Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Thursday, 29 January 2026

Politik Luas Hati Merajut Cinta

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Maksud judul di atas adalah sikap dan rasa berpolitik yang mau menerima perbedaan, tidak harus bermusuhan jika berbeda pandangan, dan membangun kebersamaan untuk tujuan yang sama. Banyak tokoh di Indonesia ini yang sudah melakukan hal itu, tetapi kurang diperhatikan dan tidak diteladani. Contohnya, Soekarno berdebat keras dengan Syahrir sampai urat leher tegang keluar dengan mata melotot merah, tetapi pulangnya berboncengan bareng naik sepeda ontel. Prabowo memerangi Panglima Aceh Merdeka selama 25 tahun saling bunuh, tetapi akhirnya mereka bersatu dalam partai yang sama.

            Contoh lain yang masih segar dalam ingatan kita adalah Jokowi yang telah mengalahkan Prabowo dua kali bisa saling mendekat dan saling memahami. Keduanya meluaskan hatinya untuk bersama, kemudian sepakat untuk saling mendukung karena memiliki rasa cinta yang sama. Mereka sama-sama mencintai negara dan rakyatnya dalam versi mereka. Padahal, perbedaan keduanya bisa menghancurkan persatuan Indonesia, tetapi karena ada rasa cinta yang sama, Indonesia hingga tulisan ini dibuat, tetap berada dalam keadaan kokoh dan bersatu. Ini namanya fakta.

            Ada contoh lain yang juga menarik. Provinsi Jawa Barat telah menyelesaikan masa pemilihan gubernur yang juga ketat, penuh dinamika, hingga makian kotor dan hujatan-hujatan rendah. Akan tetapi, setelah Dedi Mulyadi memenangkan pertarungan, semua kompetitor bisa saling menahan diri untuk tidak melakukan kerusakan, terutama terhadap psikologi masyarakat Jawa Barat. Bahkan, saingan Dedi Mulyadi, yaitu Gitalis Dwi Natarina yang dikenal dengan panggilan Gita KDI menyanyikan dengan merdu dan cantik lagu ciptaan Dedi Mulyadi yang dikenal pula dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Judul lagu KDM yang dinyanyikan Gita adalah “Rindu Purnama”. Bagi yang belum menikmati lagunya dan ingin menikmatinya, saya kasih linknya, mudah-mudahan lagu ini bisa melunakan hati-hati yang keras, https://www.youtube.com/watch?v=YdTUqfAaUrY

            Foto Gita saya dapatkan dari INewsBandungRaya dan KDM yang diciumi emak-emak dari Merdeka com.


Gitalis Dwi Natarina (Foto: INewsBandungRaya)


            Baik KDM maupun Gita dan pesaing lainnya, telah melunakkan hatinya demi merajut cinta. Mereka semua mencintai kedamaian, persatuan, dan rakyat Jawa Barat. Apabila di antara mereka mulai tampak saling bertengkar hingga berpotensi merusakkan Provinsi Jawa Barat, rakyat harus mengingatkan mereka dengan cinta juga sehingga mereka kembali pada jalan yang benar, yaitu mencintai rakyatnya.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi diciumi emak-emak (Foto: Merdeka.com)


Perilaku atau sikap berpolitik luas hati merajut cinta menandakan bahwa kita berbeda dengan orang barat, timur tengah, dan timur atau asia lainnya. Kita punya sikap dan rasa sendiri yang harus dipertahankan untuk kehidupan kita. Kalau orang lain dari belahan dunia lain menganggap bahwa perilaku kita itu “aneh” karena beda pandangan politik itu harus bermusuhan, itu patut kita syukuri. Kita bisa menjadi contoh dalam merajut perdamaian dunia dengan perilaku cinta tanpa harus menggurui.

Sampurasun

Thursday, 4 April 2024

Cinta dalam Perbedaan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Giovanna Milana asal Italia yang tumbuh di Amerika Serikat dan Megawati Hangestri Pertiwi asal Indonesia adalah pemain bola voli dunia yang beberapa waktu bergabung dalam tim Red Sparks, Korea Selatan. Megawati selalu menjadi incaran media dan meningkatkan jumlah pemerhati dan pecinta voli. Giovanna yang akrab dipanggil Gia menjadi partner utama dalam voli dan perjalanan liga voli di Korea. Keduanya tentu saja menjadikan industri liga voli Korea mendapatkan untung yang teramat besar.

            Selama bulan-bulan pertandingan, tumbuh cinta, saling ketergantungan, saling bahu, saling mengandalkan di antara mereka sehingga berubah menjadi persaudaraan yang menarik. Gia menganggap Megawati adalah adiknya sendiri yang sangat dia rindukan dan harapkan. Tampaknya dia merasa lengkap jika ada Mega di sisinya. Sebaliknya, merasa kurang jika Mega tak ada bersamanya.

            Hal itu bisa dilihat dari surat terbuka Gia untuk Mega dalam media sosialnya. Suratnya panjang, bisa dilihat pada berbagai media main stream maupun media sosial. Saya hanya menulis ulang beberapa kata yang sangat menarik.

            Seperti ini yang ditulis Gia untuk Mega sesaat ketika liga berakhir.

            “Satu hal yang sangat aku kagumi tentang dirimu adalah iman dan tentang cinta terhadap kehidupan. Kamu luar biasa hangat terhadap semua orang yang ada di sekitarmu, tak peduli bahasa apapun yang mereka gunakan. Aku sempat terkejut ketika aku tiba dan melihatmu ada di tengah-tengah gadis-gadis Korea, tertawa dan berbicara pada mereka seolah kamu juga berbahasa Korea.

Aku tahu bahwa kita tidak perlu harus mengucapkan kata selamat tinggal, tak peduli bagaimana pun nanti kehidupan membawa kita. Ini sebuah bentuk ucapan terima kasih di hadapan dunia karena kamu telah menjadi dirimu apa adanya dan selalu ada di sisiku seiring perjuangan yang kita lalu bersama-sama musim ini, saling bergandengan tangan. Aku tak tahu bagaimana aku bisa melakukan ini tanpa dirimu.

Aku mencintaimu Adik Kecilku. Sampai jumpa lagi.”

