Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Thursday, 16 April 2020

Harunya Cinta

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sangatlah menyenangkan dan mengharukan melihat masyarakat memberikan bunga, minuman dan makanan sehat, semangat, sikap ramah, bahkan mengelu-elukan para dokter dan perawat yang menangani virus corona. Masyarakat menunggu mereka keluar dari rumahnya atau pulang dari tempat tugasnya hanya untuk memberikan segala hal yang dapat menumbuhkan semangat para dokter dan perawat itu. Masyarakat pun menerima dengan hati gembira para tenaga medis yang dikarantina untuk memastikan kesehatannya. Bahkan, bukan hanya dokter dan perawat yang diberikan apresiasi atau penghargaan, melainkan pula sopir ambulans, cleaning service, dan penggali kubur.

            Itulah masyarakat yang tercerahkan, cerdas otaknya, cerdas hatinya, dan cerdas pula tindakannya. Mereka punya banyak cinta di dalam hatinya. Masyarakat seperti inilah yang bertindak sebagaimana yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahwa dalam menangani korban Covid-19 haruslah “ilmu yang dijadikan panduan untuk bertindak”.

            Ilmu yang harus dijadikan standar bukan hoax atau provokasi dari informasi-informasi Medsos yang kalang kabut dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hoax dan provokasi Medsos hanya membuat kita bodoh dan berhati kasar, jauh dari cinta.

            Hal seperti ini pernah saya alami ketika masih menjadi Asisten Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) membantu Prof. Mohamad Surya (Alm.). Sering tiba-tiba ada yang mengajak salaman ketika saya makan di restoran, padahal tidak kenal; sering pula ada yang memberikan madu, keripik, sayuran, membelikan kopi, membayarin saya makan, menghadiahi makanan ringan atau cemilan, tiba-tiba memberikan senyuman dengan hormat, dan lain sebagainya. Perasaan yang ada dalam diri saya sangat tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tetapi yang jelas ada cinta dan rasa hormat di sana.



            Meskipun saya tidak mengenal mereka, saya langsung tahu bahwa mereka itu adalah guru atau keluarga guru. Padahal, saya tidak berjasa apa pun terhadap mereka. Saya hanya asisten atau pembantu. Mereka berterima kasih atas perjuangan Prof. Surya yang telah bersusah payah mencairkan dana sertifikasi bagi para guru dan dosen di seluruh Indonesia. Prof. Surya itu berjuang melewati empat presiden, yaitu sejak Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, dan baru berhasil cair di era Susilo Bambang Yudhoyono.

            Dana sertifikasi itu berlanjut hingga hari  ini. Sementara itu, Prof. Surya sendiri tidak kebagian dana sertifikasi itu. Saya apalagi tidak kebagian karena saya saat itu bukan guru dan bukan dosen. Baru setelah berhenti bekerja di gedung dewan perwakilan rakyat itu, saya ikut mengajar sebagai guru ataupun dosen.

            Sungguh, rasa terima kasih dan penghormatan masyarakat itu menimbulkan rasa haru dan semangat yang luar biasa. Saya sendiri menjadi seperti keluarga mereka. Saya kira mungkin mirip-mirip perasaan yang ada di dalam diri para dokter, perawat, sopir ambulans, penggali kubur, dan mereka yang menangani pasien virus corona dengan perasaan yang ada dalam diri saya saat itu. Saat ini mereka membutuhkan semangat, dorongan, dan  dukungan masyarakat, bukan fitnah, hoax, penolakan, atau informasi-informasi menyesatkan yang menyudutkan mereka.

            Kita semua membutuhkan cinta, rasa hormat, dan kebersamaan. Oleh sebab itu, mereka yang kasar, tidak memiliki rasa hormat, dan pemecah belah adalah musuh dan sampah masyarakat.

            Hal yang juga membanggakan adalah mahasiswa-mahasiswa saya di Universitas Al-Ghifari pun melakukan banyak aksi positif, misalnya, memberikan pelayanan cek kesehatan gratis, menyosialisasikan perlindungan diri dari virus corona, dan menampung sumbangan dana dari masyarakat untuk digunakan membantu para petugas kesehatan. Saya sering melihat status-status mereka di berbagai media sosial. Itu jauh lebih baik daripada menyebarkan berita yang tidak karu-karuan.

