Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Saturday, 11 September 2021

Indonesia Bikin Pusing Dunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia saat ini sedang membuat bingung, bikin pusing dunia. Belum ada penjelasan sampai saat ini apa yang menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia lebih cepat turun dibandingkan negara-negara lainnya. Hal ini bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Akan tetapi, belum ada yang bisa menjelaskannya. Pemerintah RI sendiri belum bisa memberikan penjelasan. Sepertinya pemerintah sendiri bingung, pusing.

            Indonesia telah mengagetkan dunia. Menteri Kesehatan Italia sampai kaget bahwa Indonesia telah memvaksin 69 juta orang, sementara negaranya sendiri masih belum bisa, padahal jumlah rakyatnya hanya 57 juta jiwa. Indonesia jauh lebih banyak, 257 juta jiwa. Politisi Malaysia juga kaget Indonesia melampaui keberhasilan Malaysia dalam menurunkan kasus Covid-19. Demikian pula Filipina jauh lebih tertinggal dibandingkan Indonesia dalam menurunkan kasus Covid-19 dan meningkatkan ekonomi. Negara-negara lain pun kebingungan terhadap hal ini.

            Karena tidak ada penjelasan yang jelas soal keberhasilan Indonesia, bahkan pemerintah RI sendiri belum bisa menjelaskannya, orang-orang mencoba menganalisisnya masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia bisa berhasil karena menggunakan caranya sendiri, tidak menggunakan lockdown, tetapi PSBB dan PPKM. Itu juga bisa dipahami karena lockdown itu menghabiskan banyak uang dan membuat orang menjadi stres. Lockdown bisa berhasil jika negaranya kaya raya dan penduduknya sedikit seperti Singapura yang kaya dan penduduknya hanya 5 juta jiwa. Sementara negara lain banyak yang gagal, bahkan ekonominya makin jatuh.

            Ada juga yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu bermental baja karena telah teruji mampu melewati berbagai masalah yang rumit sekalipun. Itu juga bisa dipahami karena rakyat Indonesia itu memang keturunan para pemenang perang. Indonesia tidak pernah kalah perang. Berbeda dengan Taliban misalnya, mereka pernah menang, pernah kalah. Demikian juga negara-negara lain. Indonesia tidak pernah kalah.

            Karena belum ada penjelasan yang lebih akurat, boleh dong saya juga ikutan menganalisis keberhasilan Indonesia. Orang banyak mengandalkan vaksin. Malaysia dan Amerika Serikat sudah memvaksin rakyatnya 50%, tetapi kasus Covid-19 masih sangat tinggi. Di AS masih seratus ribuan kasus Covid-19 per hari. Sementara itu, Indonesia baru 14% dari seluruh rakyatnya yang divaksin, tetapi kasusnya cepat turun. Kalau soal PSBB dan PPKM, jujur saja banyak orang Indonesia yang tidak melaksanakannya dengan baik. Mereka masih berkerumun, tidak taat Prokes, dan liar. Meskipun demikian, PSBB dan PPKM dapat mengendalikan aktivitas masyarakat di luar rumah meskipun tidak seratus persen sempurna. Lockdown jelas tidak dilaksanakan dan saran-saran dari WHO pun tidak dilaksanakan utuh oleh Indonesia. Indonesia memilih caranya sendiri.

            Dengan caranya sendiri inilah Indonesia bisa berhasil. Indonesia tidak melaksanakan lockdown karena tidak terlalu kaya dan membuat orang stres. Dengan demikian, tidak terjatuh seperti Filipina yang menggunakan lockdown, tetapi kasus Covid-19 tetap tinggi dan ekonominya pun meluncur jatuh. Indonesia pun tidak seperti Malaysia yang juga menggunakan lockdown, vaksinasi 50%, tetapi kasus Covid-19 masih tinggi dan peningkatan ekonominya pun masih lebih cepat Indonesia.

            Dengan PSBB dan PPKM memang kegiatan masyarakat dibatasi, tetapi tidak sepenuhnya, masih ada waktu-waktu yang dapat digunakan untuk beraktivitas. Jadi, meskipun dibatasi dan sempat mengalami penurunan ekonomi, masyarakat masih bisa bersosialisasi dan beraktivitas yang membuat mental spiritualnya masih seimbang. Inilah yang membuat imun atau kondisi kesehatan masyarakat bisa terjaga. Coba kalau pake lockdown, biayanya tinggi bisa membuat negara bangkrut, dan masyarakat jadi stres karena harus diam di rumah terus.

Kalau lockdown memang makanan diberi, tetapi makanan apa?

Paling juga makanan untuk sekedar bertahan hidup, bukan seperti makanan di tempat hajatan nikahan atau sunatan. Orang bisa stres karena makanan seperti itu dan tidak boleh ke luar rumah. Akibatnya, imun menurun, kesehatan menurun, mudah sakit, dan mudah terserang Covid-19.

