Showing posts with label Habib. Show all posts
Showing posts with label Habib. Show all posts

Saturday, 30 November 2024

Ridwan Kamil Kalah Gara-Gara Habib?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang menganalisa kekalahan Ridwan Kamil-Suswono oleh Pramono Anung-Rano Karno disebabkan berbagai hal. Ada yang menyebutkan bahwa partai-partai pendukung Ridwan Kamil (RK) tidak solid dan terlalu sibuk untuk mengurus kemenangan di daerah lain; penolakan oleh pecinta Persija, Jakmania; kurang blusukan; mulai rapat dengan para habib.

            Saya merasa tertarik terhadap alasan kekalahan RK yang dikatakan mulai dekat dengan para habib, bahkan dikabarkan ada semacam kesepakatan di antara mereka. Sesungguhnya, untuk memahami hal ini diperlukan upaya survey yang jujur dan jernih sehingga mendapatkan simpulan yang juga lebih akurat. Harus ada observasi dan wawancara terhadap mereka yang meninggalkan RK, kemudian memilih yang lain.

            Apakah mereka meninggalkan RK karena para habib mulai merapat ke RK atau karena hal lain?

            Sekali lagi, itu perlu survey dan bukan ocehan-ocehan sok tahu.

            Meskipun demikian, memang ada hal menarik yang terjadi. Jauh sebelum Pilkada 27 November 2024, pasangan RK-Sus selalu berada di posisi puncak berada di atas pasangan Pram-Doel dalam survey-survey. Akan tetapi, sejak RK mulai hadir dalam majelis-majelis para habib Jakarta, angkanya menurun secara bertahap hingga kalah dalam versi hitung cepat.

            Beberapa akun media sosial menjelaskan bahwa mereka awalnya menyukai RK-Sus dan akan memilihnya, tetapi ketika para habib diterima dengan baik oleh RK untuk mendekat, mereka beralih hati, beralih pilihan. Mereka sangat tidak menyukai para habib dan melihat bahaya dari para habib, baik secara agama maupun secara sosial. Mereka memiliki simpulan kilat bahwa RK akan lebih mengukuhkan posisi para habib di masyarakat dan itu sangat tidak disukai banyak orang.

Kita harus maklum bahwa para habib ini sedang tidak disukai mayoritas rakyat Indonesia. Tandanya bisa kita lihat bahwa kegiatan-kegiatan para habib, seperti, 212, 411, dan lain sebagainya sudah sangat sepi peminat. Bahkan, Dedi Mulyadi pemenang Pilkada Jawa Barat mendapat dukungan mayoritas rakyat Jabar untuk menghentikan perilaku oknum para habib yang dianggap arogan dan mengganggu masyarakat.

Kalaulah memang benar kekalahan RK disebabkan kedekatannya dengan para habib, sesungguhnya RK tidak salah, kesalahannya adalah RK menganggap bahwa seluruh rakyat memahami yang dia lakukan, padahal rakyat bisa punya pandangan yang berbeda. RK tidak menjelaskan sikap dirinya menghadiri undangan para habib dan menjelaskan kehadirannya di lingkungan para habib.

Sebagai seorang pemimpin, RK sudah benar. Pemimpin itu harus mengayomi, melindungi, membimbing, melayani, dan mengarahkan seluruh komunitas di dalam kehidupan rakyat. Para habib itu adalah bagian dari rakyat juga. Mereka juga harus diperlakukan sama seperti rakyat lainnya. Hak dan kewajiban para habib juga harus dijamin dan dilindungi sebagaimana rakyat kebanyakan. Tak boleh dipinggirkan sekaligus tidak boleh diistimewakan, biasa saja. Kalaulah para habib dipandang sebagai sebuah komunitas yang dianggap mengganggu, itulah kewajiban Ridwan Kamil untuk membimbing para habib agar bisa berbaur dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta.

Meskipun sekarang ini banyak orang yang tidak menyukai para habib, tidak boleh berlebihan, jangan menyuarakan mereka untuk diusir ke Yaman misalnya. Para habib juga harus introspeksi diri karena terlalu membanggakan diri dan leluhurnya hingga menyakiti rakyat. Tidak semua habib sih, tetapi oknumnya banyak. Itulah kewajiban Ridwan Kamil untuk membimbing rakyatnya.

Kalaulah memang benar kekalahan RK disebabkan membuka diri kepada para habib, jelaskan saja bahwa pemimpin itu harus bertanggung jawab terhadap seluruh komunitas dalam rakyat. Ridwan Kamil memang tampaknya lupa menjelaskan hal ini kepada rakyat.

Sampurasun

Wednesday, 27 November 2024

Imad-Dedi Runtuhkan para Habib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sudah menjadi kenyataan dan tidak bisa ditolak bahwa Kiyai Imad telah meruntuhkan keyakinan atas silsilah atau nasab kaum Baalawi yang dianggap menyambung ke Nabi Muhammad saw. Imad dengan tesis ilmiahnya telah menyadarkan banyak sekali orang bahwa Baalawi yang dikenal dengan para habib itu ternyata sama sekali bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Hasil penelitian Imad itu tidak mendapatkan bantahan yang setara hingga hari ini. Tak ada tesis atau karya ilmiah yang mengalahkan penelitian Imad, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Para ulama dalam dan luar negeri tak memiliki data, fakta, dan analisis yang tepat untuk membantah Kiyai Imad. Penelitian Imad bagai “snow ball”, ‘bola salju’ yang asalnya kecil menggelinding terus hingga membesar. Hal-hal yang tersisa dari para habib itu hanyalah dongeng-dongeng kesaktian kosong, seperti, menurunkan rantai emas dari langit, bolak-balik 70 kali dalam semalam ke langit, dan mengirim surat ke malaikat Munkar-Nakir supaya tidak disiksa dalam kubur.

            Dedi Mulyadi lebih menjelaskan situasi bahwa para habib itu ternyata tidak ada apa-apanya secara politik, mereka tidak memiliki kekuatan yang hebat. Dedi berulang-ulang menyerang dan menantang mereka dalam berbagai pidato, bahkan semakin sering ketika dalam kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024. Dedi tidak takut kehilangan suara dari para pecinta habib. Dedi malah menyadarkan rakyat, khususnya Sunda agar bangga dan kembali pada ajaran leluhurnya yang memiliki nilai-nilai keadaban yang tinggi. Meskipun diserang sebagai musyrik, sesat, zalim, kafir, dan sebagainya, Dedi tetap ajeg pada keyakinannya. Dia menyadarkan rakyat agar jangan mau dijajah para pendatang yang membanggakan leluhurnya, lalu ingin dianggap mulia sehingga rakyat harus tunduk, bahkan memberikan hartanya untuk para pendatang itu. Berbagai hasil survey, exit poll, quick count, dan teknik lain dalam menghitung jumlah pemilih dalam Pilkada 2024 menunjukkan bahwa Dedi memuncaki kepercayaan rakyat Jawa Barat di atas 60%. Itu menjelaskan bahwa para habib itu tidak dipercayai rakyat mayoritas muslim Jawa Barat sebagai keturunan Nabi saw. Hal yang lebih menarik adalah Dedi membuat video reels yang menantang siapa pun untuk tidak memilih dirinya, tetapi jangan melarang dirinya untuk menyembah apa pun yang dia yakini. Uniknya, rakyat Jawa Barat ternyata memilih dirinya untuk memimpin Provinsi Jawa Barat.

            Hal-hal yang dilakukan Imad dan Dedi telah meruntuhkan para habib yang dulunya sangat ingin dipuja sebagai keturunan Nabi saw. Jawa Barat yang merupakan wilayah mayoritas para habib telah menunjukkan bahwa para habib itu sama sekali tidak mempengaruhi mereka. Kalaulah diancam kafir, sesat, hingga masuk neraka, rakyat tidak peduli. Rakyat memiliki keyakinannya sendiri. Para habib itu telah runtuh dengan penelitian Kiyai Imad dan perolehan suara Dedi Mulyadi dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024.

