Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Monday, 24 April 2023

Takbir Menyenangkan Mendunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalimat takbir itu adalah “Allahu Akbar”, ‘Allah Mahabesar’. Ada takbir mengesalkan, membuat marah, ada juga takbir yang menyenangkan dan menarik hati.

            Kalimat takbir ini sudah mendunia sejak lama. Banyak orang yang tahu dan hapal, baik orang Islam maupun nonmuslim, baik pendukung Islam maupun anti-Islam.

            Pada puluhan tahun lalu, pasca-keruntuhan Ottoman, takbir ini terkesan mengesalkan, membuat marah, dan mengerikan. Hal ini disebabkan kalimat takbir ini selalu digunakan untuk berperang dan semangat membunuh manusia, padahal dunia sudah berubah. Kekuasaan menjadi lebih tersebar, tidak lagi di tangan satu atau dua penguasa, seperti, kekhalifahan, kekaisaran Romawi, atau Mongolia. Hal ini terus berlanjut hingga tahun-tahun belakangan ini, terutama takbir digunakan oleh para teroris, semacam Isis, Al Qaeda, FSA, Boko Haram, dan lain sebagainya, serta gerakan-gerakan pengacau masyarakat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri Indonesia. Penggunaan takbir semacam ini membuat Islam dan kaum muslimin dibuli oleh para anti-Islam sebagai agama pengacau dan terbelakang. Bahkan, beberapa pengamat, habib, gus, dan kiyai mensinyalir bahwa orang-orang yang kerap bertakbir keras-keras tanpa tujuan yang benar, perilakunya kasar dan menyebabkan banyak kaum muslimin murtad karena merasa terintimidasi dan terkekang dalam menjalankan agamanya.

            Sekarang, situasinya mulai berubah, terbalik. Banyak orang yang menyukai takbir, baik muslim maupun nonmuslim. Ramadhan tahun ini telah menggerakkan para santri, aktivis muslim yang menjadi youtuber atau influencer Indonesia membuat konten-konten kreatif dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia. Mereka mengupload kegiatan dan kreativitas mereka dalam media sosial dengan lagu-lagu rohani yang menghentak dan menyenangkan; kehidupan keluarga yang saling menghormati; budaya sahur, ngabuburit, takjil, buka bersama (iftar), tarawih, hingga hal-hal lucu selama Ramadhan; kebersatuan para pejabat dan masyarakat. Hal ini membuat penduduk dunia ingin tahu Indonesia dengan lebih baik, termasuk pelaksanaan ajaran Islam di Indonesia. Perhatian mereka mulai teralihkan yang biasanya Islam itu identik dengan Arab dan Timur Tengah, kini perhatian mereka mulai terfokus pada Indonesia. Bahkan, orang-orang Timur Tengah pun terheran-heran dan tertarik dengan kehidupan kaum muslimin di Indonesia.

            Selama Ramadhan ini, banyak orang dari berbagai negara yang datang ke Indonesia hanya untuk merasakan atmosfir, getaran, resonansi, atau sensasi menjalankan ibadat shaum dan idul fitri di Indonesia. Ini terjadi bukan hanya pada orang-orang Islam, melainkan pula nonmuslim. Bagi orang Indonesia, aktivitas Ramadhan seperti ini sudah biasa dan memang biasanya begitu. Akan tetapi, bagi orang-orang dari Timur Tengah, Eropa, dan Asia lainnya merupakan hal yang baru. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa di negara mereka “kehilangan” momen-momen menyenangkan seperti di Indonesia.

            Hal ini membuat saya bertanya-tanya, memangnya Ramadhan di negara mereka suasananya bagaimana?

            Sepanjang yang dapat saya ingat, orang-orang asing yang berdatangan ke Indonesia sepanjang Ramadhan ini berasal dari Malaysia, Pakistan, Kanada, Italia, Amerika Serikat, Belanda, Rusia, Inggris, Perancis, Cekoslowakia, Iran, Palestina, Australia, Korea Selatan, Cina, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Mereka bukan hanya muslim, melainkan pula nonmuslim. Mereka ikutan membangunkan sahur sambil bernyanyi, mencoba berpuasa, ikutan shalat, berburu takjil, ikut shalawatan, takbiran keliling, ngabuburit, dan lain sebagainya. Orang-orang Islam Indonesia pun tidak mempermasalahkan agama mereka apa, sama-sama saja bergembira. Hal ini bisa dilihat dari chanel-chanel youtube dan instagram mereka. Coba saja cek sendiri.

            Orang-orang nonmuslim dari berbagai negara pun ikut mengucapkan takbir karena mereka merasa senang. Hal ini membuat saya semakin mengerti bahwa para wali di Indonesia itu orang-orang cerdas menggunakan seni dan syair-syair yang menyenangkan untuk mendakwahkan Islam. Orang-orang asing tak lagi memandang bahwa takbir adalah teriakan untuk perang dan membunuh, tetapi untuk mengagungkan Tuhan dan mempererat hubungan di antara manusia.

            Takbir memang bisa digunakan untuk berperang agar mengukuhkan tauhid, menambah semangat, dan menggetarkan musuh. Akan tetapi, itu jika kita sedang terlibat perang.

            Kalau tidak sedang berperang, tidak perlu bertakbir untuk menakuti orang, iya kan?

            Bertakbirlah untuk hal-hal yang menyenangkan sehingga orang lain pun ikut senang.

            Sampurasun.

Tuesday, 13 April 2021

BELAJARLAH BERTERIMA KASIH

 oleh Tom Finaldin

Dari kecil penuh semangat ingin menjadi orang besar. Makanya, belajar dengan bersungguh-sungguh. Negara Indonesia memberinya beasiswa untuk kuliah di dalam dan di luar negeri. Lalu, dia berhasil menjadi pengacara hebat.

Sayangnya, hatinya tidak terdidik. Batinnya sempit. Dia hanya berpikir untuk dirinya dan kesuksesannya sendiri. Di luar negeri dia bikin fitnah terhadap Indonesia yang telah membiayainya belajar. Dia bilang itu kritik terhadap negara. Akan tetapi, ketika dipanggil polisi agar membuktikan ucapannya, dia lari ke luar negeri karena tak punya bukti. Oleh sebab itulah, dia disebut telah menyebar fitnah terhadap negaranya.

