oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Salah seorang murid saya bertanya, “Pak, kapan Indonesia
maju?”
Saya
jawab, “Indonesia sudah maju dan akan maju terus.”
Dia kaget
dan hanya memandang datar. Saya paham dia seperti itu karena dia adalah korban
Medsos atau grup WA yang selalu menarasikan kesusahan dan kesulitan di
Indonesia. Saya perlu meluruskan otaknya agar yang harus dilihat adalah bukan
narasi Medsos, melainkan kenyataan sehari-hari.
Saya
jelaskan, “Indonesia bergerak maju kok. Kamu lihat kan di jalan-jalan
orang-orang punya mobil Pajero, Alphard, dan orang-orang kompleks rumahnya
lebih rapi? Itu artinya orang-orang punya uang.”
“Enggak,
Pak. Ini kok saya enggak merasa maju,” katanya.
“Itu
masalah kamu, bukan masalah Indonesia. Orangtua kamu dan kamu sendiri yang
salah.”
Sedikit
kasar saya menjelaskannya, tetapi itu harus dilakukan agar dia tersadar.
![]() |
| Kemiskinan di Burundi (Foto: Solotrust) |
Pada hari
itu saya jelaskan penyebab kemiskinan dalam kelas. Sebetulnya, tidak cukup satu hari
menjelaskannya, tetapi saya tulis beberapa hal saja supaya ada gambaran besar.
Penyebab
kemiskinan itu ada tiga faktor, yaitu diri pribadi, geografis, dan kebijakan
pemerintah. Penyebab kemiskinan yang berasal dari diri pribadi adalah
kemalasan, sakit, usia tua, fisik yang tidak sempurna, tidak punya keahlian,
tidak punya keterampilan, lemah otak, bermasalah secara hukum, dsb. Jadi,
jangan dulu menyalahkan orang lain kalau miskin atau menyalahkan pemerintah
karena bisa jadi yang bermasalah itu adalah diri sendiri.
Penyebab kedua
adalah yang berasal dari geografis, misalnya, tinggal di tempat yang terisolasi
di tengah hutan, jauh dari fasilitas publik, infrastruktur jalan yang tidak
memadai, sering terkena bencana banjir dan gempa, terhalang oleh alam untuk
berhubungan dengan dunia ramai, dan lain sebagainya. Ini jelas pasti menjadi
penyebab kurangnya komunikasi dan hubungan dengan sumber-sumber kemakmuran.
Penyebab
kemiskinan yang ketiga adalah kebijakan pemerintah yang salah. Jika
kebijakannya tidak berdasar pada kemakmuran rakyat dan hanya mementingkan
sedikit golongan, sudah pasti rakyat dan negaranya miskin.
Tiga
faktor itulah yang menyebabkan kemiskinan. Dengan demikian, kita bisa
menganalisis faktor mana yang menyebabkan kemiskinan agar didapat langkah yang
tepat untuk mengatasi kemiskinan. Orang bisa menyalahkan pemerintah, tetapi
sebenarnya dirinya yang salah. Kalau itu terjadi, meskipun pemerintahan
berganti, presiden dan wakilnya diganti, Prabowo-Gibran jatuh, tetapi masalah
kemiskinan sebenarnya adalah dari dalam
diri sendiri, akan tetap miskin selamanya dan tidak akan pernah berubah.
Jika
dirinya sudah berkualitas, secara geografis tinggal di tempat yang mudah
komunikasi, tetapi mayoritas rakyatnya miskin, bisa jadi kebijakan pemerintah
yang salah. Artinya, harus ada perbaikan kebijakan atau bergantinya
pemerintahan.
Foto
anak-anak miskin itu berasal dari Negara Burundi, negara paling miskin di
dunia, sumber Solotrust.
Markisu,
mari kita minum susu.
Sampurasun.

No comments:
Post a Comment