            Sampurasun

Saturday, 10 June 2023

Buku Punya Kiyai Imad


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ternyata banyak orang yang penasaran tentang kajian ilmiah yang dilakukan Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani. Saking penasarannya, bertanya kepada saya tentang isi penelitiannya, malah ngajak berdebat. Salah kalau bertanya kepada saya atau berdebat dengan saya karena saya bukan penelitinya. Sebaiknya, langsung saja kepada Kiyai Imad. Beliau bersedia kok. Untuk mempermudahnya, Kiyai Imad menggunakan chanel YouTube milik muridnya, Hanif Farhan karena web site milik Kiyai Imad sendiri diretas atau dirusakkan orang hingga hilang. Siapa pun bisa berkomunikasi di chanel Hanif Farhan, bahkan berdebat langsung dengan Kiyai Imad pun bisa.

            Sampai sekarang banyak orang yang mengaku ulama dan menantang berdebat dengan Kiyai Imad, tetapi ketika dilayani, perdebatan itu tidak jadi, kabur, ngeles, dan rupa-rupa alasan lainnya. Mereka bilang sih para penantang debat itu adalah “Ulama Garis Lurus”, tetapi saya melihatnya seperti “Ulama Garis Lucu”.

            Bagaimana tidak lucu?

            Bicaranya emosional, tidak karu-karuan, nantang berdebat, tetapi kabur. Bahkan, ada yang ingin menyelesaikannya dengan mubahalah.

            Penelitian kok dijawab dengan tantangan mubahalah?

            Penelitian itu harus dijawab dengan penelitian lainnya. Tesis ya harus dibantah dengan antitesis. Begitu caranya, bukan dengan makian iblis, neraka, kafir, sesat, dan hal-hal lucu lainnya. Banyak kok video-video lucu emosional tanpa ilmu yang mereka bikin sendiri beredar di YouTube. Kalaupun mereka menggunakan dalil-dalil berbahasa Arab, segera saja mendapatkan bantahan dari santri-santri kecil muda, terutama kesalahan-kesalahan mereka dalam hal membaca tulisan-tulisan Arab. Santri-santri kecil ini malahan lebih logis menerangkannya. 

Karena banyak orang lucu yang tidak juga memberikan jawaban pasti atas hasil penelitian, Kiyai Imad tampaknya semakin yakin bahwa keluarga Ba Alawi atau para habib ini memang bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Hal itu ditunjukkan dengan mulai beredarnya buku yang ditulis Kiyai Imad sendiri tentang terputusnya nasab para habib kepada Nabi Muhammad saw.  Fotonya saya dapatkan dari YouTube. Segera saja hubungi chanel Hanif Farhan untuk memilikinya.


Buku Terbaru Kiyai Imad (Foto: YouTube)


            Dengan beredarnya buku ini, sudah menjadi tugas para habib untuk menjawab penelitian Kiyai Imad, terutama tentang rujukan kitab awal yang harus menerangkan dari mana sumber data yang menjelaskan bahwa Ubaidillah itu adalah anak dari Ahmad bin Isa. Itu juga kalau masih mau diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. Kalau tidak ada buktinya, ya bukan keturunan Nabi Muhammad saw, ngaku saja sebagai orang biasa seperti orang lainnya. Tidak apa-apa kok, kemuliaan itu bisa didapat dari ilmu dan akhlak.

            Hal itu seperti yang disampaikan Quraish Shihab yang menyusun Tafsir Al Misbah, “Buktikan diri sebagai keturunan Rasulullah saw dengan ilmu dan akhlak.”

            Saya sendiri jujur, memang ingin memiliki bukunya dan menganalisa dari metode penelitiannya mulai latar belakang, fenomena, hipotesa, dan lain sebagainya hingga ke simpulan. Akan tetapi, saya masih menahan diri karena kalau sudah memiliki bukunya, saya akan baca dan menganalisanya, itu butuh waktu dan energi yang cukup. Saya masih berkonsentrasi untuk membiayai anak-anak saya kuliah yang setiap minggu harus dibiayai dan itu merupakan kewajiban utama saya sebagai kepala rumah tangga. Jadi, saya harus cari waktu yang luang dan energi yang juga luang untuk membaca dan menganalisa tulisan Kiyai Imad.

            Kalau para pembaca ingin memiliki bukunya, saya sudah sampaikan caranya.

            Sampurasun.

Sunday, 21 May 2023

Lucu, Kiyai Imaduddin Dilaporkan ke Polisi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bagi saya beneran lucu ini. Beberapa waktu lalu saya sudah menulis bahwa Gus Fuad Plered ingin melaporkan Rabithah Alawiyah, organisasi para habib, ke polisi karena telah melakukan kebohongan publik sejak 1928 dengan mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, padahal tidak ada buktinya. Gus Fuad menyandarkan pendapatnya itu pada hasil penelitian Kiyai Imaduddin yang menegaskan bahwa nasab Ba Alawi terputus dari Nabi Muhammad saw selama 550 tahun. Artinya, para habib di Indonesia ini tidak terbukti secara ilmiah bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad saw.

            Keinginan Gus Fuad itu ditentang Kiyai Imad. Sebagai seorang akademisi, Kiyai Imad tidak ingin memenjarakan orang lain. Dia ingin justru ilmu pengetahuan berkembang dan masyarakat menjadi cerdas. Kelihatan sekali Kiyai Imad itu seorang akademisi karena bagi seorang akademisi, kepuasannya adalah mendapatkan ilmu baru, bukan mengalahkan orang atau menjatuhkan orang lain. Bahkan, orang yang berbeda pendapat dengannya akan dianggap sebagai partner berpikir untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Itulah ciri-ciri seorang alim.

            Gus Fuad harus puas meskipun tidak puas dengan penentangan Kiyai Imad. Toh, yang membuat penelitian adalah Kiyai Imad bukan Gus Fuad atau orang lain. Gus Fuad sendiri tampaknya bukan ingin memenjarakan orang lain juga, melainkan ingin memindahkan perdebatan ke meja pengadilan. Sayangnya, ditentang Sang Peneliti, Kiyai Imad. Akan tetapi, lucunya justru yang membuatnya kemungkinan masuk ke pengadilan adalah para oknum habib sendiri. Sebuah organisasi yang katanya rakyat atau warga melaporkan Kiyai Imad ke polisi karena penelitiannya dianggap tercela dan mengadu domba. Nama organisasinya adalah “Majelis Muhyin Nufuus”. Netizen mencari tahu organisasi itu dan ternyata di dalamnya dipenuhi para habib.

            Kiyai Imad pun menyatakan siap melayaninya di pengadilan. Bahkan, ini menurut saya akan semakin mempermalukan para habib sendiri karena yang dilaporkan itu hasil penelitian. Mestinya, hasil peneltian itu diuji di universitas, bukan di pengadilan. Akan tetapi, karena sudah dilaporkan, akan dibuka penelitian itu dalam persidangan dan menurut Kiyai Nur Ikhya Salafy, sama saja para oknum habib itu menggali kuburnya sendiri.

            Tidak jauh-jauh, saya membayangkan sejak awal penelitian itu dibuka di pengadilan yang juga terbuka untuk umum, orang akan menyaksikan fenomena yang melatarbelakangi penelitian Kiyai Imaduddin. Fenomena itu adalah peristiwa atau kejadian yang membuat peneliti merasa penasaran, kemudian mendorongnya untuk melakukan penelitian. Sebagaimana yang dikatakan Kiyai Imad dalam berbagai kesempatan bahwa fenomena yang melatarbelakangi penelitiannya adalah banyaknya orang yang mengaku keturunan Nabi Muhammad saw, tetapi ucapan dan perilakunya jauh menyimpang dari baik pribadi Nabi Muhammad saw atau ajaran Rasululllah saw. Jika hakim, jaksa, ataupun pengacara meminta bukti ucapan dan perilaku oknum habib yang bertentangan dengan Nabi Muhammad saw atau ajaran Islam, akan dibeberkanlah perilaku-perilaku itu, baik melalui catatan media, tayangan video pribadi, ataupun yang sudah tersebar di youtube. Kemudian, perilaku-perilaku itu dikonfrontir dengan ayat-ayat Al Quran dan Hadits. Pada awal pembeberan fenomena saja sudah akan sangat memalukan para oknum habib itu.

