetapi, kemudian diartikan sebagai “penyair” (Partini Sardjono, 1986).

            Penulisan kakawin ini terus terjadi berabad-abad kemudian, berkembang, dan semakin populer. Hasil karya sastra kakawin yang paling populer dan paling tua adalah berasal dari Jawa Tengah, Indonesia yang berjudul Ramayana.

            Dr. Partini Sardjono Pr., S.S. saat pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dalam pidatonya yang berjudul Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (5 Juli 1986) mengatakan bahwa penulisan sastra kakawin berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dari sinilah mulai lebih terang diketahui beberapa penulis kakawin berikut karya-karyanya. Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa (abad 11), Bharatayudha ditulis oleh Mpu Sedah yang kemudian diteruskan Mpu Panuluh (abad 12), Hari Wangca dan Ghatotkacasraya ditulis Mpu Panuluh (abad 12), Kresnayana ditulis Mpu Triguna (abad 13), Smaradahana ditulis Mpu Dharmaraja (abad 12), Sumasantaka ditulis Mpu Monaguna (abad 13), Bhomantaka (abad 13), Negarakrtagama ditulis Mpu Prapanca (abad 14), Sutasoma ditulis Mpu Tantular, dan Lubdhaka atau Siwaratrikalpa ditulis Mpu Tanakung (abad 15).

            Sayangnya, penulisan-penulisan karya sastra jenis ini mengalami kemunduran seiring dengan mundurnya kekuasaan Majapahit akibat konflik-konflik politik yang terjadi pada abad 16. Memang pada abad 16 ini di samping konflik politik yang sangat keras terjadi di Majapahit, juga mulai datangnya penjajahan Belanda pada 1602. Para ahli dan peneliti Belanda mengatakan bahwa kakawin itu merupakan kisah-kisah Hindu atau Budha dan berasal dari India. Dari sinilah tampaknya mulai kekeliruan itu. Hal itu menyebabkan orang-orang yang sudah mengikuti Islam Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Islam berdasarkan nabi-nabi terdahulu menganggap bahwa kisah-kisah kakawin itu tidak penting karena menurut Belanda berasal dari Hindu, Budha, dan India. Adapun para wali dan penyebar ajaran Muhammad saw lebih banyak berceritera tentang Nabi Muhammad saw, keluarganya, para sahabat, serta para pejuang Islam.

            Tampaknya, konflik politik di Majapahit yang sangat keras, kehadiran penjajah Belanda, dan kisah-kisah Nabi Muhammad saw membuat karya sastra kakawin tidak lagi disukai, bahkan cenderung akan dimusnahkan karena ya itu tadi anggapan keliru mengenai kakawin berasal dari India dan merupakan alat untuk menyebarkan Hindu dan Budha. Hampir saja kisah-kisah ini benar-benar musnah jika para bangsawan dan rohaniwan Majapahit tidak menyingkir ke Pulau Bali.

            Di Bali para bangsawan Majapahit dan para rohaniwannya mendapat kehidupan yang lebih layak sehingga kisah-kisah kakawin ini masih lestari. Kemudian, penulisan karya sastra ini dilanjutkan oleh orang-orang Bali. Akibatnya, latar belakang hidup, pengalaman hidup, dan agama orang-orang Bali yang Hindu pun mempengaruhi isi kakawin. Jadi, kakawin ini sekarang benar-benar terpengaruhi agama Hindu. Dari sini tampaknya hubungan dengan India menjadi erat. Hal ini bisa dilihat dari ceritera asal India yang mengisahkan Dewa Krisna sedang berada di Bali.

            Berbeda dengan di Pajajaran, Sunda. Karena di Pajajaran tidak terjadi konflik-konflik keras seperti yang terjadi di Majapahit, para bangsawan dan rohaniwan Pajajaran tidak lari kabur ke pulau lain. Dengan demikian, karya-karya sastra kakawin tidak lari ke mana-mana, malahan masuk ke dalam berbagai kawih (tembang, lagu). Karena tidak lari ke mana-mana dan menerima dengan baik ajaran Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Sunda Wiwitan, hasil karya sastra jenis ini mendapatkan pengaruh ajaran Islam sangat kuat sehingga justru digunakan menjadi alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini bisa kita lihat dari setiap pagelaran wayang golek. Siapa pun dalangnya, dari ke generasi ke generasi, wayang golek selalu sarat dipenuhi oleh nasihat-nasihat Islami dan keluhuran budi pekerti Sunda yang memperkuat akhlakul karimah sebagaimana diajarkan Muhammad saw.

WAYANG GOLEK. Foto: manuskripkesunyian.wordpress.com 

            Begitulah kira-kira konstruksinya jika kita melibatkan eksistensi Benua Sundaland dalam sejarah hidup Indonesia. Memang sudah seharusnya eksistensi Benua Sundaland berikut kehancurannya dimasukkan menjadi bagian dari kronologis sejarah Indonesia dari masa ke masa.

