Showing posts with label Virus Corona. Show all posts
Showing posts with label Virus Corona. Show all posts

Monday, 2 August 2021

Takut

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Jangan takut Corona, takutlah kepada Allah swt!”

            Pernah dengar kalimat seperti itu?

            Banyak orang yang mengatakan hal seperti itu.

            Kalimat seperti itu sama saja dengan kalimat-kalimat berikut.

            “Jangan takut harimau, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut ular kobra, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut kereta api, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut mobil dan motor, takutlah kepada Allah swt!”

            Sama saja kan kalimatnya?

Bedanya di mana?

            Jika dicari contohnya, akan ada banyak kalimat yang tidak jelas seperti itu. Hal itu diperparah dengan tidak adanya penjelasan yang komprehensif mengenai kalimat kusut semacam itu. Paling-paling penjelasannya adalah Corona itu ciptaan Allah swt, jadi kita harus yakin  bahwa Allah swt bisa menghilangkannya dan menghentikannya. Oleh sebab itu, minta tolonglah kepada Allah swt. Hal-hal seperti itulah yang biasanya dijelaskan meskipun tetap saja tidak jelas.

            Karena tidak ada penjelasan yang menyeluruh, masyarakat bisa salah memahaminya. Akibatnya, salah bertindak, misalnya, menyepelekan Covid-19, merendahkan Prokes, atau bersikap seenaknya, padahal situasinya sedang krisis pandemi.

            Meskipun demikian, anehnya, kalau dihadapkan sama harimau, mereka takut. Kalau nggak takut, bisa habis dimakan harimau. Kalau enggak takut sama ular kobra, bisa mati dipatuk. Kalau enggak takut sama kereta api, mereka akan santai menjalankan kendaraan melewati perlintasan kereta api sampai ditabrak kereta api dan tubuhnya berantakan. Kalau enggak takut sama motor dan mobil, mereka tidak akan tengok kiri-kanan ketika menyeberang di jalan raya sampai tubuhnya terpental, terkapar.

            Kalau sama harimau, ular kobra, kereta api, mobil, dan motor takut, kenapa jangan takut sama Corona?

Padahal, harimau, ular kobra, kereta api, mobil, dan motor itu ada tercipta karena kekuasaan Allah swt juga.

            Aneh kan?

            Sebetulnya, perasaan takut diciptakan dalam diri manusia itu adalah untuk melindungi manusia sendiri. Kalau tidak ada rasa takut, manusia bisa dimakan harimau, dipatuk kobra, ditabrak kereta api, mobil, motor, dan mengalami berbagai keburukan lainnya. Jadi, takutlah terhadap sesuatu yang memang seharusnya ditakuti. Tidak ada dosa untuk itu. Tidak akan rusak iman seseorang jika takut terhadap sesuatu yang layak untuk ditakuti.

            Takut terhadap makhluk jangan dicampuradukan dengan takut kepada Allah swt karena berbeda tindakan kita sebagai akibat dari rasa takut itu. Berbeda jauh sekali. Sikap manusia normal jika takut terhadap makhluk, adalah akan menghindari makhluk itu. Misalnya, jika takut harimau dan ular kobra, manusia selalu menjauhinya atau mencari cara untuk menguasai atau membunuhnya; takut terhadap kereta api, mobil, dan motor, manusia harus berhati-hati mengendarainya atau menyeberang di tempat perlintasan atau jalan raya.

            Demikian pula, terhadap Corona karena manusia takut terjangkit dan terpapar, harus mematuhi Prokes, melaksanakan 5M, 3T, dan mengikuti program vaksinasi. Kalau tidak takut, jangan salahkan siapa-siapa jika terkena Covid-19, lalu terkapar di rumah sakit.

            Berbeda dengan takut kepada Allah swt. Jika kita takut terhadap makhluk adalah berupaya menghindari atau mengalahkannya. Akan tetapi, jika kita takut kepada Allah swt adalah dengan cara mendekati-Nya, bukan dengan menjauhi-Nya. Justru jika menjauhi-Nya, berbagai kesusahan dan kerusakan akan menimpa diri kita.

            Takut terhadap makhluk, normal, caranya hindari atau kalahkan.

            Takut terhadap Allah swt, harus, caranya dekati Dia dan menyerahlah kepada-Nya.

            Sampurasun.

Friday, 8 May 2020

Terdampak Terdampar


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Terdampak akibat Covid-19 berarti terkena pengaruh negatif Covid-19. Biasanya, mereka yang disebut terdampak itu mengalami serangan kesehatan dan atau ekonomi. Kesehatannya memburuk, ekonominya melemah. Kalau terdampar, berarti terjebak di sebuah pulau, kehilangan arah, tidak maju dan tidak juga kembali. Terkait Covid-19, mereka yang terdampar adalah tidak bisa ke mana-mana di sebuah wilayah dan tidak juga bisa pulang.