            Sekarang saja semua orang mudah sekali melihat bagaimana ucapan dan perilaku oknum habib itu yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan Nabi Muhammad saw. Para youtuber sudah berinisiatif mengumpulkannya sendiri bagaimana kata-kata kotor, merendahkan, arogan, dan yang dipenuhi kata-kata berasal dari kebun binatang yang diumbar oknum-oknum habib itu. Semua orang bisa melihat mereka, coba cek saja sendiri. Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan tayangan tentang hal itu.

            Itu baru fenomena, belum masuk ke sumber kajian pustaka. Kalau masuk ke sumber kitab rujukan, akan tampak sekali kitab-kitab yang menjadi pegangan Kiyai Imad dan melemahkan sumber rujukan para oknum habib itu mengingat sampai sekarang pun para oknum habib tidak memiliki sumber sumber selengkap Kiyai Imad.

Inilah yang menurut saya lucu. Kiyai Imad menentang Gus Fuad untuk memenjarakan orang, tetapi para oknum itu sendiri yang memilih berdebat di pengadilan dan terbuka untuk umum. Padahal, sampai sekarang, mereka belum bisa membuktikan diri sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, baik melalui kitab rujukan yang bisa dipercaya, sertifikat internasional dari negara asal, maupun hasil tes DNA. Mereka masih bertahan pada pendapat para ulama yang salah satunya menyatakan bahwa ada kewajiban untuk mencintai Ba Alawi dan kalau tidak mencintai, mungkin akan masuk neraka. Kalau diperhatikan lebih jauh, ulama yang mengatakan itu ternyata masih oknum habib juga yang berasal dari Ba Alawi. Pantas atuh kalau begitu mah.

Maaf ya kepada para habib yang baik dan shaleh. Tidak akan berkurang rasa hormat saya kepada para habib shaleh yang penuh ilmu dan mencerahkan umat. Saya hanya tidak menyukai oknum habib yang bagi saya menyesatkan umat. Saya punya banyak kerabat, keluarga, dan murid. Saya harus menyelamatkan mereka dari pikiran sesat sebatas yang saya mampu dan sebatas yang saya yakini kebenarannya.

Karena sudah dilaporkan  ke polisi, mari kita lihat kelucuan selanjutnya di persidangan.

Sampurasun.

Monday, 15 May 2023

Kiyai Imad Tantang Ulama Sedunia

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kebiasaan songong sih. Padahal, sudah saya bilang bahwa setelah Ketua Umum PBNU Gus Yahya meredam pertentangan, seharusnya para habib diam, bikin situasi yang lebih kondusif. Hal itu disebabkan mereka memang tidak punya sumber data yang bisa dipercaya dan otentik, kitab rujukan abad awal tidak ada, sertifikat internasional tidak ada, serta tes DNA pun tidak mau. Mereka sangat lemah, sudah seharusnya mulai diam karena memang kalah data dan lemah bukti. Para habib tidak bisa membuktikan dengan benar bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, sayangnya, oknum-oknum habib songong ini malah bikin narasi-narasi aneh, video-video aneh, terus-terusan kasar, caci maki, serta tetap jualan promo syafaat, kuwalat, tuduhan syiah, yahudi, dan lain sebagainya untuk menipu orang-orang bodoh yang otaknya sudah terkuasai untuk dibodohi.

            Jika ingin berdiskusi dan berdebat, Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani menyediakan diri, baik untuk berdebat langsung maupun melalui media online. Banyak memang yang teriak-teriak berani untuk berdebat, tetapi tidak ada buktinya, Omdo, omong doang. Misalnya, Bahar bin Smith berani untuk berdebat selama sebulan, tetapi tidak juga terjadi, ngomongnya aja yang keras, ilmunya sih tidak ada. Demikian juga Qurtubi, pentolan FPI Banten, menantang debat Kiyai Imad, tetapi tidak mau live dan jangan diliput media, itu kan omong doang. Kalau sembunyi-sembunyi, bisa main persekusi dan main gerombolan karena tidak terdeteksi masyarakat luas.


Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani (Foto: Harianexpose.com)


            Saya lebih menyukai Hanif Al Athos, menantu Rizieq Shihab, yang membuat tulisan bantahan kepada Kiyai Imad. Dia bikin lagi artikel untuk membuktikan tersambungnya Ba Alawi kepada Nabi Muhammad saw. Begitu seharusnya meskipun tulisan Hanif dengan sangat mudah dipatahkan oleh Kiyai Imad.

Tidak jauh-jauh seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sudah pasti, dicek kitab rujukannya terlebih dahulu: siapa penulisnya? Ditulis tahun berapa atau abad berapa? Di mana ditulisnya?

Tidak benar jika catatan nasab yang ditanyakan awal abad 4 atau 5 dijawab oleh catatan atau tulisan yang dibuat pada tahun 2023 atau 1444 H. Seharusnya, ditunjukkan tulisan yang dibuat pada awal abad 4, 5, atau 6.

Meskipun tulisan Hanif Al Athos mudah sekali dipatahkan, itu tetap harus dihormati karena telah menyumbangkan perkembangan ilmu walaupun sedikit, bahkan salah. Soal salah dan benar itu nomor dua. Kita bisa tahu salah atau benar itu setelah diuji secara ilmiah. Kalaupun salah, tetap sudah punya pahala, yaitu pahala berpikir.

Karena mereka kesulitan mengalahkan Kiyai Imad, tampaknya mereka mengundang kolega-kolega mereka, ulama dari Yaman atau Timur Tengah untuk membuktikan nasab mereka tersambung kepada Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, sayangnya, tulisan ulama-ulama itu pun sama, tidak jauh seperti apa yang dibuat oleh Hanif Al Athos. Untuk memahami hal ini, silakan ikuti chanel youtube Hanif Farhan. Terlalu panjang kalau saya menulis itu, lebih baik dari saluran aslinya yang digunakan oleh Kiyai Imaduddin. Tulisan para ulama itu pun mudah sekali dipatahkan Kiyai Imad. Seperti yang sudah saya bilang berkali-kali, pasti kitab rujukannya yang dipermasalahkan terlebih dahulu.

Ada memang yang mengklaim punya kitab pada abad ke-4, tetapi penulisnya tidak dikenal, tidak masyhur, atau majhul. Penulisnya tidak dikenal oleh para ahli nasab pada abad itu. Penulis terkenal itu pasti hasil tulisan atau karyanya dijadikan kutipan atau dikutip oleh para ahli nasab pada zaman itu. Kalau tidak pernah dikutip, ya tidak masyhur. Ada pula yang menurut saya lucu, yaitu meminta ulama Yaman untuk menandatangani bahwa Ba Alawi adalah benar keturunan Nabi Muhammad saw.

Untuk apa tanda tangan itu?

Tetap saja bakal ditanyakan dari mana dia tahu bahwa Ba Alawi atau Ubaidillah itu anak dari Ahmad bin Isa dan tersambung kepada Rasulullah saw? Dari mana sumbernya?

 Perilaku oknum-oknum habib inilah yang membuat Kiyai Imad menantang ulama seluruh dunia untuk membuktikan dua hal. Pertama, terputusnya nasab para habib kepada Rasulllah saw. Kedua, membuktikan palsunya hadits-hadits untuk mencintai dan menghormati keturunan Rasulullah saw.

