Showing posts with label Nabi Muhammad saw. Show all posts
Showing posts with label Nabi Muhammad saw. Show all posts

Sunday, 21 May 2023

Lucu, Kiyai Imaduddin Dilaporkan ke Polisi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bagi saya beneran lucu ini. Beberapa waktu lalu saya sudah menulis bahwa Gus Fuad Plered ingin melaporkan Rabithah Alawiyah, organisasi para habib, ke polisi karena telah melakukan kebohongan publik sejak 1928 dengan mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, padahal tidak ada buktinya. Gus Fuad menyandarkan pendapatnya itu pada hasil penelitian Kiyai Imaduddin yang menegaskan bahwa nasab Ba Alawi terputus dari Nabi Muhammad saw selama 550 tahun. Artinya, para habib di Indonesia ini tidak terbukti secara ilmiah bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad saw.

            Keinginan Gus Fuad itu ditentang Kiyai Imad. Sebagai seorang akademisi, Kiyai Imad tidak ingin memenjarakan orang lain. Dia ingin justru ilmu pengetahuan berkembang dan masyarakat menjadi cerdas. Kelihatan sekali Kiyai Imad itu seorang akademisi karena bagi seorang akademisi, kepuasannya adalah mendapatkan ilmu baru, bukan mengalahkan orang atau menjatuhkan orang lain. Bahkan, orang yang berbeda pendapat dengannya akan dianggap sebagai partner berpikir untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Itulah ciri-ciri seorang alim.

            Gus Fuad harus puas meskipun tidak puas dengan penentangan Kiyai Imad. Toh, yang membuat penelitian adalah Kiyai Imad bukan Gus Fuad atau orang lain. Gus Fuad sendiri tampaknya bukan ingin memenjarakan orang lain juga, melainkan ingin memindahkan perdebatan ke meja pengadilan. Sayangnya, ditentang Sang Peneliti, Kiyai Imad. Akan tetapi, lucunya justru yang membuatnya kemungkinan masuk ke pengadilan adalah para oknum habib sendiri. Sebuah organisasi yang katanya rakyat atau warga melaporkan Kiyai Imad ke polisi karena penelitiannya dianggap tercela dan mengadu domba. Nama organisasinya adalah “Majelis Muhyin Nufuus”. Netizen mencari tahu organisasi itu dan ternyata di dalamnya dipenuhi para habib.

            Kiyai Imad pun menyatakan siap melayaninya di pengadilan. Bahkan, ini menurut saya akan semakin mempermalukan para habib sendiri karena yang dilaporkan itu hasil penelitian. Mestinya, hasil peneltian itu diuji di universitas, bukan di pengadilan. Akan tetapi, karena sudah dilaporkan, akan dibuka penelitian itu dalam persidangan dan menurut Kiyai Nur Ikhya Salafy, sama saja para oknum habib itu menggali kuburnya sendiri.

            Tidak jauh-jauh, saya membayangkan sejak awal penelitian itu dibuka di pengadilan yang juga terbuka untuk umum, orang akan menyaksikan fenomena yang melatarbelakangi penelitian Kiyai Imaduddin. Fenomena itu adalah peristiwa atau kejadian yang membuat peneliti merasa penasaran, kemudian mendorongnya untuk melakukan penelitian. Sebagaimana yang dikatakan Kiyai Imad dalam berbagai kesempatan bahwa fenomena yang melatarbelakangi penelitiannya adalah banyaknya orang yang mengaku keturunan Nabi Muhammad saw, tetapi ucapan dan perilakunya jauh menyimpang dari baik pribadi Nabi Muhammad saw atau ajaran Rasululllah saw. Jika hakim, jaksa, ataupun pengacara meminta bukti ucapan dan perilaku oknum habib yang bertentangan dengan Nabi Muhammad saw atau ajaran Islam, akan dibeberkanlah perilaku-perilaku itu, baik melalui catatan media, tayangan video pribadi, ataupun yang sudah tersebar di youtube. Kemudian, perilaku-perilaku itu dikonfrontir dengan ayat-ayat Al Quran dan Hadits. Pada awal pembeberan fenomena saja sudah akan sangat memalukan para oknum habib itu.

            Sekarang saja semua orang mudah sekali melihat bagaimana ucapan dan perilaku oknum habib itu yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan Nabi Muhammad saw. Para youtuber sudah berinisiatif mengumpulkannya sendiri bagaimana kata-kata kotor, merendahkan, arogan, dan yang dipenuhi kata-kata berasal dari kebun binatang yang diumbar oknum-oknum habib itu. Semua orang bisa melihat mereka, coba cek saja sendiri. Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan tayangan tentang hal itu.

            Itu baru fenomena, belum masuk ke sumber kajian pustaka. Kalau masuk ke sumber kitab rujukan, akan tampak sekali kitab-kitab yang menjadi pegangan Kiyai Imad dan melemahkan sumber rujukan para oknum habib itu mengingat sampai sekarang pun para oknum habib tidak memiliki sumber sumber selengkap Kiyai Imad.

Inilah yang menurut saya lucu. Kiyai Imad menentang Gus Fuad untuk memenjarakan orang, tetapi para oknum itu sendiri yang memilih berdebat di pengadilan dan terbuka untuk umum. Padahal, sampai sekarang, mereka belum bisa membuktikan diri sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, baik melalui kitab rujukan yang bisa dipercaya, sertifikat internasional dari negara asal, maupun hasil tes DNA. Mereka masih bertahan pada pendapat para ulama yang salah satunya menyatakan bahwa ada kewajiban untuk mencintai Ba Alawi dan kalau tidak mencintai, mungkin akan masuk neraka. Kalau diperhatikan lebih jauh, ulama yang mengatakan itu ternyata masih oknum habib juga yang berasal dari Ba Alawi. Pantas atuh kalau begitu mah.

Maaf ya kepada para habib yang baik dan shaleh. Tidak akan berkurang rasa hormat saya kepada para habib shaleh yang penuh ilmu dan mencerahkan umat. Saya hanya tidak menyukai oknum habib yang bagi saya menyesatkan umat. Saya punya banyak kerabat, keluarga, dan murid. Saya harus menyelamatkan mereka dari pikiran sesat sebatas yang saya mampu dan sebatas yang saya yakini kebenarannya.

Karena sudah dilaporkan  ke polisi, mari kita lihat kelucuan selanjutnya di persidangan.

Sampurasun.

Sunday, 7 May 2023

Para Habib Harus Berani Tes DNA

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya mudah saja menyelesaikan soal perhabiban ini. Namun, dibuat rumit karena tidak terbiasa berdebat ilmiah, tidak terbiasa berbicara secara terpelajar, dan tidak terbiasa berbesar hati.