            Begitu kira-kira.

            Mau diributin kata terdampak dan terdampar seperti ngeributin mudik dan pulang kampung?

            Terserah.

            Beberapa hari yang lalu, saya dengar ada mahasiswa saya di Fisip, Unfari, terdampar di Bandung. Mereka tidak bisa mudik ke kampungnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Lumayan kaget juga mendengarnya. Kalau terdampar, jelas terdampak juga secara ekonomi. Langsung saja dalam pikiran saya saat itu pengen tahu jumlahnya ada berapa orang, kost di mana saja mereka, dari pulau mana saja mereka.

            Memang yang terdengar itu baru dari NTT dan Papua. Saya juga pengen tahu apakah yang dari Nias, Lampung, Bali, bahkan Thailand dan Timor Leste juga sama-sama terdampak dan terdampar?

            Mudah-mudahan tidak banyak yang terdampak dan terdampar itu. Mudah-mudahan yang lain baik-baik saja dan dapat mengatasi kesulitannya dengan baik.

            Untuk merespon berita tersebut, segera saja saya, selaku Ketua Program Studi Hubungan Internasional; Henike, selaku Sekretaris Prodi HI; Caesar selaku Ketua Program Studi Administrasi Negara; Iin, selaku Sekprodi AN; Dina, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Ghifari, membentuk “Posko Fisip Peduli Covid-19”. Posko itu terutama diperuntukkan untuk membantu para mahasiswa Fisip Unfari yang terdampar itu. Jika mendapatkan respon yang baik dan dapat menangani berbagai kesulitan yang menimpa mahasiswa, posko ini akan diperluas untuk juga membantu mahasiswa dari fakultas lain, bahkan bekerja sama dengan universitas lain.

            Saya sendiri segera menghubungi salah seorang dosen yang juga dipercaya sebagai anggota gugus tugas penanganan Covid-19 di Jawa Barat ini. Setahu saya, mereka yang bukan warga Jabar pun mendapatkan jatah untuk dibantu dalam masa PSBB ini. Setelah dicek memang ada dana untuk itu, tetapi data yang masuk dengan menggunakan formulir data non-DTKS numpuknya bukan main di Pikobar. Perlu proses yang cukup memakan waktu. Meskipun demikian, teman saya itu akan berupaya untuk mendapatkan celah untuk membantu para mahasiswa yang juga anak-anak didiknya.

            Posko Fisip Peduli Covid-19, malah lebih efektif dan cepat karena menggunakan azas kemanusiaan, kekeluargaan, dan gotong royong, tidak memerlukan data yang terlalu rumit dan kadang bikin ribut itu. Posko itu mendapatkan dana dari para dosen Universitas Al-Ghifari, para alumni, dan siapa saja yang tertarik untuk memberikan bantuan. Siapa pun boleh membantu, tidak terbatas dan tidak terhalang oleh perbedaan ras, suku bangsa, adat, dan agama. Meskipun nama universitas menggunakan nama salah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw, “Abudzar Al-Ghifari”, banyak mahasiswa nonmuslim yang belajar di Al-Ghifari dan tidak berbeda dengan mahasiswa muslim lainnya. Mereka semua “anak-anak kami”, keluarga kami.         

            Mari kita sama-sama bergandeng tangan, saling bantu, saling mengasihi, kita sama-sama manusia yang sedang dilanda kesulitan. Gotong royong dan saling mencintai adalah kekuatan besar yang dapat mempersatukan energi kita dalam menghadapi masa-masa sulit pandemi Covid-19 ini.





            Bagi yang mau menjadi mahasiswa Universitas Al-Ghifari, klik http://pmb.unfari.ac.id

            Sampurasun

Monday, 20 April 2020

Tidak Shaum Ramadhan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaget dengan usul tidak puasa saat Ramadhan?

            Biasa saja ah. Kan banyak orang Islam yang tidak perlu puasa ketika Ramadhan. Bahkan, saya juga pernah melarang isteri untuk puasa karena sedang hamil dan kondisinya luar biasa lemah. Dia kesal ingin tubuhnya segar bugar dan beraktivitas seperti biasa.

            Saya bilang, “Jangan puasa.”

            Setelah menghentikan puasanya, isteri saya kembali bugar. Itu kenyataan. Artinya, ada orang-orang yang tidak usah puasa dan menggantinya dengan puasa pada bulan lain atau membayar fidyah. Ketentuannya sudah ada.

            Beberapa waktu ini kita dikejutkan oleh adanya usul untuk tidak melakukan shaum atau puasa pada bulan Ramadhan karena situasi berada dalam keadaan dilanda pandemi Covid-19. Pertama kali mengetahuinya, saya langsung merasa lucu, pengen ketawa.

           Kan memang sudah ada aturannya, siapa yang tidak perlu puasa dan siapa yang tetap wajib puasa?