Menurut Kiyai Imad, yang disebut ahlul bait atau keluarga Rasulullah saw itu adalah Fatimah, Hasan, Husen, Ali, dan Bani Muthalib. Setelah itu, tidak ada ahlul bait. Keturunan Nabi saw setelah itu disebut dzuriyah bukan ahlul bait. Hadits-hadits mengenai fadillah atau kemuliaan ahlul bait itu kembali kepada orang-orang yang disebut tadi dan bukan kepada keturunannya. Bahkan, menurutnya, makna hadits-hadits itu telah dirampas untuk ditujukan dan digunakan orang-orang yang suka mengaku-aku keturunan Nabi saw. Tidak wajib untuk mencintai dan menghormati keturunan Rasulullah saw. Tidak wajib itu bukan berarti haram atau tidak boleh. Kalau mau mencintai atau menghormati, bagus. Bersikap biasa-biasa juga tidak apa-apa. Kiyai Imad bersedia berdebat dan memeriksa hadits-hadits itu selama tiga hari tiga malam. Hal yang wajib untuk dicintai dan dihormati itu adalah orang-orang yang berilmu atau para ulama. Ada ribuan ayat tentang wajibnya menghormati ilmu dan menghormati orang berilmu.

Begitulah tantangan Kiyai Imaduddin Al Bantani. Seperti saya bilang, kalau memang mau membantah, bikin karya ilmiah tandingan. Kalau tidak bisa, jangan songong, buatlah situasi lebih tenang sehingga tidak timbul kemarahan dari keturunan wali songo. Tidak kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dan mengoreksi diri. Kita semua manusia yang sangat mudah untuk berbuat kesalahan, tetapi Allah swt membuat pula jalan untuk memperbaiki kesalahan itu menjadi hal yang sangat baik dan diridhoi Allah swt.

Soal nasab ini sudah jadi melebar ke mana-mana, malah cenderung membahayakan kehidupan yang harmonis. Kalau mau lebih cepat selesai, buktikan dengan tes DNA. Kiyai Imad menantang warga Banten, Bandung, Garut, dan Sumedang untuk tes DNA agar membuktikan mereka adalah keturunan Prabu Sliwangi. Rakyat pun mengatakan siap untuk tes DNA jika diminta oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Begitulah. Tenang, bikin suasana lebih nyaman, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Sampurasun

Sunday, 7 May 2023

Para Habib Harus Berani Tes DNA

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya mudah saja menyelesaikan soal perhabiban ini. Namun, dibuat rumit karena tidak terbiasa berdebat ilmiah, tidak terbiasa berbicara secara terpelajar, dan tidak terbiasa berbesar hati.

            Kan sudah sudah jelas bahwa nasab para habib di Indonesia ini diragukan karena tidak ada buktinya mereka itu adalah keturunan Nabi Muhammad saw. Hal itu disebabkan dalam kitab abad ke 5-6 Hijriyah “As Sajarah al Mubarokah” Imam Fakhrurrazi menjelaskan bahwa Ahmad bin Isa hanya mempunyai anak tiga orang, yaitu: Muhammad, Ali, dan Husein. Selama berabad-abad seperti itu. Akan tetapi, tiba-tiba muncul nama “Ubaidillah” pada sekitar tahun 1700-1800-an, ada yang menyebutnya tiba-tiba muncul pada abad 10. Inilah yang dipermasalahkan oleh Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani.

            Dari kitab abad awal yang mana nama Ubaidillah ini disebutkan sebagai anak dari Ahmad bin Isa?

            Kalau memang benar anaknya, seharusnya tertulis juga pada abad-abad yang awal. Akan tetapi, dalam kitab awal itu Ahmad bin Isa hanya punya anak tiga dan tidak ada yang bernama Ubaidillah. Artinya, menurut Kiyai Imad, nasabnya terputus, tidak nyambung ke Nabi Muhammad saw. Akibatnya, seluruh para habib di Indonesia ini pun terputus, tidak nyambung ke Nabi Muhammad saw.

            Sebetulnya, mudah diselesaikannya. Tunjukkan saja sumbernya, kitab abad awal yang mana yang menjadi rujukan bahwa Ubaidillah itu anak dari Ahmad bin Isa. Kesulitannya adalah sampai hari ini kitab itu tidak ada. Artinya, tidak ada sumber ilmu yang menjelaskannya. Terputuslah silsilah itu sampai ditemukan buktinya. Diragukanlah bahwa para habib di Indonesia ini merupakan keturunan Nabi Muhammad saw.

            Sesungguhnya, kalaulah buku atau kitab rujukan itu tidak ada, masih ada jalan lain untuk membuktikan hubungan nasab itu sampai kepada Rasulullah saw. Sayyid Zulfikar Basyaiban menjelaskan bahwa hubungan nasab itu harus ada syahadah atau semacam sertifikat dari negara asal para habib itu, misalnya, dari Maroko, Mesir, Iran, atau Irak, dan bukan dari Indonesia. Masalahnya, para habib itu hanya punya catatan atau buku dari Rabithah Alawiyah yang ada di Indonesia yang berdiri pada 1928. Kalau ada dari negara asalnya, itu bisa menjadi bukti pengakuan dari internasional. Kalau tidak ada, ya pasti diragukan hubungan nasab itu tersambung ke Nabi Muhammad saw.

            Sebenarnya, kalau bukti kitab abad awal tidak ada dan sertifikat internasional tidak ada, masih ada jalan lain untuk membuktikan hubungan nasab itu, yaitu dengan tes DNA, sebagaimana yang dikatakan Kiyai Imad. Itu lebih mudah sebenarnya. Sayangnya, para habib itu tidak ada yang melakukannya, tampaknya mereka takut dengan hasilnya jika tidak tersambung secara ilmiah ke Nabi Muhammad saw. Pada tulisan yang lalu saya sudah bilang bahwa Najwa Shihab itu setelah tes DNA, ternyata jangankan dekat ke Nabi Muhammad saw, ke Arab saja sudah jauh. Najwa malah lebih dekat ke Asia Selatan atau India.

            Berbeda jauh dengan para kiyai keturunan wali songo. Mereka tanpa diminta pun sudah melakukan tes DNA sendiri untuk keperluan sendiri, mengonfirmasi kebenaran catatan kuno mereka. Mereka tidak yakin bahwa dirinya merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Soalnya, mereka merasa aneh secara fisik. Nabi Muhammad saw itu orang Arab, badannya besar, hidungnya mancung, tinggi, sementara itu mereka kulitnya coklat, pendek, sebagian kurus, dan hidungnya pesek. Untuk itu, mereka berinisiatif tes DNA sendiri.

            Contohnya, cicit Kiyai Sepuh Genggong, Probolinggo, yaitu K.H. Hasan Akhsan Malik melakukan tes DNA sendiri dengan mengirimkan air liurnya ke perusahaan tes DNA “Family Tree DNA” yang bermarkas di Houston, Texas, Amerika Serikat. Hasilnya, menurut Ketua Umum Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) K.H. R. Ilzamuddin Sholeh, ternyata nasabnya tersambung ke Syekh Abdul Qadir  Al Jaelani. Ke atasnya, tersambung ke Sayyidina Hasan yang jelas ahlul bait. Hasilnya jelas bahwa keturunan Kiyai Sepuh Genggong adalah keturunan Nabi Muhammad saw.

DNA (deoxyribonucleic acid) sendiri merupakan molekul yang menyimpan semua informasi genetik dan membawa instruksi untuk fungsi tubuh. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit, dan sifat-sifat khusus dari tubuh manusia.

Kiyai saja berani tes DNA, masa habib tidak. Akan tetapi, kalaupun tidak mau tes DNA, tidak apa-apa. Itu hak, tetapi jangan salahkan orang lain jika pengakuannya selama ini sebagai keturunan Nabi Muhammad saw diragukan.

Kitab sumber pada abad awal tidak ada, sertifikat dari negara asal tidak ada, tes DNA tidak mau.

Bagaimana atuh?

Apa bukti yang mendasari bahwa mereka itu adalah keturunan Nabi Muhammad saw?

