Showing posts with label Nato. Show all posts
Showing posts with label Nato. Show all posts

Tuesday, 10 May 2022

Nato Kelihatan Hebat Karena Musuhnya Hanya Orang-Orang Arab Bodoh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nato adalah kependekan dari “North Atlantic Treaty Organization” yang dalam bahasa Indonesia adalah “Pakta Pertahanan Atlantik Utara”. Amerika Serikat adalah yang terkuat dalam pakta ini yang kemudian semakin kuat karena digabungkan dengan 27 negara Eropa dan 1 Eurasia.

            Nato dipandang hebat selama ini dalam mengalahkan berbagai kemelut di kawasan Timur Tengah atau wilayah yang disebut Arab. Nato berjaya dan perkasa menghancurkan negara, menjatuhkan pemerintahan, dan membuat compang-camping kekuasaan di wilayah Arab. Tentu saja itu mudah dipahami karena mereka melawan orang-orang Arab bodoh yang lemah, mudah diadu domba, gampang dibuat bertengkar, gampang ditipu dan diperselisihkan atas dasar agama. Kawasan ini dibuat bergaduh atas dasar perbedaan suni dan syiah, perbedaan madzhab, atau keyakinan-keyakinan aneh lainnya.  Kalau orang-orang Arab itu pintar, mereka tetap bersatu dan tidak membiarkan wilayahnya menjadi kalang kabut gara-gara perbedaan keagamaan itu. Bodoh mereka itu. Indonesia jangan ikut-ikutan bodoh.

            Memang tidak semua bodoh, sangat banyak yang shaleh, bijak, pintar, dan cerdas. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat secara fisik untuk mengalahkan orang-orang bodoh yang telah tertipu itu sehingga membuat negaranya berantakan dan tertinggal. Tidak akan ada orang pintar jika sekolahan telah sepi dan perguruan tinggi menjadi institusi radikal yang di perpustakaannya bukan ada buku melainkan senjata-senjata untuk membunuh. Oleh sebab itu, dengan sedih orang-orang Arab yang shaleh dan cerdas itu mengingatkan saudara-saudaranya di seluruh dunia untuk menjaga negaranya masing-masing dari kehancuran seperti yang dialami negara mereka. Di Indonesia banyak orang yang berasal dari wilayah Arab yang telah berantakan itu berceramah dan mewanti-wanti bangsa Indonesia untuk menjaga negaranya dari kerusakan dan persengketaan yang disebabkan perbedaan pandangan keagamaan.

            Karena manusia-manusia Arab yang bodoh, tetapi sok suci, dan merasa paling berhak masuk surga inilah membuat wilayahnya lemah sehingga mudah dibabat habis oleh Nato. Bukan Nato yang hebat, melainkan orang-orang Arabnya yang bodoh dan lemah.

            Hari ini bisa kita saksikan bahwa Nato tidak sehebat yang dipikirkan ketika berhadapan dengan Rusia. Rusia memiliki senjata yang hebat, akurat, prajurit yang disiplin, tujuan yang jelas, dan kekuatan yang sulit ditandingi. Nato kelihatan kelimpungan dan tampak takut. Nato tidak berani bertindak terhadap Rusia seperti terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Nato banyak berhitung dan hanya teriak keras di media sosial ditambah beraninya hanya mengirimkan senjata ke Ukraina untuk mengalahkan Rusia tanpa berani berhadapan langsung. Ketika berhadapan dengan negara cerdas dan kuat, Nato pun seperti orang-orang sibuk tidak karuan.


Sumber Foto: Twitter


            Celakanya, ternyata senjata-senjata dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang dikirimkan untuk membantu Ukraina banyak yang tidak berfungsi dengan baik, mudah rusak, dan berbiaya mahal. Ada senjata yang hanya untuk satu kali tembak biayanya mencapai 1,4 M. Senjata-senjata itu tidak gratis, Ukraina harus membayarnya.

            Foto sebagian kecil kerusakan di Ukraina saya dapatkan dari Twitter.

            Menurut saya, sudahlah, Nato tidak usah belagu dan selalu tampak paling hebat. Tidak perlu lagi membuat perang semakin parah dengan memanas-manasi Ukraina supaya terus perang, memberi harapan palsu dengan dongeng kemenangan, membantu dengan senjata pembunuh untuk mengalahkan Rusia, jangan bikin Rusia semakin marah, serta membuat kisah-kisah bohong di media sosial. Itu semua tidak membantu menyelesaikan masalah. Sebaiknya, redakan ketegangan, duduk bersama, bicarakan akar masalah perselisihan, serta cari titik temu antara Rusia, Ukraina, dan Nato. Jujurlah untuk seluruh nilai-nilai kemanusiaan demi mencapai “win win solution” tanpa menumpahkan darah.

