Showing posts with label Nasab. Show all posts
Showing posts with label Nasab. Show all posts

Saturday, 10 June 2023

Buku Punya Kiyai Imad


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ternyata banyak orang yang penasaran tentang kajian ilmiah yang dilakukan Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani. Saking penasarannya, bertanya kepada saya tentang isi penelitiannya, malah ngajak berdebat. Salah kalau bertanya kepada saya atau berdebat dengan saya karena saya bukan penelitinya. Sebaiknya, langsung saja kepada Kiyai Imad. Beliau bersedia kok. Untuk mempermudahnya, Kiyai Imad menggunakan chanel YouTube milik muridnya, Hanif Farhan karena web site milik Kiyai Imad sendiri diretas atau dirusakkan orang hingga hilang. Siapa pun bisa berkomunikasi di chanel Hanif Farhan, bahkan berdebat langsung dengan Kiyai Imad pun bisa.

            Sampai sekarang banyak orang yang mengaku ulama dan menantang berdebat dengan Kiyai Imad, tetapi ketika dilayani, perdebatan itu tidak jadi, kabur, ngeles, dan rupa-rupa alasan lainnya. Mereka bilang sih para penantang debat itu adalah “Ulama Garis Lurus”, tetapi saya melihatnya seperti “Ulama Garis Lucu”.

            Bagaimana tidak lucu?

            Bicaranya emosional, tidak karu-karuan, nantang berdebat, tetapi kabur. Bahkan, ada yang ingin menyelesaikannya dengan mubahalah.

            Penelitian kok dijawab dengan tantangan mubahalah?

            Penelitian itu harus dijawab dengan penelitian lainnya. Tesis ya harus dibantah dengan antitesis. Begitu caranya, bukan dengan makian iblis, neraka, kafir, sesat, dan hal-hal lucu lainnya. Banyak kok video-video lucu emosional tanpa ilmu yang mereka bikin sendiri beredar di YouTube. Kalaupun mereka menggunakan dalil-dalil berbahasa Arab, segera saja mendapatkan bantahan dari santri-santri kecil muda, terutama kesalahan-kesalahan mereka dalam hal membaca tulisan-tulisan Arab. Santri-santri kecil ini malahan lebih logis menerangkannya. 

Karena banyak orang lucu yang tidak juga memberikan jawaban pasti atas hasil penelitian, Kiyai Imad tampaknya semakin yakin bahwa keluarga Ba Alawi atau para habib ini memang bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Hal itu ditunjukkan dengan mulai beredarnya buku yang ditulis Kiyai Imad sendiri tentang terputusnya nasab para habib kepada Nabi Muhammad saw.  Fotonya saya dapatkan dari YouTube. Segera saja hubungi chanel Hanif Farhan untuk memilikinya.


Buku Terbaru Kiyai Imad (Foto: YouTube)


            Dengan beredarnya buku ini, sudah menjadi tugas para habib untuk menjawab penelitian Kiyai Imad, terutama tentang rujukan kitab awal yang harus menerangkan dari mana sumber data yang menjelaskan bahwa Ubaidillah itu adalah anak dari Ahmad bin Isa. Itu juga kalau masih mau diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. Kalau tidak ada buktinya, ya bukan keturunan Nabi Muhammad saw, ngaku saja sebagai orang biasa seperti orang lainnya. Tidak apa-apa kok, kemuliaan itu bisa didapat dari ilmu dan akhlak.

            Hal itu seperti yang disampaikan Quraish Shihab yang menyusun Tafsir Al Misbah, “Buktikan diri sebagai keturunan Rasulullah saw dengan ilmu dan akhlak.”

            Saya sendiri jujur, memang ingin memiliki bukunya dan menganalisa dari metode penelitiannya mulai latar belakang, fenomena, hipotesa, dan lain sebagainya hingga ke simpulan. Akan tetapi, saya masih menahan diri karena kalau sudah memiliki bukunya, saya akan baca dan menganalisanya, itu butuh waktu dan energi yang cukup. Saya masih berkonsentrasi untuk membiayai anak-anak saya kuliah yang setiap minggu harus dibiayai dan itu merupakan kewajiban utama saya sebagai kepala rumah tangga. Jadi, saya harus cari waktu yang luang dan energi yang juga luang untuk membaca dan menganalisa tulisan Kiyai Imad.

