Showing posts with label Barack Obama. Show all posts
Showing posts with label Barack Obama. Show all posts

Sunday, 1 September 2019

Belajar dari Kulit Hitam Amerika Serikat

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Orang-orang kulit hitam Amerika Serikat punya sejarah yang panjang, bahkan bisa dibilang sepanjang sejarah Negara Amerika Serikat sendiri. Mereka biasa disebut “Negro” atau “Black” yang bermakna Si Hitam. Bukan hanya sebutan merendahkan seperti itu yang mereka terima, melainkan pula dianggap manusia kelas yang paling rendah. Segala masalah, keruwetan, dan kasus-kasus kriminal masyarakat selalu disalahkan pada orang-orang berkulit hitam yang berasal dari daratan Afrika ini. Mereka diburu, diperjualbelikan, dibunuh, dianiaya, dipisahkan dari keluarganya, dan dibatasi hak hidup, hak pendidikan, hak ekonomi, dan hak memiliki kemerdekaan sendiri.

            Para penguasa, orang-orang serakah, selalu berselisih dengan orang-orang waras yang menghargai kemanusiaan. Bahkan, pernah terjadi perang saudara di antara orang-orang Amerika sendiri soal ini. Sebagian masih menginginkan merendahkan dan memperjualbelikan orang kulit hitam, sebagian lagi ingin menghentikan perilaku rasis semacam itu.

            Dalam kepemimpinan Abraham Lincoln, perbudakan di Amerika Serikat dihapuskan. Namun, Presiden Abraham Lincoln harus membayar dengan nyawanya sendiri. Dia ditembak mati oleh kelompok yang tidak menyukai kebijakan penghapusan perbudakan. Mereka masih menginginkan memperbudak kulit hitam.

            Selepas masa kepresidenan Abraham Lincoln, warga kulit hitam di Amerika Serikat masih mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Meskipun perbudakan sudah tidak ada lagi, mereka tetap dianggap warga kelas rendah dan dihalangi untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan warga kulit putih. Akan tetapi, mereka tidak menyerah. Mereka memperbaiki kaumnya, meningkatkan pendidikannya, dan berkarir dengan disiplin.

            Sekarang, meskipun hinaan rasis masih ada, sebagian dari mereka sudah mampu membuktikan dirinya menjadi orang-orang sukses dan berpengaruh di dunia. Misalnya, Martin Luther King, Malcolm X, Mohammad Ali,  Jenderal Collin Powel, hingga Presiden AS Barack Husein Obama.

            Kita, terutama saudara-saudara Papua bisa belajar dari sejarah kulit hitam di Amerika Serikat. Di Indonesia tidak pernah ada perbudakan kulit hitam, tidak ada kebijakan atau halangan untuk menikmati pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Justru kita semua warga bangsa didorong untuk belajar sungguh-sungguh dan bekerja keras, tanpa kecuali. Hal yang ada hanya hinaan ringan karena perbedaan warna kulit dan makian sesaat yang merendahkan menyamakan dengan binatang. Hinaan dan makian itu memang tidak sopan dan tidak terpelajar, tetapi tidak perlu menjadikan rendah diri atau emosi yang berlebihan sehingga merugikan diri sendiri. Di Amerika Serikat sendiri kalau hinaan seperti itu masih ada hingga kini, misalnya, “Neg in White House” atau “Black in White House”, maksudnya “orang hitam berkuasa di Gedung Putih”. Ledekan itu berupa pernyataan bahwa orang hitam tidak pantas memimpin Gedung Putih, Amerika Serikat.

            Akan tetapi, warga kulit hitam Amerika Serikat tetap bertahan dan bekerja keras, tidak lantas memisahkan diri dari Amerika Serikat. Mereka justru menunjukkan bahwa diri mereka pun hebat, bahkan lebih hebat dibandingkan warga kulit putih. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah.