Dia kini jadi buronan polisi. Lari ke luar negeri dan takut pulang ke Indonesia. Masalah terbesar dia hanyalah satu, "tidak tahu terima kasih". Negara yang telah membiayainya belajar, difitnah. Luar biasa.

Pada Ramadhan yang suci dan mulia ini, mari kita ingat-ingat, siapa saja orang atau pihak yang berjasa menolong kita dalam hidup ini, baik besar maupun kecil. Mereka adalah pegangan yang telah membantu kita melewati banyak masa dalam sejarah kita. Tak elok jika membuat keburukan kepadanya ataupun menyakitinya.

Ada banyak orang yang telah membantu kita. Berterimakasihlah kepada mereka, siapa pun mereka, dari golongan mana pun mereka. Hubungkan terus kebaikan bersama mereka sehingga insyaallah kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan hari kemarin, lebih disukai dan disayangi orang lain, serta disayangi pula oleh Allah swt karena telah menjaga cinta di antara manusia.

Sampurasun.

Monday, 20 April 2020

Tidak Shaum Ramadhan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaget dengan usul tidak puasa saat Ramadhan?

            Biasa saja ah. Kan banyak orang Islam yang tidak perlu puasa ketika Ramadhan. Bahkan, saya juga pernah melarang isteri untuk puasa karena sedang hamil dan kondisinya luar biasa lemah. Dia kesal ingin tubuhnya segar bugar dan beraktivitas seperti biasa.

            Saya bilang, “Jangan puasa.”

            Setelah menghentikan puasanya, isteri saya kembali bugar. Itu kenyataan. Artinya, ada orang-orang yang tidak usah puasa dan menggantinya dengan puasa pada bulan lain atau membayar fidyah. Ketentuannya sudah ada.

            Beberapa waktu ini kita dikejutkan oleh adanya usul untuk tidak melakukan shaum atau puasa pada bulan Ramadhan karena situasi berada dalam keadaan dilanda pandemi Covid-19. Pertama kali mengetahuinya, saya langsung merasa lucu, pengen ketawa.

           Kan memang sudah ada aturannya, siapa yang tidak perlu puasa dan siapa yang tetap wajib puasa?

            Tidak ada usulan pun, keadaannya sudah seperti itu. Kalaupun ada usulan, ya biarin saja. Dia yang punya usul tidak mengerti tentang hal itu. Cuekin saja.

            Usulan itu menjadi viral karena warganet juga yang membuatnya menjadi terkenal melalui Medsos. Demikian pula media main stream ikut semakin menghebohkannya.

            Yang mengajukan usul untuk tidak puasa pada Ramadhan itu namanya “Rudi Valinka” melalui akun twitter-nya.

            Siapa sih Rudi Valinka itu?

            Ahli syariat Islam, fikih, atau ahli kesehatan?

            Dia kan bukan siapa-siapa.

            Terus, mengapa harus dihebohkan?

            Dia diviralkan karena disebut-sebut sebagai “relawan Jokowi” dan penulis “A Man Called Ahok”. Artinya, ada dimensi politis di sana. Orang-orang menyeret Jokowi dan Ahok pada diri Rudi Valinka. Padahal, Jokowi dan Ahok tidak ada urusannya dengan usulan Rudi Valinka.

            Ingat, Pilpres 2019 sudah usai. Tidak ada gunanya menjatuhkan Jokowi dan Ahok juga sudah dihukum.

            Hey, wake up!

            Sadar!

            Jangan biarkan Rudi Valinka menjadi semakin terkenal. Diemin saja.

            Masih banyak yang harus dipikirkan dan dikerjakan dibandingkan hal-hal yang ecek-ecek seperti itu. Misalnya, kita harus mengurus keluarga kita, terutama mempersiapkan anak-anak kita, baik anak kandung maupun anak didik supaya lebih hebat dibandingkan kita.

            Rudi Valinka itu saya duga nyontek usulan dari politisi Aljazair, namanya  “Noureddine Boukrouh”. Dia memang sebelumnya mengusulkan menunda puasa Ramadhan di Aljazair untuk menghadapi penyebaran virus corona. Katanya, orang yang berpuasa rentan untuk sakit. Padahal, dia cuma politisi, bukan dokter dan bukan ahli syariat Islam. Usulannya itu membuat publik Aljazair heboh. Itu menguntungkan bagi dia dari sisi popularitas. Makanya, seharusnya diemin saja, aturannya sudah ada kok tentang siapa yang wajib berpuasa dan tidak perlu berpuasa. Pegang saja aturan itu, beres semuanya.

            Dalam kondisi “physicall distancing” ini, anggap saja kita seperti ulat jelek menakutkan yang sedang berada dalam kempompong, tidak bisa kesana-kemari. Diam di tempat sambil membina dan mempersiapkan diri hingga waktunya tiba keluar dari kepompong dan menjadi kupu-kupu yang indah menawan hati. Banyak introspeksi diri, mendekatkan diri pada Illahi. Apalagi jika sudah masuk Ramadhan, lebih banyak kesempatan dan anugerah untuk memperbaiki diri. Mari kita sama-sama manfaatkan kesempatan itu.

            Kalau Allah swt mengangkat wabah Covid-19 dari Indonesia pada akhir Ramadhan ini, berarti kita memiliki “tiga kemenangan”. Ingat, kita sering menyebut “Idul Fitri” sebagai “Hari  Kemenangan” disebabkan sejarahnya kita memiliki “dua kemenangan”, yaitu “menang menyelesaikan puasa sebulan penuh” dan “menang mengusir penjajah” dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan “Jumat, 9 Ramadhan 1364”. Jika wabah ini diangkat Allah swt pada Ramadhan, kita punya tiga kemenangan karena ditambah satu kemenangan, yaitu “menang dengan kesabaran menghadapi ujian berupa wabah penyakit”.

