Showing posts with label Rusia. Show all posts
Showing posts with label Rusia. Show all posts

Thursday, 5 February 2026

Dewa Mabuk Amerika Serikat Bikin Iran-Cina Genit dan Rusia Berdehem, Ehem

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya Amerika Serikat (AS) bergaya mabuk disebabkan pemimpinnya sendiri Presiden Donald Trump yang berperilaku dan berbicara seperti Dewa Mabuk. Sekarang dengan kemarin omongannya bisa beda, sikapnya kadang pakai akal kadang pakai emosi, kadang seperti jagoan, tetapi buktinya nggak ada.

            Beberapa waktu lalu AS melecehkan dan sesumbar akan menghancurkan Iran pada 1 Februari 2026, mengirimkan kapal induk Abraham Lincoln yang membawa puluhan pesawat tempur dan dikawal kapal-kapal perang mendekati laut Iran. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat, AS tidak juga menyerang Iran. Kelihatannya hanya menggertak.

            Sikap AS yang seperti itu membuat Iran dan Cina berperilaku genit. Dengan melihat dan merasakan AS yang ketakutan dan mulai mundur dari perairan internasional, Iran mulai genit. Iran menggoda AS dengan mengirimkan drone shaheed yang kalau di Indonesia dibacanya drone syahid. Drone itu terbang menuju kapal induk AS dengan agresif, lalu ditembak jatuh oleh jet tempur F55 AS. Iran tidak rugi karena drone itu harganya murah, sekitar Rp30 jutaan, tetapi sudah mampu memberikan data aktivitas dan peralatan tempur laut AS pada militer Iran. Cina juga tampaknya melihat AS ketakutan, lalu mendekatinya dengan menggunakan kapal laut penelitian Da Yang Yi Hao. Semakin dekat kapal Cina mendekati kapal tempur AS. Sementara itu, Rusia ikut meramaikan dengan berlatih tempur bersama Iran dan Cina di dekat kapal milik AS.

            Tampaknya Iran dan Cina yang berteman itu mulai genit menggoda AS. Kalau dalam istilah Sunda, mereka itu sedang “ngalonyeng” pada AS. Mereka meniru gaya AS yang mengancam, tetapi dengan cara meledek dan bertindak rese mengesalkan. Rusia memanfaatkan situasi itu dengan bergabung ke Iran dan Cina.


Kapal AS diusir kapal Iran (Foto: Disway)


            Kalau diilustrasikan dalam kisah sehari-hari di Indonesia, AS itu ibarat preman yang sedang mabuk berat, ngomongnya ngaco, tetapi punya fisik yang besar dan menyeramkan. Preman itu mengancam ke siapa saja, termasuk ke Iran. Ketika ditantang balik oleh Iran, AS mundur teratur menjauh. Ketika situasi itu terjadi, Iran tiba-tiba mencolek preman AS itu.

            Seolah-olah Iran berkata sambal mencolek AS, “Mau ke mana lu? Katanya ngajak berantem, sekarang kok pergi?”

            Cina yang paham hal itu, mulai menggoda mendekati preman AS sambil berkata, “Tenang, kalem, gua cuma cari cacing di sini buat umpan mancing.”

            Rusia yang paham situasi hanya berdehem, “Ehem, … ehem.”

            Kehadiran Rusia membuat AS kaget, lalu pergi makin menjauh mengambil jarak aman. Preman AS mulai mencium bahaya lebih besar ketika Iran, Cina, dan Rusia mulai berlatih perang dekat armada laut AS. Situasi mulai berbalik, AS yang kini tampak terusir dari wilayah perairan Iran.

            Ini tampak lucu, tetapi juga menakutkan. Jika salah satu pihak tidak mampu menahan diri, mereka akan habis-habisan membela keberlangsungan hidup dan martabat mereka. Seperti itulah.

            Ilustrasi kapal tempur AS yang diusir Iran saya dapatkan dari Disway.

            Sampurasun.

Friday, 29 September 2023

Komunis Rusia Hajar Brutal Pembakar Al Quran

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Rusia yang komunis itu ternyata sangat menghormati Islam. Pada dasarnya, mereka menghormati agama apa pun. Penghinaan dan penistaan terhadap agama adalah kejahatan yang sangat serius di Rusia. Padahal, mereka komunis yang kata segelintir orang Indonesia adalah antiagama.

            Nikita Zhuravel adalah pria Ukraina yang pindah ke Rusia. Dia membakar Al Quran dekat Masjid Volgograd beberapa bulan lalu. Kemudian, ditangkap polisi Rusia dan kasusnya dilimpahkan ke pengadilan Chechnya. Di sinilah Zhuravel dihajar habis oleh Adam Kadyrov, putera pemimpin pasukan muslim Chechnya. Adam Kadyrov yang masih 15 tahun ini memukuli dan menendang Zhuravel secara brutal. Lumayan mengerikan jika dilihat video aslinya. Memang Adam dididik ayahnya secara militer dan pernah berperang di garis depan melawan pasukan Ukraina. Sementara itu, Zhuravel hanya bisa pasrah diseret-seret dan dijatuhkan Adam dengan serangan yang sangat keras.


Adam Kadyrov bersama ayahnya, Razman Kadyrov (Foto: Komando Bhayangkara)

            Bagi saya, sebagai orang Indonesia, ini adalah kejadian brutal dan sadis. Akan tetapi, kita harus menghormati hukum dan aturan yang berlaku di wilayah orang lain. Di Chechnya perilaku pemukulan itu dibenarkan oleh peraturan, bahkan mendapatkan dukungan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin. Rusia memang melindungi negaranya agar menjadi tempat yang aman bagi seluruh pemeluk agama. Apalagi Razman Kadyrov, ayah dari Adam Kadyrov adalah kesayangan Putin dalam berperang melawan Ukraina.

            Setiap wilayah, setiap negara memiliki kebiasaan, adat, aturan, dan hukum yang berbeda sesuai dengan kesepakatan mereka masing-masing. Kita harus menghormatinya dan jangan bikin ulah yang melanggar kesepakatan setiap negara di dunia ini karena memang kita diciptakan berbeda.

            Di Indonesia penghinaan terhadap agama juga memang kejahatan serius, tetapi penanganannya tentu berbeda dengan negara lain. Tidak perlu memandang diri sendiri dan orang lain lebih baik atau lebih buruk. Setiap wilayah memiliki caranya masing-masing sesuai dengan keyakinan dan perjalanan sejarah hidupnya dari waktu ke waktu.

            Kalau kalian menghina agama di Rusia, cukup fatal akibatnya, dipukuli dulu sebelum masuk ke pengadilan. Apalagi seperti Zhuravel yang ketahuan membakar Al Quran karena dibayar Rp1,65 juta oleh dinas intelijen Ukraina. Sementara itu, Adam Kadyrov adalah sudah ditetapkan oleh para ulama Chechnya sebagai penghafal Al Quran sejak usia enam tahun. Sudah pasti, kemarahan penghafal Al Quran itu akan sangat besar jika kitab yang dihafalnya dihina dan dibakar.