            Sampurasun.

Tuesday, 7 September 2021

Indonesia Berat Sebelah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak pengamat mengatakan bahwa Indonesia sekarang berat sebelah, padahal menganut nonblok yang tidak ke barat, timur, atau berpihak ke salah satu kelompok negara yang sedang bertikai. Memang kelihatannya sekarang Indonesia seolah-olah ngeblok ke barat. Hal itu bisa dilihat dari digelarnya “Garuda Shield 2021”, pelatihan bersama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang melibatkan ribuan prajurit; adanya janji hibah kapal-kapal perang kelas wahid dari negara-negara Nato untuk Indonesia; dipermudahnya izin bagi Indonesia untuk membeli alat-alat pertahanan kelas utama di dunia; bolak-baliknya pejabat Nato ke Jakarta untuk membicarakan pertahanan di Natuna. Sementara itu, tidak tampak jelas ada kerja sama militer dengan Cina. Kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat bersama Nato-nya itu telah membuat Cina gelisah.

            Menurut saya wajar Indonesia bersikap seperti itu, lebih dekat ke barat dibandingkan ke Cina dalam hal militer dan persenjataan. Masalahnya, Cina juga yang sering bikin gara-gara di wilayah perairan ZEE yang merupakan hak berdaulat Indonesia. Sementara itu, Indonesia memiliki kepentingan untuk mengamankan Laut Natuna Utara beserta ZEE-nya. Kan tidak mungkin untuk mengamankan wilayahnya dari gangguan Cina, Indonesia dibantu senjatanya dari Cina. Pastinya, dari negara barat yang sedang bertikai dengan Cina peralatan tempur Indonesia berasal di samping bikin sendiri juga di dalam negeri.


Kapal Perang Fregat dari Italia Perkuat  Indonesia (Foto: Kompas.com)

            Indonesia berkepentingan menjaga kedaulatannya dan itu perlu peralatan tempur canggih untuk mengimbangi Cina. Sementara itu, Nato punya kepentingan atas wilayah Laut Natuna Utara karena merupakan gerbang untuk ke kawasan Samudera Pasifik. Oleh sebab itu, terjadilah hubungan saling menguntungkan antara Indonesia dengan barat, Amerika Serikat, Nato.

            Sekarang kawasan Laut Natuna Utara menjadi perhatian dunia. Indonesia sendiri sedang mempersenjatai kapal-kapal tempurnya dengan senjata-senjata berat. Hal itu ditambah dengan hibah dan kemudahan izin untuk membeli yang baru dari pihak Nato. Di wilayah itu sekarang seolah-olah sedang pameran kapal tempur dan senjata-senjata terbaru, termasuk pesawat tempur.


Indonesia Siapkan Kapal Tempur untuk Hadapi Cina (Foto: CNN Indonesia)


            Coba kalau Cina tidak bikin gelisah Indonesia dengan kelakuannya bikin gangguan dan gara-gara di wilayah ZEE, Indonesia tidak akan bersikap berat sebelah. Sebagai negara nonblok, Indonesia tidak akan dan tidak boleh pro ke kiri atau ke kanan. Indonesia ya harus tetap nonblok dan aktif menciptakan perdamaian dunia. Kalau sekarang Cina merasa gelisah dan terancam karena Indonesia lebih dekat ke Amerika Serikat, Cina harus introspeksi diri serta menghentikan ganguannya terhadap Indonesia dan berhenti bersikap arogan.

            Sampurasun.

Sunday, 5 September 2021

Perang di Depan Pintu Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitulah beberapa pengamat mengatakannya. Setelah bosan main-main dengan Afghanistan, sekarang Amerika Serikat (AS) mulai jelas main-main dengan Cina. Kemarin-kemarin juga sebetulnya sekali-sekali AS menunjukkan kekuatannya pada Cina untuk mempertahankan pengaruh dan posisinya di dunia. AS memang tidak mau disalip Cina, baik secara ekonomi, politik, militer, maupun pengaruhnya. Sekarang, setelah melepaskan diri dari Afghanistan, AS lebih fokus untuk menghadapi Cina.