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang biasa dipanggil Gus Yahya tampaknya tahu ini semua. Untuk meredam isu ini yang juga menyelamatkan harga diri para habib, Gus Yahya mengambil sikap dengan menyatakan bahwa dirinya percaya bahwa Ba Alawi adalah keturunan Rasulullah saw. Hal ini didasarkan bahwa banyak barokah atau manfaat yang dirasakan bangsa Indonesia dari para habib ini. Pernyataannya itu tidak bisa dipungkiri bahwa memang sangat banyak aktivitas dari Ba Alawi yang bermanfaat bagi Indonesia. Kepercayaan semacam ini oleh netizen disebut sebagai kepercayaan lewat jalur barokah. Sementara itu, menurut Kiyai Imad sendiri kepercayaan seperti ini adalah kepercayaan berdasarkan “prasangka” tanpa bukti data. Itu adalah hak setiap orang. Mau percaya tanpa bukti boleh, mau tidak percaya jika tak ada bukti juga boleh.

Seharusnya, oknum Ba Alawi yang sering teriak-teriak nasab itu meredam kebiasaannya supaya situasi pun menjadi ikut lebih kondusif sehingga perdebatan itu tidak terus berlanjut. Jangan sampai justru oknum-oknum habib ini malah terus bikin narasi yang provokatif, misalnya, mengatakan bahwa lembaga nasab di luar Rabithah Alawiyah adalah palsu atau menuding Kiyai Imad dan siapa pun yang meragukan nasab Ba Alawi adalah munafik, anak haram hasil perzinahan, anak yang lahir dari hubungan seks ketika ibunya haid, syiah, yahudi, dzalim, kafir, dan lain sebagainya. Itu tidak menjernihkan situasi. Itu bisa membuat semakin hari semakin besar kebencian dan kemarahan yang tumbuh, ini sangat berbahaya.

Kalau memang ingin benar-benar diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, tes DNA segera, jangan takut. Terimalah hasil ilmu pengetahuan.

Gus Fuad Plered saja ingin tes DNA meskipun diakui banyak orang sebagai keturunan Sunan Ampel. Dia sendiri masih belum yakin penuh tentang dirinya.

“Saya juga ingin tes DNA. Bisa saja saya ini sebetulnya keturunan Petruk Gareng,” begitu kata Gus Fuad.

Kalau tidak mau tes DNA, buatlah situasi yang lebih tenang sehingga situasi lebih kondusif dan jauh dari pertengkaran yang bisa mengakibatkan huru-hara. Ini Indonesia, hiduplah sebagaimana bangsa Indonesia. Jangan merasa diri lebih tinggi atau menciptakan kasta-kasta dalam masyarakat yang tidak perlu dan tidak masuk akal. Allah swt sendiri yang akan menentukan siapa yang paling tinggi dan mulia berdasarkan ilmunya, ketakwaannya, dan manfaatnya bagi manusia lainnya, bahkan bagi alam semesta.

Sampurasun.

Wednesday, 3 May 2023

Jangan Lagi Panggil Habib Jika Tak Layak

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang yang mengartikan habib. Ada yang mengartikan secara bahasa, secara makna, secara sosial, secara rasa, dan lain sebagainya.

            Kali ini saya tulis dua arti yang disampaikan dua habib, lalu kita bisa bersandar pada pendapat keduanya. Pertama, Habib Luthfi bin Yahya. Kedua, Quraish Shihab. Mereka berdua berasal dari Ba Alawi. Sekalian juga tulisan ini untuk membantah mereka yang menyangka atau menuduh saya adalah pembenci para habib. Tuisan saya ini bersandar pada habib. Tidak benar saya membenci habib. Saya itu membenci perilaku yang salah. Perilakunya yang saya benci, orangnya mah tidak.

            Menurut Habib Luthfi, kata habib bermakna “kekasih”. Gelar habib bisa diberikan kepada orang yang dicintai atau dikasihi.

            Menurut Quraish Shihab, habib artinya “orang yang dicintai karena mencintai”. Oleh sebab itu, Quraish Shihab selalu tidak mau disebut habib karena merasa belum bisa “mencintai umat”. Ini soal rasa.

            Akan tetapi, ketika didesak puterinya, Najwa Shihab yang reporter itu, Quraish Shihab memperbolehkan Najwa dan saudaranya, termasuk istrinya untuk memanggilnya habib karena Quraish Shihab merasa bisa mencintai istri dan anak-anaknya, tetapi tidak bersedia dipanggil habib oleh orang lain dengan alasan belum mampu mencintai umat. Padahal, cintanya kepada umat luar biasa besar dengan karya besarnya tafsir Al Misbah.

            Kita lihat dari pendapat keduanya. Ada kata “kekasih, cinta, dan mencintai”. Saya tidak menggunakan pendapat sekelompok orang yang sering mengartikan habib adalah “keturunan Nabi Muhammad saw”.   

Orang yang dicintai itu harus sudah terbukti mencintai terlebih dahulu. Artinya, seseorang yang layak disebut habib itu harus sudah terbukti dahulu mencintai umat. Cinta itu harus dibuktikan, bukan hanya di omongan, teriakan kasar, ataupun paksaan. Seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan harus membuktikan dahulu cintanya sehingga perempuan itu balik mencintainya. Misalnya, Si Pria selalu menanyakan kabarnya, berupaya memenuhi kebutuhannya, membantunya, memecahkan kesulitannya, melindunginya, berkorban untuknya, membimbingnya untuk lebih baik, dan selalu ada untuknya jika diperlukan. Begitu pula sebaliknya. Itu contoh bukti cinta.

            Jika mengikuti pendapat Habib Luthfi dan Quraish Shihab, orang yang layak disebut habib itu adalah orang yang sudah terbukti cintanya kepada umat sehingga layak untuk dicintai. Menurut Habib Zen bin Smith, para habib itu seharusnya melayani umat, mengayomi, melindungi, memberikan contoh yang baik; kalau ada orang membungkuk kepadanya, habib harus lebih membungkuk kepada orang itu.

            Contoh menarik adalah disampaikan oleh Ustadz Suparman yang melihat langsung banyak orang nonmuslim, khususnya Kristen yang hanya memandang wajah Habib Luthfi saja sudah menangis. Orang Islam lebih banyak lagi yang merasa teduh memandang Habib Luthfi. Kalau saya sendiri sih, selalu bersemangat kalau melihat Habib Luthfi. Itu soal rasa. Hal itu disebabkan Habib Luthfi sudah menunjukkan rasa cintanya bukan hanya kepada umat Islam melainkan pula umat nonmuslim yang merasa terlindungi dan terjamin ketenangannya sebagai warga Negara Indonesia minoritas.

            Wajar kalau mereka disebut habib karena orang sudah merasa mendapatkan cintanya. Demikian pula dengan Habib Jindan, Habib Husein Baagil, dan habib-habib lain yang selalu positif berdakwah dan berperilaku.

            Sangatlah aneh jika ada orang-orang dari keturunan mana pun yang teriak-teriak memaksa agar dirinya dihormati dan dimuliakan, padahal tidak ada bukti cinta apa pun dari mereka kepada umat. Bahkan, mereka memaksa orang lain untuk mencintainya tanpa mereka harus mencintai orang lain. Mereka kerap melakukan promosi mendapatkan “syafaat Nabi saw” kalau orang mencintai mereka. Jika orang tidak memuliakan mereka, tidak akan mendapatkan syafaat Nabi saw.

Begitu kan iklan promo mereka berulang-ulang?

Sekarang sudah banyak orang yang sangat kesal dengan promo tak berdasar itu, apalagi setelah ada penelitian dari Kiyai Imad bahwa mereka yang sering teriak nasab nasab itu diragukan nasabnya tersambung ke Nabi Muhammad saw. Syafaat Nabi saw itu akan turun kepada orang yang bertakwa, menjalankan Islam dengan benar, dan memberikan banyak manfaat bagi manusia seluruhnya. Itulah rahmatan lil alamin.

Jadi, jika mengikuti pendapat Habib Luthfi dan Quraish Shihab, sangatlah layak menyebut habib kepada orang yang sudah terbukti cintanya kepada umat. Sama sekali tidak layak memanggil habib kepada orang yang tidak mencintai umat, bahkan membuat umat berhati keras, berkepala batu, dan penuh kebencian.

Sampurasun.