            Tidak ada usulan pun, keadaannya sudah seperti itu. Kalaupun ada usulan, ya biarin saja. Dia yang punya usul tidak mengerti tentang hal itu. Cuekin saja.

            Usulan itu menjadi viral karena warganet juga yang membuatnya menjadi terkenal melalui Medsos. Demikian pula media main stream ikut semakin menghebohkannya.

            Yang mengajukan usul untuk tidak puasa pada Ramadhan itu namanya “Rudi Valinka” melalui akun twitter-nya.

            Siapa sih Rudi Valinka itu?

            Ahli syariat Islam, fikih, atau ahli kesehatan?

            Dia kan bukan siapa-siapa.

            Terus, mengapa harus dihebohkan?

            Dia diviralkan karena disebut-sebut sebagai “relawan Jokowi” dan penulis “A Man Called Ahok”. Artinya, ada dimensi politis di sana. Orang-orang menyeret Jokowi dan Ahok pada diri Rudi Valinka. Padahal, Jokowi dan Ahok tidak ada urusannya dengan usulan Rudi Valinka.

            Ingat, Pilpres 2019 sudah usai. Tidak ada gunanya menjatuhkan Jokowi dan Ahok juga sudah dihukum.

            Hey, wake up!

            Sadar!

            Jangan biarkan Rudi Valinka menjadi semakin terkenal. Diemin saja.

            Masih banyak yang harus dipikirkan dan dikerjakan dibandingkan hal-hal yang ecek-ecek seperti itu. Misalnya, kita harus mengurus keluarga kita, terutama mempersiapkan anak-anak kita, baik anak kandung maupun anak didik supaya lebih hebat dibandingkan kita.

            Rudi Valinka itu saya duga nyontek usulan dari politisi Aljazair, namanya  “Noureddine Boukrouh”. Dia memang sebelumnya mengusulkan menunda puasa Ramadhan di Aljazair untuk menghadapi penyebaran virus corona. Katanya, orang yang berpuasa rentan untuk sakit. Padahal, dia cuma politisi, bukan dokter dan bukan ahli syariat Islam. Usulannya itu membuat publik Aljazair heboh. Itu menguntungkan bagi dia dari sisi popularitas. Makanya, seharusnya diemin saja, aturannya sudah ada kok tentang siapa yang wajib berpuasa dan tidak perlu berpuasa. Pegang saja aturan itu, beres semuanya.

            Dalam kondisi “physicall distancing” ini, anggap saja kita seperti ulat jelek menakutkan yang sedang berada dalam kempompong, tidak bisa kesana-kemari. Diam di tempat sambil membina dan mempersiapkan diri hingga waktunya tiba keluar dari kepompong dan menjadi kupu-kupu yang indah menawan hati. Banyak introspeksi diri, mendekatkan diri pada Illahi. Apalagi jika sudah masuk Ramadhan, lebih banyak kesempatan dan anugerah untuk memperbaiki diri. Mari kita sama-sama manfaatkan kesempatan itu.

            Kalau Allah swt mengangkat wabah Covid-19 dari Indonesia pada akhir Ramadhan ini, berarti kita memiliki “tiga kemenangan”. Ingat, kita sering menyebut “Idul Fitri” sebagai “Hari  Kemenangan” disebabkan sejarahnya kita memiliki “dua kemenangan”, yaitu “menang menyelesaikan puasa sebulan penuh” dan “menang mengusir penjajah” dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan “Jumat, 9 Ramadhan 1364”. Jika wabah ini diangkat Allah swt pada Ramadhan, kita punya tiga kemenangan karena ditambah satu kemenangan, yaitu “menang dengan kesabaran menghadapi ujian berupa wabah penyakit”.

            Hayu ah, mari, daripada ngomongin usulan Si Rudi Valinka yang bukan ahli syariat Islam dan bukan pula ahli kesehatan, lebih baik persiapkan diri hingga selepas wabah ini kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi. Bagi yang ingin membina dan mempersiapkan diri dan atau keluarga untuk menjadi lebih baik lagi bersama kami, klik http://pmb.unfari.ac.id




           Sampurasun.

Thursday, 16 April 2020

Harunya Cinta

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sangatlah menyenangkan dan mengharukan melihat masyarakat memberikan bunga, minuman dan makanan sehat, semangat, sikap ramah, bahkan mengelu-elukan para dokter dan perawat yang menangani virus corona. Masyarakat menunggu mereka keluar dari rumahnya atau pulang dari tempat tugasnya hanya untuk memberikan segala hal yang dapat menumbuhkan semangat para dokter dan perawat itu. Masyarakat pun menerima dengan hati gembira para tenaga medis yang dikarantina untuk memastikan kesehatannya. Bahkan, bukan hanya dokter dan perawat yang diberikan apresiasi atau penghargaan, melainkan pula sopir ambulans, cleaning service, dan penggali kubur.