            Indonesia adalah negara penting bagi AS untuk dijadikan partner dalam bermain di Laut Cina Selatan (LCS). Cina memang sering bikin gara-gara di Laut Cina Selatan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Mereka seolah-olah memiliki hak penuh atas LCS, padahal ada hukum internasional yang mengatur tentang kepemilikan wilayah laut itu yang harus dipatuhi semuanya. Oleh sebab itu, ketika Cina melanggar wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, kemudian Indonesia mengusirnya, bahkan Presiden RI Jokowi datang langsung ke Natuna untuk memeriksa keadaan di sana, negara-negara Nato mendukung Indonesia. Amerika Serikat sendiri memuji Indonesia setinggi langit. Pejabat AS menyatakan bahwa Indonesia adalah negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang berani menghadapi Cina. Demikian pula rakyat di kawasan Asia Tenggara memuji Indonesia dan menginginkan pemimpinnya berani tegas terhadap Cina seperti Jokowi.


Saling hormat antara pasukan Indonesia dan pasukan Amerika Serikat (Foto: JakartaGreater)


            Ketegangan Indonesia dan Cina di LCS dianggap AS sebagai pintu masuk untuk makin terlibat di LCS. AS sempat menawarkan dirinya untuk membantu Indonesia dalam menghadapi Cina. Akan tetapi, Indonesia adalah negara nonblok dengan politik luar negeri bebas aktif yang tidak akan pro ke salah satu pihak, Indonesia tetap bertahan untuk tidak pro ke AS dan tidak pro ke Cina. Indonesia hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dengan tetap mengupayakan perdamaian dunia. Artinya, Indonesia tidak akan terlalu dekat ke AS atau ke Cina. Indonesia tetap berusaha untuk tetap bisa berhubungan baik dengan negara mana saja.

            Dengan Cina banyak bisnis yang menguntungkan Indonesia. Dengan AS persahabatan militer sangat menguntungkan Indonesia. Kedekatan militer antara AS dan Indonesia sangat menguntungkan untuk keamanan di LCS tanpa harus ikut bergabung dalam kekuatan militer AS seperti Nato. Kedekatan militer ini semakin bertambah dengan dilakukannya latihan perang bersama terbesar dalam sejarah antara AS dengan Indonesia, Agustus 2021, yang melibatkan ribuan prajurit AS dan Indonesia.

            Bagi AS, latihan bersama Indonesia diharapkan semakin mudah untuk mengontrol Laut Cina Selatan dari pengaruh Cina. Sementara itu, Indonesia pun berkepentingan untuk menjaga wilayah perairannya di situ.


Persahabatan antara militer Indonesia dan Amerika Serikat (Foto: Republika)


            Latihan antara AS dan Indonesia telah memantik kemarahan Cina yang segera melakukan latihan perang bersama Rusia dengan melibatkan sepuluh ribu pasukan. Kehadiran AS di Indonesia adalah ancaman bagi Cina. Inilah yang dikatakan orang sebagai “perang sudah di depan pintu Indonesia”. AS yang sudah lepas dari Afghanistan kini fokus menghadapi Cina.

            Indonesia harus tetap dengan prinsip nonbloknya untuk tidak terseret ke sana kemari dalam perebutan pengaruh itu di samping harus kukuh dalam politik luar negeri bebas aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Kepentingan Indonesia adalah menjaga wilayah kekuasaannya sendiri dari bahaya dikuasai negara lain. Untuk itulah, Indonesia harus pula tetap meningkatkan kekuatan militernya sendiri. AS dan Cina adalah sama-sama sahabat Indonesia. Satu-satunya jalan agar tidak berperang adalah menghormati hukum internasional yang telah disepakati di Laut Cina Selatan. Kalaupun mereka berperang, Indonesia wajib melindungi dirinya karena perang itu berada di depan pintu Indonesia.

            Sampurasun.




Tuesday, 13 August 2019

Saat Peluru Telah Letih, Indonesia Jadi Pilihan Perdamaian


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kita tahu bahwa Afghanistan, Pakistan, dan Taliban terlibat persengketaan bersenjata berebut kekuasaan yang tak berakhir hingga kini. Kawasan itu tak sepi dari pertarungan yang membuat banyak korban jiwa tak terhitung. Upaya mereka hingga kini tak juga berhasil. Tak kurang dari Amerika Serikat dan Eropa beserta Nato-nya berupaya keras meminimalisasi kekerasan bersenjata di kawasan ini, namun hasilnya masih tidak menggembirakan.

