Showing posts with label Cina. Show all posts
Showing posts with label Cina. Show all posts

Thursday, 5 February 2026

Dewa Mabuk Amerika Serikat Bikin Iran-Cina Genit dan Rusia Berdehem, Ehem

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya Amerika Serikat (AS) bergaya mabuk disebabkan pemimpinnya sendiri Presiden Donald Trump yang berperilaku dan berbicara seperti Dewa Mabuk. Sekarang dengan kemarin omongannya bisa beda, sikapnya kadang pakai akal kadang pakai emosi, kadang seperti jagoan, tetapi buktinya nggak ada.

            Beberapa waktu lalu AS melecehkan dan sesumbar akan menghancurkan Iran pada 1 Februari 2026, mengirimkan kapal induk Abraham Lincoln yang membawa puluhan pesawat tempur dan dikawal kapal-kapal perang mendekati laut Iran. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat, AS tidak juga menyerang Iran. Kelihatannya hanya menggertak.

            Sikap AS yang seperti itu membuat Iran dan Cina berperilaku genit. Dengan melihat dan merasakan AS yang ketakutan dan mulai mundur dari perairan internasional, Iran mulai genit. Iran menggoda AS dengan mengirimkan drone shaheed yang kalau di Indonesia dibacanya drone syahid. Drone itu terbang menuju kapal induk AS dengan agresif, lalu ditembak jatuh oleh jet tempur F55 AS. Iran tidak rugi karena drone itu harganya murah, sekitar Rp30 jutaan, tetapi sudah mampu memberikan data aktivitas dan peralatan tempur laut AS pada militer Iran. Cina juga tampaknya melihat AS ketakutan, lalu mendekatinya dengan menggunakan kapal laut penelitian Da Yang Yi Hao. Semakin dekat kapal Cina mendekati kapal tempur AS. Sementara itu, Rusia ikut meramaikan dengan berlatih tempur bersama Iran dan Cina di dekat kapal milik AS.

            Tampaknya Iran dan Cina yang berteman itu mulai genit menggoda AS. Kalau dalam istilah Sunda, mereka itu sedang “ngalonyeng” pada AS. Mereka meniru gaya AS yang mengancam, tetapi dengan cara meledek dan bertindak rese mengesalkan. Rusia memanfaatkan situasi itu dengan bergabung ke Iran dan Cina.


Kapal AS diusir kapal Iran (Foto: Disway)


            Kalau diilustrasikan dalam kisah sehari-hari di Indonesia, AS itu ibarat preman yang sedang mabuk berat, ngomongnya ngaco, tetapi punya fisik yang besar dan menyeramkan. Preman itu mengancam ke siapa saja, termasuk ke Iran. Ketika ditantang balik oleh Iran, AS mundur teratur menjauh. Ketika situasi itu terjadi, Iran tiba-tiba mencolek preman AS itu.

            Seolah-olah Iran berkata sambal mencolek AS, “Mau ke mana lu? Katanya ngajak berantem, sekarang kok pergi?”

            Cina yang paham hal itu, mulai menggoda mendekati preman AS sambil berkata, “Tenang, kalem, gua cuma cari cacing di sini buat umpan mancing.”

            Rusia yang paham situasi hanya berdehem, “Ehem, … ehem.”

            Kehadiran Rusia membuat AS kaget, lalu pergi makin menjauh mengambil jarak aman. Preman AS mulai mencium bahaya lebih besar ketika Iran, Cina, dan Rusia mulai berlatih perang dekat armada laut AS. Situasi mulai berbalik, AS yang kini tampak terusir dari wilayah perairan Iran.

            Ini tampak lucu, tetapi juga menakutkan. Jika salah satu pihak tidak mampu menahan diri, mereka akan habis-habisan membela keberlangsungan hidup dan martabat mereka. Seperti itulah.

            Ilustrasi kapal tempur AS yang diusir Iran saya dapatkan dari Disway.

            Sampurasun.

Sunday, 14 April 2024

Indonesia Makin Erat dengan Cina

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan kemenangan Prabowo-Gibran, selaku Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada Pilpres 2024, Cina dengan sangat Gercep mengundang Prabowo hadir ke Cina dan bertemu dengan Presiden Xi Jinping. Prabowo memang hadir sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia karena belum dilantik menjadi presiden, tetapi diperlakukan sudah menjadi presiden. Negara besar Cina sudah memantapkan niatnya untuk mengamankan bisnisnya di Indonesia.


Indonesia-Cina, Prabowo-Xi (Foto: detikNews - Detikcom)

            Cina memang punya kepentingan banyak di Indonesia, perusahaan-perusahaannya berkembang dan menguat di Indonesia, sementara itu Indonesia mendapatkan keuntungan juga dari aktivitas ekonomi Cina di Indonesia. Cina itu sangat patuh kepada kebijakan Indonesia soal ekonomi dan bergerak sangat cepat mengikuti keinginan Presiden RI Joko Widodo. Untuk soal larangan ekspor yang dijalankan pemerintah Indonesia, Cina mengikutinya dan segera membangun berbagai industri di Indonesia. Dengan demikian, Cina mendapatkan keuntungan besar, Indonesia pun mendapatkan keuntungan pula dari investasi, pajak, alih teknologi, dan sebagainya. Tak heran jika Presiden Xi menghormati Prabowo dengan sangat cepat dan Prabowo pun dengan sangat tegas mengatakan bahwa dirinya akan melanjutkan program-program yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi. Ikatan antara Indonesia dan Cina akan semakin lengket lebih dibandingkan lengketnya perangko dengan amplop surat.

            Berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat yang sangat lambat, bertele-tele dalam menyikapi kemenangan Prabowo-Gibran. Mereka terkesan acuh tak acuh dan kurang merasa nyaman karena Prabowo berjanji akan melanjutkan program Jokowi dan meningkatkan program itu lebih baik untuk meraih Indonesia emas pada 2045. Sikap Prabowo ini tentu saja menjadikan pihak barat merasa rugi sebelum bangkrut karena mereka masih menginginkan mendapatkan sumber daya alam Indonesia dengan cara kuno dengan harga yang sangat murah. Mereka tidak ingin rakyat Indonesia maju dan makmur menyaingi mereka. Mereka masih ingin merekalah yang kaya raya dan Indonesia tetap dalam kemiskinan atau paling tidak, terjebak dalam kondisi negara yang berpenghasilan menengah.

            Dengan semakin terlihatnya ketergantungan Cina terhadap Indonesia, Cina menjadi negara yang digunakan Indonesia untuk menjadi daya tawar yang tinggi terhadap negara-negara barat. Contoh kecilnya, Indonesia pernah mengajak Elon Musk untuk berbisnis di Indonesia, tetapi Elon Musk ternyata tidak serius, terkesan meremehkan Indonesia. Akibatnya, Indonesia memberikan kemudahan Cina berbisnis di Indonesia. Ketika Elon Musk dengan Tesla-nya ingin kembali bernegosiasi, Indonesia sudah tidak terlalu mementingkan lagi Elon Musk karena Cina dan Jepang sudah memiliki perjanjian dengan Indonesia dan sudah menguasai 55% industri yang diminati Elon di Indonesia.