            Hayu ah, mari, daripada ngomongin usulan Si Rudi Valinka yang bukan ahli syariat Islam dan bukan pula ahli kesehatan, lebih baik persiapkan diri hingga selepas wabah ini kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi. Bagi yang ingin membina dan mempersiapkan diri dan atau keluarga untuk menjadi lebih baik lagi bersama kami, klik http://pmb.unfari.ac.id




           Sampurasun.

Thursday, 11 May 2017

Saatnya Meninggalkan Ulama Terbelakang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kehidupan ini berkembang dan terus maju mengikuti putaran roda zaman yang berubah-ubah. Apa pun kondisi kita, siap tidak siap, zaman terus melaju dalam iramanya yang telah ditetapkan Allah swt. Waktu terus berjalan dan meninggalkan semua yang tidak siap. Demikian pula pemahaman-pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam semakin berwarna sesuai dengan kehidupan modern. Islam tidak akan pernah ketinggalan zaman, tetapi selalu saja ditahan-tahan untuk tidak berkembang oleh para ulama yang terbelakang. Mereka adalah ulama-ulama yang jiwanya masih tenggelam dalam dendam lama tentang kisah-kisah kejatuhan kekhalifahan Turki, ulama yang mudah memberikan cap “kafir dan sesat” dengan hal-hal baru yang tidak mereka pahami dengan benar, ulama yang terlalu banyak menyuguhkan dongeng-dongeng irrasional dengan menyandarkan kegaiban pada “kekuasan Allah swt”, ulama yang terlalu menikmati penghormatan umat sehingga berbicara tanpa pengetahuan yang benar, ulama yang terlalu banyak berimajinasi dan menikmati khayalannya untuk disebarkan pada masyarakat, ulama yang enggan untuk berdebat tentang kebenaran karena takut kalah, ulama yang kerap menyatakan dirinya paling benar tentang pemahaman suatu ayat, ulama yang keras kepala, dan lain sebagainya. Mereka adalah ulama-ulama terbelakang yang harus segera ditinggalkan karena akan menghambat kemajuan umat Islam dalam “mengendalikan” manusia. Merekalah yang sesungguhnya membuat umat Islam tetap dalam kondisinya yang lemah dan terbelakang.

            Jujur saja, dengan banyaknya buku referensi yang bisa didapat hari ini dan praktik-praktik spiritual yang bisa dilakukan dengan lebih baik pada zaman ini, banyak sekali ayat Al Quran yang pemahamannya justru berbeda dibandingkan dengan pemahaman lama. Ayatnya tetap sama, tetapi pemahamannya bisa lebih baik. Ulama-ulama terbelakang akan mengatakan bahwa pemahaman yang telah berkembang itu sebagai “sesat” dan “kafir”. Termasuk pula pemahaman tentang QS Al Maidah : 51. Orang-orang menduga bahwa itu larangan untuk memilih Kristen dan Yahudi untuk menjadi pemimpin dalam berbagai situasi, baik perang maupun damai, termasuk dalam sistem politik demokrasi. Sesungguhnya, saya bisa membuat satu buku khusus tentang pemahaman yang benar mengenai QS Al Maidah : 51 yang lebih baik dan berbeda jauh dengan yang diduga orang saat ini. Saya bertanggung jawab penuh terhadap hal itu secara keilmuan. Seandainya ada penerbit yang tertarik menerbitkan naskah itu, saya bersedia menyusunnya untuk menjadi pemicu agar orang-orang berani berpikir, berani mengambil terobosan, dan berani memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan cara-cara yang lebih logis, rasional, dan tidak irrasional. Dalam beberapa tulisan di blog ini pun, saya menulis sedikit tentang pemahaman saya tentang QS Al Maidah : 51, bahkan ada yang satu tulisan mencapai enam belas halaman. Saya sengaja menulis itu untuk menantang orang lain berdebat, siapa pun itu. Akan tetapi, ternyata tidak ada yang berani mendebat tulisan saya. Orang-orang mungkin terlalu pengecut dengan alasan “kita harus memperkecil perbedaan dan melebarkan persamaan”. Alasan itu tidak tepat di dalam ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan itu bersifat “jujur” serta akan mengatakan salah jika dirinya salah dan akan mengatakan benar jika dirinya benar. Alasan itu hanya tepat dalam hubungan hidup sehari-hari ketika kita bersosialisasi. Orang-orang tidak mau mendebat saya mungkin karena ingin selalu berbeda sehingga dapat menggunakan perbedaan itu untuk kepentingan politik dan ekonominya. Sungguh, pemahaman QS Al Maidah : 51 itu lurus dan hanya satu. Hal yang membuat berbeda adalah keterbelakangan dan penggunaan ayat untuk kepentingan politik dan ekonomi.

            Baru-baru ini saya mendengar ulama terbelakang berceramah tanpa ilmu pengetahuan yang benar sehingga menyesatkan orang lain.

            Pengen tahu?

            Dalam ceramahnya dia memuji-muji kemuliaan Ramadhan yang dibumbui dongeng tidak masuk akal, tetapi disampaikan seolah-olah benar.

            Ulama itu berkata, “Saking mulianya bulan Ramadhan yang penuh ampunan, orang-orang yang sekarang sedang disiksa di dalam neraka pun dihentikan siksanya. Mereka diberikan waktu untuk berhenti dari siksa selama bulan Ramadhan.”

            Para pembaca mungkin kalau tidak saya bahas sekarang akan langsung percaya. Apalagi jika ulamanya janggutnya panjang, bajunya longgar kayak orang-orang Arab, sorbannya sedikit lecek, dan di tangannya ada tasbih.

            Iya kan?

            Enak bener orang itu berceramah kayak yang tahu saja. Dia mungkin sudah dimabuk hormat sehingga apa pun yang dia katakan akan dipercaya orang lain. Mungkin para pengikutnya percaya saja 100%, tetapi saya tidak akan pernah percaya karena ceramahnya tidak masuk akal.

            Memangnya siapa yang sudah masuk neraka sekarang?

            Bukankah kiamat belum terjadi?

            Bukankah manusia dikumpulkan di padang Mahsyar belum terjadi?

            Bukankah hari pengadilan akhirat belum terjadi?

            Bagaimana mungkin pengadilannya belum digelar, tetapi sudah ada yang dihukum dalam neraka?