            Ketika permusuhan bersenjata dan upaya barat tak juga menghasilkan perdamaian yang maksimal, mereka pun melirik Indonesia.

            Salah seorang delegai utama ulama Afghanistan Ataullah Lodin pernah berkata di Bogor, “Telah banyak saudara-saudari kami yang mengalami penderitaan berkepanjangan."

            Hal yang senada pun dilaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa pada 2018 ada sekitar 3.804 penduduk sipil termasuk lebih dari 900 anak tewas dan tujuh ribu lainnya mengalami luka-luka dalam konflik di Afghanistan. Selain itu, wilayah kekuasaan dan pengaruh Taliban di Afghanistan juga dilaporkan semakin luas meski AS menggulingkan mereka pada 2001 silam.

            Perdamaian semakin sulit terwujud ketika Taliban tidak mau berdialog dengan Afghanistan karena menganggap bahwa Afghanistan adalah boneka barat. Sementara itu, pemerintah Afghanistan tidak mau ditinggalkan pasukan barat karena khawatir serangan dari Taliban. Di samping itu, Pakistan yang dituduh sebagai sekutu Taliban membantah ikut mengacaukan situasi karena keamanan di Afghanistan merupakan kunci pula bagi perdamaian di dalam negeri Pakistan.

            Beruntung, mereka mempercayai Indonesia yang tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap mereka di kawasan itu. Indonesia hanya peduli terhadap perdamaian dunia.

            Menurut Basri Sidehabi, orang yang ditugaskan Jusuf Kalla untuk membawa delegasi Taliban dari Qatar ke Indonesia, Taliban sangat mempercayai Indonesia karena hubungan dekat kedua negara. Selain itu, Taliban menilai Indonesia tidak mempunyai agenda selain ingin melihat perdamaian terwujud di Afghanistan.

            Di samping itu, pengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri bisa bermanfaat untuk memfasilitasi proses perdamaian di Afghanistan. Keterlibatan Indonesia dalam upaya perdamaian tersebut atas permintaan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang disampaikan kepada Joko Widodo saat melawat ke Indonesia pada 2017.

            Indonesia memang memiliki pengalaman yang luar biasa dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri melalui proses dialog, misalnya, konflik di Aceh; Ambon, Poso; Papua. Soal Papua memang masih ada kericuhan kecil-kecil, tetapi pada dasarnya mayoritas rakyat Papua sudah bersedia berdamai dan membangun bersama-sama dalam kerangka NKRI.

            Berbagai konflik tersebut bisa diselesaikan tidak lepas dari peranan Wapres RI Jusuf Kalla di dalamnya. Jusuf Kalla memang berpengalaman dalam hal itu. Tak heran jika Taliban merasa lebih dekat dengan Jusuf Kalla.

            Baik Pakistan, Afghanistan, maupun Indonesia sepakat untuk mengadakan dialog dan pertemuan para akademisi secara tripartit untuk mencari jalan bagi perdamaian. Lebih istimewa lagi Taliban pun bersedia untuk ikut serta dalam berbagai dialog yang dipimpin Indonesia sebagai tuan rumah tersebut. Semoga Indonesia dapat menularkan berbagai pengalamannya dalam menyelesaikan berbagai konflik yang ada di dunia.

            Hal yang patut diperhatikan adalah ketika dunia memandang Indonesia sebagai negara yang diharapkan untuk berperan serta dalam upaya perdamaian, sangatlah aneh jika kita justru meneladani ingin hidup seperti negara-negara yang sedang berkonflik yang sesungguhnya sedang meminta bantuan Indonesia untuk menyelesaikan kemelut yang dihadapinya.

            Indonesia memang sudah selayaknya berperan banyak dalam perdamaian dunia sebagaimana politik luar negerinya yang Bebas dan Aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

            Sampurasun.

Monday, 30 November 2015

Nu Gelo jeung Nu Burung Pasea


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Nu gelo jeung nu burung pasea itu bahasa Sunda. Artinya, orang gila dan orang sinting berantem.

Kalimat itu untuk menggambarkan situasi yang semakin kusut samut di Timur Tengah, tepatnya kekacauan dan perang yang terjadi di Suriah. Semakin hari semakin nggak karuan situasi dan informasinya.