Begitulah sedikit gambaran kedekatan Indonesia dengan Cina yang pada masa depan akan berlanjut terus. Indonesia hanya harus tetap kukuh pada kepentingan rakyat dengan menggunakan energi hubungan dengan Cina untuk kepentingan rakyat Indonesia. Dengan demikian, rakyat Indonesia harus jeli dan mengambil manfaat dari hubungan ini agar dapat meningkatkan kualitas dirinya.

Foto Prabowo dan Xi saya dapatkan dari detikNews – Detikcom.

Sampurasun.

Saturday, 15 July 2023

Antek Asing & Antek Aseng Sebenarnya


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam musim kampanye atau bersaing politik, kita suka mendengar  tuduhan-tuduhan dengan kalimat “antek asing” atau “antek aseng”. Kedua istilah itu menunjukkan bahwa pihak yang dituduh adalah orang-orang yang merupakan kaki tangan negara asing dan negara Cina untuk menguasi Indonesia, merampok Indonesia, serta merugikan rakyat Indonesia. Pihak yang dituduh diisukan sebagai penjahat negara yang berkhianat terhadap Negara Indonesia.

            Sekarang, mari kita lihat fakta atau kenyataan yang sebenarnya. Pemerintah Indonesia sudah menegaskan dengan sangat kuat bahwa tidak ingin lagi menjual bahan tambang mentah ke luar negeri karena harganya murah dan keuntungannya sedikit. Pemerintah menginginkan Indonesia menjual barang setengah jadi atau bahkan barang yang sudah jadi. Artinya, negara mana pun yang ingin mendapatkan barang mentah dari Indonesia harus membuat pabrik pengolahan barang setengah jadi atau barang jadinya di Indonesia. Tidak boleh membeli bahan mentah, lalu diproduksi di negaranya. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan banyak keuntungan, baik dari pajak, penyerapan tenaga kerja, maupun alih teknologi sehingga pada masa depan kita mampu berdiri sendiri dengan kemampuan sendiri untuk keuntungan yang lebih banyak. Contohnya, nikel yang merupakan bahan mentah baterai sudah dilarang dijual dan wajib diproduksi di dalam negeri.

Cina adalah negara yang ikut untung karena patuh pada keputusan pemerintah Indonesia dengan mendirikan pabrik di Indonesia untuk mengolah nikel. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang marah kepada Indonesia, tetap menginginkan bahan mentah dari Indonesia, dan tidak mau mendirikan pabrik di Indonesia. Bahkan, mereka menggugat Indonesia untuk berperang pada sidang pengadilan internasional. Dengan demikian, pada ujung pemerintahannya, Jokowi tetap harus bertarung dengan 27 negara Eropa Barat, termasuk Amerika Serikat di dalamnya untuk mempertahankan kekayaan alam berupa bahan tambang agar lebih dinikmati oleh bangsa dan rakyat Indonesia.

Siapa pun yang merecoki dan menganggu pemerintah Indonesia dan Jokowi dalam bertarung mempertahankan sumber daya alam dan hak rakyat Indonesia adalah antek-antek asing. Langsung ataupun tidak langsung, mereka telah menguntungkan pihak barat serta merugikan bangsa dan Negara Indonesia dalam hal perebutan sumber daya ini.

Paham ya?

Setelah mempertahankan nikel dari asing, pemerintah Indonesia maju lagi melarang bauksit untuk dijual mentahnya ke luar negeri. Bauksit adalah bahan mentah untuk dijadikan alumunium. Kali ini negara yang dirugikan akibat kebijakan pemerintahan Jokowi untuk mempertahankan bauksit ada di dalam negeri Indonesia adalah Cina. Para ahli mengatakan bahwa Cina kemungkinan akan marah dan melakukan protes kepada Indonesia. Akan tetapi, tampaknya Jokowi tetap kukuh untuk menetapkan keinginannya agar bauksit diproduksi di Indonesia, dikerjakan rakyat Indonesia, mendapatkan keuntungan dari situ, serta rakyat Indonesia mendapatkan pula keuntungan dari alih teknologi untuk meningkatkan ilmu dan keterampilannya dalam mengolah bauksit.

Siapa pun yang merecoki dan menganggu kerja-kerja pemerintah dalam membela sumber daya alamnya agar tidak dikuasai Cina adalah antek-antek aseng. Merekalah sesungguhnya antek-antek aseng itu.

Sekarang paham kan siapa sesungguhnya antek-antek asing dan aseng itu?

Mereka menuduh orang yang bekerja memperjuangkan sumber daya Indonesia sebagai antek asing dan antek asing karena paham bahwa rakyat Indonesia itu mudah ditipu, apalagi dengan bahasa-bahasa agama, seperti, kafir, dzalim, thagut, sorga, dan neraka. Sudah, kita tidak perlu bodoh lagi ditipu orang-orang itu. Merekalah sebenar-benarnya antek asing dan antek aseng yang hendak menguasai Indonesia untuk mereka kuasai dan sama sekali tidak menguntungkan rakyat Indonesia.

Sampurasun.

Thursday, 22 December 2022

Alih-Alih Takut, Jokowi Malah Nonjok, Paksa Dunia Patuh Kepadanya

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia telah kalah dalam sidang panel World Trade Organization (WTO) yang akibatnya Indonesia diwajibkan menjual kembali bijih nikel mentah ke luar negeri. Akan tetapi, Jokowi tidak mau kalah, dia perintahkan untuk banding dan sewa pengacara mahal tingkat Internasional untuk melawan Eropa. Dia tidak takut. Disangkanya bakal takut, menurut, dan menyerah pada Uni Eropa, Jokowi malah balas menonjok Eropa Barat. Dia malah menambah susah Eropa dengan menghentikan ekspor bauksit mentah ke luar negeri. Dia ingin menjualnya ke luar negeri setelah diolah di Indonesia.

Bauksit itu bahan mentah alumunium. Semua industri otomotif sangat membutuhkan bauksit. Jokowi sudah tidak mau lagi mendapatkan untung kecil. Dia ingin rakyat Indonesia sebagai pemilik sah bauksit yang mendapatkan untung besar.

Dengan arogan, Eropa Barat memaksa Indonesia menggali tambangnya untuk dijual kepada mereka dengan harga murah. Mereka mengalahkan Indonesia dalam sidang WTO, tetapi Indonesia bukannya takut. Jokowi malah semakin menonjok keras Eropa dengan melarang bauksit dijual ke luar negeri secara mentahnya mulai Juni 2023.

Foto Jokowi yang berbicara sangat tegas saya dapatkan dari Epaper Media Indonesia.


Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Foto: Epaper Media Indonesia)


Jokowi memaksa seluruh dunia yang membutuhkan nikel dan bauksit Indonesia untuk patuh pada keinginan dirinya. Mereka harus mematuhi aturan yang diberlakukan Indonesia. Mereka harus membangun smelter, pabrik, bayar pajak, mempekerjakan rakyat Indonesia, dan alih teknologi supaya Indonesia pada masa depan bisa mandiri. Bukan hanya pihak asing yang dipaksa patuh, melainkan pula pengusaha dan rakyat Indonesia sendiri.

Pengusaha Indonesia tampaknya ketakutan pada kebijakan Jokowi. Mereka meminta agar Jokowi memberikan waktu tambahan untuk mereka. Para pengusaha itu merasa tidak siap kalau hanya diberikan waktu enam bulan untuk membangun smelter dan mengolah sendiri bauksit untuk dijadikan alumina atau alumunium. Mereka meminta Jokowi menunda kebijakan penghentian ekspor bauksit tersebut.

Kalau menurut saya, para pengusaha di dalam negeri Indonesia ini sudah merasa terlalu nyaman dan kaya raya dengan hanya menjual bauksit mentah ke luar negeri dan merasa cukup dengan hal itu. Akan tetapi, dengan adanya pelarangan ekspor, mereka dipaksa untuk membangun smelter dan pabrik di dalam negeri karena mereka tidak bisa lagi menjual bauksit ke luar negeri. Jika mereka dipaksa untuk membuat industri bauksit di dalam negeri, rakyat akan tambah banyak yang bekerja dan akan tambah memahami hal ihwal pengolahan bauksit karena adanya alih teknologi. Dengan demikian, Indonesia akan mendapatkan banyak keuntungan, baik dari segi pendapatan, pembukaan lapangan kerja, dan alih teknologi.

Tampaknya, Jokowi tidak mau menunda keputusannya.

Kalau pengusaha Indonesia tidak siap, sampai kapan mereka siap?

Kalau ditunda terus, Indonesia tidak akan pernah siap untuk maju dan sejahtera, terus menjadi kuli bagi bangsa asing selamanya.

Kalau para pengusaha Indonesia tidak siap, paling yang hadir ke Indonesia adalah pengusaha asing, terutama pengusaha Cina beserta tenaga ahlinya. Jangan salahkan siapa-siapa jika akan semakin banyak perusahaan Cina dan tenaga kerja Cina yang berdatangan dan bekerja di Indonesia. Hal ini disebabkan para pengusaha dan rakyat Indonesia tidak sanggup dan tidak mampu mengikuti perkembangan zaman dan hanya merasa nyaman dengan penghasilan sehari-harinya. Tidak ada jalan bagi para pengusaha dan rakyat Indonesia, kecuali memaksa melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan dan kemauan untuk mengikuti zaman. Kalau pengusaha itu tidak mampu mandiri membuat industri bauksit, bisa membangun konsorsium, patungan beberapa perusahaan untuk mendirikan perusahaan yang lebih besar. Dengan demikian, mereka akan tetap bertahan dan menyerap banyak tenaga kerja. Jika tidak demikian, kita akan menjadi penonton perusahaan dan  tenaga kerja asing, terutama Cina yang bekerja di Indonesia karena keberanian dan keterampilannya dalam mengolah sumber daya alam Indonesia.

Sampurasun.

Monday, 19 December 2022

Penyebab Cina Tampak Lebih Kaya Dibandingkan Pribumi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang pribumi yang membenci orang keturunan Cina di Indonesia. Alasannya, ada yang masuk akal, tidak masuk akal, bahkan mengada-ada cenderung fitnah. Dosa lho fitnah itu.

            Misalnya, membenci Cina karena kaya raya. Itu tidak masuk akal.

            Orang lain kaya, kok kita yang membenci?

            Orang-orang pembenci orang kaya yang saya tahu sejak kecil hanyalah orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Soalnya, saya pun pernah hampir menjadi korbannya. Lebih tepatnya bukan saya sih, melainkan uwak saya, kakak ayah saya. Saat itu PKI sangat kuat di Indonesia dan sangat membenci orang kaya. Uwak saya pun sudah masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ketika ayah saya bertanya kepada orang-orang PKI itu tentang alasan kenapa ingin membunuh uwak saya, mereka bilang karena uwak saya kaya raya. Memang benar uwak saya itu adalah orang kaya di lingkungannya. Dulu sewaktu saya kecil, di lingkungannya itu selalu uwak saya yang paling pertama memiliki barang-barang baru, elektronik baru, pakaian baru, perabotan rumah baru, dll. Malahan, kalau ada tetangga yang menikah, rumah uwak saya itu sering dipinjam untuk resepsi pernikahan. Yang kaya itu uwak saya, bukan ayah saya, apalagi saya.

            Memang uwak saya itu adalah sekretaris Wybert, semacam permen pelega tenggorokan. Mirip Hexos, tetapi dikemas dalam wadah mirip Pagoda Pastiles, cuma lebih besar dan tebal. Sekarang perusahaan dan produk itu sudah tidak ada lagi. Dulu sih iya sangat terkenal dan laku sekali.

            Alasan ingin membunuh uwak saya karena kekayaannya adalah hal yang tidak masuk akal. Beruntung, PKI keburu runtuh dan malah dipermalukan. Jadi, pembenci orang kaya itu sama pikirannya dengan orang-orang PKI. Mungkin juga mereka sekarang adalah murid PKI. Orang PKI memang punya pandangan hidup itu harus sama rasa sama rata. Semua mungkin harus sengsara seperti mereka.

            Setelah dibubarkan, orang PKI yang dulu mengancam uwak saya hidupnya memprihatinkan. Mereka tetap miskin dan dijauhi oleh masyarakat. Ketika Pemilu, ayah saya merasa kasihan kepada mereka karena mereka tidak diberikan haknya untuk memilih oleh panitia pemungutan suara yang masih tetangga juga. Mereka antri dari pagi hingga sore dan selesai pemungutan suara, sama sekali tidak diperbolehkan memilih. Dengan senyum kuning kecut menahan rasa malu dan kecewa mereka pulang tanpa memilih. Sebetulnya sih, mereka harusnya diberikan hak untuk memilih karena mereka sudah dihukum, mengakui kesalahannya, berupaya menebus perilakunya dengan mendekati masyarakat, tetapi mau bagaimana lagi. Panitia tidak memberikan haknya dan panitia itu adalah tetangga ayah saya juga. Ayah saya meskipun ingin membela, tidak bisa juga ngapa-ngapain, ya sudah, begitu kejadiannya, begitu ceriteranya. Sanksi sosial itu sangat berat.    

            Sangat tidak masuk akal membenci orang karena kekayaannya. Bahkan, ingin membunuh, lebih tidak masuk akal lagi. Demikian pula membenci orang Cina karena lebih kaya, sama sekali tidak masuk akal.