Karena Indonesia menggunakan PSBB, PPKM, tetap melaksanakan vaksinasi, dan bukan lockdown, kesehatan fisik dan rohani masyarakat pun bisa lebih terjaga dibandingkan negara-negara lainnya. Ekonomi pun tetap berjalan meskipun tidak seperti ketika tidak ada pandemi. Mungkin seperti itu yang bisa saya jelaskan. Entah orang lain bisa menjelaskan apa. Hal yang pasti adalah Indonesia sedang mendapatkan pujian dunia dan diteliti. Bahkan, Filipina dan Malaysia bertekad menggunakan cara Indonesia dalam menangani Covid-19 sambil tetap mempertahankan ekonominya.

Meskpun demikian, kita tak boleh berbangga diri dan lengah terhadap situasi. Kita tetap harus waspada dan menjalankan Prokes dengan baik. Tetap juga bekerja sama antara pemerintah dan masyarakat dengan kearifan lokal gotong royong sehingga berbagai keberhasilan adalah hasil dari kerja bersama.

Sampurasun.

Tuesday, 28 January 2020

Menyikapi Virus Corona


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Seorang murid saya, perempuan, ketika jam istirahat di MA Mawaddi, Banjaran, Bandung, bertanya, “Pak, kapan kita di-vaksin?”

            Agak heran juga mendengar pertanyaan itu, biasanya dia suka lari menghindar kalau ada petugas kesehatan melakukan penyuntikan, malah sebagian temannya menangis, “Vaksin apa? Emang sekarang ada jadwal vaksin, gitu?”

            “Vaksin virus corona,” katanya.

            Ow, ternyata itu. Ketakutan mereka terhadap alat suntik dikalahkan oleh ketakutan mereka terhadap penyebaran virus corona. Mereka mungkin membacanya dari tulisan-tulisan di Medsos mereka.

            Saya jelaskan saja di kelas sepanjang yang saya tahu hingga tulisan ini dibuat. Sampai saat ini “World Health Organization”, WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, belum menjelaskan virus corona dengan terang asalnya, cara penyebarannya, dan obat pastinya. Demikian pula Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI belum menjelaskan dengan detail sebagaimana WHO. Semua masih dugaan-dugaan dan masih melakukan penelitian.

            Di Medsos berseliweran berbagai tulisan tentang virus corona, ada yang mengatakan dari kelelawar hingga merupakan senjata biologis. Itu boleh saja berpendapat, tetapi semuanya juga masih dugaan yang terbuka lebar untuk diuji dan diteliti. Sebelum hasil penelitian resmi menurunkan rilis, semuanya masih dugaan.

            Jika kita memperhatikan pendapat beberapa dokter yang diwawancarai beberapa stasiun televisi di Indonesia, virus corona itu memang mirip virus flu biasa yang menyebar lewat udara, makanan, atau barang-barang. Bedanya, virus corona bisa menyerang tubuh dalam waktu yang singkat dengan akibat yang luar biasa mematikan. Oleh sebab itu, kita mengantisipasinya harus sebagaimana terhadap virus biasa, yaitu meningkatkan kekebalan dan ketahanan tubuh kita. Caranya, cukup makan, cukup istirahat, cukup olah raga, sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari mereka yang sedang sakit, jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan, jangan begadang, dan jangan terlalu sering main game di gadget. Jika tidak begitu, kekebalan tubuh kita akan menurun dan mudah diserang virus penyakit.

            Meskipun demikian, ada harapan bahwa Indonesia ini tidak mudah diserang virus flu, bahkan virus flu tidak mematikan. Hal itu karena Indonesia memiliki iklim tropis, hanya ada dua musim, hujan dan kemarau. Berbeda dengan negara lain yang memiliki empat musim, virus flu bisa menimbulkan kematian. Di negara-negara itu banyak kasus orang meninggal gara-gara pilek yang di Indonesia tidak terdengar kasus serupa itu.

            Coba lihat di Indonesia, orang yang sakit flu atau pilek itu biasa-biasa saja. Bahkan, kalau musim layangan tiba, anak-anak laki-laki terbiasa main layangan di tengah terik Matahari dengan membawa “Apollo 11”, yaitu penyakit flu yang mirip pesawat Apollo 11. Di hidungnya meler angka sebelas berupa ingus yang turun tidak sengaja. Mereka terus main layangan meskipun ingus itu turun dari hidung mereka hingga mencapai bibir atas mereka. Ketika ingus itu mulai terasa di bibir, lidah mereka mulai menjilatnya, lalu secepat kilat dengan menggunakan kecepatan roket Apollo mereka menyedot lagi ingus itu hingga masuk lagi ke dalam hidungnya. Hilanglah ingus itu. Itulah yang disebut Apollo 11. Besoknya, mereka tetap main layangan sambil tetap membawa Apollo 11 di hidungnya. Bahkan, kalau tersinggung oleh temannya gara-gara layangan, mereka menyapu ingusnya dengan tangannya hingga nempel ke pipi dan mereka tetap nyaman meskipun ingus itu kering di pipinya dan di punggung tangannya.