Gia mengakui bahwa awalnya sempat tidak bisa menulis karena menangis terus mengingat Mega. Dia memaksakan diri untuk menulis surat terbukanya.


Gia dan Mega (Foto: Red Sparks)


Hal yang menarik adalah mereka berbeda keluarga, berbeda bangsa, berbeda negara, berbeda warna kulit, berbeda ras, berbeda keyakinan, berbeda budaya, dan berbeda agama, tetapi Tuhan mempertemukan mereka dan membuat mereka menjadi saudara. Itulah tandanya bahwa seluruh manusia itu sesungguhnya berasal dari Zat Yang Sama, Diri Yang Sama. Seluruhnya diciptakan oleh Zat Yang Penuh Cinta. Sesungguhnya, kita semua sama bersumber dari hal yang sama, Sang Mahabijak. Perbedaan-perbedaan yang ada itu tetap diawasi dan berada dalam kendali Sang Mahacinta. Perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya tidak harus menjadi sumber perpecahan dan kerusakan, tetapi sumber kebaikan. Hal itu sebagaimana yang diucapkan-Nya sendiri bahwa Dia menciptakan perbedaan di antara manusia itu agar manusia saling mengenal dan dapat hidup lebih baik menghadapi hidup dan kehidupan.

Terinspirasi dari ucapan Abdurahman Wahid atau Gus Dur, “Jika kamu membenci orang lain karena agamanya, sesungguhnya tuhanmu bukanlah Allah swt, melainkan agama.”

Cinta dan persaudaraan bisa menembus berbagai hal dan menjadi pengikat untuk hidup lebih baik.

Foto Gia dan Mega saya dapatkan dari IDN Times

Sampurasun.

Wednesday, 3 May 2023

Jangan Lagi Panggil Habib Jika Tak Layak

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang yang mengartikan habib. Ada yang mengartikan secara bahasa, secara makna, secara sosial, secara rasa, dan lain sebagainya.

            Kali ini saya tulis dua arti yang disampaikan dua habib, lalu kita bisa bersandar pada pendapat keduanya. Pertama, Habib Luthfi bin Yahya. Kedua, Quraish Shihab. Mereka berdua berasal dari Ba Alawi. Sekalian juga tulisan ini untuk membantah mereka yang menyangka atau menuduh saya adalah pembenci para habib. Tuisan saya ini bersandar pada habib. Tidak benar saya membenci habib. Saya itu membenci perilaku yang salah. Perilakunya yang saya benci, orangnya mah tidak.

            Menurut Habib Luthfi, kata habib bermakna “kekasih”. Gelar habib bisa diberikan kepada orang yang dicintai atau dikasihi.

            Menurut Quraish Shihab, habib artinya “orang yang dicintai karena mencintai”. Oleh sebab itu, Quraish Shihab selalu tidak mau disebut habib karena merasa belum bisa “mencintai umat”. Ini soal rasa.

            Akan tetapi, ketika didesak puterinya, Najwa Shihab yang reporter itu, Quraish Shihab memperbolehkan Najwa dan saudaranya, termasuk istrinya untuk memanggilnya habib karena Quraish Shihab merasa bisa mencintai istri dan anak-anaknya, tetapi tidak bersedia dipanggil habib oleh orang lain dengan alasan belum mampu mencintai umat. Padahal, cintanya kepada umat luar biasa besar dengan karya besarnya tafsir Al Misbah.

            Kita lihat dari pendapat keduanya. Ada kata “kekasih, cinta, dan mencintai”. Saya tidak menggunakan pendapat sekelompok orang yang sering mengartikan habib adalah “keturunan Nabi Muhammad saw”.   

Orang yang dicintai itu harus sudah terbukti mencintai terlebih dahulu. Artinya, seseorang yang layak disebut habib itu harus sudah terbukti dahulu mencintai umat. Cinta itu harus dibuktikan, bukan hanya di omongan, teriakan kasar, ataupun paksaan. Seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan harus membuktikan dahulu cintanya sehingga perempuan itu balik mencintainya. Misalnya, Si Pria selalu menanyakan kabarnya, berupaya memenuhi kebutuhannya, membantunya, memecahkan kesulitannya, melindunginya, berkorban untuknya, membimbingnya untuk lebih baik, dan selalu ada untuknya jika diperlukan. Begitu pula sebaliknya. Itu contoh bukti cinta.

            Jika mengikuti pendapat Habib Luthfi dan Quraish Shihab, orang yang layak disebut habib itu adalah orang yang sudah terbukti cintanya kepada umat sehingga layak untuk dicintai. Menurut Habib Zen bin Smith, para habib itu seharusnya melayani umat, mengayomi, melindungi, memberikan contoh yang baik; kalau ada orang membungkuk kepadanya, habib harus lebih membungkuk kepada orang itu.

            Contoh menarik adalah disampaikan oleh Ustadz Suparman yang melihat langsung banyak orang nonmuslim, khususnya Kristen yang hanya memandang wajah Habib Luthfi saja sudah menangis. Orang Islam lebih banyak lagi yang merasa teduh memandang Habib Luthfi. Kalau saya sendiri sih, selalu bersemangat kalau melihat Habib Luthfi. Itu soal rasa. Hal itu disebabkan Habib Luthfi sudah menunjukkan rasa cintanya bukan hanya kepada umat Islam melainkan pula umat nonmuslim yang merasa terlindungi dan terjamin ketenangannya sebagai warga Negara Indonesia minoritas.

            Wajar kalau mereka disebut habib karena orang sudah merasa mendapatkan cintanya. Demikian pula dengan Habib Jindan, Habib Husein Baagil, dan habib-habib lain yang selalu positif berdakwah dan berperilaku.

            Sangatlah aneh jika ada orang-orang dari keturunan mana pun yang teriak-teriak memaksa agar dirinya dihormati dan dimuliakan, padahal tidak ada bukti cinta apa pun dari mereka kepada umat. Bahkan, mereka memaksa orang lain untuk mencintainya tanpa mereka harus mencintai orang lain. Mereka kerap melakukan promosi mendapatkan “syafaat Nabi saw” kalau orang mencintai mereka. Jika orang tidak memuliakan mereka, tidak akan mendapatkan syafaat Nabi saw.