Friday, 28 April 2023

Mulai Ramai Menolak Habib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sekarang ini mulai deras penolakan terhadap sebutan “habib”, sama derasnya dengan promosi “habib” waktu itu seiring dengan Pilpres 2014 dan 2019. Kini, mulai banyak keturunan Nabi saw, terutama dari jalur wali songo yang menolak disebut habib. Ini terjadi sejak pertama, diungkapkannya hasil penelitian K.H. Imaduddin Al Bantani yang menjelaskan bahwa keluarga Alawiyin tidak tersambung ke Nabi Muhammad saw. Kedua, pernyataan tegas “Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT)”, ‘Lembaga Pencatat Nasab Wali Songo’ bahwa Bahar bin Smith telah melakukan fitnah dan NAAT tidak memerlukan pengakuan nasab sebagai keturunan Nabi Muhammad saw dari Rabithah Alawiyah. NAAT punya catatan sendiri yang lebih terjaga dan ilmiah.

            Sekarang, tambah banyak yang mencoba mengupas penelitian Kiyai Imad dengan penjelasan yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Dalam penelitian Kiyai Imad, disebutkan bahwa silsilah yang diproduksi Rabithah Alawiyah berbeda dibandingkan kitab-kitab silsilah lama yang ada sejak abad 5 hijriyah. Dalam silsilah Rabithah Alawiyah terjadi penambahan orang yang diklaim sebagai keturunan Nabi saw, padahal dulu tidak pernah ada. Namanya Ubeidillah. Nama ini seolah-olah dicantolkan belakangan pada sekitar tahun 1800-an. Nama ini tidak dikenal dalam kitab-kitab silsilah lama. Dari Ubeidillah inilah turun generasi keluarga Alawiyah yang ada di Indonesia sekarang ini. Artinya, jika Ubeidillah adalah nama yang dicantolkan belakangan tiba-tiba dan tidak diketahui anak dari siapa, seluruh habib yang ada di Indonesia ini terputus darahnya dari Nabi saw. Mereka bukanlah keturunan Nabi Muhammad saw.

            Di samping itu, tidak ada catatan mereka di Yaman, negara asal mereka. Rabithah Alawiyah itu hanya ada di Indonesia dan berdiri pada 1928. Di Yaman tidak ada. Hal ini menimbulkan keraguan karena jika benar tersambung ke Nabi Muhammad saw, harus ada catatannya dari lembaga di Yaman atau di Irak karena Yaman itu berasal dari Irak.

            Hal yang lebih mengagetkan lagi adalah adanya tuduhan bahwa keluarga Bani Alawiyin ini adalah antek-antek dan boneka penjajah Belanda dalam menghancurkan perjuangan umat Islam di Indonesia. Catatan ini dibongkar dengan dikaitkan pada pencantolan nama Ubeidillah yang terjadi sekitar 1800-an. Sejarah mencatat bahwa kedatangan Belanda dengan perusahaan VOC terjadi mulai 1602. Sejak saat itu terjadi perlawanan pada Belanda, terutama dari kalangan umat Islam. Untuk meredam perlawanan umat Islam, atas saran Snouck Hurgronje, diangkatlah imigran dari Yaman yang bernama Habib Utsman bin Yahya dengan gaji 1.000 gulden per bulan oleh Belanda untuk menjadi Mufti Agung Batavia. Habib Utsman membuat kitab dan berfatwa “Haram Memberontak pada Penjajah Belanda”. Bahkan, Habib ini di Masjid Pekajon mendoakan Ratu Belanda Wilhelmina ketika ulang tahun pada 2 September 1898.

            Hal ini pun sama dengan catatan cendekiawan muslim Azyumardi Azra bahwa Habib Utsman yang berasal dari Yaman, Hadramaut adalah kontroversial dan bekerja sama dengan penjajah Belanda dengan mengkritik jihad petani Banten pada 1888. Inilah data yang tersebar pada berbagai Medsos dan melahirkan banyak kecaman bahwa keluarga Alawiyin ini adalah antek penjajah Belanda.

Coba lihat angka tahunnya, sekitar 1800-an bukan?

Sama dengan perkiraan tahun pencantolan Ubeidillah di silsilah keturunan Nabi saw, bukan?

Kembali ke soal penolakan NAAT untuk konfirmasi terhadap Rabithah Alawiyah. NAAT tidak memerlukan pengakuan Rabithah Alawiyah karena keturunan Wali Songo bukan dari keluarga Alawiyin. Mereka punya keluarga sendiri yang dicatat oleh banyak lembaga keluarga masing-masing. Malah NAAT itu punya catatan yang lebih lengkap, ketat karena harus ada catatan dari negara asal mereka sebagai keturunan Nabi saw, misalnya, Maroko, Irak, Iran, Mesir, dan lain sebagainya. Kalaupun catatan itu tidak ada, mereka tidak takut untuk tes DNA.

Dengan demikian, kita bisa paham mengapa sekarang mulai banyak yang menolak disebut habib. Itu karena data silsilahnya diragukan dan tidak jelas sumbernya serta sebutan “habib” itu hanya klaim dari keluarga Alawiyin. Mereka yang bukan dari Baalawi lebih suka dipanggil “sayid, sayidah, syarif, syarifah”, bahkan ada juga yang hanya senang dipanggil ‘Ustadz” karena merasa lebih dekat dengan masyarakat dan murid-muridnya.

Rabithah Alawiyah harus menjelaskan ini semua dengan riset atau penelitian modern sebagaimana yang dilakukan Kiyai Imad agar semuanya clear. Kalau bisa, lebih hebat dibandingkan Kiyai Imad, misalnya, datanya bersumber dari kitab silsilah yang ditulis pada tahun ketika orang-orang yang ada dalam kitab itu masih hidup. Itu jauh lebih akurat. Paling tidak, kitab yang ditulis tidak jauh jaraknya dari waktu hidup orang-orang yang dicatat dalam kitab itu.

Kalau kita semua mencintai Nabi Muhammad saw dan berharap berlimpahnya  rahmat bagi umat Muhammad saw, buka data yang benar, berdebat yang akademis agar semuanya menjadi lurus. Hasil penelitian hanya bisa dibantah atau digugat oleh penelitian lain yang lebih akurat.  Memang banyak sekarang dari pendukung Rabithah Alawiyah yang menjawab balik Kiyai Imad, tetapi isinya cuma bantahan-bantahan murahan yang kalau enggak marah-marah, cengengesan, atau hal bodoh lainnya. Kalau dijawab dengan hal seperti itu atau sekedar pod cast, mau ribuan tayangan pun, nilainya hanya “nol”, omong kosong. Bikin satu saja penelitian seperti Kiyai Imad, itu sangat jauh lebih bermakna dan penuh ilmu pengetahuan. Itu namanya cerdas. Malu dong sama Nabi Muhammad saw yang “fathonah”, ‘cerdas’. Saya dukung penuh Rabithah Alawiyah untuk melakukan penelitian. Kalau tidak, penelitian Kiyai Imad adalah “kebenaran” sebelum ada penelitian lain yang menjatuhkannya. Begitu cara kerja ilmu pengetahuan.

Buka dengan jujur, apalagi soal sejarah. Jika sejarah keluarga imigran Yaman digunakan sebagai boneka Belanda, akui saja. Tinggal kita bekerja sama di Negara Indonesia yang telah merdeka ini. Kalau tidak dijelaskan, ini bakal menjadi bola liar karena menganggap bahwa wali songo tidak punya keturunan. Padahal, keturunan wali songo itu menyembunyikan dirinya supaya tidak ditangkap penjajah Belanda. Itulah salah satu alasan kenapa keturunan wali songo yang juga keturunan Nabi saw tidak pernah koar-koar soal nasabnya. Mereka semuanya adalah pejuang, pemberontak, prajurit yang melawan penjajahan. Jangan sampai ada pikiran di masyarakat kita bahwa ketika keturunan wali songo sedang berperang, keluarga Yaman malah enak-enak kerja sama dengan Belanda untuk meredam perjuangan keturunan wali songo. Itu sangat berbahaya.