            Untuk apa ada pengadilan akhirat jika sejak sekarang sudah ada yang dihukum berada di dalam neraka?

            Bahkan, menurut Dr. Deden Suhendar, teman saya yang mendapatkan nilai cum laude dari Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Padjadajaran Bandung bahwa surga dan neraka itu “belum diciptakan”. Surga dan neraka diciptakan nanti setelah dunia ini dihancurkan. Berdasarkan keterangannya itu sudah pasti belum ada orang yang berada di dalam neraka karena nerakanya juga belum diciptakan.

            Kalau begitu, apa dasar ilmu yang digunakan ulama itu bahwa sudah ada orang yang berada dalam neraka saat ini?

            Itulah ulama terbelakang yang gemar menceramahkan dongeng-dongeng dan bukan ayat-ayat Al Quran.

            Umat Islam harus terbuka untuk menerima pemahaman baru mengenai Islam. Generasi muda pun harus berani “menggebyarkan” pemikiran-pemikiran baru tentang Islam dan jangan takut terhadap para ulama terbelakang yang gemar dengan cap “kafir dan sesat”. Islam itu mendorong kemajuan berpikir dan bukan membatasi hidup manusia  soal halal, haram, sunah, makruh saja. Islam adalah agama yang membebaskan manusia untuk berpikir dan berbuat lebih baik untuk manusia dan kemanusiaan dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno mengatakan dengan tegas sekali, Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah yang telah saya tuliskan di dalam satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan bukan hanya karena fardhu atau sunnah, melainkan juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batas zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna, yang lebih tinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, creation baru.”

            Islam itu maju dengan pemikiran baru, bukan statis terkurung aturan-aturan tak logis.


            Sampurasun.

Wednesday, 24 August 2016

Tahun "Rasa" Kemenangan Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Tahun 2016 terasa ada yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Memang tidak dapat dibuktikan dengan nyata, tetapi fenomenanya terasa nyata. Ramadhan tahun 2016 terasa sekali aura semangat kaum muslim dan saudara-saudara nonmuslim Indonesia dalam menyambut dan melewati setiap waktunya. Banyak yang sangat terpengaruh dan merasakan kegembiraan luar biasa. Kegembiraan dan semangat hidup yang lebih baik itu pun terlihat pada saat memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71. Seluruh masyarakat, baik di pusat, provinsi, kota, kabupaten, kecamatan, bahkan kelurahan dan desa merasakan semangat yang tinggi dalam memperingatinya. Berbagai atraksi permainan dan patriotisme ditampilkan untuk menunjukkan diri sebagai rakyat yang bangga terhadap negerinya. Bahkan, kegembiraan, keriangan, dan semangat ini pun bukan hanya terasa di dalam negeri, melainkan pula sampai ke luar negeri sekalipun mereka bukan orang Indonesia asli dan belum pernah ke Indonesia. Tak heran Presiden AS Barack Obama menyampaikan ucapan selamat HUT RI ke-71, demikian pula warga Brazil yang ikut mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus ikut gembira atas kemenangan Tontowi & Liliyana dalam cabang bulu tangkis yang berhasil mendapatkan medali emas di Rio de Janerio. Kemenangan bulu tangkis itu merupakan pula bonus “rasa” kemenangan bagi Indonesia.

            Rasa kemenangan seperti yang banyak orang Indonesia rasakan hanyalah perasaan yang ada di Indonesia, sama sekali tidak dimiliki di negara lain di dunia ini. Hal itu disebabkan Proklamasi Kemerdekaan RI dilaksanakan pada tanggal 9 Jumat bulan Ramadhan yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945. Hal itu pula yang menyebabkan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia disebut “Hari Kemenangan”. Disebut hari kemenangan karena pada saat itu Indonesia berhasil menang atas perlawanan terhadap penjajahan yang ditandai dengan dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan ditambah dengan kemenangan selesai melaksanakan ibadat shaum Ramadhan. Jadi, ada dua kemenangan yang dirasakan bangsa Indonesia, yaitu menang dengan proklamasi dan menang selesai shaum.

            Selepas itu, diselenggarakan pula mudik dan tradisi halal bil halal yang hanya terjadi di Indonesia. Mudik dan halal bil halal itu terjadi untuk mencairkan suasana bangsa Indonesia yang baru saja terlepas dari penjajahan. Hal itu disebabkan ketika Indonesia masih berada dalam kekuasaan para penjajah, sering terjadi bentrokan di antara rakyat Indonesia sendiri. Sebagian rakyat melawan penjajahan, sebagian lagi membela penjajahan. Kedua kelompok ini sering sekali bentrok dan bertikai. Para pejuang menyebut mereka yang membela penjajahan sebagai “pengkhianat bangsa”. Akan tetapi, ketika Belanda dan Jepang berhasil dikalahkan melalui jalur diplomasi dan militer oleh Indonesia, kemudian dikumandangkan proklamasi oleh Soekarno-Hatta, para “pengkhianat bangsa” kelimpungan, kehilangan induk karena pihak-pihak yang mereka bela harus angkat kaki diusir dari tanah air Indonesia. Mereka bingung dan kehilangan arah, tak tahu lagi harus bagaimana. Orang-orang yang mereka perangi telah menang. Mereka pun takut terjadi pembalasan dan penghukuman dari para pejuang yang telah menjadi pemenang perang. Para santri melihat hal itu, kemudian merasa kasihan kepada para pengkhianat bangsa itu. Akhirnya, diselenggarakanlah acara halal bil halal sebagai sarana untuk saling memaafkan yang artinya para pengkhianat itu hendaknya segera dimaafkan karena para penjajah telah kalah dan sebagai sesama bangsa Indonesia harus tetap menjalin silaturahmi. Dimulailah kegiatan mudik dan halal bil halal yang terus berlangsung sampai hari ini untuk saling melupakan masa lalu yang kelam. Itulah kearifan lokal yang hanya ada di Indonesia.