            Hal itu disebabkan virus flu di Indonesia dapat diatasi dengan mudah. Meskipun demikian, jangan ditantang juga virus itu di Indonesia. Kita harus tetap meningkatkan kekebalan tubuh dan menjaga kesehatan.

            Virus Apollo 11 mudah kita lumpuhkan, tetapi jangan mengundang virus corona ke Indonesia. Kita tetap harus meningkatkan kekebalan tubuh dan menjaga kesehatan. Semoga Allah swt selalu melindungi kita, baik dari penyakit lahir maupun penyakit batin. Aamiin.

            Sampurasun.

Friday, 28 April 2017

“Teori Kapur Barus” Prof. Dr. Hamka Terbukti?

oleh Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.



Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini adalah untuk memperkuat Rangkuman Taushiyah Ustadz Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia.

            Penelusuran sejarah masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 sebelumnya sudah dikemukakan Prof. Dr. Hamka. Ajaran Islam pada saat itu langsung didakwahkan oleh khulafaur rasyiddin dengan misi utama dakwah, bukan perdagangan. Pendapat tersebut berbeda dengan pakar lainnya, yaitu bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang Gujarat (abad ke-13). Pendapat kedua tersebut sengaja disimpangkan oleh kolonial Belanda.

            Adalah rangkuman taushiyah Ustd. Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia yang tersebar di media sosial yang mendorong penulis ikut “nimbrung” memposting tulisan ini.

            Berdasarkan penelusuran bukti-bukti sejarah seperti yang ada di perpustakaan Spanyol dan Inggris, menurut Dr. Haikal Hassan, Sayidina Ali bin Abi Thalib as, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (tanah Sunda), Indonesia pada 625 M; Ja’far bin Abi Thalib berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia sekitar 626 M; Ubay bin Kaab berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah sekitar 626 M; Abdullah bin Mas’ud berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar 626 M; Abdurrahman  bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar 625 M; Akasyah bin Muhsin Al Usdi berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan, dan sebelum Rasulullah wafat, ia kembali ke Madinah sekitar 623 M; Salman Al Farisi berdakwah ke Perlak, Aceh Timur dan kembali ke Madinah sekitar 626 M.


Teori “Kapur Barus” Hamka
Pendapat mendiang Prof. Dr. Hamka bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada era khulafaur rasyiddin (abad ke-7 M) pada awalnya banyak ditentang sejarawan, Menurut Hamka, salah satu bukti Islam sudah masuk ke Nusantara pada abad ke-7 adalah kapur barus yang hanya ada di Indonesia (Asia Tenggara) dan pada saat itu, barang komoditas yang amat mahal di dunia tersebut sudah dipergunakan di Jazirah Arab untuk wewangian, campuran minuman, bahan obat-obatan, bahan pewangi pengurusan jenazah, dll.. Bahkan, sumber tertua menyebutkan bahwa catatan seorang pedagang Cina yang menelusuri Jalur Sutera pada awal abad ke-4, catatan seorang dokter Yunani di Mesopotamia yang bernama Actius (502-578 M) dan catatan dinasti Liang (502-577 M) sudah mengenal kapur barus tersebut. Jika catatan Ptolomaeus (seorang filsuf Alexandria pada abad pertama masehi) benar, yang disebutnya “kapur” adalah kapur (barus) yang berasal dari Barus, kemungkinan besar bahan yang sangat berharga tersebut sudah digunakan sejak SM.

            Atas dugaan tersebut, mungkinkah mumi jenazah Firaun pun di Mesir sudah menggunakan kapur barus?

            Saat sekarang pendapat Hamka yang menjelaskan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M tersebut semakin menguat setelah ditemukannya bukti lain bahwa salah seorang sahabat Rasulullah saw, yakni Abdurrahman bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 625 M.

            Dinamakan “Barus” karena daerah tersebut adalah daerah endemik pohon kapur (drybalanops aromatic) sebagai bahan baku kapur barus. Selain di Sumatera Utara, pohon yang sangat langka di dunia tersebut tumbuh di Borneo.


Islam dan Kapur Barus
“Sungguh orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (QS 76 : 5)

            Apakah air kafur yang dimaksud Al Quran tersebut adalah suatu mata air di surga yang airnya putih, baunya wangi, dan sedap sekali rasanya?

            Ataukah pohon Barus termasuk tanaman surga yang ada di Bumi seperti halnya pohon Tin dan pohon Gaharu?