            Saudara-saudara Papua harus belajar dari hal ini. Memisahkan diri dari NKRI tidak menjamin diri akan lebih maju dan berhasil. Sebaiknya, introspeksi diri dan contoh orang-orang Papua yang sudah berhasil di Indonesia, seperti Freddy Numberi, Yoris Raweyai, Mochtar Ngabalin, atau Lenis Kogoya.

            Menunjukkan potensi dan prestasi adalah jauh lebih baik dibandingkan bertindak berdasarkan emosi yang tidak terkendali.

            Sampurasun.

Monday, 30 November 2015

Nu Gelo jeung Nu Burung Pasea


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Nu gelo jeung nu burung pasea itu bahasa Sunda. Artinya, orang gila dan orang sinting berantem.

Kalimat itu untuk menggambarkan situasi yang semakin kusut samut di Timur Tengah, tepatnya kekacauan dan perang yang terjadi di Suriah. Semakin hari semakin nggak karuan situasi dan informasinya.

Biarlah urusan Setya Novanto vs Sudirman Said berjalan sebagaimana seharusnya. Sudah banyak orang-orang pintar yang mengawal, mengawasi, dan mendorong perseteruan yang bisa membuat Indonesia diperas Freeport itu untuk lebih terbuka dan terselesaikan sehingga yang benar harus disebut benar dan yang salah harus dipermalukan.

Sekarang mari kita lihat kegilaan yang melibatkan Isis itu. Ketika jet tempur rusia membela Presiden Suriah Bashar al Assad dan menembaki musuh-musuhnya. Pesawat tempur Turki menembak jet tempur Rusia itu. Karuan saja Presiden Rusia Vladimir Putin berang. Ia menyatakan bahwa jet tempur miliknya masih berada satu kilometer di luar wilayah Turki dalam arti masih berada di wilayah udara Suriah. Akan tetapi, Turki ngotot bahwa jet tempur Rusia memasuki wilayah udaranya dan sudah diperingatkan, tetapi bandel sehingga ditembak jatuh. Copilot Rusia membantah pernah mendapat peringatan itu. Situasi pun menjadi tidak jelas dan memanas.

Putin segera menuding bahwa Turki dan Nato adalah pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari Isis. Minyak milik Isis dibeli oleh Turki dan Nato. Bahkan, rakyat Rusia menuding pula Qatar dan Arab Saudi mendukung Isis. Lebih jauh lagi, rakyat Rusia berteriak bahwa siapa pun yang memusuhi Presiden Suriah Bashar al Assad adalah pendukung terorisme.

Indonesia memusuhi Bashar al Assad?

Kalau ya, berarti Indonesia adalah pendukung teroris menurut rakyat Rusia.

Kalau saya pribadi memang memusuhi keyakinan Bashar al Assad. Bukan orangnya, tetapi keyakinannya.

Kabarnya dia punya agama yang aneh, nyeleneh dari Islam. Dengar-dengar dia punya keyakinan bahwa Allah swt itu satu, tetapi mewujud dalam tiga citra, yaitu satu, berada dalam diri Nabi Muhammad saw; kedua, berada dalam wujud Malaikat Jibril; ketiga, berwujud dalam diri Bashar al Assad. Dulu mewujud dalam diri ayah Bashar al Assad. Setelah ayahnya meninggal, mewujud dalam dirinya hari ini.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa keyakinan seperti itu adalah lebih najis daripada anjing.

Setujuuuuu!

Kalau memang benar begitu keyakinan Bashar al Assad, saya malah mengatakannya sebagai lebih najis daripada tahi anjing buduk!

Kalau saya disebut sebagai teroris karena memusuhi keyakinan anjing buduk itu, biarin aja.

Kalau kata orang Rusia saya disebut memuja teroris, emangnya gue pikirin?