            Kalau para pembaca ingin memiliki bukunya, saya sudah sampaikan caranya.

            Sampurasun.

Saturday, 3 June 2023

Jangan Rendahkan Muhammad saw dengan Membiarkan Orang Mengaku-aku sebagai Cucunya

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam keyakinan umat Islam, Nabi Muhammad Rasulullah saw adalah manusia yang sangat mulia. Beliau sudah mulia sebelum dilahirkan, bahkan sebelum dunia ini diciptakan. Dia sudah paling mulia. Ketika Nabi saw lahir, sepanjang hidupnya penuh dengan kemuliaan. Setelah wafat pun tetap sangat mulia. Dia adalah manusia yang paling lengkap dicatat seluruh kehidupannya di muka Bumi ini. Tak ada catatan hidup manusia yang lebih lengkap dibandingkan Nabi Muhammad saw. Dari hal terkecil semisal gerakan tangannya hingga karya besarnya, lengkap tercatat. Tak heran jika Nabi Muhammad saw diakui dunia sebagai manusia No. 1 sangat berpengaruh terhadap manusia lainnya sejak dunia belum diciptakan hingga nanti di alam akhirat.


Kaligarafi Muhammad saw (Foto: Kaligrafi Nusantara - WordPress com) 


            Sudah merupakan suatu kewajaran jika umat Islam berkewajiban memperlakukannya secara khusus dan penuh kemuliaan. Salah satunya adalah jangan membiarkan orang-orang mengaku dirinya merupakan cucu atau keturunan Nabi Muhammad saw tanpa bukti yang jelas. Sang Nabi saw itu manusia termulia sepanjang masa. Tak boleh ada orang-orang yang sembarangan mengaku sebagai cucunya. Tak boleh juga kita mempercayai orang yang mengaku-aku sebagai cucunya hanya berdasarkan pengakuannya. Nabi saw sangat mulia, kok dengan mudah diaku sebagai kakeknya tanpa bukti yang jelas.

            Mengakui diri sebagai cucu Nabi saw saja sudah salah. Cucu Nabi Muhammad saw itu adalah Hasan dan Husen, sudah itu saja. Adapun anak dari Hasan dan Husen bukan cucu Nabi saw.  Mereka adalah cucu dari Fatimah ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Hasan dan Husen adalah cicit Nabi Muhammad saw. Sangat salah jika ada orang yang lahir 1.500 tahun kemudian dari zaman Nabi saw mengakui dirinya sebagai cucu Nabi Muhammad saw.  

            Kalau ada orang yang mengaku-aku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw, tanya apa buktinya. Lalu, periksa pula apa keinginan dia dengan mengaku-aku sebagai cucu Nabi saw itu. Jika kita percaya saja tanpa ada bukti yang jelas, kita sudah merendahkan Nabi Muhammad saw yang sangat mulia itu. Apalagi jika orang yang mengaku cucu Nabi itu ternyata akhlaknya buruk, ucapannya menyesatkan, ajarannya menyimpang dari Nabi Muhammad saw. Kita gegabah mempercayai orang hanya berdasarkan pengakuan dirinya, langsung ataupun tidak langsung, kita sudah merendahkan Nabi Muhammad saw.

            Setelah terbukanya penelitian Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani, bukti yang harus ada untuk menentukan seseorang adalah keturunan Nabi Muhammad saw atau bukan, ada tiga hal, yaitu: bukti kitab rujukan nasab yang tersambung dari abad awal hijriyah hingga hari ini; adanya sertifikat internasional dari negara asal mereka; adanya bukti hasil tes DNA. Ketiga-tiganya wajib ada, tidak boleh hanya salah satu. Hal itu disebabkan Nabi Muhammad saw adalah orang paling mulia. Enak saja mengaku-aku sebagai keturunannya tanpa adanya ketiga bukti tadi.