Memupuk Rasa Kemenangan

Perasaan itu harus tetap dijaga dan disirami agar selalu tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat. Ramadhan dan HUT RI itu harus tetap mampu membakar jiwa agar selalu bersemangat dalam menghadapi hidup dan kehidupan. Semangat kemenangan kebersamaan itu lambat laun akan membuat malu para koruptor, para pengkhianat, para kaki tangan asing, para pedagang undang-undang, para provokator, para perusuh, para penipu, para petualang curang, dan para penjahat di negeri ini. Biarkan mereka malu karena ketika orang-orang bersemangat menunjukkan cinta dan baktinya pada negeri, mereka justru merusakkannya hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan hasil yang tidak seberapa besar. Semangat kebersamaan itu pun akan memberikan sinyal pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang satu dan mencintai kesatuan; negara yang tidak mudah dirobek-robek, dipecah-pecah, dan diadudomba hanya untuk kepentingan mengumpulkan uang; negara yang memiliki rakyat yang penuh patriotisme tinggi yang akan melakukan hal apa saja untuk melindungi negerinya; negara yang ingin tumbuh dengan keadilan bagi setiap rakyatnya; negara yang menganggap setiap rakyat adalah saudara bagi yang lainnya. Dengan demikian, negara lain yang gemar mencampuri urusan negara lain dan hobi membuat huru-hara di negara orang lain serta senang melakukan fitnah di negara lain, akan berpikir ulang untuk membuat kekacauan di Indonesia karena yang mereka lawan adalah seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia akan senang sekali menyingkirkan para pengacau seperti senangnya rakyat Indonesia memenjarakan para koruptor dan menghukum mati para pengedar Narkoba.

            Kita bisa menunjukkan kegembiraan dan kesenangan kita melalui media-media sosial yang ada di internet. Kita dapat meng-upload  berbagai kegiatan patriotisme dan permainan dalam youtube. Upayakan selalu membuat dua tayangan jika ditayangkan di Youtube. Tayangan pertama berbahasa Indonesia sebagaimana aslinya. Tayangan kedua dengan menggunakan bahasa Inggris agar dunia lebih mengenal lagi Indonesia dan semakin menghormati Indonesia. Gunakan judul-judul dengan menggunakan bahasa Inggris dan itu cukup mudah dengan menggunakan fasilitas google translate. Dengan lebih dikenal oleh dunia, orang-orang dari berbagai negara akan lebih penasaran pada Indonesia. Dengan demikian, mereka pun akan datang dengan sendirinya. Jika mereka telah datang ke Indonesia, kita bisa menawarkan banyak kebaikan pada mereka. Jangan kita yang terpengaruhi oleh mereka, tetapi kita yang harus memberikan pengaruh positif bagi mereka karena kita telah cukup mampu menyelesaikan banyak sengketa bersenjata pada berbagai daerah di Indonesia dan cukup mampu mempertahankan kehidupan yang lebih harmonis tanpa rasisme. Hal itu disebabkan mereka masih terjebak dalam rasisme, keberbangga-banggaan diri, dan tujuan hidup yang salah, yaitu hanya bertujuan mendapatkan uang dan materi sebanyak-banyaknya. Itulah yang membuat mereka dan juga banyak orang dari kita hidup tidak pernah tenang karena setiap hari hanya memikirkan uang, uang, dan uang.

            Kata Imam Al Ghazali, “Sungguh malang orang-orang yang pergi pagi pulang sore yang di kepalanya dipenuhi pikiran soal uang dan uang. Mereka sesungguhnya orang-orang yang tidak berilmu.”

            Kata Nabi Muhammad saw, “Seseorang yang hidupnya hanya memikirkan dunia akan diberi pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Sepanjang hidupnya hanya akan dipenuhi pikiran duniawi sejak bangun tidur sampai tidur lagi.”

            Dengan kebaikan, semangat, dan kebersamaan yang kita miliki, kita akan mampu menawarkan kebaikan pada dunia. Syaratnya, kita yang harus menyadari diri bahwa diri kita memiliki banyak kebaikan dan mampu melaksanakan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita tidak menyadari kebaikan yang kita miliki, kitalah yang akan terpengaruhi orang lain sehingga kita pun akan hidup sama sesatnya dengan orang lain.

            Begitulah yang ayah saya ajarkan ketika saya kecil, “Jangan mudah terpengaruhi orang lain, tetapi kamu yang harus mampu mempengaruhi orang lain.”


Tuesday, 5 July 2016

Ssst ... Jangan Ngomongin Soal Bom ... Berisik!

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pada penghujung Ramadhan 1437 H, 2016 M, telah meledak beberapa bom pada beberapa tempat di seluruh dunia. Bom-bom itu meledak di Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi, Indonesia, dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyedot perhatian media massa di seluruh dunia.

                 Sebaiknya, berita-berita semacam itu jangan terlalu dibesar-besarkan. Itu memang berita, tetapi buat saja menjadi berita kecil. Soalnya, mereka yang melakukan peledakan itu cuma narsis. Mereka hanya mencari perhatian dengan mendompleng pada bulan Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri. Apabila berita itu terlalu dibesar-besarkan, kita jadi tertarik pada agenda mereka. Orang-orang itu memang inginnya mendapatkan berita spektakuler dan dianggap eksis berat di muka Bumi ini.

                 Tampaknya mereka itu iri dengan kebahagiaan kaum muslimin pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan tahun ini bukan hanya umat Islam yang merayakannya, melainkan pula umat-umat lain mulai menunjukkan penghormatan yang tulus dan persaudaraannya terhadap kaum muslimin sebagai sesama manusia. Rasa hormat dan kedamaian yang harmonis memang semakin menguat. Khusus di Indonesia, banyak sekali nonmuslim yang merasakan getaran menyenangkan dari suasana Ramadhan dan kebahagiaan Idul Fitri. Hal itu menunjukkan peningkatan yang sangat luar biasa dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

                 Sementara itu, orang-orang yang penuh kebencian semakin terpuruk dengan agenda-agenda kusut mereka. Orang-orang ini sudah tercerabut dari lingkungannya karena memang memisahkan diri dari orang lain dan memastikan dirinya sebagai “kumpulan manusia terbaik” yang tidak memerlukan orang lain lagi. Kasihan mereka. Ketika orang-orang mudik dalam suasana bahagia dan ingin lebih bahagia berkumpul bersama keluarganya di kampung tempatnya lahir, orang-orang kusut pikiran cemburu karena terpisah secara emosi dari keluarga dan sanak saudaranya.