Kembali pada soal jet tempur. Setelah Putin menuding keras bahwa Turki dan Nato menikmati minyak Isis, Mendagri Turki balik menuding bahwa jet tempur Rusia bukannya menembakki Isis, melainkan menembaki pemberontak Suriah yang merasa diperlakukan kejam oleh Bashar al Assad. Di samping itu, gank Nato pun segera menyatakan diri berada bersama Turki.

Anehnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama justru mengeluarkan pernyataan yang mendukung Turki, tetapi dengan kalimat yang bertolak belakang dengan yang disampaikan Turki. Barack Obama mengatakan bahwa Turki berhak melindungi wilayah udaranya sendiri dari pesawat asing. Selain itu,  jet tempur Rusia seharusnya bukan menembaki Isis, tetapi mestinya menembaki pemberontak Rusia.

Jadi bingung saya. Kata Turki harusnya Rusia menembaki Isis, bukan pemberontak Suriah, tetapi kata Obama seharusnya menembaki pemberontak Suriah, bukan Isis.

Mana yang benar?

Obama atau Mendagri Turki?

Padahal dua-duanya dalam satu pihak yang sama.

Mungkin wartawan pembawa beritanya yang menerjemahkannya secara salah.

Akan tetapi, kalaupun salah menerjemahkan, pertanyaannya tetap sama, “Mana yang benar?”

Mungkin saya yang salah mendengar, tetapi pertanyaannya sama saja, “Mana yang benar?”

Di sinilah saya mulai mengatakan bahwa yang terlibat perang di sana itu ibarat nu gelo jeung nu burung pasea, ‘orang gila sama orang sinting berantem’.

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan  malah balik menuding sekutu Rusia dengan pernyataan aneh. Dia dengan keras mengatakan bahwa Bashar al Assad adalah pendukung utama Isis.

Wow makin kacrut nih situasi. Nggak ada yang bisa dipercaya.

Mau tidak kacrut gimana?

Amerika Serikat menurunkan beberapa tentaranya di Suriah untuk melatih pemberontak Suriah. Beritanya banyak diunggah di Youtube. Akan tetapi, kata Obama seharusnya pemberontak itulah yang ditembaki oleh jet tempur Rusia, bukan Isis.

Aneh, ya?

Kata Erdogan, Bashar al Assad adalah pendukung Isis, padahal Isis ingin menjatuhkan Bashar al Assad.

Aneh, ya?

Putin semakin berani menuding bahwa pesawat tempur Turki menembak jatuh jet tempur Rusia karena Turki melindungi minyak Isis dari gempuran Rusia. Sementara itu, Nato selalu berada bersiap membela Turki. Berarti kan Nato melindungi Turki yang menikmati Isis. Artinya, Nato melindungi Isis.

Lieur!

Biarlah nu gelo jeung nu burung pasea karena sudah begitu keadaannya, pada nggak bisa dipercaya!

Yang saya khawatir adalah akan menjadi nu gelo jeung nu burung ditambah nu koplok pasea. Koplok itu bahasa Sunda yang maknanya adalah seseorang yang bodoh, over acting, pengen dipuji, ikut sibuk, tetapi kerap merugikan dirinya sendiri.

Nah, kalau Indonesia ikut-ikutan dalam perseteruan mereka, Indonesia telah menempatkan dirinya dalam situasi koplok. Jadilah Indonesia sebagai Nagara Koplok.

Dalam situasi semrawut yang tidak ada yang bisa dipercaya, Indonesia haruslah tetap berpegang pada politik luar negeri “Bebas dan Aktif. Bebas dari tekanan pihak mana pun, bebas untuk tidak berpihak, dan bebas untuk melindungi diri sendiri. Aktif berperan menciptakan perdamaian dunia dengan cara Indonesia, bukan cara bangsa asing. Bukan ikut-ikutan menciptakan perdamaian dengan cara asing mengirimkan pasukan untuk ikut berkelahi dan menangkapi siapa saja di dalam negeri atas dasar informasi asing yang sumir.