            Jangan bikin ulah dan hormati kebiasaan di setiap wilayah.

            Foto Adam Kadyrov memukuli Nikita Zhuravel saya dapatkan dari Komando Bhayangkara.

            Sampurasun.

Wednesday, 10 August 2022

Harga Mie Instant Naik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya bukan hanya mie instant yang naik, melainkan pula segala bahan makanan yang berbahan baku gandum, seperti, roti, kue, sereal, bubur bayi, dan bubur bagi lanjut usia. Kenaikan harga ini disebabkan pasokan terbesar gandum dunia sebesar 40% berasal dari Rusia dan Ukraina. Kedua negara ini sekarang sedang sibuk berperang saling bunuh. Dengan demikian, gandum tidak bisa keluar dari pelabuhan dan yang sudah keluar dari pelabuhan pun terkatung-katung di laut.

            Hal yang lebih mengerikan adalah pernyataan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa harga mie instant bisa naik tiga kali lipat. Bayangkan, jika sekarang harganya Rp3.000,-, bakal naik menjadi Rp9.000,-. Mahal sekali.

            Kalau kenaikan harga itu benar-benar terjadi, maka seluruh mahasiswa kost-kostan di Indonesia harus serius mengutuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu Nato itu. Kita tahu banyak mahasiswa lebih memilih mie karena instant, cepat, dan harganya murah. Gara-gara perang, makanan favorit itu jadi sulit dibeli karena mahal. Di samping itu, rakyat Indonesia penggemar mie instant pun harus mengutuk benar-benar perang yang terjadi karena mie instant sudah merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

            Terkutuklah perang!

            Hidup mie instant!

            Memang tidak menyehatkan sih kebanyakan makan mie instant, tetapi dalam keadaan tertentu makanan ini tetap menjadi favorit.

            Meskipun demikian, perang tidak perlu menjadi alasan utama. Rakyat sudah menggaji pemerintah, sudah selayaknya Menteri Pertanian bekerja sama dengan Menteri Perdagangan dan Menteri Luar Negeri mencari alternatif dari negara lain di luar Rusia dan Ukraina untuk memenuhi kebutuhan gandum dalam negeri agar rakyat masih bisa menikmati mie instant dengan harga terjangkau. Para pengusaha atau produsen makanan Indonesia berbahan baku gandum pun harus menjadi mitra aktif dalam mengatasi kelangkaan gandum ini agar produksinya masih bisa dibeli oleh rakyat dengan murah. Di samping itu, rakyat pun harus mulai belajar mengganti makanan mie dengan makanan berbiaya murah lainnya, misalnya, singkong. Tanamlah singkong banyak-banyak di setiap jengkal tanah yang dimiliki untuk bisa menjadi bahan konsumsi kita. Para petani singkong dan pengusaha kuliner harus bisa lebih aktif merekayasa singkong agat lebih menarik dan menjadi makanan pengganti sekaligus makanan tambahan berbiaya murah.

            Mudah-mudahan tidak terjadi kenaikan harga. Kalaupun terjadi, mudah-mudahan naik sedikit, dan tidak sampai tiga kali lipat. Kasihan para penggemar mie instant.

            Hidup mie instant!

            Hidup singkong Indonesia!

            Sampurasun.

Friday, 15 July 2022

Jangan Jadi Generasi Sampah

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada 14 Juli 2022 saya diundang mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Fisip, Universitas Al Ghifari untuk memberikan sedikit pencerahan dalam acara HUT ke-18 Himpunan Mahasiswa HI Unfari di Gedung KNPI, Jawa Barat. Selepas memberikan semangat, saya diminta untuk menerima pucuk tumpeng pertama dan memberikan santunan kepada para santri yatim dari Yayasan Raudhatul Jannah.






            Bagus sekali acara seperti itu dilaksanakan mahasiswa. Mereka tetap menghormati guru atau dosen dan berbagi kesenangan dengan mereka yang kurang mampu. Sejak muda sangatlah positif belajar berperilaku amanah. Ketika dititipi sumbangan oleh orang lain, segera disalurkan kepada mereka yang berhak dengan jumlah yang semestinya dan tidak dipotong secara serakah untuk kepentingan pribadi.




            Tidak banyak yang saya sampaikan dalam acara itu. Saya hanya memberikan semangat bahwa ada banyak kesempatan bekerja untuk lulusan hubungan internasional. Soalnya, perhatian dunia saat ini sedang terpusat di dua tempat, yaitu di Ukraina karena “perang” dan di Indonesia karena ada upaya “perdamaian”. Perangnya di Ukraina dan perdamaiannya di Indonesia. Dalam kondisi perang, hanya ada membunuh, menghancurkan, atau dibunuh dan dihancurkan. Adapun dalam kondisi damai, tercipta segala bisnis, kerja sama, alih teknologi, pendidikan, penggalakan seni budaya, pembangunan, perbaikan, dan perilaku positif lainnya.

            Perdamaian itu jauh lebih baik dibandingkan perang. Banyak kegiatan membangun ketika berdamai, sedangkan ketika perang banyak kegiatan yang merusakkan.

            Ketika Presiden Indonesia Jokowi menemui Presiden Ukraina Zelensky, terdengar jelas bahwa Zelensky meminta Jokowi untuk mendatangkan para ahli, perusahaan, dan rakyat Indonesia yang terampil untuk bekerja di Ukraina dalam membangun kembali Ukraina yang telah porak poranda setelah perang selesai. Itu artinya, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan anak-anak muda Indonesia di Ukraina nanti. Demikian pula Rusia akan menyuplai banyak pupuk, bibit pertanian, bahan baku, dan alat pertanian berkualitas tinggi untuk Indonesia. Di samping itu, tampaknya beberapa negara ingin belajar kepada Indonesia dalam upayanya menciptakan situasi sosial yang kondusif, lebih tenang, lebih cepat keluar dari bahaya Covid-19, serta lebih kuat bertahan dalam goncangan ekonomi dunia yang sangat mengerikan dan bisa membangkrutkan sebuah negara semacam Sri Lanka.

            Hal yang harus dilakukan para mahasiswa dan anak-anak muda sekarang adalah serius belajar secara akademis, serius belajar bekerja, menambah kemampuan, melengkapi diri dengan berbagai keterampilan, dan meningkatkan daya jual diri sehingga disukai orang lain. Lebih jauh lagi, ketika Indonesia mengalami bonus demografi dengan sangat banyaknya angkatan muda atau angkatan kerja dibandingkan negara-negara lain, akan sangat banyak negara yang membutuhkan anak-anak muda Indonesia yang terampil dan berpengetahuan tinggi. Akan tetapi, jika anak-anak muda Indonesia tidak mempersiapkan dirinya dengan baik, jumlah yang banyak itu hanya akan menjadi beban bagi negara dan beban bagi orang lain di sekitarnya. Bahkan, akan menjadi sampah jika bergabung dengan para kriminal dan teroris karena tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam perkembangan dunia ini.