                 Orang-orang yang selama ini menggerakkan dan membiayai mereka pun cemburu berat dengan hal itu. Ketika melihat kaum muslimin bergembira dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang juga mendapatkan penghormatan dari umat-umat lain, mereka merasa tersisihkan. Ketika manusia-manusia yang waras otak berusaha menjaga jalinan hubungan perdamaian dan kasih sayang, orang-orang yang penuh agenda kebencian itu sangat iri, gelisah, dan marah. Oleh sebab itu, mereka membuat banyak huru-hara di tempat-tempat yang dianggap menjadi perhatian manusia.

                 Bagaimana tidak akan iri dengan kebahagiaan kaum muslimin?

                 Kaum muslimin itu memiliki minimal dua kebahagiaan dalam Ramadhan. Kata Nabi Muhammad saw orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika Idul Fitri.

                 Orang-orang yang kusut pikiran tidak memiliki dua kebahagiaan itu. Jelas sekali jika mereka iri. Rasa iri mereka diwujudkan dengan melakukan pemboman di tempat-tempat yang mereka benci. Masjid Nabawi adalah tempat yang mereka benci. Pemboman di tempat itu menunjukkan bahwa mereka membenci kebahagiaan kaum muslimin, mempertahankan suasana tidak aman di negeri-negeri muslim, menciptakan berita dan ceritera bahwa kaum muslimin selalu berada dalam huru-hara, dan menunjukkan betapa narsisnya mereka.


                 Dengan demikian, tak perlu dibesar-besarkan berita tentang perilaku murahan seperti itu. Terlalu rendah bagi kita untuk selalu memperhatikan mereka. Waspada memang harus terus dijaga dan yang lebih penting adalah sekarang saatnya untuk terus mengagungkan Allah swt dan memuliakan kaum muslimin serta menjaga kasih sayang di antara sesama manusia dan menciptakan keseimbangan kehidupan di seluruh alam semesta.

Saturday, 18 June 2016

Hormati Ramadhan dan Orang yang Berpuasa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kalau tidak mau ribut, hormati Ramadhan dan orang yang berpuasa. Itu mutlak. Kalau tidak mau menghormati Ramadhan dan orang yang berpuasa, khususnya di Indonesia, keributan bakalan terjadi. Itu pasti.

            Kita ini sudah beberapa tahap meninggalkan kebiasaan buruk, jangan kembali lagi menghidup-hidupkan kebiasaan buruk lama. Generasi saat kita ini sangat berbeda dengan generasi masa lalu. Dulu orang-orang yang berpuasa bersikap defensif terhadap orang-orang yang tidak berpuasa. Mereka  tidak mau ribut karena sedang berpuasa, harus menahan amarah. Meskipun orang yang tidak berpuasa terkadang bersikap offensif dan mencoba menggoda terkadang melecehkan, orang yang berpuasa tetap tenang dan menjaga stabilitas situasi. Saya masih ingat ketika kecil bagaimana kurang ajarnya para pedagang kakilima menjajakan barang sambil tetap merokok pada siang hari, bagaimana tidak sopannya anak-anak muda merokok dalam Angkot, betapa over acting para nonmuslim keluar masuk rumah makan dan makan minum di tempat terbuka. Sementara itu, orang-orang baik yang berpuasa tidak terlalu ambil pusing. Itu tandanya bahwa orang-orang yang berpuasa sudah sangat toleran terhadap orang yang tidak berpuasa sejak dulu.

            Jangan diingatkan lagi bahwa “orang yang berpuasa harus menghormati orang yang tidak berpuasa”. Dari dulu juga sudah, sudah, sudah menghormati. Jangan diulang-ulang lagi peringatan itu, nggak ada gunanya, nggak perlu, tidak penting, kalimatnya sudah sangat kuno, ketinggalan zaman!

            Perubahan sikap terjadi ketika justru orang-orang yang tidak berpuasa makin hari makin kurang ajar, semakin melecehkan, semakin tidak peduli, semakin tidak menghargai, semakin arogan, serta semakin menantang pengen ditonjok!

            Kayaknya mereka merasa bahagia kalau disiksa. Aneh. Kalau diingatin juga, mereka malah menantang, ngajakin teman-temannya agar tetap bisa berlaku kurang ajar.

            Kita masih ingat bagaimana banyak Ormas Islam yang melakukan aksi-aksi sweeping pada beberapa tahun lalu. Hal itu disebabkan orang-orang yang tidak berpuasa dan kurang ajar tidak menghormati Ramadhan. Makan minum seenaknya, dari mulutnya kerap melecehkan bahwa puasa itu tidak ada gunanya, cuma tradisi Arab. Mabuk-mabukan tidak berhenti, malahan mengganggu orang lain.

            Aksi-aksi Ormas-ormas Islam itu terjadi karena kekesalan terhadap situasi dan kemarahan atas tindakan bodoh dari orang-orang yang tidak menghargai Ramadhan. Aksi-aksi itu bukan hanya dilakukan oleh Ormas Islam, melainkan pula oleh individu-individu yang diberi kekuatan oleh Allah swt secara perorangan. Saya, misalnya, kalau pulang kuliah dulu sama teman-teman menggunakan bus kota atau Angkot. Jika di terminal atau di dalam kendaraan tercium asap rokok, otomatis, saya bereaksi teramat cepat. Saya dengan cepat meledek untuk mempermalukan orang yang merokok. Akibatnya, paling-paling berkelahi. Kalau berkelahi kan hasilnya selalu sama, yaitu kalah atau menang. Biasa saja. Saya juga memang belum bisa meninggalkan kebiasaan merokok, tetapi kalau saat Ramadhan dan di tempat umum, sangat tidak beretika.