            Yuk, mari saling menghormati, mencintai, saling peduli, dan saling mengingatkan agar kita menjadi harmonis dan terlindungi dari segala macam keburukan. Semua masalah bisa diselesaikan baik-baik jika kita memilih dengan cara yang baik. Sebaliknya, kita bisa menyelesaikan dengan cara yang buruk jika kita ingin menggunakan cara yang buruk. Jika memilih baik-baik, kita akan baik-baik saja. Jika memilih buruk, ada penjara yang menunggu.

            Yuk, berbuat baik dengan disiplin menuntut ilmu di Universitas Al-Ghifari. Klik http://pmb.unfari.ac.id











            Sampurasun  

Tuesday, 3 December 2019

Masalah Ilmu Jangan Jadi Kasus Hukum


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Adalah berbahaya sekali jika masalah ilmu dibawa-bawa menjadi kasus hukum. Ini bisa menjadi kebiasaan buruk di tengah masyarakat. Kalau masalah perbedaan pengetahuan, ilmu, atau perbedaan pemahaman, diselesaikannya harus dengan penelitian atau perdebatan dan diskusi. Jika masalah ilmu pengetahuan dibawa menjadi kasus hukum, bahayanya adalah ilmu pengetahuan menjadi mandek atau mati tidak berkembang dan akan terjadi pemaksaan pemahaman keyakinan oleh satu kelompok sementara yang lain dianggap salah sebelum adanya penelitian atau diskursus (saling tukar pengetahuan).

            Kasus yang sekarang sedang ramai diperbincangkan adalah soal isi ceramah Gus Muwafiq yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw karena mengisahkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir biasa-biasa saja seperti anak lainnya, diurus oleh kakeknya, dan sempat “rembes” atau “umbelan” (ingusan). Potongan isi ceramahnya ini dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai penghinaan. Padahal, pendukungnya dari kalangan NU menyatakan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dasarnya, memiliki sumbernya, dan ada bukunya. Sementara itu, mereka yang melaporkannya sebagai penghinaan mengakui bahwa tidak menemukan sumber yang menjadi dasar isi ceramah Gus Muwafiq, sebagaimana yang disampaikan perwakilan FPI dalam acara talk show di tvOne. Bahkan, mereka yang tidak menyukai Gus Muwafiq memiliki sumber kisah kelahiran Nabi Muhammad yang penuh sinar yang cahayanya sampai ke kekuasaan Romawi di Syam. Jadi, masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap tidak mungkin seperti yang diceramahkan Gus Muwafiq. Oleh sebab itu, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.

            Jika diperhatikan, masalahnya kan hanya ada di perbedaan informasi atau pengetahuan tentang kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad saw. Dalam pandangan Gus Muwafiq kelahiran dan masa kecil Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya berdasarkan sumber yang dimilikinya. Sementara itu, pihak lain tidak memiliki sumber itu atau memiliki sumber kisah lain yang penuh keajaiban. Penyelesaian masalah seperti itu kan tidak pas jika dibawa ke pengadilan sebagai kasus penistaan agama. Penyelesaiannya harus dibuktikan dengan matan, sanad, perawi, tarikh, dan atau Al Quran tentang kebenaran peristiwa tersebut.

            Kalau ada perbedaan yang bertolak belakang, adu saja, uji saja kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode sejarah yang ada secara ilmiah. Cari sumber sekunder hingga sumber primernya.

            Sumber mana yang paling benar?

            Mana yang benar-benar nyata sejarah dan  mana yang hanya dongeng akan lebih jelas setelah ada penelitian.

            Berani?

            Harus berani atuh demi ilmu pengetahuan. Demi kebenaran tentang Nabi Muhammad saw.

            Kalaupun dipaksakan untuk masuk ke pengadilan, bisa dipastikan bahwa Gus Muwafiq dan pendukungnya akan membawa sumber-sumber bacaan kisah tersebut. Demikian pula pihak penggugat akan diminta alasan dan atau sumber bacaan lain yang menjadi dasar bahwa Gus Muwafiq telah melakukan penghinaan dalam arti masa kecil Nabi saw tidak seperti yang dikisahkan Gus Muwafiq. Tetap saja ilmu pengetahuan yang diperdebatkan nantinya. Sayangnya, hakim yang memutuskannya, bukan ahli agama.