            Jangan jadi sampah. Tingkatkan kualitas diri sambil berdoa tanpa henti berharap ridho Allah swt.

            Sampurasun.

Tuesday, 5 July 2022

Pasukan Muslim Kuasai Lisichansk, Akhmat Sila Allahu Akbar!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia, pasukan Putin mundur dari Pulau Ular. Menurut Rusia, mundurnya dari Pulau Ular itu untuk membuka jalan bagi pasokan makanan, pupuk, dan lain sebagainya dari pelabuhan Odessa ke seluruh dunia. Akan tetapi, Ukraina mengklaim mundurnya pasukan Rusia itu adalah karena dikalahkan oleh Ukraina.

            Tampaknya, klaim Ukraina itu membuat marah Rusia dan pasukan muslim Chechnya. Kemudian, mereka seolah-olah membuktikan bahwa Rusia tidak kalah dan ngamuk sejadi-jadinya. Hanya dalam waktu satu setengah hari, pasukan muslim Chechnya yang membantu Rusia merebut Lisichansk, kota terakhir di wilayah Luhansk.

            Seperti biasa, mereka menaklukan Lisichansk dengan teriakan, “Akhmat Sila, Allahu Akbar!”

            Pasukan muslim Chechnya memang selalu seperti itu. Mereka meneriakkan kalimat itu ketika akan berperang, sedang berperang, dan setelah memenangkan perang.

            Saya tidak tahu arti kalimat “Akhmat Sila”. Dicari-cari juga sulit ketemu artinya, tetapi yang bisa saya pahami adalah Akhmat itu nama dari ayah Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov. Akhmat adalah pejuang Chechnya dan kalimat Akhmat Sila adalah kalimat penghormatan kepada Akhmat.  Kemudian, setelah kalimat itu, mereka meneriakkan kalimat Allahu Akbar yang setiap muslim harus tahu artinya.


Ramzan Kadyrov di tengah pasukan muslim Chechnya (Foro: Wahana News) 

            Foto Ramzan Kadyrov di tengah pasukan muslim Chechnya saya dapatkan dari Wahana News.

            Saya heran mereka bisa sengamuk dan semarah itu karena biasanya Rusia dan Chechnya selalu berhati-hati dan memilih waktu yang lama untuk memenangkan perang. Hal itu disebabkan sebagaimana yang dijelaskan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva bahwa mereka harus selalu berhati-hati karena tentara Ukraina kerap menggunakan permukiman penduduk, mall, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik lainnya untuk markas tentara. Rusia tidak mau mengorbankan rakyat sipil karena rakyat Rusia dan rakyat Ukraina sesungguhnya bersaudara, bahkan memiliki garis keluarga yang sama. Nama presidennya saja mirip. Presiden Ukraina nama depannya Volodimyr, sedangkan nama depan Presiden Rusia adalah Vladimir.

            Satu setengah hari adalah waktu yang sangat kilat untuk menguasai sebuah kota dan itu cukup membahayakan penduduk sipil.

            Sebetulnya sih, kalau mau, Rusia bisa menghancurkan Ukraina dalam seminggu, rata dengan tanah. Hal itu disebabkan menurut “Global Fire Power”, militer Rusia adalah rangking dua terkuat di dunia, sedangkan militer Ukraina adalah berada di rangking 22 dunia, jauh bedanya. Dengan militer Indonesia saja, Ukraina masih kalah karena Indonesia berada di rangking 15 dunia. Ini mirip dengan yang terjadi di Papua ketika TNI ingin menghancurkan teroris KKB. Kalau TNI mau, KKB bisa habis dalam beberapa hari. Akan tetapi, tidak semudah itu karena angggota KKB pun sering berbaur dan menyamar sebagai rakyat biasa yang bisa membahayakan rakyat sipil yang cinta NKRI. Semuanya harus dilakukan dengan berhati-hati agar tidak jatuh korban yang tidak diperlukan. Risikonya, waktu penanganannya menjadi lebih lama.

            Menurut saya, jika ingin cepat berdamai, Ukraina tidak perlu memprovokasi Rusia karena itu akan membuat pasukan Putin marah. Sebaiknya, Ukraina dan Rusia mengikuti nasihat Presiden Indonesia Jokowi untuk berdialog, “back to talk”, kembali berbicara. Permasalahan hendaknya diselesaikan dengan komunikasi terbuka dan lapang dada. Sama-sama mengoreksi dan memperbaiki kesalahan masing-masing. Di samping itu, Amerika Serikat dan pihak barat lainnya harus menghentikan pasokan senjatanya untuk Ukraina agar perang cepat berhenti dan tidak perlu lagi mengajak Ukraina menjadi anggota Nato yang dirasakan Rusia sebagai ancaman bagi dirinya.

            Sampurasun.

Friday, 1 July 2022

Jokowi Datang, Rusia Mundur, Ukraina Klaim Kemenangan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beginilah indahnya memiliki politik luar negeri bebas dan aktif. Ketika para sahabat bertengkar, berkelahi, berperang, kita tidak memihak salah satu dari mereka, tetapi, berupaya mendamaikan mereka. Dengan demikian, kita tetap dihormati oleh semua pihak. Jika memihak salah satu, kita akan menjadi musuh bagi yang lainnya. Itu bukanlah Indonesia. Indonesia itu harus “thousands friends and zero enemy”, ‘ribuan teman dan nol musuh’.

            Sebelum Jokowi ke Kyiv menemui Presiden Ukraina Zelensky, Rusia membombardir Kyiv. Akan tetapi, ketika Jokowi datang, Rusia berhenti membombardir Kota Kyiv dan Kota Irpin karena kedua kota itu didatangi Jokowi. Di Kyiv Jokowi memberikan bantuan medis dan bertemu Zelensky, sedangkan di Irpin meninjau kehancuran puing-puing akibat bombardir Rusia. Setelah Jokowi pergi dari Ukraina pun Kyiv dan Irpin tidak lagi menjadi sasaran tembak Rusia, entah untuk berapa lama.

            Ketika Jokowi meninggalkan Ukraina menuju Rusia untuk menemui Presiden Putin, Rusia melakukan pertukaran tahanan perang dengan Ukraina sebagai tindakan kemanusiaan. Di samping itu juru bicara Rusia menjelaskan bahwa perang bisa berakhir dalam sehari dan selamanya jika Ukraina menyetujui syarat-syarat yang diinginkan Rusia.