Begitu kan iklan promo mereka berulang-ulang?

Sekarang sudah banyak orang yang sangat kesal dengan promo tak berdasar itu, apalagi setelah ada penelitian dari Kiyai Imad bahwa mereka yang sering teriak nasab nasab itu diragukan nasabnya tersambung ke Nabi Muhammad saw. Syafaat Nabi saw itu akan turun kepada orang yang bertakwa, menjalankan Islam dengan benar, dan memberikan banyak manfaat bagi manusia seluruhnya. Itulah rahmatan lil alamin.

Jadi, jika mengikuti pendapat Habib Luthfi dan Quraish Shihab, sangatlah layak menyebut habib kepada orang yang sudah terbukti cintanya kepada umat. Sama sekali tidak layak memanggil habib kepada orang yang tidak mencintai umat, bahkan membuat umat berhati keras, berkepala batu, dan penuh kebencian.

Sampurasun.

Sunday, 19 December 2021

Para Pecinta Palsu Habib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak sekali grup yang mengklaim diri sebagai pengagum, pendukung, pecinta, pejuang, atau pembela para habib. Saya perhatikan mereka ternyata banyak yang palsu. Kalau memang mereka penggemar atau fans para habib, seharusnya seluruh habib mereka cintai, mereka kagumi, mereka dukung, atau mereka hormati. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Mereka hanya mengikuti dan menjunjung habib-habib yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Habib yang lain tidak mereka sukai, bahkan mereka hujat dan mereka buli. Artinya, mereka bukan penggemar atau pecinta habib karena banyak habib yang tidak mereka sukai, bahkan mereka maki-maki. Mereka itu pecinta atau penggemar palsu.

            Quraish Shihab adalah salah seorang yang pernah mereka hujat dan maki-maki sebagai “Ulama Su”, “ulama jahat’ atau ‘ulama buruk’. Habib Luthfi bin Yahya juga pernah mereka hina sebagai manusia yang cantik dengan kerudungnya, padahal Habib Luthfi adalah laki-laki, sedangkan kata cantik itu seharusnya untuk perempuan. Habib Kribo Zen Assegaf malah kini jadi hujatan mereka, baik dari cara bicaranya, gaya rambutnya, gesture-nya, malah dimaki-maki sebagai syiah.

            Kalau memang beneran pemuja habib, semua habib yang mana pun harus diagungkan. Sayangnya, itu sulit karena di antara habib pun berbeda paham, beda pikiran, bahkan saling ledek juga. Kemungkinannya, saling jebloskan ke penjara.

            Sudahlah, tidak perlu mengaku-aku sebagai penggemar dan pemuja para habib dan seolah-olah paling beriman, paling Islam, atau paling berhak masuk surga, sementara yang lain disebut kafir, bidah, penghuni neraka. Biasa saja.

Saya lebih suka ketika ada seseorang yang dengan tegas mengatakan, “Intinya, saya adalah pengikut Habib Rizieq Shihab dan Habib Bahar bin Smith!”

Itu lebih baik dan lebih jantan. Jadi, hanya dua orang habib itu yang dia ikuti dan habib-habib lain yang juga sepaham dengan Rizieq dan Bahar. Tinggal tanggung saja risikonya. Adapun habib-habib lain yang menentang Rizieq dan Bahar adalah lawannya. Itu baru masuk akal daripada mengaku pendukung para habib, tetapi habib yang lainnya dibenci. Tidak masuk akal dan itu adalah lahir dari pikiran orang-orang yang bingung atau dibingungkan orang lain.

Ada contoh nyata pecinta yang kebingungan dan membingungkan ini. Namanya Soni Eranata yang lebih dikenal dengan nama Ustadz Maheer At Thuwailibi. Dia berulang-ulang menyatakan dirinya adalah keluarga para pecinta habaib. Dengan keras dan kasarnya dia menghujat dan memaki-maki Jokowi, pemerintah, serta ulama-ulama yang dekat dengan Jokowi. Di samping itu, dia pun mengejek dan menghina berbagai progam infrastruktur Jokowi. Lucunya, dia berceramah seperti itu berada di dalam mobil yang melaju di jalan tol yang dibangun Jokowi.

Suara keras hinaannya luar biasa, bagai macan yang meraung-raung memekakan telinga. Akan tetapi, tibalah masa naas baginya. Dia menghina Habib Luthfi bin Yahya yang nasihat-nasihatnya sangat diperlukan negara. Padahal, dia mengaku keluarga pecinta habib. Dia pun dilaporkan, lalu ditangkap polisi. Setelah dipenjara yang lembap, terasing, dan tersisihkan, dia menangis. Berkali-kali dia menangis sambil mengeluarkan air mata. Kesedihannya sangat jelas. Dia sangat menyesali perbuatannya. Video-video tangisannya sepertinya masih beredar di internet karena itu milik media-media yang mewawancarainya, cek saja sendiri.

Raungan bagai macan itu berubah menjadi suara lirih yang menyakitkan. Dia menyesali telah menghina dan ingin meminta maaf kepada Habib Luthfi. Beruntung, Habib Luthfi mendatanginya, lalu memberikan maaf kepada Maheer. Selesailah urusan dengan Habib Luthfi di dunia ini, tidak perlu lagi dibawa sampai ke akhirat.

Perjalanan Maheer belum selesai. Sebelum ditangkap polisi dia sebenarnya sudah sakit dan punya penyakit bawaan. Ketika di dalam penjara, penyakit itu menyerangnya. Meskipun sudah dirawat dan diberi obat dokter dari rumah sakit, takdir mengharuskannya meninggal dalam masa tahanan. Soni Eranata alias Ustadz Maheer At Thuwailibi pun berpulang kepada Allah swt. Selesailah dia di dunia ini.

Beruntung sekali, dia sudah menyesali perbuatannya, mendapatkan maaf dari Habib Luthfi bin Yahya, dan menebusnya melalui hukuman di penjara. Mari kita berdoa untuknya agar mendapatkan ampunan Allah swt, diberikan tempat yang terang dan nyaman di sisi-Nya, diterima segala kebaikannya, dijadikan ahli surga bersama para penghuni surga lainnya. Aamiin.