            Akan menjadi sesuatu yang aneh jika permasalahan perbedaan pengetahuan diserahkan keputusannya kepada majelis hakim yang sama sekali bukan dikategorikan sebagai ahli agama. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq bersalah, isi ceramah dan sumber-sumber bacaannya pun secara tidak langsung dianggap salah. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq tidak bersalah, pihak penggugat beserta sumber ilmu pengetahuannya salah dan harus mengakui kebenaran Gus Muwafiq.

            Mau seperti itu?

            Berbeda jika benar dan salah itu melalui proses penelitian dan pengkajian ilmiah yang dipandu oleh para ahli ilmu. Benar dan salah pun berdasarkan ilmu terkait agama, bukan berdasarkan ilmu hukum positif. Hasilnya lebih bisa dipahami secara keilmuan bukan berdasarkan hukum.

            Sampurasun.

Saturday, 14 September 2019

Berbeda Pendapat dengan Habibie


oleh Tom Finaldin



Bandung, Putera Sang Surya
Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI adalah orang cerdas, baik, banyak jasanya, luas manfaatnya bagi orang lain. Semoga Allah swt memberikan tempat yang sangat baik di sisi-Nya. Meskipun demikian, dia sama dengan kita, manusia yang punya kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu, dalam beberapa hal mungkin banyak yang tidak sependapat dengan Habibie. Itu wajar. Tidak sepaham, berbeda pendapat, bukan berarti harus menjadi musuh.

            Saya pun punya pendapat berbeda dengan Habibie. Dulu ketika referendum/penentuan pendapat rakyat dilaksanakan di Timor Timur, Habibie terlalu cepat mengabulkan dilaksanakannya referendum. Akibatnya,  Timor Timur lepas dari NKRI dan menjadi negara sendiri dengan nama Timor Leste. Dia terlalu cepat karena Indonesia tidak mempersiapkan diri untuk menjadi pemenang referendum, sedangkan mereka yang ingin berpisah dari NKRI bekerja sangat keras dengan dibantu pihak asing.

            Perbedaan paham tersebut tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Presiden Habibie. Berbeda ya berbeda saja. Biasa saja.

            Sekarang pun saya punya pendapat yang berbeda dengan Habibie. Selepas BJ Habibie wafat, tiba-tiba viral isi pidatonya di Kairo, Mesir. Awalnya, saya tidak percaya Habibie berpidato seperti itu. Saya anggap sebagaimana postingan yang lalu-lalu, dibuat oleh orang iseng yang kerjaannya bikin ramai di dunia maya. Akan tetapi, setelah di televisi ada orang yang mengaku menyaksikan pidato itu, saya agak percaya meskipun tidak percaya sepenuhnya karena tidak mendengar langsung dan tidak melihat rekaman/video saat pidato itu terjadi.

            Saya anggap saja pidato itu memang terjadi dengan isi seperti itu. Ada yang menggelitik dari isi pidato itu, terutama pada bagian ketika dia mengatakan bahwa jika harus memilih antara teknologi dan ilmu agama, akan memilih ilmu agama. Kata-katanya itu jelas menyiratkan bahwa ada ilmu duniawi dan ilmu agama. Di situlah perbedaannya dengan saya.

            Bagi saya, tidak ada yang namanya ilmu agama dan ilmu duniawi. Semua ilmu itu sumbernya dari Zat Yang Satu, yaitu Allah swt. Teknologi membuat pesawat terbang juga dari Allah swt. Ilmu arsitektur juga dari Allah swt. Ilmu kedokteran, ekonomi, sosiologi, politik, pemerintahan, kebijakan publik semuanya dari Allah swt.

            Kalau bukan dari Allah swt, dari siapa atuh?

            Seorang ahli teknologi yang mampu membuat pesawat terbang jika dia membuatnya dengan niat “lillahi taala” untuk kebaikan manusia akan memperoleh pahala yang teramat besar dari Allah swt. Bayangkan saja pada masa lalu orang untuk pergi ibadat ke Mekah itu bisa berbulan-bulan dengan menggunakan perahu layar, begitu juga dengan perahu mesin, masih berbulan-bulan juga. Akan tetapi, sekarang dengan teknologi pesawat terbang, pergi berhaji ke Mekah bisa hanya hitungan jam. Jauh lebih cepat, lebih hemat, dan lebih sehat.