            Kalau ada orang yang mengaku-aku keturunan Nabi Muhammad saw tanpa ada ketiga bukti tadi, pastikan saja dia atau mereka atau gerombolan mereka adalah para pendusta. Jangan sekali-sekali mengikuti mereka karena mereka adalah para pendusta. Mereka adalah para pembohong hingga bisa membuktikan ketiga hal tadi. Jika mereka mampu membuktikannya, kita wajib mempercayainya dan menghormatinya sebagai keturunan mulia dari manusia paling mulia di muka Bumi ini.

            Kalian bodoh jika percaya bahwa saya adalah keturunan Pangeran Diponegoro. Kalau saya hanya mengaku-aku tanpa bukti yang jelas, kalian salah besar mempercayai saya. Seharusnya, tanya saya apa buktinya, mana rujukan atau daftar silsilahnya. Periksa nama-namanya, tersambung tidak ke Pangeran Diponegoro. Kalau memang ada dan tersambung dalam catatannya, jangan percaya dulu. Periksa tulisannya apakah tulisannya diprint dengan menggunakan HVS dan desain corel draw atau aplikasi lainnya. Kalau dibikin dengan tulisan berteknologi saat ini, jangan percaya karena bisa dibuat dadakan saat ini juga. Tanya manuskripnya atau catatan kuno yang masih dalam tulisan tangan. Periksa tinta dan kertasnya. Apakah tintanya berasal dari zaman Pangeran Diponegoro atau hanya beli di mall. Apakah kertasnya dibuat dari jerami, kayu, kulit binatang, atau yang lainnya. Bawa ke laboratorium supaya kertas dan tintanya diketahui berasal dari abad berapa, tahun berapa. Begitu caranya. Setelah itu, cek siapa penulisnya, hidup tahun berapa, apa posisi dia di masyarakat, dan lain sebagainya.

            Saya yakin Kiyai Imad pun akan melakukan pemeriksaan fisik kitab untuk menentukan usia tulisan atau berasal dari abad berapa yang berisi tentang silsilah keturunan Nabi Muhammad saw dari generasi ke generasi. Sangat wajar seperti itu untuk memurnikan dan menyucikan silsilah Nabi Muhammad saw hingga saat ini, terlepas dari kedustaan dan kecurangan.

            Ingat Nabi Muhammad saw itu manusia paling mulia, maka keturunannya pun harus benar-benar diperiksa untuk menjaga kemuliaan Nabi Muhammad saw. Jangan gegabah.

            Kalau kalian meragukan saya sebagai keturunan Pangeran Diponegoro tanpa bukti, sudah seharusnya kita meragukan siapa pun yang mengakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw tanpa bukti yang jelas dan sah. Kalau kita hanya percaya pada pengakuan tanpa bukti, siapa pun dapat mengaku-aku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw.

            Hati-hati, tetap bijaksana dan teruslah menambah ilmu karena kemuliaan ilmu mengalahkan kemuliaan nasab. Manusia yang berilmu jauh lebih mulia dibandingkan orang yang bernasab mulia, tetapi tidak berilmu.

            Kaligrafi Muhammad saw saya dapatkan dari Kaligrafi Nusantara-WordPress com.

            Sampurasun.

Monday, 15 May 2023

Kiyai Imad Tantang Ulama Sedunia

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kebiasaan songong sih. Padahal, sudah saya bilang bahwa setelah Ketua Umum PBNU Gus Yahya meredam pertentangan, seharusnya para habib diam, bikin situasi yang lebih kondusif. Hal itu disebabkan mereka memang tidak punya sumber data yang bisa dipercaya dan otentik, kitab rujukan abad awal tidak ada, sertifikat internasional tidak ada, serta tes DNA pun tidak mau. Mereka sangat lemah, sudah seharusnya mulai diam karena memang kalah data dan lemah bukti. Para habib tidak bisa membuktikan dengan benar bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, sayangnya, oknum-oknum habib songong ini malah bikin narasi-narasi aneh, video-video aneh, terus-terusan kasar, caci maki, serta tetap jualan promo syafaat, kuwalat, tuduhan syiah, yahudi, dan lain sebagainya untuk menipu orang-orang bodoh yang otaknya sudah terkuasai untuk dibodohi.