Jangan jadi bangsa yang koplok!

Memangnya Indonesia mau percaya sama siapa?

Barack Obama?

Recep Tayip Erdogan?

Vladimir Putin?

Bashar al Assad?

Dalam situasi yang nggak puguh seperti ini, hal yang paling baik dilakukan adalah waspada dan siaga melindungi diri. Mau tidak mau Indonesia harus selalu curiga kepada siapa pun orang asing yang masuk ke dalam Negara Indonesia untuk urusan apa pun. Hal itu disebabkan siapa tahu memang benar tuduhan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Isis itu dibiayai oleh Turki dan Nato melalui pembelian-pembelian minyak Isis. Dengan demikian, sangat mungkin setiap warga Turki dan warga negara yang tergabung dalam Nato bikin ulah macam-macam menimbulkan aksi teror dengan mengatasnamakan Isis di Indonesia sehingga Indonesia terseret dalam pertarungan nu gelo jeung nu burung.

Kita tidak pernah tahu, bukan?

Kalau toh Putin salah, apa dasar Indonesia untuk tidak percaya terhadap tudingan Putin?

Apa pula dasar Indonesia jika mempercayai kata-kata Presiden Rusia Vladimir Putin?

Mau percaya atau tidak, harus punya alasan yang jelas dan harus berdasarkan pada kepentingan nasional Indonesia!

Yang jelas adalah Dajjal sedang bekerja bersama pasukan syetannya untuk mengacaukan hidup manusia. Mereka tidak senang melihat manusia hidup harmonis. Siapa pun yang tidak menginginkan hidup harmonis adalah syetan. Pasukan Dajjal itu syetan. Syetan itu minal jinnati wannas, ‘terdiri atas jenis jin dan manusia’.

Ciri-ciri syetan itu kata Allah swt adalah suka menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, membuat manusia sibuk mencari kekayaan, gemar berbohong, suka mengadudomba, pengecut, gemar bersembunyi, tetapi lemah mudah digertak serta mudah dikalahkan, dan lain sebagainya, cari sendiri di dalam Al Quran, masih banyak cirinya.

Sepanjang tetap berpegang pada Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, insyaallah kita akan tetap selamat di dunia dan di akhirat. Amin.

Yang paling penting: Jangan Koplok!



Sunday, 10 April 2011

Indonesia Tak Akan Pernah Diserang Seperti Libya

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kembali sejarah mencatat terjadi pengeroyokan terhadap Libya oleh pasukan AS dan Nato. Alasan dilakukan penyerangan itu adalah Libya dianggap tidak demokratis, otoriter, tidak mendengar suara rakyat, dan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil. Itulah yang dikatakan Presiden AS Barack Obama. Alasan-alasan itulah yang disebarluaskan melalui media massa ke seluruh dunia. Padahal, semua sudah mengerti bahwa bangsa-bangsa Barat itu menginginkan harta kekayaan alam Libya yang melimpah ruah, terutama minyak.

Mereka ingin Moamar Khadafi mundur dengan alasan pemimpin Libya itu menghalangi jalannya demokrasi. Alasan penyerangan itu sebagian memang benar. Para negeri kapitalis dan negeri-negeri kambing congeknya memang menginginkan agar Libya bisa berdemokrasi. Hal itu disebabkan dengan demokrasi, para penyerang yang kapitalis itu bisa dengan mudah membentuk partai atau mendukung partai tertentu dan membiayainya agar mendapatkan balas budi berupa kekayaan alam, terutama minyak. Adapun negeri-negeri kambing congek penjilat negeri para penyerang itu sudah cukup bangga mendapatkan julukan sebagai negara demokratis di dunia, hanya itu, padahal dalam hal ekonomi tetap saja underdog.