            Sebetulnya, sudah sangat banyak tulisan, artikel, atau penelitian yang memaparkan soal penyebab orang-orang Cina di Indonesia tampak lebih kaya dan berhasil secara ekonomi. Saya jadi harus mengingat lagi tulisan-tulisan itu.

            Pada zaman dulu sebelum zaman para wali, di wilayah Cina itu terjadi pergolakan politik, konflik berdarah, pertempuran antarsuku, pembunuhan, pembantaian, dan perang-perang besar. Banyak dari mereka yang menyelamatkan diri dari kekejaman itu ke seluruh dunia. Ada yang ke Eropa, Amerika, Asia, termasuk ke wilayah yang sekarang bernama Indonesia. Ada yang ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, dsb. Oleh sebab itu, keturunan Cina selalu ada di mana-mana, di seluruh dunia, dan menjadi warga negara tempatnya tinggal

            Di Indonesia sebagian beruntung, diterima masyarakat dan bisa mengolah tanah di wilayah yang baru pemberian masyarakat dan penguasa saat itu. Sebagian lagi, hidup terjepit, terhimpit, menderita, dan sangat miskin puluhan, bahkan ratusan tahun. Tak ada jalan lain bagi mereka untuk bertahan hidup, kecuali berdagang.

            Memang apalagi yang bisa mereka lakukan?

            Mereka tidak bisa menjadi tentara, polisi, ataupun aparat negara. Mereka berbisnis kecil-kecilan dan sangat patuh pada penguasa.  Ketika zaman penjajahan, mereka tidak bermasalah dengan penjajah. Mayoritas memilih untuk tetap berdagang sehingga tidak ikut terseret konflik antara penjajah dengan rakyat. Sebagian, memilih pro penjajah. Sebagian, ikut menjadi pejuang kemerdekaan.

            Para pedagang Cina ini makin lama makin kuat karena memberikan layanan dagang bagi penjajah sekaligus juga bagi rakyat. Mereka fokus pada usaha dagang. Pada masa kemerdekaan pun mereka tetap berdagang hingga usahanya terus membesar. Kesempatan untuk menjadi tentara, polisi, ataupun pegawai negeri tetap sangat kecil untuk mereka. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan berdagang.

            Berbeda dengan pribumi, keturunan Arab, India, atau Pakistan. Mereka lebih tenang karena bisa menjadi pegawai negeri, tentara, polisi, dan mendapat banyak kenyamanan karena kesamaan warna kulit, ras, ataupun agama. Dengan demikian, mereka tidak perlu terlalu bekerja keras bertahan hidup. Orang Cina sangat terpinggirkan dan kesulitan untuk berkembang. Dalam posisi terjepit itu, mereka fokus berdagang.

            Dari penjelasan singkat ini, kita harus bisa memahami bahwa orang Cina itu dulunya sangat terpuruk dan menderita. Dalam kondisi itu, mereka terdorong untuk memikirkan cara bertahan hidup dan berkembang. Sebagian berhasil dan menjadi kaya raya, bahkan menguasai sektor ekonomi yang besar di Indonesia ini. Sebagian lagi gagal dan hidup seperti orang kebanyakan, malahan sangat miskin hingga disebut Cimi (Cina miskin).

            Kesusahan hidup memang bisa mendorong orang berpikir dan bekerja lebih keras. Akan tetapi, bisa juga mendorong orang untuk berbuat jahat dan membunuh dirinya sendiri karena tidak mau berpikir, stress, atau mendapatkan ajaran sesat. Tinggal memilih saja.

            Panjang sebetulnya kalau membicarakan hal ini. Saya belum menuliskan apa yang terjadi saat pembantaian Cina pada pertengahan Mei 1998 di Indonesia ini. Itu ada ceritera tersendiri yang didorong situasi politik dan kecemburuan ekonomi.

            Ada sedikit kisah tentang Cina ini juga. Ketika saya masih SD, ada anak muda Cina yang sangat miskin, kumal, kusut, dan kurang makan. Dia dikasih makanan oleh pengurus masjid. Dia memelas minta modal untuk berdagang. Lalu, pengurus masjid pun memberinya uang. Dia pun berdagang sayuran dengan menggunakan pikulan. Dia menanggung  pikulan sayurannya berkeliling.

            Apa yang terjadi?

            Dia dibuli, dihina, diejek, dan diusir masyarakat. Sering dikata-katain bahwa sayurnya dicuci pakai air selokan, sayuran dagangannya adalah sayur bekas, daging yang dijualnya adalah daging babi, dan sejumlah cacian lainnya.  Dia sering sekali menangis karena memang jadi tidak laku dijual barang dagangannya. Sering sekali dia mengadu ke pengurus masjid yang memodalinya itu. Dia pun sering didoakan oleh orang-orang masjid.

            Ketika saya SMP, saya dengar dia sudah punya pabrik kerupuk. Dia berhasil sukses. So, perjuangannya tidak mengkhianati hasil.

            Ada pelajaran yang bermanfaat dari tulisan ini?

            Sampurasun.

Wednesday, 22 June 2022

Kalau Mau Makmur, Jangan Ribut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Jika mengajak diskusi siapa pun tentang hal ini, jawabannya selalu sama karena berasal dari otak dan hati yang jujur.

            Kalau kita punya uang lima puluh juta dan ingin membuka toko kecil-kecilan, tempat mana yang akan dipilih untuk usaha?

            Tempat yang penduduknya tidak berpendidikan, gemar ribut, sering tawuran, banyak pertengkaran, dan miskin atau tempat yang penduduknya berpendidikan, damai, saling menghormati, tidak gemar tawuran, dan punya uang banyak?

            Jawabannya selalu sama dan para pembaca tulisan saya pun pasti menjawab hal yang sama.

            Iya, kan?

            Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ingin maju dan makmur bersama, kita harus menjaga situasi yang aman dan damai tanpa huru hara atau tanpa keributan yang mengarah pada perpecahan secara fisik. Kalau perdebatan ilmu pengetahuan, perbedaan pendapat, atau perbedaan pilihan politik sih, tidak mengapa, tidak masalah. Bahkan, itu bagus untuk pencerdasan.

            Dengan situasi yang aman, harmonis, damai, dan terkendali akan menarik para investor dan pemilik uang atau harta yang banyak dari seluruh dunia untuk menanamkan uangnya di Indonesia. Mereka bisa membuat perusahaan-perusahaan besar pada segala bidang sehingga terbuka banyak lapangan pekerjaan untuk kita dan kita pun bisa mendapatkan nilai tambah lainnya dari pajak, perputaran bisnis, serta alih teknologi. Kita bisa belajar dari mereka sehingga pada masa depan kita semakin mandiri karena memiliki banyak pengetahuan dan investasi yang banyak.

            Kalau selalu gemar ribut dan perpecahan, siapa yang tertarik menanamkan uangnya untuk bisnis di Indonesia?