            Sesungguhnya, Allah swt yang lebih mengetahui segalanya.


            Sampurasun.

Saturday, 15 April 2017

Bahasa Nabi Adam as

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saat berdiskusi dengan para mahasiswa pertama kali dengan mahasiswa mana saja saya selalu menemukan pandangan klasik, yaitu Nabi Adam as adalah manusia pertama dan menggunakan bahasa Arab. Pandangan klasik ini tampaknya berasal dari dongeng-dongeng klasik.


            Saya bertanya, “Yakinkah Nabi Adam menggunakan bahasa Arab?”

            Mereka selalu yakin.

            Saya melanjutkan bertanya, “Yakinkah Nabi Adam as itu manusia pertama yang diciptakan Allah swt?”

            Biasanya, mereka selalu yakin, kecuali mereka yang sudah mendengar keterangan yang lebih baik dalam pembahasan pada diskusi-diskusi pada berbagai tempat.

            “Kalau Adam as adalah manusia pertama dan menggunakan bahasa Arab, siapa orang kurang ajar pertama yang meninggalkan bahasa Arab sehingga kita sekarang menggunakan bahasa Sunda, bahasa Indonesia, Jawa?”

            Mereka mulai serius berpikir.

            Bagi saya, orang pertama yang meninggalkan bahasa Adam as, yaitu bahasa Arab, kemudian membuat bahasa sendiri adalah orang paling kurang ajar dan teramat berdosa.

            Bagaimana tidak berdosa dan kurang ajar keterlaluan?

            Dia membuat kita menjadi susah karena harus mulai lagi dari awal belajar bahasa Arab untuk memahami Al Quran. Anak-anak harus belajar huruf Arab dengan menggunakan metode iqra, bahkan harus bayar lagi. Coba kalau dulu gunakan saja bahasa Adam as yang Arab itu, kita nggak kesusahan harus belajar bahasa Arab lagi dari awal.

            Kalau sudah saya jelaskan seperti itu, para mahasiswa biasanya terdiam dan berharap saya melanjutkan penjelasan.

            Jadi, Adam as itu bukanlah manusia pertama karena kita menggunakan bahasa yang berbeda-beda di seluruh dunia. Bahasa yang satu tidak memiliki hubungan dengan bahasa lainnya. Allah swt menciptakan manusia bersuku-suku. Untuk menciptakan suatu suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus untuk melahirkan anggota-anggota sukunya. Pasangan pertama yang diciptakan itu diberi pengetahuan tertentu tanpa proses belajar, bahasa tertentu untuk berkomunikasi, bentuk fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk setiap suku, diciptakan sepasang suami-istri masing-masing.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Biasanya, setelah diterangkan, para mahasiswa sangat cepat mengerti.

            Akan tetapi, jika ada yang bertanya, “Jadi, Nabi Adam as itu menggunakan bahasa apa dan suku apa?”

            Saya selalu akan menjawab, “Saya belum tahu. Suatu saat kita akan tahu lebih lengkap tentang Adam as jika Allah swt berkenan memberikan pengetahuan tentang Adam as kepada kita. Bisa melalui saya. Bisa melalui Saudara-saudara mahasiswa. Bisa melalui siapa saja yang Allah swt kehendaki untuk mendapatkan pengetahuan tersebut.”


            Sampurasun.

Thursday, 9 March 2017

Penyesalan Gajah Mada

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Mahapatih Gajah Mada adalah orang perkasa yang memiliki ambisi besar untuk mempersatukan Nusantara. Ambisinya ini hampir menjadi kenyataan, tetapi terganjal oleh satu kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda Pajajaran. Ketika kerajaan-kerajaan di Nusantara ini sudah tunduk dan takluk pada kekuasaan Majapahit, Kerajaan Sunda Pajajaran tetap berdiri tegak.

            Karena sulitnya untuk menaklukan Pajajaran, Gajah Mada selalu menunggu waktu yang tepat untuk menguasai Pajajaran. Waktu yang tepat itu memang tiba. Ketika Raja Majapahit Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Puteri Kerajaan Sunda Dyah Pitaloka Citra Resmi, Raja Sunda Pajajaran Lingga Buana Wisesa menyetujuinya. Kemudian, Raja Sunda itu bersama rombongan mengantarkan puterinya, Dyah Pitaloka, ke Majapahit untuk dinikahi Hayam Wuruk. Gajah Mada melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk menaklukan Kerajaan Sunda. Ketika tiba rombongan Pajajaran berada di Bubat, wilayah yang masih merupakan kekuasaan Majapahit, Gajah Mada mencegatnya. Gajah Mada menginginkan Dyah Pitaloka Citra Resmi diserahkan ke Majapahit sebagai upeti dari Pajajaran kepada Hayam Wuruk. Tentu saja itu dianggap penghinaan oleh keluarga Sunda Pajajaran. Terjadilah pertempuran hebat antara rombongan Sunda yang hanya sekitar delapan puluh orang termasuk juru rias pengantin dan juru masak melawan lima ribu pasukan Majapahit Gajah Mada yang lengkap dengan tentara tempur berkendaraan gajah dan kuda.