Libya diserang karena memang bersikukuh dengan cara hidupnya sendiri. Libya menerapkan sistem ketatanegaraan sesuai dengan keinginan Khadafi sendiri dan itu menghalangi jalannya para negeri kapitalis untuk mendapatkan kekayaan alamnya dengan lebih leluasa. Tak heran dia diserang dari luar dan dari dalam.

Memang benar sistem politik Khadafi tidak sempurna, perlu banyak perbaikan. Akan tetapi, bukan penyerangan fisik penyelesaiannya.

Adapun Indonesia tak akan diserang oleh para kapitalis seperti terhadap Libya. Hal itu disebabkan Indonesia sudah terbuka dengan perampokan korporasi asing. Para kapitalis itu bisa membiayai kampanye satu-dua partai, mendirikan partai, atau jual-beli legislasi dengan pentolan-pentolan politik bermental rendah di Indonesia. Mereka tinggal hitung-hitungan untung-rugi di dalam kalkulator untuk mendapatkan kekayaan alam Indonesia. Mereka sangat paham bahwa di Indonesia sangat banyak anggota legislatif yang tidak memahami legislasi serta sangat tahu bahwa banyak penguasa yang butuh uang pinjaman untuk tetap berkuasa kembali. Oleh sebab itu, tak heran Amien Rais (2008) mengatakan bahwa banyak legislasi dan berbagai peraturan yang disinyalir dibuat oleh pihak asing. Hal itu tampak dari bahasa yang digunakan dalam berbagai regulasi adalah bahasa Inggris yang tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, bahkan diduga keras hasil mencontek dari negara lain, lebih parah lagi diperkirakan dibuat oleh orang-orang asing yang justru selalu mengincar potensi-potensi yang dimiliki Indonesia. Sementara itu, banyak elit di negeri ini yang manut-manut saja pada negeri-negeri yang dulunya menjajah secara fisik bangsa-bangsa Asia itu.

Dengan demikian, sudah pasti Indonesia tidak akan di-Libya-kan karena gampang sekali untuk dirampok. Buat apa diserang? Toh, dengan disuap, ditipu, dan dipuji saja sudah mabuk kepayang bangga. Dalam alam demokrasi, sangat sulit kita mendeteksi apakah partai-partai atau LSM-LSM itu jelmaan aspirasi rakyat ataukah jadi-jadian antek-antek kapitalis. Indonesia bukan hanya mudah untuk dirampok, tetapi sangat menguntungkan dan menyenangkan dijadikan mangsa empuk bagi para kapitalis yang bekerja sama dengan para penipu rakus di negeri ini. Menyedihkan memang.

Tenang, Indonesia tidak akan di-Libya-kan asal terus saja manut sama mereka.

Kalau tidak manut, pasti terjadi seperti dulu. Negeri-negeri kapitalis mengurung Indonesia dari sana-sini, lalu dikerjain lewat pemberontakan-pemberontakan di daerah seperti PRRI/Permesta. Beruntung saat itu kita punya TNI yang tangguh. Orang-orang kapitalis itu mundur teratur, kemudian menghormati kekuatan Indonesia.

Berbeda dengan sekarang yang sangat banyak orang ketar-ketir jika Indonesia diserang negara lain. Lihat saja kemarin-kemarin dilecehkan Malaysia, Indonesia adem ayem saja seperti yang kumeok memeh dipacok, ‘kalah sebelum berperang’. Apalagi diserang negara Barat yang kabarnya punya banyak senjata pembunuh modern.

Akan tetapi, rakyat negeri ini tetap kuat kok. Seluruhnya siap sedia untuk tanah airnya. Yang belum kita punyai adalah pemimpin kuat yang mampu membangkitkan harga diri bangsa dan mengarahkan rakyat menuju kemerdekaan hakiki. Namun, pemimpin itu kelak pasti ada, tenang saja sambil jauhi itu yang namanya demokrasi.