            Kan sudah sudah jelas bahwa nasab para habib di Indonesia ini diragukan karena tidak ada buktinya mereka itu adalah keturunan Nabi Muhammad saw. Hal itu disebabkan dalam kitab abad ke 5-6 Hijriyah “As Sajarah al Mubarokah” Imam Fakhrurrazi menjelaskan bahwa Ahmad bin Isa hanya mempunyai anak tiga orang, yaitu: Muhammad, Ali, dan Husein. Selama berabad-abad seperti itu. Akan tetapi, tiba-tiba muncul nama “Ubaidillah” pada sekitar tahun 1700-1800-an, ada yang menyebutnya tiba-tiba muncul pada abad 10. Inilah yang dipermasalahkan oleh Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani.

            Dari kitab abad awal yang mana nama Ubaidillah ini disebutkan sebagai anak dari Ahmad bin Isa?

            Kalau memang benar anaknya, seharusnya tertulis juga pada abad-abad yang awal. Akan tetapi, dalam kitab awal itu Ahmad bin Isa hanya punya anak tiga dan tidak ada yang bernama Ubaidillah. Artinya, menurut Kiyai Imad, nasabnya terputus, tidak nyambung ke Nabi Muhammad saw. Akibatnya, seluruh para habib di Indonesia ini pun terputus, tidak nyambung ke Nabi Muhammad saw.

            Sebetulnya, mudah diselesaikannya. Tunjukkan saja sumbernya, kitab abad awal yang mana yang menjadi rujukan bahwa Ubaidillah itu anak dari Ahmad bin Isa. Kesulitannya adalah sampai hari ini kitab itu tidak ada. Artinya, tidak ada sumber ilmu yang menjelaskannya. Terputuslah silsilah itu sampai ditemukan buktinya. Diragukanlah bahwa para habib di Indonesia ini merupakan keturunan Nabi Muhammad saw.

            Sesungguhnya, kalaulah buku atau kitab rujukan itu tidak ada, masih ada jalan lain untuk membuktikan hubungan nasab itu sampai kepada Rasulullah saw. Sayyid Zulfikar Basyaiban menjelaskan bahwa hubungan nasab itu harus ada syahadah atau semacam sertifikat dari negara asal para habib itu, misalnya, dari Maroko, Mesir, Iran, atau Irak, dan bukan dari Indonesia. Masalahnya, para habib itu hanya punya catatan atau buku dari Rabithah Alawiyah yang ada di Indonesia yang berdiri pada 1928. Kalau ada dari negara asalnya, itu bisa menjadi bukti pengakuan dari internasional. Kalau tidak ada, ya pasti diragukan hubungan nasab itu tersambung ke Nabi Muhammad saw.

            Sebenarnya, kalau bukti kitab abad awal tidak ada dan sertifikat internasional tidak ada, masih ada jalan lain untuk membuktikan hubungan nasab itu, yaitu dengan tes DNA, sebagaimana yang dikatakan Kiyai Imad. Itu lebih mudah sebenarnya. Sayangnya, para habib itu tidak ada yang melakukannya, tampaknya mereka takut dengan hasilnya jika tidak tersambung secara ilmiah ke Nabi Muhammad saw. Pada tulisan yang lalu saya sudah bilang bahwa Najwa Shihab itu setelah tes DNA, ternyata jangankan dekat ke Nabi Muhammad saw, ke Arab saja sudah jauh. Najwa malah lebih dekat ke Asia Selatan atau India.

            Berbeda jauh dengan para kiyai keturunan wali songo. Mereka tanpa diminta pun sudah melakukan tes DNA sendiri untuk keperluan sendiri, mengonfirmasi kebenaran catatan kuno mereka. Mereka tidak yakin bahwa dirinya merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Soalnya, mereka merasa aneh secara fisik. Nabi Muhammad saw itu orang Arab, badannya besar, hidungnya mancung, tinggi, sementara itu mereka kulitnya coklat, pendek, sebagian kurus, dan hidungnya pesek. Untuk itu, mereka berinisiatif tes DNA sendiri.

            Contohnya, cicit Kiyai Sepuh Genggong, Probolinggo, yaitu K.H. Hasan Akhsan Malik melakukan tes DNA sendiri dengan mengirimkan air liurnya ke perusahaan tes DNA “Family Tree DNA” yang bermarkas di Houston, Texas, Amerika Serikat. Hasilnya, menurut Ketua Umum Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) K.H. R. Ilzamuddin Sholeh, ternyata nasabnya tersambung ke Syekh Abdul Qadir  Al Jaelani. Ke atasnya, tersambung ke Sayyidina Hasan yang jelas ahlul bait. Hasilnya jelas bahwa keturunan Kiyai Sepuh Genggong adalah keturunan Nabi Muhammad saw.

DNA (deoxyribonucleic acid) sendiri merupakan molekul yang menyimpan semua informasi genetik dan membawa instruksi untuk fungsi tubuh. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit, dan sifat-sifat khusus dari tubuh manusia.

Kiyai saja berani tes DNA, masa habib tidak. Akan tetapi, kalaupun tidak mau tes DNA, tidak apa-apa. Itu hak, tetapi jangan salahkan orang lain jika pengakuannya selama ini sebagai keturunan Nabi Muhammad saw diragukan.

Kitab sumber pada abad awal tidak ada, sertifikat dari negara asal tidak ada, tes DNA tidak mau.

Bagaimana atuh?

Apa bukti yang mendasari bahwa mereka itu adalah keturunan Nabi Muhammad saw?

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang biasa dipanggil Gus Yahya tampaknya tahu ini semua. Untuk meredam isu ini yang juga menyelamatkan harga diri para habib, Gus Yahya mengambil sikap dengan menyatakan bahwa dirinya percaya bahwa Ba Alawi adalah keturunan Rasulullah saw. Hal ini didasarkan bahwa banyak barokah atau manfaat yang dirasakan bangsa Indonesia dari para habib ini. Pernyataannya itu tidak bisa dipungkiri bahwa memang sangat banyak aktivitas dari Ba Alawi yang bermanfaat bagi Indonesia. Kepercayaan semacam ini oleh netizen disebut sebagai kepercayaan lewat jalur barokah. Sementara itu, menurut Kiyai Imad sendiri kepercayaan seperti ini adalah kepercayaan berdasarkan “prasangka” tanpa bukti data. Itu adalah hak setiap orang. Mau percaya tanpa bukti boleh, mau tidak percaya jika tak ada bukti juga boleh.