Jangan lupa, kalau sudah berdoa di internet, berdoa juga langsung di dunia nyata. Soalnya, berdoa itu nggak perlu menggunakan alat internet, berdoa itu bisa langsung berhubungan dengan Allah swt dengan menghadirkan segala ketulusan hati ini.

Mari lembutkan hati kita dan tidak perlu lagi bergaya sebagai habib apalagi sebagai pecinta para habib karena itu tidak mungkin, kecuali jika mampu dan bisa mencintai seluruh habib yang berbeda-beda itu.

Sampurasun.

Monday, 16 August 2021

Pecinta Rakyat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mencintai bangsa dan negara tidak selalu harus menjadi pejabat. Tidak harus menganggap diri lebih hebat daripada orang lain. Bersikap peduli pada diri sendiri, keluarga, dan tetangga juga merupakan bagian dari mencintai rakyat.

            Mencintai bangsa dan negara tidak harus selalu dipublikasikan. Bersikap tenang, berupaya harmonis, dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia tanpa disadari orang lain pun merupakan bagian dari mencintai rakyat.

            Biarkan Allah swt menilai kita. Biarkan Allah swt ridha kepada kita karena kita berupaya untuk menjaga, memelihara, dan mencintai Indonesia. Negeri ini diciptakan Allah swt dengan penuh kasih sayang, kita dimasukkan ke dalam negeri ini pun dengan cinta-Nya. Jaga karunia-Nya dan jangan bikin kerusakan di dalamnya.

            Sampurasun.





Thursday, 16 April 2020

Harunya Cinta

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sangatlah menyenangkan dan mengharukan melihat masyarakat memberikan bunga, minuman dan makanan sehat, semangat, sikap ramah, bahkan mengelu-elukan para dokter dan perawat yang menangani virus corona. Masyarakat menunggu mereka keluar dari rumahnya atau pulang dari tempat tugasnya hanya untuk memberikan segala hal yang dapat menumbuhkan semangat para dokter dan perawat itu. Masyarakat pun menerima dengan hati gembira para tenaga medis yang dikarantina untuk memastikan kesehatannya. Bahkan, bukan hanya dokter dan perawat yang diberikan apresiasi atau penghargaan, melainkan pula sopir ambulans, cleaning service, dan penggali kubur.

            Itulah masyarakat yang tercerahkan, cerdas otaknya, cerdas hatinya, dan cerdas pula tindakannya. Mereka punya banyak cinta di dalam hatinya. Masyarakat seperti inilah yang bertindak sebagaimana yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahwa dalam menangani korban Covid-19 haruslah “ilmu yang dijadikan panduan untuk bertindak”.

            Ilmu yang harus dijadikan standar bukan hoax atau provokasi dari informasi-informasi Medsos yang kalang kabut dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hoax dan provokasi Medsos hanya membuat kita bodoh dan berhati kasar, jauh dari cinta.

            Hal seperti ini pernah saya alami ketika masih menjadi Asisten Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) membantu Prof. Mohamad Surya (Alm.). Sering tiba-tiba ada yang mengajak salaman ketika saya makan di restoran, padahal tidak kenal; sering pula ada yang memberikan madu, keripik, sayuran, membelikan kopi, membayarin saya makan, menghadiahi makanan ringan atau cemilan, tiba-tiba memberikan senyuman dengan hormat, dan lain sebagainya. Perasaan yang ada dalam diri saya sangat tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tetapi yang jelas ada cinta dan rasa hormat di sana.



            Meskipun saya tidak mengenal mereka, saya langsung tahu bahwa mereka itu adalah guru atau keluarga guru. Padahal, saya tidak berjasa apa pun terhadap mereka. Saya hanya asisten atau pembantu. Mereka berterima kasih atas perjuangan Prof. Surya yang telah bersusah payah mencairkan dana sertifikasi bagi para guru dan dosen di seluruh Indonesia. Prof. Surya itu berjuang melewati empat presiden, yaitu sejak Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, dan baru berhasil cair di era Susilo Bambang Yudhoyono.

            Dana sertifikasi itu berlanjut hingga hari  ini. Sementara itu, Prof. Surya sendiri tidak kebagian dana sertifikasi itu. Saya apalagi tidak kebagian karena saya saat itu bukan guru dan bukan dosen. Baru setelah berhenti bekerja di gedung dewan perwakilan rakyat itu, saya ikut mengajar sebagai guru ataupun dosen.

            Sungguh, rasa terima kasih dan penghormatan masyarakat itu menimbulkan rasa haru dan semangat yang luar biasa. Saya sendiri menjadi seperti keluarga mereka. Saya kira mungkin mirip-mirip perasaan yang ada di dalam diri para dokter, perawat, sopir ambulans, penggali kubur, dan mereka yang menangani pasien virus corona dengan perasaan yang ada dalam diri saya saat itu. Saat ini mereka membutuhkan semangat, dorongan, dan  dukungan masyarakat, bukan fitnah, hoax, penolakan, atau informasi-informasi menyesatkan yang menyudutkan mereka.

            Kita semua membutuhkan cinta, rasa hormat, dan kebersamaan. Oleh sebab itu, mereka yang kasar, tidak memiliki rasa hormat, dan pemecah belah adalah musuh dan sampah masyarakat.

            Hal yang juga membanggakan adalah mahasiswa-mahasiswa saya di Universitas Al-Ghifari pun melakukan banyak aksi positif, misalnya, memberikan pelayanan cek kesehatan gratis, menyosialisasikan perlindungan diri dari virus corona, dan menampung sumbangan dana dari masyarakat untuk digunakan membantu para petugas kesehatan. Saya sering melihat status-status mereka di berbagai media sosial. Itu jauh lebih baik daripada menyebarkan berita yang tidak karu-karuan.

            Yuk, mari saling menghormati, mencintai, saling peduli, dan saling mengingatkan agar kita menjadi harmonis dan terlindungi dari segala macam keburukan. Semua masalah bisa diselesaikan baik-baik jika kita memilih dengan cara yang baik. Sebaliknya, kita bisa menyelesaikan dengan cara yang buruk jika kita ingin menggunakan cara yang buruk. Jika memilih baik-baik, kita akan baik-baik saja. Jika memilih buruk, ada penjara yang menunggu.