Tuesday, 9 November 2010

Nggak Perlu Heboh dengan Kedatangan Obama

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Negeri ini, Indonesia yang kita cintai, kedatangan tamu. Namanya Obama. Kehadirannya menyedot perhatian berbagai pihak, baik media massa maupun rakyat biasa.

Sudah menjadi kebiasaan kita, kalau ketemu sama orang Barat, sepertinya ingin selalu melihat, memperhatikan, perasaannya senang. Entah kenapa. Dulu saja ketika dijajah Belanda, banyak orang yang senang hanya sekedar untuk menyentuh kulit atau bersalaman dengan mereka. Secara tak sadar, perilaku tersebut sudah merendahkan diri sendiri. Sebaiknya, biasa saja atuh.

Saat Obama datang, 9-10 November 2010, banyak orang yang lumayan heboh. Kedatangan Obama itu seperti didatangi idola superhero. Padahal, dia datang itu dalam rangka menjalankan politik luar negerinya. Dalam hubungan internasional, setiap aktivitas internasional sudah seharusnya merupakan aktivitas untuk memenuhi kepentingan dalam negeri masing-masing. Artinya, dia datang itu untuk kepentingan negaranya sendiri, bukan untuk kepentingan Indonesia.

Obama itu bukan Pancasilais, tak peduli dengan Sumpah Pemuda, tak ada kepentingan dengan Bhineka Tunggal Ika, tak mau tahu dengan Preambul UUD 1945, apalagi NKRI. Dia datang ke Indonesia itu karena negerinya melihat ada keuntungan besar yang didapatnya dari Indonesia.

Memang benar dia pernah di Indonesia, tetapi kehadirannya itu tidak dalam rangka untuk mencintai Indonesia dan tidak untuk membesarkan Indonesia. Dia tetap kapitalis yang mencintai AS, negerinya. Dia datang sebagai wakil negaranya agar mendapatkan keuntungan maksimal dari Indonesia.
Ia memang pintar melihat sifat dan watak masyarakat Indonesia yang masih banyak mengagung-agungkan Barat. Oleh sebab itu, dalam pidatonya di kampus UI ia menggunakan kemampuannya untuk menarik simpati rakyat Indonesia seolah-olah dirinya ingin memajukan Indonesia. Hal itu memang terbukti berhasil saat itu. Ia mendapatkan banyak tepukan meriah dari audiens. J. Kristiadi yang dari CSIS itu pun memujinya bahwa Obama itu cerdas. Ia datang untuk kepentingan diri dan negaranya, tetapi mendapatkan tepukan dari orang Indonesia yang negerinya sedang diincar berbagai potensinya untuk dinikmati AS.

J. Kristiadi sangat benar. Meskipun demikian, saya memiliki pendapat yang terbalik, tetapi sama. Bagi saya, bukanlah Obama yang pintar dalam berorasi atau menarik simpati, tetapi rakyat kitanya sendiri yang bodoh menganggap Obama itu layaknya orang yang akan membangkitkan Indonesia dari keterpurukan. Hal itu disebabkan rakyat kita masih harus banyak belajar mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan hubungan internasional.

Saya sangat setuju dengan pendapat Anis Baswedan bahwa kita jangan terlalu romantis terhadap Obama hanya karena dia kecilnya pernah tinggal di Indonesia. Semestinya, kita, rakyat memberikan dorongan penuh kepada pemerintah agar kehadiran Obama itu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan kita, kemakmuran rakyat Indonesia. Hal itu disebabkan memang sudah wajib hukumnya bagi pemerintah untuk memanfaatkan setiap hubungan internasional bagi kepentingan dalam negeri kita sendiri.