Biarlah urusan Setya Novanto vs Sudirman Said berjalan sebagaimana seharusnya. Sudah banyak orang-orang pintar yang mengawal, mengawasi, dan mendorong perseteruan yang bisa membuat Indonesia diperas Freeport itu untuk lebih terbuka dan terselesaikan sehingga yang benar harus disebut benar dan yang salah harus dipermalukan.

Sekarang mari kita lihat kegilaan yang melibatkan Isis itu. Ketika jet tempur rusia membela Presiden Suriah Bashar al Assad dan menembaki musuh-musuhnya. Pesawat tempur Turki menembak jet tempur Rusia itu. Karuan saja Presiden Rusia Vladimir Putin berang. Ia menyatakan bahwa jet tempur miliknya masih berada satu kilometer di luar wilayah Turki dalam arti masih berada di wilayah udara Suriah. Akan tetapi, Turki ngotot bahwa jet tempur Rusia memasuki wilayah udaranya dan sudah diperingatkan, tetapi bandel sehingga ditembak jatuh. Copilot Rusia membantah pernah mendapat peringatan itu. Situasi pun menjadi tidak jelas dan memanas.

Putin segera menuding bahwa Turki dan Nato adalah pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari Isis. Minyak milik Isis dibeli oleh Turki dan Nato. Bahkan, rakyat Rusia menuding pula Qatar dan Arab Saudi mendukung Isis. Lebih jauh lagi, rakyat Rusia berteriak bahwa siapa pun yang memusuhi Presiden Suriah Bashar al Assad adalah pendukung terorisme.

Indonesia memusuhi Bashar al Assad?

Kalau ya, berarti Indonesia adalah pendukung teroris menurut rakyat Rusia.

Kalau saya pribadi memang memusuhi keyakinan Bashar al Assad. Bukan orangnya, tetapi keyakinannya.

Kabarnya dia punya agama yang aneh, nyeleneh dari Islam. Dengar-dengar dia punya keyakinan bahwa Allah swt itu satu, tetapi mewujud dalam tiga citra, yaitu satu, berada dalam diri Nabi Muhammad saw; kedua, berada dalam wujud Malaikat Jibril; ketiga, berwujud dalam diri Bashar al Assad. Dulu mewujud dalam diri ayah Bashar al Assad. Setelah ayahnya meninggal, mewujud dalam dirinya hari ini.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa keyakinan seperti itu adalah lebih najis daripada anjing.

Setujuuuuu!

Kalau memang benar begitu keyakinan Bashar al Assad, saya malah mengatakannya sebagai lebih najis daripada tahi anjing buduk!

Kalau saya disebut sebagai teroris karena memusuhi keyakinan anjing buduk itu, biarin aja.

Kalau kata orang Rusia saya disebut memuja teroris, emangnya gue pikirin?

Kembali pada soal jet tempur. Setelah Putin menuding keras bahwa Turki dan Nato menikmati minyak Isis, Mendagri Turki balik menuding bahwa jet tempur Rusia bukannya menembakki Isis, melainkan menembaki pemberontak Suriah yang merasa diperlakukan kejam oleh Bashar al Assad. Di samping itu, gank Nato pun segera menyatakan diri berada bersama Turki.

Anehnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama justru mengeluarkan pernyataan yang mendukung Turki, tetapi dengan kalimat yang bertolak belakang dengan yang disampaikan Turki. Barack Obama mengatakan bahwa Turki berhak melindungi wilayah udaranya sendiri dari pesawat asing. Selain itu,  jet tempur Rusia seharusnya bukan menembaki Isis, tetapi mestinya menembaki pemberontak Rusia.

Jadi bingung saya. Kata Turki harusnya Rusia menembaki Isis, bukan pemberontak Suriah, tetapi kata Obama seharusnya menembaki pemberontak Suriah, bukan Isis.

Mana yang benar?

Obama atau Mendagri Turki?

Padahal dua-duanya dalam satu pihak yang sama.

Mungkin wartawan pembawa beritanya yang menerjemahkannya secara salah.

Akan tetapi, kalaupun salah menerjemahkan, pertanyaannya tetap sama, “Mana yang benar?”

Mungkin saya yang salah mendengar, tetapi pertanyaannya sama saja, “Mana yang benar?”

Di sinilah saya mulai mengatakan bahwa yang terlibat perang di sana itu ibarat nu gelo jeung nu burung pasea, ‘orang gila sama orang sinting berantem’.

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan  malah balik menuding sekutu Rusia dengan pernyataan aneh. Dia dengan keras mengatakan bahwa Bashar al Assad adalah pendukung utama Isis.