Tambahan pula, Rusia segera menarik mundur pasukannya dari Pulau Ular karena paham bahwa Jokowi akan meminta itu agar Pelabuhan Kapal Laut di wilayah Laut Hitam itu bisa lagi berlayar untuk memasok makanan, terutama gandum, biji-bijian lainnya, dan pupuk ke seluruh dunia. Jika tidak,  ratusan juta, bahkan miliaran manusia bisa kelaparan dan itu sangat berbahaya bagi seluruh dunia.

Rusia menjelaskan bahwa penarikan mundur pasukannya dari Pulau Ular itu tujuannya adalah untuk kemanusiaan dan agar PBB bisa mengatur lagi pasokan makanan ke seluruh dunia sebagaimana yang diinginkan Jokowi. Presiden Putin pun menjelaskan bahwa bukan dirinya yang membuat pasokan makanan itu terhenti, melainkan Ukraina dan pihak barat yang memasang ranjau-ranjau di Laut Hitam. Setelah kedatangan Jokowi, Rusia mundur. Akan tetapi, mundurnya Rusia ini diklaim oleh Ukraina sebagai kemenangan Ukraina mengalahkan Rusia di Pulau Ular dan meningkatkan semangat prajurit Ukraina untuk mengambil alih wilayah-wilayah Ukraina yang telah dikuasai oleh Rusia.

Begitulah mereka, tidak mau kehilangan muka dan harga diri. Rusia menjelaskan bahwa mereka mundur adalah untuk membuka jalan bagi kemanusiaan, bukan kalah perang, sedangkan Ukraina mengklaim Rusia mundur karena kalah perang di Pulau Ular itu dan bukan untuk kemanusiaan seperti yang diminta Jokowi.

Ya, sudahlah, hal yang penting adalah satu hari setelah Jokowi datang mengunjungi Ukraina dan Rusia, ranjau-ranjau laut sudah dibersihkan dan kapal-kapal dagang bisa lagi beroperasi untuk memasok makanan serta berbagai bahan pangan lain untuk berbisnis ke seluruh dunia dan mencegah kelaparan. Itu yang penting bagi kita karena jika tidak begitu, Indonesia pun akan mengalami kelaparan yang sama.

Indonesia tidak punya kepentingan politik terhadap perang itu. Hal yang dilakukan Indonesia adalah berupaya secara perlahan menciptakan perdamaian dan hal yang harus dilakukan cepat adalah memberikan makanan ke seluruh dunia karena makanan adalah kebutuhan dasar manusia di mana pun berada.

Perang masih berlanjut, tetapi satu langkah kecil telah menyelamatkan miliaran nyawa manusia. Allah swt melihat itu.

Sampurasun.

Thursday, 30 June 2022

Kulit Berwarna Peluk Kulit Putih

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sejak SMP, SMA, kuliah, hingga akhir-akhir ini, ketika membaca majalah, koran, ataupun menonton berita di televisi selalu saja orang-orang berkulit putih yang datang ke orang-orang kulit berwarna di Afrika, Timur Tengah, India, dan negara lainnya untuk memberikan perhatian, kepedulian, kasih sayang, dan bantuan atas berbagai penderitaan dan keterbelakangan yang diderita. Orang-orang berkulit putih itu memang memiliki banyak kelebihan dalam hal akses, pendidikan, harta benda, dan kekuasaan. Mereka pun punya banyak yayasan yang menggalang dana untuk membantu rakyat di negara-negara miskin dan tertinggal yang rata-rata kulitnya berwarna. Lady Di dari Inggris dan Angelina Jolie dari Amerika Serikat adalah tokoh yang kerap melakukan kunjungan dan bantuan-bantuan itu. Tokoh yang sangat legendaris adalah Mother Teresa atau Bunda Teresa, biarawati Katolik Roma yang mengabdikan diri dan seluruh hartanya untuk kemanusiaan di India dengan membantu dan melayani orang-orang berpenyakit, miskin, terpinggirkan, dan sekarat.

            Kini dunia sedang terbalik, dunia menyaksikan bahwa orang kulit berwarna sedang menolong, membantu, dan berupaya mencari jalan keluar bagi orang-orang kulit putih yang sedang menderita. Dunia sedang menyaksikan orang kulit berwarna dari Asia, tepatnya Indonesia, Iriana Jokowi, memeluk pasien korban perang Rusia Vs Ukraina yang menderita bukan hanya fisik, melainkan pula mengalami kerusakan otak karena stres. Tangisan mereka jatuh di pangkuan Iriana. Ini pemandangan yang tidak biasa. Hal itu disebabkan di dunia barat masih banyak yang rasis dan menganggap orang berkulit putih adalah lebih mulia dibandingkan orang kulit berwarna. Saya saja sering mereka sebut sebagai “teman setengah binatang” hanya karena saya berasal dari Asia, Indonesia. Tentu tidak semuanya, tetapi mereka masih banyak yang rasis.


Iriana Jokowi Hibur dan Peluk Pasien Korban Perang Rusia Vs Ukraina (Foto: Kompas TV) 


            Foto Iriana Jokowi sedang menghibur pasien korban perang di rumah sakit di Kyiv, Ukraina saya dapatkan dari Kompas TV. Bukan hanya memeluk dan menghibur, Iriana pun menyampaikan rasa empati, simpati, dan bantuan medis atas nama rakyat Indonesia yang peduli terhadap kemanusiaan dan perdamaian.

            Hal ini sudah seharusnya menjadi tontonan yang bisa menjadi pelajaran bahwa warna kulit adalah bukan ukuran kemuliaan. Situasi bisa berubah-ubah dan terbalik. Orang yang tadinya di atas bisa jadi ke bawah atau sebaliknya.

            Orang yang mulia itu bukan atas dasar warna kulit dan tempat kelahiran, melainkan orang yang paling banyak memberikan manfaat dan kenyamanan bagi manusia lainnya.

            Sampurasun.

Tuesday, 28 June 2022

Cemas Keselamatan Jokowi

 


oleh: Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa hari ini semakin banyak orang yang cemas atas keselamatan Presiden RI Jokowi dan istrinya, Iriana dalam misinya untuk mendamaikan perang antara Rusia dan Ukraina. Perjalanan Jokowi dari Indonesia ke Jerman memenuhi undangan G7, lalu transit di Polandia untuk menggunakan kereta api menuju Ibu Kota Ukraina, Kiev, menemui Presiden Ukraina Zelensky, kemudian ke Moskow menemui Presiden Rusia Putin, mendapatkan sorotan rakyat Indonesia, termasuk perhatian dunia internasional. Banyak sekali doa yang dipanjatkan rakyat Indonesia dalam berbagai agama. Menurut survey, 76,7% rakyat Indonesia puas terhadap kinerja Jokowi. Wajar jika mendapatkan banyak doa dari seluruh agama di Indonesia.