             Itulah sebabnya Presiden Soeharto pada masa Orba melakukan tindakan yang sangat keras untuk membuat negara stabil dan tertib sehingga pada zamannya disebut sebagai “ekonomi adalah panglima”, berbeda daripada era Presiden Soekarno yang disebut “politik adalah panglima”. Sayangnya, Soeharto terlalu ekstrim sehingga membungkam aspirasi rakyat dan sangat kejam terhadap mereka yang berbeda pandangan, orang bisa tiba-tiba gila atau hilang tak diketahui di mana kuburannya. Dia dijatuhkan karena hal itu salah satunya.

            Pada masa ini diharapkan panglimanya adalah kesadaran diri dan penegakkan hukum yang tegas dan adil sehingga situasi tetap bisa terkendali untuk membuat suasana bisnis berjalan dengan baik dan menguntungkan.

            Baru-baru ini ada contoh menarik, yaitu Elon Musk yang awalnya diharapkan untuk membuat pabrik Tesla di Indonesia, ternyata memilih untuk membangun pabrik di Thailand. Dia memang membuat pabrik juga di Indonesia, tetapi hanya pabrik baterai yang bisa menyimpan listrik ratusan watt atau mungkin lebih dari seribu watt. Nilainya jelas jauh antara pabrik mobil dan pabrik baterai. Kalau pabrik Tesla ada di Indonesia, terbayang puluhan ribu orang bisa bekerja mengikuti perputaran bisnis Tesla. Keputusan Elon Musk untuk mendirikan pabrik di Thailand menggugurkan banyak kesempatan dan harapan untuk kita.

Beberapa pengamat menganalisa bahwa salah satu alasan Elon Musk tidak jadi membangun pabrik Tesla di Indonesia adalah adanya konflik-konflik dan potensi perpecahan yang ada di kalangan rakyat Indonesia meskipun itu bukan satu-satunya alasan. Elon Musk memang dikenal sangat pemilih dalam menanamkan uangnya. Dia menilai juga sejauh mana sebuah negara menghormati lingkungan, sikap para pengusaha terhadap karyawan, kemudahan birokrasi terhadap rakyat dan para pengusaha, serta yang lainnya.

Pendapat para analis ini bisa debatable, bisa didebat kebenarannya. Akan tetapi, cukuplah menjadi pelajaran bahwa untuk menjadi maju dan makmur, situasi harus diciptakan damai, aman, dan harmonis agar ada banyak uang yang masuk untuk diputarkan dalam bisnis serta menguntungkan banyak pihak. Kalau gemar tawuran dan huru hara, sangat sulit akan terjadi perputaran usaha secara positif.

Ekstrimnya, siapa yang akan menanamkan uangnya untuk buka usaha di Ukraina sekarang?

Tidak ada.

Siapa yang akan menanamkan uangnya di Afghanistan?

Cina mulai berani bisnis di Afghanistan, tetapi masih memperhatikan situasi hingga benar-benar aman untuk berbisnis di sana.

Mari ciptakan Indonesia yang harmonis dan untung bersama. Insyaallah.

Sampurasun.

Saturday, 7 May 2022

Amerika Serikat Tidak Akan Berhasil Menentang Sunatullah

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kejatuhan Unisoviet dan terdesaknya komunisme, Amerika Serikat (AS) seakan-akan menjadi penguasa tunggal di dunia dan merasa dirinya adalah yang paling berkuasa. Tampaknya, AS memang ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar sebagai penguasa di muka Bumi dan selalu berupaya mengalahkan orang lain, negara lain, atau mengatur hidup orang lain sesuai dengan pandangannya. Mereka ingin sistem pergaulan dan politik dunia berada dalam kondisi unipolar, hanya satu penguasa, yaitu dirinya.

            Sayangnya, keinginan mereka itu sia-sia karena dunia tidak diciptakan untuk itu, tidak akan pernah dalam situasi yang benar-benar unipolar, kecuali semu atau hanya perasaan dirinya. Dalam kenyataannya unipolar itu tidak akan pernah terjadi karena itu menentang sunatullah, hukum Allah swt, kebiasaan Allah swt, sistem dan mekanisme Allah swt.

            Kita lihat sejarah manusia, minimal yang saya ingat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh saja silakan. Dulu, sebelum masa kerasulan Muhammad saw, dunia terbagi pada dua kekuatan besar, yaitu Romawi dan Persia. Ada dua kekuatan besar di muka Bumi, bipolar. Setelah memasuki masa kekhalifahan, terdapat beberapa kekuatan besar di Bumi, yaitu Kekhalifahan, Romawi, dan Mongolia, multipolar. Kemudian, pada masa berikutnya, muncul kekuatan barat Amerika Serikat dan kekuatan timur Unisoviet, kembali bipolar. Setelah Unisoviet jatuh dan Rusia seolah tersingkirkan, muncul kekuatan ekonomi dan teknologi Cina yang berseberangan dengan AS. Selalu begitu. Sekarang, Rusia muncul lagi dengan lebih mengejutkan dengan memamerkan kekuatan militer dan teknologi perangnya dalam perang di Ukraina. Sementara itu, kekuatan AS dan Eropa Barat tampak kaku, rikuh, dan tidak siap menghadapi kekuatan besar Rusia. Apalagi setelah ada keluhan dari prajurit Ukraina bahwa banyak senjata bantuan dari AS untuk Ukraina dalam melawan Rusia, tidak berfungsi dengan baik. Rusia tampak sekali menguasai pertempuran dengan keakuratan militernya.

            Dunia itu memang seperti itu, tidak pernah unipolar, tetapi selalu bipolar atau mulitipolar. Bahkan, akibat dari perang Rusia Vs Ukraina ini kemungkinan dunia akan terbagi ke dalam pakta-pakta baru, multipolar. Gabungan Indonesia-India-Cina bisa menjadi kekuatan baru yang bisa mengalahkan barat dengan kemampuan yang dimilikinya. Indonesia punya sumber daya alam, Cina punya teknologi, dan India punya militernya. Di samping itu, jumlah penduduk ketiga negara itu sangat banyak, Indonesia sekitar 270 juta jiwa, India sekitar 1,4 miliar, dan Cina hampir 2 miliar dapat menjadi pasar ekonomi raksasa mengalahkan AS dan Eropa Barat. 

            Sekali lagi, dunia tidak akan pernah bisa unipolar secara nyata, kecuali semu. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah swt sendiri dalam QS Al Baqarah 2 : 251.

            “… Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, niscaya rusaklah Bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

            Di dalam kehidupan ini selalu ada kejahatan, kerakusan, dan keterlaluan. Ketika terjadi sikap-sikap negatif yang membahayakan kehidupan umat manusia dan segenap alam raya, Allah swt menggerakkan sekelompok manusia lainnya untuk melawan atau menahan kejahatan manusia lainnya agar Bumi, manusia, dan keseluruhan kehidupan ini tidak rusak. Allah swt adalah Sang Maha Pemberi Karunia dan menginginkan agar kehidupan dunia ini seimbang.