Seharusnya, oknum Ba Alawi yang sering teriak-teriak nasab itu meredam kebiasaannya supaya situasi pun menjadi ikut lebih kondusif sehingga perdebatan itu tidak terus berlanjut. Jangan sampai justru oknum-oknum habib ini malah terus bikin narasi yang provokatif, misalnya, mengatakan bahwa lembaga nasab di luar Rabithah Alawiyah adalah palsu atau menuding Kiyai Imad dan siapa pun yang meragukan nasab Ba Alawi adalah munafik, anak haram hasil perzinahan, anak yang lahir dari hubungan seks ketika ibunya haid, syiah, yahudi, dzalim, kafir, dan lain sebagainya. Itu tidak menjernihkan situasi. Itu bisa membuat semakin hari semakin besar kebencian dan kemarahan yang tumbuh, ini sangat berbahaya.

Kalau memang ingin benar-benar diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, tes DNA segera, jangan takut. Terimalah hasil ilmu pengetahuan.

Gus Fuad Plered saja ingin tes DNA meskipun diakui banyak orang sebagai keturunan Sunan Ampel. Dia sendiri masih belum yakin penuh tentang dirinya.

“Saya juga ingin tes DNA. Bisa saja saya ini sebetulnya keturunan Petruk Gareng,” begitu kata Gus Fuad.

Kalau tidak mau tes DNA, buatlah situasi yang lebih tenang sehingga situasi lebih kondusif dan jauh dari pertengkaran yang bisa mengakibatkan huru-hara. Ini Indonesia, hiduplah sebagaimana bangsa Indonesia. Jangan merasa diri lebih tinggi atau menciptakan kasta-kasta dalam masyarakat yang tidak perlu dan tidak masuk akal. Allah swt sendiri yang akan menentukan siapa yang paling tinggi dan mulia berdasarkan ilmunya, ketakwaannya, dan manfaatnya bagi manusia lainnya, bahkan bagi alam semesta.

Sampurasun.

Tuesday, 24 May 2022

Empat Karakter Sahabat Nabi Muhammad saw

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Para khalifah yang besar itu ada empat. Mereka dikenal sebagai khulafaur rasyidin yang artinya “pengganti yang mendapat petunjuk”, terdiri atas dua kata, yaitu khulafa dan rasyidin. Bisa juga kita menyebutnya khalifah yang mendapat petunjuk. Khalifah itu artinya bukan pemimpin, melainkan pengganti.

            Pengganti siapa?

            Pengganti Muhammad saw.

            Petunjuk dari siapa?

            Dari Allah swt.

            Mereka semua orang baik, adil, dan sangat bijaksana dalam membina umat. Akan tetapi, saya tidak ingin menulis hal itu. Saya tertarik terhadap karakter mereka yang berbeda-beda. Mereka adalah Abu Bakar as Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

            Abu Bakar adalah orang yang sangat lembut dan selalu meminta koreksi dari orang lain. Dia tidak ingin dirinya salah. Ketika diangkat menjadi khalifah pun, beliau mengatakan bahwa seluruh umat Islam harus taat kepadanya, tetapi dilarang taat jika dirinya salah. Bahkan, beliau sempat ingin mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa malu tidak melakukan apa pun selama dua tahun, seluruh umat tertib dan tidak pernah ada masalah.

            Utsman bin Affan lebih lembut lagi dibandingkan Abu Bakar. Dia penyayang kepada umatnya dan selalu memperhatikan berbagai kesulitan yang menimpa umatnya. Beliau bahkan mengeluarkan harta pribadinya untuk kepentingan umat.

            Ali bin Abi Thalib adalah orang yang cerdas, bijaksana, dan tegas. Seluruh kebijakannya didasarkan pada pengetahuannya. Dia juga yang menjadi sumber pengetahuan para khalifah sebelumnya. Jadi, ketika dia berperilaku, sumbernya selalu Al Quran dan As Sunnah. Lembut, tegas, dan kerasnya Ali dasarnya adalah pengetahuan dari Al Quran.

            Umar bin Khattab adalah orang yang sangat keras dan cenderung kasar dalam arti positif. Pernah ketika berdakwah pun beliau mematahkan tulang, kemudian dia kirimkan ke pihak lain. Itu isyarat keras yang bisa ditafsirkan “kamu harus mematuhiku atau aku patahkan tulangmu”. Demikian pula ketika seseorang mengadu kepadanya telah ditempeleng oleh seorang gubernur. Umar memanggil gubernur itu di depan Kabah, kemudian menyuruh orang yang menjadi korban penempelengan untuk menempeleng balik gubernur itu.

            Tentu saja, perilaku Umar bin Khattab tidak perlu dilakukan zaman ini karena kita memiliki hukum dan undang-undang. Semua urusan harus melalui pengadilan untuk kemudian diputuskan hukumannya. Saya hanya ingin menerangkan saja bahwa Umar bin Khattab itu orang yang sangat keras.

            So, tidak perlu heran dan tidak perlu aneh jika ada orang yang berdakwah atau membina umat dengan cara yang berbeda-beda karena karakternya juga berbeda-beda. Bisa lembut, sangat lembut, tegas, ataupun keras. Itu karakter bawaan. Kita dzalim jika memaksa orang untuk harus sesuai dengan karakter yang kita inginkan. Itu pasti akan menimbulkan konflik dan persengketaan, jauh dari rahmat Allah swt. Asal isinya berdasarkan Al Quran, Hadits, serta menebarkan cinta dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semesta, semua sah-sah saja.

            Akan tetapi, akan menjadi malapetaka jika sudah memutarbalikan ayat Al Quran, memalsukan hadits, menebar fitnah, menyebarkan kebencian, menggaungkan kebohongan, merendahkan orang lain, menganggap dirinya selalu paling benar dan mulia, atau parahnya menghancurkan hidup orang lain karena kepentingan politik. Hal itu disebabkan di samping menimbulkan dosa, juga merendahkan kemuliaan Islam sendiri.

            Para khalifah yang empat itu meskipun karakter dan cara pembinaan kepada umatnya berbeda-beda, tetapi dasarnya sama, yaitu merujuk pada QS Al Fath, 48 : 29.

            “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

            Saya menggarisbawahi kata-kata “berkasih sayang sesama mereka”. Artinya, para khalifah itu ingin mewujudkan rasa kasih sayang pada umat yang dibinanya. Mau caranya lembut, tegas, ataupun keras, tujuannya tetap menebarkan dan menciptakan suasana yang berkasih sayang. Jangan kaget jika ada orang yang berdakwah dengan karakternya asal tidak berdasarkan kebohongan, niatnya tulus, apa pun karakternya, tujuannya adalah menumbuhkan kehidupan yang berkasih sayang.