            Sudah sesuatu yang normal jika rakyat Indonesia mencemaskan pemimpinnya yang mengunjungi medan perang yang dikabarkan lebih dahsyat dibandingkan perang dunia masa lalu. Bahkan, kata pengamat AS, tiga hari serangan Rusia ke Ukraina menimbulkan kerusakan yang sama dengan 73 tahun serangan Israel ke Palestina. Soal suka atau tidak suka terhadap Jokowi, semestinya dikesampingkan dahulu karena dia bagaimana pun adalah Presiden Indonesia. Saya tidak menyukai Presiden RI Soeharto, tetapi ketika dia keluar negeri dan mendapatkan perlakuan tidak baik dari negara lain, saya pasti tersinggung dan membela Soeharto. Saya tidak memilih Presiden SBY, tetapi ketika dia mendapatkan perlakuan buruk dari negara lain, saya pasti membelanya. Soal saya tidak suka, itu adalah urusan di dalam negeri.

            Indonesia adalah ibarat sebuah keluarga. Jika ada perselisihan di dalam keluarga, itu adalah urusan dalam keluarga, bukan urusan orang lain. Jika kita mengajak orang lain untuk ikut campur urusan keluarga kita,  itu artinya parah dan keluarga itu berantakan. Sudah tidak pantas lagi seorang anggota keluarga yang mengajak pihak luar untuk merusakkan keluarganya sendiri masih disebut anggota keluarga. Dia harusnya keluar dari keluarga itu. Tidak pantas seseorang meminta orang lain memukuli ayahnya, kakaknya, adiknya, atau bahkan ibunya sendiri karena ada persengketaaan keluarga. Apa pun yang terjadi dalam keluarga kita, jika anggota keluarga kita mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain, kita harus membelanya. Soal perselisihan keluarga, kita selesaikan di dalam keluarga sendiri.

            Hal yang banyak dicemaskan rakyat adalah ketika Jokowi berada di Kiev menemui Presiden Zelensky karena Ukraina adalah medan pertempuran. Sebetulnya, dalam etika hubungan internasional, Jokowi adalah tamu kehormatan negara. Ukraina harus menjamin keselamatan Jokowi. Demikian pula, Rusia harus menjaga keselamatan Jokowi. Wajib hukumnya. Jaminan itu pasti diberikan oleh Zelensky dan Putin. Jadi, selama Jokowi berada di Ukraina dan Rusia, sudah seharusnya perang berhenti untuk tercipta kondusivitas upaya perdamaian.

            Keamanan yang diberikan Ukraina dan Rusia sudah cukup bisa dipercaya oleh dunia untuk keselamatan Jokowi karena keduanya adalah negara sahabat Indonesia. Jadi, sudah pasti menjaga persahabatan itu. Hal yang tidak bisa diduga adalah adanya kemungkinan teroris “lone wolf” yang bergerak atas dasar keinginan kelompoknya sendiri dan tidak mengatasnamakan negara tertentu.  Dia atau mereka akan melakukan tindakan-tindakan brutal karena tidak menginginkan perdamaian terjadi dan sangat diuntungkan oleh perang tersebut. Dunia sudah mengalami kejahatan mereka itu, seperti, pembunuhan terhadap Presiden AS Abraham Lincoln dan Kennedy. Presiden Kuba Fidel Castro sempat mengalami ancaman yang sama berupa upaya pembunuhan menggunakan peluru, racun yang ditaburkan di gelas susunya, atau dioleskan di cerutunya, tetapi upaya para penjahat ini tidak berhasil terhadap Castro.

            Karena ancaman yang serius, Jokowi dilengkapi dengan Paspampres terbaik berjumlah 39 orang yang dilengkapi senjata laras panjang, helm, dan rompi antipeluru. Itu jumlah yang diberitakan, jumlah yang sebenarnya, saya yakin jauh lebih banyak dari itu.

            Semua persiapan yang dilakukan Indonesia-Ukraina-Rusia sudah sangat baik. Akan tetapi, hal apa pun bisa terjadi di medan tempur. Oleh sebab itu, diperlukan doa bersama agar perdamaian bisa tercipta. Minimal, upaya dialog awal mulai diciptakan Indonesia karena dialog pertama perdamaian yang dilakukan oleh Turki dan dialog kedua oleh Israel telah gagal mendamaikan mereka. Kalau perang tidak berhenti juga, dalam beberapa bulan akan terjadi kelaparan di dunia serta prediksi IMF bahwa akan ada 60 negara yang bangkrut dan 42 di antaranya dipastikan bangkrut, benar-benar terjadi.

Memang Indonesia tidak ada dalam daftar negara bangkrut itu. Akan tetapi, kalau banyak negara yang bangkrut, Indonesia akan kehilangan banyak rekan bisnis dan akan pula menanggung banyak kerugian.

            Semoga Presiden Jokowi dan rombongan tetap selamat dan perdamaian mulai tercipta. Aamiin.

            Sampurasun.

Saturday, 25 June 2022

Hebatnya Ulama Pendiri Bangsa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia ini didirikan oleh ulama, para santri, dan para pejuang nasionalis lainnya. Orang-orang nonmuslim dan muslim yang tidak tergabung dalam organisasi keagamaan biasanya termasuk dalam golongan nasionalis. Merekalah yang disebut “founding fathers” atau “para pendiri bangsa”.  Jadi, bukan hanya Soekarno dan Mohammad Hatta, melainkan pula banyak elemen yang membidani kelahiran bangsa Indonesia.

            Kalau kita jadikan Soekarno sebagai tokoh sentral kependirian bangsa, banyak sekali ulama yang memberikan masukan dan partner debat Soekarno. Dia sendiri adalah murid dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Soekarno ditemani berjuang oleh Mohammad Natsir dan Mohammad Hatta. Dia sering berdebat dengan Buya Hamka dan Haji Agus Salim. Dalam catatan sejarah, dia pun kerap berdiskusi dengan Hassan Bandung. Di samping itu, dalam mempertahankan kemerdekaan sering sekali meminta nasihat Hasyim Asyaari dan Ahmad Dahlan. Dalam sidang-sidang konstituante dipenuhi pula oleh ulama.

            Diskusi, perdebatan, dan berbagai nasihat ulama itu telah membentuk dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Salah satu dasar yang menarik perhatian saya adalah politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” dan sikap nonblok atau non alignment yang harus dijalankan Indonesia dalam bergaul di kancah pergaulan internasional.

            Politik luar negeri yang bebas dan aktif itu ternyata terbukti hari ini telah menyelamatkan Indonesia untuk tidak terseret-seret kepentingan asing, baik kepentingan Barat maupun Timur. Indonesia tidak boleh berpihak pada salah satu blok, tetapi harus bebas dari tekanan negara mana pun, tetapi tetap aktif mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia harus tetap berada di tengah.