            Bukankah itu tindakan berpahala yang dapat menyebabkan pembuat pesawat terbang masuk surga dan dicintai Allah swt?

            Begitu juga dengan ilmu arsitek. Dengan ilmu itu, kita bisa membuat masjid yang besar, bertingkat, mewah, dan indah. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mampu membuat bangunan masjid yang indah, mewah, dan futuristik.

            Bukankah itu tindakah yang baik, berpahala?

            Kalau tidak menguasai ilmu arsitek, bagaimana mungkin umat bisa memiliki bangunan megah dan tinggi untuk beribadat di Mekah dan Madinah?

            Apalagi ilmu kedokteran yang sangat dekat dengan masyarakat, sangat penting bagi dakwah. Kalau ustadz, mubaligh, dai, para habib sakit, ilmu kedokteran sangat berguna dalam mempercepat dan menjadi jaminan kesehatan dibandingkan para dukun.

            Kalau ilmu kedokteran dianggap rendah dibandingkan duduk bersila di dalam masjid mendengarkan ceramah, jangan ke dokter atuh kalau sakit. Apalagi penyakit jantung. Dengarin aja ceramah terus, siapa tahu sembuh.

            Itu semua adalah teknologi yang juga dari Allah swt. Tak ada pemisahan antara ilmu dunia dengan ilmu agama. Teknologi pun jika diawali dengan niat yang benar, proses yang benar, dan hasil yang benar, itu bagian dari agama. Semua ilmu dari Allah swt.

            Kalaupun mau dipisahkan, paling juga “ilmu khusus” dan “ilmu umum”. Ilmu khusus adalah ilmu yang mempelajari dan mengajarkan tentang ibadat-ibadat ritual. Ilmu umum adalah ilmu yang mempelajari dan mengajarkan berbagai ilmu untuk kepentingan hubungan sosial, ekonomi, politik, teknologi, sastra, dan lain sebagainya. Ilmu khusus dan ilmu umum berasal dari Zat Yang Satu Yang Sama, Allah swt. Ilmu khusus dan ilmu umum adalah bagian dari agama.

            Boleh berbeda pendapat?

            Boleh atuh. Yang tidak boleh itu bermusuhan.

            Sampurasun.

Sunday, 17 June 2018

Antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Istilah ilmu umum dan ilmu agama sampai hari ini ternyata masih terus digunakan dengan sangat lucunya. Masih teramat banyak orang yang memisahkan antara ilmu umum dengan ilmu agama yang ditandai dengan ilmu umum didapat dari sekolah umum atau konvensional, sedangkan ilmu agama didapat dari madrasah atau pesantren. Hal yang sungguh menggelikan dan menyesatkan adalah banyaknya pendapat bahwa ilmu umum adalah untuk kepentingan duniawi dan ilmu agama adalah untuk kepentingan akhirat dengan harapan bahwa orang-orang akan lebih memilih lembaga pesantren dibandingkan sekolah biasa.

            Kalimat semacam ini masih sering saya dengar, “Buat apa sekolah umum, tetapi tidak tahu agama? Lebih baik masuk pesantren karena akan menjadikan anak-anak kita menjadi ahli agama dan masuk surga.”

            Membedakan ilmu umum dengan ilmu agama adalah sungguh membingungkan dan menyesatkan. Sesungguhnya, tidak ada itu ilmu umum dan ilmu agama karena semua ilmu berasal dari Allah swt. Soal ilmu itu untuk kepentingan duniawi atau akhirat sangat bergantung pada pemilik ilmu tersebut. Misalnya, seorang dokter yang membaktikan hidupnya untuk kemanusiaan dengan niat untuk mengabdikan diri kepada Allah swt sama sekali tidak bisa dibilang ilmunya hanya sebatas kepentingan duniawi. Dia akan mendapatkan bagian pahala yang besar di akhirat kelak. Hal itu berarti ilmu kedokteran yang jelas tidak ada di pesantren dan didapat dari perguruan tinggi umum akan membawanya ke surga. Sebaliknya, lulusan pesantren yang menggunakan ilmunya hanya untuk kepentingan duniawi, ingin dihormati orang lain, ingin dipuja-puji, ingin dipatuhi sebagai orang paling suci, bahkan menyesatkan orang dengan memutarbalikkan fakta, ilmunya jelas digunakan hanya untuk kepentingan duniawi dan akan membawanya ke neraka.