            Pertarungan tidak seimbang itu berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Rombongan kecil Pajajaran tentu saja mengalami kekalahan total. Raja Lingga Buana Wisesa pun gugur hingga diberi gelar “Sang Mokteng Bubat”. Dyah Pitaloka yang melihat seluruh keluarganya yang berada di dalam rombongan itu gugur segera mengambil tusuk kondenya dan bunuh diri dengan itu, tidak sudi dijadikan upeti oleh Gajah Mada. Rombongan Pajajaran pun seluruhnya gugur tak bersisa.

            Raja Hayam Wuruk yang belakangan baru mengetahui peristiwa itu menyesal, marah, dan sedih bukan main. Ia sudah membayangkan nikmatnya hidup bersama Dyah Pitaloka Citra Resmi yang cantik jelita. Ia sudah memilih Puteri Pajajaran itu untuk dijadikan isterinya setelah mengamati seluruh puteri tercantik se-Nusantara yang pernah ditawarkan kepadanya.

            Bagaimana dengan Gajah Mada selanjutnya?

            T.D. Sudjana dalam artikelnya yang berjudul Tokoh Siliwangi dalam Pandangan Tradisi Keraton Cirebon (1991) menjelaskan secara singkat nasib Gajah Mada pascaperang Bubat yang gagal total dalam mewujudkan segala ambisinya itu. Menurutnya, setelah perang yang memalukan itu, Gajah Mada setiap malam selalu bersedih hati. Penyesalan demi penyesalan membayangi dia tanpa henti dan tak terhingga rasanya. Hidupnya selalu dihantui perasaan bersalah dan penuh dosa. Ia tidak pernah bisa benar-benar memejamkan matanya ketika malam tiba. Satu-satunya jalan pelampiasannya adalah dengan meminum tuak hingga jatuh terkapar saking mabuknya. Kebesaran namanya menjadi suram. Akhirnya, ia meloloskan diri dari keramaian kerajaan dan pemerintahan Majapahit. Kemudian, Gajah Mada menyembunyikan dirinya bersunyi-sunyi memohon pengampunan Dewata.

            Saya menulis ini dengan maksud agar kita yang hidup di zaman ini dapat berkata jujur, berlaku adil, dan tidak perlu menutup-nutupi kesalahan yang telah terjadi pada masa lalu. Bahkan, tak perlu sungkan melakukan kritik jika di dalam sejarahnya terdapat kekeliruan yang dilakukan pembesar-pembesar Jawa. Hal itu sebagaimana yang saya lakukan, sebagai orang Sunda, saat mengkritik Pangeran Sunda Benteng Pajajaran Kian Santang yang bersikap dan berperilaku radikal karena menyetujui bahkan menyokong penggunaan kekerasan senjata dalam menyebarkan Islam sehingga menaklukan kerajaan lain agar masyarakatnya menjadi muslim.

            Kita harus menyadari bahwa leluhur Pajajaran dan leluhur Majapahit memiliki banyak kesamaan. Kita pun wajib menyadari bahwa mereka juga manusia seperti kita yang memiliki banyak kesalahan dan memiliki banyak kebaikan. Semua kesalahan yang terjadi pada masa lalu harus kita akui dengan besar hati, lapang dada, dan berlaku adil dalam menyikapinya. Tidak perlu menutupi keburukan karena akan terbuka juga. Segala kebaikan yang sudah terjalin sejak dulu hendaknya selalu ditingkatkan.

            Persoalan Perang Bubat telah selesai. Keturunan Majapahit sudah meminta maaf kepada keturunan Pajajaran. Dua keturunan ini sudah banyak yang melebur dalam pernikahan. Tak ada gunanya lagi meneruskan perasaan permusuhan. Tak ada suku yang lebih tinggi dibandingkan suku lainnya. Semua manusia diciptakan Allah swt dalam keadaan sama-sama dicintai Allah swt. Orang yang paling baik dan paling mulia adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah swt. Derajat ketakwaanlah yang menjadi ukuran manusia buruk atau mulia di hadapan Allah swt, bukan berdasarkan sukunya karena kita semua tidak pernah mengajukan request kepada Allah swt untuk dilahirkan menjadi suku tertentu. Kita diciptakan dalam suku masing-masing sesuai dengan kehendak dan rencana Allah swt.


            Sampurasun