Showing posts with label Masjid Nabawi. Show all posts
Showing posts with label Masjid Nabawi. Show all posts

Friday, 8 November 2019

Saat Kerongkongan Tercekat, Doa Tak Bisa Terucap



oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Di Madinah, Arab Saudi, banyak tempat bersejarah yang dijejak dan dilangkahi Nabi Muhammad saw. Ketika kita ke tempat-tempat itu, maka kaki kita pun menjejak jalan-jalan yang sempat dijejak Sang Rasul saw. Namun, tempat atau spot yang paling utama, paling mengikat hati adalah Raudhoh, area antara mimbar tempat Nabi saw berkhutbah hingga rumah Nabi saw yang kini ada makam Nabi Muhammad saw.

            Raudhoh adalah salah satu tempat mudahnya dikabulkan doa-doa kita. Tak heran jutaan orang mengantri untuk bisa ke tempat itu. Kalaupun sampai di spot itu, orang berjubel dan berdesak-desakan. Kita harus pandai mencari waktu tepat untuk mendapatkan ruang dan situasi yang nyaman untuk beribadat, berdoa, dan menyapa Nabi Muhammad saw dengan segala kalimat salam yang kita tahu dan kita bisa. Oleh sebab itu, saya selama di Madinah sesering mungkin ke tempat itu. Rugi rasanya jika tidak menggunakan kesempatan yang baik itu untuk berdekatan dengan Sang Nabi. Saya lebih suka sendirian dibandingkan banyak orang bersama rombongan karena sendirian merasa lebih khusyuk, lebih privasi, lebih leluasa berdoa, lebih nyambung kepada Nabi Muhammad saw, dan lebih bebas bercakap-cakap dengan Allah swt dengan menggunakan bahasa sendiri.


            Pagi, siang, malam, tengah malam, shubuh, selalu saya intai Raudhoh untuk menemukan suasana yang tepat, nyaman, dan lebih pribadi. Dari hotel, sudah saya siapkan banyak doa, banyak kalimat, nama-nama orang yang menitipkan salam kepada Nabi Muhammad, serta nama mereka yang saya cintai yang juga mencintai saya untuk selalu saling mencintai.

            Akan tetapi, ketika waktu dan suasana yang tepat itu didapatkan pertama kali dan bisa duduk teramat dekat dengan makam Muhammad Rasulullah saw, tahukah apa yang terjadi?

            Kerongkongan tercekat, lidah kelu, semua doa tak bisa terucap, seluruhnya hilang dari ingatan. Saya hanya bisa duduk tertunduk dan menangis. Terisak dan terus terisak, air mata pun tak bisa ditahan. Ada perasaan berdosa, ada ucapan terima kasih kepada Sang Nabi, ada keinginan, ada rasa malu dan takut kepada Allah swt, dan berbagai rasa lainnya. Tak ada kata yang bisa terucap sebelum mampu mengendalikan diri.

            Lambat, perlahan, ketika berbagai rasa itu mulai terkendali, masih belum ada kalimat yang bisa diucapkan kecuali shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. Hal itu berlangsung lama. Hanya shalawat dan salam.

            Perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya terbiasa setiap hari mengucapkan shalawat dan salam di Bandung, Garut, Jakarta, Purworejo, Bali, atau di bagian mana pun di Indonesia ini yang pernah saya datangi. Akan tetapi, ketika mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi dan Nabi Muhammad saw berada di samping saya, sungguh pengalaman rasa yang luar biasa. Wajar jika seorang pecinta menangis ketika didekatkan dengan yang dicintainya.

            Bagaimana tidak bersyukur jika didekatkan Allah swt kepada manusia mulia penuh cinta yang selalu mengajarkan kemuliaan dan cinta?

            Setelah beberapa lama hanya bershalawat dan bersalam, barulah sedikit demi sedikit teringat lagi doa-doa, kalimat-kalimat, dan nama-nama orang yang sebelumnya telah disusun di hotel untuk dipanjatkan kepada Allah swt.  Berbagai keinginan, sejumlah titipan salam, rupa-rupa harapan, dan kehendak cinta pun diucapkan perlahan dengan diselingi shalat sunat dua rakaat berulang-ulang. Berdoa, shalat, berdoa, shalat, begitu seterusnya hingga adzan shubuh berkumandang di Masjid Nabawi.

            Ini soal cinta. Ini soal rasa. Ini soal rasa syukur. Ini soal harapan. Ini soal pengakuan dosa. Ini soal taubat. Ini soal kepasrahan.