            AS dan siapa pun tidak perlu bermimpi untuk menjadi penguasa tunggal dunia karena itu tidaklah mungkin alias mustahil. Sang Pencipta Alam ini pun tidak pernah akan mengizinkan ada satu penguasa tunggal di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, saling mengenal, saling belajar, saling mengisi, dan saling bekerja sama adalah lebih baik dalam mengarungi hidup ini daripada bercita-cita menjadi penguasa tunggal di muka Bumi, apalagi dengan menggunakan kekerasan dan pembunuhan atas manusia lainnya.

            Sampurasun.

Saturday, 25 September 2021

Cara Mudah Mengusir Cina


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik di Laut Cina Selatan (LCS) memang sudah terjadi sejak lama, tetapi konflik ini semakin memanas akhir-akhir ini. Hal ini dipicu oleh pengusiran yang dilakukan oleh patroli kapal Indonesia terhadap kapal coast guard cina, ‘penjaga pantai Cina’ di wilayah perairan hak berdaulat Indonesia, zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

Peristiwa pengusiran yang dilakukan seorang gadis berhijab Indonesia pada kapal Cina ini menjadi pusat perhatian dunia, bahkan negara-negara dan rakyat barat  mendukung penuh keberanian Indonesia dan bersedia membantu Indonesia mengusir Cina.

Gadis itu mengusir Cina dari wilayah Indonesia, “I order you to leave our territorial waters!”

“Aku perintahkan kalian untuk meninggalkan wilayah perairan kami!”

Kalimat itu diucapkan berulang-ulang sampai kapal Cina pergi dari wilayah ZEE Indonesia.

 Banyak yang langsung jatuh cinta pada gadis itu.

            “She is so cute, greeting from US to girl with hair dress. She has strike words.”

“Dia sangat cantik, salam dari Amerika Serikat buat gadis berhijab. Dia punya kalimat langsung yang tegas.”

Semacam itulah kalimat-kalimat mereka, bukan hanya dari Amerika Serikat, melainkan pula dari berbagai negara barat.

            Kalau dilihat seringnya kapal-kapal Cina dan negara lainnya masuk ke wilayah perairan Indonesia, hal itu disebabkan Indonesia sendiri yang salah, kurang perhatian, dan kurang mengurus wilayah perairan dan pulau-pulau terluar milik Indonesia. Padahal, kita sudah punya pengalaman buruk dengan terlepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan yang kemudian diambil alih Malaysia. Hal itu disebabkan Malaysia yang mengurus dan membinanya sejak lama hingga mata uang dan bahasanya pun berasal dari Malaysia. Di tingkat internasional diputuskan bahwa pulau itu menjadi milik Malaysia, padahal dulunya milik Indonesia.

            Akhir-akhir ini sering sekali Cina dan Vietnam mencuri ikan di perairan Indonesia karena kurangnya penjagaan atau patroli laut dan tidak adanya kegiatan di pulau-pulau terluar milik Indonesia. Karena pemerintah Indonesia kurang perhatian terhadap miliknya sendiri, hampir-hampir Cina, Vietnam, dan negara pencuri lainnya merasa memiliki wilayah itu. Mereka sudah mengeksploitasi wilayah itu sejak zaman Presiden Pertama RI Soekarno hingga Presiden Jokowi.

Untunglah, Allah swt masih sayang pada Indonesia sehingga dibukakan matanya untuk segera memperbaiki kesalahannya. Kini kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri mulai secara bertahap memperbanyak dan memperkuat kapal-kapal perang Indonesia dan menempatkan prajurit di pulau-pulau terluar Indonesia. Dengan demikian, Indonesia mengukuhkan diri di wilayahnya sendiri.

Jadi, untuk mengusir Cina, Vietnam, dan negara lainnya agar tidak merampok di kawasan Natuna Utara, Indonesia harus memperkuat pertahanan, menempatkan rakyat di pulau-pulau terluar di Natuna Utara dan di seluruh Indonesia, memperbanyak nelayan Indonesia untuk mencari ikan di sana, membangun pengeboran minyak di kawasan itu, serta jangan dilupakan agar diperbanyak pendidikan untuk generasi muda terkait kelautan, perikanan, pertanian, berikut cara pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan  barang siap konsumsi. Dengan demikian, terjadi aktivitas nyata di wilayah Indonesia sendiri. Hal ini terbukti ketika mereka mencuri ikan, tetapi ketahuan pihak Indonesia, mereka pun mundur meskipun masih bersikap arogan. Demikian pula di pulau terluar Pulau Rote, Australia berpikir ribuan kali untuk bikin masalah karena ada aktivitas masyarakat Indonesia yang nyata aktif di sana.

Pemerintah dan rakyat Indonesia harus terbuka matanya untuk bersama-sama memanfaatkan anugerah Allah swt berupa kekayaan alam yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat dan negara serta terbebas dari kejahatan para pencuri. Allah swt sudah memberikannya untuk Indonesia, tinggal kitanya yang rajin memanfaatkan dan menjaganya dengan baik.

Sampurasun.

Tuesday, 7 September 2021

Indonesia Berat Sebelah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak pengamat mengatakan bahwa Indonesia sekarang berat sebelah, padahal menganut nonblok yang tidak ke barat, timur, atau berpihak ke salah satu kelompok negara yang sedang bertikai. Memang kelihatannya sekarang Indonesia seolah-olah ngeblok ke barat. Hal itu bisa dilihat dari digelarnya “Garuda Shield 2021”, pelatihan bersama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang melibatkan ribuan prajurit; adanya janji hibah kapal-kapal perang kelas wahid dari negara-negara Nato untuk Indonesia; dipermudahnya izin bagi Indonesia untuk membeli alat-alat pertahanan kelas utama di dunia; bolak-baliknya pejabat Nato ke Jakarta untuk membicarakan pertahanan di Natuna. Sementara itu, tidak tampak jelas ada kerja sama militer dengan Cina. Kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat bersama Nato-nya itu telah membuat Cina gelisah.

            Menurut saya wajar Indonesia bersikap seperti itu, lebih dekat ke barat dibandingkan ke Cina dalam hal militer dan persenjataan. Masalahnya, Cina juga yang sering bikin gara-gara di wilayah perairan ZEE yang merupakan hak berdaulat Indonesia. Sementara itu, Indonesia memiliki kepentingan untuk mengamankan Laut Natuna Utara beserta ZEE-nya. Kan tidak mungkin untuk mengamankan wilayahnya dari gangguan Cina, Indonesia dibantu senjatanya dari Cina. Pastinya, dari negara barat yang sedang bertikai dengan Cina peralatan tempur Indonesia berasal di samping bikin sendiri juga di dalam negeri.