            Yuk, berbuat baik dengan disiplin menuntut ilmu di Universitas Al-Ghifari. Klik http://pmb.unfari.ac.id











            Sampurasun  

Wednesday, 29 January 2020

Semoga Tak Tertular Virus Corona Selamanya


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Di Wuhan dan kota-kota lainnya di Cina yang menjadi medan tempur antara tubuh dan virus corona, banyak orang Indonesia, mungkin ribuan. Mereka ada yang sedang belajar sebagai mahasiswa, juga sebagai pekerja. Sampai hari ini, sampai tulisan ini disusun, mereka tetap sehat dan tidak seorang pun terinfeksi virus corona.

            Hal itu dipuji oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI Terawan, “Orang-orang Indonesia mempunyai daya tahan tubuh yang kuat menurut saya.”

            Kita, sebagai warga Negara Indonesia, layak bersyukur atas berita tersebut. Semoga mereka tetap sehat dan tidak terinfeksi virus corona.

            Saya bukan ahli kesehatan, tetapi sekali dua kali sempat membaca juga tentang kesehatan. Pernyataan Menkes RI tersebut sungguh menarik. Daya tahan tubuh orang Indonesia relatif kuat dari infeksi virus mungkin karena pertama, memang lahir dan hidup lama di Indonesia yang beriklim tropis, memiliki dua musim, hujan dan kemarau. Hal ini seperti dalam tulisan saya yang lalu bahwa virus flu di Indonesia tidak mengakibatkan kematian. Berbeda dengan di negara-negara yang memiliki empat musim, virus flu kerap menimbulkan kematian.

            Kedua, faktor makanan dan minuman. Orang Indonesia yang mayoritas Islam sangat berhati-hati dengan makanan dan minuman. Bahkan, kita terbilang rewel soal ini. Kita ingin selalu makanan yang halal. Tak kurang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) selalu serius soal makanan dan minuman untuk melindungi masyarakat. Makanan halal jelas sehat dan meningkatkan kualitas ketahanan tubuh. Berbeda dengan makanan dan minuman haram yang merusakkan tubuh sehingga memudahkan tubuh diserang virus penyakit apa saja.

            Ketiga, kebahagiaan. Mereka yang berada di Cina tetap berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya di Indonesia. Saling melepas rindu melalui alat komunikasi, saling memberi semangat, dan terus saling mendoakan meskipun dengan kondisi jarak yang jauh. Hal itu membuat hati bahagia dan hidup tetap semangat, “full of life”. Di samping itu, komunikasi yang baik dan doa menimbulkan getaran cinta yang luar biasa menyenangkan. Dalam ajaran Islam dipahami bahwa “doa adalah senjata orang beriman”. Doa bisa menembus ruang dan waktu. Di mana pun kita berada, doa tetap bisa sampai dan membuat kenyamanan tersendiri. Bahkan, doa mampu menghubungkan alam nyata dengan alam gaib serta yang hidup dengan yang mati. Luar biasa memang energi doa itu. Dengan perasaan rindu, saling memiliki, saling memberikan semangat, saling mencintai, dan saling mendoakan membuat tubuh sehat karena mengalirkan magnet listrik yang menyegarkan jiwa dan fisik. Orang-orang yang belajar ilmu tenaga dalam pasti tahu hal ini.

            Dua hari ini beredar video-video warga Kota Wuhan yang jumlahnya 11 juta itu saling berteriak bersahutan memberikan semangat hidup dalam keadaan kota itu diisolasi, tidak boleh ada yang masuk dan tidak ada yang boleh keluar dari kota. Hal itu secara naluriah sebagai manusia dilakukan untuk mendorong harapan hidup dan menguatkan tubuh untuk lebih segar dan sehat. Selain, itu ada juga video mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia yang bersama-sama mengepalkan tangan untuk memberikan semangat dan cinta kepada saudara-saudaranya sesama mahasiswa yang sedang belajar di Cina, khususnya yang sedang terisolasi di Kota Wuhan.

            Dalam tradisi kita, sebagai orang Indonesia, juga begitu, bukan?

            Kalau ada kenalan yang sakit, kita akan menengoknya untuk memberikan harapan dan kekuatan di samping menunjukkan bahwa Si Sakit tidak pernah kita tinggalkan. Itu akan menguatkan jiwa sehingga mendorong kesehatan tubuh.

            Semoga saudara-saudara kita sesama bangsa Indonesia tetap sehat selamanya tidak terinfeksi virus corona. Berikan semangat, cinta, dan doa untuk mereka di Cina. Jangan lupa pula berikan semangat, cinta, dan doa untuk mereka sesama manusia meskipun berbeda ras, tempat lahir, dan agama. Kita manusia adalah bersaudara karena berasal dari “Zat Yang Satu”, ‘Allah swt’.

            Sampurasun.

Sunday, 31 March 2019

Para Pencinta Palsu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sudah menjadi penyakit yang biasa kambuh dalam masa-masa perhelatan politik, Pemilu, baik itu pemilihan eksekutif maupun anggota legislatif, simbol-simbol agama digunakan sebagai alat politik untuk menarik jumlah pemilih sekaligus menjatuhkan saingannya sebagai pihak yang tidak mengerti agama maupun tidak melaksanakan ajaran agama dengan semestinya. Simbol-simbol keagamaan itu digunakan hanya untuk menambah jumlah  dukungan, sedangkan program-program kerja yang seharusnya ditawarkan oleh calon para pemimpin kepada rakyat tidak terlalu diperhatikan. Orang-orang sibuk memainkan isu agama yang sesungguhnya berpotensi merusakkan hakikat agama itu sendiri.

            Jika kita perhatikan, dalam Pemilihan Presiden Republik Indonesia, 2019, simbol-simbol dan isu agama menjadi sangat kuat mewarnai dan mempengaruhi masyarakat. Banyak pihak yang mengklaim diri sebagai kelompok para pencinta “ulama dan habib” dengan harapan umat Islam yang jumlahnya mayoritas tertarik untuk memilih kelompok tersebut dan meninggalkan kelompok saingannya.