            Itulah masyarakat yang tercerahkan, cerdas otaknya, cerdas hatinya, dan cerdas pula tindakannya. Mereka punya banyak cinta di dalam hatinya. Masyarakat seperti inilah yang bertindak sebagaimana yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahwa dalam menangani korban Covid-19 haruslah “ilmu yang dijadikan panduan untuk bertindak”.

            Ilmu yang harus dijadikan standar bukan hoax atau provokasi dari informasi-informasi Medsos yang kalang kabut dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hoax dan provokasi Medsos hanya membuat kita bodoh dan berhati kasar, jauh dari cinta.

            Hal seperti ini pernah saya alami ketika masih menjadi Asisten Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) membantu Prof. Mohamad Surya (Alm.). Sering tiba-tiba ada yang mengajak salaman ketika saya makan di restoran, padahal tidak kenal; sering pula ada yang memberikan madu, keripik, sayuran, membelikan kopi, membayarin saya makan, menghadiahi makanan ringan atau cemilan, tiba-tiba memberikan senyuman dengan hormat, dan lain sebagainya. Perasaan yang ada dalam diri saya sangat tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tetapi yang jelas ada cinta dan rasa hormat di sana.



            Meskipun saya tidak mengenal mereka, saya langsung tahu bahwa mereka itu adalah guru atau keluarga guru. Padahal, saya tidak berjasa apa pun terhadap mereka. Saya hanya asisten atau pembantu. Mereka berterima kasih atas perjuangan Prof. Surya yang telah bersusah payah mencairkan dana sertifikasi bagi para guru dan dosen di seluruh Indonesia. Prof. Surya itu berjuang melewati empat presiden, yaitu sejak Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, dan baru berhasil cair di era Susilo Bambang Yudhoyono.

            Dana sertifikasi itu berlanjut hingga hari  ini. Sementara itu, Prof. Surya sendiri tidak kebagian dana sertifikasi itu. Saya apalagi tidak kebagian karena saya saat itu bukan guru dan bukan dosen. Baru setelah berhenti bekerja di gedung dewan perwakilan rakyat itu, saya ikut mengajar sebagai guru ataupun dosen.

            Sungguh, rasa terima kasih dan penghormatan masyarakat itu menimbulkan rasa haru dan semangat yang luar biasa. Saya sendiri menjadi seperti keluarga mereka. Saya kira mungkin mirip-mirip perasaan yang ada di dalam diri para dokter, perawat, sopir ambulans, penggali kubur, dan mereka yang menangani pasien virus corona dengan perasaan yang ada dalam diri saya saat itu. Saat ini mereka membutuhkan semangat, dorongan, dan  dukungan masyarakat, bukan fitnah, hoax, penolakan, atau informasi-informasi menyesatkan yang menyudutkan mereka.

            Kita semua membutuhkan cinta, rasa hormat, dan kebersamaan. Oleh sebab itu, mereka yang kasar, tidak memiliki rasa hormat, dan pemecah belah adalah musuh dan sampah masyarakat.

            Hal yang juga membanggakan adalah mahasiswa-mahasiswa saya di Universitas Al-Ghifari pun melakukan banyak aksi positif, misalnya, memberikan pelayanan cek kesehatan gratis, menyosialisasikan perlindungan diri dari virus corona, dan menampung sumbangan dana dari masyarakat untuk digunakan membantu para petugas kesehatan. Saya sering melihat status-status mereka di berbagai media sosial. Itu jauh lebih baik daripada menyebarkan berita yang tidak karu-karuan.

            Yuk, mari saling menghormati, mencintai, saling peduli, dan saling mengingatkan agar kita menjadi harmonis dan terlindungi dari segala macam keburukan. Semua masalah bisa diselesaikan baik-baik jika kita memilih dengan cara yang baik. Sebaliknya, kita bisa menyelesaikan dengan cara yang buruk jika kita ingin menggunakan cara yang buruk. Jika memilih baik-baik, kita akan baik-baik saja. Jika memilih buruk, ada penjara yang menunggu.

            Yuk, berbuat baik dengan disiplin menuntut ilmu di Universitas Al-Ghifari. Klik http://pmb.unfari.ac.id











            Sampurasun  

Saturday, 11 April 2020

Hoax dan Pemerintah Berperan dalam Aksi Tolak Jenazah


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sungguh sangat menyedihkan kita menyaksikan jenazah-jenazah korban virus corona/Covid-19. Mereka banyak yang ditolak oleh warga untuk dimakamkan di wilayahnya. Hal yang membuat lebih sedih sekaligus mengesalkan adalah para tenaga kesehatan yang telah berjasa memberikan pengobatan dan perawatan terhadap pasien virus corona yang kemudian tertular dan meninggal pun ditolak.

            Lalu, mau dimakamkan di mana mereka?