            Celakanya, pada zaman ini banyak orang yang memanipulasi ayat ini, yaitu mengafir-kafirkan orang, memurtad-murtadkan orang, menghinakan orang agar orang tertipu sehingga orang yang berbeda dengan dirinya adalah kafir, dzalim, atau murtad. Kemudian, menanamkan keyakinan bahwa kelompoknyalah yang Islam. Dengan demikian, orang-orang yang di luar mereka adalah kafir yang harus disikapi dengan keras sesuai hawa nafsu mereka. Bahkan, disebut halal darahnya untuk dibunuh. Padahal, terhadap orang kafir sendiri pun atau nonmuslim pun asal tidak melakukan permusuhan terhadap kaum muslimin, kita harus tetap baik berperilaku, bahkan lebih baik lagi dalam berhubungan dengan sesama manusia. Ngeri kalau sesama muslim sendiri sudah dikafirkan, lalu dianggap musuh yang harus dikerasi. Nabi Muhammad saw sendiri berbisnis kok dengan nasrani, yahudi, bahkan agama lainnya dengan baik.

            So, para khalifah itu berbeda cara dan karakter, tetapi tujuan dan niatnya selalu baik untuk Allah swt. Kita juga bisa berbeda-beda dan tidak perlu sama dalam membina umat. Kita bisa keras atau sangat keras asal niat dan tujuannya benar dan baik.

            Buat apa lembut dan halus kalau hanya untuk memanipulasi, menipu, dan membodohi orang lain untuk kepentingan duniawi yang remeh temeh?

Setiap orang berbeda-beda, tidak perlu takut untuk berdakwah dengan karakter masing-masing. Kita selalu dilindungi dan dijamin Allah swt sepanjang kita bersama Allah swt dan tidak bersama para penipu agama.

Sampurasun.

Wednesday, 13 April 2022

Penganiayaan terhadap Nabi Muhammad saw

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak sekali sebetulnya penganiayaan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw yang dilakukan oleh kafir Quraisy. Kalau kita baca perjalanannya, ada banyak penganiayaan yang terjadi, baik secara psikis maupun secara fisik. Akan tetapi, yang sering dikisahkan para ustadz hanya sedikit karena kisah-kisah itu yang dianggap dapat menjadi contoh baik yang bisa dijadikan teladan di samping kisah-kisah lainnya. Misalnya, Nabi Muhammad saw disebut orang gila dan penyihir. Diboikot hingga kelaparan sampai mengikat batu di lambungnya untuk menahan rasa lapar. Dilempari batu dan kotoran di Thaif sampai kakinya berdarah-darah, kehausan, dan keletihan luar biasa mengindari pengeroyokan warga. Diludahi setiap hari. Bibirnya sobek, giginya patah, dan punggungnya terluka oleh kaum kafir di Bukit Uhud.

            Perlakuan orang-orang terhadap Nabi Muhammad saw, tentu saja mengerikan dan membuat marah. Bukan hanya manusia beriman yang marah, melainkan pula Malaikat Jibril. Saking marahnya, Jibril menawarkan dirinya untuk menghancurkan orang-orang itu.

            “Kalau engkau mau, ya Rasulullah, aku bisa membalikkan tanah mereka,” kata Jibril.

            Maksudnya, membuat gempa bumi yang membuat orang-orang kafir itu tenggelam ke dalam tanah.

            “Jangan, ya Jibril. Mereka itu hanya orang-orang yang tidak tahu,” jawab Nabi Muhammad saw kepada Jibril.

            Begitu kira-kira kisahnya.

            Jika dipelajari kejadian di seputaran peristiwa itu, kita akan melihat bahwa mereka yang berbeda pendapat dengan Nabi Muhammad saw terdiri atas orang-orang pintar, orang-orang cuek, serta orang-orang bodoh yang terkena hasutan dan sebagian sudah berjiwa bajingan.

Orang-orang pintar itu terdiri atas para pendeta Kristen atau Nasrani dan para Rabi Yahudi. Mereka dengan Nabi Muhammad saw sering sekali berdiskusi dan berdebat keras. Akan tetapi, ya hanya sebatas berdebat, tidak sampai main kekerasan fisik.

Adapun orang-orang bodoh dihasut dengan kebohongan oleh orang-orang kaya kafir Quraisy tentang ajaran Muhammad saw. Bagi mereka yang sudah berjiwa bajingan selalu berupaya menyakiti Nabi saw dengan kekerasan fisik, bahkan pembunuhan.

Ketika Nabi Muhammad saw terluka dan terhuyung-huyung menghindarkan diri di Bukit Uhud, mereka berteriak dusta, “Muhammad telah mati! Muhammad telah mati!”

Mereka memang penipu. Seolah-olah telah menang, padahal episode berikutnya mereka sebagian tunduk kepada Nabi saw, sebagian lagi ditahan, sebagian lagi mati dibunuh dalam perang.

Orang-orang bodoh itu telah dihasut oleh orang-orang kaya kafir yang dirugikan secara ekonomi dan dihentikan kebiasaan buruknya oleh Nabi Muhammad saw. Secara ekonomi, Nabi Muhammad saw mengajarkan kejujuran dan keadilan yang mengganggu kelompok pengusaha dan penguasa Mekah. Kebiasaan buruk mereka merendahkan perempuan pun yang biasanya menguasainya tanpa batas dibatasi oleh Nabi Muhammad saw dengan adanya pernikahan dalam jumlah terbatas.

Begitulah orang-orang bodoh dihasut oleh para bohir bajingan yang menggunakan orang-orang bodoh bajingan pula hingga melakukan kekerasan fisik. Padahal, Nabi Muhammad saw tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Nabi saw hanya menyampaikan gagasan dan pemikiran yang diperolehnya melalui wahyu dari Allah swt. Kalaupun Nabi Muhammad saw melakukan perang, itu terpaksa karena orang-orang kafir selalu ngeyel dan melakukan kekerasan fisik kepada kaum muslimin dan muslimat.

Sampurasun.

Tuesday, 18 May 2021

Tak Ada Perang Agama

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mau dilihat lebih detail, sesungguhnya perang-perang yang disebut-sebut “Perang Agama”, sesungguhnya hanyalah perebutan politik dan ekonomi atau karena tindakan kriminal suatu kaum. Agama dibawa-bawa hanya untuk menutupi keinginan atau kepentingan yang sebenarnya dan untuk mengelabui dunia agar mendapatkan simpati internasional.

            Hal yang lebih celaka adalah umat Islam pun banyak yang menyebarkan pula propaganda di luar Islam untuk mengatakan bahwa banyak perang yang disebut perang agama.

            Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang dicuplik oleh T.D. Sudjana dalam artikelnya pada sebuah prosiding yang berjudul Tokoh Siliwangi dalam Pandangan Tradisi Keraton Cirebon (1991). Ia mencuplik bahwa ketika bangsawan Inggris berkuasa di Yerusalem, mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap kafilah-kafilah saudagar kaum muslim. Oleh sebab itu, “Sultan Salahudin Al Ayubi” marah bukan main, lalu melakukan penyerangan. Kekuatan Inggris pun melemah di Yerusalem. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan simpati dari dunia internasional, pasukan Inggris menyebarkan fitnah bahwa pasukan Salahudin adalah pasukan syetan sehingga pertempuran itu disebut mereka sebagai crusade, ‘Perang Salib’ untuk menimbulkan kesan perang antara agama Kristen dan agama Islam. Umat Islam pun banyak yang mengistilahkan perang itu sebagai “Perang Sabil”. Padahal, perang itu bukanlah perang antaragama, melainkan perang yang terjadi akibat kerakusan dan ketololan pasukan Inggris yang melakukan gangguan terhadap rombongan saudagar Islam.