            Jika ingin berdiskusi dan berdebat, Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani menyediakan diri, baik untuk berdebat langsung maupun melalui media online. Banyak memang yang teriak-teriak berani untuk berdebat, tetapi tidak ada buktinya, Omdo, omong doang. Misalnya, Bahar bin Smith berani untuk berdebat selama sebulan, tetapi tidak juga terjadi, ngomongnya aja yang keras, ilmunya sih tidak ada. Demikian juga Qurtubi, pentolan FPI Banten, menantang debat Kiyai Imad, tetapi tidak mau live dan jangan diliput media, itu kan omong doang. Kalau sembunyi-sembunyi, bisa main persekusi dan main gerombolan karena tidak terdeteksi masyarakat luas.


Kiyai Imaduddin Utsman Al Bantani (Foto: Harianexpose.com)


            Saya lebih menyukai Hanif Al Athos, menantu Rizieq Shihab, yang membuat tulisan bantahan kepada Kiyai Imad. Dia bikin lagi artikel untuk membuktikan tersambungnya Ba Alawi kepada Nabi Muhammad saw. Begitu seharusnya meskipun tulisan Hanif dengan sangat mudah dipatahkan oleh Kiyai Imad.

Tidak jauh-jauh seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sudah pasti, dicek kitab rujukannya terlebih dahulu: siapa penulisnya? Ditulis tahun berapa atau abad berapa? Di mana ditulisnya?

Tidak benar jika catatan nasab yang ditanyakan awal abad 4 atau 5 dijawab oleh catatan atau tulisan yang dibuat pada tahun 2023 atau 1444 H. Seharusnya, ditunjukkan tulisan yang dibuat pada awal abad 4, 5, atau 6.

Meskipun tulisan Hanif Al Athos mudah sekali dipatahkan, itu tetap harus dihormati karena telah menyumbangkan perkembangan ilmu walaupun sedikit, bahkan salah. Soal salah dan benar itu nomor dua. Kita bisa tahu salah atau benar itu setelah diuji secara ilmiah. Kalaupun salah, tetap sudah punya pahala, yaitu pahala berpikir.

Karena mereka kesulitan mengalahkan Kiyai Imad, tampaknya mereka mengundang kolega-kolega mereka, ulama dari Yaman atau Timur Tengah untuk membuktikan nasab mereka tersambung kepada Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, sayangnya, tulisan ulama-ulama itu pun sama, tidak jauh seperti apa yang dibuat oleh Hanif Al Athos. Untuk memahami hal ini, silakan ikuti chanel youtube Hanif Farhan. Terlalu panjang kalau saya menulis itu, lebih baik dari saluran aslinya yang digunakan oleh Kiyai Imaduddin. Tulisan para ulama itu pun mudah sekali dipatahkan Kiyai Imad. Seperti yang sudah saya bilang berkali-kali, pasti kitab rujukannya yang dipermasalahkan terlebih dahulu.

Ada memang yang mengklaim punya kitab pada abad ke-4, tetapi penulisnya tidak dikenal, tidak masyhur, atau majhul. Penulisnya tidak dikenal oleh para ahli nasab pada abad itu. Penulis terkenal itu pasti hasil tulisan atau karyanya dijadikan kutipan atau dikutip oleh para ahli nasab pada zaman itu. Kalau tidak pernah dikutip, ya tidak masyhur. Ada pula yang menurut saya lucu, yaitu meminta ulama Yaman untuk menandatangani bahwa Ba Alawi adalah benar keturunan Nabi Muhammad saw.

Untuk apa tanda tangan itu?

Tetap saja bakal ditanyakan dari mana dia tahu bahwa Ba Alawi atau Ubaidillah itu anak dari Ahmad bin Isa dan tersambung kepada Rasulullah saw? Dari mana sumbernya?

 Perilaku oknum-oknum habib inilah yang membuat Kiyai Imad menantang ulama seluruh dunia untuk membuktikan dua hal. Pertama, terputusnya nasab para habib kepada Rasulllah saw. Kedua, membuktikan palsunya hadits-hadits untuk mencintai dan menghormati keturunan Rasulullah saw.