            Sesungguhnya, bangsa ini sudah melakukan banyak hal untuk mendamaikan hal tersebut dengan adanya Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, termasuk SD Plus, SMP Plus, SMA Plus, atau SMK Plus. Di dalam lembaga-lembaga pendidikan tersebut diajarkan apa yang disebut-sebut sebagai ilmu umum dan ilmu agama. Demikian pula pada banyak pesantren dilengkapi dengan keterampilan wirausaha, pertanian, peternakan, atau yang lainnya. Akan tetapi, masih saja ada pihak-pihak yang berpikiran kuno bahwa lembaga-lembaga tersebut pun masih lebih rendah dibandingkan pesantren murni dalam arti masih termasuk lembaga pendidikan umum dan berorientasi duniawi.

            Sungguh, saya merasa ngeri dengan hal ini, apalagi jika sudah berpengaruh pada generasi muda yang juga pada akhirnya berkecenderungan berpikiran sama kolotnya. Mereka sama sekali tidak berpikir bagaimana mungkin kita, bangsa Indonesia, bisa memiliki masjid sehebat Istiqlal jika hanya mengandalkan pesantren. Masjid itu berdiri megah bukan karena ilmu dari pesantren, melainkan dari ilmu arsitektur.

            Di samping itu, jika yang disebut ilmu agama itu hanya sebagaimana yang diajarkan di pesantren, sangatlah sempit arti dari ajaran Islam itu sendiri. Dalam kata lain, ilmu Islam hanyalah yang didapat dari pesantren. Di luar itu bukan ilmu Islam. Hal ini harus dibenahi karena ilmu Islam itu meliputi seluruh ilmu, baik ilmu yang sudah ditemukan maupun ilmu yang belum ditemukan. Kita bisa lihat sejarah bahwa pendekar-pendekar ilmu pengetahuan di muka Bumi ini dipenuhi orang-orang Islam yang saleh. Ilmu kedokteran, matematika, fisika, kimia, astronomi, aerounotika, dan lain sebagainya yang disebut-sebut ilmu umum dikuasai orang-orang Islam dan menjadi dasar ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan umum di seluruh dunia.

            Tidak perlulah mendikotomikan ilmu umum dengan ilmu agama karena itu akan mempersempit arti Islam sendiri. Kalau mau, gunakan istilah ilmu umum dan ilmu khusus. Kedua ilmu itu berasal dari Allah swt dan harus saling melengkapi. Ilmu umum untuk membekali manusia agar bermanfaat bagi manusia lain dan seluruh alam semesta dengan segala keterampilannya, sedangkan Ilmu khusus sangat berguna untuk memagari manusia agar ilmunya tidak digunakan untuk melakukan kejahatan kepada sesama manusia dan alam semesta. Sesungguhnya, pesantren dan sekolah konvensional seharusnya saling mendukung agar manusia semakin sempurna mengabdikan diri kepada Allah swt. Tidak perlu ada persaingan di antara lembaga pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.

            Sampurasun

Thursday, 11 May 2017

Saatnya Meninggalkan Ulama Terbelakang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kehidupan ini berkembang dan terus maju mengikuti putaran roda zaman yang berubah-ubah. Apa pun kondisi kita, siap tidak siap, zaman terus melaju dalam iramanya yang telah ditetapkan Allah swt. Waktu terus berjalan dan meninggalkan semua yang tidak siap. Demikian pula pemahaman-pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam semakin berwarna sesuai dengan kehidupan modern. Islam tidak akan pernah ketinggalan zaman, tetapi selalu saja ditahan-tahan untuk tidak berkembang oleh para ulama yang terbelakang. Mereka adalah ulama-ulama yang jiwanya masih tenggelam dalam dendam lama tentang kisah-kisah kejatuhan kekhalifahan Turki, ulama yang mudah memberikan cap “kafir dan sesat” dengan hal-hal baru yang tidak mereka pahami dengan benar, ulama yang terlalu banyak menyuguhkan dongeng-dongeng irrasional dengan menyandarkan kegaiban pada “kekuasan Allah swt”, ulama yang terlalu menikmati penghormatan umat sehingga berbicara tanpa pengetahuan yang benar, ulama yang terlalu banyak berimajinasi dan menikmati khayalannya untuk disebarkan pada masyarakat, ulama yang enggan untuk berdebat tentang kebenaran karena takut kalah, ulama yang kerap menyatakan dirinya paling benar tentang pemahaman suatu ayat, ulama yang keras kepala, dan lain sebagainya. Mereka adalah ulama-ulama terbelakang yang harus segera ditinggalkan karena akan menghambat kemajuan umat Islam dalam “mengendalikan” manusia. Merekalah yang sesungguhnya membuat umat Islam tetap dalam kondisinya yang lemah dan terbelakang.