Satu lagi yang mesti dicatat. Jangan takut tes DNA untuk meyakinkan nasab kalau memang keturunan Nabi saw. Reporter Najwa Shihab, anak dari Quraish Shihab, berani untuk melakukan tes DNA. Hasilnya, mengagetkan. Hasil dari tes DNA menunjukkan bahwa komposisi DNA Najwa Shihab jangankan mendekati DNA Nabi Muhammad saw, dekat ke gen Arab saja tidak, hanya 3,48% untuk “Middle Eastern”. Malah, komposisi Najwa Shihab lebih dekat ke gen India, 48,54% untuk “South Asian”. Itu yang ada di kompas com. Hasil ilmu pengetahuan.

Baik Najwa Shihab, maupun ayahnya, Quraish Shihab, tenang-tenang saja. Tidak ada masalah. Dari dulu juga tidak mau disebut habib. Biasa saja. Mereka orang-orang cerdas yang terbuka pikirannya. Saya sangat menghormati Quraish Shihab karena ceramahnya padat ilmu dan menulis tafsir Al Misbah. Tak akan berkurang rasa hormat saya dan para penuntut ilmu kepada Qurasih Shihab hanya karena hasil tes DNA. Demikian pula para pengagum, pengikut, pendukung, atau umat Habib Luthfi bin Yahya, Habib Husein Baagil, Habib Zen Asegaf, Habib Jindan, Habib Husein Jafar, dan habib-habib lainnya, tidak akan berkurang rasa hormat mereka. Rasa hormat itu berasal dari manfaat yang dirasakan, ilmu yang bertambah, masalah yang terpecahkan, ketenteraman dan ketenangan yang terasa, keamanan yang terjamin agar NKRI tetap utuh, kehidupan yang harmonis, dan lain sebagainya.

Hiruk  pikuk soal perhabiban ini terus terjadi karena memang merupakan akibat hiruk pikuk yang mereka lakukan sendiri pada waktu yang lalu. Tenang, selesaikan dengan baik, gunakan ilmu pengetahuan karena Allah swt telah melengkapi kita dengan akal untuk menjadi penengah dalam kehidupan beragama.

Sampurasun.

Wednesday, 26 April 2023

Habib Vs Kiyai

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ngeri ya judulnya?

            Kalau dibahasaindonesiakan artinya menjadi “habib lawan kiyai”. Saya tidak begitu paham mengapa orang-orang membanding-bandingkan mereka.

            Untuk apa?

            Untuk mengejar kehormatan?

            Rendah sekali keinginan itu.

Akan tetapi, ini terjadi. Gilang Al-Ghifary yang katanya ustadz dan mengakui sebagai murid Bahar bin Smith dalam ceramahnya lantang mengatakan bahwa “belajar kepada 1 habib bodoh ukurannya sama dengan belajar kepada 70 kiyai yang berilmu”. Ini aneh dan tidak masuk akal.

            Saya tidak tahu mereka mendapat dalil dari mana. Saya pikir mereka cuma mengarang sendiri.

Setelah saya coba cari tahu, memang katanya dulu ada orang yang disebut ulama berpendapat seperti itu, namanya Ibnu Hajar Al Haytami. Maaf kalau saya salah eja namanya, telinga saya kurang jelas mendengar namanya. Meskipun demikian, saya tidak yakin dengan redaksinya, soalnya saya tidak tahu Ibnu Hajar itu hidup tahun berapa, orang mana, dan di mana dia berkata seperti itu.

            Apakah ketika dia hidup, sudah ada gelar habib dan gelar kiyai?

Gelar habib itu kan mulai dipromosikan Rabithah Alawiyah yang berdiri pada 1928 dan hanya di Indonesia, tidak ada di negara lain, iya kan?

Tahun berapa Ibnu Hajar hidup? Sudah ada gelar habib ketika dia hidup?

Gelar kiyai itu kan hanya ada di Indonesia. Tidak ada di negara lain.

Di mana Ibnu Hajar hidup? Di mana dia berkata seperti itu? Adakah gelar kiyai di Arab atau di Timur Tengah?

Kalaupun Ibnu Hajar pernah berkata mirip dengan kalimat Gilang atau Bahar, itu cuma pendapat. Semua orang bisa berpendapat berdasarkan pemahamannya masing-masing. Pendapatnya bisa sama, bisa berbeda, bisa diterima, bisa pula ditolak.

Pendapat itu sudah tertolak sejak lama oleh ulama besar dunia asal Indonesia, Syekh Nawawi Al Bantani, ‘Syekh Nawawi dari Banten, Indonesia’. Syekh Nawawi adalah ulama rujukan dunia pada masanya. Beliau imam di Mekah dan Madinah. Namanya tercantum dalam kamus Arab. Ada dua orang Indonesia yang namanya tercantum dalam kamus Arab, yaitu Presiden Soekarno dan Syekh Nawawi. Jelas dia adalah ulama besar dunia. Syekh Nawawi punya keturunan yang menjadi pejabat sangat tinggi di Indonesia, yaitu Wakil Presiden RI K.H. Maruf Amin.

Menurut Syekh Nawawi, “1 orang berilmu itu derajatnya lebih tinggi dibandingkan 60 habib yang bodoh”.

Itu juga pendapat. Tinggal kita sebagai umat mencerna, menganalisa, dan mengikuti pendapat mana yang masuk akal dan bisa bermanfaat bagi kehidupan ini. Kalau orang seperti saya ini, tidak akan pernah mau belajar kepada orang yang bodoh, apapun gelarnya, keturunan siapa pun dia.

Sudah mah saya teh bodoh, belajarnya ke orang bodoh, makin bodoh atuh saya.

Kalau belajar sama orang bodoh, kapan mau pintarnya kita?

Malah kepintaran kita bisa jadi rusak karena mengikuti orang bodoh.

Kalau mau belajar kedokteran, ya belajarlah ke dokter yang pintar, jelas pendidikannya, bukan ke dokter-dokteran. Bahaya atuh bisa rusak manusia kalau begitu mah.

Secara logika, tidak mungkin deh belajar ke orang yang bodoh. Bahkan, kalau kita ketemu dengan orang bodoh, kewajiban kita adalah membuatnya pintar sehingga dia bisa hidup lebih baik lagi, keturunan siapa pun dia. Itu juga kalau dia mau jadi lebih pintar. Kalau memilih untuk tetap menjadi orang bodoh, terserah dia.

Ini juga sesuai dengan pengalaman saya pribadi. Pernah ada keturunan Nabi Muhammad saw yang berkonsultasi tentang studinya kepada saya. Saya tidak akan sebut namanya untuk melindungi nama baiknya. Pokoknya sebutan di depan namanya ada ciri keturunan Nabi saw. Kalau keturunan dari cucu Nabi saw Imam Husein, di depannya ada sebutan “sayid” untuk laki-laki dan “sayidah” untuk perempuan. Kalau keturunan dari Imam Hasan ada sebutan “syarif” untuk laki-laki dan “syarifah” untuk perempuan.

Sebelum saya teruskan kisah pengalaman ini, saya minta teman-teman saya yang tahu kejadiannya, tahu peristiwanya, tidak perlu berkomentar, apalagi menyebutkan seluruh nama lengkap orang yang saya ceriterakan ini. Ini untuk melindungi keluarganya.

Dia mengeluh tentang studinya dan berniat untuk berhenti menuntut ilmu di perguruan tinggi. Hal itu disebabkan setelah dia mengalami cedera benturan di kepala akibat kecelakaan motor, jadi mudah lelah berpikir. Berpikir sebentar saja, butuh waktu istirahat atau tidur cukup lama untuk pulih kembali.

Setelah mendengar keluhannya, saya bilang, “Jangan berhenti kuliah.”

Dia tahu saya benar, tetapi dia sudah sangat letih dan merasa tidak sanggup meneruskannya. Beberapa hari kemudian, dia datang lagi bersama ibunya. Mereka menjelaskan kesulitan-kesulitan untuk meneruskan kuliah dan meminta saran saya.

Saya tetap bilang, “Jangan berhenti kuliah.”