            Mungkin orang-orang itu hanya bisa bilang, “Terserah di mana saja, asal bukan di tempat kami!”

            Itu jawaban manusia egois, tidak berperasaan, tidak berpengetahuan, tidak terdidik hatinya, dan tidak cerdas memberikan solusi. Mereka tahunya hanya protes sambil tidak punya jalan keluar yang baik.

            Saya melihatnya ada dua penyebab besar di balik aksi-aksi penolakan jenazah ini. Penyebab itu adalah “hoax” dan “kurangnya koordinasi dari pemerintah”.

            Pertama, hoax jelas merusakkan banyak hal. Banyak sekali hoax yang bertebaran tentang virus corona di Medsos. Hal itu membuat orang-orang panik luar biasa hingga mempercayai saja informasi yang beredar tanpa dicek kebenarannya. Sampai-sampai serangga kecil disebut bentuk virus corona saja dipercaya.

            Iya kan?

            Demikian pula tentang penyebaran virus corona dari jenazah pun dibuat narasi yang luar biasa dan tidak masuk akal sehingga menakutkan dan menyesatkan.

            Bolehlah kalau para dokter dan para ahli berbeda pendapat, tetapi jangan di Medsos!

            Perbedaan pendapat ilmiah itu harus di ruang sidang khusus. Buat makalah hasil penelitian, lalu diuji dan diperdebatkan oleh sesama ahli sehingga ilmunya sah teruji serta dapat dipertanggungjawabkan. Kalau di Medsos, lalu dibaca orang-orang bodoh dan tolol soal kedokteran seperti saya ini, bisa menyesatkan dan mengacaukan.

            Hoax itu benar-benar mengacaukan dan pelakunya berdosa besar. Hoax itu bohong, sebagian orang mengatakan bahwa bohong itu dosa kecil. Iya kalau berbohongnya sama satu orang, misalnya, sama tukang bala-bala. Itu kecil karena yang ruginya sedikit hanya tukang bala-bala dan keluarganya. Akan tetapi, kalau berbohongnya kepada orang banyak, seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia, itu dosa teramat besar karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar.

            Kedua, pemerintah pun memiliki andil dalam aksi-aksi penolakan jenazah ini. Hal itu disebabkan pemerintah kurang melakukan koordinasi, sosialisasi, dan pencerahan terhadap masyarakat soal jenazah, penularan virus, dan proses pemakamannya. Dari berbagai berita di televisi, masyarakat tiba-tiba dikejutkan oleh adanya ambulans dan pemberitahuan mendadak soal pemakaman korban virus di wilayahnya. Tentu saja itu membuat reaksi mendadak pula dari masyarakat.

            Pemerintah itu memiliki organisasi yang terstruktur dari pusat sampai daerah, memiliki ribuan ahli dan dokter yang berada di bawah menteri kesehatan, memiliki pula kewenangan dan sarana komunikasi dari pusat hingga daerah. Seharusnya itu digunakan untuk memberikan sosialisasi, koordinasi, dan pencerahan sehingga terjadi kesepahaman antara pemerintah dan masyarakat. Memang pemerintah harus lebih ekstra bekerja untuk berkomunikasi dengan masyarakat, apalagi jika berhadapan dengan orang-orang yang sudah digelapkan matanya oleh hoax sehingga kebenaran pun akan mereka tolak karena lebih percaya pada hoax, gemar hoax. Itu tantangan tersendiri bagi pemerintah dan jajarannya.


Kekuatan Jahat Syetan Hoax
Pemerintah ternyata cepat belajar dari kesalahannya yang terdahulu. Akhir-akhir ini pemerintah melakukan banyak upaya koordinasi dan komunikasi dengan masyarakat jika ada jenazah korban Covid-19 yang akan dimakamkan. Upayanya banyak menunjukkan keberhasilan, tetapi masih ada pula warga yang tetap menolak, padahal jenazah itu adalah perawat kesehatan dan masih warga setempat sendiri. Bahkan, jenazahnya sudah diurus dengan baik sesuai prosedur yang berlaku di dunia kesehatan. Setidaknya, itu yang saya perhatikan dari berbagai berita.

            Hoax itu benar-benar hasil karya syetan jahat.

            Pemerintah sudah mulai belajar dari kesalahannya meskipun masih ada kekurangannya dan harus terus belajar menyempurnakan upayanya. Akan tetapi, para penggemar hoax tidak berhenti hingga ditangkap polisi atau mati dalam keadaan berdosa karena telah menyebarkan “penipuan dan kebohongan” kepada orang banyak.

            Kalau sudah ditangkap, biasanya mereka mengaku “khilaf” dan sadar atas kesalahannya, lalu meminta maaf kepada masyarakat. Masih untung mereka bisa bertaubat di dalam penjara. Kalau tidak sempat taubat, keburu mati, bencana besar tanpa henti sudah pasti dideritanya secara abadi jika Allah swt tidak mengampuninya.