            Jika benar, pantaslah jika minuman dengan wewangian campuran dari pohon barus menjadi sajian yang sangat istimewa di Cina dan Jazirah Arab pada masanya, sebagaimana digambarkan dalam Al Quran tersebut.

            Wallaahualam


Bidang Kesehatan
Di bidang kesehatan, ilmuwan muslim, yakni Ibnu Sina (980-1037 M) sudah menggunakan kapur barus sebagai obat dan wewangian. Bahkan, Ibnu Sina sudah menjelaskan teknik penyulingannya.


“Menjadi Kapur di Dalam Barus”
Memasuki abad ke-16, Barus yang semula sebagai pusat perdagangan dunia dengan komoditas utama barus, mengakhiri masa emasnya. Pujangga Hamzah Fansuri dalam beberapa bait syairnya menggambarkan:

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Bayt al Kabah
Dari Barus ke Qudus terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah
….
Hamzah Syahr Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berharus
Menjadi kapur di dalam Barus
….

            Semoga Islam jaya, jaya deui.

            Wallaahualam bishshawab

Salam Asia Afrika
Salam Bandung Lautan Api
Salam “Halo-Halo Bandung”
Mari Bung (kejayaan Islam) Rebut Kembali

Allahu Akbar …!

Wednesday, 20 July 2016

Percaya Obat Asing Jadi Penyakit

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Heboh soal vaksin palsu yang membuat Indonesia heboh sebenarnya berawal dari persoalan yang sangat sederhana. Teramat sederhana sesungguhnya. Hal itu berawal dari kebiasaan masyarakat yang terlalu percaya pada orang asing dan produk-produk asing. Apa pun yang datang dari luar negeri selalu dianggap lebih bagus. Itulah penyakit masyarakat yang sebenarnya.

            Mereka yang menjadi korban vaksin palsu adalah mereka yang sangat mengagumi obat-obat luar negeri dan tidak mempercayai obat-obatan produksi dalam negeri. Vaksin yang dipalsukan adalah obat-obat impor yang berasal dari luar negeri, bukan yang diproduksi di dalam negeri. Tak satu pun masyarakat yang mengonsumsi vaksin dalam negeri menjadi bertambah parah penyakitnya atau menjadi korban vaksin palsu. Mereka baik-baik saja.

            Pernyataan Ketua Komisi 9 Dede Yusuf yang artis dan pernah menjadi Wagub Jawa Barat itu sungguh sangat mencerahkan, “Sebenarnya, vaksin yang diproduksi di dalam negeri sangat berlimpah dan sangat murah, bahkan digratiskan. Persoalan vaksin palsu adalah disebabkan masyarakat sangat percaya terhadap obat-obat impor dan mereka lebih suka membeli dengan harga mahal. Ada yang tiga ratus ribu, lima ratus ribu, sampai satu juta rupiah. Padahal isi obat itu sama dengan yang diproduksi Bio Farma di dalam negeri.”

            Pernyataan Dede Yusuf tidak ada yang membantah dan justru menjelaskan segalanya. Memang persoalan obat dan kesehatan ini sudah terjadi sejak lama, bahkan ketika saya masih sangat kecil pun selalu mendengar hal ini. Baik obat-obatan, fasilitas kesehatan, bahkan kualitas dokter dalam negeri pun dianggap sangat rendah dibandingkan yang berasal dari luar negeri. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Bolehlah pada masa lalu ketika Indonesia masih zaman awal-awal kemerdekaan memang mungkin masih sangat terbelakang. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan zaman segalanya berubah lebih baik dan terus diupayakan dengan lebih baik lagi. Banyak pasien yang mati di rumah sakit Singapura setelah menjalani operasi atau perawatan, padahal menurut dokter-dokter di Indonesia penyakit seperti itu banyak disembuhkan di Indonesia. Contohnya, pernah terjadi kembar siam dari Iran dipisahkan di rumah sakit Singapura, hasilnya mereka mati. Menurut dokter RS Hasan Sadikin Bandung, operasi semacam itu di Indonesia banyak yang sukses karena tergolong operasi yang mudah. Adapula klinik-klinik yang menggunakan dokter-dokter luar negeri ternyata ditutup oleh pemerintah Indonesia karena banyak masalah dan merugikan pasien.

            Entah kenapa banyak masyarakat Indonesia yang sangat gandrung dengan hal-hal yang berbau luar negeri. Padahal, Indonesia sendiri sudah sangat berkembang dibandingkan masa lalu.

            Pandangan keliru mengenai obat dan kesehatan di Indonesia mungkin masih merupakan sisa-sisa dari pandangan masa lalu ketika masih dalam zaman awal kemerdekaan. Pandangan itu berlanjut sampai hari ini.