Kapal Perang Fregat dari Italia Perkuat  Indonesia (Foto: Kompas.com)

            Indonesia berkepentingan menjaga kedaulatannya dan itu perlu peralatan tempur canggih untuk mengimbangi Cina. Sementara itu, Nato punya kepentingan atas wilayah Laut Natuna Utara karena merupakan gerbang untuk ke kawasan Samudera Pasifik. Oleh sebab itu, terjadilah hubungan saling menguntungkan antara Indonesia dengan barat, Amerika Serikat, Nato.

            Sekarang kawasan Laut Natuna Utara menjadi perhatian dunia. Indonesia sendiri sedang mempersenjatai kapal-kapal tempurnya dengan senjata-senjata berat. Hal itu ditambah dengan hibah dan kemudahan izin untuk membeli yang baru dari pihak Nato. Di wilayah itu sekarang seolah-olah sedang pameran kapal tempur dan senjata-senjata terbaru, termasuk pesawat tempur.


Indonesia Siapkan Kapal Tempur untuk Hadapi Cina (Foto: CNN Indonesia)


            Coba kalau Cina tidak bikin gelisah Indonesia dengan kelakuannya bikin gangguan dan gara-gara di wilayah ZEE, Indonesia tidak akan bersikap berat sebelah. Sebagai negara nonblok, Indonesia tidak akan dan tidak boleh pro ke kiri atau ke kanan. Indonesia ya harus tetap nonblok dan aktif menciptakan perdamaian dunia. Kalau sekarang Cina merasa gelisah dan terancam karena Indonesia lebih dekat ke Amerika Serikat, Cina harus introspeksi diri serta menghentikan ganguannya terhadap Indonesia dan berhenti bersikap arogan.

            Sampurasun.

Sunday, 5 September 2021

Perang di Depan Pintu Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitulah beberapa pengamat mengatakannya. Setelah bosan main-main dengan Afghanistan, sekarang Amerika Serikat (AS) mulai jelas main-main dengan Cina. Kemarin-kemarin juga sebetulnya sekali-sekali AS menunjukkan kekuatannya pada Cina untuk mempertahankan pengaruh dan posisinya di dunia. AS memang tidak mau disalip Cina, baik secara ekonomi, politik, militer, maupun pengaruhnya. Sekarang, setelah melepaskan diri dari Afghanistan, AS lebih fokus untuk menghadapi Cina.

            Indonesia adalah negara penting bagi AS untuk dijadikan partner dalam bermain di Laut Cina Selatan (LCS). Cina memang sering bikin gara-gara di Laut Cina Selatan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Mereka seolah-olah memiliki hak penuh atas LCS, padahal ada hukum internasional yang mengatur tentang kepemilikan wilayah laut itu yang harus dipatuhi semuanya. Oleh sebab itu, ketika Cina melanggar wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, kemudian Indonesia mengusirnya, bahkan Presiden RI Jokowi datang langsung ke Natuna untuk memeriksa keadaan di sana, negara-negara Nato mendukung Indonesia. Amerika Serikat sendiri memuji Indonesia setinggi langit. Pejabat AS menyatakan bahwa Indonesia adalah negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang berani menghadapi Cina. Demikian pula rakyat di kawasan Asia Tenggara memuji Indonesia dan menginginkan pemimpinnya berani tegas terhadap Cina seperti Jokowi.


Saling hormat antara pasukan Indonesia dan pasukan Amerika Serikat (Foto: JakartaGreater)


            Ketegangan Indonesia dan Cina di LCS dianggap AS sebagai pintu masuk untuk makin terlibat di LCS. AS sempat menawarkan dirinya untuk membantu Indonesia dalam menghadapi Cina. Akan tetapi, Indonesia adalah negara nonblok dengan politik luar negeri bebas aktif yang tidak akan pro ke salah satu pihak, Indonesia tetap bertahan untuk tidak pro ke AS dan tidak pro ke Cina. Indonesia hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dengan tetap mengupayakan perdamaian dunia. Artinya, Indonesia tidak akan terlalu dekat ke AS atau ke Cina. Indonesia tetap berusaha untuk tetap bisa berhubungan baik dengan negara mana saja.

            Dengan Cina banyak bisnis yang menguntungkan Indonesia. Dengan AS persahabatan militer sangat menguntungkan Indonesia. Kedekatan militer antara AS dan Indonesia sangat menguntungkan untuk keamanan di LCS tanpa harus ikut bergabung dalam kekuatan militer AS seperti Nato. Kedekatan militer ini semakin bertambah dengan dilakukannya latihan perang bersama terbesar dalam sejarah antara AS dengan Indonesia, Agustus 2021, yang melibatkan ribuan prajurit AS dan Indonesia.

            Bagi AS, latihan bersama Indonesia diharapkan semakin mudah untuk mengontrol Laut Cina Selatan dari pengaruh Cina. Sementara itu, Indonesia pun berkepentingan untuk menjaga wilayah perairannya di situ.


Persahabatan antara militer Indonesia dan Amerika Serikat (Foto: Republika)


            Latihan antara AS dan Indonesia telah memantik kemarahan Cina yang segera melakukan latihan perang bersama Rusia dengan melibatkan sepuluh ribu pasukan. Kehadiran AS di Indonesia adalah ancaman bagi Cina. Inilah yang dikatakan orang sebagai “perang sudah di depan pintu Indonesia”. AS yang sudah lepas dari Afghanistan kini fokus menghadapi Cina.

            Indonesia harus tetap dengan prinsip nonbloknya untuk tidak terseret ke sana kemari dalam perebutan pengaruh itu di samping harus kukuh dalam politik luar negeri bebas aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Kepentingan Indonesia adalah menjaga wilayah kekuasaannya sendiri dari bahaya dikuasai negara lain. Untuk itulah, Indonesia harus pula tetap meningkatkan kekuatan militernya sendiri. AS dan Cina adalah sama-sama sahabat Indonesia. Satu-satunya jalan agar tidak berperang adalah menghormati hukum internasional yang telah disepakati di Laut Cina Selatan. Kalaupun mereka berperang, Indonesia wajib melindungi dirinya karena perang itu berada di depan pintu Indonesia.

            Sampurasun.




Saturday, 28 August 2021

Taliban Wajib Menertibkan Dirinya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada awal menguasai Afghanistan, 15 Agustus 2021, banyak janji manis dan lembut disampaikan Taliban. Mereka berjanji akan membuat situasi lebih aman, perempuan bisa bersekolah, para pejabat dan pegawai yang mendukung pemerintahan lama akan diampuni, semua elemen akan diajak membangun Afghanistan bersama-sama, rakyat tidak perlu kabur ke luar negeri karena semuanya akan dilindungi. Akan tetapi, berita yang berkembang selanjutnya adalah Taliban banyak melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Janji manis mereka ternyata tidak sesuai di lapangan. Berbeda antara kata dan perbuatan.