            Ulama dan para pendiri bangsa lainnya sudah punya penglihatan atau prediksi terhadap masa depan. Para ulama itu memahami kejadian-kejadian masa depan. Oleh sebab itu, mereka meletakkan dasar-dasar kehidupan bernegara, termasuk politik luar negeri bebas dan aktif agar bangsa Indonesia tetap berada dalam keadaan baik menghadapi situasi kehidupan masa depan. Makin kagum saya terhadap para ulama itu.

            Pada zaman ini semakin jelas dengan adanya perang Rusia Vs Ukraina yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia dibujuk rayu sekaligus diancam jika tidak memihak Barat oleh AS dan sekutunya. Indonesia pun didekati dan dipuji-puji oleh Rusia, Cina, dan sekutunya. Akan tetapi, karena diamanati oleh para sepuhnya yang terdiri atas para ulama dan pejuang nasionalis itu, Indonesia tetap kukuh pada prinsipnya, yaitu tidak memihak Barat maupun Timur. Dengan demikian, Indonesia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk aktif dalam mendamaikan Timur dan Barat agar kehidupan dunia berjalan lebih baik dan harmonis sesuai perkembangan zaman secara natural.

            Saat ini tampak jelas ketika dunia terbagi dua blok barat dan blok timur serta saling menguatkan kelompoknya masing-masing dan menjatuhkan lawannya, Presiden RI Jokowi malah memilih untuk berangkat menemui kedua presiden yang sedang berperang itu. Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodymir Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan pesan perdamaian. Memang tidak mungkin hanya satu atau dua kali kunjungan akan terjadi perdamaian karena perdamaian itu memerlukan upaya besar dan berbiaya mahal, tetapi dengan kehadiran Jokowi ke kedua negara yang sedang perang itu minimal berhenti perang ketika Jokowi sedang berada di kedua negara itu. Mereka harus bertangung jawab atas keselamatan Presiden Indonesia sebagai tamu kehormatan mereka.

            Meskipun demikian, Paspampres Jokowi pun sudah bersiap bertugas dengan berupa gabungan pasukan Kopassus, Den Jaka, dan Paskhas dengan senjata laras panjang yang dilengkapi helm, rompi antipeluru, dan jumlah peluru tak terbatas. Kehadiran Jokowi dengan pasukannya yang berjumlah 39 orang itu disebut publik AS, Malaysia, dan Singapura, sebagai tindakan gila.

            Indonesia memang harus berperan aktif dalam mendamaikan dunia karena itu adalah pesan para pendiri bangsa sebagai wujud dari politik luar negeri bebas aktif. Politik luar negeri ini kalau dipandang dari ajaran Islam adalah sesuai dengan keinginan Allah swt dalam “QS Al Baqarah : 143” bahwa umat Islam adalah harus menjadi “ummatan wasathan”, ‘umat pertengahan’, yang bisa juga diartikan sebagai umat penengah yang menjadi saksi atas kehidupan manusia dan memberikan solusi bagi kekisruhan manusia, tidak berat sebelah, tidak ke kanan dan tidak ke kiri, tidak ke timur dan tidak ke barat, melainkan berada di pertengahan dengan sikap seimbang dan adil.

            Sekali lagi, sungguh saya mengagumi kecerdasan dan kemampuan prediksi para ulama pendiri bangsa agar Indonesia tetap berada di jalur yang benar.

Kalaulah ada yang sok tahu dan mengecilkan, bahkan menganggap karya besar para ulama Indonesia terdahulu dalam mendirikan bangsa ini adalah sebuah kesalahan dan menganggap diri mereka sendiri adalah lebih hebat dan lebih cerdas sehingga ingin mengubah Indonesia sesuai keinginan mereka, saya hanya ingn bertanya, apa yang telah kalian lakukan untuk negeri ini dan apa yang telah kalian korbankan untuk kepentingan rakyat Indonesia?

            Sampurasun.

Tuesday, 10 May 2022

Nato Kelihatan Hebat Karena Musuhnya Hanya Orang-Orang Arab Bodoh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nato adalah kependekan dari “North Atlantic Treaty Organization” yang dalam bahasa Indonesia adalah “Pakta Pertahanan Atlantik Utara”. Amerika Serikat adalah yang terkuat dalam pakta ini yang kemudian semakin kuat karena digabungkan dengan 27 negara Eropa dan 1 Eurasia.

            Nato dipandang hebat selama ini dalam mengalahkan berbagai kemelut di kawasan Timur Tengah atau wilayah yang disebut Arab. Nato berjaya dan perkasa menghancurkan negara, menjatuhkan pemerintahan, dan membuat compang-camping kekuasaan di wilayah Arab. Tentu saja itu mudah dipahami karena mereka melawan orang-orang Arab bodoh yang lemah, mudah diadu domba, gampang dibuat bertengkar, gampang ditipu dan diperselisihkan atas dasar agama. Kawasan ini dibuat bergaduh atas dasar perbedaan suni dan syiah, perbedaan madzhab, atau keyakinan-keyakinan aneh lainnya.  Kalau orang-orang Arab itu pintar, mereka tetap bersatu dan tidak membiarkan wilayahnya menjadi kalang kabut gara-gara perbedaan keagamaan itu. Bodoh mereka itu. Indonesia jangan ikut-ikutan bodoh.

            Memang tidak semua bodoh, sangat banyak yang shaleh, bijak, pintar, dan cerdas. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat secara fisik untuk mengalahkan orang-orang bodoh yang telah tertipu itu sehingga membuat negaranya berantakan dan tertinggal. Tidak akan ada orang pintar jika sekolahan telah sepi dan perguruan tinggi menjadi institusi radikal yang di perpustakaannya bukan ada buku melainkan senjata-senjata untuk membunuh. Oleh sebab itu, dengan sedih orang-orang Arab yang shaleh dan cerdas itu mengingatkan saudara-saudaranya di seluruh dunia untuk menjaga negaranya masing-masing dari kehancuran seperti yang dialami negara mereka. Di Indonesia banyak orang yang berasal dari wilayah Arab yang telah berantakan itu berceramah dan mewanti-wanti bangsa Indonesia untuk menjaga negaranya dari kerusakan dan persengketaan yang disebabkan perbedaan pandangan keagamaan.

            Karena manusia-manusia Arab yang bodoh, tetapi sok suci, dan merasa paling berhak masuk surga inilah membuat wilayahnya lemah sehingga mudah dibabat habis oleh Nato. Bukan Nato yang hebat, melainkan orang-orang Arabnya yang bodoh dan lemah.