            Saya juga sendirian pernah membubarkan orang-orang yang gemar berjudi memancing ikan. Nggak sendirian juga sih, pake akal dikit. Saya sangat kesal setiap lewat tempat itu melihat orang ketawa-ketawa keras-keras kayak dunia hanya milik mereka aja. Berjudi sambil memancing ikan. Rokok di mulutnya tak pernah lepas, sebagian lagi mengunyah makanan. Padahal, saat itu sedang Ramadhan. Dari sejak sebelum dzuhur, mereka sudah memancing sambil judi. Dzuhur dilewat, Ashar juga tidak dipedulikan. Ketika menjelang maghrib, dari masjid dekat situ ada ustadz lagi ngajarin asmaul husna dan bacaan Al Quran lainnya dengan menggunakan speaker. Eh, … para penjudi ikan itu malah ngikut-ngikutin baca asmaul husna dengan main-main memplesetkan bacaan. Terus, ketawa-ketawa bahagia sama teman-temannya. Ketika hampir maghrib, anak-anak berhamburan keluar masjid, pulang ke rumahnya. Sebagian dari anak-anak itu melewati tempat gerombolan pemancing itu.

            Satu-dua anak menyapa yang sedang memancing, “Pak, ….”

            “Ya, cepat sana pulang!”

            Ternyata, anak itu menyapa ayahnya sendiri.

            Gobloknya, ayahnya menjawab sapaan anaknya yang sedang puasa dan pulang mengaji itu sambil merokok dan matanya tetap tertuju pada kail dan umpan.

            Dasar Ortu Bego!

            Ketika memasuki waktu buka puasa, ternyata para penjudi itu pun ikut sibuk. Mereka pada pulang ke rumahnya. Akan tetapi, cuma sebentar. Lalu, balik lagi. Mereka pun ketawa-ketawa lagi.

            Mancing, lanjut terus!

            Semakin malam semakin ribut, semakin ramai. Mereka pasang beberapa lampu neon di tengah kolam ikan itu. Situasi makin seru. Padahal, orang-orang banyak yang tarawih dan ingin suasana tenang untuk meningkatkan kualitas ibadat masing-masing.

            Saya pikir, mereka memang keterlaluan. Saya segera tanya kepada orang-orang siapa mereka itu, lalu kenapa nggak ada yang mengingatkan mereka. Ternyata, mereka itu orang-orang yang selalu ingin dihormati lingkungannya. Mereka merasa harus selalu berada di papan atas di wilayahnya. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang sadar pun enggan berurusan dengan mereka.

            Hmh, … cukup menarik sekaligus mengesalkan.

            Saya coba mengobrol dengan Ketua DKM dan beberapa tokoh masyarakat di sana. Ternyata, tokoh-tokoh di sana baru tersadar bahwa orang-orang itu memang harus diingatkan dan harus dicegah agar tidak melakukan hal-hal berlebihan lainnya. Selama ini, di lingkungan itu para penjudi dan gerombolannya berlaku seperti itu dianggap hal yang biasa, wajar. Hal itu disebabkan masyarakat lainnya seperti tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk menghentikan mereka. Padahal, masyarakat tahu benar bahwa gerombolan itu kerap melakukan banyak kesalahan.

            Saya coba berkoordinasi dengan polisi karena memang ada pelanggaran hukum di sana, yaitu mengganggu ketenangan masyarakat dan menggunakan fasilitas umum secara tidak sah.

            Polisi bilang, “Coba koordinasi dengan RT dan RW.”

            Saya bilang, “Sudah dan sekarang saya bicara sama polisi.”

            Saya tegaskan hal itu agar kalau terjadi sesuatu antara saya dengan gerombolan itu, sudah banyak orang yang tahu. Memang saya kasih waktu satu minggu terhadap gerombolan itu agar berhenti dari melakukan berbagai keburukan di tempat itu. Kalau mereka tidak menurut, saya mungkin akan bikin keributan.

            Beruntung, Allah swt menanamkan rasa malu pada orang-orang itu sehingga mengalah dan menghentikan kegiatan buruk mereka. Perjudian ikan itu tak ada lagi sampai hari ini. Pada saat lebaran mereka memeluk saya sambil menangis. Saya juga menangis. Saling memohon maaf.

            Tentunya, bukan hanya saya memiliki pengalaman seperti itu. Banyak, banyak sekali di luar sana orang-orang yang lebih hebat. Akan tetapi, hal yang ingin saya sampaikan adalah kita sudah mengalami suatu masa ketika masyarakat muslim Indonesia sangat kesal dan marah terhadap tindakan orang-orang yang tidak menghargai Ramadhan dan orang yang berpuasa. Baik Ormas Islam maupun muslim secara individu melakukan hal-hal yang lebih keras dan kasar dibandingkan biasanya untuk menyadarkan orang-orang agar menghargai Ramadhan dan orang-orang yang berpuasa. Dalam ilmu sejarah, masa seperti itu, mirip-mirip dengan istilah “jiwa zaman”. Artinya, pada masa itu zaman memang menghendaki hal seperti itu dan tidak bisa tidak harus terjadi tanpa ada yang menghalangi. Zaman itu membuka zaman lainnya, yaitu zaman yang saat ini kita rasakan.

            Berangkat dari zaman yang penuh kemarahan umat Islam yang terwakili oleh tindakan Ormas-Ormas Islam dan individu-individu yang diberi kemauan, kemampuan, dan kekuatan oleh Allah swt, banyak pemerintah daerah yang mengeluarkan peraturan, baik itu Perda, Perwal, atau Perbup agar seluruh masyarakatnya, baik muslim maupun nonmuslim dapat saling menghargai dalam Bulan Ramadhan. Itu sangat bagus dan harus ditegakkan. Jangan didengerin orang-orang sok tahu yang tidak suka terhadap peraturan tersebut. Hal itu disebabkan kita tidak bisa mundur seperti kondisi masa lalu. Keharmonisan harus semakin dijaga dan saling menghormati harus lebih dipupuk.

            Sebenarnya, sejak awal Ramadhan tahun ini terasa sekali perbedaannya. Suasananya lebih menyenangkan. Ada kegembiraan di dalamnya. Hal ini pun terasa bukan hanya oleh umat Islam, melainkan pula oleh umat-umat lain. Malahan, ada pendeta yang ingin ikutan berpuasa, para preman sembunyi-sembunyi kalau mau makan, banyak gereja menyiapkan tajil untuk berbuka puasa, para nonmuslim ikutan menahan lapar untuk menghargai umat Islam, dan banyak hal baik lainnya.