Menurut Kiyai Imad, yang disebut ahlul bait atau keluarga Rasulullah saw itu adalah Fatimah, Hasan, Husen, Ali, dan Bani Muthalib. Setelah itu, tidak ada ahlul bait. Keturunan Nabi saw setelah itu disebut dzuriyah bukan ahlul bait. Hadits-hadits mengenai fadillah atau kemuliaan ahlul bait itu kembali kepada orang-orang yang disebut tadi dan bukan kepada keturunannya. Bahkan, menurutnya, makna hadits-hadits itu telah dirampas untuk ditujukan dan digunakan orang-orang yang suka mengaku-aku keturunan Nabi saw. Tidak wajib untuk mencintai dan menghormati keturunan Rasulullah saw. Tidak wajib itu bukan berarti haram atau tidak boleh. Kalau mau mencintai atau menghormati, bagus. Bersikap biasa-biasa juga tidak apa-apa. Kiyai Imad bersedia berdebat dan memeriksa hadits-hadits itu selama tiga hari tiga malam. Hal yang wajib untuk dicintai dan dihormati itu adalah orang-orang yang berilmu atau para ulama. Ada ribuan ayat tentang wajibnya menghormati ilmu dan menghormati orang berilmu.

Begitulah tantangan Kiyai Imaduddin Al Bantani. Seperti saya bilang, kalau memang mau membantah, bikin karya ilmiah tandingan. Kalau tidak bisa, jangan songong, buatlah situasi lebih tenang sehingga tidak timbul kemarahan dari keturunan wali songo. Tidak kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dan mengoreksi diri. Kita semua manusia yang sangat mudah untuk berbuat kesalahan, tetapi Allah swt membuat pula jalan untuk memperbaiki kesalahan itu menjadi hal yang sangat baik dan diridhoi Allah swt.

Soal nasab ini sudah jadi melebar ke mana-mana, malah cenderung membahayakan kehidupan yang harmonis. Kalau mau lebih cepat selesai, buktikan dengan tes DNA. Kiyai Imad menantang warga Banten, Bandung, Garut, dan Sumedang untuk tes DNA agar membuktikan mereka adalah keturunan Prabu Sliwangi. Rakyat pun mengatakan siap untuk tes DNA jika diminta oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Begitulah. Tenang, bikin suasana lebih nyaman, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Sampurasun

Friday, 28 April 2023

Mulai Ramai Menolak Habib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sekarang ini mulai deras penolakan terhadap sebutan “habib”, sama derasnya dengan promosi “habib” waktu itu seiring dengan Pilpres 2014 dan 2019. Kini, mulai banyak keturunan Nabi saw, terutama dari jalur wali songo yang menolak disebut habib. Ini terjadi sejak pertama, diungkapkannya hasil penelitian K.H. Imaduddin Al Bantani yang menjelaskan bahwa keluarga Alawiyin tidak tersambung ke Nabi Muhammad saw. Kedua, pernyataan tegas “Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT)”, ‘Lembaga Pencatat Nasab Wali Songo’ bahwa Bahar bin Smith telah melakukan fitnah dan NAAT tidak memerlukan pengakuan nasab sebagai keturunan Nabi Muhammad saw dari Rabithah Alawiyah. NAAT punya catatan sendiri yang lebih terjaga dan ilmiah.

            Sekarang, tambah banyak yang mencoba mengupas penelitian Kiyai Imad dengan penjelasan yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Dalam penelitian Kiyai Imad, disebutkan bahwa silsilah yang diproduksi Rabithah Alawiyah berbeda dibandingkan kitab-kitab silsilah lama yang ada sejak abad 5 hijriyah. Dalam silsilah Rabithah Alawiyah terjadi penambahan orang yang diklaim sebagai keturunan Nabi saw, padahal dulu tidak pernah ada. Namanya Ubeidillah. Nama ini seolah-olah dicantolkan belakangan pada sekitar tahun 1800-an. Nama ini tidak dikenal dalam kitab-kitab silsilah lama. Dari Ubeidillah inilah turun generasi keluarga Alawiyah yang ada di Indonesia sekarang ini. Artinya, jika Ubeidillah adalah nama yang dicantolkan belakangan tiba-tiba dan tidak diketahui anak dari siapa, seluruh habib yang ada di Indonesia ini terputus darahnya dari Nabi saw. Mereka bukanlah keturunan Nabi Muhammad saw.