            Meskipun pada beberapa wilayah memang ada penolakan, masih ada juga warga yang sangat terbuka tangan dan hatinya menerima jenazah korban virus corona yang ditolak di wilayah lain untuk dimakamkan di wilayahnya. Bersyukurlah masih banyak orang yang baik hatinya, tercerdaskan pikirannya, dan berhati-hati dalam tindakannya.

            Semoga Allah swt selalu melindungi orang-orang baik yang bertindak dengan pikiran benar. Semoga Allah swt pun membuka pikiran orang-orang yang masih tertutup hatinya dan masih tertipu, bahkan menyebarkan hoax. Semoga Allah swt memberikan kita kekuatan dan perlindungan dalam masa wabah ini sehingga kita terselamatkan, baik di dunia maupun di akhirat.

            Sampurasun.

Monday, 6 April 2020

Salah Arti Salah Tindak

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Banyak hal atau kata yang salah diartikan yang kemudian mengakibatkan kita salah bertindak. Banyak orang yang tidak bisa membedakan atau pura-pura tidak tahu perbedaan antara “hemat” dengan “pelit”; “progresif”/”maju cepat” dengan “panik” dan “grasa-grusu”; “lambat” dengan “terprogram”/”gradual”; “revolusi” dengan “reformasi”; “hoax” dengan “ilmu”; “kritikan” dengan “fitnah” dan “cacian”.

            Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi jika situasi sosial sedang menghadapi situasi khusus seperti perebutan politik dan sekarang ini menghadapi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), banyak kesalahan pemahaman terhadap suatu kata sehingga menimbulkan kesalahan dalam bertindak. Mari kita bedakan satu per satu arti kata-kata tadi secara umum dan biasa-biasa saja, tidak perlu rumit-rumit. Jika ada pendapat yang berbeda, koreksi saya. Saya akan sangat berterima kasih.

            “Hemat” itu berarti menggunakan aset/harta secara bijak sesuai dengan keperluan, sedangkan “pelit” berarti enggan mengeluarkan harta meskipun untuk hal yang benar-benar diperlukan. Orang pelit lebih suka menumpuk-numpuk harta, baik besar maupun kecil dan tidak mau mengeluarkannya, bahkan rela menderita asal uangnya tidak keluar. Kalaupun uangnya keluar, dia akan merasa sangat terpaksa dengan hati yang sedih.

            “Progresif” atau maju cepat itu memiliki nilai positif. Sikap ini adalah berpandangan ke depan dengan mempersiapkan segala sesuatunya secara cermat, lalu melangkah dengan cepat dan tidak menunda-nundanya serta konsisten. Adapun "panik" adalah tindakan grasa-grusu yang diakibatkan ketakutan-ketakutan yang biasanya tidak berdasarkan kenyataan. Tindakannya kerap tidak beraturan karena tidak disertai data, informasi yang jelas, program yang tepat sasaran, dan hasilnya sulit diukur, terkadang boros materi dan boros energi. Hal yang lebih parah adalah paranoid yang selalu ketakutan dirinya terancam oleh berbagai hal. Kalau sudah paranoid, itu sudah tidak sehat mentalnya dan harus disembuhkan di rumah sakit jiwa (RSJ).

            “Lambat” itu artinya melakukan sesuatu dalam waktu lama tidak sesuai dengan jadwal atau ukuran yang diharapkan dan telah direncanakan. Tindakan ini mengakibatkan gangguan pada pekerjaan-pekerjaan lainnya. Adapun “terprogram” berarti melaksanakan pekerjaan atau tindakan sesuai dengan jadwal atau gradual dengan maksud seluruh tugas dapat mencapai hasil yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber daya yang ada.

            “Revolusi” adalah perubahan cepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dengan mengorbankan berbagai hal yang diperlukan. Tak peduli dengan pengorbanan yang dikeluarkan asal tujuannya dapat terlaksana dengan cepat. “Reformasi” adalah penataan ulang struktur, kebijakan, program, atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Reformasi adalah tindakan yang dilakukan secara gradual, bertahap, dan terjadwal dengan meminimalisasi pengorbanan.

            “Hoax” atau hoaks adalah berita palsu atau informasi yang menyesatkan. Hoax diproduksi untuk mengelabui orang banyak atau menyebarkan berita bohong tentang sesuatu hal atau berbagai hal. Hoax itu selalu “misleading”, ‘menyesatkan’. Hal itu disebabkan hoaks adalah informasi yang sama sekali tidak benar.

            Adapun “ilmu” adalah pemahaman atau pengetahuan terhadap suatu hal berdasarkan data, fakta, atau ajaran yang diakui kebenarannya pada masa sebelumnya. Meskipun demikian, ilmu itu sifatnya terbuka. Artinya, bisa dikoreksi oleh ilmu baru yang bisa membantah ilmu sebelumnya. Kalau suatu ilmu sudah bisa dibantah oleh ilmu yang baru, ilmu yang lama wajib gugur.