            Bukankah hal itu lebih menyenangkan dan lebih kondusif?

            Bukankah hal itu lebih mendamaikan hati dan suasana?

            Jangan dikacaukan oleh tuduhan-tuduhan menyesatkan terhadap penertiban-penertiban yang dilakukan pemerintah kepada para pelanggar peraturan. Hanya karena ada warung makan yang ditertibkan, lalu sibuk orang-orang menyalahkan peraturan, menyalahkan pemerintah, padahal yang salah adalah yang melakukan pelanggaran. Sebagai negara yang ingin disebut negara hukum, peraturan harus ditegakan dan dipatuhi. Kalau tidak setuju terhadap peraturan tersebut, lakukan evaluasi dan susun ulang, bukan membenarkan pelanggaran terhadap peraturan yang sedang diberlakukan.

            Salah besar itu orang-orang yang berlebihan mengatakan bahwa warung makan ditutup selama Ramadhan. Itu pernyataan menyesatkan. Sejauh ini saya melihat tidak ada keharusan menutup warung makan. Yang ada adalah perubahan waktu mulai buka usaha warung makan selama Ramadhan. Semuanya harus menyesuaikan diri pada situasi Ramadhan, siapa pun itu. Ramadhan itu “bulan yang tidak biasa”. Oleh sebab itu, kita pun harus berperilaku “tidak biasa”. Kalau biasa-biasa saja, ya biasa saja nggak dapat apa-apa, pantas saja setiap Ramadhan tidak mendapatkan pengaruh positif apa pun dalam hidupnya. Dulu pusing, sekarang gelisah. Dulu stress, sekarang frustrasi. Dulu bego, sekarang bloon.

            Jangan membesar-besarkan hak orang yang tidak berpuasa dan menghubungkannya dengan warung makan karena banyak hal yang sebetulnya tidak terjadi dan hanya ada dalam khayalan. Kesannya hanya dibuat-buat, ngarang. Misalnya, warung makan boleh buka karena ada orang udzur, maksudnya tua.

            Memangnya ada berapa orang udzur yang makan di restoran?

            Orang udzur itu biasanya makan di rumah karena sudah udzur, nggak boleh banyak ke luar rumah. Masa ada orang udzur, tetapi keluyuran di luar rumah. Pagi makan di warung itu, siang di restoran anu, malam di tempat anu. Itu namanya bukan udzur, melainkan “ubur-ubur bangkotan”.

            Memangnya ada berapa ibu hamil yang selalu makan siang di rumah makan?

            Wanita hamil itu seharusnya banyak istirahat di rumah. Kalaupun kerja pada siang hari, biasanya makanannya harus khusus karena suka aneh-aneh, bagusnya bawa bekal dari rumah. Jangan di warung makan.

            Ada berapa wanita menyusui yang sering ke restoran?

            Ada berapa anak-anak yang suka makan di warung makan?

            Anak-anak itu biasanya di rumah sama orangtuanya.

            Memangnya ada gitu orang gila yang makan di restoran duduk dengan nikmat?

            Bagaimana dengan orang nonmuslim?

            Banyak nonmuslim yang sudah mengerti dan berupaya menjaga situasi dengan tidak banyak tingkah memperlihatkan diri tidak berpuasa. Mereka juga sangat berhati-hati sekarang. Itu sangat bagus.

            Jadi, jangan memaksakan hubungan antara buka-tutupnya bisnis makanan dengan orang-orang yang boleh untuk tidak berpuasa. Kalau dipaksa-paksa dihubung-hubungkan, namanya lebay.

            Hal yang lebih parah adalah adanya anggapan bahwa peraturan yang sesungguhnya dibuat untuk semakin membuat Ramadhan kondusif dan semakin memiliki arti terhadap kehidupan disebut sebagai “peraturan bermasalah”. Siapa pun yang beranggapan bahwa peraturan yang positif merupakan “peraturan bermasalah”, sesungguhnya “dirinyalah yang bermasalah”.

            Kalaulah peraturan itu belum sempurna, sempurnakanlah. Kalau dirasa belum lengkap, lengkapi. Kalau dipandang belum adil, tambah agar jadi adil. Begitu cara berpikirnya. Jangan menuduh sebagai “peraturan bermasalah”.

            Hormati Ramadhan dan orang yang berpuasa. Dengan itulah kita hidup lebih baik dan harmonis. Kalau masih ngotot ingin menguji kesabaran orang yang berpuasa, silakan saja, tetapi pasti banyak terjadi keributan.

            Tidak semua orang kuat menahan godaan. Orang-orang yang kuat jangan sombong bahwa dirinya tidak tergoda untuk makan dan minum. Orang-orang yang lemah harus dibantu agar menjadi kuat dengan cara menyingkirkan segala godaan dari dirinya.

            Salah sekali jika ada yang mengatakan, “Saya kuat tidak tergoda meskipun warung makan buka, bahkan ada orang yang makan dan minum di depan saya. Orang-orang yang tergoda itu berarti imannya lemah tidak kuat.”

            Kenapa saya bilang dia itu salah?

            Dia sombong bahwa dirinya sudah kuat dan beriman, tetapi melecehkan saudaranya yang imannya masih sangat lemah. Itu menandakan bahwa dirinya sama saja kurang beriman karena merendahkan orang lain. Sebagai orang Islam yang menyadari diri memiliki iman yang kuat, seharusnya menolong saudaranya yang masih lemah iman dengan cara “meniadakan” segala bentuk gangguan yang dapat menggodanya untuk “batal puasa”. Misalnya, dengan cara mengubah jadwal waktu buka bisnis makanan yang asalnya sejak pagi menjadi sejak sore sampai subuh serta “memberi peringatan keras” terhadap orang yang makan dan minum di hadapan dirinya karena itu adalah sebuah “tantangan”  yang harus dijawab dengan sangat tegas dan keras.


            Hormati Ramadhan dan orang yang berpuasa!