            Ini soal ketidakpedulian terhadap penilaian orang lain. Manusia boleh berbicara apa pun tentang ini. Akan tetapi, rasa takut dan pasrah kepada Allah swt, rasa cinta kepada Sang Rasul, keinginan untuk mendekat kepada Pemilik Cinta dan Pengajar Cinta, serta harapan untuk memperbaiki diri tak bisa ditahan oleh siapa pun.

            Kelahiran Muhammad saw, 12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah yang bertepatan dengan 09 November 2019 ini adalah jalan cinta yang Allah swt anugerahkan kepada manusia.

            Apalagi yang lebih membahagiakan ketika hati kita tersambung dengan Muhammad saw dan dilindungi Allah swt?

            Sampurasun

Tuesday, 5 July 2016

Ssst ... Jangan Ngomongin Soal Bom ... Berisik!

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pada penghujung Ramadhan 1437 H, 2016 M, telah meledak beberapa bom pada beberapa tempat di seluruh dunia. Bom-bom itu meledak di Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi, Indonesia, dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyedot perhatian media massa di seluruh dunia.

                 Sebaiknya, berita-berita semacam itu jangan terlalu dibesar-besarkan. Itu memang berita, tetapi buat saja menjadi berita kecil. Soalnya, mereka yang melakukan peledakan itu cuma narsis. Mereka hanya mencari perhatian dengan mendompleng pada bulan Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri. Apabila berita itu terlalu dibesar-besarkan, kita jadi tertarik pada agenda mereka. Orang-orang itu memang inginnya mendapatkan berita spektakuler dan dianggap eksis berat di muka Bumi ini.

                 Tampaknya mereka itu iri dengan kebahagiaan kaum muslimin pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan tahun ini bukan hanya umat Islam yang merayakannya, melainkan pula umat-umat lain mulai menunjukkan penghormatan yang tulus dan persaudaraannya terhadap kaum muslimin sebagai sesama manusia. Rasa hormat dan kedamaian yang harmonis memang semakin menguat. Khusus di Indonesia, banyak sekali nonmuslim yang merasakan getaran menyenangkan dari suasana Ramadhan dan kebahagiaan Idul Fitri. Hal itu menunjukkan peningkatan yang sangat luar biasa dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

                 Sementara itu, orang-orang yang penuh kebencian semakin terpuruk dengan agenda-agenda kusut mereka. Orang-orang ini sudah tercerabut dari lingkungannya karena memang memisahkan diri dari orang lain dan memastikan dirinya sebagai “kumpulan manusia terbaik” yang tidak memerlukan orang lain lagi. Kasihan mereka. Ketika orang-orang mudik dalam suasana bahagia dan ingin lebih bahagia berkumpul bersama keluarganya di kampung tempatnya lahir, orang-orang kusut pikiran cemburu karena terpisah secara emosi dari keluarga dan sanak saudaranya.

                 Orang-orang yang selama ini menggerakkan dan membiayai mereka pun cemburu berat dengan hal itu. Ketika melihat kaum muslimin bergembira dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang juga mendapatkan penghormatan dari umat-umat lain, mereka merasa tersisihkan. Ketika manusia-manusia yang waras otak berusaha menjaga jalinan hubungan perdamaian dan kasih sayang, orang-orang yang penuh agenda kebencian itu sangat iri, gelisah, dan marah. Oleh sebab itu, mereka membuat banyak huru-hara di tempat-tempat yang dianggap menjadi perhatian manusia.

                 Bagaimana tidak akan iri dengan kebahagiaan kaum muslimin?

                 Kaum muslimin itu memiliki minimal dua kebahagiaan dalam Ramadhan. Kata Nabi Muhammad saw orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika Idul Fitri.

                 Orang-orang yang kusut pikiran tidak memiliki dua kebahagiaan itu. Jelas sekali jika mereka iri. Rasa iri mereka diwujudkan dengan melakukan pemboman di tempat-tempat yang mereka benci. Masjid Nabawi adalah tempat yang mereka benci. Pemboman di tempat itu menunjukkan bahwa mereka membenci kebahagiaan kaum muslimin, mempertahankan suasana tidak aman di negeri-negeri muslim, menciptakan berita dan ceritera bahwa kaum muslimin selalu berada dalam huru-hara, dan menunjukkan betapa narsisnya mereka.


                 Dengan demikian, tak perlu dibesar-besarkan berita tentang perilaku murahan seperti itu. Terlalu rendah bagi kita untuk selalu memperhatikan mereka. Waspada memang harus terus dijaga dan yang lebih penting adalah sekarang saatnya untuk terus mengagungkan Allah swt dan memuliakan kaum muslimin serta menjaga kasih sayang di antara sesama manusia dan menciptakan keseimbangan kehidupan di seluruh alam semesta.