            Bagi Salahudin, itu bukanlah perang agama, melainkan perang untuk membela kebenaran, kehormatan, dan keadilan yang dilakukan oleh pasukan muslim. Banyak pula sesungguhnya anggota pasukan Salahudin yang tidak beragama Islam. Salah seorang panglima Sultan Salahudin adalah beragama Kristen, namanya Isa. Ia dihadiahi Sultan Salahudin seorang puteri bangsawan Inggris yang dirampas karena Inggris kalah perang.

            Kebencian dan propaganda agama untuk menyudutkan Islam itu tidak berhasil karena Sultan Salahudin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dan membuat pasukan Inggris kalah total.

            Hal yang memperjelas bahwa perang itu bukan perang agama adalah beberapa waktu setelahnya ketika kepentingan politik dan ekonomi Inggris mulai diganggu Musolini dan Hitler, saat Perang Dunia II, Inggris mendekati Islam yang dulu disebutnya syetan itu, kemudian menggunakan semangat Islam untuk mengalahkan Musolini dan Hitler. Inggris berupaya keras untuk mendapatkan dukungan kaum muslimin di Timur Tengah agar sama-sama membenci Musolini dan Hitler. Tak tanggung-tanggung, tank-tank baja pasukan Inggris ditulisi nama SALADIN untuk mengingatkan kaum muslimin terhadap keberanian dan kepahlawanan Sultan Salahudin Al Ayubi. Di samping itu, Inggris tahu betul bahwa nama Saladin adalah lambang moralitas dan sikap mulia hidup muslim yang terpancar dari sosok Sultan Salahudin Al Ayubi. Dengan menggunakan nama SALADIN, Inggris pun berharap bahwa bangsanya dapat dipahatkan dalam sejarah dunia sebagai bangsa yang memiliki “nama baik” sebagaimana aura nama SALADIN dalam sejarah kaum muslimin.

            Begitulah, agama hanya dibawa-bawa untuk mengaburkan tujuan yang sebenarnya, yaitu kepentingan politik dan ekonomi.

            Pada akhir-akhir ini, 2021, Zionis Israel pun menyebarkan propaganda bahwa konflik yang terjadi dengan Palestina adalah sebagai perang agama antara Yahudi dan Islam yang sudah terjadi ratusan tahun lalu. Hal itu dilakukan hanya untuk menutupi tujuan mereka yang sebenarnya, yaitu merampok, mengusir, membunuh, dan menjajah bangsa Palestina. Padahal, di Palestina itu banyak pula yang beragama Kristen, Yahudi, atau kepercayaan lainnya. Demikian pula di Israel, banyak pula yang beragama Kristen dan Islam. Di samping itu, mereka pun rajin mendekati bangsa-bangsa muslim untuk membuka hubungan diplomatik, termasuk terhadap Indonesia melalui tangan Amerika Serikat.

            Orang-orang Zionis Israel itu mulai ada di Palestina sejak 1948, bukan ratusan tahun lalu. Di tanah itu rencananya akan dibuat dua negara merdeka, yaitu Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan. Akan tetapi, Zionis melakukan banyak aksi premanisme, terorisme, dan kriminalisme terhadap Palestina hingga hari ini. Mereka itu orang-orang yang trauma dan ketakutan karena dari zaman ke zaman hidup dalam banyak masalah. Di Mesir Firaun memperbudak mereka, Nabi Muhammad saw mengusir mereka dari Madinah karena banyak membuat gangguan terhadap kaum muslimin, ditolak untuk mendapatkan Palestina pada zaman Kesultanan Utsmaniyah, di Jerman mereka dibantai Hitler, dan berbagai masalah lainnya. Oleh sebab itu, mereka berupaya tetap melakukan kejahatan terhadap bangsa Palestina karena tidak mau kembali menjadi bangsa yang tersisihkan dan dipermalukan seperti zaman-zaman yang lalu.

            Jadi, bukan perang agama yang terjadi, melainkan kepentingan politik dan ekonomi. Umat Islam tidak perlu ikut-ikutan menyebarkan propaganda mereka dengan sama-sama menyebutnya sebagai perang agama karena bisa menambah runyam situasi dan terjebak pada rencana mereka.

            Sebagaimana tadi saya katakan bahwa kalau mau diperhatikan lebih detail, perang agama itu tidak ada. Bahkan, perang-perang yang dilakukan Nabi Muhammad saw pun bukan perang agama, melainkan urusan politik dan ekonomi. Dulu saya sering berdiskusi dengan guru ngaji saya, Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin itu diusir, diburu, dianiaya, dibunuh, dan difitnah bukan karena ritual keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdoa, dan lain sebagainya, melainkan karena urusan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Orang-orang kafir melakukan kejahatan kepada Nabi dan kaum muslimin karena merasa terganggu politik dan ekonominya. Kalau semakin banyak kaum muslimin dan mereka harus patuh kepada Nabi saw, kewenangan mengatur Mekah ada di tangan Nabi saw, diatur oleh Nabi saw. Mereka tidak mau itu terjadi karena kekuasaan mereka harus beralih pula kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula bisnis mereka, seperti,   penyediaan air, makanan, dan perdagangan bagi para peziarah yang datang ke Mekah yang menghasilkan keuntungan ekonomi luar biasa, harus pula menggunakan cara-cara yang dilakukan Sang Nabi. Belum lagi soal perempuan yang bisa mereka “gunakan” kapan saja, Nabi saw melarangnya dengan membatasinya melalui pernikahan dalam jumlah yang juga terbatas, tidak seenaknya. Hal itu semua sangat mengganggu kesenangan kaum kafir. Oleh sebab itu, mereka berusaha keras memusnahkan Nabi saw dan kaum muslimin. Akibatnya, Nabi saw melawan dan kaum kafir pun kalah total.

            Jadi, bukan karena shalat, puasa, haji, atau ritual keagamaan lainnya umat Islam diperangi, melainkan karena kepentingan politik dan ekonomi. Agama hanya dibawa-bawa untuk membungkus dan menyamarkan tujuan sebenarnya, yaitu lima hal: kekuasaan, uang, benda, tempat tinggal, dan seks. Tidak ada tujuan lain, kecuali lima hal itu. Kalau ada tujuan lain, kasih tahu saya.