            Contoh yang paling mudah tentang ilmu adalah seperti ini. Dalam Ilmu Alamiah Dasar sering dicontohkan tentang “pelangi”. Dulu orang percaya bahwa pelangi adalah jalan bagi para bidadari dari kahyangan turun ke Bumi untuk menyelesaikan berbagai urusannya. Semua orang tidak ada yang membantah. Itu adalah ilmu. Akan tetapi, ketika ada orang lain yang menemukan kenyataan bahwa pelangi adalah sinar Matahari yang menembus butiran air di langit sehingga menimbulkan berbagai macam warna, ilmu bahwa pelangi adalah jalan bagi para bidadari harus gugur.

            Contoh lain, dulu gereja di Eropa meyakini bahwa Bumi itu datar dan di ujungnya adalah neraka. Tak ada orang yang membantah. Itu juga ilmu. Akan tetapi, ketika Galileo dan Copernicus menemukan kenyataan lain dengan mengatakan bahwa Bumi itu bulat, maka teori Bumi datar itu harus gugur, apalagi zaman sekarang yang bentuk Bumi bisa difoto dari luar angkasa dan ternyata memang bulat. Pihak gereja pun sekarang mengakuinya bahwa Bumi itu memang bulat.

            Begitulah sifatnya ilmu. Kalau suatu pemahaman tidak boleh dibantah, didebat, atau dikoreksi, itu bukan ilmu, melainkan doktrin yang tidak boleh dipertanyakan benar dan salahnya. Orang-orang harus percaya secara mutlak dan dilarang untuk memikirkan benar dan salahnya. Itu bukan ilmu. Itu hanyalah keyakinan paksaan.

            Contoh lain lagi. Kali ini kasusnya terjadi di Indonesia baru-baru ini. Seorang aktivis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), perempuan, dalam suatu acara talk show di KompasTV mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menggunakan hoax tentang virus corona. Dia menyebutkan bahwa hoax itu disampaikan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto yang mengatakan kalau tidak salah bahwa Indonesia tidak terkena virus corona, Indonesia kuat, atau yang semacam itulah. Si Aktivis itu mengatakan bahwa itu hoax.

            Sungguh, dia tidak bisa membedakan antara hoax dengan ilmu sebagaimana yang saya terangkan tadi. Bagi saya, Menkes RI Terawan itu mengatakan sebuah ilmu dan bukan hoax. Pada kenyataannya memang ketika Menkes RI Terawan mengatakan itu, tidak ada yang terkena virus corona karena memang tidak ada datanya. Bahkan, bukan hanya Terawan yang mengatakan hal itu, dokter lain pun mengatakannya karena Indonesia diuntungkan dari segi iklim yang tropis. Saya pun berpendapat seperti itu saat itu.

            Seperti saya jelaskan tadi bahwa ilmu itu bisa dikoreksi dan dibantah dengan ilmu yang baru. Berdasarkan data, fakta, dan informasi terbaru, sejak diketahui ada warga Depok yang positif terjangkit virus corona, maka ilmu yang disampaikan oleh Terawan itu harus gugur karena ternyata dibantah oleh ilmu yang baru bahwa Indonesia terkena virus corona.

            Kalau sekarang Menkes RI Terawan mengatakan bahwa Indonesia tidak terkena virus corona, itu baru hoax. Itu sah dikatakan bahwa pemerintah melakukan hoax.

            Paham tidak? Masa tidak?

            Sekarang soal kritikan dengan fitnah dan caci maki. Orang masih tidak bisa membedakan atau memang tidak mau membedakan antara kritikan, caci maki, dan fitnah.

            “Kritikan” itu bagus, mengkritik itu boleh untuk memperbaiki keadaan yang ada. Kritikan itu harus bertujuan positif agar pihak yang kita kritik dapat menjadi lebih baik, situasi menjadi lebih baik, keadaan menjadi lebih baik. Hal itu pun diperintahkan Allah swt dalam QS Al Ashr bahwa yang namanya saling mengkritik, saling mengoreksi, saling menasihati itu akan membuat hidup kita menjadi beruntung, lebih sabar, lebih kuat, dan lebih baik lagi. Justru jika tidak melakukan saling koreksi, hidup kita akan merugi.

            Kritikan yang sesungguhnya positif itu akan jatuh menjadi “caci maki” jika disampaikan secara tidak beradab dan jauh dari inti kritikan, misalnya, mengatakan seseorang itu sebagai binatang, penjahat, hantu, stereotip, rasis, penghinaan terhadap fisik, dan lain sebagainya yang tidak ada hubungannya dengan kritikan. Di samping itu, kritikan akan terjerumus menjadi “fitnah” jika tidak disertai data-data yang valid, sah, dan sesuai fakta. Fitnah pun akan terjadi jika hal yang disampaikan tidak secara utuh dengan cara sepotong-sepotong dan merekayasa dari hal yang sebenarnya sehingga menyesatkan orang lain dan merugikan orang yang menjadi sasaran fitnah.