Dalam berinteraksi dengan Obama atau dengan negeri mana pun jangan pernah ada pikiran takut Obama atau orang asing rugi berhubungan dengan kita. Untung atau rugi, itu urusan dia bukan urusan kita. Kewajiban kita adalah bagaimana kita mendapatkan untung sebesar-besarnya karena mereka pun sebenarnya berupaya ingin untung sebesar-besarnya. Jangan khawatir orang asing rugi karena mereka pun sama sekali tidak khawatir kita rugi. Jika kita rugi, itu akan jadi beban kita. Selama ini juga kan begitu. Ketika kita susah, mereka bukannya ikhlas menolong, malahan memberikan pinjaman uang dengan bunga yang sangat berat. Kita-kita juga yang merasakan beratnya kesusahan.

Jika kita ternyata berhasil mendapatkan berbagai keuntungan, jangan anggap Obama baik, tetapi yang harus dipuji adalah pemerintah kita sendiri yang telah optimal bekerja keras untuk rakyatnya.

Demokrasi

Sebelum kedatangannya ke Indonesia, Obama sangat memuji demokrasi di Indonesia. Ia benar-benar mengaguminya. Kalau dihitung, sudah lebih dari seratus kata demokrasi yang keluar dari mulutnya, baik sebelum, sedang, maupun pada akhir kunjungannya ke Indonesia. Ia tampak ingin sekali Indonesia tetap menggunakan sisem politik demokrasi. Ia bahkan sedikit menantang Indonesia untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah demokrasi di Asean, khususnya di Myanmar. Ia memberikan nilai A plus untuk demokrasi di Indonesia.

Sesungguhnya, ia mengulang-ulang kata demokrasi dengan segala pujiannya itu karena AS merasa untung dengan demokrasi yang dijalankan di Indonesia. Banyak sekutunya yang mengeruk keuntungan besar dari Indonesia yang telah berdemokrasi ini. Para kapitalis itu sudah memiliki banyak kunci yang tepat untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara dari negeri kita. Sementara itu, kita dibuai oleh kata-kata palsu dan pujian demokrasi. Saat kita disibukkan dengan demokrasi dengan segala kepusingannya, mereka anteng-anteng melahap berbagai hidangan yang ada di Bumi Pertiwi ini.

Sungguh pelaksanaan demokrasi di Indonesia itu sangat menguntungkan pihak kapitalis. Orang-orang Pancasilais sendiri dilanda kelaparan, huru-hara, fitnah, bencana, pembunuhan, korupsi, kolusi, kemiskinan, kebodohan, dan berbagai ketimpangan sosial lainnya.

Jadi, jangan tertipu dengan pujian telah melaksanakan demokrasi. Obama, AS, dan sekutu kapitalisnya tidak akan segan-segan memberikan medali emas 100 karat kepada Indonesia, bahkan memberikan gelar setinggi langit sebagai negara termajemuk yang paling berhasil dalam berdemokrasi dan mengumumkan kepada seluruh makhluk di Bumi ini bahwa Indonesia adalah negeri paling toleran di seluruh jagat raya dengan sistem demokrasinya. Mereka akan menyanjung Indonesia setinggi langit, bahkan kalau masih ada langit, pujian mereka akan sampai kesana dengan catatan Indonesia tetap berdemokrasi. Sementara itu, Indonesia dalam kenyataannya dengan menggunakan sistem politik demokrasi justru terus meluncur jatuh ke jurang kehancuran.

Jangan tertipu dengan pujian itu. Justru kita harus membumihanguskan demokrasi di negeri ini karena sistem politik itu telah membuat negeri ini carut marut tidak karu-karuan di berbagai bidang. Demokrasi itu jahat, sesat, kampungan, bodoh, serta melanggar kesucian dan kemuliaan manusia.

Jangan tertipu Saudaraku!

Thursday, 27 May 2010

Kenapa Gembira dengan Kehadiran Hillary Clinton?

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa waktu lalu, Hillary Clinton, Menlu AS, mengunjungi Indonesia dalam rangka safarinya ke negeri-negeri Asia. Dalam kunjungan itu, Hillary banyak memuji Indonesia yang katanya telah melaksanakan demokrasi dengan baik dan merupakan negeri yang tepat untuk melaksanakan investasi, tentunya dengan sejumlah pujian lainnya.