            Anehnya, di antara mereka yang mengklaim pencinta ulama dan habib itu dengan mudahnya melayangkan kata-kata kotor, keji, kasar, dan tidak beradab kepada saingannya dan pendukungnya. Kita tahu bahwa calon presiden RI pada 2019 ini adalah Jokowi dan Prabowo. Mereka banyak mendapatkan dukungan dari para ulama dan habib. Para ulama dan habib itu terbagi dua, ada yang mendukung Jokowi dan ada pula yang mendukung Prabowo. Dengan entengnya, tanpa pikir panjang banyak pendukung Prabowo melayangkan kata-kata kotor “kecebong” bagi para pendukung Jokowi. Demikian pula sebaliknya, banyak pendukung Jokowi yang menggelari “kampret” bagi pendukung Prabowo.

            Sungguh aneh perilaku itu. Di satu sisi mereka mengklaim diri sebagai pencinta ulama dan habib, tetapi di sisi lain mereka memberikan julukan kecebong dan kampret kepada saingannya.

            Bukankah, kedua Capres itu didukung oleh para ulama dan habib?

            Dengan memberikan julukan buruk kepada para pendukung Capres itu sekaligus juga memberikan panggilan yang buruk kepada para ulama dan habib yang mendukung pasangan Capres-Cawapres masing-masing.

            Bukankah perilaku itu menunjukkan tabiat yang tidak berpendidikan dan jauh dari ajaran agama?

            Bukankah Nabi Muhammad saw melarang kita untuk memberikan panggilan buruk kepada orang lain?

            Sesungguhnya, demi Allah swt, mereka hanyalah para “pencinta palsu”. Mereka sungguh penuh kepalsuan.

            Wahai para Pencinta Palsu, sampai kapan kalian mempermainkan agama untuk mendapatkan posisi politik?

Sampurasun

Monday, 17 July 2017

Meminjam Ayat Al Quran untuk Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Al Quran itu sesungguhnya adalah petunjuk bagi orang-orang beriman dan pedoman bagi seluruh umat manusia. Siapa pun boleh menggunakan Al Quran sebagai pedoman hidupnya. Pemeluk agama apa pun boleh mempelajari Al Quran dan melaksanakannya. Orang-orang yang tidak beragama dan ateis pun boleh. Siapa saja berhak mendapatkan manfaat dari Al Quran karena Allah swt sesungguhnya Maha Penuh Cinta, Maha Pemberi Petunjuk, dan Maha Kasih Sayang.

            Thomas Jefferson pun menggunakan ayat-ayat Al Quran dalam memberikan dasar-dasar masukan bagi pendirian Negara Amerika Serikat dan itu tertulis jelas dengan huruf Arab dalam sejarah Amerika Serikat, terutama tentang kesamaan hak, kemanusiaan, kebebasan, dan keadilan. Cari saja ayat-ayat itu, banyak yang sudah meng-upload-nya di Youtube dan ditulis dalam berbagai artikel berbahasa Inggris.

            Indonesia yang jelas merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia sudah pasti tidak melepaskan Al Quran dalam hidup berbangsa dan bernegara. Bahasa-bahasa Al Quran selalu ada dalam perundang-undangan Indonesia meskipun tidak menggunakan bahasa Arab. Pancasila landasannya Al Quran, Pembukaan UUD 1945 pun berasal dari semangat Al Quran, bahkan mencantumkan kata Allah swt. Perda, Perwal, Perbup, Pergub, dan berbagai peraturan lainnya banyak yang terjiwai semangat Qurani.

            Kita pun bisa meminjam ayat Al Quran untuk digunakan Indonesia dalam membina hubungan manusia di Indonesia. Saya gunakan kata “meminjam” karena pelaksanaannya tidak sebagaimana yang tercantum dalam Al Quran, tetapi Indonesia dapat memanfaatkannya untuk kepentingan nasional.

            Ayat itu adalah potongan dari ayat Al Quran Surat Al-Fath ayat 29.

            “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka ….”

            Kita bisa meminjamnya dengan mengubah kalimatnya menjadi seperti berikut ini.

            “Indonesia adalah negeri karunia Allah dan orang-orang yang bersama Indonesia bersikap keras terhadap orang-orang asing, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

            Pemahaman saya terhadap QS Al Fath 48 : 29 itulah yang saya pinjam agar bisa digunakan oleh bangsa Indonesia. Kalau tidak boleh dengan istilah “meminjam” karena mungkin ada yang mengatakan saya bidah atau sesat, saya bisa menggantinya dengan istilah “meniru”. Saya memang meniru ayat Al Quran agar kalimatnya bisa khusus untuk kepentingan Indonesia.

            Hasil kalimat tiruan saya itu memang sangat cocok dengan berbagai teori hubungan internasional. Dalam berbagai teori hubungan internasional, selalu memiliki kesamaan pandangan, yaitu bahwa setiap interaksi internasional yang terjadi harus berdasarkan kepentingan di dalam negeri sendiri. Artinya, hubungan internasional yang dilakukan Indonesia, baik negara, lembaga swasta, maupun pribadi, harus dilandaskan pada kepentingan diri sendiri dan bukan kepentingan orang lain atau bangsa lain. Sangat aneh jika kita berinteraksi secara internasional, tetapi menguntungkan orang lain dan merugikan diri sendiri. Saat ini memang teori-teori ini masih harus berlaku karena memang situasinya memaksa seperti itu. Meskipun demikian, teori-teori ini harus dibuang pada masa depan karena terlalu egois, tidak Islami, dan membatasi perasaan-perasaan kemanusiaan yang sesungguhnya tidak terbatas pada teritorial dan ras.

            Karena teori-teori ini masih berlaku, negara atau swasta yang berinteraksi secara internasional, tetapi menguntungkan bangsa lain dan merugikan bangsa sendiri, bisa jatuh menjadi “pengkhianat bangsa”. Wajar dia disebut pengkhianat karena merugikan bangsanya sendiri dan menguntungkan bangsa lain dari hasil menyedot energi bangsa sendiri.