            Baik caci maki maupun fitnah, di samping mengakibatkan dosa, tidak berbudi pekerti luhur, juga bisa terjerat hukum, baik pidana maupun perdata. Jika sudah terjerat hukum, jika salah mengartikan, dia akan tetap meyakini bahwa dia telah melakukan kritik, padahal sesungguhnya menyebarkan fitnah dan caci maki. Itulah bahayanya jika salah mengartikan kata yang mengakibatkan salah berrtindak, bahkan semakin menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain. Jika sudah terjerat hukum, tetapi salah mengartikan fitnah dan caci maki sebagai kritik, dia semakin tersesat dengan mengatakan bahwa polisi tebang pilih, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, tidak adil. Semakin ngaco dia.

            Ada yang lebih parah lagi dengan meneriakkan bahwa ini adalah “Hukum Jokowi!”

            What?

            Apa itu Hukum Jokowi?

            Tidak ada itu Hukum Jokowi. Jokowi itu presiden, eksekutif. Hukum itu kekuasaannya ada di para hakim sebagai yudikatif. Undang-undang itu dibangun bersama dengan DPR sebagai legislatif.

            Jangan salah mengartikan istilah atau pura-pura tidak tahu, salah bertindak bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

            Yu ah, bagi para generasi muda maupun generasi tua yang masih mau meningkatkan ilmu pengetahuan supaya cara berpikir kita semakin baik dan semakin bermanfaat bagi manusia, saya mengajak untuk kuliah di Universitas Al-Ghifari. Manfaatkan berbagai fasilitas beasiswa yang ada di Universitas Al-Ghifari. Daftarnya bisa #dirumahaja.

            Klik http://pmb.unfari.ac.id jadilah mahasiswa Universitas Al-Ghifari.

            Sampurasun.

Friday, 3 April 2020

Nggak Mau Dikasih Sama Jokowi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera sang Surya

Ini obrolan singkat, tetapi bermakna bagi saya. Entah bagi orang lain.

            Siang-siang saya ke Warung Bu Haji untuk membeli Vitamin C. Di depan warung ada truk kecil yang sedang menurunkan tabung gas 3 Kg. Saya masuk warung agak mepet-mepet.

            “Ada Vitamin C?” tanya saya sama anak pemilik warung, perempuan.

            Dia lalu melihat-lihat etalase warung dan rak-rak di warung mencari Vitamin C. Adapun Pak Haji membantu menurunkan tabung gas dari truk.

            Mereka menurunkan tabung gas sambil mengobrol.

            Terdengar kernet truk bilang sama pemilik warung, “Pak Haji, Presiden Jokowi menurunkan banyak bantuan untuk rakyat.”

            “Saya mah tidak mau dikasih sama Jokowi,” kata Pak Haji tegas sambil matanya melihat saya, “Itu mah hak orang lain, ya Pak? Bagaimana jika saya menerima hak orang miskin, tiba-tiba saya jadi miskin?”

            Saya sebenarnya cuma mau beli Vitamin C, tetapi tampaknya mereka ingin saya ikut ngobrol.

            “Betul Pak Haji, selama kita merasa cukup dan masih diberi rezeki oleh Allah swt, tak perlulah kita menerima bantuan-bantuan itu …,” jawab saya.

            Belum saya selesai bicara, kernet truk memotong, “Benar, Pak. Kalau orang-orang mampu ikut menerima, nanti bisa didoain bangkrut sama orang-orang miskin.”

            Saya bilang, “Seharusnya, orang mampu memberikan bantuan kepada orang miskin, minimalnya ke tetangganya. Kalaupun belum mampu memberikan sumbangan atau bantuan, ya jangan sampai mengambil hak orang miskin, ….”

            Belum juga selesai saya bicara, dipotong lagi, kali ini sama anak pemilik warung, “Aaah, Pak. Orang-orang kaya juga kalau dikasih mah suka nerima, malahan ikut-ikutan ngantri, rebutan.”

            “Bener, Neng,” timpal Pak Haji, “Banyak orang kaya pake perhiasan bagus, Hp-nya mahal, ikutan nerima, rebutan bantuan.”

            “Biarinlah, Pak Haji, orang lain mah, asal bukan kita saja. Kita mah kan nggak bisa mengatur hidup orang lain. Satu-satunya orang yang bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri,” kata saya.

            Ternyata, Vitamin C tidak ada, lalu saya pun pulang.

            Ada manfaatnya kisah obrolan singkat ini?

            Sampurasun.