Sebelum kehadirannya ke Indonesia, banyak pihak di dalam negeri yang sudah senyum-senyum sumringah. Apalagi ketika sudah datang, semakin banyak yang gembira dan berusaha mengikuti perjalanannya. Sebelumnya, sudah banyak yang berharap bahwa Barack Obama dan kabinetnya akan bageur, ‘bersikap baik’, kepada Indonesia dan menjadi jalan keluar dari kesulitan yang diderita negeri ini.

Sungguh, orang-orang yang punya harapan banyak kepada Obama dan Hillary adalah orang-orang kerdil dan bermental inlander, berjiwa kaum terjajah.

Saya jadi ingat. Dulu Belanda datang ke Indonesia dengan bermuka manis dan baik-baik. Katanya, mereka ingin mengajarkan keamanan, keberadaban, dan ketertiban, beschaving dan orde en rust. Orang kita percaya saja mulut mereka, bahkan gembira dengan melupakan bahwa sebenarnya ketika orang-orang Eropa masih tinggal di pinggir-pinggir sungai, di gua-gua, dan berantem rebutan sepetak tanah, rakyat Indonesia sudah hidup lebih tertib, damai, serta mengenal namanya tenggang rasa dan gotong royong. Kejadian selanjutnya, Belanda menjajah dan memeras rakyat sekaligus sumber daya alam Indonesia karena mereka miskin bahan dasar untuk kebutuhan hidup negerinya.

Jepang pun demikian. Mereka datang dengan kalimat-kalimat 3A, yaitu: Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia, Jepang Pemimpin Asia. Maklum, saat itu memang Jepang sedang berada dalam kepopulerannya karena merupakan negeri Asia pertama yang telah berhasil mengalahkan Rusia yang Eropa itu. Rakyat pun gembira karena merasa mendapat penolong yang telah membebaskan negeri dari penjajahan Belanda. Kejadian selanjutnya, kabarnya, Jepang menjajah Indonesia dengan lebih kasar dan beringas. Kita pun terus tertindas.

Kini, kita kedatangan Hillary Clinton dengan senyum dan sejumlah pujiannya. Sudahlah, tak perlu terulang lagi sejarah yang mengerikan itu. Kita mesti waspada dan tidak perlu gembira dengan kehadiran dia. Dia toh bukan warga Indonesia.

Begini Saudara, dia itu Menlu yang jelas memiliki misi untuk kepentingan negerinya, bukan untuk kepentingan Indonesia. Dalam teorinya pun, yang namanya kunjungan atau aktivitas politik luar negeri adalah dimaksudkan untuk menjalankan misi demi kepentingan nasional negara yang mengutusnya. Artinya, kita nggak perlu tertipu atau berharap banyak dari orang lain. Bahkan, mesti curiga karena mereka itu berupaya mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya dari potensi yang dimiliki negeri ini, tak peduli dengan kondisi rakyat kita. Secara teori, memang harus begitu.

Kita ini kalau ingin maju dan berhasil, harus menggunakan darah, keringat, dan tenaga sendiri. Kita harus punya cita-cita dan cara-cara sendiri sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai yang melekat dalam diri kita. Bloon namanya kalau kita menggantungkan nasib pada negeri orang. Jatuh-bangunnya negeri ini, mati-hidupnya Indonesia, dan jaya-runtuhnya Nusantara, sama sekali bukan oleh orang lain, melainkan oleh diri sendiri.

Gunakan seluruh kekuatan yang ada, baik lahir maupun batin, baik materiil maupun spiritual, kerahkan semua sarana yang ada untuk membuat kita hidup sebagaimana yang kita inginkan. Jangan percaya orang lain, kita hidup bergantung kekuatan kita sendiri, bukan bergantung pada orang lain, apalagi pada kapitalis atau komunis.