            Sampurasun.

Friday, 30 October 2020

Rindu Jokowi, Bukan Pemerintah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika perasaan umat Islam terhina, tersinggung, dan marah, sudah seharusnya para pemimpin muslim di mana pun menangkap perasaan umat dan menyuarakannya untuk mewakili umatnya. Demikian pula, Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sangat wajar jika berharap pemimpinnya, Presiden RI Jokowi, memberikan kecaman, teguran, atau paling tidak nasihat untuk Presiden Perancis Emmanuel Macron yang telah menghina Islam dan kaum muslimin. Bahkan, Macron mengatakan bahwa Samuel Paty, guru sejarah yang dipenggal gara-gara mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad saw itu sebagai martir. Tidak perlu kaget jika banyak umat Islam pun menganggap Abdoullakh Anzorov yang memenggal kepala Samuel Paty pun sebagai martir. Itu akan membuat “chaos” baru.

            Pemerintah RI sudah cukup bagus melalui Kemenlu RI melakukan kecaman dan protes dengan cara memanggil Duta Besar Perancis Olivier Chambard untuk menjelaskan sikap dan posisi Indonesia terhadap masalah itu. Akan tetapi, itu kan pemerintah yang sifatnya kolektif kolegial. Bagi rakyat Indonesia, itu belum cukup terwakili. Rakyat menginginkan Jokowi yang bersuara. Rakyat rindu sosok Jokowi untuk bersuara terkait masalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Suara Jokowi itu akan lebih kuat tekanannya dibandingkan ribuan gerombolan demonstran. Ucapannya akan lebih didengar. Rakyat pun akan mendapatkan harga diri yang lebih tinggi jika pemimpinnya berbicara mewakili perasaannya untuk disampaikan pada dunia, terutama terhadap Macron.

            Sampai tulisan ini disusun, belum terdengar Jokowi berbicara hal itu. Rakyat mulai bertanya-tanya dan itu tidak bagus karena akan banyak dugaan terhadap penyebab Jokowi belum juga bersuara.

            Apakah Jokowi merasa cukup suaranya diwakilkan kepada Kementerian Luar Negeri RI?

            Seperti saya bilang tadi, tidak cukup.

            Rakyat ingin mendengar dari Jokowi langsung. Pemerintah memang sudah bersikap dan itu bagus, tetapi rakyat menginginkan mendengar suara Jokowi. Hal itu bisa diperhatikan dari desakan yang disuarakan partai-partai pendukung pemerintah sendiri, seperti, Nasdem dan PDIP. Demikian pula Ormas sekelas GP Ansor pun berharap hal yang sama. Saya yakin banyak elemen masyarakat lain yang menginginkan Jokowi bersuara jelas terkait penghinaan yang dilakukan Macron.

            Kalaulah Jokowi merasa “heurin ku letah”, ‘susah bicara’, terhadap Macron karena Perancis adalah sahabat Indonesia, berbincanglah sebagai sahabat karena sahabat yang baik adalah sahabat yang mengingatkan sahabatnya ketika sahabatnya itu melakukan kesalahan. Dalam hal ini, Perancis adalah sahabat yang sedang melakukan kesalahan yang kalau mengikuti pendapat Menkopolhukam RI Mahfudz M.D., Macron sedang krisis gagal paham terhadap Islam. Jelas Macron sedang kusut pikiran dan melakukan kesalahan yang mengganggu ketenangan dunia.

            Di samping itu, jika terjadi perbincangan dengan Macron, Jokowi bisa ekspor nilai-nilai Pancasila terhadap Perancis dengan menunjukkan adanya UU anti penghinaan, anti penistaan, atau anti penyerangan terhadap agama untuk membina kerukunan umat beragama di Indonesia. Perancis bisa belajar dari hal itu jika ingin lebih tenang dan harus menahan kebiasaan dirinya untuk gemar menistakan agama. Itu adalah hal yang bagus.

            Bisa pula Jokowi bersikap tegas dan keras seperti kepada Cina. Meskipun Indonesia banyak melakukan hubungan bisnis dengan Cina, Jokowi tetap tegas soal kedaulatan negara di Laut Natuna Utara. Jokowi mengharapkan pasukannya untuk dapat menjaga dan mengamankan Laut Natuna Utara dari gangguan Cina. Sikap dia sangat jelas, baik dalam perkataannya maupun dalam sikapnya tentang kedaulatan negara.

            Masa terhadap Cina bisa tegas, tetapi terhadap Macron tidak bisa tegas nyata?

            Rakyat merindukan suara Jokowi, bukan suara pemerintah. Suara pemerintah sudah terdengar dan itu perlu diapresiasi. Suara sosok Jokowi yang belum terdengar. Jangan sampai rakyat menduga-duga penyebab Jokowi tidak bersuara. Itu tidak baik.

            Mau bersuara atau tidak, dalam arti diam saja, Jokowi harus menjelaskan sikapnya itu kepada masyarakat. Dengan demikian, rakyat bisa paham dan lebih tenang. Jika tidak, akan banyak pertanyaan di masyarakat tentang sosok Jokowi. Bisa-bisa timbul banyak hoax, ujaran kebencian, dan penyesatan pikiran jika Jokowi tidak menjelaskan sikapnya.

            Rakyat rindu suara Jokowi.

            Sampurasun.

Friday, 27 December 2019

Berkaca dari Hudaibiyyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Perjanjian Hudaibiyyah dapat dikategorikan sebagai perjanjian internasional, perjanjian antara dua kekuasaan yang berbeda, yaitu antara Madinah yang dikuasai kaum muslimin dengan Mekah yang dikuasai kaum kafir.  Perjanjian itu mirip gencatan senjata untuk tidak saling membunuh, berperang. Kisah Perjanjian Hudaibiyyah sangat panjang, bisa dipelajari dari berbagai buku.

            Saya hanya menyoroti salah satu isi perjanjian tersebut yang menyebutkan bahwa “jika penduduk Mekah ke Madinah tanpa seizin walinya, harus dikembalikan ke Mekah, tetapi jika penduduk Madinah ke Mekah, tidak boleh dikembalikan ke Madinah.”

            Sedari awal, perjanjian ini tampak merugikan kaum muslim, bahkan para sahabat Nabi saw pun banyak yang protes dan kecewa kepada Muhammad saw. Dilihat dari penambahan jumlah orang, jelas kaum muslim mendapatkan kerugian karena jika datang ke Mekah, tidak boleh pulang ke Madinah. Sebaliknya, orang Mekah jika ke Madinah, harus dikembalikan ke Mekah. Kekecewaan kaum muslim terus berlanjut pada tahun-tahun awal pelaksanaan perjanjian itu.