            Di samping itu, tidak ada catatan mereka di Yaman, negara asal mereka. Rabithah Alawiyah itu hanya ada di Indonesia dan berdiri pada 1928. Di Yaman tidak ada. Hal ini menimbulkan keraguan karena jika benar tersambung ke Nabi Muhammad saw, harus ada catatannya dari lembaga di Yaman atau di Irak karena Yaman itu berasal dari Irak.

            Hal yang lebih mengagetkan lagi adalah adanya tuduhan bahwa keluarga Bani Alawiyin ini adalah antek-antek dan boneka penjajah Belanda dalam menghancurkan perjuangan umat Islam di Indonesia. Catatan ini dibongkar dengan dikaitkan pada pencantolan nama Ubeidillah yang terjadi sekitar 1800-an. Sejarah mencatat bahwa kedatangan Belanda dengan perusahaan VOC terjadi mulai 1602. Sejak saat itu terjadi perlawanan pada Belanda, terutama dari kalangan umat Islam. Untuk meredam perlawanan umat Islam, atas saran Snouck Hurgronje, diangkatlah imigran dari Yaman yang bernama Habib Utsman bin Yahya dengan gaji 1.000 gulden per bulan oleh Belanda untuk menjadi Mufti Agung Batavia. Habib Utsman membuat kitab dan berfatwa “Haram Memberontak pada Penjajah Belanda”. Bahkan, Habib ini di Masjid Pekajon mendoakan Ratu Belanda Wilhelmina ketika ulang tahun pada 2 September 1898.

            Hal ini pun sama dengan catatan cendekiawan muslim Azyumardi Azra bahwa Habib Utsman yang berasal dari Yaman, Hadramaut adalah kontroversial dan bekerja sama dengan penjajah Belanda dengan mengkritik jihad petani Banten pada 1888. Inilah data yang tersebar pada berbagai Medsos dan melahirkan banyak kecaman bahwa keluarga Alawiyin ini adalah antek penjajah Belanda.

Coba lihat angka tahunnya, sekitar 1800-an bukan?

Sama dengan perkiraan tahun pencantolan Ubeidillah di silsilah keturunan Nabi saw, bukan?

Kembali ke soal penolakan NAAT untuk konfirmasi terhadap Rabithah Alawiyah. NAAT tidak memerlukan pengakuan Rabithah Alawiyah karena keturunan Wali Songo bukan dari keluarga Alawiyin. Mereka punya keluarga sendiri yang dicatat oleh banyak lembaga keluarga masing-masing. Malah NAAT itu punya catatan yang lebih lengkap, ketat karena harus ada catatan dari negara asal mereka sebagai keturunan Nabi saw, misalnya, Maroko, Irak, Iran, Mesir, dan lain sebagainya. Kalaupun catatan itu tidak ada, mereka tidak takut untuk tes DNA.

Dengan demikian, kita bisa paham mengapa sekarang mulai banyak yang menolak disebut habib. Itu karena data silsilahnya diragukan dan tidak jelas sumbernya serta sebutan “habib” itu hanya klaim dari keluarga Alawiyin. Mereka yang bukan dari Baalawi lebih suka dipanggil “sayid, sayidah, syarif, syarifah”, bahkan ada juga yang hanya senang dipanggil ‘Ustadz” karena merasa lebih dekat dengan masyarakat dan murid-muridnya.

Rabithah Alawiyah harus menjelaskan ini semua dengan riset atau penelitian modern sebagaimana yang dilakukan Kiyai Imad agar semuanya clear. Kalau bisa, lebih hebat dibandingkan Kiyai Imad, misalnya, datanya bersumber dari kitab silsilah yang ditulis pada tahun ketika orang-orang yang ada dalam kitab itu masih hidup. Itu jauh lebih akurat. Paling tidak, kitab yang ditulis tidak jauh jaraknya dari waktu hidup orang-orang yang dicatat dalam kitab itu.