            Bisa pula karena dihembus-hembuskan oleh oknum-oknum petugas medis, termasuk dokter karena mereka mendapatkan fee dari penjualan obat-obat luar negeri atas dasar rekomendasi mereka. Saya punya teman yang pernah menjadi sales obat. Dia sering berceritera tentang pengalamannya menjual obat kepada para dokter. Ketika pertama kali dia menawarkan obat pada dokter yang baru ditemuinya, biasanya dokter itu merendahkan obat yang ditawarkan teman saya.

            Dokter itu bilang, “Obat apa ini? Tidak manjur!”

            Akan tetapi, teman saya itu sudah berpengalaman bahwa penolakan dokter itu hanya modus. Ia segera mencari tahu hobi atau kegemaran dokter itu. Kalau dokter itu hobi golf, ia segera memberi hadiah stik golf yang bagus dan mahal. Kalau dokternya gemar bulu tangkis, raket yang mahal dan istimewa yang dihadiahkan. Terkadang pula teman saya mencari tahu nomor rekening Sang Dokter, lalu mengisinya dengan sejumlah uang.

            Setelah hadiah diterima oknum dokter, teman saya pun segera menghubunginya lagi. Biasanya, hubungannya menjadi sangat lebih baik yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya, kemudian melakukan transaksi.

            Bayangkan, obat yang tadinya dibilang berkualitas rendah dan disebut tidak manjur, akhirnya dibeli untuk didistribusikan pada pasien-pasiennya.

            Perilaku macam apa itu?

            Sudahlah, para dokter tidak perlu protes, tersinggung, bahkan marah terhadap saya atas tulisan ini. Hal ini terjadi kok. Teman saya masih hidup, tetapi sudah tidak lagi menjadi sales obat. Dia sudah memiliki profesi lain.

            Tentu saja tidak semua dokter seperti itu. Banyak sekali dokter yang baik dan setia terhadap sumpah dan cita-citanya untuk memberikan kesehatan kepada manusia dan mengabdi pada kebenaran. Saya pun mengenal dokter yang sangat baik dan sangat sayang kepada para pasiennya. Kami berteman dekat. Ketika saya sakit parah dan disarankan oleh dokter rumah sakit untuk rawat inap, saya menolak. Saya menolak karena saya tidak mau merepotkan orang-orang yang sehat. Kalau saya harus menjalani rawat inap, akan ada banyak orang yang bergiliran menemani saya di rumah sakit dan itu merepotkan mereka. Saya memilih berobat jalan meskipun harus tetap ditemani orang lain karena untuk berjalan normal saja sangat susah. Dokter rumah sakit yang menyarankan saya untuk rawat inap adalah dokter kedua yang menangani saya setelah saya menghentikan pengobatan dokter yang sebelumnya. Lebih dari satu bulan saya sakit parah. Karena dokter rumah sakit itu menyarankan rawat inap, saya pun beralih ke dokter lain, yaitu dokter yang saya kenal sangat baik dan praktik di rumahnya. Saya sungguh heran kenapa saya bisa melupakan dokter yang satu ini, padahal sudah saya kenal baik sejak lama. Ketika saya mendatanginya, saya ceriterakan pengalaman dengan dokter-dokter sebelumnya dan saya ceriterakan pula kekecewaan saya. Dia hanya tersenyum dan tampak mengenali penyakit yang saya derita.

            Ia pun segera memberi obat sambil berkata, “Kalau obat ini sudah habis, segera kembali lagi ke sini.”

            Saya pun menurut.

            Ketika datang lagi kedua kalinya, saya sudah tidak lagi ditemani orang lain. Saya sudah bisa berjalan normal.

            Dia sungguh dokter yang baik. Di samping memberikan perawatan yang baik, dia pun tidak menyalahkan dokter yang menangani saya sebelumnya.

            Dia bilang, “Mereka juga dokter. Saya juga dokter. Bedanya hanya dalam cara menanganinya.”

            Dia pun segera memberi saya obat sambil bertanya, “Sendirian ke sini? Tidak ditemani orang lagi?”

            Kali ini saya yang tersenyum. Bayangkan, saya sebulan lebih ditemani orang-orang untuk berobat kesana-kemari, tetapi ketika berobat kepadanya hanya satu kali ditemani dan kedua kalinya saya bisa sendirian.

            Ketika saya datang yang ketiga kalinya, dia marah bukan main, “Kenapa datang lagi? Kamu tidak sadar kamu harus bekerja? Sudah, jangan punya pikiran macam-macam! Nih, saya kasih obat lagi! Kamu tahu ini obat apa? Ini obat penenang!”

            Saya memang datang lagi ketiga kalinya karena masih merasa lemah. Memang mungkin biasa kalau setelah sakit parah, suka terasa letih dan lelah dalam masa proses penyembuhan. Orang Sunda bilang, tinggal capena.