Setelah ibunya banyak berbicara, saya malah tambah yakin untuk tetap menyarankan jangan berhenti kuliah. Soalnya, ibunya bilang hanya akan melunasi semua hutangnya ke kampus selama dua tahun lalu karena anaknya tidak bayar lagi biaya kuliah selama sakit dua tahun itu. Dia tidak mau meninggalkan hutang ke kampus sebelum anaknya benar-benar menghentikan studinya. Selain itu, ibunya bilang agak aneh juga terhadap anaknya. Kalau untuk meneruskan belajar di perguruan tinggi, anaknya tampak lelah, tetapi ketika mengajar di pesantren, semangatnya sangat tinggi. Memang keluarga itu punya pesantren besar dengan ribuan santri dan di dalamnya ada MI, MTs, dan Aliyah.

Saya bilang, “Kalau semangat mengajar, justru harus diteruskan kuliah karena syarat menjadi guru itu kan harus minimal selesai pendidikan S1.”

Beberapa minggu kemudian, ibunya datang lagi bersama ayahnya. Mereka minta saran apa yang harus dilakukan agar anaknya selesai kuliahnya. Saya menyarankan agar kakak iparnya yang sedang kuliah S2 membantunya, selesaikan soal hutang ke kampusnya, dan kalau sangat diperlukan, saya pun bisa membantunya kapan saja.

Alhamdulillah, kini studinya sudah selesai dan sah menjadi sarjana. Dia pun dapat terus syiar Islam di pesantrennya dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Mereka sekeluarga mengucapkan terima kasih. Saya pun bersyukur bisa membantu orang, apalagi dzuriyat Rasulullah saw.

Saya mengisahkan ini bukan berarti mengatakan orang yang saya bantu dan keturunan Nabi saw itu lebih bodoh dibandingkan saya, melainkan keturunan Nabi saw pun tetap harus mendapatkan bantuan jika berada dalam kondisi down, kebingungan, ataupun letih. Mereka juga manusia seperti kita yang bisa sakit, terjatuh, tersisih, berjuang, berhasil, dan mulia. Tidak mungkin saya mengatakan dia bodoh.

Masa orang bodoh punya pesantren yang jumlah santrinya ribuan?

Jadi orang berilmu itu penting untuk memberikan jalan dan bantuan kepada mereka yang sedang membutuhkan saran dan jalan untuk memecahkan masalahnya. Soal urusan darah atau nasab, keturunan Nabi saw sudah memiliki kemuliaan tersendiri. Akan tetapi soal ilmu, itu tidak berhubungan dengan darah. Ilmu itu harus dipelajari dan dialami agar dapat memberikan manfaat kepada mereka yang ilmunya berada di bawah ilmu yang kita miliki.

Keturunan Nabi Muhammad saw yang memiliki ilmu tinggi adalah jauh lebih baik daripada orang-orang bodoh, keturunan siapa pun dia.

Sampurasun.

Thursday, 3 March 2022

Habib Pindah Rumah Gara-Gara Toa Memekakkan Telinga

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, yang disampaikan Menag RI Gus Yaqut kurang lengkap karena seolah-olah persoalan bunyi pelantang yang terlalu keras dari masjid dan mushala ini hanya untuk menghormati nonmuslim dan menciptakan suasana lebih harmonis di antara umat beragama. Hal itu disebabkan banyak juga sebetulnya umat Islam yang merasa terganggu oleh suara-suara itu. Saya bisa menceriterakan satu per satu orang-orang yang pernah terganggu itu pada sepanjang hidup saya dan seingat saya. Akan tetapi, kali ini saya ingin mengisahkan gangguan yang dialami oleh keluarga habib berdasarkan pengakuan Habib Ben Shohib (HBS).

            HBS memiliki paman yang sudah berusia tujuh puluh tahun lebih. Pamannya itu pernah meminta pengurus mushala di dekat rumahnya agar mengecilkan volume Toa karena terlalu memekakkan telinga. Akan tetapi, yang terjadi justru adalah perdebatan.

            Pengurus mushala menanggapi permintaan itu dengan nada yang sinis, “Oh, aneh juga ya. Bapak tidak menyukai suara adzan dan dzikir. Bukankah Bapak muslim?”

            Mendapat respon seperti itu, tentu saja paman HBS merasa geram dan balik bertanya, “Anda seorang muslim, saya yakin Anda menyukai ayat-ayat suci Al Quran, tetapi bagimana seandainya saya membacakannya keras-keras di telinga Anda?”

            Perdebatan singkat itu berhenti. Pengurus mushala berjanji akan mengecilkan volume suara Toa. Sayangnya, janji itu tidak pernah dipenuhi. Suara Toa tetap selalu keras memekakan telinga. Akhirnya, paman HBS memilih pindah rumah meninggalkan rumahnya dan memilih tempat lain, menjauh dari mushala yang memekakan telinga itu.

             Kisah yang berikutnya adalah seorang kenalan HBS, yaitu seorang habib tasawuf yang sangat luas ilmunya. Habib ini adalah seorang pengurus yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu. Di rumahnya, habib ini banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku dan bercengkerama dengan istri dan anak-anaknya.

            Pada suatu waktu mulai ada pembangunan mushala di belakang rumahnya. Toa mushala itu berbunyi sangat keras dan sering sekali. Bunyi yang sangat keras itu berasal dari berbagai kegiatannya, mulai pembacaan Al Quran, dzikir, tarhim, adzan, shalat hingga khutbah. Siang hari Toa itu menyiarkan acara majelis taklim ibu-ibu. Apalagi saat tiba bulan Ramadhan, Toa itu bertambah sering berbunyi sangat keras karena kegiatannya bertambah banyak semisal shalat, tarawih, wirid, dan ceramah-ceramah. Pada pukul 02.00 dini hari Toa itu digunakan lagi untuk membangunkan sahur dengan cara seperti orang yang membentak-bentak. Ketika malam takbiran, nonstop takbiran sejak setelah Isya hingga menjelang Shubuh.

            Kondisi itu membuat Sang Habib merasa sangat terganggu setiap mendengar suara keras dari mushala dan masjid. Akhirnya, dia memilih menjual rumahnya dan membeli rumah di daerah pedesaan dengan tanah yang lebih luas. Sebagian tanahnya ia wakafkan untuk membangun mushala bagi warga sekitar. Di mushala itu berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan, seperti, shalat, pembacaan Al Quran, dzikir, pengajian, dan maulidan. Akan tetapi, mushala itu sama sekali tidak menggunakan Toa karena menurutnya, Nabi Muhammad saw adalah seorang yang menyukai kelembutan, ketenangan, dan menjaga kenyamanan orang lain.

            Begitulah kisah yang dituturkan Habib Ben Shohib. Tidak semua orang merasa terganggu, tetapi ada banyak yang merasa terganggu. Kalau kita mau jujur, banyak orang yang merasa terganggu, tetapi lebih memilih diam karena jika menyatakan perasaannya, takut disebut kafir, murtad, munafik, dzalim, dan lain sebagainya. Rumah saya sendiri berdekatan dengan empat masjid, ditambah satu pesantren di samping rumah. Sangat sering mendengar suara-suara itu, tetapi keluarga saya tidak pernah merasa terganggu. Akan tetapi, saya tidak bisa membuat diri saya sebagai standar bagi orang lain karena setiap orang itu berbeda-beda. Saya tidak boleh membuat orang lain menjadi seperti saya. Kita harus berempati kepada kondisi orang lain yang tidak seperti kita. Mungkin mereka terganggu dan kita harus memahami kondisi mereka.

            Saya juga pengurus masjid yang selalu menyerukan dalam setiap rapat dengan pengurus lain untuk jangan selalu menyalahkan orang lain jika jarang ke masjid dan tidak menggunakan masjid sebagai tempat ibadat. Warga lebih memilih shalat, membaca Al Quran, dzikir, dan berbagai ibadat ritual lain di rumahnya masing-masing. Hal itu bisa jadi ada masalah yang harus diperbaiki dalam diri-diri pengurus masjid sehingga membuat orang dapat lebih tertarik dan merasa nyaman beribadat di dalam masjid.

            Sampurasun.