            Hal yang paling benar dilakukan adalah kita sebagai warga bangsa Indonesia harus “keras” dalam arti “tegas” terhadap orang-orang asing ketika melakukan interaksi melewati batas-batas teritorial negara. Kita harus tegas tentang kedaulatan wilayah, politik, ekonomi, budaya, agama, adat, dan pandangan-pandangan hidup. Kita tidak boleh lembek dan terkesan patuh terhadap bangsa lain, bangsa apa pun dan dari mana pun, mau dari barat, timur, tengah, dan dengan bahasa apa pun. Kita harus tegas bahwa kita hidup adalah untuk mencapai kemakmuran lahir dan batin dengan cara Indonesia dan bukan dengan cara bangsa lain. Kita adalah kita. Mereka adalah mereka. Mereka tidak lebih baik dibandingkan kita. Kita adalah paling baik untuk kita sendiri. Kalau mereka mau mencontoh kita, kita persilakan saja. Kalaupun harus meniru dan belajar dari mereka, kita akan memilih yang sesuai dengan diri kita dan bukan sesuai dengan keinginan mereka. Seluruh sumber daya alam, sumber daya manusia, dan seluruh potensi Indonesia adalah untuk seluruh warga Negara Indonesia dan tidak boleh satu tetes pun yang dinikmati bangsa lain secara curang. Kalaulah ada yang curang berkolaborasi dengan bangsa lain dan merugikan bangsa sendiri, dialah pengkhianat yang harus dihentikan dengan keras. Itulah ketegasan yang harus dilakukan.

            Berbeda jika berhadapan dengan bangsa sendiri. Kita harus saling mengasihi, saling memberi, saling berbagi, saling mendorong, saling mencerdaskan, saling mengisi kekurangan, saling melindungi, dan saling-saling lainnya. Kita tidak boleh menganggap sesama bangsa sebagai musuh atau saingan berat. Kita tidak boleh saling menjatuhkan dan tidak boleh saling merugikan, bahkan tidak boleh saling fitnah agar kita menjadi bangsa yang kuat dan makmur bersama. Kita terlarang saling sikut, saling pukul, saling hina, dan saling caci karena kita adalah sama hidup di negeri yang diberkahi Allah swt. Kalaulah ada kesalahan di antara kita, bisa kita selesaikan dengan baik dengan cara Indonesia. Pendidikan, pelayanan kesehatan, pergerakan ekonomi, keamanan, dan keadilan adalah harus dilaksanakan dalam mewujudkan rasa kasih sayang di antara kita dan bukan saling menyedot energi yang ujungnya adalah keinginan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Bahkan, pelaksanaan hukuman pun harus dilandaskan atas rasa kasih sayang, bukan kebencian. Negara harus melakukan hukuman adalah untuk menumbuhkan keadilan dan mengubah perilaku buruk menjadi perilaku positif, bukan melakukan penghukuman atas dasar kemarahan dan kebencian sehingga menutup kesempatan orang yang telah dihukum untuk berubah menjadi baik. Hukuman mati pun harus dalam rangka kasih sayang, yaitu menyayangi korban kejahatan dan menyayangi pelaku kejahatan agar dia terbebas dari tanggung jawab atas perbuatannya di akhirat kelak.

            Indonesia akan menjadi kuat jika kita menyadari bahwa kita harus tegas terhadap kepentingan dan pengaruh asing dari mana pun walaupun dengan dalih dasar agama apa pun, tetapi harus lembut dan penuh kasih di antara bangsa sendiri apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun rasnya, bagaimana pun bentuk fisiknya. Sepanjang dia mencintai Indonesia dan menjaga kesepakatan negara yang bernama Indonesia, dia adalah saudara kita yang harus kita kasihi dan kita cintai.


            Sampurasun

Saturday, 13 May 2017

Mencegah Perceraian

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam rumah tangga kerap diwarnai berbagai “bumbu” kehidupan yang terkadang terasa manis, kadang terasa pedas. Namanya juga bumbu, ada manis, pedas, terkadang asam. Itulah rumah tangga. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa orang muslim yang menikah itu diibaratkan telah melaksanakan setengah dari ajaran Islam. Lumayan berat hidup berumah tangga itu.

            Ketika berhadapan dengan masa-masa sulit, sebuah rumah tangga diuji dengan berbagai masalah yang jika tidak bijak menghadapinya, bisa berubah menjadi perceraian atau perpisahan. Perjuangan untuk tetap bertahan dalam sebuah keluarga utuh adalah sangat berat dan membutuhkan keseriusan seluruh anggota keluarga. Semuanya harus belajar mau menerima keadaan sulit dan harus belajar pula menerima keadaan bahagia. Kesulitan dan kebahagiaan itu datang silih berganti tidak pernah berhenti. Hanya para pengkhayal yang selalu berharap segalanya selalu  berada dalam keadaan senang, padahal kesenangan itu baru dirasakan indahnya jika telah melalui masa sulit.

            Apabila terjadi pertengkaran, percekcokan, dan perselisihan paham di dalam keluarga, terutama di antara pasangan suami-istri, hendaklah diselesaikan terlebih dahulu berdua dan tidak perlu ada pihak lain yang tahu. Apabila masalah yang terjadi tidak dapat diselesaikan berdua, bolehlah diselesaikan dengan mengajak “juru damai” dari keluarga masing-masing.

            Kata Allah swt, “Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS An Nisa 4 : 35)

            Untuk mengadakan perbaikan, kedua juru damai dari keluarga laki-laki dan perempuan itu harus memiliki niat baik untuk kembali membuat rukun dan harmonis pasangan suami-istri itu. Hendaknya, para juru damai ini adalah orang-orang berwibawa yang dihormati dan didengar pendapatnya oleh pasangan suami-istri itu. Jika para juru damai ini benar-benar tulus membuat segalanya kembali lurus, pasti Allah swt akan melunakkan hati pasangan suami-istri itu untuk kembali jatuh cinta dan berada dalam keadaan harmonis.

            Hal yang banyak terjadi saat ini adalah justru sebaliknya. Pihak istri mengajak keluarganya untuk menyudutkan suaminya. Demikian pula, suami mengajak keluarganya untuk membela dirinya sendiri dan menyalahkan istrinya. Akibatnya, permasalahan tidak selesai karena seluruh keluarga dari kedua belah pihak sudah terpolarisasi dalam dua kekuatan yang saling menyerang. Cara seperti ini sungguh sangat buruk dan selalu berakhir dengan buruk, perceraian.