            Hari ini bisa kita saksikan bahwa Nato tidak sehebat yang dipikirkan ketika berhadapan dengan Rusia. Rusia memiliki senjata yang hebat, akurat, prajurit yang disiplin, tujuan yang jelas, dan kekuatan yang sulit ditandingi. Nato kelihatan kelimpungan dan tampak takut. Nato tidak berani bertindak terhadap Rusia seperti terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Nato banyak berhitung dan hanya teriak keras di media sosial ditambah beraninya hanya mengirimkan senjata ke Ukraina untuk mengalahkan Rusia tanpa berani berhadapan langsung. Ketika berhadapan dengan negara cerdas dan kuat, Nato pun seperti orang-orang sibuk tidak karuan.


Sumber Foto: Twitter


            Celakanya, ternyata senjata-senjata dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang dikirimkan untuk membantu Ukraina banyak yang tidak berfungsi dengan baik, mudah rusak, dan berbiaya mahal. Ada senjata yang hanya untuk satu kali tembak biayanya mencapai 1,4 M. Senjata-senjata itu tidak gratis, Ukraina harus membayarnya.

            Foto sebagian kecil kerusakan di Ukraina saya dapatkan dari Twitter.

            Menurut saya, sudahlah, Nato tidak usah belagu dan selalu tampak paling hebat. Tidak perlu lagi membuat perang semakin parah dengan memanas-manasi Ukraina supaya terus perang, memberi harapan palsu dengan dongeng kemenangan, membantu dengan senjata pembunuh untuk mengalahkan Rusia, jangan bikin Rusia semakin marah, serta membuat kisah-kisah bohong di media sosial. Itu semua tidak membantu menyelesaikan masalah. Sebaiknya, redakan ketegangan, duduk bersama, bicarakan akar masalah perselisihan, serta cari titik temu antara Rusia, Ukraina, dan Nato. Jujurlah untuk seluruh nilai-nilai kemanusiaan demi mencapai “win win solution” tanpa menumpahkan darah.

            Sampurasun.

Sunday, 8 May 2022

Kalau Indonesia yang Harus Mendamaikan Perang, Bubarkan Saja PBB

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Manusia bisa bilang, ini kebetulan. Akan tetapi, dalam pandangan spiritual Islam, ini sudah menjadi takdir Allah swt bahwa Indonesia menjadi Presidensi G20 yang diikuti 19 negara maju dan akan maju ditambah 1 Unieropa di tengah-tengah kecamuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Nato.

            Hal aneh yang terjadi adalah tiba-tiba Indonesia ditekan pihak Barat untuk menendang Rusia dari keanggotaan G20 dan pertemuan-pertemuan G20. Jika tidak, pihak Barat mengancam akan memboikot G20. Tentu saja, pihak Barat ini dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS), padahal negara-negara Barat lain tampaknya setengah hati mengikuti keinginan AS dalam melawan Rusia. Hal ini tampak sekali dari negara-negara barat yang kikuk karena mereka masih bergantung pada Rusia, misalnya, soal kebutuhan gas dan minyak.

            Hal ini diperparah dengan semua mata dunia menuju pada panggung Jokowi, Indonesia, dan G20. Pihak Barat mendesak Indonesia bahwa G20 dijadikan ajang untuk menyelesaikan masalah perang Rusia Vs Ukraina, terutama untuk menghukum Rusia. Banyak ancaman Barat yang ditujukan pada Indonesia yang akan menyelenggarakan G20 di Bali. Ini aneh karena sesungguhnya G20 adalah organisasi dan pertemuan tingkat tinggi dunia yang sudah dibatasi Jokowi hanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi dunia pascapandemi Covid-19. Temanya “Recovery Together, Stronger Together” artinya “pulih bersama dan lebih kuat bersama”. Pertemuan ini tidak untuk membicarakan masalah politik, militer, apalagi perang. Akan tetapi, keangkuhan Barat menekan Indonesia agar memasukan pula soal Rusia dan Ukraina ke pembicaraan di G20.

            Karena Indonesia adalah negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia, Jokowi tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin sekaligus Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky untuk hadir di G20 di Bali. Indonesia tidak mengikuti kehendak AS dan Barat, tetapi tetap berupaya memberikan jalan keluar agar terjadi pertemuan positif antara Rusia dan Ukraina di Bali.

Meskipun demikian, hal ini masih membingungkan karena mau apa Ukraina di G20?

Mau ngomong apa dia?

Ukraina itu bukan anggota G20 yang pasti tidak memiliki hak bicara dalam berbagai sidang di Bali, kecuali diputuskan anggota G20 lain untuk bisa memiliki hak bicara dengan mengubah atau menyepakati terlebih dahulu tatatertib yang ada. Dengan demikian, Ukraina bisa memiliki hak bicara.

Kalau Jokowi, Indonesia, memfasilitasi upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina di G20, itu artinya agenda G20 meluas, bukan hanya bicara soal ekonomi, melainkan pula perdamaian. Dengan demikian, Bali, Indonesia menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan perang dan mewujudkan perdamaian.

Hal itu bagus. Akan tetapi, sesungguhnya, tempat untuk membicarakan perang dan perdamaian adalah bukan di perhelatan G20, Bali, Indonesia, melainkan dalam sidang-sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu disebabkan memang tempat untuk menyelesaikan perkara seperti itu adalah di PBB, bukan di G20, bukan di Indonesia, bukan di Bali, dan bukan pula oleh Jokowi.

Melihat kenyataan seperti itu, publik dunia wajar bertanya, selama ini PBB melakukan apa untuk menyelesaikan masalah konflik di Ukraina?

Kalau PBB tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah itu, mengaku sajalah dengan terus terang bahwa PBB adalah organisasi yang lemah dalam mengorganisasikan dunia. Oleh sebab itu, PBB layak untuk dibubarkan.

Saya jadi teringat pidato “Pemimpin Besar Revolusi Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno” di hadapan dunia yang menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB. Soekarno menyerukan perlunya kesadaran dan kebersamaan untuk melakukan upaya “to build a world anew”, ‘membangun tatanan dunia baru’ yang lebih masuk akal dan menjamin perdamaian kehidupan dunia.

Kalau memang G20 Indonesia yang harus mendamaikan perang, bubarkan saja PBB. Organisasi itu sudah kelihatan sangat lemah dan tunduk pada kepentingan barat.

Sampurasun.

Saturday, 7 May 2022

Amerika Serikat Tidak Akan Berhasil Menentang Sunatullah

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kejatuhan Unisoviet dan terdesaknya komunisme, Amerika Serikat (AS) seakan-akan menjadi penguasa tunggal di dunia dan merasa dirinya adalah yang paling berkuasa. Tampaknya, AS memang ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar sebagai penguasa di muka Bumi dan selalu berupaya mengalahkan orang lain, negara lain, atau mengatur hidup orang lain sesuai dengan pandangannya. Mereka ingin sistem pergaulan dan politik dunia berada dalam kondisi unipolar, hanya satu penguasa, yaitu dirinya.