            Dokter itu cukup marah karena saya datang lagi, padahal sudah sembuh dan sebenarnya memang sudah sembuh hanya dengan dua kali datang tanpa perlu rawat inap. Saya hanya merasa masih lelah.

            Oke, kalau begitu, tinggal satu lagi untuk menyempurnakan kesembuhan saya, yaitu ke rumah Pak Haji Cigebar. Di rumah Pak Haji saya diturih, kalau bahasa sekarang dibekam. Bedanya hanya dari alatnya. Kalau bekam, alatnya lebih modern, sedangkan turih, alatnya tradisional. Prinsipnya sama, yaitu membuang darah kotor dari dalam tubuh karena darah kotor itu sebenarnya ingin keluar dari tubuh, tetapi tidak ada jalan. Karena tidak ada jalan, darah kotor yang mencari jalan keluar itu pun berubah menjadi penyakit dalam tubuh. Oleh sebab itu, saya membuang darah kotor itu dari kedua pelipis, tengkuk, pundak, dan kedua pangkal lengan.

            Nabi Muhammad saw pun menyarankan untuk sering membekam diri di seputar tengkuk, pundak, dan leher bagian belakang.

            Setelah dari rumah Pak Haji Cigebar di Kabupaten Bandung, saya benar-benar merasa sehat secara sempurna. Alhamdulillah.

            O ya, dokter yang saya kenal dengan baik itu pernah Curhat sama saya soal obat-obatan. Dia ceritera kalau saat itu sedang bermusuhan dengan tetangganya satu RW yang memiliki apotik besar. Dia pernah ditawari obat dari apotik itu, tetapi harganya sangat mahal. Adapun dia tidak ingin memberatkan pasiennya. Oleh sebab itu, ia menolaknya. Ia lebih memilih apotik yang memiliki obat murah dan obatnya manjur. Ia punya daftar apotik dan rekanan lainnya yang harganya murah, tetapi berkualitas sangat baik. Ia sangat menyayangi pasiennya.

            “Lebih baik bermusuhan meskipun dengan tetangga sendiri daripada harus merugikan pasien,” katanya.

            Dokter ini cukup terkenal di Kota Bandung. Bahkan, pasiennya datang dari mana-mana, seperti, Cirebon, Indramayu, Cianjur, dan lain sebagainya. Rumahnya di daerah Buahbatu, Bandung. Cari aja. Bahkan, tukang becak di sana sudah sangat hapal. Sebenarnya, dokter di komplek besar itu banyak, bukan hanya dia. Akan tetapi, jika kita minta diantar oleh tukang becak untuk mencari dokter, pasti tukang becak mengantarkan ke dokter yang itu, bukan ke dokter yang lain.

            Bilang saja, “Mang ka Dokter.”

            Tukang becak pun tidak akan ke mana-mana arahnya, selalu ke dokter yang itu.


Mengawali Berobat dengan Gratisan

Saya ini dari kecil diajari oleh ayah saya tentang cara berobat.

            Ayah saya bilang, “Kalau kamu merasa sakit, tidurlah. Kalau sudah tidur masih belum sembuh, mandi yang baik. Kalau sudah mandi belum juga sembuh, pergi ke Puskesmas. Kalau masih belum sembuh juga, pergi ke dokter praktik. Kalau tidak sembuh juga, baru ke rumah sakit.”

            Ayah saya mengajari seperti itu dengan maksud agar saya dan seluruh keluarga tidak terlalu bergantung pada obat. Ayah saya lebih suka membiarkan antibodi tubuh manusia untuk melawan penyakit terlebih dahulu. Jika belum sembuh, gunakan obat murah, yaitu obat dari Puskesmas.

            Memang obat Puskesmas pada masa lalu itu di samping murah dan memang murahan, juga lucu. Soalnya, penyakit apa pun obatnya itu-itu juga. Kalau dilihat, hampir 90% pasien yang datang ke Puskesmas ketika pulang selalu membawa obat yang sama, padahal penyakitnya berbeda-beda. Mereka yang sakit kepala, obatnya itu. Yang sakit eksim, obatnya itu. Yang penyakit jantung, itu juga. Yang sakit perut, masih itu. Yang jatuh dan terkilir, obatnya itu. Yang jerawatan, obatnya itu. Yang sakit punggung, obatnya masih sama. Yang encok, juga obatnya itu. Yang susah tidur, obatnya itu. Yang panu, kudis, kurap, gatal-gatal, dan jamuran, obatnya pun itu juga. Yang batuk dan pilek apalagi selalu selalu sama. Akan tetapi, bagi ayah saya dan juga saya, itu semua tidak penting. Yang penting adalah sembuh.

            Teman saya pernah berkelakar, “Kamu sembuh? Manjur!”