            Beberapa sahabat Nabi saw dengan lugas protes kepada Nabi saw, “Apakah engkau akan membiarkan aku hidup bersama orang-orang kafir itu dengan perilaku mereka yang seperti itu?”

            Ucapan-ucapan semacam itu kerap sampai langsung kepada Nabi saw. Akan tetapi, Muhammad saw tetap mengharuskan mereka untuk kembali ke Mekah. Nabi Muhammad saw adalah orang yang selalu menepati janji dan tidak akan melanggar ucapannya sendiri. Oleh sebab itu, banyak kaum muslim yang pulang ke Mekah dengan tulus ikhlas, tetapi banyak pula yang pulang disertai rasa kesal dan kecewa. Bahkan, tidak sedikit yang pulang, tetapi tidak sampai ke Mekah. Mereka memilih hidup berada di tengah-tengah antara Mekah dan Madinah. Mereka tidak mau hidup bersama orang kafir di Mekah, tetapi mereka pun tidak bisa hidup di Madinah karena Nabi saw pasti mengusirnya.

            Kejadian-kejadian selanjutnya Islam semakin berkembang dan bertahap mencapai kemenangannya. Itulah buah dari konsistennya Nabi saw dalam mematuhi perjanjian internasional. Nabi saw kuat memegang janji hingga orang kafir sendiri yang melanggarnya yang membuat perjanjian itu sendiri batal dan kaum muslim akhirnya bisa menguasai Mekah, Kabah.

            Berkaca dari hal itu, umat Islam Indonesia pun harus mematuhi berbagai perjanjian yang dibuat, baik yang tertulis maupun yang terucap dalam pergaulan internasional. Salah satunya, memegang kuat janji untuk tidak ikut campur atau intervensi urusan negara lain. Itu prinsip yang diajarkan Muhammad saw. Dengan demikian, kita bisa tetap terhormat dan aman dari gangguan negara lain karena kita terlebih dahulu menghormat negara lain, insyaallah.

            Terkait etnis Uighur, Indonesia harus kukuh untuk tidak merecoki Cina. Hal itu disebabkan pertama, etnis Uighur hidup di Xinjiang yang merupakan wilayah Cina. Kedua, tidak ada pembantaian dan penyiksaan, tetapi pengaturan dan pendisiplinan warga Negara Cina, khususnya sebagian kecil dari etnis Uighur. Ketiga, kalaupun terjadi masalah, Indonesia dapat menggunakan diplomasi lunak (nasihat/masukan) sebagai negara sahabat agar situasi lebih kondusif karena masalah yang terjadi di negara-negara sahabat sedikit banyak akan merugikan dirinya sendiri dan mungkin mengganggu kerja sama yang sedang berlangsung untuk kepentingan bangsa Indonesia.

            Sampurasun.

Monday, 9 December 2019

Pertanyaan Milenial, Pertanyaan Kritis


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Jika memperhatikan penjelasan Gus Muwafiq mengenai sebagian kecil isi ceramahnya yang dipermasalahkan, berawal dari pertanyaan kaum milenial yang pada masa lalu tidak ada. Menurut pengakuannya, dia mendapat pertanyaan tentang kelahiran Nabi saw yang diiringi sinar.

            “Apakah sinarnya seperti sinar lampu?” begitu kira-kira pertanyaan dari kaum milenial.

            Gus Muwafiq menjelaskan bahwa kalau dijawab, pertanyaan akan terus terjadi. Jawabannya akan tidak jelas juntrungannya. Oleh sebab itu, dia mengatakan bahwa ada orang yang berlebihan menerangkan tentang Nabi Muhammad saw dan dalam pandangannya, kelahiran Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya agar lebih jelas mudah dipahami.

            Kalau diteruskan, memang bakal jadi banyak pertanyaan tambahan, misalnya, “Sampai berapa lama sinar itu menyala? Kok bisa padam? Kenapa?”

            Makin dijawab, makin pusing. Hal itu disebabkan memang ada yang berlebihan menerangkannya. Hal ini pun pernah dikritik Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno bahwa banyak orang yang berlebihan berceritera, misalnya, Perang Badar mengakibatkan lautan darah setinggi lutut. Soekarno pun mengkritik bahwa banyak orang yang senang menggaib-gaibkan sesuatu, padahal dapat dijelaskan oleh akal dengan lebih mudah. Dia mencontohkan dengan peristiwa Isra Miraj yang sebetulnya bisa dijelaskan oleh akal. Itu ditulisnya di dalam buku Dibawah Bendera Revolusi.

            Saya pun sering mendapatkan pertanyaan serupa itu, padahal saya berbicara tidak seperti Gus Muwafiq yang punya jutaan pendengar. Saya itu hanya berkeliling dan didengar dari kelas ke kelas, dari diskusi ke diskusi. Bagi saya, pertanyaan serupa yang disampaikan ke Gus Muwafiq itu biasa saja. Hal itu disebabkan sering sekali mendengarnya.

            Sebetulnya, pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya datang dari kalangan milenial, melainkan pula dari kalangan kritis yang selalu ingin tahu lebih jauh. Usianya bisa dari kalangan anak kecil, milenial, dewasa, tua, bahkan lanjut.

            Berikut contoh pertanyaan-pertanyaan kritis yang bisa memusingkan orang itu.

            “Kang, apakah sama surga Nabi Adam as dengan surga yang akan kita tempati nanti? Kalau iya, kenapa di surga iblis dan syetan masih bisa masuk menggoda Adam dan Hawa?”

            Pertanyaan seperti itu ada.

            “Kalau surga yang dulu berbeda dengan surga yang nanti, di mana surga yang dulu itu? Hancur?”

            Itu kan pertanyaan yang baru saya dengar.

            “Kang, Nabi Adam as itu orang mana? Menggunakan bahasa apa? Apakah benar Nabi Adam as itu manusia pertama?”

            Makin melesak pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

            “Kalau Adam manusia pertama dan berbahasa Arab, kenapa kita menggunakan bahasa Indonesia? Kita kan jadi susah lagi harus belajar bahasa Arab. Sejak kapan kita meninggalkan bahasa Arab yang dari Nabi Adam itu?”

            Banyak pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

            “Pak, katanya jembatan shiratal mustaqim itu bagaikan rambut dibelah tujuh. Rambut saja sudah tipis. Kalau dibelah tujuh makin tipis. Bagaimana cara kita melihatnya? Apakah ketika kita melewati jembatan shiratal mustaqim itu seperti tukang sirkus yang berjalan di tali?”

            Pertanyaan itu mungkin terdorong dari adanya komik yang menceriterakan manusia meniti shiratal mustaqim menuju surga seperti berjalan di atas tali. Jika tidak berhasil, dia akan jatuh ke neraka.