            Jujur saja, dengan banyaknya buku referensi yang bisa didapat hari ini dan praktik-praktik spiritual yang bisa dilakukan dengan lebih baik pada zaman ini, banyak sekali ayat Al Quran yang pemahamannya justru berbeda dibandingkan dengan pemahaman lama. Ayatnya tetap sama, tetapi pemahamannya bisa lebih baik. Ulama-ulama terbelakang akan mengatakan bahwa pemahaman yang telah berkembang itu sebagai “sesat” dan “kafir”. Termasuk pula pemahaman tentang QS Al Maidah : 51. Orang-orang menduga bahwa itu larangan untuk memilih Kristen dan Yahudi untuk menjadi pemimpin dalam berbagai situasi, baik perang maupun damai, termasuk dalam sistem politik demokrasi. Sesungguhnya, saya bisa membuat satu buku khusus tentang pemahaman yang benar mengenai QS Al Maidah : 51 yang lebih baik dan berbeda jauh dengan yang diduga orang saat ini. Saya bertanggung jawab penuh terhadap hal itu secara keilmuan. Seandainya ada penerbit yang tertarik menerbitkan naskah itu, saya bersedia menyusunnya untuk menjadi pemicu agar orang-orang berani berpikir, berani mengambil terobosan, dan berani memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan cara-cara yang lebih logis, rasional, dan tidak irrasional. Dalam beberapa tulisan di blog ini pun, saya menulis sedikit tentang pemahaman saya tentang QS Al Maidah : 51, bahkan ada yang satu tulisan mencapai enam belas halaman. Saya sengaja menulis itu untuk menantang orang lain berdebat, siapa pun itu. Akan tetapi, ternyata tidak ada yang berani mendebat tulisan saya. Orang-orang mungkin terlalu pengecut dengan alasan “kita harus memperkecil perbedaan dan melebarkan persamaan”. Alasan itu tidak tepat di dalam ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan itu bersifat “jujur” serta akan mengatakan salah jika dirinya salah dan akan mengatakan benar jika dirinya benar. Alasan itu hanya tepat dalam hubungan hidup sehari-hari ketika kita bersosialisasi. Orang-orang tidak mau mendebat saya mungkin karena ingin selalu berbeda sehingga dapat menggunakan perbedaan itu untuk kepentingan politik dan ekonominya. Sungguh, pemahaman QS Al Maidah : 51 itu lurus dan hanya satu. Hal yang membuat berbeda adalah keterbelakangan dan penggunaan ayat untuk kepentingan politik dan ekonomi.

            Baru-baru ini saya mendengar ulama terbelakang berceramah tanpa ilmu pengetahuan yang benar sehingga menyesatkan orang lain.

            Pengen tahu?

            Dalam ceramahnya dia memuji-muji kemuliaan Ramadhan yang dibumbui dongeng tidak masuk akal, tetapi disampaikan seolah-olah benar.

            Ulama itu berkata, “Saking mulianya bulan Ramadhan yang penuh ampunan, orang-orang yang sekarang sedang disiksa di dalam neraka pun dihentikan siksanya. Mereka diberikan waktu untuk berhenti dari siksa selama bulan Ramadhan.”

            Para pembaca mungkin kalau tidak saya bahas sekarang akan langsung percaya. Apalagi jika ulamanya janggutnya panjang, bajunya longgar kayak orang-orang Arab, sorbannya sedikit lecek, dan di tangannya ada tasbih.

            Iya kan?

