Saturday, 18 July 2026

 

Indonesia Harus Siap Berperang Satu Kali Lagi

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia dulu dijajah secara fisik karena banyak sumber daya alamnya. Mereka datang berbondong-bondong beratus-ratus tahun untuk mengambil sumber daya alam kita. Membiarkan kita miskin dan berfoya-foya di atas penderitaan rakyat Indonesia. Seperti itu penjelasan teramat singkat tentang penjajahan di Indonesia.

            Setelah Indonesia melakukan revolusi dan mengusir penjajah sehingga merdeka, berhentikah penjajahan?

            Tidak! Sama sekali tidak!


Revolusi Indonesia (Foto: Radar Mukomuko - Disway id)


            Pemimpin Besar Revolusi Ir. Soekarno mengatakannya masih ada penjajahan dengan mengistilahkannya sebagai “Nekolim”, ‘neo kolonialisme imperialisme’. Maksudnya, “penjajahan gaya baru”. Penjajah itu fisiknya sudah tidak ada lagi di Indonesia, tetapi cengkeramannya masih menguasai Indonesia. Mereka terusir dari negeri ini, tetapi masih mengeruk dan mengambil sumber daya alam Indonesia dari tempat yang jauh di negerinya sendiri. Mereka bekerja sama dengan para pejabat korup, perusahaan-perusahaan korup, para penipu, para pemeras, dengan memanfaatkan kebodohan rakyat. Itulah Nekolim, penjajahan gaya baru. Rakyat masih tetap miskin dan tertindas.

            Setiap upaya untuk memperbaiki kondisi rakyat selalu mendapatkan halangan, baik melalui diplomasi langsung yang dilakukan pihak asing, maupun membuat gangguan di tengah rakyat dengan menggunakan kaki tangan dan antek-anteknya di dalam negeri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya menyadarinya dan disiplin dalam membayar hutang ke International Monetary Fund (IMF) hingga lunas dan tidak mau menerima pinjaman dari IMF lagi hingga hari ini. Itu sudah merupakan upaya yang bagus setahap demi setahap membebaskan diri dari cengkeraman asing.

Presiden Jokowi melancarkan program “hilirisasi” yang melindungi sumber daya alam Indonesia. Dia tidak ingin bahan mentah Indonesia dijual murah ke luar negeri. Dia ingin produk olahannya hingga bahan setengah jadi dan barang jadi diproduksi di Indonesia. Dengan demikian, kita mendapatkan nilai tambah, uang tambah banyak, pajak lebih besar, dan mendapatkan keuntungan alih teknologi. Itu terbukti keuntungan Indonesia menjadi puluhan kali lipat dibandingkan jika menjual barang mentah. Akan tetapi, tantangan menjadi lebih besar hingga Indonesia harus bertengkar dengan Unieropa dalam sidang WTO. Negara-negara Eropa sangat dirugikan dengan program hilirisasi Jokowi karena sangat banyak perusahaan Eropa yang bangkrut akibat tak mendapatkan lagi bahan mentah dari Indonesia.

Presiden Prabowo lebih keras lagi menghentikan penjajahan gaya baru. Dia memperkuat hilirisasi dan kalau ada negara yang tidak mau bekerja sama dengannya, Prabowo memilih untuk membiarkan sumber daya alam kita ada di perut Bumi untuk dikelola anak cucu Indonesia pada masa mendatang. Di samping itu, dia benar-benar menghabisi koruptor meskipun itu terjadi di kalangan orang-orang dekatnya. Hal yang membuat para koruptor dan penipu itu lebih sulit bergerak lagi adalah dioperasikannya Danantara yang membuat kegiatan ekspor satu pintu sehingga pengawasan ekspor sumber daya alam diawasi lebih ketat untuk menghindari kecurangan. Negara memonopoli ekspor nikel, batu bara, kelapa sawit, dsb. sehingga hasilnya benar-benar untuk rakyat. Harga sawit ditentukan sendiri dan tidak peduli dengan harga yang ditentukan dunia. Kebocoran-kebocoran uang yang menguntungkan negara lain selama puluhan tahun dihentikan tiba-tiba.

Hal lain yang membuat orang lain atau negara lain rugi adalah penghentian pinjaman hutang ke IMF serta menolak pembatasan pengembangan Iptek dan kedirgantaraan. Indonesia harus berkembang tanpa halangan. Prabowo sudah tidak peduli lagi dengan perdagangan bebas yang menguntungkan asing, tetapi lebih peduli pada nasionalisme.

Hal yang sangat kentara adalah dengan swasembada beras, kita sudah menjatuhkan harga beras di luar negeri karena beras mereka menjadi terlalu banyak yang biasanya kita beli, tak lagi kita beli. Penghentian pembelian solar karena sudah bisa membuat B50 sendiri jelas merugikan para penjual solar.

Ada banyak lagi sebetulnya gerakan-gerakan Prabowo yang merugikan negara lain berikut antek-anteknya di dalam negeri. Hal itu jelas membuat marah banyak orang. Hari ini orang-orang yang dirugikan itu menunggu dan sekaligus menciptakan momen yang tepat untuk menjatuhkan Indonesia agar kepentingan bisnisnya tidak terganggu. Tidak menutup kemungkinan mereka mencari cara masuk untuk membuat keributan, bahkan mengalahkan Indonesia secara militer.

Kerugian mereka itu berarti membuat mereka tidak untung bahkan bisa miskin dan kelaparan. Sejarah dunia mencatat bahwa perang-perang di dunia ini diakibatkan oleh ketakutan sengsara dan kelaparan. Jika Indonesia semakin mampu menguasai alamnya sendiri, akan ada banyak negara yang harus menurunkan taraf hidupnya karena selama ini bergantung hidup pada kekayaan alam Indonesia. Itu akan membuat mereka marah dan tidak tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya.

Kerugian dan kemarahan mereka membuat Indonesia harus bersiap berperang satu kali lagi jika tidak ingin kembali dijajah bangsa asing. Keberanian Prabowo akan membuat banyak orang rugi karena lebih mementingkan kepentingan rakyat sendiri. Risiko akibat gerakan ini harus ditanggung oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan agar dapat menikmati kekayaan alam sendiri secara lebih adil dan membahagiakan.

Ilustrasi revolusi Indonesia dari Radar Mukomuko – Disway id.

Sampurasun.

No comments:

Post a Comment