             “Saya pernah dengar, Pak, selama bulan Ramadhan neraka akan berhenti menyiksa orang-orang berdosa. Memang siapa yang sudah berada di neraka sekarang? Kan kiamatnya belum, dihisab juga belum, diadili belum, tapi sudah ada yang dihukum di neraka?”

            Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu cukup menguras energi untuk menjawabnya. Bagi orang lain yang sangat pintar, mungkin mudah. Akan tetapi, begitulah pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul di masyarakat. Sangat banyak sebetulnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kalau saya tulis semua, bisa sampai sore membacanya.

            Kita tidak bisa dan tidak boleh balik memaki atau memarahi mereka yang bertanya. Kita tidak perlu mencela mereka yang bertanya sebagai pertanyaan tidak berguna, tidak bermanfaat, pertanyaan Yahudi, pertanyaan komunis, atau pertanyaan dari syetan. Kalaupun memang syetan yang bertanya dan berada di hadapan kita, jawab saja.

            Umat butuh jawaban, bukan makian. Kalau belum bisa menjawab, jujur saja katakan bahwa kita belum memahaminya dan perlu belajar lagi. Beri saran untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu dibandingkan kita.    

            Pertanyaan-pertanyaan serupa itu sudah seharusnya mendorong para guru, dosen, ustadz, mubaligh, dai, dan ulama untuk terus belajar hingga akhir hayat. Ilmu itu sangat luas. Jika kayu-kayu di hutan menjadi pena dan air laut menjadi tinta, sungguh tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah swt.

            Orang semakin kritis, para pengajar harus siap dengan perkembangan zaman. Kalau tidak siap, orang-orang akan meninggalkannya.

            Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno pernah berkata, “Jangan salahkan anak muda jika mereka tidak ingin datang ke masjid. Hal itu bisa terjadi karena mungkin ada masalah dalam diri para orang tua.”

            Sampurasun.

Friday, 6 December 2019

Fokus pada Masa Kecil Nabi Muhammad saw


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini masih terkait Gus Muwafiq. Jadi makin aneh dan makin lucu soal ini. Beberapa bagian isi ceramah Gus Muwafiq tentang masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap menghina, tetapi mereka tidak bisa memberikan kisah tandingan yang dianggap paling benar tentang masa kecil Nabi Muhammad saw.

            Karena tidak punya data untuk membantah hal yang disampaikan Gus Muwafiq, mereka membantah dengan data-data yang tidak nyambung. Misalnya, Nabi Muhammad saw itu rapi, bersih, badannya kuat, selalu sehat, tampan, bicaranya jelas, dan tubuhnya selalu wangi. Itu benar, tetapi itu bukan masa kecil Muhammad saw. Kisah itu adalah masa Nabi Muhammad saw sudah dewasa. Kisah masa kecil dibantah dengan kisah masa dewasa, kan tidak nyambung jadinya.

            Sebaiknya, tanyakan, diskusikan, atau perdebatkan langsung bahwa informasi yang kita miliki tentang masa kecil Nabi saw berbeda dengan yang dimiliki Gus Muwafiq. Sampaikan pula sumber kisah-kisah yang kita miliki itu. Kalau tidak bisa langsung ketemu, tulis saja di internet tentang perbedaan-perbedaan kisah itu dalam sebuah artikel, feature, atau yang lainnya. Jangan lupa tulis sumber kisahnya. Biarkan terjadi diskursus, polemik. Itu sehat, baik, dan mencerdaskan dibandingkan lapor polisi yang bisa bikin ribut.

            Sudah ribut kan?

            Kalau perbedaan itu diwacanakan, nanti akan saling teliti tentang sumber kisah itu.

            Siapa penulisnya? Bagaimana orangnya? Kapan menulisnya? Dari mana dia tahu tentang masa kecil Nabi saw? Apa medianya? Kertas, daun lontar, kulit kayu, tulang sapi, unta, atau kambing?

             Hal-hal itu akan ditanyakan untuk mendapatkan kebenaran. Kalau isinya tidak jelas, penulis atau penyampai kisahnya tidak bisa dipercaya, prosesnya pun tidak jelas, bahkan bertentangan dengan Al Quran. Terimalah itu sebagai kesalahan dan koreksilah kisah itu. Itu konsekwensinya.

            Kita itu punya jarak waktu dua puluh generasi dengan Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan kebenaran tentang Nabi saw menjadi tantangan tersendiri. Hitung saja generasi kita hingga ke Nabi Muhammad saw, ada dua puluh generasi. Kita ke ayah-ibu, kakek-nenek, buyut, terusin hingga ke generasi Nabi saw. Seandainya ada dua puluh generasi yang menyampaikan berita yang sama tentang Nabi saw tanpa perbedaan sama sekali, itu shahih karena kita mendapatkan informasi dari generasi Nabi saw yang melihat, mendengar, dan terlibat langsung dengan Nabi Muhammad saw. Itulah yang diupayakan oleh Imam Bukhari, mendapatkan sumber informasi yang sah dari orang yang tepat tentang Nabi Muhammad saw.

            Fokus pada masa kecil Nabi Muhammad saw, bukan masa dewasa, dan jangan ke mana-mana hingga mendapatkan kebenaran. Kalau niatnya lurus, insyaallah Allah swt membukakan pengetahuan yang lurus tentang Kekasih-Nya, Muhammad saw.

            Perlu diketahui pula bahwa yang menulis biografi Muhammad saw itu sangat banyak di dunia ini dari zaman ke zaman, baik dari kalangan muslim, nonmuslim, para pecinta dan pengagum, bahkan para pembenci. Bukan cuma kalangan ulama yang menulisnya, para peneliti pun menulisnya. Saya sendiri punya kisah Nabi saw ketika masih bayi yang saya dapatkan dari sebuah prosiding, tidak akan saya ceriterakan dulu, entar kaget.

            Prosiding ini berisi banyak makalah dalam berbagai bahasa, seperti, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman. Beberapa makalah memaparkan kedekatan antara Sunda dan Arab melalui jalur perdagangan sejak sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ada sekelumit kisah hubungan orang Sunda dengan keluarga Nabi Muhammad saw ketika Sang Nabi masih bayi. Nama prosidingnya “Proceeding: Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi” yang disusun oleh V. Sukanda Tessier dan Hassan Muarif Ambary yang diterbitkan pada 1987 oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

            Penelitian berkembang terus karena para ilmuwan selalu penasaran ingin tahu. Hal itu membuat pengetahuan berkembang terus. Bisa jadi hal yang dulu kita anggap benar, ternyata salah. Sebaliknya, hal yang dulu kita anggap salah, ternyata benar. Itulah hasil penelitian.

            Fokus bicara dan menulis masa kecil Nabi Muhammad saw, jangan ke mana-mana supaya mendapatkan kebenaran. Itu juga kalau masih mau mempermasalahkan sebagian ceramah Gus Muwafiq.

            Sampurasun.