            Enak bener orang itu berceramah kayak yang tahu saja. Dia mungkin sudah dimabuk hormat sehingga apa pun yang dia katakan akan dipercaya orang lain. Mungkin para pengikutnya percaya saja 100%, tetapi saya tidak akan pernah percaya karena ceramahnya tidak masuk akal.

            Memangnya siapa yang sudah masuk neraka sekarang?

            Bukankah kiamat belum terjadi?

            Bukankah manusia dikumpulkan di padang Mahsyar belum terjadi?

            Bukankah hari pengadilan akhirat belum terjadi?

            Bagaimana mungkin pengadilannya belum digelar, tetapi sudah ada yang dihukum dalam neraka?

            Untuk apa ada pengadilan akhirat jika sejak sekarang sudah ada yang dihukum berada di dalam neraka?

            Bahkan, menurut Dr. Deden Suhendar, teman saya yang mendapatkan nilai cum laude dari Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Padjadajaran Bandung bahwa surga dan neraka itu “belum diciptakan”. Surga dan neraka diciptakan nanti setelah dunia ini dihancurkan. Berdasarkan keterangannya itu sudah pasti belum ada orang yang berada di dalam neraka karena nerakanya juga belum diciptakan.

            Kalau begitu, apa dasar ilmu yang digunakan ulama itu bahwa sudah ada orang yang berada dalam neraka saat ini?

            Itulah ulama terbelakang yang gemar menceramahkan dongeng-dongeng dan bukan ayat-ayat Al Quran.

            Umat Islam harus terbuka untuk menerima pemahaman baru mengenai Islam. Generasi muda pun harus berani “menggebyarkan” pemikiran-pemikiran baru tentang Islam dan jangan takut terhadap para ulama terbelakang yang gemar dengan cap “kafir dan sesat”. Islam itu mendorong kemajuan berpikir dan bukan membatasi hidup manusia  soal halal, haram, sunah, makruh saja. Islam adalah agama yang membebaskan manusia untuk berpikir dan berbuat lebih baik untuk manusia dan kemanusiaan dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno mengatakan dengan tegas sekali, Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah yang telah saya tuliskan di dalam satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan bukan hanya karena fardhu atau sunnah, melainkan juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batas zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna, yang lebih tinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, creation baru.”

            Islam itu maju dengan pemikiran baru, bukan statis terkurung aturan-aturan tak logis.


            Sampurasun.

Tuesday, 9 May 2017

Ulama Harus Belajar Banyak Ilmu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Para ulama harus mengembangkan dirinya mempelajari banyak ilmu pengetahuan, misalnya, sosiologi, politik, kemanusiaan, pemerintahan, dan terutama sejarah. Ilmu-ilmu itu harus didapat dari buku-buku yang ditulis berdasarkan metode-metode ilmiah dan bukan dari pemahaman-pemahaman lama yang kerap bercampur dengan khayalan dan imajinasi para penulisnya, sebagaimana yang dikatakan Mohammad Haekal. Dengan memiliki banyak ilmu, ulama dapat mengejar ketertinggalan zaman dan berlari cepat meninggalkan zaman sehingga memiliki banyak alternatif, wawasan, dan solusi untuk berbagai bidang hidup manusia.

            Jika hanya memiliki ilmu-ilmu lama yang kadang-kadang sudah out of date alias kedaluwarsa, umat Islam tidak akan pernah berkembang dengan cepat karena murid-murid para ulama itu akan berputar di situ-situ saja. Para generasi muda akan mengikuti gurunya dengan ilmu yang dimiliki gurunya tanpa mendapatkan pemahaman baru yang lebih berkembang. Lebih parah lagi jika para murid itu tidak memiliki keberanian untuk mempertanyakan berbagai hal yang seharusnya ditanyakan. Mereka hanya akan menjadi generasi taklid yang selalu mematuhi gurunya meskipun ilmu-ilmu gurunya itu sudah banyak yang harus diperbaiki. Lebih jauh lagi, jika ada pihak lain yang memiliki ilmu yang sudah berkembang dan berani berpikir lebih ke depan, kemungkinan akan menuduhnya sebagai sesat dan dianggap menghina para ulama. Padahal, para ulama itu yang sesungguhnya ilmunya di situ-situ saja.