            Seorang walikota perempuan pertama di Kota Maidan Shahr, Provinsi Wardak, Afghanistan, Zarifa Ghafari, awalnya diajak para elit Taliban untuk tetap bekerja membangun Afghanistan. Akan tetapi, dalam kenyataannya di lapangan, Taliban mengepung rumah Zarifa dan memukuli penjaga rumahnya. Zarifa hendak ditangkap dan mungkin dibunuh karena Taliban tidak menyukai perempuan menjadi pemimpin.

            Beruntung Zarifa Ghafari berhasil kabur ke Jerman dan diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Rhine-Westphalia Utara (NRW) dan kandidat Kanselir Serikat Armin Laschet (CDU) di Düsseldorf. Meskipun pemerintah dan rakyat Jerman sangat menerimanya dengan baik, tetapi Zarifa tetap merindukan kebisingan, hiruk pikuk, celotehan, dan keriangan rakyat Afghanistan. Kini semuanya menjadi tidak menentu.

            Kejadian ini hanya salah satu contoh tidak nyambungnya antara kata, janji, dan praktik yang dilakukan Taliban. Peristiwa tragis lainnya masih banyak.

            Ada dua hal yang bisa saya duga tentang hal ini, yaitu pertama, Taliban memang pendusta, pembohong. Mereka bermulut manis, tetapi sebetulnya di dalam hatinya kotor dan penuh kebohongan.

            Kedua, sistem informasi, komunikasi, dan komando di dalam tubuh Taliban sendiri memang berantakan. Sangat mungkin memang para elit Taliban berniat tulus untuk berubah dan membangun Afghanistan dengan lebih baik dan bekerja sama dengan seluruh elemen Afghanistan, termasuk memberikan kebebasan pada perempuan untuk mengembangkan potensi dirinya. Akan tetapi, di level menengah dan di level komando lapangan, niat baik para pemimpin puncak Taliban tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka masih betah dan yakin dengan perilakunya kejinya seperti 25 tahun yang lalu.

            Melihat hal seperti itu, agar Afghanistan dipercaya oleh negara-negara lain untuk bekerja sama dalam berbagai bidang demi kemakmuran, Taliban harus mampu menertibkan dirinya sendiri dari level atas hingga level bawah. Kalau perilaku mereka tetap berantakan dan tetap bergaya teroris, tak akan ada negara yang mau bekerja sama dengan mereka. Itu artinya kekacauan menjadi kehidupan mereka, kebodohan adalah ciri mereka, dan kemiskinan adalah gaya hidup mereka.

            Cina mungkin tidak akan peduli dengan itu semua. Bagi mereka yang penting adalah untung dalam berbisnis dengan Taliban. Akan tetapi, Cina juga akan berhitung ulang jika Taliban  tidak mampu membentuk pemerintahan Islam yang terbuka karena akan mempersulit bisnis ke masa depannya dan akan mendapatkan tekanan luar biasa dalam pergaulan internasional yang akan membuat Cina kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat internasional.

            Perbaikan diri sangat diperlukan oleh Taliban. Jika tidak mampu memperbaiki dirinya, Taliban harus sadar dan menggandeng beberapa negara untuk menjadi mentor mereka dalam mengubah situasi menjadi lebih modern dan terbuka demi kemajuan Afghanistan.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/25/sempat-pasrah-akan-dibunuh-taliban-wali-kota-pertama-di-afghanistan-berhasil-kabur-ke-jerman

 

https://www.youtube.com/watch?v=yJG1uq7hfVA&t=10s




Wednesday, 25 August 2021

Taliban dan Cina

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Taliban sekarang sedang berada di atas angin Afghanistan. Mereka berkuasa penuh atas Afghanistan.

            Kemenangan Taliban atas pemerintahan lama yang didukung Amerika Serikat (AS) membuat dunia memperhatikan mereka. Sebagian besar negara bersikap “wait and see”, ‘menunggu dan melihat” apa yang dilakukan Taliban di Afghanistan, Indonesia pun  termasuk negara yang bersikap hati-hati terhadap situasi politik di Afghanistan. Hal yang jelas dilakukan pemerintah RI adalah telah mengevakuasi WNI yang ada di Afghanistan. Itu menunjukkan arti bahwa ada kekhawatiran dan kehati-hatian terhadap situasi yang terjadi. Langkah yang bagus dilakukan pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan rakyatnya di tengah situasi yang masih belum menentu.

            Meskipun demikian, ada negara yang “nyosor” langsung mendekat ke Taliban, yaitu Cina. Negara ini menyatakan siap bekerja sama dengan Taliban dengan syarat Taliban dapat membentuk pemerintahan Islam yang terbuka. Taliban pun ternyata memang berharap sangat besar bahwa Cina dapat berinvestasi di Afghanistan. Kekuatan Cina dapat menjadi daya tawar yang tinggi bagi Taliban terhadap negara-negara lainnya. Bahkan, kini Cina semakin dekat dan menjadi pembela Taliban.

            Ketika tersiar kabar yang dibawa AS bahwa Taliban ketika menduduki Afghanistan dalam waktu cepat telah menimbulkan korban, Cina pasang badan membela Taliban. Menurut AS, Taliban menyatroni rumah-rumah di Afghanistan dan melakukan pembunuhan, eksekusi, dan pemaksaan terhadap perempuan dan anak-anak perempuan untuk dinikahi. Cina dengan segera menyerang AS dengan menuntut bahwa AS pun harus bertanggung jawab atas korban-korban yang berjatuhan selama AS berkuasa 20 tahun di Afghanistan. Makin mesra tampaknya hubungan antara Cina dan Taliban.

            Hal yang lucu adalah justru terjadi di Indonesia. Para provokator politik yang memprovokasi rakyat Indonesia untuk membenci Cina, terus terjadi sampai hari ini meskipun banyak bohongnya, banyak hoax-nya. Disebutnya Cina menguasai Indonesia. Pemerintah Indonesia adalah antek-antek Cina. Akan tetapi, pada saat yang sama memuji-muji Taliban yang justru sedang mesra dengan Cina. Selain itu, Cina sekarang menjadi negara besar yang bersikap melindungi Taliban karena ada kepentingan bisnis di Afghanistan.

            Bagi saya ini hal yang lucu. Indonesia dikata-katai sebagai antek-antek Cina, sementara Taliban dipuji, padahal di belakangnya ada Cina juga. Mereka yang mengatai-ngatai Indonesia dan memuji Taliban, orang-orangnya masih yang itu-itu juga, kelompoknya masih sama. Para provokator ini memang tidak memiliki tujuan yang jelas. Mereka hanya ingin rakyat Indonesia tetap bodoh, tersesat, dan gampang ditipu sesuai kepentingan mereka sendiri.

            Orang normal kalau membenci Indonesia karena berbisnis dengan Cina, seharusnya membenci juga Taliban karena berbisnis juga dengan Cina. Kalau membenci yang satu dan memuji yang satu lagi, jelas itu menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki tujuan yang jelas.

            Sampurasun.