            Sayangnya, keinginan mereka itu sia-sia karena dunia tidak diciptakan untuk itu, tidak akan pernah dalam situasi yang benar-benar unipolar, kecuali semu atau hanya perasaan dirinya. Dalam kenyataannya unipolar itu tidak akan pernah terjadi karena itu menentang sunatullah, hukum Allah swt, kebiasaan Allah swt, sistem dan mekanisme Allah swt.

            Kita lihat sejarah manusia, minimal yang saya ingat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh saja silakan. Dulu, sebelum masa kerasulan Muhammad saw, dunia terbagi pada dua kekuatan besar, yaitu Romawi dan Persia. Ada dua kekuatan besar di muka Bumi, bipolar. Setelah memasuki masa kekhalifahan, terdapat beberapa kekuatan besar di Bumi, yaitu Kekhalifahan, Romawi, dan Mongolia, multipolar. Kemudian, pada masa berikutnya, muncul kekuatan barat Amerika Serikat dan kekuatan timur Unisoviet, kembali bipolar. Setelah Unisoviet jatuh dan Rusia seolah tersingkirkan, muncul kekuatan ekonomi dan teknologi Cina yang berseberangan dengan AS. Selalu begitu. Sekarang, Rusia muncul lagi dengan lebih mengejutkan dengan memamerkan kekuatan militer dan teknologi perangnya dalam perang di Ukraina. Sementara itu, kekuatan AS dan Eropa Barat tampak kaku, rikuh, dan tidak siap menghadapi kekuatan besar Rusia. Apalagi setelah ada keluhan dari prajurit Ukraina bahwa banyak senjata bantuan dari AS untuk Ukraina dalam melawan Rusia, tidak berfungsi dengan baik. Rusia tampak sekali menguasai pertempuran dengan keakuratan militernya.

            Dunia itu memang seperti itu, tidak pernah unipolar, tetapi selalu bipolar atau mulitipolar. Bahkan, akibat dari perang Rusia Vs Ukraina ini kemungkinan dunia akan terbagi ke dalam pakta-pakta baru, multipolar. Gabungan Indonesia-India-Cina bisa menjadi kekuatan baru yang bisa mengalahkan barat dengan kemampuan yang dimilikinya. Indonesia punya sumber daya alam, Cina punya teknologi, dan India punya militernya. Di samping itu, jumlah penduduk ketiga negara itu sangat banyak, Indonesia sekitar 270 juta jiwa, India sekitar 1,4 miliar, dan Cina hampir 2 miliar dapat menjadi pasar ekonomi raksasa mengalahkan AS dan Eropa Barat. 

            Sekali lagi, dunia tidak akan pernah bisa unipolar secara nyata, kecuali semu. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah swt sendiri dalam QS Al Baqarah 2 : 251.

            “… Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, niscaya rusaklah Bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

            Di dalam kehidupan ini selalu ada kejahatan, kerakusan, dan keterlaluan. Ketika terjadi sikap-sikap negatif yang membahayakan kehidupan umat manusia dan segenap alam raya, Allah swt menggerakkan sekelompok manusia lainnya untuk melawan atau menahan kejahatan manusia lainnya agar Bumi, manusia, dan keseluruhan kehidupan ini tidak rusak. Allah swt adalah Sang Maha Pemberi Karunia dan menginginkan agar kehidupan dunia ini seimbang.

            AS dan siapa pun tidak perlu bermimpi untuk menjadi penguasa tunggal dunia karena itu tidaklah mungkin alias mustahil. Sang Pencipta Alam ini pun tidak pernah akan mengizinkan ada satu penguasa tunggal di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, saling mengenal, saling belajar, saling mengisi, dan saling bekerja sama adalah lebih baik dalam mengarungi hidup ini daripada bercita-cita menjadi penguasa tunggal di muka Bumi, apalagi dengan menggunakan kekerasan dan pembunuhan atas manusia lainnya.

            Sampurasun.

Sunday, 1 May 2022

Ramadhan Tidak Mau Berhenti Perang, Tetapi Cobalah Berhenti Dulu Saat Idul Fitri

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pasukan tempur Rusia dalam melakukan “demilitarisasi” dan “denazifikasi” di Ukraina dibantu penuh oleh Presiden Republik Chechnya Ramzan Akhmadovich Kadyrov. Tentara muslim Chechnya mengerahkan pasukan tempur daratnya untuk membantu Rusia.

            Pasukan muslim Chechnya ini sangat disiplin, ramah, murah senyum menghiasi tubuh kekar dan jenggot lebatnya. Tak heran mereka selalu meraih keberhasilan dalam setiap operasinya. Dari beberapa video operasi pasukan Chechnya, tampaknya mereka bertugas menyisir kota-kota untuk menyelamatkan warga sipil yang terjebak perang dan membersihkan para neo nazi yang dikabarkan menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dalam perang.


Pasukan Chechnya Merebut Mariupol (Foto: CNN Indonesia)


Keberhasilan mereka merebut Kota Mariupol, Ukraina, mengejutkan semua orang. Pasukan Chechnya mengumumkan bahwa Kota Mariupol telah jatuh ke tangan mereka dan tidak bisa dikembalikan. Mereka menguasai penuh di sana.

Ketika memasuki Bulan Suci Ramadhan, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Ramzan Kadyrov untuk menghentikan perang agar para tentara Chechnya dapat lebih berkonsentrasi menjalankan ibadat Ramadhan. Akan tetapi, Ramzan menolaknya karena dalam keyakinannya justru berperang pada Bulan Suci Ramadhan akan memperoleh pahala yang lebih besar. Putin pun tak bisa menolak keinginan Ramzan.


Valadimir Putin dan Ramzan Kadyrov (Foto: CNN Indonesia)


Foto dialog antara Putin dan Ramzan serta pasukan Chechnya yang telah merebut Kota Mariupol saya dapatkan dari CNN Indonesia.

Kini Bulan Suci Ramadhan telah selesai dan memasuki Syawal. Pada 1 Syawal adalah Hari Raya umat Islam, Idul Fitri. Ada baiknya untuk menghentikan perang dulu, hormati hari raya ini dan berbagi kebahagiaan bersama dengan siapa pun. Berbuat baiklah dengan musuh jika musuh cenderung untuk berdamai dan bersedia menghentikan perang sementara, lebih baik lagi jika didapat kata sepakat untuk menghentikan perang selamanya. Ini mungkin sulit terjadi, tetapi tidaklah salah untuk dicoba dan mengurangi ketegangan. Banyak berdoa supaya Allah swt memberikan jalan ke luar yang terbaik. Ajaklah musuh untuk menyelesaikan perselisihan dengan dialog dan rasa saling percaya. Jika musuh dapat dipercaya, hormati sikap mereka. Akan tetapi, jika musuh tidak dapat dipercaya dan terus menunjukkan ancaman bahaya. Kalian lebih tahu apa yang harus kalian lakukan.

Sampurasun.