            Tidak adanya perkembangan ilmu yang dimiliki ulama dan kebiasaan taklid dari para muridnya inilah yang sangat dicela oleh Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

            “Bagaimana kita punya kiyai-kiyai dan ulama-ulama?

            Tajwidnya bagus, tetapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur, mereka hanya mengetahui tarikh Islam.

            Hal ini pun terambil dari buku-buku Islam kuno yang tak dapat tahan ujiannya modern science, yakni tak dapat tahan ujiannya pengetahuan modern!

            Padahal, justru sejarah yang mereka abaikan itu, persaksian sejarah yang mereka remehkan itu, adalah membuktikan dengan nyata dan dahsyat bahwa dunia Islam sangatlah mundur semenjak muncul aturan taklid. Dunia Islam adalah laksana bangkai yang hidup semenjak ada anggapan bahwa pintu ijtihad sekarang termasuk tanah yang sangar.

            Dunia Islam mati geniusnya semenjak ada anggapan bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi ‘imam yang empat’, jadi harus mentaklid saja kepada tiap-tiap kiyai dan ulama dari sesuatu mazhab yang empat itu!

            Alangkah baiknya kalau kita punya pemuka-pemuka agama yang mampu mempelajari sejarah dan tidak hanya mati-hidup, bangun-tidur dengan kitab fiqih dan kitab parukunan saja!”

            Soekarno sangat tidak menyukai berhentinya ilmu pengetahuan dan membenci tidak adanya kemauan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Saya tidak tahu pasti apakah kiyai dan ulama sekarang masih sebagaimana yang dikatakan Soekarno pada masanya dulu, yaitu tetap saja menggunakan buku-buku yang tidak tahan ujian ilmu modern atau sudah melangkah jauh mempelajari banyak hal. Akan tetapi, saya memiliki dugaan keras hampir tidak ada bedanya ulama dulu dengan sekarang, yaitu tidak ada yang mendorong dirinya dan muridnya untuk maju melangkah lebih cerdas daripada “imam yang empat itu”. Seolah-olah ilmu-ilmu Islam mati dan terbatas pada imam yang empat itu. Demikian pula tentang ilmu-ilmu hadits, tak pernah saya mendengar ada kiyai atau ulama yang mendorong muridnya untuk lebih cerdas dibandingkan Bukhari dan Muslim. Seolah-olah, hanya Bukhari dan Muslim-lah yang layak dijadikan panutan sampai Hari Kiamat. Padahal, jika didorong lebih kuat yang dimulai dengan tidak mewajibkan untuk selalu patuh dan mengikuti ilmu-ilmu lama, generasi muda Islam sangat mungkin memiliki daya jelajah ilmu pengetahuan yang lebih kuat dan lebih besar sehingga memunculkan sosok-sosok pemikir Islam modern yang ilmu pengetahuannya mampu tahan uji ketika diuji dengan metode-metode ilmiah.

            Bagaimana tidak berkembang pengetahuan sejarah umat Islam?

            Kisah Isra Miraj saja babak belur dari segi kronologis kejadian, tetapi tetap saja diceramahkan di mana-mana bahwa Nabi Muhammad saw diperjalankan dari Mekah ke Palestina. Itu artinya, umat Islam masih bertahan pada ilmu-ilmu kuno yang sudah kedaluwarsa.

            Isra Miraj itu terjadi pada 620 Masehi. Masjid Umar dibangun pada 638 Masehi. Lalu, perkembangan berikutnya diperluas dan namanya diganti menjadi Masjid Al Aqsha.

            Mana mungkin Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw ke masjid yang belum ada, bahkan tanah itu masih dikuasai pasukan Romawi yang gemar pesta dan bermabuk-mabukan?

            Anehnya, masih saja ada yang berceritera di mimbar-mimbar bahwa itu tidak bisa dipahami dengan akal dan harus dipercayai melalui iman. Itu semua adalah kekuasaan Allah swt. Sudah tahu tidak tahan uji karena tahun kejadiannya juga berbeda-beda, masih juga diomong-omongin. Aneh.

            Hal itu menandakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam mengalami hambatan serius. Tak heran jika Soekarno mengatakan bahwa jika umat Islam tidak mau berubah, niscaya tetap hina, mesum, dan tertinggal zaman seribu tahun lamanya.


            Sampurasun.