Wow makin kacrut nih situasi. Nggak ada yang bisa dipercaya.

Mau tidak kacrut gimana?

Amerika Serikat menurunkan beberapa tentaranya di Suriah untuk melatih pemberontak Suriah. Beritanya banyak diunggah di Youtube. Akan tetapi, kata Obama seharusnya pemberontak itulah yang ditembaki oleh jet tempur Rusia, bukan Isis.

Aneh, ya?

Kata Erdogan, Bashar al Assad adalah pendukung Isis, padahal Isis ingin menjatuhkan Bashar al Assad.

Aneh, ya?

Putin semakin berani menuding bahwa pesawat tempur Turki menembak jatuh jet tempur Rusia karena Turki melindungi minyak Isis dari gempuran Rusia. Sementara itu, Nato selalu berada bersiap membela Turki. Berarti kan Nato melindungi Turki yang menikmati Isis. Artinya, Nato melindungi Isis.

Lieur!

Biarlah nu gelo jeung nu burung pasea karena sudah begitu keadaannya, pada nggak bisa dipercaya!

Yang saya khawatir adalah akan menjadi nu gelo jeung nu burung ditambah nu koplok pasea. Koplok itu bahasa Sunda yang maknanya adalah seseorang yang bodoh, over acting, pengen dipuji, ikut sibuk, tetapi kerap merugikan dirinya sendiri.

Nah, kalau Indonesia ikut-ikutan dalam perseteruan mereka, Indonesia telah menempatkan dirinya dalam situasi koplok. Jadilah Indonesia sebagai Nagara Koplok.

Dalam situasi semrawut yang tidak ada yang bisa dipercaya, Indonesia haruslah tetap berpegang pada politik luar negeri “Bebas dan Aktif. Bebas dari tekanan pihak mana pun, bebas untuk tidak berpihak, dan bebas untuk melindungi diri sendiri. Aktif berperan menciptakan perdamaian dunia dengan cara Indonesia, bukan cara bangsa asing. Bukan ikut-ikutan menciptakan perdamaian dengan cara asing mengirimkan pasukan untuk ikut berkelahi dan menangkapi siapa saja di dalam negeri atas dasar informasi asing yang sumir.

Jangan jadi bangsa yang koplok!

Memangnya Indonesia mau percaya sama siapa?

Barack Obama?

Recep Tayip Erdogan?

Vladimir Putin?

Bashar al Assad?

Dalam situasi yang nggak puguh seperti ini, hal yang paling baik dilakukan adalah waspada dan siaga melindungi diri. Mau tidak mau Indonesia harus selalu curiga kepada siapa pun orang asing yang masuk ke dalam Negara Indonesia untuk urusan apa pun. Hal itu disebabkan siapa tahu memang benar tuduhan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Isis itu dibiayai oleh Turki dan Nato melalui pembelian-pembelian minyak Isis. Dengan demikian, sangat mungkin setiap warga Turki dan warga negara yang tergabung dalam Nato bikin ulah macam-macam menimbulkan aksi teror dengan mengatasnamakan Isis di Indonesia sehingga Indonesia terseret dalam pertarungan nu gelo jeung nu burung.

Kita tidak pernah tahu, bukan?

Kalau toh Putin salah, apa dasar Indonesia untuk tidak percaya terhadap tudingan Putin?

Apa pula dasar Indonesia jika mempercayai kata-kata Presiden Rusia Vladimir Putin?

Mau percaya atau tidak, harus punya alasan yang jelas dan harus berdasarkan pada kepentingan nasional Indonesia!

Yang jelas adalah Dajjal sedang bekerja bersama pasukan syetannya untuk mengacaukan hidup manusia. Mereka tidak senang melihat manusia hidup harmonis. Siapa pun yang tidak menginginkan hidup harmonis adalah syetan. Pasukan Dajjal itu syetan. Syetan itu minal jinnati wannas, ‘terdiri atas jenis jin dan manusia’.

Ciri-ciri syetan itu kata Allah swt adalah suka menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, membuat manusia sibuk mencari kekayaan, gemar berbohong, suka mengadudomba, pengecut, gemar bersembunyi, tetapi lemah mudah digertak serta mudah dikalahkan, dan lain sebagainya, cari sendiri di dalam Al Quran, masih banyak cirinya.

Sepanjang tetap berpegang pada Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, insyaallah kita akan tetap selamat di dunia dan di akhirat. Amin.

Yang paling penting: Jangan Koplok!