Kalau kita semua mencintai Nabi Muhammad saw dan berharap berlimpahnya  rahmat bagi umat Muhammad saw, buka data yang benar, berdebat yang akademis agar semuanya menjadi lurus. Hasil penelitian hanya bisa dibantah atau digugat oleh penelitian lain yang lebih akurat.  Memang banyak sekarang dari pendukung Rabithah Alawiyah yang menjawab balik Kiyai Imad, tetapi isinya cuma bantahan-bantahan murahan yang kalau enggak marah-marah, cengengesan, atau hal bodoh lainnya. Kalau dijawab dengan hal seperti itu atau sekedar pod cast, mau ribuan tayangan pun, nilainya hanya “nol”, omong kosong. Bikin satu saja penelitian seperti Kiyai Imad, itu sangat jauh lebih bermakna dan penuh ilmu pengetahuan. Itu namanya cerdas. Malu dong sama Nabi Muhammad saw yang “fathonah”, ‘cerdas’. Saya dukung penuh Rabithah Alawiyah untuk melakukan penelitian. Kalau tidak, penelitian Kiyai Imad adalah “kebenaran” sebelum ada penelitian lain yang menjatuhkannya. Begitu cara kerja ilmu pengetahuan.

Buka dengan jujur, apalagi soal sejarah. Jika sejarah keluarga imigran Yaman digunakan sebagai boneka Belanda, akui saja. Tinggal kita bekerja sama di Negara Indonesia yang telah merdeka ini. Kalau tidak dijelaskan, ini bakal menjadi bola liar karena menganggap bahwa wali songo tidak punya keturunan. Padahal, keturunan wali songo itu menyembunyikan dirinya supaya tidak ditangkap penjajah Belanda. Itulah salah satu alasan kenapa keturunan wali songo yang juga keturunan Nabi saw tidak pernah koar-koar soal nasabnya. Mereka semuanya adalah pejuang, pemberontak, prajurit yang melawan penjajahan. Jangan sampai ada pikiran di masyarakat kita bahwa ketika keturunan wali songo sedang berperang, keluarga Yaman malah enak-enak kerja sama dengan Belanda untuk meredam perjuangan keturunan wali songo. Itu sangat berbahaya.

Satu lagi yang mesti dicatat. Jangan takut tes DNA untuk meyakinkan nasab kalau memang keturunan Nabi saw. Reporter Najwa Shihab, anak dari Quraish Shihab, berani untuk melakukan tes DNA. Hasilnya, mengagetkan. Hasil dari tes DNA menunjukkan bahwa komposisi DNA Najwa Shihab jangankan mendekati DNA Nabi Muhammad saw, dekat ke gen Arab saja tidak, hanya 3,48% untuk “Middle Eastern”. Malah, komposisi Najwa Shihab lebih dekat ke gen India, 48,54% untuk “South Asian”. Itu yang ada di kompas com. Hasil ilmu pengetahuan.

Baik Najwa Shihab, maupun ayahnya, Quraish Shihab, tenang-tenang saja. Tidak ada masalah. Dari dulu juga tidak mau disebut habib. Biasa saja. Mereka orang-orang cerdas yang terbuka pikirannya. Saya sangat menghormati Quraish Shihab karena ceramahnya padat ilmu dan menulis tafsir Al Misbah. Tak akan berkurang rasa hormat saya dan para penuntut ilmu kepada Qurasih Shihab hanya karena hasil tes DNA. Demikian pula para pengagum, pengikut, pendukung, atau umat Habib Luthfi bin Yahya, Habib Husein Baagil, Habib Zen Asegaf, Habib Jindan, Habib Husein Jafar, dan habib-habib lainnya, tidak akan berkurang rasa hormat mereka. Rasa hormat itu berasal dari manfaat yang dirasakan, ilmu yang bertambah, masalah yang terpecahkan, ketenteraman dan ketenangan yang terasa, keamanan yang terjamin agar NKRI tetap utuh, kehidupan yang harmonis, dan lain sebagainya.

Hiruk  pikuk soal perhabiban ini terus terjadi karena memang merupakan akibat hiruk pikuk yang mereka lakukan sendiri pada waktu yang lalu. Tenang, selesaikan dengan baik, gunakan ilmu pengetahuan karena Allah swt telah melengkapi kita dengan akal untuk menjadi penengah dalam kehidupan beragama.

Sampurasun.