            Adapun teman saya yang pernah jadi sales obat bilang, “Obat itu bukan soal mahal dan murah, tetapi cocok.”

            Akan tetapi, berbeda dengan sekarang. Puskesmas sekarang sudah lebih baik, terutama di kota-kota besar. Fasilitasnya lebih lengkap, dokternya lebih pintar-pintar, dan obatnya lebih baik dan lebih bervariasi bergantung dari penyakit yang diderita pasien. Bahkan, ada poster larangan untuk menggunakan obat yang sama secara bersama karena setiap orang memiliki karakteristik penyakit yang berbeda-beda meskipun penyakit yang diderita rasanya seperti sama. Artinya, pelayanan kesehatan di Puskesmas sekarang sudah jauh lebih baik. Saya sangat tahu itu karena sampai sekarang pun saya selalu mematuhi ajaran ayah saya agar tubuh saya tidak bergantung obat-obatan dan kalau terpaksa harus minum obat, harus mengawali berobat dengan yang gratisan atau murah di Puskesmas.

            Orang-orang yang kebanyakan gaya dan sok kaya suka menyindir, “Masa ke Puskesmas sih? Ke dokter dong.”

            Maksud mereka ke dokter itu adalah dokter praktik yang pasti harganya lebih mahal dan obatnya juga jauh lebih mahal. Saya sering mendapatkan ejekan seperti itu. Akan tetapi, saya tidak peduli.

            Untuk apa berobat dengan harga mahal jika dengan yang murah saja sudah sembuh?

            Sesungguhnya, kebiasaan menggunakan obat-obatan mahal itu lumayan berbahaya. Kalau tubuh kita sudah terbiasa dengan menggunakan obat mahal, tetapi suatu ketika tidak memiliki uang untuk berobat ke tempat yang mahal dan terpaksa harus menggunakan obat yang murah, tubuh kita menjadi kebal atau apa itu istilahnya, immum. Tubuh kita tidak mampu berkolaborasi dengan obat murah. Akibatnya, penyakit tak kunjung hilang karena harus menggunakan obat mahal, sementara uang tidak ada. Lebih jauhnya, karena ingin sembuh, pinjam uang sana-sini, jual ini-itu, atau minta-minta sumbangan kesana-kemari. Itu namanya benar-benar tragedy!

            Berbeda dengan jika terbiasa menggunakan obat murah, lalu tidak sembuh, kemudian menggunakan obat mahal, penyakit pun bisa segera diusir, dan sehat lebih cepat. Ini pengalaman. Ketika obat Puskesmas tidak mampu menyembuhkan, obat mahal dengan cepat menyelesaikan masalah. Jadi, tidak perlu pinjam sana-sini atau minta sumbangan ke mana-mana. Tidak perlu mengalami tragedi. Hidup bisa lebih hemat. Itu namanya menyelesaikan masalah tanpa masalah.

            Kok mirip pegadaian ya?

            Biarinlah. Yang penting sembuh dan sehat.

            Saya sungguh tidak bisa mengerti mengapa masih sangat banyak orang yang mengejek Puskesmas dan obat-obat dari pemerintah yang sesungguhnya kualitasnya bagus, murah malah gratis, dan menyembuhkan?

            Apabila mereka yang masih memandang sebelah mata terhadap kualitas Puskesmas dan obat dalam negeri disebabkan banyak gaya dan sok kaya, itu pertanda mereka memang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Mereka itu mirip-mirip dengan Kormod, ‘korban mode’, atau korban isu dan korban iklan. Mereka inilah yang biasanya terjerumus dalam tragedi. Merekalah yang sangat mudah dijebak oleh para penjual obat penipu dan oknum tenaga medis yang juga penipu.

            Apabila mereka tidak percaya obat pemerintah dan Puskesmas karena kurang pemahaman, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk menerangkan kepada masyarakat. Pemerintah harus gencar menyosialisasikan hal ini agar di samping indeks kesehatan manusia Indonesia bisa lebih sehat, juga masyarakat bisa lebih hemat.

            Kedua hal ini, yaitu banyak gaya sok kaya dan kurang pengetahuan tampaknya memang ada di masyarakat kita. Teman-teman yang sering membantu saya bekerja pun banyak yang tidak tahu Puskesmas dan masih menganggap rendah obat-obatan dalam negeri.

            Ketika ada teman saya yang mengeluh sakit tidak bisa bekerja dan meminjam uang, saya tanya, “Kamu sakit apa?”

            Setelah dia menjelaskan keluhannya, saya bilang, “Ke Puskesmas. Sudah tahu nggak punya uang, pengen ke dokter mahal.”

            Dia mengernyitkan dahi tanda tidak percaya saya mengatakan hal itu, “Masa ke Puskesmas sih?”

            “Memangnya kenapa dengan Puskesmas? Saya juga kalau sakit, ke Puskesmas.”