            Perceraian adalah diperbolehkan, tetapi sesungguhnya sangat dibenci oleh Allah swt. Meskipun Allah swt membenci perceraian, tak ada dosa bagi mereka yang bercerai, kecuali kebohongan dan fitnah yang terjadi di antara keduanya.

            Bercerai itu boleh, tetapi akan lebih baik jika hidup kembali dalam cinta yang harmonis dan rukun seiya sekata.


            Sampurasun

Friday, 12 May 2017

Umat Terpilih

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saling klaim sebagai umat terpilih ini sudah terjadi dari zaman ke zaman. Orang Islam menganggap dirinya umat terpilih, Kristen juga sama, Yahudi pun demikian, agama Budha, Hindu, Konghucu, dan agama-agama lainnya pun sama mengakui sebagai umat terpilih. Satu-satunya, keyakinan dan ramalan yang tidak mengklaim dirinya sebagai umat terpilih adalah orang-orang Papua. Mereka justru dalam berbagai ramalan dan kisahnya selalu “menunggu” orang luar atau orang asing yang mencintai mereka untuk mengadakan perbaikan dan menumbuhkan kemakmuran bagi mereka.

            Bagi orang-orang yang suka mengklaim dirinya sebagai “umat terpilih”, saya meragukan tujuan mereka dijadikan sebagai umat terpilih.

            Tuhan memilih mereka itu untuk apa?

            Apa yang harus mereka lakukan sebagai umat terpilih?

            Pada tahu nggak sih?

            Ngomong saja kampanye sebagai umat terpilih, tetapi tidak mengerti dipilih untuk apa. Kacau.

            Pasti tidak pada tahu kan?

            Jujur saja tidak tahu, jangan sok tahu kalian.

            Saya yakin banyak yang sok tahu karena ternyata kehidupan dunia selalu kacau, semrawut, tidak harmonis, dan penuh pertikaian. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa mereka terpilih untuk menguasai dunia, mengatur hidup manusia, mengendalikan orang lain, menjadi orang paling kaya, menjadi umat paling cerdas, menjadi umat paling bergaya di seluruh muka Bumi.

            Begitulah yang saya tahu dari para pengklaim sebagai umat terpilih itu. Agama apa pun mereka dan bangsa apa pun mereka.

            Semua dugaan itu salah total. Demi Allah swt, salah total. Hal itu disebabkan tidak ada satu pun umat, baik itu agama, bangsa, maupun ras yang ingin hidup diatur oleh orang lain, tak ada sekelompok manusia pun yang ingin dikendalikan oleh pihak lain. Tak heran jika banyak terjadi perang, penjajahan, hoax, penggelapan sejarah, penipuan, dan propaganda sesat. Penjajahan adalah berawal dari merasa diri sebagai umat terpilih, tetapi ternyata salah dan gagal total. Perang dan teror juga sama berawal dari merasa diri sebagai umat terpilih, tetapi gagal juga.

            Lantas, kalian ini dipilih untuk menjadi apa dan untuk melakukan apa?

            Mari kita kembali kepada Sifat Tuhan Yang Menciptakan Seluruh Alam Semesta. Tuhan itu Mahakasih, Mahacinta, dan Maha Penyeimbang. Ketika Bumi dan langit diciptakan, Tuhan menciptakannya dengan penuh cinta. Ketika Tuhan menciptakan seluruh isi Bumi, isi langit, dan isi yang berada di antara langit dan Bumi adalah dengan rasa kasih sayang. Tuhan selalu menyeimbangkan ciptaan-Nya hingga rencana-Nya sendiri selesai sebagaimana yang diinginkan-Nya dari awal mula penciptaan hingga akhir kehancuran seluruh ciptaan-Nya.

            Dengan memahami sifat Tuhan seperti itu, sesungguhnya Tuhan memilih umat-umat terpilih untuk menjadi wakil-Nya di muka Bumi dalam rangka menebarkan cinta, kasih sayang, perdamaian, ketertiban, keharmonisan, dan keseimbangan hidup alam semesta. Itulah yang saya pahami sebagai “Umat Terpilih”. Sangat tidak mungkin Tuhan menjadikan suatu umat sebagai terpilih jika hanya untuk melakukan kerusakan dan kekacauan dalam hidup manusia.

            Dengan demikian, sesungguhnya sangat bagus jika setiap umat beragama, apa pun agamanya, apa pun rasnya, merasa diri sebagai “umat terpilih” untuk melakukan berbagai perbaikan di muka Bumi, menebarkan cinta, kasih sayang, menciptakan keharmonisan, dan menjaga keseimbangan hidup alam semesta. Tak perlu saling klaim bahwa dirinya adalah “sebenar-benarnya umat terpilih”. Buktikan saja bahwa kalian adalah benar-benar umat terpilih dalam berbagi dengan sesama manusia dan menyebarkan banyak kebaikan di muka Bumi.

            Jika kalian tidak melakukan hal-hal baik itu, berarti kalian adalah “umat terpilih untuk menjadi pengacau di muka Bumi”. Cinta, kasih sayang, perdamaian, keseimbangan, dan keharmonisan itu bukan hanya slogan di mimbar-mimbar ceramah, melainkan harus terbukti secara nyata di dalam hidup sehari-hari. Hal yang paling kecil adalah murah senyum dan membuang paku di jalan adalah bukti dari perbuatan baik.

            Pernahkah kita melakukan perbuatan kecil yang baik itu?

            Kalau belum, malulah kita karena berbuat baik yang kecil saja belum bisa, apalagi perbuatan baik yang lebih besar.

            Kalau kalian hanya baru punya slogan dan tidak memiliki cara yang benar di dalam kitab suci agama kalian, ikuti saja saran Nabi Muhammad saw, “Sering-seringlah berbicara dengan nuranimu sendiri.”

            Tanyakan pada hati yang terdalam cara-cara terbaik untuk melakukan kebaikan dalam sepanjang hidup kita. Insyaallah, petunjuk itu akan datang pada kita.


            Sampurasun.