            Dia makin tidak percaya kalau saya sakit, ke Puskesmas. Wajar jika mereka tidak percaya karena saya yang menggaji mereka, saya yang memberi mereka makan siang, saya pula yang mengumpulkan uang untuk THR mereka, saya juga tempat mereka meminjam uang. Memang saya kalau sakit dan ada waktu selalu ke Puskesmas, kecuali kalau terlalu sibuk. Kalau ke Puskesmas kan harus antri cukup lama dan berada dalam kerumunan orang-orang dari lapisan ekonomi cukup lemah dengan rupa-rupa sikap dan macam-macam bau. Bagi saya hal-hal seperti itu sama sekali bukan masalah karena saya gemar menulis. Berada di tengah-tengah orang banyak sama artinya memiliki banyak bahan untuk ditulis dan dibagi dengan para pembaca. Yang penting sembuh.

            “Pinjam uang dong, empat ratus ribu,” katanya merengek karena memang dia perempuan.

            Saya bilang, “Ke Puskesmas. Murah. Kalau kamu punya KTP, gratis.”

            “Saya tidak tahu di mana Puskesmasnya.”

            “Tanya sama tetangga.”

            “Tetangga saya jarang ada di rumah.”

            “Tanya sama RT. Dia pasti tahu.”

            Besoknya, dia bikin status di BBM, “Antriiiiiiiiiii….”

            Dia pasti sedang di Puskesmas. Biarin saja supaya dapat pengalaman. Lagian, siangnya dia datang bekerja seperti biasa dan tampak sembuh. Manjur!


Tanggung Jawab Bersama

Tanggung jawab atas kesehatan bersama adalah kita semua. Masyarakat jangan mudah tertipu isu atau termakan iklan dengan merendahkan obat-obatan dalam negeri yang dinyatakan sama kualitasnya atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan luar negeri. Jangan terlalu memuji-muji orang asing dan produk asing. Jangan sok gaya atau sok kaya dengan berobat ke tempat mahal dan obat mahal jika bisa disembuhkan di tempat murah bahkan gratis dengan obat yang juga murah dan gratis. Hiduplah secara sehat dan jangan mudah menggantungkan diri pada obat-obatan.

            Bukankah mencegah itu lebih mudah daripada mengobati?

            Lupa ada nasihat itu ya?

            Jangan sedikit-sedikit berobat, sedikit-sedikit berobat. Itu berbahaya bagi kesehatan.

            Para dokter harus kuat iman dan kembali pada kemuliaan kedokteran untuk kemuliaan manusia juga. Jangan fokus pada fee atas penjualan barang apa pun dalam dunia medis. Fokus saja pada pekerjaan dan pengabdian pada kemanusiaan. Dengan demikian, para dokter akan menjadi makhluk-makhluk mulia, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah swt. Jangan merendahkan diri dengan cara merayu pasien untuk membeli obat tertentu, pergi ke laboratorium tertentu, atau menyarankan pengobatan tertentu hanya untuk mendapatkan fee dari hal-hal itu. Muliakanlah diri dengan setia pada kebaikan dan kemuliaan manusia. Allah swt akan memberikan anugerah dari jalan yang tidak disangka-sangka dan menyenangkan jika tetap melangkah dalam koridor kemanusiaan dan bukan dalam rangka pengumpulan uang melalui cara-cara haram dan meragukan.

            Demikian pula pemerintah harus lebih menyosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan murah, gratis, dan terjamin jika memang sudah sangat yakin dengan keberhasilannya. Dengan demikian, masyarakat akan lebih memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik. Peredaran vaksin palsu sebenarnya tidak perlu terjadi jika pemerintah telah berhasil meyakinkan masyarakat bahwa obat-obatan yang diproduksi di dalam negeri sama kualitasnya dengan yang diproduksi di luar negeri atau bahkan lebih baik. Dengan demikian, kelangkaan obat impor sama sekali tidak akan memicu para penjahat untuk memalsukan obat-obat itu. Pemalsuan vaksin itu kan terjadi karena banyaknya masyarakat yang tidak percaya obat pemerintah dan sangat percaya obat asing yang entah karena disebabkan sok gaya, sok kaya, atau kurang pengetahuan. Ketika terjadi kelangkaan obat impor itulah para penjahat mengendus adanya lahan bisnis menguntungkan dengan melakukan pemalsuan. Di samping itu, pemerintah pun berkewajiban menjaga masyarakat dari praktik-praktik curang yang bisa dilakukan oleh para tenaga medis berikut rumah sakitnya. Hal yang tak kalah pentingnya adalah penegakkan hukum terhadap mereka yang melakukan kejahatan di dunia medis harus benar-benar dilakukan.

            Mudah-mudahan kita semua semakin pintar, semakin bijak, dan semakin sehat. Amin.